Kitab al-Bay‘ (Kitab Jual Beli)
الأصل في البيع الكتاب والسنة والإجماع فأما الكتاب فقوله تعالى وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وقوله تعالى إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ وستأتي الأخبار في الأبواب على قدر الحاجة وأصلُ البيع متفق عليه ذكر المُزَني لفظةً عن الشافعي في البيع جامعةً والذي نص عليه في الأم أجمعُ لتراجم أبواب البيع فنقتصر على اللفظة الأتم
Dasar hukum jual beli adalah al-Qur’an, sunnah, dan ijmā‘. Adapun dalil dari al-Qur’an adalah firman Allah Ta‘ala: “Dan Allah telah menghalalkan jual beli” (al-Baqarah), dan firman-Nya: “Kecuali jika itu perdagangan yang didasarkan pada kerelaan di antara kalian” (an-Nisā’). Hadis-hadis akan disebutkan dalam bab-bab berikut sesuai kebutuhan. Hukum asal jual beli telah disepakati. Al-Muzani menyebutkan satu ungkapan dari asy-Syafi‘i tentang jual beli yang bersifat komprehensif, dan apa yang dinyatakan oleh beliau dalam kitab al-Umm lebih mencakup untuk judul-judul bab jual beli, maka kami cukupkan dengan ungkapan yang paling sempurna.
قال رضي الله عنه وجماع ما يجوز به البيع عاجلاً وآجلاً أن يتبايعا عن تراضٍ منهما ولا يعقداه بأمر منهي عنه ولا على أمر منهي عنه فإذا تفرقا عن تراضٍ منهما فقد لزم البيع وليس لأحدهما ردُّه إلا بخيار أو عيب يجده أو شرط يشرطه أو خيار الرؤية إن جاز بيعُ خيار الرؤية
Beliau ra. berkata: Secara umum, segala sesuatu yang dengannya jual beli boleh dilakukan, baik secara tunai maupun tangguh, adalah bahwa kedua belah pihak melakukan akad dengan saling ridha, dan tidak mengadakan akad berdasarkan perkara yang dilarang atau atas sesuatu yang dilarang. Maka apabila keduanya berpisah dalam keadaan saling ridha, maka jual beli itu telah menjadi sah dan tidak boleh salah satu dari keduanya membatalkannya kecuali dengan adanya khiyar, atau ditemukan cacat, atau adanya syarat yang ditetapkan, atau khiyar ru’yah jika memang diperbolehkan jual beli dengan khiyar ru’yah.
فدلّ بذكر العاجل والآجل على بيع العين والسلم والمؤجل؛ وذكَر التراضي فأشعر بأن الإكراه يمنع انعقاد العقد وعنَى بقوله بأمر منهي عنه الأثمان المحرَّمةَ بوجوه التحريم وأراد بقوله وعلى أمر منهي عنه الشرائطَ الفاسدةَ على ما ستأتي مفصلة إن شاء الله تعالى ونبه على خيار المجلس وعلى ما يُنهيه بقوله فإذا تفرقا عن تراضٍ ثم استثنى عن حكمه بلزوم العقد بعد التفرق جهاتِ الخيار
Dengan menyebutkan yang segera dan yang ditangguhkan, menunjukkan jual beli barang secara tunai, salam, dan jual beli dengan pembayaran tertunda; ia menyebutkan kerelaan sehingga memberi isyarat bahwa paksaan mencegah terjadinya akad, dan yang dimaksud dengan ucapannya “dengan sesuatu yang dilarang” adalah harga-harga yang diharamkan dengan berbagai bentuk keharaman, dan yang dimaksud dengan ucapannya “atau dengan sesuatu yang dilarang” adalah syarat-syarat yang rusak, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci nanti insya Allah Ta‘ala. Ia juga memberi isyarat tentang khiyār majlis dan tentang apa yang membatalkannya dengan ucapannya “apabila keduanya berpisah dalam keadaan saling rela”, kemudian ia mengecualikan dari ketentuan keharusan akad setelah berpisah beberapa bentuk khiyār.
فأراد بقوله إلا بخيارٍ خيارَ الشرط وذكر خيارَ العيب ثم قال أو شرط يشرطه يعني خيارَ الخُلف على ما سيأتي ثم ردد قولَه في خيار الرؤية وبيعِ الغائب وهذا مقصود الباب فقال إن جاز بيعُ خيار الرؤية فنقل الأئمة قولين عن الشافعي في أن من اشترى عيناً لم يرها فهل يصح العقد أم لا
Maka yang dimaksud dengan perkataannya “kecuali dengan khiyār” adalah khiyār syarat, kemudian ia menyebutkan khiyār ‘aib, lalu berkata “atau syarat yang disyaratkan”, maksudnya adalah khiyār khulf sebagaimana akan dijelaskan. Kemudian ia mengulangi perkataannya mengenai khiyār ru’yah dan jual beli barang yang ghaib, dan inilah inti dari pembahasan bab ini. Ia berkata, “Jika jual beli dengan khiyār ru’yah diperbolehkan,” maka para imam menukil dua pendapat dari Imam Syafi‘i tentang orang yang membeli suatu barang yang belum pernah dilihatnya, apakah akadnya sah atau tidak.
أحدهما أنه لا يصح وهو اختيار المُزني؛ فإن العين في العُرف تُعْلَم بطريق المعاينة فإذا لم يرها المشتري عُدّت مجهولة عُرفاً واستقصاء الطريقة في الخلاف
Salah satunya adalah bahwa hal itu tidak sah, dan ini adalah pilihan al-Muzani; sebab barang dalam kebiasaan diketahui melalui penglihatan langsung, sehingga jika pembeli belum melihatnya, maka barang tersebut dianggap tidak diketahui menurut kebiasaan. Penjelasan lebih rinci tentang metode ini terdapat dalam pembahasan khilaf.
والقول الثاني أن البيع صحيح؛ فإن المبيع متميَّز والشرع قاضٍ باعتماد قول البائع وعليه ابتنى قبول قوله في الملك وغيره مما يشترط في صحة العقد
Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tersebut sah; karena barang yang dijual telah dibedakan, dan syariat menetapkan untuk menerima pernyataan penjual, serta atas dasar itulah diterima ucapannya dalam kepemilikan dan hal-hal lain yang menjadi syarat sahnya akad.
التفريع على القولين
Pengembangan berdasarkan dua pendapat
إن حكمنا بفساد البيع فأول ما نذكره تفصيلُ القول في الرؤية؛ فالمذهب أن من رأى شيئاً ثم غاب عنه فاشتراه على قرب العهد بالرؤية والغالب على الظن أن المبيع لا يتغير في تلك المدة فالبيع صحيح والرؤية المتقدمة كالمقارِنة
Jika kita memutuskan bahwa jual beli itu batal, maka hal pertama yang kita sebutkan adalah perincian pendapat tentang melihat barang; menurut mazhab, barang siapa yang telah melihat suatu barang lalu barang itu tidak tampak lagi olehnya, kemudian ia membelinya dalam waktu yang masih dekat dengan saat ia melihatnya, dan secara umum dapat diduga kuat bahwa barang yang dijual itu tidak berubah dalam kurun waktu tersebut, maka jual beli itu sah dan penglihatan sebelumnya dianggap seperti penglihatan saat akad.
وحكى العراقيون والشيخُ أبو علي عن أبي القاسم الأنماطي أنه يشترط مقارنةَ الرؤية للعقد ونزَّلها في البيع منزلة اشتراط اقتران حضور الشاهدين بعقد النكاح ثم الشيخ حكى عن الإصطخري أنه قال كنت أناظر بعضَ من يذبّ عن الأنماطي وكنت أُلزمه المسائلَ وهو يرتكبها حتى قلت لو عاين الرجلُ ضيعةً وارتضاها ثم ولاَّها ظهرَهُ فاشتراها فهل يصح ذلك فتوقف
Orang-orang Irak dan Syekh Abu Ali meriwayatkan dari Abu al-Qasim al-Anmathi bahwa ia mensyaratkan adanya kesesuaian antara melihat (obyek) dengan akad, dan ia menyamakannya dalam jual beli dengan syarat kehadiran dua saksi yang bersamaan dengan akad nikah. Kemudian Syekh meriwayatkan dari al-Istakhri bahwa ia berkata: Aku pernah berdiskusi dengan seseorang yang membela pendapat al-Anmathi, dan aku terus memberinya pertanyaan-pertanyaan yang ia terima, hingga aku berkata: Seandainya seseorang melihat sebuah lahan, lalu ia menyetujuinya, kemudian ia membalikkan badannya dan membelinya, apakah itu sah? Maka ia pun terdiam.
قال أبو سعيد لو ارتكب لكان خارقاً للإجماع والوجه في مذهب الأنماطي أن ما لا سبيل إلى تحصيله على يسر فلا شك انه لا يشترط وهو كرؤية كل جزء من قرية أو دار يشتريها فأما إذا صرف عنه بصره في حالة إنشاء العقد مقبلاً على من يبايعه فقد نقل الإصطخري الإجماعَ فيه وما أرى الأنماطي يسمح بهذا ويحتمل أن يكتفي بكون المبيع بمرأى منه حالة العقد وإن كان لا يلحظه وبالجملة مذهبه فاسد
Abu Sa‘id berkata, “Jika hal itu dilakukan, maka ia telah menyalahi ijmā‘. Adapun alasan dalam mazhab al-Anmāṭī adalah bahwa sesuatu yang tidak mungkin diperoleh dengan mudah, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu tidak disyaratkan, seperti melihat setiap bagian dari sebuah desa atau rumah yang dibelinya. Adapun jika seseorang memalingkan pandangannya dari barang yang dijual pada saat akad berlangsung, sedang ia menghadap kepada orang yang bertransaksi dengannya, maka al-Iṣṭakhrī telah menukil adanya ijmā‘ dalam hal ini. Namun, menurutku al-Anmāṭī tidak membolehkan hal ini, dan mungkin saja ia cukup dengan syarat bahwa barang yang dijual berada dalam pandangannya saat akad, meskipun ia tidak memperhatikannya secara langsung. Secara umum, mazhabnya adalah batil.”
والأصحاب لما اكتفَوْا بتقدّم الرؤية شرطوا أن يكون الزمان المتخلل بحيث لا يتغير فيه المبيع غالباً وهذا يختلف باختلاف صفات المبيع فما يتسارع إليه التغير يُعتبر فيه ما يليق به والعقار وما يَبعُد تغيُّره يراعى فيه ما يغلب تغيُّره فيه ثم قال الأئمة إذا تقادمت الرؤية وتخلل زمان يغلب التغير فيه فتلك الرؤية لا حكم لها وإذا اشترى تعويلاً عليها لم يصح على منع شراء الغائب
Para ulama ketika mencukupkan dengan syarat telah melihat sebelumnya, mensyaratkan bahwa waktu yang berlalu di antara keduanya haruslah waktu yang umumnya tidak menyebabkan barang yang dijual mengalami perubahan. Hal ini berbeda-beda tergantung pada sifat barang yang dijual; barang yang cepat berubah dinilai sesuai dengan waktu yang layak baginya, sedangkan barang tidak bergerak (seperti properti) atau barang yang jarang berubah, diperhatikan waktu yang umumnya dapat menyebabkan perubahan pada barang tersebut. Kemudian para imam berkata, jika penglihatan terhadap barang sudah lama berlalu dan telah lewat waktu yang umumnya menyebabkan perubahan pada barang tersebut, maka penglihatan itu tidak dianggap sah. Jika seseorang membeli barang dengan bersandar pada penglihatan lama tersebut, maka jual belinya tidak sah karena dilarang membeli barang yang tidak hadir (ghā’ib).
وذكر الشيخ في شرح التلخيص ما ذكرناه ووجهاً آخر أن الرؤية المتقدمة كافية في تصحيح العقد ثم إن اتفق تغيّر ثبت الخيار كما سنذكره واختار هذا الوجهَ وصححه ولم أرهُ لغيره
Syekh menyebutkan dalam Syarh at-Talkhīṣ apa yang telah kami sebutkan, dan pendapat lain bahwa melihat sebelumnya sudah cukup untuk mensahkan akad, kemudian jika terjadi perubahan maka tetap ada hak khiyar sebagaimana akan kami sebutkan. Ia memilih pendapat ini dan menguatkannya, dan aku tidak melihatnya pada selain beliau.
فرع
Cabang
إذا حكمنا بصحة البيع تعويلاً على الرؤية المتقدمة القريبة فإذا المبيع قد تغير على ندور فقد قال الأئمة للمشتري الخيارُ ثم لم يفصّلوا قولاً في التغير الذي يُثبت الخيار ونحن نذكر من نص الشافعي وقول العراقيين ما بلغنا فيه قال الشافعي لو اشترى نخيلاً كان رآها غيرَ مؤبّرة فإذا هي قد أُبّرت قال له الخيار وهذا يُشعر بتعلق الخيار بفوات غرضٍ وهو الثمار وقال العراقيون إذا كان التغيّر إلى نقصٍ ثبت الخيار فهذا ما وجدتُه
Jika kita memutuskan sahnya jual beli berdasarkan pada penglihatan sebelumnya yang masih dekat waktunya, lalu ternyata barang yang dijual telah berubah meskipun jarang terjadi, maka para imam berpendapat bahwa pembeli memiliki hak khiyar. Namun, mereka tidak merinci secara jelas perubahan seperti apa yang menetapkan adanya hak khiyar. Kami akan menyebutkan dari nash Imam Syafi‘i dan pendapat ulama Irak apa yang sampai kepada kami dalam hal ini. Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang membeli pohon kurma yang sebelumnya ia lihat belum berbuah, lalu ternyata setelah itu pohon tersebut telah berbuah, maka ia berhak memilih (khiyar). Ini menunjukkan bahwa hak khiyar berkaitan dengan hilangnya tujuan, yaitu buahnya. Ulama Irak mengatakan: Jika perubahan itu mengarah pada kekurangan, maka hak khiyar ditetapkan. Inilah yang saya temukan.
والذي أراه أن التغيّر اليسير الذي لا يُكترثُ به لا يثبت خياراً وكذلك التغير إلى الزيادة ولا شك أنا لا نشترط أن يكون الحادث عيباً؛ فإنّ خيار العيب لا يختص بهذه الصورة
Menurut pendapat saya, perubahan kecil yang tidak dianggap penting tidak menetapkan hak khiyar, demikian pula perubahan yang berupa penambahan. Tidak diragukan lagi bahwa kita tidak mensyaratkan bahwa kejadian tersebut harus berupa ‘aib, karena khiyar ‘aib tidak terbatas pada gambaran ini saja.
فالظاهر عندي أن يقال كل تغير لو فرض خُلْفاً في صفةٍ مشروطة تعلق بها الخيار فإذا اتفق بين الرؤية والعقد أَثْبَت الخيارَ وكأن الرؤية المتقدمة بمثابة شرطٍ في الصفات الكائنة حالة الرؤية
Menurut pendapat saya yang tampak, dapat dikatakan bahwa setiap perubahan—seandainya secara hipotetis terjadi—pada sifat yang menjadi syarat, yang berkaitan dengannya hak khiyar, maka jika terdapat kesesuaian antara saat melihat dan saat akad, hal itu menetapkan adanya hak khiyar. Seolah-olah, penglihatan sebelumnya dianggap sebagai syarat atas sifat-sifat yang ada pada saat melihat.
ويمكن أن يقال كل تغيّر تخرج به الرؤيةُ عن كونها مفيدةً معرفةً وإحاطةً فهو مثبت للخيار
Dapat dikatakan bahwa setiap perubahan yang menyebabkan ru’yah tidak lagi memberikan manfaat berupa pengetahuan dan pemahaman, maka perubahan tersebut menetapkan adanya khiyar.
وبيان ذلك أن الرؤية المعتادة تتعلق بصفاتٍ من المبيع كما سنذكرها ويغيب عنها صفاتٌ فكل ما تشتمله الرؤية المعتبرة ولو لم تتعلق الرؤية به لكان المبيع غائباً فإذا تغير ثبت الخيارُ
Penjelasannya adalah bahwa ru’yah (penglihatan) yang biasa dilakukan berkaitan dengan sifat-sifat tertentu dari barang yang dijual, sebagaimana akan dijelaskan, dan ada sifat-sifat lain yang tidak tampak. Segala sesuatu yang tercakup dalam ru’yah yang dianggap sah, meskipun ru’yah tidak mengenai sifat tersebut, maka barang yang dijual dianggap ghaib. Jika terjadi perubahan pada sifat tersebut, maka hak khiyar (memilih) menjadi tetap.
ومما نفرّعه على هذا القول أن البائع إذا ذكر صفاتِ العين الغائبة واستقصاها بذكر صفات السلم والتفريع على منع بيع الغائب ففي صحة البيع وجهان أحدهما لا يصح؛ فإن طريق إعلام العين الغائبة المعاينَةُ والدليل عليه أنا نكتفي بالرؤية وإن لم نُحط بجملة صفات المبيع ولو كان المرعيُّ الإعلامَ لما صح العقد بالرؤية المعتادة
Dan di antara cabang dari pendapat ini adalah bahwa apabila penjual menyebutkan sifat-sifat barang yang tidak hadir dan merincinya dengan menyebutkan sifat-sifat seperti dalam akad salam, serta berdasarkan cabang larangan jual beli barang yang tidak hadir, maka dalam keabsahan jual beli tersebut terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah tidak sah; karena cara untuk memberitahukan barang yang tidak hadir adalah dengan melihatnya secara langsung. Dalilnya adalah bahwa kita cukup dengan melihat, meskipun tidak mengetahui seluruh sifat barang yang dijual. Seandainya yang menjadi pertimbangan adalah pemberitahuan sifat-sifat, maka akad tidak akan sah hanya dengan penglihatan yang biasa.
والوجه الثاني أن البيعَ يصح؛ فإن الرؤية تُطلع على خاصيةٍ قد لا يناله استقصاء الوصف فنزل منزلةَ الإعلام التام بالوصف عند عدم الرؤية والغرض الإعلام بالجهتين فإن صححنا العقدَ ووفت الصفات فلا كلام وإن اختلفت فكل صفة يشترط ذكرها فإذا ذكرها كاذباً كان كما لو لم يذكرها فلا يصح العقد
Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli itu sah; karena melihat barang dapat memberikan pengetahuan tentang sifat khusus yang mungkin tidak dapat diperoleh hanya dengan penjelasan deskriptif secara mendalam, sehingga kedudukannya sama dengan pemberitahuan yang sempurna melalui deskripsi ketika barang tidak dilihat. Tujuannya adalah pemberitahuan melalui kedua cara tersebut. Jika kita mensahkan akad dan sifat-sifatnya telah terpenuhi, maka tidak ada masalah. Namun, jika terdapat perbedaan, setiap sifat yang disyaratkan untuk disebutkan, apabila disebutkan secara dusta, maka hukumnya sama seperti tidak disebutkan, sehingga akad tidak sah.
ومما نفرعه النموذج وبناء البيع عليه فإذا أخرج الرجل نموذجاً من حنطة وقال بعتُك من هذا النوع مائةَ صاع فهو باطل على كل قول؛ فإنه لم يُعَيّن حنطةً ولم يرع شرائط السلم وإن قال بعتُك المائة الصاع التي في هذا البيت وهذا النموذج منها فإن لم يدخل النموذج في البيع فقد قيل هذا بيع غائب فلا يصح على هذا القول
Di antara cabang permasalahan dari penggunaan contoh (nawāmidz) dan membangun akad jual beli di atasnya adalah: Jika seseorang mengeluarkan contoh dari gandum lalu berkata, “Aku jual kepadamu seratus sha‘ dari jenis ini,” maka jual beli tersebut batal menurut semua pendapat; karena ia tidak menentukan gandum tertentu dan tidak memenuhi syarat-syarat salam. Jika ia berkata, “Aku jual kepadamu seratus sha‘ yang ada di rumah ini, dan contoh ini adalah bagian darinya,” maka jika contoh tersebut tidak termasuk dalam barang yang dijual, telah dikatakan bahwa ini adalah jual beli barang yang gaib (tidak hadir), sehingga menurut pendapat ini jual belinya tidak sah.
ويحتمل عندي أن تكون رؤية النموذج بمثابة وصف المبيع الغائب على ما مضى
Menurut saya, melihat contoh barang dapat dianggap sebagai bentuk penjelasan terhadap barang yang tidak hadir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فإن قيل مثل هذا لا يُكتفى به في وصف المُسْلَم فيه قلنا لأن السلم ينافيه التعيين جملة كما سيأتي في السَّلم إن شاء الله تعالى وأصل التعيين معتمدُ بيع الأعيان
Jika dikatakan bahwa hal seperti ini tidak cukup dalam mendeskripsikan objek yang diserahkan dalam akad salam, kami katakan bahwa salam secara keseluruhan bertentangan dengan penetapan secara spesifik, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan salam, insya Allah Ta‘ala. Adapun dasar penetapan secara spesifik adalah landasan dari jual beli barang tertentu.
فأما إذا أدخل النموذج مع الآصع في البيع فقد قطع القفالُ بالصحة وألحق ذلك ببيع الصُّبْرة التي يدل ظاهرها على باطنها وخالفه طوائفُ من الأئمة والقياس ما قاله ولا شك أن النموذج مفروض في المتماثلات
Adapun jika contoh (nawāmidz) dimasukkan bersama takaran (āṣi‘) dalam jual beli, maka al-Qaffāl telah memutuskan keabsahannya dan menyamakannya dengan jual beli tumpukan barang (ṣubrah) yang penampakannya menunjukkan isinya. Namun, sekelompok imam berbeda pendapat dengannya, dan qiyās sesuai dengan apa yang dikatakannya. Tidak diragukan lagi bahwa contoh (nawāmidz) ini diasumsikan pada barang-barang yang sejenis.
فأما إذا صححنا بيع الغائب فما ذكره العراقيون والصيدلاني وشيخي أنه لا بُد من ذكر الجنس فلو قال بعتك ما في كُمي ولم يعرفه المشتري فالبيع باطل وهذا ظاهر مذهب أبي حنيفة
Adapun jika kita membolehkan jual beli barang yang tidak hadir, maka sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama Irak, Ash-Shaydalani, dan guruku, bahwa harus disebutkan jenis barangnya. Maka jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu apa yang ada di lengan bajuku,” sementara pembeli tidak mengetahuinya, maka jual belinya batal. Dan ini adalah pendapat yang jelas dari mazhab Abu Hanifah.
ومن أصحابنا من صحح العقد تفريعاً على هذا القول وهو قياسٌ ظاهر فإذا كنا لا نشترط استقصاءَ الصفات فلا تزول الجهالة بذكر الجنس والمرعي في هذا القول أن يكون المبيع متعيناً
Sebagian dari ulama kami ada yang membenarkan akad berdasarkan pendapat ini, dan ini adalah qiyās yang jelas. Jika kita tidak mensyaratkan penjelasan seluruh sifat, maka ketidakjelasan tidak hilang hanya dengan menyebut jenisnya saja. Yang menjadi perhatian dalam pendapat ini adalah bahwa barang yang dijual harus tertentu.
ثم قال العراقيون يشترط ذكرُ النوع حتى يقول بعْتُك العبدَ التركي ولم يشترط أصحاب القفال ذلك ثم قالوا إذا ثبت اشتراط الجنس والنوع فهل تُشترط صفاتُ السلم أم يكتفى بالمعظم فعلى وجهين ولعلهم أرادوا بالمعظم ما تحيط به الرؤية المعتادة
Kemudian orang-orang Irak berkata bahwa disyaratkan penyebutan jenis, sehingga harus dikatakan, “Aku jual kepadamu budak Turki.” Namun para pengikut al-Qaffāl tidak mensyaratkan hal itu. Kemudian mereka berkata, jika telah tetap disyaratkan penyebutan jins (jenis) dan nau‘ (macam), maka apakah disyaratkan juga sifat-sifat salam atau cukup dengan sifat-sifat utama saja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Barangkali yang mereka maksud dengan sifat-sifat utama adalah apa yang dapat diketahui melalui penglihatan yang lazim.
وهذا الذي ذكروه يجانب طريق المراوزة؛ فإنَّهم ذكروا التعرضَ للصفات على قولنا لا يصح بيع الغائب؛ فقالوا استقصاءُ الصفات هل تنزل منزلة الرؤية حتى يصحَّ العقدُ بسببه كما سبق في التفريع على القول الأول وذكروا استقصاء الصفات على تجويز بيع الغائب في معرضٍ آخر فقالوا إذا وصف المبيع على الاستقصاء ثم وفت الصفات فهل يثبت خيار الرؤية أم لا فعلى وجهين وتوجيههما واضح
Apa yang mereka sebutkan ini berbeda dengan metode para ulama Marw; sebab mereka membahas penjelasan sifat-sifat barang menurut pendapat kami bahwa jual beli barang yang tidak hadir tidak sah. Mereka mengatakan, apakah penjelasan sifat secara rinci dapat disamakan dengan melihat barang sehingga akad menjadi sah karenanya, sebagaimana telah dijelaskan dalam cabang pembahasan pada pendapat pertama. Mereka juga membahas penjelasan sifat secara rinci dalam konteks membolehkan jual beli barang yang tidak hadir pada tempat lain, lalu mereka mengatakan: jika barang yang dijual dijelaskan sifat-sifatnya secara rinci kemudian sifat-sifat tersebut terpenuhi, apakah hak khiyār ru’yah (opsi membatalkan setelah melihat barang) tetap ada atau tidak? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan penjelasan keduanya jelas.
فأما اشتراط استيفاء الصفات في تصحيح العقد على قول تجويز بيع الغائب فمما انفرد به العراقيون ثم قياس طريقهم عندي أن من اشترط استقصاءَ الصفات على قول تجويز بيع الغائب فإذا وفت ثبت خيارُ الرؤية وجهاً واحداً فإن هذا القائل لا يصحح بيعَ الغائب إلا عند استقصاء الصفات وخيار الرؤية لا سبيل إلى نفيه أصلاً ولو خُص الخيار بالخُلف لكان خيار الخلف ومما نفرعه على تجويز بيع الغائب خيار الرؤية
Adapun persyaratan pemenuhan sifat-sifat dalam pensahihan akad menurut pendapat yang membolehkan jual beli barang gaib, maka hal ini merupakan kekhususan ulama Irak. Kemudian, menurut qiyās metode mereka menurut saya, siapa yang mensyaratkan penjelasan sifat-sifat secara rinci menurut pendapat yang membolehkan jual beli barang gaib, apabila sifat-sifat tersebut telah dijelaskan secara lengkap, maka hak khiyār ru’yah (pilihan setelah melihat barang) tetap berlaku secara pasti. Sebab, menurut pendapat ini, jual beli barang gaib tidak sah kecuali dengan penjelasan sifat-sifat secara rinci, dan hak khiyār ru’yah sama sekali tidak mungkin dihilangkan. Jika khiyār itu dikhususkan hanya pada adanya perbedaan (antara sifat dan kenyataan), maka itu menjadi khiyār karena perbedaan. Di antara cabang yang kami uraikan berdasarkan kebolehan jual beli barang gaib adalah khiyār ru’yah.
فصل
Bab
خيارُ المجلس يثبت في البياعات كما سيأتي فالوجه أن نذكر حكمَ خيار المجلس في بيع الغائب أولاً ثم نبني عليه خيارَ الرؤية فنقول اختلف الأئمةُ في خيار المجلس في بيع الغائب فمنهم من قال يثبت خيار المجلس للمتعاقدين كما يثبت في كل بيع ووجهه ظاهر
Khiyār majlis berlaku dalam transaksi jual beli sebagaimana akan dijelaskan nanti. Maka yang tepat adalah kita sebutkan terlebih dahulu hukum khiyār majlis dalam jual beli barang yang tidak hadir, kemudian kita bangun di atasnya hukum khiyār ru’yah. Para imam berbeda pendapat mengenai khiyār majlis dalam jual beli barang yang tidak hadir; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa khiyār majlis tetap berlaku bagi kedua pihak yang berakad sebagaimana berlaku dalam setiap jual beli, dan alasan pendapat ini jelas.
ومنهم من قال لا يثبت لهما خيار المجلس متصلاً بالعقد؛ فإنَّ خيار الرؤية خيارٌ شرعي لا يختص ثبوته بغرض فهو في معنى خيار المجلس فيبعد اجتماع خيارين من جنسٍ واحدٍ وهذا الوجه بعيدٌ؛ فإنّ نفي خيار المجلس في حق البائع لا وجه له؛ إذ ليس في حقه خيار الرؤية وكل ما نذكره فيما رآه البائع دون المشتري
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa keduanya tidak berhak mendapatkan khiyār majlis yang berkaitan langsung dengan akad; karena khiyār ru’yah adalah khiyār syar‘i yang penetapannya tidak terbatas pada tujuan tertentu, sehingga ia serupa dengan khiyār majlis. Maka, sulit untuk menggabungkan dua khiyār dari jenis yang sama. Namun, pendapat ini lemah; sebab meniadakan khiyār majlis bagi penjual tidaklah beralasan, karena penjual tidak memiliki hak khiyār ru’yah. Segala hal yang kami sebutkan berkaitan dengan apa yang telah dilihat oleh penjual namun belum dilihat oleh pembeli.
ومنهم من قال يثبت خيارُ المجلس للبائع عقيب العقد على الاتصال ولا يثبت للمشتري خيارُ المجلس لمكان ثبوت خيار الرؤية له وهذا أمثل من الثاني
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hak khiyār majlis tetap dimiliki oleh penjual segera setelah akad selama masih dalam satu majlis, dan hak khiyār majlis tidak tetap bagi pembeli karena pembeli sudah memiliki hak khiyār ru’yah. Pendapat ini lebih kuat daripada pendapat kedua.
والصحيح هو الأول فهذا هو القول في خيار المجلس وفيه بقية سنذكرها
Pendapat yang benar adalah yang pertama; inilah pendapat mengenai khiyār majlis, dan masih ada sisanya yang akan kami sebutkan.
فأما خيار الرؤية فلا شك في ثبوته عند الرؤية وهل يثبت قبل الرؤية للمشتري فعلى وجهين أحدهما لا يثبت؛ فإنه منوط في الخبر إن صح بالرؤية كما سنرويه في آخر الباب
Adapun khiyār ru’yah, maka tidak diragukan lagi bahwa ia berlaku ketika melihat barang. Namun, apakah khiyār ini berlaku bagi pembeli sebelum melihat barang, terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan tidak berlaku; karena dalam hadis, jika sah, khiyār ini dikaitkan dengan melihat barang, sebagaimana akan kami riwayatkan di akhir bab.
والوجه الثاني أنه يثبت الخيارُ قبل الرؤية؛ فإنا نُثبت له حقَّ الفسخ عند الرؤية مغبوناً كان أو مغبوطاً فلا معنى لاشتراط الرؤية
Dan alasan kedua adalah bahwa hak khiyar tetap berlaku sebelum melihat barang; karena kami menetapkan baginya hak untuk membatalkan (akad) ketika melihat barang, baik ia merasa dirugikan maupun diuntungkan, maka tidak ada makna untuk mensyaratkan adanya melihat barang terlebih dahulu.
ثم إن لم يثبت خيار الرؤية قبلها لم ينفذ فسخُ المشتري ولا إجازته وإن أثبتنا الخيارَ قبل الرؤية فينفذ الفسخُ ولا تنفذ الإجازة؛ لأن الفسخ مقصود الخيار فنفذ لقوّته ووقفت الإجازةُ على الرؤية هذا ما وجدته في الطرق فأما إذا رأى فالخيار يثبت
Kemudian, jika hak khiyār ru’yah belum ditetapkan sebelumnya, maka pembatalan atau persetujuan dari pembeli tidak berlaku. Namun, jika kita menetapkan adanya hak khiyār sebelum melihat barang, maka pembatalan berlaku, sedangkan persetujuan tidak berlaku; karena pembatalan adalah tujuan dari khiyār sehingga berlaku karena kekuatannya, sedangkan persetujuan bergantung pada melihat barang. Inilah yang saya temukan dalam berbagai pendapat. Adapun jika pembeli telah melihat barang, maka hak khiyār menjadi tetap.
وأحسنُ ترتيب فيه أنا إن أثبتنا للمشتري خيارَ المجلس عقيب العقد فهذا الخيارُ يثبت على الفور ولا يمتد امتداد المجلس وإن قلنا لا يثبت له خيار المجلس ابتداءً فإذا ثبت له الخيار عند الرؤية فهل يمتد امتدادَ المجلس فعلى وجهين أحدهما أنه على الفور كخيار العيب ووجهه أنه معلّق شرعاً بالرؤية وليس ممدوداً فليقرن بها كخيار العيب المنوط بالاطلاع على العيب وهذا هو الصحيح
Susunan terbaik dalam masalah ini adalah: jika kita menetapkan bagi pembeli hak khiyār majlis setelah akad, maka hak khiyār tersebut berlaku seketika dan tidak berlangsung selama majlis. Namun, jika kita berpendapat bahwa khiyār majlis tidak ditetapkan sejak awal baginya, lalu hak khiyār itu ditetapkan ketika melihat barang, maka apakah hak tersebut berlangsung selama majlis? Ada dua pendapat: salah satunya, hak tersebut berlaku seketika seperti khiyār ‘aib; alasannya karena hak itu secara syar‘i digantungkan pada saat melihat barang dan tidak diperpanjang, sehingga harus disertakan dengan saat melihat, sebagaimana khiyār ‘aib yang terkait dengan penemuan cacat. Dan inilah pendapat yang benar.
والوجه الثاني أنه يمتد في حقه امتداد المجلس؛ فإنه لم يثبت له خيار المجلس وهذا شبيهٌ بخيار المجلس فكأنه اعتاضه عنه فإن قلنا خياره على الفور فلا يثبت للبائع الخيار وإن نفينا خيار المجلس عنه ابتداء؛ فإنا إذا حكمنا بأن خيار الرؤية على الفور فلابد من اختصاصه بمن لم يرَ وإن حكمنا بأنه يمتد امتداد المجلس وأثبتنا للبائع خيار المجلس ابتداء فلا خيار له عند الرؤية بعد انقضاء المجلس
Pendapat kedua adalah bahwa haknya berlangsung selama berlangsungnya majelis; karena ia tidak mendapatkan hak khiyār majelis, sedangkan ini mirip dengan khiyār majelis, seolah-olah ia menggantikan hak tersebut. Jika kita katakan khiyār-nya harus segera dilakukan, maka penjual tidak mendapatkan hak khiyār. Dan jika kita meniadakan khiyār majelis baginya sejak awal; maka jika kita menetapkan bahwa khiyār ru’yah harus segera dilakukan, maka itu hanya khusus bagi orang yang belum melihat. Namun jika kita menetapkan bahwa khiyār ru’yah berlangsung selama majelis dan kita memberikan penjual hak khiyār majelis sejak awal, maka ia tidak memiliki hak khiyār setelah melihat barang dan majelis telah berakhir.
وإن لم نُثبت للبائع خيارَ المجلس ابتداء وحكمنا بامتداد خيار الرؤية في حق المشتري فهل يثبت للبائع الخيار مع المشتري على وجهين أحدهما لا يثبت ويختص بمن لم يَرَ المبيع والثاني يثبت وحقيقةُ الوجهين ترجع إلى أن هذا خيار المجلس أم لا فكأن أحد القائلَيْن يزعم أن خيار المجلس يتراخى في بيع الغائب إلى وقت الرؤية فعلى هذا يثبت الخيارُ للبائع مع المشتري والثاني يقول ليس هو خيارُ مجلس وإن امتد امتداد مجلس المشتري فعلى هذا لا يثبت للبائع
Jika kita tidak menetapkan bagi penjual hak khiyār majlis sejak awal dan kita memutuskan bahwa khiyār ru’yah bagi pembeli tetap berlaku, maka apakah penjual juga mendapatkan hak khiyār bersama pembeli? Ada dua pendapat: pertama, tidak menetapkan hak tersebut dan hanya khusus bagi yang belum melihat barang yang dijual; kedua, menetapkan hak tersebut. Hakikat dari kedua pendapat ini kembali pada pertanyaan apakah ini adalah khiyār majlis atau bukan. Seolah-olah salah satu dari dua pendapat tersebut beranggapan bahwa khiyār majlis dalam jual beli barang yang tidak hadir (ghā’ib) berlangsung hingga waktu melihat barang, sehingga menurut pendapat ini hak khiyār juga berlaku bagi penjual bersama pembeli. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa ini bukanlah khiyār majlis, meskipun berlangsung sepanjang majlis pembeli, sehingga menurut pendapat ini hak khiyār tidak berlaku bagi penjual.
فهذا ما أردناه
Inilah yang kami maksudkan.
فصل
Bab
يجمع مسائل تلتحق ببيع الغائب
Menghimpun permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan jual beli barang yang tidak hadir.
منها إذا اشترى صُبْرةً من حنطة أو غيرها من المتماثلات وكان لا يختلف ظاهرها وباطنها فهو صحيح قولاً واحداً؛ فإن الظاهر دالٌّ على الباطن وهذا يُعدّ رؤية عُرفاً ولو كان باطن الصُّبْرة يخالف ظاهرَها فحِفْظِي عن الإمام أن ذاك بيعُ غائب وفيه احتمالٌ ظاهر عندي ولو ظهرت تحت الصُّبرة دِكَّة وكان المشتري يَحسَب الصُّبرة حنطة إلى استواء الأرض فقد كان شيخي يقول هذا بيع الغائب وقال غيره هو بيع معاين؛ فإن الحنطة لم تختلف ولكن يثبت الخيار للمشتري وستأتي نظائر ذلك في بيع المصراة ولا وجه لما قاله شيخي
Di antaranya, jika seseorang membeli satu tumpukan gandum atau barang sejenis yang serupa dan tidak ada perbedaan antara bagian luar dan dalamnya, maka jual beli tersebut sah menurut satu pendapat; karena bagian luar menunjukkan bagian dalam, dan ini dianggap sebagai melihat secara ‘urf (kebiasaan). Namun, jika bagian dalam tumpukan berbeda dengan bagian luarnya, menurut pendapat yang saya hafal dari Imam, itu adalah jual beli barang gaib, dan menurut saya ada kemungkinan yang jelas dalam hal ini. Jika di bawah tumpukan itu terdapat gundukan, sementara pembeli mengira tumpukan gandum itu rata dengan tanah, guru saya dulu mengatakan bahwa ini adalah jual beli barang gaib, sedangkan yang lain berpendapat ini adalah jual beli barang yang dilihat; karena gandumnya tidak berbeda, tetapi pembeli berhak mendapatkan khiyar (hak memilih). Contoh serupa akan dijelaskan pada pembahasan jual beli al-muṣarrāh. Tidak ada alasan untuk pendapat yang dikatakan oleh guru saya.
ولو قال بعتك صاعاً من داخل الصُّبْرة فهو بيع غائب وأقرب صورة شبهاً بهذا مسألة النموذج إذا لم يدخل في البيع ولو قال بعتك صاعاً من هذه الصُّبْرة فليس بيعَ غائب ولكن في بيع صاع من صُبْرة تفصيلٌ لا يتعلق بالغَيْبة والحضور
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu satu sha‘ dari dalam tumpukan ini,” maka itu adalah jual beli barang yang tidak hadir (ghā’ib). Dan gambaran yang paling mirip dengan ini adalah masalah “namūdzaj” jika tidak termasuk dalam akad jual beli. Namun jika ia berkata, “Aku menjual kepadamu satu sha‘ dari tumpukan ini,” maka itu bukanlah jual beli barang yang tidak hadir. Akan tetapi, dalam jual beli satu sha‘ dari suatu tumpukan terdapat rincian yang tidak berkaitan dengan kehadiran atau ketidakhadiran barang.
ولو اشترى ثوباً منشوراً ورأى أحد وجهيه وكان لا يستدل به على الوجه الثاني فهو بيع غائب فإن كان لا يختلف وجهاه كالكرباس وما في معناه ففيه وجهان ذكرهما شيخي والصيدلاني والوجهُ القطعُ بأنّه بيعُ غائب
Jika seseorang membeli kain yang terbentang dan ia melihat salah satu sisinya, sedangkan dari sisi itu tidak dapat diketahui keadaan sisi yang lain, maka itu adalah jual beli barang gaib. Jika kedua sisinya tidak berbeda, seperti kain katun dan yang semisalnya, maka ada dua pendapat yang disebutkan oleh guruku dan As-Saidalani, dan pendapat yang kuat adalah bahwa itu merupakan jual beli barang gaib.
وذكر المُزني مسألة تردد فيها الأصحابُ وهي أن من باع منديلاً نصفه في صندوق ونصفه بارز منه فقد اختلف الأئمة في المسألة فمنهم من قطع بأن المسألة على قَوْلي بيع الغائب والشافعي أجاب بالفساد جرياً على أحد القولين وأشار بعضُ الأصحاب إلى أن البيعَ يفسُد في هذه الصورة قولاً واحداً؛ لأن ما لم يره في محل خيار الرؤية لو صح البيع فيه وما رآه لا خيار فيه وهذا قد يُفضي إلى قطع البارز عن المستور
Al-Muzani menyebutkan suatu permasalahan yang para sahabat berbeda pendapat di dalamnya, yaitu apabila seseorang menjual sapu tangan yang setengahnya berada di dalam kotak dan setengahnya tampak di luar kotak. Para imam berbeda pendapat mengenai masalah ini; di antara mereka ada yang menegaskan bahwa permasalahan ini mengikuti dua pendapat dalam jual beli barang gaib, dan asy-Syafi‘i berpendapat bahwa jual beli tersebut batal, mengikuti salah satu dari dua pendapat. Sebagian sahabat juga menunjukkan bahwa jual beli dalam kasus ini batal menurut satu pendapat, karena bagian yang tidak dilihat termasuk dalam kategori khiyār ar-ru’yah jika jual belinya sah, sedangkan bagian yang telah dilihat tidak ada hak khiyar di dalamnya, dan hal ini bisa menyebabkan terpisahnya bagian yang tampak dari bagian yang tersembunyi.
وهذا ليس بشيء؛ فإنا لو قدرنا خيار الرؤية لاقتضى ردّ الجميع كما لو اشترى عمامة رآها ثم وجد بجزءٍ منها عيباً؛ فإنه يرد جميعَها ولا يختص الرد بمحل العيب
Ini tidaklah benar; sebab jika kita menganggap adanya khiyār ru’yah, maka hal itu menuntut pengembalian seluruh barang, sebagaimana jika seseorang membeli sorban yang telah ia lihat, lalu ia menemukan cacat pada sebagian bagiannya; maka ia mengembalikan seluruh sorban itu dan pengembalian tidak hanya terbatas pada bagian yang cacat saja.
وأشار بعض الأصحاب إلى تخريج المسألة على تفريق الصفقة إذا اشتملت على مختلفين وهذا فاسدٌ لما قدمناه؛ فإن الكل في حكم ما لم يُرَ كما استشهدنا به في العيب؛ إذ المبيع واحد فلا وجه إلا طريقة القولين
Sebagian ulama menyatakan bahwa masalah ini dapat dianalogikan dengan pemisahan akad apabila mencakup dua hal yang berbeda, namun pendapat ini tidak tepat sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya; sebab semuanya dianggap seperti sesuatu yang belum terlihat, sebagaimana kami jadikan dalil dalam masalah cacat; karena barang yang dijual adalah satu, maka tidak ada jalan kecuali dengan metode dua pendapat.
ولو اشترى ثوباً مطوياً فقد ألحقه الأئمة ببيع الغائب وقطعوا القول به
Jika seseorang membeli kain yang terlipat, para imam telah menyamakannya dengan jual beli barang yang tidak hadir dan mereka sepakat atas ketentuan hukumnya.
فصل
Bab
المعتمد في الأصل اتباع العُرف في الإعلام ونحن في منع بيع الغائب إذ عَنَيْنا بأن المبيع لم يعلم عنينا لم يعلم بما يعلم مثلُه في العرف ومعلوم أن من الثياب ما يَنْقُصه النشر والردّ إلى طاقةٍ واحدة ولا يُنشر كذلك إلا إذا أريد قطعه وقد جرى العرف بأن مثل هذا الثوب يُرى منه طاقات ولا ينشر عند البيع
Pada dasarnya, yang dijadikan pegangan adalah mengikuti ‘urf (kebiasaan) dalam hal pemberitahuan. Dalam larangan menjual barang yang gaib (tidak hadir), ketika kami maksudkan bahwa barang yang dijual tidak diketahui, yang kami maksud adalah tidak diketahui sebagaimana biasanya diketahui menurut ‘urf. Telah diketahui bahwa ada jenis kain yang akan berkurang nilainya jika dibentangkan dan dilipat kembali menjadi satu lipatan, dan kain tersebut tidak akan dibentangkan kecuali jika ingin dipotong. Sudah menjadi kebiasaan bahwa kain seperti ini hanya diperlihatkan lipatannya saja dan tidak dibentangkan saat dijual.
فما نقله الأئمة تخريج المسألة على قولي بيع الغائب ويحتمل عندي أن يُصحَّح البيع قطعاً لما في النشر من التنقيص ويُلحق ذلك ببيع الجوز والمقصود منه لُبُّه ولكن لما كان في كسره إبطالُ مقصود الادّخار وانضمَّ إلى ذلك عموم العرف صح العقد
Apa yang dinukil oleh para imam adalah men-takhrij masalah ini berdasarkan dua pendapat tentang jual beli barang gaib, dan menurut saya, ada kemungkinan untuk memastikan keabsahan jual beli tersebut secara pasti karena dalam penyebaran (barang) terdapat unsur pengurangan. Hal ini dapat dianalogikan dengan jual beli kenari, di mana yang dimaksudkan adalah isinya. Namun, karena memecahnya akan merusak tujuan penyimpanan dan ditambah lagi dengan kebiasaan umum yang berlaku, maka akad jual belinya menjadi sah.
فإن قيل عمّ العُرف ببيع الثياب التّوزيَّة في المُسوح قلنا لا يتجه فيه إلا التخريج على بيع الغائب وعموم عرف أهل الزمان يُحمَل على مقصود المالية والإضراب عن رعاية حدود الشرع على قول من يمنع بيع الغائب
Jika dikatakan bahwa telah menjadi kebiasaan (‘urf) umum menjual pakaian secara tak terlihat dalam bentuk kain kasar, maka kami katakan: hal itu hanya dapat diarahkan pada analogi (takhriij) terhadap jual beli barang yang tidak hadir (bai‘ al-ghā’ib). Adapun kebiasaan umum masyarakat pada masa itu, maka hal itu didasarkan pada tujuan memperoleh nilai harta (al-māliyah) dan mengabaikan ketentuan-ketentuan syariat, menurut pendapat yang melarang jual beli barang yang tidak hadir.
والذي يحقق ذلك أن من أراد ابتياع ثوب بعينه ممّا في المسح فإنه يراه عرفاً ثم يشتريه
Yang menjelaskan hal itu adalah bahwa siapa pun yang ingin membeli sebuah pakaian tertentu dari barang-barang yang telah diperiksa, maka secara kebiasaan ia akan melihatnya terlebih dahulu, kemudian membelinya.
فإن قيل من اشترى جارية متنقبة فهو بيع غائب فإن أراد الخروج عن القولين فكيف السبيل قلنا ينظر إلى وجهها ويديها ورجليها وإلى ما يظهر من أطراف ساقها وساعدها في الفِضْلَةِ والمهنة ويجوز أن نقول ينبغي أن يرى ما ليس عورة من الجارية باتفاق وهو المعروض منها في العرف
Jika dikatakan bahwa siapa yang membeli seorang budak perempuan yang bercadar maka itu adalah jual beli barang yang tidak tampak, maka jika ingin keluar dari dua pendapat tersebut, bagaimana caranya? Kami katakan: hendaknya ia melihat wajah, kedua tangan, kedua kaki, serta apa yang tampak dari ujung betis dan lengan bawahnya ketika melakukan pekerjaan tambahan dan tugas, dan boleh juga dikatakan bahwa seharusnya ia melihat bagian dari budak perempuan yang bukan aurat menurut kesepakatan, yaitu bagian yang biasa tampak menurut kebiasaan.
وظهر اختلاف الأصحاب في أن رؤية الشعر هل هي من تمام عرضها حتى إذا لم يُرَ كان العقد بيعَ غائب
Terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai apakah melihat rambut termasuk bagian dari menampakkannya secara sempurna, sehingga jika rambut tersebut tidak terlihat maka akadnya dianggap sebagai jual beli barang yang tidak hadir.
ولم يتعرض الأصحاب لكشف الرأس وهو محتمل عندنا ويمكن أن يستفاد من ذكر الاختلاف في كشف الشعر الاختلافُ فيه
Para ulama tidak membahas secara khusus tentang membuka kepala, padahal hal itu memungkinkan menurut kami. Bisa jadi perbedaan pendapat mengenai membuka kepala dapat diambil dari perbedaan pendapat tentang membuka rambut.
فرع
Cabang
قال الشيخ أبو علي في شرح التلخيص بيع اللحم في الجلد قبل السلخ باطلٌ قولاً واحداً سواءٌ بيع دون الجلد أو مع الجلد
Syekh Abu Ali berkata dalam Syarh at-Talkhīṣ: Menjual daging yang masih di dalam kulit sebelum disembelih hukumnya batal menurut satu pendapat, baik dijual tanpa kulit maupun bersama kulit.
وعندي أن تخريج بيعه مع الجلد على قولي بيع الغائب محتمل وقال الشيخ إذا سلخ الجلد ثم رُدّ اللحم إليه فبيع فهو على قولي بيع الغائب
Menurut pendapat saya, mengqiyaskan jual beli daging bersama kulitnya kepada pendapat tentang jual beli barang yang tidak hadir adalah memungkinkan. Syekh berkata, jika kulit telah disamak lalu daging dikembalikan kepadanya kemudian dijual, maka hukumnya seperti pendapat tentang jual beli barang yang tidak hadir.
وبيع الرؤوس والأكارع وعليها جلودها مشويةَ ونِيّة جائزٌ قولاً واحداً وذلك غالب في العرف والجلودُ مأكولة عليها؛ فهي كاللحم وأما السموط فقد قال الشيخ يجوز بيعهُ مشوياً ونِيّاً مهيأً للشي
Menjual kepala dan kaki hewan yang masih berkulit, baik yang sudah dipanggang maupun masih mentah, hukumnya boleh menurut satu pendapat, karena hal itu sudah umum dalam kebiasaan, dan kulitnya dapat dimakan bersama dagingnya; maka hukumnya seperti daging. Adapun sāmūt, menurut pendapat Syaikh, boleh dijual baik dalam keadaan sudah dipanggang maupun masih mentah yang telah disiapkan untuk dipanggang.
وأنا أقول أما المشوي فكما قال وفي النِّىّ احتمالٌ
Dan aku katakan, adapun yang dipanggang maka sebagaimana yang telah dikatakan, sedangkan pada yang mentah terdapat kemungkinan.
فرع
Cabang
من باع شيئاً والبائع لم يره ففي صحة العقد قولان والمراوزة يرتبون القولين في ذلك على القولين فيه إذا رأى البائع ولم ير المشتري ويجعلون عدم رؤية البائع أولى باقتضاء الفساد والعراقيون يرون عدم رؤية المشتري أولى باقتضاء الفساد وما ذكروه أفقه؛ فإن المشتري متملكٌ والضبط بالتملك أَلْيق والبائع مزيل والذي يحقق ذلك أن المشتري إذا اطلع على عيب فيما حسبه سليماً فله الخيار والبائع لو باع ما يحسبه معيباً ثم استبان أنه سليم فلا خيار له
Barang siapa menjual sesuatu sementara penjual belum melihat barang tersebut, maka dalam keabsahan akad terdapat dua pendapat. Ulama Marwazi mengaitkan dua pendapat ini dengan dua pendapat dalam kasus ketika penjual telah melihat barang namun pembeli belum melihatnya, dan mereka menganggap bahwa tidak melihatnya penjual lebih utama menyebabkan rusaknya akad. Sedangkan ulama Irak berpendapat bahwa tidak melihatnya pembeli lebih utama menyebabkan rusaknya akad, dan apa yang mereka sebutkan lebih sesuai dengan fiqh; karena pembeli adalah pihak yang memiliki (barang), dan ketelitian dalam kepemilikan lebih layak, sedangkan penjual adalah pihak yang melepaskan (kepemilikan). Yang menguatkan hal ini adalah bahwa jika pembeli menemukan cacat pada barang yang ia kira sebelumnya baik, maka ia memiliki hak khiyar, sedangkan penjual jika menjual barang yang ia kira cacat lalu ternyata barang itu baik, maka ia tidak memiliki hak khiyar.
التفريع
Pengembangan cabang hukum
إذا صححنا بيعَ ما لم يره البائع ففي ثبوت الخيار له وجهان أحدهما يثبت كالمشتري والثاني لا يثبت وهو الأصح؛ لأنه مزيل والخيار عنه بعيد
Jika kita membolehkan jual beli atas barang yang belum dilihat oleh penjual, maka dalam hal penetapan hak khiyar bagi penjual terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, hak khiyar itu tetap ada sebagaimana pada pembeli. Pendapat kedua, hak khiyar tidak tetap, dan inilah yang lebih sahih; karena hak khiyar itu bersifat menghapuskan, sedangkan menetapkannya bagi penjual adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat).
فرع
Cabang
كان شيخي يقول هبة الغائب كشراء الغائب ويحتمل أن تُرتَّب الهبةُ على الشراء؛ إذ الهبة بالصحة أولى؛ فإنها ليست عقدَ مغابنة والرهنُ قريبٌ من الهبة
Guru saya biasa berkata bahwa hibah terhadap barang yang tidak hadir itu seperti jual beli barang yang tidak hadir, dan dimungkinkan untuk menyamakan hukum hibah dengan jual beli; sebab hibah lebih utama untuk dianggap sah, karena hibah bukanlah akad yang mengandung unsur saling merugikan, dan rahn (gadai) itu dekat hukumnya dengan hibah.
Bab tentang hak khiyar bagi kedua pihak yang berjual beli selama mereka belum berpisah.
خيار المجلس ثابتٌ عند الشافعي والمعتمد الخبر الصحيح ومعنى خيار المجلس أن يتخير المتعاقدان في الفسخ والإجازة بعد العقد ما لم يتفرقا
Khiyār majlis tetap berlaku menurut Imam Syafi‘i dan yang dijadikan pegangan adalah hadis yang sahih. Makna khiyār majlis adalah kedua belah pihak yang berakad memiliki pilihan untuk membatalkan atau melanjutkan akad setelah akad dilakukan, selama mereka belum berpisah.
ونحن نتكلم في معنى لفظةٍ في الحديث المعتمد وهو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال المتبايعان كل واحد منهما على صاحبه بالخيار ما لم يتفرقا إلا بيعَ الخيار
Kita sedang membahas makna suatu lafaz dalam hadis yang dijadikan sandaran, yaitu bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Dua orang yang melakukan jual beli, masing-masing dari keduanya berhak memilih (melanjutkan atau membatalkan akad) selama mereka belum berpisah, kecuali dalam jual beli dengan syarat khiyār.”
وقد اختلف أصحابنا في قوله إلا بيع الخيار منهم من قال معناه يلزم البيعُ بالتفرق عن مجلس العقد إلا بيعاً يشرط فيه خيار ثلاثة أيام؛ فإنه يبقى جوازه ببقاء مدة الخيار وإن انقطع خيارُ المجلس بالتفرق
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai ucapannya “kecuali jual beli khiyār.” Sebagian dari mereka berkata, maksudnya adalah jual beli menjadi mengikat dengan berpisahnya kedua pihak dari majelis akad, kecuali jual beli yang disyaratkan adanya khiyār selama tiga hari; maka kebolehan membatalkannya tetap ada selama masa khiyār masih berlangsung, meskipun khiyār majelis telah terputus karena perpisahan.
ومن أصحابنا من قال معناه أنه يثبت خيار المجلس في كل بيع إلا بيعاً يشترط فيه المتعاقدان نفيَ خيار المجلس
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa maksudnya adalah hak khiyar majelis tetap berlaku pada setiap transaksi jual beli, kecuali pada jual beli yang kedua belah pihak yang berakad mensyaratkan tidak adanya khiyar majelis.
وهذا التأويل يستدعي تقديمَ بيان المذهب في ذلك فنقول اختلف الأئمة في البيع الذي يشترط فيه نفيُ خيار المجلس على ثلاثة أوجه فمنهم من قال الشرط فاسد لمخالفته مقتضى الشرع ثم إذا فسد الشرط فسد البيع وهذا ليس بالمرضي
Takwil ini memerlukan penjelasan terlebih dahulu mengenai mazhab dalam hal ini. Maka kami katakan bahwa para imam berbeda pendapat tentang jual beli yang di dalamnya disyaratkan penghapusan khiyār majlis menjadi tiga pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa syarat tersebut batal karena bertentangan dengan ketentuan syariat, kemudian jika syaratnya batal maka batal pula jual belinya, dan pendapat ini tidaklah memuaskan.
ومنهم من قال الشرط صحيح وينتفي الخيار ويلزم العقد وهذا القائل يحمل قول الرسول صلى الله عليه وسلم على هذا وقد روى الشافعي هذا التأويلَ عن مسلم بن خالد الزنجي فإن قيل كيف يحمل قوله إلا بيع الخيار على نفي الخيار قلنا المتعاقدان لو تخايرا في المجلس وأَلزما العقدَ لزم فإذا شرطا قطعَ خيار المجلس فكأنهما تعجلا التخايرَ والإلزامَ حالة العقد
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa syarat tersebut sah, hak khiyar menjadi gugur, dan akad menjadi wajib. Pendapat ini menafsirkan sabda Rasulullah saw. dengan pemahaman seperti ini. Asy-Syafi‘i meriwayatkan penafsiran ini dari Muslim bin Khalid az-Zanji. Jika ada yang bertanya, bagaimana mungkin sabda beliau “kecuali jual beli dengan khiyar” dipahami sebagai meniadakan khiyar, maka kami katakan: Jika kedua pihak yang berakad saling memberikan khiyar di majelis dan kemudian mewajibkan akad, maka akad itu menjadi wajib. Maka, jika mereka mensyaratkan penghapusan khiyar majelis, seakan-akan mereka telah mempercepat proses saling memberikan khiyar dan mewajibkan akad pada saat akad itu terjadi.
ومن أصحابنا من قال الشرط فاسد والعقد صحيح ويثبت خيار المجلس
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa syarat tersebut batal, namun akadnya tetap sah dan hak khiyār majlis tetap berlaku.
وهذه الأوجه الثلاثة تقرب من الاختلاف في شرط نفي خيار الردّ بالعيب على ما سيأتي ولذلك لم نُغرق في التوجيه
Ketiga pendapat ini mendekati perbedaan pendapat mengenai syarat meniadakan hak khiyār untuk mengembalikan barang karena cacat, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Oleh karena itu, kami tidak terlalu mendalam dalam penjelasan.
وإذا صححنا بيع الغائب فشرط فيه نفي خيار الرؤية ففيه الأوجه الثلاثة في خيار المجلس وخيار الرؤية أبعد عن قبول النفي؛ فإن بيع الغائب مع نفي الخيار غرر ظاهر ولا يتحقق ذلك في خيار المجلس
Jika kita membolehkan jual beli barang yang tidak hadir, lalu disyaratkan di dalamnya penghilangan khiyār ru’yah, maka terdapat tiga pendapat sebagaimana pada khiyār majlis. Namun, khiyār ru’yah lebih jauh dari kemungkinan untuk dihilangkan; sebab jual beli barang yang tidak hadir dengan penghilangan khiyār adalah gharar yang nyata, dan hal ini tidak terjadi pada khiyār majlis.
فهذا تمهيدُ معتمدِ الباب ثم نذكر بعد ذلك فصلين أحدهما ما يثبت فيه خيار المجلس من العقود والثاني في ذكر ما يقطع الخيارَ أو يُنهيه
Ini adalah pengantar inti dari bab ini, kemudian setelah itu kami akan menyebutkan dua bagian: yang pertama tentang akad-akad yang di dalamnya berlaku khiyār majlis, dan yang kedua tentang hal-hal yang membatalkan atau mengakhiri khiyār tersebut.
الفصل الأول
Bab Pertama
فيما يثبت فيه خيار المجلس
Hal-hal yang menetapkan adanya khiyār majlis.
فأما ما يثبت فيه خيارُ المجلس فقد قال الأئمة إنه يثبت في كل بيع؛ فإن المعتمد فيه الخبر وهو عام في كل بيع فيندرجُ تحت ما ذكرناه بيعُ العُروض والصَّرف والسَّلم والمرابحة والتَّوْلية والإشراك كما سيأتي بيانها
Adapun mengenai jual beli yang di dalamnya terdapat khiyār majlis, para imam telah mengatakan bahwa khiyār tersebut berlaku pada setiap jual beli; karena dasar penetapannya adalah hadis yang bersifat umum untuk setiap jual beli. Maka termasuk dalam hal yang telah kami sebutkan adalah jual beli barang dagangan, sharf, salam, murabahah, tawliyah, dan isyrāk, sebagaimana akan dijelaskan nanti.
وذكر شيخي وجهين في الولي الذي يتولى طرفي العقد إذا باع مالَ الطِّفل من نفسه أو باع ماله من طفله فهل يثبت له خيار المجلس فعلى وجهين أحدهما لا يثبت؛ فإن المعوّل الخبر وهو في المتبايعين والولي قد تولى الطرفين
Syekh saya menyebutkan dua pendapat mengenai wali yang menangani kedua belah pihak dalam akad, apabila ia menjual harta anak kecil kepada dirinya sendiri atau menjual hartanya kepada anak kecilnya, apakah ia berhak mendapatkan khiyār majlis? Maka terdapat dua pendapat: salah satunya adalah tidak berhak, karena yang dijadikan sandaran adalah hadis, dan hadis itu berlaku pada dua orang yang saling berjual beli, sedangkan wali telah menangani kedua belah pihak.
والثاني يثبت وهو ظاهر المذهب؛ فإنه بيعٌ محقق وغرض الشارع إثباتُ خيار المجلس في البيع وخصص المتبايعين إجراء للكلام على الغالب المعتاد
Yang kedua, pilihan majelis tetap berlaku, dan ini adalah pendapat yang jelas dalam mazhab; karena ini adalah jual beli yang sah, dan tujuan syariat adalah menetapkan khiyar majelis dalam jual beli, serta penyebutan dua pihak yang berjual beli hanya sebagai penyesuaian dengan kebiasaan yang umum terjadi.
فإن قلنا له الخيار فيمتد امتدادَ مجلس العقد ثم الوجه عندي إثباتُ الخيار من وجهين أحدهما للولي على الخصوص والثاني للطفل والولي نائب عنه فإن فسخ نفذ كيف فرض الأمر وإن أجاز في حق نفسه ونظر في إجازته لطفله لزم العقدُ وإن أجاز في حق نفسه بقي له النظر لطفله في الفسخ والإجازة
Jika kita katakan bahwa ia memiliki hak khiyar, maka hak itu berlangsung selama majelis akad. Menurut pendapat saya, yang tepat adalah menetapkan hak khiyar dari dua sisi: pertama, khusus bagi wali; kedua, bagi anak, dan wali bertindak sebagai wakilnya. Jika wali membatalkan akad, maka pembatalan itu sah dalam keadaan apa pun. Jika ia mengesahkan akad untuk dirinya sendiri, maka perlu dilihat apakah ia juga mengesahkan untuk anaknya; jika iya, maka akad menjadi tetap. Namun jika ia hanya mengesahkan untuk dirinya sendiri, maka ia masih memiliki hak untuk memilih bagi anaknya antara membatalkan atau mengesahkan akad tersebut.
فرع
Cabang
إذا اشترى الرجل من يَعتِق عليه فالمذهب المشهور أنه لا يثبت فيه خيارُ المجلس؛ فإنه ليس عقد مغابنة والحديث وإن لم يتقيد بالمغابنة فهو مشعرٌ بعقد يفرض في مثله استدراك غبينة وقال أبو بكر الأُودَني يثبتُ خيارُ المجلس وتمسك بظاهر الحديث وبقوله صلى الله عليه وسلم لن يَجزيَ ولدٌ والدَه إلا بأن يجدَه مملوكاً فيشتريه فيُعتقَه قال هذا ظاهر في إثبات إنشاء إعتاق بعد العقد وعنده أن المشتري لو فسخ في المجلس انفسخ ولو أعتقه أو ألزم العقد كان كما لو اشترى عبداً لا يعتِق عليه وستأتي تصرفات المتعاقدين في مكان الخيار وزمانه
Jika seseorang membeli budak yang akan menjadi merdeka karena hubungan kekerabatan dengannya, maka mazhab yang masyhur menyatakan bahwa tidak berlaku di dalamnya khiyār majlis; sebab ini bukan akad yang mengandung unsur penipuan, dan meskipun hadis tidak membatasi pada akad yang mengandung penipuan, hadis tersebut memberi isyarat pada akad yang pada umumnya dimungkinkan adanya penyesalan karena kerugian. Abu Bakar al-Uwdani berpendapat bahwa khiyār majlis tetap berlaku, dan ia berpegang pada zahir hadis serta pada sabda Nabi ﷺ: “Seorang anak tidak dapat membalas jasa orang tuanya kecuali jika ia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu ia membelinya dan memerdekakannya.” Ia mengatakan bahwa ini secara zahir menunjukkan adanya penetapan pembebasan (pembebasan budak) setelah akad. Menurutnya, jika pembeli membatalkan akad di majlis, maka akad menjadi batal; namun jika ia memerdekakan atau menetapkan akad, maka hukumnya seperti jika ia membeli budak yang tidak otomatis merdeka karena hubungan kekerabatan. Nantinya akan dijelaskan tindakan para pihak yang berakad selama tempat dan waktu khiyār.
فإذا قلنا لا خيار للمشتري فلا خيار للبائع أيضا وإن كان العقد من جانبه عقد مغابنةٍ ولكن النظر إلى كون العقد عقد عَتاقة
Jika kami katakan tidak ada khiyar bagi pembeli, maka penjual pun tidak memiliki khiyar, meskipun akad dari sisinya adalah akad yang mengandung unsur penipuan, namun yang menjadi perhatian adalah bahwa akad tersebut merupakan akad ‘ataqah.
هذا قولنا في البيوع
Inilah pendapat kami tentang jual beli.
فأما ما سواها فالعقود الجائزة من الجانبين لا معنى لتخيّر خيار المجلس فيها فإن الجواز مطرد غيرُ مختص بمجلس وأما العقد الجائز من أحد الجانبين كالرهن والكتابة فلا وجه لتوهم خيار المجلس في المرتهن والمكاتب؛ فإنهما متخيران أبداً ولا يثبت الخيار للراهن والسيد قطع به الأئمة وعللوا بأنهما مغبونان تحقيقاً والخيار للاستدراك
Adapun selain itu, maka akad-akad yang ja’iz dari kedua belah pihak tidak ada makna untuk memilih khiyār majlis di dalamnya, karena kebolehan itu berlaku terus-menerus dan tidak terbatas pada majlis saja. Adapun akad yang ja’iz dari salah satu pihak seperti rahn dan kitābah, maka tidak ada alasan untuk mengira adanya khiyār majlis bagi murtahin dan mukātab; karena keduanya senantiasa memiliki pilihan, dan tidak ditetapkan khiyār bagi rāhin dan sayyid. Para imam telah memastikan hal ini dan mereka beralasan bahwa keduanya benar-benar berada dalam posisi dirugikan, sedangkan khiyār itu untuk menutupi kerugian.
وهذا تكلف والمعتمد الخبر وهو في البيع والرهن والكتابة ليسا في معنى البيع والقياس منحسمٌ
Ini adalah pendapat yang dipaksakan, sedangkan yang dijadikan pegangan adalah hadis. Adapun dalam jual beli, rahn, dan kitabah, keduanya (rahn dan kitabah) tidak termasuk dalam makna jual beli, sehingga qiyās terputus.
وصلح المعاوضة بيعٌ في الحقيقة ففيه الخيار
Shulh mu‘āwaḍah pada hakikatnya adalah jual beli, maka di dalamnya terdapat khiyar.
ولا خيار في الهبة التي لا ثواب فيها إذا اتصلت بالقبض وإن كان فيها ثواب فقد ذكر العراقيون وجهين في ثبوت خيار المجلس والشرط أحدهما يثبتان؛ لأنها في معنى البيع والثاني لا يثبتان ؛ لأنها لا تسمى بيعاً؛ والمتبع التوقيف وهذا الخلاف من طريق المعنى يقرب من تردّد الأصحاب في أن الهبة بالثواب هل تفتقر إلى القبض في إفادة الملك وسيأتي ذلك إن شاء الله تعالى
Tidak ada hak khiyar dalam hibah yang tidak mengandung imbalan apabila telah disertai dengan penerimaan (barang hibah). Namun, jika hibah tersebut mengandung imbalan, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai keberlakuan khiyar majelis dan khiyar syarat: pendapat pertama menyatakan keduanya berlaku, karena hibah tersebut serupa dengan jual beli; pendapat kedua menyatakan keduanya tidak berlaku, karena hibah tersebut tidak disebut sebagai jual beli. Yang menjadi pegangan adalah dalil yang bersifat tauqīfī. Perbedaan pendapat ini dari sisi makna hampir sama dengan keraguan para ulama mengenai apakah hibah dengan imbalan memerlukan penerimaan (qabḍ) untuk memberikan kepemilikan, dan hal ini akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.
وأما الحوالة ففي حقيقتها خلاف فإن حكمنا بأنها ليست معاوضة فلا خيار فيها وإن حكمنا بأنها معاوضة فقد قال العراقيون لا يثبت فيها خيار الشرط وفي خيار المجلس وجهان وكان شيخي يثبت الخلاف في الخيارين وهو الوجه إن لم يكن من الخيار بُدّ والظاهر أنهما لا يثبتان؛ فإن الحوالة لا تسمى بيعاً وليست في معناه وهي بعيدةٌ عن قبول الفسخ
Adapun mengenai ḥawālah, terdapat perbedaan pendapat tentang hakikatnya. Jika kita memutuskan bahwa ḥawālah bukanlah suatu mu‘āwaḍah (transaksi pertukaran), maka tidak ada khiyār (hak memilih) di dalamnya. Namun jika kita memutuskan bahwa ḥawālah adalah mu‘āwaḍah, maka para ulama Irak berpendapat bahwa khiyār syarṭ (hak memilih dengan syarat) tidak berlaku di dalamnya, dan dalam hal khiyār majlis (hak memilih selama masih dalam satu majelis) terdapat dua pendapat. Guru saya menetapkan adanya perbedaan pendapat dalam kedua bentuk khiyār tersebut, dan inilah pendapat yang tepat jika memang harus ada khiyār. Namun yang tampak, keduanya tidak berlaku; sebab ḥawālah tidak disebut sebagai jual beli, tidak pula bermakna seperti jual beli, dan sangat jauh dari kemungkinan untuk menerima pembatalan.
وأما القسمة فمنقسمةٌ إلى قسمة إجبار وقسمة اختيار فإن كانت قسمةَ إجبارٍ فلا خيار فيها والمحكَم القرعةُ وإن كانت قسمةَ اختيار خرج أمرُ الخيار على حقيقة القسمة؛ فإن قلنا ليست القسمة بيعاً فلا خيار فيها وإن قلنا إنها بيع فقد ذكر صاحب التقريب وجهين على هذا القول في ثبوت الخيارين أحدهما الثبوت والثاني وهو مختارُه أنهما لا يثبتان؛ فإن القسمة لا تسمى بيعاً وليست عقداً منشأً وإنما لها حكم البيع في بعض القضايا
Adapun pembagian (qismah) terbagi menjadi pembagian secara paksa dan pembagian secara pilihan. Jika pembagian itu pembagian secara paksa, maka tidak ada hak memilih di dalamnya, dan yang menjadi penentu adalah undian (qur‘ah). Jika pembagian itu pembagian secara pilihan, maka urusan hak memilih mengikuti hakikat pembagian tersebut; jika kita katakan bahwa pembagian bukanlah jual beli, maka tidak ada hak memilih di dalamnya. Namun jika kita katakan bahwa pembagian itu adalah jual beli, maka penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat dalam masalah penetapan dua hak memilih tersebut: yang pertama adalah hak memilih itu tetap ada, dan yang kedua—yang merupakan pendapat pilihannya—bahwa keduanya tidak tetap; karena pembagian tidak disebut sebagai jual beli dan bukan akad yang baru, melainkan hanya memiliki hukum jual beli dalam beberapa kasus saja.
وقد نجز الفصل الأول
Bab pertama telah selesai.
الفصل الثاني
Bab Kedua
فيما يقطع خيار المجلس أو ينهيه
Hal-hal yang membatalkan atau mengakhiri khiyār majlis
فنقول ما يقطع خيارَ المجلس ينقسم إلى قولٍ وإلى ما ليس بقول
Maka kami katakan bahwa hal-hal yang membatalkan khiyār majelis terbagi menjadi ucapan dan yang bukan berupa ucapan.
فأما القول فينقسم إلى المتعرض للخيار وإلى تصرفٍ يتضمن فسخاً أو إجازة فأما التصرف فسنذكره عند نجاز القول في أصل خيار المجلس والشرط
Adapun ucapan, maka terbagi menjadi yang berkaitan dengan khiyār dan yang berupa tindakan yang mengandung pembatalan atau pengesahan. Adapun tindakan tersebut akan kami jelaskan setelah selesai membahas ucapan dalam pokok khiyār majlis dan syarat.
وأما القول المتعرض لنفس الخيار؛ فنقول إذا قال المتعاقدان في المجلس ألزمنا العقد أو أجزناه أو قطعنا الخيار انقطع الخيارُ ولزم العقدُ وإن كانا في المجلس؛ فإن الخيار حقُّهما فإذا أسقطاه سقط وكان كإسقاط حق الرّد بالعيب عند الاطلاع وليس ذلك كشرط نفي الخيار في العقد؛ فإنه منعٌ لثبوت موجَب العقد فكان كشرط التبرِّي من العُيوب من غير اطلاع عليها
Adapun pernyataan yang secara langsung berkaitan dengan hak khiyar, maka kami katakan: Jika kedua pihak yang berakad di majelis berkata, “Kami mengikat akad ini” atau “Kami menyetujuinya” atau “Kami menghapus hak khiyar,” maka hak khiyar terputus dan akad menjadi mengikat, meskipun mereka masih berada di majelis; karena khiyar adalah hak mereka berdua, sehingga jika mereka menggugurkannya, maka hak itu gugur, dan hal ini seperti menggugurkan hak pengembalian barang karena cacat setelah mengetahui cacat tersebut. Namun, hal ini berbeda dengan mensyaratkan penghapusan khiyar dalam akad; karena itu merupakan pencegahan terhadap timbulnya konsekuensi akad, sehingga hal itu seperti mensyaratkan bebas dari cacat tanpa mengetahui adanya cacat.
ولو قال أحد المتعاقدين أجزتُ العقد ولم يساعده الثاني لم يبطل خيار صاحبه وهل يبطل خياره في نفسه فعلى وجهين أصحهما أنه يبطل كما لو ثبت لهما خيار الشرط فأسقط أحدهما خيارَ نفسه والثاني لا يبطل خيارُه؛ فإن وضع خيار المجلس أن يثبت للمتعاقدين جميعاً وإن انقطع انقطع عنهما ولا وجه لإبطال خيار من لم يُبطل حق نفسه فيبقى خيارُ المجيز أيضاً
Jika salah satu dari dua pihak yang berakad berkata, “Aku mengizinkan akad ini,” namun pihak kedua tidak menyetujuinya, maka hak khiyar (pilihan) milik pihak kedua tidak batal. Adapun apakah hak khiyar pihak pertama menjadi batal terhadap dirinya sendiri, terdapat dua pendapat; yang paling sahih adalah bahwa hak khiyarnya menjadi batal, sebagaimana jika keduanya memiliki hak khiyar syarat lalu salah satu dari mereka menggugurkan hak khiyar dirinya sendiri, maka hak khiyar pihak kedua tidak batal. Karena hakikat khiyar majelis adalah ditetapkan bagi kedua pihak yang berakad secara bersama, dan jika terputus, maka terputus dari keduanya. Tidak ada alasan untuk membatalkan hak khiyar pihak yang tidak menggugurkan haknya sendiri, sehingga hak khiyar pihak yang mengizinkan akad pun tetap ada.
فإن قيل هلا بطل خيارُ المجيز وخيار من لم يجز حتى تنزل إجازةُ المجيز منزلةَ ما لو فارق صاحبه قلنا المفارقة تُنهي خيارَ المجلس بنص الخبر وليس فيه تفويتٌ لحق واحدٍ منهما؛ فإنه إذا هم أحدهما بالمفارقة تمكن الثاني من مساوقته واستمكن من مبادرة الفسخ
Jika dikatakan, “Mengapa hak khiyar bagi pihak yang mengizinkan dan pihak yang belum mengizinkan tidak gugur, sehingga izin dari pihak yang mengizinkan diposisikan seperti halnya jika ia berpisah dari rekannya?” Kami jawab, perpisahan itu mengakhiri hak khiyar majelis berdasarkan nash hadis, dan di dalamnya tidak ada penghilangan hak salah satu dari keduanya; sebab jika salah satu dari mereka berniat untuk berpisah, maka pihak kedua masih dapat menyusulnya dan memiliki kesempatan untuk segera membatalkan (akad).
قال شيخي لو قالا أبطلنا الخيار أو قالا أفسدناه ففيه وجهان أحدهما لا يبطل الخيار؛ فإن الإبطال يُشعر بمناقضة الصحة ومنافاة الشرع وليس كالإجازة؛ فإنها تصرفٌ في الخيار وهذا ضعيف جداً ولكن رمز إليه شيخي وذكره الصيدلاني
Guru saya berkata: Jika kedua belah pihak mengatakan, “Kami membatalkan khiyar” atau berkata, “Kami merusaknya,” maka ada dua pendapat. Pendapat pertama, khiyar tidak batal; karena pembatalan itu mengandung makna bertentangan dengan keabsahan dan bertentangan dengan syariat, dan itu tidak sama dengan ijāzah, karena ijāzah adalah tindakan dalam khiyar. Namun, pendapat ini sangat lemah, hanya saja guru saya menyinggungnya dan Ash-Shaydalani juga menyebutkannya.
فأما ما لا يكون قولاً وهو رافعٌ للخيار فالأصل في ذلك الافتراق فإذا تفرق المتعاقدان زال خيارُ المجلس وإذا لزم أحدهما المجلس ففارقه الثاني انقطع الخيارُ؛ فإن هذا إذا جرى عُد افتراقاً والشارع اعتبر الافتراق وليس من شرطه أن يأخذ أحدُهما جهةً ويأخذ الآخر جهة أخرى ولو تساوقَ المتبايعان وزايلا مكان العقد ولم يتفرقا فالبيع جائز والخيار قائم وإن تماشيا أياماً منازل فالمعتمد في قطع الخيار افتراقُهما
Adapun hal yang bukan berupa ucapan namun membatalkan hak khiyar, maka dasarnya adalah perpisahan. Jika kedua pihak yang berakad berpisah, maka hak khiyar majelis hilang. Jika salah satu dari keduanya tetap di majelis, lalu yang lain pergi, maka hak khiyar terputus; sebab jika hal ini terjadi, itu sudah dianggap sebagai perpisahan, dan syariat memperhitungkan perpisahan tersebut. Tidak disyaratkan salah satu dari keduanya mengambil arah tertentu dan yang lain mengambil arah yang berbeda. Jika kedua pihak yang berjual beli berjalan bersama-sama dan meninggalkan tempat akad tanpa berpisah, maka jual beli sah dan hak khiyar tetap ada. Bahkan jika mereka berjalan bersama selama beberapa hari dan singgah di beberapa tempat, yang menjadi patokan dalam memutus hak khiyar adalah perpisahan mereka.
ثم الرجوع في الافتراق إلى العرف فليس في ذلك توقيفٌ شرعي ولا ضبط معنوي؛ فإن جمعهما بيتٌ مقتصدٌ فالمفارقة بخروج أحدهما من البيت وإن كانا في عَرْصةٍ ضاحية فإذا فارق أحدهما ومشى خطوات وبَعُد بُعداً يُعدّ ذلك مفارقةً انقطع خيارُ المجلس ولو تبايعا قريبين من باب بيت فتعدى أحدهما البابَ وخرج فالظاهر عندي أن ذلك مفارقة وإن خطا خطوتين مثلاً وإذا تبايعا في صدر بيتٍ مقتصد فالمفارقةُ بالخروج من الباب
Kemudian, dalam hal perpisahan, kembali kepada kebiasaan (‘urf), karena tidak ada ketentuan syar‘i maupun batasan maknawi dalam hal ini. Jika keduanya berada di dalam satu rumah yang sedang-sedang saja, maka perpisahan terjadi dengan keluarnya salah satu dari rumah tersebut. Namun, jika keduanya berada di halaman yang terbuka, maka apabila salah satu dari mereka pergi beberapa langkah dan menjauh dengan jarak yang dianggap sebagai perpisahan, maka terputuslah khiyār majlis. Jika keduanya melakukan transaksi di dekat pintu rumah, lalu salah satu dari mereka melewati pintu dan keluar, maka menurut pendapat saya, itu sudah dianggap sebagai perpisahan, meskipun hanya melangkah dua langkah, misalnya. Dan jika keduanya melakukan transaksi di dalam rumah yang sedang-sedang saja, maka perpisahan terjadi dengan keluarnya dari pintu.
هذا حكم الجريان على العرف
Ini adalah hukum mengikuti ‘urf (kebiasaan yang berlaku).
ويخرج من ذلك أن البعد يختلف باختلاف المجالس فإن جمعهما بيتٌ فالتعويل على الخروج منه وإن لم يجمعهما بيت فيراعى فيه بُعدٌ يُعدّ فراقاً ويمكن أن يقال وجه التقريب فيه إذا لم يكن بيتٌ جامع إن جلوس رجلين في مجلس واحد ليس يخفى وذلك ينقسم إلى التقارب في الجلوس والتباعد وقد يتدانى رجلان حتى يتماسَّا وقد يبعد أحدهما عن الثاني بعضَ البعد ولكن يُعدان في مجلس واحد
Dari hal itu dapat disimpulkan bahwa jarak berbeda-beda tergantung pada majelisnya; jika keduanya berada dalam satu rumah, maka yang menjadi patokan adalah keluar dari rumah tersebut. Namun jika keduanya tidak berada dalam satu rumah, maka yang diperhatikan adalah jarak yang dianggap sebagai perpisahan. Dapat juga dikatakan bahwa pendekatan dalam hal ini, jika tidak ada rumah yang menyatukan, adalah bahwa duduknya dua orang dalam satu majelis bukanlah sesuatu yang samar; hal itu terbagi menjadi kedekatan dalam duduk dan berjauhan. Bisa jadi dua orang sangat berdekatan hingga saling bersentuhan, dan bisa juga salah satu dari keduanya agak berjauhan dari yang lain, namun tetap dianggap berada dalam satu majelis.
فهذا ما ينبغي أن يراعى
Inilah yang seharusnya diperhatikan.
فنقول إذا فارق أحدهما الثاني وانتهى إلى موضع لو استقر فيه لم يُعدّ المكان مجلساً جامعاً فهذا فراق وإن كان أقرب من ذلك فليس فراقاً
Maka kami katakan: Jika salah satu dari keduanya berpisah dari yang lain dan sampai pada suatu tempat yang jika ia menetap di sana, tempat itu tidak lagi dianggap sebagai majelis bersama, maka itu disebut perpisahan. Namun, jika ia masih lebih dekat dari itu, maka itu belum dianggap sebagai perpisahan.
ويمكن أن يقال المجلس الواحد ما يتسير فيه التفاهم مع الاقتصاد في الصوت ويراعى في ذلك اعتدال الأحوال فهذا أقصى الإمكان
Dapat dikatakan bahwa majelis yang satu adalah majelis yang memungkinkan terjadinya saling memahami dengan menjaga suara tetap rendah, serta memperhatikan keadaan yang seimbang; inilah batas maksimal yang dapat dilakukan.
ويخرج عليه أن البيت إذا تفاحش اتساعه وقد تبايعا في صدره فيتحقق الفراق بأن يفارق أحدهما الثاني إلى بعض البيت؛ فإن مثل هذا البيت لا يبين أن يكون مجلساً واحداً لشخصين
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa jika sebuah rumah sangat luas, dan kedua pihak telah melakukan akad jual beli di bagian depannya, maka perpisahan dianggap terjadi apabila salah satu dari keduanya meninggalkan yang lain menuju bagian lain dari rumah tersebut; sebab rumah seperti ini tidak dapat dipastikan sebagai satu majelis bagi dua orang.
فإن قيل العرف يختلف في اتحاد المجلس وقرب الجلوس وبُعده باختلاف الأقدار والمناصب فالمتوسط لا يقرب من الملك قُربَه ممن هو في مثل حاله قلنا المجلس لا يختلف عندنا بذلك والذي خيّله السائلُ مغالطةٌ؛ فإن منصب الملك يمنع أن يجتمع معه متوسط في مجلس واحد فهذا من باب امتناع اتحاد المجلس وليس من تفاوت المجلس
Jika dikatakan bahwa ‘urf (kebiasaan) berbeda-beda dalam hal kesatuan majelis serta dekat atau jauhnya tempat duduk, tergantung pada kedudukan dan jabatan; misalnya, orang biasa tidak akan duduk sedekat itu dengan raja sebagaimana ia duduk dengan orang yang setara dengannya, maka kami katakan: menurut kami, majelis tidak berbeda karena hal itu. Apa yang dibayangkan oleh penanya adalah kekeliruan; sebab, kedudukan raja itu sendiri mencegah orang biasa untuk duduk bersama dalam satu majelis. Maka, ini termasuk dalam kategori tidak mungkin bersatunya majelis, bukan perbedaan tingkat majelis.
فإن قيل لو وقف المتعاقدان متباعدين وزادت المسافة بينهما على مقدار المجلس وتناديا بالإيجاب والقبول فهل ينعقد العقد وإن انعقد فما حكم خيار المجلس قلنا الوجه القطع بصحة البيع إذا اتصل الإيجاب بالقبول من جهة الزمان هذا ما أثق به نقلاً ومعنى
Jika dikatakan: Seandainya dua pihak yang berakad berdiri berjauhan dan jarak antara keduanya melebihi batas majelis, lalu mereka saling menyerukan ijab dan kabul, apakah akadnya sah? Dan jika sah, bagaimana hukum khiyar majelis? Kami katakan: Pendapat yang kuat adalah sahnya jual beli jika ijab dan kabul itu saling terhubung dalam sisi waktu; inilah yang saya yakini berdasarkan riwayat dan maknanya.
فأما خيار المجلس ففيه احتمال ظاهر يحتمل أن يقال لا خيار؛ فإنهما أنشآ العقد على صورة التفرق وهو قاطعٌ للخيار إذا طرأ على المجلس الجامع فإذا قارَن العقدَ منع ثبوتَه ويجوز أن يقال يثبت لكل واحد منهما الخيار ثم إذا قدرنا ثبوتَه اعترض احتمال آخر في أن أحدهما إذا فارق مكانَه وبطل خيارُه هل يبطل خيار صاحبه أم يبقى خيار صاحبه إلى أن يفارق هو أيضاً مكانه فيكون خيار كل واحد منهما منقطعاً عن خيار الثاني هذا فيه تردد
Adapun mengenai khiyār majlis, terdapat kemungkinan yang jelas bahwa dapat dikatakan tidak ada khiyār; karena keduanya telah mengadakan akad dalam keadaan berpisah, sedangkan perpisahan itu membatalkan khiyār jika terjadi di majlis yang mempertemukan keduanya. Maka jika perpisahan itu bersamaan dengan akad, hal itu mencegah terjadinya khiyār. Namun, boleh juga dikatakan bahwa masing-masing dari keduanya tetap memiliki khiyār. Kemudian, jika kita anggap khiyār itu tetap ada, muncul kemungkinan lain, yaitu apabila salah satu dari keduanya meninggalkan tempatnya sehingga khiyārnya batal, apakah khiyār pihak yang lain juga batal, ataukah khiyār pihak yang lain tetap ada sampai ia juga meninggalkan tempatnya, sehingga khiyār masing-masing terpisah dari khiyār yang lain. Dalam hal ini terdapat keraguan.
فإن قيل إذا تعاقدا والمجلس جامع ثم صابرا حتى بُني بينهما جدار حائل فهل يصيران في حكم المتفرقين قلنا إن بنى أحدُهما الجدارَ فالظاهر أن هذا بمثابة مفارقته وإن بنى غيرُهما اتصل القول بأن أحد المتبايعين لو حُمل وأُخرج من المجلس هل ينقطع الخيار وفيه فصل يأتي إن شاء الله تعالى
Jika dikatakan: Apabila keduanya telah melakukan akad dan masih berada dalam satu majelis, kemudian keduanya tetap di tempat itu hingga dibangun dinding pemisah di antara mereka, apakah keduanya menjadi dalam hukum orang yang berpisah? Kami katakan: Jika salah satu dari keduanya yang membangun dinding tersebut, maka yang tampak adalah bahwa hal itu sama dengan ia meninggalkan majelis. Namun jika yang membangun dinding itu adalah selain mereka berdua, maka hal ini berkaitan dengan pendapat bahwa jika salah satu pihak yang berjual beli diangkat dan dikeluarkan dari majelis, apakah hak khiyar menjadi terputus? Dalam hal ini terdapat rincian yang akan dijelaskan, insya Allah Ta‘ala.
ومن لطيف القول في هذا الفصل أن المتبايعين لو كانا بقربِ الباب فخرج أحدهما فهو مفارق وإن قربت المسافة ولو كانا في مكانٍ ضاحٍ فلا بُد من اعتبار بُعدٍ كما سبق بيانه فلو كانا في مكان بارز كما ذكرنا ففارق أحدهما بعد العقد وبَعُد على الحدّ المذكور فانتصب واتبعه الآخَر لم ينفعه ذلك بعد وقوع الفراق ولو كانا في بيتٍ قريبين من بابه ففرّ أحدُهما وفارق العتبة فاتبعه الثاني على الفور فالظاهر عندي في هذه الصورة أن البيع على جوازه؛ فإن مثل هذا لا يُعد تفرقاً في العرف
Salah satu ungkapan yang menarik dalam bab ini adalah bahwa jika dua orang yang melakukan jual beli berada di dekat pintu, lalu salah satu dari mereka keluar, maka ia dianggap telah berpisah, meskipun jaraknya dekat. Namun, jika mereka berada di tempat terbuka, maka harus diperhatikan jarak perpisahan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika mereka berada di tempat terbuka seperti yang telah disebutkan, lalu salah satu dari mereka pergi setelah akad dan menjauh sesuai batas yang telah disebutkan, kemudian ia berhenti dan yang satunya mengikuti, maka tindakan mengikuti itu tidak bermanfaat setelah terjadinya perpisahan. Namun, jika mereka berada di dalam rumah dan keduanya dekat dengan pintu, lalu salah satunya lari dan melewati ambang pintu, kemudian yang kedua segera mengikutinya, maka menurut pendapat saya dalam kasus ini, jual belinya tetap sah; karena perbuatan seperti ini dalam kebiasaan tidak dianggap sebagai perpisahan.
فهذا مقدار غرضنا في البعد المُنهي للمجلس
Inilah batas tujuan kami dalam hal jarak yang dilarang untuk majelis.
فصل
Bab
إذا مات أحد المتعاقدين في مجلس العقد فالمنصوص للشافعي أنه لا ينقطع الخيار بموته بل يقوم وارثه مقامه
Jika salah satu pihak yang berakad meninggal dunia di majelis akad, menurut pendapat yang ditegaskan oleh Imam Syafi‘i, maka hak khiyar tidak gugur karena kematiannya, melainkan ahli warisnya menggantikan posisinya.
وقال في المكاتَب إذا باع شيئاً أو اشتراه ثم مات في مجلس العقد وجب العقد فأشعر قولُه وجب بانقطاع الخيار
Ia berkata tentang seorang mukatab: jika ia menjual atau membeli sesuatu lalu meninggal dunia di majelis akad, maka akad tersebut menjadi wajib. Ucapan beliau “menjadi wajib” menunjukkan bahwa hak khiyar telah terputus.
واختلف الأئمة فمنهم من قال في انقطاع خيار المجلس بالموت قولان سواء فُرض العاقد مكاتَباً أو حُرّاً
Para imam berbeda pendapat; di antara mereka ada yang berpendapat bahwa dalam hal terputusnya khiyār majlis karena kematian, terdapat dua pendapat, baik yang melakukan akad itu seorang mukatab maupun seorang merdeka.
توجيه القولين من قال بالانقطاع تمسك بأن خيار المجلس يقطعه التفرق؛ من حيث إن المفارق بفراقه يخرج عن مجلس التخاطب ومفارقة الدنيا بالموت أبلغ في هذا المعنى والميت في حكم التصرفات كالمعدوم فكأنه عُدم عن مجلس العقد
Penjelasan dua pendapat: Orang yang berpendapat terputusnya (khiyār majlis) berpegang bahwa khiyār majlis diputuskan oleh perpisahan; karena orang yang berpisah dengan kepergiannya keluar dari majlis pembicaraan, dan perpisahan dari dunia dengan kematian lebih kuat lagi dalam makna ini. Orang yang telah meninggal, dalam hukum tindakan (tasharruf), dianggap seperti tidak ada, sehingga seolah-olah ia tidak ada lagi di majlis akad.
والقول الثاني أنه لا ينقطع الخيار؛ فإنه حقٌ ثابت قاطِعُه في الحديث التفرّق وهذا ليس تفرقاً إطلاقاً فالوجه إبقاء الخيار حقا لوارثه
Pendapat kedua menyatakan bahwa hak khiyar tidak gugur; karena ia merupakan hak yang tetap, dan yang memutuskannya dalam hadis adalah perpisahan, sedangkan ini bukanlah perpisahan secara mutlak. Maka yang tepat adalah hak khiyar tetap menjadi hak bagi ahli warisnya.
ومن أصحابنا من قطع ببقاء الخيار وقال أراد الشافعي بقوله وجب البيع أي استمرت صحته ولم يبطل وقد يَظن ظانٌّ أن البيع ينقطع بموت المكاتب رقيقاً
Sebagian dari ulama mazhab kami menegaskan bahwa hak khiyar tetap ada, dan mereka mengatakan bahwa maksud Imam Syafi’i dengan ucapannya “jual beli menjadi wajib” adalah bahwa keabsahan jual beli itu tetap berlangsung dan tidak batal. Bisa jadi ada orang yang menyangka bahwa akad jual beli terputus dengan wafatnya mukatab dalam keadaan masih berstatus budak.
ومن أئمتنا من حاول الفرق وتقرير النصين وقال إن كان العاقد مكاتباً انقطع الخيار بموته بخلاف ما لو مات من يورَث؛ لأن الوارث ينوب مناب المورث وكأنه هو فإذا خلفه كان بمثابة الميت والسيد ليس في حكم النائب عن مكاتبه فإذا انقلب إلى الرق بَعُد أن يقال ينوب السيد عن مكاتبه ويخلُفه
Sebagian imam kami ada yang berusaha membedakan dan menetapkan dua nash tersebut, dan berkata: Jika pihak yang melakukan akad adalah seorang mukatab, maka hak khiyar terputus dengan kematiannya, berbeda halnya jika yang meninggal adalah orang yang dapat diwarisi; karena ahli waris menggantikan posisi pewaris seolah-olah dia adalah pewaris itu sendiri. Maka jika ia digantikan, keadaannya seperti orang yang telah meninggal, sedangkan tuan (pemilik budak) tidak berkedudukan sebagai wakil dari mukatabnya. Maka jika statusnya kembali menjadi budak, tidak tepat dikatakan bahwa tuan menggantikan posisi mukatabnya dan mewarisinya.
وهذا ليس بشيء؛ فإن المكاتب إذا رَقَّ قام السيد مقامه في الحقوق التي ثبتت له والخيار من الحقوق التابعة للملك والعقد فإذا انقلب العقد بحقوقه إلى السيد فالخيار من حقوقه
Ini tidaklah benar; sebab apabila seorang mukatab menjadi budak kembali, maka tuannya menggantikan posisinya dalam hak-hak yang telah tetap baginya, dan khiyar termasuk hak-hak yang mengikuti kepemilikan dan akad. Maka apabila akad beserta hak-haknya kembali kepada tuan, maka khiyar termasuk hak-haknya.
والطريقة المشهورة طرد القولين
Cara yang masyhur adalah mengikuti kedua pendapat tersebut secara konsisten.
التفريع
Pengembangan cabang hukum
إن حكمنا بانقطاع الخيار بموت أحدهما فقد لزم العقد من الجانبين وإن قلنا لا ينقطع خيار المجلس بموت أحد المتعاقدين فإن كان الوارث في مجلس العقد حل محل الميت وكأنه لم يمت فيتعلق بالوارث من المفارقة والبقاء في المجلس ما كان يتعلق بالعاقد لو بقي وإن كان الوارث غائباً فبلغه الخبر ثبت الخيار ثم ذلك الخيار يثبت على الفور أو يمتد امتداد مجلس بلوغ الخبر فعلى وجهين ذكرهما الإمام وصاحب التقريب أحدهما أنه على الفور؛ فإن المجلس قد انقضى ولكنّا رأينا ألاّ نعطلَ حقا ثبت للمورث فأثبتنا أصله للوارث وعسر اعتبار المجلس؛ فاقتضى ذلك الفور
Jika kita memutuskan bahwa hak khiyar terputus dengan wafatnya salah satu dari keduanya, maka akad menjadi mengikat bagi kedua belah pihak. Namun, jika kita mengatakan bahwa hak khiyar majelis tidak terputus dengan wafatnya salah satu pihak yang berakad, maka jika ahli waris hadir di majelis akad, ia menggantikan posisi orang yang wafat seakan-akan ia tidak meninggal, sehingga hak untuk berpisah atau tetap di majelis berlaku bagi ahli waris sebagaimana berlaku bagi pihak yang berakad jika ia masih hidup. Namun, jika ahli waris tidak hadir dan baru menerima kabar, maka hak khiyar tetap berlaku baginya. Kemudian, apakah hak khiyar itu harus segera digunakan atau berlangsung selama majelis setelah menerima kabar, terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh Imam dan penulis at-Taqrib. Salah satunya adalah bahwa hak khiyar harus segera digunakan, karena majelis telah berakhir, namun kita melihat bahwa hak yang telah tetap bagi pewaris tidak boleh diabaikan, sehingga hak tersebut diberikan kepada ahli waris, dan sulit untuk mempertimbangkan keberlangsungan majelis; oleh karena itu, hak khiyar harus segera digunakan.
والوجه الثاني أنه يمتد؛ فإن الخيار الذي ثبت للمورث كان ممتداً فليثبت للوارث على الامتداد والوجهان كالوجهين فيه إذا مات أحد المتعاقدين في زمان الخيار فخيار الشرط موروث فإن كان الوارث غائباً فلم يبلغه الخبر حتى انقضى الزمان المضروب للخيار فكيف يثبت الخيار لذلك الوارث فيه وجهان أحدهما أنه يثبت على الفور؛ فإن الزمان المذكور قد انقضى والثاني أنا نثبت للوارث الخيارَ في مثل المدة التي كانت بقيت لما مات من له الخيار
Wajah kedua adalah bahwa hak khiyar itu berlanjut; karena hak khiyar yang telah tetap bagi pewaris sebelumnya juga berlanjut, maka hendaknya hak itu juga tetap bagi ahli waris secara berlanjut. Kedua pendapat ini sama seperti dua pendapat dalam kasus jika salah satu dari dua pihak yang berakad meninggal dunia pada masa khiyar, maka khiyar syarat itu diwariskan. Jika ahli waris sedang tidak berada di tempat sehingga belum menerima kabar sampai waktu yang ditetapkan untuk khiyar telah habis, maka bagaimana hak khiyar itu tetap bagi ahli waris? Dalam hal ini ada dua pendapat: pertama, hak khiyar itu tetap secara langsung, karena waktu yang disebutkan telah habis; kedua, kami menetapkan bagi ahli waris hak khiyar selama sisa waktu yang seharusnya masih ada ketika orang yang memiliki hak khiyar itu meninggal dunia.
ونتمم تفريع ذلك في خيار الشرط ثم نعود إلى خيار المجلس فنقول إذا مات من تولى العقد فقد انقضى من زمان الخيار يومٌ وقد بقي يومان فبلغ الوارثَ الخبرُ وقد بقي من مدة الخيار يوم فلا خلاف أن خيار الوارث يدوم في هذا اليوم؛ فإنه من بقية الزمان المذكور وهل ينقطع خياره بانقضاء اليوم الأخير أم يثبت له مع ذلك اليوم الخيارُ في يوم آخر حتى يكمل له بعد بلوغ الخبر من الخيار ما كان باقياً لمَّا مات المورِّث على وجهين ومأخذهما ما قدمناه
Kita akan melengkapi rincian hal ini pada pembahasan khiyār syarat, kemudian kembali ke khiyār majlis. Maka kami katakan: Jika orang yang melakukan akad meninggal dunia, maka telah berlalu satu hari dari masa khiyār, dan tersisa dua hari. Lalu ahli waris menerima kabar tersebut ketika masih tersisa satu hari dari masa khiyār. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa khiyār bagi ahli waris tetap berlaku pada hari itu, karena hari tersebut merupakan sisa dari waktu yang telah disebutkan. Namun, apakah hak khiyārnya terputus dengan berakhirnya hari terakhir itu, ataukah tetap baginya hak khiyār pada hari lain sehingga setelah menerima kabar, ia memperoleh sisa masa khiyār yang masih ada ketika pewaris meninggal dunia? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan dasar keduanya telah kami sebutkan sebelumnya.
عاد بنا الكلام إلى خيار المجلس فنقول انقطاع المجلس بالموت كانقضاء زمان الخيار قبل انتهاء الخبر إلى الوارث وتقدير مجلسٍ بمثابة ضرب مدةٍ للوارث وقد انقضت المدة المذكورة قبل الخبر والفور كالفور
Pembicaraan kita kembali kepada khiyār majlis, maka kami katakan bahwa berakhirnya majlis karena kematian adalah seperti berakhirnya masa khiyār sebelum kabar (akad) itu sampai kepada ahli waris. Menetapkan adanya majlis bagi ahli waris sama saja dengan menetapkan jangka waktu tertentu bagi mereka, padahal jangka waktu tersebut telah berakhir sebelum kabar itu sampai. Dan ketetapan segera (al-fawr) bagi ahli waris sama seperti ketetapan segera pada umumnya.
ومما نذكره في ذلك أنه إذا مات أحد المتعاقدين ووارثه غائب فبلغه الخبر والعاقد الباقي سبقه إلى ذلك المجلس فلا خلاف أنه يثبت له مع ذلك الوارث الخيارُ؛ فإن موت من مات إذا لم يقطع الخيارَ عن وارثه فلا يتضمن قطع الخيار عن العاقد الباقي ولكن اختلف أئمتنا في أنه هل يدوم خيارُ الباقي من المتعاقدين إلى أن يبلغ الخبرُ الوارثَ أم يقضى بان الخيار يزول في حقه حتى يثبت للوارث ثم يعود إذ ذاك خيارُه فعلى وجهين ذكرهما صاحب التقريب أحدهما أنه يدوم خيارُه؛ إذ سبب استئخار خيارِ الوارث عدم بلوغ الخبر إليه ولو كان الوارث عالماً لتخيَّرَ والباقي من المتعاقدين عالم بحقيقة الحال
Perlu kami sebutkan bahwa apabila salah satu dari dua pihak yang berakad meninggal dunia dan ahli warisnya sedang tidak hadir, lalu berita kematian itu sampai kepadanya, sementara pihak yang masih hidup dari kedua pihak tersebut telah lebih dahulu berada di majelis itu, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa ahli waris tersebut tetap memiliki hak khiyār. Sebab, kematian seseorang jika tidak memutuskan hak khiyār bagi ahli warisnya, maka hal itu juga tidak berarti memutuskan hak khiyār bagi pihak yang masih hidup dari kedua pihak yang berakad. Namun, para imam kami berbeda pendapat mengenai apakah hak khiyār pihak yang masih hidup dari kedua pihak yang berakad itu tetap berlangsung sampai berita kematian itu sampai kepada ahli waris, ataukah diputuskan bahwa hak khiyār itu hilang baginya hingga hak itu menjadi milik ahli waris, kemudian setelah itu hak khiyārnya kembali. Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb. Salah satunya adalah bahwa hak khiyārnya tetap berlangsung, karena sebab tertundanya hak khiyār ahli waris adalah belum sampainya berita kepadanya. Seandainya ahli waris telah mengetahui, tentu ia akan memilih, sedangkan pihak yang masih hidup dari kedua pihak yang berakad telah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
والوجه الثاني أنه لا يثبت له الخيار قبل بلوغ الخبر إلى الوارث؛ فإنه لو تخير لكان منفرداً في التصرف في خيار المجلس في وقتٍ لا ينفذ فيه تصرف صاحبه
Pendapat kedua adalah bahwa hak khiyar tidak tetap baginya sebelum kabar tersebut sampai kepada ahli waris; sebab jika ia memilih, berarti ia bertindak sendiri dalam menggunakan khiyar majelis pada waktu di mana tindakan pasangannya belum sah.
وتحقيق ذلك يستدعي مزيداً؛ فنقول من مات أبوه في غيبةٍ وهو لم يشعر بموته فتصرف في ماله على ظن أنه يتصرف ظالماً في مال أبيه ثم بان أنه كان مات أبوه وأنه تصرف في ملك نفسه ففي نفوذ تصرفه اختلاف قولٍ سيأتي إن شاء الله تعالى فإن لم ننفذ تصرفَه في الصورة التي ذكرناها فالوارث لو فُرض منه فسخٌ أو إجازة قبل أن يبلغه الخبر لم ينفذ
Penjelasan hal ini memerlukan uraian lebih lanjut; maka kami katakan: Jika seseorang meninggal ayahnya saat ia sedang bepergian dan ia tidak mengetahui kematian ayahnya, lalu ia melakukan tindakan terhadap harta tersebut dengan anggapan bahwa ia bertindak sebagai orang yang berhak atas harta ayahnya secara zalim, kemudian ternyata ayahnya memang telah meninggal dan ia sebenarnya bertindak atas miliknya sendiri, maka dalam hal keabsahan tindakannya terdapat perbedaan pendapat yang akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala. Jika kita tidak mengesahkan tindakannya dalam gambaran yang telah disebutkan, maka apabila ahli waris membatalkan atau mengizinkan tindakan tersebut sebelum sampai kepadanya kabar kematian, maka hal itu tidak sah.
وإن نفّذنا التصرفَ في الصورة المتقدمة فالوجه أن يقال إجازته لا تنفذ وفسخه ينفذ بناء على القاعدة التي نبهنا عليها في وقف العقود أما ردُّ الإجازة فالسبب فيه أن الإجازة رضا وإنما يتحقق الرضا مع القطع وتصميم العقد فأما ما كان على تردد فلا يتأتى منه قطع الإجازة وقد قدّمنا في تفريع خيار الرؤية أن إجازة المشتري لا تنفذ قبل رؤية المبيع وفي تنفيذ فسخه كلام وفيما ذكرتُه من الإجازة في المسألتين احتمال ظاهر
Jika kita melaksanakan tindakan dalam gambaran yang telah disebutkan sebelumnya, maka pendapat yang tepat adalah bahwa ijazahnya tidak berlaku dan pembatalannya berlaku, berdasarkan kaidah yang telah kami singgung dalam pembahasan tentang waqf al-‘uqūd (penangguhan akad). Adapun alasan penolakan ijazah adalah karena ijazah merupakan bentuk kerelaan, dan kerelaan itu hanya terwujud dengan kepastian dan ketegasan dalam akad. Adapun sesuatu yang masih dalam keraguan, maka tidak mungkin menghasilkan kepastian ijazah. Kami juga telah sebutkan dalam rincian tentang khiyār ar-ru’yah (opsi melihat barang) bahwa ijazah dari pembeli tidak berlaku sebelum melihat barang yang dibeli. Terkait pelaksanaan pembatalannya masih ada pembahasan, dan dalam apa yang saya sebutkan mengenai ijazah dalam kedua permasalahan tersebut terdapat kemungkinan yang jelas.
فإن قيل إذا قلنا لا يثبت للعاقد الباقي الخيارُ قبل بلوغ الخبر إلى الوارث تعليلاً بأنه لا ينفرد بالتصرف عاقدٌ في خيار المجلس فلو بلغ الخبرُ الوارثَ والعاقدُ لم يكن مع الوارث في ذلك المجلس ولم يكن على علم من بلوغ الخبر إلى الوارث فلا يثبت لهذا العاقد الخيارُ إذا لم ينفذ التصرف على وقفٍ كما مضى وإذا كان كذلك فالوارث لو تخير لكان منفرداً في تخيره
Jika dikatakan: Apabila kami berpendapat bahwa bagi pihak yang masih ada dalam akad tidak tetap hak khiyār sebelum kabar (tentang kematian) sampai kepada ahli waris, dengan alasan bahwa tidak boleh salah satu pihak dalam akad yang memiliki hak khiyār majelis bertindak sendiri, maka jika kabar tersebut telah sampai kepada ahli waris sementara pihak yang berakad tidak bersama ahli waris dalam majelis itu dan tidak mengetahui bahwa kabar telah sampai kepada ahli waris, maka bagi pihak yang berakad ini tidak tetap hak khiyār jika akad belum dijalankan secara tuntas, sebagaimana telah dijelaskan. Jika demikian, maka ahli waris jika memilih (untuk melanjutkan atau membatalkan akad), berarti ia memilih secara sendiri.
ومنشأ ما نُفرعُ عليه منعُ التفرد بالخيار فلو جَرَينا على حَقِّ هذا القياس لقلنا لا يثبت للوارث الخيار إلا إذا كان العاقد عالماً مع علمه قلنا هذا مُشكل ولكن قطع الأئمة أنه يثبت له الخيار كما بلغه الخبر سواء اقترن ببلوغ الخبر علمُ العاقد الباقي أو لم يقترن وعللوا بأن شرط اقتران علمه يعطل خيار الوارث ويُعسِّر الأمرَ هذا منتهى الإمكان
Asal dari apa yang kami cabangkan di atas adalah larangan untuk bersendirian dalam hak khiyar. Jika kita mengikuti sepenuhnya qiyās ini, maka kita akan mengatakan bahwa hak khiyar tidak tetap bagi ahli waris kecuali jika pihak yang melakukan akad mengetahui, dan bersama pengetahuannya itu kita katakan bahwa ini bermasalah. Namun para imam secara tegas memutuskan bahwa hak khiyar tetap bagi ahli waris begitu sampai kepadanya kabar, baik pengetahuan pihak yang melakukan akad yang masih hidup itu bersamaan dengan sampainya kabar atau tidak bersamaan. Mereka beralasan bahwa mensyaratkan pengetahuan yang bersamaan akan menggugurkan hak khiyar ahli waris dan menyulitkan perkara. Inilah batas maksimal yang mungkin.
ثم إذا ثبت الخيار للوارث؛ فإن فسخ نفذ وإن أجاز فحق العاقد الباقي في الفسخ هل يبقى الوجه أن يقال إن أثبتنا الخيار للوارث على الفور وقلنا لا يمتد امتداد المجلس فإذا بطل الخيار بالتأخير أو بالإجازة انقطع خيارُ العاقد الباقي
Kemudian, apabila hak khiyār telah tetap bagi ahli waris; jika ia membatalkan maka pembatalan itu berlaku, dan jika ia mengizinkan maka hak pihak yang masih hidup dari para pihak yang berakad untuk membatalkan, apakah masih tetap? Pendapat yang tepat adalah jika kita menetapkan hak khiyār bagi ahli waris secara langsung dan mengatakan bahwa hak tersebut tidak berlanjut seperti lamanya majelis, maka apabila hak khiyār gugur karena penundaan atau karena persetujuan, maka hak khiyār pihak yang masih hidup dari para pihak yang berakad pun terputus.
وإن قلنا امتد خياره امتداد مجلس بلوغ الخبر فإن أجاز وهو في مجلسه بعْدُ لم يفارقه فبلغ الخبرُ العاقدَ الحى والمجلس مستمر بَعْدُ يثبت له حق الفسخ وإن فارق الوارثُ مجلسَ بلوغ الخبر فقد انقطع خياره فينقطع الآن خيار العاقد الباقي ونجعل مفارقة الوارث لذلك المجلس بمثابة مفارقة أحد المتعاقدين
Jika kita mengatakan bahwa hak pilih (khiyār) itu berlanjut selama majelis setelah sampainya kabar, maka jika ia menyetujui (ijazah) sementara ia masih berada di majelis tersebut dan belum berpisah darinya, lalu kabar itu sampai kepada pihak yang masih hidup dari para pihak yang berakad, dan majelis masih berlangsung, maka tetap baginya hak untuk membatalkan (fasakh). Namun, jika ahli waris telah meninggalkan majelis setelah sampainya kabar, maka hak pilihnya terputus, sehingga saat itu juga hak pilih pihak yang masih hidup dari para pihak yang berakad pun terputus. Kami menganggap perginya ahli waris dari majelis tersebut sama dengan perginya salah satu dari dua pihak yang berakad.
فإن قيل إذا مات أحدُ المتعاقدين وحكمنا بأن الخيار يثبت لوارثه وكان غائباً فقد بطل أثر هذا المجلس فلو فارقه العاقد الباقي هل يتعلق بمفارقته حكمٌ قلنا لا يتعلق بمفارقته حكمٌ والسبب فيه أن القاطع لخيار المجلس مفارقةُ أحد المتعاقدين الثاني وإذا مات أحد المتعاقدين فلا أثر لمفارقته ولا يتعلق به في أمر المجلس حكمٌ ووجوده وعدمه بمثابة
Jika dikatakan: Apabila salah satu dari dua pihak yang berakad meninggal dunia dan kami memutuskan bahwa hak khiyar tetap berlaku bagi ahli warisnya, lalu ia sedang tidak hadir, maka akibat dari majelis ini telah batal. Jika pihak yang masih hidup meninggalkan majelis, apakah kepergiannya berpengaruh hukum? Kami katakan: Kepergiannya tidak berpengaruh hukum, sebab yang memutus hak khiyar majelis adalah kepergian salah satu dari dua pihak yang berakad. Jika salah satu dari keduanya meninggal dunia, maka kepergiannya tidak berpengaruh dan tidak ada hukum yang terkait dengan majelis tersebut, keberadaannya atau ketiadaannya sama saja.
فصل
Bab
مذهب الشافعي أن خيارَ الشرط موروث فإذا شُرط للمتعاقدين فمات أحدهما في مدة الخيار قام وارثه مقامه كما قدمنا التفصيل في انقضاء المدة قبل بلوغ الخبر وانقضاء بعضها قال صاحب التقريب إذا حكمنا بأن خيار المجلس لا يورث فقد خرَّج عليه بعضُ أئمتنا قولاً أن خيار الشرط لا يورث فإنه كما اختص المجلس بالعاقد ولم يوجد منه فراق محسوس فكذلك الشرط يختص بالعاقد وهذا بعيدٌ جداً لم أره لغيره
Mazhab Syafi‘i berpendapat bahwa khiyār syarat dapat diwariskan. Jika khiyār syarat disepakati untuk kedua belah pihak yang berakad, lalu salah satunya meninggal dunia dalam masa khiyār, maka ahli warisnya menggantikan posisinya, sebagaimana telah kami jelaskan secara rinci tentang berakhirnya masa sebelum sampai berita dan berakhirnya sebagian masa. Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika kita memutuskan bahwa khiyār majlis tidak dapat diwariskan, maka sebagian imam kami mengeluarkan pendapat bahwa khiyār syarat juga tidak dapat diwariskan, karena sebagaimana majlis khusus bagi pihak yang berakad dan tidak terjadi perpisahan yang nyata darinya, demikian pula syarat itu khusus bagi pihak yang berakad. Namun, pendapat ini sangat jauh (lemah) dan aku tidak menemukannya dari selain beliau.
فصل
Bab
إذا ثبت خيارُ المجلس بين المتعاقدَيْن فأُخرج أحدُهما من المجلس محمولاً مكرهاً فلا يخلو إما أن يُسدَّ فُوه في حال النقل حتى لا يتمكن من الفسخ أو ينقل من غير ذلك فإن حُمل مُكرهاً مسدودَ الفم وأُخرج من المجلس ففي انقطاع خيار المجلس وجهان في الطرق يقربان من القول في الانقطاع بموت أحد المتعاقدين والأقرب في الإخراج بقاء الخيار؛ فإنَّ من له حق الخيار باقٍ وإبطال حقه اللازم قهراً مع بقائه بعيدٌ فهذا فيه إذا أخرج مسدود الفم فأما إذا حُمل مفتوح الفم وكان متمكناً من الفسخ ففيه طريقان من أصحابنا من قطع بانقطاع الخيار وهو اختيار الصيدلاني فإنه كان متمكناً من التصرف فلا يتحقق الإكراه
Jika hak khiyar majelis telah tetap antara kedua pihak yang berakad, lalu salah satu dari keduanya dikeluarkan dari majelis dalam keadaan dibawa secara paksa, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi mulutnya ditutup rapat saat dibawa sehingga ia tidak dapat melakukan pembatalan akad, atau dibawa tanpa penutupan mulut. Jika ia dibawa secara paksa dengan mulut tertutup dan dikeluarkan dari majelis, maka dalam hal terputusnya hak khiyar majelis terdapat dua pendapat dalam jalur pendapat ulama, yang keduanya mendekati pendapat tentang terputusnya hak khiyar karena wafatnya salah satu pihak yang berakad. Pendapat yang lebih kuat dalam kasus dikeluarkan adalah tetapnya hak khiyar; sebab orang yang memiliki hak khiyar masih ada, dan membatalkan haknya secara paksa padahal ia masih ada adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat). Ini berlaku jika ia dikeluarkan dengan mulut tertutup. Adapun jika ia dibawa dengan mulut terbuka dan masih memungkinkan untuk melakukan pembatalan akad, maka dalam hal ini ada dua pendapat: sebagian ulama kami menegaskan terputusnya hak khiyar, dan ini adalah pilihan As-Saidalani, karena ia masih mampu melakukan tindakan, sehingga pemaksaan tidak benar-benar terjadi.
وذكر بعضُ أصحابنا وجهين في هذه الصورة وأشار إليهما العراقيون ووجه ذلك أنه كان مكرهاً في الإخراج وهو سبب المفارقة فقد جرى السبب القاطع للمجلس على كُره فلا ننظر إلى تمكنه من الفسخ وهذا يضاهي تركَ المجروح مداواةَ الجرح مع القدرة عليها حتى تَزهقَ روحُه وقد يكون المخرَج مبهوتاً في تلك الحالة أو تكون عليه بقية من التروِّي ففي إرهاقه وهو في تروّيه إكراه في مقصود الخيار
Sebagian ulama kami menyebutkan dua pendapat dalam kasus ini, dan hal ini juga disinggung oleh para ulama Irak. Alasannya adalah karena ia dipaksa untuk keluar, yang merupakan sebab terjadinya perpisahan; maka sebab yang memutus majelis terjadi dalam keadaan terpaksa, sehingga kita tidak melihat pada kemampuannya untuk membatalkan. Ini serupa dengan orang yang terluka yang tidak mengobati lukanya padahal mampu, hingga akhirnya ia meninggal. Bisa jadi orang yang dikeluarkan itu dalam keadaan terkejut pada saat itu, atau masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Maka memaksanya keluar saat ia sedang mempertimbangkan adalah bentuk paksaan terhadap maksud dari khiyār.
فإن قلنا يبطل خيار المكرَه المُخرج فيبطل خيار الباقي في المجلس؛ فإنا نجعل هذا الإخراج في قطع المجلس بمثابة الخروج على سبيل الاختيار ولو خرج مختاراً لانقطع خيارهما جميعاً
Jika kita mengatakan bahwa hak khiyar bagi orang yang dipaksa keluar menjadi batal, maka hak khiyar bagi yang masih berada di majelis juga menjadi batal; karena kita menganggap keluarnya orang tersebut dalam rangka memutus majelis sama seperti keluar secara sukarela, dan seandainya ia keluar dengan sukarela, maka hak khiyar keduanya akan terputus seluruhnya.
فأما إذا قلنا لا يبطل خيار المخرَج كُرهاً نُظر في الباقي فإن ضُبطَ حتى لا يساوق هذا المخرَج فلا يبطل خيارُه؛ إذْ تحقق الإكراه في حقه كما تحقق في حق المخرج وإن كان مطلقاً وكان يمكنه أن يساوقه حتى لا يتحقق الافتراق فتقاعد ولم يساوقه فذلك منه بمثابة إجازة العقد مع دوام المجلس
Adapun jika kita mengatakan bahwa hak khiyar orang yang dikeluarkan secara paksa tidak batal, maka perlu dilihat keadaan yang tersisa. Jika orang yang masih tinggal dapat dikendalikan sehingga tidak mengikuti orang yang dikeluarkan, maka hak khiyarnya tidak batal; karena paksaan telah benar-benar terjadi padanya sebagaimana terjadi pada orang yang dikeluarkan. Namun jika ia bebas dan memungkinkan baginya untuk mengikuti orang yang dikeluarkan sehingga perpisahan tidak benar-benar terjadi, tetapi ia tidak mengikuti dan memilih tetap tinggal, maka hal itu dianggap sebagai persetujuan terhadap akad selama majelis masih berlangsung.
وقد ذكرنا أن أحد المتعاقدين إذا أبطل خيار نفسه وحكمنا ببقاء خيار صاحبه فهل يبطل خيار من أبطل خيار نفسه فعلى وجهين والمذهب البطلان
Kami telah menyebutkan bahwa jika salah satu dari dua pihak yang berakad menggugurkan hak khiyār dirinya sendiri dan kami memutuskan tetapnya hak khiyār bagi pihak lainnya, maka apakah gugur pula hak khiyār bagi pihak yang telah menggugurkan hak khiyār dirinya sendiri? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan pendapat yang menjadi mazhab adalah gugur.
ثم تمام التفريع في ذلك أنا إذا أثبتنا لهما الخيار وقد جرى التفرق فمهما تمكن المخرجُ من التصرف وهو في المجلس فالقولُ فيه كالقول في الوارث إذا بلغه الخبر وأثبتنا له الخيارَ وقد سبق القول في الفور والامتداد إذا زايله الإكراه وهو مارٌّ غيرُ قار في موضع فإن كنا نرى الخيار على الفور لو كان في مجلس فالخيار على الفور عند تحقق التمكن وزوال الإكراه وإن قلنا يمتد الخيار امتداد المجلس فإذا كان ماراً غيرَ لابثٍ فالذي أراه أنه إذا فارق في مروره مكان التمكن انقطع خياره؛ إذ لا ينضبط لمروره منتهى فكان مكان التمكن مجلساً وقد فارقه
Kemudian, penyempurnaan rincian dalam hal ini adalah bahwa jika kita menetapkan hak khiyar bagi keduanya dan telah terjadi perpisahan, maka kapan pun pihak yang berhak membatalkan mampu melakukan tindakan selama masih di majelis, maka hukumnya sama seperti ahli waris yang menerima kabar dan kita tetapkan hak khiyar baginya. Telah dijelaskan sebelumnya tentang ketentuan segera (faur) dan kelanjutan (imtidad) jika paksaan telah hilang sementara ia sedang berjalan dan tidak menetap di suatu tempat. Jika menurut pendapat kita, hak khiyar harus segera dilaksanakan jika masih di majelis, maka hak khiyar juga harus segera dilakukan ketika benar-benar mampu dan paksaan telah hilang. Namun, jika kita berpendapat bahwa hak khiyar berlangsung selama majelis, maka jika ia sedang berjalan dan tidak menetap, menurut pendapat saya, jika ia telah melewati tempat kemampuan itu dalam perjalanannya, maka hak khiyarnya terputus; karena tidak ada batas pasti untuk perjalanan itu, sehingga tempat kemampuan itu dianggap sebagai majelis, dan jika ia telah meninggalkannya, maka hak khiyarnya pun hilang.
فإن قيل إذا خرج عن مجلس العقد مكرهاً وحكمنا بأنه لا يبطل خياره وبسبب هذه المفارقة فإذا زايله الإكراه وتمكن من الانقلاب على المجلس والاجتماع بمُعَاقِده فهل عليه ذلك إن أراد بقاء الخيار قلنا الوجه عندنا أنه إن طال الزمان فقد انقطع ذلك المجلس حسّاً فلا معنى للعود وإن قرب ولم يطل الفصل ففي المسألة احتمال في تكليفه العودَ إلى الاجتماع بمُعاقده من حيث إنه في استدامة الكَوْن على صورة المفارقة في حكم المؤْثر للفراق والعلم عند الله تعالى
Jika dikatakan: Apabila seseorang keluar dari majelis akad karena dipaksa, dan kita memutuskan bahwa hak khiyār-nya tidak batal disebabkan perpisahan ini, maka jika paksaan itu telah hilang dan ia mampu kembali ke majelis serta bertemu kembali dengan pihak yang berakad dengannya, apakah ia wajib melakukan itu jika ingin mempertahankan hak khiyār? Kami katakan, menurut pendapat kami, jika waktu yang berlalu sudah lama, maka majelis tersebut telah terputus secara nyata, sehingga tidak ada makna untuk kembali. Namun jika waktunya singkat dan jedanya tidak lama, maka ada kemungkinan dalam masalah ini untuk mewajibkan ia kembali berkumpul dengan pihak yang berakad dengannya, karena tetap berada dalam keadaan terpisah dianggap sebagai keinginan untuk berpisah, dan ilmu yang pasti hanya milik Allah Ta‘ala.
فرع
Cabang
إذا جُنَّ من له الخيار في مكان الخيار وزمانِ الخيار لم ينقطع خيارُه وفاقاً وقام من يقوم عليه في أموره مقامه في أمر الخيار وليس الجنون في معنى الموت؛ فإن الموت فراقٌ كما قدمناه
Jika orang yang memiliki hak khiyar mengalami kegilaan pada tempat dan waktu khiyar, maka hak khiyarnya tidak terputus menurut kesepakatan, dan orang yang mengurusnya menggantikan posisinya dalam urusan khiyar. Kegilaan tidak sama maknanya dengan kematian, karena kematian adalah perpisahan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فلو فارق المجنون مجلسَ العقد فهذا فيه احتمال يلاحِظ إخراج أحد المتعاقدين عن مجلس العقد كُرهاً ويجوز أن يقال لا ينقطع بمفارقة المجنون؛ فإن التصرف في الخيار انقلب إلى الولي القوَّام عليه ويعارض ما ذكرنا أنه لو كان كذلك لكان الجنون كالموت وكان المجنون كالمعدوم حتى تخرج المسألة على قولين في بطلان الخيار وليس الأمر كذلك ولا شك أن من نسي العقدَ وفارق المجلس ثم تذكره فينقطع خيارُه ولو أكره على المفارقة حتى تعدى بنفسه المجلسَ فيظهر تنزيل هذا منزلة ما لو حُمل وأُخرج
Jika orang gila meninggalkan majelis akad, maka dalam hal ini terdapat kemungkinan yang mempertimbangkan keluarnya salah satu pihak yang berakad dari majelis akad secara terpaksa. Bisa juga dikatakan bahwa hak khiyar tidak terputus dengan keluarnya orang gila; sebab hak bertindak dalam khiyar telah beralih kepada wali yang mengurusnya. Namun, hal ini bertentangan dengan apa yang telah kami sebutkan, yaitu jika demikian maka kegilaan itu seperti kematian, dan orang gila dianggap seperti tidak ada sehingga permasalahan ini menjadi dua pendapat dalam batalnya khiyar, padahal kenyataannya tidak demikian. Tidak diragukan lagi bahwa seseorang yang lupa terhadap akad lalu meninggalkan majelis, kemudian ia mengingatnya kembali, maka hak khiyarnya terputus. Jika ia dipaksa untuk keluar hingga ia sendiri meninggalkan majelis, maka tampak bahwa hal ini dipersamakan dengan orang yang dibawa dan dikeluarkan dari majelis.
ولا وجه لتقريب ما نحن فيه من أحكام الحِنث في اليمين وقد ذكرنا قولين في أن الناسي هل يحنَث في يمينه فالذي نحن فيه لا يُتلقى من ذلك الأصل؛ فإن المعتبر في نفي الحِنْث في حق الناسي على قولٍ أن الحالف جعل اليمين وازعةً إياه مما حلف عليه وهذا يُشعر بتخصيصه عقد اليمين بحالة الذكر؛ فإنّ اليمين المنسية لا تَزَعُ
Tidak ada alasan untuk menganalogikan permasalahan yang sedang kita bahas dengan hukum pelanggaran sumpah (ḥinth) dalam yamin. Kami telah menyebutkan dua pendapat mengenai apakah orang yang lupa tetap dianggap melanggar sumpahnya atau tidak. Permasalahan yang sedang kita bahas tidak dapat diambil dari kaidah tersebut; sebab, alasan yang dipertimbangkan dalam meniadakan pelanggaran sumpah bagi orang yang lupa menurut salah satu pendapat adalah bahwa orang yang bersumpah menjadikan sumpah itu sebagai pencegah dirinya dari melakukan apa yang ia sumpahkan, dan hal ini menunjukkan bahwa ia membatasi akad sumpah pada keadaan ingat; karena sumpah yang dilupakan tidak dapat mencegah.
والأصل الذي نحن فيه ليس من ذلك والناسي إذا فارق مجلس العقد في حكم مضيّعٍ حقَّ نفسه بالنسيان
Prinsip yang sedang kita bahas ini bukan termasuk dalam hal tersebut, dan orang yang lupa apabila telah meninggalkan majelis akad, maka ia dianggap sebagai orang yang telah menyia-nyiakan hak dirinya sendiri karena kelupaannya.
وأما إذا كان مكرهاً فقد نقول لا يبطل حقه اللازم بما هو مكره فيه وذلك واضح لمن أَلِفَ مسالك الفقه
Adapun jika seseorang berada dalam keadaan terpaksa (mukrah), maka bisa dikatakan bahwa haknya yang bersifat mengikat tidak batal karena sesuatu yang ia dipaksa melakukannya, dan hal ini jelas bagi siapa saja yang telah terbiasa dengan metode-metode fiqh.
فصل
Bab
خيار الشرط ثابت في نص السنَّة وهو متفق عليه ومذهب الشافعي أنه لا يُزاد على ثلاثة أيام والمتبع في ذلك التوقيفُ عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في حديث حَبّانَ بنِ مُنقذ أنه قال فيما رواه نافع عن ابن عمرَ قال كان حَبانُ بنُ مُنقذ رجلاً ضعيفاً وكان قد سُفع في رأسه مأموماً فجعل له النبي صلى الله عليه وسلم الخيار فيما اشترى ثلاثاً وقال له بع وقل لا خِلابة وكان ثقل لسانُه لمكان الشجَّة وكان يقول لا خذابة لا خذابة
Khiyār syarat didasarkan pada nash sunnah dan telah disepakati. Menurut mazhab Syafi‘i, tidak boleh lebih dari tiga hari, dan yang diikuti dalam hal ini adalah penetapan dari Rasulullah saw. dalam hadis Habban bin Munqidz, sebagaimana diriwayatkan Nafi‘ dari Ibnu Umar. Ia berkata, Habban bin Munqidz adalah seorang yang lemah dan pernah mengalami cedera di kepalanya sehingga menjadi imam. Maka Nabi saw. memberikan kepadanya hak khiyār dalam apa yang ia beli selama tiga hari, dan bersabda kepadanya, “Juallah dan katakan: tidak ada penipuan (khilābah).” Karena luka di kepalanya, lisannya menjadi berat, sehingga ia berkata, “Lā khadhābah, lā khadhābah.”
والخيارُ مخالفٌ لوضع البيع في منع نقل الملك أو في منع لزومه فثبوتُ الخيارِ حائدٌ عن الموضوع فيتعين التوقيف فيه فليس في إثباته غيرُ الاتباع وقد ورد الخبرُ في إثبات الثلاث فلا مزيد عليها فإذا تشارط المتبايعان الخيارَ ثلاثة أيام ثبت وإن شرطاه أقل من ذلك ثبت المشروطُ بلا مزيدٍ ولا سبيل إلى الزيادة على الثلاث ولا يختلف ذلك باختلاف صفات المعقود عليه
Khiyār berbeda dengan ketentuan dasar jual beli dalam hal mencegah perpindahan kepemilikan atau mencegah keharusan (melaksanakan akad), sehingga penetapan khiyār keluar dari pokok permasalahan dan harus didasarkan pada dalil (tawqīf). Maka, dalam penetapannya tidak ada selain mengikuti (dalil), dan telah datang riwayat yang menetapkan (khiyār) selama tiga hari, sehingga tidak boleh melebihi itu. Jika kedua pihak yang berjual beli saling mensyaratkan khiyār selama tiga hari, maka itu berlaku. Jika mereka mensyaratkan kurang dari itu, maka yang disyaratkan berlaku tanpa tambahan. Tidak boleh menambah lebih dari tiga hari, dan hal itu tidak berbeda meskipun sifat barang yang diperjualbelikan berbeda-beda.
ثم أول ما نذكره تفصيلُ القول فيما يثبت فيه خيار الشرط من العقود فنقول خيار المجلس يعم كلَّ بيع كما تقدم وخيار الشرط لا يثبت من البيوع في الصرف والسلم والسبب فيه أن الصرف لا يقبل الأجل والخيارُ أحق بأن يكون غرراً من الأجل وهو في التحقيق تأجيلُ نقل الملك أو تأجيلُ لزومه والسلم وإن قيل التأجيل في جهة المسلَم فيه فلا يتصور ذلك في رأس المال؛ إذْ إقباضُه في المجلس شرط العقد فكان في ذلك كالصرف من الجانبين والخيارُ لو قُدر ثبوته لتضمن جوازَ العقد في عِوَضيْه؛ إذ لا يتصوّر بيعٌ جائزٌ في أحد العوضين
Kemudian, hal pertama yang akan kami sebutkan adalah penjelasan rinci mengenai akad-akad yang dapat diberlakukan khiyār syarat padanya. Kami katakan bahwa khiyār majlis berlaku untuk setiap jual beli, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan khiyār syarat tidak berlaku dalam jual beli sharf dan salam. Sebabnya adalah karena sharf tidak menerima penundaan, dan khiyār lebih layak dianggap sebagai gharar dibandingkan penundaan itu sendiri. Pada hakikatnya, khiyār merupakan penundaan pemindahan kepemilikan atau penundaan keharusan akad. Adapun salam, meskipun dikatakan bahwa penundaan itu terjadi pada objek yang diserahkan (muslam fīh), namun hal itu tidak mungkin terjadi pada uang pokok (ra’s al-māl), karena penyerahannya di majlis akad merupakan syarat sahnya akad tersebut. Dengan demikian, salam dalam hal ini serupa dengan sharf dari kedua sisinya. Jika khiyār dianggap berlaku, maka hal itu akan mengandung kebolehan akad pada kedua objek tukar-menukar, padahal tidak mungkin ada jual beli yang sah hanya pada salah satu objek tukar-menukar saja.
فرع
Cabang
إذا ثبت أن خيار المجلس يثبت في الصرف والسلم فأثر ثبوته أن مَن فسخ العقد من المتعاقدين انفسخ وإن كان ذلك بعد جريان التقابض حِساً ولو أجازا العقدَ نُظر فإن أجازا بعد التقابضِ لزم العقدُ وامتنع فسخه وإن أجازا العقدَ قبل جريان القبض ففي المسألة وجهان ذكرهما شيخي وصاحب التقريب أحدهما أن الإجازة لاغية؛ فإن القبضَ يتعلق بالمجلس وهو بعدُ باقٍ فحكم المجلس في الخيار باقي والوجه الثاني أن خيار المجلس ينقطع
Jika telah tetap bahwa khiyār majlis berlaku dalam akad sharf dan salam, maka akibat dari ketetapannya adalah bahwa siapa pun dari kedua pihak yang membatalkan akad, maka akad tersebut batal, meskipun pembatalan itu terjadi setelah terjadinya serah terima secara fisik. Namun jika keduanya menyetujui akad, maka perlu dilihat: jika keduanya menyetujui setelah terjadinya serah terima, maka akad menjadi mengikat dan tidak boleh dibatalkan; tetapi jika keduanya menyetujui akad sebelum terjadinya serah terima, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh guruku dan penulis at-Taqrīb. Pendapat pertama, persetujuan itu dianggap tidak sah karena serah terima terkait dengan majlis dan majlis masih berlangsung, sehingga hukum khiyār majlis masih tetap berlaku. Pendapat kedua, khiyār majlis terputus.
ثم الذي أثق به في التفريع أنا إذا قطعنا باللزوم تعيّن على المتعاقدين التقابضُ فإن تفرقا قبل التقابض انفسخ العقدُ بعد اللزوم ولم نُعَصِّهما إذا كان تفرقهما عن تراضٍ وإن فارق أحدُهما الثانيَ منفرداً قبل القبض انفسخ العقد ولكنه عصى بانفراده بما تضمن فسخَ العقد وإسقاطَ المستحق عليه من العوض
Kemudian, pendapat yang aku yakini dalam penjabaran hukum adalah bahwa apabila kita telah memastikan adanya kewajiban (luzūm), maka kedua pihak yang berakad wajib melakukan serah terima. Jika mereka berpisah sebelum serah terima, maka akad menjadi batal setelah adanya kewajiban, dan kami tidak menganggap keduanya berdosa jika perpisahan itu atas dasar kerelaan bersama. Namun, jika salah satu dari keduanya meninggalkan yang lain sendirian sebelum serah terima, maka akad menjadi batal, tetapi ia berdosa karena tindakannya yang menyebabkan batalnya akad dan menggugurkan hak pihak lain atas imbalan.
فرع
Cabang
الإجارة هل يثبت فيها خيارُ المجلس والشرط الطريقة المرضية فيها أن خيار الشرط لا يثبت فيها؛ لأنه يتضمن تعطيل المنافع ونحن منعنا إثبات خيار الشرط في الصرف؛ من حيث إن الصرفَ يقتضي تعجيلَ الإقباض والخيار يؤخر التصرّفَ وهو نقيض موضوع الصرف فإذا فسد شرطُ الخيار في الصَّرف بتأخير مقصوده فالخيار الذي يعطل المنافع بذلك أولى وهل يثبت فيها خيارُ المجلس فعلى وجهين أحدهما لا يثبت؛ فإن المعتمد فيه الخبر وهو مختص بالمتبايعين والإجارة لا تسمى بيعاً
Apakah dalam akad ijarah terdapat hak khiyar majelis dan khiyar syarat? Cara yang tepat dalam hal ini adalah bahwa khiyar syarat tidak berlaku dalam akad ijarah, karena khiyar syarat mengandung unsur menunda pemanfaatan, sedangkan kami melarang penetapan khiyar syarat dalam akad sharf, karena sharf menuntut penyerahan secara langsung, sementara khiyar menyebabkan penundaan transaksi, yang bertentangan dengan tujuan akad sharf. Maka jika syarat khiyar dalam sharf batal karena menunda tujuannya, maka khiyar yang menunda pemanfaatan dalam ijarah lebih utama untuk tidak dibolehkan. Adapun apakah khiyar majelis berlaku dalam ijarah, terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan tidak berlaku, karena dasar khiyar majelis adalah hadis yang khusus berlaku bagi dua pihak yang berjual beli, sedangkan akad ijarah tidak disebut sebagai jual beli.
والوجه الثاني أن خيار المجلس يثبت؛ فإنا فهمنا من إثبات خيار المجلس غرضَ تدارك الغبن إن كان والإجارة في هذا المعنى كالبيع وقد قال الشافعي الإجارات صنفٌ من البيوع فهو في التحقيق بيعُ المنافع ثم المجلس في غالب الأمر لا يمتد فإن مضى شيء من الزمان وتعطل فيه مقدار نزر من المنفعة فهو مما لا يبالَى به وإن طال المجلس على ندور فالنادر لا يغير وضعَ الشيء
Alasan kedua adalah bahwa khiyār majlis tetap berlaku; karena kami memahami dari penetapan khiyār majlis adanya tujuan untuk mengantisipasi kemungkinan kerugian, dan dalam hal ini, ijārah sama seperti jual beli. Imam Syafi‘i mengatakan bahwa ijārah adalah salah satu jenis jual beli, sehingga pada hakikatnya ia adalah jual beli manfaat. Kemudian, majlis pada umumnya tidak berlangsung lama; jika berlalu sedikit waktu dan hilang sedikit manfaat, maka hal itu tidak dianggap penting. Jika majlis berlangsung lama, itu pun jarang terjadi, dan sesuatu yang jarang tidak mengubah hukum asal suatu perkara.
وذكر الإمام وبعض أصحاب القفال الخلافَ في خيار الشرط أيضاً وحاصل الطريقة ثلاثةُ أوجه في الخيارين أحدها يثبتان والثاني لا يثبتان والثالث يثبت خيارُ المجلس ولا يثبت خيار الشرط
Imam dan sebagian sahabat al-Qaffal juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah khiyār syarṭ. Kesimpulan dari metode yang ada terdapat tiga pendapat mengenai kedua khiyār tersebut: yang pertama, keduanya ditetapkan; yang kedua, keduanya tidak ditetapkan; dan yang ketiga, khiyār majlis ditetapkan sedangkan khiyār syarṭ tidak ditetapkan.
والمرتضى الطريقةُ الأولى فإن قلنا لا يثبت الخياران جميعاً وهو الأصح فلا كلام
Menurut al-Murtadha, cara yang pertama; jika kita mengatakan bahwa kedua hak khiyar tidak tetap secara bersamaan, dan inilah pendapat yang paling shahih, maka tidak ada pembicaraan lebih lanjut.
وإن قلنا يثبت الخياران أو أحدُهُما فالوجه عندي القطعُ بأن ابتداء المدة المضروبة في الإجارة تُحتسب من وقت العقد؛ فإن المصيرَ إلى أن المدة يحتسب ابتداؤها من انقضاء الخيار يتضمن استئخار مدة الإجارة عن العقد وهذا ينافي مذهب الشافعي؛ فإنه لا يرى إجارةَ الدار للسنةِ القابلة والمصيرُ إلى أن ابتداء المدة من وقت تصرُّمِ الخيار تصريحٌ باستئخار موجَب العقد عن العقد وإجارة الدار للسنة القابلة عند الشافعي بمثابة تعليق العقد على مجيء الزمان المرتقب وهذا لا مساغ له
Jika kita mengatakan bahwa kedua hak khiyar atau salah satunya tetap ada, maka menurut pendapat saya, yang benar adalah bahwa permulaan masa yang ditetapkan dalam akad ijarah dihitung sejak waktu akad; karena berpendapat bahwa masa tersebut dihitung sejak berakhirnya khiyar berarti menunda masa ijarah dari waktu akad, dan ini bertentangan dengan mazhab Syafi‘i; sebab beliau tidak membolehkan ijarah rumah untuk tahun berikutnya, dan berpendapat bahwa permulaan masa dihitung sejak berakhirnya khiyar berarti secara jelas menunda akibat hukum akad dari waktu akad, dan ijarah rumah untuk tahun berikutnya menurut Syafi‘i sama dengan menggantungkan akad pada datangnya waktu yang akan datang, dan ini tidak dibenarkan.
فإن قيل إذا احتسبنا المدة من ابتداء العقد فتتعطل المنافع على المستأجر أو
Jika dikatakan: Jika kita menghitung masa sewa sejak awal akad, maka manfaatnya akan hilang bagi penyewa atau…
على المكري قلنا لا بد من التزام ذلك إذا قلنا بإثبات الخيار
Kami katakan bahwa pemilik sewa wajib untuk berkomitmen terhadap hal itu jika kita menetapkan adanya khiyār.
ومن فساد التفريع نتبين فساد الأصل
Dari kerusakan cabang, kita dapat mengetahui kerusakan asal.
ثم نقول لو قُلنا ابتداءُ المدّة من انقضاء الخيار فالمنافعُ في مدة الخيار تتعطل على المكري فلا بد من تعطيل كيف فرض الأمرُ
Kemudian kami katakan, jika kita berpendapat bahwa permulaan masa adalah sejak berakhirnya khiyār, maka manfaat-manfaat selama masa khiyār menjadi terhenti bagi pihak penyewa, sehingga mau tidak mau manfaat tersebut menjadi tidak berjalan bagaimanapun keadaannya.
فلو قالَ قائل ينبغي أن تُجوّزوا للمُكري الانتفاعَ إذا صرنا إلى أن ابتداء المُدَّة يُحسَبُ من انقضاء الخيار قلنا هذا الآن ينتهي إلى القُرب من خرق الإجماع ومن أكرى داراً سنة مطلقاً ثم أكراها من غير المكتري ثلاثة أيام فلا مُجيز لذلك فيما أظنُّ وقال شيخي من أئمتنا من يحتسب ابتداء مدة الإجارة من وقت انقضاء الخيار وهذا يمكن توجيهُه على بُعده ولهذا القائل أن يقول إنما يمتنع استئخار حُكم الإجارةِ عن العقد إذا لزم العقد وهذا كما أنه يلزم ملك المشتري إذا لزم العقد ويتأخر ملكُه أو لزومُ ملكه إذا اشتمل العقد على الخيار فإن صح هذا الوجه فالقياس يقتضي جوازَ إجارة الدار للمكري في مدة الخيار وأراه بعيداً
Jika ada yang berkata, “Seyogianya kalian membolehkan pemilik sewaan untuk memanfaatkan (barang sewaan) jika kita berpendapat bahwa awal masa sewa dihitung sejak habisnya masa khiyār,” maka kami katakan: Hal ini sekarang hampir mendekati pelanggaran ijmā‘. Jika seseorang menyewakan sebuah rumah selama satu tahun secara mutlak, lalu ia menyewakannya lagi kepada selain penyewa pertama selama tiga hari, maka menurut pengetahuan saya, tidak ada yang membolehkannya. Guru saya, salah satu imam dari kalangan kami, berpendapat bahwa awal masa ijārah dihitung sejak habisnya masa khiyār, dan pendapat ini masih mungkin diarahkan meskipun cukup jauh. Bagi orang yang berpendapat demikian, ia dapat mengatakan bahwa yang terlarang adalah menunda pelaksanaan hukum ijārah dari akadnya jika akad tersebut telah mengikat. Ini sebagaimana kepemilikan pembeli menjadi tetap ketika akad telah mengikat, namun kepemilikannya atau keharusan kepemilikannya bisa tertunda jika akad mengandung khiyār. Jika pendapat ini benar, maka qiyās mengharuskan bolehnya menyewakan rumah kepada pemilik sewaan selama masa khiyār, namun menurut saya hal ini cukup jauh (dari kebenaran).
التفريع
Pencabangan
إن احتسبنا المدةَ من العقد فالمنافع الفائتة في زمان الخيار يُنظرُ فيها فإن هي فاتت في يد المكري فهي من ضمانه وإن كانت الدارُ في يد المكتري ففوات المنافع في يده بمثابة تلف جزءٍ من المبيع في زمان الخيار في يد المشتري وسنعقد في ذلكَ فصلاً
Jika kita menghitung masa dari akad, maka manfaat yang hilang pada masa khiyār perlu diperhatikan; jika manfaat itu hilang di tangan pemilik sewa, maka itu menjadi tanggung jawabnya. Namun, jika rumah berada di tangan penyewa, maka hilangnya manfaat di tangannya sama dengan rusaknya sebagian barang yang dijual pada masa khiyār di tangan pembeli. Kami akan membahas hal ini dalam satu bab tersendiri.
وإن فرَّعنا على أن العقد يحتسب ابتداءُ مدته من انقضاءِ الخيار فلا خفاءَ بما نحاولهُ وإنما الذي يغمض فيه أن المكرِي لو أراد أن يُكري الدار في مدَّة الخيار فهل له ذلك
Jika kita berpendapat bahwa akad dihitung awal waktunya sejak berakhirnya khiyār, maka tidak ada keraguan dalam hal yang kita bahas ini. Namun, yang menjadi persoalan adalah jika pemilik sewaan ingin menyewakan rumah tersebut selama masa khiyār, apakah ia boleh melakukannya?
وكل ما ذكرناه في إجارةٍ تورد على عين فأما الإجارة الواردة على المدة فقد قال الشيخ أبو علي من يجعلها كالسَّلَم ففيها خيار المجلس ولا يثبت فيها خيار الشرط ومن أئمتنا من يجعلُها كالسلم فيثبتُ عنده فيها الخياران بخلاف الإجارة الواردةِ على الحين وذلك لأن المعتمد في نفي الخيار في الإجارة الواردة على العين ما قدمناه من تعطّل المنافع وهذا المعنى لا يتحقق في الإجارة الواردة على الذمَّة وفيه احتمالٌ عندي؛ لأن هذا لا يسمى بيعاً والمعتمدُ في الخيارين الخبر وهو في البيع
Segala sesuatu yang telah kami sebutkan mengenai ijārah yang berlaku atas suatu objek tertentu, adapun ijārah yang berlaku atas jangka waktu, maka menurut Syekh Abu Ali, yang menyamakannya dengan salam, di dalamnya terdapat khiyār majlis dan tidak berlaku khiyār syarat. Di antara para imam kami ada yang menyamakannya dengan salam sehingga menurutnya berlaku kedua khiyār tersebut, berbeda dengan ijārah yang berlaku atas waktu tertentu. Hal ini karena alasan utama dalam meniadakan khiyār pada ijārah yang berlaku atas objek tertentu adalah sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu terhentinya manfaat, dan makna ini tidak terwujud pada ijārah yang berlaku atas tanggungan (dzimmah). Dalam hal ini menurut saya masih ada kemungkinan, karena ini tidak disebut sebagai jual beli, dan alasan utama dalam kedua khiyār adalah hadis, sedangkan hadis tersebut berlaku dalam jual beli.
فرع
Cabang
في المسابقة قولان أحدهما أنها جائزة فلا معنى لتقدير الخيار على ذلك والثاني أنها لازمة قال الأئمة إذا حكمنا بلزومها فهي في الخيارين بمثابَةِ الإجارة والمسابقة عندي أبعد من الخيار لأنها لا تعدُّ من عقود المغابنات فازدادت بُعداً من البيع الذي هو مورد الخبر
Dalam masalah musabaqah terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa musabaqah itu boleh, sehingga tidak ada makna untuk menetapkan khiyar atasnya; dan pendapat kedua menyatakan bahwa musabaqah itu bersifat mengikat. Para imam berkata, jika kami memutuskan bahwa musabaqah itu mengikat, maka dalam dua pilihan itu kedudukannya seperti ijarah. Menurutku, musabaqah lebih jauh dari khiyar, karena ia tidak termasuk akad-akad yang mengandung unsur spekulasi (mughabanat), sehingga ia semakin jauh dari jual beli yang merupakan objek hadis.
فصل
Bab
يحوي حقائق في جمع الخيارين وفي ثبوت أحدهما دون الثاني
Paragraf ini memuat fakta-fakta tentang penggabungan dua pilihan dan tentang tetapnya salah satu dari keduanya tanpa yang lain.
فنقول خيار المجلس يثبت في كل بيعٍ وخيار الشرط لا يثبت في الصَّرف والسَلَم ويثبت في غيرهما من البيوع والوجه نفي الخيارين في الإجارة ولا يتَّجه إثبات خيار الشرط في الإجارة؛ فيخرج من ذلك أن خيار الشرط أولى بالانتفاء في الإجارة؛ لأنه يتضمن التعطيلَ لا محالة وخيار المجلس في الغالب لا يدوم
Maka kami katakan bahwa khiyār majlis berlaku pada setiap jual beli, sedangkan khiyār syarat tidak berlaku pada transaksi sharf dan salam, namun berlaku pada selain keduanya dari jenis jual beli. Adapun yang tepat adalah meniadakan kedua khiyār tersebut dalam ijarah, dan tidak tepat menetapkan khiyār syarat dalam ijarah; sehingga dari hal ini dapat disimpulkan bahwa khiyār syarat lebih utama untuk ditiadakan dalam ijarah, karena khiyār syarat pasti mengandung unsur penundaan, sedangkan khiyār majlis pada umumnya tidak berlangsung lama.
وإذا قُلنا القسمةُ بيع وكانت قسمةَ اختيار فقد ذكرتُ التردد فيها والوجه أن يقال هذا التردد في خيار المجلس؛ فإن خيار الشرط معتمدُه اللفظ ويبعُد ثبوتُه لفظاً في القسمة وهي لا تعتمد لفظاً
Dan jika kita mengatakan bahwa pembagian adalah jual beli dan merupakan pembagian pilihan, maka aku telah menyebutkan adanya keraguan di dalamnya. Pendapat yang tepat adalah bahwa keraguan ini berkaitan dengan khiyār majlis; karena khiyār syarat bergantung pada lafaz, dan kecil kemungkinan adanya lafaz dalam pembagian, sedangkan pembagian tidak bergantung pada lafaz.
ومن هذا الجنس أخذُ الشفيع الشقص المشفوعَ فإذا أخذهُ ملكه بعوضٍ يبذله وهو في حكم بيعٍ ففي ثبوت الخيار للشفيع وجهان؛ فإنهُ ابتياع حكماً ثم هذا إنما يجري في خيار المجلس فأما خيار الشرط فلا يثبت؛ فإن الخيار الذي يُثبته اللفظ يليق بعقدٍ يعتمد الإيجابَ والقبول
Dari jenis ini adalah pengambilan bagian yang ditebus oleh syafii; maka jika ia mengambilnya, ia memilikinya dengan imbalan yang ia berikan dan itu dalam hukum jual beli. Maka, dalam penetapan hak khiyar bagi syafii terdapat dua pendapat; karena ini adalah pembelian secara hukum. Kemudian, hal ini hanya berlaku pada khiyar majelis, adapun khiyar syarat maka tidak ditetapkan; karena khiyar yang ditetapkan oleh lafaz sesuai dengan akad yang bergantung pada ijab dan kabul.
ثم في خيار المجلس للشفيع غموضٌ أيضاً من حيث إنه يستحيل ثبوتُهُ للمشتري؛ إذ هو مقهور وثبوت الخيار حكماً في أحد الجانبين بعيدٌ ثم إذا أثبتنا الخيار للشفيع فليس المعني به ثبوتَ الخِيرة في الأخذ والترك مادام في المجلس تفريعاً على قول الفور وقد غلط بذلك بعضُ الأصحاب والصحيحُ عندنا أنه يأخذ على الفور ثم له الخيار في نقض الملك وردّه
Kemudian, dalam hal khiyar majelis bagi syafi‘ (pemilik hak syuf‘ah) juga terdapat kerancuan, karena mustahil hak tersebut ditetapkan bagi pembeli; sebab ia berada dalam posisi yang terpaksa, dan penetapan khiyar secara hukum hanya pada salah satu pihak adalah hal yang jauh (tidak masuk akal). Selanjutnya, jika kita menetapkan khiyar bagi syafi‘, yang dimaksud bukanlah menetapkan pilihan untuk mengambil atau meninggalkan selama masih di majelis, berdasarkan pendapat yang mewajibkan segera (al-faur). Sebagian ulama ada yang keliru dalam hal ini. Pendapat yang benar menurut kami adalah bahwa syafi‘ harus segera mengambil, kemudian ia memiliki khiyar untuk membatalkan kepemilikan dan mengembalikannya.
وأما الحوالة فقد ذكرنا ترتيبَ المذهب في الخيار فيها فإن قُلنا بثبوت الخيار فقد قال العراقيون لا يثبت خيارُ الشرط وليس يتجه عندي فرق بين الخيارين في الحوالة؛ فإن المعتمد في الحوالة اللفظُ فلا يبعد شرط الخيار معهُ
Adapun mengenai hawālah, kami telah menyebutkan urutan mazhab dalam hal khiyār padanya. Jika kita mengatakan bahwa khiyār itu tetap ada, maka para ulama Irak berpendapat bahwa khiyār syarat tidak tetap, namun menurut saya tidak tampak adanya perbedaan antara kedua khiyār dalam hawālah; karena yang menjadi sandaran dalam hawālah adalah lafaz, maka tidaklah jauh kemungkinan mensyaratkan khiyār bersamanya.
فرع
Cabang
ذكر الأئمة أن الصداقَ لا يثبت فيه الخياران جميعاً وقد ذكر صاحب التقريب وغيرُه وجهاً آخر في إثبات الخيار في الصداق وحده وإن كان لا يثبت في النكاح كما يجري الرد في الصداق والنكاحُ بحاله وهذا منقاسٌ وقد ذكر الصيدلاني في كتاب الصداق قولين منصوصين في ثبوت الخيار في الصداق ثم من أثبت الخيار في الصداق لم يفصل بين خيار المجلس وخيار الشرط وخيارُ الشرط أليق بالصداق عندي من خيار المجلس من حيث إنه يعتمد اللفظ ويقبل التخصيص فيجوز أن يشترط مختصّاً بالصداق وخيار المجلس يبعُد ثبوتُه في الصداق؛ فإن وضعَه يتضمن التعَلُّقَ بالجانبين فإذا امتنع ثبوتُه من جانبٍ بَعُد ثبوته من الجانب الثاني
Para imam mazhab menyebutkan bahwa pada mahar tidak dapat ditetapkan kedua macam khiyar sekaligus. Pemilik kitab at-Taqrib dan yang lainnya juga menyebutkan pendapat lain tentang penetapan khiyar pada mahar saja, meskipun khiyar itu tidak ditetapkan dalam akad nikah, sebagaimana berlaku penolakan pada mahar sementara akad nikah tetap berlangsung. Pendapat ini dapat diqiyaskan. As-Saidalani dalam kitab ash-Shadaq menyebutkan dua pendapat yang dinukil secara eksplisit mengenai penetapan khiyar pada mahar. Kemudian, siapa yang menetapkan khiyar pada mahar tidak membedakan antara khiyar majelis dan khiyar syarat. Menurut saya, khiyar syarat lebih layak diterapkan pada mahar daripada khiyar majelis, karena khiyar syarat bergantung pada lafaz dan dapat dikhususkan, sehingga boleh disyaratkan secara khusus pada mahar. Adapun khiyar majelis, sulit untuk ditetapkan pada mahar, karena sifat dasarnya melibatkan kedua belah pihak. Jika penetapannya tidak berlaku pada salah satu pihak, maka sulit pula untuk diberlakukan pada pihak yang lain.
فصل
Bab
إذا شرطنا في البيع خيارَ ثلاثة أيام وثبتَ فيه خيار المجلس شرعاً فقد رَتَّبَ الشيخُ في شرح الفروع ترتيباً وافقَ في معظمه ترتيبَ صاحب التقريب فمما اشتهر فيه خلاف الأصحاب أن البيع إذا شُرط فيه خيار ثلاثة أيام مطلقاً وثبت فيه خيار المجلس لا محالة فخيار الشرط من أي وقت يحتسب فعلى وجهين أصحهما أنه يحتسبُ من وقت العقد ولا يبعُد ثبوتُ الخيارين في وقتٍ واحدٍ ومطلقُ الشرط يتضمنُ اتصال المشروط بالعقد
Jika dalam jual beli disyaratkan adanya khiyar selama tiga hari dan di dalamnya juga tetap berlaku khiyar majelis secara syar‘i, maka Syaikh dalam Syarh al-Furū‘ telah menyusun urutan yang sebagian besarnya sesuai dengan urutan penulis at-Taqrīb. Di antara hal yang terkenal adanya perbedaan pendapat di kalangan para sahabat adalah apabila dalam jual beli disyaratkan khiyar selama tiga hari secara mutlak dan di dalamnya pasti berlaku khiyar majelis, maka dari waktu manakah khiyar syarat itu dihitung? Ada dua pendapat, yang paling sahih adalah bahwa khiyar itu dihitung sejak waktu akad. Tidak mustahil kedua khiyar tersebut berlaku dalam waktu yang bersamaan, dan syarat yang bersifat mutlak mengandung makna bahwa sesuatu yang disyaratkan itu terhubung dengan akad.
والوجه الثاني أنه يثبت ابتداءُ مدة الخيار المشروط من وقت التفرق وهذا القائل يعلل ما قاله بوجهين أحدهما أن الشرط المطلق يتضمن إثبات الخيار في زمان لولا الشرط لم يثبت جواز العقد فإذا كان خيار المجلس ثابتاً شرعاً وجَرَى شرط الخيار أشعر ذلك بتخصيص الخيار المشروط بما بعد المجلس والوجه الثاني أن إثبات خيارين متماثلين في وقتٍ واحدٍ لاغٍ لا معنى له وكل شرط لم يتضمن فائدة لغا فسقط أثر الخيار
Pendapat kedua adalah bahwa awal mula masa khiyār yang disyaratkan itu ditetapkan sejak waktu berpisah. Orang yang berpendapat demikian memberikan dua alasan: pertama, syarat yang bersifat mutlak mencakup penetapan khiyār pada waktu yang jika tanpa syarat tersebut, maka keabsahan akad tidak akan tetap. Maka, jika khiyār majlis telah ditetapkan secara syar‘i dan kemudian disyaratkan pula khiyār, hal itu menunjukkan bahwa khiyār yang disyaratkan tersebut dikhususkan untuk setelah majlis. Alasan kedua, penetapan dua khiyār yang serupa dalam satu waktu adalah sia-sia dan tidak ada maknanya, dan setiap syarat yang tidak mengandung manfaat adalah batal, sehingga pengaruh khiyār pun gugur.
ثم قال الشيخ وصاحب التقريب هذا فيه إذا كان شَرْطُ الخيار مطلقاًً فأما إذا صرحنا بإثبات خيار الشرط من وقت العقد فإن قلنا مطلق الشرط يقتضي ذلك فهذا تصريح بمقتضى الإطلاق فيصح وإن قلنا إن الخيار المطلق يحتسب من وقت التفرق فإذا شرطا احتسابه من وقت العقد ففي صحة الشرط وجهان يتلقى توجيههما من المعنيين اللَّذيْن ذكرناهُما في توجيهِ احتساب الخيار المطلق من وقت التفرق فإن قلنا سبب ذلك أن الشرط يتضمن إثبات الخيار حتى لا يثبت لولا الشرط؛ فاستئخار الخيار إذن من حكم إطلاق اللفظ فإذا وقع التصريح بالاحتساب من وقت العقد نجري على حكم التصريح وإن اعتبرنا في التوجيه استبعادَ ثبوت خيارين فهذا مسلكه المعنى إذن فلا يجوز التصريح باشتراط جمع الخيارين والشرطُ فاسد مفسدٌ للعقد كما سيأتي تفصيل الشرائط في آخر الكتاب إن شاء الله تعالى
Kemudian Syekh dan penulis kitab at-Taqrīb berkata: Hal ini berlaku jika syarat khiyār disebutkan secara mutlak. Adapun jika kita secara tegas menetapkan khiyār syarat sejak waktu akad, maka jika kita berpendapat bahwa syarat yang disebutkan secara mutlak mengandung makna demikian, maka penegasan tersebut hanyalah penjelasan dari makna kemutlakan, sehingga sah. Namun jika kita berpendapat bahwa khiyār yang disebutkan secara mutlak dihitung sejak waktu berpisah, maka jika kedua belah pihak mensyaratkan perhitungannya sejak waktu akad, terdapat dua pendapat mengenai keabsahan syarat tersebut. Penjelasan kedua pendapat ini diambil dari dua alasan yang telah kami sebutkan dalam penjelasan perhitungan khiyār mutlak sejak waktu berpisah. Jika kita mengatakan bahwa sebabnya adalah karena syarat tersebut mengandung penetapan khiyār sehingga khiyār tidak akan tetap tanpa adanya syarat, maka penundaan khiyār adalah bagian dari konsekuensi kemutlakan lafaz. Maka jika ada penegasan perhitungan sejak waktu akad, kita mengikuti hukum penegasan tersebut. Namun jika dalam penjelasan kita mempertimbangkan ketidakmungkinan adanya dua khiyār sekaligus, maka ini adalah makna yang menjadi acuannya. Oleh karena itu, tidak boleh secara tegas mensyaratkan penggabungan dua khiyār, dan syarat tersebut batal serta membatalkan akad, sebagaimana akan dijelaskan secara rinci tentang syarat-syarat di akhir kitab ini, insya Allah Ta‘ala.
وإن قلنا الخيار المشروط يحتسب ابتداءُ مدته من وقت العقد عند الإطلاق وهو الصحيح الذي اختاره ابن الحدّاد فلو شرط احتساب ابتداء خيار الشرط من وقت التفرق فقد قطع الشيخ بفساد الشرط على هذا الوجه الذي عليه نفرعّ ووجَّهه بأن الشرط تضمن إثباتَ ابتداء الخيارِ في وقتٍ مجهول إذ لا يُدرَى متى يكون التفرق
Jika kita mengatakan bahwa khiyār syarat yang ditentukan jangka waktunya dihitung sejak waktu akad ketika tidak ada penjelasan, dan inilah pendapat yang benar yang dipilih oleh Ibnu al-Haddad, maka jika disyaratkan bahwa awal masa khiyār syarat dihitung sejak waktu berpisah, Syaikh telah menegaskan batalnya syarat tersebut menurut pendapat ini yang menjadi dasar pembahasan kita. Ia beralasan bahwa syarat tersebut mengandung penetapan awal khiyār pada waktu yang tidak diketahui, karena tidak diketahui kapan terjadinya perpisahan.
وذكر صاحب التقريب في هذه الصورة وجهين أحدهما ما ذكرناه والثاني أن الشرط يصح وهذا وإن أمكن توجيهه فالأصح ما ذكره الشيخ
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dalam kasus ini dua pendapat: yang pertama adalah apa yang telah kami sebutkan, dan yang kedua adalah bahwa syarat tersebut sah. Meskipun pendapat kedua ini memungkinkan untuk diarahkan, namun yang paling sahih adalah apa yang disebutkan oleh asy-Syaikh.
فرع
Cabang
إذا حكمنا باجتماع الخيارين فلو قالا أبطلنا الخيارين بطل الخيار
Jika kita memutuskan bahwa kedua khiyar berkumpul, maka jika keduanya berkata, “Kami membatalkan kedua khiyar,” maka khiyar pun batal.
وإن قلنا يستأخر ابتداءُ خيار الشرط عن المجلس فإذا قالا أبطلنا الخيارَ أو قطعناه فينقطع خيارُ المجلس وهل ينقطع خيارُ الشرط فعلى وجهين أحدهما لا يبطل؛ فإنه لم يصادفه الإبطال والثاني يبطل الخياران؛ فإن مقصودَهما إلزامُ العقد هذا هو المفهوم من مطلق الإبطال فلو قالا أَلزمنا العقدَ وجب القطعُ بانقطاع الخيارين
Dan jika kita mengatakan bahwa permulaan khiyār syarat tertunda dari majelis, maka apabila keduanya berkata, “Kami membatalkan khiyār” atau “Kami memutusnya”, maka khiyār majelis terputus. Adapun apakah khiyār syarat juga terputus, terdapat dua pendapat: yang pertama, tidak batal; karena pembatalan itu tidak mengenainya. Yang kedua, kedua khiyār tersebut batal; karena tujuan keduanya adalah mewajibkan akad, dan inilah yang dipahami dari pembatalan secara mutlak. Maka jika keduanya berkata, “Kami wajibkan akad ini,” maka wajib dipastikan bahwa kedua khiyār tersebut terputus.
فرع
Cabang
قد أوضحنا أن خيار الشرط يتأقَّت بثلاثة أيام وشرط خيار زائد فاسدٌ مفسد وأما خيار المجلس فلا يتقدَّر بمقدارٍ ومنتهاه إن لم يُقطع التفرقُ
Kami telah menjelaskan bahwa khiyār syarat dibatasi selama tiga hari, dan syarat khiyār yang melebihi batas tersebut adalah batal dan merusak akad. Adapun khiyār majlis tidak ditentukan dengan batas waktu tertentu, dan akhirnya adalah selama belum terjadi perpisahan.
وحكى الشيخ أبو علي وجهاً أن خيار المجلس لا يزيد على ثلاثة أيام وإذا تمادى المجلس في سفينة أو غيرها وانتهى إلى ثلاثة أيام انقطع الخيارُ وهذا بعيدٌ مزيّفٌ
Syekh Abu Ali meriwayatkan satu pendapat bahwa khiyār majlis tidak lebih dari tiga hari. Jika majlis berlangsung terus-menerus di kapal atau tempat lain hingga mencapai tiga hari, maka hak khiyar pun terputus. Namun, pendapat ini lemah dan tertolak.
فرع
Cabang
إذا ذكرا في البيع أجلاً والعقد استعقبَ خيارَ المجلس فقد ذكرنا أنه لو شرط فيه خيار الشرط فهوَ من أيّ وقتٍ يحتسب قال الشيخ إن قلنا خيارُ الشرط يحتسب ابتداؤه من وقت العقد فيحسب ابتداءُ الأجل من وقت العقد أيضاً وإن قلنا الخيار المشروط يحسب ابتداؤه من وقت التفرق ففي الأجل وجهان والفرق بين الأجل والخيار أن الأجل ليس من جنس الخيار فكان اجتماعهما أقربَ؛ لما بينهما من الاختلاف فإن قيل لا وجه لقول من يحتسب الأجلَ من وقت التفرق إذن قلنا الخيار يمنع المطالبةَ بالثمن كالأجل فكان قريباً منه والخيار في التحقيق تأجيل لإلزام الملك أو نقله والأجلُ تأخيرُ المطالبة ومن أخّر الأجل عن خيار المجلس فقياسه يقتضي أن نقول إذا شَرط في البيع خيار ثلاثة أيام وأجَّل الثمنَ فيهِ فينبغي أن يفتتح هذا القائلُ ابتداءَ الأجل من انقضاء خيار الشرط؛ لأنه عنده في معناه ولا سبيل إلى الجمع بين المثلَين كما قررناه
Jika dalam jual beli disebutkan tenggat waktu dan akad diikuti dengan khiyār majlis, maka telah kami sebutkan bahwa jika di dalamnya disyaratkan khiyār syarat, dari waktu manakah ia dihitung? Syekh berkata: Jika kita katakan bahwa khiyār syarat dihitung awalnya dari waktu akad, maka awal tenggat waktu juga dihitung dari waktu akad. Namun jika kita katakan bahwa khiyār yang disyaratkan dihitung awalnya dari waktu berpisah, maka dalam tenggat waktu ada dua pendapat. Perbedaan antara tenggat waktu dan khiyār adalah bahwa tenggat waktu bukan dari jenis khiyār, sehingga penggabungan keduanya lebih memungkinkan karena adanya perbedaan di antara keduanya. Jika dikatakan tidak ada alasan bagi pendapat yang menghitung tenggat waktu dari waktu berpisah, maka kami katakan: khiyār mencegah tuntutan pembayaran harga sebagaimana tenggat waktu, sehingga keduanya berdekatan. Pada hakikatnya, khiyār adalah penundaan untuk mewajibkan kepemilikan atau pemindahannya, sedangkan tenggat waktu adalah penundaan tuntutan pembayaran. Barang siapa menunda tenggat waktu setelah khiyār majlis, maka secara qiyās seharusnya kita katakan: jika dalam jual beli disyaratkan khiyār selama tiga hari dan pembayaran harga ditangguhkan, maka menurut pendapat ini, awal tenggat waktu harus dimulai setelah berakhirnya khiyār syarat, karena menurutnya keduanya bermakna sama, dan tidak mungkin menggabungkan dua hal yang serupa sebagaimana telah kami jelaskan.
فرع
Cabang
إذا شرط المتبايعان الخيار لثالث وفوضا إليه الفسخَ والإجازةَ صح ذلك باتفاق الأصحاب ونفذ منه الفسخُ والإجازةُ
Jika kedua pihak yang berjual beli mensyaratkan adanya hak khiyar bagi pihak ketiga dan menyerahkan kepadanya keputusan untuk membatalkan atau meneruskan akad, maka hal itu sah menurut kesepakatan para ulama, dan keputusan pembatalan atau penerusan akad dari pihak ketiga tersebut berlaku.
فإذا شرطا الخيارَ لثالث ولم يتعرضا لثبوت الخيارِ لأنفسهما فهل يثبت لهما الخيار وقد أطلقا شرط الخيار لثالث ولم ينفياه عن أنفُسِهما فعلى وجهين أحدهما أنه يثبت لهما الخيار؛ فإن الثالث في حكم النائب عنهما وليس عاقداً؛ فاستحال أن يثبت له الخيار ولا يثبت لهما والثاني أنه لا يثبت لهما؛ فإن هذا الخيار في أصله يتبع الشرط فثبت لمن شُرِط له ولا يثبت لغيره
Jika kedua belah pihak mensyaratkan hak khiyar bagi pihak ketiga dan tidak menyebutkan adanya hak khiyar bagi diri mereka sendiri, maka apakah hak khiyar itu juga berlaku bagi mereka berdua, sementara mereka hanya secara mutlak mensyaratkan hak khiyar bagi pihak ketiga dan tidak meniadakannya untuk diri mereka sendiri? Ada dua pendapat: Pertama, hak khiyar juga berlaku bagi mereka berdua; karena pihak ketiga itu pada hakikatnya bertindak sebagai wakil mereka dan bukan sebagai pihak yang melakukan akad, sehingga tidak mungkin hak khiyar itu berlaku bagi pihak ketiga tetapi tidak berlaku bagi mereka berdua. Kedua, hak khiyar tidak berlaku bagi mereka berdua; karena pada dasarnya hak khiyar ini mengikuti syarat yang ditetapkan, sehingga hanya berlaku bagi orang yang disyaratkan untuknya dan tidak berlaku bagi selainnya.
فإن حكمنا بأن الخيار يثبت لهما فلو صرَّحا بنفي الخيارِ عن أنفسِهما وخَصَّصا الخيارَ بالثالث فَفي صحة هذا الشرط وجهان أحدهما يصح اتباعاً للشرط
Jika kita memutuskan bahwa hak khiyar berlaku bagi keduanya, lalu keduanya secara tegas menafikan hak khiyar dari diri mereka sendiri dan mengkhususkan hak khiyar itu bagi pihak ketiga, maka dalam keabsahan syarat ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah syarat tersebut sah karena mengikuti ketentuan syarat.
والثاني لا يصح وحقيقةُ الوجهين ترجع إلى أن من حكم بثبوت الخيار للعاقدين فهو بماذا فكان من أصحابنا من يقول سبب ثبوت الخيار لهما أن شرطَهما الخيارَ لثالث يقتضي من حيث اللفظ أن يثبت لهُما فمن قال ذلك بنى عليه أنهما لو صرَّحا بالنفي عن أنفسهما انتفى عنهما ومن أصحابنا من قالَ سبب ثبوت الخيار للمتعاقدَيْن استحالةُ ثبوته لمن ليس عاقداً إلا على طريق النيابة فعلى هذا الجمع بين إثبات الخيار للغَيرِ ونفيه عن المتعاقدين فاسدٌ
Yang kedua tidak sah. Hakikat dari dua pendapat ini kembali kepada pertanyaan: atas dasar apa hak khiyār itu ditetapkan bagi kedua pihak yang berakad? Maka, sebagian ulama kami mengatakan bahwa sebab ditetapkannya khiyār bagi keduanya adalah karena syarat mereka tentang khiyār untuk pihak ketiga, secara lafaz, menuntut agar khiyār itu juga tetap bagi mereka berdua. Barang siapa yang berpendapat demikian, maka ia membangun pendapatnya atas dasar bahwa jika keduanya secara tegas menafikan hak itu dari diri mereka sendiri, maka hak itu hilang dari mereka. Sementara sebagian ulama kami yang lain mengatakan bahwa sebab ditetapkannya khiyār bagi kedua pihak yang berakad adalah karena mustahil hak itu ditetapkan bagi selain pihak yang berakad kecuali melalui jalan perwakilan (niyābah). Maka, menurut pendapat ini, menggabungkan antara penetapan khiyār bagi pihak lain dan penafian hak itu dari kedua pihak yang berakad adalah tidak sah.
ولا خلاف أنهما لو شَرَطا الخيارَ لأحدِ المتعاقِدَين ثبتَ له مختصّاً به وانتفى عن الثاني
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika keduanya mensyaratkan hak khiyār bagi salah satu dari kedua pihak yang berakad, maka hak itu tetap khusus baginya dan tidak berlaku bagi pihak yang lain.
قال صاحب التلخيص لو كان المبيع عبداً فشرط المتعاقدانِ الخيارَ له ففوَّضا إليه الفسخَ والإجازة جاز وكان تفويضُ الخيار إليه بمثابة تفويضه إلى أجنبي وقد ساعده الأصحاب على ما قالَ
Pemilik kitab at-Talkhīṣ berkata: Jika barang yang dijual adalah seorang budak, lalu kedua pihak yang berakad mensyaratkan hak khiyār untuk budak tersebut dan menyerahkan kepadanya hak untuk membatalkan atau melanjutkan akad, maka hal itu diperbolehkan. Penyerahan hak khiyār kepadanya sama dengan penyerahan hak tersebut kepada orang lain (pihak ketiga), dan para ulama sepakat dengan pendapat yang beliau sampaikan.
فرع
Cabang
إذا وكل رجل وكيلاً في بيع وأذنَ له في اشتراطِ الخيار فاشترَط على حسب أمره ثبت الخيار له واختلفَ أئمتنا في أن الخيارَ الثابتَ لمن فمنهم من قالَ هو للموكِّل كما أن الملك في العوض له والخيار من حقوق الملك والعقد والوجه الثاني أن الخيار للوكيل؛ فإنه المتعاطي للعقد والوجه الثالث أن الخيار ثابتٌ لهما جميعاً فيثبت للوكيل لتوليه العقد ويثبت للموكِّل لأن مقصود العقد إليه يئول
Jika seseorang mewakilkan kepada seorang wakil untuk menjual dan mengizinkannya mensyaratkan khiyār, lalu wakil tersebut mensyaratkan sesuai perintahnya, maka khiyār itu menjadi tetap baginya. Para imam kami berbeda pendapat tentang kepada siapa khiyār yang tetap itu diberikan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa khiyār itu untuk muwakkil, sebagaimana kepemilikan atas imbalan juga miliknya, dan khiyār termasuk hak-hak kepemilikan dan akad. Pendapat kedua, khiyār itu untuk wakil, karena dialah yang melakukan akad. Pendapat ketiga, khiyār itu tetap bagi keduanya; tetap bagi wakil karena ia yang melaksanakan akad, dan tetap bagi muwakkil karena tujuan akad itu kembali kepadanya.
وإذا شرط المتعاقدان الخيارَ لثالث فلا يجري فيه إلا وجهان كما تقدمَ ذكرُهما ولا يخرج فيه أن الخيار لهما ولا خيار للثالث وقد ذكرنا وجهاً أن الخيار للموكّل ولا خيار للوكيل ثم إذا أثبتنا الخيار للموكل وحده أو للوكيل والموكل جميعاً فإنما ذاك في خيار الشرط فأمّا خيارُ المجلس فإنه يتعلق بالوكيل وينتهي بمفارقته المجلس ويجب القطع بأنه لا ينفذ فسخُ الموكِّل وإجازتُه؛ فإنه لا تعلق له بالمجلس وخيار المجلس إنما يثبت لمن يتعلق به المجلس وينقطع بفراقِه وهذا كما أن حق القبول يتعلق بالوكيل المخاطب فمجلس العقد يختص بالعاقد كالعقد
Jika kedua pihak yang berakad mensyaratkan adanya khiyar bagi pihak ketiga, maka dalam hal ini hanya berlaku dua pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan tidak termasuk di dalamnya bahwa khiyar itu untuk kedua pihak yang berakad atau tidak ada khiyar bagi pihak ketiga. Kami juga telah menyebutkan satu pendapat bahwa khiyar itu untuk muwakkil dan tidak ada khiyar bagi wakil. Kemudian, jika kami menetapkan khiyar hanya untuk muwakkil saja atau untuk wakil dan muwakkil sekaligus, maka hal itu hanya berlaku pada khiyar syarat. Adapun khiyar majelis, maka ia berkaitan dengan wakil dan berakhir ketika ia meninggalkan majelis. Harus dipastikan bahwa pembatalan atau pengesahan dari muwakkil tidak berlaku, karena ia tidak terkait dengan majelis, sedangkan khiyar majelis hanya berlaku bagi siapa yang terkait dengan majelis dan berakhir dengan kepergiannya. Hal ini sebagaimana hak menerima (akad) yang berkaitan dengan wakil yang diajak bicara, maka majelis akad itu khusus bagi pihak yang berakad sebagaimana akad itu sendiri.
فهذا ما أراه
Inilah yang saya pandang.
وقد نجزت قواعدُ القول في الخيارين
Telah selesai pembahasan kaidah-kaidah mengenai dua pilihan tersebut.
فصل
Bab
قد تقدَّم القول في ثبوت الخيارين ونحن الآن نذكر أحكام الزوائد التي تَحدثُ في زمانِ الخيار ثم نذكر التصرُّفَ الذي يَصدُر من المتعاقدَين أو من أحدهما
Telah dijelaskan sebelumnya mengenai penetapan dua khiyār, dan sekarang kami akan menyebutkan hukum-hukum tambahan yang terjadi pada masa khiyār, kemudian kami akan membahas tindakan yang dilakukan oleh kedua pihak yang berakad atau oleh salah satu dari keduanya.
والوجه تقديمُ القول في المِلكِ فإذا ثبت الخيار للمتعاقدَيْن جميعاً فقد اختلفت نصوص الشافعي في أن الملكَ في زمان الخيار لمن والنصوص مشهورٌ فلم أنقلها وحاصلها أقوال أحدها أن الملك في المبيع للمشتري وهو الصحيح والثاني أن المِلكَ فيه للبائع والثالث أن الملك موقوف فإن تم العقد تبيّنا أن الملك زال إلى المشتري بنفس العقد وإن فُسخ العقدُ في زمان الخيار تبيَّنا أن الملك لم يَزُل عن البائع ثم طرد الأئمةُ الأقوالَ الثلاثةَ فيه إذا كان الخيارُ لهما أو كان الخيار لأحدهما
Adapun pembahasan didahulukan pada masalah kepemilikan. Jika telah tetap hak khiyar bagi kedua belah pihak yang berakad, maka terdapat perbedaan pendapat dalam nash-nash Imam Syafi’i mengenai kepemilikan barang selama masa khiyar itu berada pada siapa, dan nash-nash tersebut sudah masyhur sehingga tidak aku sebutkan di sini. Kesimpulannya ada beberapa pendapat: pertama, bahwa kepemilikan barang berada pada pembeli, dan inilah yang shahih; kedua, bahwa kepemilikan tetap pada penjual; ketiga, bahwa kepemilikan bersifat mu‘allaq (tertunda), sehingga jika akad dilanjutkan, maka diketahui bahwa kepemilikan berpindah kepada pembeli sejak akad dilakukan, dan jika akad dibatalkan dalam masa khiyar, maka diketahui bahwa kepemilikan tidak berpindah dari penjual. Para imam madzhab kemudian menerapkan tiga pendapat ini baik jika hak khiyar ada pada kedua belah pihak maupun hanya pada salah satunya.
وقال بعضُ المحققين إن كان الخيار لهما ففيه الأقوال والأصحُّ أن الملك موقوف وإن كان الخيار للمشتري فالأصحُّ أن المِلك له وإن كان الخيار للبائع فالأصح أن المبيع باق على ملكه وكان الإمام يقول يتّجه أن نجعل ذلك قولاً رابعاً مفصلاً ضماً إلى الأقوال المرسلة
Dan sebagian ulama muhaqqiq berpendapat: jika hak khiyar ada pada keduanya, maka terdapat beberapa pendapat, dan yang paling sahih adalah bahwa kepemilikan masih tergantung. Jika hak khiyar ada pada pembeli, maka yang paling sahih adalah kepemilikan berpindah kepadanya. Jika hak khiyar ada pada penjual, maka yang paling sahih adalah barang yang dijual tetap menjadi miliknya. Imam juga mengatakan, tampaknya perlu dijadikan sebagai pendapat keempat yang terperinci, sebagai tambahan terhadap pendapat-pendapat yang ada.
توجيه الأقوال إن قلنا إن الملك للمشتري فلأن البيعَ موضوعٌ لنقل المِلكِ فلو استأخر عنه موضوعه لكان في معنى تعليق العقدِ؛ إذ لا وجه لعقد لا يتحققُ فيه موضوعُه نعم مقصود الخيار ثبوت استدراكٍ وإلا فلا فرق بين تأخير المقصود بالعقدِ وبين تأخير انعقادِه
Penjelasan pendapat: Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan berpindah kepada pembeli, maka sebabnya adalah karena jual beli itu ditetapkan untuk memindahkan kepemilikan. Jika pemindahan itu ditunda dari tujuan utamanya, maka hal itu serupa dengan menggantungkan akad; sebab tidak ada alasan untuk mengadakan akad yang tidak terwujud tujuan utamanya. Memang, maksud dari khiyār adalah adanya kesempatan untuk mempertimbangkan kembali, jika tidak, maka tidak ada perbedaan antara menunda tujuan dari akad dengan menunda terjadinya akad itu sendiri.
وإن قلنا الملك للبائع فوجهه أن البيع المطلق الذي لا يفرض فيه خيارٌ
Dan jika kita mengatakan bahwa kepemilikan berada pada penjual, alasannya adalah bahwa jual beli yang bersifat mutlak dan tidak disyaratkan di dalamnya adanya khiyār (opsi),
موضوعُه نزولُ المشتري في المبيع منزلة البائع في استفادة التصرفات ومعلومٌ أن الخيار يوجب استئخار التصرُّف فأشعر ذلك باستئخار الملك
Topik pembahasannya adalah kedudukan pembeli dalam objek jual beli yang disamakan dengan penjual dalam memperoleh hak melakukan berbagai tindakan (atas barang tersebut). Telah diketahui bahwa adanya khiyār (hak memilih) menyebabkan penundaan dalam melakukan tindakan, sehingga hal itu menunjukkan adanya penundaan kepemilikan.
وإن قلنا بالوقف فوجهه النظر في الجانبين واعتمادُ العاقبة في الأمر وهذا القول يلاحظ قول وقفِ العقود بعضَ الملاحظة
Jika kita berpendapat dengan waqf, maka alasannya adalah mempertimbangkan kedua sisi dan berpegang pada akibat akhir dalam perkara tersebut. Pendapat ini memiliki kemiripan tertentu dengan pendapat waqf dalam akad.
ثم إذا حكمنا بأن الملك في المبيع للمشتري فلا شك أن الملك في الثمن للبائع وإذا حكمنا بأن المبيعَ باقٍ على ملك البائع فالثمن باقٍ على ملك المشتري وإذا حكمنا على الوقف فالأمر في العوضين موقوف
Kemudian, apabila kita memutuskan bahwa kepemilikan atas barang yang dijual berada pada pembeli, maka tidak diragukan lagi bahwa kepemilikan atas harga berada pada penjual. Dan apabila kita memutuskan bahwa barang yang dijual tetap menjadi milik penjual, maka harga pun tetap menjadi milik pembeli. Dan apabila kita memutuskan mengenai wakaf, maka status kedua pengganti tersebut masih tergantung.
فإذا وضح غرضُنا في الملك فنذكرُ بعد ذلك فصولاً أحدها في الزوائد والثاني في التصرفات المتعلقة بالأقوال والثالث في التصرفات المتعلّقة بالأفعالِ ونختم الغرضَ بما يقطع الخيار وما لا يقطع
Jika tujuan kami dalam pembahasan kepemilikan telah jelas, maka setelah itu kami akan menyebutkan beberapa bagian: yang pertama tentang tambahan-tambahan, yang kedua tentang tindakan-tindakan yang berkaitan dengan ucapan, yang ketiga tentang tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perbuatan, dan kami akan menutup pembahasan ini dengan penjelasan tentang hal-hal yang membatalkan hak memilih (khiyār) dan hal-hal yang tidak membatalkannya.
الفصل الأول
Bab Pertama
في الزوائد التي تحدث في المبيع في زمن الخيار
Tentang tambahan-tambahan yang terjadi pada barang yang dijual selama masa khiyār.
فأما الزوائد أما المتَّصلةُ فلا أثر لها وهي لمن يستقر الملك في الأصل له ولا موقع للزوائد إلا في الصداقِ عند فرض الطلاق قبل المسيسِ كما سنذكره إن شاء اللهُ تعالى
Adapun tambahan-tambahan, maka yang bersifat muttashilah (terhubung) tidak berpengaruh dan menjadi milik siapa yang kepemilikan pokoknya telah tetap baginya. Tambahan-tambahan itu tidak memiliki pengaruh kecuali dalam masalah mahar ketika terjadi perceraian sebelum terjadi hubungan suami istri, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah Ta‘ala.
وأما الزوائد المنفصلة فمنها الكسبُ فإذا اكتسب العبد المبيعُ في زمان الخيار شيئاً فنفرع حكمه فيه إذا أُجيز العقد وتَم ثُم نفرع حكمَه إذا فُسخ العقد
Adapun tambahan yang terpisah, di antaranya adalah hasil usaha. Jika budak yang dijual memperoleh sesuatu pada masa khiyār, maka kita rincikan hukumnya ketika akad disahkan dan sempurna, kemudian kita rincikan hukumnya ketika akad dibatalkan.
فإن أجيز العقد نُفرِّع الأمر على الأقوال في الملك فإن فرّعنا على أن الملك للمشتري فالزوائد له؛ فإنها استفيدت والملكُ له ثم استقرَّ الملك آخراً وإن قُلنا المِلكُ للبائع ففي الكسب وجهان أحدهما أنه للبائع؛ فإنه جرى والملك في الأصل له على هذا القول وهو الظاهر والثاني أن الملك للمشتري؛ فإن الملك في الأصل تقرر عليه وكان العقد معقوداً لذلك والبائع لم يقصد باستبقاء الملك تأثُّلَه وهذا الوجه يلاحظ قولَ الوقف
Jika akad itu disahkan, maka permasalahan ini dirinci berdasarkan pendapat-pendapat tentang kepemilikan. Jika kita merinci bahwa kepemilikan ada pada pembeli, maka tambahan hasil (keuntungan) menjadi miliknya; karena tambahan itu diperoleh saat kepemilikan sudah berada padanya, lalu kepemilikan itu pun menjadi tetap padanya pada akhirnya. Namun jika kita mengatakan bahwa kepemilikan ada pada penjual, maka dalam hal hasil usaha (keuntungan) terdapat dua pendapat: pertama, hasil usaha itu milik penjual; karena hasil itu terjadi saat kepemilikan asal masih padanya menurut pendapat ini, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Kedua, kepemilikan itu milik pembeli; karena pada dasarnya kepemilikan telah ditetapkan untuknya dan akad pun dibuat untuk itu, sedangkan penjual tidak bermaksud mempertahankan kepemilikan untuk memperoleh hasil tersebut. Pendapat kedua ini memperhatikan pendapat tentang waqaf.
وإن فرعنا على قول الوقف فالملك في الكسب للمشتري؛ فإن العقد إذا أُجيز نتبين أن الملك للمشتري
Dan jika kita membangun pendapat berdasarkan pandangan wakaf, maka kepemilikan atas hasil usaha adalah milik pembeli; sebab apabila akad itu disahkan, kita mengetahui bahwa kepemilikan adalah milik pembeli.
فهذا تفريع الكسب وقد أُجيز العقدُ
Ini adalah cabang dari pembahasan tentang usaha (kegiatan mencari nafkah), dan akad pun telah dibolehkan.
فأما إذا فسخ العقد في زمان الخيار بعد حصول الكسب فنخرّج ذلك على أقوال الملك فإن حكمنا بأن الملك للبائع وقد استقر الملك عليه آخراً فالكسبُ لهُ وإن حكمنا بأن الملك موقوفٌ فالكسب للبائع أيضاً؛ فإن العقدَ إذا فسخ فمُوجَب الوقف أنا نتبين أن مِلكَ البائع لم يزل وإن حكمنا بأن الملك للمشتري ففي الكسب وجهان أحدهما أنه له؛ إذْ حصل في زمانٍ كان الأصلُ مملوكاً له فيه والثاني أنه للبائع؛ فإن الملك في الأصل استقرَّ له وآل إليه
Adapun jika akad dibatalkan pada masa khiyār setelah adanya keuntungan, maka hal ini dikembalikan kepada pendapat mengenai kepemilikan. Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan ada pada penjual dan kepemilikan itu telah tetap padanya pada akhirnya, maka keuntungannya menjadi milik penjual. Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan itu mu‘allaq (tertunda), maka keuntungannya juga milik penjual; karena jika akad dibatalkan, maka konsekuensi dari penangguhan itu adalah kita mengetahui bahwa kepemilikan penjual tidak pernah hilang. Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan ada pada pembeli, maka dalam hal keuntungan terdapat dua pendapat: salah satunya, keuntungan itu milik pembeli karena keuntungan itu terjadi pada masa di mana barang pokoknya dimiliki oleh pembeli; dan pendapat kedua, keuntungan itu milik penjual karena kepemilikan barang pokok akhirnya tetap dan kembali kepada penjual.
وحاصل الخلاف والوفاق في الإجازة والفسخ أنا نقول من اجتمع له ملكُ الأصل واستقراره عليه فالملكُ في الكسب له وجهاً واحداً ومن لم يكن له ملكٌ في الأصل ولم يصر المِلكُ إليه في المآل فليس الكسب له وجهاً واحداً وإن كان الملك لأحدهما أولاً ثم لم يستقرَّ له بل صار إلى صاحبهِ ففي المسألة وجهان أحدهما أن ملك الكسب لمن صار الملكُ في المآلِ إليه والثاني أن الملكَ في الكسب لمن كان الملكُ حالة حصول الكسب له في الأصل
Kesimpulan dari perbedaan dan kesepakatan dalam masalah ijāzah dan pembatalan adalah sebagai berikut: Kami katakan, siapa yang telah berkumpul padanya kepemilikan asal dan kepastian kepemilikan tersebut atasnya, maka kepemilikan terhadap hasil usaha (kāsb) adalah miliknya secara pasti. Dan siapa yang tidak memiliki kepemilikan asal dan kepemilikan itu juga tidak akan beralih kepadanya pada akhirnya, maka hasil usaha itu bukan miliknya secara pasti. Namun, jika kepemilikan asalnya pada salah satu dari keduanya terlebih dahulu, lalu kepemilikan itu tidak tetap padanya, melainkan beralih kepada rekannya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: pertama, bahwa kepemilikan hasil usaha adalah milik orang yang pada akhirnya menjadi pemilik; kedua, bahwa kepemilikan hasil usaha adalah milik orang yang pada saat terjadinya hasil usaha, ia adalah pemilik asal.
ولو حدثت ثمرةٌ أو وُلد مملوكٌ في زمان الخيار فالقول فيه كالقول في الكسبِ حرفاً حرفاً
Jika muncul buah atau lahir anak dari seorang budak pada masa khiyār, maka hukumnya sama persis seperti hukum pada hasil usaha, huruf demi huruf.
فهذا بيان الزوائد في زمان الخيار
Berikut ini adalah penjelasan tentang tambahan-tambahan pada masa khiyār.
الفصل الثاني
Bab Kedua
في التصرفات التي تقطع الخيار
Dalam tindakan-tindakan yang membatalkan hak khiyar
فأما التصرف فنبدأ بالأقوال وهي تنقسم إلى ما يقبل التعليق وهو العتق وإلى ما لا يقبله كالبيع فنبدأ بالعتق فنقول
Adapun tindakan, maka kita mulai dengan ucapan-ucapan, yang terbagi menjadi dua: ada yang dapat digantungkan (ditunda pelaksanaannya), seperti ‘itq (pembebasan budak), dan ada yang tidak dapat digantungkan, seperti jual beli. Maka kita mulai dengan ‘itq, lalu kita katakan:
إن أعتق المشتري العبدَ في زمان الخيار فلا يخلو إما إن كان المشتري منفرداً بالخيار أو كان الخيار لهما جميعاً أو كان الخيار للبائع وحدهُ
Jika pembeli memerdekakan budak pada masa khiyār, maka tidak lepas dari kemungkinan: apakah pembeli saja yang memiliki hak khiyār, atau keduanya (pembeli dan penjual) sama-sama memiliki hak khiyār, atau hak khiyār hanya dimiliki oleh penjual saja.
فإن كان الخيار للمشتري وحده فينفذ عتقُه سواء قلنا الملك له أو قلنا الملك للبائع أو وقفناه؛ فإنّ عتقه إجازةٌ منه وله الانفراد بها إذا كان منفرداً بالخيارِ فنَفَذَ إذاً عتقُه وتضمَّن الإجازة وإن فرَّعنا على أنه لا ملك لهُ
Jika hak khiyar hanya dimiliki oleh pembeli saja, maka sah pembebasan budak yang dilakukannya, baik kita mengatakan kepemilikan sudah berpindah kepadanya, atau masih milik penjual, atau statusnya masih tergantung; karena pembebasan budak tersebut merupakan bentuk persetujuan (ijazah) dari pembeli, dan ia berhak melakukannya sendiri jika ia satu-satunya yang memiliki hak khiyar. Maka, pembebasan budaknya sah dan sekaligus mengandung makna persetujuan, meskipun kita berpendapat bahwa ia belum memiliki kepemilikan.
وإن كان الخيارُ لهما جميعاً نفرعّ العتق على الملك فإن قُلنا الملكُ للمشتري ففي نُفوذ عتقهِ وجهان أحدهما ينفذ لمصادفته الملكَ والثاني لا ينفذ لثبوت حق البائع من الخيار فيهِ وهذا يدنو من اختلاف القول في نفوذ عتق الراهنِ في المرهُون فإن قلنا ينفذ عتقه فهل يبطل حق البائع من الخيار فعلى وجهين أحدهما يبطل؛ فإن متعلّق الخيارِ العين وإذا نفذنا العتق وتعذَّرَ ردُّه فلا معنىً للخيارِ والوجه الثاني أن الخيار يبقى متعلّقه العقد والعقدُ لا ينقطع بفوات المِلكِ في المعقود عليه
Jika hak khiyar dimiliki oleh keduanya, maka kita mengaitkan keabsahan pembebasan budak (‘itq) dengan kepemilikan. Jika kita katakan kepemilikan ada pada pembeli, maka dalam hal keabsahan pembebasan budak olehnya terdapat dua pendapat: pertama, pembebasannya sah karena bertepatan dengan kepemilikan; kedua, tidak sah karena hak penjual atas khiyar masih ada pada budak tersebut. Ini mendekati perbedaan pendapat mengenai keabsahan pembebasan budak oleh orang yang menggadaikan (rāhin) terhadap barang yang digadaikan (marhūn). Jika kita katakan pembebasannya sah, maka apakah hak penjual atas khiyar menjadi batal? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: pertama, hak tersebut batal, karena objek khiyar adalah barangnya, dan jika pembebasan budak telah sah sehingga tidak mungkin dikembalikan, maka tidak ada lagi makna bagi khiyar; kedua, hak khiyar tetap ada, karena yang menjadi objek khiyar adalah akadnya, dan akad tidak terputus dengan hilangnya kepemilikan atas barang yang diperjualbelikan.
التفريع
Pengembangan cabang hukum
إن حكمنا بأن الخيار قد انقطع فلا كلام وقد لزم العقد واستقرَّ الثمن وإن حكمنا بأن خيار البائع باق فهل له ردّ العتق فعلى وجهين أحدُهما ليس لهُ ذلك؛ فإن رد العتق بعيدٌ بَعدَ الحكم بنفوذهِ والوجهُ الثاني له ردّهُ؛ فإن العتق يضاهي الملك فإذا كان جائزاً كان العتق مشابهاً لهُ في الجواز
Jika kita memutuskan bahwa khiyār telah terputus, maka tidak ada lagi pembicaraan dan akad telah menjadi wajib serta harga telah tetap. Namun, jika kita memutuskan bahwa khiyār penjual masih ada, maka apakah ia boleh membatalkan pembebasan budak? Ada dua pendapat: yang pertama, ia tidak boleh melakukannya, karena membatalkan pembebasan budak setelah diputuskan sahnya adalah hal yang jauh (tidak mungkin). Pendapat kedua, ia boleh membatalkannya, karena pembebasan budak menyerupai kepemilikan; jika kepemilikan masih boleh dibatalkan, maka pembebasan budak pun serupa dengannya dalam hal kebolehan.
التفريع على هذين الوجهين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat ini
إن قلنا له ردُّ الملك فلا كلام وإن قُلنا ليس له رَدُّه فإن أجاز العقدَ جازَ وإن فسخ وجب على المشتري قيمةُ العبد وقد يستفيد بذلك مزيداً إذا كانت القيمة أكثرَ من الثمن
Jika kita katakan bahwa ia harus mengembalikan kepemilikan, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita katakan bahwa ia tidak harus mengembalikannya, maka jika ia membolehkan akad, akad itu sah, dan jika ia membatalkannya, maka pembeli wajib membayar nilai budak tersebut. Dengan demikian, ia bisa memperoleh keuntungan lebih jika nilai budak itu lebih tinggi daripada harga jualnya.
هذا كلُّه تفريعٌ على قولنا إنهُ ينفذ عتق المشتري فأمَّا إذا قُلنا لا يَنفذ عتقُ المشتري فلا يخلو إما أن يفسخ البائعُ أو يجيز فإن فسخ ارتد العبدُ إليه مملوكاً وإن أجاز العقدَ ولزم الملك للمشتري فهل ينفذ الآن عتق المشتري فعلى وجهين أحدهما لا ينفذ؛ لأنه نجَّز العتقَ فرددناه فتنفيذُه بعد ردّه محال وهو بمثابة ما لو أعتقَ عبداً لغيره ثم اشتراه
Semua ini merupakan rincian dari pendapat kami bahwa pembebasan budak oleh pembeli itu sah. Adapun jika kami katakan bahwa pembebasan budak oleh pembeli tidak sah, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah penjual membatalkan atau menyetujui. Jika penjual membatalkan, maka budak itu kembali menjadi miliknya sebagai budak. Namun jika penjual menyetujui akad dan kepemilikan tetap pada pembeli, maka apakah sekarang pembebasan budak oleh pembeli menjadi sah? Ada dua pendapat: salah satunya mengatakan tidak sah, karena pembebasan budak itu telah dilakukan sebelumnya lalu kami tolak, sehingga pelaksanaannya setelah penolakan adalah mustahil, dan ini seperti orang yang membebaskan budak milik orang lain lalu ia membelinya.
والوجه الثاني أنه ينفذ عتقُه إذا لزم ملكه؛ فإنه استقرَّ ملكه آخراً فالاعتبار بما استقرَّ الأمر عليه وهذا ميلٌ إلى قول الوقف
Pendapat kedua adalah bahwa pembebasan budaknya sah apabila kepemilikannya telah tetap; sebab pada akhirnya kepemilikannya telah mantap, maka yang menjadi pertimbangan adalah keadaan yang telah mantap tersebut, dan ini cenderung kepada pendapat waqf.
فإن قلنا بأن العتقَ لا ينفذ فلا كلام وإن قلنا إن العتق ينفذ فمتى ينفذ فعلى وجهين أحدهما أنه ينفذ إذا لزم الملك والثاني أنا نتبين أنه نفذ حين أنشأه وإن كنا لا نُفرّع على قول الوقف وهذا بعيد جداً وهو تصريحٌ بمقتضى الوقف
Jika kita mengatakan bahwa pembebasan budak tidak sah, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita mengatakan bahwa pembebasan budak sah, maka kapan ia menjadi sah? Ada dua pendapat: pertama, ia menjadi sah ketika kepemilikan telah tetap; kedua, kita menetapkan bahwa ia telah sah sejak saat diucapkannya, meskipun kita tidak membangun pendapat berdasarkan qaul tentang wakaf. Pendapat ini sangat jauh dan merupakan pernyataan tegas sesuai dengan konsekuensi wakaf.
وكل ما ذكرناه تفريعٌ على أن الملك للمشتري فإن حكمنا بأن الملك للبائع فلا ينفذ عتق المشتري أصلاً؛ إذ لا ملك له وليس منفرداً بالخيار وإن أجيز العقد ففي نفوذ العتق الخلافُ المتقدّم وهذا أولى بألاّ ينفذ ثم التفريع ينساق كما مضى
Semua yang telah kami sebutkan merupakan cabang dari pendapat bahwa kepemilikan berada pada pembeli. Jika kami memutuskan bahwa kepemilikan berada pada penjual, maka pembebasan budak yang dilakukan oleh pembeli sama sekali tidak sah; karena ia tidak memiliki kepemilikan dan juga tidak sendirian dalam hak memilih. Jika akad disahkan, maka dalam hal keabsahan pembebasan budak terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, dan dalam kasus ini lebih utama untuk tidak dianggap sah. Selanjutnya, cabang-cabang hukum berjalan sebagaimana telah dijelaskan.
وإن فرَّعنا على أن الملك موقوف فالقول الحاوي في التفريع عليه أنه إن أُجيز العقد فالتفريع في هذه الحالة على هذا القول كالتفريع على أن الملك للمشتري وقد أجيز العقد وإن فسخ فالتفريع في هذه الصورة كالتفريع على أن الملك للبائع وقد فسخ العقد
Jika kita membangun pendapat berdasarkan bahwa kepemilikan itu tergantung (belum tetap), maka pendapat yang mencakup rincian dalam membangun di atasnya adalah: jika akad disahkan, maka rincian dalam keadaan ini menurut pendapat tersebut seperti rincian bahwa kepemilikan ada pada pembeli dan akad telah disahkan; dan jika dibatalkan, maka rincian dalam keadaan ini seperti rincian bahwa kepemilikan ada pada penjual dan akad telah dibatalkan.
وكل ما ذكرناه فيهِ إذا كان الخيار لهُما جميعاً أو كان الخيار للمشتري وحده
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika hak khiyar itu ada pada keduanya atau hak khiyar itu hanya ada pada pembeli saja.
فأما إذا كان الخيار للبائع وحدهُ فالوجهُ التفريع على أقوال الملك كما ذكرناه فيه إذا كان الخيار لهما جميعاً ولا يتفاوت شيء من التفريع
Adapun jika hak khiyar hanya dimiliki oleh penjual saja, maka cara merincinya mengikuti pendapat-pendapat tentang kepemilikan sebagaimana telah kami sebutkan pada kasus jika hak khiyar dimiliki oleh keduanya, dan tidak ada perbedaan sedikit pun dalam perincian tersebut.
فأما إذا أعتق البائعُ العبدَ في زمان الخيار نُظر فإن كان الخيار لهما أو للبائع وحده فينفذ عتقُه على الأقوالِ لأن عتقَهُ يتضمن فسخاً ويجوزُ للبائع الانفرادُ بالفسخ وإن كان الخيار لهما فلا يصح من المشتري إلزام العقد في حق البائع إذا كان الخيار لهما نَعم إذا كان الخيار للمشتري وحدهُ انفرد بالإجازة ونفذ إذ ذاك عتقُه على الأقوال كلها كما تقدَّم ذكرُه
Adapun jika penjual memerdekakan budak pada masa khiyar, maka dilihat dahulu: jika khiyar itu milik keduanya atau milik penjual saja, maka merdekanya budak itu berlaku menurut pendapat-pendapat yang ada, karena memerdekakan budak mengandung makna pembatalan akad, dan penjual boleh secara sendiri membatalkan akad. Jika khiyar itu milik keduanya, maka pembeli tidak berhak untuk mewajibkan akad atas penjual jika khiyar itu milik keduanya. Ya, jika khiyar itu hanya milik pembeli saja, maka pembeli berhak sendiri untuk melangsungkan akad, dan pada saat itu merdekanya budak berlaku menurut semua pendapat, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
فرع
Cabang
إذا رَددنا عتق المشتري والخيارُ لهما فهل يكون عتقُه المردودُ إجازةً منه حتى لو أراد أن يفسخ العقدَ بعد ذلك لا يمكنه فعلى وجهين
Jika kita menolak pembebasan budak oleh pembeli dan hak memilih (khiyār) ada pada keduanya, maka apakah pembebasan budak yang ditolak itu dianggap sebagai persetujuan darinya, sehingga jika ia ingin membatalkan akad setelah itu tidak memungkinkan baginya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
أحدهما لا يكون إجازة؛ فإن المردود لا حكم له والإجازةُ لو حصلت لكانت ضمناً للعتق فإذا لم ينفذ العتقُ كيف ينفذ ضمنُه
Salah satunya tidak dianggap sebagai izin; karena yang ditolak tidak memiliki kekuatan hukum, dan izin itu jika terjadi maka ia mengandung pembebasan budak secara implisit. Maka jika pembebasan budak itu sendiri tidak sah, bagaimana mungkin implikasinya bisa sah?
والثاني أنه يصير مجيزاً؛ فإنه ظهرَ بقصده الرّضا بالملكِ؛ فكان ذلك إجازةً وتحصيل ذلك أنّ قصدَ الإجازةِ منه صحيح وإن رُدَّ العتق
Kedua, ia menjadi sebagai orang yang mengizinkan; karena telah tampak dari maksudnya adanya kerelaan terhadap kepemilikan, maka hal itu dianggap sebagai izin. Inti dari hal ini adalah bahwa maksud untuk mengizinkan darinya adalah sah, meskipun pembebasan budak itu ditolak.
ويتجه أن يقال إن أعتق ظاناً أن عتقه نافذٌ فرددناه ففيهِ الاختلافُ الذي قدمناه فأما إذا كان يعتقد أن عتقه مرددٌ فيبعد أن يكون ذلك إجازة منه مع حكمنا بردّ العتق وذلك يظهر فيه إذا صرَّح بأنه يعتقد أن العتق لا ينفذ وإن أطلق الإعتاق لم يصدَّق في قوله لا أعتقد النفوذ
Dapat dikatakan bahwa jika seseorang memerdekakan budak dengan dugaan bahwa pemerdekaannya sah, lalu kita menolaknya, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya. Adapun jika ia meyakini bahwa pemerdekaannya masih dipertentangkan (tidak pasti sahnya), maka kecil kemungkinan hal itu dianggap sebagai persetujuan darinya, sementara kita memutuskan untuk menolak pemerdekaan tersebut. Hal ini akan tampak jelas apabila ia secara tegas menyatakan bahwa ia meyakini pemerdekaan itu tidak sah. Namun, jika ia hanya mengucapkan pemerdekaan secara umum, maka ia tidak dapat dipercaya jika mengaku tidak meyakini keabsahan pemerdekaan tersebut.
وإذا حكمنا بأن عتق المشتري نافذٌ ثم أثبتنا للبائع ردّ عتقه فَردَّهُ فالوجهُ القطعُ بأن العتق وإن رُد كذلك فالمشتري يكون مجيزاً إذا تصرَّف ونفذ منه والردُّ إنما كان لحق البائع فهو بمثابة تنفيذنا فسخَ البائع بعدَ نفوذ إجازة المشتري في حق المشتري
Jika kita memutuskan bahwa pembebasan budak oleh pembeli itu sah, kemudian kita menetapkan hak bagi penjual untuk membatalkan pembebasan tersebut, lalu penjual membatalkannya, maka yang tepat adalah memastikan bahwa pembebasan budak itu, meskipun telah dibatalkan dengan cara demikian, pembeli tetap dianggap sebagai pihak yang mengesahkan jika ia telah melakukan tindakan dan tindakannya itu sah. Pembatalan itu hanya demi hak penjual, sehingga hal itu serupa dengan kita membolehkan penjual membatalkan setelah pembeli menyetujui, dalam hal yang berkaitan dengan hak pembeli.
فرع
Cabang
إذا أعتق البائع المبيعَ ولم يكن له خيار ولكنا رأينا في التفاصيل المقدَّمة أن ننفذ عتقه تفريعاً على قولنا إن المِلكَ للبائع ثم رأينا ألا نردّ العتق بعدَ نفوذهِ فالوجه أن نقول إن كان في يد البائع فإعتاقُه إياه بمثابة إتلافه المبيعَ حِسَّاً وسيأتي ذلك في باب الخراج بالضمان
Jika penjual memerdekakan barang yang dijual dan ia tidak memiliki hak khiyar, namun kita telah melihat dalam rincian yang telah dikemukakan bahwa kita menetapkan keabsahan pemerdekaannya berdasarkan pendapat kita bahwa kepemilikan masih pada penjual, kemudian kita berpendapat untuk tidak membatalkan pemerdekaan tersebut setelah keabsahannya, maka yang tepat adalah kita katakan: jika barang tersebut masih di tangan penjual, maka tindakan penjual memerdekakannya sama dengan tindakan merusak barang secara fisik, dan hal ini akan dijelaskan pada bab al-kharāj bi al-dhamān.
فصل
Bab
إذا وهب الأب من ابنه عبدأ فأقبضه فله الرجوع فيما وهبَ ولو أعتق الأبُ العبدَ فهل ينفذُ العتقُ متضمناً رجوعاً كما ينفذ عتقُ البائع ويتضمن الفسخَ فعلى وجهين ذكرهما العراقيون أحدُهما ينفذُ العتق؛ فإنه ينفرد بالرجوع كما ينفرد البائع بالفسخ فليكن العتقُ بمثابة التصريح بالرجوع والثاني أنهُ لا ينفذ بخلاف عتق البائع؛ فإن مِلك المتََّهب تام ينفذ فيه جميعُ تصرفاته فلا وجه لإقدام غيره على التصرّف فليرجع أولاً ثم ليتصرَّف في مِلكِ نفسهِ
Jika seorang ayah memberikan budak kepada anaknya lalu menyerahkannya, maka ia berhak menarik kembali apa yang telah dihibahkan. Namun, jika sang ayah memerdekakan budak tersebut, apakah pemerdekaan itu sah sekaligus mengandung penarikan kembali sebagaimana sahnya pemerdekaan oleh penjual yang sekaligus mengandung pembatalan jual beli? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Pendapat pertama, pemerdekaan itu sah; sebab ayah berhak secara mandiri menarik kembali hibah sebagaimana penjual berhak secara mandiri membatalkan jual beli, maka pemerdekaan itu dianggap sebagai pernyataan eksplisit penarikan kembali. Pendapat kedua, pemerdekaan itu tidak sah, berbeda dengan pemerdekaan oleh penjual; karena kepemilikan penerima hibah telah sempurna sehingga semua tindakan hukum berlaku padanya, maka tidak ada alasan bagi selainnya untuk melakukan tindakan hukum. Maka, hendaknya ayah menarik kembali hibah terlebih dahulu, kemudian melakukan tindakan hukum atas miliknya sendiri.
ومن اشترى عبداً ولزم ملكُه فيه وأفلسَ قبل أداء الثمن فللبائع الرجوع في عين المبيع فلو أعتقه ابتداءً ففي نفوذ عتقهِ وجهان كما ذكرناه في الرجوع في الهبة
Dan barang siapa membeli seorang budak, lalu kepemilikannya telah tetap atas budak itu, kemudian ia jatuh pailit sebelum membayar harga, maka penjual berhak mengambil kembali barang yang dijual itu. Jika pembeli memerdekakan budak tersebut sejak awal, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan pemerdekaannya, sebagaimana telah kami sebutkan dalam pembahasan mengenai penarikan kembali hibah.
هذا بيان العتق من التصرفات
Ini adalah penjelasan tentang pembebasan budak sebagai salah satu bentuk tindakan hukum.
فأما البيعُ ففيه طريقان فنطرد كل واحدةٍ على حدَتِها
Adapun jual beli, terdapat dua metode di dalamnya, maka kita akan mengikuti masing-masing secara terpisah.
أما الإمام فكان يقول إن المشتري إذا انفرد بالخيار فباع نفذ بيعُه سواء قلنا الملك له أو قلنا الملك للبائع
Adapun Imam berpendapat bahwa jika pembeli secara sendiri memiliki hak khiyar, lalu ia menjual barang tersebut, maka jual belinya sah, baik kita mengatakan kepemilikan sudah berpindah kepadanya maupun masih milik penjual.
فإذا فرّعنا على أن الملكَ له فقد صادف بيعُه ملكَه وإن قلنا للبائع فبيعُ المشتري وهو منفردٌ بالخيارِ يتضمن الإجازة ثم نُقدِّر انتقالَ الملك للمشتري قُبيل البيع ليكون بيعُه مصادفاً ملْكَه وهو كحكمنا بارتداد الملك في المبيع إلى البائع إذا تلفَ في يده وكان يقول رحمه الله بيع البائع المبيعَ في زمان الخيارِ إذا كان الخيار له أو لهما ينفذ على الأقوال متضمناً فسخاً كما ذكرناه في العتق
Jika kita menetapkan bahwa kepemilikan itu milik pembeli, maka penjualan yang dilakukannya bertepatan dengan kepemilikannya. Namun jika kita mengatakan kepemilikan itu milik penjual, maka penjualan yang dilakukan pembeli—sementara ia sendiri memiliki hak khiyar—mengandung makna izin (ijazah), kemudian kita anggap kepemilikan berpindah kepada pembeli sesaat sebelum penjualan, agar penjualannya bertepatan dengan kepemilikannya. Hal ini seperti ketetapan kita bahwa kepemilikan barang yang dijual kembali kepada penjual jika barang itu rusak di tangannya. Dan beliau—semoga Allah merahmatinya—berkata: Penjualan yang dilakukan penjual terhadap barang yang dijual pada masa khiyar, jika hak khiyar itu milik penjual atau keduanya, maka penjualannya sah menurut berbagai pendapat, dengan mengandung makna pembatalan (fasakh), sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah pembebasan budak (’itq).
فأما إذا باع المشتري وكان الخيار لهما أو للبائع فلا ينفُذ بيعُه وإن قلنا الملكُ له؛ فإنه ليس له الانفراد بالإجازة بخلاف ما تقدَّم فبيعه بين أن يصادفَ ملكَ الغيرِ وبين أن يصادف حقَّ الغير وإذا ذكرنا خلافاً في العتق؛ فهو لمزيَّتِه في القُوَّة والنفوذ وهذَا بمثابة قَطْعِنا بردّ بيع الراهن مع التردد في نفوذ عتقه ثم كان يقول إذا رددنا بيعَ المشتري فهل نجعله إجازةً منه فعلى وجهين كما تقدم في العتق المردود
Adapun jika pembeli menjual barang tersebut sementara hak khiyar masih ada bagi keduanya atau bagi penjual, maka jualannya tidak sah, meskipun kita katakan kepemilikan sudah berpindah kepadanya; karena ia tidak berhak secara sepihak untuk memberikan persetujuan, berbeda dengan penjelasan sebelumnya. Maka jualannya berada di antara kemungkinan mengenai kepemilikan orang lain dan kemungkinan mengenai hak orang lain. Jika kami menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah pembebasan budak (’itq), itu karena keistimewaannya dalam kekuatan dan keabsahan. Hal ini serupa dengan ketegasan kami dalam menolak jual beli barang yang sedang digadaikan, meskipun ada keraguan dalam keabsahan pembebasan budak oleh pihak yang menggadaikan. Kemudian, jika kami menolak jual beli yang dilakukan oleh pembeli, apakah kami menganggapnya sebagai bentuk persetujuan darinya? Maka ada dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah pembebasan budak yang ditolak.
وقالَ بعض أصحابنا إذا باع المشتري وكان منفرداً بالخيارِ؛ فإن قلنا المِلكُ للبائع فلا ينفذ بيع المشتري وإن كان منفرداً بالخيار وإن قلنا الملكُ له ففي نفوذ بيعه وجهان؛ لضعف الملك بالجواز
Sebagian ulama dari kalangan kami berkata: Jika pembeli menjual (barang) sementara ia sendiri yang memiliki hak khiyar, maka jika kita katakan kepemilikan masih pada penjual, maka penjualan yang dilakukan oleh pembeli tidak sah, meskipun ia sendiri yang memiliki hak khiyar. Namun jika kita katakan kepemilikan telah berpindah kepadanya, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan penjualannya, karena lemahnya kepemilikan akibat adanya kebolehan (khiyar).
وما ذكره الإمام أفقهُ وكان رحمه الله يُشير إلى الوجهين في بيع الواهب العبدَ الموهوبَ فيُنزله منزلة إعتاقه إياه وينزل البيعَ منزلة العتق من جِهة صدوره ممن يستبد بالرجوع كما نزل بيع المشتري المنفرد بالخيار منزلة إعتاقه
Apa yang disebutkan oleh Imam lebih mendalam secara fiqh, dan beliau rahimahullah mengisyaratkan dua pendapat dalam kasus seseorang yang mewakafkan seorang budak lalu menjual budak yang telah dihibahkan itu; beliau menyamakannya dengan memerdekakan budak tersebut, dan menyamakan penjualan itu dengan tindakan memerdekakan dari sisi bahwa penjualan itu dilakukan oleh orang yang berhak sepenuhnya untuk menarik kembali hibahnya, sebagaimana penjualan oleh pembeli yang secara tunggal memiliki hak khiyar disamakan dengan tindakan memerdekakan.
وقال بعض أصحابنا إذا انفرد المشتري بالخيار فباع ففي المسألة ثلاثة أوجه أحدها ينفذُ بيعه ويلزم العقد والثاني لا ينفذ ولا يلزم والثالث لا ينعقدُ العقد ولكنه يتضمن الإجازَةَ
Sebagian ulama kami berpendapat, apabila pembeli sendiri yang memiliki hak khiyar lalu ia menjual (barang tersebut), maka dalam masalah ini terdapat tiga pendapat: pertama, jual belinya sah dan akad menjadi wajib; kedua, tidak sah dan tidak menjadi wajib; ketiga, akadnya tidak terwujud, namun hal itu mengandung makna izin (ijazah).
وهذه الأوجُه نشأت في هذه الطريقة من خلافٍ في أصلين أحدُهما أن بيعه هل ينفذ والثاني أن التصرف الفاسد هل يتضمن الإجازة وكان الإمام يقطع بنفوذ البيع إذا انفرد المشتري بالخيار
Pendapat-pendapat ini muncul dalam metode ini karena adanya perbedaan pendapat dalam dua pokok masalah: yang pertama, apakah jual belinya sah berlaku; dan yang kedua, apakah transaksi yang fasid (rusak) mengandung makna persetujuan (ijazah). Imam berpendapat tegas bahwa jual beli itu sah berlaku apabila hanya pembeli yang memiliki hak khiyar (pilihan).
ونذكر ثلاثة أوجهٍ في الصورة الأخرى وهي أن الخيارَ إذا كان لهمَا جميعاً وقد ذكرنا أن المشتري لو انفرد بالبيع من أجنبيّ لم ينفذ بيعُه ولو باع ما اشتراه من البائع قال فيه ثلاثةُ أوجهٍ
Kami menyebutkan tiga pendapat dalam gambaran yang lain, yaitu apabila hak khiyar dimiliki oleh keduanya. Telah kami sebutkan bahwa jika pembeli sendiri yang melakukan penjualan kepada pihak ketiga, maka penjualannya tidak sah. Dan jika ia menjual barang yang dibelinya kepada penjual semula, maka terdapat tiga pendapat dalam hal ini.
أحدُها أنهُ ينفذ البيع الثاني ويلزم البيعُ الأول؛ فإن الخيار لا يَعدوهما فكان إقدامهما على العقد متضمناً إلزام العقد الأول
Pertama, bahwa jual beli yang kedua tetap sah dan jual beli yang pertama tetap mengikat; karena hak khiyar tidak melampaui keduanya, sehingga keberanian mereka untuk melakukan akad berarti mengandung pengikatan akad yang pertama.
والوجه الثاني أنه لا ينعقد؛ فإن المشتري لا يجوز لهُ الانفراد بالبيع فإذا ابتدأ الإيجابُ بطل ثم القبول مترتب عليه
Pendapat kedua menyatakan bahwa akad tidak sah; karena pembeli tidak boleh melakukan jual beli secara sendiri, sehingga jika ijab dimulai terlebih dahulu maka batal, kemudian qabul yang datang setelahnya menjadi tidak sah karena bergantung padanya.
والوجه الثالث أن العقد الثاني لا يصح؛ لما ذكرناه ولكن يلزم الأول؛ تخريجاً على أن التصرف وإن رُدّ يتضمن إجازة
Alasan ketiga adalah bahwa akad kedua tidak sah, sebagaimana telah kami sebutkan, namun akad pertama tetap mengikat; berdasarkan analogi bahwa suatu tindakan, meskipun ditolak, tetap mengandung unsur persetujuan.
هذا بيان الطرق في البيع
Ini adalah penjelasan tentang cara-cara dalam jual beli.
وما ذكرهُ الإمام يقتضي تردداً في بيع الراهن المرهون من المرتهن من غير تقديم فك الرهن؛ فإن البيع لا يَنفُذ من الراهن على الانفراد فكان التبايع منهما على صورة التبايع من المتعاقدين في زمان الخيار
Apa yang disebutkan oleh imam menunjukkan adanya keraguan dalam penjualan barang yang digadaikan oleh pihak yang menggadaikan kepada pihak penerima gadai tanpa didahului pelepasan gadai; sebab penjualan itu tidak sah dilakukan sendiri oleh pihak yang menggadaikan, sehingga transaksi jual beli antara keduanya serupa dengan jual beli antara dua pihak yang sedang berada dalam masa khiyar.
فإن قيل نص الأصحابُ على أنَّا إذا منعنا بيع الدار المكراة على قولٍ فيجوز بيعها من المكتري قُلنا قد ينقدح فرقٌ؛ فإن بيع المرهون لحق المرتهن فإذا لم يصرح أولاً بإبطالٍ لم يبعد تخيل خلاف فيه وبيع الدار المكراة في قولٍ لم يبطل لحق المكتري فإن من يصحح بيعَ الدار المكراة لا ينقضُ الإجارة فالمبطل في البيع ثبوت يد المستأجر على المبيع فإذا باع من المستأجر فالمبيع في يد المشتري فاقتضى ذلك القطعَ بصحة العقد كما ذكرته في بيع الراهن من المرتهن تصرفاً في القياس وإلا فالذي أقطع به نقلاً صحّةُ البيع فليُعتقد ذلك وإن كان يبطل به نظم الأوجه الثلاثة في بيع المشتري من البائع
Jika dikatakan, para ulama mazhab telah menegaskan bahwa jika kita melarang penjualan rumah yang sedang disewakan menurut salah satu pendapat, maka boleh menjualnya kepada penyewa, kami katakan: mungkin ada perbedaan; sebab penjualan barang yang digadaikan berkaitan dengan hak penerima gadai, sehingga jika pada awalnya tidak dinyatakan secara tegas pembatalannya, tidak mustahil ada anggapan perbedaan pendapat di dalamnya. Adapun penjualan rumah yang sedang disewakan menurut salah satu pendapat tidaklah membatalkan hak penyewa, karena siapa yang membolehkan penjualan rumah yang sedang disewakan tidak membatalkan akad sewa-menyewa. Yang menyebabkan batalnya penjualan adalah adanya penguasaan penyewa atas barang yang dijual. Jika dijual kepada penyewa, maka barang yang dijual berada di tangan pembeli, sehingga hal itu menuntut kepastian sahnya akad, sebagaimana telah aku sebutkan dalam penjualan pihak yang menggadaikan kepada penerima gadai, sebagai bentuk penerapan qiyās. Namun, yang aku yakini secara pasti berdasarkan riwayat adalah sahnya penjualan tersebut, maka hendaklah hal itu diyakini, meskipun hal itu membatalkan susunan tiga pendapat dalam penjualan pembeli kepada penjual.
فصل
Bab
مشتمل على الوطء في زمان الخيار
Mencakup hubungan suami istri pada masa khiyār.
أجمع المراوزةُ على أن الوطء من البائع فسخ إذا كان له خيار وكذلك جعلوا الوطء إجازةً من المشتري
Para ulama Marw sepakat bahwa hubungan suami istri yang dilakukan oleh penjual merupakan pembatalan (fasakh) apabila ia masih memiliki hak khiyar, dan mereka juga menetapkan bahwa hubungan suami istri yang dilakukan oleh pembeli dianggap sebagai bentuk persetujuan (ijazah).
وقال العراقيون وطء البائع الجاريةَ فسخ منه وفي وطء المشتري وجهان أحدهما أنه إجازة منه كما أنهُ فسخٌ من البائع؛ إذْ هو مشعرٌ من كل واحد منهما باختيار الملك والثاني أنهُ لا يكون وطؤُه إجازةً وإن كان فسخاً من البائع
Orang-orang Irak berpendapat bahwa persetubuhan penjual dengan budak perempuan merupakan bentuk pembatalan dari pihak penjual, sedangkan persetubuhan pembeli terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa itu merupakan bentuk persetujuan dari pihak pembeli, sebagaimana itu merupakan pembatalan dari pihak penjual; karena hal itu menunjukkan dari masing-masing pihak adanya pilihan terhadap kepemilikan. Pendapat kedua, bahwa persetubuhan pembeli tidak dianggap sebagai persetujuan, meskipun itu merupakan pembatalan dari pihak penjual.
وهذا بعيدٌ
Dan ini tidak mungkin.
والذي ينقدح في توجيهه على البُعد أن ما يصدر من المشتري قد يُحمل على الامتحان والاختبار لا على الرضا والاختيار وما يكون من البائع لا محمل له إلا اختيار رَدّها إلى الملك
Yang terlintas dalam penjelasannya secara tidak langsung adalah bahwa apa yang dilakukan oleh pembeli bisa jadi dimaknai sebagai ujian dan percobaan, bukan sebagai kerelaan dan pilihan. Adapun apa yang dilakukan oleh penjual, tidak ada kemungkinan lain kecuali sebagai bentuk memilih untuk mengembalikannya kepada kepemilikan.
وقد اشتهر اختلافُ الأئمة في أن من أجمل عتقاً بين أَمَتين فقال إحداكما حُرَّة ثم وطىء إحداهُما فهل يكون وطؤُه تعييناً للموطوءة في الرق حتى تتعين الأخرى للعتق
Telah masyhur perbedaan pendapat di antara para imam mengenai seseorang yang mengucapkan pembebasan secara global kepada dua budak perempuan, lalu ia berkata, “Salah satu dari kalian berdua merdeka,” kemudian ia menggauli salah satunya. Apakah perbuatannya itu dianggap sebagai penetapan bahwa yang digauli tetap dalam status budak sehingga yang lainnya menjadi pasti sebagai yang dimerdekakan?
والخلاف يجري كذلك في تعين المنكوحة بالوطء عند إجمال الطلاق وقد مرَّ بي في الخلاف من قول من لا يُعدُّ من أئمة المذهب ذكرُ خلافٍ في أن الوطء هل يكون فسخاً من البائع وهذا في القياس غيرُ بعيدٍ تخريجاً على الخلاف في تعيين المنكوحة والمملوكة في الوطء ولكن لم أر ذلك لأئمة المذهب وهذا هو النقل والاحتمال
Perselisihan juga terjadi dalam penentuan istri yang dinikahi melalui hubungan badan ketika terjadi keumuman dalam lafaz talak. Telah saya dapati dalam pembahasan khilaf dari pendapat seseorang yang tidak dianggap sebagai imam mazhab, disebutkan adanya perbedaan pendapat tentang apakah hubungan badan dapat dianggap sebagai pembatalan dari penjual. Hal ini dalam qiyās tidaklah jauh, sebagai hasil dari perbedaan pendapat dalam penentuan istri dan budak perempuan melalui hubungan badan. Namun, saya tidak menemukan hal tersebut dari para imam mazhab. Inilah riwayat dan kemungkinan yang ada.
ونحن نذكر الآن ما يتعلَّق بالوطء من الأحكام ونبدأ بوطء المشتري
Sekarang kami akan menyebutkan hukum-hukum yang berkaitan dengan hubungan badan, dan kami akan memulai dengan hubungan badan oleh pembeli.
فنقول إذا وطىء المشتري والخيار لهما فلا شَكَّ في تحريم وطئه؛ فإنا إن حكمنا بأن الملكَ ليس له فقد صادف وطؤه ملكَ الغير وإن حكمنا بأن الملك للمشتري فهو ضعيفٌ وفيه حق الخيار للبائع ثم لا يخلو وطؤه إما أن يعرَى عن العلوق أو يتصلَ به العلوق فإن لم تعلق فلا حدَّ للشُّبهَةِ وفي انقطاع خيار المشتري ما قدمناه
Maka kami katakan: Jika pembeli melakukan hubungan suami istri (dengan budak) sementara hak khiyar masih ada pada keduanya, maka tidak diragukan lagi keharaman perbuatannya; sebab jika kita memutuskan bahwa kepemilikan belum berpindah kepadanya, berarti ia melakukan hubungan dengan milik orang lain. Dan jika kita memutuskan bahwa kepemilikan sudah berpindah kepada pembeli, maka itu pun masih lemah, karena masih ada hak khiyar bagi penjual. Kemudian, perbuatannya itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah perbuatan itu tidak menyebabkan kehamilan, atau justru menyebabkan kehamilan. Jika tidak menyebabkan kehamilan, maka tidak ada hukuman had karena adanya syubhat, dan tentang gugurnya hak khiyar pembeli telah kami jelaskan sebelumnya.
وأما المهرُ فلا يخلو البائع إما أن يفسخ أو يُجيز فإن أجاز واستقر الملكُ للمشتري فالمهر يُنحى به نحو الأكساب فيقال إن قلنا الملكُ للمشتري وقد استقر الملك له فلا مهرَ عليهِ لأنه اجتمع له الملك أولاً والقرار آخراً
Adapun mahar, maka penjual tidak lepas dari dua keadaan: apakah ia membatalkan atau membiarkan (akad). Jika ia membiarkan dan kepemilikan telah tetap bagi pembeli, maka mahar diperlakukan seperti hasil usaha. Dikatakan: jika kita berpendapat bahwa kepemilikan ada pada pembeli dan kepemilikan itu telah tetap baginya, maka tidak ada mahar atasnya, karena kepemilikan telah terkumpul padanya sejak awal dan tetap hingga akhir.
وإن حكمنا بأن الملك للبائع ففي المهر وجهان أحدُهما يجب على المشتري للبائع؛ نظراً إلى الملك حالة الوطء والثاني أن المهرَ لا يلزم؛ نظراً إلى مآل العقد
Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan berada pada penjual, maka dalam hal mahar terdapat dua pendapat: salah satunya, mahar wajib atas pembeli untuk diberikan kepada penjual, dengan mempertimbangkan kepemilikan pada saat jima‘; dan pendapat kedua, mahar tidak wajib, dengan mempertimbangkan akibat akhir dari akad.
وأما إذا فسخ البائع فإن حكمنا بأن الملكَ للبائع في زمان الخيار فعلى المشتري المهر للبائع؛ إذ كان المِلكُ له حالةَ الوطء واستقرَّ عليه آخراً وإن حكمنا بأن الملكَ للمشتري فوجهان أحدهما لا يجب نظراً إلى الحال والثاني يجب نظراً إلى العاقبة
Adapun jika penjual yang membatalkan akad, maka jika kita memutuskan bahwa kepemilikan tetap pada penjual selama masa khiyār, maka pembeli wajib memberikan mahar kepada penjual; karena kepemilikan ada padanya saat terjadi persetubuhan dan akhirnya tetap menjadi tanggungannya. Namun jika kita memutuskan bahwa kepemilikan berada pada pembeli, maka ada dua pendapat: salah satunya tidak wajib dengan mempertimbangkan keadaan saat itu, dan yang kedua wajib dengan mempertimbangkan akibat akhirnya.
وإن فرَّعنا على قول الوقف نظرنا فإن أُجيز البيع فهو كما قلنا الملك للمشتري وقد لزم البيع وإن فُسخ فهو كالتفريع على قولنا الملكُ للبائع وقد فسخ العقد
Jika kita merinci berdasarkan pendapat yang menyatakan adanya waqaf, maka kita perlu melihat: jika penjualan itu dibolehkan, maka seperti yang telah kami katakan, kepemilikan menjadi milik pembeli dan penjualan itu menjadi tetap. Namun jika penjualan itu dibatalkan, maka hal itu seperti perincian berdasarkan pendapat kami bahwa kepemilikan tetap pada penjual dan akad dibatalkan.
هذا حكم وطء المشتري من غير علوق
Ini adalah hukum jima‘ yang dilakukan oleh pembeli tanpa menyebabkan kehamilan.
فأما البائع إن وطىء والخيار لهما فنذكر أولاً حكم الوطء في التحريم والحل وقد اختلف الأئمة في الترتيب فقالَ بعضهم إن قلنا الملك للمشتري فلا يحل للبائع الإقدامُ على الوطء وإن قلنا وطؤه يتضمن فسخَ العقد
Adapun penjual, jika ia melakukan hubungan suami istri sementara hak khiyar masih ada bagi keduanya, maka pertama-tama kita sebutkan hukum hubungan tersebut dalam hal keharaman dan kehalalan. Para imam berbeda pendapat dalam urutan masalah ini. Sebagian mereka berkata: Jika kita katakan kepemilikan telah berpindah kepada pembeli, maka tidak halal bagi penjual untuk melakukan hubungan suami istri. Namun jika kita katakan bahwa perbuatannya itu mengandung pembatalan akad…
وإن قلنا الملك للبائع ففي إباحة إقدامهِ على الوطء وجهان أصحهما الإباحةُ والثاني لا يباح؛ فإن الملك ضعيف وحِلّ الوطء يستدعي ملكاً تاماً
Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan ada pada penjual, maka dalam hal kebolehan penjual melakukan hubungan suami istri terdapat dua pendapat; pendapat yang paling sahih adalah kebolehan, sedangkan pendapat kedua tidak membolehkannya, karena kepemilikan tersebut lemah dan kehalalan hubungan suami istri mensyaratkan kepemilikan yang sempurna.
ومن أصحابنا من قلب الترتيب وقال إن حكمنا بأن الملك للبائع فيحل له الإقدام على الوطء وإن قلنا الملك للمشتري ففي إباحة الوطء للبائع وجهان أحدهما لا يباح لمصادفته ملك الغير والثاني يباح؛ فإن الوطء يتضمن الفسخَ وكل ما يتضمن فسخاً يُقدّر نقلُ الملك فيه قُبَيْله فيكون الوطء مصادفاً ملكَه وهذا الطريق لصاحب التقريب
Sebagian ulama kami membalik urutan pendapat dan mengatakan: Jika kami memutuskan bahwa kepemilikan tetap pada penjual, maka penjual boleh melakukan hubungan suami istri. Namun, jika kami mengatakan bahwa kepemilikan telah berpindah kepada pembeli, maka dalam hal kebolehan penjual melakukan hubungan suami istri terdapat dua pendapat: yang pertama, tidak boleh karena itu berarti melakukan hubungan dengan milik orang lain; yang kedua, boleh, karena hubungan suami istri itu mengandung makna pembatalan (fasakh), dan setiap hal yang mengandung pembatalan, diperkirakan perpindahan kepemilikan terjadi sesaat sebelumnya, sehingga hubungan suami istri itu terjadi ketika masih menjadi miliknya. Pendapat ini adalah pendapat pemilik kitab at-Taqrib.
وكان الإمام يقطع جوابَه في دروسه بحل الوطء للبائع إذا كان له خيار وكان يقول لو جَعلنا الوطء رجعةً لأبحناه للزوج
Imam sering kali menghentikan penjelasannya dalam pelajaran dengan membolehkan hubungan suami istri bagi penjual jika ia memiliki hak khiyar, dan beliau berkata, “Seandainya kita menganggap hubungan suami istri sebagai rujuk, tentu kita membolehkannya bagi suami.”
ثم نقول إذا أبحنا الوطء للبائع فلا يلزمُه المهر؛ فإنا إنما نُبيح له الوطء على قولنا المِلكُ له أو على تقدير نقل المِلك إليه قُبيل الوطء وذلك يمنع ثبوتَ المهر
Kemudian kami katakan, jika kami membolehkan hubungan suami istri bagi penjual, maka ia tidak wajib membayar mahar; karena sesungguhnya kami hanya membolehkannya berdasarkan pendapat bahwa kepemilikan (istri) adalah miliknya, atau dengan anggapan bahwa kepemilikan itu berpindah kepadanya sesaat sebelum hubungan suami istri, dan hal itu mencegah kewajiban mahar.
وإن حرّمنا الوطء فلا شكَّ أنا مع التحريم نحكم بانفساخ العقدِ فالوجه مع ذلك القطعُ بنفي المهر؛ فإنا وإن حرَّمنا الإقدام على الوطء فنقول الفسخ يتضمن تقدير نقل الملك قُبيل الوطء
Jika kami mengharamkan hubungan suami istri, maka tidak diragukan lagi bahwa bersamaan dengan pengharaman tersebut, kami memutuskan batalnya akad. Maka, dalam hal ini, pendapat yang tepat adalah memastikan tidak adanya mahar; sebab meskipun kami mengharamkan melakukan hubungan suami istri, kami mengatakan bahwa pembatalan akad mengandung makna perpindahan kepemilikan (mahar) sesaat sebelum terjadinya hubungan tersebut.
فإن قيل إذا أبحنا الوطء فالإباحة تستدعي تقدير نقل الملك قُبيل الوطء كما ذكرتموه لا محالةَ فأما إذا لم يُبَح فما المانع من الحكم بأن الفسخ لا يقتضي تقديمَ الملك على الوطء قلنا هذا التقدير محتمل وللقول فيه مجال ولكن لا يجب المهر مع هذا التقدير أيضاً؛ فإن مساقه يتضمن مقارنةَ الملك للوطء وإذا قارن الملكُ الوطء استحال إيجاب المهرِ ولا سبيل إلى المصير إلى أن الوطءَ يستعقب الفسخ
Jika dikatakan: Jika kami membolehkan hubungan suami istri, maka kebolehan itu menuntut adanya takdir pemindahan kepemilikan (mahar) sesaat sebelum hubungan tersebut, sebagaimana yang telah kalian sebutkan, itu pasti. Adapun jika tidak dibolehkan, maka apa yang menghalangi untuk memutuskan bahwa pembatalan (fasakh) tidak mengharuskan pemindahan kepemilikan sebelum hubungan suami istri? Kami katakan: Takdir seperti ini memang mungkin, dan masih terbuka ruang untuk membahasnya. Namun, mahar juga tidak wajib dengan takdir seperti ini; sebab alur pembahasannya mengandung makna bahwa kepemilikan (mahar) bersamaan dengan terjadinya hubungan suami istri. Jika kepemilikan (mahar) bersamaan dengan hubungan tersebut, maka mustahil mewajibkan mahar, dan tidak mungkin pula dikatakan bahwa hubungan suami istri itu menyebabkan terjadinya pembatalan (fasakh).
فهذا تفصيل القول في وطء البائع والمشتري إذا كان الخيار لهُما جميعاً
Berikut ini adalah perincian pembahasan mengenai hubungan suami istri yang dilakukan oleh penjual dan pembeli apabila hak khiyar ada pada keduanya.
أما إذا كان الخيار للمشتري وحده فظاهر المذهب أن الوطء منه إجازةٌ
Adapun jika hak khiyar hanya dimiliki oleh pembeli saja, maka menurut pendapat yang paling jelas dalam mazhab, hubungan suami istri yang dilakukan oleh pembeli dianggap sebagai bentuk persetujuan (ijazah).
وذكر العراقيون الخلافَ هاهنا كما ذكروه والخيار لهُما فإذا وطىء وجعلناه مجيزاً لم يلزمه المهر فإنه عند انفراده بالخيار ينفرد بالإجازة كما ينفرد البائع بالفسخ ثم التفصيل في إباحة الوطء للمشتري كالتفصيل في البائع والقول في المهرِ على ما ذكرناه في الأكساب في مثل هذه الصورة
Orang-orang Irak menyebutkan adanya perbedaan pendapat di sini sebagaimana yang mereka sebutkan tentang hak khiyar bagi keduanya. Jika terjadi hubungan suami istri dan kita menganggapnya sebagai bentuk persetujuan, maka mahar tidak menjadi wajib baginya, karena ketika ia sendiri yang memiliki hak khiyar, ia juga sendiri yang berhak memberikan persetujuan, sebagaimana penjual berhak sendiri untuk membatalkan akad. Kemudian, perincian tentang kebolehan hubungan suami istri bagi pembeli sama seperti perincian pada penjual, dan pembahasan tentang mahar sesuai dengan yang telah kami sebutkan dalam pembahasan penghasilan pada kasus seperti ini.
فهذا كُلّه فيهِ إذا عَري الوطء عن الإعلاق
Maka semua itu berlaku apabila hubungan seksual tersebut terbebas dari kemungkinan menyebabkan kehamilan.
فأما إذا اتصل الوطء بالإحبال فنذكر حكمَ المشتري ثم نشُير إلى حكم البائع
Adapun jika hubungan seksual terjadi bersamaan dengan terjadinya kehamilan, maka kami akan menyebutkan hukum bagi pembeli terlebih dahulu, kemudian kami akan mengisyaratkan hukum bagi penjual.
فإذا وطىء المشتري الجاريةَ وعلقت منه بولد فأما نفي الحد والقول في المهر فعلى ما مضى لا يختلف منه شيء فلا يسقط المهر وإن ثبت الاستيلاد؛ إذا يجب وإن لم يكن علوقٌ
Jika pembeli telah menggauli budak perempuan dan budak tersebut hamil darinya, maka mengenai gugurnya hukuman had dan pembahasan tentang mahar adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak ada perbedaan dalam hal ini; mahar tidak gugur meskipun status istīlād telah tetap, karena mahar tetap wajib meskipun tidak terjadi kehamilan.
وأما القول في الولد فهو ينعقد حُراً؛ فإنّ من وطىء جاريةَ غيره بالشبهة كان ولدهُ منها حراً ولا تنحط رتبة وطء المشتري عن ذلك
Adapun mengenai status anak, maka anak tersebut menjadi merdeka; sebab siapa pun yang menggauli budak perempuan milik orang lain karena syubhat, anak yang lahir darinya adalah merdeka, dan kedudukan hubungan suami istri pembeli tidak lebih rendah dari itu.
ونحن نذكر بعد هذا الاستيلادَ ثم قيمةَ الولد فأما ثبوت الاستيلادِ فالقول الوجيزُ أن الاستيلاد كالعتق وقد مضى القول في العتق ولكن من أصحابنا من رتّب صور الخلاف في الاستيلاد على أمثالها في العتق وجعل الاستيلادَ أولى بالنفوذ؛ من جهة أنه يعتمد فعلاً والفعلُ لا يناله فسخ ومن أصحابنا من قلبَ الترتيب وجعل العتق أولى بالنفوذ؛ فإن حرمة الاستيلاد توقُّعُ حُرّيةٍ وتنجُّزُها أقوى من تَوقُّعِها ولا يبعد الحكم باستوائهما لتعارض الكلام
Setelah ini, kami akan membahas tentang istīlād (pengakuan budak perempuan sebagai ummu walad) kemudian tentang nilai anak. Adapun penetapan istīlād, pendapat ringkasnya adalah bahwa istīlād itu seperti ‘itq (pembebasan budak), dan pembahasan tentang ‘itq telah dijelaskan sebelumnya. Namun, sebagian ulama kami mengurutkan bentuk-bentuk perbedaan pendapat dalam istīlād sebagaimana dalam ‘itq, dan menganggap istīlād lebih utama untuk berlaku (sah), karena istīlād didasarkan pada suatu perbuatan, sedangkan perbuatan tidak dapat dibatalkan. Sebagian ulama kami yang lain membalik urutan tersebut dan menganggap ‘itq lebih utama untuk berlaku, karena larangan dalam istīlād hanyalah berupa harapan akan kemerdekaan, sedangkan kemerdekaan yang langsung terjadi lebih kuat daripada sekadar harapan. Namun, tidak mustahil jika keduanya dipandang setara karena adanya pertentangan dalam pendapat.
فإذا صح مأخذُ الاستيلاد فنتكلم في قيمة الولد ونقول إن فرَّعنا على أن الملك للمشتري وأجيزَ العقد؛ فلا تلزمه قيمة الولد؛ فإن الملك كان له في الابتداءِ واستقرَّ عليه في الانتهاء
Jika dasar istibra’ (pemilikan anak) telah sah, maka kita membahas tentang nilai anak tersebut. Kami katakan, jika kita berpendapat bahwa kepemilikan adalah milik pembeli dan akadnya dibolehkan, maka pembeli tidak wajib membayar nilai anak tersebut; karena kepemilikan memang sudah menjadi miliknya sejak awal dan tetap menjadi miliknya hingga akhir.
وإن حكمنا بأن الاستيلاد نافذ ولا سبيل إلى رَدّهِ ولا وجهَ مع نفوذه لفسخ العقد فهذا كما قدَّمناه؛ فإن الإجازة قد لزمت والتفريع على أن المِلكَ للمشتري
Jika kita memutuskan bahwa istīlād (pengakuan budak sebagai ibu anak) berlaku dan tidak ada jalan untuk membatalkannya, serta tidak ada alasan untuk membatalkan akad setelah istīlād berlaku, maka hal ini sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya; sebab persetujuan (ijazah) telah menjadi mengikat dan penjelasan ini didasarkan pada pendapat bahwa kepemilikan berada pada pembeli.
وإن قلنا لا يثبت الاستيلاد أو يثبت ولكنه يرد فرُدَّ وفسخ العقد ففي لزوم قيمة الولد وجهان؛ فإن العُلوق جرى والملك للمشتري ولكن لم يستقرَّ الملكُ عليهِ وقد ذكرنا في الأكساب الخلافَ في مثل هذه الصُورة
Jika kita mengatakan bahwa istīlād tidak tetap, atau tetap namun kemudian dibatalkan dan akadnya dibatalkan, maka dalam hal kewajiban membayar nilai anak terdapat dua pendapat; sebab kehamilan telah terjadi dan kepemilikan berada pada pembeli, namun kepemilikan tersebut belum tetap atasnya. Kami telah menyebutkan dalam pembahasan penghasilan adanya perbedaan pendapat dalam kasus seperti ini.
هذا تفريعٌ على أن المِلكَ للمشتري
Ini merupakan cabang pembahasan dari pendapat bahwa kepemilikan adalah milik pembeli.
فأما إذا قلنا الملكُ للبائع فلا يخلو إما أن يفسخ أو يجيز فإن فسخ فلا شك أن الاستيلاد لا ينفذ في هذه الصورة وتجب قيمة الولد؛ إذ الملك للبائع أولاً وآخراً والكسب في هذه الصورة للبائع وجهاً واحداً وإن أجاز البائع العقدَ في هذه الصورة ففي نفوذ الاستيلاد وجهان فإن حكمنا بأن الاستيلاد لا يثبت ففي لزوم قيمة الولد وجهان مبنيّان على نظيرهما في الكسب في مثل هذه الصورة
Adapun jika kita mengatakan bahwa kepemilikan tetap pada penjual, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah penjual membatalkan atau mengizinkan (akad tersebut). Jika penjual membatalkan, maka tidak diragukan lagi bahwa istīlād (menghamilkan budak) tidak sah dalam keadaan ini dan wajib membayar nilai anak yang lahir; karena kepemilikan tetap pada penjual sejak awal hingga akhir, dan hasil usaha dalam keadaan ini menjadi milik penjual secara pasti. Namun, jika penjual mengizinkan akad dalam keadaan ini, maka dalam keabsahan istīlād terdapat dua pendapat. Jika kita memutuskan bahwa istīlād tidak sah, maka dalam kewajiban membayar nilai anak terdapat dua pendapat yang didasarkan pada dua pendapat serupa dalam masalah hasil usaha pada keadaan seperti ini.
وإن قُلنا يثبت الاستيلاد فهذا يبنى على أمرٍ وهو أن الاستيلاد إذا ثبت بالإجازة فيثبت عند الإجازة أو يستند إلى العلوق وفيه خلافٌ ذكرته في الإعتاق
Jika kita mengatakan bahwa istīlād ditetapkan, maka hal ini didasarkan pada satu perkara, yaitu apabila istīlād ditetapkan melalui izin, apakah ia berlaku sejak izin diberikan ataukah kembali kepada waktu terjadinya kehamilan; dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan dalam pembahasan tentang pembebasan budak (i‘tiq).
فإن قلنا إن الاستيلاد ثبت عند الإجازة فقد تقدَّم العلوق والمِلك للبائع إذ ذاك ففي قيمة الولد وجهان كما ذكرناه
Jika kita mengatakan bahwa status istibra’ (kehamilan budak) ditetapkan saat adanya persetujuan, maka kehamilan dan kepemilikan telah lebih dahulu dimiliki oleh penjual pada saat itu. Maka, dalam hal nilai anak tersebut terdapat dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan.
وإن قلنا الاستيلاد يتقدم الإجازة إسناداً وتبيُّناً فنبني الغرضَ الآن على أن الأب إذا استولد جارية الابن فمتى ينتقل الملك إلى الأب فيه وجهان أحدهما أنه ينتقل الملك قبيل العلوق فعلى هذا نقول في مسألتنا هذه لا تجب قيمةُ الولد؛ فإن العلوق صادف ملكَ المشتري على التقدير الذي ذكرناه وإن قلنا ينتقل الملك بعدَ العلوق؛ فقد صادف العلوقُ ملكَ البائع ولكن استقر ملك المشتري ففي قيمة الولد وجهان كما تقدم ذكره
Jika kita mengatakan bahwa istīlād (menggauli budak perempuan hingga hamil) mendahului ijāzah (persetujuan) baik dari segi sandaran maupun penjelasan, maka sekarang kita membangun tujuan pada kasus ketika seorang ayah menggauli budak milik anaknya, maka kapan kepemilikan berpindah kepada ayah? Ada dua pendapat: salah satunya, kepemilikan berpindah tepat sebelum terjadinya kehamilan. Berdasarkan pendapat ini, dalam permasalahan kita ini, tidak wajib membayar nilai anak; karena kehamilan terjadi saat budak tersebut sudah dimiliki oleh pembeli menurut perkiraan yang telah kami sebutkan. Namun jika dikatakan bahwa kepemilikan berpindah setelah terjadinya kehamilan, maka kehamilan terjadi saat budak masih dimiliki oleh penjual, tetapi kemudian kepemilikan tetap pada pembeli. Dalam hal nilai anak, terdapat dua pendapat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
فهذا منتهى الغرض
Inilah tujuan akhir.
فأما إذا وطىء البائع واستولد فإن كان له خيار فوطؤه فسخ والاستيلادُ يثبتُ كيف فرض الأمر ولا يلزمُه قيمةُ الولد؛ فإن الفسخ يُقارن الوطءَ أو يتقدم عليه والعُلوق بعدَ الوطء
Adapun jika penjual telah menggauli budak perempuan dan menjadikannya sebagai ummu walad, maka jika ia masih memiliki hak khiyar, maka perbuatannya menggauli budak tersebut dianggap sebagai pembatalan akad, dan status ummu walad tetap berlaku dalam kondisi apa pun. Ia tidak wajib membayar nilai anak yang lahir; karena pembatalan akad terjadi bersamaan dengan perbuatan menggauli atau mendahuluinya, sedangkan kehamilan terjadi setelah perbuatan menggauli.
وإن كان الخيار للمشتري وحده فوطىء البائع وأولد فهو كالمشتري إذا استولد ولم يكن منفرداً بالخيار فيفرَّع على أقوال الملك ثم نفرض فيه الفسخَ والإجازةَ كما تقدّم ذكره
Jika hak khiyar hanya dimiliki oleh pembeli saja, lalu penjual menggauli dan menghamili (budak tersebut), maka hukumnya seperti pembeli yang menghamili (budak) namun tidak memiliki hak khiyar secara eksklusif. Maka, permasalahan ini dikaitkan dengan pendapat-pendapat mengenai kepemilikan, kemudian dalam hal ini diasumsikan adanya pembatalan atau pengesahan transaksi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فصل
Bab
فيما يكون اختياراً في الفسخ والإجازة
Tentang hal-hal yang merupakan pilihan dalam pembatalan dan pengesahan.
فنقول كل تصرفٍ يتضمنُ زوالَ المِلكِ كالإعتقاقِ فلا شك أنهُ يتضمنُ فسخاً من البائع وإجازةً من المشتري إذا صحّ وفي الفاسد خلافٌ مضَى والبيع في معنى الإعتقاق والاستخدام ليس اختياراً أصلاً قطع به الأئمة وذكر بعض أصحاب القَفاّل وجهين في أن ركوب الدابة هل يكون اختياراً وهذا بعيدٌ وهو من هفوات المصنف وقد مرَّ بي رمزٌ إليه من أئمة الخلاف وهذا يقتضي تردُّداً في الاستخدام لا محالة
Maka kami katakan, setiap tindakan yang mengandung penghilangan kepemilikan seperti pembebasan budak, tidak diragukan lagi bahwa hal itu mengandung pembatalan dari pihak penjual dan persetujuan dari pihak pembeli jika sah, sedangkan pada yang tidak sah terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Jual beli memiliki makna yang sama dengan pembebasan budak, dan penggunaan (barang) bukanlah pilihan sama sekali—hal ini telah dipastikan oleh para imam. Sebagian sahabat al-Qaffal menyebutkan dua pendapat mengenai apakah menunggangi hewan tunggangan dianggap sebagai pilihan, namun ini adalah pendapat yang jauh (lemah) dan merupakan kekeliruan dari penulis. Saya telah menemukan isyarat tentang hal ini dari para imam khilaf. Ini menunjukkan adanya keraguan dalam penggunaan (barang) yang tidak dapat dihindari.
وفي تعليق شيخي عن شيخه القفال وجهان في أن الإجارةَ هل تكون اختياراً وهذا فيه احتمالٌ؛ من حيث إنها عقدٌ يقتضي تمليكاً والتزويج في معنى الإجارة وأما الوطء فقد سبق الكلام فيهِ وأنه هل يكون اختياراً
Dalam penjelasan guruku tentang gurunya, al-Qaffal, terdapat dua pendapat mengenai apakah ijārah (akad sewa-menyewa) termasuk sebagai bentuk ikhtiyār (pilihan), dan dalam hal ini terdapat kemungkinan; karena ijārah adalah akad yang mengandung unsur pemilikan, dan pernikahan memiliki makna yang serupa dengan ijārah. Adapun mengenai hubungan badan, telah dijelaskan sebelumnya apakah hal itu termasuk sebagai bentuk ikhtiyār.
قال الشافعي إذا سلَّم البائع المبيعَ في زمان الخيارِ إلى المشتري فلا يكون ذلك إجازةً من البائع واتفقَ الأصحاب على هذا وإن كان التسليم دلالة ظاهرة في التنفيذ وقالَ مالك التسليمُ إجازة من المسلِّم وليس التسلّمُ اختياراً من القابض وقال الصيدلاني إذا أذن البائع للمشتري في بيع المبيع لم يكن مجرَّدُ إذنه إجازةً وقطعاً للخيار ولو رجع عن إذنه فهو على خيارهِ
Imam Syafi’i berkata, jika penjual menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli pada masa khiyar, maka hal itu tidak dianggap sebagai persetujuan dari penjual, dan para sahabat sepakat atas hal ini, meskipun penyerahan tersebut merupakan indikasi yang jelas terhadap pelaksanaan akad. Imam Malik berkata, penyerahan barang adalah bentuk persetujuan dari pihak yang menyerahkan, sedangkan penerimaan barang bukanlah pilihan dari pihak yang menerima. Ash-Shaydalani berkata, jika penjual mengizinkan pembeli untuk menjual barang yang dibeli, maka semata-mata izinnya itu tidak dianggap sebagai persetujuan dan tidak memutuskan hak khiyar. Jika penjual menarik kembali izinnya, maka ia tetap berada dalam hak khiyarnya.
وقد عقدَ الشافعي باباً فيما يكون رجوعاً عن الوصية وليس من الممكن استيعابُ مضمون الباب هاهُنا ولكنا نذكرُ ما يليق بغرضِنا فمما يكون رجوعاً عن الوصيّة العَرْضُ على البيع والهِبَة قبل القبض ولو وطىء الموصي الجاريةَ الموصَى بها فإن عزل عنهَا فلا يكون رجوعاً عن الوصيّةِ وإن لم يعزل وأنزل كان رجوعاً
Imam Syafi‘i telah membuat satu bab tentang hal-hal yang dianggap sebagai penarikan kembali wasiat. Tidak memungkinkan untuk menguraikan seluruh isi bab tersebut di sini, namun kami akan menyebutkan hal-hal yang relevan dengan tujuan kami. Di antara yang dianggap sebagai penarikan kembali wasiat adalah menawarkan barang yang diwasiatkan untuk dijual atau dihibahkan sebelum diterima oleh penerima wasiat. Jika orang yang berwasiat menyetubuhi budak perempuan yang diwasiatkan, lalu ia memisahkannya, maka itu tidak dianggap sebagai penarikan kembali wasiat. Namun, jika ia tidak memisahkannya dan mengeluarkan mani, maka itu dianggap sebagai penarikan kembali wasiat.
والذي يدور الباب عليه أن كلَّ ابتداء لو تم لكان مُزيلاً فهو في ابتدائه يكون رجوعاً عن الوصيّة
Pokok permasalahan dalam bab ini adalah bahwa setiap permulaan yang jika sempurna akan menjadi penghapus, maka pada permulaannya itu dianggap sebagai penarikan kembali wasiat.
ولو أوصى بحنطة ثم طحنها كان ذلك رُجوعاً؛ لأنه عرَّضَها للتلف فجُعِل كتحقيق التلف والوطء لم يكن في عينه رجوعاً وإنما الرجوع في الإنزال؛ من حيث أشعر بقصد الاستيلاد وليس من الممكن أن يجري الاختيار في زمان الخيار مجرى ما يكون رجوعاً عن الوصيَّة
Jika seseorang berwasiat dengan gandum lalu menggilingnya, maka itu dianggap sebagai bentuk penarikan kembali wasiat; karena ia telah membuat gandum tersebut rentan rusak sehingga diperlakukan seperti benar-benar telah rusak. Sedangkan berhubungan badan (dengan budak perempuan yang diwasiatkan) bukanlah penarikan kembali pada zatnya, melainkan penarikan kembali terjadi ketika terjadi ejakulasi; karena hal itu menunjukkan adanya niat untuk menjadikan budak tersebut sebagai ibu dari anaknya (istilād). Tidak mungkin pilihan yang dilakukan pada masa khiyār (masa memilih) diperlakukan seperti penarikan kembali wasiat.
والدليل عليه في النفي والإثبات أن الوطء اختيارٌ في ظاهر المذهب معَ العَزل وليسَ رجوعاً عن الوصيةِ والسبب فيهِ أن الوصية لا تتضمَّن تحريماً على الموصي والجارية الموصَى بها مباحة على الموصي فإذا كان يطؤها فليس في ذلك ما يتضمن منعَها عن الوصيةِ بعد الموتِ فكان الاستمرار على الوطء غيرَ مشعر بالرجوع والبيع يتضمّنُ في وضعِه إزالةَ الملك وكل بائع موطَنٌ نفسَه على الانكفاف عن التي باعَها فإذا وطئَها أشعرَ ذلك بردّه إياها على ما كانت عليه قبل البيع
Dalil atas hal ini, baik dalam penafian maupun penetapan, adalah bahwa hubungan suami istri (jima‘) merupakan pilihan menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, meskipun disertai ‘azl (mengeluarkan mani di luar rahim), dan hal itu bukanlah bentuk penarikan kembali wasiat. Sebabnya adalah bahwa wasiat tidak mengandung larangan bagi orang yang berwasiat, dan budak perempuan yang diwasiatkan tetap halal bagi orang yang berwasiat. Maka jika ia menggaulinya, tidak ada sesuatu pun di dalamnya yang mengandung larangan terhadap wasiat setelah kematian. Oleh karena itu, melanjutkan hubungan suami istri tidak menunjukkan adanya penarikan kembali wasiat. Adapun jual beli, pada dasarnya mengandung penghilangan kepemilikan, dan setiap penjual telah memantapkan dirinya untuk menahan diri dari budak yang telah dijualnya. Maka jika ia menggaulinya, hal itu menunjukkan bahwa ia mengembalikannya kepada keadaan semula sebelum dijual.
فإن قيل أليس الظاهِرُ أن البائع إذا وطىء وله الخيار فوطؤُه مباحٌ قلنا فيه كلام ثم تقدير الإباحةِ فيه يخرج على قَصْدهِ الردَّ وأمَّا الوصيَّة فإنها تنشأ على استمرار الموصي على الانتفاع مادام حياً فهذا فرقُ ما بين البابين
Jika dikatakan, bukankah yang tampak adalah bahwa penjual apabila berhubungan (dengan budak) sementara ia masih memiliki hak khiyar, maka hubungannya itu diperbolehkan? Kami katakan, dalam hal ini ada pembahasan. Kemudian, anggapan kebolehan di dalamnya bergantung pada niatnya untuk mengembalikan (budak tersebut). Adapun wasiat, maka wasiat itu dibuat atas dasar keberlanjutan pemanfaatan oleh orang yang berwasiat selama ia masih hidup. Inilah perbedaan antara kedua permasalahan tersebut.
والعرض على البيع رجوعٌ عن الوصيَّة وفحوى كلام الأئمة القطعُ بأنه ليس اختياراً والسبب الفارق أن الوصيةَ ضعيفةٌ؛ من حيث إنه لم يُوجد في حياة الموصي إلا أحَدُ شِقي العقد والبيع وإن كان جائزاً فقد تم انعقادُه بشقَّيه وتحصيل القول فيهِ أن الشرع سوَّغ أن يتخلل بين الإيصاء والقبول الزمانُ الطويلُ وموتُ الموصي ثم إن جرى من الموصي ما يُشعر بمناقضة الوصية كان ذلكَ بمثابَةِ تخللِ زمانٍ طويل بين الإيجاب والقبول في البيع فبهذا السبب كان الرجوع في الوصيَّة أوسع باباً من الاختيار في البيع
Menawarkan barang untuk dijual merupakan bentuk penarikan kembali dari wasiat, dan inti dari perkataan para imam adalah bahwa hal itu bukanlah bentuk pilihan (ikhtiyar). Sebab yang membedakan adalah bahwa wasiat itu lemah; karena pada saat hidupnya pewasiat, hanya salah satu sisi akad yang ada, sedangkan jual beli, meskipun boleh, telah sempurna dengan kedua sisinya. Kesimpulan pembahasannya adalah bahwa syariat membolehkan adanya jeda waktu yang panjang antara pemberian wasiat dan penerimaan wasiat, serta kematian pewasiat. Kemudian, jika dari pewasiat terjadi sesuatu yang menunjukkan penentangan terhadap wasiat, maka hal itu dianggap seperti adanya jeda waktu yang panjang antara ijab dan kabul dalam jual beli. Oleh karena itu, penarikan kembali dalam wasiat lebih luas ruang lingkupnya dibandingkan dengan pilihan (ikhtiyar) dalam jual beli.
ونحن نذكر الآن أربعَ مراتبَ نجمع فيها قواعدَ المذهب
Sekarang kami akan menyebutkan empat tingkatan yang di dalamnya kami himpun kaidah-kaidah mazhab.
الأولى فيما يثبت على الفور كالرّد بالعيب فكل ما ينافي الفورَ وُيشعر بالتأخير فهوَ مُسقطٌ وسنذكر ما يليق به في موضعه
Yang pertama, dalam hal-hal yang harus dilakukan segera seperti pengembalian karena cacat, maka segala sesuatu yang bertentangan dengan keharusan segera dan menunjukkan adanya penundaan, hal itu menggugurkan hak tersebut. Kami akan menyebutkan hal-hal yang sesuai dengannya pada tempatnya.
والثانية الرجوعُ عن الوصيَّة وهذا يعتمدُ ما يُشعر بمناقضةِ مقصود التنفيذ والاستمرارِ على الوصيَّة
Yang kedua adalah pencabutan wasiat, dan hal ini bergantung pada sesuatu yang menunjukkan adanya pertentangan dengan maksud pelaksanaan dan keberlanjutan atas wasiat tersebut.
والثالثة الاختيارُ في زمان الخيار والأصل فيه ألا يحصل إلا بتصريحٍ أو تصرفٍ مزيلٍ للملكِ والوطء قياسُه ألا يكون اختياراً ولكنّ المذهب فيه ما قدَّمناه وتقريب تعليلهِ على أقصَى الإمكان أن الوطء لا يصدُر إلا ممن يؤثرُ استبقاء أو ردّاً ويبعد حَملُهُ على الاختيار وكذلكَ يَبعُد حمله على الهم بالاختيار وليس كالأمر بالبيع؛ فإنه يدل على الهم بالاختيار ولا يَدُل على جَزمِ الرأي فيه والهمُّ يقطعُ الوصيةَ لضعفها والوطء ليس همّاً بل لا يُقدم عليه إلا مُوطِّنٌ نفسَهُ على أمر نعم قد يكون الوطء فجرة من الواطىء ولكن من له الخيار لا يُحمل أمرُه على هذه الجهة كما أن الإعتاق قد يوجهه المرءُ على ملكِ غيره هازلاً ولا يُحمل الإعتاق في زمان الخيار إلا على الاختيار
Ketiga adalah memilih (melakukan pilihan) pada masa khiyār, dan pada dasarnya hal itu tidak terjadi kecuali dengan pernyataan tegas atau tindakan yang menghilangkan kepemilikan. Hubungan intim (jima‘) menurut qiyās seharusnya tidak dianggap sebagai bentuk memilih, namun pendapat yang dipegang adalah sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Penjelasan alasannya, sejauh mungkin, adalah bahwa hubungan intim tidak dilakukan kecuali oleh orang yang menginginkan untuk mempertahankan (akad) atau menolaknya, dan sulit untuk menganggapnya sebagai bentuk memilih. Demikian pula, sulit untuk menganggapnya sebagai niat memilih. Hal ini tidak seperti perintah untuk menjual, karena perintah tersebut menunjukkan adanya niat untuk memilih, namun tidak menunjukkan adanya ketetapan pendapat dalam hal itu. Niat (semata) dapat membatalkan wasiat karena lemahnya, sedangkan hubungan intim bukanlah sekadar niat, bahkan tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang benar-benar telah menetapkan dirinya untuk suatu urusan. Memang, terkadang hubungan intim dilakukan secara spontan oleh pelakunya, tetapi bagi orang yang memiliki hak khiyār, tindakannya tidak dapat dianggap demikian. Sebagaimana memerdekakan budak terkadang dilakukan seseorang atas kepemilikan orang lain secara main-main, namun memerdekakan budak pada masa khiyār tidak dapat dianggap kecuali sebagai bentuk memilih.
ولو وهبَ أحدُهما المبيعَ ولم يسلمه فالقياس عندي أنه لا يكون مختاراً؛ فإنه إنما يتم بالقبضِ والهبةُ مُشعرةٌ بالهمِّ بخلاف الوطء وفيه احتمال والاستخدامُ ليس اختياراً على القاعدة
Jika salah satu dari keduanya memberikan hibah atas barang yang dijual namun belum menyerahkannya, maka menurut qiyās menurutku, itu tidak dianggap sebagai bentuk memilih; karena hibah itu baru sempurna dengan penyerahan, dan hibah itu menunjukkan adanya niat, berbeda dengan hubungan suami istri, yang masih ada kemungkinan, dan penggunaan (barang) bukanlah bentuk memilih menurut kaidah.
وفي الإجارة والتزويج الاحتمالُ الظاهر
Dalam akad ijarah dan pernikahan, terdapat kemungkinan yang jelas.
ولو باعَ المبيعَ في زمان الخيار وشرط في البيع الخيارَ فإن قلنا لا يزول مِلكُ البائع فيقرب تنزيل هذا منزلة الهبةِ قبل القبض وإن قُلنا يزول الملك ففيه احتمالٌ أيضاً لإمكان الاستدراكِ فيه فكأنه هَم أن يبتَّ الخيارَ ولو وهبَ البائعُ من وَلدهِ وسَلّمَه فالوجه القطع بأنه اختيار؛ فإنّ ملك المتهب تامّ والرجوعُ في حكم ابتداء حق أثبته الشارع
Jika seseorang menjual barang pada masa khiyar dan mensyaratkan adanya khiyar dalam jual beli tersebut, maka jika kita berpendapat bahwa kepemilikan penjual tidak hilang, hal ini hampir sama dengan hibah sebelum barang diterima. Namun jika kita berpendapat bahwa kepemilikan telah berpindah, maka masih ada kemungkinan lain karena masih mungkin untuk menarik kembali (jual beli tersebut), sehingga seakan-akan ia berniat untuk menetapkan khiyar. Jika penjual memberikan hibah kepada anaknya dan telah menyerahkannya, maka pendapat yang kuat adalah bahwa itu merupakan pilihan (untuk melanjutkan jual beli); karena kepemilikan penerima hibah telah sempurna dan penarikan kembali hibah dianggap sebagai permulaan hak baru yang ditetapkan oleh syariat.
والمرتبةُ الرابعة حق الرجوع بعدَ تمام زوال الملكِ كرجوع الواهب والرجوع في عين المبيع عند إفلاس المشتري بالثمن والأصل فيه أن الرجوع يستدعي تصريحاً فإنه جَلْبُ ملك ابتداءً وقد ذكرت خلافاً في إعتاق من له الرجوع وأنه هل ينفذ متضمناً رجوعاً والوجه القطعُ بأن الواهبَ لو وطىء الجاريةَ الموهوبة لا يكون وطؤه رجوعاً ولا شك أن إقدامَهُ على الوطء محرَّم؛ فإن تلك الجاريةَ مباحةٌ للمتَّهب ويستحيل أن تحلَّ جاريةٌ لرجلينِ في حالةٍ واحدة
Tingkatan keempat adalah hak untuk kembali setelah kepemilikan sepenuhnya hilang, seperti kembalinya pemberi hibah (wahib) dan kembalinya barang yang dijual ketika pembeli bangkrut dalam pembayaran harga. Pada dasarnya, hak untuk kembali memerlukan pernyataan secara eksplisit, karena hal itu merupakan perolehan kepemilikan dari awal. Saya telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah memerdekakan budak bagi orang yang memiliki hak untuk kembali, apakah hal itu otomatis dianggap sebagai bentuk kembali atau tidak. Pendapat yang kuat adalah bahwa jika pemberi hibah (wahib) menyetubuhi budak perempuan yang telah dihibahkan, maka perbuatannya itu tidak dianggap sebagai bentuk kembali. Tidak diragukan lagi bahwa tindakannya tersebut adalah haram, karena budak perempuan itu telah menjadi halal bagi penerima hibah (mutahhib), dan mustahil seorang budak perempuan halal bagi dua orang laki-laki dalam satu waktu.
هذا بيان قواعد المذاهب فيما أردناه
Ini adalah penjelasan kaidah-kaidah mazhab mengenai apa yang kami maksudkan.
فصل
Bab
من ثبت له الخيار بالشرط لم يقف نفوذُ تصرفه على حضور صاحبه
Siapa yang memiliki hak khiyar karena syarat, maka keabsahan tindakannya tidak bergantung pada kehadiran pihak lainnya.
وإن أجاز نفذت الإجازةُ في غيبة صاحبهِ نفوذَها في حضرته وكذلكَ إذا فسخَ ولو أعتقَ المشتري أو باع في حضرة البائع فسكتَ البائع ولم يُبدِ نكيراً لم يكن سكوته إجازةً منه للعقد والقول فيما فعله المشتري نفوذاً ورداً كما تقدَّم استقصاؤه وإن وطىء المشتري الجاريةَ المشتراة بحضرة البائع فسكت فهل يكون السكوت منه إجازةً فعلى وجهين ذكرهما بعض أصحاب القَفّال وصاحب التقريب أحدهما أنه لا يكون إجازة بمثابة سكوتهِ على البيع والعتق والثاني أنه إجازة؛ فإن المتبعَ في أمر الوطء ما ذكرناه من إشعارِه بتصميم العزم والسكوتُ على الوطء في هذا المعنى كالوطء
Jika ia mengizinkan, maka izin tersebut berlaku saat pemiliknya tidak hadir sebagaimana berlakunya saat ia hadir. Demikian pula jika ia membatalkan. Jika pembeli memerdekakan atau menjual (barang) di hadapan penjual lalu penjual diam dan tidak menunjukkan penolakan, maka diamnya itu tidak dianggap sebagai persetujuan terhadap akad tersebut. Adapun mengenai tindakan pembeli, baik dianggap sah maupun ditolak, sebagaimana telah dijelaskan secara rinci sebelumnya. Jika pembeli menggauli budak perempuan yang dibelinya di hadapan penjual lalu penjual diam, apakah diamnya itu dianggap sebagai persetujuan? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh sebagian ulama pengikut al-Qaffal dan penulis at-Taqrib: pertama, diam itu tidak dianggap sebagai persetujuan, sebagaimana diamnya terhadap penjualan dan pemerdekaan; kedua, diam itu dianggap sebagai persetujuan, karena yang menjadi tolok ukur dalam masalah hubungan suami istri adalah apa yang telah kami sebutkan tentang adanya indikasi tekad yang kuat, dan diam terhadap perbuatan tersebut dalam konteks ini sama dengan melakukannya.
فصل
Bab
في التلف
Tentang kerusakan
لم يبقَ من أصول أحكام الخيار إلا تفصيلُ القول في تلف المعقود عليه في زمان الخيارِ فنقول إذا تلفَ المبيع في زمان الخيار فلا يخلو إما أن يتلف في يد البائع أو في يدِ المشتري فإذا تلف في يد البائع فلا شكَّ في انفساخ العقد
Tidak tersisa lagi dari pokok-pokok hukum khiyār kecuali penjelasan rinci mengenai kerusakan barang yang menjadi objek akad pada masa khiyār. Maka kami katakan, jika barang yang dijual rusak pada masa khiyār, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: barang itu rusak di tangan penjual atau di tangan pembeli. Jika rusak di tangan penjual, maka tidak diragukan lagi bahwa akad menjadi batal.
وإن كان سُلّم إلى المشتري فتلفَ في يده فنذكر طريقتين للأئمة إحداهما لصاحب التقريب وأصحاب القفال وهي المرضيّة قالوا نخرّج المذهبَ على أقوال الملك فنقول إن قلنا الملكُ للبائع فينفسخ العقدُ وإن جرى التلف في يدِ المشتري؛ لأنَّا إذا كنا نحكُم بانفساخ العقد بتلف المبيع في يد البائع بعد لزوم البيع لبقاء عُلقة من العقدِ؛ فلأن نحكم بذلك وقد تلف المبيع ملكاً للبائع أولى
Jika barang telah diserahkan kepada pembeli lalu rusak di tangannya, maka kami sebutkan dua metode para imam. Salah satunya adalah metode pemilik kitab at-Taqrib dan para pengikut al-Qaffal, yaitu metode yang dianggap paling baik. Mereka berkata: Kami mengaitkan mazhab ini dengan pendapat tentang kepemilikan. Maka kami katakan: Jika kita berpendapat bahwa kepemilikan masih pada penjual, maka akad batal, meskipun kerusakan terjadi di tangan pembeli. Karena jika kita memutuskan batalnya akad akibat rusaknya barang yang dijual di tangan penjual setelah akad menjadi mengikat, karena masih adanya keterikatan akad, maka memutuskan batalnya akad ketika barang yang rusak itu masih menjadi milik penjual tentu lebih utama.
وإن حكمنا بأن الملكَ للمشتري وقد تلف في يَدهِ فهل نقضي بانفساخِ العقد فعلى وجهين ذكرهما صاحب التقريب أحدهما لا ينفسخ وهو الذي قطع به أصحابُ القفال؛ لأنه قد تلف في ملك المشتري ويدهِ والثاني أنه ينفسخ لبقاء عُلقة البائع فيه وملكُ المشتري قبل القبض بعد لزوم العقد أثبتُ من ملكهِ في زمان الخيار
Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan berada pada pembeli dan barang tersebut telah rusak di tangannya, maka apakah kita menetapkan pembatalan akad? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb: pertama, akad tidak batal, dan inilah pendapat yang dipastikan oleh para pengikut al-Qaffāl; karena barang tersebut telah rusak dalam kepemilikan dan di tangan pembeli. Kedua, akad batal karena masih adanya keterikatan penjual pada barang tersebut, dan kepemilikan pembeli sebelum menerima barang, setelah akad menjadi mengikat, lebih kuat daripada kepemilikannya pada masa khiyār.
التفريع
Pengembangan cabang hukum
إن فرعنا على أن المِلك للبائع وقضينا بانفساخ العقدِ فالمشتري يستردّ الثمن ويغرَم للبائع قيمة المبيع كالمستام فإنا إذا ضمَّناهُ لتوقع العقد فهذا الذي نحن فيه بالضمان أولى وإن فرَعنا على أن الملك للمشتري
Jika kita berpendapat bahwa kepemilikan tetap pada penjual dan kita memutuskan bahwa akad batal, maka pembeli berhak meminta kembali harga (yang telah dibayarkan) dan ia wajib membayar kepada penjual nilai barang yang dijual, sebagaimana halnya dengan musta‘m. Jika kita mewajibkan pembayaran tersebut karena adanya akad, maka dalam kasus yang sedang kita bahas ini, kewajiban pembayaran (dalam bentuk) dhamān (jaminan) lebih utama. Namun, jika kita berpendapat bahwa kepemilikan telah berpindah kepada pembeli…
وحكمنا بانفساخ العقد فالجواب كما مضى وإن حكمنا بأن العقد لا ينفسخ فهل يبقى الخيار أم ينقطع
Dan jika kita memutuskan bahwa akad batal, maka jawabannya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun jika kita memutuskan bahwa akad tidak batal, maka apakah hak khiyar tetap ada atau terputus?
التفصيل فيه أنه إن كان اشترى عبداً بثوب معين ثم تلف العبد في يد مشتريهِ وبقي الثَّوبُ في يد البائع فالبائع على حقه من الخيار؛ إذ لو اطلع على عيب بالثوب وقد تلف مقابله لردَّ الثوبَ فكذلك هاهنا وأما المشتري لو أرادَ الفسخَ أو كان اشترى عبداً بثمن في الذمّة فأراد البائعُ الفسخَ؛ ففي المسألة وجهان أحدهُما أن الخيار قد انقطع؛ لأنه كان متعلقاً بالمبيع وقد فات فأشبه ما لو اطلع المشتري على عيب بالعبد بعدما مات فإن أراد ردَّ قيمته واسترداد الثمن فليس له ذلك والوجه الثاني أن الخيار قائم؛ فإن متعلَّقه العقد والعقدُ باقٍ فأشبه ذلك التحالفَ بعد تلف المعقود عليه ومذهبُنا أن المتبايعين إذا اختَلَفا في صفة العقد بعد تلف المبيع في يد المشتري تحالفَا وتفاسخا فإن حكمنا بانقطاعِ الخيار فقد لزم العقد واستقر الثمن وإن حكمنا بأن الخيار باق؛ فإن أجيز العقد فالجواب كما مضى في انقطاع الخيار وإن فسخ العقدُ استرد المشتري الثمن وغرِم قيمةَ المبيع للبائع
Rinciannya adalah, jika seseorang membeli seorang budak dengan kain tertentu, kemudian budak itu rusak di tangan pembelinya sementara kain masih ada di tangan penjual, maka penjual tetap memiliki hak khiyar; sebab jika penjual menemukan cacat pada kain dan barang yang menjadi gantinya telah rusak, ia dapat mengembalikan kain tersebut, demikian pula dalam kasus ini. Adapun pembeli, jika ia ingin membatalkan akad, atau jika ia membeli budak dengan harga yang menjadi utang (di dalam tanggungan), lalu penjual ingin membatalkan akad, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya, hak khiyar telah gugur karena hak tersebut terkait dengan barang yang dijual dan barang itu telah hilang, sehingga serupa dengan kasus ketika pembeli menemukan cacat pada budak setelah budak itu meninggal, maka jika ia ingin mengembalikan nilainya dan mengambil kembali harga yang telah dibayarkan, ia tidak berhak melakukannya. Pendapat kedua, hak khiyar tetap ada, karena yang menjadi objeknya adalah akad dan akad masih ada, sehingga hal ini serupa dengan kasus saling bersumpah setelah barang yang diperjualbelikan rusak. Menurut mazhab kami, jika dua orang yang berjual beli berselisih tentang sifat akad setelah barang yang dijual rusak di tangan pembeli, maka keduanya saling bersumpah dan membatalkan akad. Jika kami memutuskan bahwa hak khiyar telah gugur, maka akad menjadi tetap dan harga menjadi pasti. Jika kami memutuskan bahwa hak khiyar masih ada, maka jika akad disetujui, jawabannya sama seperti pada kasus gugurnya hak khiyar, dan jika akad dibatalkan, pembeli mengambil kembali harga dan membayar nilai barang yang dijual kepada penjual.
قالَ الصيدلاني إذا قبض المشتري المبيعَ في زمان الخيارِ ثم أودعه عند البائع فتلف في يده فهو كما لو تلف في يدِ المشتري فإن حكمنا بأن الملك للمشتري وقلنا لا ينفسخ العقد فعلى المشتري الثمن وإن قلنا بأن الملك للبائعِ وقُلنا ينفسخ العقد لو تلف في يد المشتري فنقول الآن ينفسخ أيضاً والثمن مَردودٌ على المشتري ثم قَالَ وعلى المشتري القيمةُ للبائع؛ فإن يد البائع يدُ أمانةٍ وهي بمثابة يد المشتري ولو تلف في يد المشتري لالتزم القيمةَ فكذلك إذا تلف في يد البائع؛ فإن يده بمثابة يد المشتري
Ash-Shaydalani berkata: Jika pembeli telah menerima barang yang dibeli pada masa khiyar, kemudian menitipkannya kepada penjual, lalu barang itu rusak di tangan penjual, maka hukumnya seperti jika barang itu rusak di tangan pembeli. Jika kita berpendapat bahwa kepemilikan ada pada pembeli dan mengatakan bahwa akad tidak batal, maka pembeli tetap wajib membayar harga. Namun jika kita berpendapat bahwa kepemilikan ada pada penjual dan mengatakan bahwa akad batal jika barang rusak di tangan pembeli, maka sekarang pun akad batal dan harga dikembalikan kepada pembeli. Kemudian ia berkata: Pembeli wajib membayar nilai barang kepada penjual; karena tangan penjual adalah tangan amanah, yang kedudukannya seperti tangan pembeli. Jika barang rusak di tangan pembeli, ia wajib membayar nilainya, maka demikian pula jika rusak di tangan penjual; karena tangannya sama kedudukannya dengan tangan pembeli.
قلنا هذا الذي ذكرهُ في إيجاب ضمان القيمة على المشتري والتفريع على أن الملك للبائع محتمل؛ فإن العين المملوكة إذا عادت إلى يد صاحبها وتلفت فيظهر أن يقال لا ضمان على المشتري فما ذكرهُ الصيدلاني أوجه
Kami katakan bahwa apa yang disebutkannya mengenai kewajiban menanggung nilai (barang) atas pembeli dan penjelasan bahwa kepemilikan tetap pada penjual adalah sesuatu yang masih mungkin; sebab jika barang yang dimiliki kembali ke tangan pemiliknya lalu rusak, maka tampak jelas untuk dikatakan bahwa tidak ada tanggungan (ganti rugi) atas pembeli. Oleh karena itu, pendapat yang dikemukakan oleh As-Saidalani lebih kuat.
ولو فَرعّ مفرعٌ على أن الملكَ للمشتري وارتضى أن البيع ينفسخ إذا تلف المبيع في زمان الخيار في يد المشتري فحينئذٍ إذا تسلم المشتري ثم أودعه عند البائع وتلف فالقيمة تجب على المشتري؛ فإنه تلف ملكه مضموناً في يدٍ أمينة
Jika seseorang berpendapat bahwa kepemilikan barang adalah milik pembeli dan menerima bahwa akad jual beli batal apabila barang yang dijual rusak pada masa khiyār di tangan pembeli, maka apabila pembeli telah menerima barang tersebut lalu menitipkannya kepada penjual dan barang itu rusak, maka nilai barang wajib ditanggung oleh pembeli; karena barang miliknya rusak dalam jaminan di tangan orang yang terpercaya.
هذا بيان طريقة واحدةٍ على وجهها وذكر العراقيون وبعضُ أصحاب القفال أن المبيع إذا تلفَ في يد المشتري في زمان الخيار لم ينفسخ العقدُ أصلاً وإن فرَّعنا على أن الملكَ للبائع
Ini adalah penjelasan tentang satu metode secara lengkap, dan orang-orang Irak serta sebagian pengikut al-Qaffāl menyebutkan bahwa jika barang yang dijual rusak di tangan pembeli pada masa khiyār, maka akad tidak batal sama sekali, meskipun kita berpendapat bahwa kepemilikan masih berada pada penjual.
ثم فرَّعوا تفريعاً بديعاً فقالوا إذا لم ينفسخ العقد ولم يفسخ أيضاًً حتى انقضى زمانُ الخيار فعلى البائع رَدُّ الثمن وعلى المشتري غرامةُ القيمة وعللوا بأن المبيع تلف ملكاً للبائع والمشتري لا يملكهُ في زمان الخيار ولو بقَّينا الثمنَ على ملكِ البائع لكان محالاً فإنه إنما يملكُ الثمن إذا ملكَ المشتري المثمن ولما انقضى الخيار كان المثمن تالفاً لا يتصور تقرُّرُ الملك فيه فلما عسر جريانُ ملك المشتري في المبيع اقتضى ذلك ألا يملكَ البائعُ الثمن وهذا الذي ذكروه تخليطٌ ظاهر
Kemudian mereka mengembangkan cabang hukum yang menakjubkan, yaitu mereka berkata: Jika akad tidak dibatalkan dan juga tidak dibatalkan hingga masa khiyār berakhir, maka penjual wajib mengembalikan harga (barang), dan pembeli wajib membayar ganti rugi senilai barang tersebut. Mereka beralasan bahwa barang yang dijual rusak dalam keadaan masih menjadi milik penjual, dan pembeli tidak memilikinya selama masa khiyār. Jika harga barang tetap menjadi milik penjual, itu adalah hal yang mustahil, karena penjual hanya berhak atas harga barang jika pembeli telah memiliki barang tersebut. Ketika masa khiyār berakhir, barang yang dijual telah rusak sehingga tidak mungkin kepemilikan atasnya tetap ada. Maka, ketika sulit untuk menetapkan kepemilikan pembeli atas barang yang dijual, hal itu mengharuskan penjual juga tidak memiliki harga barang. Apa yang mereka sebutkan ini adalah kekeliruan yang nyata.
لكنّي أتصرّف فيه ثم أنبّه على منشأ التخليط وطريق قطعه فأقول وجبَ أن نفرع هذا أولاً على أن الخيار هَل ينقطع بتلف المبيع في زمان الخيار فإن قلنا إنه ينقطع وقلنا لا ينفسخ البيع على طريقهم لجريان القبض وإن قلنا الملك للبائع فيتّجه على ذلك أن نقول يستقرّ العقد وينقلب المبيع إلى ملك المشتري قبيل التلف تبيّناً ؛ فإنّ سبب استمرار ملك البائع الخيارُ فإذا كان التلف يقطع الخيار فيجوز أن يؤثر في قلب المبيع إلى المشتري كما نقول إذا تلف المبيع بعد لزوم العقد في يد البائع فينقلب إلى ملك البائع قُبيل التلف فعلى هذا لا ضمان على المشتري ويستقرّ ملكُ البائع في الثمن
Namun, saya akan membahasnya terlebih dahulu, lalu menunjukkan asal mula kekeliruan dan cara mengatasinya. Saya katakan: Hal ini harus dirinci terlebih dahulu pada persoalan apakah khiyār terputus dengan rusaknya barang yang dijual pada masa khiyār. Jika kita mengatakan bahwa khiyār terputus dan kita juga mengatakan bahwa akad jual beli tidak batal menurut pendapat mereka karena telah terjadi qabdh (penguasaan barang), dan jika kita mengatakan bahwa kepemilikan masih di tangan penjual, maka dapat diarahkan bahwa akad menjadi tetap dan barang yang dijual beralih menjadi milik pembeli sesaat sebelum rusak, sebagai penjelasan; sebab kelanjutan kepemilikan penjual adalah karena adanya khiyār. Jika kerusakan barang memutus khiyār, maka boleh jadi hal itu juga berpengaruh dalam membalik kepemilikan barang kepada pembeli, sebagaimana kita katakan: Jika barang yang dijual rusak setelah akad menjadi tetap di tangan penjual, maka barang itu beralih menjadi milik penjual sesaat sebelum rusak. Berdasarkan hal ini, tidak ada tanggungan (jaminan) atas pembeli dan kepemilikan penjual atas harga menjadi tetap.
وإن قلنا لا ينقطع الخيارُ وقَدْ رأَوْا أن البيع لا ينفسخ فمن هذا ثار الخبط كما ذكرناه
Dan jika kita mengatakan bahwa khiyār tidak terputus, sementara mereka berpendapat bahwa jual beli tidak batal, maka dari sinilah timbul kekacauan sebagaimana telah kami sebutkan.
وكان من حقّهم أن يحكموا بانفساخ العقد ويعللوا بما ذكروه من أنه لا يتصوَّر إجراء الملك في الثمن من غير جريانه في مقابِله وقد عسر جريَانُه في مقابله
Mereka berhak memutuskan batalnya akad dan memberikan alasan sebagaimana yang telah mereka sebutkan, yaitu bahwa tidak mungkin terjadinya kepemilikan pada harga tanpa terjadinya kepemilikan pada barang yang menjadi imbalannya, sedangkan terjadinya kepemilikan pada barang imbalan tersebut telah sulit terjadi.
وهذا التعليل حسن ولكن تعليل الانفساخ أظهر فيجب القطع بالانفساخ على قولنا الملك في المبيع للبائع في زمان الخيار
Penjelasan ini memang baik, namun penjelasan tentang batalnya akad lebih jelas, sehingga harus dipastikan batalnya akad menurut pendapat kami bahwa kepemilikan atas barang yang dijual tetap berada pada penjual selama masa khiyār.
ثم إذا حكمنا بانفساخ العقد على قولنا الملك للبائع وذَكرنا جوابين على القول الآخر فمما أجريناه في التفريع إلزام المشتري القيمةَ فإن قيل أيةُ قيمةٍ تعتبر قلنا إن فرَّعنا على أن الملك للبائع فالقول في القيمة على هذا القول كالقول في قيمة المستعار والمأخوذ على سبيل السَّوْم وإن قلنا المِلكُ للمشتري ورأينا أن العقد ينفسخ فمن ضرورة ذلك الحكم بانقلاب المبيع إلى ملك البائع ثم التلف يجري في ملكه فهاهُنا نقطع باعتبار قيمته وقت التلف؛ فإن المبيع كان قبلَه مملوكاً للمشتري فاستحالَ اعتبار القيمة عليه من وقت الملكِ فيه له فهذا ما أردناه
Kemudian, jika kita memutuskan bahwa akad batal menurut pendapat bahwa kepemilikan kembali kepada penjual, dan kami telah menyebutkan dua jawaban menurut pendapat yang lain, maka di antara rincian yang kami uraikan adalah mewajibkan pembeli untuk membayar nilai barang. Jika ada yang bertanya, nilai yang mana yang harus dipertimbangkan? Kami katakan, jika kami merinci berdasarkan bahwa kepemilikan kembali kepada penjual, maka pembahasan tentang nilai dalam pendapat ini sama seperti pembahasan tentang nilai barang pinjaman atau barang yang diambil untuk dicoba. Namun jika kami katakan bahwa kepemilikan ada pada pembeli dan kami melihat bahwa akad batal, maka konsekuensinya adalah barang yang dijual kembali menjadi milik penjual, lalu kerusakan terjadi dalam kepemilikannya. Maka di sini kami menetapkan bahwa nilai yang dipertimbangkan adalah pada saat terjadinya kerusakan; karena sebelumnya barang tersebut adalah milik pembeli, sehingga tidak mungkin mempertimbangkan nilainya sejak saat kepemilikan berada padanya. Inilah yang kami maksudkan.
فرع
Cabang
البائع إذا استولد الجارية ولا خيار له فإن قلنا الملكُ له وقضينا بأن الاستيلادَ يثبت؛ فإن كانت الجارية في يد البائع انفسخ العقدُ وسنذكر قولين في أن البائع إذا أتلفَ المبيعَ قبلَ القبض بعدَ لزوم المِلكِ للمشتري فهل يكون هذا كتلف المبيع بآفةٍ سماويَّةٍ وذاك فيه إذا استقرَّ المِلك للمشتري أمّا هاهنا فقد أتلف ملكَ نفسهِ قبل زوال يده فالوجه القطع بانفساخ العقد وإن كان سَلّمها إلى المشتري واستولدها في يده وقلنا المِلكُ للبائع فالوجه في الطريقة المرضيَّة الحكم بانفساخ العقد أيضاًً؛ فانا إذا فرّعنا على أن الملك للبائع فلا أثر لما جَرى من التسليم في منع انفساخ العقد على قياس الطريقة المرضيَّة
Apabila penjual menghamili budak perempuan dan ia tidak memiliki hak khiyar, maka jika kita katakan kepemilikan adalah miliknya dan kita memutuskan bahwa istilad (menghamili budak) itu sah, maka jika budak perempuan itu masih di tangan penjual, akad pun batal. Kami akan menyebutkan dua pendapat mengenai kasus penjual yang merusak barang dagangan sebelum penyerahan setelah kepemilikan barang itu tetap bagi pembeli: apakah hal ini sama dengan kerusakan barang karena sebab alamiah, dan itu terjadi jika kepemilikan telah tetap bagi pembeli. Adapun dalam kasus ini, penjual telah merusak miliknya sendiri sebelum barang itu keluar dari tangannya, maka pendapat yang kuat adalah akad batal. Jika penjual telah menyerahkan budak itu kepada pembeli, lalu ia menghamilinya saat budak itu di tangan pembeli, dan kita katakan kepemilikan masih milik penjual, maka menurut metode yang paling tepat, hukum akad juga batal; sebab jika kita berpendapat bahwa kepemilikan masih milik penjual, maka penyerahan yang telah terjadi tidak berpengaruh dalam mencegah pembatalan akad menurut metode yang paling tepat.
فرع
Cabang
إذا اشترى رجل عبداً بجارية وكان الخيار للمشتري وحده فلو أعتق المشتري الجاريةَ لكان ذلك فسخاً منه للعقد ولو أعتق العبد كان إمضاءً وتنفيذاً للعقد فلو أنه أعتقهما جميعاً؛ فلا ينفذ عتقه فيهما جميعاً؛ فإن تنفيذ العتق فيهما يتضمن فسخاً وإجازة وهما نقيضان فلا سبيل إلى جمعهما ولكن اختلف أئمَّتُنا فمنهم من قالَ ينفذُ العتقُ في الجارية لأن ذاك يتضمنُ فسخاً والفسخ أقوى ومنهم من قالَ ينفذ عتقُه في العبدِ وهو اختيار ابن الحداد والقياس وذلك لأن عتقَهُ في العبد تنفيذٌ للعقد
Jika seseorang membeli seorang budak laki-laki dengan seorang budak perempuan, dan hak khiyar hanya dimiliki oleh pembeli saja, maka jika pembeli memerdekakan budak perempuan tersebut, hal itu berarti ia membatalkan akad. Namun jika ia memerdekakan budak laki-laki, maka itu berarti ia menetapkan dan melaksanakan akad. Jika ia memerdekakan keduanya sekaligus, maka pemerdekaan itu tidak sah untuk keduanya, karena pelaksanaan pemerdekaan atas keduanya mengandung pembatalan dan pengesahan sekaligus, sedangkan keduanya adalah dua hal yang saling bertentangan sehingga tidak mungkin digabungkan. Namun, para imam kami berbeda pendapat; sebagian mereka berpendapat bahwa pemerdekaan sah untuk budak perempuan karena hal itu mengandung pembatalan, dan pembatalan lebih kuat. Sebagian lain berpendapat bahwa pemerdekaan sah untuk budak laki-laki, dan ini adalah pilihan Ibn al-Haddad serta sesuai dengan qiyās, karena pemerdekaan budak laki-laki berarti pelaksanaan akad.
وإذا فرَّعنا على الأصح وهو أن الملك في المبيع للمشتري فلا يحتاج في تنفيذ عتقه إلى تقدير واسطةٍ بل نقول أعتق ملكَه فنفذ وهذا فرَّعه ابن الحداد على أن الملكَ في المبيع للمشتري فيجتمع ملكُه في المبيع وسُلطان الفسخ في الثمن ومنه نشأ الخلاف
Jika kita membangun pendapat berdasarkan yang paling sahih, yaitu bahwa kepemilikan atas barang yang dijual adalah milik pembeli, maka tidak perlu memperkirakan adanya perantara dalam pelaksanaan pembebasan budak, melainkan kita katakan bahwa ia membebaskan miliknya, maka pembebasan itu sah. Inilah yang dirumuskan oleh Ibn al-Haddad, yaitu bahwa kepemilikan atas barang yang dijual adalah milik pembeli, sehingga berkumpullah kepemilikan atas barang yang dijual dan hak pembatalan pada harga, dan dari sinilah timbul perbedaan pendapat.
قال الشيخ أبو علي يتَجهُ عندي أن أقول لا ينفذ عتقُه في واحد منهما؛ فليس عتقه في أحدهما أولى من الثاني وهو ينفرد بكل واحدٍ منهما ولا سبيل إلى تنفيذهما فالوجه ردّهما بالتدافع كإفسادِنا النكاحَ الوارد على الأختين
Syekh Abu Ali berkata, menurut pendapat saya, seharusnya saya katakan bahwa pembebasan budak yang dilakukan tidak sah pada salah satu dari keduanya; sebab tidak ada alasan yang membuat pembebasan pada salah satunya lebih utama daripada yang lain, sementara ia sendiri yang melakukan pembebasan pada masing-masing dari keduanya, dan tidak mungkin untuk melaksanakan keduanya sekaligus. Maka, yang tepat adalah mengembalikan keduanya karena saling menolak, sebagaimana kita membatalkan akad nikah yang dilakukan terhadap dua saudari sekaligus.
والذي أراه أنّا إذا حكمنا بأن الملكَ في المبيع للبائع فينفذ عتقُ المشتري قطعاً في الجارية؛ لأن الثمن على هذا القول ملكُ المشتري فقد اجتمع في الجارية ملكُه ونفوذ الفسخ وما ذكره الشيخ أبو علي ينقدح هاهُنا؛ فإن معتمدَهُ تصوّر الانفراد في كل واحدٍ من العتقين
Menurut pendapat yang saya anggap benar, apabila kita memutuskan bahwa kepemilikan atas barang yang dijual tetap berada pada penjual, maka pembebasan budak perempuan yang dilakukan oleh pembeli pasti sah; karena harga pada pendapat ini menjadi milik pembeli, sehingga dalam budak perempuan tersebut berkumpul antara kepemilikan pembeli dan berlakunya pembatalan. Apa yang disebutkan oleh Syaikh Abu ‘Ali juga mungkin terjadi di sini; karena dasar pendapat beliau adalah kemungkinan terjadinya kemandirian pada masing-masing dari dua pembebasan tersebut.
فرع
Cabang
إذا شرط المتعاقدان خيار يومين جاز فلو زادا في اليومين الخيارَ يوم الثالث فهذا يخرج على خلافٍ سنذكرهُ في أن الإبراء أو الزيادة في الثمن والمثمَّن هل يلحقان العقد في زمان الخيار وهذا يأتي مشروحاً إن شاء الله تعالى فإن قلنا يتصوَّر إلحاق الزيادة في الثمن والمثمن فزيادة الخيار تثبت كما لو شُرطت في العقد وإن قلنا لا تلحق الزوائد فالشرط في زيادة الخيار ساقط والعقد بحاله
Jika kedua pihak yang berakad mensyaratkan adanya khiyar selama dua hari, maka hal itu diperbolehkan. Namun, jika mereka menambah masa khiyar pada hari ketiga setelah dua hari tersebut, maka hal ini berkaitan dengan perbedaan pendapat yang akan kami sebutkan mengenai apakah pembebasan (ibra’) atau penambahan pada harga dan barang yang diperjualbelikan dapat mengikuti akad selama masa khiyar. Hal ini akan dijelaskan secara rinci, insya Allah Ta‘ala. Jika kita berpendapat bahwa penambahan pada harga dan barang dapat diikutkan, maka penambahan masa khiyar juga sah sebagaimana jika disyaratkan dalam akad. Namun jika kita berpendapat bahwa tambahan-tambahan tersebut tidak dapat diikutkan, maka syarat penambahan masa khiyar menjadi gugur dan akad tetap sebagaimana adanya.
قال الشيخ أبو علي الزوائد عند أبي زيد تلحق في مجلس العَقدِ ولا تلحق في زمان الخيار وهذا مما انفرد به ولا يظهر فرقٌ بين الخيارين
Syekh Abu Ali berkata: Tambahan-tambahan menurut Abu Zaid dapat disusulkan dalam majelis akad, namun tidak dapat disusulkan pada masa khiyar. Ini adalah pendapat yang ia khususkan sendiri, dan tidak tampak adanya perbedaan antara kedua khiyar tersebut.
فرع
Cabang
إذا اشترى عبدين على أنه بالخيارِ في أحدهما فالعقد باطلٌ؛ فإن متعلّق الخيار مجهول فإن قال على أنِّي بالخيار في هذا العبد فالصفقةُ قد جمعت بيع خيار في عبدٍ وبيعاً لا خيار فيهِ في عبد فيخرج على قولي تفريق الصفقة
Jika seseorang membeli dua budak dengan syarat ia berhak memilih salah satunya, maka akadnya batal; karena objek khiyar (hak memilih) tidak jelas. Jika ia berkata bahwa ia berhak memilih pada budak yang ini, maka transaksi tersebut menggabungkan antara jual beli dengan khiyar pada satu budak dan jual beli tanpa khiyar pada budak yang lain, sehingga hal ini termasuk dalam permasalahan tafrīq ash-shafqah (memisahkan transaksi).
فرع
Cabang
شذَّ من تفريع بيع الغائب فرأيت تداركَه في آخر هذا الباب
Ada cabang pembahasan yang menyimpang terkait jual beli barang yang tidak hadir, maka aku melihat perlunya membahasnya di akhir bab ini.
قد ذكرنا أنه إذا رأى شيئاً ثم اشتراه وكان المبيع لا يتغيَّر غالباً في مثل تلك المدة ولكن اتفق تغيُّره فللمشتري الخيار وقد استقصينا ذلك فلو قالَ المشتري هذا المبيع متغيرٌ عما رأيته؛ فلي الخيار وقال البائع هو على ما كان عليه قالَ الصيدلاني قال صاحب التقربب القول قول البائع؛ فإنه يبغي بقولهِ المحتمل تقرير العقد فصار كما لو اختلف البائع والمشتري في عيبٍ فادَّعى البائع أنه حَدَث في يد المشتري فالقولُ قول البائع قال الصيدلاني القياس أن القولَ قول المشتري في مسألة الرؤية؛ فإن البائع يدَّعي على المشتري أنه اطلع على المبيع على هذه الصفة وهو ينكر اطلاع نفسه فكان هذا بمثابة ما لو قال البائع للمشتري هذا العيب قديم ولكنك قد اطلعتَ عليه وقال المشتري ما اطلعتُ عليه فالقول قول المشتري
Telah kami sebutkan bahwa jika seseorang melihat suatu barang, kemudian membelinya, dan barang yang dijual itu pada umumnya tidak berubah dalam jangka waktu seperti itu, namun ternyata terjadi perubahan, maka pembeli memiliki hak khiyar. Kami telah membahas hal ini secara rinci. Jika pembeli berkata, “Barang ini telah berubah dari yang aku lihat sebelumnya; maka aku berhak memilih (khiyar),” sedangkan penjual berkata, “Barang ini masih seperti semula,” maka menurut Ash-Shaydalani, sebagaimana dikatakan oleh penulis kitab At-Taqrib, pendapat yang dipegang adalah pendapat penjual; karena dengan pernyataannya yang memungkinkan itu, ia menegaskan akad, sehingga keadaannya seperti ketika penjual dan pembeli berselisih tentang adanya cacat, lalu penjual mengklaim bahwa cacat itu terjadi di tangan pembeli, maka pendapat penjual yang dipegang. Ash-Shaydalani berkata, qiyās-nya adalah bahwa pendapat pembeli yang dipegang dalam masalah ru’yah (melihat barang); karena penjual mengklaim bahwa pembeli telah melihat barang dalam keadaan seperti itu, sedangkan pembeli mengingkari bahwa ia telah melihatnya, sehingga ini seperti kasus ketika penjual berkata kepada pembeli, “Cacat ini sudah lama ada, tetapi kamu telah mengetahuinya,” dan pembeli berkata, “Aku belum pernah mengetahuinya,” maka pendapat pembeli yang dipegang.
Bab Riba
وما لا يجُوزُ بَعضُه ببَعض مُتَفاضِلاً ولاَ مُؤجَّلاً والصَرف
Dan apa yang tidak boleh dipertukarkan sebagian dengan sebagian lainnya secara tidak setara maupun secara tangguh, serta sharf (pertukaran mata uang).
قال الشافعي أخبرنا عبد الوهَّاب الحديث
Asy-Syafi‘i berkata: Telah memberitakan kepada kami ‘Abd al-Wahhab hadis ini.
قد نصّ الله تعالى على تحريم الربا وتوعّد عليه ولكن ذَكَرَ الربا مجملاً في القرآن والتفسيرُ مُحالٌ على بيان رسول الله صلى الله عليه وسلم فالمعتمدُ في الباب الخبرُ وقد روى الشافعي بإسنادهِ عن مسلم بن يسار ورجل آخر عن عبادةَ بنِ الصامت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا تبيعوا الورِقَ بالورِق ولا الذهبَ بالذهبِ ولا البُرَّ بالبُرّ ولا الشعيرَ بالشعير ولا التمرَ بالتمر ولا الملح بالملح إلا سواء بسواء عيناً بعين يداً بيدٍ ولكن بيعوا الورِقَ بالذهب والذهبَ بالورق والبر بالشعير والشعيرَ بالبُرّ والملح بالتمر والتمر بالملح كيف شئتم يداً بيد
Allah Ta‘ala telah menegaskan keharaman riba dan mengancam pelakunya, namun Allah menyebutkan riba secara global dalam Al-Qur’an, dan penjelasannya dikembalikan kepada penjelasan Rasulullah saw. Maka yang dijadikan sandaran dalam masalah ini adalah hadis. Imam Syafi‘i meriwayatkan dengan sanadnya dari Muslim bin Yasar dan seorang laki-laki lain dari ‘Ubadah bin Shamit dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Janganlah kalian menjual perak dengan perak, emas dengan emas, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam kecuali sama dengan sama, tunai dengan tunai, tangan dengan tangan. Namun juallah perak dengan emas, emas dengan perak, gandum dengan jelai, jelai dengan gandum, garam dengan kurma, dan kurma dengan garam sebagaimana kalian kehendaki, asalkan tunai dengan tunai, tangan dengan tangan.”
فنقول نصَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم على تحريم الرِّبا في ستة أشياء وهي الدراهم والدنانير والبر والشعير والتمر والملح واضطربت مذاهب العلماء في تعدّي مورد النصّ ولا يليق التعرُّضُ للاختلاف بهذا الكتاب المقصور على بيان مذهب الشافعي وأصحابه فالوجه الاقتصار على هذا المذهب
Maka kami katakan, Rasulullah saw. telah menegaskan larangan riba pada enam benda, yaitu dirham, dinar, gandum, jelai, kurma, dan garam. Pendapat para ulama berbeda-beda mengenai perluasan hukum dari teks tersebut. Namun, tidak layak membahas perbedaan pendapat itu dalam kitab ini yang terbatas pada penjelasan mazhab Syafi‘i dan para pengikutnya. Oleh karena itu, yang tepat adalah membatasi pembahasan pada mazhab ini saja.
والباب يشتمل على ضروب من الربا وأصل جميعها ربا التفاضل فنبدأ بهذا ونستقصي القولَ فيه ثم نذكر ما عَدَاهُ ونصنّفُ الأشياء الستة صنفين
Bab ini mencakup berbagai jenis riba, dan asal dari semuanya adalah riba fadhl. Maka kita akan memulai dengan hal ini dan membahasnya secara mendalam, kemudian menyebutkan selainnya, serta mengelompokkan enam barang tersebut ke dalam dua golongan.
فنذكر الأربعة منها فنّاً وهي البُرّ والشعيرُ والتَمرُ والملح ثم نتكلم بعدها في الدراهم والدنانير فأما الأشياءُ الأربعة فتحريم ربا الفضل فيها عند الشافعي معلَّلٌ في قوله الجديد بالطعمِ ثم لهذه العلةِ محل وهو اتحاد الجنس فإذا صادف الطعم جنساً متحداً اقتضى تحريمَ التفاضل وليس الجنسُ صفةً في العلةِ وإن كان الحكم يتوقف عليه وهذا بمثابة قولنا الزنا موجبٌ للرّجم إذا صدر من محصنٍ وليس الإحصانُ صفة في العلة ولكنه محلّها وقد استقصينا القول في ذلك في مجموعاتِنا في الخلاف
Maka kami akan menyebutkan empat jenis barang tersebut secara khusus, yaitu gandum, jelai, kurma, dan garam. Setelah itu, kami akan membahas tentang dirham dan dinar. Adapun empat barang tersebut, pengharaman riba fadhl pada barang-barang itu menurut Imam Syafi‘i dalam pendapat barunya didasarkan pada illat (alasan hukum) berupa sifat dapat dimakan. Kemudian, illat ini memiliki tempat penerapan, yaitu kesamaan jenis. Jika sifat dapat dimakan itu terdapat pada barang yang sejenis, maka hal itu menyebabkan pengharaman adanya kelebihan (dalam pertukaran). Namun, jenis bukanlah sifat dalam illat, meskipun hukum bergantung padanya. Ini seperti pernyataan kita bahwa zina mewajibkan rajam jika dilakukan oleh orang yang sudah menikah, dan status sudah menikah bukanlah sifat dalam illat, melainkan tempat penerapannya. Kami telah membahas hal ini secara rinci dalam kumpulan karya kami tentang khilafiyah.
وأثر ما ذكرناه يبين في ربا النساء وباب الصرف
Dampak dari apa yang telah kami sebutkan tampak dalam riba nasā’ dan bab sharf.
وقد ثبت الآن تحريمُ التفاضل في كل مطعوم متّحدٍ جنسُه سواء كان مقدراً بكيل أو وزنٍ أو لم يكن مقدراً كالسفرجل والرمان والقثاء والبطيخ
Sekarang telah tetap keharaman adanya kelebihan (nilai) dalam pertukaran setiap makanan yang sejenis, baik yang ditakar dengan takaran atau timbangan, maupun yang tidak ditakar seperti buah quince, delima, mentimun, dan semangka.
واعتبر في القديم الطعم كما ذكرناه وضمّ إليه التقدير وقال علة الربا من الأشياء الأربعة الطعمُ وإمكانُ التقدير واعتبار التقدير في القديم وصفٌ في العلّة وهي مركّبة من الطعم والتقدير ومحل العلّة المركَّبة اتحادُ الجنس كما تقدم وهذا أصل الباب في هذه الأشياء
Dalam pendapat lama, yang dianggap adalah rasa sebagaimana telah kami sebutkan, dan ditambahkan pula unsur takaran. Ia berkata bahwa ‘illat riba pada empat jenis barang adalah rasa dan kemungkinan untuk ditakar. Pertimbangan takaran dalam pendapat lama merupakan sifat dalam ‘illat, dan ‘illat tersebut tersusun dari rasa dan takaran. Tempat berlakunya ‘illat yang tersusun ini adalah kesamaan jenis, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Inilah pokok pembahasan dalam masalah ini.
وإذا اختلف الجنسُ لم يحرم التفاضل كما نص عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال وإذا اختلف الجنسان فبيعوا كيف شئتم
Dan apabila jenisnya berbeda, maka tidak diharamkan adanya kelebihan (dalam pertukaran), sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasulullah saw. ketika beliau bersabda: “Dan apabila kedua jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian.”
ثم أول ما نبدأ به شرح الطعم الذي اعتبرناه في العلّة فكل ما يكون الغرض الغالب منه الطعْم وإنما يُعد غالباً له فهو مالُ ربا على الجديد مقدَّراً كان أو غير مقدَّرٍ والمقدر مما يُطْعم مال ربا في القديم؛ فالأغذيةُ والفواكه داخلةٌ تحت الطُّعْم والأدويةُ مطعومةٌ وإن كانت تستعمل على نُدورٍ ولكنها مُعَدَّةٌ لتُطعم إذا مست الحاجةُ إليها
Kemudian, hal pertama yang kita mulai adalah penjelasan tentang “thā‘m” (rasa makanan) yang kami anggap sebagai ‘illat (alasan hukum). Maka, segala sesuatu yang tujuan utamanya adalah untuk dimakan, dan biasanya memang digunakan untuk itu, maka ia termasuk harta ribawi menurut pendapat baru, baik yang ditakar maupun yang tidak ditakar. Sedangkan yang ditakar dari apa yang dimakan adalah harta ribawi menurut pendapat lama. Maka, makanan dan buah-buahan termasuk dalam kategori “thā‘m”, dan obat-obatan juga termasuk yang dimakan, meskipun penggunaannya jarang, tetapi ia dipersiapkan untuk dimakan jika ada kebutuhan.
هذا هو الأصل ونذكر مسائلَ فيها تردد
Inilah kaidah dasarnya, dan kami akan menyebutkan beberapa permasalahan yang masih diperselisihkan.
قال العراقيون الطين الأرمني مطعوم دواءً فهو مال ربا والطين الذي يأكله السفهاء لا ربا فيه؛ فإنه لا يعدّ مأكولاً وأكله سفهٌ وكان شيخي يتردد فيه ويميل إلى أنهُ مال ربا وما ذكروه في الطين الأرمني صحيحٌ لا خلاف فيه وذكر العراقيون فيما صُرف عن الطُّعم اعتياداً وأصله مطعوم كدهن البنفسج والورد وغيرهما أن المنصوص أن هذه الأدهان مال ربا فإنها شَيْرج اكتسب روائح من الأزهار وانكف الناس عن أكلها ضِنّة بها قالوا وذكر بعض الأئمة قولاً مخرَّجاً أنها ليست مالَ رباً؛ لأنها لا تُعدّ مطعومةً عرفاً
Orang-orang Irak berpendapat bahwa tanah liat Armenia dikonsumsi sebagai obat, maka ia termasuk harta ribawi. Adapun tanah liat yang dimakan oleh orang-orang bodoh, tidak termasuk ribawi; karena tidak dianggap sebagai makanan dan memakannya adalah perbuatan bodoh. Guruku ragu dalam hal ini dan cenderung berpendapat bahwa itu adalah harta ribawi. Apa yang mereka sebutkan tentang tanah liat Armenia adalah benar dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Orang-orang Irak juga menyebutkan tentang sesuatu yang asalnya makanan namun biasa digunakan bukan untuk dimakan, seperti minyak bunga violet, minyak mawar, dan selainnya, bahwa pendapat yang dinyatakan adalah minyak-minyak tersebut termasuk harta ribawi, karena ia adalah minyak wijen yang telah menyerap aroma bunga-bungaan dan orang-orang enggan memakannya karena mereka ingin menjaga kualitasnya. Mereka juga menyebutkan pendapat sebagian imam yang merupakan pendapat istinbat, bahwa minyak-minyak tersebut bukan harta ribawi, karena secara adat tidak dianggap sebagai makanan.
قال صاحب التقريب دهن البنفسج مال ربا وفي دهن الورد وجهان
Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Minyak bunga violet adalah najis menurut pendapat yang kuat, sedangkan pada minyak mawar terdapat dua pendapat.
ولستُ أفهم الفرق بينهما ثم إذا جعلناها مال ربا فكلُّها جنسٌ واحد؛ فإنها شَيْرج اختلفت روائحها لمجاورة أشياءَ مختلفة هكذا ذكره العراقيون وهو الوجه
Saya tidak memahami perbedaan antara keduanya. Kemudian, jika kita menganggapnya sebagai harta riba, maka semuanya termasuk satu jenis; karena semuanya adalah minyak wijen yang hanya berbeda aromanya akibat berdekatan dengan berbagai benda yang berbeda—demikianlah yang disebutkan oleh para ulama Irak, dan inilah pendapat yang benar.
وذكر الإمام وجهين في الكتان ودهنه وقطع العراقيون بأن دهنَ الكتان المعد للاستصباح ليس مالَ ربا والظاهرُ ما قالوه؛ فإن الكتان ودهنه إن فُرض أكلُهما على ندور فلا نظر إلى ما يندر وإنما الاعتبار بما هما معدّان له غالباً وهذا كالكبريت والقطران قد يندر من بعضٍ أكلُهما ولكنهما ليسا مُعدَّيْن لذلكَ
Imam menyebutkan dua pendapat tentang linen dan minyaknya, dan para ulama Irak menegaskan bahwa minyak linen yang disiapkan untuk penerangan bukanlah termasuk harta ribawi. Pendapat yang tampak benar adalah apa yang mereka katakan; sebab linen dan minyaknya, jika pun dimungkinkan untuk dimakan, itu sangat jarang terjadi, sehingga hal yang jarang tidak menjadi pertimbangan. Yang menjadi pertimbangan adalah tujuan utama dari keduanya. Ini seperti belerang dan ter, yang mungkin saja dimakan oleh sebagian orang secara sangat jarang, namun keduanya tidak diperuntukkan untuk itu.
قال العراقيون ودَكُ السَّمكِ المعَدُّ للاستصباح وتدهين السفن ليس مال ربا وعللوا ذلك بما قدمناه وهذا يظهر فيه جعلُه مالَ ربا؛ فإنه جزءٌ من السمك وهو مطعوم فيه والزعفران مأكولٌ والمقصود الأظهر منه الأكل تلذذاً وتداوياً
Orang-orang Irak berkata bahwa minyak ikan yang disiapkan untuk penerangan dan melumasi kapal bukanlah harta riba, dan mereka beralasan dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya. Namun, dalam hal ini tampak bahwa minyak tersebut adalah harta riba; karena ia merupakan bagian dari ikan dan termasuk sesuatu yang dapat dimakan. Sementara itu, za‘faran juga dapat dimakan, dan tujuan utamanya adalah untuk dikonsumsi baik sebagai kenikmatan maupun sebagai obat.
ولو فرض علينا شيء يجري فيه الطعم وغيرُه على التقارب في التساوي؛ فالوجه القطع بأنه مال ربا؛ فإنه ظهر كونه مطعوماً فكفى ذلك ولا يضر ظهورُ غرضٍ آخرَ فيه وفيما نقله العراقيون في دهن البنفسج وودك السمك المعدّ للاستصباحِ تناقضٌ؛ فإنهم لم ينظروا إلى العادة في انصراف دهن البنفسج عن الطُعم واختاروا كونه مالَ ربا وحكَّموا النص فيه وقولهم في ودكِ السمكِ يخالف ذلك وهذا غامض عليهم
Jika kita andaikan ada sesuatu yang berlaku padanya sifat dapat dimakan dan sifat lainnya dengan tingkat kemiripan dalam kesetaraan, maka pendapat yang tepat adalah memastikan bahwa itu adalah harta riba; karena telah jelas bahwa ia dapat dimakan, maka itu sudah cukup, dan tidak membahayakan adanya tujuan lain yang tampak padanya. Dalam apa yang dinukil oleh para ulama Irak tentang minyak bunga violet dan lemak ikan yang disiapkan untuk penerangan, terdapat kontradiksi; sebab mereka tidak memperhatikan kebiasaan dalam berpalingnya minyak bunga violet dari tujuan konsumsi, namun mereka memilih untuk menganggapnya sebagai harta riba dan menetapkan hukum berdasarkan nash padanya. Sedangkan pendapat mereka tentang lemak ikan bertentangan dengan itu, dan hal ini samar bagi mereka.
والوجه عندنا تخريجُ هذا الفن على الخلاف؛ فإنه متردّد بين الأصل المأكول وبين الانصراف عن جهة الأكل لغرض في العادة
Menurut kami, pendekatan dalam masalah ini adalah dengan mengembalikan persoalan ini kepada perbedaan pendapat; sebab persoalan ini berada di antara hukum asal sesuatu yang dapat dimakan dan berpalingnya dari tujuan makan karena suatu maksud tertentu dalam kebiasaan.
فرع
Cabang
اختلف الأئمة في بلع السمكة الحيّة؛ فإن منعنا ذلك فليس السمك مال ربا في الحياة وإن جوزنا بلْعَها فقد تردد شيخي في إجراء الربا فيها وهذا بعيدٌ عندي والوجه القطع بأنه لا ربا فيها؛ فإنها لا تُعدّ لهذا الشأن وكان تخصيص ما ذكره بالصغار التي تُبتلع وتردّد صاحب التقريب في السمكة وبنى أمرها على ما ذكرناه وقطع بالفصل بين الكبار والصغار
Para imam berbeda pendapat mengenai menelan ikan hidup; jika kita melarang hal itu, maka ikan bukanlah harta ribawi ketika masih hidup. Namun jika kita membolehkannya, guruku masih ragu dalam menerapkan hukum riba padanya, dan menurut saya hal itu jauh (dari kebenaran). Pendapat yang kuat adalah tidak ada riba pada ikan hidup, karena ikan tidak disiapkan untuk tujuan tersebut. Apa yang disebutkan itu dikhususkan untuk ikan kecil yang bisa ditelan. Penulis kitab at-Taqrib juga ragu mengenai hukum ikan, dan membangun permasalahannya berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, serta menegaskan adanya perbedaan antara ikan besar dan kecil.
وأما الماء فمطعوم لا شك فيه والمذهبُ أنه مملوك يباع فهو مال رباً ومن أصحابنا من قال الماء لا يُملك؛ فيمتنع عنده بيع الماء بالدراهم وسأذكر أحكام المياه مجموعةً في إحياء المواتِ وتمام الضبط في هذا أن المعتبر في الاعتداد بالطُّعم حالةُ الاعتدال والرفاهية فأما ما يطعم في سِني الأَزمِ والمجاعة فلا معوّل عليه
Adapun air, maka ia adalah sesuatu yang dapat dimakan (dikonsumsi) tanpa ada keraguan di dalamnya, dan menurut mazhab, air itu adalah milik yang dapat diperjualbelikan, sehingga ia termasuk harta ribawi. Namun, sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa air tidak dapat dimiliki; sehingga menurut mereka, jual beli air dengan dirham tidak diperbolehkan. Saya akan menyebutkan hukum-hukum terkait air secara lengkap dalam pembahasan ihyā’ al-mawāt. Adapun penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa yang dijadikan acuan dalam menghitung sesuatu sebagai makanan adalah pada keadaan normal dan sejahtera, sedangkan apa yang dikonsumsi pada masa paceklik dan kelaparan tidak dapat dijadikan patokan.
فصل
Bab
في اعتبار طريق التقدير
Dalam mempertimbangkan metode penetapan (takdir).
ما جرى في تقديره طريقٌ في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو المعتبرُ فيما يحرم فيه التفاضل فالحنطة والتمر والشعير كانت تكال فلا يجوز بيع بعضها ببعض مع اتحاد الجنس وزناً بوزنٍ وإن كان الوزن أحصرَ من الكيل ولكن المتبعَ الشرعُ وإن صح الوزن في شيء في عَصر الشارع صلى الله عليه وسلم تعيّن الوزنُ فيهِ؛ حيث تحرم المفاضلة
Apa yang berlaku dalam penetapannya sebagai ukuran pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah yang dijadikan acuan dalam hal yang diharamkan adanya perbedaan (tafāḍul). Gandum, kurma, dan jelai dahulu diukur dengan takaran, maka tidak boleh menjual sebagian dengan sebagian yang lain dari jenis yang sama kecuali dengan takaran yang sama, meskipun timbangan lebih akurat daripada takaran. Namun yang diikuti adalah syariat. Jika pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu barang memang diukur dengan timbangan, maka wajib menggunakan timbangan padanya, sehingga diharamkan adanya perbedaan (tafāḍul).
فإن قيل روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال المكيال مكيال المدينة والميزان ميزان مكة فما معنى الحديث قلنا لعل اتخاذ المكاييل كان يعمُّ في المدينة واتخاذ الموازين يعمُّ بمكة فخرج الكلام على العادة وإلا فلا خلاف أن اعتبار مكاييل أهل المدينة وموازين أهل مكة لا يرعى ويجوز أن يقال ما تعلق بالوزن من النُّصب وأقدار الدياتِ وغيرها فالاعتبار فيها بوزن مكة وما تعلق بالكيل في زكاةِ الفطر والكفارات فالمعتبرُ ما كان يغلب في المدينة وليسَ في الحديث تَعرُّضٌ لأمر الربا
Jika dikatakan bahwa telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Takarannya adalah takaran penduduk Madinah dan timbangan adalah timbangan penduduk Makkah,” maka apa makna hadis ini? Kami katakan, barangkali penggunaan takaran memang lebih umum di Madinah dan penggunaan timbangan lebih umum di Makkah, sehingga ucapan tersebut mengikuti kebiasaan yang berlaku. Jika tidak demikian, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa mengacu pada takaran penduduk Madinah atau timbangan penduduk Makkah tidaklah menjadi ketentuan yang harus diikuti. Bisa juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan timbangan, seperti nishab dan kadar diyat serta lainnya, maka yang dijadikan acuan adalah timbangan Makkah. Sedangkan yang berkaitan dengan takaran, seperti zakat fitrah dan kafarat, maka yang dijadikan acuan adalah yang umum berlaku di Madinah. Dan dalam hadis tersebut tidak ada pembahasan mengenai perkara riba.
فرع
Cabang
إذا اتخذ مكيالٌ لم يُعهد مثله في عصرِ الشارع وكان يجري التماثل به فالوجه القطع بجواز رعاية التماثل به؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم لم يتعبَّدْنا في الحديث إلا بالكيل المطلق فيما يكال ولم يعيّن مكيالاً وأجمع أئمتنا على أن الدراهم إذا بيعت بالدراهم وعُدِّلَتا بالتساوي في كفّتَي ميزان فالبيع صحيح وإن كنا لا ندري ما تحويه كلُّ كِفة
Jika dibuat suatu takaran yang tidak dikenal pada masa syariat diturunkan, namun digunakan untuk menakar kesamaan, maka yang tepat adalah memastikan bolehnya memperhatikan kesamaan dengan takaran tersebut; sebab Nabi ﷺ tidak mewajibkan kita dalam hadits kecuali dengan takaran secara umum pada sesuatu yang ditakar, dan beliau tidak menentukan takaran tertentu. Para imam kami juga sepakat bahwa jika dirham dijual dengan dirham dan keduanya disamakan dalam dua sisi timbangan, maka jual beli itu sah, meskipun kita tidak mengetahui apa isi masing-masing sisi.
وهذا الذي ذكرته في مكيالٍ يجري العرف باستعماله ولكن لم يعهد في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم فلو بيع ملءُ قصعة بملئها وما جرى العرف بالكيل بأمثالها فقد حكى شيخي تردّداً عن القفال والظاهر عندنا الجواز والوزن بالطيّان وزنٌ وإن لم يكن له لسانُ وزنٍ والاستواء يبين فيه بتساوي قَرْعتي الكِفتين والوزن بالقَرَسْطون وزنٌ وقد يتأتى الوزن بالماء بأن توضع دراهم في ظَرْف فتُلقى على الماء ويُنظر إلى مقدار غوصه ثم يفعل مثل ذلك بمقابلهِ وليس ذلك وزناً شرعيّاً ولا عرفيّاً والظاهرُ أنه لا يجوز التعويل عليه في تماثل الربويات
Apa yang telah saya sebutkan ini berlaku pada takaran yang lazim digunakan menurut kebiasaan, namun tidak dikenal pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika dijual isi sebuah mangkuk dengan isi mangkuk yang lain, dan kebiasaan memang menggunakan takaran seperti itu, guruku meriwayatkan adanya keraguan dari al-Qaffal, namun pendapat yang tampak menurut kami adalah boleh. Penimbangan dengan cara tukang batu juga termasuk penimbangan, meskipun tidak memiliki satuan timbangan tertentu, dan kesetaraan dapat diketahui dengan seimbangnya kedua sisi timbangan. Penimbangan dengan qarasṭūn juga termasuk penimbangan. Kadang-kadang penimbangan bisa dilakukan dengan air, yaitu dengan meletakkan dirham dalam wadah lalu dicelupkan ke air dan dilihat seberapa dalam tenggelamnya, kemudian dilakukan hal yang sama pada lawannya. Namun, cara ini bukanlah penimbangan secara syar‘i maupun ‘urf (kebiasaan), dan yang tampak adalah tidak boleh bersandar pada cara ini dalam menentukan kesetaraan barang-barang ribawi.
وما استَربْنا فيه فلم ندرِ أنه كان مكيلاً في عَصر الشارع أو موزوناً فلا يخلو إما أن يكون له أصل يعرف تقدير الشارع فيه أو لا يكون فإن لم يكن له أصل يُعلم تقديرُه شرعاً وكان يتأتى فيه الكيل والوزن جميعاً ففيه أوجه أحدها أن يكالَ؛ فإن الكيل كان غالباً في معظم المطعومات فنعتبر موضع الإشكال بالغالب والثاني أنه يتعين الوزن؛ فإنه أحصرُ من الكيل فإذا لم يثبت الكيل بالتوقيف فطلبُ الأحصَرِ أولى والثالث أنا ننظر إلى العادة الغالبةِ في موضع المعاملة؛ فإنه إذا عسر اعتبار عرف الشارع وقد وجدنا العرف أصلاً متبعاً فالأقربُ اعتبار عرف الوقت
Dan apabila kami ragu terhadap sesuatu sehingga kami tidak mengetahui apakah pada masa syariat ia ditakar atau ditimbang, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia memiliki asal yang diketahui takaran syariatnya atau tidak. Jika tidak ada asal yang diketahui takarannya secara syariat, dan memungkinkan untuk ditakar maupun ditimbang, maka ada beberapa pendapat. Pertama, hendaknya ditakar; karena penakaran lebih umum pada kebanyakan bahan makanan, maka dalam hal yang meragukan kita mengikuti yang lebih umum. Kedua, harus ditimbang; karena penimbangan lebih terbatas daripada penakaran, maka jika penakaran tidak ditetapkan secara nash, maka memilih yang lebih terbatas lebih utama. Ketiga, kita melihat pada kebiasaan yang berlaku di tempat transaksi; karena jika sulit mempertimbangkan kebiasaan syariat, sementara kita mendapati kebiasaan masyarakat sebagai dasar yang diikuti, maka yang lebih dekat adalah mempertimbangkan kebiasaan pada masa itu.
وذكر شيخي وجهاً رابعاً وهو أنا نتخيَّر بين الكيل والوزن؛ إذ ليس أحدهما أولى من الثاني وهذا بعيد جداً لم أره لغيره وإذا جرى التقديران فلا بد من تفاضل يجري لأحدهما ولو منع مانعٌ أصلَ البيع لاستبهام طريق التماثل لكان أقربَ مما ذكره ولكن لا قائل به من الأصحاب فأما إذا كان للشيء أصل يعرف طريق تقديره في عصر الشارع ولكنه في نفسه لا يُدرَى بماذا كان يُقَدَّر في العصر الأول ففيه الأوجه المتقدمة وزاد شيخي وصاحب التقريب والصيدلاني وجهاً آخر أنهُ يتعيّنُ أن يقدَّر بما يقدر به أصله
Syekh saya menyebutkan pendapat keempat, yaitu bahwa kita boleh memilih antara takaran dan timbangan, karena tidak ada salah satunya yang lebih utama dari yang lain. Namun, pendapat ini sangat jauh (dari kebenaran) dan saya tidak menemukannya pada selain beliau. Jika kedua cara penaksiran itu digunakan, pasti akan terjadi perbedaan nilai pada salah satunya. Seandainya ada yang melarang asal jual beli karena tidak jelasnya cara penyeragaman (takaran atau timbangan), itu lebih dekat (kepada kebenaran) daripada apa yang beliau sebutkan, namun tidak ada seorang pun dari para sahabat (mazhab) yang berpendapat demikian. Adapun jika suatu barang memiliki asal yang diketahui cara penaksirannya pada masa Rasulullah, namun pada dirinya sendiri tidak diketahui dengan apa ia dahulu ditaksir pada masa awal, maka dalam hal ini berlaku pendapat-pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Syekh saya, penulis at-Taqrib, dan ash-Shaydilani menambahkan satu pendapat lagi, yaitu bahwa wajib ditaksir dengan cara penaksiran asalnya.
فصل
Bab
في بيان الحال التي تباع في مثلِها أموال الربا بعضُها ببعض ويتصل به التفريع على القول القديم؛ فنقول قد منع الشافعيُّ في معظم العلماء بيعَ الرطب بالتمر واعتمد فيه الحديث المشهور وهو ما روي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن بيع الرطب بالتمر فقال أينقصُ الرطبُ إذا جف؛ فقيل نعم فقال صلى الله عليه وسلم فلا إذن ثم استنبط الشافعي من مورد الحديث أن المماثلة حقها أن يعتبر فيها حالُ كمال الشيء فالتمر حالةُ كماله جفافه فإذا بيع الرطب بالتمر مع التساوي في الحال ثم فرض جفاف الرطب نقص مقداره عند جفافه عن التمر الذي قابله وكأنا تخيّلنا على الجملة أنَّ تعبّدَ الشارع في منع التفاضل يعتمد بشرف الطعام فنعتبر التماثل في أشرف الأحوال ثم بنى الشافعي على ما مهّدَهُ في ذلك منعَ بيع الرطب بالرطب؛ فإنهما إذا جفّا لم يُدْرَ هل يتماثلان
Dalam penjelasan tentang keadaan di mana harta ribawi boleh dijual sebagian dengan sebagian yang lain, dan terkait dengan cabang hukum menurut pendapat lama; maka kami katakan bahwa Imam Syafi’i bersama mayoritas ulama melarang jual beli kurma basah dengan kurma kering, dan beliau mendasarkan pendapatnya pada hadis yang masyhur, yaitu riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang jual beli kurma basah dengan kurma kering, lalu beliau bersabda: “Apakah kurma basah akan berkurang jika sudah kering?” Dijawab: “Ya.” Maka beliau bersabda: “Kalau begitu, jangan.” Kemudian Imam Syafi’i menyimpulkan dari konteks hadis tersebut bahwa kesetaraan (mumathalah) seharusnya diperhatikan pada keadaan sempurna suatu barang, sedangkan keadaan sempurna kurma adalah ketika sudah kering. Jika kurma basah dijual dengan kurma kering dalam keadaan sama pada saat itu, lalu diasumsikan kurma basah itu mengering, maka jumlahnya akan berkurang dibandingkan dengan kurma kering yang menjadi pasangannya. Seolah-olah kita memahami secara umum bahwa ketentuan syariat dalam melarang adanya kelebihan (tafāḍul) didasarkan pada kemuliaan makanan, sehingga kita mempertimbangkan kesetaraan pada keadaan yang paling mulia. Kemudian Imam Syafi’i membangun atas dasar yang telah beliau tetapkan itu, yaitu melarang jual beli kurma basah dengan kurma basah; karena jika keduanya telah kering, tidak diketahui apakah keduanya akan setara.
فنقول بعد تمهيد القاعدة كل رطب يعتاد تجفيفه لا يجوز بيع بعضه ببعض وكذلك القول في العنب
Maka kami katakan, setelah menjelaskan kaidah: setiap buah basah yang biasa dikeringkan, tidak boleh diperjualbelikan sebagian dengan sebagian yang lain, demikian pula halnya dengan anggur.
فأما الرطب الذي لا يجفف ولو فُرض تجفيفُه لاستحشف وفسد فهل يجوز بيع بعضِه ببعضٍ فيه وجهان أحدهُما الجواز وهو القياس؛ لأن هذا النوع كماله في إرطابه وليست له حالة منتظرة أكمل من هذه
Adapun kurma basah yang tidak dapat dikeringkan, bahkan jika diasumsikan dikeringkan pun akan menjadi keras dan rusak, maka apakah boleh menjual sebagian darinya dengan sebagian yang lain? Ada dua pendapat; salah satunya adalah boleh, dan ini adalah qiyās, karena jenis ini kesempurnaannya terletak pada keadaan basahnya, dan tidak ada keadaan lain yang lebih sempurna dari ini yang dapat diharapkan.
وقد أجرى بعض أصحابنا لفظ الادّخار في أدراج الكلام وهو غير معتمد؛ فإن اللبن يباع بعضه ببعضٍ كما سنذكره ولا يتأتى فيه الادخار ولكن لما كان ذلك أكملَ أحوالهِ روعي كمالُه ولم يثبت أيضاً توقيف في النهي عن بيع الرطب بالرطب خصوصاً وإنما النهي في بيع الرطب بالتمر والوجه الثاني أن البيع باطل نظراً إلى جنسِ الرطب و امتناعاً من تتبع التفاصيل في أنواع الجنس؛ فإن القول في ذلك يطول
Sebagian ulama kami menggunakan istilah “penyimpanan” dalam pembahasan ini, namun hal itu tidak dapat dijadikan sandaran; sebab susu dapat dijual sebagian dengan sebagian sebagaimana akan kami sebutkan, dan tidak mungkin dilakukan penyimpanan padanya. Namun, karena hal itu merupakan keadaan paling sempurna darinya, maka kesempurnaannya tetap diperhatikan. Tidak ada pula dalil yang menetapkan larangan secara khusus tentang jual beli ruthab dengan ruthab; larangan itu hanya berlaku pada jual beli ruthab dengan tamr. Pendapat kedua menyatakan bahwa jual belinya batal jika dilihat dari jenis ruthabnya, dan untuk menghindari rincian yang panjang dalam berbagai jenis satu jenis; sebab pembahasannya akan menjadi sangat panjang.
ولم يختلف أئمتنا في منع بيع الرطب الذي لا يجفف بالتمر وكان القياس يقتضي تجويزَه عند من يجوّز بيعَ الرطب بالرطب إذا كان لا يجفف وما ذكرته مدلول كلام الأئمة ولم أجد لهم نصاً في منع بيع التمر بالرطب الذي لا يجفف
Para imam kami tidak berbeda pendapat dalam melarang penjualan ruthab yang tidak dapat dikeringkan dengan tamr. Padahal, menurut qiyās, seharusnya hal itu dibolehkan bagi siapa saja yang membolehkan penjualan ruthab dengan ruthab jika memang tidak dapat dikeringkan. Apa yang saya sebutkan merupakan makna dari perkataan para imam, dan saya tidak menemukan nash dari mereka yang melarang penjualan tamr dengan ruthab yang tidak dapat dikeringkan.
وأمَّا المشمش والخوخ فقد يجري العرف في تشميسهما ولكن لا يعم عمومَ تجفيف الرطب والعنب فذكر الأئمةُ ثلاثة أوجهٍ فيها أحدُها أنه لا يجوز بيع الرطب منها بالرطبِ من جنسهِ؛ إذ له حالة جفاف منتظرة فأشبه الرطبَ والعنبَ وهذا القائل يجوّز بيعَ الجاف منه بالجافّ قياساً على الرطب
Adapun aprikot dan prem, kebiasaan menjemurnya memang terjadi, namun tidak seluas pengeringan kurma basah dan anggur. Para imam menyebutkan tiga pendapat dalam hal ini. Salah satunya adalah bahwa tidak boleh menjual aprikot atau prem basah dengan yang sejenisnya secara basah, karena keduanya memiliki kemungkinan menjadi kering, sehingga kedudukannya serupa dengan kurma basah dan anggur. Pendapat ini membolehkan penjualan yang sudah kering dengan yang kering, dengan qiyās kepada kurma basah.
والوجه الثاني أنهُ يجوز بيع الرطب بالرطب فإن أكمل أحوال المشمش وما في معناه الرطوبةُ والتجفيف فيه في حكم النادر الذي يستعمل في الفاضل عن الأكل من رطب الجنس وكُثْر الغرض في الرطوبة بخلاف الرطب؛ فإن الأصل فيه التجفيف
Alasan kedua adalah bahwa diperbolehkan menjual buah basah dengan buah basah, karena keadaan terbaik dari buah aprikot dan yang semisalnya adalah dalam keadaan basah, sedangkan pengeringan pada buah tersebut termasuk hal yang jarang dilakukan dan biasanya hanya digunakan untuk kelebihan dari konsumsi buah basah dari jenis tersebut, dan kebutuhan terhadap buah dalam keadaan basah sangat banyak, berbeda dengan buah kurma basah; karena pada dasarnya buah kurma itu dikeringkan.
والوجه الثالث أنه لا يجوز بيع بعضه بالبعض لا رَطباً ولا يابساً؛ فإنه لم يتقرر له حالة كمال؛ والبيعُ يعتمد حالة الكمال؛ فإمكان الجفاف وجريانه أخرج حالة الرطوبة عن قضية الكمال وعدمُ عموم ذلك أخرج حالة اليبوسة عن حكم الكمال
Alasan ketiga adalah bahwa tidak boleh menjual sebagian dengan sebagian lainnya, baik dalam keadaan basah maupun kering; karena belum ada padanya keadaan sempurna; sementara jual beli bergantung pada keadaan sempurna; kemungkinan menjadi kering dan terjadinya hal itu mengeluarkan keadaan basah dari kategori sempurna, dan tidak umumnya hal tersebut mengeluarkan keadaan kering dari hukum sempurna.
ولم يصر أحد من أئمة المذهب إلى تجويز البيع في حالة الرطوبة ومنعه في حالة الجفاف
Tidak ada satu pun dari para imam mazhab yang membolehkan jual beli dalam keadaan basah dan melarangnya dalam keadaan kering.
نعم الرطب الذي لو جفف فسد ولم يبق فيه انتفاعٌ يُحتفل به يجتمع فيه أربعةُ أوجُهٍ ثلاثة منها كما ذكرناها والرابع التجويز في حالة الرطوبة والمنع في حالة اليبوسة؛ فإن الرطوبة في هذا النوع هي الكمال والجفاف غير معتاد أصلاً
Ya, kurma basah yang jika dikeringkan akan rusak dan tidak tersisa manfaat yang layak diperhatikan, maka padanya terdapat empat sisi; tiga di antaranya sebagaimana telah kami sebutkan, dan yang keempat adalah membolehkan dalam keadaan basah dan melarang dalam keadaan kering; karena basah pada jenis ini adalah kesempurnaan, sedangkan kering sama sekali bukanlah keadaan yang lazim.
وممّا يتصل بهذا الأصل وفيه التفريعُ على القول القديم تفصيلُ القول في بيع القثاء بمثله وكذلك ما في معناه مما لم يجر فيه العرف بتجفيفٍ أصلاً فنقول أولاً هذا غير مُقدّرٍ عُرْفاً بكيل ولا وزن وإنما يباع عدداً فإن فرَّعنا على القول القديم ورأينا ضمَّ التقدير إلى الطعم فليس هذا الجنسُ مالَ ربا؛ فيجوزُ بيعُ بعضه ببعضٍ كيف قُدّر وفُرض وإذا أخرجناه على هذا القول من كونه مال ربا فلو جُفف على نُدور وكان مأكولاً وجرى فيه الوزن في جفافه فقد ذكر الإمامُ عن شيخه القفال أنه لا يجري الربا فيه على القديم وإن تقدر؛ فإن أكمل أحواله الرطوبة وقد خرج في حال الرطوبة عن كونه مال ربا فلا ننظر إلى حالة جفافه ونتبع هذه الحالةَ تلك الحالة في سقوط الربا
Termasuk hal yang berkaitan dengan prinsip ini, dan di dalamnya terdapat cabang dari pendapat lama, adalah perincian pendapat tentang jual beli ketimun dengan sesamanya, begitu pula hal-hal yang sejenis dengannya yang tidak berlaku kebiasaan untuk mengeringkannya sama sekali. Maka pertama-tama kita katakan, ini tidak ditetapkan menurut kebiasaan dengan takaran atau timbangan, melainkan dijual berdasarkan jumlah. Jika kita bercabang pada pendapat lama dan memandang adanya penambahan takaran pada rasa, maka jenis ini bukanlah harta ribawi; sehingga boleh menjual sebagian dengan sebagian yang lain dengan ukuran dan bentuk apa pun. Dan jika kita mengeluarkannya menurut pendapat ini dari kategori harta ribawi, maka jika ketimun itu dikeringkan meskipun jarang, dan tetap dapat dimakan serta berlaku timbangan dalam keadaan keringnya, maka Imam telah menyebutkan dari gurunya, al-Qaffal, bahwa riba tidak berlaku padanya menurut pendapat lama, meskipun sudah ditakar; karena keadaan sempurna dari ketimun adalah basah, dan dalam keadaan basah ia telah keluar dari kategori harta ribawi, maka kita tidak memandang pada keadaan keringnya, dan kita mengikuti keadaan ini pada keadaan sebelumnya dalam hal gugurnya riba.
والظاهر بخلاف هذا؛ فإنه مطعوم مقدَر في الجفاف
Dan yang tampak adalah sebaliknya; karena ia termasuk makanan yang telah ditetapkan ukurannya dalam keadaan kering.
ويجوز على القديم بيعُ الجوز بالجوز والبيض بالبيض وكذلك كل معدود في العرف ويمتنع بيعُ لب الجوز واللوز بعضُه متفاضلاً على القديم؛ فإنه مقدَّر مطعوم في حالة شَرَفهِ وليس مصيرُه إلى إجراء التقدير فيه نادراً بخلاف ما قدمته في القثاء والسفرجل وما في معناه ولا رباً على القديم في الرمَّان ويجري في حب الرمّان إذا جف ما ذكرته في اللُّبوب
Dan diperbolehkan menurut pendapat lama (al-qadīm) menjual kacang kenari dengan kacang kenari, telur dengan telur, demikian pula semua barang yang dihitung menurut kebiasaan, dan tidak diperbolehkan menjual inti kacang kenari dan almond sebagian dengan kelebihan menurut pendapat lama; karena ia dianggap sebagai makanan yang diukur pada saat kemuliaannya, dan tidak jarang keadaannya berubah menjadi sesuatu yang diukur, berbeda dengan yang telah disebutkan sebelumnya pada mentimun, quince, dan yang sejenisnya. Tidak ada riba menurut pendapat lama pada buah delima, dan berlaku pada biji delima yang telah kering sebagaimana yang telah disebutkan pada inti-inti biji.
فرع
Cabang
الشعير في سنبله لا يقدَّر فإذا فرّعنا على القول القديم فالوجه عندي منعُ بيع بعضه ببعض؛ فإنه من جنس ما يقدّرُ ولا ننظر إلى حالته هذه وليس كالجوز مادام صحيحاً وكيف نستجيز التشبيب بالخلاف مع قيام النص في الشعير
Jelai yang masih dalam bulirnya tidak ditakar. Jika kita mengikuti pendapat lama, menurut saya, sebaiknya tidak boleh menjual sebagian dengan sebagian yang lain; karena ia termasuk jenis yang ditakar, dan kita tidak melihat pada keadaannya yang seperti ini. Ia tidak seperti kacang kenari selama masih utuh. Bagaimana mungkin kita membenarkan adanya perbedaan pendapat sementara ada nash yang jelas mengenai jelai?
وقد تقرر في الأساليب ردُّنا على أبي حنيفة في إخراجه الحفنة وهي بعض المنصوص عليه في الخبر وهذا تفريعُنا على القديم
Telah ditetapkan dalam metode-metode (istidlāl) bahwa kami membantah pendapat Abu Hanifah yang membolehkan mengeluarkan satu genggam, padahal itu hanya sebagian dari yang disebutkan secara eksplisit dalam hadis. Ini merupakan cabang dari pendapat lama kami.
فأما الجديد فنقول عليه كلُّ مطعوم مالُ ربا وإن كان لا يُقدّر وإذا كان كذلك امتنع بيعُ بعضه ببعض عدداً والمانع تعذر التقدير وهل يجوز بيع بعضه ببعض وزناً فعلى وجهين أحدهُما وهو ظاهر المذهب أنه لا يجوز؛ فإن الوزن فيه غير معتاد لا في عصر الشارع صلى الله عليه وسلم ولا بعده ولا سبيل إلى تجويز البيع عدداً؛ فالوجه المنع والثاني أنه يصح؛ فإنَّا إن نظرنا إلى الكمال فرطوبتُه أكمل أحواله والتقدير قد حصل بالوزن
Adapun pendapat baru, kami katakan bahwa setiap makanan yang termasuk harta ribawi, meskipun tidak dapat diukur, maka jika demikian, tidak boleh menjual sebagian dengan sebagian yang lain secara hitungan, dan yang menjadi penghalang adalah sulitnya penakaran. Apakah boleh menjual sebagian dengan sebagian yang lain secara timbangan? Ada dua pendapat. Salah satunya, yang merupakan pendapat yang tampak dari mazhab, adalah tidak boleh; karena penimbangan pada makanan tersebut tidak lazim, baik pada masa Rasulullah ﷺ maupun setelahnya, dan tidak ada jalan untuk membolehkan penjualan secara hitungan; maka pendapat yang kuat adalah larangan. Pendapat kedua, boleh; karena jika kita melihat pada kesempurnaan, maka keadaan makanan tersebut yang masih basah adalah keadaan yang paling sempurna, dan penakaran telah tercapai dengan timbangan.
وأما عدم جريان العرف بالوزن؛ ففيه سرٌّ يجب رعايته فنقول ما جرى فيه عرف الشارع بالكيل فقد تُعُبِّدْنا فيه بالتساوي في الكيل فلا معدل عنه إلى الوزن وما تقدر وجهلنا فيه عرفَ الشارع؛ ففيه اضطرابٌ تقدم ذكره فأما ما نحن فيه فقد جرى العرف فيه بالعدد وذلك تساهل في الطريق والشرع لا يقنع به وفي الوزن الضبط التام وليس فيه تركُ تقديرٍ تعلَّق به تعبّدٌ
Adapun tidak berlakunya ‘urf dengan takaran berat, di dalamnya terdapat rahasia yang harus diperhatikan. Maka kami katakan, apa yang telah berlaku ‘urf syariat dengan takaran volume, maka kita diwajibkan untuk menyamakan dalam takaran volume tersebut, sehingga tidak boleh beralih darinya kepada takaran berat. Adapun sesuatu yang ukurannya tidak diketahui dan kita tidak mengetahui ‘urf syariat padanya, maka di dalamnya terdapat kerancuan yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun perkara yang sedang kita bahas ini, telah berlaku ‘urf padanya dengan hitungan jumlah, dan itu merupakan bentuk kemudahan dalam metode, namun syariat tidak cukup dengan itu. Dalam takaran berat terdapat ketelitian yang sempurna, dan di dalamnya tidak ada pengabaian terhadap ukuran yang berkaitan dengan kewajiban syariat.
وهذا وإن كان فقيهاً فالأصح الأول فلو جفف ما نحن فيه وكان إذ ذاك يوزن وقد منَعْنا بيعَ رطبه بالرطب وزناً ففي جواز البيع في حالة الجفافِ خلافٌ مشهور من أصحابنا من مَنع وتوجيهُه أنه امتنع فيه عند هذا القائل جوازُ البيع في أكمل أحواله فكان ما جرى من الجفاف على ندورٍ تابعاً في المنع لحالة الكمال
Dan meskipun orang tersebut adalah seorang faqih, pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama. Jika barang yang sedang kita bicarakan ini telah dikeringkan dan pada saat itu dapat ditimbang, sementara kita telah melarang penjualan barang basah dengan barang basah secara timbangan, maka dalam hal kebolehan jual beli pada keadaan kering terdapat perbedaan pendapat yang masyhur di kalangan ulama kami; ada yang melarang, dan alasan pelarangannya adalah bahwa menurut pendapat ini, jual beli tidak boleh dilakukan pada keadaan barang yang paling sempurna, sehingga apa yang terjadi berupa pengeringan yang jarang terjadi itu tetap mengikuti larangan pada keadaan sempurnanya.
وهذا يلاحظ ما ذكرناه من التفريع على القول القديم في مثل ذلك
Hal ini memperhatikan apa yang telah kami sebutkan mengenai penjabaran berdasarkan pendapat lama dalam hal yang serupa.
ومن أصحابنا من قال يجوز بيع البعض بالبعض في الجفافِ؛ لجريان العُرف بالوزن وإذا جوزنا بيعَ الرطب بالرطب وزناً وضممنا إليه القولَ في حال الجفاف كان ذلك بمثابة الرطب الذي لا يجفف اعتياداً فيجري في حالة الرطوبة واليبوسة الأوجه الأربعة التي تقدمت مشروحة
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa boleh menjual sebagian dengan sebagian lainnya dalam keadaan kering, karena kebiasaan yang berlaku adalah dengan timbangan. Jika kami membolehkan jual beli kurma basah dengan kurma basah secara ditimbang, lalu kami kaitkan pendapat tersebut pada keadaan kering, maka hal itu seperti kurma basah yang tidak biasa dikeringkan, sehingga dalam keadaan basah dan kering berlaku empat pendapat yang telah dijelaskan sebelumnya.
قال العراقيون جفاف البطيخ حيث يعتاد ذلك من البلاد في حكم جفاف المشمش والأمر على ما ذكروه
Orang-orang Irak berpendapat bahwa mengeringkan buah semangka, yang sudah menjadi kebiasaan di negeri mereka, hukumnya sama dengan mengeringkan buah aprikot, dan perkara ini sesuai dengan apa yang mereka sebutkan.
فرع
Cabang
قال صاحب التقريب بيع الزيتون بالزيتون جائز؛ فإنه حالة كماله وليس له حالة جفاف ولكن يعتصر الزيت منه وليس ذلك من باب انتظار كمالٍ في الزيتون؛ فإنه تفريق أجزائه وتغييره عن حاله كما يستخرج السمن من اللبن
Menurut penulis kitab at-Taqrīb, jual beli zaitun dengan zaitun hukumnya boleh; karena zaitun berada dalam keadaan sempurnanya dan tidak memiliki keadaan kering, namun minyak dapat diperas darinya. Hal ini bukan termasuk menunggu kesempurnaan pada zaitun, karena yang terjadi adalah pemisahan bagian-bagiannya dan perubahan dari keadaannya, sebagaimana mentega diambil dari susu.
والأمر على ما ذكره
Dan keadaannya adalah seperti yang telah disebutkan.
ومما يتصل بتمهيد هذا الأصل القول في الدقيق وكل ما يُتَّخذ منه فالمذهب الذي عليه التعويل أنه لا يجوز بيع الدقيق بالدّقيق مع اتحاد الجنس؛ والسبب فيه أن كمال البُرّ في كونه بُرّاً والدقيق زائل عن الكمال وهو إلى الفساد لو لم يُستعمل وإذا كان كذلك فلو بيع الدقيق بالدقيق كيلاً أو وزناً ثم لاحظنا حالة كونهما بُرّين لم نَدْرِ هل كانا متماثلين بُراً أم لا فكان نظرنا إلى الكمال الزائل بمثابة نظرِنا إلى الكمال المنتظر عند بيع الرطب بالرطب وكذلك نمنع بيع الحنطة بالدقيق كما نمنع بيع الرطب بالتمر وكل ما يتخذ من البُرّ من كعك أو خبز أو سويق فهو في
Dan yang berkaitan dengan pengantar kaidah ini adalah pembahasan tentang tepung dan segala sesuatu yang dibuat darinya. Mazhab yang dijadikan pegangan adalah tidak boleh menjual tepung dengan tepung jika jenisnya sama. Sebabnya adalah karena kesempurnaan gandum terletak pada keadaannya sebagai gandum, sedangkan tepung telah kehilangan kesempurnaan itu dan cenderung rusak jika tidak segera digunakan. Jika demikian, maka apabila tepung dijual dengan tepung, baik ditakar maupun ditimbang, lalu kita memperhatikan keadaannya ketika masih berupa gandum, kita tidak tahu apakah keduanya dulu setara sebagai gandum atau tidak. Maka perhatian kita terhadap kesempurnaan yang telah hilang itu sama seperti perhatian kita terhadap kesempurnaan yang masih dinantikan ketika menjual kurma basah dengan kurma basah. Demikian pula, kita melarang penjualan gandum dengan tepung sebagaimana kita melarang penjualan kurma basah dengan kurma kering. Segala sesuatu yang dibuat dari gandum, seperti kue, roti, atau sūwīq, hukumnya juga demikian.
معنى الدقيق؛ فيمتنع بيع بعضهِ بالبعض ويمتنع بيعُه بالبُرِّ
Makna dari tepung; maka tidak boleh menjual sebagian darinya dengan sebagian yang lain dan tidak boleh menjualnya dengan gandum.
وقد يعترض فيما ذكرناه علةٌ أخرى مع ما ذكرناه؛ فإن الخبز في معنى المختلِط؛ إذ فيه ماء وملح وسنذكر بعد ذلك إن شاء اللهُ تعالى منعَ بيع المختلط بمثلهِ
Mungkin ada keberatan terhadap apa yang telah kami sebutkan dengan alasan lain selain yang telah kami sebutkan; sebab roti termasuk dalam kategori sesuatu yang tercampur, karena di dalamnya terdapat air dan garam, dan nanti insya Allah Ta‘ala akan kami sebutkan larangan menjual barang yang tercampur dengan sejenisnya.
فهذا قاعدةُ المذهب وسنذكر إن شاء الله تعالى في آخر الفصل نصوصاً غريبة في ذلك
Ini adalah kaidah mazhab, dan kami akan menyebutkan, insya Allah Ta‘ala, di akhir bab beberapa nash yang unik terkait hal itu.
فإن قيل الحنطة المسوسة إذا قربت من العفونة فما القول فيها قلنا ظاهر قول الأئمة جواز بيع بعضها بالبعض وإن أمكن أن يقال فيها إنها زايلت كمالَها وهي أقرب إلى العفن من الدقيق وإنما راعَوْا في هذا النظرَ إلى طرد القول في الجنس ولا وجهَ غيرُه؛ فإنا لو ذكرنا غيرَ ذلك لعَسُرَ النظرُ في تفصيل الحنطة التي تمادى زمانُ احتكارِها وهذا مما يعسرُ تتبعه
Jika dikatakan: bagaimana hukum menjual gandum yang sudah rusak dan hampir membusuk? Kami katakan: pendapat yang tampak dari para imam adalah bolehnya menjual sebagian gandum itu dengan sebagian yang lain, meskipun bisa saja dikatakan bahwa gandum tersebut telah kehilangan kesempurnaannya dan lebih dekat kepada kebusukan dibandingkan tepung. Namun, dalam hal ini mereka mempertimbangkan untuk tetap konsisten dalam hukum pada satu jenis (gandum), dan tidak ada alasan lain selain itu; sebab jika kita menyebutkan alasan lain, maka akan sulit untuk merinci hukum gandum yang telah lama disimpan. Dan ini adalah sesuatu yang sulit untuk ditelusuri.
ولعل هذا قبل أن تتآكل فأما إذا تآكلت وخلت أجوافُها ففيها نظرٌ عندنا؛ فإن الأئمةَ أطلقوا بيع المسوسة بالمسوّسة والمسوسة هي التي بدأ التآكل فيها والقياس القطعُ بالمنع؛ إذ الحنطة المقليّة لا يباع بعضها ببعض لما فيها من التجافي الحاصل بالقلي فكذلك لا يجوز بيع الحنطة المبلولة بالحنطة المبلولة والجافَّة لما ذكرناه في المقليّة ولو بُلت الحنطة ونُحّي منها قشرتُها بالدّق والتهريس وهي الكَشْك قال الأئمةُ هي كالدقيق؛ فإنها تفسد على القرب ويتفاوت ما يزايلها من القشر ولو بُلَّتْ ثم جُفّفت ولم تُهرَّسْ فإنها تتشَنج في جفافِها على تفاوت يُفضي إلى جهلٍ بالمماثلةِ قبل البلّ فإن كان كذلك فالوجه المنع وفي الجاوَرْس إذا نُحّيت منه القشرةُ احتمالٌ عندي ولا شك في جواز بيع الرّز بالرّز المنقَّى عن قشرته فتأَملوا هذه المراتبَ
Barangkali hal ini sebelum terjadi pelapukan, adapun jika sudah lapuk dan bagian dalamnya kosong, maka menurut kami ada pertimbangan; karena para imam membolehkan penjualan barang yang sudah rusak dengan barang yang juga sudah rusak, dan yang dimaksud dengan “musawwasah” adalah yang mulai mengalami pelapukan. Secara qiyās, seharusnya diputuskan larangan; sebab gandum yang telah digoreng tidak boleh dijual sebagian dengan sebagian lainnya karena adanya perubahan akibat penggorengan, demikian pula tidak boleh menjual gandum yang telah dibasahi dengan gandum yang juga basah atau yang kering, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada kasus gandum goreng. Jika gandum dibasahi lalu kulitnya dipisahkan dengan cara ditumbuk dan dihancurkan, yang disebut sebagai kashk, para imam menyatakan hukumnya seperti tepung; karena ia cepat rusak dan kadar kulit yang terpisah bisa berbeda-beda. Jika gandum dibasahi lalu dikeringkan tanpa dihancurkan, maka ia akan mengerut saat pengeringan dengan kadar yang berbeda-beda sehingga menyebabkan ketidaktahuan tentang kesamaan sebelum dibasahi. Jika demikian, maka yang tepat adalah melarangnya. Adapun pada jawars (sejenis biji-bijian), jika kulitnya dipisahkan, menurut saya ada kemungkinan (boleh dan tidaknya). Tidak diragukan lagi bolehnya menjual beras dengan beras yang telah dibersihkan dari kulitnya. Maka perhatikanlah tingkatan-tingkatan ini.
ومما يتعلّقُ بهذا الفصلِ القَولُ في بيع هذه المطعومات بعضها ببعضٍ مع نزع النَّوى والسبب فيه أنه يكتنز في المكيال ويتجافى على تفاوت ظاهرٍ على قدر الضغط وإذا امتنع هذا فلا شك في امتناع بيع التمر المنزوع نواه بالتمر مع النوى
Terkait dengan bab ini adalah pembahasan tentang jual beli makanan-makanan ini satu sama lain dengan menghilangkan bijinya, dan sebabnya adalah karena biji tersebut dapat terkumpul dalam takaran dan dapat terpisah dengan perbedaan yang jelas tergantung pada tekanan. Jika hal ini tidak diperbolehkan, maka tidak diragukan lagi bahwa jual beli kurma yang telah dihilangkan bijinya dengan kurma yang masih ada bijinya juga tidak diperbolehkan.
وكان شيخي يذكر خلافاً في مُقدَّد المشمش والخوخ فيقول من أصحابنا من أجراهما مجرى التمر فمنع البيع مع نزع النوى ومنهم من جوَّز البيعَ مع النزعِ؛ فإن ذلك معتاد في جنسها ونواها لا يُصلحها بخلاف نوى التمر؛ فإنه عصامُها من التسويس وهذا القائل يجوّز البيعَ مع النوى ومن غير نوى ولم أر لأحدٍ اشتراط نزع النوى إلا لشيخي فإنه ذكر عن بعض الأصحاب وجهاً بعيداً في اشتراط نزع النوى كما يشترطُ نزع العظم عن اللحم في ظاهر المذهب
Guru saya pernah menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai muqaddad (buah yang dikeringkan dan dipotong-potong) dari aprikot dan prem. Beliau berkata, sebagian ulama dari kalangan kami memperlakukan keduanya seperti kurma, sehingga melarang penjualan dengan mengeluarkan bijinya. Namun, sebagian lain membolehkan penjualan dengan mengeluarkan bijinya, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan pada jenis buah tersebut dan bijinya tidak memperbaikinya, berbeda dengan biji kurma yang justru menjadi pelindung dari kerusakan. Pendapat yang membolehkan ini memperbolehkan penjualan baik dengan biji maupun tanpa biji. Saya tidak menemukan seorang pun yang mensyaratkan pengeluaran biji kecuali guru saya sendiri, karena beliau menukil dari sebagian ulama pendapat yang jauh (lemah) tentang syarat mengeluarkan biji, sebagaimana disyaratkan mengeluarkan tulang dari daging menurut pendapat yang zahir dalam mazhab.
فقد تحصلنا على ثلاث مراتبَ أما التمر فنزع نواه يمنع بيعَه واللحم في ظاهر المذهب يتعيّنُ نزع عظمه إذا حاولنا بيع بعضه بالبعض وبينهما المشمش وما في معناه فيجوز بيعُ بعضِه ببعضٍ مع النوى وفي تجويز البيع مع النزع الخلافُ المذكور
Maka kita mendapatkan tiga tingkatan: adapun kurma, maka mengeluarkan bijinya mencegah penjualannya; dan daging, menurut pendapat yang zahir dalam mazhab, wajib mengeluarkan tulangnya jika kita hendak menjual sebagian dengan sebagian yang lain; dan di antara keduanya adalah buah aprikot dan yang semakna dengannya, maka boleh menjual sebagian dengan sebagian yang lain beserta bijinya; dan dalam membolehkan penjualan dengan mengeluarkan bijinya terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan.
وذكر العراقيون وجهين في جواز بيع التمر بالتمر مع نزع النوى وهذا بعيد جدّاً ثم جاؤوا بما هو أبعد منه وذكرُوا خلافاً في بيع تمرٍ منزوع النوى بتمرٍ غير منزوع النوى وهذا ساقط لا يُحتفلُ بمثله
Orang-orang Irak menyebutkan dua pendapat tentang bolehnya menjual kurma dengan kurma yang bijinya telah dikeluarkan, dan ini sangat jauh (dari kebenaran). Kemudian mereka datang dengan pendapat yang lebih jauh lagi, yaitu mereka menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang jual beli kurma yang telah dikeluarkan bijinya dengan kurma yang belum dikeluarkan bijinya, dan ini adalah pendapat yang lemah yang tidak perlu diperhatikan.
وقد تم الغرضُ من الفصلِ
Tujuan dari bab ini telah tercapai.
ونذكر الآن النصوص الغريبة في الدقيق والكعك
Sekarang kami akan menyebutkan teks-teks yang asing mengenai tepung halus dan kue kering.
نقل المزني في المنثور أن الشافعيَّ كان يمنع بيع الدقيق بالحنطة ويجوّز بيع الدقيق بالدقيق ونقلَ حرملةُ ذلك أيضاًً وهذا النصُّ ليس يشعر بأن الدقيق يخالف جنسَ الحنطة ولكن مقتضاه أن منع بيع الدقيق بالحنطة سببُه التفاوت الظاهر في الكيل والدقيق مع الدقيق لا يتفاوتُ
Al-Muzani meriwayatkan dalam al-Manthur bahwa asy-Syafi‘i melarang jual beli tepung dengan gandum, namun membolehkan jual beli tepung dengan tepung. Hal ini juga diriwayatkan oleh Harmalah. Teks ini tidak menunjukkan bahwa tepung berbeda jenis dengan gandum, tetapi maksudnya adalah bahwa larangan jual beli tepung dengan gandum disebabkan adanya perbedaan yang jelas dalam takaran, sedangkan antara tepung dengan tepung tidak terdapat perbedaan.
ونقلَ الحسينُ الكرابيسي عن الشافعي أنه كان يقول الحنطةُ ودقيقُها جنسان؛ فيجوز بيع أحدهما بالثاني متفاضلاً لاختلاف الصفة والاسم والمنفعة والدقيق مع الدقيق جنس واحدٌ
Al-Husain al-Karabisi meriwayatkan dari asy-Syafi‘i bahwa beliau berkata: gandum dan tepungnya adalah dua jenis yang berbeda; maka boleh menjual salah satunya dengan yang lain secara tidak seimbang karena perbedaan sifat, nama, dan manfaatnya, sedangkan tepung dengan tepung adalah satu jenis.
وحكى ابن مِقلاص أن الشافعي جعل السويقَ مخالفاً لجنسِ الحنطة؛ لأنه يخالفها في المعنى والدقيقُ مجانس للحنطة؛ فإنه حنطة مفرقة الأجزاء والحنطة دقيق مكتنز وعلى هذا الخبز يخالف الحنطة ويجب أن يخالف الدقيقَ السويقُ أيضاًً
Ibnu Miqlās meriwayatkan bahwa asy-Syafi‘i menganggap sawiq berbeda jenis dengan gandum, karena keduanya berbeda dalam makna. Sedangkan tepung sejenis dengan gandum, sebab tepung adalah gandum yang terpisah-pisah bagiannya, dan gandum adalah tepung yang padat. Berdasarkan hal ini, roti berbeda dengan gandum, dan seharusnya sawiq juga berbeda dengan tepung.
وقال العراقيون بيع الخبز غيرِ اليابس بمثله أو باليابس لا يجوز؛ لأن الرطوبة التي فيه ماءٌ وفي بيع اليابس بمثله خلاف وذكروا الخلاف في بيع الدقيق بالدقيق
Orang-orang Irak berpendapat bahwa menjual roti yang masih basah dengan roti sejenis atau dengan roti kering tidak diperbolehkan, karena kelembapan yang ada di dalamnya adalah air. Dalam jual beli roti kering dengan roti kering sejenis terdapat perbedaan pendapat, dan mereka juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam jual beli tepung dengan tepung.
فهذا مجموع النصوص
Inilah kumpulan nash-nash.
ولكن اتفق أئمة المذهب على أنها لا تُعدّ من متن المذهب وإنما هي ترددات جرت في القديم وهي مرجوعٌ عنها والمذهب ما مهدناه قبل هذا
Namun para imam mazhab sepakat bahwa pendapat-pendapat tersebut tidak dianggap sebagai bagian dari inti mazhab, melainkan hanyalah keraguan-keraguan yang muncul pada masa dahulu dan telah ditinggalkan, sedangkan mazhab adalah apa yang telah kami jelaskan sebelumnya.
فصل
Bab
في بيان القاعدة المترجمة بمُدّ عجوة ودرهم
Penjelasan tentang kaidah yang diterjemahkan dengan satu mudd kurma ajwah dan satu dirham.
وهذا ركن عظيم في مذهب الشافعي في أصل ربا الفضل فنقول مذهبُنا أن من باع مُدَّ عجوةٍ ودرهماً بمُدَّي عجوة فالبيع باطل وقد اعتمد الشافعي في هذا الأصل حديثَ القلادة وهو ما رُوي عن فَضالة بن عُبيدٍ قال أتي رسول الله صلى الله عليه وسلم بقلادةٍ فيها ذهب وخرزٌ تباع وهي من المغانم فأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بالذهب الذي في القلادة فنزع وقال الذهب بالذهب وزناً بوزنٍ ؛ فاعتمد الشافعي معنىً ظاهِراً قد تقصّيناه في الأساليب
Ini adalah salah satu pilar penting dalam mazhab Syafi‘i mengenai dasar riba fadhl. Kami katakan bahwa mazhab kami berpendapat: siapa yang menjual satu mud kurma ajwah dan satu dirham dengan dua mud kurma ajwah, maka jual beli tersebut batal. Imam Syafi‘i mendasarkan prinsip ini pada hadis tentang kalung, yaitu riwayat dari Fadhalah bin ‘Ubaid yang berkata: Rasulullah saw. didatangkan sebuah kalung yang di dalamnya terdapat emas dan manik-manik yang dijual, dan kalung itu termasuk harta rampasan perang. Maka Rasulullah saw. memerintahkan agar emas yang ada di kalung itu dipisahkan, lalu beliau bersabda, “Emas dengan emas harus seimbang timbangannya.” Maka Imam Syafi‘i mendasarkan pada makna yang jelas, yang telah kami uraikan dalam pembahasan sebelumnya.
ولكن لا بد من ذكرِ ما يجري مجرى التحديد ونشير إلى أصل التعليل فنقول إذا باع مُدَّ عجوة قيمته درهمان ودرهماً بمدّي عجوة قيمةُ كلِّ مدٍّ درهمان فالبيعُ باطلٌ عند الشافعيّ والذي اعتمدهُ الأصحاب فيه من طريق المعنى التوزيعُ
Namun, perlu disebutkan hal-hal yang berfungsi sebagai penentuan dan kami isyaratkan kepada asal-usul ta‘līl, maka kami katakan: Jika seseorang menjual satu mud kurma ‘ajwah yang nilainya dua dirham dan satu dirham dengan dua mud kurma ‘ajwah yang nilai setiap mud-nya dua dirham, maka jual beli tersebut batal menurut Imam Syafi‘i. Adapun pendapat yang dipegang oleh para ulama mazhab dari segi makna adalah pembagian (tawzī‘).
فقالوا الدرهم من هذا الجانب ثلث ما في هذا الجانب فقابل ثلث ما في الجانب الآخر وثُلث المُدّين ثلثا مُدٍّ فيبقى مد وثلث يقابل مُدّاً وهذا تفاضل بيّن ثم أثبتوا التوزيعَ بالقياس على جريانه في الشفعة إذا اشتملت الصفقةُ على شقصٍ وسيف كما قررته في الأساليب
Mereka berkata, dirham dari sisi ini sepertiga dari apa yang ada di sisi lain, maka ia sebanding dengan sepertiga dari apa yang ada di sisi lain, dan sepertiga dari dua mud adalah dua pertiga mud, sehingga tersisa satu mud dan sepertiga yang sebanding dengan satu mud. Ini adalah perbedaan yang jelas. Kemudian mereka menetapkan pembagian tersebut dengan qiyās, sebagaimana berlakunya dalam kasus syuf‘ah apabila suatu transaksi mencakup bagian tanah dan pedang, sebagaimana telah aku jelaskan dalam metode-metode sebelumnya.
والتعويل على التوزيع في التحريم غيرُ سديدٍ عندي؛ فإن العقد لا يقتضي وضعُه توزيعاً مُفصلاً بل مقتضاه مقابلةُ الجملة بالجملة أو مقابلة جزأين شائعين مما في أحد الشقين بجزأين مما في الشق الثاني والمصير إلى أن الدرهم ثلث ما في هذا الجانب تفصيل والعقدُ جرى مبهماً وقد تفصّل التوزيع في الشقصِ والسيف لضرورة الشفعة كما أنا قد نقسم مِلكاً مشتركاً قسمة إجبارٍ وإن كانت القسمةُ تُخالفُ شُيوعَ مِلك الشريكين في جميع أجزاء المِلك فالوجه في التوزيع أن يقال ثلثُ الدرهم وثلث المُدّ يقابل ثلُثَ المدّين وهذا لا يفضي إلى ما يزيده ولا ضرورةَ في تكلف توزيعٍ يؤدي إلى التفاضل
Bersandar pada pembagian dalam pengharaman menurut saya tidaklah tepat; karena akad pada dasarnya tidak mengharuskan adanya pembagian secara terperinci, melainkan cukup dengan saling menukar keseluruhan dengan keseluruhan, atau menukar dua bagian yang tidak ditentukan dari salah satu pihak dengan dua bagian dari pihak lain. Menyimpulkan bahwa satu dirham adalah sepertiga dari apa yang ada di sisi ini merupakan perincian, padahal akad berlangsung secara samar. Pembagian secara rinci hanya dilakukan pada kasus syuf‘ah dalam bagian tanah dan pedang karena adanya kebutuhan. Sebagaimana kita juga dapat membagi kepemilikan bersama secara paksa, meskipun pembagian itu bertentangan dengan sifat kepemilikan bersama kedua mitra atas seluruh bagian harta. Maka, yang tepat dalam pembagian adalah dikatakan: sepertiga dirham dan sepertiga mud ditukar dengan sepertiga dari dua mud, dan ini tidak mengarah pada kelebihan, serta tidak ada kebutuhan untuk memaksakan pembagian yang menyebabkan terjadinya perbedaan nilai.
فالمعتمد عندي في التعليل أنا قد تُعبّدنا بالمماثلة تحقيقاً وإذا باع مُدّاً ودرهماً بمُدّينِ لم تتحقق رعاية التماثل وهو شرط صحة العقد؛ ففسد العقدُ لعدم تحقق المماثلة لا لتحقق المفاضلة ثم لا نحكم بتوزيع التفصيل بوجهٍ ولا سبيل إلى تحكم أبي حنيفة في مقابلة مدٍّ بمدٍّ ودرهم بمد
Pendapat yang saya pegang dalam hal ‘illat adalah bahwa kita telah dibebani syariat untuk melakukan persamaan secara nyata. Jika seseorang menjual satu mud dan satu dirham dengan dua mud, maka persamaan itu tidak terwujud, padahal persamaan adalah syarat sahnya akad; maka akad tersebut menjadi batal karena tidak terwujudnya persamaan, bukan karena terwujudnya kelebihan. Selanjutnya, kita tidak memutuskan untuk membagi perincian dalam bentuk apa pun, dan tidak ada jalan untuk mengikuti pendapat Abu Hanifah yang mempertemukan satu mud dengan satu mud dan satu dirham dengan satu mud.
هذا قاعدة الفصلِ
Ini adalah kaidah pemisahan.
ومن مال إلى التوزيع من أصحابنا فتقريبه أنا أُمرنا بطلب المماثلة كما أُمرنا بتمييز الشقص المشفوع في الصفقة المشتملة على الشقص والسيف ولا طريق يهتدى إليه إلا التوزيع
Dan di antara ulama kami yang cenderung kepada pembagian, penjelasannya adalah bahwa kita diperintahkan untuk mencari kesetaraan sebagaimana kita juga diperintahkan untuk membedakan bagian yang menjadi hak syuf‘ah dalam transaksi yang mencakup bagian tersebut dan pedang, dan tidak ada jalan yang dapat ditempuh untuk itu kecuali dengan pembagian.
وله نظائر في الشريعة وهذا لا يقوى على السَّبرِ
Hal ini memiliki padanan dalam syariat, namun tidak cukup kuat untuk dilakukan pemeriksaan (al-sabr).
فقد حصل مسلكان أحدهما التوزيع والآخر عدم التماثل والاستبهامُ ونحن الآن نُخرِّج مسائلَ الفصل على المسلكين
Maka terdapat dua pendekatan: yang pertama adalah pembagian, dan yang kedua adalah ketidakserupaan serta ketidakjelasan. Sekarang kami akan menguraikan permasalahan-permasalahan dalam bab ini menurut kedua pendekatan tersebut.
فلو باع مُدَّ عجوة قيمتُه درهم ودرهماً؛ بمُدَّي عجوة قيمةُ كل واحد منهما درهم فالبيع باطل باتفاق الأصحاب فأمَّا من اعتمدَ التوزيع إذا قيل له الدرهم نصف ما في هذا الجانب فيقابل مداً ويبقى مدٌّ في مقابلة مدٍّ فلا تفاضل فيقول مجيباً إنما أدَّى التوزيع إلى التماثل من جهة أن قيمة المدّ الذي مع الدرهم فُرضت مثلَ الدرهم وإنما صِيرَ إلى ذلكَ من جهة التقويم والتقويم متلقى من الاجتهاد وشرط التماثل أن يجري محسوساً هذا ما ذكره الموزّعون
Maka jika seseorang menjual satu mud kurma ajwah yang nilainya satu dirham dan satu dirham; dengan dua mud kurma ajwah yang nilai masing-masingnya satu dirham, maka jual beli tersebut batal menurut kesepakatan para ulama. Adapun orang yang mengandalkan pembagian, jika dikatakan kepadanya bahwa satu dirham adalah setengah dari apa yang ada di sisi ini, maka ia berhadapan dengan satu mud, dan tersisa satu mud berhadapan dengan satu mud, sehingga tidak ada kelebihan. Ia pun menjawab bahwa pembagian itu hanya menghasilkan kesetaraan dari sisi bahwa nilai satu mud yang bersama dirham dianggap sama dengan satu dirham, dan hal itu hanya terjadi karena penilaian harga, sedangkan penilaian harga itu bersumber dari ijtihad, dan syarat kesetaraan adalah harus terjadi secara nyata. Inilah yang disebutkan oleh para penganut metode pembagian.
وأنا أقول سبب التحريم في هذه الصورة ما قدَّمته من أن الصفقة اشتملت على مال الربا ولم يتحقق جريان المماثلة وقد تُعبّدنا بالمماثلةِ وهذه الطريقة تجري في هذه الصورة جريانَها في الأُولى
Dan saya katakan bahwa sebab keharaman dalam kasus ini adalah apa yang telah saya sebutkan sebelumnya, yaitu bahwa transaksi tersebut mengandung unsur riba dan tidak terwujudnya kesetaraan (mumātsalah), padahal kita telah diwajibkan untuk menerapkan kesetaraan tersebut. Cara ini berlaku pada kasus ini sebagaimana berlakunya pada kasus yang pertama.
ولو باع مدَّ عجوةٍ ودرهماً بمُد عجوةٍ ودرهمٍ فالبيع باطل وسبيل تخريج الفساد على أصل التوزيع أن نقول الدرهم في هذا الجانب ثلثُ ما في هذا الجانب مثلاً فنقابل ثلُثَ درهم وثلُثَ مدٍّ ويعود التفريع إلى بيع ثلث درهم وثلث مد بدرهم ولو وضع البيع كذلك أول مرّة لكان هذا بمثابة بيع درهم ومد بمدين؛ فإنه قد اتحد الجنس في أحد الشقَّين واختلف ما في الشق الثاني وما اعتمدتُه من الاستبهام يجري في هذه الصورة كما تقرر من غير حاجةٍ إلى فَضْلِ بيان
Jika seseorang menjual satu mud kurma ajwah dan satu dirham dengan satu mud kurma ajwah dan satu dirham, maka jual beli tersebut batal. Cara menjelaskan kerusakan transaksi ini menurut prinsip distribusi adalah dengan mengatakan bahwa dirham pada sisi ini adalah sepertiga dari apa yang ada pada sisi itu, misalnya, sehingga kita membandingkan sepertiga dirham dan sepertiga mud. Hal ini kembali pada jual beli sepertiga dirham dan sepertiga mud dengan satu dirham. Jika sejak awal jual beli dilakukan seperti ini, maka ini sama saja dengan menjual satu dirham dan satu mud dengan dua mud; karena jenis barang pada salah satu sisi sama, sedangkan pada sisi lainnya berbeda. Apa yang saya pegangi terkait ketidakjelasan juga berlaku pada kasus ini sebagaimana telah dijelaskan, tanpa perlu penjelasan tambahan.
فهذه صُورُ الوفاقِ في التحريم مع التردّد في التعليل
Inilah bentuk-bentuk kesepakatan dalam hal pengharaman meskipun terdapat keraguan dalam hal alasan pensyariatannya.
ونحن نذكر الآن صُوَراً اختلف فيها الأصحابُ فننقلها ونذكرُ الخلاف فيها ثم نذكر ضبطَها بالتعليل
Sekarang kami akan menyebutkan beberapa kasus yang diperselisihkan oleh para sahabat (ulama mazhab), lalu kami akan menukilkannya dan menyebutkan perbedaan pendapat di dalamnya, kemudian kami akan menjelaskannya dengan penalaran (ta‘līl).
فممَّا اشتهر الخلافُ فيه أنه إذا باع خمسةَ دراهم مكسرة وخمسةً صحاحاً بخمسة مكسرةٍ وخمسةٍ صحاحٍ أو باع مدَّ عجوةٍ وصَيْحانيَّ بمدّ عجوة وصيحاني
Di antara perkara yang terkenal diperselisihkan adalah apabila seseorang menjual lima dirham pecahan dan lima dirham utuh dengan lima dirham pecahan dan lima dirham utuh, atau menjual satu mud kurma ajwah dan satu mud kurma shayhani dengan satu mud kurma ajwah dan satu mud kurma shayhani.
وذكر صاحب التقريب الخلاف فيه إذا باع خمسةً مكسرة وخمسةً صحاحاً بعشرة صحاح وتعرض في توجيه الصحة لأمرٍ وهو أن مُخرج الصحاح مسامحٌ بالصفة في الخمسة المقابلة بالمكسرة والتفاوت في الصفة لا يضر ولو باع خمسة مكسرة وخمسة صحاحاً بعشرة مكسرة قد ذكر هو الخلافَ في هذه الصورة أيضاًً وقال في توجيه الصحة من أخرج الخمسة الصحاح مسامحٌ بالصفَةِ في مقابلة الخمسة المكسرة
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini, yaitu jika seseorang menjual lima koin pecahan dan lima koin utuh dengan imbalan sepuluh koin utuh. Ia membahas alasan kebolehan transaksi tersebut, yaitu bahwa pihak yang mengeluarkan koin utuh telah bersikap toleran terhadap sifat (kualitas) pada lima koin yang ditukar dengan koin pecahan, dan perbedaan sifat tidaklah membahayakan. Jika seseorang menjual lima koin pecahan dan lima koin utuh dengan imbalan sepuluh koin pecahan, penulis juga menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam kasus ini, dan ia mengatakan bahwa alasan kebolehan adalah pihak yang mengeluarkan lima koin utuh telah bersikap toleran terhadap sifat dalam pertukaran dengan lima koin pecahan.
وكان شيخي يختار الفسادَ في هذه الصور كلها جرياً على أصل التوزيع فإنا نقول الخمسةُ المكسَّرة ثلثُ ما في هذا الجانب مثلاً فتقابل ثلث ما في الجانب الثاني فيؤدي إلى التفاضل المحقق والتوزيع في أصلهِ باطل عندي
Dan guruku memilih pendapat batalnya dalam semua kasus ini, berdasarkan pada prinsip distribusi. Sebab, kita mengatakan bahwa lima yang dipecah adalah sepertiga dari apa yang ada di sisi ini, misalnya, lalu ia dihadapkan dengan sepertiga dari sisi yang lain, sehingga hal itu menyebabkan terjadinya perbedaan nilai yang nyata, dan distribusi itu sendiri pada dasarnya menurutku adalah batil.
وهو في هذه الصورة نهاية في الفساد؛ فإن الصفقة إذا انطوت على عشرة من جانب نصفها مكسّر وعلى عشرة على هذا الوجه من الجانب الثاني فتكلف التوزيع في هذا غلوّ واشتغالٌ بجلب التفاضل على تكلف وقد صارت المماثلةُ محسوسةً بين الجملتين وهذا ما تُعبدنا به ثم هذا على وضوحه في المعنى يعتضد بما يقرب ادّعاءُ الوفاق فيه فما زال الناس يبيعون المكسرة بالصحاح والمكسرةُ لو قسمت لكان فيها قِطع كبار وصغار والقيمةُ تتفاوت في ذلك تفاوتاً ظاهراً ثم لم يشترط أحدٌ تساوي صفة القطاع فقد خرجت هذه المسائل على ما ذكرته أولاً فمن رَاعى التوزيعَ أفسدَ البيع ومن تعلق بما ذكرناه حكم بالصحة لتحقق تماثل الجملتين
Dalam kasus ini, hal tersebut merupakan puncak dari kerusakan; sebab jika suatu transaksi melibatkan sepuluh dari satu pihak yang setengahnya berupa pecahan, dan sepuluh dari pihak lain dengan cara yang sama, maka upaya untuk membagi-bagi dalam hal ini adalah berlebihan dan hanya sibuk mencari-cari perbedaan secara dipaksakan, padahal kemiripan antara kedua kelompok sudah jelas terlihat, dan inilah yang diwajibkan kepada kita. Kemudian, meskipun maknanya sudah jelas, hal ini juga didukung oleh adanya kemungkinan kesepakatan dalam masalah ini. Selama ini, orang-orang selalu memperjualbelikan uang pecahan dengan uang utuh, dan jika uang pecahan itu dibagi-bagi, akan terdapat potongan besar dan kecil, dan nilainya pun sangat bervariasi. Namun, tidak ada seorang pun yang mensyaratkan kesamaan sifat potongan-potongan tersebut. Maka, permasalahan ini kembali kepada apa yang telah saya sebutkan sebelumnya: siapa yang terlalu memperhatikan pembagian, justru merusak jual beli; sedangkan siapa yang berpegang pada apa yang kami sebutkan, maka ia memutuskan keabsahan transaksi karena telah terwujud kemiripan antara kedua kelompok.
والذي يحيك في الصدر نصُّ الشافعي؛ فإنه قال لو راطل مائةَ دينار عُتُق ومائة مروانيَّة بمائتي دينار وسط فالبيع باطل وقد اتحد الجنس في شقّي العقد وقياسي يقتضي القطعَ بصحة العقد ولم أر أحداً من الأئمة يشير إلى خلافٍ في صورة النص واللفظ الذي ذكرته لصاحب التقريب في توجيه الصحةِ إذا باع خمسةً مكسرةً وخمسة صحاحاً بعشرة صحاح حيث قال صاحب العشرة الصحاح مسامحٌ بالصّفة فيه احتراز من صُورة النص؛ فإن الشافعيَّ فرض مسألتَه في العُتُق وهي نفيسة والمَرْوانيَّة وهي دونها ثمَّ فرضَ من الجانب الثاني مائتي دينارٍ وسطاً حتى لا تتحقق معنَى المسامَحةِ وإذا لم يتحقق ذلك اقتضى العقدُ من الشقين طلب المغابنة وهذا يقتضي التوزيعَ وهو يُفضي إلى التفاضل لا محالةَ لو ثبت التوزيع
Yang menjadi pertimbangan dalam hati adalah teks dari asy-Syafi‘i; sebab beliau berkata, “Jika seseorang menukar seratus dinar ‘utuq dan seratus dinar marwaniyah dengan dua ratus dinar wasath, maka jual belinya batal, padahal jenisnya sama pada kedua sisi akad.” Qiyās saya menuntut untuk memastikan sahnya akad, dan saya tidak melihat seorang pun dari para imam yang mengisyaratkan adanya perbedaan pendapat dalam kasus yang disebutkan dalam teks tersebut. Adapun lafaz yang saya sebutkan dari pemilik kitab at-Taqrib dalam penjelasan tentang keabsahan, yaitu jika seseorang menjual lima dinar pecahan dan lima dinar utuh dengan sepuluh dinar utuh, di mana pemilik sepuluh dinar utuh bersikap toleran dalam sifatnya, maka itu sebagai pengecualian dari kasus yang ada dalam teks; sebab asy-Syafi‘i membayangkan kasusnya pada dinar ‘utuq yang bernilai tinggi dan dinar marwaniyah yang nilainya lebih rendah, kemudian dari sisi lain beliau membayangkan dua ratus dinar wasath agar makna toleransi itu tidak benar-benar terjadi. Jika toleransi itu tidak terwujud, maka akad dari kedua sisi menuntut adanya keuntungan sepihak, dan ini menuntut adanya pembagian, yang pasti akan mengakibatkan terjadinya kelebihan (riba) jika pembagian itu benar-benar terjadi.
فهذا حكم المذهب تَلقِّياً من النصِ وتصرُّف الأئمة
Inilah hukum mazhab yang diambil dari nash dan penetapan para imam.
وما ذكرتُه في هذه الصورة من التصحيح رأيٌ رأيتُه وهو خارج عن مذهب الشافعي وأصحابهِ
Apa yang aku sebutkan dalam kasus ini berupa pendapat yang aku anggap benar adalah pandangan yang aku pilih sendiri dan hal itu berada di luar mazhab Syafi‘i dan para pengikutnya.
ومما لا يخفى دركه أنه لو باع عشرةً مكسّرة بعشرة صحاحٍ فالبيع صحيح؛ إذ لم يتحقق اختلاف جنس ولا اختلافُ نوعٍ في واحد من الشقين
Dan tidaklah tersembunyi untuk dipahami bahwa jika seseorang menjual sepuluh keping uang pecahan dengan sepuluh keping uang utuh, maka jual belinya sah; karena tidak terjadi perbedaan jenis maupun perbedaan macam pada salah satu dari kedua pihak.
فصل
Bab
فيما أثّرتِ النار فيه
Tentang sesuatu yang telah dipengaruhi oleh api.
هذا في وضعه كالقولِ في بيع الشيء في غير حال كماله ولكنا أفردناه لغائلةٍ فيه فنقول بيع الدّبس بالدّبس ممتنع باتفاق الأصحاب؛ والسببُ فيه أن النار قد أثرت فيه تأثيراً بيّناً وأثر النار يتفاوتُ في التعقيد تفاوتاً ظاهراً؛ فإن ألسنة النار في اضطرابها تختلف حتى يُرى حِسّاً اختلاف الأثر فيما يحويه المرجل الواحدُ وإذا كان كذلكَ فالدِّبس قد كان عصيراً والعصير على كمالٍ إذ يجوز بيع العصير بالعصير وإذا نظرنا إلى مقدار من الدّبس يقابله مثله فلا نَدْري كم في أحدهما من أجزاء العصير قد تعقَد وكم في الثاني منه؛ فكان هذا خارجاً على منعنا بيعَ الدقيق بالدقيق نظراً إلى توقع تفاوتٍ في كمالٍ سبقَ للحب فهذا ما عليه التعويل
Hal ini dalam posisinya serupa dengan pendapat tentang menjual sesuatu bukan pada saat kesempurnaannya, namun kami membahasnya secara khusus karena ada bahaya tertentu di dalamnya. Maka kami katakan, menjual dibs (sirup kurma atau anggur kental) dengan dibs adalah terlarang menurut kesepakatan para ulama; sebabnya adalah bahwa api telah memberikan pengaruh yang jelas padanya, dan pengaruh api dalam proses pengentalan sangat bervariasi; karena lidah api dalam pergerakannya berbeda-beda sehingga secara nyata terlihat perbedaan pengaruh pada apa yang ada dalam satu wadah. Jika demikian, maka dibs sebelumnya adalah jus, dan jus dalam keadaan sempurna, sehingga boleh menjual jus dengan jus. Namun jika kita melihat pada sejumlah dibs yang dibandingkan dengan jumlah yang sama, kita tidak tahu berapa bagian jus yang telah mengental pada salah satunya dan berapa pada yang lainnya; maka hal ini serupa dengan larangan kami terhadap penjualan tepung dengan tepung karena dikhawatirkan adanya perbedaan dalam kesempurnaan yang telah terjadi pada biji sebelumnya. Inilah yang menjadi pegangan.
ولو قيلَ قد يخالف مكيالٌ من الدبس مكيالاً في الوزن لتفاوتٍ في التعقد لكان كذلك ولكن لا معولَ عليه؛ فإن المعقَّد يباع وزناً فالتعويل على ما قدمته من ملاحظة كمال العصير فهذا بيانُ قاعدة الفصل
Jika dikatakan bahwa satu takaran dibs mungkin berbeda dengan takaran lain dalam beratnya karena perbedaan tingkat kekentalan, maka hal itu memang benar, namun tidak dapat dijadikan sandaran; sebab yang kental dijual berdasarkan berat, sehingga yang dijadikan pegangan adalah apa yang telah saya sebutkan sebelumnya, yaitu memperhatikan kesempurnaan sari buah. Inilah penjelasan kaidah pada bagian ini.
ولو مِيزَ شيءٌ من شيءٍ من غير تعقيدٍ لم يضرّ كالشمع يُميَّز بالشمس عن العسل ثم يباع العسل بمثله فيجوز ولا امتناع فيه ولو مِيزَ الشمع بالنار ووقع الاختصار على قدر الحاجةِ في التمييز ففيه اختلاف من أئمتنا من قال هو بمثابة التمييز بالشمس ومنهم من منع؛ لأن النار أعظم وقعاً من الشمس وهي تؤثر آثاراً متفاوتة في مقدار زمان التمييز
Jika sesuatu dapat dipisahkan dari sesuatu yang lain tanpa adanya kerumitan, maka hal itu tidak membahayakan, seperti lilin yang dipisahkan dengan matahari dari madu, kemudian madu itu dijual dengan yang sepadan dengannya, maka hal itu diperbolehkan dan tidak ada larangan di dalamnya. Namun, jika lilin dipisahkan dengan api dan dilakukan seperlunya sesuai kebutuhan dalam proses pemisahan, maka terdapat perbedaan pendapat di antara para imam kami; ada yang berpendapat hal itu sama dengan pemisahan menggunakan matahari, dan ada pula yang melarangnya, karena api lebih besar pengaruhnya dibandingkan matahari dan api memberikan dampak yang berbeda-beda tergantung lamanya waktu pemisahan.
وظهر اختلاف الأئمة في بيع السكر بالسّكر والفانيذ بالفانيذ فمنعه بعضهم واعتمد أن تأثير النار ظاهر وهو فوق التأثير في الدِّبس وقالَ بَعضُهم يصح؛ فإن تأثير النار قريب والانعقاد من طباع السكر لا من أثر النار وأجزاءُ السكر لا تتفاوت
Terjadi perbedaan pendapat di antara para imam mengenai jual beli gula dengan gula dan fanid dengan fanid. Sebagian dari mereka melarangnya dengan alasan bahwa pengaruh api sangat jelas dan itu lebih besar daripada pengaruh pada dibs. Sebagian yang lain membolehkannya, karena pengaruh api dianggap ringan dan pembekuan itu berasal dari sifat alami gula, bukan dari pengaruh api, serta bagian-bagian gula tidak berbeda-beda.
فإن قيل إذا صُفِّي العسلُ بشمس الحجازِ فقد يكون أثر الشمس في تلك البلاد بالغاً مبلغ النار؛ فإنا نرى شرائح اللحم تُعرض على رمضاء الحجاز فتنش نشَيشَها على الجمر قلنا هذا فيه احتمال والأظهر جواز البيع؛ فإن أثر الشمس فيما أظن لا يتفاوت وإنما يتفاوت أثر النار؛ لاضطرابها وقربها وبُعدها من المرجل
Jika dikatakan: Apabila madu dimurnikan dengan matahari di wilayah Hijaz, bisa jadi pengaruh matahari di sana mencapai tingkat panas seperti api; sebab kita melihat irisan daging diletakkan di atas tanah panas Hijaz hingga mengeluarkan suara mendesis seperti di atas bara api. Maka kami katakan: Dalam hal ini terdapat kemungkinan, namun yang lebih kuat adalah bolehnya jual beli tersebut; karena pengaruh matahari, menurut saya, tidak berbeda-beda, sedangkan pengaruh api yang berbeda-beda; karena api itu tidak tetap, kadang dekat dan kadang jauh dari wadah.
والتعويل على تفاوت الأثر بدليل أنه لو أُغلي ماءٌ بالنار أو خَلٌّ ثقيف لم يمتنع بيع بعضه بالبعض؛ فإن النار لا تؤثر في هذه الأجناس بتعقيدٍ حتى يفرضَ فيه التفاوت فتزيل بعضَ الأجزاء وتُبقي الباقي على استواءٍ وهذا الذي ذكرته جارٍ في كل ما ينعقدُ
Dan dasar penilaian terhadap perbedaan pengaruh adalah berdasarkan dalil bahwa jika air direbus dengan api atau cuka yang telah lama, tidak dilarang menjual sebagian dengan sebagian yang lain; karena api tidak memberikan pengaruh pada jenis-jenis ini dengan cara memperumit sehingga dapat dianggap ada perbedaan, lalu menghilangkan sebagian unsur dan menyisakan sebagian lainnya secara seimbang. Dan apa yang telah saya sebutkan ini berlaku pada setiap sesuatu yang dapat membeku.
فصل
Bab
معقود في الألبان والأدهان والخلول
Terkait dengan susu, lemak, dan cuka.
والغرض بيان اختلافها وتجانسها فنقول أدقّةُ الحبوب المختلفة الأجناس مختلفة بلا خلاف واختلف قولُ الشافعي في لحوم الحيواناتِ المختلفة فقالَ في قولٍ هي مختلفة؛ فإنها أجزاءُ أصولٍ مختلفةٍ وقال في قول هي جنسٌ واحد؛ لأنها اشتركت في الاسم عند ابتداءِ دخولها في الربا ولا ننظر إلى اختلاف أصولها؛ فإنها لم تكن مالَ ربا والغرض من اختلاف الجنس واتحاده أمرُ الربا وسيأتي القولان في بابه إن شاء اللهُ تعالى
Tujuannya adalah untuk menjelaskan perbedaan dan keserupaan jenis-jenis tersebut. Maka kami katakan: tepung dari biji-bijian yang berbeda jenisnya adalah berbeda tanpa ada perbedaan pendapat. Adapun mengenai daging hewan yang berbeda jenis, pendapat Imam Syafi‘i berbeda-beda. Dalam satu pendapat, beliau mengatakan bahwa daging-daging tersebut berbeda jenis, karena merupakan bagian dari asal-usul yang berbeda. Dalam pendapat lain, beliau mengatakan bahwa daging-daging tersebut adalah satu jenis, karena memiliki kesamaan nama ketika awal kali masuk dalam kategori riba, dan tidak perlu memperhatikan perbedaan asal-usulnya, sebab sebelumnya bukan termasuk harta riba. Tujuan dari perbedaan dan kesatuan jenis ini berkaitan dengan perkara riba, dan kedua pendapat tersebut akan dijelaskan pada babnya, insya Allah Ta‘ala.
فأمَّا الأَدْهان والخلول إذا اختلفَتْ أجناس أصولها ففيها طريقان الطريقة المرضيّة أنها مختلفة الأجناس؛ فإن أصولها مختلفة وهي أموال الربا وليست كالحيوانات إذا اختلفت أصولها؛ فإن لحومها أجزاء أصولٍ لا ربا فيها
Adapun minyak dan cuka, apabila berbeda jenis asal-usulnya, maka terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa keduanya berbeda jenis; karena asal-usulnya berbeda dan termasuk harta ribawi, tidak seperti hewan yang jika berbeda asal-usulnya, maka dagingnya merupakan bagian dari asal-usulnya dan tidak termasuk harta ribawi.
ومن أئمتنا من يخرجها على القولين المذكورين في اللحمان من حيث إنها تشترك في الاسم الخاص ولا تتميز إلا بالإضافة كاللحوم ولا يتم غرض هذا القائل إلا بفرق بينها وبين الأدِقّة فنقول الدقيق عين أجزاء الحبّ ولكنَّها مجموعة ففرقت والدّهن المعتصرُ وإن كان في أصله ولكنّهُ في ظن الناس كالشيء المحصَّل جديداً والوجه هو الطريقة الأولى
Sebagian ulama kami mengqiyaskan masalah ini dengan dua pendapat yang telah disebutkan mengenai daging, karena keduanya sama-sama memiliki nama khusus dan tidak dapat dibedakan kecuali dengan tambahan keterangan, seperti halnya daging. Tujuan pendapat ini tidak akan tercapai kecuali dengan membedakan antara tepung dan minyak. Maka kami katakan: tepung adalah bagian-bagian dari biji-bijian itu sendiri, hanya saja ia dikumpulkan lalu dipisahkan, sedangkan minyak yang diperas, meskipun asalnya dari biji-bijian, namun menurut anggapan manusia ia seperti sesuatu yang baru dihasilkan. Pendapat yang lebih kuat adalah cara yang pertama.
وأمَّا الألبان فالظاهر أنها كاللحوم فنطرد فيها القولين؛ فإنها عصارة اللحوم جرت مَجراها
Adapun susu, yang tampak adalah bahwa hukumnya seperti daging, sehingga kedua pendapat berlaku padanya; karena susu merupakan sari dari daging yang mengikuti hukumnya.
ومن أصحابنا من قطع بالاختلاف وطلب فرقاً بينها وبين اللحوم فقال اللحوم في أصولها ليست أموال الربا والألبان يجري فيها الربا قبل انفصالها من أصولها ويمتنع بيعُ شاة في ضرعها لبن بشاة في ضرعها لبن وهذا الفرق رَديء؛ فإن الألبان في الضروع ألبان إطلاقاً واسماًً فقد اشتركت في الاسم الخاص من أول حصولها وهذا معتمد القضاءِ باتحاد جنس اللحوم فلا فقه في إجراء الربا فيها في الضروع بعد القطع باختلاف أصولها
Sebagian dari ulama kami menegaskan adanya perbedaan dan mencari pembeda antara susu di dalam kantung susu hewan dan daging, dengan mengatakan bahwa daging pada dasarnya bukan termasuk harta ribawi, sedangkan susu berlaku hukum riba padanya sebelum terpisah dari asalnya. Oleh karena itu, tidak boleh menjual seekor kambing yang di kantung susunya terdapat susu dengan kambing lain yang juga di kantung susunya terdapat susu. Namun, perbedaan ini lemah; sebab susu di dalam kantung susu tetaplah disebut susu secara mutlak dan secara nama, sehingga keduanya telah sama dalam nama khusus sejak awal keberadaannya. Inilah yang menjadi dasar keputusan hukum bahwa daging adalah satu jenis, sehingga tidak ada fiqh dalam memberlakukan hukum riba pada susu di dalam kantung susu setelah dipastikan perbedaan asalnya.
فرع
Cabang
اختلف الأئمة في السكر والفانيذ فمنهم من قال هما جنس واحد وهذا بعيد ومنهم من قال هما جنسان؛ فإن قصبهما مختلف وليس الفانيذ عَكَرَ السكر فاختلف اسمُهما وصفاتهما وهذا متلقَّى الاختلافِ وأما السكر الأحمرُ الذي يسمى القوالبَ فهو عَكَرُ السكر الأبيض وهو من قصبه وفيه مع ذلك تردد من حيث إنه يُخالفُ صفةَ السكر الأبيض مخالفةً ظاهرةً وقد يشتمل أصلٌ واحد على مختَلِفات؛ فإن اللبن جنس واحد ثم المخيض منه يخالف السمن كما سنذكره ولعل الأظهر أنه من جنس السكر
Para imam berbeda pendapat mengenai gula dan fanidz. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa keduanya adalah satu jenis, namun pendapat ini jauh dari kebenaran. Sebagian lain berpendapat bahwa keduanya adalah dua jenis yang berbeda, karena tebu asalnya berbeda dan fanidz bukanlah ampas gula, sehingga nama dan sifat keduanya pun berbeda. Inilah sumber perbedaan pendapat tersebut. Adapun gula merah yang disebut qawālib, itu adalah ampas dari gula putih dan berasal dari tebunya, namun tetap ada keraguan karena sifatnya berbeda secara jelas dengan gula putih. Terkadang, satu asal bisa mencakup hal-hal yang berbeda; misalnya, susu adalah satu jenis, namun mentega yang dihasilkan darinya berbeda dengan samin, sebagaimana akan kami jelaskan. Barangkali yang lebih kuat adalah bahwa gula merah masih termasuk jenis gula.
وذكر شيخي وجهين في عصير العنب وخلِّه أحدهما أنه جنسٌ ولكن حالت صفة العصير فكان ذلك كاللبن الحليب مع القارص والثاني أنهما جنسان وهو الظاهر عندي؛ لإفراط التفاوت في الاسم والصفة والمقصود والشيء لا يكون مأكولاً فلا يجري فيه الربا ثم تحول صفته فيصير مأكولاً؛ ويدخل في حكم الربا فإذا كان تحوُّل الصفات يؤثر هذا الأثر جاز أن يؤثِّر في اختلاف الأجناسِ
Syekh saya menyebutkan dua pendapat mengenai jus anggur dan cuka anggur; yang pertama, keduanya dianggap satu jenis, namun sifat jus telah berubah, sehingga hal itu seperti susu segar yang dicampur dengan bahan asam. Pendapat kedua, keduanya adalah dua jenis yang berbeda, dan inilah yang tampak kuat menurut saya, karena perbedaan yang sangat besar dalam nama, sifat, dan tujuan penggunaannya. Sesuatu yang pada awalnya tidak dapat dimakan sehingga tidak berlaku hukum riba atasnya, kemudian berubah sifatnya sehingga menjadi dapat dimakan dan masuk dalam hukum riba. Jika perubahan sifat dapat memberikan pengaruh sebesar ini, maka boleh jadi perubahan sifat juga mempengaruhi perbedaan jenis.
وكُسب السمسم مخالفٌ جنسَ دهنه وفاقاً كما يُخالف المخيضُ السمنَ ولو اعتُصر من اللحم ماؤُه وبقي من اللحم ما لا ينعصر بفعلنا فالكلُّ جنسٌ واحد وليس كالدُّهن والكُسب؛ فإنا نعلم أن في السمسم دهناً وثُقْلاً في الخلقة واللحم كلُّه في الخلقة شيءٌ واحدٌ والبلحُ مع الرطب والتمر والحُصرم مع العنب في معنى العصير مع الخل عندي
Kue biji wijen (kisb as-simsim) berbeda jenis dengan minyaknya, sebagaimana buttermilk berbeda dengan mentega. Jika air diperas dari daging dan masih tersisa bagian daging yang tidak dapat diperas oleh perbuatan kita, maka semuanya tetap satu jenis, tidak seperti minyak dan kue biji wijen. Sebab kita mengetahui bahwa dalam biji wijen terdapat minyak dan bagian berat dalam ciptaannya, sedangkan daging seluruhnya dalam ciptaannya adalah satu hal yang sama. Demikian pula buah kurma muda dengan kurma basah dan kurma kering, serta anggur asam dengan anggur, menurut saya, sama halnya dengan sari buah dibandingkan dengan cuka.
وحكى العراقيون عن ابن أبي هريرة أنه منع بيع الشَّيْرج بالشَّيْرج متماثلاً وعلل بأن دُهن السمسم لا يتأتى استخراجُه إلا بالملح والماء فهو على تقديره مختلِفٌ
Orang-orang Irak meriwayatkan dari Ibnu Abi Hurairah bahwa ia melarang jual beli minyak wijen dengan minyak wijen secara sepadan, dan ia beralasan bahwa minyak wijen tidak dapat diekstrak kecuali dengan garam dan air, sehingga menurutnya keduanya berbeda.
وسنذكر منع بيع المختلِط بمثله ثم خصَّص هذا المنعَ بدهن السمسم دون غيره من الأدهان حكَوْا هذا عنه وزيّفوه وقالوا الماءُ لا يُخالطُ الدُّهن والملحُ يبقى مع الكُسبِ ولو كان في الشَّيْرج لأُدركَ طعمه ثم تخصيص هذا بالشَّيرج لا معنى له
Kami akan menyebutkan larangan menjual barang yang tercampur dengan sejenisnya, kemudian larangan ini dikhususkan pada minyak wijen saja, tidak pada minyak lainnya. Mereka meriwayatkan hal ini darinya dan melemahkannya, serta berkata bahwa air tidak bercampur dengan minyak, dan garam tetap bersama ampasnya; jika ada dalam minyak wijen, pasti akan terasa rasanya. Kemudian, pengkhususan larangan ini hanya pada minyak wijen juga tidak ada maknanya.
فصل
Bab
في المختلِطات
Tentang perkara-perkara yang bercampur.
نقول كل مختلِطٍ بغيره من أموال الربا بِيع بمثله فالبيع باطل كالسكَّر المختلط ببعض اللُّبوبِ إذا بيع بمثله وبطلان البيع يُخرَّجُ على القاعدة الممهدة في بيع مُدِّ عجوة ودرهم بمد عجوة ودرهم
Kami katakan, setiap barang yang bercampur dengan barang lain dari harta riba lalu dijual dengan yang sejenis, maka jual belinya batal, seperti gula yang bercampur dengan sebagian biji-bijian jika dijual dengan yang sejenis. Kebatalan jual beli ini didasarkan pada kaidah yang telah ditetapkan dalam jual beli satu mud ‘ajwah dan satu dirham dengan satu mud ‘ajwah dan satu dirham.
وبيع اللبن باللبن جائز وفاقاً؛ فإن قيل اللبن مشتمل على السمن والمخيض وهما جنسان مختلفان قلنا اللبن يُعدُّ جنساً واحداً وليس يَبين فيه اجتماع أخلاطٍ ولو سلكنا هذا المسلكَ لمنَعنا بيع السمسم بمثله لاشتماله على الثُّقل والدُّهن ولقُلنا لا يجوز بيع التمر بالتمر؛ لاشتماله على المطعوم والنَّوى
Jual beli susu dengan susu hukumnya boleh menurut kesepakatan; jika ada yang mengatakan bahwa susu mengandung mentega dan dadih yang merupakan dua jenis yang berbeda, maka kami katakan bahwa susu dianggap sebagai satu jenis saja dan tidak tampak di dalamnya adanya campuran. Jika kita mengikuti cara berpikir seperti itu, maka kita akan melarang jual beli wijen dengan wijen karena mengandung bagian berat dan minyak, dan kita juga akan mengatakan tidak boleh menjual kurma dengan kurma karena di dalamnya terdapat bagian yang bisa dimakan dan biji.
واتفق الأصحاب على منع بيع الشَّهد بالشهد وعللوا بأنه شمع وعسل وأوقع عبارة في الفرق بين الشهدِ واللبن أن الشمع غيرُ مخامر للعسل في أصله؛ فإن النحلَ ينسِج البيوت من الشمع المحض ثم يُلقي في خَللَهِ العسلَ المحضَ فالعسل متميّز في الأصل ثم من يشتارُ العسلَ يخلطه بالشمع بعضَ الخلط بالتعاطي والضَّغط وليس اللبن كذلكَ
Para ulama sepakat melarang jual beli syahd (sarang madu) dengan syahd, dan mereka beralasan bahwa syahd terdiri dari lilin dan madu. Ada pula penjelasan yang membedakan antara syahd dan susu, yaitu bahwa lilin tidak bercampur dengan madu sejak asalnya; sebab lebah membuat sarangnya dari lilin murni, kemudian memasukkan madu murni ke dalam celah-celahnya, sehingga madu itu pada asalnya terpisah. Kemudian, orang yang mengambil madu mencampurnya dengan lilin sebagian campuran karena proses pengambilan dan penekanan, sedangkan susu tidak demikian.
فإن قيل قد ذكرتم أن اللبن في حكم جنسٍ واحد لا اختلاطَ فيهِ فجوّزوا بيعَ اللبن بالسمن بناء على أن اللبن جنسٌ واحد قلنا هذا فيه بعض الغموض من طريق التعليل ولكنه متفق عليه
Jika dikatakan, “Kalian telah menyebutkan bahwa susu dalam hukum dianggap satu jenis yang tidak ada percampuran di dalamnya, maka perbolehkanlah jual beli susu dengan mentega berdasarkan bahwa susu adalah satu jenis,” kami katakan, “Hal ini memang mengandung sedikit kerancuan dari segi alasan, namun hal ini telah menjadi kesepakatan (ijmā‘).”
وفي معناه بيعُ السمسم بالشَيْرج مع تجويز بيع السمسم بالسمسم وأقصى الممكن فيه أن اللبن إذا قوبل بالسمن فلا يمكن أن يُجعل مخالفاًً للسمن؛ فإنّ اللبن إذا مُخض يُجمع منه السمن فإذا لم يكن مخالفاًً للسمن فإنما يُجانسُه بما فيه من السمن لا بصورته وطعمه؛ فإن صورته تُخالف صورة السمن وإذا اعتبرنا السمنَ لما ذكرناه انتظم منه أنه بيعُ سمنٍ بسمنٍ ومخيض وأما بيع اللبن باللبن فيعتمد تجانس اللبن في صفته الناجزة ولا ضرورة تُحوِج إلى تقدير تفريق الأجزاء فافهموا ذلك
Dalam makna yang sama adalah jual beli wijen dengan minyak wijen, dengan membolehkan jual beli wijen dengan wijen. Paling jauh yang mungkin terjadi di sini adalah jika susu dibandingkan dengan mentega, maka tidak mungkin dianggap berbeda dengan mentega; sebab susu, jika dikocok, akan diambil menteganya. Maka jika tidak berbeda dengan mentega, berarti ia sejenis dengan mentega karena kandungan mentega di dalamnya, bukan karena bentuk dan rasanya; sebab bentuknya berbeda dengan bentuk mentega. Jika kita mempertimbangkan mentega sebagaimana yang telah disebutkan, maka hasilnya adalah jual beli mentega dengan mentega dan susu kocok. Adapun jual beli susu dengan susu, maka yang dijadikan dasar adalah kesamaan susu dalam sifatnya yang nyata, dan tidak ada kebutuhan mendesak untuk memperkirakan pemisahan bagian-bagiannya. Maka pahamilah hal ini.
فإن قيل ذكرتم أن منع بيع الشهد بالشهد معلّلٌ بأنه بيعُ شمع وعسل ثم حققتم ذلك بتميّز العسل في الخلقة عن الشمع والنوى في الفطرة متميز عن المطعوم في التمر قلنا الأمر كذلك ولكن صلاح التمر في ادّخاره في بقاء النوى فيه فاحتمل ذلك هذه الضرورةَ وصلاح العسل في تصفيته ويمكن أن يقال الشمعُ في العسل بمثابة العظم في اللحم
Jika dikatakan: Kalian telah menyebutkan bahwa larangan menjual madu sarang dengan madu sarang itu beralasan karena merupakan penjualan lilin dan madu, kemudian kalian menegaskan hal itu dengan perbedaan ciptaan madu dari lilin, sebagaimana biji kurma secara fitrah berbeda dari bagian yang dapat dimakan pada kurma. Kami katakan: Memang demikian, tetapi kebaikan kurma terletak pada kemampuannya untuk disimpan dengan tetap adanya biji di dalamnya, sehingga hal itu dapat ditoleransi karena kebutuhan tersebut. Adapun kebaikan madu terletak pada kejernihannya. Bisa juga dikatakan bahwa lilin pada madu itu seperti tulang pada daging.
فإن قيل إذا قلنا الألبان جنسٌ واحد فلا يجوز بيعُ لبن البقر بلبن الإبل متفاضلاً فلو بيع سمن البقر بلبن الإبل فكيف حكمه وليس في لبن الإبل سمنٌ يتميّز بالمخض والعلاجِ قُلنا الظاهر أنا لا نجعل لبن الإبل مشتملاً على سمن تقديراً حتى يقال هو بمثابة سمن البقر بلبن البقر ثم إذا كان كذلكَ فوَراءه احتمالٌ في أن سمن البقر هل يخالف جنسَ لبن الإبل والتفريع على تجانس الألبان فالظاهر أنه خلافه؛ فيجوز بيعه به متفاضلاً؛ والسبب فيه أنا حكمنا بتجانس الألبان لاجتماعها في الاسم الخاص وقد زال هذا المعنى ولم نُقدّر في لبن الإبل سمناً
Jika dikatakan: Jika kita berpendapat bahwa susu adalah satu jenis, maka tidak boleh menjual susu sapi dengan susu unta secara tidak seimbang. Lalu, bagaimana hukumnya jika mentega sapi dijual dengan susu unta, padahal dalam susu unta tidak terdapat mentega yang dapat dipisahkan dengan cara dikocok dan diolah? Kami katakan: Yang tampak, kami tidak menganggap susu unta mengandung mentega secara taksiran sehingga dikatakan ia setara dengan mentega sapi terhadap susu sapi. Kemudian, jika demikian keadaannya, maka ada kemungkinan lain, yaitu apakah mentega sapi berbeda jenis dengan susu unta? Jika didasarkan pada kesamaan jenis susu, maka yang tampak adalah ia berbeda jenis; sehingga boleh menjualnya secara tidak seimbang. Sebabnya adalah, kami menetapkan kesamaan jenis pada susu karena kesamaannya dalam nama khusus, dan makna ini telah hilang (pada kasus ini), serta kami tidak menganggap dalam susu unta terdapat mentega.
والعلم عند الله
Dan ilmu itu hanya milik Allah.
فهذا تمهيد القاعدة في المختلطات
Ini adalah penjelasan dasar mengenai kaidah dalam perkara-perkara yang bercampur.
ونحن نبني عليها الآن مسائل في بيع الخلول بعضِها ببعضٍ
Sekarang kita akan membahas beberapa permasalahan tentang jual beli khulūl satu sama lain berdasarkan hal tersebut.
فنقول بيع خل العنب بخل العنب ولا ماء في واحدٍ منهما جائزٌ مع رعايةِ التماثل وبيع خل العنبِ بخل الزبيب ممتنعٌ؛ لمكان الماء في خل الزبيب وعصيرُ الزبيب وخلُّه يجانس عصيرَ العنب وخلَّه وبيع خل الزبيب بخل الزبيب ممتنعٌ لتجانُس الخلَّين واشتمالِ كل واحد منهما على الماء فهو من فروع مُد عجوة وكذلك يمتنع بيع خل التمر بخل التمر فأما بيع خل التمر بخل العنب فيخرج على اختلاف القول في تجانس الخلول فإن جرينا على الصحيح وقلنا هما جنسان فالبيع صحيح فإن الخلَّين جنسان وليس في خل العنبِ ماءٌ حتى يفرض تقابل الماءين وإن قلنا هما جنس واحد فيمتنع البيع؛ لأنه بيع خل وماء بخل صرف يجانسه فكان كبيع خل الزبيب بخل العنب وأما بيع خل التمر بخل الزبيب فيخرج على قول التجانس فإن قلنا هما جنس واحد فالبيع ممتنع بما يمتنع به بيع خل التمر بخل التمر وإن قلنا هما جنسان انبنى الأمر على أن الماء هل يجري فيه الربا فإن قلنا لا ربا فيه صح العقد وإن قلنا فيه الربا منع الأصحاب البيعَ؛ لجهالة مقدار الماء أولاً ثم للجمع بينه وبين غيره في الشقين وفي الماء وكونه غيرَ مقصودٍ إشكالٌ سنشرحه في باب الألبان
Maka kami katakan, jual beli cuka anggur dengan cuka anggur, selama tidak ada air pada keduanya, hukumnya boleh dengan syarat memperhatikan kesetaraan (kadar/ukuran). Adapun jual beli cuka anggur dengan cuka kismis tidak diperbolehkan, karena adanya air pada cuka kismis. Sari kismis dan cuka kismis sejenis dengan sari anggur dan cuka anggur. Jual beli cuka kismis dengan cuka kismis juga tidak diperbolehkan karena kedua cuka tersebut sejenis dan masing-masing mengandung air, sehingga termasuk cabang dari masalah mud ajwah. Demikian pula tidak diperbolehkan jual beli cuka kurma dengan cuka kurma. Adapun jual beli cuka kurma dengan cuka anggur, maka hukumnya mengikuti perbedaan pendapat tentang kesamaan jenis cuka. Jika kita mengikuti pendapat yang shahih dan mengatakan keduanya adalah dua jenis yang berbeda, maka jual belinya sah, karena kedua cuka itu berbeda jenis dan pada cuka anggur tidak terdapat air sehingga tidak perlu memperhitungkan adanya dua air yang saling dipertukarkan. Namun jika dikatakan keduanya satu jenis, maka jual beli tersebut tidak diperbolehkan, karena itu berarti menjual cuka dan air dengan cuka murni yang sejenis, sehingga hukumnya sama dengan jual beli cuka kismis dengan cuka anggur. Adapun jual beli cuka kurma dengan cuka kismis, maka hukumnya mengikuti pendapat tentang kesamaan jenis. Jika dikatakan keduanya satu jenis, maka jual belinya tidak diperbolehkan sebagaimana tidak bolehnya jual beli cuka kurma dengan cuka kurma. Jika dikatakan keduanya dua jenis, maka permasalahannya kembali kepada apakah air yang ada di dalamnya terkena hukum riba atau tidak. Jika dikatakan air tersebut tidak terkena riba, maka akadnya sah. Namun jika dikatakan air tersebut terkena riba, maka para ulama melarang jual beli tersebut, karena tidak diketahui kadar airnya terlebih dahulu, kemudian karena menggabungkan air dengan selainnya dalam kedua sisi pertukaran. Dalam hal air dan karena air bukan tujuan utama, terdapat permasalahan yang akan dijelaskan pada bab susu.
فهذا تفصيل بيع الخلول
Inilah penjelasan rinci tentang jual beli khulūl.
فصل
Bab
في بيع الألبان وما يُتخذ منها
Tentang jual beli susu dan apa yang dihasilkan darinya
لا خلاف في جواز بيع اللبن باللبن وهذا حالُ كمالٍ فيه وليس اللبن في ذلك كالرطب؛ فإن الرطب كمالُه عُرفاً في جَفافه المنتظر واللبن يستعمل أكثره لبناً كذلك وما يُستعمل من الرطب يُعدُّ تفكهاً بعُجَالةٍ من جنس والمقصودُ الأظهرُ منه اقتناؤه قوتاً وذلك بأن يجفف ويُدَّخر في المخازن ويقتات على طوال السنة
Tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya menjual susu dengan susu, dan ini adalah keadaan sempurna pada susu tersebut. Susu dalam hal ini tidak seperti kurma basah; karena kesempurnaan kurma basah menurut kebiasaan adalah pada kekeringan yang dinantikan, sedangkan susu kebanyakan digunakan dalam bentuk cair sebagaimana adanya. Adapun kurma basah yang digunakan, itu dianggap sebagai camilan yang dikonsumsi dengan segera dari jenis tersebut, sedangkan tujuan utamanya adalah untuk menyimpannya sebagai makanan pokok, yaitu dengan mengeringkannya, menyimpannya di gudang, dan dikonsumsi sepanjang tahun.
ولا يجوز بيع اللبن بشيء يُتخذ منه لما قررتُه في فصل المختلطات فينبغي أن يُعلم أن اللبن مشتمل على مخيض وسمن ثم يُتَّخذ من المخيض إذا مِيز الأَقِطُ والمصل والجُبن يتخذ من اللبن كما هو ثم إذا مِيز السمن وبقي المخيض فلا خلاف أن المخيض والسمنَ جنسان مختلفان لتباين الصفات واختلاف الاسم والغرض ومن مقصود الفصل ما تقدّمَ من أن اللبن إذا قُوبل باللبن كان بمثابة جنسٍ واحد يقابله مثله كالسمسم يباع بمثله ولا ينظر إلى اشتمال اللبن على السمن وغيرِه وإذا قُوبل اللبن بالسمن أو بالمخيض لم يصح العقد وكان كبيع السمسم بدُهنه
Tidak boleh menjual susu dengan sesuatu yang dihasilkan darinya, sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam bab campuran. Maka perlu diketahui bahwa susu mengandung mentega cair (makhīḍ) dan mentega (saman), kemudian dari makhīḍ yang telah dipisahkan dihasilkan aqith dan whey (maṣl), sedangkan keju dibuat langsung dari susu. Setelah mentega dipisahkan dan tersisa makhīḍ, tidak ada perbedaan pendapat bahwa makhīḍ dan mentega adalah dua jenis yang berbeda karena perbedaan sifat, nama, dan tujuan penggunaannya. Di antara maksud dari pembahasan ini adalah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa jika susu ditukar dengan susu, maka hukumnya seperti satu jenis yang dipertukarkan dengan sesamanya, seperti biji wijen dijual dengan biji wijen, dan tidak dilihat kandungan susu yang terdiri dari mentega dan lainnya. Namun, jika susu ditukar dengan mentega atau makhīḍ, maka akadnya tidak sah, dan hukumnya seperti menjual biji wijen dengan minyaknya.
وجُملة ما سنذكره من مسائل الفصلِ يخرج على هذه القواعدِ فاللبن يباع بمثله والرائب الذي خَثُرَ بنفسهِ من غير نارٍ يباع باللبن الحليب ويُباع بمثله
Seluruh permasalahan yang akan kami sebutkan dalam bab ini didasarkan pada kaidah-kaidah tersebut, sehingga susu dapat dijual dengan susu sejenisnya, dan susu kental yang mengental dengan sendirinya tanpa dipanaskan dapat dijual dengan susu segar dan dijual dengan sejenisnya.
فإن قيلَ إذا خَثُر الشيءُ كان أثقلَ والذي يحويه المكيال من الشيء الخاثر يزيد على الرقيق من جنسه بالوزن زيادةً ظاهرةَ فما الوجه في ذلك
Jika dikatakan: apabila suatu benda mengental, maka ia menjadi lebih berat, dan apa yang diisi oleh takaran dari benda yang kental akan lebih berat daripada yang cair dari jenisnya dengan penambahan berat yang jelas; maka apa penjelasan mengenai hal itu?
قلنا منع بيع الدبس بالدبس غير مبني على التفاوت في الوزن مع التساوي في المكيال؛ فإنا لو اعتبرنا ذلك لجوَّزنا بيع الدبس بالدبس وزناً إذا كان يوزن ولكنا اعتمدنا في ذلك خروجَ الدبس عن حال الكمال ولا ندري كم في كل دبس من أجزاء العصير
Kami katakan, larangan menjual dibs dengan dibs tidak didasarkan pada perbedaan berat dengan kesamaan takaran; sebab jika kami mempertimbangkan hal itu, tentu kami membolehkan jual beli dibs dengan dibs secara timbangan jika memang ditimbang. Namun, yang kami jadikan dasar dalam hal ini adalah karena dibs telah keluar dari kondisi sempurnanya, dan kami tidak mengetahui berapa bagian sari buah yang terdapat dalam setiap dibs.
وأما الرائب الخاثر فقد قطع الأصحاب بجواز بيعه باللبن وجواز بيع بعضه بالبعض ويتَّجهُ في بيع بعضه بالبعض أن يقال الانعقادُ جرى في اللبن على تساوٍ ولا يربو في الإناء إذا انعقد رائباً ولا ينقص؛ فإنه طبيعة في نفس اللبن عقَّادة وليس من جهة ذهاب جزءٍ وبقاء جزءٍ
Adapun raaib khaatsir, para ulama sepakat atas bolehnya menjualnya dengan susu, dan bolehnya menjual sebagian dengan sebagian yang lain. Dalam hal jual beli sebagian dengan sebagian yang lain, pendapat yang kuat adalah bahwa akad terjadi atas dasar kesetaraan pada susu, dan tidak bertambah di dalam wadah ketika telah menjadi raaib, serta tidak berkurang; karena itu merupakan sifat alami dari susu itu sendiri yang mengental, bukan karena ada bagian yang hilang dan bagian yang tersisa.
فأما بيع الخاثر باللبن فإن كان يوزن فيظهر تجويزه وإن كان يكال فبيعُ اللبن الحليب بالرائب الخاثر كيلاً فيه احتمال ظاهر في المنع ووجهُ التجويز تشبيهُ الخاثر بالحنطة الصلبةِ العَلِكةِ تباع بالرخوة وتحقيقهُ فيه أن الرائب لبن خاثر فكأنه لا يُعدُّ بعيداً عن اللبن الحليب فيشبهان الحنطة الصُّلبة والرخوة
Adapun jual beli antara susu kental dengan susu segar, jika ditimbang maka tampak jelas kebolehannya. Namun jika dijual dengan takaran, maka jual beli susu segar dengan susu kental secara takaran terdapat kemungkinan yang nyata untuk dilarang. Alasan kebolehannya adalah dengan menyerupakan susu kental dengan gandum keras yang dijual dengan gandum lunak. Penjelasannya adalah bahwa susu kental merupakan susu yang telah mengental, sehingga tidak dianggap jauh berbeda dari susu segar, sehingga keduanya menyerupai gandum keras dan gandum lunak.
وبيعُ المخيض بالمخيض جائز إذا لم يكن فيهما ماء ولا في أحدهما وبيعُ السمن بالسمن جائز والمخيض والسمن مختلفان؛ فيجوز بيع أحدهما بالثاني متفاضلاً
Menjual makhīdh dengan makhīdh diperbolehkan jika keduanya tidak mengandung air atau salah satunya tidak mengandung air. Menjual samn dengan samn juga diperbolehkan, dan makhīdh serta samn adalah dua hal yang berbeda; maka diperbolehkan menjual salah satunya dengan yang lain secara tidak seimbang.
واتفق الأئمة على جواز بيع المخيض بالزُّبد ولا نظرَ إلى ما في الزُّبد من رغوة وهي إذا مِيزَتْ كانت مخيضاً ولكن لا مبالاة بذلك القدر؛ فإن المقصود من الزبد السمن
Para imam sepakat tentang bolehnya menjual susu kocok dengan mentega, dan tidak dipermasalahkan adanya buih pada mentega, yang jika dipisahkan maka ia menjadi susu kocok. Namun, tidak dianggap masalah dengan kadar tersebut, karena yang menjadi tujuan dari mentega adalah lemaknya.
وقال الأئمة لو باع حنطةً بشعير وفي الحنطة حباتُ شعيرِ صحَّ البيع؛ فإنّ الشعيرَ في الحِنطةِ غيرُ مقصودٍ لمن يبتغي تَملّكَ الحنطة ولو باع حنطةً بحنطة وفي أحد المكيالين حبّاتُ شعير فالبيعُ مردودٌ عند الأصحاب؛ من جهة أن المماثلة تزول بين الحنطتين بسبب ذلك القدر من الشعير والمماثلة معتبرة في بيع الحنطة بالحنطة والذي ذكرناه في بيع الحنطة بالشعير والمماثلةُ غيرُ معتبرةٍ في مقصود العوضين فلنقع على ذلك ولهذا لم نمنع بيعَ المخيض بالزُّبد؛ فإن المخيض وما هو مقصود من الزبد مختلفان لا تعتبر المماثلة بينهما والرغوة إن ماثلت المخيض فهي ليست مقصودةً
Para imam berkata: Jika seseorang menjual gandum dengan jelai, dan di dalam gandum tersebut terdapat beberapa butir jelai, maka jual beli itu sah; karena jelai yang terdapat dalam gandum tidaklah menjadi tujuan bagi orang yang ingin memiliki gandum. Namun, jika seseorang menjual gandum dengan gandum, dan di salah satu takaran terdapat beberapa butir jelai, maka jual beli itu ditolak menurut para ulama; karena kesetaraan antara kedua gandum tersebut hilang akibat adanya sejumlah jelai itu, sedangkan kesetaraan (mumathalah) dianggap penting dalam jual beli gandum dengan gandum. Adapun yang telah kami sebutkan dalam jual beli gandum dengan jelai, kesetaraan tidaklah menjadi syarat dalam tujuan kedua barang yang dipertukarkan, sehingga jual beli itu sah. Oleh karena itu, kami tidak melarang jual beli susu kocok dengan mentega; karena susu kocok dan apa yang menjadi tujuan dari mentega adalah dua hal yang berbeda, sehingga kesetaraan tidak dianggap di antara keduanya. Adapun buih, meskipun menyerupai susu kocok, ia bukanlah sesuatu yang menjadi tujuan.
والذي يشير إليه كلامُ الأصحاب أن المقدار اليسيرَ من الشعير وإن كان يفرض متموّلاً فالأمر كما وصفناه إذا لم يكن بحيث يُقصد في نفسه والأصحابُ لما جوزوا بيعَ المخيض بالزبد لم يفرقوا بين القليل والكثير وإذا كثُر الزَّبدُ فالرغوة قد تبلغ مبلغاً يُطلبُ مثله في جنس المخيض ولكن المرعيَّ في الباب أن ما يُميَّزُ من الزَّبدِ في الغالب يُبدّدُ ولا يُعتنَى بجَمْعه وإن كثر الزَّبد فهذا هو المعنيُّ بقول الأصحاب الرغوةُ غيرُ مقصودة والشعيرُ إذا قل بالإضافة إلى الحنطة فلا يقصد تمييزها ليستعملَ شعيراً فيتعيَّن التَنبه لهذا
Apa yang ditunjukkan oleh perkataan para ulama adalah bahwa sejumlah kecil jelai, meskipun dianggap sebagai harta, keadaannya seperti yang telah kami jelaskan jika tidak dimaksudkan untuk digunakan secara tersendiri. Para ulama, ketika membolehkan jual beli susu kocok dengan mentega, tidak membedakan antara jumlah sedikit dan banyak. Jika mentega banyak, maka buihnya bisa mencapai kadar yang dicari dalam jenis susu kocok tersebut. Namun, yang menjadi perhatian dalam masalah ini adalah bahwa mentega yang biasanya dipisahkan umumnya akan dibuang dan tidak diperhatikan untuk dikumpulkan, meskipun jumlahnya banyak. Inilah yang dimaksud dengan perkataan para ulama bahwa buih tidak menjadi tujuan. Adapun jelai, jika jumlahnya sedikit dibandingkan dengan gandum, maka tidak dimaksudkan untuk dipisahkan agar digunakan sebagai jelai. Maka, hal ini perlu diperhatikan.
وإذا بَاع الحنطةَ بالحنطة وفي أحد المكيالين من الشعير ما لو مُيّز لم يَبِن على المكيال فلا مبالاةَ بهذا أيضاًً فإذا اتفق جنسُ المطلوب في العوضين وكان في أحدهما جنس آخر لو مُيّز لم يَبِن على المكيال فلاَ مبالاة به وإن كان يَبِينُ على المكيال لم يضح البيع؛ لعدم المماثلة في الجنسِ المقصود
Dan apabila seseorang menjual gandum dengan gandum, lalu di salah satu takaran terdapat jelai yang jika dipisahkan tidak tampak pada takaran, maka hal ini juga tidak menjadi masalah. Maka jika jenis barang yang dimaksud sama pada kedua barang tukar, dan pada salah satunya terdapat jenis lain yang jika dipisahkan tidak tampak pada takaran, maka hal itu tidak menjadi masalah. Namun jika tampak pada takaran, maka jual beli tidak sah karena tidak adanya kesepadanan pada jenis yang dimaksud.
وإن اختلف الجنس في العوضين وكان في أحدهما ما يُجانس العوض المقابلَ ولكن لم يكن بحيث يُقصد على حياله فالبيع صحيح ولا نظر إلى التموّل تقديراً ولا إلى التأثير في الكيل أما التأثير في الكيل فلا أثر له مع اختلاف جنس العوضين وأما التموّل فلم يُعتبر من جهة أنه مفردٌ غيرُ مقصودٍ وشبّه هذا بأخذ المُحرِم الشعرَ من نفسه فهو موجب للفدية ولو قطع من نفسه عضواً عليها شعر لم يلتزم الفِدية من حيث لم يجرّد القصدَ إلى إزالة الشعر
Jika kedua barang yang dipertukarkan berbeda jenisnya, dan pada salah satunya terdapat unsur yang sejenis dengan barang yang menjadi lawannya, namun unsur tersebut tidak dimaksudkan secara tersendiri, maka jual beli tersebut sah dan tidak perlu memperhatikan penilaian harta (al-tamawwul) secara taksiran, maupun pengaruhnya terhadap takaran. Adapun pengaruh terhadap takaran, maka tidak berpengaruh jika jenis kedua barang berbeda. Sedangkan penilaian harta (al-tamawwul) tidak dianggap karena unsur tersebut adalah bagian tersendiri yang tidak dimaksudkan secara khusus. Hal ini diibaratkan dengan seorang muhrim yang mencabut rambutnya sendiri, maka ia wajib membayar fidyah. Namun jika ia memotong anggota tubuhnya yang terdapat rambut, ia tidak wajib membayar fidyah karena tidak ada maksud khusus untuk menghilangkan rambut tersebut.
ولو باع حنطة بحنطةٍ وفي أحد المكيالين تراب لو مِيزَ ظهر نقصُه في المكيال فالبيع باطل وكذلك إذا اشتمل المكيالان على التراب على الحد الذي ذكرناه فأما إذا كان التراب في أحد المكيالين فالمفاضلة مستَيْقنةٌ وإن كان الترابُ فى المكيالين جميعاً فالمماثلة مجهولة وكِلا الأمرين يؤثر في صحَّة البيع
Jika seseorang menjual gandum dengan gandum, dan di salah satu takaran terdapat tanah yang jika dipisahkan akan tampak kekurangannya dalam takaran, maka jual beli tersebut batal. Demikian pula jika kedua takaran mengandung tanah sebagaimana batasan yang telah kami sebutkan. Adapun jika tanah hanya terdapat pada salah satu takaran, maka adanya kelebihan (mufāḍalah) sudah pasti. Dan jika tanah terdapat pada kedua takaran, maka kesamaan (mumāthalah) menjadi tidak diketahui. Kedua hal tersebut memengaruhi keabsahan jual beli.
ولو كان التراب منبسطاً على صُبْرةٍ انبساطاً واحداً على تناسب فبيع صاعٌ منها بصاعٍ فالمماثلة متحققة ولكن هذا غيرُ موثوق به؛ فإن الترابَ لا ينبسط على تناسب واحد؛ فإنه ينسلّ من خلل الحبات يطلب التسفل ولذلك يكثر التراب في أسفل الصُبْرة
Jika debu tersebar merata di atas tumpukan (barang) dengan penyebaran yang seragam dan seimbang, lalu satu sha‘ dari tumpukan itu dijual dengan satu sha‘ yang lain, maka kesamaan (antara keduanya) memang terwujud. Namun, hal ini tidak dapat dipercaya; sebab debu tidak tersebar secara merata, karena ia menyusup di antara butiran-butiran dan cenderung turun ke bawah, sehingga debu lebih banyak terdapat di bagian bawah tumpukan.
فخرج مما ذكرناه أنه إذا كان يؤثّر الترابُ في المكيال فلا يجوز بيع حنطةٍ فيها تراب بحنطة فيها تراب إذا كان بحيث لو مِيز التراب ظهر نقصانهُ على المكيال وإن كان لا يظهر فهو محتمل
Dari penjelasan yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa apabila tanah memengaruhi takaran, maka tidak boleh menjual gandum yang bercampur tanah dengan gandum yang juga bercampur tanah, jika tanah tersebut apabila dipisahkan akan tampak kekurangannya pada takaran. Namun, jika tidak tampak, maka hal itu masih diperselisihkan.
ومن تمام البيان في ذلك أن النقصان قد لا يبين في المقدار اليسير ويبين في الكثير فالمتبع النقصان فإن كان ما اشتمل عليه العقدُ بحيث لو مِيز التراب منه لم يبن النقصان صح العقد وإن اشتمل العقدُ على مقدارٍ لو جُمع ترابه لملأ صاعاً أو آصعاً فالبيع باطل
Dan penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa kekurangan terkadang tidak tampak pada jumlah yang sedikit, namun tampak pada jumlah yang banyak, maka yang menjadi patokan adalah kekurangannya. Jika kandungan dalam akad tersebut sedemikian rupa sehingga apabila tanahnya dipisahkan tidak tampak kekurangannya, maka akadnya sah. Namun jika akad tersebut mengandung jumlah yang apabila tanahnya dikumpulkan akan memenuhi satu sha‘ atau beberapa sha‘, maka jual belinya batal.
فإن استبعد من لم يُحط بأصل الباب تجويزَ البيع في القليل ومنعَه في الكثير لم نبُالِ به ولزِمْنا الأصلَ المعتمدَ في النفي والإثبات
Jika ada orang yang tidak memahami pokok permasalahan lalu menganggap boleh jual beli dalam jumlah sedikit dan melarangnya dalam jumlah banyak, maka kami tidak menghiraukannya dan tetap berpegang pada prinsip yang dijadikan sandaran dalam penetapan dan penafian hukum.
ولو باع رجلٌ دنانيرَ هَروِيَّة بمثلها فالبيع مردود؛ فإن كل شق من الصفقة اشتمل على ورِقٍ وذهب وبيع الذهب الإبريز بالهروي عينُ الربا وهو من فروع مد عجوة
Jika seseorang menjual dinar Harawi dengan yang sejenisnya, maka jual beli tersebut batal; karena setiap bagian dari transaksi itu mengandung perak dan emas, dan menjual emas murni dengan dinar Harawi adalah riba yang jelas, dan ini termasuk cabang dari masalah muddu ‘ajwah.
وبيع الذهب الهروي بالورِق باطل وليس كبيع المخيض بالزبد؛ فإنّ الرغوة في الزبد لا تقصد والنُّقْرة في الهرويّةِ مقصودة
Menjual emas Harawi dengan perak adalah batal dan tidak seperti menjual mentega cair dengan krim; karena buih pada krim tidak menjadi tujuan, sedangkan lekukan pada emas Harawi memang menjadi tujuan.
ومن فروع الفصل بيع الزُّبد بالزّبد وفيه وجهان ذكرهما الصيدلاني أحدُهما الصحة كبيع اللبن باللبن؛ فإنّ الرغوةَ التي في الزبد مختلطة بالسمن اختلاطاً خِلقياً وهو أثبث من اختلاط رُكني اللبن فإن ذلك الاختلاط يميّزه المخض والرغوة لا تتميّزُ عن الزبد إلا بالنار والوجه الثاني أنه لا يصح بيع الزبد بالزبد كما لا يصح بيع الشهد بالشهد؛ فإنّ صفاتِ السمن لائحة من الزبد كما يلوح العسل في الشهد واللبن في مدرك الحس كالجنس الواحد المنبسط والأَقِط من المخيض وكذلك المَصْل
Di antara cabang pembahasan ini adalah jual beli mentega dengan mentega, dan dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh As-Saidalani. Pendapat pertama adalah sah, seperti halnya jual beli susu dengan susu; karena buih yang ada pada mentega bercampur dengan lemak secara alami, dan campuran ini lebih kuat daripada campuran dua unsur susu, sebab campuran pada susu dapat dipisahkan dengan pengocokan, sedangkan buih tidak dapat dipisahkan dari mentega kecuali dengan api. Pendapat kedua adalah tidak sah menjual mentega dengan mentega, sebagaimana tidak sah menjual madu sarang dengan madu sarang; karena sifat-sifat lemak tampak jelas pada mentega sebagaimana madu tampak pada madu sarang, dan susu dalam persepsi indra seperti satu jenis yang menyebar, demikian pula keju kering dari susu kocok, dan juga air dadih.
وأجمع الأصحابُ على منع بيع الأقِط بالأقِط وذلك أنه إن كان مختلطاً بملح كثيرٍ يظهر له مقدار فيلتحق بيع بعضهِ بالبعض ببيع المختلط وإن لم يكن فيه ملح فهوَ معروض على النار وللنار فيه تأثير عظيم فيلتحق القول فيه بالكلام في المنعقد إذا بيع بعضه ببعض ولم يفصلوا بين أن يكون عقدُه بالنار أو بالشمس الحامية وإذا امتنع بيع الأَقِط بالأقِط فيمتنع بَيعُه بالمصلِ؛ فإنهما من المخيض ولا يتفاوتان في الصفات تفاوتاً يختلف الجنس به ويمتنع بيع المخيض بالأقِط والمَصْل كما يمتنع بيع العصير بالدبس
Para ulama sepakat melarang jual beli aqith dengan aqith. Hal ini karena jika aqith tersebut tercampur dengan banyak garam yang kadarnya tampak jelas, maka jual beli sebagian dengan sebagian lainnya termasuk dalam kategori jual beli barang campuran. Jika tidak ada garam di dalamnya, maka aqith tersebut telah dipanaskan dengan api, dan api memberikan pengaruh besar padanya, sehingga hukumnya disamakan dengan barang yang telah dipadatkan apabila dijual sebagian dengan sebagian lainnya. Mereka tidak membedakan apakah pemadatannya dilakukan dengan api atau dengan panas matahari. Jika jual beli aqith dengan aqith dilarang, maka jual beli aqith dengan mishl juga dilarang, karena keduanya berasal dari susu yang dikocok dan tidak terdapat perbedaan sifat yang menyebabkan perbedaan jenis. Jual beli susu kocok dengan aqith dan mishl juga dilarang, sebagaimana dilarangnya jual beli sari buah dengan dibs.
وبيعُ الجبن بالجبن باطل بالاتفاق؛ فإنه مختلط معقود ولا شك في تفاوت العقد في الجبن وهذا ظاهر فيه وبيع الجبن بالأقِط ممتنع كما يمتنع بيع اللبن بالأقِط
Jual beli keju dengan keju hukumnya batal menurut kesepakatan; karena keju merupakan barang yang tercampur dan terikat, dan tidak diragukan lagi terdapat perbedaan dalam akad keju, hal ini jelas padanya. Jual beli keju dengan aqith juga tidak diperbolehkan, sebagaimana tidak diperbolehkan jual beli susu dengan aqith.
قال العراقيون الأقِط والمخيض والمَصْل والجبن جنسٌ واحد أما المخيض والأقط والمصل فكما ذكروه وأما الجبن ففيه ما يُجانِسُ المخيضَ وهو كقول القائل اللبن والأقِط جنسن واحد والوجه أن يقال في اللبن جنس الأقطِ وذكر شيخي أبو محمد في بيع اللِّبأ باللِّبأ وجهين وهو في الحقيقة لبن معروض على النار في أول الحلْبِ من الدَّرّةِ الأولى وسبب الاختلاف أن أثر النار قريبٌ في اللِّبَأ وهو مشبه بالسكر في المعقوداتِ والجبن تناهى عقدُه فاتفق الأصحاب على منع بيع بعضه ببعض
Orang-orang Irak berpendapat bahwa aqith, makhīdh, mashl, dan keju adalah satu jenis. Adapun makhīdh, aqith, dan mashl sebagaimana yang telah mereka sebutkan, sedangkan keju di dalamnya terdapat unsur yang sejenis dengan makhīdh. Ini seperti ucapan seseorang bahwa susu dan aqith adalah satu jenis. Pendapat yang tepat adalah dikatakan bahwa susu adalah jenis dari aqith. Guruku, Abu Muhammad, menyebutkan dua pendapat mengenai jual beli liba’ dengan liba’. Pada hakikatnya, liba’ adalah susu yang dipanaskan di atas api pada perahan pertama dari puting susu. Sebab perbedaan pendapat adalah karena pengaruh api masih dekat pada liba’, sehingga ia menyerupai gula pada makanan yang dikentalkan, sedangkan keju telah sempurna pengentalannya. Para sahabat sepakat melarang jual beli sebagian dengan sebagian yang lain.
ومما نتعرضُ له الإنْفَحة والوجه القطع بطهارتها لإجماع المسلمين على طهارة الجبن وهو في الغالب لا يخلو عن الإنْفَحة والذي إليه إشارةُ الأصحاب أن الإنْفَحَة جنسٌ على حيالها مخالف للبن وكل ما يتخذ منه ولستُ أدري أنها من المطعومات وحدها كالملح حتى تعتبر المماثلةُ في بيع بعضها بالبعض أم ليست من المطعومات
Di antara hal yang kami bahas adalah tentang infahah, dan pendapat yang tegas adalah bahwa infahah itu suci, karena adanya ijmā‘ kaum muslimin atas kesucian keju, padahal keju pada umumnya tidak lepas dari infahah. Para ulama juga memberi isyarat bahwa infahah adalah jenis tersendiri yang berbeda dengan susu dan segala sesuatu yang dibuat darinya. Aku sendiri tidak tahu apakah infahah itu termasuk makanan saja seperti garam, sehingga harus dipertimbangkan kesamaan dalam jual beli sebagian dengan sebagian lainnya, ataukah bukan termasuk makanan.
فصل
Bab
ولا خيرَ في شاةٍ في ضَرعها لبن إلى آخره
Dan tidak ada kebaikan pada seekor kambing yang masih ada susunya, dan seterusnya.
بيعُ اللبن الحليب بشاةٍ لبون في ضرعها لبن يقدر على حَلْبه باطلٌ عندنا
Menjual susu segar dengan seekor kambing yang di dalam ambingnya terdapat susu yang dapat diperah hukumnya batal menurut kami.
فإذا كنا نُبطل بيع اللحم بالحيوان كما سيأتي ذلك في بابٍ فلا يخفى إبطال بيعِ اللبن بشاة في ضرعِها لبن
Maka jika kita membatalkan jual beli daging dengan hewan, sebagaimana akan dijelaskan pada bab berikutnya, maka tidaklah samar pula pembatalan jual beli susu dengan seekor kambing yang di dalam ambingnya terdapat susu.
وإن كانت الشاة لبوناً ولم يكن في ضرعها لبنٌ وقتَ البيع فالبيع صحيح وإن كان في الضَّرع مقدارٌ نزرٌ لا يُقصَدُ حلب مثله لقلّته فالبيع صحيح؛ فإنّ مثله ليس مقصوداً والحيوان مخالف لجنس اللبن فيلتحق ببيع المخيضِ بالزبد مع النظر إلى الرغوة
Jika kambing itu adalah kambing perah namun tidak ada susu di ambingnya pada saat penjualan, maka jual belinya sah. Jika di ambingnya terdapat susu dalam jumlah sangat sedikit yang tidak lazim diperah karena sangat sedikitnya, maka jual belinya juga sah; sebab susu dalam jumlah seperti itu tidak menjadi tujuan, dan hewan berbeda jenis dengan susu, sehingga hal ini dianalogikan dengan penjualan dadih bersama mentega dengan memperhatikan busanya.
ولو باع شاةً في ضرعها لبنٌ بشاة في ضرعها لبن وكان اللبنُ الذي يُقصد مثله موجوداً في كل ضرعٍ فالبيع باطل وهو بمثابة بيع شاةٍ ولبن بشاةٍ ولبن
Jika seseorang menjual seekor kambing yang di dalam susunya terdapat susu dengan seekor kambing yang di dalam susunya juga terdapat susu, dan susu yang dimaksudkan itu biasanya terdapat pada setiap kambing, maka jual beli tersebut batal. Hal ini sama dengan menjual seekor kambing beserta susunya dengan seekor kambing beserta susunya.
وحكى العراقيون عن أبي الطيّب بن سَلَمة من أصحابنا أنه قال يجوز بيع الشاة اللبون بالشاة اللبون وإن كان في ضروعهما لبن ووافق أنه لا يجوز بيع اللبن بشاةٍ في ضرعها لبن وشبَّه ما جوَّزه وما منعه ببيع السمسم بالسمسم وهو نظير بيع الشاة اللبون بالشاة اللبون وبيع دُهن السمسم بالسمسم وهو نظير بيع اللبن بالشاة اللبون التي في ضرعها لبنٌ
Orang-orang Irak meriwayatkan dari Abu Thayyib bin Salamah, salah satu ulama dari kalangan kami, bahwa ia berkata: Boleh menjual kambing yang sedang menyusui dengan kambing yang juga sedang menyusui, meskipun di kedua kantong susunya terdapat susu. Ia juga sepakat bahwa tidak boleh menjual susu dengan seekor kambing yang di kantong susunya terdapat susu. Ia menganalogikan apa yang dibolehkannya dan apa yang dilarangnya dengan jual beli wijen dengan wijen, yang serupa dengan jual beli kambing menyusui dengan kambing menyusui, dan jual beli minyak wijen dengan wijen, yang serupa dengan jual beli susu dengan kambing menyusui yang di kantong susunya terdapat susu.
فصل
Bab
قال وكل ما لم يجز التفاضلُ فيهِ إلى آخره
Dia berkata: “Dan segala sesuatu yang tidak diperbolehkan adanya kelebihan (dalam pertukaran) padanya, hingga akhir.”
اختلف قول الشافعي في أن القسمة بيعٌ أو إفراز حق
Pendapat Imam Syafi‘i berbeda mengenai apakah pembagian (harta) itu merupakan jual beli atau pemisahan hak.
وفي حقيقة القسمة وأحكامها مسائلُ ستأتي في آخر الدعاوى والبيّنات فلا نلتزم الخوضَ فيها ونختصر على مقدار غرضنا
Dalam hakikat pembagian dan hukum-hukumnya terdapat beberapa permasalahan yang akan dibahas pada akhir bab dakwaan dan bukti, maka kami tidak berkomitmen untuk membahasnya di sini dan hanya membatasi pada kadar yang menjadi tujuan kami.
فنقول ما جاز بيعُ بعضِه ببعضٍ فالقسمةُ جائزةٌ فيه إذا كان يقبل القسمة وما امتنع بيعُ بعضِه ببعض من أموال الربا كالرطب والدقيق ونحوهما فإن قلنا القسمةُ ليست بيعاً فلا يمتنع إجراؤها في هذه الأجناس؛ وإن قلنا القسمةُ بيعٌ فهي ممتنعة فيما يمتنع بيع بعضه ببعض فلا يجوز على هذا القول قسمةُ الرطب والعنب إذا كان لهما عاقبة التجفيف وقد ذكرنا في مسائلِ الزكاة تردُّداً في قسمة الثمار إذا قطعناها قبل أوان الجِداد وسبب التردد أن الأبدال لا مدخل لها في الزكاة فلو لم تجز القسمة ولم نميز حقَّ المساكين لاضطررنا إلى الانتقال إلى الأبدال فاختلف الأصحابُ على طُرقٍ استقصيناها في موضعها وكمال البيانِ موقوفٌ على الإحاطة بباب القسّام
Maka kami katakan, apa yang boleh dijual sebagian dengan sebagian lainnya, maka pembagian (qismah) dibolehkan padanya jika memang memungkinkan untuk dibagi. Adapun apa yang tidak boleh dijual sebagian dengan sebagian lainnya dari harta ribawi seperti kurma basah dan tepung serta yang semisalnya, maka jika kita mengatakan bahwa pembagian (qismah) bukanlah jual beli, maka tidak terlarang untuk melakukannya pada jenis-jenis ini. Namun jika kita mengatakan bahwa pembagian adalah jual beli, maka pembagian tidak dibolehkan pada apa yang terlarang untuk dijual sebagian dengan sebagian lainnya. Maka menurut pendapat ini, tidak boleh membagi kurma basah dan anggur jika keduanya akan mengalami proses pengeringan. Kami telah menyebutkan dalam masalah-masalah zakat adanya keraguan dalam pembagian buah-buahan jika dipetik sebelum waktu panen. Sebab keraguan tersebut adalah karena pengganti (abdal) tidak termasuk dalam zakat. Jika pembagian tidak dibolehkan dan kita tidak dapat membedakan hak orang miskin, maka kita terpaksa harus beralih kepada pengganti. Para sahabat berbeda pendapat dalam hal ini dengan berbagai cara yang telah kami rinci pada tempatnya, dan penjelasan yang sempurna bergantung pada pemahaman menyeluruh terhadap bab qassam.
وقد نجز الغرضُ من هذا القول في ربا الفضل وشَذّ عما ذكرناه فروع قريبةٌ نرسمُها وبنجازها ينتجز هذا الركن
Tujuan dari pembahasan tentang riba fadhl telah tercapai, dan terdapat beberapa cabang hukum yang dekat namun menyimpang dari apa yang telah kami sebutkan, yang akan kami uraikan. Dengan selesainya pembahasan ini, sempurnalah pembahasan pada rukun ini.
فرع
Cabang
ذكرنا أن بيع ما لا يكال ولا يوزن من المطعومات بعضُه ببعض باطلٌ على القَولِ الجديدِ كالخيارِ والبطيخ ونحوهما فلو بيع القثاء بالقثاء وزناً فالأصح المنعُ ومن أصحابنا من جوَّز كما نبهنا عليه فيما تقدم وهو بعيد
Kami telah menyebutkan bahwa jual beli makanan yang tidak ditakar dan tidak ditimbang sebagian dengan sebagian lainnya adalah batal menurut pendapat baru, seperti mentimun, semangka, dan sejenisnya. Maka jika mentimun dijual dengan mentimun secara ditimbang, pendapat yang lebih sahih adalah tidak boleh. Namun, sebagian ulama kami membolehkannya sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya, namun pendapat ini lemah.
واتفقت الطرق على منع بيع البيض بالبيض والجوز بالجوز وزناً بوزن؛ من جهة أن المقصود منها في أجوافها وقشُورُها تتفاوت تفاوتاً ظاهراً وهذا لا يتحقق في القثاءِ وما في معناه وذكر صاحب التقريب في البيض والجوز إذا بيع البعض منها بالبعض وزناً وجهين وهذا بعيد
Seluruh riwayat sepakat untuk melarang jual beli telur dengan telur dan kenari dengan kenari secara timbang-menimbang; karena yang menjadi tujuan dari keduanya adalah isi di dalamnya, sedangkan kulitnya sangat berbeda-beda, dan hal ini tidak terjadi pada mentimun dan yang semisalnya. Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat mengenai jual beli sebagian telur dengan sebagian telur secara timbang-menimbang, namun hal ini dianggap jauh (lemah).
فرع
Cabang
إذا قُلنا الماءُ يجري فيه الربا وهو المذهب فلو باع رجلٌ داراً فيها بئر ماء بمثلها وقلنا الماءُ يجري فيه الربا قالوا في هذه الصورة وجهان أحدُهما الجواز وهو الظاهر؛ فإن الماء الكائنَ في البئر ليس مقصوداً ولا يرتبط به قصد والثاني المنعُ وهو القياسُ ولا ينقدح للوجه الأول وجهٌ في القياس لكن عليه العمل ومعتمدُه سقوط القصد إلى الماء الحاصل وقد ذكرنا في فصلِ الخلولِ أن من باع خلَّ التمر بخل الزبيب والتفريعُ على اختلاف أجناس الخلول فالقَولُ في منع البيع يؤول إلى الماء الذي في الخلَّين وهو مال ربا فلو قال قائل الماء ليس مقصوداً في الخلّ كما أنه ليس مقصوداً في مسألة الدار قلنا قَدْرُ الماء مستعملٌ على صفة الخَلِّ حتى كأنه انقلبَ خلاً فلم يخرج مقدار الماءِ عن كونه مقصوداً وإن كان لا يقصد ماءً وهذا لا يتحقق في البئر ومائِها
Jika kita mengatakan bahwa air termasuk dalam kategori barang yang terkena riba, sebagaimana pendapat mazhab, maka jika seseorang menjual sebuah rumah yang di dalamnya terdapat sumur air dengan rumah lain yang serupa, dan kita berpendapat bahwa air terkena riba, para ulama mengatakan dalam kasus ini ada dua pendapat. Pendapat pertama adalah boleh, dan ini yang tampak; karena air yang ada di dalam sumur bukanlah tujuan utama dan tidak terkait dengan maksud transaksi. Pendapat kedua adalah tidak boleh, dan ini adalah qiyās. Tidak ditemukan alasan yang kuat dalam qiyās untuk pendapat pertama, namun praktiknya memang demikian, dan dasarnya adalah tidak adanya maksud khusus terhadap air yang sudah ada. Kami telah sebutkan dalam bab tentang cuka bahwa jika seseorang menjual cuka kurma dengan cuka anggur, dan didasarkan pada perbedaan jenis cuka, maka pendapat yang melarang jual beli itu kembali kepada air yang ada dalam kedua cuka tersebut, karena air adalah harta riba. Jika ada yang berkata bahwa air bukanlah tujuan dalam cuka, sebagaimana bukan tujuan dalam kasus rumah, maka kami katakan: kadar air telah digunakan dalam bentuk cuka sehingga seolah-olah telah berubah menjadi cuka, sehingga kadar air itu tidak keluar dari status sebagai tujuan, meskipun bukan air yang dimaksudkan. Hal ini tidak terjadi pada sumur dan airnya.
وقد نجز منتهى المراد في ذلكَ
Dan telah tercapai tujuan akhir dalam hal itu.
وقد كُنَّا ذكرنا في أول الباب أن حديث عُبادةَ في أصل الربا مشتمل على ربا الفضل والتعرضِ للتقابض والنَّساءِ نعني ما يتعلق من حُكمهِ بالربا وبَيّنا أن أصلَ الباب ربا الفضل والتقابضُ وتحريمُ النَّساء متفرعان عليه ونحن الآن نعقد المذهب فيهما
Kami telah menyebutkan di awal bab bahwa hadis ‘Ubadah tentang asal riba mencakup riba fadhl dan pembahasan mengenai serah terima (taqabudh) serta penundaan (nasa’), maksudnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan hukumnya dalam riba. Kami juga telah menjelaskan bahwa pokok pembahasan bab ini adalah riba fadhl, sedangkan serah terima (taqabudh) dan pengharaman penundaan (nasa’) merupakan cabang darinya. Sekarang, kami akan membahas mazhab dalam kedua hal tersebut.
فصل
Bab
قد ذكرنا أن علّة الرّبا في الأشياء الأربعة الطُّعم ومحل العلة اتحادُ الجنس وعلةُ الربا في النَّقديْنِ جوهرُ النقدية والمحل اتحاد الجنس
Telah kami sebutkan bahwa ‘illat riba pada empat jenis barang adalah sifat dapat dimakan (ṭu‘m), dan tempat berlakunya ‘illat tersebut adalah kesamaan jenis. Sedangkan ‘illat riba pada dua mata uang adalah substansi nilai uang (jawhar al-naqdiyyah), dan tempat berlakunya adalah kesamaan jenis.
ويرجع حاصل القول في النقدين والأشياء الأربعة إلى أن العلَّةَ في تحريم ربا الفضل في الأشياء الستة ما هو مقصودٌ من كل صنف ثم رأينا جمعَ الأشياء الأربعةِ في مقصود الطُّعم كما قرَّرناه في الأساليب وكتاب الغُنية والنقدان مجتمعان في معنىً واحدٍ وهو جوهر النقدية
Kesimpulan pembahasan tentang dua mata uang dan empat benda tersebut kembali pada bahwa ‘illat (alasan hukum) diharamkannya riba fadhl pada enam benda itu adalah apa yang menjadi tujuan dari setiap jenisnya. Kemudian kita melihat bahwa empat benda tersebut dikumpulkan dalam tujuan sebagai bahan makanan, sebagaimana telah kami jelaskan dalam berbagai metode dan dalam Kitab al-Ghunyah. Adapun dua mata uang dikumpulkan dalam satu makna, yaitu substansi sebagai alat tukar (jawhar an-naqdiyyah).
فإن قيل لم ذكرتم جوهرَ النقدية قلنا لأن التبرَ ليس نقداً في عينه وكذلك الحلي والأواني والرسول صلى الله عليه وسلم لم يتعرض للدراهم والدنانير بل ذكر الذهب والورِق والمقصود منهما مقتصر عليهما فاقتضى ذلك ذكرَ جوهر النقدية وهذا يعم المطبوعَ من الورِق والذهب وغير المطبوع
Jika dikatakan, “Mengapa kalian menyebutkan zat dari alat tukar (jawhar an-naqdiyyah)?” Kami jawab, karena emas batangan (at-tibr) bukanlah alat tukar pada zatnya, demikian pula perhiasan, bejana, dan Rasulullah ﷺ tidak secara khusus menyebut dirham dan dinar, melainkan menyebut emas dan perak, dan yang dimaksud dari keduanya terbatas pada keduanya saja. Maka hal itu menuntut untuk menyebutkan zat dari alat tukar, dan ini mencakup yang dicetak dari perak dan emas maupun yang tidak dicetak.
فإذا ثبتت علةُ الربا في الأشياء الستة فباب التقابُض والنَّساء يدخلان تحت ضبط واحدٍ فنقول
Jika telah tetap adanya ‘illat riba pada enam barang tersebut, maka persoalan serah terima (taqabud) dan penundaan (nasā’) termasuk dalam satu ketentuan yang sama, maka kami katakan
كلّ علّتين جمعتهما علة واحدة في تحريم ربا الفَضل فإذا بيعت إحداهما بأخرى نقداً بنقدٍ اشترط التقابض في المجلس فلو تفرق المتعاقدان قبل التقابض بطل العقد ولا فرق بين أن يختلف الجنس أو يتحد وإنما يختصّ باتحادِ الجنسِ ربا الفضل واشتراط التقابض يعتَمد الاجتماعَ في علةِ التحريم ولا التفات إلى المحل وهو اتحاد الجنس
Setiap dua ‘illat yang dihimpun oleh satu ‘illat dalam pengharaman riba fadhl, maka jika salah satunya dijual dengan yang lain secara tunai, disyaratkan adanya serah terima di majelis akad. Jika kedua pihak yang berakad berpisah sebelum terjadi serah terima, maka akadnya batal. Tidak ada perbedaan apakah jenis barangnya berbeda atau sama; hanya saja riba fadhl khusus berlaku pada kesamaan jenis, sedangkan syarat serah terima didasarkan pada kesamaan ‘illat pengharaman, tanpa memperhatikan objeknya, yaitu kesamaan jenis.
وخصَّص أبو حنيفة اشتراط التقابض بالنقدين ولا عذر له فيها وقد طرد رسول الله صلى الله عليه وسلم تحريمَ ربا الفضل في الأشياء الستةِ عند اتحاد الجنس ثم قال فيها بجملتها إذا اختلف الجنسان فبيعوا كيف شئتم يداً بيد وتحريم النَّساء يُنحَى به نحو التقابض فكل عينين جمعتهما علةٌ واحدة في ربا الفضل فلا يجوز إسلام أحدهما في الآخر اتحد الجنس أو اختلفَ فلا يصح إسلام البُرّ في الشعير ولا إسلامُ الدراهم في الدنانير وأما الاجتماعُ في الجنسية فلا وقعَ له عندنا؛ فيجوز إسلام الثوب في جنسه وإسلام الخشبة في جنسها
Abu Hanifah mengkhususkan syarat serah terima (taqabudh) hanya pada dua mata uang, dan tidak ada alasan baginya dalam hal ini. Padahal Rasulullah saw. telah menetapkan keharaman riba fadhl pada enam jenis barang ketika jenisnya sama, kemudian beliau bersabda mengenai semuanya: “Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka kalian asalkan tunai (yadan bi-yad).” Pengharaman nasī’ah diarahkan pada keharusan serah terima. Maka, setiap dua barang yang memiliki ‘illah yang sama dalam riba fadhl, tidak boleh dilakukan salam (jual beli dengan pembayaran di muka) antara keduanya, baik jenisnya sama maupun berbeda. Maka tidak sah melakukan salam gandum dengan gandum jenis lain, atau salam dirham dengan dinar. Adapun kesamaan jenis tidak dianggap penting menurut kami; sehingga boleh melakukan salam kain dengan kain sejenis, dan salam kayu dengan kayu sejenis.
ومنع أبو حنيفة إسلام الشيء في جنسه وظن أن اتحاد الجنس أحدُ وصفَي العلّة وهذا عريٌ عن التحصيل كما قرَّرناه في مصنفات الخِلافِ
Abu Hanifah melarang melakukan salam atas sesuatu dengan jenis yang sama, dan beliau mengira bahwa kesamaan jenis merupakan salah satu dari dua sifat ‘illah. Namun, anggapan ini tidak berdasar sebagaimana telah kami jelaskan dalam kitab-kitab khilaf.
فإذا انعقدَ الأصلان وابتنيا على تحريم ربا الفضل فنذكرُ بعدهما أن الدراهم والدنانير تتعيّنُ بالتعيين فإذا عيَّن الرجل دراهمَ في بيعٍ ولزم لم يملك إبدالها ولو تلفت قبل القَبض والتسلم انفسخ العقدُ ولو أراد مالكها أن يستبدِل عنها لم يكن له ذلك كما لو فُرض التعيين في ثوب أو غيره وخلاف أبي حنيفة في ذلك مشهور
Apabila kedua asal telah ditetapkan dan dibangun di atas pengharaman riba fadhl, maka setelah itu kami sebutkan bahwa dirham dan dinar menjadi tertentu dengan penentuan. Jika seseorang telah menentukan dirham dalam suatu jual beli dan akadnya telah mengikat, maka ia tidak berhak menggantinya dengan yang lain. Jika dirham tersebut rusak sebelum penyerahan dan penerimaan, maka akadnya batal. Jika pemiliknya ingin menukarnya dengan yang lain, ia tidak berhak melakukan hal itu, sebagaimana jika penentuan dilakukan pada kain atau barang lainnya. Pendapat Abu Hanifah yang berbeda dalam hal ini sudah masyhur.
فإذا تمهّدَ هذا خُضْنا بعدهُ في فصولٍ من الصرف وتحقيق التقابُض
Setelah penjelasan ini selesai, kita akan membahas setelahnya beberapa bab tentang sharf dan penjelasan mengenai taqābudh.
فصل
Bab
إذا بيعت الدراهم بالدراهم أو بالدنانير وجرى التعيينُ من الجانبين فيرتبط العقد بما عُين فيه ولا بد من التقابض في المجلس ثم القول في مجلس التقابض كالقول في مجلسِ الخيارِ فلَسْنا نعني مكان العقد وإنما نعني اجتماع المتعاقدَيْن وافتراقَهما كما تفَصَّل في خيار المجلس بلا فرق فإذا تفرقا قبلَ القبضِ انفسخ العقد
Jika dirham dijual dengan dirham atau dengan dinar dan telah dilakukan penentuan dari kedua belah pihak, maka akad terikat pada apa yang telah ditentukan itu, dan harus ada serah terima di majelis. Kemudian, pembahasan tentang majelis serah terima sama seperti pembahasan tentang majelis khiyār; yang dimaksud bukanlah tempat akad, melainkan pertemuan kedua pihak yang berakad dan perpisahan mereka, sebagaimana telah dirinci dalam khiyār majelis tanpa perbedaan. Maka jika keduanya berpisah sebelum serah terima, akad menjadi batal.
وإن تقابضا والكلامُ مفروضٌ في التعيين ثم وجد أحدُهما بما قبضه عيباً فإن كان رديء الجنس أو مشوَّشَ النقش فإذا أراد الردَّ فله ذلك وحكم الردّ انفساخُ العقدِ ولا استبدالَ؛ فإن مورد العقد معيّن ولا فرقَ بين أن يجري الردُّ في المجلسِ أو بعد التفرق
Jika kedua belah pihak telah saling menerima barang dan pembicaraan ini dalam konteks penentuan barang, kemudian salah satu dari keduanya menemukan cacat pada barang yang diterimanya—apabila barang tersebut buruk jenisnya atau rusak ukirannya—maka jika ia ingin mengembalikannya, ia berhak melakukan itu. Hukum pengembalian adalah batalnya akad dan tidak ada penggantian; karena objek akad telah ditentukan. Tidak ada perbedaan apakah pengembalian itu dilakukan di majelis akad atau setelah berpisah.
وإن جرى التعيينُ كما ذكرناه والتقابضُ ثم بان أن الذي قبضه أحدُهما نحاسٌ فهذا يُثبت الردَّ وقد بان أن العقدَ لم يكن عقدَ صرفٍ ثم لا يخفى حكمُ الرد والفسخ
Jika telah terjadi penunjukan sebagaimana telah disebutkan dan telah terjadi serah terima, kemudian ternyata yang diterima oleh salah satu pihak adalah tembaga, maka hal ini menetapkan hak untuk mengembalikan, dan telah jelas bahwa akad tersebut bukanlah akad sharf. Selanjutnya, tidak samar lagi hukum pengembalian dan pembatalan akad.
والمسألةُ تلتفت على أصلٍ سيأتي وهو أن من سمَّى جنساً وعيَّنه ثم تبين أن الذي عيَّنَ ليس من الجنس الذي سمّى ففي انعقاد العقد خلافٌ سيأتي وذلك نحو أن يقول بعتُك هذه النعجةَ والإشارةُ إلى جحش فإذا قال بعتُك هذه الدراهم فإذا هي فلوس فالأمر يخرج على الخلاف الذي أشرنا إليه وإن قال بعتُك هذا وكان حسِب المشتري أنه دراهمُ فأخلف ظنه فيلتحق هذا بفصول التلبيس وسنذكرها في باب التصْرِية إن شاء الله
Permasalahan ini berkaitan dengan suatu kaidah yang akan dijelaskan nanti, yaitu apabila seseorang menyebutkan suatu jenis barang dan menentukannya, kemudian ternyata barang yang ditentukan itu bukan dari jenis yang disebutkan, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai keabsahan akadnya, yang akan dijelaskan nanti. Contohnya adalah jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu domba betina ini,” namun yang ditunjuk ternyata adalah seekor keledai muda. Jika ia berkata, “Aku jual kepadamu uang ini,” ternyata uang itu adalah fulūs (uang logam kecil), maka permasalahannya kembali kepada perbedaan pendapat yang telah kami singgung. Jika ia berkata, “Aku jual kepadamu ini,” sementara pembeli mengira itu adalah uang, namun ternyata dugaannya keliru, maka hal ini termasuk dalam bab penipuan, dan akan kami sebutkan pada pembahasan tentang tasriyyah, insya Allah.
فهذا إذا جرى العقد على التعيين وليس هو غرضَ الفصل وإنما ذكرناه لاستيعاب الأقسام
Ini berlaku jika akad dilakukan atas dasar penunjukan tertentu, dan hal ini bukanlah tujuan pembahasan, melainkan kami sebutkan untuk melengkapi pembagian-pembagian yang ada.
ولو وَرد العقدُ على الدراهمِ والدنانيرِ وصفاً بوصف فهذا جائزٌ أولاً اتفق عليه أئمتنا ثم لا بد من التعيين بالقبض في المجلس ولا يكون هذا من السلم؛ فإن وضعَ السلم على اشتراط تسليم رأس المال في المجلس فحسب والصرفُ يجوز عقده على الوصفِ ثم لا بد من التقابض فإذا وضح ذلك فلو تواصفا ثم تقابضا ثم بان أن ما قبضه أحدُهما ليس على الوصف الذي ذكره فإذا جرى هذا في كل المقبوض في مجلس العقد فالخطبُ يسير فليردّ ما قبضه وليستبدل عنه ما وصفه ولا شك أن العقد لا ينفسخ بالرّدّ وطلب البدلِ؛ فإن العقدَ ما ارتبط بالعين التي قبضها وإنما ارتبط بموصوف ثم بانَ أنَّ المقبوضَ ليس ذلك الموصوفَ فكأن القابضَ لم يقبض والمجلس بعدُ جامعٌ
Jika akad dilakukan atas dirham dan dinar dengan menyebutkan sifat tertentu, maka hal ini pada awalnya diperbolehkan menurut kesepakatan para imam kami. Namun, harus ada penetapan dengan serah terima di majelis. Ini tidak termasuk dalam akad salam, karena akad salam mensyaratkan penyerahan modal di majelis saja, sedangkan dalam sharf boleh akad dilakukan atas sifat, kemudian harus ada serah terima. Jika hal ini sudah jelas, maka jika kedua belah pihak saling menyebutkan sifat kemudian melakukan serah terima, lalu ternyata apa yang diterima salah satu pihak tidak sesuai dengan sifat yang disebutkan, jika hal ini terjadi pada seluruh barang yang diterima di majelis akad, maka perkaranya ringan; hendaknya ia mengembalikan apa yang diterimanya dan menggantinya dengan yang sesuai sifat yang disebutkan. Tidak diragukan lagi bahwa akad tidak batal dengan pengembalian dan permintaan pengganti, karena akad tidak terikat pada barang yang telah diterima, melainkan terikat pada sesuatu yang disifati, kemudian ternyata barang yang diterima bukanlah yang disifati tersebut, maka seolah-olah penerima belum menerima, dan majelis masih tetap berlangsung.
ولو تفرقا ثم اطلع أحدهما على رداءة فيما قبضه لا يقتضيها الوصف والقول فيه إذا كان المقبوض مع ما بان فيه من جنس الدراهم والدنانير فإن رضي به القابض فلا كلام كما سيأتي شرحُه فيه إذا قبَض المسلمُ المسلَمَ فيهِ فوجده دون الوصف
Jika keduanya berpisah, kemudian salah satu dari mereka mengetahui adanya cacat pada barang yang diterimanya yang tidak sesuai dengan sifat yang disepakati, maka ketentuannya sama seperti jika barang yang diterima itu berupa jenis dirham atau dinar. Jika penerima barang rela dengan barang tersebut, maka tidak ada masalah, sebagaimana akan dijelaskan nanti dalam pembahasan ketika seorang muslim menerima barang yang menjadi objek salam lalu mendapati barang tersebut tidak sesuai dengan sifat yang disepakati.
ولو أراد الردَّ فله ذلك ولكن إذا ردّ فهل ينفسخ العقدُ بردّهِ فعلى قولين أحدهما ينفسخ؛ فإنهما تفرّقا ثم لما ردّ ما قبض فكأنه لم يقبض في المجلسِ شيئاً فيتبين انفساخُ العقد؛ من جهة التفرق قبل القبض المستحق
Jika ia ingin menolak, maka ia berhak melakukannya. Namun, jika ia menolak, apakah akad menjadi batal karena penolakannya? Ada dua pendapat. Salah satunya, akad menjadi batal; karena jika keduanya berpisah, lalu ia mengembalikan apa yang telah diterimanya, maka seakan-akan ia tidak menerima apa pun dalam majelis tersebut, sehingga tampaklah bahwa akad batal karena perpisahan sebelum terjadi qabd yang menjadi hak.
والقول الثاني لا ينفسخ العقد؛ فإنهما تقابضا ما لو قنِعا به أمكن إجراءُ العقدِ عليهِ فإذا رَام استبدالاً فلا يرتفع القبض من أصله
Pendapat kedua menyatakan bahwa akad tidak batal; sebab keduanya telah melakukan qabdhu, sehingga jika keduanya rela dengan apa yang telah diterima, maka akad dapat diberlakukan atasnya. Maka jika salah satu dari mereka menginginkan penggantian, qabdhu yang telah terjadi tidak menjadi batal sejak awal.
وعبَّر الأئمة عن حقيقة القولين فقالوا إذا فُرض ردٌّ على قصد الاستبدال فنتبين أن القبضَ الذي هو ركن العقد لم يَجْرِ أم لا يستدّ النقض إلى ما تقدَّم من القبض فعلى قولين وهذا بمثابة الاختلاف في نظيرٍ لهذا من السَّلم فلو أسْلَم الرجل في جارية ثم قبض جارية فوجدها دون الوصف؛ فإن قنِع بها فذاك وإن ردَّهَا فلا شك أنه يطلب جارية على الوصف المستحق ولكن المسلَمَ إليه هل يجب عليه استبراء الجارية التي رُدّت عليه فعلى قولين مأخوذين من الأصل الذي مهّدناه الآن فإن جعلنا ردّ الموصوفِ بمثابة ما لو لم يقبض فيتبين أن ملك المسلم إليه ما زال عن الجارية بالتسليم إلى المسلِم فلا حاجة إلى الاستبراء وإن لم نُسند الأمر فنقول زال الملك فيها ثم عاد وانتقض فيجب الاستبراء
Para imam menjelaskan hakikat dua pendapat tersebut dengan mengatakan: Jika diasumsikan adanya penolakan dengan maksud penggantian, maka kita akan mengetahui apakah qabdhu yang merupakan rukun akad telah terjadi atau tidak, ataukah penolakan itu tidak memerlukan kembali kepada qabdhu yang telah lalu; maka ada dua pendapat. Hal ini serupa dengan perbedaan pendapat dalam kasus yang mirip pada akad salam: jika seseorang melakukan salam atas seorang budak perempuan, lalu ia menerima budak perempuan, tetapi ternyata budak tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi; jika ia rela menerimanya, maka itu sah, namun jika ia menolaknya, maka tidak diragukan lagi bahwa ia berhak menuntut budak perempuan yang sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan. Namun, apakah pihak yang menerima salam wajib melakukan istibra’ terhadap budak perempuan yang dikembalikan kepadanya? Maka ada dua pendapat yang diambil dari prinsip yang telah kami jelaskan sebelumnya. Jika kita menganggap pengembalian barang yang disifati itu seperti halnya belum terjadi qabdhu, maka jelas bahwa kepemilikan pihak yang menerima salam atas budak perempuan tersebut telah hilang karena telah diserahkan kepada pihak yang melakukan salam, sehingga tidak perlu dilakukan istibra’. Namun jika kita tidak menyandarkan perkara tersebut, lalu kita katakan bahwa kepemilikan atas budak perempuan itu telah hilang kemudian kembali dan batal, maka wajib dilakukan istibra’.
عدنا إلى تفريع ما ذكرناه في الصرف فإن قلنا بالاستناد فلو جرى الرد بعد التفرُقِ بان انفساخُ العقدِ ولم يملك الرادُّ بدلاً وإن لم نقل بالإسنادِ فالرّادّ يطلب من المردود عليه بدلَه على الوصف المذكور في العقد
Kita kembali pada rincian yang telah kami sebutkan dalam masalah sharf. Jika kita berpendapat dengan isnad, maka apabila terjadi pengembalian setelah berpisah, tampaklah bahwa akad menjadi batal dan pihak yang mengembalikan tidak berhak atas pengganti. Namun jika kita tidak berpendapat dengan isnad, maka pihak yang mengembalikan dapat menuntut pengganti dari pihak yang dikembalikan kepadanya sesuai dengan sifat yang disebutkan dalam akad.
هذا إذا كان ما قبضه أولاً وأراد رَدّهُ من جنس ما سمّاه
Ini jika apa yang telah diterimanya terlebih dahulu dan ingin dikembalikannya itu sejenis dengan apa yang telah disebutkan.
فأما إذا كان الموصوف دراهمَ والمقبوض زُيوفاً فإذا وقع التفرق بطل العقدُ فإنه تفرّق قبل قبض الموصوف في الصرف
Adapun jika yang dijanjikan adalah dirham dan yang diterima adalah uang palsu, maka apabila terjadi perpisahan (antara kedua pihak) maka batal akadnya, karena itu merupakan perpisahan sebelum menerima barang yang dijanjikan dalam transaksi sharf.
ولو قال القابض أقنعُ بما قبضتُه لم يكن له ذلك والجهةُ مختلفةٌ فهو كما لو أسلم في جارية فسُلم إليه غلام فليس له أن يقنع به
Jika pihak penerima berkata, “Saya cukup dengan apa yang telah saya terima,” maka hal itu tidak dibenarkan baginya, karena kedua hal tersebut berbeda jenis. Ini seperti seseorang yang melakukan akad salam untuk seorang budak perempuan, lalu yang diserahkan kepadanya adalah seorang budak laki-laki; maka ia tidak boleh merasa cukup dengan hal itu.
وسيأتي شرح ذلك في كتاب السلَم
Penjelasan tentang hal itu akan dibahas pada Kitab Salam.
وما ذكرناه في جميع المقبوض في رداءة الجنس ومخالفة الجنس نُعيدُه في بعض المقبوض فنقول إذا تفرّقا وقد تقابضا في ظاهر الحال ثم بان أن بعضَ ما قبضه أحدُهما زيفٌ فلا شك في انفساخ العقد في ذلك القَدرِ ويتفرع في الباقي قولا تفريقِ الصفقةِ على ما سيأتي إن شاء الله تعالى
Apa yang telah kami sebutkan mengenai seluruh barang yang diterima dalam kasus buruknya jenis atau perbedaan jenis, kami ulangi pula untuk sebagian barang yang diterima. Maka kami katakan: jika kedua belah pihak berpisah dan tampaknya telah saling menerima barang, kemudian ternyata sebagian dari barang yang diterima oleh salah satu pihak adalah palsu, maka tidak diragukan lagi bahwa akad batal pada bagian tersebut, dan untuk sisanya bercabang pada dua pendapat tentang pemisahan transaksi, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah Ta‘ala.
وإن تفرقا ثم كان بعضُ ما قبضه على خلاف الوصف مع اتحاد الجنس فيخرجُ القولان في ذلك القدرِ الذي هو دون الوصف فإن قلنا لو ردّهُ لانفسخ العقد تَبيُّناً فهل ينفسخ في الباقي على قولي تفريق الصفقة أم لا وإن قلنا لا ينفسخ العقدُ تَبَيُّناً فليستبدل ذلكَ القدرَ ولا يتطرقُ إلى هذا تفريقُ الصفقةِ؛ فإن التفريق ينشأ من انقسام حكم العقد ابتداءً صحةً وفساداً أو انتهاء فسخاً وإنفاذاً
Jika kedua belah pihak berpisah, lalu sebagian dari barang yang diterima ternyata tidak sesuai dengan sifat yang disepakati, sementara jenisnya sama, maka terdapat dua pendapat mengenai bagian yang tidak sesuai sifat tersebut. Jika kita berpendapat bahwa jika barang itu dikembalikan maka akadnya batal secara retroaktif, maka timbul pertanyaan: apakah akad pada sisanya juga batal menurut dua pendapat tentang tafriq ash-shafqah (pemisahan akad), atau tidak? Dan jika kita berpendapat bahwa akad tidak batal secara retroaktif, maka bagian tersebut dapat diganti, dan tafriq ash-shafqah tidak berlaku dalam hal ini; karena tafriq ash-shafqah timbul dari terbaginya hukum akad sejak awal antara sah dan batal, atau pada akhirnya antara fasakh (pembatalan) dan pelaksanaan.
وقد يلتحق بما ذكرناه اشتمال الصفقةِ على جنسين من العقود كالإجارة والبيع وما ذكرناه من الاستبدال في البعض حيث انتهى التفريع إليه ليس من أصول تفريق الصفقة في شيء
Dan dapat pula termasuk dalam apa yang telah kami sebutkan, adanya satu transaksi yang mencakup dua jenis akad seperti ijarah (sewa-menyewa) dan bai‘ (jual beli). Adapun apa yang telah kami sebutkan tentang pertukaran pada sebagian kasus, ketika pembahasan cabang sampai padanya, bukanlah termasuk pokok-pokok tafriq ash-shafqah (pemisahan transaksi) sama sekali.
فصل
Bab
ذكر الشافعي في آخر الباب الصورةَ التي فرضناها في مد عجوةٍ ودرهمٍ وهي بيع الدنانير المروانيَّة والعُتُق بالدنانير الوسط وقد قدّمنا تفصيلَ المذهب في هذا الأصل ثم ذكر بعد ذلك إباحةَ الذريعة التي لا تُناقض أصول الشريعة
Syafi‘i menyebutkan di akhir bab gambaran yang telah kami tetapkan sebelumnya tentang satu mud kurma ajwah dan satu dirham, yaitu jual beli dinar Marwani dan ‘utaq dengan dinar wasath. Kami telah mengemukakan rincian mazhab dalam pokok masalah ini. Setelah itu, beliau menyebutkan kebolehan sarana (dzari‘ah) yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.
فإذا كان عند الرجل مائةُ درهمٍ صحاح فأراد أن يحصل له مكانها مائةٌ وعشرون درهماً مكسرةً فالوجه أن يشتري بالمائة سلعة أو دنانيرَ ويسعى في إلزام العقدِ بطريقه ثم يشتري بالسلعة أو بالدنانيرِ المائةَ والعشرين المكسَّرة ويصح ذلك
Jika seseorang memiliki seratus dirham utuh, lalu ia ingin memperoleh sebagai gantinya seratus dua puluh dirham yang pecahan, maka cara yang benar adalah ia membeli barang atau dinar dengan seratus dirham tersebut, kemudian berusaha agar akadnya sah dengan cara yang sesuai, lalu ia membeli seratus dua puluh dirham pecahan dengan barang atau dinar tersebut, dan hal itu dibolehkan.
وقصدَ الشافعي بما ذكرهُ الردَّ على مالكٍ فإنه يمنع أمثال هذا واحتج الشافعي عليه بما روي أن عامل خيبرَ أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم بتمر جَنيبٍ فقال أكُلُّ تمر خيبرَ هكذا قال لا ولكن نبيع صاعين من الجَمْعِ بصاع من هذا والجمع هو الدَّقَلُ وهو تَمر رديء فقال النبي صلى الله عليه وسلم أَوْه عينُ الربا! لا تفعلوا ولكن بيعوا الجَمع بالدراهم واشتروا بالدراهم الجنيبَ
Imam Syafi‘i dengan apa yang beliau sebutkan bermaksud membantah Imam Malik, karena Malik melarang hal-hal semacam ini. Syafi‘i berdalil atasnya dengan riwayat bahwa seorang pekerja dari Khaibar datang kepada Rasulullah ﷺ membawa kurma janib, lalu beliau bertanya, “Apakah semua kurma Khaibar seperti ini?” Ia menjawab, “Tidak, tetapi kami menjual dua sha‘ dari al-jam‘ dengan satu sha‘ dari jenis ini.” Al-jam‘ adalah ad-daqal, yaitu kurma yang buruk mutunya. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Apakah itu inti dari riba? Jangan lakukan! Tetapi juallah al-jam‘ dengan dirham, lalu belilah janib dengan dirham.”
ويقال افتتح أبو حنيفة كتاب الحيل بهذا الخبر
Dikatakan bahwa Abu Hanifah membuka Kitab al-Hiyal dengan hadis ini.
ولنا في الذرائع التي تتعلق بأمثال هذا والعاداتُ مطردة أو مختلفة كلامٌ سنذكره إن شاء الله تعالى في أثناء كتاب البيع
Kami memiliki pembahasan mengenai sadd al-dzari‘ah yang berkaitan dengan hal-hal semacam ini, baik adat kebiasaan itu berlaku secara tetap maupun berbeda-beda, yang akan kami sebutkan insyaallah di tengah-tengah kitab al-bay‘.
Bab Jual Beli Daging dengan Daging
اختلف قول الشافعيّ بأن اللُّحمان جنسٌ واحدٌ أو أجناس وذكر المزني أن الشافعي ذكر القولين ثم زيّفَ قولَه أنها جنسٌ واحد
Pendapat Imam Syafi‘i berbeda mengenai apakah daging-daging itu merupakan satu jenis atau beberapa jenis. Al-Muzani menyebutkan bahwa Imam Syafi‘i menyampaikan dua pendapat, kemudian beliau melemahkan pendapatnya yang menyatakan bahwa daging-daging itu satu jenis.
توجيه القولين من قال إنهما أصنافٌ رجع إلى العادة؛ فإن الناس لا يعدُّون لحمَ الطائر من جنس لحم البقر ولا يشكّون في اختلاف أجناس الحيوانات التي هي أصول اللحم فلتكن اللحوم مختلفةً اختلافَها ومن قال إنها جنس واحد احتج بأنها مشتركةٌ في اسمٍ لا تخصَّص بعده إلا بالإضافة فكانت جنساً واحداً
Penjelasan dua pendapat: Ada yang mengatakan bahwa daging-daging tersebut adalah berbagai jenis yang kembali kepada kebiasaan; sebab manusia tidak menganggap daging burung sejenis dengan daging sapi, dan mereka tidak meragukan perbedaan jenis hewan yang menjadi asal-usul daging, maka hendaknya daging-daging itu berbeda sebagaimana perbedaan hewannya. Sedangkan yang mengatakan bahwa daging-daging itu satu jenis, beralasan bahwa semuanya memiliki nama yang sama yang tidak dibedakan setelahnya kecuali dengan tambahan keterangan, maka itu dianggap satu jenis.
وفيما ذكرناه احترازٌ عن اجتماع المختلفات في اسم الثمار؛ فإن كلّ جنس يَختصُّ وراء اسم الثمار باسم خاصّ من غير إضافة فيقال خوخ وتفّاح ومشمش
Dalam penjelasan yang telah kami sebutkan terdapat pengecualian terhadap penggabungan hal-hal yang berbeda dalam nama “buah-buahan”; sebab setiap jenis memiliki, selain nama “buah-buahan”, nama khusus tanpa tambahan, seperti disebutkan “khukh” (persik), “tuffāḥ” (apel), dan “mishmish” (aprikot).
واللحوم لا تتميّزُ إلا بالإضافة إلى الأصول فيقال لحم البقر ولحم الغنم
Daging tidak dapat dibedakan kecuali dengan disandarkan kepada asalnya, maka dikatakan daging sapi dan daging kambing.
التفريع على القولين
Pengembangan hukum berdasarkan dua pendapat
إن حكمنا بأنهما جنسٌ واحد فلحوم البرِّيات كلها جنس ولحوم البحريّاتِ بَعضُها مع بعضٍ جنسٌ وفي لحوم البرّيَّاتِ مع لحوم البحريَّاتِ على هذا القول وجهان أحدُهما أنها جنسٌ واحدٌ؛ طرداً لحكم الاتحاد والثاني البريُّ والبحريُّ جنسان وإن حكمنا باتحاد الجنس في اللُّحمان؛ فإن المعتمدَ في الحُكم بالاتحاد الاجتماعُ تحت الاسم وهذا لا يتحقق في لحوم البحريّ مع البرّيّ بدليل أن من حلف لا يأكل اللحم لم يحنث بلحم الحيتان
Jika kita memutuskan bahwa keduanya adalah satu jenis, maka seluruh daging hewan darat termasuk dalam satu jenis, dan seluruh daging hewan laut juga termasuk dalam satu jenis. Adapun mengenai daging hewan darat dan daging hewan laut menurut pendapat ini, terdapat dua pandangan: yang pertama, keduanya adalah satu jenis, mengikuti ketentuan penyatuan; dan yang kedua, daging darat dan daging laut adalah dua jenis yang berbeda. Jika kita memutuskan kesatuan jenis dalam daging-daging, maka dasar yang diandalkan dalam penetapan kesatuan adalah berkumpulnya di bawah satu nama, dan hal ini tidak terwujud pada daging hewan laut dengan daging hewan darat. Buktinya, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, ia tidak dianggap melanggar sumpahnya jika memakan daging ikan.
وإن قلنا اللحوم أجناس فالبقر جنس ذو أنواع كالجواميس مع غيرِها وأنواع الإبل جنس والضأن مع المعز جنس والطيور أجناس فالحمام على اختلاف أنواعها جنس منها اليمام والقُمْرِي والدُّبسي والفَواخت والقطا وهي كل ما عَبّ وهَدَر والبطُّ جنس والدجاج جنس والعصافير على اختلاف جثثها وألوانها جنسٌ
Jika kita mengatakan bahwa daging-daging itu adalah berbagai jenis, maka sapi adalah satu jenis yang memiliki beberapa macam, seperti kerbau dan selainnya; unta dengan berbagai macamnya adalah satu jenis; domba bersama kambing adalah satu jenis; burung-burung adalah berbagai jenis, maka burung merpati dengan segala macamnya adalah satu jenis, termasuk di dalamnya burung tekukur, burung perkutut, burung derkuku, burung fawakhit, dan burung qatha, yaitu semua burung yang makan dengan mematuk dan mengeluarkan suara; bebek adalah satu jenis; ayam adalah satu jenis; dan burung pipit dengan berbagai bentuk dan warnanya adalah satu jenis.
والبحريّ مَع البريّ جنسان والسموك جنس والحيوانات المائيّة كبقر الماء وغنم الماء بالإضافة إلى ما يُسمَّى حيتاناً على اختلافٍ بين الأصحاب فمنهم من قال جَميعُ البحريَّات بعضِها مع بعضٍ جنسٌ واحدٌ ذو أنواع ومنهم من قال الحيتان مع ما لا يُسَمى حوتاً جنسان ثم هذا القائل يحكم باختلاف ما عدا الحيتان نظراً إلى البرّيّات فغنمُ الماء وبقرُه جنسان
Hewan laut dan hewan darat adalah dua jenis, sedangkan ikan adalah satu jenis, dan hewan-hewan air seperti sapi air dan domba air, selain yang disebut ikan paus, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa semua hewan laut, satu sama lain, merupakan satu jenis yang memiliki beberapa macam. Sebagian lagi berpendapat bahwa ikan paus dan selain yang tidak disebut paus adalah dua jenis. Kemudian, menurut pendapat yang kedua ini, mereka juga membedakan selain paus dengan melihat kepada hewan daratnya, sehingga domba air dan sapi air dianggap dua jenis.
وهذا التردُّد خارج على اختلافِ الأصحاب في أن جميع البحريات لها حكم الحوت وإن اختلفت صُورُها حتى تحل ميتتُها أم لا يثبت لها حكم الحوت على ما سيأتي في كتاب الأطعمة إن شاء الله تعالى
Keraguan ini muncul karena perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai apakah semua hewan laut memiliki hukum seperti ikan paus, meskipun bentuknya berbeda-beda, sehingga bangkainya halal, ataukah tidak berlaku hukum ikan paus baginya, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Ath‘imah, insya Allah Ta‘ala.
والوحشيات على قول الاختلافِ تخالف الأهليَّاتِ ثم لا يخفى اختلاف أجناس الأهلياتِ كذلك تختلف أجناس البرّياتِ كالبقر الوحشي؛ فإنها جنس والظباء جنس وكان شيخي يتردَّد في الظباء والإبل وقرارُ جوابه على أنها جنس كالضأن مع المعز ولا يتجه غَيرُه
Binatang liar menurut pendapat yang berbeda itu berbeda dengan binatang jinak, kemudian tidak tersembunyi adanya perbedaan jenis pada binatang jinak, demikian pula berbeda jenis-jenis binatang liar seperti sapi liar; karena ia adalah satu jenis dan kijang adalah jenis lain. Guruku dahulu ragu dalam hal kijang dan unta, dan akhirnya beliau menetapkan jawabannya bahwa keduanya adalah satu jenis seperti domba dengan kambing, dan tidak ada pendapat lain yang dapat diterima.
هذا قَولُنا في النظرِ إلى لحوم الحيوانات بعضها مع بعض
Inilah pendapat kami mengenai memperhatikan daging-daging hewan yang satu dengan yang lain.
فأمَّا القول فيما يشتمل عليه حيوان واحدٌ مما لا يعدّ من اللحم عند الإطلاق ويخصص بأسماءَ من غير إضافةٍ كالكرِش والكبد والمِعى والطِّحال والرئة
Adapun pembahasan mengenai apa yang terdapat pada satu hewan yang tidak dianggap sebagai daging secara mutlak dan disebutkan dengan nama-nama khusus tanpa tambahan, seperti babat, hati, usus, limpa, dan paru-paru.
فتحصيل القول في هذا يستدعي تقديم رمزٍ إلى أصلٍ في الأَيْمان فإذا قالَ الرجل والله لا آكل اللحمَ فالذي ذهب إليه جماهيرُ الأصحاب أنه لا يحنث بأكل الكبد والكرِش والطَّحال والمِعَى والرِّئة؛ فإنّ هذه الأشياء لا تسمى لحماً
Kesimpulan pembahasan dalam hal ini memerlukan penjelasan singkat tentang prinsip dasar dalam sumpah. Jika seseorang berkata, “Demi Allah, saya tidak akan makan daging,” maka mayoritas ulama mazhab berpendapat bahwa ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan hati, babat, limpa, usus, dan paru-paru; karena hal-hal tersebut tidak disebut sebagai daging.
وحكى الشيخ أبو علي عن أبي زيد المروزي قولين أحدُهما ما ذكرناه والثاني أنه يحنث؛ فإنّ هذه الأشياء في معنى اللحم وهذا بعيدٌ لم أره لغيره ولم يختلف الأصحابُ في أن من حلف لا يأكل اللحمَ لم يحنث بأكل الشحم ولست أعني سَمْنَ اللحم؛ فإنه معدود من اللحم اتفق عليه من يوثق به وأما القلب فقد قطع الصيدلاني وغيرُه من المراوزة أنه لحم وذكر العراقيون أنه كالكبدِ والذي قالوه محتمل والكُلية عندي في معنى القلب والأَلْيةُ لم يعدُّها المحققون من اللحم ولا من الشحم وجعلوه مخالفاًً لهُما وهذا فيه احتمالٌ عندي فيشبه أن يقال هو كاللحم السمين يجتمع للضائن على موضع مخصوص
Syekh Abu Ali meriwayatkan dari Abu Zaid al-Marwazi dua pendapat: salah satunya adalah seperti yang telah kami sebutkan, dan yang kedua bahwa ia dianggap melanggar sumpah; karena hal-hal tersebut maknanya sama dengan daging, namun pendapat ini jauh dan aku tidak menemukannya dari selain beliau. Para sahabat tidak berbeda pendapat bahwa siapa yang bersumpah tidak akan memakan daging, maka ia tidak dianggap melanggar sumpah jika memakan lemak, dan aku tidak bermaksud lemak daging; karena itu termasuk daging menurut kesepakatan orang-orang yang terpercaya. Adapun hati, maka al-Shaydalani dan selainnya dari kalangan Marwazi telah memastikan bahwa hati itu termasuk daging, dan para ulama Irak menyebutkan bahwa hati itu seperti hati sapi, dan apa yang mereka katakan itu mungkin saja. Menurutku, ginjal itu sama dengan hati, sedangkan ekor (lemak di bagian ekor domba) tidak dianggap oleh para muhaqqiq sebagai daging maupun lemak, dan mereka menganggapnya berbeda dari keduanya. Dalam hal ini menurutku ada kemungkinan, sehingga bisa dikatakan bahwa ia seperti daging yang berlemak yang terkumpul pada tempat tertentu pada domba.
فإذا ثبت ما ذكرناه من حكم الأَيْمان واستقصاؤه محال على موضعه عُدنا إلى غرضنا
Jika telah tetap apa yang telah kami sebutkan mengenai hukum sumpah dan penjelasannya secara rinci dikembalikan pada tempatnya, maka kami kembali kepada tujuan kami.
فالطريقةُ المشهورة أنا إذا حكمنا بأن اللحوم أجناس فهذه الأشياء من الحيوان الواحد أجناسٌ؛ فإنها مختلفة الأسماء والصفات وإن حكمنا بأن اللحوم جنسٌ واحد فقد ذَكرنا خلافاً على هذا القول في لحوم البرِّيّات مع البحريّاتِ ومأخذ قول من يَقول إنهما جنسان من حكم اليمين؛ فإن من حلف لا يأكل اللحمَ لم يحنث بأكل الحيتان فما ذكرناه من الكَرِش وما في معناه يخرج على موجَب اليمين الذي ذكرناه فكل ما يحنَثُ الحالف بأكله والمحلوف عليه اللحمُ فهو من جنس اللحم على قولنا باتحاد جنس اللحمان وكل ما لا يحنَث الحالفُ على اللحم بأكله فهو خارجٌ على الوجهين اعتباراً بلحوم الحيتان مع لحوم البرِّيَّات
Metode yang masyhur adalah bahwa jika kita memutuskan bahwa daging-daging itu adalah jenis-jenis (ajnas) yang berbeda, maka bagian-bagian ini dari satu hewan adalah jenis-jenis yang berbeda; karena nama dan sifatnya berbeda-beda. Namun jika kita memutuskan bahwa daging adalah satu jenis saja, maka telah kami sebutkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini antara daging hewan darat dan daging hewan laut, serta dasar pendapat orang yang mengatakan bahwa keduanya adalah dua jenis yang berbeda dari hukum sumpah; yaitu, jika seseorang bersumpah tidak akan memakan daging, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya jika memakan ikan. Maka apa yang telah kami sebutkan tentang babat dan yang semakna dengannya, dikembalikan kepada konsekuensi sumpah yang telah kami sebutkan. Maka, setiap sesuatu yang menyebabkan pelanggaran sumpah ketika dimakan, dan yang disumpahkan adalah daging, maka itu termasuk jenis daging menurut pendapat kami tentang kesatuan jenis daging. Dan setiap sesuatu yang tidak menyebabkan pelanggaran sumpah atas daging ketika dimakan, maka itu dikeluarkan dari dua sisi, dengan mempertimbangkan daging ikan dibandingkan dengan daging hewan darat.
فهذه الطريقة المرضيَّة
Maka inilah metode yang diridhai.
وحكى شيخي عن القفال عكْسَ هذا فقال إن حكمنا بأن اللُّحمانَ جنسٌ واحدٌ فالمُسمَّياتُ التي ذكرناها ملحقةٌ باللحم مجانسة له وليس الحكم بمجانستها للحم بأبعدَ من حكمنا بمجانسة لحم العصفور لحمَ الجزور
Guru saya meriwayatkan dari al-Qaffal kebalikan dari pendapat ini, beliau berkata: Jika kita memutuskan bahwa daging-daging itu satu jenis, maka nama-nama yang telah kami sebutkan itu disamakan dengan daging karena keserupaannya dengannya, dan menetapkan keserupaannya dengan daging tidaklah lebih jauh daripada menetapkan keserupaan daging burung dengan daging unta.
وإن حكمنا بأن اللحمان أجناسٌ ففي هذه المسمّيات من حيوانٍ واحدٍ وجهان أحدُهما أنها ملتحقة باللحوم لاتحاد الحيوان فكأن لحم كل حيوان يختلفُ أجزاؤُه والكل لحمٌ وهذه الطريقةُ رديئةٌ لم أرها إلا لشيخنا؛ فلا أعدُّها من المذهب
Jika kita memutuskan bahwa daging-daging itu adalah jenis-jenis yang berbeda, maka pada penamaan-penamaan ini yang berasal dari satu hewan terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa semuanya disamakan dengan daging karena berasal dari hewan yang sama, seolah-olah daging setiap hewan berbeda-beda bagiannya, namun semuanya tetap disebut daging. Pendapat ini adalah pendapat yang lemah, dan aku tidak pernah menemukannya kecuali dari guruku; maka aku tidak menganggapnya sebagai bagian dari mazhab.
والعظمُ لا شك أنه ليس بلحمٍ الصلبُ منه والمُشاشي والغضرُوفي وكذلك المِخَخَة
Tulang tidak diragukan lagi bukanlah daging, baik yang keras, yang lunak, yang rawan, maupun sumsum tulang.
وقطع أئمتُنا بأن الأكارع لحمٌ في اليمين وهو من الشاة مجانسةٌ لسائر لحمها ولا اعتراض على الاتفاق ولعل ذلك من جهة أنه يؤكل أكْلَ اللحم وإلا فالظاهر عندي أن العصبةَ المفردةَ ليست لحماً والرؤوس من اللحوم لا شك فيه وإنما أشرت إلى إشكالٍ في المعنى من جهة أن الأكارعَ أعصابٌ تحويها الجلود ولكنها إذا تهرَّت أُكِلت أكلَ اللحم
Para imam kami telah menegaskan bahwa akari‘ (bagian pergelangan kaki hewan) adalah daging menurut pendapat mazhab Syafi‘i, dan ia dari kambing sejenis dengan daging lainnya, sehingga tidak ada sanggahan terhadap kesepakatan tersebut. Barangkali hal itu karena akari‘ dimakan seperti daging. Namun, menurut pendapat saya, urat-urat yang terpisah bukanlah daging, sedangkan kepala termasuk bagian daging, tidak diragukan lagi. Saya hanya menyinggung adanya kerancuan makna dari sisi bahwa akari‘ adalah urat-urat yang dibungkus kulit, tetapi jika telah lunak, ia dimakan seperti daging.
فهذا كلّه ترتيبُ القول في اتحاد الجنس واختلافِه
Semua ini merupakan penataan pembahasan mengenai kesamaan jenis dan perbedaannya.
فلا يخفى بعد هذا أن كل لحمين حكمنا باختلافِ جنسهما فلا حرجَ في بيع أحدهما بالآخر مع حقيقةِ التفاضل ولا تعبّدَ إلا في التقابضِ وامتناع النَّساء
Maka tidaklah tersembunyi setelah penjelasan ini bahwa setiap dua daging yang kami hukumi berbeda jenisnya, maka tidak mengapa menjual salah satunya dengan yang lain meskipun terdapat kelebihan pada salah satunya secara nyata, dan tidak ada ketentuan ibadah kecuali dalam hal serah terima dan larangan penundaan.
وإن حكمنا باتحاد الجنس أو فرضنا في بيع لحم الغنم يباع البعض منه بالبعضِ فقد قطع معظمُ الأصحاب بأنهُ لا يجوز بيع اللحم الرَّطْب باللحم الرطب بل يجب أن يُجفَّفا حتى لا تبقى في اللحم رطوبة فيباع القديد ولو كان على القديدِ ملحٌ يظهر له أثرٌ في الوزنِ لم يجُز بيع البعضِ بالبعض وحكى بعضُ الأئمة وجهاً أن بيع اللحم الرَّطْب باللَّحمِ الرَّطب جائزٌ وخرّجوا هذا على بيع الخوخ الرطب بالخوخ الرطب
Jika kita menetapkan bahwa jenisnya sama, atau kita misalkan dalam jual beli daging kambing, sebagian dijual dengan sebagian lainnya, maka mayoritas para sahabat (ulama) telah menegaskan bahwa tidak boleh menjual daging basah dengan daging basah, melainkan keduanya harus dikeringkan terlebih dahulu hingga tidak tersisa kelembapan pada daging, sehingga yang dijual adalah daging kering (qadid). Jika pada daging kering tersebut terdapat garam yang berpengaruh pada beratnya, maka tidak boleh menjual sebagian dengan sebagian lainnya. Namun, sebagian imam meriwayatkan satu pendapat bahwa jual beli daging basah dengan daging basah itu boleh, dan mereka mengqiyaskan hal ini dengan jual beli buah prem basah dengan buah prem basah.
وقد ذكرنا فيه وفي أمثاله خلافاً ووجه شبه اللحم بما ذكرناه أن تقديدَ الخوخ قد يلتحق بما لا يعم واستعماله رطباً أعم كذلك القول في اللحم وهذا غريبٌ وظاهر المذهب ما قدمناه
Kami telah menyebutkan di dalamnya dan dalam hal-hal serupa adanya perbedaan pendapat dan sisi kemiripan daging dengan apa yang telah kami sebutkan adalah bahwa pengeringan buah prem kering dapat termasuk dalam kategori yang tidak mencakup semua keadaan, dan penggunaannya dalam keadaan basah lebih umum; demikian pula halnya dengan daging. Ini adalah hal yang aneh, dan pendapat yang jelas dalam mazhab adalah apa yang telah kami kemukakan sebelumnya.
وبقيةُ الكلام في الباب التعرضُ للعظم
Dan pembahasan selanjutnya dalam bab ini adalah mengenai menyentuh tulang.
لم يختلف أصحابنا أن بيعَ اللحم المنزوعِ العظمِ بلحمٍ يُشابهه في نزع العظم جائز وليس كنزع النوى من التمر وقد قدّمت هذا في الجواز مع النزع وهل يجوز البيع مع العظم اختلف أصحابنا فيه فمنهم من لم يُجوّز وإليه ميل الأكثرين؛ فإن العَظم يُفسد اللحمَ ولا يُصلحُه وليس كذلك النوى في التمر ومن أصحابنا من لم يوجب نزعَ العظم الخِلقي وهذا مشهور ولكنهُ مزيف
Para ulama mazhab kami tidak berselisih pendapat bahwa jual beli daging yang telah dipisahkan dari tulangnya dengan daging sejenis yang juga telah dipisahkan dari tulangnya adalah boleh, dan hal ini tidak sama dengan memisahkan biji dari kurma. Saya telah menjelaskan sebelumnya tentang kebolehan jual beli dengan pemisahan tersebut. Adapun apakah boleh jual beli daging yang masih ada tulangnya, para ulama mazhab kami berbeda pendapat. Sebagian dari mereka tidak membolehkannya, dan pendapat ini lebih banyak dianut; karena tulang dapat merusak daging dan tidak memperbaikinya, berbeda dengan biji pada kurma. Namun, sebagian ulama mazhab kami tidak mewajibkan pemisahan tulang yang memang sudah menjadi bagian asli daging, dan pendapat ini masyhur, tetapi lemah.
ثم إذا جوَّزنا البيعَ مع العظم فلا يُشترطُ اتحادُ صنفِ اللحمين حتى تتقاربَ العظام بل يجوزُ بيع الفخذ بالجنبِ وإن كانت أقدارُ العظام تتفاوتُ وهذا كتفاوت النوى في التمر
Kemudian, jika kita membolehkan jual beli daging beserta tulangnya, maka tidak disyaratkan kesamaan jenis kedua daging tersebut hingga tulangnya harus sebanding, melainkan boleh menjual paha dengan iga meskipun ukuran tulangnya berbeda-beda. Hal ini seperti perbedaan biji pada kurma.
وعندي يجب أن يُرعى في هذا نظر؛ فإن العضوَ الذي فيه اللحم لو نحي منه مقدار صالح من اللحم فالعظم الباقي في العضوِ لا يُحتمل في شراء ذلك العضوِ فيجبُ أن يقالَ إذا كان كذلك يمتنعُ بيعُ ذلك العضوِ بعُضو لم يُقطع من لحمه شيء
Menurut pendapat saya, hal ini perlu diperhatikan; jika pada anggota tubuh yang terdapat daging, dihilangkan sejumlah daging yang cukup banyak darinya, maka tulang yang tersisa pada anggota tersebut tidak dapat dianggap dalam pembelian anggota tubuh itu. Oleh karena itu, harus dikatakan bahwa jika demikian keadaannya, maka tidak boleh menjual anggota tubuh tersebut dengan anggota tubuh lain yang tidak dikurangi sedikit pun dagingnya.
وإن قلّ المقدار المقطوع بحيث لا يبالَى به فلا بأس إذن على الوجه الذي نفرع عليه
Dan jika bagian yang terpotong itu sangat sedikit sehingga tidak dianggap penting, maka tidak mengapa, sesuai dengan penjelasan yang akan kami uraikan.
Bab Jual Beli Daging dengan Hewan
روى الشافعي بإسناده عن ابن المسيّبِ أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع اللحم بالحيوان ومراسيل ابن المسيب مقبولٌ عندَ الشافعي وعن ابن عباسٍ رضي الله عنهما أن جزوراً نُحرَتْ على عهد أبي بكر رضي الله عنه فجاء رجل بعنَاقٍ فقال أعطوني جزءاً بهذا العَناق فقال أبو بكر لا يصلح هذا المبيع
Syafi‘i meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu al-Musayyib bahwa Nabi ﷺ melarang jual beli daging dengan hewan, dan mursal Ibnu al-Musayyib diterima menurut Syafi‘i. Dan dari Ibnu Abbas ra. bahwa seekor unta disembelih pada masa Abu Bakar ra., lalu datang seorang laki-laki membawa seekor anak kambing betina dan berkata, “Berikanlah kepadaku satu bagian dengan anak kambing ini.” Maka Abu Bakar berkata, “Jual beli seperti ini tidak sah.”
فالمتبع في الباب الحديث والقياسُ يقتضي تجويزَ لحم الشاة بالشاة من جهة أن الحيوان ليس مالَ رباً فالمتّبعُ الحديثُ إذاً ثم اتفق الأصحابُ على منع بيع لحم الشاة بالشاةِ
Maka yang diikuti dalam permasalahan ini adalah hadis, dan qiyās mengharuskan bolehnya menjual daging kambing dengan kambing, karena hewan bukanlah harta ribawi. Maka yang diikuti adalah hadis. Kemudian para ulama sepakat melarang jual beli daging kambing dengan kambing.
وخرّجوا بيعَ لحم الشاة بالبقر والبعير على القولين في تجانس اللُّحمان واختلافهما وقالوا إن قضينا بتجانسِها فالبيع يمتنع كبيع لحم الشاة بالشاة وإن حكمنا بأن اللُّحمان مختلفةُ الأجناس ففي البيع قولان أقيسُهما الصحّةُ؛ لأن بيع لحم الشاة بلحم البقر جائزٌ متفاضلاً وإذا منعنا بيعَ لحم الشاة بالشاة فهو على تقدير الشاة لحماً فإذا كان لا يمتنع البيع مع مصير الحيوان المقابل للحم لحماً فكيف يمتنع بيع اللحم بذلك الحيوان
Mereka mengqiyaskan jual beli daging kambing dengan sapi dan unta berdasarkan dua pendapat tentang apakah daging-daging tersebut sejenis atau berbeda jenis. Mereka mengatakan, jika kita memutuskan bahwa daging-daging itu sejenis, maka jual belinya dilarang seperti jual beli daging kambing dengan kambing. Namun jika kita memutuskan bahwa daging-daging itu berbeda jenis, maka dalam jual belinya terdapat dua pendapat, dan yang paling sesuai dengan qiyās adalah kebolehannya; karena jual beli daging kambing dengan daging sapi boleh dilakukan secara tidak seimbang. Dan jika kita melarang jual beli daging kambing dengan kambing, itu didasarkan pada anggapan bahwa kambing tersebut telah menjadi daging. Maka jika jual beli tidak dilarang ketika hewan yang ditukar dengan daging itu juga telah menjadi daging, bagaimana mungkin jual beli daging dengan hewan tersebut dilarang?
والقول الثاني أن البيع ممتنع لظاهر نهي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع اللحم بالحيوان
Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tersebut dilarang karena jelas larangan Rasulullah saw. terhadap jual beli daging dengan hewan.
وطرد بعض الأصحاب القولينِ في بيع لحم الشاة بالعبد من جهة أنه بيع اللحم بالحيوان
Sebagian ulama juga mengaitkan dua pendapat dalam jual beli daging kambing dengan budak, dari sisi bahwa hal itu merupakan jual beli daging dengan hewan.
والذي يجب التنبه له في مضمون هذا الباب وأمثالِه أن من الأصول ما يستند إلى الخبر أو إلى ظاهر القرآن ولكن القياس يتطرق إليه من أصول الشريعة فلا يمتنع التصرف في ظاهر القرآن والسنة بالأقيسة الجليّة إذا كان التأويل منساغاً لا ينبو نظر المصنف عنه والشرط في ذلك أن يكون صَدَرُ القياس من غير الأصل الذي فيه ورُود الظاهر فإن لم يتَّجه قياس من غير مورد الظاهر لم يجز إزالةُ الظاهر بمعنىً يُستنبط منه يَضمنُ تخصيصَه وقصْرَه على بعض المسمَّياتِ وقد ذكرت هذا على الاستقصاء في كتاب الأساليب وألحقت فيما مهَّدتُه في ذلك الردَّ على القائلين بالأبدال في الزكوات
Hal yang perlu diperhatikan dalam isi bab ini dan yang semisalnya adalah bahwa sebagian dari ushul (prinsip-prinsip dasar) ada yang bersandar pada khabar (riwayat) atau pada zhahir Al-Qur’an, namun qiyās dapat masuk ke dalamnya dari ushul syariah. Maka tidak terlarang melakukan penyesuaian terhadap zhahir Al-Qur’an dan sunnah dengan qiyās yang jelas, jika takwilnya dapat diterima dan tidak bertentangan dengan pandangan penulis. Syaratnya adalah qiyās tersebut berasal dari selain asal yang di dalamnya terdapat zhahir tersebut. Jika tidak ditemukan qiyās dari selain tempat zhahir itu, maka tidak boleh menghilangkan makna zhahir dengan makna yang diistinbatkan darinya yang mengandung pengkhususan dan pembatasan pada sebagian makna yang dimaksud. Aku telah menjelaskan hal ini secara rinci dalam Kitab Al-Asalib dan aku tambahkan dalam pendahuluan yang telah aku sampaikan di sana bantahan terhadap orang-orang yang berpendapat tentang pengganti dalam zakat.
هذا فيما يتطرق إليه المعنى
Ini berkaitan dengan hal-hal yang dapat dijangkau oleh makna.
فأما ما لا يتطرق إليه معنى مستمرٌ صابرٌ على السَّبْر فالأصل فيه التعلّقُ بالظاهر وتنزيلُه منزلةَ النصِّ ولكن قد يلوح مع هذا مقصودُ الشارع بجهةٍ من الجهات فيتعيّن النظرُ إليه وهذا له أمثلة منها أن الله تعالى ذكر الملامسة في قوله أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ النساء وحملها الشافعي على الجسّ باليد ثم تردّد نصُّه في لمس المحارم؛ من جهة أن التعليلَ لا جريان له في الأحداث الناقضةِ وما لا يجري القياس في إثباته فلا يكاد يجري في نفيه فمال الشافعي في ذلك إلى اتباع اسم النساء وأصح قوليه أن الطهارة لا تنتقض بمسهنَّ؛ لأن ذكْر الملامسة المضافة إلى النساء مع سياق الأحداث يُشعر بلمس اللواتي يُقصدن باللَّمسِ فإن لم يتَّجه معنى صحيح دلَّت القرينةُ على التخصيص
Adapun perkara yang tidak mengandung makna yang terus-menerus dan dapat diuji, maka asalnya adalah berpegang pada makna lahiriah dan memperlakukannya seperti nash. Namun, terkadang tampak maksud syariat dari suatu sisi tertentu, sehingga wajib memperhatikannya. Hal ini memiliki beberapa contoh, di antaranya adalah bahwa Allah Ta‘ala menyebutkan tentang “menyentuh” dalam firman-Nya: “atau kalian menyentuh perempuan” (an-Nisā’), dan Imam Syafi‘i menafsirkannya sebagai menyentuh dengan tangan. Kemudian, beliau ragu dalam hal menyentuh perempuan mahram, karena alasan (‘illat) tidak berlaku dalam perkara-perkara yang membatalkan wudhu, dan apa yang tidak bisa diterapkan qiyās dalam penetapannya, maka hampir tidak bisa diterapkan pula dalam penafianya. Maka Imam Syafi‘i dalam hal ini cenderung mengikuti lafaz “perempuan”, dan pendapat terkuat beliau adalah bahwa wudhu tidak batal dengan menyentuh mereka, karena penyebutan “menyentuh” yang disandarkan kepada perempuan dalam konteks pembatal wudhu menunjukkan pada menyentuh perempuan yang memang dimaksudkan untuk disentuh. Jika tidak ada makna yang benar-benar tepat, maka adanya indikasi (qarīnah) menunjukkan adanya pengkhususan.
ومن هذا القبيل قوله صلى الله عليه وسلم ليس للقاتل من الميراث شيء
Termasuk dalam kategori ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pembunuh tidak mendapatkan bagian apa pun dari warisan.”
فالحرمان لا يستدُّ فيه تَعليلٌ كما ذكرنا في الخلاف وإذا انسد مسلكُ التعليل اقتضت الحال التعلّق بلفظ الشارعِ فردَّد الشافعي نصَّه في أن القتل قصاصاً أو حدّاً إذا صدرَ من الوارث فهل يتضمن حرمانَه فوجهُ تعليق الحرمان بكل قتلٍ التعلّقُ بالظاهر مع حسمِ التعليل ووجه إثبات الإرث التطلعُ على مقصود الشارع وليس يخفى أن مقصودَهُ مضادّةُ غرض المستعجل وهذا لا يتحقق في القتل الحق
Maka, pengharaman (dari warisan) tidak memerlukan ta‘līl (argumentasi rasional) sebagaimana telah kami sebutkan dalam khilāf (perbedaan pendapat). Ketika jalan ta‘līl tertutup, maka keadaan menuntut untuk berpegang pada lafaz syāri‘ (pembuat syariat). Oleh karena itu, Imam Syafi‘i ragu dalam nash-nya apakah pembunuhan yang dilakukan sebagai qiṣāṣ atau ḥadd jika dilakukan oleh ahli waris, apakah itu mengakibatkan pengharaman (dari warisan) baginya. Satu sisi yang mengaitkan pengharaman dengan setiap pembunuhan adalah berpegang pada zhāhir (makna lahiriah) dengan menutup pintu ta‘līl. Sisi lain yang menetapkan hak waris adalah memperhatikan maksud syāri‘. Tidak diragukan lagi bahwa maksud syāri‘ adalah menentang tujuan orang yang terburu-buru (membunuh untuk mendapatkan warisan), dan hal ini tidak terwujud dalam pembunuhan yang dilakukan secara ḥaqq (dengan alasan yang benar).
والذي نحن فيه من بيع اللحم بالحيوان خارج على هذا القانون فمن عمم تعلّقَ بقول الشارع ومن فصَّل تشوَّف إلى دَركِ مقصودهِ وهو أن في الحيوان لحماً فبيعُ الشاة به كبيع الشاة بلحمه وعن هذا قال مالكٌ إن قصد من الحيوان اللحمَ لم يجز بيع اللحم به وهذا يقربُ من مذهبهِ في اشتراط قصد الشهوة في ملامسة الرجال
Apa yang sedang kita bahas mengenai jual beli daging dengan hewan termasuk dalam kaidah ini. Maka, siapa yang mengeneralisasi, berpegang pada ucapan syariat; dan siapa yang merinci, berusaha memahami maksudnya, yaitu bahwa dalam hewan terdapat daging, sehingga menjual kambing dengan kambing sama dengan menjual kambing dengan dagingnya. Mengenai hal ini, Malik berkata: Jika yang dimaksud dari hewan itu adalah dagingnya, maka tidak boleh menjual daging dengan hewan tersebut. Ini mendekati pendapatnya dalam mensyaratkan adanya niat syahwat dalam menyentuh laki-laki.
ومن تمسك بظاهر اللفظ فقد يترتبُ كلامُه فيقرب بعضُ المراتب ويَبعُد بعضها وهذا كما ذكرناه في قتلِ المورِّث فالقتل قصاصاً أقربُ قليلاً وأما القتل حدّاً سيّما إذا ثبت بإقرارِ من عليه الحدُّ فاعتقاد جريان الخبر فيه بعيدٌ ومن هذا القبيل منع بيع اللحم بالعبد ولو ادّعى العلم في أن هذا ليس مرادَ الشارع لم يكن بعيداً
Barang siapa yang berpegang pada makna lahiriah lafaz, maka konsekuensi dari pendapatnya adalah sebagian kasus menjadi dekat (kepada makna yang dimaksud), dan sebagian lainnya menjadi jauh. Hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam kasus membunuh pewaris; maka pembunuhan karena qishāsh sedikit lebih dekat (kepada makna yang dimaksud), sedangkan pembunuhan karena hadd, terutama jika ditetapkan dengan pengakuan orang yang dijatuhi hadd, maka anggapan berlakunya hadis dalam kasus ini adalah jauh. Dalam kategori ini juga termasuk larangan menjual daging dengan budak, dan seandainya seseorang mengklaim mengetahui bahwa ini bukan maksud syariat, maka hal itu tidaklah jauh (dari kebenaran).
Bab tentang buah kebun yang dijual bersama pokoknya.
صَدَّرَ الشافعي البابَ بما رُوي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من باع نخلاً بعد أن يُؤبر فثَمرتُه للبائع إلا أن يشترط المبتاعُ وقد ذكرَ الشافعي في هذا الباب تفصيلَ القول في بيع الأشجار وعليها الثمار وفصّل القول في أنها متى تستتبع الثمارَ ومتى لا تستتبعُها ثم ذكر في بابٍ آخر بعد هذا تفصيلَ القول في إفراد الثمار في البيع وبيان تبقيتها وقطعها وتفصيلَ الأقوال في ذلك
Syafi‘i memulai bab ini dengan apa yang diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa menjual pohon kurma setelah dibuahi, maka buahnya milik penjual kecuali jika pembeli mensyaratkannya.” Syafi‘i dalam bab ini menyebutkan rincian pendapat tentang jual beli pohon yang masih ada buahnya, dan merinci kapan buah-buahan itu mengikuti pohonnya dan kapan tidak mengikutinya. Kemudian, dalam bab lain setelah ini, ia menyebutkan rincian pendapat tentang menjual buah secara terpisah, penjelasan tentang membiarkan atau memetiknya, serta rincian pendapat-pendapat dalam hal tersebut.
والأشجار المثمرةُ أقسام فمنها ما تبدُو ثمارها في أول الأمر كالتين ومنها ما تطلع ثمارها وهي في سواتر ثم تزول السواتر أو تُزال وتبرز الثمار ومنها ما يتردّدُ الناظر في اعتقاد ظهورها فأما الأشجار التي تكون ثمارُها بارزةً من أول الفِطرةِ فإذا بيعت الأشجار وأُطلق تسميتُها من غير تعرضٍ لذكر الثمار فالثمار تبقى للبائع ولا تدخل تحت مطلق تسميةِ الأشجار؛ فإنها ليست جزءاً وقد استقلت بظهورها
Pohon-pohon yang berbuah terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya ada yang buahnya sudah tampak sejak awal, seperti pohon tin. Ada pula yang buahnya muncul namun masih tertutup oleh pelindung, kemudian pelindung itu hilang atau dihilangkan sehingga buahnya menjadi tampak. Ada juga yang orang yang melihatnya masih ragu apakah buahnya sudah tampak atau belum. Adapun pohon-pohon yang buahnya sudah tampak sejak awal pertumbuhan, apabila pohon-pohon tersebut dijual dan penamaannya disebutkan secara umum tanpa menyebutkan buahnya, maka buahnya tetap menjadi milik penjual dan tidak termasuk dalam penamaan umum pohon tersebut; karena buah itu bukan bagian dari pohon dan telah berdiri sendiri dengan kemunculannya.
وأما ما يطلعُ مستتراً بساتر كطلع النخل؛ فإنه يكون مستتراً بالكِمام وأكِمّةُ الطلع غُلفٌ كثيفة تبدو مستطيلةً كآذان الحُمر والطلع في أوسَاطِها فإذا شُقَقت ظهر الطلعُ على العناقيد أبيضَ وهو أشبه شيء بالرُّز فإذا أُطلق بيعُ النخلة والطلع مستتر بالكِمام فمذهب الشافعي أن الثمار تتبعُ مطلقَ تسميةَ الأشجار ويملكها المشتري
Adapun buah yang masih tersembunyi oleh pelindung, seperti bunga kurma yang masih tertutup, maka ia tersembunyi oleh kelopak (kimam), dan kelopak bunga kurma itu adalah selubung tebal yang tampak memanjang seperti telinga keledai, dan bunga kurma berada di tengah-tengahnya. Jika kelopak itu dibelah, akan tampak bunga kurma pada tandannya berwarna putih, yang sangat mirip dengan beras. Jika penjualan pohon kurma dilakukan sementara bunga kurmanya masih tersembunyi dalam kelopak, maka menurut mazhab Syafi’i, buah tersebut mengikuti penyebutan umum pohon, dan menjadi milik pembeli.
هذا تأصيل المذهب في الباب وسيأتي التفصيل الآن
Inilah penetapan dasar mazhab dalam bab ini, dan penjelasan rinci akan disampaikan setelah ini.
فأما ما يتردّدُ الاعتقاد في ظهوره فمن جملته الأشجارُ التي تُبدِي أزهارَها وهي تنقسم فمنها ما يحتوي مركَّبُ الأزهارِ وأصلُها على الثمارِ على هيئةِ خَوخاتٍ صغار كالمشمش والخوخ وما في معناهما فإذا بيعت هذه الأشجار وعليها أزهارُها فالثمار في مطلق البيع للمشتري؛ فإنها مستترةٌ استتار الطلع وفيها مزيدُ معنى وهو أنهُ لا يعد ثمراً حتى يشتدَّ ويصلبَ وذلك بعد انتثار الأزهار وانكشافِها عن الخوخات
Adapun hal-hal yang masih diragukan dalam hal kemunculannya, di antaranya adalah pohon-pohon yang menampakkan bunganya. Pohon-pohon ini terbagi menjadi beberapa jenis; di antaranya ada yang bunga dan pangkal bunganya mengandung buah yang berbentuk seperti buah prem kecil, seperti aprikot dan prem serta yang sejenisnya. Jika pohon-pohon ini dijual dalam keadaan masih berbunga, maka buahnya dalam penjualan mutlak menjadi milik pembeli; karena buah tersebut masih tersembunyi sebagaimana tersembunyinya bakal buah. Di dalamnya terdapat makna tambahan, yaitu bahwa buah tersebut belum dianggap sebagai buah hingga mengeras dan menguat, dan itu terjadi setelah bunga-bunganya gugur dan buah-buah kecil itu tampak.
ومن الأزهار ما لا يحتوي على الثمار ولكنها تطلع والثمرةُ تحتها كالكمثرى والتفاح فما كان كذلك فقد اختلف الأصحابُ فيه فالذي مال إليه العراقيون أن الثمار لها حكمُ الظهور؛ فلا تتبع الأشجارَ المطلقةَ في البيع ومن أصحابنا من قال هي للمشتري؛ لأنها غيرُ منعقدة بعدُ وإنما انعقادُها بعد انتثار الأزهار وهذا هو الذي ذكره الصيدلاني
Di antara bunga-bungaan ada yang tidak mengandung buah, tetapi bunga itu muncul sementara buahnya berada di bawahnya, seperti pir dan apel. Mengenai hal ini, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang condong diikuti oleh para ulama Irak adalah bahwa buah-buahan tersebut memiliki hukum kemunculan; sehingga tidak mengikuti hukum pohon secara mutlak dalam jual beli. Sementara sebagian ulama kami berpendapat bahwa buah itu menjadi milik pembeli, karena buah tersebut belum terbentuk, dan baru akan terbentuk setelah bunga-bunga itu gugur. Inilah pendapat yang disebutkan oleh As-Saidalani.
ومما يتعلق بهذا القسم الكلام في الجَوْز وقد قال العراقيون القشرةُ العليا ساترةٌ للجوزِ سَتْرَ الكِمام للطلع فإذا جَرى بيعُ الشجرة مطلقاًً فالجوز تابعٌ وقطع صاحب التقريب بخلاف هذا واحتجَّ بأن هذه القشور لا تزول في الغالب إلا عند الأكل وحقّق بما ينبّه على المقصود؛ فقال القشرة العليا تُعَدُّ من الثمرة والكِمام تُعدُّ من الشجرة وإذا برزَتْ منها العناقيد وأقطفت قُطفت وتُركت الأَكِمَّة على الأشجار تركَ السعف والكرانيف وقشورُ الجَوْز ليست كذلك والقُطن ملحقٌ بالنخيل والمُراد ما يكون شجراً باقياً على مَمرّ السنين فالقطن يؤخذ ويُتركُ القشرُ على الشجر كما صوَّرناه في الكِمام وأما الورد؛ فإنه يتستر بجزء من الشجرِ يتشقق ذلك الجزءُ وتَبرُز الوردة فهو كالنخل وقد تبرز الوردةُ في غبَنِها متضامَّة الأوراقِ ثم تَتَفتّق فماذا برزت بجُملتِها فهي ظاهرةٌ لها حكمُ البروز إذ ذاكَ فلا تتبع
Salah satu hal yang berkaitan dengan bagian ini adalah pembahasan tentang kenari (jauz). Ulama Irak berpendapat bahwa kulit luar kenari menutupi biji kenari sebagaimana kulit pelindung (kimmam) menutupi mayang kurma. Jika terjadi jual beli pohon secara mutlak, maka kenari termasuk di dalamnya. Namun, penulis kitab at-Taqrib berpendapat sebaliknya dan beralasan bahwa kulit-kulit ini pada umumnya tidak terlepas kecuali saat dimakan. Ia menjelaskan dengan penjelasan yang menunjukkan maksudnya; ia berkata bahwa kulit luar kenari dianggap sebagai bagian dari buah, sedangkan kimmam dianggap sebagai bagian dari pohon. Jika tandan buah telah muncul dari kimmam dan dipetik, maka kimmam dibiarkan tetap pada pohon seperti pelepah dan serabut pada pohon kurma, sedangkan kulit kenari tidak demikian. Kapas disamakan dengan pohon kurma, yang dimaksud adalah pohon yang tetap hidup selama bertahun-tahun. Kapas diambil dan kulitnya dibiarkan tetap pada pohon sebagaimana telah dijelaskan pada kimmam. Adapun bunga mawar, ia tertutup oleh bagian dari pohon yang kemudian bagian itu pecah dan bunga mawar pun muncul, maka hukumnya seperti pohon kurma. Kadang bunga mawar muncul dalam lipatan daunnya yang saling menempel, lalu mekar. Jika seluruh bagian bunga telah tampak, maka ia dianggap telah muncul dan pada saat itu tidak lagi mengikuti (hukum pohonnya).
فهذا بيانُ الظهورُ والكمونِ في الثمار
Inilah penjelasan tentang kemunculan dan ketersembunyian pada buah-buahan.
ونرد التفصيل بعد ذلك إلى النخيل وهي فحولٌ وإناث والفحول لا تعنى ثمارُها للأكل ولكنها تُعنَى لتؤخذَ وتشقق أكِمّةُ الإناث ويُذرُّ فيها طلعُ الفحول فتربو وتنمو وقد تشَّققُ الأكِمَّة بأنفُسها ثم التأبيرُ قد يختلف باختلافِ أنواع النخيل فيتقدّمُ التأبيرُ في البعضِ ويتأخر في البعض ثم هي تتفاوتُ في أوان القطاف ولم يجر عُرفُ القائمين بتعهد النخيلِ بتأبير جميعها بل يكتفون بتأبير البعضِ وقد تنبث رياح الفُحول إلى الجميع فتتأبر ثم إن اتحد النوعُ تلاحق التأبيرُ على قُربٍ من الزمانِ وإن اختلفت الأنواع فقد تختلف أوقات تأبيرها
Selanjutnya, kita kembali merinci tentang pohon kurma, yang terdiri dari pohon jantan dan betina. Buah dari pohon jantan tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi, melainkan digunakan untuk diambil serbuk sarinya, lalu dibelah kuncup betina dan dimasukkan serbuk sari dari pohon jantan agar buahnya tumbuh dan berkembang. Kadang-kadang kuncup itu bisa terbuka sendiri. Proses penyerbukan ini bisa berbeda-beda tergantung pada jenis pohon kurma; pada sebagian jenis, penyerbukan dilakukan lebih awal, pada sebagian lain lebih lambat. Waktu panennya pun berbeda-beda. Kebiasaan para pengelola kebun kurma tidak melakukan penyerbukan pada semua pohon, mereka hanya cukup melakukan penyerbukan pada sebagian pohon saja. Kadang-kadang angin membawa serbuk sari pohon jantan ke seluruh pohon sehingga semuanya bisa terbuahi. Jika jenis pohonnya sama, waktu penyerbukan akan berdekatan, namun jika jenisnya berbeda, waktu penyerbukannya pun bisa berbeda-beda.
فإذا تُصوِّر ما ذكرناه قلنا إذا باع الرجل نخيلَ بستانٍ والنوعُ متّحدٌ وقد أبَّر بعضَها فالذي لم يؤبَّر ملحقٌ في الحكم بالمؤبَّر حتى لا يتبعَ الأشجارَ في إطلاق التسمية فالكامن منها على الصورة التي ذكرناهَا يتبع الظاهرَ والسببُ فيه أن رعايةَ الظُّهور في الجميع عسرٌ مفْضٍ إلى تتبع كل عنقود
Jika telah dipahami apa yang telah kami sebutkan, maka kami katakan: apabila seseorang menjual pohon kurma di sebuah kebun dan jenisnya sama, sementara sebagian pohon telah dibuahi (diadakan penyerbukan) dan sebagian lainnya belum, maka yang belum dibuahi dalam hukum disamakan dengan yang telah dibuahi, sehingga tidak mengikuti pohon-pohon tersebut dalam penyebutan secara mutlak. Maka buah yang tersembunyi di dalamnya, dalam keadaan seperti yang telah kami sebutkan, mengikuti yang tampak. Sebabnya adalah karena menjaga segala sesuatu yang tampak pada semuanya adalah hal yang sulit dan akan menyebabkan keharusan untuk meneliti setiap tandan.
والقولُ في ذلك يختلفُ إذا كَثُرت النخيل فعسُرَ التزامُ التفصيل وإتباعُ الكامنِ الظاهرَ أوجَهُ؛ من جهة أن الكامن إلى الظُهور في أوقات متلاحقة والأصل استقلال الثمار بأنفسها وانقطاعُها عن تبعية الأشجار وظهرَ بذلك وجوب الميل إلى إتباع الكامنِ الظاهرَ
Pendapat dalam hal ini berbeda jika pohon kurma sangat banyak sehingga sulit untuk melakukan perincian, dan mengikuti buah yang tersembunyi kepada yang sudah tampak lebih utama; karena buah yang tersembunyi akan tampak pada waktu-waktu yang berurutan, dan pada dasarnya buah-buahan itu berdiri sendiri dan terpisah dari ketergantungan pada pohon, sehingga tampaklah kewajiban untuk lebih condong mengikuti buah yang tersembunyi kepada yang sudah tampak.
ثم صور الوفاق فيما ذكرناه والخلاف تنشأ من معنيين أحدُهما اشتمالُ البيع واختصاصُه والثاني اختلافُ الأنواع وتباينُ أوقات التأبير لأجلها
Kemudian bentuk-bentuk kesepakatan dalam hal yang telah kami sebutkan dan perbedaan pendapat itu muncul dari dua makna: yang pertama adalah mencakupnya jual beli dan kekhususannya, dan yang kedua adalah perbedaan jenis-jenis serta berbedanya waktu penyerbukan karena perbedaan tersebut.
فإن اشتمل البَيعُ على نخيلٍ وقد جَرى التأبير في بعضِها والنوعُ متحد فقد اجتمع الاشتمالُ واتحادُ النوع فيتبع الكامِنُ الظاهرَ وجهاً واحداً
Jika suatu jual beli mencakup pohon kurma dan sebagian di antaranya telah dilakukan penyerbukan, sedangkan jenisnya sama, maka telah terkumpul unsur mencakup dan kesatuan jenis, sehingga yang tersembunyi mengikuti yang tampak dalam satu sisi.
فإن أَفْرَدَ مالكُ النخيل نوعاً منها بالبيع المطلق والبستانُ يشتمل على نوع آخر وقد جرَى التأبيرُ فيما لم يبع ولم يجرِ في شيء مما باع فالمبيع مقتَطَعٌ عما لم يبع
Jika seseorang memisahkan jenis tertentu dari pohon kurma miliknya untuk dijual secara mutlak, sedangkan kebun tersebut juga mencakup jenis lain, dan proses penyerbukan telah dilakukan pada pohon yang tidak dijual namun belum dilakukan pada pohon yang dijual, maka barang yang dijual terpisah dari yang tidak dijual.
فإذا لم تكن ثمارُ النخيل المبيعةِ مؤبرة وما كان جرَى التأبير في شيء منها؛ فإنها تتبع أصولَها في مطلق البيع ولا نظرَ إلى ما جرى من التأبير في النوع الذي لم يُبع وقد اجتمع في المبيع معنيان أحدُهما اختصاص البيع والثاني تميُّزُ النوعِ المبيع عن الذي لم يُبع بوجه يقتضي التفاوتَ في أوقات التأبير فاقتضى مجموعُ المعنيين تخصيصَ مورد البيع بحُكمه
Jika buah kurma yang dijual belum mengalami penyerbukan dan belum ada penyerbukan yang terjadi pada sebagian darinya, maka buah tersebut mengikuti pokoknya dalam jual beli secara mutlak, dan tidak dipertimbangkan penyerbukan yang terjadi pada jenis yang tidak dijual. Dalam barang yang dijual terkumpul dua makna: yang pertama adalah kekhususan jual beli, dan yang kedua adalah perbedaan jenis barang yang dijual dari yang tidak dijual dengan cara yang menyebabkan perbedaan waktu penyerbukan. Maka, gabungan kedua makna tersebut menuntut agar objek jual beli dikhususkan dengan hukumnya.
وإن اتَّحد نوعُ النخيل في البستانِ وكان جرى التأبيرُ في بعضِها فأَفرَدَ بالبيع نخيلاً منها لم يؤبر شيء منها ففي المسألة وجهان أحدهما أنا نُتبعُ الأثمارَ الأشجارَ المطلقة في البيع ولا ننظر إلى ما أُبّر؛ فإن المؤبَّر غيرُ مدرج في البيع؛ فلا يلحق البيع منه حكم
Jika jenis pohon kurma di kebun itu sama, dan telah dilakukan penyerbukan pada sebagian pohon, lalu dijual secara terpisah pohon-pohon kurma yang belum ada satu pun yang diserbuki, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa kita mengikuti buah-buahan pada pohon-pohon yang dijual secara mutlak dan tidak memperhatikan mana yang telah diserbuki; karena buah yang telah diserbuki tidak termasuk dalam penjualan, maka hukum penjualan tidak berlaku padanya.
والثاني أن الثمار كالمؤبّرة فإنها ستتأبر على القرب ودخول وقت التأبير عند هذا القائل كالتأبُّر نفسه
Kedua, bahwa buah-buahan seperti yang telah dibuahi, karena ia akan segera dibuahi, dan masuknya waktu pembihaan menurut pendapat ini sama dengan terjadinya pembihaan itu sendiri.
وإن باع نوعين تختلف أوقات التأبّر فيهما وقد جرى التأبيرُ في أحد النوعين فهل يثبت للنوع الذي لم يؤبّر حكمُ التأبير حتى لا تتبعُ الثمارُ الأشجارَ فعلى وجهين أحدهما يثبتُ لها حكمُ التأبير؛ إتباعا لما أُبّر؛ فإن البيع مشتمل على النوعين والجنس واحد فلا نظر إلى اختلاف النوعين وقد يفرض تفاوت الأوقات في النوع الواحد بصفاتٍ يختلف النخيل بها مع اتحاد النوع
Jika seseorang menjual dua jenis pohon yang waktu penyerbukannya berbeda, dan penyerbukan telah dilakukan pada salah satu jenis tersebut, maka apakah untuk jenis yang belum diserbuki berlaku hukum penyerbukan sehingga buahnya tidak mengikuti pohonnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, hukum penyerbukan berlaku juga untuk jenis yang belum diserbuki, mengikuti jenis yang telah diserbuki; karena penjualan mencakup kedua jenis tersebut dan jenisnya sama, sehingga perbedaan jenis tidak dianggap. Bahkan dalam satu jenis pun bisa saja terjadi perbedaan waktu penyerbukan karena sifat-sifat yang membedakan pohon kurma meskipun jenisnya sama.
فهذا بيان صُور الوفاق والخلاف في ذلك وسنذكر نظائرَ لهذا في تصوير بدُوّ الزَّهو والصلاح في الباب المعقود لبيع الثمار وحدَها
Ini adalah penjelasan tentang bentuk-bentuk kesepakatan dan perbedaan pendapat dalam hal tersebut, dan kami akan menyebutkan contoh-contoh serupa dalam menggambarkan awal munculnya kematangan dan kebaikan pada bab yang membahas jual beli buah-buahan saja.
فرع
Cabang
الفحول تُطلِع إطلاع الإناث وتتأبّر على صورة تأبّر الإناث فإذا لم يكن إلا الفحول فبيعُها قبل التأبير كبيع الإناث فتتبع الثمارُ الأشجارَ هذا هو المذهب الظاهر
Pejantan menampakkan tanda-tanda seperti betina dan mengalami penyerbukan sebagaimana penyerbukan pada betina. Jika yang ada hanya pejantan, maka penjualannya sebelum penyerbukan hukumnya seperti penjualan betina, sehingga buah-buahan mengikuti pohonnya. Inilah mazhab yang jelas.
ومن أصحابنا من قال ثمار الفحول لا تتبع الأشجارَ إذا أُطلق بيعها وإن لم تؤبر فالنظر إلى وجود ثمار الفحول ظاهرة كانت أو كامنةً؛ فإن المقصود منها طلعُها لتجفَّف وتُذر في شقوق أَكِمّة الإناث وإذا كان كذلك فمنتَهى ثمارِها وجودُها بخلاف ثمارِ الإناث؛ فإنها تُعنى للإرْطاب وظهُورُها في حكم المبدأ للمقاصدِ منها
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa buah pohon jantan tidak otomatis termasuk dalam penjualan pohon jika penjualannya dilakukan secara mutlak, meskipun belum terjadi penyerbukan. Maka, yang menjadi perhatian adalah keberadaan buah pohon jantan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi; sebab tujuan dari buah pohon jantan adalah mengambil mayangnya untuk dikeringkan dan ditaburkan ke celah-celah bunga pohon betina. Jika demikian, maka batas akhir buah pohon jantan adalah keberadaannya, berbeda dengan buah pohon betina; karena buah betina dimaksudkan untuk menjadi matang dan kemunculannya dianggap sebagai permulaan dari tujuan yang diinginkan darinya.
ومما يتفرع على ذلك أن البستان إذا اشتمل على الفحول والإناث وكان ظهر طلع الفحول فهل يستتبع الإناثَ في حكم التأبير فعلى وجهين وهما كالوجهين في استتباعِ النوعِ النوعَ وقد مضى
Di antara cabang dari permasalahan ini adalah apabila sebuah kebun berisi pohon jantan dan betina, lalu bunga jantan telah muncul, apakah bunga betina mengikuti hukum penyerbukan atau tidak; terdapat dua pendapat dalam hal ini, sebagaimana dua pendapat dalam masalah apakah satu jenis mengikuti jenis lainnya, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.
فرع
Cabang
إذا أُبّرت نخيل فاطلعت بعد تأبيرها نخيل فما صار إليه ابنُ أبي هُريرة أن التي أَطْلَعت بعد التأبير لا تتبع المؤبرّةَ وإنما تتبعُ المؤبرةَ فيما كان طلعها موجوداً عند تأبير ما قد أُبرّ وقال غيرُه من أصحابنا إن التي ظهر طلعُها بعد التأبير تتبع التي أُبّرت من قبل على تفصيلِ النّوع والأنواع كما تقدم
Jika pohon kurma telah dibuahi, lalu setelah pembuhan itu muncul pohon kurma lain yang berbuah, maka menurut pendapat Ibn Abi Hurairah, pohon yang berbuah setelah pembuhan tidak mengikuti pohon yang telah dibuahi, melainkan hanya mengikuti pohon yang telah dibuahi jika buahnya sudah ada saat pembuhan dilakukan. Sementara sebagian ulama kami yang lain berpendapat bahwa pohon yang buahnya muncul setelah pembuhan tetap mengikuti pohon yang telah dibuahi sebelumnya, dengan perincian jenis dan macamnya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فرع
Cabang
الثمرةُ التي لم تؤبَّر إذا أراد مالكُها أن يُفردَها بالبيع فالذي ذهب إليه معظم الأصحاب جوازُ ذلك وهذا مما تعلق به أصحاب أبي حنيفة إذْ منعوا إتْباعَ الثمارِ النخيلَ وقالوا لما جاز إفراد الثمار بالبيع دَلّ ذلك على استقلالها بنفسها وحكى العراقيون عن أبي إسحاقَ المروزي أنه منع إفرادَ الثمارِ قبل التأبير في البيع وقد ذكر صاحب التقريب في ذلك قولَين وبناهُما على بيع الحنطةِ في سُنبُلها وهذا منقدح حسن وسنذكر تفصيلَ القولِ في الزروع واكتتام الطلع بالكِمام لا ينقص عن اكتتام الحب بالسُّنبل
Buah yang belum diserbuki, jika pemiliknya ingin menjualnya secara terpisah, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan. Inilah yang dijadikan pegangan oleh para pengikut Abu Hanifah, yang melarang mengikuti penjualan buah dengan pohon kurmanya. Mereka berkata, karena diperbolehkan menjual buah secara terpisah, hal itu menunjukkan bahwa buah tersebut berdiri sendiri. Para ulama Irak meriwayatkan dari Abu Ishaq al-Marwazi bahwa ia melarang penjualan buah secara terpisah sebelum penyerbukan. Penulis kitab at-Taqrib menyebutkan dua pendapat dalam masalah ini dan mengaitkannya dengan penjualan gandum yang masih dalam bulirnya. Ini adalah qiyās yang baik dan kuat. Kami akan menyebutkan rincian pendapat tentang tanaman, dan penutupan mayang dengan kelopak tidak kurang dari penutupan biji dengan bulir.
فرع
Cabang
كل شجرةٍ لا تُعنى أوراقُها فإذا بيعت دخلت أوراقُها تحت البيع وإن كانت ظاهرةً؛ لأنها لا تعد مستقلةً بنفسها فليُعتقد كونُها تابعةً وإن كانت لا تبقَى وتنتثر لا خلاف في ذلكَ
Setiap pohon yang daunnya tidak dimaksudkan (tidak diperhatikan secara khusus), maka jika pohon itu dijual, daunnya termasuk dalam penjualan tersebut meskipun daunnya tampak (nampak jelas); karena daun itu tidak dianggap berdiri sendiri, sehingga diyakini sebagai bagian yang mengikuti (pohon), meskipun daun itu tidak akan tetap ada dan akan gugur. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.
ولو كانت الأوراق مقصودةً كأوراق شجر التُوتِ فإنها تُقطع لدُودِ القَزّ فقد قال العراقيون قال أبو إسحاقَ الأورَاقُ الباديةُ كالثمار الظاهرةِ فإذا أطلق بيعُ الأشجار بقيت الأورَاقُ للبائع اعتباراً بالثمار الظاهرة وقال غيرُه من الأصحاب إنها تتبع الأشجارَ بمطلق التسميةِ طرداً لما قدّمناه من الأصلِ في أوراق الأشجار من غير نظر إلى تفاصِيلها
Dan jika daun-daunan memang dimaksudkan, seperti daun pohon murbei yang dipotong untuk ulat sutra, maka menurut para ulama Irak, Abu Ishaq berkata: daun-daunan yang tampak seperti buah-buahan yang tampak; jika penjualan pohon dilepaskan secara mutlak, maka daun-daunan tetap menjadi milik penjual sebagaimana buah-buahan yang tampak. Namun, sebagian ulama lain berpendapat bahwa daun-daunan mengikuti pohon dengan penyebutan secara mutlak, sesuai dengan kaidah yang telah kami sebutkan sebelumnya mengenai asal hukum daun-daunan pohon tanpa melihat rincian-rinciannya.
ولم يختلف علماؤنا في أن شجرة الخِلاَفِ إذا بيعت دخلت أغصانُها التي تُقطع عادةً وتُخلَفُ تحت مطلق البيع فإن تيك الأغصان من جِرْم الشجرة
Para ulama kita tidak berbeda pendapat bahwa pohon khilāf apabila dijual, maka cabang-cabangnya yang biasa dipotong dan tumbuh kembali termasuk dalam jual beli secara mutlak, karena cabang-cabang tersebut merupakan bagian dari tubuh pohon.
فكأنا نتخيَّل مراتبَ مرتَبةً منها في جرم الشجرة وهو داخل تحت مطلق البيع؛ فإن اسم الشجرة صريح فيما هو من جرمه وإن كان يُقطع فيُخلَف
Seakan-akan kita membayangkan tingkatan-tingkatan, salah satunya berada dalam tubuh pohon dan termasuk dalam cakupan umum jual beli; sebab nama pohon secara tegas menunjukkan apa yang termasuk dalam tubuhnya, meskipun bagian itu dipotong lalu tumbuh kembali.
والمرتبةُ الأخرى الأوراق وهي تكاد تكون كالجرم في الاعتبار وإن لم تكن من جِرم الشجرة في الخِلقة؛ من حيث إنها تظهر وتنتثر ظُهورَ الثمار والأزهار فهي ملحقة بما هو من جرم الشجرة إلا إذا كانت بحيث تُقصدُ وتنتَحى كما تُقصد الثمار فإن كانت كذلك ففيها خلاف أبي إسحاق والجماهيرُ على إلحاقها بجنس الأوراق
Tingkatan lainnya adalah daun-daun, yang hampir dianggap sebagai bagian dari tubuh pohon meskipun sebenarnya bukan bagian dari tubuh pohon secara penciptaan; karena daun-daun itu muncul dan gugur sebagaimana munculnya buah dan bunga, maka ia disamakan dengan apa yang termasuk tubuh pohon, kecuali jika daun-daun itu memang dimaksudkan dan diambil sebagaimana buah-buahan dimaksudkan. Jika demikian, maka terdapat perbedaan pendapat antara Abu Ishaq dan mayoritas ulama, di mana mayoritas menganggapnya tetap termasuk jenis daun-daunan.
والمرتبةُ الأخرى في الثمار وليست هي من جِرم الأشجار ولا تُعدُّ تابعةً كالأغصان فالقول فيها ينقسم إلى الظهور والكُمون كما سَبقَ تفصيلُه وكان شيخي أبو محمدٍ يقول إذا أبَّر الطلعَ وحكمنا ببقائه للبائع فجِرم الكِمام للمشتري؛ فإنه يُترك على النخلة
Tingkatan lain pada buah-buahan adalah yang bukan berasal dari bagian pokok pohon dan tidak dianggap sebagai bagian yang mengikuti seperti ranting, maka pembicaraan tentangnya terbagi menjadi yang tampak dan yang tersembunyi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Guru saya, Abu Muhammad, berkata: Jika telah dilakukan penyerbukan pada mayang dan kami memutuskan bahwa buahnya tetap menjadi milik penjual, maka bagian kulit pelindungnya menjadi milik pembeli; karena kulit itu dibiarkan tetap menempel pada pohon kurma.
فرع
Cabang
ذكرنا أن الكُرسفَ الحجازيّ كالنخلة فإن أصول الكُرسفِ في الحجاز أشجارٌ تبقى على مكرِّ السنين ويعتقب القطنُ عليها اعتقابَ الثمار والقُطن في بلادنا زرعٌ فلا يجوز بيعُه مع استبقاء الكرسُف؛ فإن أصله ليس باقياً وسنقرر هذا في الزروعِ وإنما نبَّهتُ عليهِ الآن حتى لا يلتبس ناجزاً
Kami telah menyebutkan bahwa kapas Hijaz seperti pohon kurma, karena akar kapas di Hijaz adalah pohon-pohon yang tetap hidup selama bertahun-tahun, dan kapas tumbuh padanya seperti buah-buahan yang tumbuh pada pohon. Adapun kapas di negeri kita adalah tanaman musiman, sehingga tidak boleh menjualnya dengan tetap mempertahankan pohon kapasnya; karena akarnya tidak tetap. Kami akan menjelaskan hal ini pada pembahasan tentang tanaman, dan saya menyinggungnya sekarang agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami hukum yang berlaku saat ini.
فصل
Bab
قال ومعقولٌ إذا كانت الثمرةُ للبائع أن على المشتري تركَها إلى آخره
Ia berkata, dan masuk akal jika buah itu milik penjual, maka pembeli wajib membiarkannya hingga akhir.
إذا باع الرجل شجرة وعليها ثمارٌ ظاهرةٌ والبيع مطلق فالثمرةُ للبائع ولا يُجبَر على قطعها قبل أوانها وحكم البيع اختصاصُ المشتري بملك الشجرة وبقاء استحقاق التَّبْقية للبائع إلى أوان القطافِ فبقي للبائع ما كان له من حق التبقية
Jika seseorang menjual sebuah pohon yang di atasnya terdapat buah yang sudah tampak dan akad jual belinya bersifat mutlak, maka buah tersebut menjadi milik penjual dan penjual tidak diwajibkan untuk memetiknya sebelum waktunya. Hukum jual beli ini adalah pembeli memiliki hak khusus atas pohon tersebut, sedangkan penjual tetap memiliki hak untuk membiarkan buah tetap di pohon sampai waktu panen. Maka penjual tetap memiliki hak yang sebelumnya ia miliki, yaitu hak untuk membiarkan buah tetap di pohon.
وورُود استحقاق المشتري على هذا الوجه على رقبة الشجرة
Masuknya hak pembeli dengan cara seperti ini atas batang pohon.
وكذلك لو باع الرجلُ ثماراً مُزهيةً على أشجاره على ما سنصف ذلك في بابه فالمشتري يُبقي الثمارَ إلى أوان القطع إذا جرى البيع في حالة الزَّهو
Demikian pula, jika seseorang menjual buah-buahan yang telah tampak matang di pohonnya—sebagaimana akan dijelaskan pada babnya—maka pembeli berhak membiarkan buah-buahan itu tetap di pohon sampai waktu pemetikan, jika akad jual beli dilakukan pada saat buah tersebut sudah tampak matang.
فإذا تبيّنَ هذا عدنا إلى غرَضِنا من المسألة
Jika hal ini telah jelas, kita kembali kepada tujuan kita dari permasalahan ini.
فإذا بقيت الثمرةُ للبائع وجَرى ملك المشتري على رقبةِ الشجرة فللبائع أن يسقي الشجرةَ التي باعها إذا كان السقيُ لا يضرّ بالشجرة وينفع الثمرةَ
Jika buahnya tetap menjadi milik penjual dan kepemilikan pembeli berlaku atas batang pohon, maka penjual berhak menyirami pohon yang telah dijualnya apabila penyiraman tersebut tidak membahayakan pohon dan bermanfaat bagi buahnya.
وليس للبائع أن يكلِّف المشتري السقيَ لتنمو ثمارُه؛ فإن المشتريَ لم يلتزم تنميةَ الثمار وإنما عليهِ تركُها إلى أوانِ جِدادها نعم من الوفاء بتركها أن يمكِّن البائعَ من تنميتِها؛ إذْ لو منعه منه لفَسدت الثمارُ وأدَّى هذا إلى اضطراره إلى القَطعِ قبل أوانه أو إلى فساد الثمارِ فإذن على المشتري أن يمكنه من السقي
Penjual tidak berhak membebani pembeli untuk menyirami agar buahnya tumbuh, karena pembeli tidak berkewajiban menumbuhkan buah tersebut, melainkan hanya berkewajiban membiarkannya hingga waktu panennya tiba. Namun, sebagai bentuk pemenuhan kewajiban membiarkannya, pembeli harus memberikan kesempatan kepada penjual untuk menumbuhkannya; sebab jika pembeli melarangnya, maka buah-buahan itu akan rusak dan hal ini akan memaksa penjual untuk memanen sebelum waktunya atau menyebabkan kerusakan buah. Oleh karena itu, pembeli wajib memberinya kesempatan untuk menyirami.
وإذا باع الثمارَ المزهيةَ فمؤنةُ السقي إلى الجِداد على بائع الثمار كما سَيأتي ذلك في بابها والقدْرُ الناجزُ الآن أن السقيَ من تمام التسليم وكأنه التزمَ تسليمَ الثمار تامَّة ومن هذا نشأ اختلاف القول في الجوائح ووضعِها كما سيأتي ذلك في بابها إن شاء اللهُ تعالى
Jika seseorang menjual buah-buahan yang telah tampak masak, maka biaya pengairan hingga masa panen menjadi tanggungan penjual buah, sebagaimana akan dijelaskan dalam babnya. Ketentuan yang berlaku saat ini adalah bahwa pengairan termasuk bagian dari penyempurnaan penyerahan, seolah-olah penjual telah berkomitmen untuk menyerahkan buah dalam keadaan sempurna. Dari sini timbul perbedaan pendapat mengenai musibah (al-jawā’ih) dan penetapannya, sebagaimana akan dijelaskan dalam babnya, insya Allah Ta‘ala.
فإذا باع الأشجارَ واستبقَى الثمارَ ولو سقَى الأشجارَ لتضرَّرت وتعرَّضت لعلّةٍ تنالُ الأشجارَ من السَّقي ولو تَركَ السقْيَ لانتقصت الثمارُ أو فسَدَت فالطُرُقُ مضطربةٌ في هذا المقامِ ونحن نجمع حاصل أقوال الأصحاب
Jika seseorang menjual pohon-pohon dan tetap mempertahankan buahnya, lalu ia menyirami pohon-pohon itu, maka pohon-pohon tersebut akan terkena mudarat dan berisiko terkena penyakit akibat penyiraman itu. Namun jika ia meninggalkan penyiraman, buah-buahnya akan berkurang atau rusak. Dalam masalah ini, pendapat-pendapat para ulama berbeda-beda, dan kami akan merangkum inti pendapat para sahabat (ulama mazhab).
فمن أئمتنا من يرعَى جانبَ المشتري مَصيراً إلى أن بائع الشجرة التزمَ تسليم الشجرة على كمالها للمشتري وكل ما يؤدي إلى تنقيصِ الشجرة فهوَ نقيضُ الوفاء بموجب العقد
Di antara para imam kami ada yang memperhatikan kepentingan pembeli, dengan alasan bahwa penjual pohon telah berkomitmen untuk menyerahkan pohon secara utuh kepada pembeli, dan segala sesuatu yang menyebabkan berkurangnya pohon tersebut merupakan kebalikan dari pemenuhan kewajiban akad.
ومن أصحابنا من قال للبائع أن يسقي إذا كان ينتفع ولا يبالي بتضرر المشتري
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa penjual boleh menyirami (tanaman) jika ia mendapatkan manfaat darinya, dan tidak perlu memperhatikan kerugian yang mungkin dialami oleh pembeli.
وهذا حكاه العراقيون عن ابن أبي هريرة ووجهه أنه استحق تبقيةَ الثمار لا على الفساد فكأنه استحق تنميتَها والبيعُ لم يَرِد إلا على هذا الموجَب
Hal ini dinukil oleh para ulama Irak dari Ibn Abi Hurairah, dan alasannya adalah bahwa ia berhak mempertahankan buah-buahan tersebut bukan karena kerusakan, seolah-olah ia berhak atas pertumbuhannya, dan jual beli itu tidak terjadi kecuali atas dasar hak ini.
وذكر العراقيون وجهاً ثالثاً عن أبي إسحاقَ المروزي وذلكَ أنه قالَ إذا تعارض حقاهما نُظر فإن رضي أحدُهما بترك حقِّه فذاك وإن تدافَعا وتمانعا فسخ القاضي العقدَ بينهما
Orang-orang Irak menyebutkan pendapat ketiga dari Abu Ishaq al-Marwazi, yaitu bahwa beliau berkata: Jika dua hak mereka bertentangan, maka dilihat; jika salah satu dari keduanya rela melepaskan haknya, maka itu yang dilakukan. Namun jika keduanya saling menolak dan saling menghalangi, maka qadhi membatalkan akad di antara mereka.
وحقيقةُ الأوجُه تؤول إلى أن من أصحابنا من يرعى جانبَ المشتري ومنهم من يرعى جانبَ البائع ومنهم من لا يقدّم أحدَ الحقَّين على الآخر ثم من ضرورة استواء الحقين إذا كانا متناقضَين ولم يكن أحدهما أولى من الثاني أن يُفسَخ العقدُ بينهما
Hakikat dari berbagai pendapat itu kembali pada kenyataan bahwa di antara ulama mazhab kami ada yang lebih memperhatikan hak pembeli, ada yang lebih memperhatikan hak penjual, dan ada pula yang tidak mengedepankan salah satu dari kedua hak tersebut atas yang lain. Kemudian, apabila kedua hak itu bertentangan dan tidak ada salah satunya yang lebih utama dari yang lain, maka konsekuensi dari kesetaraan kedua hak tersebut adalah akad antara keduanya harus dibatalkan.
ولو كانت الثمار لا تحتاج إلى السقي بل كانت تتضررُ به وكانت الأشجار لا تتضرَّرُ بالسقي فالخلاف يعود على النحو المتقدِّم فمن أصحابنا من رَاعى جانب المشتري ومنهم من راعى جانب البائع ومنهم من لم يُقَدِّم أحدَهُما على الآخر ثم موجَب ذلك الفسخ كما ذكرناه
Jika buah-buahan itu tidak membutuhkan penyiraman, bahkan justru akan rusak jika disiram, sedangkan pohon-pohon tidak rusak karena disiram, maka perbedaan pendapat kembali seperti yang telah disebutkan sebelumnya: sebagian ulama mazhab kami lebih mengutamakan pihak pembeli, sebagian lagi lebih mengutamakan pihak penjual, dan sebagian lainnya tidak mengutamakan salah satu dari keduanya. Konsekuensi dari hal tersebut adalah pembatalan akad, sebagaimana telah kami sebutkan.
ومن الصُوَر الملتحقةُ بما ذكرناهُ أن البائع لو أمكنهُ أن يسقي ولو سقى لانتفعتِ الشجرةُ والثمرةُ ولو امتنع من السقي امتصَّتِ الثمارُ رطوبةَ الأشجار وأضرَّت بها فإذا كان السقْيُ ممكناً فالبائع مُجبرٌ من جهة المشتري على أحد الأمرين إما أن يسقي وإما أن يقطعَ الثمارَ إذا كان يضُرُّ بقاؤُها
Termasuk dalam kategori yang telah kami sebutkan adalah apabila penjual memungkinkan untuk menyiram, dan jika ia menyiram maka pohon dan buahnya akan mendapatkan manfaat, namun jika ia enggan menyiram maka buah-buahan akan menyerap kelembapan pohon dan hal itu akan membahayakan pohon tersebut. Maka apabila penyiraman memungkinkan, penjual dapat dipaksa oleh pembeli untuk melakukan salah satu dari dua hal: menyiram atau memotong buah-buahan jika keberadaannya membahayakan pohon.
فلو لم يجد البائع الذي بقيت الثمارُ له ماء ولو أبقى الثمرةَ لانتفعت الثمرةُ وتضررت الشجرةُ فقد ذكر العراقيون في ذلك وجهين أحدهما أنه يُجبر على القطع؛ فإنه إنما يملكُ التَّبْقِيَةَ على شرط دفع ضررِها عن الشجرة فالتبقيةُ إذن مشروطةٌ بما ذكرناه فإذا تخلف الشرطُ لم يثبت المشروط
Jika penjual yang buahnya masih tersisa tidak menemukan air, dan jika ia membiarkan buah itu tetap di pohon maka buah tersebut akan mendapat manfaat namun pohonnya akan mengalami kerusakan, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat dalam hal ini. Salah satunya adalah bahwa penjual dipaksa untuk memotong buah tersebut; karena ia hanya memiliki hak untuk membiarkan buah tetap di pohon dengan syarat tidak menimbulkan bahaya bagi pohon. Maka, membiarkan buah tetap di pohon itu disyaratkan dengan apa yang telah kami sebutkan. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka hak yang disyaratkan pun tidak berlaku.
والوجه الثاني أن الثمرة تبقى؛ لأنها تنتفع بالتبقيةِ وإنما على البائع أن لا يترك مجهوداً يقتدر عليه فإذا انقطع الماءُ فلا تقصيرَ من البائع وحقّ التبقيةِ قائمٌ له
Alasan kedua adalah bahwa buah tetap dibiarkan, karena ada manfaat dari membiarkannya tetap di tempatnya, dan kewajiban penjual hanyalah tidak meninggalkan upaya yang mampu ia lakukan. Jika air terputus, maka tidak ada kelalaian dari pihak penjual dan hak untuk membiarkan buah tetap ada masih tetap menjadi miliknya.
والوجهان يشيران إلى ما قدمناه الآن من أن المراعَى جانبُ المشتري أو جانبُ البائع ولم يقع التعرضُ لاستواء الحقين ولا بُدَّ من هذا الوجه ثم موجَبُ استواءِ الحقين الفسخُ كما ذكرناه
Kedua pendapat tersebut merujuk pada apa yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu bahwa yang diperhatikan adalah sisi pembeli atau sisi penjual, dan tidak dibahas mengenai kesetaraan kedua hak tersebut. Padahal, hal ini harus diperhatikan. Kemudian, konsekuensi dari kesetaraan kedua hak tersebut adalah pembatalan (fasakh), sebagaimana telah kami sebutkan.
وما ذكرناه من التردد في قدر حاجةِ الثمرة فأما ما يزيد على الحاجة ويضر بالشجرة فهو ممنوعٌ
Apa yang telah kami sebutkan mengenai keraguan dalam menentukan kadar kebutuhan buah, adapun yang melebihi kebutuhan dan membahayakan pohon maka hal itu dilarang.
وتمام البيان في هذا أن أهل البصيرة لو قالوا الثمرةُ لا تفسد بترك السقيِ بل تسْلَمُ الثمرةُ من غير سقي غير أنها لو سُقيت لظهرت زيادة عظيمة والشجر يتضررُ بها فهذا فيه احتمالٌ عندي يجوزُ أن يقالَ يُمنع البائعُ من هذا السَّقْي؛ فإن الزياداتِ في نهايتِها لا تنضبط فالمرعيُّ الاقتصاد ويجوز أن يقال له أن يسقيَ لمكان هذه الزيادة على مذهب من يرعى جانبَ البائع؛ فإنّ هذه الزيادة تحصلُ بالسقي ولو ترك السقيَ لفاتت ومن يراعي الاقتصادَ في الاحتمال الأول لم يكتفِ بأن لا تفسدَ الثمرةُ بل انتقاصُها عن القصد والمسلك الوسط آفةٌ في القدر المنتقص
Penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa jika para ahli basirah berkata, “Buah tidak akan rusak jika tidak disiram, bahkan buah itu akan tetap selamat tanpa penyiraman, hanya saja jika disiram akan tampak peningkatan yang besar, dan pohon akan mengalami kerugian karenanya,” maka menurut saya, dalam hal ini ada kemungkinan untuk mengatakan bahwa penjual boleh dilarang melakukan penyiraman tersebut; sebab tambahan hasil pada akhirnya tidak dapat diukur secara pasti, sehingga yang dijadikan pertimbangan adalah sikap moderat (al-iqtisad). Namun, boleh juga dikatakan bahwa penjual boleh menyiram demi mendapatkan tambahan hasil ini menurut mazhab yang lebih memperhatikan hak penjual; karena tambahan hasil ini hanya bisa diperoleh dengan penyiraman, dan jika tidak disiram maka akan hilang. Adapun orang yang mempertimbangkan sikap moderat pada kemungkinan pertama, tidak cukup hanya dengan memastikan buah tidak rusak, tetapi juga memperhatikan kekurangan hasil dari tujuan semula, dan jalan tengah adalah adanya kekurangan pada hasil yang didapat.
فهذا بيان المذهب في ذلك
Inilah penjelasan mazhab dalam hal ini.
فصل
Bab
قال وإن كانت الشجرةُ مما تكونُ فيه الثمرةُ ظاهرةً إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika pohon itu termasuk pohon yang buahnya tampak hingga akhir musimnya…”
نذكر في هذا الفصل صورتين إحداهما لم يذكرها المزني وبها البدايةُ فنقول إذا اشترى رجلٌ ثماراً على الأشجار ثم لم يقطعها حتى أخرجت الأشجارُ ثماراً زائدة لم تكن حالةَ البيع فلا شَك أنها للبائع وسبيلُ التقسيم أن نقول ذلك التلاحق والتجدد لا يخلو إما أن يكون في ثمرة تتلاحق غالباً وإما أن يكون في ثمرة يَنْدُر فيها التلاحق
Pada bab ini, kami menyebutkan dua gambaran; salah satunya tidak disebutkan oleh al-Muzani dan dengannya kami memulai. Kami katakan: Jika seseorang membeli buah-buahan yang masih di pohon, kemudian ia tidak memetiknya hingga pohon tersebut menghasilkan buah tambahan yang tidak ada saat akad jual beli, maka tidak diragukan lagi bahwa buah tambahan itu milik penjual. Cara pembagiannya adalah dengan mengatakan bahwa pertumbuhan dan penambahan tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa terjadi pada buah yang umumnya memang tumbuh bertahap, atau pada buah yang jarang mengalami pertumbuhan bertahap.
فإن اتفقَ في ثمرةٍ لا تتلاحق غالباً ولكن اتفق فيها التلاحق فإن أمكن التمييز فلا إشكالَ وإن عسُرَ التمييزُ واختلط الزائدُ المتجدّدُ بالمبيع الذي كان موجوداً فلا يخلو إما أن يتفق ذلك قبل التخليةِ بين المشتري وبين الثمار وإما أن يتفق بعد التخليةِ بينه وبينها
Jika hal itu terjadi pada buah yang biasanya tidak terus-menerus bertambah, namun dalam kasus ini terjadi pertambahan, maka jika masih memungkinkan untuk membedakannya, tidak ada masalah. Namun jika sulit dibedakan dan buah tambahan yang baru tumbuh bercampur dengan buah yang telah dijual dan sudah ada sebelumnya, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah hal itu terjadi sebelum penyerahan buah kepada pembeli, ataukah terjadi setelah penyerahan kepadanya.
فإن جرى الاختلاطُ قبل التخلية وعَسُر التمييزُ فنقول في أصل المسألة قولان أحدهما أن البيع ينفسخ والثاني لا ينفسخ
Jika terjadi percampuran sebelum dilakukan pemisahan dan sulit untuk dibedakan, maka dalam pokok permasalahan ini terdapat dua pendapat: yang pertama, akad jual beli menjadi batal; dan yang kedua, akad jual beli tidak menjadi batal.
التوجيهُ من قال بالانفساخ تعلق بتعذرِ اجتلافِ المبيع واليأسِ من التمكن منه على موجَب العقدِ فأشبه ذلك تلفَ المبيع وسنذكر في باب الخراج أن من باع دُرَّةً فسقطت من يده في لُجّة البحرِ وأَيِسَ من إصابتها؛ فإن ذلك ينزلُ منزلة التلف المحقق
Penjelasan bagi yang berpendapat terjadinya pembatalan adalah karena tidak mungkin lagi memperoleh barang yang dijual dan telah putus harapan untuk dapat menguasainya sesuai dengan ketentuan akad, sehingga hal itu serupa dengan hilangnya barang yang dijual. Kami akan sebutkan dalam bab al-kharāj bahwa siapa yang menjual mutiara lalu mutiara itu terjatuh dari tangannya ke dasar laut dan ia telah putus asa untuk mendapatkannya kembali, maka hal itu diperlakukan seperti barang yang benar-benar hilang.
والقول الثاني أن البيع لا ينفسخ؛ فإن عين المبيع قائمةٌ والتصرف فيها ممكنٌ على الجملة وليس يتعذر رفعُ المانع كما سنبيّن في التفريع
Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tidak batal; karena barang yang dijual masih ada dan secara umum masih mungkin untuk dilakukan tindakan terhadapnya, serta tidak mustahil untuk menghilangkan penghalang tersebut sebagaimana akan dijelaskan dalam rincian.
فإذا قلنا البيع ينفسخ فلو قال البائع أنا أسمحُ بحقي وأبذله للمشتري؛ قيل له لا أثر لهذا والتفريع على قول الانفساخ وهو حكم نافذٌ لا يستدركُ بعد نفوذِه بتقدير بذل وهذا لا خفاء به وإن قلنا البيع لا ينفسخ فلا شك في ثبوت حق الخيار؛ فإن تعذر التَّسليم بإباق العبد المبيع وغيرِه يثبتُ الخيارَ للمشتري
Jika kita mengatakan bahwa jual beli menjadi batal, maka jika penjual berkata, “Saya rela dengan hak saya dan memberikannya kepada pembeli,” dikatakan kepadanya bahwa hal itu tidak berpengaruh, dan konsekuensinya berdasarkan pendapat batalnya akad, yaitu hukum yang telah berlaku dan tidak dapat ditarik kembali setelah berlakunya, meskipun ada anggapan pemberian hak. Hal ini jelas adanya. Namun, jika kita mengatakan bahwa jual beli tidak batal, maka tidak diragukan lagi adanya hak khiyār; jika penyerahan barang menjadi mustahil karena budak yang dijual melarikan diri atau sebab lainnya, maka hak khiyār tetap berlaku bagi pembeli.
فلو قال البائع أسمح بحقي فلا تفسخ فقد قال الأصحاب على المشتري أن يقبل ذلك ويمتنع عليه الفسخ وشبّهوا هذا بمسألة النعل وسنذكرُها في باب الخراج وتلك المسألةُ ليست خالية عن الخلافِ وهذه التي نحن فيها أولى بالخلافِ من تلك؛ فإنَّ إلزامَ المشتري تطوُّقَ مِنّةِ البائع فيهِ بُعدٌ وفي هبة المجهول غوائلُ وستأتي مسألةٌ في كتاب الصيود يَحارُ فيها نظرُ الفقيهِ وهي إذا اختلَطت حمامةٌ بحمام برج فكيف الخلاصُ منها إذا عسُر التمييز فالمسألة الآن مختلَفٌ فيها فإن أجبرنا المشتري سقط خيارُه وإن لم نجبره فهو على تخيره
Jika penjual berkata, “Aku rela dengan hakku, maka janganlah dibatalkan (akadnya),” para ulama berpendapat bahwa pembeli wajib menerima hal itu dan tidak boleh membatalkan akad. Mereka menganalogikan hal ini dengan masalah sandal, yang akan kami sebutkan dalam bab al-kharāj. Namun, masalah tersebut sendiri tidak lepas dari perbedaan pendapat, dan masalah yang sedang kita bahas ini lebih layak untuk diperselisihkan daripada masalah itu; sebab mewajibkan pembeli menerima pemberian dari penjual adalah sesuatu yang jauh (dari keadilan), dan dalam hibah terhadap sesuatu yang tidak jelas terdapat bahaya-bahaya. Akan datang suatu masalah dalam Kitab al-Shuyūd yang membuat para ahli fikih kebingungan, yaitu jika seekor burung merpati bercampur dengan merpati-merpati menara, bagaimana cara mengeluarkannya jika sulit dibedakan. Maka, masalah ini sekarang masih diperselisihkan; jika kita memaksa pembeli, maka gugurlah hak pilihnya (khiyār), dan jika tidak memaksanya, maka ia tetap memiliki hak memilih.
وذكر صاحب التقريب قولاً ثالثاً في المسألةِ وهو أن العقدَ لا ينفسخ ولا خيارَ ونجعلُ الاختلاطَ قبلَ القبض بمثابة الاختلاط بعده وإذا فُرِض اختلاطُ مِلكَين مع الجهالة في المقدار فالأمر موقوفٌ إلى البيان إن أمكن أو المفاصَلة بمُصالحةٍ أو مخاصمةٍ تفصل بطريقها
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat ketiga dalam masalah ini, yaitu bahwa akad tidak batal dan tidak ada hak khiyar, serta kita menganggap percampuran sebelum qabdh (pengambilan barang) sama dengan percampuran setelahnya. Jika terjadi percampuran dua kepemilikan dengan ketidakjelasan dalam jumlahnya, maka perkara tersebut ditangguhkan sampai ada penjelasan jika memungkinkan, atau diselesaikan dengan perdamaian (mushālahah), atau dengan persengketaan yang diputuskan melalui jalurnya.
وهذا قولٌ بعيد؛ فإنّ تعذُّرَ التسليم في القدر المبيع ثابت ولو لم يطرأ إلا تغيُّر المبيع أوّلاً وخرُوجه عن التعيّن آخراً لكان ذلك كافياً في إثبات الخيار
Ini adalah pendapat yang lemah; sebab ketidakmampuan untuk menyerahkan barang yang dijual tetap berlaku, meskipun yang terjadi hanyalah perubahan pada barang yang dijual terlebih dahulu dan hilangnya penentuan barang tersebut kemudian, maka hal itu sudah cukup untuk menetapkan adanya hak khiyar.
وكل ما ذكرنا إذا جرى التلاحق والاختلاط قبل التخلية فأما إذا خلّى البائعُ بين الثمارِ وبين المشتري فجرى الاختلاطُ فهذا يُبنَى على أن الثمار لو تلفت بعد التخلية بجوائحَ فهي من ضمان البائع أو من ضمانِ المشتري وفيه اختلافُ قولي سيأتي في بيع الثمار فإن قلنا هي من ضمان البائع فالاختلاط بعد التخلية لا يُوجب انفساخاً ولا يثبت خياراً ويكون ما جرى بمثابة ما لو اشترى رجل حنطةً وقبضها ثم انثالت عليها حنطةٌ للبائع فلا وجه إلا المخاصمةُ أو التوقفُ أو المصالحةُ
Semua yang telah kami sebutkan berlaku jika pencampuran dan percampuran terjadi sebelum penyerahan barang. Adapun jika penjual telah menyerahkan buah-buahan tersebut kepada pembeli, lalu terjadi percampuran, maka hal ini bergantung pada apakah buah-buahan tersebut, jika rusak setelah penyerahan karena bencana alam, menjadi tanggungan penjual atau pembeli. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan dijelaskan dalam pembahasan jual beli buah-buahan. Jika kita berpendapat bahwa itu menjadi tanggungan penjual, maka percampuran setelah penyerahan tidak menyebabkan pembatalan akad dan tidak menetapkan hak khiyar, dan apa yang terjadi itu seperti halnya jika seseorang membeli gandum lalu telah menerimanya, kemudian gandum milik penjual tercampur di atasnya; maka tidak ada jalan lain kecuali saling menggugat, menunggu, atau berdamai.
ولا اختصاص لهذا الفصل بما نحن فيهِ ولا ينبغي أن يَظن الناظِرُ إذا انتهى إلى هذا الموضع أنا نقتصر في بيان هذا المشكل على هذا وإذا انتهينا إلى مسائلِ الصلحِ أتيتُ في هذا بأشفى بيان وأكملِه
Bab ini tidak khusus membahas permasalahan yang sedang kita bahas, dan tidak sepantasnya seorang pembaca mengira bahwa ketika sampai pada bagian ini, kami hanya membatasi penjelasan masalah yang pelik ini sampai di sini saja. Ketika nanti kita sampai pada pembahasan masalah-masalah shulh, saya akan memberikan penjelasan yang lebih memadai dan lebih sempurna tentang hal ini.
وهذا كُلّه كلام فيهِ إذا كانت الثمارُ مما تتلاحقُ على ندور فأما إذا كانت تتلاحق لا محالة في المُدة التي يُبقي المشتري الثمرةَ فيها كالتين وغيره فالكلام يقع في هذا الفصل في صحة العقد
Semua ini berlaku jika buah-buahan tersebut memang berangsur-angsur matang secara jarang. Adapun jika buah-buahan itu pasti akan matang secara berangsur-angsur dalam jangka waktu di mana pembeli membiarkan buah itu tetap di pohon, seperti buah tin dan sejenisnya, maka pembahasan dalam bagian ini adalah mengenai keabsahan akad.
فإذا اشترى ثماراً مزهيةً على شرط التبقية فقد قال العلماءُ إذا كانت تتلاحقُ فالبيع باطلٌ؛ فإنه عقدَهُ على وجهٍ يتعذرُ فيهِ تَسليمُ المبيع وكان بمثابة ما لو اشترى عبداً آبقاً
Jika seseorang membeli buah-buahan yang sudah tampak matang dengan syarat tetap dibiarkan di pohonnya, para ulama mengatakan: jika buah-buahan itu terus-menerus bertambah (matang secara bertahap), maka jual belinya batal; karena ia melakukan akad dengan cara yang mustahil untuk menyerahkan barang yang dijual, dan hal itu serupa dengan membeli budak yang melarikan diri.
وذكر العراقيون قولاً بعيداً أن البيع موقوف فإن سمح البائعُ ببذل حقّه تبيناً انعقادَ العقدِ وإن لم يسمح تبينَّا أن البيع غيرُ منعقد في أصله وهذا قول مزيّفٌ لا أصلَ له وهو بمثابة المصيرِ إلى وقف بيعِ العبدِ الآبقِ على تقديرِ فرضِ الاقتدارِ عليه وفاقاً فإن طردوا هذا فإنه على فسادهِ مطردٌ وما أراهم يقولون ذلك
Orang-orang Irak menyebutkan suatu pendapat yang jauh (dari kebenaran), yaitu bahwa jual beli itu bersifat mu‘allaq (tertunda); jika penjual rela melepaskan haknya, maka tampaklah bahwa akad itu sah, dan jika tidak rela, maka tampaklah bahwa jual beli itu pada dasarnya tidak sah. Ini adalah pendapat yang batil, tidak ada dasarnya, dan serupa dengan menggantungkan sahnya jual beli budak yang melarikan diri pada kemungkinan kemampuan untuk menangkapnya, menurut kesepakatan. Jika mereka konsisten dengan pendapat ini, maka meskipun pendapat itu rusak, tetap saja mereka konsisten, namun aku tidak melihat mereka mengatakan demikian.
فإن أراد من يشتري الثمار المتلاحقةَ أن يصحَّ العقد فليشترط القطع وإذا فعل ذلك صحَّ العقدُ؛ فإنّ القطعَ ممكن قبل الاختلاط وفاءً بالشرط ثم إذا صح العقدُ وتأخر القطعُ واختلطت الثمارُ فالقول في هذه الصورة كالقول فيه إذا كان الاختلاطُ مما يندُر ولكنه اتفق على ندور فالقول قبل التخلية وبعدها كما مضى حرفاً حرفاً
Jika orang yang membeli buah-buahan yang tumbuh secara bertahap ingin agar akadnya sah, maka hendaklah ia mensyaratkan pemetikan. Jika ia melakukan hal itu, maka akadnya sah; karena pemetikan masih mungkin dilakukan sebelum buah-buahan itu bercampur sebagai bentuk pemenuhan syarat. Kemudian, jika akad telah sah dan pemetikan tertunda sehingga buah-buahan itu bercampur, maka hukum dalam keadaan ini sama seperti hukum jika percampuran tersebut jarang terjadi, namun kebetulan terjadi pada kasus yang jarang itu. Maka, ketentuan sebelum penyerahan dan sesudahnya tetap sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kata demi kata.
وكل ذلك كلام في صورة واحدة لم يذكرها المزني
Semua itu adalah pembahasan mengenai satu gambaran yang tidak disebutkan oleh al-Muzani.
فأما الصورة الثانية وهي التي ذكرها المزني فهي أن يبيع الرجلُ الأشجارَ وعليها ثمارٌ بقيت له فلم يقطُفْها حتى أخرجت الأشجارُ ثماراً للمشتري واختلطت بالثمار التي كانت للبائع وقد اختلفَ أصحابُنا على طريقين منهم من قال لا ينفسخ العقد في هذه الصورة ولا يثبت الخيارُ للفسخ؛ فإن المبيع لم يختلط وإنما الاختلاط في زائدٍ غيرِ معقودٍ عليه
Adapun gambaran kedua, yaitu yang disebutkan oleh al-Muzani, adalah ketika seseorang menjual pohon-pohon sementara di atasnya masih ada buah yang menjadi miliknya, namun ia belum memetiknya hingga pohon-pohon tersebut kemudian menghasilkan buah untuk pembeli, lalu buah-buah itu bercampur dengan buah yang sebelumnya milik penjual. Para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat: di antara mereka ada yang mengatakan bahwa akad tidak batal dalam kasus ini dan tidak pula ada hak khiyar untuk membatalkan; karena barang yang dijual tidak bercampur, melainkan yang bercampur hanyalah tambahan yang tidak termasuk dalam akad.
ولو اشترى رجل أشجاراً وتجدَّدت ثمارٌ في يد البائع وعابت والمبيع في يد البائع فلا خيار للمشتري بعيب الثمار وهذا هو القياس الذي لا يسوغ غيرُه
Jika seseorang membeli pohon-pohon, lalu muncul buah-buahan baru ketika masih di tangan penjual dan buah-buahan tersebut cacat, sementara barang yang dijual masih di tangan penjual, maka pembeli tidak memiliki hak khiyar karena cacatnya buah-buahan tersebut. Inilah qiyās yang tidak dibenarkan selainnya.
وهذا القائل يغلّط المزني في النقل وينسبُه إلى الإخلال بالتصوير ويقول صورة مسألة الشافعي هي التي انتجزت الآن فنقل المزني التصويرَ إلى بيع الأشجار وهو في بيع الثمار
Orang yang berkata demikian menganggap al-Muzani keliru dalam meriwayatkan dan menuduhnya lalai dalam menggambarkan masalah, serta mengatakan bahwa bentuk masalah menurut asy-Syafi‘i adalah yang telah dijelaskan sekarang, sedangkan al-Muzani memindahkan gambaran masalah itu ke jual beli pohon, padahal yang dimaksud adalah jual beli buah.
ومن أصحابنا من جعل المسألة على قولين في الصورة الأخيرة في الانفساخِ وخيارِ الفسخ كما مضى ويزعم أن الثمار وإن لم تكن مبيعةً فهي من حق الشجرة المبيعة؛ فإن المشتري إنما ملك الثمارَ بملكهِ الأشجارَ ومِلْكُ الأشجارِ ثبت بالعقد
Sebagian dari ulama mazhab kami menjadikan permasalahan ini sebagai dua pendapat pada kasus terakhir, yaitu tentang batalnya akad dan hak khiyar untuk membatalkan sebagaimana telah dijelaskan. Mereka berpendapat bahwa buah-buahan, meskipun tidak dijual secara tersendiri, tetap termasuk dalam hak pohon yang dijual; sebab pembeli hanya memiliki buah-buahan karena ia memiliki pohon-pohon tersebut, dan kepemilikan pohon-pohon itu telah ditetapkan melalui akad.
وهذا القائل يفصل بين صورة الاختلاط وبين تعيُّب الثمارِ المتجددةِ في يد البائع
Orang yang berpendapat ini membedakan antara kasus ikhtilāṭ dan cacat baru pada buah-buahan yang muncul di tangan penjual.
فنقول الاختلاطُ سببُه بقاءُ ثمرةِ البائع على الأشجارِ وعلى البائع في الجملة تخلية المبيع للمشترِي فقد حصَل الاختلاط بسبب ما استبقاه البائع لنفسهِ ولَعلّنا نذكر ما يُداني هذا في باب الخراج عند ذكرنا مسيسَ الحاجَةِ إلى قلع باب الدار المبيعة لنقل ما فيها من أمتعة البائع وأن الخيار هل يثبت بهذا السبب ويقرب منه نقلُ الأحجار المودَعةِ في الأرض
Maka kami katakan, sebab terjadinya percampuran adalah karena buah milik penjual masih tetap berada di atas pohon, sementara secara umum penjual berkewajiban membiarkan barang yang dijual untuk pembeli. Maka percampuran itu terjadi karena sesuatu yang masih ditinggalkan penjual untuk dirinya sendiri. Barangkali kami akan menyebutkan hal yang serupa dengan ini dalam bab kharāj ketika kami membahas kebutuhan mendesak untuk mencabut pintu rumah yang dijual guna memindahkan barang-barang milik penjual yang ada di dalamnya, dan apakah dengan sebab ini hak khiyār menjadi tetap, serta yang mendekatinya adalah memindahkan batu-batu yang dititipkan di dalam tanah.
فهذا منتهى القول في الصورتين
Inilah akhir pembahasan mengenai kedua gambaran tersebut.
وتكلم الأصحاب وراءهما في شيء لا اختصاص له بالمسألة ولكنا نذكره على ترتيب ذكر الأصحاب
Para ulama setelah keduanya membahas suatu hal yang sebenarnya tidak khusus berkaitan dengan masalah ini, namun kami akan menyebutkannya sesuai dengan urutan yang disebutkan oleh para ulama.
فنقول من اشترى حنطةً واستوفاها ثم اختلطت بها حنطةٌ أخرى للبائع بعد القبض فالقولُ في القدْر المختلِط قولُ المشتري إذا نازعه البائع والسبب فيه أن اليدَ للمشتري فإذا زعمَ أن المختلِط صاع والباقي لي فالقولُ قولُه مع يمينهِ ولكن سبيله في الخصومة ألا يتعرضَ للبيع؛ فإنه إذا ادّعى بيعاً في الصاعين فسينكره البائع ثم يرجع الكلام إلى اختلافِ المتبايعين في قدْر المبيع
Maka kami katakan, siapa yang membeli gandum dan telah menerimanya, kemudian setelah itu gandum milik penjual bercampur dengan gandum tersebut setelah penerimaan, maka dalam hal kadar yang bercampur, pendapat yang dipegang adalah pendapat pembeli jika terjadi perselisihan antara pembeli dan penjual. Sebabnya adalah karena barang tersebut berada dalam kekuasaan pembeli. Jika pembeli mengklaim bahwa yang bercampur hanya satu sha‘ dan sisanya miliknya, maka pendapatnya diterima dengan sumpahnya. Namun, dalam perselisihan ini, sebaiknya ia tidak membahas soal jual beli; karena jika ia mengklaim telah membeli dua sha‘, penjual akan menyangkalnya, lalu pembicaraan akan kembali pada perselisihan antara dua pihak yang berjual beli tentang kadar barang yang dijual.
وإن اتفق الاختلاطُ قبل التسليم وقلنا لا ينفسخ البيع ولم يفسخ أيضاًً فالقول قول البائع في القدر الذي باعه؛ فإن اليدَ له فيبقى البيعُ فيما يذكره ويده مستمرة عليه
Jika terjadi percampuran sebelum penyerahan barang dan kita berpendapat bahwa akad jual beli tidak batal, serta akad tersebut juga tidak dibatalkan, maka yang dijadikan pegangan adalah keterangan penjual mengenai jumlah barang yang dijualnya; sebab barang tersebut masih berada dalam kekuasaannya, sehingga jual beli tetap berlaku sesuai dengan keterangan yang disampaikannya dan barang tersebut masih berada dalam penguasaannya.
وإن جرى هذا الاختلاف في الثمرة؛ فإن لم يخلِّ بين المشتري وبينها فصاحب اليد هو البائع فلا رجوع إليه ولو خَلَّى بين المشتري وبين الثمار ولم يقطُف بعدُ فقد اختلف أصحابنا في أن اليد لمن في هذه الحالة وهذا الاختلاف مبنيّ على القولين في وضع الجوائح
Jika perbedaan ini terjadi pada buah-buahan; maka jika penjual tidak membiarkan pembeli mengambilnya, maka yang memegang kendali adalah penjual, sehingga tidak ada hak untuk kembali kepadanya. Namun jika penjual telah membiarkan pembeli mengambil buah-buahan tersebut tetapi belum dipetik, para ulama kami berbeda pendapat mengenai siapa yang memegang kendali dalam keadaan ini, dan perbedaan ini didasarkan pada dua pendapat tentang hukum al-jawā’ih.
وذكر بعضُ أصحابنا وجهاً ثالثاً في اليد فقال الثمارُ في أيديهما؛ فإنه يتعلق بهما السقيُ على البائع والتصرف نافذ من المشتري في الثمار بعد التخلية فاقتضى ذلك ثبوتُ أيديهما على التساوي وإذا ثبت حكم اليد فقد ذكرنا حكمَ ما قبل القبض وبعده وحكمُ يد البائع ويدِ المشتري ولو اعترفا والاختلاط بعد القبض مثلاً بالالتباس ورضيا بألاَّ يُفسخَ العقدُ رجع الكلام إلى الوقف والاصطلاح
Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat ketiga mengenai kepemilikan (yad), yaitu bahwa buah-buahan itu berada dalam kekuasaan keduanya; sebab penyiraman masih menjadi tanggungan penjual, sementara pembeli berhak melakukan tindakan terhadap buah-buahan tersebut setelah dilakukan penyerahan, sehingga hal itu menuntut adanya kepemilikan dari keduanya secara setara. Jika hukum kepemilikan telah tetap, maka kami telah menjelaskan hukum sebelum dan sesudah penyerahan, serta hukum kepemilikan penjual dan pembeli. Jika keduanya mengakui dan terjadi percampuran setelah penyerahan, misalnya karena kesamaran, lalu keduanya rela untuk tidak membatalkan akad, maka pembahasan kembali kepada status waqaf dan kesepakatan.
وسنوضحه في كتاب الصلح إن شاء الله تعالى
Dan kami akan menjelaskannya dalam Kitab al-Shulh, insya Allah Ta‘ala.
ومما يتعلق بهذه الجملة أن من باع جِزَّةً من القُرْط فينبغي أن يشترط في البيع القطعَ؛ فإنه يتزايد فلو فعل ذلك ثم لم يتفق القطعُ حتى زاد القُرْط زيادةً بيّنة فالذي حدث من جهة الأرض طولاً زيادة لا يستحقها المشتري فالتفصيل فيها كالتفصيل في الثمار إذا اختلطت في الفسخ والانفساخ
Terkait dengan pernyataan ini, apabila seseorang menjual sebagian dari bulu domba yang masih menempel, maka sebaiknya ia mensyaratkan pemotongan dalam akad jual beli tersebut; sebab bulu itu dapat terus bertambah. Jika ia telah melakukan hal itu namun pemotongan tidak segera dilakukan hingga bulu tersebut bertambah secara nyata, maka tambahan yang terjadi dari pertumbuhan di tanah (yaitu bulu yang bertambah panjang) adalah sesuatu yang tidak berhak dimiliki oleh pembeli. Rinciannya dalam hal ini sama seperti rincian pada buah-buahan apabila terjadi percampuran dalam hal pembatalan atau batalnya akad.
وذكرَ العراقيون عن بعض الأصحاب المصيرَ إلى أن البيعَ لا ينفسخ في هذه الصورة ثم زيّفوا ذلك واحتجوا بأن تلك الزيادة لا يجبُ على البائع تسليمُها وإذا لم يجب تسليمُها وتعذر تمييزُها فلا وجه إلا إلحاقُها بالثمار
Orang-orang Irak menyebutkan dari sebagian sahabat bahwa mereka berpendapat jual beli tidak batal dalam kasus ini, kemudian mereka melemahkan pendapat tersebut dan berdalil bahwa tambahan itu tidak wajib diserahkan oleh penjual. Jika penyerahan tambahan itu tidak wajib dan tidak mungkin membedakannya, maka tidak ada jalan lain kecuali menyamakannya dengan buah-buahan.
ولست أرى لما حَكَوْه وجهاً ولكنا في هذا الكتاب الحاوي لا نجد بُدّاً من ذكر ما ذكره الأئمةُ في التصانيف المشهورة فالوجه أن نذكر الوجوه الفاسدة وننبه على فسادِها وإن أمكن توجيهٌ على بعدٍ أتينا به ولعل الممكن فيه أن الزيادةَ بدت في القُرْط من جهة الجزّ فهي معلومة والاختلاطُ لا يتحققُ تحقُّقَه في الثمار وهذا غير سديد
Saya tidak melihat alasan yang kuat untuk apa yang mereka ceritakan, namun dalam kitab Al-Hawi ini, kami tidak dapat menghindar dari menyebutkan apa yang telah disebutkan oleh para imam dalam karya-karya terkenal. Maka, yang tepat adalah kami menyebutkan pendapat-pendapat yang lemah dan menunjukkan kelemahannya. Jika memungkinkan untuk memberikan penjelasan meskipun jauh, kami akan menyampaikannya. Barangkali yang mungkin dalam hal ini adalah bahwa tambahan itu tampak pada anting-anting dari sisi pemotongan, sehingga hal itu dapat diketahui, sedangkan percampuran tidak dapat dipastikan sebagaimana halnya pada buah-buahan. Dan ini bukanlah pendapat yang kuat.
وقد نجزَ الفصل بما فيه
Bab ini telah selesai dengan segala isinya.
فصل
Bab
قال وكل أرضٍ بيعت فللمشتري جميع ما فيها إلى آخره
Ia berkata: Setiap tanah yang dijual, maka seluruh yang ada di dalamnya menjadi milik pembeli, dan seterusnya.
ظاهر نص الشافعي هاهنا أن من باع أرضاً وذكر في البيع اسمَ الأرض أو الساحة أو العَرْصة أو البقعة فيندرج تحت مطلق هذه الألفاظِ البناء والغراس
Teks eksplisit Imam Syafi‘i di sini menunjukkan bahwa siapa saja yang menjual sebidang tanah dan menyebutkan dalam akad jual beli nama tanah, halaman, lahan, atau sebidang tanah, maka secara mutlak istilah-istilah ini mencakup bangunan dan tanaman yang ada di atasnya.
ونصَّ الشافعي في كتاب الرهون على أن رهنَ الأرضِ باسمِها لا يتناول ما فيها من بناءٍ وغرسٍ ومن أصحابنا من أجرى القولين في البيع والرهنِ أحدهما أن البناءَ والغراس يندرجُ؛ لأنها إذا اتصلت بالأرضِ عُدّت من أجزائها فاستَتْبَعتها استتباعَ الدور حقوقَها وإن لم يجر لها ذكر والقول الثاني أن الأبنيةَ والغراسَ لا تدخل في البيع والرهن هذا هو الأصح؛ فإن البيعَ معقودٌ باسم الأرضِ وليس البناء ولا الغِراسُ مما يتناوله اسمُ الأرض
Syafi’i menegaskan dalam Kitab ar-Ruhun bahwa gadai tanah hanya atas nama tanahnya saja, tidak mencakup bangunan dan tanaman yang ada di atasnya. Di antara ulama mazhab kami ada yang mengemukakan dua pendapat dalam masalah jual beli dan gadai: salah satunya, bahwa bangunan dan tanaman ikut serta karena jika keduanya telah menyatu dengan tanah, maka dianggap sebagai bagian dari tanah sehingga mengikuti tanah sebagaimana hak-hak rumah mengikuti rumah meskipun tidak disebutkan secara eksplisit. Pendapat kedua, bangunan dan tanaman tidak termasuk dalam jual beli dan gadai, dan inilah pendapat yang paling sahih; sebab akad jual beli dilakukan atas nama tanah, sedangkan bangunan dan tanaman bukanlah sesuatu yang tercakup dalam nama tanah.
ومن أصحابنا من أوّل ما ذكره الشافعي هاهنا وقال أراد إذا زاد البائع على اسم الأرضِ في صيغةِ العقد فقال بعتُكَ الأرضَ بحقوقها؛ فإن المعقودَ عليه هو الذي يُسمَّى في العقد كما قرَّرناه
Sebagian dari ulama mazhab kami menafsirkan apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i di sini dan berkata bahwa yang dimaksud adalah apabila penjual menambahkan pada penyebutan nama tanah dalam lafaz akad, lalu berkata, “Aku jual kepadamu tanah beserta hak-haknya”; maka yang menjadi objek akad adalah apa yang disebutkan dalam akad, sebagaimana telah kami jelaskan.
وهذا يتضمن نسبةَ المزني إلى الإخلالِ في النقل والاختصار على بعض لفظ صاحب المذهب
Ini mengandung penyandaran kepada al-Muzani atas kekurangan dalam periwayatan dan pembatasan hanya pada sebagian lafaz pemilik mazhab.
وذهب بعضُ الخائضين في المذهب إلى تقرير النصَّيْن في البيع والرهن والمصير إلى أن البيع يستتبع البناءَ والغِراس بخلافِ الرهن واعتمد هؤلاء في طلب الفرقِ قوةَ البيعِ وتضمنه إزالةَ الملك بخلافِ الرهن وهذا بالغٌ في الضعف؛ فإن المتبع الاسمُ في المزيل وغيرِ المزيل والقويّ والضعيف والصحيحُ الجاري على القاعدة اتباع الاسم ونسبةُ المزني إلى الإخلالِ بالنقل
Sebagian ulama yang membahas dalam mazhab ini berpendapat untuk menetapkan dua nash dalam masalah jual beli dan rahn, serta berkesimpulan bahwa jual beli mengikutsertakan bangunan dan tanaman, berbeda dengan rahn. Mereka yang berpendapat demikian mendasarkan perbedaan ini pada kuatnya jual beli dan karena jual beli mengandung pengalihan kepemilikan, berbeda dengan rahn. Namun, pendapat ini sangat lemah; sebab yang menjadi pegangan adalah penamaan, baik dalam hal yang menghilangkan kepemilikan maupun yang tidak, baik yang kuat maupun yang lemah. Yang benar dan sesuai kaidah adalah mengikuti penamaan, dan menisbatkan pendapat al-Muzani sebagai kekeliruan dalam meriwayatkan.
ويلي ذلك طريقةُ القولين ومحاولةُ الفرق ظاهر السقوط
Setelah itu, metode dua pendapat dan upaya membedakan tampak jelas lemah.
وإن جرينا على اتباع الاسم فلو قال العاقدُ بعتك الأرضَ بحقوقها فمن أئمتنا من ذهب إلى أن البناء والغِراسَ لا يدخلان بهذا اللفظ أيضاًً؛ فإن الحقوق مجملةٌ والمعنيُّ بها في تفاوض أهل العُرف مجرى الماء ومَطْرحُ التُراب والممرُّ وما أشبهها
Jika kita mengikuti penggunaan nama, maka jika pihak yang berakad berkata, “Aku jual kepadamu tanah beserta hak-haknya,” sebagian imam kami berpendapat bahwa bangunan dan tanaman juga tidak termasuk dalam lafaz ini; karena hak-hak itu bersifat umum dan yang dimaksud dalam kebiasaan masyarakat adalah aliran air, tempat pembuangan tanah, jalan, dan hal-hal semacamnya.
ومن أئمتنا من صار إلى أن لفظَ الحقوق يحتوي على الغِراس والبناء وهذا أشهر والأول أقيسُ
Di antara para imam kami ada yang berpendapat bahwa lafaz “al-huqūq” mencakup tanaman dan bangunan, dan pendapat ini lebih masyhur, sedangkan pendapat pertama lebih sesuai dengan qiyās.
ولما ذكرناه التفاتٌ إلى أصل نذكره في باب الخراج وهو أن أجزاء البناءِ بالإضافة إلى الدارِ تنزل منزلةَ الصفاتِ أو كلُّ جزء من البناء يُقدَّر مبيعاً حتى يسقطَ قسطٌ من الثمن بتلفه
Apa yang telah kami sebutkan merupakan perhatian terhadap suatu prinsip yang akan kami jelaskan dalam bab kharaj, yaitu bahwa bagian-bagian bangunan jika dibandingkan dengan rumah, diposisikan seperti sifat-sifat, atau setiap bagian dari bangunan dianggap sebagai barang yang dijual sehingga apabila bagian tersebut rusak, maka bagian dari harga pun gugur.
ومن مقاصدِ الفصلِ أن الرجل إذا قال بعتُك هذه الدارَ فالأصل أن كل ما يعدُّ جُزءاً من الدار فاسم الدار يتناوله والبيع يَرِدُ عليهِ ثم هذا يفصّل بالثبوت ونقيضه فكل ما ليس مثبتاً في الدار فهو من الأقمشة وليست مندرجة تحت اسم الدّار واستثنى صاحب التلخيص مفتاح الدار؛ فإنهُ منقولٌ والبيع يتناوله
Di antara tujuan pembahasan ini adalah bahwa apabila seseorang berkata, “Aku telah menjual rumah ini kepadamu,” maka pada dasarnya segala sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari rumah, maka nama rumah mencakupnya dan akad jual beli berlaku atasnya. Kemudian hal ini dirinci dengan apa yang tetap dan lawannya, sehingga segala sesuatu yang tidak melekat pada rumah termasuk barang-barang kain dan tidak termasuk dalam nama rumah. Namun, penulis kitab at-Talkhīṣ mengecualikan kunci rumah; karena ia merupakan barang yang dapat dipindahkan namun tetap termasuk dalam jual beli.
وقد اختلف أصحابنا في ذلك فساعده بعضُهم واعتلَّ بأن تسليم الدار مستحق وإنما يتم التسليمُ بتسليم المفتاح والأغلاقُ من الدار فتستتبع المفتاحَ فإن المفتاح إنما يُعنَى للأَغْلاق
Para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian dari mereka mendukungnya dan beralasan bahwa penyerahan rumah adalah hak yang harus dipenuhi, dan penyerahan itu baru dianggap sempurna dengan penyerahan kunci. Karena pintu-pintu rumah itu terkunci, maka kunci menjadi bagian yang harus diserahkan, sebab kunci itu memang diperuntukkan bagi pintu-pintu yang terkunci.
ومن أصحابنا من قالَ لا يدخل المفتاحُ تحت البيع؛ فإنهُ منقول غيرُ معدودٍ من أجزاء الدار ولئن عُدَّ من مصالح الدار كان بمثابة المكانسِ والمساحِي والمجارِفِ وغيرها
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa kunci tidak termasuk dalam objek jual beli; karena kunci adalah barang yang dipindahkan dan bukan bagian dari rumah. Kalaupun kunci dianggap sebagai salah satu kemaslahatan rumah, maka kedudukannya sama seperti sapu, cangkul, sekop, dan barang-barang sejenis lainnya.
هذا قولُنا في المنقول وسيلتحق بهذا الفصلِ طرفٌ من مسألةٍ سنُنبّه عليها في القسم الثاني
Inilah pendapat kami mengenai hal-hal yang dinukilkan, dan pada bagian ini akan disusulkan sebagian dari suatu permasalahan yang akan kami jelaskan pada bagian kedua.
فأما الثوابت في الدارِ فتنقسم إلى ما يثبَّتُ تَتِمَّةً لبناءِ الدار وإلى ما يَثبَّت والغرضُ من إثباته ألا يتحركَ في الاستعمال كالأجَاجين والأَرْحِيَةِ فأما ما أُثبتَ ليُعَدّ من الدار ويستكملَ به بناؤُها فلا شك في دخولها وما أُثبت كي لا يتزعزَعَ فمنه الطاحونة
Adapun benda-benda tetap di dalam rumah terbagi menjadi dua: ada yang dipasang sebagai pelengkap bangunan rumah, dan ada pula yang dipasang dengan tujuan agar tidak bergerak saat digunakan, seperti tungku dan alat penggiling. Adapun yang dipasang agar dianggap sebagai bagian dari rumah dan untuk menyempurnakan bangunannya, maka tidak diragukan lagi bahwa ia termasuk dalam rumah. Sedangkan yang dipasang agar tidak mudah bergeser, di antaranya adalah alat penggiling.
وحاصل ما قاله الأصحاب ثلاثةُ أوجُهٍ أقيسُهما أن الحجرين الأعلى والأسفل لا يدخلان في البيع؛ فإنهما لا يعذان من أجزاء الدّار وإن جرى إثباث في الأسفل فليس هو ليلحقَ بأبنية الدار وإنما هو لغَرضٍ في الاستعمال
Kesimpulan dari apa yang dikatakan para ulama ada tiga pendapat, yang paling kuat menurut qiyās adalah bahwa dua batu, yaitu yang di atas dan yang di bawah, tidak termasuk dalam jual beli; karena keduanya tidak dianggap sebagai bagian dari rumah, dan meskipun ada pemasangan di bagian bawah, itu bukan untuk disamakan dengan bangunan rumah, melainkan untuk tujuan penggunaan tertentu.
والوجه الثاني أنهما يدخلان أما الثابت فيدخل لثبوته ثم يستتبعُ الحجرَ الأعلى كما تستتبعُ الأَغلاقُ المفتاحَ
Adapun sisi yang kedua, keduanya termasuk di dalamnya. Adapun yang tetap, ia termasuk karena ketetapannya, kemudian diikuti oleh larangan yang lebih tinggi, sebagaimana kunci diikuti oleh gembok-gemboknya.
والوجهُ الثالث أن الأسفل يدخل لثبوتهِ كما يدخل أيُّ حجرٍ آخرَ يُثبَّت في عرْصةِ الدار وصورةُ الثبوت لا تختلف والقصودُ لا معوَّل عليها والأعلى لا يدخل؛ لأنه من المنقولات والاستتباعُ باطل هاهنا؛ فإنه لا يتحقق ما لم يتقرر في الحجر الأسفل مقصودُ الأَرْحية وهذا يُخرجه عن جُزئية الدار وعما ذكرناه من صورة ثبوت الحجر وليس كذلك الأغلاق؛ فإنها تعني إغلاقاً وتُعد مع هذا المقصود من أجزاء الدار ثم الغَلَق دون المفتاح لا خير فيه فكان الاستتباعُ متَجِهاً فيه
Alasan ketiga adalah bahwa bagian bawah termasuk karena ia tetap menempel, sebagaimana batu lain yang dipasang di halaman rumah; bentuk penempelannya tidak berbeda, dan tujuan-tujuan tidak menjadi tolok ukur. Adapun bagian atas tidak termasuk karena ia termasuk barang yang dapat dipindahkan, dan penyertaan (istibā‘) tidak berlaku di sini; sebab, penyertaan tidak terwujud kecuali jika pada batu bagian bawah telah ditetapkan tujuan untuk menjadi tempat penggilingan, dan hal ini mengeluarkannya dari bagian rumah serta dari bentuk penempelan batu yang telah kami sebutkan. Tidak demikian halnya dengan kunci-kunci; karena kunci memang dimaksudkan untuk mengunci dan dengan tujuan ini ia dianggap sebagai bagian dari rumah. Selain itu, kunci tanpa anak kunci tidak ada gunanya, sehingga penyertaan (istibā‘) menjadi relevan dalam hal ini.
وأما الإجانة المثبتةُ فقد قال الأصحاب القول فيها كالقول في الحجر الأسفل المثبت من الطاحونة؛ فإنََّ إثباتَ الإجَّانة ليس لإلحاقها بأبنية الدار وإنما هو لغرضٍ في الاستعمال كما تقدم
Adapun ijānah yang dipasang secara tetap, para ulama berpendapat bahwa hukumnya sama seperti batu dasar yang dipasang tetap pada sebuah penggilingan; karena penetapan ijānah bukan dimaksudkan untuk menyamakannya dengan bangunan rumah, melainkan untuk tujuan penggunaan tertentu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو اتخذ الرجل من داره مدبغةً وأثبت فيها أجاجين يمعَسُ فيها الأُهب نُظر فإن قال بعتُك الدارَ ففي دخول الأجاجين خلاف مرتَّب على الصورة الأولى والأجاجين أولى بالدخول إذا ظهر قصدُ البائع والمشتري وإن قال بعتُ منك هذه المدبغةَ وفيها أجاجين مثبَّتَةٌ فلا شك في دخولها؛ فإن اللفظ مُصرّحٌ بها فهو كما قال بعتُك هذه الطاحونةَ فالحجرُ الأسفل يدخل لا محالةَ وفي الحجر الأعلى خلاف والأظهرُ دخولُه وهو أوْلى من المفتاح بالدخول؛ فإن الطاحونة تتعرض باسمِها للطحن والطحنُ لا يقعُ إلا بالحجر فهذا هو الذي لا يتجه غيرُه
Jika seseorang menjadikan rumahnya sebagai tempat penyamakan kulit dan memasang bak-bak besar untuk menginjak kulit di dalamnya, maka jika ia berkata, “Aku jual rumah ini kepadamu,” terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah bak-bak tersebut termasuk dalam penjualan, dan hal ini kembali pada kasus pertama. Bak-bak tersebut lebih utama untuk termasuk dalam penjualan jika tampak adanya maksud dari penjual dan pembeli. Namun, jika ia berkata, “Aku jual tempat penyamakan ini kepadamu,” dan di dalamnya terdapat bak-bak yang terpasang, maka tidak diragukan lagi bahwa bak-bak itu termasuk dalam penjualan, karena lafaznya secara jelas menyebutkannya. Ini seperti seseorang berkata, “Aku jual penggilingan ini kepadamu,” maka batu penggiling bagian bawah pasti termasuk, sedangkan batu bagian atas terdapat perbedaan pendapat, namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa batu bagian atas juga termasuk, dan ia lebih utama untuk termasuk dibandingkan kunci, karena penggilingan itu disebut sebagai penggilingan karena fungsinya untuk menggiling, dan menggiling tidak bisa dilakukan kecuali dengan batu tersebut. Maka inilah pendapat yang tidak ada kemungkinan lain selain itu.
والرفوف في الدار منقسمة فمنها ما أُثبتت مع الدار جُزءاً منها وتتمةً لمرافقِها فما كان كذلكَ فهو داخلٌ تحت اسم الدار وما يُبنى لوضع شيء عليه كالخيوط التي تمدد لوضع الثيابِ عليها فالمنقولُ منها لا يدخل كسائرِ الأمتعةِ وما أُثبت بالمسامير حتى لا يتزعزعَ فهو كالإجانة والحجر الأسفل من الرحا والسُلَّم المنقول من أمتعة الدار وما أُثبت للبناء فهو من الدار كالمراقي المبنِيَّة من الطوب والجِصّ وأما السلاليم المثبتة بالمسامير فهي كالأجاجين ومراقي الخشب إذا أثبتت إثبات تخليد فهي على الأصح كمراقي الآجُر والجصق بخلاف السلاليم
Rak-rak di dalam rumah terbagi menjadi beberapa jenis. Di antaranya ada yang dipasang sebagai bagian dari rumah dan sebagai pelengkap fasilitasnya; yang demikian itu termasuk dalam kategori rumah. Adapun rak yang dibuat untuk meletakkan sesuatu di atasnya, seperti tali yang dibentangkan untuk menaruh pakaian, maka yang dapat dipindahkan darinya tidak termasuk dalam rumah, sebagaimana barang-barang lainnya. Rak yang dipasang dengan paku sehingga tidak mudah bergeser, maka hukumnya seperti bejana dan batu dasar dari alat penggiling, serta tangga yang dapat dipindahkan termasuk perabot rumah. Sedangkan yang dipasang untuk bangunan, maka itu termasuk bagian dari rumah, seperti tangga yang dibangun dari batu bata dan plester. Adapun tangga yang dipasang dengan paku, maka hukumnya seperti bejana, dan tangga kayu jika dipasang secara permanen, maka menurut pendapat yang lebih kuat hukumnya seperti tangga dari batu bata dan plester, berbeda dengan tangga-tangga lainnya.
فإن قيل إذا فرَّعْتُم على أن اسم الأرض يتناول البناء والغِراس فما قولَكُم في الأجاجين المثبتةِ والحجرِ الأسفل من الرحا والسلاليمِ المسمّرةِ قلنا الاختلافُ يجري وإن وقع التفريع على القول الضعيف؛ لأن مأخذَ الخلاف من إلحاق هذه الأشياء بالمنقولات ورد إثباتها إلى غرضٍ آخرَ يخالف البناء
Jika dikatakan: Apabila kalian telah merinci bahwa nama “tanah” mencakup bangunan dan tanaman, maka apa pendapat kalian tentang adukan-adukan tanah yang dipadatkan, batu dasar dari penggilingan, dan tangga-tangga yang dipaku? Kami katakan: Perbedaan pendapat tetap terjadi, meskipun perincian didasarkan pada pendapat yang lemah; karena sumber perbedaan pendapat adalah mengaitkan hal-hal tersebut dengan benda-benda yang dapat dipindahkan dan mengembalikan penetapannya kepada tujuan lain yang berbeda dengan bangunan.
ولو قال بعتك هذه الدارَ وفيها أشجار فحاصل ما قاله الأئمةُ أوجه أحدُها أن الأشجار لا تدخل والتفريعُ على الأصح وهو اتّباع الاسمِ وذلك أن الأشجار ليست من أركان الدار
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu rumah ini, dan di dalamnya ada pepohonan,” maka kesimpulan dari pendapat para imam ada beberapa sisi. Salah satunya adalah bahwa pepohonan tidak termasuk dalam penjualan, dan ini didasarkan pada pendapat yang lebih kuat, yaitu mengikuti nama (yang disebutkan), karena pepohonan bukanlah bagian dari unsur-unsur pokok rumah.
والوجه الثاني أنها تدخل واسم الدار يشملها والدورُ منقسمةٌ فمنها ما يَعْرَى عن الأشجار ومنها ما يشتمل عليها
Pendapat kedua adalah bahwa ia termasuk di dalamnya, dan nama “dār” mencakupnya, sedangkan rumah-rumah itu terbagi-bagi: di antaranya ada yang tidak memiliki pepohonan dan di antaranya ada yang memilikinya.
ومن أصحابنا من قال إن بلغت الأشجار مبلغاً يُجوّزُ تسميةَ الدار بستاناً؛ فإنها لا تدخل في اسمِ الدارِ وإن لم تبلغ الأشجار مبلغاً يُكسبُ الدارَ اسمَ البستان فهي داخلةٌ وهذا أعدل الوجوه
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa jika pepohonan di suatu rumah telah mencapai jumlah yang memungkinkan rumah tersebut disebut sebagai kebun (bustān), maka pepohonan itu tidak termasuk dalam nama “rumah”. Namun, jika pepohonan itu belum mencapai jumlah yang menjadikan rumah tersebut disebut sebagai kebun, maka pepohonan itu termasuk dalam nama “rumah”. Inilah pendapat yang paling adil.
ولو قالَ بعتُك هذا البستانَ فلا شك في دخول أشجارها تحت الاسم وتردد جوابُ الأئمة في دخول البناء فمال بعضُهم إلى أنه لا يدخل وقالَ الأكثرون إنه داخل والبناءُ عندي بالإضافة إلى البستان كالشجر بالإضافةِ إلى الدار
Jika seseorang berkata, “Aku telah menjual kebun ini kepadamu,” maka tidak diragukan lagi bahwa pepohonannya termasuk dalam nama tersebut. Namun, para imam berbeda pendapat mengenai apakah bangunan yang ada di dalamnya juga termasuk. Sebagian dari mereka cenderung berpendapat bahwa bangunan tidak termasuk, sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa bangunan itu termasuk. Menurutku, bangunan dalam kaitannya dengan kebun itu seperti pohon dalam kaitannya dengan rumah.
ولو قالَ بعتُكَ هذه القرية فلا شك في دخول دورِها وأبنيتها ومزارعها تحت البيع وذكر العراقيون في دخول أشجارِها تحت البيع قولين إذا لم يقع لها تعرض وهذا الذي ذكروه أبعدُ من التردّدِ في أشجارِ الدارِ؛ من جهة أن الأشجارَ مألوفةٌ في القُرى ولا تستجدّ القريةُ بالأشجار اسماً والدار تستجدّ اسمَ البستان بكثرة الأشجار
Jika seseorang berkata, “Aku telah menjual desa ini kepadamu,” maka tidak diragukan lagi bahwa rumah-rumah, bangunan-bangunan, dan lahan pertaniannya termasuk dalam penjualan tersebut. Ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai masuknya pepohonan desa dalam penjualan jika tidak disebutkan secara khusus. Apa yang mereka sebutkan ini lebih jauh daripada keraguan mengenai pepohonan di dalam rumah; sebab pepohonan sudah lazim terdapat di desa-desa dan sebuah desa tidak menjadi memiliki nama baru karena adanya pepohonan, sedangkan sebuah rumah bisa saja disebut kebun jika pepohonannya banyak.
ولو قالَ بعتُكَ هذا البَاغَ أو البستان فقد كان شيخي يتردد بعض التردُّدِ في العُروش التي عليها الكروم من جهةِ أنها ليست مخلَّدة والوجه عندنا القطع بدخولها تنزيلاً على المعهودِ من اسم الكرْم أو البستان في مُطلق العُرفِ
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu kebun anggur ini atau kebun ini,” guruku dahulu sempat ragu-ragu mengenai para-para yang di atasnya terdapat tanaman anggur, karena para-para tersebut tidak bersifat permanen. Namun, menurut pendapat kami yang kuat, para-para tersebut tetap termasuk di dalamnya, berdasarkan kebiasaan yang berlaku pada penyebutan “kebun anggur” atau “kebun” menurut ‘urf (kebiasaan umum) yang berlaku.
وممَّا ذكرهُ العراقيون أن قالوا من باع داراً وفيها بئر فلا شك أن ما يحدثُ من الماءِ فهو للمشتري وأما الماءُ الذي كان موجوداً حالةَ البيع وهو جَمَّةُ البئر فلا شَكّ أنه من المنقولات وليس من أجزاءِ الدار
Di antara yang disebutkan oleh para ulama Irak adalah pernyataan mereka: Barang siapa menjual sebuah rumah yang di dalamnya terdapat sumur, maka tidak diragukan bahwa air yang muncul setelahnya adalah milik pembeli. Adapun air yang sudah ada saat akad jual beli berlangsung, yaitu air yang memenuhi sumur, maka tidak diragukan bahwa itu termasuk benda bergerak dan bukan bagian dari rumah.
فإن قُلنا لا يُملك الماء وإنما يُختصُّ به من جهة احتواءِ ظرفه عليه وامتناعِ التصرفِ في ظرفه دون إذنه فإذا جرى البيع فيصير المشتري أولى بالماء؛ فإنه لا حقَّ في عينه وقد امتنع على الناس تخطي مِلكِهِ إلى الماءِ وإن قلنا الماءُ يملك فقد قطع العراقيون بأن القَدْرَ الموجودَ في البئر حالةَ العقد ملكُ البائع ولست أرى قياساً ولا توقيفاً يخالف ما ذكروه
Jika kita mengatakan bahwa air tidak dimiliki, melainkan seseorang hanya berhak atas air karena wadahnya menampung air tersebut dan orang lain tidak boleh menggunakan wadah itu tanpa izinnya, maka ketika terjadi jual beli, pembeli menjadi lebih berhak atas air itu; sebab tidak ada hak atas zat airnya, dan orang-orang tidak boleh melewati kepemilikannya untuk mengambil air. Namun, jika kita mengatakan bahwa air itu dimiliki, maka para ulama Irak telah memastikan bahwa jumlah air yang ada di sumur pada saat akad adalah milik penjual. Saya tidak melihat adanya qiyās atau dalil yang bertentangan dengan apa yang mereka sebutkan.
ولكن العادة عامة في المسامحة به فإن نبا قلبُ ناظرٍ عن هذا فلذلك
Namun kebiasaan secara umum adalah memberikan toleransi terhadap hal ini. Jika hati seseorang yang memperhatikan merasa enggan terhadapnya, maka itu karena alasan tersebut.
ولو كان في الأرض معدن عِدّ كالنِّفظ وغيره فإذا باع الأرضَ وفيها المعدِن فما يتجدَّد بعد البيع للمشتري وما كان تجمّع فهو للبائع ولا تردُّدَ فيه بخلافِ الماءِ؛ فإن في الناس من قال إنه لا يُملك
Jika di dalam tanah terdapat tambang yang berharga seperti minyak dan selainnya, lalu seseorang menjual tanah tersebut sementara di dalamnya terdapat tambang, maka apa yang muncul setelah penjualan menjadi milik pembeli, sedangkan apa yang sudah terkumpul sebelumnya menjadi milik penjual, dan hal ini tidak ada keraguan di dalamnya. Berbeda dengan air, karena di antara manusia ada yang berpendapat bahwa air tidak dapat dimiliki.
ونقل الصيدلاني أن الشافعي قال إذا قالَ بعتُك الدارَ وفيها حمَّامٌ لم يدخل الحمامُ في البيع ونقل عن الربيع أنه قالَ أراد الشافعيُ حمامات الحجاز؛ فإنها بيوت من خشب تُنقل وتحوّل فأما إذا كان في الدار حمامٌ مبني فهو من مرافق الدار فيدخلُ تحت اسم الدار ولا تعويل على اختصاص بعض الدور بالحمام فإن هذا يجري في كثيرٍ من الأبنية إذ قد توجد بعضُ الأبنيةِ في بعض الدور دون البعض
Ash-Shaybani meriwayatkan bahwa asy-Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata, “Aku jual rumah ini kepadamu dan di dalamnya ada hammam (pemandian),” maka hammam tersebut tidak termasuk dalam penjualan. Ar-Rabi‘ meriwayatkan bahwa asy-Syafi‘i bermaksud hammam di wilayah Hijaz; yaitu bangunan dari kayu yang dapat dipindahkan dan dialihkan. Adapun jika di dalam rumah terdapat hammam yang dibangun permanen, maka itu termasuk fasilitas rumah dan masuk dalam nama “rumah”. Tidak dianggap adanya kekhususan sebagian rumah dengan hammam, karena hal ini juga terjadi pada banyak bangunan, sebab terkadang ada beberapa bangunan tertentu di sebagian rumah dan tidak ada di rumah yang lain.
فصل
Bab
من باع أرضاً مزروعةً فللأئمة طريقانِ في صحة البيع في الأرض بعدَ الاتفاق على أن الزرعَ لا يدخل تحت تسميةِ الأرضِ فإنّ سبيلَه سبيلُ المنقولاتِ وليس معدوداً من أجزاء الأرض فإذا كان الزرع يبقى للبائع ففي بيع رقبة الأرض طريقان أحدهما وهو الأصح أن البيع صحيحٌ
Barang siapa menjual sebidang tanah yang telah ditanami, para imam memiliki dua pendapat mengenai keabsahan jual beli tanah tersebut, setelah sepakat bahwa tanaman tidak termasuk dalam penamaan “tanah”, karena statusnya seperti benda-benda yang dapat dipindahkan dan tidak dianggap sebagai bagian dari tanah. Jika tanaman tetap menjadi milik penjual, maka dalam jual beli hak milik tanah terdapat dua pendapat; salah satunya, dan ini yang paling sahih, bahwa jual belinya sah.
ومن أصحابنا من خرّج بيعَ الأرض المزروعة على بقاءِ الزرعِ للبائع على قولي بيع الدارِ المكراة والجامعُ عند هذا القائلِ أن منافعَ الرقبة مستغرَقةٌ بالزرع حسَبَ استِغراقِها باستحقاقِ المستأجِر والقائل الأول يفرق بين الأرض المزروعة والمكراة
Sebagian dari ulama mazhab kami mengqiyaskan jual beli tanah yang sedang ditanami dengan tetapnya tanaman bagi penjual pada dua pendapat tentang jual beli rumah yang sedang disewakan. Menurut pendapat ini, persamaannya adalah bahwa manfaat dari tanah tersebut telah sepenuhnya digunakan oleh tanaman, sebagaimana manfaatnya juga sepenuhnya menjadi hak penyewa. Sedangkan pendapat pertama membedakan antara tanah yang sedang ditanami dan tanah yang disewakan.
ونقول إثبات اليد للمشتري على رقبة الدار المكراة غيرُ ممكن مع استمرار يدِ المستأجِر واستحقاقِه وتسليمُ الأرض المزروعةِ إلى مشتريها ممكنٌ ثم من اشترى أرضاً وعَلِمَها مزروعة فلا خيار له لإقدامه على العقدِ على بصيرة بحقيقةِ الحال
Kami katakan bahwa menetapkan hak kepemilikan (yad) bagi pembeli atas fisik rumah yang disewakan tidaklah mungkin selama masih berlangsungnya hak kepemilikan penyewa dan haknya, sedangkan penyerahan tanah yang telah ditanami kepada pembelinya adalah mungkin. Selanjutnya, siapa yang membeli sebidang tanah dan mengetahui bahwa tanah itu telah ditanami, maka ia tidak memiliki hak khiyar, karena ia telah melakukan akad dengan penuh kesadaran terhadap keadaan yang sebenarnya.
وليس له مع الفرض في العلمِ أجرةُ مثلِ الأرض وكان منفعتَها مستثناة
Dan tidak ada upah baginya atas kewajiban dalam ilmu, seperti tanah yang manfaatnya dikecualikan.
وهذا بمثابة ما لو علم المشتري أن الدار مشحونةٌ بأمتعةِ البائع ولا يتأتى تفريغُها إلا في زمنٍ لمثله أجرةٌ فلا أُجرةَ للمشتري
Ini seperti halnya jika pembeli mengetahui bahwa rumah tersebut penuh dengan barang-barang milik penjual dan tidak mungkin dikosongkan kecuali dalam waktu yang biasanya memerlukan upah, maka tidak ada upah bagi pembeli.
ولو كان المشتري جاهلاً بكون الأرضِ مزروعةً فإذا اشترى ثم اطّلع فله الخيارُ فإن فسخ فلا كلام وإن أجاز فهل تثبت له أجرةُ مثلِ الأرض لمدة بقاء الزرع فعلى وجهين ذكرهما صاحب التقريب أحدُهما ليس له ذلك لقدرته على الفسخ فإن أجاز فلا مرجع له وهو كما لو اطّلع على عيبٍ قديم بالمبيع وتمكَّن من الردِّ فإن أجاز العقدَ لم يرجع بشيء من الأرش
Jika pembeli tidak mengetahui bahwa tanah tersebut telah ditanami, lalu ia membeli dan kemudian mengetahuinya, maka ia memiliki hak khiyar. Jika ia membatalkan (akad), maka tidak ada masalah. Namun jika ia menerima (akad), apakah ia berhak mendapatkan upah sewa tanah selama masa keberadaan tanaman? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib. Salah satunya, ia tidak berhak atas hal itu karena ia mampu membatalkan (akad). Jika ia menerima, maka ia tidak memiliki hak untuk menuntut kembali, sebagaimana jika ia mengetahui adanya cacat lama pada barang yang dibeli dan mampu mengembalikannya, maka jika ia menerima akad, ia tidak berhak menuntut ganti rugi apa pun.
والوجه الثاني أنه يثبت له أجر المثل؛ فإن هذا ضررٌ يلحقه فيما ليس معقوداً عليه وهو المنافعُ ويرِدُ على هذا الضررِ أن المنافع تنزل منزلةَ نقصِ الرقبة في إثباتِ الخيار فليَجْر حكمُ الرضا مجرى حكم الرضا في العيب وسيأتي لهذا الخلافِ في الأجرة نظائرُ في الفصل الذي يلي هذا الفصل إن شاء الله تعالى
Pendapat kedua adalah bahwa ia berhak mendapatkan imbalan sepadan; sebab ini merupakan kerugian yang menimpanya pada sesuatu yang tidak menjadi objek akad, yaitu manfaat. Terhadap kerugian ini, dapat dikemukakan bahwa manfaat diposisikan seperti kekurangan pada tubuh (barang) dalam penetapan hak khiyār, sehingga hukum kerelaan dalam hal ini berlaku seperti hukum kerelaan dalam cacat. Akan ada pembahasan serupa mengenai perbedaan pendapat tentang upah pada bab setelah bab ini, insya Allah Ta‘ala.
ولو اشترى داراً وصادفها مشحونةً بأمتعة البائع وكان لا يتأتى تفريغُها إلا في مُدَّةٍ وما كان حسِبَ أن الأمرَ كذلك فهل يثبت له الخيار كما يثبت لو اطلع على الأرض فصادفها مزروعة المذهب ثبوتُ الخيارِ ومن أصحابنا من لم يُثبتة وصار إلى أن الغالب في العادة اشتمالُ الدارِ على أمتعةٍ ثم إنها تفرَّغ ثم لا ضبط لمقدار الأمتعة والأصح الأول والرجوع فيما يُثبت الخيارَ إلى ما يحتاج في نقله إلى مدةٍ يتعذّر فيها الانتفاع بالدار وكان للمدة أجرة
Jika seseorang membeli sebuah rumah dan ternyata rumah itu penuh dengan barang-barang milik penjual, dan tidak mungkin mengosongkannya kecuali dalam waktu tertentu, sedangkan sebelumnya ia tidak memperkirakan hal itu, maka apakah ia berhak mendapatkan khiyar sebagaimana jika ia mendapati tanah yang dibelinya ternyata telah ditanami? Menurut mazhab, khiyar tetap berlaku. Namun, sebagian ulama dari kalangan kami tidak menetapkannya dan berpendapat bahwa pada umumnya rumah memang berisi barang-barang, lalu barang-barang itu akan dikeluarkan, dan tidak ada batasan pasti mengenai jumlah barang tersebut. Pendapat yang lebih sahih adalah pendapat pertama, dan dalam menetapkan adanya khiyar dikembalikan pada kebutuhan waktu untuk memindahkan barang-barang tersebut, di mana selama waktu itu pembeli tidak dapat memanfaatkan rumah, dan untuk waktu tersebut ada nilai sewanya.
ومما يتعلق بتمام البيان في ذلك أن من اشترى داراً مشحونةً بالأمتعة كما صوَّرنا فقد أطلق الأصحابُ القولَ بصحة البيع وذكروا في الأرضِ المزروعةِ طريقين في صحة البيع ولا شك أن القياسَ يقتضي التسويةَ بينهما؛ إذ لا فرق ولكن المنقول ما ذكرناه من تخصيص الخلاف بالأرض المزروعة
Dan yang berkaitan dengan penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa siapa saja yang membeli rumah yang penuh dengan perabotan, sebagaimana telah kami gambarkan, para ulama telah secara mutlak menyatakan sahnya jual beli tersebut. Mereka juga menyebutkan dua pendapat mengenai sah atau tidaknya jual beli tanah yang sudah ditanami. Tidak diragukan lagi bahwa qiyās menuntut adanya penyamaan antara keduanya, karena tidak ada perbedaan. Namun, pendapat yang diriwayatkan adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa perbedaan pendapat hanya dikhususkan pada tanah yang sudah ditanami.
وإذا صححنا البيعَ في المزروعة والدار المشحونة فلو سلّم البائعُ الأرضَ وفيها الزرعُ وسلَّم الدارَ وفيها الأمتعةُ فقد ذكر أصحابنا وجهين في أن اليدَ هل تثبت للمشتري أحدهما أنها تثبت وهو ظاهرُ المذهب؛ فإن الرقبة مسلَّمةٌ إليه وإنما الاشتغال في المنافع
Jika kita membolehkan jual beli pada lahan yang sedang ditanami dan rumah yang penuh dengan barang, lalu penjual menyerahkan tanah yang di atasnya ada tanaman dan menyerahkan rumah yang di dalamnya ada perabotan, maka para ulama kami menyebutkan dua pendapat mengenai apakah hak kepemilikan (yad) itu tetap bagi pembeli. Salah satunya adalah bahwa hak kepemilikan itu tetap bagi pembeli, dan ini adalah pendapat yang tampak dalam mazhab; karena kepemilikan atas benda pokok telah diserahkan kepadanya, hanya saja masih ada keterkaitan pada manfaatnya.
ومنهم من قال لا تثبت اليدُ في الموضعين ما دامت المنافعُ مستغرَقة بالأمتعةِ والزروع
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hak kepemilikan (yad) tidak dapat ditetapkan pada kedua tempat tersebut selama manfaatnya masih dikuasai oleh barang-barang dan tanaman.
ومن أصحابنا من ذكر وجهاً ثالثاً فقال اليدُ تثبت في الأرض المزروعة دون الدار المشحونة ولا يكاد يتضح الفرق
Sebagian dari ulama kami menyebutkan pendapat ketiga, yaitu bahwa hak kepemilikan (yad) dapat dibuktikan pada tanah yang ditanami, namun tidak pada rumah yang penuh dengan barang-barang, meskipun perbedaan antara keduanya hampir tidak jelas.
وما ذكرته من تنزيل الدار المشحونة منزلةَ الأرض المزروعة في القياس يتأكد بما نقلته من الخلاف في أن اليد هل تثبت للمشتري عليها أم لا؛ فإنه إذا كان يمتنع ثبوتُ اليد حُكماً فالبقعةُ المبيعة مشبهةٌ بالدار المكراة من جهة امتناع ثبوت اليد
Apa yang Anda sebutkan tentang penyerupaan rumah yang penuh dengan barang dengan tanah yang ditanami dalam qiyās, dikuatkan oleh apa yang Anda sampaikan mengenai perbedaan pendapat apakah hak kepemilikan (yad) dapat ditetapkan bagi pembeli atasnya atau tidak; sebab jika penetapan hak kepemilikan secara hukum tidak memungkinkan, maka tempat yang dijual itu diserupakan dengan rumah yang disewakan dari segi tidak memungkinkan penetapan hak kepemilikan.
/م ولو باع الأرضَ وهي مبذورةٌ ما نبتت بعدُ فالبذر للبائع ولا يدخل تحت مطلقِ البيع ثم الكلام في صحة البيع وجميعُ ما ذكرناه في الأرض المزروعة يعود حرفاً حرفاً؛ إذْ لا فَرْقَ
Dan jika seseorang menjual tanah yang telah ditaburi benih namun benihnya belum tumbuh, maka benih tersebut tetap milik penjual dan tidak termasuk dalam akad jual beli secara mutlak. Selanjutnya, pembahasan mengenai keabsahan jual beli tersebut, dan semua yang telah kami sebutkan terkait tanah yang sudah ditanami, berlaku pula di sini secara persis; karena tidak ada perbedaan.
ولو باع الأرضَ المزروعةَ مع الزرع فلا شك في صحة البيع وانعقادِه عليهما
Jika seseorang menjual tanah yang sedang ditanami beserta tanaman yang ada di atasnya, maka tidak diragukan lagi bahwa jual beli tersebut sah dan berlaku atas keduanya.
ولو باع الأرضَ المبذورةَ مع البَذْر الكامن فيها فالأصح الحكم بفساد بيع البَذْر؛ لأنه مجهول مستتر وهذا متَّضح على منع بيع الغائب ولا يبعدُ الحكمُ بصحة البيع في البذر على تجويز بيع الغائب وذكر بعضُ أصحابنا وجهاً آخر وهو أن البيع صحيح وإن منعنا بيع الغائب إذا بيع مع الأرض فيجري تصحيح البيع في البذر على قياسِ التبعيّه وقد يتبعُ الشيءُ في حكم وإن كان لا يجوز أن يتأصَّل فيه وإن قلنا البيعُ في البَذْر صحيحٌ فلا كلامَ وإن قلنا البيعُ فيه فاسِدٌ ففي الأرض قولا تفريقِ الصفقة على ما ستأتي مسائله إن شاء الله عز وجل
Jika seseorang menjual tanah yang telah ditanami bersama benih yang tersembunyi di dalamnya, maka pendapat yang lebih sahih adalah bahwa jual beli benih tersebut batal; karena benih itu tidak diketahui dan tersembunyi, dan hal ini jelas sesuai dengan larangan menjual barang yang tidak hadir. Namun, tidak mustahil untuk menghukumi sah jual beli benih jika memperbolehkan jual beli barang yang tidak hadir. Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat lain, yaitu bahwa jual beli tersebut sah meskipun kita melarang jual beli barang yang tidak hadir, jika dijual bersama tanahnya. Maka, pensahan jual beli benih ini mengikuti qiyās tentang at-taba‘iyyah (ketergantungan), dan terkadang suatu barang dapat mengikuti hukum barang lain meskipun tidak boleh berdiri sendiri. Jika kita mengatakan jual beli benih itu sah, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita mengatakan jual beli benih itu batal, maka untuk tanahnya terdapat dua pendapat tentang pemisahan akad, sebagaimana akan dijelaskan dalam beberapa masalah berikutnya, insya Allah عز وجل.
ثم ذكر بعض الأصحابِ جُملاً من الكلام في الزروع وما يصح بيعُه وما لا يصح ولم أَرَ ذِكْرَها؛ فإني أستقصيها إن شاء الله تعالى في باب بيع الثمار قبل بدوِّ الصلاح وبعد بدوّه
Kemudian sebagian ulama menyebutkan beberapa penjelasan mengenai tanaman, apa saja yang sah dijual dan apa yang tidak sah, namun aku tidak melihat perlunya menyebutkannya di sini; karena aku akan menguraikannya, insya Allah Ta‘ala, pada bab tentang jual beli buah-buahan sebelum dan sesudah tampaknya tanda-tanda kematangan.
والذي يليق بمنتهى كلامِنا منها أن الزروع التي لا تُخلِفُ بعد الجَزّ حكمه بقاؤه للبائع في مطلق بيع الأرض كما تقدم
Yang sesuai dengan akhir pembahasan kita di sini adalah bahwa tanaman yang tidak tumbuh kembali setelah dipanen, hukumnya tetap menjadi milik penjual dalam penjualan tanah secara mutlak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو باع أرضاً وفيها أصولٌ لبقولٍ مُخْلِفةٌ بعد الجَزّ فقد قطع شيخي بأن تلك الأصول تدخل تحت مطلق تسمية الأرض؛ فإنها من الثوابت وهي مخالفة للأبنية والأشجار؛ من جهة بدوِّها وظهورها ومفارقتها الأرضَ في صفتها وأصول البقول ثابتة كامنة وكأنها من أجزاء الأرض
Jika seseorang menjual sebidang tanah dan di dalamnya terdapat akar-akar tanaman sayuran yang dapat tumbuh kembali setelah dipotong, guruku menegaskan bahwa akar-akar tersebut termasuk dalam cakupan umum penamaan “tanah”; karena akar-akar itu termasuk bagian yang menetap dan berbeda dengan bangunan serta pepohonan, dari segi kemunculannya, tampak di permukaan, dan perbedaannya dengan tanah dalam sifatnya. Adapun akar-akar tanaman sayuran itu tetap tersembunyi dan seakan-akan merupakan bagian dari tanah itu sendiri.
وذكر العراقيون والصيدلاني في دخولها تحت مطلق تسمية الأرض قولين كالقولين في البناء والغِراس كما مضى مفصلاً وهذا هو القياس؛ إذ لا يلوح فرقٌ بينها وبين الغراس والأبنية
Orang-orang Irak dan As-Saidalani menyebutkan dua pendapat tentang masuknya (sesuatu) ke dalam cakupan umum penamaan tanah, sebagaimana dua pendapat dalam (masalah) bangunan dan tanaman yang telah dijelaskan secara rinci sebelumnya. Inilah yang sesuai dengan qiyās; sebab tidak tampak adanya perbedaan antara (masalah ini) dengan tanaman dan bangunan.
ولو باع أرضاً وفيها أصلُ البقل وكان قد ظهر شيء حالةَ البيع فلا خلاف أن الظاهرَ باقٍ على استحقاقِ البائع وله تلك الجزّة البادية وفي الأصول من التفصيل ما ذكرته الآن
Jika seseorang menjual sebidang tanah yang di dalamnya terdapat tanaman sayuran, dan pada saat penjualan telah tampak sebagian dari tanaman tersebut, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa bagian yang tampak itu tetap menjadi hak penjual, dan ia berhak atas hasil panen yang sudah tampak itu. Adapun rincian mengenai pokok tanaman telah saya sebutkan sebelumnya.
فصل
Bab
قال الشافعي وإن كان فيها حجارةٌ مستودعة إلى آخِره
Imam Syafi‘i berkata: “Dan jika di dalamnya terdapat batu-batu yang disimpan hingga akhirnya.”
إذا باع رجلٌ أرضاً وفي باطنها أحجارٌ نُظر فإن كانت مخلوقةً فيها فلا شكَّ في دُخولها تحت البيع؛ فإنها من أجزاء الأرض المبيعة وإن كانت تلك الأحجار مستعملةً في أساس بنيان فسبيلها كسبيل الجُدرانِ وغيرِها من الأبنية وقد تقدم القول في أن الأبنيةَ هل تدخل تحت مطلق اسم الأرض في البيع أم لا وإن لم تكن مخلوقةً فيها ولا مبنية ولكنها كانت مستودعةً للبائع؛ فلا خلافَ أنها لا تدخل تحت بيعِ الأرض وهي بمثابةِ ما لو أودع كنزاً في الأرض ثم باع الأرضَ فالكنزُ للبائع لا محالةَ ثم التفصيلُ وراء ذلك
Jika seseorang menjual sebidang tanah dan di dalamnya terdapat batu-batu, maka perlu dilihat: jika batu-batu itu memang tercipta di dalam tanah tersebut, tidak diragukan lagi bahwa batu-batu itu termasuk dalam objek jual beli, karena ia merupakan bagian dari tanah yang dijual. Namun, jika batu-batu itu digunakan sebagai fondasi bangunan, maka hukumnya sama seperti dinding dan bagian bangunan lainnya. Telah dijelaskan sebelumnya mengenai apakah bangunan-bangunan itu termasuk dalam makna umum “tanah” dalam jual beli atau tidak. Jika batu-batu itu tidak tercipta di dalam tanah, tidak pula menjadi bagian bangunan, melainkan hanya dititipkan oleh penjual, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa batu-batu itu tidak termasuk dalam jual beli tanah. Keadaannya sama seperti jika seseorang menyimpan harta karun di dalam tanah lalu menjual tanah tersebut; maka harta karun itu tetap milik penjual, tanpa diragukan lagi. Setelah itu, ada rincian lebih lanjut mengenai hal ini.
فنقول الأرض لا تخلو إما أن تكون مغروسة وإما أن تكون بيضاءَ لا غراسَ فيها فإن كانت بيضاء لم يخل الأمر من أقسامٍ وحقُّها أن تُفرض فيه إذا لم يكن المشتري عالماً بكونِ الأحجار فإذا كان كذلك فمن الأقسام ألا تضرَّ تَبقيةُ الأحجارِ تحت الأرض ولا يضُرّ بالأرض نقلُها أيضاًً فلا خيار للمشتري؛ إذ لا ضرار كيف قُدّر الأمرُ ولكن ذكر بعضُ المصنِّفين أن البائع بالخيار إن شاء نقل الأحجار وإن شاء تركها؛ فإنه لا يلتحق بالمشتري ضررٌ على أي وجهٍ صُوّرت الحال وهذا غلطٌ لا يجوز عَدُّه من المذهب
Maka kami katakan, tanah itu tidak lepas dari dua keadaan: bisa jadi ditanami, atau bisa juga berupa tanah kosong yang tidak ada tanaman di atasnya. Jika tanah itu kosong, maka perkaranya tidak lepas dari beberapa bagian, dan sudah seharusnya hal ini diperhitungkan jika pembeli tidak mengetahui adanya batu-batu tersebut. Jika demikian keadaannya, maka di antara bagian-bagian itu adalah tidak adanya mudarat dengan tetapnya batu-batu di bawah tanah, dan tidak pula ada mudarat bagi tanah jika batu-batu itu dipindahkan; maka tidak ada hak khiyar bagi pembeli, karena tidak ada mudarat bagaimanapun keadaannya. Namun, sebagian ulama penulis menyebutkan bahwa penjual memiliki hak khiyar, jika ia mau boleh memindahkan batu-batu itu, dan jika mau boleh membiarkannya; sebab tidak ada mudarat yang menimpa pembeli dalam keadaan apapun. Ini adalah kekeliruan yang tidak boleh dianggap sebagai bagian dari mazhab.
والذي قطع به الأئمةُ أن للمشتري أن يجبر البائعَ على تفريغ أرضه ونَقْلِ الأحجارِ منها ولا تعويل على انتفاء الضِّرار كما صوَّرناه بل الأصل تمكن المالك من الإجبار على تفريغ مِلكهِ والذي يوضح ذلك أن انتفاع البائع في التبقية ظاهرٌ وربَّما يحتاج لو نقل الأحجارَ إلى موضعٍ يكتريه لينضدَ الحجارةَ فيه فانتفاعُه بملك الغير من غير إذنٍ واستحقاقٍ محالٌ وقد يَعِنُّ للمشتري أن يضع مكان الأحجار أحجاراً لنفسه فلا شك في وجوب القطع بأن المشتري لو أراد أجْبرَ البائعَ على النقل نعم إذا استوى الأمران في عدم الضرار فلا خيارَ للمشتري في فسخ البيع بسببه
Para imam mazhab telah memastikan bahwa pembeli berhak memaksa penjual untuk membersihkan tanahnya dan memindahkan batu-batu darinya, dan tidak dianggap adanya ketiadaan mudarat sebagaimana yang telah kami gambarkan, melainkan pada dasarnya pemilik berhak memaksa pihak lain untuk membersihkan miliknya. Hal yang memperjelas ini adalah bahwa manfaat yang diperoleh penjual dengan membiarkan batu-batu tersebut jelas adanya, dan mungkin saja ia perlu memindahkan batu-batu itu ke tempat lain yang harus ia sewa untuk menumpuk batu-batu tersebut di sana, sehingga manfaat yang ia peroleh dari milik orang lain tanpa izin dan hak adalah sesuatu yang mustahil. Bisa jadi pembeli ingin meletakkan batu-batu miliknya sendiri di tempat batu-batu tersebut, maka tidak diragukan lagi bahwa wajib dipastikan bahwa jika pembeli menghendaki, ia boleh memaksa penjual untuk memindahkannya. Namun, jika kedua keadaan tersebut sama-sama tidak menimbulkan mudarat, maka pembeli tidak memiliki hak untuk membatalkan jual beli karena sebab itu.
ولو كانت الأحجار تضرُّ بالأرض ولكنَّ نقْلَها ودفعَ ضررِها على القُرب واليُسر ممكن في زمانٍ لا تثبت لمثله أجرةٌ فلينقل البائعُ إذا كان كذلك ولا خيارَ للمشتري وهو بمثابة ما لو باع الرجلُ داراً ثم لحق سقفَها أَدْنى خَلل بحيث يمكن تداركُه قريباً فإذا أدركه البائعُ من غير استعمالِ عينٍ جديدة فيها من ملكه فلا خيارَ للمشتري
Jika batu-batu itu memang merugikan tanah, namun memindahkannya dan menghilangkan bahayanya dalam waktu dekat dan dengan mudah memungkinkan pada masa yang tidak lazim diberikan upah untuk pekerjaan semacam itu, maka hendaknya penjual yang memindahkannya jika demikian keadaannya, dan pembeli tidak memiliki hak khiyar. Hal ini serupa dengan seseorang yang menjual sebuah rumah, lalu atapnya mengalami kerusakan ringan yang dapat segera diperbaiki; jika penjual memperbaikinya tanpa menggunakan bahan baru dari miliknya, maka pembeli tidak memiliki hak khiyar.
ولو باع عبداً فغصبه غاصبٌ واستمكن البائعُ من استرداده على القُرب فلا خيارَ للمشتري وكذلك لو نال العبدَ مرضٌ وكان يزول بالمعالجة الناجزةِ على التحقيق فلا خيارَ للمشتري إذا سعى البائعُ في طرد ما جرى
Jika seseorang menjual seorang budak lalu budak itu dirampas oleh perampas, dan penjual mampu segera mengambilnya kembali, maka pembeli tidak memiliki hak khiyar. Demikian pula jika budak tersebut terkena penyakit yang dapat segera disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, maka pembeli tidak memiliki hak khiyar jika penjual berusaha mengatasi masalah yang terjadi.
وقد ذكر العراقيون وصاحبُ التقريب هذه المسألةَ ولا خفاءَ بها وما ذكرناه فيهِ إذا لم يكن في النقل ضررٌ أو كان ولكن هو عرضة الإزالة على قُرب وكان لا يحتاج إلى تعطيل الأرض المشتراة في مُدّةٍ لمثلها أجرةٌ
Orang-orang Irak dan penulis kitab at-Taqrīb telah menyebutkan masalah ini, dan tidak ada yang samar di dalamnya. Apa yang telah kami sebutkan berlaku jika dalam pemindahan itu tidak terdapat mudarat, atau jika ada mudarat namun mudarat itu dapat segera dihilangkan, serta tidak perlu menonaktifkan tanah yang dibeli dalam jangka waktu yang biasanya ada upah untuk waktu tersebut.
فأما إذا لم يكن ضرر راجعٌ إلى رقبةِ الأرض ولكن كان النقلُ لا يتأتى إلا بتعطيلِ منفعةِ الأرضِ في مدّةٍ لمثلها أجرةٌ فأولُ ما نذكره في ذلك أن المشتري يثبتُ له الخيار في فسخ البيع إذا لم يكن مطّلعاً على شيءٍ حالةَ العقد فلو قال البائع لا تَفسخ؛ فإني أَغْرَم لك الأجرةَ فقد ذكر صاحب التقريب في ذلك وجهين أحدهما أنه يبطل الخيار ويجب على البائع النقلُ وبذلُ أُجرةِ المثل؛ فإن إبقاءَ العقد وجَبْر حق المشتري ببذل الأجرة أَوْلى والثاني أنه على خيارهِ كما لو اطلع على عيب قديمٍ؛ فيثبت له حق الرد فلو قال البائع أنا أغرَم لك أرشَ العيب فلا ترُدّه فلا يبطل حق المشتري من الردّ وفاقاً فليكن كذلك فيما نحن فيه وإن انفصل القائل الأول عن هذا فقال الخللُ في المنافع ليس متمكِّناً من نفس المبيع بخلاف العيب الكائن به فهذا لا ينفع مع ثبوت حق الاختيار في الموضعين
Adapun jika tidak ada kerugian yang kembali kepada fisik tanah, tetapi pemindahan itu tidak dapat dilakukan kecuali dengan meniadakan manfaat tanah selama jangka waktu yang untuk jangka waktu tersebut ada nilai sewanya, maka hal pertama yang kami sebutkan dalam hal ini adalah bahwa pembeli berhak memilih untuk membatalkan jual beli jika ia tidak mengetahui hal tersebut pada saat akad. Jika penjual berkata, “Jangan batalkan; aku akan membayar kepadamu uang sewa,” maka penulis at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama, hak khiyār (pilihan) gugur dan penjual wajib melakukan pemindahan serta memberikan uang sewa yang sepadan; karena mempertahankan akad dan memenuhi hak pembeli dengan memberikan uang sewa lebih utama. Pendapat kedua, pembeli tetap memiliki hak khiyār sebagaimana jika ia mengetahui adanya cacat lama; maka ia berhak mengembalikan barang. Jika penjual berkata, “Aku akan membayar kompensasi cacat, maka jangan kembalikan barang itu,” hak pembeli untuk mengembalikan barang tidak gugur menurut kesepakatan, maka demikian pula dalam masalah yang sedang kita bahas ini. Jika pendapat pertama membedakan antara kedua kasus ini dengan mengatakan bahwa kerusakan pada manfaat tidak melekat pada barang yang dijual, berbeda dengan cacat yang ada pada barang itu sendiri, maka perbedaan ini tidak bermanfaat karena hak khiyār tetap ada pada kedua tempat tersebut.
التفريع على الأصح
Penjabaran berdasarkan pendapat yang paling sahih
وهو أن الخيار لا يسقط بما ذكرناه من بذل الأجرة فإن فسخ المشتري فلا كلام وإن أجاز العقدَ ونقل البائعُ الأحجارَ فهل يلتزم أجرةَ المثل للمدَّةِ التي تُنقل فيها فعلى ثلاثة أوجهٍ أحدُها أنه لا يلزمه؛ فإن المشتري كان قادراً على دفع هذه الظُّلامة عن نَفسه بالفسخ فإذا لم يفعل فهو الذي قَنِعَ بما يجري من حقوق هذا العقد
Yaitu bahwa khiyār tidak gugur dengan apa yang telah kami sebutkan berupa pemberian upah. Jika pembeli membatalkan (akad), maka tidak ada masalah. Namun jika ia menerima akad dan penjual memindahkan batu-batu tersebut, apakah pembeli wajib membayar upah sepadan untuk waktu pemindahan itu? Ada tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa pembeli tidak wajib membayar; sebab pembeli sebenarnya mampu menghindarkan kezaliman ini dari dirinya dengan membatalkan akad. Jika ia tidak melakukannya, berarti ia telah rela dengan segala konsekuensi hak-hak dari akad ini.
والوجه الثاني أن البائع يلتزم أجرةَ المثل؛ فإن موجَب البيع المطلق تمكينُ المشتري من منافع المبيع عَقِيب العقد؛ فإذا لم يتأتَّ ذلك لزمه في مقابلة ما امتنع من المنافع عِوضه
Pendapat kedua menyatakan bahwa penjual wajib membayar upah sewa yang sepadan; sebab konsekuensi dari jual beli secara mutlak adalah penjual harus memberikan kesempatan kepada pembeli untuk memanfaatkan barang yang dibeli segera setelah akad; maka jika hal itu tidak dapat terlaksana, penjual wajib memberikan ganti rugi atas manfaat yang tidak dapat dinikmati tersebut.
والوجه الثالث أنه إن نقلَ وعطّل المنافعَ قبل القبض لم يلتزم شيئاً وإن سلّم الأرضَ إلى المشتري ثم فعل ما ذكرناه بعد التسليم التزمَ الأجرة وهذا التفصيل يلتفت على خلافٍ يأتي في باب الخراج في أن البائع لو جنى على المبيع وعيّبه قبل القبض فالعيبُ الصادرُ من جهته كآفهٍ سماويَّةٍ؛ حتى يقالَ للمشتري الخيارُ فحسبُ أم هو كعيبٍ يلحقُ المبيعَ بسبب جنايةِ أجنبي فيه قولان سيأتي شرحُهما ولا شكّ أن البائعَ لو جنى على المبيع بعد القبضِ فهو كالأجنبي في التزام أرش النقص فتفويتُ المنافعِ عند بعض الأصحابِ ينزل منزلةَ تعييب المبيع
Alasan yang ketiga adalah bahwa jika penjual memindahkan dan meniadakan manfaat sebelum penyerahan, maka ia tidak berkewajiban apa pun. Namun, jika ia telah menyerahkan tanah kepada pembeli kemudian melakukan hal yang telah disebutkan setelah penyerahan, maka ia wajib membayar sewa. Perincian ini berkaitan dengan perbedaan pendapat yang akan dibahas dalam bab kharaj, yaitu apabila penjual melakukan tindakan yang merugikan atau merusak barang yang dijual sebelum penyerahan, apakah cacat yang timbul dari pihak penjual itu dianggap seperti cacat karena sebab alamiah, sehingga pembeli hanya memiliki hak khiyar saja, ataukah dianggap seperti cacat yang menimpa barang karena perbuatan orang lain? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang akan dijelaskan nanti. Tidak diragukan lagi bahwa jika penjual melakukan tindakan merugikan terhadap barang setelah penyerahan, maka ia seperti orang lain (pihak ketiga) dalam kewajiban membayar ganti rugi atas kekurangan tersebut. Maka, menurut sebagian ulama, meniadakan manfaat disamakan dengan merusak barang yang dijual.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كان لا يلحقُ الأرضَ من النقل عيبٌ وذَكرنا أمرَ تعطيل المنافع على التقسيم المفصَّل
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika pemindahan tersebut tidak menimbulkan cacat pada tanah, dan kami telah menyebutkan persoalan penghilangan manfaat berdasarkan pembagian yang terperinci.
فأما إذا كان ينال الأرضَ عيبٌ والغالِبُ أن ذلك يُتصوَّر في الأرض المغروسةِ؛ فإنها إذا كانت بيضاءَ فغايةُ ما يُرتقبُ منها أن يحدث فيها حفائر وطمُّها وردُّ التراب إليها ممكنٌ فإذا كان كذلك كَلَّف المشتري البائعَ النقلَ ثم البائعُ يطمُّ الحُفَرَ ويرد الترابَ إليها ولا خلاف أن ذلك واجبٌ على البائع ثم يعود النظر في تعطل المنافعِ وتطاول المدة وقِصرها وقد مضى ما يتعلق بأمر المنافع والأجرة
Adapun jika tanah tersebut mengalami cacat, yang umumnya hal ini terjadi pada tanah yang ditanami; maka jika tanah itu berupa tanah kosong, kemungkinan terbesar yang dapat terjadi padanya adalah munculnya lubang-lubang, dan menimbun lubang-lubang tersebut serta mengembalikan tanah ke tempatnya adalah hal yang mungkin dilakukan. Jika demikian keadaannya, pembeli dapat membebankan kepada penjual untuk memindahkan (tanaman atau benda lain), kemudian penjual menimbun lubang-lubang tersebut dan mengembalikan tanah ke tempatnya. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa hal itu wajib dilakukan oleh penjual. Selanjutnya, perlu diperhatikan mengenai terhentinya manfaat dan lamanya waktu atau singkatnya, dan telah dijelaskan sebelumnya hal-hal yang berkaitan dengan manfaat dan upah.
والذي نستقصيه الآن حديثُ طمّ الحُفَر أجمع الأئمة على إيجاب ذلك على البائع؛ فإنه ممكن وسنذكر في كتاب الغصوب إن شاء الله عز وجل أن من غصب أرضاً وحفر فيها حفائرَ فيلزَمُه طمُّها وتَسويتُها
Yang kami teliti sekarang adalah hadis tentang menimbun lubang-lubang; para imam telah berijma‘ atas kewajiban hal itu bagi penjual, karena hal itu memungkinkan. Kami akan sebutkan dalam Kitab Ghashab, insya Allah ‘Azza wa Jalla, bahwa siapa yang merampas tanah lalu menggali lubang-lubang di dalamnya, maka wajib baginya menimbunnya dan meratakannya.
فإن قيلَ من اعتدى فهدم جدارَ إنسانٍ فالواجب عليه أرشُ النقص ولم يلزمه إعادةُ ذلك البناء كما كان وإن أمكن هذا فما الفرقُ بين احتفار الحفائر وبين هدْمِ البنيان قُلنا طمُّ الحفيرَةِ لا تفاوُتَ فيه فقَرُب إلزامُه والتزامُه وهدْم الجدارِ يتضمن إبطالَ صفةِ البناءِ وليست تلك الصفةُ من حكم ذَوات الأمثال؛ فإن هيئات الأبنية تتفاوتُ وما كان كذلك فهو مشبه بذوات القِيَم فتجب مقابلةُ التفويت فيه بالقيمة وهو أَرْشُ النقصِ وطمُّ الحفرِ يضاهي مقابلةَ المثليِّ بالمثلي فالصفات المضمونة تنقسم انقسام المتلفات فما يضاهي المثليات يجب في تفويته الإتيانُ بمثل ما فوّت كما ذكرناه من ردم الحفائر وطمِّها
Jika dikatakan: Seseorang yang melampaui batas lalu merobohkan dinding milik orang lain, maka yang wajib atasnya adalah membayar ganti rugi atas kekurangan tersebut dan tidak wajib baginya untuk membangun kembali dinding itu seperti semula, meskipun hal itu memungkinkan. Lalu, apa perbedaan antara menggali lubang dengan merobohkan bangunan? Kami katakan: Menutup lubang tidak ada perbedaan di dalamnya, sehingga mudah untuk mewajibkan dan melaksanakannya. Sedangkan merobohkan dinding mengakibatkan hilangnya bentuk bangunan, dan bentuk tersebut bukan termasuk hukum benda-benda yang memiliki padanan; karena bentuk-bentuk bangunan itu berbeda-beda, dan sesuatu yang demikian itu serupa dengan benda-benda yang bernilai (bukan benda yang memiliki padanan), sehingga pengganti atas kerusakannya adalah dengan nilai, yaitu ganti rugi atas kekurangan. Adapun menutup lubang serupa dengan mengganti benda yang memiliki padanan dengan padanannya. Maka sifat-sifat yang dijamin itu terbagi sebagaimana pembagian barang yang rusak; apa yang serupa dengan benda yang memiliki padanan, maka jika dirusakkan wajib menggantinya dengan yang sepadan, seperti yang telah kami sebutkan tentang menimbun dan menutup lubang.
ونقول لو رفع إنسانٌ لبنة من رأس جدارٍ وأمكنَ ردُّه فنقول من غير تَخيُّل اختلاف في الكيفية والهيئة فهذا بمثابةِ طمّ البئر وردم الحفر ثم إذا ثبت وجوبُ الطمّ وقُرْبُ زمان الإمكان فلا خيارَ؛ فإن الاحتفارَ إن أورث نقصاً فهو مما يمكن تَداركُه قريباً وقد ضربنا لذلك الأمثلةَ في صَدْر الفصل
Kami katakan, jika seseorang mengangkat sebuah batu bata dari puncak sebuah dinding dan memungkinkan untuk mengembalikannya, maka kami katakan, tanpa membayangkan adanya perbedaan dalam cara dan bentuknya, hal ini serupa dengan menimbun sumur atau menutup lubang. Kemudian, jika telah tetap kewajiban untuk menimbun dan waktu memungkinkan itu sudah dekat, maka tidak ada pilihan; sebab, jika penggalian itu menimbulkan kekurangan, hal itu masih dapat segera diperbaiki. Kami telah memberikan contoh-contohnya pada awal bab ini.
فأما إذا كانت الأرض مغروسة ففيها تزدحم الأقسام فإن لم يكن في تَبْقيةِ الأحجارِ ضررٌ وفي نقلها فالأمر كما مضى حرفاً حرفاً
Adapun jika tanah tersebut ditanami, maka di dalamnya terdapat pembagian-pembagian yang saling bertumpuk. Jika tidak ada mudarat dalam membiarkan batu-batu itu tetap di tempatnya maupun dalam memindahkannya, maka hukumnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sama persis.
وإن كان القلع والنقلُ يضرّ بالغراس ولو تُركت الأحجارُ لم يَضُرّ تركُها بالغِراس بأن كانت معمقةً لا تنتهي إليها عروقُ الأشجار ولو اقتُلِعت تضررت الأشجار فإن آثر البائعُ النقلَ فلا شك أن له ذلك فإنه ناقلٌ عينَ ملكه وليس لقائلٍ أن يقول يمتنع عليه النقلُ وفاء بموجَب البيع وقياماً بتسليم الأرضِ والأشجارِ له ولكن إذا نقلَ وعيَّبَ فللمشتري الخيارُ في فسخ البيع
Jika pencabutan dan pemindahan (batu) dapat merugikan tanaman, sedangkan jika batu-batu itu dibiarkan tidak akan membahayakan tanaman—misalnya batu-batu itu tertanam dalam sehingga akar-akar pohon tidak sampai kepadanya, dan jika dicabut justru akan merusak pohon-pohon tersebut—maka jika penjual lebih memilih untuk memindahkan batu-batu itu, tidak diragukan lagi bahwa ia berhak melakukannya, karena ia memindahkan barang miliknya sendiri. Tidak ada yang berhak mengatakan bahwa ia dilarang memindahkan batu-batu itu demi memenuhi konsekuensi akad jual beli dan demi menyerahkan tanah beserta pohon-pohonnya kepada pembeli. Akan tetapi, jika ia memindahkan batu-batu itu lalu menyebabkan kerusakan, maka pembeli berhak memilih untuk membatalkan akad jual beli.
والمسألة في أطرافِها مفروضةٌ في جهل المشتري بحقيقةِ الحالِ
Permasalahan ini pada intinya diasumsikan terjadi ketika pembeli tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.
فلو قال البائع لا أنقل الأحجارَ وأتركُها في الأرضِ؛ حتى لا يَعِيبَ الغِراسُ بالقلعِ ولا ضِرارَ بالترك فقد أجمع الأئمةُ في طُرقهم على أن خيارَ المشتري يبطل والحجارةُ يتركها البائع وكأن للشَّرع صَغْواً وميلاً إلى إبقاءِ العقد إذا أمكنَ مع دفْع الضرارِ عن المشتري وهذا مشبهٌ بمسألةٍ سَنُوردها في باب الخَراج وهي أن الرجل إذا اشترى دابةً وأنْعَلَها ثم اطَّلع منها على عيب قديمٍ ولو اقتلع النَّعْلَ لحدثَ بذلك السبب عيبٌ حادثٌ يمنعُ من الردّ بالعيب القديم فلو قال تركتُ النعل فلا أرجعُ فيه وقصْدُه استبقاءَ حقه من الرَّدّ قال الأئمة له ذلك والبائع المردود عليه مُجبرٌ على القبول وهذه المسألةُ مقصودُها استبقاءُ حق الردّ وقولُنا في استبقاء العقد حتى لا يُفرضَ طريانُ سبب يُسلِّط على نقضه وفسخه والمعاني هي المتبعة
Jika penjual berkata, “Saya tidak akan memindahkan batu-batu itu dan akan membiarkannya di tanah, agar tanaman tidak rusak karena pencabutan dan tidak ada mudarat karena dibiarkan,” maka para imam telah sepakat dalam berbagai jalur pendapat mereka bahwa hak khiyar pembeli gugur dan batu-batu itu dibiarkan oleh penjual. Seolah-olah syariat condong dan cenderung untuk mempertahankan akad jika memungkinkan, dengan tetap menghilangkan mudarat dari pembeli. Hal ini mirip dengan permasalahan yang akan kami sebutkan dalam bab kharaj, yaitu jika seseorang membeli seekor hewan lalu memasangkan tapal kuda padanya, kemudian ia menemukan cacat lama pada hewan itu. Jika ia mencabut tapal kuda tersebut, maka akan timbul cacat baru yang menghalangi hak pengembalian karena cacat lama. Jika ia berkata, “Saya biarkan saja tapal kudanya dan tidak akan mengambilnya kembali,” dengan maksud mempertahankan haknya untuk mengembalikan, maka para imam berkata, “Ia boleh melakukan itu dan penjual yang barangnya dikembalikan wajib menerima.” Permasalahan ini bertujuan untuk mempertahankan hak pengembalian, sedangkan maksud kami dalam mempertahankan akad adalah agar tidak muncul sebab yang membolehkan pembatalan dan pemutusan akad, dan makna-makna inilah yang menjadi pegangan.
ثم قالَ الأئمةُ في مسألة النَّعْل وتَرْكِ الأحجارِ ما يتركه التارك في المسألتين يملكه المتروك عليه أم لا فعَلَى وجهين أحدهما أنهُ لا يملِكه؛ فإن الغرضَ ألاّ يحدثَ عيبٌ وهذا لا يستدعي إثباتَ ملك والوجه الثاني أن المتروكَ عليه يملك ما أُجبر على قبوله وهذا هو الذي يسدّ مسدَّ حقِّه الساقط بسبب الترك فالحقوق لا تقابل إلا بأعواضٍ مملوكةٍ
Kemudian para imam berkata dalam masalah sandal dan meninggalkan batu, apakah sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang meninggalkan dalam dua masalah tersebut menjadi milik orang yang ditinggali atau tidak, terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, ia tidak memilikinya; karena tujuannya adalah agar tidak timbul cacat, dan hal ini tidak menuntut penetapan kepemilikan. Pendapat kedua, bahwa orang yang ditinggali memiliki apa yang ia dipaksa untuk menerimanya, dan inilah yang menggantikan haknya yang gugur karena penelantaran, sebab hak-hak tidak dapat digantikan kecuali dengan kompensasi yang dimiliki.
فإن قُلنا يثبت الملكُ في المتروك فأثرهُ ظاهر ويتصرّفُ المتروك عليه في المتروكِ تصرف المُلاك ولا يرجع التارك إليه قط
Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan tetap ada pada barang yang ditinggalkan, maka dampaknya jelas: orang yang barangnya ditinggalkan dapat memperlakukan barang tersebut seperti para pemilik, dan orang yang telah meninggalkannya tidak dapat kembali mengambilnya sama sekali.
وإن حكمنا بأن المتروك عليهِ لا يَملك المتروكَ فلا خلافَ أن البائع يلزمه الوفاءُ بالترك حتى لو قال بعد الترك أقلع وأقنع بأن يُرَدّ عليَّ المبيع فلا يبالَى به نعم لو جرت حالةٌ يزول فيها المعنى المقتضي للتركِ فتلك الأعيان مردودة إذ ذاك على المالكِ التاركِ كما أن النَّعلَ لو استحق يزالُ وإن سقَط رجع فيهِ الراد وكذا القول في الأحجار
Jika kita memutuskan bahwa pihak yang ditinggali (yang menerima barang yang ditinggalkan) tidak memiliki kepemilikan atas barang yang ditinggalkan, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa penjual wajib memenuhi kewajiban untuk meninggalkan barang tersebut. Sehingga, jika setelah meninggalkan barang itu penjual berkata, “Ambil kembali dan aku rela barang yang dijual dikembalikan kepadaku,” maka hal itu tidak dianggap. Namun, jika terjadi suatu keadaan yang menyebabkan hilangnya alasan yang mewajibkan untuk meninggalkan barang tersebut, maka barang-barang itu dikembalikan kepada pemilik yang telah meninggalkannya. Sebagaimana sandal, jika ternyata ada pihak lain yang berhak atasnya, maka sandal itu harus dihilangkan, dan jika sandal itu jatuh, maka orang yang mengembalikannya dapat mengambilnya kembali. Demikian pula halnya dengan batu-batu.
ولو انقلع الغِراس أو قلعه المشتري قصداً وزال ما كنا نُحاذره من الضرار فيعود حق التاركِ
Jika tanaman itu tercabut atau dicabut oleh pembeli dengan sengaja, dan hilanglah hal yang dahulu kita khawatirkan berupa mudarat, maka hak orang yang meninggalkan (tanah) itu kembali.
وتمام البيان في ذلك أن هبة الأحجار إن كانت ممكنةً على الصحة فوهب البائع الأحجار وقبلَ الهبةَ المشتري واستجمعت الهبةُ شرطَ الصحة فالوجهُ القطع بحصولِ الملك والمنعُ من الرجوع في الهبة التي لا رجوعَ في مثلِها فأما إذا كانت الأحجار لا تصح هبتُها على قولٍ وقد جرت الهبة كما وصفناها فمِن أصحابنا من صححها للضرورة وتحصيلِ استبقاء العقد ومنهم من لم يُصحّحها
Penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa jika hibah atas batu-batu itu memungkinkan untuk sah, lalu penjual menghibahkan batu-batu tersebut dan pembeli menerima hibah itu, serta hibah tersebut telah memenuhi syarat-syarat kesahihan, maka pendapat yang kuat adalah terjadinya kepemilikan dan larangan untuk menarik kembali hibah yang memang tidak boleh ditarik kembali. Adapun jika batu-batu tersebut tidak sah untuk dihibahkan menurut salah satu pendapat, namun hibah tetap dilakukan sebagaimana telah dijelaskan, maka sebagian ulama kami menganggapnya sah karena adanya kebutuhan dan untuk menjaga keberlangsungan akad, sementara sebagian lainnya tidak mengesahkannya.
ولو لم تجرِ هبةٌ على شرطها في الإيجاب والقبُول ولكن قال تركتُ الأحجارَ فمن أصحابنا من قال لا حكم لهذا القول وإليه صَغْوُ الصيدلاني في كتابه ومن أصحابنا من قال هذا القول كافٍ ويجب على البائعِ المتلفظِ به الوفاءُ بموجَبه وقد ذكر ذلك طوائفُ من أئمتنا
Jika hibah tidak dilakukan sesuai dengan syarat-syaratnya dalam ijab dan kabul, namun seseorang berkata, “Aku tinggalkan batu-batu ini,” maka sebagian ulama kami berpendapat bahwa ucapan ini tidak memiliki konsekuensi hukum, dan pendapat ini cenderung diikuti oleh As-Sayidilani dalam kitabnya. Namun, sebagian ulama kami yang lain berpendapat bahwa ucapan ini sudah cukup dan penjual yang mengucapkannya wajib memenuhi konsekuensi dari ucapannya tersebut, dan hal ini juga telah disebutkan oleh sejumlah imam kami.
فتنخَّل من مجموع ما ذكرناه أنه لو قال تركت الأحجارَ فمن أئمتنا من لم يُقم لذلك وزناً ولم يُثبت له حكماً ومنهم من صححه ثم من صحَّحه اختلفوا في أن الملك هل يحصل قهرياً أم لا وإن جرت هبةٌ لا يصح مثلُها مفردةً ففي صحتها الآن وجهان مرتبان على لفظِ التركِ وهي أَوْلى بالصحَّةِ فإنها على حالٍ عقدٌ تُصحّحُهُ الضرورةُ ثم في إفادته المِلكَ إن صحَّحناه وجهانِ مرتبان على ما ذكرناه في التركِ والملك أوْلى بالحصول في هذه الصُّورَة وكأنَّ الضرورة رفعت شرطاً معتبراً في حالة الاختيار
Maka dapat disimpulkan dari keseluruhan yang telah kami sebutkan bahwa jika seseorang berkata, “Aku telah meninggalkan batu-batu ini,” maka di antara para imam kami ada yang tidak menganggap hal itu penting dan tidak menetapkan hukum apapun atasnya, dan ada pula di antara mereka yang membenarkannya. Kemudian, di antara yang membenarkan, mereka berbeda pendapat apakah kepemilikan terjadi secara otomatis atau tidak. Jika terjadi hibah yang tidak sah jika dilakukan secara terpisah, maka dalam keabsahannya saat ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada lafaz “meninggalkan”, dan pendapat yang membolehkan lebih utama, karena dalam keadaan ini merupakan akad yang dibenarkan oleh keadaan darurat. Kemudian, dalam hal pemberian kepemilikan jika kita membenarkannya, terdapat dua pendapat yang didasarkan pada apa yang telah kami sebutkan tentang “meninggalkan” dan kepemilikan, dan kepemilikan lebih utama untuk terjadi dalam kasus ini. Seolah-olah keadaan darurat telah menggugurkan syarat yang dianggap penting dalam keadaan biasa.
وإن جرت الهبةُ على شرط الصحة فالمذهب أنها تُفيد الملك وذهب بعضُ أصحابنا إلى ذكر الخلافِ في إفادة الملك أيضاًً من جهة صَدَر الهبة عن حاملٍ عليها وليست كالهبة الصادرةِ عن اختيارٍ مجرد
Jika hibah dilakukan dengan syarat sah, menurut mazhab, hibah tersebut memberikan kepemilikan. Namun, sebagian ulama kami menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai apakah hibah itu juga memberikan kepemilikan, karena hibah tersebut berasal dari orang yang terpaksa melakukannya, dan tidak sama dengan hibah yang diberikan secara murni atas dasar pilihan sendiri.
فهذا مجموع القول فيه إذا كان النقلُ والقلع مضرّاً وقد ترك البائعُ الأحجارَ على المشتري
Maka inilah rangkuman pendapat dalam masalah ini: jika pemindahan dan pencabutan itu menimbulkan mudarat, sedangkan penjual telah meninggalkan batu-batu tersebut untuk pembeli.
فأما إذا أبى إلا القلعَ فله ذلك وللمشتري الخيارُ فإن فسخ فذاكَ وإن أجاز وأحدث القلعُ النقصَ فهل يغرَم البائعُ أرشَ النقصِ قال صاحب التقريب فيه الأوجه الثلاثة التي ذكرناها في الأجرة للمدة التي يتعطل فيها المنافع بسبب الاشتغال بالنقل أحدُها أنه لا يغرَمُ؛ فإن المشتري بترك الخيارِ راضٍ بما يجري من النقص والوجه الثاني أن البائع يغرَم أرشَ النقصِ وفاءً بتسليم المبيع والوجه الثالث أنه يفصل بين ما قبل القبض وما بعده كما ذكرناه في الأجرة
Adapun jika penjual bersikeras untuk mencabut (tanaman atau bangunan), maka ia berhak melakukannya dan pembeli memiliki hak khiyar (memilih). Jika ia membatalkan (akad), maka itu sah, dan jika ia menerima dan pencabutan tersebut menimbulkan kekurangan (pada barang), maka apakah penjual wajib mengganti kerugian (arsh) atas kekurangan tersebut? Penulis kitab at-Taqrib menyebutkan ada tiga pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan terkait upah untuk masa di mana manfaat barang terhenti karena sibuk dengan pemindahan. Pendapat pertama, penjual tidak wajib mengganti kerugian, karena pembeli dengan tidak menggunakan hak khiyarnya berarti telah rela dengan kekurangan yang terjadi. Pendapat kedua, penjual wajib mengganti kerugian (arsh) sebagai bentuk pemenuhan penyerahan barang yang dijual. Pendapat ketiga, dibedakan antara sebelum dan sesudah serah terima barang, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah upah.
وابتناءُ هذا على جناية البائع على المبيع بيّن كما تقدَّم
Hal ini didasarkan pada kesalahan penjual terhadap barang yang dijual, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وهذه فصول نرسلها وسنذكر بعدَ نجازها ضابطاً لمجال النظر في هذه المسألة منبهاً على المقصود إن شاء الله تعالى
Berikut ini adalah beberapa bagian yang kami sampaikan, dan setelah selesai kami akan menyebutkan kaidah tentang ruang lingkup kajian dalam masalah ini, seraya menunjukkan maksud yang dimaksudkan, insya Allah Ta‘ala.
ولو كان القلع لا يضر والترك يضر يُجبر البائعُ على النقل ولا خيارَ للمشتري إلا أن يقتضيَ النقلُ تعطيلَ المنافعِ؛ فإذ ذاك يثبت الخيارُ وينعكس الأمر على التفاصيل المقدمة في الأجرة عند اختيارِ الإجازةِ
Jika pencabutan tidak menimbulkan mudarat dan membiarkan barang tetap di tempatnya justru menimbulkan mudarat, maka penjual diwajibkan untuk memindahkan barang tersebut dan pembeli tidak memiliki hak khiyar, kecuali jika pemindahan itu menyebabkan terhalangnya manfaat; maka pada saat itu hak khiyar menjadi tetap, dan permasalahan kembali kepada rincian yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai upah ketika memilih untuk mengizinkan.
ولو كان القلْع والترك جميعاً مضرَّين فلا شك في ثبوت الخيار لتحقق الضِّرار من كل وجه ولكن إن فسخ المشتري فذاك وإن أجاز وكُلِّف البائعُ النقلَ لزمه النقل وهل يلزمه أرشُ النقص فعلى الأوجُه الثلاثة التي ذكرناها
Jika pencabutan dan pembiaran keduanya sama-sama menimbulkan mudarat, maka tidak diragukan lagi adanya hak khiyar karena kerugian telah terjadi dari segala sisi. Namun, jika pembeli membatalkan (akad), maka itu sah. Jika ia menerima dan penjual dibebani kewajiban memindahkan, maka penjual wajib memindahkan. Apakah penjual juga wajib membayar kompensasi atas kekurangan, maka hal itu mengikuti tiga pendapat yang telah kami sebutkan.
فرع
Cabang
إذا اشترى أرضاً بيضاءَ وغرسَها ثم اطّلع على أحجارٍ مدفونة فيها منعت عروقَ الأشجار من الانتشار فهذا ضررٌ لحق الأشجارَ التي ابتدأ المشتري غرسَها فهل يثبتُ له الخيار فعلى وجهين أحدُهما يثبت؛ فإن الضِّرار الذي بدا من آثار ما قدَّمه البائع من إيداع الأحجار فرجع الضررُ إلى معنى قديم
Jika seseorang membeli sebidang tanah kosong lalu menanaminya, kemudian ia menemukan batu-batu yang terkubur di dalamnya sehingga akar-akar pohon terhalang untuk tumbuh, maka ini adalah kerugian yang menimpa pohon-pohon yang baru saja ditanam oleh pembeli. Apakah dalam hal ini pembeli berhak mendapatkan hak khiyar? Ada dua pendapat; salah satunya menyatakan hak khiyar itu tetap ada, karena kerugian tersebut berasal dari akibat perbuatan penjual sebelumnya, yaitu menanamkan batu-batu itu, sehingga kerugian itu kembali kepada sebab yang telah lama ada.
ومن أصحابنا من قال لا خيار؛ فإنه لولا ابتداءُ الغرسِ لما ظهر ما ظهر من الضررِ وليس من شرط المبيع أن يصلح لكل جهةٍ من الانتفاع والبائع لم يلتزم بموجَب العقد إلا السلامةَ الناجزةَ في المبيع فأما تكليفه تحصيلَ كل غَرضٍ ممكن في جنس المبيع فبعيد
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tidak ada hak khiyar; sebab, kalau bukan karena penanaman awal, tidak akan tampak kerugian yang muncul itu, dan bukan merupakan syarat barang yang dijual harus cocok untuk setiap jenis pemanfaatan. Penjual pun tidak berkewajiban menurut konsekuensi akad kecuali memberikan keselamatan yang nyata pada barang yang dijual. Adapun membebani penjual untuk memenuhi setiap tujuan yang mungkin dari jenis barang yang dijual, itu adalah hal yang jauh dari keharusan.
وقد نجزت مسائلُ الفصل وهي مشتملة على أمورٍ بيّنَةٍ وفي خَلَلها إشكالٌ في مواضعَ ومهما كان الفصل على هذا النّعْتِ فتمامُ الغرض في البيان يحصلُ بإرسالِ المسائلِ مقررةً والتنبيهُ بعد نجازِها على مواقع الإشكال حتى تكون ماثلة في النظر يصادفُها الناظر مميزاً مفصلاً
Masalah-masalah dalam bab ini telah diselesaikan, yang mencakup hal-hal yang jelas, namun di dalamnya terdapat kerumitan pada beberapa tempat. Selama bab ini disusun dengan sifat seperti ini, maka tujuan penjelasan akan tercapai dengan menyampaikan masalah-masalah yang telah dirumuskan, lalu memberikan penjelasan setelah selesai mengenai letak-letak kerumitan tersebut, agar tetap hadir dalam perhatian sehingga orang yang menelaahnya dapat menemukannya dengan jelas dan terperinci.
فأقول مهما فُرض ضِرارٌ لا يندفع فلا شك في ثبوت الخيار بشرط ألا يكون المشتري مطلعاً على حقيقة الحال حالة العقد
Maka aku katakan, kapan pun terdapat mudarat yang tidak dapat dihilangkan, maka tidak diragukan lagi adanya hak khiyar, dengan syarat pembeli tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya pada saat akad.
فإن كان مطَّلعاً فلا خيار وليس على البائع جُبرانُ نقصٍ في هذا القسم وإن كان جاهلاً فالخيار ثابت ولا يخفى حكم الفسخ فإن أجاز وأراد أن يُلزم البائعَ أرشَ النقص فهذا ينقسم قسمين أحدهما أن يتمكن البائعُ من دفع الضرر بترك الحجرِ والآخر ألا يتمكنَ وذلك بأن يُفرض لُحُوقُ الضررِ تُرِكَ الحجرُ أو نُقل فإن لم يكن للضَّرر مَدفعٌ ففي وجوب أرش النقص الأوجه
Jika pembeli mengetahui (keadaan barang), maka tidak ada hak khiyar baginya dan penjual tidak wajib mengganti kekurangan pada bagian ini. Namun jika pembeli tidak mengetahui, maka hak khiyar tetap ada, dan hukum pembatalan (akad) pun sudah jelas. Jika pembeli memilih untuk melanjutkan akad dan ingin mewajibkan penjual membayar kompensasi atas kekurangan, maka hal ini terbagi menjadi dua keadaan: pertama, penjual mampu menghilangkan kerugian dengan meninggalkan batu (yang menempel pada barang), dan kedua, penjual tidak mampu melakukannya, yaitu jika diperkirakan kerugian tetap ada meskipun batu tersebut ditinggalkan atau dipindahkan. Jika tidak ada cara untuk menghilangkan kerugian, maka dalam hal kewajiban membayar kompensasi atas kekurangan terdapat beberapa pendapat.
وسبب الخلافِ تقابلُ الظنونِ؛ من جهة أن المشتري يجد خلاصاً بالفسخ فإذا لم يفسخ احتمل أن يكون ذلك كاطَّلاعه على حقيقة الحال حالةَ العقد واحتُمل أن يقال النقصُ ظهر بعد العقدِ بفعل ينشئه البائع إما قبل القبض وإما بعدهُ؛ إذ النقصُ وإن استَنَد إلى سبب متقدَّمٍ فهو حادث وهذا يلتفتُ على قتل العبد المرتد في يد المشتري على ما سيأتي في باب الخراج ومخْرَجُ الفصل بين ما قبل القبضِ وبعد القبضِ بيّن كما مضى
Penyebab perbedaan pendapat adalah karena adanya pertentangan dugaan; dari satu sisi, pembeli dapat menemukan jalan keluar dengan membatalkan akad, sehingga jika ia tidak membatalkan, mungkin saja hal itu karena ia telah mengetahui keadaan sebenarnya saat akad berlangsung. Namun, bisa juga dikatakan bahwa cacat tersebut muncul setelah akad karena suatu perbuatan yang dilakukan oleh penjual, baik sebelum penyerahan barang maupun setelahnya; sebab meskipun cacat itu bersumber dari sebab yang telah ada sebelumnya, ia tetap dianggap sebagai sesuatu yang baru terjadi. Hal ini berkaitan dengan kasus pembunuhan budak murtad di tangan pembeli, sebagaimana akan dijelaskan dalam bab al-kharāj. Perbedaan antara sebelum penyerahan dan sesudah penyerahan sangat jelas, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فأما إذا كان يجد البائعُ سبيلاً في دفع الضرر بترك الحجر فلا يلزمه أن يترك ولكن لو نقلَ وظهرَ الضررُ فمن أصحابنا من قال في تغريم البائعِ ما تقدم من الخلاف ومنهم من يقطعُ بتغريمه في هذا القسم بوجهٍ يُجبَر المشتري عليه وهو تركُ الحجرِ
Adapun jika penjual menemukan cara untuk menghindari bahaya dengan meninggalkan batu, maka ia tidak wajib meninggalkannya. Namun, jika ia memindahkan dan ternyata menimbulkan bahaya, sebagian ulama kami berpendapat dalam hal mewajibkan ganti rugi kepada penjual sebagaimana pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, dan sebagian dari mereka secara tegas mewajibkan ganti rugi dalam bagian ini dengan cara yang memaksa pembeli untuk menerimanya, yaitu dengan meninggalkan batu tersebut.
ثم ينتظم على هذا تعطُّلُ المنافعِ من غير نقصٍ في رقبة المبيع وقد ذكرُوا الخلافَ في الأجرة فالوجه ترتيبها والفَرق لائح؛ فإن المنافعَ ليست معقوداًْ عليها ولو قيل القدرُ الذي يُفرِّغ البائعُ فيه المبيعَ غيرُ داخلٍ في استحقاق المشتري لم يكن بعيداً والمبيع كله مستَحق للمشتري بأجزائهِ وصفاته
Kemudian, berdasarkan hal ini, terjadilah hilangnya manfaat tanpa adanya kekurangan pada zat barang yang dijual. Mereka telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai upah, maka yang tepat adalah menatanya, dan perbedaannya jelas; sebab manfaat bukanlah sesuatu yang menjadi objek akad. Andaikan dikatakan bahwa kadar waktu di mana penjual mengosongkan barang yang dijual tidak termasuk dalam hak pembeli, itu tidaklah jauh (dari kebenaran), dan seluruh barang yang dijual itu menjadi hak pembeli beserta seluruh bagian dan sifat-sifatnya.
فهذا مجالُ الإشكال في مسائل الفصل ميزَّناه وزدنا في تقريره حتى لا يبقى متشتتاً في المسائل وقد نجز الفصل ولله الحمد بالغاً في البيان
Inilah ruang terjadinya permasalahan dalam isu-isu bab ini yang telah kami bedakan dan kami tambahkan penjelasannya agar tidak tercecer dalam berbagai permasalahan, dan kini bab ini telah selesai, segala puji bagi Allah, dengan penjelasan yang memadai.
Bab waktu dibolehkannya jual beli buah-buahan dan pengembalian kerugian (al-jā’ihah) secara langsung
قال الشافعي أخبرنا مالك عن حُميدٍ عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الثِمار حتى تُزهي قيل يا رسول الله وما تُزهي قال حتى تحمرَّ أو تصفرَّ إلى آخره
Syafi‘i berkata: Malik telah memberitakan kepada kami dari Humayd dari Anas bahwa Rasulullah saw. melarang menjual buah-buahan sebelum tampak matang. Dikatakan, “Wahai Rasulullah, apa maksud tampak matang itu?” Beliau bersabda, “Sampai buah itu memerah atau menguning,” dan seterusnya.
هذا الباب معقود لبيان بيعِ الثمارِ والزروعِ وهو مصدَّر بذكر ما يشترط في صحَّةِ بيعه القطعُ وما لا يشترط فيه ذلك ونحن نبدأ بذكر الثمار ثم ننعطف على الزروع
Bab ini disusun untuk menjelaskan tentang jual beli buah-buahan dan tanaman, yang diawali dengan penjelasan mengenai syarat sah jual belinya yang mewajibkan pemotongan (panen) dan yang tidak mewajibkan hal itu. Kami akan memulai dengan penjelasan tentang buah-buahan, kemudian berlanjut pada tanaman.
فمن باع ثمرة على الشجرة لم تخل الثمرة إما أن تكون مُزْهية بدا الصلاحُ فيها وإما ألا تكون كذلك فإن لم تكن مزهية فلا يجوز بيعُها بشرط التَّبْقية ولو بيعت مطلقة فالبيع في الإطلاقِ محمولٌ عند الشافعي على شرط التبقية وعَقْد المذهب أن العادةَ جاريةٌ بتبقية الثمار والعقود المطلقةُ منزلةٌ على حكم العادة المقترنة بها ومقتضى العادة المطردة إذا اقترنَ بالعقد نزل منزلة الشرطِ المصرّحِ به وعلى هذا بنينا تنزيلَ الدراهمِ المرسلةِ في العقدِ على النقد الغالبِ في العادة؛ حتى نقول لو اضطربت العاداتُ في العقودِ فإطلاق الدراهمِ فاسد والعقد باطل وعلى هذا الأصل لم نحوج المتكارِيين إلى ذكر المنازِل وتفصيل كيفيَّة الإجراء
Maka, apabila seseorang menjual buah di atas pohon, buah tersebut tidak lepas dari dua keadaan: bisa jadi buah itu sudah tampak matang (muzhiyah) dan telah tampak tanda-tanda baiknya (bada ash-shalah), atau belum demikian. Jika buah itu belum matang, maka tidak boleh menjualnya dengan syarat tetap dibiarkan di pohon. Dan jika dijual secara mutlak (tanpa syarat), maka menurut Imam Syafi’i, penjualan secara mutlak itu dianggap mengandung syarat tetap dibiarkan di pohon. Prinsip mazhab adalah bahwa kebiasaan yang berlaku adalah buah-buahan tetap dibiarkan di pohon, dan akad-akad yang dilakukan secara mutlak disesuaikan dengan hukum kebiasaan yang menyertainya. Konsekuensi dari kebiasaan yang terus-menerus, jika terkait dengan akad, maka kedudukannya sama dengan syarat yang dinyatakan secara eksplisit. Berdasarkan hal ini, kami menetapkan bahwa uang (dinar/dirham) yang disebutkan secara umum dalam akad, diarahkan kepada mata uang yang paling umum digunakan dalam kebiasaan; sehingga kami katakan, jika kebiasaan dalam akad tidak menentu, maka penyebutan uang secara mutlak menjadi cacat dan akadnya batal. Berdasarkan prinsip ini pula, kami tidak mewajibkan para penyewa untuk menyebutkan tempat tinggal dan merinci tata cara pelaksanaan sewanya.
وكلّ ما يتَّضح فيهِ اطرادُ العادة فهو المحكَّم ومضمرُه كالمذكور صريحاً وكل ما تتعارض الظنونُ بعضَ التعارضِ في حكم العادة فيه فهو مثارُ الخلافِ وسبَبُه
Segala sesuatu yang tampak jelas padanya keteraturan ‘urf (kebiasaan) maka itulah yang dijadikan patokan, dan yang tersirat di dalamnya diperlakukan seperti yang disebutkan secara eksplisit. Adapun segala sesuatu yang prasangka-prasangka saling bertentangan sebagian dalam hukum ‘urf padanya, maka itulah sumber perbedaan pendapat dan penyebabnya.
وألحق القفالُ بما ذكرناه أمراً آخر فقال إذا عم في الناس اعتقادُ إباحةِ منافعِ الرهن للمرتهن فاطراد العادة فيه بمثابة شرطِ عقدٍ في عقد ويلزم منه الحكمُ بفساد الرهن وقد يجري ذلك في أغراضٍ في القروض لو ذكرت لفسَدَت القروض بها
Al-Qaffal menambahkan hal lain terhadap apa yang telah kami sebutkan, yaitu apabila telah tersebar di tengah masyarakat keyakinan tentang bolehnya pemanfaatan barang gadai oleh penerima gadai, dan kebiasaan tersebut telah menjadi seperti syarat dalam akad, maka hal itu mengharuskan hukum rusaknya akad gadai. Hal serupa juga dapat terjadi pada tujuan-tujuan tertentu dalam pinjaman; jika tujuan-tujuan tersebut disebutkan, maka pinjaman itu menjadi rusak karenanya.
والقفال يجعل اطرادَ العرفِ بمثابةِ الشرطِ ولم يُساعده كثيرٌ من أصحابنا وقالوا الرهنُ يصحُّ إذا لم يُشرط فيه شيء وكذلك ما في معناه وسنذكر الضبطَ في محل الخلاف والوِفاق إن شاء اللهُ تعالى
Al-Qaffal menganggap konsistensi ‘urf (kebiasaan) sebagai setara dengan syarat, namun banyak dari ulama kami tidak sependapat dengannya. Mereka mengatakan bahwa rahn (gadai) sah meskipun tidak disyaratkan sesuatu di dalamnya, begitu pula hal-hal yang sejenis dengannya. Kami akan menjelaskan batasan dalam masalah yang diperselisihkan dan yang disepakati, insya Allah Ta‘ala.
وكان شيخي يقولُ لو كان في بقعَةٍ من البقاعِ المعدودة من الصرودِ كرومٌ فكانت الثمار لا تنتهي إلى الحلاوة وعم فيها العُرف بقطع الحِصْرِم فإطلاق البيع محمول على العُرف في القطع وهو نازلٌ منزلةَ البيع بشرط القطع فالتعويل في أصل المذهب على العادة
Dan guruku biasa berkata, jika di suatu daerah yang termasuk wilayah pegunungan terdapat kebun anggur, lalu buahnya tidak pernah mencapai tingkat kemanisan, dan telah menjadi kebiasaan umum di sana untuk memetik buah anggur yang masih asam, maka keumuman akad jual beli di sana mengikuti kebiasaan dalam hal pemetikan. Hal ini diposisikan seperti jual beli dengan syarat pemetikan, sehingga dalam dasar mazhab, yang dijadikan sandaran adalah kebiasaan (adat).
وأنا أقول لا شك أن حمل المطلقِ من البيع في الثمار التي لم يَبدُ الصلاحُ فيها على المقيّد بشرط التبقيةِ مأخوذٌ من العُرفِ
Dan saya katakan, tidak diragukan lagi bahwa membawa makna mutlak dari jual beli pada buah-buahan yang belum tampak tanda-tanda kematangannya kepada makna yang dibatasi dengan syarat harus dibiarkan tetap (di pohon), diambil dari ‘urf (kebiasaan yang berlaku).
والوجه في هذا عندنا أن يقال كل ما يتعلق بتوابعِ العقودِ من التسليمِ والقطعِ والتبقيةِ وكيفيةِ إجراء البهيمة المكراةِ والمقدارِ الذي تَطوي في كل يوم فهذه التوابع منزَّلةٌ على العرفِ كما ذكرناه ومن جملته حملُ الدراهم المطلقة على النقد الغالب وهذا في اعتياد يعم ولا يختصّ بتواطُؤِ أقوام
Pendapat kami dalam hal ini adalah bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang mengikuti akad, seperti penyerahan, pemutusan, perpanjangan, tata cara menjalankan hewan yang disewakan, serta jumlah jarak yang dapat ditempuh setiap hari, maka semua hal yang mengikuti ini didasarkan pada ‘urf (kebiasaan) sebagaimana telah kami sebutkan. Termasuk di dalamnya adalah membawa makna dirham yang disebutkan secara mutlak kepada mata uang yang paling umum digunakan. Hal ini berlaku dalam kebiasaan yang bersifat umum dan tidak terbatas pada kesepakatan sekelompok orang saja.
فأما العادة التي تُتلقَّى من تواطؤ أقوامٍ على الخصوص كشرط الإباحَةِ في الرهن وشرائطَ معروفةٍ فاسدة في القُروضِ فهذا محمول على اصطلاحِ أقوام وقد يختصُّ ببعض البلاد ببعض الأعصارِ ففي مثله التردد فأما القفال فإنه يرى الاصطلاحَ المطَّردَ بين أقوامٍ بمثابةِ العادةِ العاقَة وامتنع غيرُه من هذا وعندي أن هذا يُنزَّلُ على منزلةٍ ستأتي مشروحةً في كتاب الصداق وهي أن أقواماً لو تواطئوا على أن يُعبّروا بالألفين على الألفِ فإذا وقع العقد بلفظِ الألفين فالتعويل على التواطُؤ أم على صيغة اللفظ فيه تردّدٌ وسيأتي في المسألة المترجمة السرّ والعلانيةِ ووجهُ التشبيه أن العادةَ مُبينة كالعِبارة والعادةُ التي لا يُعرف مستَندُها من اصطلاح كاللغات والعادةُ التي تستند إلى اصطلاح معلومٍ كلغة المتواطئين على مُراطناتِهم وإعمالُ عادةِ التواطؤ أقربُ مما ذكرناه في مسألة السرّ والعلانيةِ والسببُ فيه أن إعمالَ التواطُؤِ في تلك المسألة ألغى صريحَ اللغة الثابتة فقد لا يُحتمل ذلك
Adapun ‘adat yang diambil dari kesepakatan sekelompok orang secara khusus, seperti syarat kebolehan dalam rahn dan syarat-syarat tertentu yang diketahui sebagai syarat fasid dalam pinjaman, maka ini dikembalikan kepada istilah sekelompok orang tersebut, dan bisa jadi khusus berlaku di sebagian negeri atau pada masa tertentu. Dalam hal seperti ini terdapat keraguan. Adapun al-Qaffal berpendapat bahwa istilah yang berlaku umum di antara suatu kaum diposisikan seperti ‘adat yang menghalangi, sementara selainnya tidak menerima hal ini. Menurut saya, hal ini dapat disamakan dengan kedudukan yang akan dijelaskan dalam Kitab Shadaq, yaitu jika suatu kaum sepakat untuk mengekspresikan dua ribu padahal maksudnya seribu, maka jika akad dilakukan dengan lafaz dua ribu, apakah yang dijadikan pegangan adalah kesepakatan ataukah redaksi lafaznya? Dalam hal ini terdapat keraguan. Penjelasan lebih lanjut akan datang pada masalah yang berjudul “rahasia dan terang-terangan”. Sisi kemiripannya adalah bahwa ‘adat itu menjelaskan sebagaimana ungkapan, dan ‘adat yang tidak diketahui asal-usulnya dari istilah seperti bahasa, sedangkan ‘adat yang bersandar pada istilah yang diketahui seperti bahasa orang-orang yang sepakat dengan kode-kode mereka. Penerapan ‘adat kesepakatan lebih dekat dengan apa yang telah kami sebutkan dalam masalah rahasia dan terang-terangan. Sebabnya adalah bahwa penerapan kesepakatan dalam masalah tersebut meniadakan makna bahasa yang jelas, sehingga hal itu mungkin tidak dapat diterima.
ومما يَطرأ في هذا الأصل الذي نحن فيه أن الشيء إذا فُرض نُدورُه في بقعةٍ ثم صُوّر اطرادُه والحكم مستندَهُ العادةُ فقد تردّد في هذا حملةُ المذهب ومنه ينشأ اختلافهم في كثير دم البراغيث في بعضِ الأصقاع في حكم العفو عن النجاسةِ ويخرجُ على هذا القانون المسألة التي ذكرناها في الحِصرِم في بعض الصرود؛ فإنّ فرض ذاك في نهايةِ الندور وإن تُصوِّر واطَّردت عادةُ أهل البقعَةِ بقطف الحِصرِم فهو على التردد الذي ذكرناه
Di antara hal yang muncul dalam kaidah yang sedang kita bahas adalah apabila suatu perkara dianggap sangat jarang terjadi di suatu tempat, kemudian dibayangkan seolah-olah perkara itu sering terjadi, dan hukum yang ditetapkan didasarkan pada kebiasaan, maka para pengikut mazhab ini berbeda pendapat dalam hal tersebut. Dari sini juga timbul perbedaan mereka dalam banyak kasus, seperti hukum darah kutu di sebagian daerah dalam hal keringanan najis. Demikian pula, berdasarkan kaidah ini, dapat dijelaskan permasalahan yang telah kami sebutkan tentang buah anggur yang masih muda (ḥiṣrim) di sebagian daerah pegunungan; karena kejadian itu sangat jarang, namun jika dibayangkan dan sudah menjadi kebiasaan penduduk daerah tersebut memetik ḥiṣrim, maka hukumnya tetap pada perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan.
فهذا قولُنا في تأسيس الباب في الثمار التي تباع قبلَ بُدوّ الصلاحِ
Inilah pendapat kami dalam meletakkan dasar pembahasan pada buah-buahan yang dijual sebelum tampak tanda-tanda kematangan.
وإن بَدا الصلاحُ فيجوز بيعُ الثمار على شرط التبقية إلى أوانِ الجِداد وإن بِيعت مطلقةً صح البيعُ وحُملَ على موجَب التبقيةِ بناء على ما مهَّدناه من اتباع العادة العامة في توابع العقد
Jika tanda-tanda kematangan telah tampak, maka boleh menjual buah-buahan dengan syarat dibiarkan tetap di pohonnya hingga waktu panen. Jika dijual secara mutlak, maka jual belinya sah dan dianggap mengandung syarat dibiarkan tetap di pohonnya, berdasarkan apa yang telah kami jelaskan mengenai mengikuti kebiasaan umum dalam hal-hal yang berkaitan dengan akad.
فإن قيلَ نَهْيُ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الثمار حتى تُزهي يشعر بمفهومهِ أن البيع قبل بدوّ الصلاح منهيٌّ عنه محرمٌ من غير فصلٍ بين أن يقدّرَ شرطُ القطع أو يطلق قلنا ظاهرُ اللفظِ هذا ولكنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم لما تكلّم في أمرٍ مستندُه العادة نزَّل لفظُه على موجَبها والعادةُ الجارية أن الإنسان لا يشتري الثمارَ قبل الزَّهو ليقطفها وإنما يشتريها لتبقيتها إلى الجداد هذه العادة وإن فُرض غيرُ ذلك كان خُرْقاً وسفهاً فكأنه نهى عن البيع المعتادِ قبل بُدوّ الصلاح
Jika dikatakan bahwa larangan Rasulullah saw. untuk menjual buah-buahan hingga tampak matang menunjukkan secara implisit bahwa jual beli sebelum tanda-tanda kematangan adalah terlarang dan diharamkan, tanpa membedakan apakah disyaratkan untuk dipetik atau tidak, maka kami katakan: secara lahiriah memang demikian bunyi lafaznya. Namun, Rasulullah saw. ketika berbicara tentang suatu perkara yang dasarnya adalah kebiasaan, maka ucapannya disesuaikan dengan kebiasaan tersebut. Kebiasaan yang berlaku adalah seseorang tidak membeli buah-buahan sebelum tampak matang untuk segera dipetik, melainkan membelinya agar tetap berada di pohon hingga masa panen. Kebiasaan ini, dan jika pun terjadi selain itu, maka itu dianggap sebagai tindakan yang aneh dan tidak masuk akal. Maka seolah-olah beliau melarang jual beli yang biasa dilakukan sebelum tampak tanda-tanda kematangan.
ثم ذكر الأئمةُ من طريق المعنى مسلكين في ضبط المذهب أحدُهما أن الثمار قبل بُدوّ الصلاح تكون متعرضة للآفات والصواعق ومن اشتراها كان معرَّضاً مقصودُه للهلاك وفي ألفاظ الشارع ما يدل على هذا المعنى إذ رُوي أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الثمار حتى تنجو من العاهة
Kemudian para imam menyebutkan dari segi makna dua pendekatan dalam menetapkan mazhab. Salah satunya adalah bahwa buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan masih rentan terhadap hama dan bencana, dan siapa pun yang membelinya berarti tujuannya sengaja diarahkan pada kebinasaan. Dalam lafaz-lafaz syariat terdapat petunjuk terhadap makna ini, sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melarang menjual buah-buahan sebelum selamat dari cacat.
والمسلك الثاني أن الثمار قبل بدوّ الصلاحِ ستكبر أجرامها كبراً ظاهراً وإنما هي من أجزاء الشجرة فلم يجرِ شرطُ التبقية لذلك وإذا بدا الصلاح فيها فلا تكاد تزداد ازدياداً به مبالاة
Jalur kedua adalah bahwa buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan akan membesar ukurannya secara nyata, dan sesungguhnya buah-buahan itu merupakan bagian dari pohon, sehingga tidak diberlakukan syarat untuk membiarkannya tetap di pohon karena alasan tersebut. Namun, apabila telah tampak tanda-tanda kematangan pada buah-buahan itu, maka hampir-hampir tidak ada lagi pertambahan yang berarti pada buah tersebut.
والأوجه في ضبط المذهب المعنى الذي قدمناه وهو متلقى من الخبر كما ذكرناه والمعنى الثاني معتضدٌ بأمير مذهبي وذلك أن من اشترى أشجاراً عليها ثمارٌ غيرُ مُزهيةٍ فالعقد صحيح وإن لم يجر شرط القطع لما كانت الأشجار مضمومةً في المِلكِ إلى الثمار فإذا امتصت الثمارُ شيئاً من رطوبات الأشجار فلا بأس؛ فإنهما جميعاً في ملكِ مالكٍ واحد ولو كانت الأشجار ملكاً لزيد وكانت الثمار مِلكاً لعمرٍو وهي غيرُ مزهيةٍ بعدُ فلو باعها عمروٌ من زيدٍ مالكِ الأشجار مُطلقاً أو على شرْط التبقية ففي صحةِ البيع وجهان أحدهما أن البيع يصح كما لو جمع بين الثمار والشجر في العقد ومعناه ما ذكرناه من اتحاد المالكِ في الأصل والفرع
Pendapat yang paling kuat dalam menentukan mazhab adalah makna yang telah kami kemukakan sebelumnya, yaitu yang diambil dari hadis sebagaimana telah kami sebutkan. Makna kedua didukung oleh dalil mazhab, yaitu apabila seseorang membeli pohon-pohon yang di atasnya terdapat buah yang belum matang, maka akad jual belinya sah meskipun tidak disyaratkan untuk dipetik, karena pohon-pohon tersebut termasuk dalam kepemilikan buah-buahan itu. Jika buah-buahan tersebut menyerap sebagian kelembapan dari pohon, maka tidak mengapa; sebab keduanya berada dalam kepemilikan satu orang. Namun, jika pohon-pohon itu milik Zaid dan buah-buahannya milik Amr, dan buah-buahan itu belum matang, lalu Amr menjualnya kepada Zaid pemilik pohon secara mutlak atau dengan syarat dibiarkan tetap di pohon, maka dalam keabsahan jual beli ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah jual beli itu sah, sebagaimana jika buah dan pohon digabungkan dalam satu akad, dan maknanya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu persatuan pemilik dalam pokok dan cabang.
ومن منع قال سبب تصحيح العقد الوارد على الثمر والشجر أن الأصلَ الشجرُ والثمارُ معها تابعةٌ لها فلا يضرّ تعرض المبيع للتَّوى فكأنَّ أحدَ القائلَيْن يلتفت على التعرض للعاهة ويحتمل ذلك في العقدِ الذي يكون الثمر يتعاقبه والقائل الثاني يعتبر الاجتناب من امتصاص الثمار رطوبةَ أشجار الغير
Adapun pihak yang melarang berpendapat bahwa sebab sahnya akad yang terjadi atas buah dan pohon adalah karena yang menjadi pokok adalah pohon, sedangkan buah-buahan mengikuti pohon tersebut, sehingga tidak mengapa jika barang yang dijual terkena kerusakan. Seolah-olah salah satu dari dua pendapat tersebut memperhatikan kemungkinan terjadinya cacat, dan hal itu mungkin terjadi pada akad di mana buah-buahan akan terus-menerus tumbuh. Sedangkan pendapat kedua mempertimbangkan perlunya menghindari buah-buahan menyerap kelembapan dari pohon milik orang lain.
وأما أبو حنيفة فإن مذهبَه مجانبٌ لمذهَبنا وهو أخذ فيه مسلكاً آخر فحقُّ العقد عنده إذا أفردت الثمار بالبيع أن تُفرَّغ الأشَجار منها مزهيةً كانت الثمار أو غيرَ مزهيةٍ ورأى تبقيةَ الثمارِ إدامةً لِشغل ملك الغَيرِ
Adapun Abu Hanifah, maka mazhabnya berbeda dengan mazhab kami, dan beliau menempuh jalan lain dalam hal ini. Menurut beliau, jika buah-buahan dijual secara terpisah, maka yang benar dalam akad adalah pohon-pohon tersebut harus dikosongkan dari buah-buahnya, baik buah itu sudah matang maupun belum matang. Beliau memandang bahwa membiarkan buah tetap di pohon berarti memperpanjang keterikatan hak milik orang lain.
وأجاب بعضُ الأصحاب عن هذا الطريق بأن قالوا ليس للأشجار منفعةٌ تفوتُ بتبقية الثمارِ عليها وإن كان يقدَّر ازديادُ الثمار من أجزاء الأشجار فذلك قليلٌ بعد بدوّ الصلاح
Sebagian ulama menjawab argumen ini dengan mengatakan bahwa pohon-pohon tidak memiliki manfaat yang hilang dengan membiarkan buah tetap menempel padanya. Meskipun diperkirakan buah akan bertambah dari bagian-bagian pohon, namun hal itu sangat sedikit setelah tanda-tanda kematangan buah mulai tampak.
وهذا المعنى غيرُ سديدٍ وهو مشعر بتكليف التفريغ إذا كانت المنافع المُعتبرةُ تتعطل وليس الأمر كذلك عندنا؛ فإن من ابتاع شجرةً مطلقاًً لم يكلف قلْعَها وفي إدامتِها شُغلُ منافعَ معتبرةٍ ولكن كانت العادةُ التبقيةَ وليس في التبقية تعريضٌ للتلف فاحتمل ذلك وجرى بقاءُ الشجرة حقاً مستحقاً تابعاً لملك الشجرة وليس هذا من قبيل الإعارة ولا يسوغ لبائع الشجرة أن يقلعها على شرط أن يغرَمَ ما يَنقُصُه القلعُ والسبب فيه أن التبقيةَ مستحقةٌ بعقدِ الشراء وحقوقُ الشراءِ لا تَبطُل على أربابها وكذلك إذا اشترى بناءً مطلقاًً استحق تبقيتَه إلى غيرِ آخِرٍ لما قرَّرناه
Makna ini tidaklah tepat dan menunjukkan adanya kewajiban untuk mengosongkan jika manfaat-manfaat yang dianggap penting menjadi terhenti, padahal tidak demikian menurut kami; sebab, jika seseorang membeli sebuah pohon secara mutlak, ia tidak diwajibkan untuk mencabutnya, padahal dengan membiarkannya tetap berdiri berarti menggunakan manfaat-manfaat yang dianggap penting. Namun, kebiasaan memang membiarkan pohon itu tetap ada, dan dalam membiarkannya tidak ada unsur membahayakan sehingga hal itu dapat diterima, dan keberadaan pohon itu tetap menjadi hak yang melekat sebagai konsekuensi dari kepemilikan pohon tersebut. Ini bukan termasuk kategori ‘ariyah (pinjam-meminjam), dan tidak dibenarkan bagi penjual pohon untuk mencabutnya dengan syarat ia menanggung kerugian akibat pencabutan tersebut. Sebab, membiarkan pohon tetap ada adalah hak yang diperoleh melalui akad jual beli, dan hak-hak jual beli tidak gugur dari pemiliknya. Demikian pula, jika seseorang membeli sebuah bangunan secara mutlak, ia berhak untuk membiarkannya tetap ada tanpa batas waktu, sebagaimana telah kami jelaskan.
ومن هذا الأصل اختلف قول الشافعي في أن من اشترى شجرةً مطلقاًً وملك بالشراء أغصَانها وعُروقَها فهل يَملكُ مَغْرِسَها من الأرضِ والأصَحُّ أنه لا يملكه؛ فإن اسمَ الشجرةِ لا يتناول شيئاً من الأرض
Dari prinsip ini, pendapat Imam Syafi’i berbeda mengenai seseorang yang membeli sebuah pohon secara mutlak dan dengan pembelian itu ia memiliki cabang-cabang dan akar-akarnya, apakah ia juga memiliki tanah tempat pohon itu tumbuh. Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa ia tidak memilikinya, karena nama “pohon” tidak mencakup bagian apa pun dari tanah.
وفي المسألةِ قول آخر أنه يملكُه؛ فإنه يستحق تبقيةَ الشجر لا إلى نهايةٍ فلْيُقضَ بملكه لمغرسها وإلا فلا نظير لهذا النوع من الاستحقاق
Dalam masalah ini terdapat pendapat lain bahwa ia memilikinya; sebab ia berhak mempertahankan pohon tersebut, namun tidak sampai tanpa batas waktu, maka hendaknya diputuskan bahwa ia memiliki tempat menanamnya, jika tidak, maka tidak ada padanan untuk jenis hak seperti ini.
وهذا الاختلاف ليس يجري على منهاج الاختلاف المقدم ذكرُه في استتباع الأرض أشجارَها؛ فإن ذاك منشؤه استتباعُ الأرض فرعَها وأما ملك مغرس الشجرة فليس من جهة استتباعِ الشجرة الأرضَ؛ فإن الفرعَ لا يستتبع الأصلَ ولكنهُ من جهة ثبوت استحقاقٍ لا محمل لهُ إلا الملك
Perbedaan ini tidak berjalan menurut pola perbedaan yang telah disebutkan sebelumnya dalam hal keterikatan tanah dengan pohon-pohon yang tumbuh di atasnya; karena perbedaan tersebut berasal dari keterikatan tanah dengan cabangnya. Adapun kepemilikan tempat menanam pohon, hal itu bukan berasal dari keterikatan pohon dengan tanah, sebab cabang tidak mengikuti asalnya, melainkan berasal dari adanya hak yang tidak memiliki makna lain kecuali kepemilikan.
ثم إن قُلنا إنه يملِكُ المَغْرِسَ فلو انقلعت تلك الشجرةُ أو قلعَها فمِلكهُ قائم على المغرس يتصرفُ فيه تصرفَ الملاك وإن قُلنا لا يملك مشتري الشجرةَ مَغرِسَها فإذا انقلَعت أو قَلَعها لم يملِك أن يغرسَ فيه شجرةً أخرى؛ فإن حق التبقيةِ كان تابعاً للشجرة التي ملكها وقد زالت تلك الشجرةُ فتبع زوالَها زوالُ الحق في المغرس
Kemudian, jika kita katakan bahwa ia memiliki tanah tempat menanam (maghris), maka jika pohon itu tercabut atau ia mencabutnya, kepemilikannya atas maghris tetap ada dan ia dapat memperlakukannya seperti para pemilik tanah lainnya. Namun, jika kita katakan bahwa pembeli pohon tidak memiliki maghrisnya, maka apabila pohon itu tercabut atau ia mencabutnya, ia tidak berhak menanam pohon lain di situ; karena hak untuk membiarkan pohon tetap tumbuh itu mengikuti pohon yang dimilikinya, dan ketika pohon itu hilang, maka hilang pula hak atas maghris tersebut.
فصل
Bab
في تفسير بُدوّ الصلاح
Dalam penafsiran tentang munculnya tanda-tanda kebaikan
معتمدُ الباب في الحقيقة الخبرُ ومقتضاه اعتبارُ بدوّ الصلاح وبيان ذلك في الثمار ثم في غيرها
Sandaran utama dalam pembahasan ini pada hakikatnya adalah khabar (riwayat), dan konsekuensinya adalah mempertimbangkan munculnya tanda-tanda kematangan. Penjelasan mengenai hal ini pertama-tama pada buah-buahan, kemudian pada selainnya.
أما الثمارُ فتنقسمُ إلى ما يتلوّن عند الإدراك بلونٍ يخالف السابقَ قبل الإدراك كالتمر والأعنابِ السودِ والحمرِ فبدوّ الصلاح في هذا القبيل بأن يبدو تلوّنُها وهو المعنى بقوله صلى الله عليه وسلم حتى تُزهيَ قيل له يا رسول الله وما تُزهي فقال صلى الله عليه وسلم حتى تحمرّ أو تصفرّ ولا شك أن ذلك إذا ظهر فيها طابَ أكلُها وزالَ ما كان فيها من عفوصيةٍ أو قَرْصِ حموضة أو مرارة وقد ورد في بعض ألفاظ الحديث حتى تطيبَ ثم لا يُشترط بلوغُها الغايةَ المطلوبةَ في الطيب؛ فإن هذا إدراك وبين بدوّ الصلاح وبين الإدراك وأوانِ القطافِ قريبٌ من شهرين
Adapun buah-buahan, maka terbagi menjadi buah yang berubah warna ketika matang dengan warna yang berbeda dari sebelumnya sebelum matang, seperti kurma dan anggur hitam serta merah. Tanda kematangan pada jenis ini adalah munculnya perubahan warna, sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Nabi ﷺ: “Hingga buah itu tampak matang.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa maksud ‘tampak matang’ itu?” Beliau ﷺ bersabda: “Hingga buah itu memerah atau menguning.” Tidak diragukan lagi bahwa ketika tanda itu muncul pada buah, maka buah tersebut sudah enak dimakan dan hilanglah rasa sepat, asam, atau pahit yang sebelumnya ada. Dalam sebagian lafaz hadits juga disebutkan: “Hingga buah itu terasa enak.” Namun, tidak disyaratkan buah itu telah mencapai tingkat kematangan yang sempurna dalam kelezatannya; karena ini adalah tanda kematangan (idrak), dan antara munculnya tanda kematangan (badu ash-shalah) dengan kematangan sempurna (idrak) serta waktu panen, jaraknya sekitar dua bulan.
هذا قولُنا في الثمار
Inilah pendapat kami tentang buah-buahan.
وأما بدوّ الصلاح في البطيخ فأن يطيب الأكلُ ويظهرَ فيه التلوُّنُ أيضاًً
Adapun tanda kematangan pada buah semangka adalah enak untuk dimakan dan juga tampak perubahan warnanya.
وأما الثمار التي لا تتلوّن بالإدراكِ كالأعناب البيض فالاعتبار فيها بالتَموّه وجريانِ الحلاوة وزوالِ قَرصِ العُفوصة وطيبِ الأكل
Adapun buah-buahan yang tidak berubah warna ketika matang, seperti anggur putih, maka yang menjadi patokan adalah munculnya kilau, mengalirnya rasa manis, hilangnya rasa sepat yang tajam, dan enaknya untuk dimakan.
وهذه الأشياءُ تجري في التحقيق على قضيةٍ واحدة على ما سأصِفُه الآن
Hal-hal ini, dalam kajian yang mendalam, berjalan menurut satu prinsip yang akan saya jelaskan sekarang.
وأما بدوُّ الصلاح في القثاء فليس بأن يتلوّن ولا يمكنُ أن يقال فيه هو أن يطيب أكله أو يمكن ذلك فيه؛ فإن القثاءَ يطيب وهو في نهاية الصغر قال الأصحاب الوجه أن ينتهي إلى منتهى يُعتادُ أكله فيه
Adapun tanda kematangan pada mentimun bukanlah dengan berubah warna, dan tidak bisa dikatakan bahwa tandanya adalah enak dimakan atau sudah mungkin untuk dimakan; sebab mentimun sudah enak dimakan ketika masih sangat kecil. Para ulama berpendapat bahwa yang benar adalah mentimun dianggap matang ketika telah mencapai ukuran yang biasa dimakan.
فإن قيل خالفتم بين القثاءِ والثمار؛ إذ قلتم في القثاء يعتبر اعتيادُ الأكل والاعتياد لا يعتبر في الثمرة المُزهية فما الذي أوجب الفرقَ قلنا لا فرق؛ فإن الزهو إذا ابتدأ ابتدأ الناسُ في الأكل وقد يغلب تأخيرُ المُعْظم إلى تمامِ الإدراك كذلك القول في القثاء؛ فإن الصِّغار منه يُبْتَدرُ ولكنّ عُمومَ الأكل يتأخَّر والذي يتناهى صِغرُه لا يؤكل قصداً إلا أن يتفق على شذوذٍ فرجع الحاصل إلى طيب الأكل وابتداءِ الاعتياد فيه وعلامةُ ذلك في المتلوّنات التلوّنُ إلى جهة الإدراك وعلامتُه فيما لا يتلونُ التموُّهُ وجريانُ الحلاوةِ والرَّونق
Jika dikatakan, “Kalian membedakan antara qiththa’ (sejenis mentimun) dan buah-buahan; sebab kalian mengatakan pada qiththa’ yang dianggap adalah kebiasaan makan, sedangkan kebiasaan itu tidak dianggap pada buah yang sudah mulai matang. Apa yang menyebabkan perbedaan ini?” Kami katakan, “Tidak ada perbedaan; sebab ketika buah mulai matang, orang-orang mulai memakannya, namun biasanya sebagian besar akan menunda hingga benar-benar matang. Demikian pula halnya dengan qiththa’; yang masih kecil biasanya segera dimakan, tetapi secara umum, kebiasaan makan akan tertunda. Adapun yang sangat kecil tidak dimakan dengan sengaja kecuali dalam keadaan yang jarang terjadi. Maka, intinya kembali pada baiknya rasa untuk dimakan dan awal mula kebiasaan makan. Tanda-tandanya pada buah yang berubah warna adalah perubahan warna ke arah kematangan, sedangkan pada yang tidak berubah warna adalah mulai tampak segar dan manis serta tampak menarik.”
فإذا تمهَّد معنى بدُوّ الصلاحِ فيما ذكرناه فإذا باع الرجل ثمار بستان وقد بدا الصلاحُ في بعضِها فالذي لم يَبْدُ صلاحُه تابعٌ لما بدا فيه الصلاح وترتيبُ المذهب في هذا الإتباع كترتيب المذهب في إتباع ما لم يؤبَّرْ ما أُبِّر في محلِّ الوفاقِ والخلافِ حرفاً حرفاً
Jika telah jelas makna munculnya tanda kematangan seperti yang telah kami sebutkan, maka apabila seseorang menjual buah-buahan kebun dan sebagian buah tersebut telah tampak tanda kematangannya, maka buah yang belum tampak tanda kematangannya mengikuti hukum buah yang telah tampak tanda kematangannya. Urutan pendapat mazhab dalam hal mengikuti ini sama dengan urutan pendapat mazhab dalam hal mengikuti buah yang belum dikawinkan terhadap buah yang telah dikawinkan, baik dalam hal yang disepakati maupun yang diperselisihkan, secara rinci.
ولو باع ثمارَ بستان وهي أجناسٌ مختلفةٌ وكان بُدوّ الصلاح في بعضِها فالجنس الذي لم يبْدُ الصلاحُ فيه لا يتبع الجنسَ الذي أزهى بلا خلافٍ وإنما التردد في اختلاف النوع مع اتحاد الجنس كما مضى تفصيلُ ذلك في التأبير وحُكمِه
Jika seseorang menjual buah-buahan dari sebuah kebun yang terdiri dari berbagai jenis, dan tanda-tanda kematangan telah tampak pada sebagian di antaranya, maka jenis yang belum tampak tanda-tanda kematangannya tidak mengikuti jenis yang telah matang, tanpa ada perbedaan pendapat. Adapun keraguan hanya terjadi pada perbedaan varietas dalam satu jenis, sebagaimana telah dijelaskan rinciannya pada pembahasan tentang penyerbukan dan hukumnya.
قال العراقيون لو باع الرجل ثمارَ بستانَيْن صفقةً واحدةً وكان بدا الصلاحُ في أَحدِهما دون الثاني فثمار البستان التي لم تُزه لا تتبعُ ثمارَ البستانِ التي بدا الصلاحُ فيها وقطعوا القولَ بهذا ولست أرى الأمرَ كذلكَ سيما إذا لم يتباعدا تباعداً يؤثر في اختلاف التغايير ولا حاجز إلا جدار
Orang-orang Irak berkata: Jika seseorang menjual buah dari dua kebun dalam satu transaksi, lalu tanda-tanda kematangan telah tampak pada salah satunya namun belum pada yang lain, maka buah dari kebun yang belum berbunga tidak mengikuti buah dari kebun yang telah tampak kematangannya, dan mereka menegaskan pendapat ini. Namun aku tidak melihat perkara itu demikian, terutama jika kedua kebun itu tidak berjauhan sehingga perbedaan lingkungan tidak berpengaruh, dan tidak ada pembatas selain tembok.
ولو كان للرجل بُستانان كما صَوَّرنا وقد بدا الصلاح في ثمارِ أحدهما دون الثاني فلو أَفردَ بالبيع الثمَار التي لم يَبْدُ الصلاحُ فيها فالذي رأيت الطرُقَ متفقة عليه أنا لا نعتبِرُ حكمَ الثمار التي بيعت بثمار بستانٍ آخر وهذا يشيرُ إلى ما ذكرهُ العراقيون من اعتبار اتحاد البستان وتعدُّده
Jika seseorang memiliki dua kebun seperti yang telah kami gambarkan, lalu tanda kematangan buah tampak pada salah satunya namun belum pada yang lain, kemudian ia menjual secara terpisah buah-buahan yang belum tampak tanda kematangannya, maka menurut apa yang saya lihat dari berbagai pendapat yang ada, kami tidak mengaitkan hukum buah-buahan yang dijual dengan buah-buahan dari kebun lain. Hal ini menunjukkan apa yang disebutkan oleh para ulama Irak tentang pentingnya mempertimbangkan apakah kebun itu satu atau lebih dari satu.
ولم يختلف علماؤنا أن بُدوّ الصلاح لو كان في مِلكِ غير البائع ولم يَبْدُ الصلاحُ في بستان البائع فلا يقال الوقتُ وقتُ بدُوّ الصلاح فتجعل الثمار المبيعة كأنها مزهية هذا لا قائل به وقد ذكرنا خلافاً فيه إذا اختلف الملكُ واتَّحد البستان وثبت التأبير أو الصلاحُ في بعضِ ثمار البستان فهل يتبع المبيعُ غيرَ المبيع والبستان واحدٌ فيهِ الخلاف المعروف ولا فرق بين أن يكون ما أبقاه البائع له أو يكون لغيره؛ إذا كان البستان الواحد جامعاً لهُما ولَعلَّ رعايةَ اتحادِ البستان من جهة أنه كالشيء الواحد في التطواف عليه والتردُّدِ فيه
Para ulama kami tidak berselisih pendapat bahwa jika tanda-tanda kematangan (būdū aṣ-ṣalāḥ) muncul di kebun milik selain penjual, sedangkan di kebun penjual belum muncul tanda-tanda kematangan, maka tidak dikatakan bahwa waktunya adalah waktu kematangan sehingga buah yang dijual dianggap seperti buah yang hampir matang; tidak ada yang berpendapat demikian. Kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat jika kepemilikan berbeda namun kebunnya satu, dan telah tetap adanya penyerbukan (ta’bīr) atau kematangan pada sebagian buah di kebun tersebut; apakah buah yang dijual mengikuti hukum buah yang tidak dijual karena kebunnya satu, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang dikenal. Tidak ada perbedaan apakah sisa buah itu milik penjual atau milik orang lain; selama kebun itu satu dan mencakup keduanya. Mungkin pertimbangan penyatuan kebun adalah karena kebun itu seperti satu kesatuan dalam hal berkeliling dan beraktivitas di dalamnya.
ومعظم هذه الأحكام تبتنَى على عاداتٍ فهذا منتهى المراد في ذلك
Kebanyakan dari hukum-hukum ini didasarkan pada adat kebiasaan, maka inilah tujuan utama yang dimaksud dalam hal ini.
وكل ما ذكرناه في الثمار أو ما يجري مَجرَاها
Dan semua yang telah kami sebutkan mengenai buah-buahan atau hal-hal yang sejenis dengannya.
فأمَّا القولُ في الزروع فهي تنقسم إلى التي تُخلِفُ وإلى التي لا تُخلِف
Adapun pembahasan mengenai tanaman, maka tanaman itu terbagi menjadi dua: yang dapat tumbuh kembali (menghasilkan panen berulang) dan yang tidak dapat tumbuh kembali.
فأما ما يُخلِفُ منها إذا جُزَّت كبعضِ البقولِ ومنها القُرط وما في معناه فهذا الجنس يكون متزايداً أبداً ولا وقوفَ له فإذا بيع منه جِزَّةٌ فلا بد من شرطِ القطع ولا يُنظر في هذا القسم إلى ما يقع في زمان العاهات أو في زمان النجاةِ منها وكذلك لا يُنظرُ إلى طيبِ الأكلِ وذلك أنّا إذا كنا نحاذر إمكان الآفة ونشترطُ القطعَ لذلك فالاختلاطُ الذي يجرّ إلى البيع اللبسَ العظيمَ لأن يُجتَنبَ أوْلى
Adapun apa yang tumbuh kembali setelah dipotong, seperti sebagian jenis sayuran dan di antaranya adalah al-qurth serta yang sejenisnya, maka jenis ini akan terus bertambah dan tidak ada batas akhirnya. Jika dijual sebagian hasil potongannya, maka harus disyaratkan untuk dipotong. Pada bagian ini, tidak perlu memperhatikan apakah terjadi pada masa serangan hama atau pada masa selamat darinya, demikian pula tidak perlu memperhatikan enaknya untuk dimakan. Sebab, jika kita khawatir kemungkinan adanya hama dan mensyaratkan pemotongan karenanya, maka pencampuran yang menyebabkan penjualan menjadi sangat rancu lebih layak untuk dihindari.
وهذا الأصلُ في شرط القطعِ مساو للثمار قبل بدوّ الصلاح وليس مأخوذاً من مأخذها
Dan prinsip ini dalam syarat pemutusan (akad) setara dengan (hukum) buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan, namun tidak diambil dari sumber hukumnya.
فأما الزروع التي لا تُخلِف إذا جُزت فينبغي أن يُستثنى منها ما يتسنبل ويَستتر المقصودُ منه للغُلُفِ والقصيل فإنا سنعقد في هذا فصلاً على أثر هذا الفصلِ ونتكلَّم فيما عدا ذلك
Adapun tanaman-tanaman yang tidak tumbuh kembali setelah dipotong, maka sebaiknya dikecualikan darinya apa yang menghasilkan bulir dan yang maksud utamanya tersembunyi karena tertutup oleh kulit dan rumput muda. Karena itu, kami akan membuat satu pembahasan khusus setelah pembahasan ini dan akan membicarakan selain dari hal tersebut.
قالَ الأئمة الزرع الأخضرُ لا يجوز ابتياعه إلا بشرط القَطعِ وكان شيخي يقولُ لا مُعوّلَ على الخضرة والتعويل فيما لا يُخلِف على النجاة من الآفة على القياس الممهَّدِ في الثمار والذي أراه أن هذا ليسَ باختلافٍ؛ فإن الأخضرَ في الغالب يتعرض للآفة فنُزل كلامُ الأصحاب عليه
Para imam berpendapat bahwa tanaman hijau tidak boleh diperjualbelikan kecuali dengan syarat harus dipotong. Guru saya berkata, tidak dapat dijadikan sandaran pada kehijauan itu sendiri, dan yang dijadikan sandaran dalam hal yang tidak dapat tumbuh kembali adalah keselamatan dari hama, berdasarkan qiyās yang telah ditetapkan dalam masalah buah-buahan. Menurut pendapat saya, ini bukanlah perbedaan pendapat; sebab tanaman hijau pada umumnya rentan terhadap hama, sehingga perkataan para ulama diarahkan pada hal tersebut.
وفي هذا الفصلِ سرٌّ وهو أنَّا لو فرضنا زرعاً ناجياً من الآفة لا يُخلِفُ إذا جُزَّ وقد يزداد إذا لم يجز فالذي رأيتُ الطُرقَ عليه أن هذه الزيادة غير ضائرةٍ وهي عند فرضِ التبقيةِ على حُكم الشرط أو على وفاق المشتري والزيادة التي ذكرناها بمثابةِ نموِّ الثمار إلى وقت اتفاق القطع وليست كزيادة الزرع المُخْلِف
Dalam bab ini terdapat sebuah rahasia, yaitu seandainya kita membayangkan ada tanaman yang selamat dari hama, tidak akan tumbuh kembali setelah dipanen, dan bahkan bisa bertambah jika tidak dipanen, maka menurut pendapat yang aku temukan, tambahan ini tidaklah merugikan. Tambahan tersebut, jika diasumsikan tanaman tetap dibiarkan berdasarkan ketentuan syarat atau kesepakatan pembeli, maka tambahan yang kami sebutkan itu seperti pertumbuhan buah hingga waktu yang disepakati untuk dipetik, dan tidak seperti tambahan pada tanaman yang dapat tumbuh kembali.
وهذا على بيانهِ قد يزلّ فيه من لا يردُّ نظرهُ إليه
Dan dalam penjelasannya ini, bisa saja seseorang tergelincir jika tidak mengarahkan perhatiannya kepadanya.
وتمام البيانِ في هذا أن من اشترى بطاطيخَ على أصولها دون أصولها فإن لم يكن بدا الصلاحُ فلاَ بُدّ من شرطِ القطع وإن بدا الصلاَحُ في الكبارِ منها فللصغار حكمُ الكِبار جرياً على إتباعِ المقدَّمِ ولكن ما يحدث من الأصول فهو لمالك الأصول فإن فرض اختلاطٌ رجع ذلك إلى مسألة الاختلاط كما تقدم ذكرها
Penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa siapa pun yang membeli semangka yang masih di atas akarnya, tanpa membeli akarnya, maka jika belum tampak tanda-tanda kematangan, wajib disyaratkan untuk segera memetiknya. Namun, jika tanda-tanda kematangan telah tampak pada buah yang besar, maka buah yang kecil mengikuti hukum buah yang besar, berdasarkan prinsip mengikuti yang utama. Akan tetapi, buah yang tumbuh kemudian dari akar tersebut menjadi milik pemilik akar. Jika terjadi percampuran, maka hal itu kembali kepada permasalahan percampuran sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ولو اشترى أصولَ البطيخ صحَّ وكل ما يُخرجه بعد الشراء فهو ملكُ المشتري
Jika seseorang membeli tanaman semangka beserta akarnya, maka jual beli itu sah, dan segala sesuatu yang dihasilkan tanaman tersebut setelah pembelian menjadi milik pembeli.
ثم من لطيف ما يجب التنبُّهُ له أن من اشترى ما لا يُخلِف لو قُطع ملكَ ظاهرَه وعِرْقَه المستترَ بالأرض فلو قال قائل لو اشترى البطيخَ وأصلَه قبل بُدوّ الصلاح فهل تشترطون القطعَ أو تلحقونها بما لو اشترى الثمار والأشجارَ معاً حتى لا تشترطوا القطع قلنا إذا لم يكن بدا الصلاحُ في البطيخ فهو وأَصلُهُ عرضةُ الآفة وليس كالثمار تباع مع أشجارها؛ فإن الأشجار ليست عُرضةَ الآفة فتجري الثمار تبعاً لها
Kemudian, termasuk hal yang perlu diperhatikan dengan cermat adalah bahwa siapa pun yang membeli sesuatu yang tidak akan tumbuh kembali jika dipotong, maka ia memiliki hak atas bagian yang tampak maupun akar yang tersembunyi di dalam tanah. Jika ada yang bertanya: “Bagaimana jika seseorang membeli buah semangka beserta akarnya sebelum tampak tanda-tanda kematangan, apakah kalian mensyaratkan untuk memotongnya, ataukah kalian menganggapnya seperti orang yang membeli buah-buahan beserta pohonnya sehingga tidak disyaratkan untuk dipotong?” Kami katakan: Jika kematangan belum tampak pada semangka, maka semangka dan akarnya sama-sama rentan terhadap hama, dan ini tidak seperti buah-buahan yang dijual bersama pohonnya; karena pohon tidak rentan terhadap hama, sehingga buah-buahan mengikuti hukum pohonnya.
فهذا منتهى البيان في هذه الفصول
Inilah akhir penjelasan pada bab-bab ini.
فرع
Cabang
ذكر الشيخُ في شرح التلخيص أن من اشترى ثماراً بدا الصلاحُ فيها على شرط القطع صح العقدُ ولزم الوفاء بالشرط ولا شك أن هذا يطّرد في ابتياع الشجر على شرط القطع من المغرِسِ وابتياع البناء كذلك وهذا واضح ولكنّي أحببتُ نقلَه منصوصاً
Syekh menyebutkan dalam Syarh at-Talkhīṣ bahwa barang siapa membeli buah-buahan yang telah tampak tanda-tanda kematangannya dengan syarat harus dipetik, maka akadnya sah dan wajib memenuhi syarat tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini juga berlaku dalam pembelian pohon dengan syarat harus ditebang dari tempat tumbuhnya, begitu pula dalam pembelian bangunan dengan syarat serupa. Hal ini jelas, namun saya ingin menyampaikan hal ini secara tertulis sebagaimana adanya.
فرع
Cabang
إذا باع شجرةً عليها ثمرة مؤبرة فالثمار للبائع وله تبقيتُها إلى أوان الجِداد فلو أصابَ الثمارَ آفة وصارت بحيث لا تنمو فهل للبائع أن يُبقيها ولا فائدةَ له في تبقيتها أم للمشتري إجبارُه على قطعِها ؛ ذكر شيخي لصاحب التقريب قولين في ذلك أحدهما أن له التبقية استبقاءً منه لحق الإبقاء إلى أقصى الأمد ولا نظر إلى فائدته والقول الثاني أنه يُجبَرُ على القطع؛ فإن شغل ملك الغير بلا فائدةٍ لا معنى له
Jika seseorang menjual pohon yang di atasnya terdapat buah yang telah dibuahi, maka buahnya menjadi milik penjual dan ia berhak membiarkannya tetap di pohon hingga waktu panen. Jika buah tersebut kemudian terkena musibah sehingga tidak dapat tumbuh lagi, apakah penjual tetap berhak membiarkannya di pohon padahal tidak ada manfaat baginya, ataukah pembeli berhak memaksanya untuk memotong buah tersebut? Guruku menyebutkan kepada penulis kitab at-Taqrīb dua pendapat dalam hal ini: yang pertama, penjual berhak membiarkannya sebagai bentuk pemanfaatan haknya untuk mempertahankan buah itu hingga batas waktu terjauh, tanpa memperhatikan ada tidaknya manfaat; pendapat kedua, penjual wajib dipaksa untuk memotongnya, karena menempati hak milik orang lain tanpa ada manfaat tidaklah bermakna.
فصل
Bab
ذكرنا أن من باع نخلةً وعليها ثمرتُها غيرَ مؤبَّرةٍ فهي تابعةٌ للنخلة إذا أُطلق اسمُها في البيع فإن استثناها البائعُ بقيت له ولا خلاف في جواز استثنائِها
Kami telah menyebutkan bahwa siapa pun yang menjual pohon kurma yang di atasnya terdapat buah yang belum diserbuki, maka buah tersebut mengikuti pohon kurma jika namanya disebut secara mutlak dalam akad jual beli. Namun, jika penjual mengecualikan buahnya, maka buah itu tetap menjadi miliknya, dan tidak ada perbedaan pendapat tentang bolehnya mengecualikan buah tersebut.
وإن تردَّد المذهبُ في جواز إفرادِها بالبيع كما سنذكره على إثر هذا الفصل ولا يجوز استثناءُ الحَمْل إذا بيعت الجاريةُ الحامل بالولدِ الرقيق
Dan jika mazhab masih ragu tentang kebolehan memisahkan (harta) tersebut dalam jual beli, sebagaimana akan kami sebutkan setelah bab ini, maka tidak boleh mengecualikan janin jika seorang budak perempuan yang sedang hamil dengan anak yang juga berstatus budak dijual.
هذا أصل المذهب وسيأتي تفصيلهُ في باب الخراج إن شاء الله عز وجل
Ini adalah pokok madhhab, dan rinciannya akan dijelaskan pada bab kharāj, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ثم هل يُشترط في صحة استثناء الثمار شرْطُ القطعِ فعلى قولين أحدُهما أنه لا حاجةَ إلى شرط القطع؛ فإن الاستثناءَ ليس تملُّكاً في الثمار وإنما هو استبقاءُ الملكِ فيها وآيةُ ذلك أنا نقطع بصحة الاستثناء وظاهرُ المذهبِ أن إفراد الثمار بالبيع قبل التأبير ممتنع ولا شرطَ على المستبقي
Kemudian, apakah disyaratkan dalam keabsahan istisna’ (pengecualian) buah-buahan adanya syarat pemotongan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa tidak perlu adanya syarat pemotongan, karena istisna’ bukanlah bentuk kepemilikan baru atas buah-buahan, melainkan hanya mempertahankan kepemilikan atasnya. Bukti dari hal ini adalah kita memastikan keabsahan istisna’, dan pendapat yang tampak dalam mazhab adalah bahwa menjual buah-buahan secara terpisah sebelum masa penyerbukan adalah tidak diperbolehkan, dan tidak ada syarat apa pun atas pihak yang mempertahankan (kepemilikan).
والقول الثاني أنه لا بد من شرطِ القطع؛ لأن هذا الاستثناء في حكم جلب المِلكِ؛ إذ لا بد فيه من لفظٍ واختيارٍ وعبَّر الأئمةُ عن حقيقة القولين بعبارةٍ وبنَوْا عليها أحكاماً في أمثلةِ هذه المسألة فقالوا لما باع الشجرةَ أشرف مِلكُه في الثمرة على الزوال غيرَ أنه تلافاها فهل نجعل المِلْكَ المشرفَ على الزوال إذا استُدْرِكَ كالملك الزائل العائد فعلى قولين
Pendapat kedua menyatakan bahwa harus ada syarat pemutusan; karena pengecualian ini dalam hukum menarik kepemilikan; sebab di dalamnya harus ada lafaz dan pilihan. Para imam mengungkapkan hakikat kedua pendapat ini dengan sebuah ungkapan dan membangun hukum-hukum atasnya dalam contoh-contoh masalah ini. Mereka berkata: Ketika seseorang menjual pohon, kepemilikannya atas buah hampir hilang, namun ia segera mengambilnya kembali. Apakah kepemilikan yang hampir hilang namun segera diambil kembali itu dianggap seperti kepemilikan yang telah hilang lalu kembali? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
ومن نظائر ذلكَ أن الرجل إذا دبَّر عبداً فجنى في حياته جنايةً تستغرق قيمتَه وماتَ السيدُ ولم يخلّف غيرَه ففداه الورثةُ و معلومٌ أنهم لو سلّموهُ لبِيع وبطل العتقُ فيه فإذا فَدَوْه وحكَمْنا بنفُوذ العتق فيه فالولاءُ فيه لمن فعلى قولين فإن جعلنا المشرفَ على الزوال كالزائل العائدِ فالولاء للورثة
Demikian pula, jika seorang laki-laki mendebarkan seorang budak, lalu budak itu melakukan suatu tindak pidana selama hidup tuannya yang nilainya setara dengan harga dirinya, kemudian tuannya meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan selain budak itu, lalu para ahli waris menebusnya—padahal diketahui bahwa jika mereka menyerahkannya, maka budak itu akan dijual dan status merdekanya batal—maka jika mereka menebusnya dan kita memutuskan bahwa kemerdekaannya tetap berlaku, maka hak wala’ atasnya menjadi milik siapa? Dalam hal ini ada dua pendapat. Jika kita menganggap sesuatu yang hampir hilang seperti yang benar-benar hilang lalu kembali, maka hak wala’ menjadi milik para ahli waris.
وإن لم نجعل الأمرَ كذلكَ فالولاءُ للمولى المتوفى وهذه المسألة تبتني على أن تنفيذ الوصية إجازةٌ وليس ابتداءَ عطيةٍ فإنَّا لو جعلنا التنفيذَ ابتداءَ تبرعٍ من الورثة لم يختلف قولُنا في أنهم المعتقون ثم كنا نقول لا بد من إنشاء العتق فيه وإن جعلنا التنفيذ إجازةً فالقول في الولاء مضطربٌ عندي؛ فإنهم لم يحتاجوا إلى إنشاءِ العتق فأيُّ معنىً لصرفِ الولاء إليهم والعتق نفذَ على حكم التدبير الماضي ولكن الأئمة نقلوا قولاً آخر أن الولاء للورثة لقوة سببهم ونزّلوا ذلك منزلةَ الإعتاقِ بلا مزيد فالقول في الولاءِ عويصٌ وهو بين أيدينا
Jika kita tidak menetapkan perkara demikian, maka hak wala’ menjadi milik tuan yang telah wafat. Permasalahan ini bergantung pada apakah pelaksanaan wasiat itu merupakan bentuk persetujuan (ijazah) atau permulaan pemberian (‘athiyah) baru. Jika kita menganggap pelaksanaan itu sebagai permulaan hibah dari para ahli waris, maka tidak berbeda pendapat bahwa merekalah yang memerdekakan, dan kita pun akan mengatakan bahwa harus ada pernyataan pemerdekaan yang baru. Namun jika kita menganggap pelaksanaan itu sebagai persetujuan, maka pendapat mengenai hak wala’ menurut saya menjadi tidak menentu; sebab mereka tidak perlu membuat pernyataan pemerdekaan baru, lalu apa makna hak wala’ dialihkan kepada mereka, sementara pemerdekaan itu berlaku berdasarkan ketentuan tadbir yang telah lalu. Akan tetapi, para imam telah menukil pendapat lain bahwa hak wala’ menjadi milik ahli waris karena kuatnya sebab mereka, dan mereka menganggap hal itu setara dengan pemerdekaan tanpa tambahan apa pun. Maka, pembahasan tentang hak wala’ ini rumit dan masih menjadi persoalan di hadapan kita.
ومما يجب التنبُّه له في مسألة الاستثناء أنا إذا شرطنا التقييدَ بالقطع فأطلقَه فظاهرُ كلام الأئمة أن الاستثناء باطلٌ والثمرة للمشتري وهذا مشكلٌ جداً؛ فإن صرْفَ الثمرة إليه مع التصريح باستثنائه محالٌ عندي فالوجه عدُّ الاستثناء المطلق شرطاً فاسداً مفسداً للعقد في الأشجار ويكون كاستثناءِ الحمل
Hal yang perlu diperhatikan dalam masalah pengecualian adalah bahwa jika kita mensyaratkan pembatasan dengan kepastian lalu ia mengucapkannya secara mutlak, maka menurut pendapat para imam, pengecualian tersebut batal dan buahnya menjadi milik pembeli. Ini sangat problematis; sebab menurut saya, menyerahkan buah kepada pembeli padahal telah dinyatakan secara jelas pengecualiannya adalah hal yang mustahil. Maka yang tepat adalah menganggap pengecualian secara mutlak sebagai syarat yang rusak dan merusak akad pada pohon-pohon, dan hal itu seperti pengecualian janin.
ومما يتعيّنُ الإحاطةُ به أن الخلاف في اشتراط التقييد بالقطع يترتب لا محالة على أن قطعَ الثمارِ هل يُستحق إذا بقيت للبائع فالتقييد في الاستثناءِ يلتف بوجوب القطع وجوازِ الإبقاء فإن لم نشرط التقييدَ رأينا الإبقاء وإن شرطنا أوجبنا الوفاء
Hal yang wajib diketahui adalah bahwa perbedaan pendapat mengenai syarat pembatasan dengan pemotongan (buah) pasti berkaitan dengan apakah pemotongan buah itu menjadi hak jika buah tersebut tetap milik penjual. Maka pembatasan dalam pengecualian berkaitan dengan kewajiban memotong dan kebolehan membiarkan (buah tetap di pohon). Jika kita tidak mensyaratkan pembatasan, maka kita membolehkan membiarkan (buah tetap di pohon). Namun jika kita mensyaratkan pembatasan, maka kita mewajibkan untuk menunaikannya.
ولا خلاف أن الثمار إذا بقيت للبائع؛ لأنها كانت مؤبّرة وما كان بدا الصلاح فيها فلا يستحق عليه قطعُها وإن كان يُشترط في صحة البيع شرطُ قطعها إذا أفردت بالبيع
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa buah-buahan tetap menjadi milik penjual jika masih dalam keadaan telah dibuahi (mu’abbara) dan belum tampak tanda-tanda kematangan padanya; maka penjual tidak berhak memaksa pembeli untuk memetiknya, meskipun dalam keabsahan jual beli disyaratkan adanya syarat pemetikan jika buah tersebut dijual secara terpisah.
فصل
Bab
قال وكل ثمرةٍ وزرع دونها حائل إلى آخره
Ia berkata: “Dan setiap buah-buahan dan tanaman yang di antaranya terdapat penghalang, hingga akhir.”
مضمون الفصل الكلامُ في بيع الحبوب المستترة والبارزة فأما الحبوب
Isi bab ini membahas tentang jual beli biji-bijian yang masih tersembunyi dan yang sudah tampak. Adapun biji-bijian…
البارزة كالشعير فيجوز بيعُها في سنبلها تعويلاً على العِيانِ وأما بيعُ المطعومات المستترة بقشورها فالقول منقسمٌ فيها فمنها ما يكون بقاؤها في استتارها وصلاحُها في قُشورِها كالرُّمان والبيض والجَوْز في القشرة الثانية الخشنة فالبيعُ جائز؛ فإن صلاح لُبِّ الجَوْز وبقاءَه في قشرته وكذلك في حشو البيض وفي حب الرمان ولا التفات على المجفف من حبِّ الرمان؛ فإن المقصودَ الأظهرَ منه في طراوته ورطوبته وبيعُ الجوز في قشرته العليا إذا جفَّت عليه ممنوع عندَ الأصحاب وكذلك بيعُ الباقلاء إذا جف في قشرته العُليَا ممتنع واختلف القول في بيع الحِنطةِ في سنبلها وهي مستترة بغُلفِها من قصيل السنبلِ وكذلك الرّز في قشرتها العُليَا
Barang-barang yang tampak seperti jelai, maka boleh menjualnya dalam keadaan masih di tangkainya dengan mengandalkan penglihatan langsung. Adapun penjualan makanan yang tersembunyi di balik kulitnya, pendapat ulama terbagi dalam hal ini. Di antaranya ada yang tetap baik jika tetap tersembunyi dan terjaga dalam kulitnya, seperti delima, telur, dan kenari dalam kulit keduanya yang kasar, maka penjualannya diperbolehkan; karena inti kenari tetap baik dan terjaga dalam kulitnya, demikian pula isi telur dan biji delima. Tidak perlu memperhatikan biji delima yang sudah dikeringkan, karena yang dimaksud utama dari delima adalah kesegarannya dan kelembapannya. Menjual kenari dalam kulit luarnya yang sudah mengering di atasnya dilarang menurut para ulama, demikian pula menjual kacang fava jika sudah mengering dalam kulit luarnya juga tidak diperbolehkan. Pendapat berbeda mengenai penjualan gandum dalam tangkainya yang masih tersembunyi dalam kelopak tangkai, demikian pula beras dalam kulit luarnya.
ومجموع ما قيل فيهما ثلاثة أقوال أحدُها الصحةُ؛ فإن لاستتار الحبوب بغُلفِها أثرٌ في طول البقاءِ بخلاف القشرة العليا من الجوز والباقلاء
Terdapat tiga pendapat yang dikemukakan mengenai keduanya. Pendapat pertama adalah sah; karena tersembunyinya biji-bijian oleh kulitnya berpengaruh pada lamanya daya tahan, berbeda dengan kulit luar pada kacang kenari dan kacang fava.
والقول الثاني لا يصح؛ لأن ذلك ليس غالباً في الاعتياد فلا مُعتبرَ به
Pendapat kedua tidak sah; karena hal itu tidak lazim terjadi dalam kebiasaan, maka tidak dapat dijadikan pertimbangan.
والقول الثالث أن البيعَ صحيحٌ في الرّز باطلٌ في الحنطة؛ فإن مُعظمَ ادّخارِ الرز في قشرته في العادة
Pendapat ketiga menyatakan bahwa jual beli sah pada beras, namun batal pada gandum; karena pada umumnya beras disimpan dalam kulitnya menurut kebiasaan.
واختلف أصحابنا في بيع الباقلاء الرَّطْب في قشرته العُليا وهي المسمى الفول والظاهر التجويز وقد صح أن الشافعي أمرَ بعضَ أعوانه ليشتريَ له الفولَ الرطْب
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai jual beli buncis basah yang masih dalam kulit luarnya, yang disebut ful, dan pendapat yang tampak adalah membolehkannya. Telah sahih bahwa Imam Syafi‘i pernah memerintahkan salah satu pembantunya untuk membelikan ful basah untuknya.
وبيع الجوز الرطب في قشرته العُليا قرَّبه بعضُ الأصحاب من الفول؛ فإن تِيكَ القشرة تصُون رطوبةَ اللب صيانةَ قشرةِ الباقلاء والجوزُ عن الجواز أبعد؛ فإن الغرض منه في جفافه
Penjualan kacang kenari basah dalam kulit luarnya didekatkan oleh sebagian ulama kepada hukum kacang fūl; karena kulit tersebut menjaga kelembapan inti kacang sebagaimana kulit kacang bāqilā’ (kacang fūl) menjaganya. Namun, penjualan kacang kenari lebih jauh dari kebolehan; karena tujuan dari kacang kenari adalah pada kondisi keringnya.
وحقيقة القول في هذه المسائل تَبِين بنكتة وهي أنا إذا جوزنا بيعَ الغائب فكل ما ذكرناه يجوز بلا استثناء؛ فإنا نجوّز على بيع الغائب أن يقول بعتُكَ الدِّرهمَ الذي في كفّي أو الثوبَ الذي في كُمِّي؛ وهذا في الجهالة فوق الصور التي ذكرناها فإن كان المحذور فيها الاستتار فهذا من ضرورة بيع الغائب وإن كان المحذور فيها الجهالة فهي متحققة في بيع الثوب الذي في الكُمِّ وليس يدرى أنه كرباس غليظ أو ثوب رومِيٌّ
Hakikat pembahasan dalam masalah-masalah ini menjadi jelas dengan satu poin penting, yaitu jika kita membolehkan jual beli barang yang tidak hadir (ghā’ib), maka semua yang telah kami sebutkan sebelumnya juga boleh tanpa pengecualian. Sebab, dalam jual beli barang yang tidak hadir, kita membolehkan seseorang berkata, “Aku jual kepadamu satu dirham yang ada di tanganku” atau “Aku jual kepadamu kain yang ada di lengan bajuku.” Padahal, dalam hal ketidaktahuan, ini lebih parah daripada contoh-contoh yang telah kami sebutkan. Jika yang dikhawatirkan adalah tersembunyinya barang, maka itu adalah konsekuensi dari jual beli barang yang tidak hadir. Dan jika yang dikhawatirkan adalah ketidaktahuan (jahālah), maka hal itu benar-benar terjadi dalam jual beli kain yang ada di lengan baju, karena tidak diketahui apakah kain itu berupa kain kasar atau kain Romawi.
ومن الأسرار في ذلك أن العِيان محيط ببيع الباقلاء اليابس في القشرة العُليا ولكن المقصودَ مستورٌ على خلاف العادة
Salah satu rahasianya adalah bahwa penglihatan inderawi memang mencakup penjualan kacang fava kering pada kulit bagian atas, namun yang dimaksud sebenarnya tersembunyi dan tidak tampak sebagaimana biasanya.
وقد أطلق أئمة المذهب أن بَيعْ نَيْلِ المعدِنِ في أدراج ترابه ممنوع وزعم المحققون أن هذا مفرع على منع بيعِ الغائبِ وإلا فقد تحققت جهالة واستتار مع إحاطة العِيان بالكل وهذا غير بِدْعٍ في بيع الغائب ولكن جرى رسمُ المفرعين بأن يُفرّعوا على قولٍ صحيح عندهم مسائلَ ويبينوا أقوالَهم فيها ولا يتعرضون للقول الثاني
Para imam mazhab telah menyatakan bahwa jual beli hasil tambang yang masih bercampur dengan tanahnya adalah terlarang. Para muhaqqiq (peneliti) berpendapat bahwa hal ini didasarkan pada larangan jual beli barang yang gaib (tidak hadir), sebab di dalamnya terdapat unsur ketidakjelasan dan tersembunyi, meskipun secara kasat mata seluruhnya tampak. Ini bukanlah hal yang aneh dalam jual beli barang gaib. Namun, kebiasaan para ahli yang membangun cabang-cabang hukum adalah mereka menurunkan permasalahan dari pendapat yang mereka anggap sahih, lalu menjelaskan pendapat mereka dalam masalah tersebut, dan tidak membahas pendapat yang kedua.
فحاصل المذهب أن المسائلَ التي ذكرناهَا مصحَّحةٌ على جواز بيعِ الغائبِ والقولُ فيها على قولِ منع بيع الغائبِ منقسمٌ ثلاثةَ أقسام أحدُها أن يكون استتارُ المقصودِ بحيث يظهر مسيسُ الحاجَةِ إليه وتغلب العادةُ فيهِ كالبيض والجوز واللَّوْز إذا بيعت في قشرَتها التي هي صوانُها
Maka kesimpulan mazhab adalah bahwa permasalahan-permasalahan yang telah kami sebutkan tersebut dibenarkan atas dasar bolehnya jual beli barang yang tidak hadir, dan pembahasan mengenai hal ini menurut pendapat yang melarang jual beli barang yang tidak hadir terbagi menjadi tiga bagian: pertama, apabila barang yang dimaksud tersembunyi sehingga tampak adanya kebutuhan mendesak terhadapnya dan kebiasaan yang berlaku demikian, seperti telur, kenari, dan almond jika dijual dalam kulitnya yang merupakan pelindungnya.
والقسم الثاني ما يضطرب النظر فيه في اشتداد الحاجةِ إلى احتمال الاستتار وهو كالحنطةِ في سنبلِها والرّز في قشرِهِ والفولِ الرطب والجوزِ الرّطبِ في قشرتها العُليا وراء قشرتها الخشنة فالرأي يضطرب في تحقيق إظهارِ الحاجة في هذه المسائل فاختلف المذهبُ لذلك
Bagian kedua adalah perkara yang diperselisihkan pandangannya karena sangat dibutuhkan kemungkinan tersembunyinya (najis), seperti gandum dalam bulirnya, beras dalam sekamnya, kacang fava basah, dan kenari basah dalam kulit luarnya di balik kulit kasarnya. Maka pendapat menjadi tidak menentu dalam memastikan tampaknya kebutuhan pada masalah-masalah ini, sehingga terjadi perbedaan pendapat dalam mazhab karena hal itu.
والقسم الثالث استتار وجهالةٌ من غير حاجةٍ ولا استمرار عادة كالباقلاء اليابس في القشرةِ العُليا فلا حاجة إلى هذا الاستتار ولا عادةَ فيهِ فاقتضى مجموعُ هذا القطعَ بمنع البيع وردِّ الأمرِ إلى منع بيع الغائب
Bagian ketiga adalah tersembunyinya sesuatu dan ketidaktahuan tanpa adanya kebutuhan atau kebiasaan yang terus-menerus, seperti kacang buncis kering yang masih dalam kulit luarnya; tidak ada kebutuhan untuk tersembunyi seperti ini dan tidak ada kebiasaan di dalamnya, sehingga keseluruhan hal ini menuntut adanya keputusan tegas untuk melarang penjualan dan mengembalikan perkara tersebut kepada larangan menjual barang yang tidak hadir.
فلتُفهم هذه المسائل على هذا الوجه
Maka hendaknya persoalan-persoalan ini dipahami dengan cara seperti ini.
وذكر الأئمة أن بيع لحم الشاة الذكيَّةِ في جلدِها قبل السلخ ممتنعٌ وهذا الامتناع يجري على القولين جميعاً؛ من جهة أن الاستتار لا يزول إلا بقطع جزءٍ وتفصيله؛ فإن السلخ قطعُ الجلد الملتئم على اللحم عنه وسيأتي لهذا نظائر عند ذكرنا بيعَ جزءٍ من نصْلِ أو خشبةٍ وكان لا يتأتَّى تَسليمُ المسمَّى مبيعاً إلا بقطعٍ وتفصيل ولعلَّنَا نُعيد هذه المسألة ثَمَّ إن شاء الله تعالى
Para imam (ulama) menyebutkan bahwa menjual daging kambing yang telah disembelih secara syar‘i dalam kulitnya sebelum dikuliti adalah tidak diperbolehkan, dan larangan ini berlaku menurut kedua pendapat; karena penutup (kulit) tidak akan hilang kecuali dengan memotong sebagian dan merincinya. Sebab, menguliti berarti memotong kulit yang melekat pada daging tersebut. Akan ada contoh-contoh serupa mengenai hal ini ketika kami membahas penjualan sebagian dari mata pisau atau kayu, di mana penyerahan barang yang disebutkan sebagai objek jual beli tidak dapat dilakukan kecuali dengan memotong dan merinci. Barangkali kami akan mengulang pembahasan masalah ini di tempat lain, insya Allah Ta‘ala.
وكان شيخي يقطع بمنع بيعِ الجَزَرِ والسلقِ والفجلِ في الأرض وهذا مفرعٌّ على منع بيع الغائب وإذا جوزناه صححنا البيعَ في هذه الأشياء حسب تصحيحنا بيعَ الأشياء المدفونة في الأرض إذا كان لا يَعسُر إخراجُها
Dan guruku berpendapat tegas melarang penjualan wortel, sawi, dan lobak yang masih di dalam tanah. Ini didasarkan pada larangan menjual barang yang ghaib (tidak tampak). Jika kita membolehkannya, maka kita mengesahkan penjualan barang-barang tersebut sebagaimana kita mengesahkan penjualan barang-barang yang tertanam di dalam tanah, selama tidak sulit untuk mengeluarkannya.
فصل
Bab
قال ولا يجوز أن يَستثني من التمر مدّاً إلى آخرِه
Ia berkata: Tidak boleh seseorang mengecualikan satu mudd dari kurma hingga akhirnya.
إذا باع ثمرةَ بستان إلا مدَّاً فالبيع باطل نصَّ عليه الشافعي رحمه الله في كتبه الجديدة والقديمة والسببُ فيه أن الثمار المشارَ إليها ليست معلومةً بكيلٍ ولا وزن وإنما التَّعويل في إعلامها على العِيان فإذا استثنى منها مقداراً اختل به ضبطُ العِيان فلا يُشار إلى شيء من الثمارِ إلا وللمُدِّ المستثنى منه نصيبٌ
Jika seseorang menjual buah-buahan kebun kecuali satu mud, maka jual belinya batal, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafi‘i rahimahullah dalam kitab-kitab barunya maupun lamanya. Sebabnya adalah karena buah-buahan yang dimaksud itu tidak diketahui takarannya dengan ukuran atau timbangan, melainkan penentuannya didasarkan pada penglihatan. Jika dari buah-buahan itu dikecualikan sejumlah tertentu, maka penglihatan sebagai dasar penentuan menjadi tidak akurat, sehingga tidak ada satu bagian pun dari buah-buahan itu yang dapat ditunjuk kecuali bagian mud yang dikecualikan itu juga memiliki bagian di dalamnya.
ولو استثنى من الثمار جُزءاً كالنصف والرّبع صح؛ فإنّ هذا لا يُخلّ بضبط العِيان؛ إذ لا يشار إلى شيءٍ من الثمار إلا وينتظم فيه القول بأن المبيعَ منه نصفُه مثلاً
Jika penjual mengecualikan sebagian dari buah-buahan, seperti setengah atau seperempat, maka jual beli tersebut sah; karena hal ini tidak mengganggu kejelasan secara kasat mata, sebab tidak ada satu bagian pun dari buah-buahan yang ditunjuk kecuali dapat dikatakan bahwa yang dijual darinya adalah setengahnya, misalnya.
وعبَّر الشافعي عن هذا وقال استثناء المقدار المعلوم عن المجهول يُكسبُه جهالةً لا تحتمل
Syafi‘i mengungkapkan hal ini dengan mengatakan bahwa pengecualian sejumlah tertentu dari sesuatu yang tidak diketahui menjadikannya mengandung unsur ketidakjelasan yang tidak dapat ditoleransi.
ولو أشار إلى صُبرةٍ في البيع وقال بعتُك هذه الصُّبرة إلا مُدّاً فإن كانت مجهولةَ الأمدادِ فالجواب فيها كالجواب في الثمارِ ولو كانت الصُّبرةُ معلومةَ الأمداد فالبيع صحيح والاستثناءُ ثابتٌ ولا حاجة إلى ذكر أمدادِ الصُّبرةِ لفظاً بل يكفي أن يكونَ المتعاقِدان عالمين بمبلغ الأمداد
Jika seseorang menunjuk ke sebuah tumpukan barang dalam jual beli dan berkata, “Aku jual kepadamu tumpukan ini kecuali satu mud,” maka jika jumlah mud dalam tumpukan itu tidak diketahui, jawabannya sama seperti pada kasus buah-buahan. Namun jika tumpukan itu diketahui jumlah mud-nya, maka jual belinya sah dan pengecualiannya tetap berlaku, serta tidak perlu menyebutkan jumlah mud tumpukan itu secara lisan, cukup jika kedua pihak yang berakad mengetahui jumlah mud tersebut.
ولو قالَ بعتُكَ صاعاً من هذه الصّبرة فإن كانت معلومةَ الصيعان صح البيعُ
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu satu sha‘ dari tumpukan ini,” maka jika jumlah sha‘ dalam tumpukan tersebut diketahui, jual beli itu sah.
واختلف الأئمةُ في تنزيله فقال طوائفُ منهم هذا بمثابة بيعِ جزءٍ من جملةٍ حتى لو كانت الصُّبرة مائةَ صاع فالبيع عُشر العُشر وأثر هذا أنه لو تلفَ من الصُّبرة شيءٌ يقسط على المبيع والباقي وهذا اختيار القفال
Para imam berbeda pendapat dalam menafsirkannya. Sebagian kelompok dari mereka berpendapat bahwa hal ini serupa dengan menjual sebagian dari suatu keseluruhan, sehingga jika jumlah tumpukan itu seratus sha‘, maka yang dijual adalah sepersepuluh dari sepersepuluhnya. Dampaknya adalah jika sebagian dari tumpukan itu rusak, maka kerusakan tersebut dibagi rata antara bagian yang dijual dan sisanya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh al-Qaffal.
وقال قائلون ليس بيعُ صاعٍ محمولاً على مذهب التجزئة ولو تلف شيء لم يتقسَّط التالف على المبيع وغيرِه بل يبقى المبيعُ مَا بقِي صاعٌ؛ فإن البائع ما أخرَج بيعَ الصاعِ إخراجَ بيعِ الجزء من الأجزاء والمقاصد هي المرعيّة
Dan sebagian orang berkata, jual beli satu sha‘ tidak dianggap sebagai jual beli secara terpisah-pisah. Jika ada bagian yang rusak, kerusakan tersebut tidak dibagi rata antara barang yang dijual dan yang lainnya, melainkan barang yang dijual tetap ada selama masih tersisa satu sha‘. Sebab, penjual tidak memperlakukan penjualan satu sha‘ seperti penjualan sebagian dari bagian-bagian, dan tujuan-tujuan (maqāṣid) itulah yang menjadi perhatian.
هذا إذا كانت الصُّبرة معلومةَ الصِّيعان
Ini berlaku jika jumlah tumpukan (ṣubrah) tersebut diketahui takarannya.
فأما إذا كانت مجهولةَ الصيعانِ فقال بعتك صاعاً منها فهذا خارج على التردد في تنزيل بيع الصاع في صُورةِ العلم بمبلغ الصيعان فإن نزلنا الصاعَ على الجزء وبنينا عليه تقسيط التالف على المبيع والباقي فالبيع على هذا المسلك مع الجهل بالصّيعان باطل؛ فإنه بيعُ جزءٍ مجهولٍ واستدَلّ القفال عليه بما لا دفع له فقال لو قُسمت الصُّبرةُ أمداداً ومُيّزت ثم قالَ مالكها بعتُكَ مُداً منها فالبيعُ باطل ولا فرق بين أن يتميز كذلكَ وبين أن تجتمعَ وهذا هو القياس
Adapun jika jumlah takaran (ṣī‘ān) tidak diketahui, lalu seseorang berkata, “Aku jual kepadamu satu ṣā‘ dari tumpukan ini,” maka hal ini kembali pada perbedaan pendapat dalam menempatkan jual beli satu ṣā‘ dalam gambaran diketahui jumlah takarannya. Jika kita anggap ṣā‘ sebagai bagian dan mendasarkan pembagian kerusakan pada barang yang terjual dan yang tersisa, maka menurut pendapat ini, jual beli dengan ketidaktahuan jumlah takaran adalah batal; karena itu berarti menjual bagian yang tidak diketahui. Al-Qaffāl memberikan dalil yang tidak dapat dibantah, ia berkata: “Jika tumpukan itu dibagi menjadi mud-mud dan dipisahkan, lalu pemiliknya berkata, ‘Aku jual kepadamu satu mud dari tumpukan ini,’ maka jual belinya batal. Tidak ada perbedaan antara sudah dipisahkan seperti itu atau masih terkumpul. Inilah qiyās (analogi) yang benar.”
ومن نزَّل بيعَ الصاع في صُورةِ العِلم على الإبهام لا على الجُزئية صحح البيعَ في المُدّ من الصُّبرة المجهولة الأمداد قائلاً إن المبيع معلومٌ ولا ننظر إلى الجزئية ثم لا يقضي هذا القائلُ بتلف المبيع ما بقي من الصُّبرة مقدارُ المبيع
Barang siapa yang menempatkan jual beli satu sha‘ dalam bentuk pengetahuan secara global, bukan pada bagian-bagiannya, maka ia membenarkan jual beli satu mudd dari tumpukan (barang) yang tidak diketahui jumlah mudd-nya, dengan mengatakan bahwa barang yang dijual itu sudah diketahui dan tidak memperhatikan bagian-bagiannya. Kemudian, orang yang berpendapat demikian tidak memutuskan bahwa barang yang dijual menjadi rusak selama sisa tumpukan itu masih ada sebanyak ukuran barang yang dijual.
والقفالُ يقول هذا خارجٌ عن الإشاعةِ والتعيينِ والوصْفِ وإحاطةِ العيان
Al-Qaffal berkata, “Ini berada di luar penyebaran, penentuan, deskripsi, dan jangkauan penglihatan langsung.”
ثم قال لا فرق عندي بين بيع شيء مجهولِ القدر مضبوطٍ بالعِيانِ يستثنى منه مقدارٌ وبين بيعِ مقدَّرٍ مُضافٍ إلى مجهول القدر مضبوط بالعِيان
Kemudian ia berkata, menurutku tidak ada perbedaan antara menjual sesuatu yang tidak diketahui ukurannya namun dapat dipastikan dengan penglihatan, lalu dikecualikan darinya sejumlah tertentu, dengan menjual sesuatu yang sudah ditentukan ukurannya yang dihubungkan dengan sesuatu yang tidak diketahui ukurannya namun dapat dipastikan dengan penglihatan.
ولو قالَ بعتُك عشرةَ أذرع من هذه الأرض وهي مجهولةُ الدُّرعان فقد أطبقَ الأصحابُ على بطلان البيع واعتَلُّوا بأن جوانبَ الأرضِ تتفاوت وصيعانُ الصُّبرة لا تتفاوتُ وإن كانت الأرضُ معلومةَ الدُّرعانِ فالقفال يحمل البيع على الجزئية ويصححه ومن لا يرعى مذهبَ الجُزئية في الصاعِ حكَمَ ببطلان البيعِ هاهُنا؛ فإن الذرعان متفاوتةٌ
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu sepuluh hasta dari tanah ini,” sementara panjang tanah tersebut tidak diketahui, para ulama sepakat bahwa jual beli itu batal. Mereka beralasan bahwa sisi-sisi tanah berbeda-beda, sedangkan takaran timbunan (ṣubrah) tidak berbeda-beda. Jika tanah tersebut diketahui panjangnya, maka menurut al-Qaffāl, jual beli itu dianggap sebagai penjualan bagian (juz’iyyah) dan dinyatakan sah. Namun, siapa yang tidak mengikuti pendapat juz’iyyah dalam takaran ṣā‘, maka ia memutuskan batalnya jual beli di sini, karena ukuran hasta-hasta itu berbeda-beda.
وسنذكر مسألةَ الأرض ونظائرَ لها في بابٍ وثَمَّ تتبينُ حقيقتُها
Kami akan menyebutkan permasalahan tanah dan hal-hal yang serupa dengannya dalam suatu bab, dan di sana akan tampak hakikatnya.
قالَ الشافعي لو قال بعت منك ثمرةَ هذا الحائط بثلاثة آلاف درهم إلا ما يخص ألف درهم فإن أرادَ إلا ما يخص ألف درهم من الثمن فقد باع الثُّلثين بألفين وصح العقدُ وإن أراد بالألفِ المذكورِ في صيغة الاستثناء جُزءاً من قيمة الثمارِ لو قُوِّمت فالبيع باطل؛ فإن الاستثناء على هذهِ الصفَةِ يَجُرُّ جَهالةً وهذا بيّن لا خفاء بهِ
Syafi‘i berkata: Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu buah-buahan dari kebun ini seharga tiga ribu dirham, kecuali bagian yang senilai seribu dirham,” maka jika yang dimaksud adalah kecuali bagian yang senilai seribu dirham dari harga, berarti ia telah menjual dua pertiga seharga dua ribu dirham dan akadnya sah. Namun, jika yang dimaksud dengan seribu dirham yang disebutkan dalam pengecualian itu adalah sebagian dari nilai buah-buahan jika dinilai, maka jual belinya batal; karena pengecualian dengan cara seperti ini menimbulkan ketidakjelasan, dan hal ini jelas serta tidak samar lagi.
فصل
Bab
قال ولا يرجع من اشترى الثمرةَ وسُلمت إليه بجائحةٍ إلى آخره
Ia berkata: “Orang yang membeli buah-buahan dan telah diserahkan kepadanya, tidak dapat meminta pengembalian karena terkena bencana, dan seterusnya.”
إذا اشترى الرجل الثمارَ بعدَ بُدوّ الصلاحِ بشرطِ التبقيةِ أو مُطلقاً وقد تقرَّر أن مقتضى الإطلاق التبقيةُ وسلم البائعُ الثمارَ على الأشجار إلى المشتري
Jika seseorang membeli buah-buahan setelah tampak tanda-tanda kematangan, baik dengan syarat buah tersebut tetap berada di pohon maupun secara mutlak—dan telah ditetapkan bahwa makna mutlak di sini adalah membiarkan buah tetap di pohon—lalu penjual menyerahkan buah-buahan yang masih di pohon itu kepada pembeli.
فنذكر قبل الخوض فيما قيل في وضع الجوائح أصلين لا خِلافَ على المذهب فيهما أحدهما أن المشتري يتسَلّط على التصرفِ في الثمار بسبب القبضِ من كل الوجوه والأصل الثاني أن البائعَ يلزمُهُ سقْيُ الأشجار إذا كان نموُّ الثمار به وهذا يُشعِر ببقاء عُلقة على البائع من حق العقد؛ فإن إيجابَ السقي للتنمية من حكم إتمام التسليم وكأنَّ المستحقَّ على البائع أن يَسْعَى في تسليم الثمار على صفةِ الكمالِ
Sebelum membahas pendapat-pendapat mengenai penetapan al-jawā’ih, kami akan menyebutkan dua prinsip yang tidak diperselisihkan dalam mazhab. Pertama, pembeli berhak melakukan berbagai bentuk tasharruf (pengelolaan) terhadap buah-buahan karena telah melakukan qabdh (pengambilan/penyerahan). Prinsip kedua, penjual berkewajiban menyirami pohon-pohon jika pertumbuhan buah bergantung padanya. Hal ini menunjukkan masih adanya keterikatan hak akad pada penjual; sebab, mewajibkan penyiraman demi pertumbuhan adalah bagian dari kewajiban menyempurnakan penyerahan. Seolah-olah yang menjadi hak pembeli atas penjual adalah agar penjual berusaha menyerahkan buah-buahan dalam kondisi sempurna.
فإذا وضح هذا فلو اجتاح الثمارَ جَائحةٌ سماوية من صاعقة أو حرٍّ أو بَردٍ وما ضاهاها من العَاهاتِ فما يتلف من الثمارِ بسبب الجوائح أهي من ضمان البائع أم من ضمان المشتري
Jika hal ini telah jelas, maka apabila buah-buahan dilanda oleh bencana alam seperti petir, panas, hujan es, atau penyakit-penyakit lain yang serupa, maka buah-buahan yang rusak akibat bencana tersebut, apakah menjadi tanggungan penjual atau menjadi tanggungan pembeli?
المنصوص عليه في الجديد أنه من ضمان المشتري وهذا هو القياس؛ فإنّ ما جَرى من التسليم إليه سَلّطَه على التَصرُّفات المفتقرة إلى كمالِ القبضِ فدل على حصول القبضِ كاملاً وهذا يتضمَّن احتسابَ التالف على المشتري
Pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru adalah bahwa hal itu menjadi tanggungan pembeli, dan inilah yang sesuai dengan qiyās; sebab apa yang terjadi dari penyerahan kepada pembeli berarti penjual telah memberinya wewenang untuk melakukan berbagai tindakan yang membutuhkan penyempurnaan qabd, sehingga hal itu menunjukkan telah terjadinya qabd secara sempurna, dan ini mengandung konsekuensi bahwa kerusakan yang terjadi menjadi tanggungan pembeli.
والقول الثاني وهو المنصوص عليه في القديم أن ما يتلف بالجوائح فهو من ضمان البائع فإن تلفت الثمارُ بجملتها انفسخ البيعُ وارتد الثمن إلى المشتري ولو تلف بعضُها انفسخ البيعُ فيه وخرج القولُ في الباقي على قَوْلَيْ تفريقِ الصفقةِ
Pendapat kedua, yang merupakan pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama (al-qadīm), adalah bahwa apa yang rusak karena bencana (al-jawā’ih) menjadi tanggungan penjual. Jika seluruh buah-buahan itu rusak, maka akad jual beli batal dan harga kembali kepada pembeli. Jika sebagian buah-buahan itu rusak, maka akad jual beli batal pada bagian yang rusak tersebut, dan untuk sisanya berlaku dua pendapat tentang tafriq ash-shafqah (pemisahan akad).
وهذا القائل احتج بما رُوي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع السنين وأمر بوضع الجوائح وقد عرض هذا الحديث على الشافعي فقال هذا الحديث رواه سفيان بن عُيينةَ عن حُمَيْد بن قيس عن سليمان بن عتيق عن جابر بن عبد اللهِ مراراً ولم يذكر وضعَ الجوائح ثم روى وضعَ الجوائح وقال كان قبله كلامٌ فنسيتُه ثم رأيت أَروي ما أذكر قال الشافعي فلعلَّ الكلامَ الذي كان قبله شيء يدل على أن وضع الجوائح مستحبٌّ لا واجب ثم قال الشافعي لولا أن سفيان وهَّن الحديثَ الذي رواه لقُلتُ به وأراد بتوهينه إياه سكوتَه عن رواية وضع الجوائح أوّلاً ثم تردُّدُه في كلامٍ كان قبل وضعِ الجوائحِ
Orang yang berpendapat demikian berdalil dengan riwayat bahwa Rasulullah saw. melarang jual beli tahun-tahun dan memerintahkan untuk menetapkan aturan tentang bencana (al-jawā’ih). Hadis ini pernah diajukan kepada asy-Syafi‘i, lalu beliau berkata: Hadis ini diriwayatkan oleh Sufyan bin ‘Uyainah dari Humayd bin Qais dari Sulaiman bin ‘Atiq dari Jabir bin ‘Abdillah beberapa kali, dan tidak disebutkan penetapan aturan tentang al-jawā’ih. Kemudian ia meriwayatkan penetapan al-jawā’ih dan berkata: “Sebelumnya ada pembicaraan yang aku lupa, lalu aku meriwayatkan apa yang aku ingat.” Asy-Syafi‘i berkata: “Mungkin pembicaraan sebelumnya itu menunjukkan bahwa penetapan al-jawā’ih itu mustahabb (dianjurkan), bukan wajib.” Kemudian asy-Syafi‘i berkata: “Kalau saja Sufyan tidak melemahkan hadis yang ia riwayatkan, niscaya aku akan berpendapat dengannya.” Yang dimaksud dengan melemahkan hadis itu adalah karena Sufyan awalnya diam dari meriwayatkan penetapan al-jawā’ih, lalu ia ragu terhadap pembicaraan yang ada sebelum penetapan al-jawā’ih.
ورُبما يتمسَّك ناصر القول القديم بما قدَّمناه في صدرِ الفصلِ من وجوب السقي على البائع وانفصل عن تسلط المشتري على التصرف بأن قال لا يمتنع أن ينفذَ التصرفُ وإن كان لو قُدِّر التلفُ فالتلفُ من ضمان المُمَلِّك كالدار المستأجرة إذا قبضَها المُستأجر فإنه يتصرّفُ فيهَا ولو انهدمت الدار انفسخت الإجارة في بقيّةِ المدّة
Mungkin pendukung pendapat lama berpegang pada apa yang telah kami kemukakan di awal bab tentang kewajiban menyirami tanaman bagi penjual, dan membedakan dari kekuasaan pembeli untuk melakukan tasharruf (transaksi), dengan mengatakan bahwa tidak mustahil tasharruf itu sah meskipun jika terjadi kerusakan, maka kerusakan itu menjadi tanggungan pihak yang memilikkan, seperti rumah yang disewa; apabila penyewa telah menerima rumah tersebut, ia dapat melakukan tasharruf di dalamnya, dan jika rumah itu runtuh, maka akad ijarah (sewa) menjadi batal untuk sisa masa sewanya.
وناصرُ القولِ الجديد يقول البيع يستدْعي قبضاً كاملاً والإجارةُ تصح من مالك الرقبة في حَال عَدمِ المنافع؛ فلا يَسوغُ اعتبار أحد العقدينِ بالثاني
Pendukung pendapat baru mengatakan bahwa jual beli menuntut adanya qabd (penyerahan barang) secara sempurna, sedangkan ijarah sah dilakukan oleh pemilik raqabah (hak kepemilikan pokok) meskipun dalam keadaan tidak ada manfaat; maka tidak dibenarkan untuk menganggap salah satu dari kedua akad tersebut berdasarkan akad yang lain.
التفريع على القولين
Penjabaran hukum berdasarkan dua pendapat
إن قلنا التالفُ بالجوائح من ضمان المشتري فلا كلام
Jika kita mengatakan bahwa kerusakan akibat bencana menjadi tanggungan pembeli, maka tidak ada pembicaraan lagi.
وإن قلنا إنه من ضمان البائع فهذا يطّرد إلى أوان القطافِ فإن أخَّر المشتري القِطافَ تأخيراً يُعدّ به متوانياً مقصّراً فما يقعُ في هذا الزَّمن لا يكون من ضمان البائع قولاً واحداً؛ فإن المشتري منتسب إلى التقصير في تأخيرِ القِطاف فشابه هذا ما لو اشترى الثمارَ بشرط القطعِ ثم لم يقطع؛ فاجتاحته الجوائح فالتلفُ من ضمانِ المشتري إذا وقعَ بعد التسليم إليه ولو حان وقتُ القِطاف ولكن ليس يُعدُّ مؤخِّرُه في اليوم واليومين متوانياً وقد يُعدُّ مُتَشوِّفاً إلى مزيدٍ في نَشْفِ رُطوبة فِجَّةٍ لا يستقلّ بنَشْفِها الجرين فلو جَرت الجائحةُ في هذا الزمان فظاهِر المذهبِ أن التالفَ من ضمانِ المشتري ولا يخرج القولان وإنما محل جريانِهما فيما قبل أوانِ القطافِ وفي بعض الطرق رمزٌ إلى إلحاق هذا الزمن إذا لم ينتسب المشتري إلى التقصير بالزمان المقدَّم على القطافِ
Jika kita katakan bahwa hal itu menjadi tanggungan penjual, maka ketentuan ini berlaku hingga waktu panen. Jika pembeli menunda panen dengan penundaan yang dianggap sebagai kelalaian dan keteledoran, maka apa yang terjadi pada masa ini tidak lagi menjadi tanggungan penjual menurut satu pendapat; sebab pembeli telah dianggap lalai karena menunda panen. Hal ini serupa dengan kasus jika seseorang membeli buah-buahan dengan syarat harus segera dipetik, lalu ia tidak memetiknya; kemudian buah tersebut rusak karena bencana, maka kerusakan itu menjadi tanggungan pembeli jika terjadi setelah buah diserahkan kepadanya, meskipun waktu panen telah tiba. Namun, orang yang menunda panen satu atau dua hari tidak dianggap lalai, bahkan bisa jadi ia sedang berharap buahnya menjadi lebih kering dari kadar air yang masih tersisa, yang tidak bisa dikeringkan oleh tempat pengeringan. Jika bencana terjadi pada masa ini, maka menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, kerusakan tersebut menjadi tanggungan pembeli, dan tidak ada dua pendapat dalam hal ini. Adapun dua pendapat itu hanya berlaku sebelum waktu panen. Dalam sebagian riwayat, ada isyarat untuk menyamakan masa ini—jika pembeli tidak dianggap lalai—dengan masa sebelum panen.
وعلى نحو هذا تردَّدوا في أمَدِ السقي الواجب على البائع فأوجبوه على الوجه الذي ينفع قبل أوانِ القطاف ورتبوا الكلامَ بعدهُ على ما ذكرناه
Demikian pula, mereka berbeda pendapat mengenai batas waktu penyiraman yang wajib atas penjual, lalu mereka mewajibkannya dengan cara yang bermanfaat sebelum masa panen, dan mereka mengatur pembahasan setelahnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.
ومما يتفرع على قول وضع الجوائح أن الآفة لو لحقت الثمار من جهة سارق فلأصحابنا وجهان على قولنا بوضع الجوائح أحدهما يوضع المسروق وضعَ الجائحة السماوية وهذا ضعيف وإن كان مشهوراً في الحكاية؛ فإن السرقةَ نتيجةُ ترك التحفظ واليدُ للمشتري ولا نعرف خلافاً أنه لا يجب على البائع نَصْبُ ناطور على الثمار إلى جدادِها ولستُ آمنُ أن يمنعَ ذلك من يصير إلى الوجه البعيد من أن الفائت بالسرقة موضوع عن المشتري وهو من ضمان البائع
Di antara cabang dari pendapat tentang penetapan al-jawā’ih adalah bahwa jika musibah menimpa buah-buahan karena pencuri, maka menurut pendapat ulama mazhab kami dalam masalah penetapan al-jawā’ih, terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa buah yang dicuri diperlakukan seperti musibah yang datang dari langit, dan pendapat ini lemah meskipun terkenal dalam riwayat; sebab pencurian merupakan akibat dari kelalaian dalam menjaga, dan tangan (kekuasaan) atas buah-buahan ada pada pembeli, serta kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa penjual tidak wajib menugaskan penjaga atas buah-buahan sampai masa panen. Saya juga tidak yakin bahwa hal itu akan mencegah orang yang condong pada pendapat yang jauh (lemah) bahwa kerugian akibat pencurian dibebaskan dari pembeli, padahal itu merupakan tanggungan penjual.
ومما يتفرع على القولين أن الثمارَ لو عابت بالجوائح ولم تتلف فثبوتُ الخيار للمشتري يبتني على الحكم بانفساخِ العقدِ لو تلفت الثمار فلو حكمنا بالانفساخِ عند التلف أثبتنا الخيارَ للمشتري بالعيب وإن لم نحكم بالانفساخ عند التلف لم يثبت الخيار عند العيب
Salah satu cabang dari dua pendapat tersebut adalah bahwa jika buah-buahan rusak karena bencana alam namun tidak sampai musnah, maka hak khiyar bagi pembeli bergantung pada hukum batalnya akad jika buah-buahan itu musnah. Jika kita memutuskan akad batal ketika terjadi kemusnahan, maka kita menetapkan hak khiyar bagi pembeli karena cacat. Namun jika kita tidak memutuskan akad batal ketika terjadi kemusnahan, maka hak khiyar tidak ditetapkan ketika terjadi cacat.
ومن أهم ما نفرّعُه وفيه تمام البيان أن نقول كل ما ذكرناه في آفاتٍ سماويّة لم يكن سببُها تركَ السَّقي من البائع
Dan di antara hal terpenting yang kami rincikan, yang di dalamnya terdapat penjelasan yang sempurna, adalah bahwa segala sesuatu yang telah kami sebutkan terkait bencana-bencana dari langit, maka penyebabnya bukanlah karena penjual meninggalkan penyiraman.
فأما إذا ترك البائعُ السقيَ فتلفت الثمارُ لتركه السقيَ فللأصحاب في ذلك خبط ونحن نفصله بعون اللهِ وتوفيقه فنقول أولاً إذا تلفت الثمار بسبب تركِ
Adapun jika penjual meninggalkan penyiraman sehingga buah-buahan itu rusak karena ia tidak menyiramnya, maka para ulama memiliki pendapat yang beragam dalam hal ini. Kami akan merincinya dengan pertolongan dan taufik Allah. Pertama, jika buah-buahan itu rusak karena ditinggalkannya penyiraman…
السَّقي ولم يَشعر المشتري بحقيقةِ الحالِ فلأصحابنا طريقان منهم من قالَ نقطعُ القولَ بانفساخ العقد ورَدِّ الثمن؛ من جهة أن الآفةَ استندت إلى ترْك السقي المستحق بالعقدِ فصارَ كما لو جَرى التلفُ مقدّماً على التسليم وما يستند إلى سبب سابق في العقدِ يتنزل منزلةَ ما لو سبق هو بنفسه والدليل عليه أن البائع لو أبرأ المشتري عن شيءٍ من الثمن لم يسقط ذلك عن الشفيع ولو حُطّ مقدارٌ من الثمن أَرْشا لعيبٍ قديمٍ كان فهو محطوط عن الشفيع لمكان استنادِه إلى العيب المقترن بالعقدِ
Penyiraman tidak dilakukan dan pembeli tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka menurut ulama kami ada dua pendapat. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa akad secara pasti batal dan harga harus dikembalikan; karena kerusakan itu disebabkan oleh tidak dilakukannya penyiraman yang seharusnya menjadi hak berdasarkan akad, sehingga keadaannya seperti jika kerusakan terjadi sebelum penyerahan barang. Segala sesuatu yang bersandar pada sebab yang telah ada sebelumnya dalam akad, diperlakukan seperti seolah-olah sebab itu sendiri telah terjadi lebih dahulu. Dalilnya adalah, jika penjual membebaskan pembeli dari sebagian harga, hal itu tidak menggugurkan hak syuf‘ah; namun jika sebagian harga dikurangi sebagai kompensasi atas cacat lama yang ada, maka pengurangan itu juga berlaku bagi pemilik hak syuf‘ah, karena pengurangannya bersandar pada cacat yang berkaitan dengan akad.
ومن أصحابنا من أجرى المسألةَ على قولين وإن كان التلف بسبب ترك السقي ذكرهُ صاحب التقريب وأورده الصيدلاني على وجهٍ سأُنبّه عليه بعد الفراغ عن الترتيب الذي أريده
Sebagian dari ulama mazhab kami mengemukakan masalah ini dengan dua pendapat, meskipun kerusakan terjadi karena meninggalkan penyiraman. Hal ini disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib, dan as-Saidalani mengemukakannya dengan cara yang akan saya jelaskan setelah selesai dengan urutan yang saya maksudkan.
وهذا الاختلافُ قريبُ المأخذِ من أصلٍ سيأتي في باب الخراج وهو أن من اشترى عبداً مُرْتدّاً وقبضه ثم قُتل بالردة في يده فهذا التلفُ بعد القبضِ ونفوذِ تصرّفِ المشتري ولكنه مترتب على سبب سابق فإن قلنا العقد ينفسخ فلا كلام وإن قلنا العقد لا ينفسخ فسببُ التلفِ تَرْكُ السقي وهو اعتداءٌ من البائع
Perbedaan ini berkaitan erat dengan pokok masalah yang akan dijelaskan dalam bab kharaj, yaitu apabila seseorang membeli seorang budak murtad dan telah menerimanya, kemudian budak tersebut dibunuh karena murtad saat berada di tangannya, maka kerusakan itu terjadi setelah penerimaan dan setelah sahnya tindakan pembeli. Namun, kerusakan tersebut bersumber dari sebab yang telah ada sebelumnya. Jika kita katakan akadnya batal, maka tidak ada pembahasan lagi. Tetapi jika kita katakan akadnya tidak batal, maka sebab kerusakan itu adalah karena tidak disirami, dan ini merupakan tindakan melampaui batas dari pihak penjual.
وإذا ترتب التلفُ على سببِ عدوانٍ تعلق به الضمانُ فالوجه أن نقول إن لم يطلع المشتري على حقيقة الحالِ حتى تلفت الثمار فيضمنُ البائعُ لا محالةَ
Jika kerusakan terjadi karena sebab yang bersifat melanggar, maka tanggung jawab (dhamān) terkait dengannya. Pendapat yang tepat adalah, jika pembeli tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya hingga buah-buahan itu rusak, maka penjual pasti bertanggung jawab.
وإن بدا عَيْبٌ بالثمارِ لترك السقي فكيف الوجه فيهِ قال الصيدلاني للمشتري أن يرد بالعيب وزاد فقالَ لو انقطعَ الماءُ فله الرد بمجرد انقطاعِ الماءِ ثم استتم الكلامَ فقال إن فسخ فلا كلامَ وإن لم يفسخ حتى تلفت الثمارُ ففي وضع الجوائح قولان
Jika tampak cacat pada buah-buahan karena ditinggalkan penyiraman, bagaimana hukumnya? Asy-Syidhlani berkata: Pembeli berhak mengembalikan (barang) karena cacat. Ia menambahkan: Jika air terputus, maka pembeli berhak mengembalikan hanya dengan sebab terputusnya air. Kemudian ia menyempurnakan penjelasannya dengan berkata: Jika pembeli membatalkan (akad), maka tidak ada masalah. Namun jika ia tidak membatalkan hingga buah-buahan itu rusak, maka dalam hal penerapan hukum al-jawā’ih terdapat dua pendapat.
وهذا كلام مختلِطٌ فانَّ ثبوت الخيار فرعُ وضع الجوائح كما قدمتُه في التفريع على القولين وكلام الصيدلاني يدل على أن الخيار يثبت على القولين وهذا على إشكالهِ متفقٌ عليه من الأصحاب
Ini adalah pernyataan yang rancu, karena keberadaan khiyār merupakan cabang dari penetapan al-jawā’ih sebagaimana telah saya jelaskan dalam penjabaran atas dua pendapat. Pernyataan ash-Shaydalani menunjukkan bahwa khiyār ditetapkan menurut kedua pendapat, dan meskipun terdapat kerancuan di dalamnya, hal ini telah disepakati oleh para ulama mazhab.
فإذا عابت الثمارُ بسبب تركِ البائع السقيَ فللمشتري الخيارُ وإن حصل العيب بعد التسليم ووقع التفريعُ على أن الجوائح لا توضع وأن التالف بالآفة السماوية من ضمان المشتري وتعليلُ ثبوتِ الخيارِ مع ثبوتِ اليدِ للمشتري تفريعاً على القولِ الجديد أن الشرع ألزمَ البائعَ تنميةَ الثمار بحكم العقدِ فيصير العيبُ الحادثُ بهذا السبب كالعيب المتقدم على القبضِ وهو في ظاهرِ الأمر مشبه بخيار الخُلف؛ فإن الصفةَ المشروطةَ لا تستحق بمطلق العقد وإذا شُرطت وأُخلِفت ثبت الخيارُ فإذا فُرض العيب في الثمارِ بسبب ترك السقي فكأنا نقول أجزاءُ الثمار كانت تزيد لو سُقيت فإذا لم تُسقَ فتركُ السقي تضمّن ألا تؤخذَ تيك الزوائدُ التي كان التزمَ التسببَ إلى وُجودِها وهي تُضاهي على هذا الترتيبِ منافعَ الدار المُستأجرةِ فإنها ستوجد شيئاً فشيئاً والدار مسلّمة بنفسها
Jika buah-buahan cacat karena penjual meninggalkan penyiraman, maka pembeli memiliki hak khiyar. Namun, jika cacat itu terjadi setelah penyerahan dan berdasarkan cabang hukum bahwa kerusakan akibat bencana alam tidak ditanggung, dan kerusakan karena musibah langit menjadi tanggungan pembeli, maka alasan tetapnya hak khiyar meskipun barang sudah di tangan pembeli didasarkan pada pendapat baru bahwa syariat mewajibkan penjual untuk merawat dan mengembangkan buah-buahan berdasarkan akad. Maka, cacat yang terjadi karena sebab ini diperlakukan seperti cacat yang terjadi sebelum penyerahan. Secara lahiriah, hal ini mirip dengan khiyar karena ketidaksesuaian; sebab sifat yang disyaratkan tidak otomatis didapatkan hanya dengan akad. Jika sifat itu disyaratkan dan tidak terpenuhi, maka tetaplah hak khiyar. Jika cacat pada buah-buahan terjadi karena tidak disiram, seolah-olah kita mengatakan bahwa bagian-bagian buah itu akan bertambah jika disiram. Jika tidak disiram, maka meninggalkan penyiraman berarti tidak mengambil tambahan-tambahan yang seharusnya penjual berusaha mewujudkannya. Dalam urutan ini, hal itu serupa dengan manfaat rumah yang disewakan, karena manfaat itu akan muncul sedikit demi sedikit sementara rumah itu sendiri sudah diserahkan.
ثم يَبِينُ حاصلُ المذهب بذكر صُورتين إحداهُما أن من اشترى عبداً مرتداً على علمٍ بردتهِ وقبضه فلا ردَّ له لمكان علمهِ فلو قُتلَ في يدهِ ففي الانفساخ وجهان
Kemudian akan dijelaskan hasil dari mazhab ini dengan menyebutkan dua gambaran. Pertama, jika seseorang membeli seorang budak yang murtad dengan mengetahui kemurtadannya dan telah menerimanya, maka ia tidak berhak mengembalikannya karena ia telah mengetahui keadaannya. Jika budak itu dibunuh saat masih dalam tangannya, maka ada dua pendapat mengenai batalnya akad.
والصورةُ الثانيةُ أن يشتريَ عبداً مرتداً ولا يدري رِدَّتَه فإذا اطلع على رِدته ردّهُ بالعَيب ولو قُتل لردّتِه قبلَ علمهِ ففي الانفساخ وجهان أيضاًً ولكن بالترتيب على صورة العلم فالخيارُ يختصُّ ثبوتُه بالجهلِ بالردة والانفساخ على الاختلاف في حالتَي العلم والجهل
Gambaran kedua adalah seseorang membeli seorang budak yang murtad, namun ia tidak mengetahui kemurtadannya. Jika kemudian ia mengetahui kemurtadannya, maka ia boleh mengembalikannya karena cacat. Namun, jika budak itu dibunuh karena kemurtadannya sebelum ia mengetahuinya, maka ada dua pendapat mengenai batalnya akad, sebagaimana pada gambaran ketika mengetahui. Namun, secara berurutan sesuai dengan gambaran ketika mengetahui, maka hak khiyar khusus berlaku jika tidak mengetahui kemurtadannya, sedangkan pembatalan akad tergantung pada perbedaan pendapat dalam dua keadaan, yaitu ketika mengetahui dan tidak mengetahui.
فإذا ثبتَ ذلك قلنا بعدهُ التلفُ بآفةٍ سماوية فيه القولان والأصح أنه من ضمان المشتري ويمكن أن يقرب من مسألة الردّة من جهة أنه تعرض للآفة تعرّض المريض ولو اشترى عبداً مريضاً فتلف بذلك المرض فقد خرّجَ بعضُ الأصحاب هذا على الخلاف في قتل العبدِ المرتدّ في يد المشتري
Jika hal itu telah tetap, kemudian kita katakan setelahnya bahwa kerusakan karena bencana alam terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah bahwa itu menjadi tanggungan pembeli. Hal ini bisa didekatkan dengan masalah riddah dari sisi bahwa ia terkena bencana sebagaimana orang sakit terkena bencana. Jika seseorang membeli seorang budak yang sedang sakit lalu budak itu meninggal karena penyakit tersebut, sebagian ulama mengaitkan hal ini dengan perbedaan pendapat dalam kasus pembunuhan budak murtad yang berada di tangan pembeli.
ولو كان هلاكُ الثمارِ وتلفُها بسبب ترك السقي فلا يبعد الخِلاف في الانفساخِ لمكان يد المشتري أما الخيار فسبَبهُ استحقاقُ حق السقي على البائع مع عدم الوفاء به ولو اشترى عبداً مرتداً ولم يكن عالماً بردتهِ فلما علم لم يَردّه بالعيبِ فيبطل خيارُه فلو قتل بالردّةِ فالأمر على خلافٍ في الانفساخ كما لو علم بالردة حالةَ الشراء
Jika kerusakan dan hilangnya buah-buahan disebabkan oleh kelalaian dalam penyiraman, maka tidak jauh kemungkinan adanya perbedaan pendapat mengenai pembatalan akad karena adanya tangan pembeli. Adapun hak khiyar, sebabnya adalah karena pembeli berhak atas penyiraman dari penjual namun penjual tidak menunaikannya. Jika seseorang membeli seorang budak yang murtad dan ia tidak mengetahui kemurtadannya, lalu setelah mengetahuinya ia tidak mengembalikannya karena cacat, maka hak khiyarnya batal. Jika budak itu kemudian dibunuh karena murtad, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai pembatalan akad, sebagaimana jika ia mengetahui kemurtadannya saat pembelian.
كذلك إذا عابَت الثمارُ بتركِ السقي نظر فإن لم يشعر المشتري حتى تداعَى الأمرُ إلى التلف فلا خيارَ بعد التلفِ والانفساخُ على الخلاف ولكن إن حكمنا بالانفساخ ارتدَّ الثمن إلى المشتري وإن قُلنا لا ينفسخ وقد انقطع الخيار من غير تقصير من المشتري في ترك الفسخ فعلى البائع قيمةُ الثمار إن لم تكن من ذوات الأمثال وإن جعلناها من ذوات الأمثال فعليه المِثل ويصيرُ تركُ السقي منه بمثابة جنايةٍ ذاتِ سَريان فإذا تمت السرايةُ وتحقق التلفُ وجب ضمان التالف على الجاني هذا إذا لم نحكم بالانفساخ ولم ينتسب المشتري إلى ترك الخيارِ
Demikian pula, jika buah-buahan menjadi cacat karena ditinggalkan tanpa disiram, maka perlu dilihat keadaannya. Jika pembeli tidak mengetahui hingga perkara tersebut berujung pada kerusakan total, maka tidak ada hak khiyar setelah kerusakan, dan pembatalan akad terjadi menurut pendapat yang berbeda. Namun, jika kami memutuskan akad batal, maka harga akan dikembalikan kepada pembeli. Jika kami berpendapat akad tidak batal, dan hak khiyar telah gugur tanpa kelalaian dari pembeli dalam membatalkan akad, maka penjual wajib mengganti nilai buah-buahan tersebut jika bukan termasuk barang yang memiliki padanan (mitsil). Jika termasuk barang yang memiliki padanan, maka penjual wajib mengganti dengan barang sepadan. Maka, meninggalkan penyiraman oleh penjual dianggap seperti melakukan jinayah (tindakan merugikan) yang memiliki dampak. Jika dampaknya telah sempurna dan kerusakan telah terjadi, maka wajib mengganti kerugian atas barang yang rusak kepada pelaku jinayah. Hal ini berlaku jika kami tidak memutuskan akad batal dan pembeli tidak memilih untuk meninggalkan hak khiyar.
فأمَّا إذا علم المشتري بالعيب وترتُّبه على ترك السقي فله الخيار فلو رضي بطل خيارُه فلو تَداعَى العَيبُ إلى التلفَ فإن قُلنا ينفسخ العقد فلا كلام وإن قلنا لا ينفسخ فهل يغرَم البائع بدل التالفِ لعدوانهِ فعلى جوابَين أشار إليهما الأئمة أحدهما أنه لا يغرَمُ شيئاً وكان من حق المشتري أن يفسخَ؛ إذْ أثبت الشرعُ له خياراً والثاني أن عِوضَ الثمار يجب على البائع لعدوانه وموجَبُ العدوان لا يسقط بترك المتخيِّر خيارَه
Adapun jika pembeli mengetahui cacat tersebut dan bahwa cacat itu disebabkan oleh tidak disiram, maka ia memiliki hak khiyar. Jika ia ridha, maka gugurlah hak khiyarnya. Jika cacat itu menyebabkan kerusakan (barang), maka jika kita katakan akadnya batal, maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita katakan akadnya tidak batal, apakah penjual wajib mengganti barang yang rusak karena perbuatannya yang melampaui batas? Maka ada dua jawaban yang telah disebutkan oleh para imam. Pertama, penjual tidak wajib mengganti apa pun, karena seharusnya pembeli membatalkan akad; sebab syariat telah menetapkan hak khiyar baginya. Kedua, pengganti buah-buahan wajib ditanggung oleh penjual karena perbuatannya yang melampaui batas, dan konsekuensi dari perbuatan melampaui batas tidak gugur hanya karena pihak yang memiliki hak khiyar tidak menggunakan haknya.
وهذا يقرب مما قَدَّمناه في أثناء فصل الحجارة المستودَعة فإنا قلنا فيها إذا علم المشتري أن ضرراً سيلحَقُه بسبب القلع فله الخيار فلو لم يختر والحالةُ هذه ونقل البائع فهل يغرم المشتري ما ينقصه القلعُ فيه أوجهٌ ذكرتُها ثَمَّ
Hal ini mendekati apa yang telah kami sampaikan sebelumnya dalam pembahasan tentang batu-batu yang disimpan, yaitu bahwa jika pembeli mengetahui bahwa akan ada bahaya yang menimpanya akibat pencabutan, maka ia memiliki hak khiyar. Jika ia tidak memilih (hak tersebut) dalam keadaan seperti ini dan penjual memindahkan (batu itu), maka apakah pembeli wajib menanggung kerugian yang diakibatkan oleh pencabutan tersebut? Ada beberapa pendapat yang telah saya sebutkan di sana.
فهذا ترتيبُ القولِ في الجوائح والآفات التي تلحقُ الثمارَ ما غادرنا غامضةً إلا غُصنا عليها
Inilah urutan pembahasan mengenai bencana dan musibah yang menimpa hasil panen, sehingga tidak ada satu pun yang samar kecuali telah kami bahas secara mendalam.
فإن قيل إذا أوجبتم على البائع قيمة ما تلف فقد حططتم عنه شيئاً؛ فإنه التزم شرعاً تنميةَ الثمارِ وتبليغَها المنتهى ولولا ما جرى لانتهت الثمار إلى غايتها فهلا غرّمتم البائعَ عوضَ الرُّطب الكاملِ مثلاً أو قيمته ولم اجتزأتم بتغريمه عوض البلحِ أو المذنبِ قلنا إذا كنا نُلزمُه بطريق الإتلاف فلا نلزمُه إلا عِوضَ ما تلف ولا ننظر إلى ما كان يكون لولا التلف فإنَّ كل ما يُتلَف بلحاً على إنسان بهذه المثابة
Jika dikatakan: “Jika kalian mewajibkan kepada penjual untuk mengganti nilai barang yang rusak, berarti kalian telah meringankan bebannya; sebab secara syariat ia berkewajiban untuk merawat buah-buahan dan menyampaikannya hingga matang. Seandainya tidak terjadi sesuatu, niscaya buah-buahan itu akan sampai pada puncaknya. Maka mengapa kalian tidak mewajibkan penjual untuk mengganti buah yang sudah matang sempurna, misalnya, atau nilainya, dan mengapa kalian cukupkan dengan mewajibkan ganti rugi atas buah yang masih setengah matang atau yang belum sempurna?” Kami jawab: Jika kami mewajibkannya melalui jalur kerusakan (itlaf), maka kami hanya mewajibkannya mengganti apa yang rusak saja dan tidak melihat kepada apa yang seharusnya terjadi seandainya tidak rusak. Sebab, setiap barang yang dirusak dalam keadaan setengah matang oleh seseorang dalam kasus seperti ini, maka…
وهذا تمام البيان في ذلك
Dan inilah penjelasan yang lengkap mengenai hal itu.
Bab Muzābanah dan Muhāqalah
المحاقلةُ معناها بيعُ الحَب في السنبل بالحنطة على تخمينٍ في المساواة وهذهِ المعاملةُ باطلةٌ وِفاقاً ونَهْيُ النبي صلى الله عليه وسلم محمولٌ عليها
Al-muhaqalah artinya menjual biji-bijian yang masih di dalam bulir dengan gandum berdasarkan perkiraan kesetaraan, dan transaksi ini batal menurut kesepakatan, serta larangan Nabi saw. ditujukan pada praktik ini.
وفي البَابِ النهي عن المزابنة ومعناها عند الأئمة بيعُ الرطب على رؤوس الشجرِ بالتمر الموضوعِ على الأرض وهذا على صورة المحاقلة في الزرع
Dalam bab ini terdapat larangan terhadap muzābanah, dan maknanya menurut para imam adalah menjual kurma basah yang masih di pohon dengan kurma kering yang sudah diletakkan di tanah. Ini serupa dengan praktik muḥāqalah dalam jual beli tanaman.
وبيعُ العَرايا من قبيل المزابَنةِ التي أجملنا ذِكرَها وهو صحيحٌ كما سيأتي في الباب الذي يلي هذا وفيه يبينُ تميّز ما يصح عمَّا يفسُد
Jual beli ‘araya termasuk dalam kategori muzābanah yang telah kami sebutkan secara ringkas, dan jual beli ini sah sebagaimana akan dijelaskan pada bab berikutnya, di mana akan diterangkan perbedaan antara yang sah dan yang rusak.
والمحاقلةُ مأخوذةٌ من الحقل والحقلُ ساحةٌ تزرع وسُمّيت المعاملة محاقلةً لتعلقها بزرعٍ في حقل
Dan muhaqalah diambil dari kata al-haql, sedangkan al-haql adalah lahan yang ditanami. Transaksi ini dinamakan muhaqalah karena berkaitan dengan tanaman di lahan.
والمزابنة معناها المدافعةُ والزَّبْنُ الدفع سُميت المعاملة بذلك لأنها إذا ابتنت على تخمينٍ في التقدير أورثت في عقباها تنازعاً وتدافعاً بين المتعاقدَيْن
Muzābanah berarti saling mendorong; az-zabn adalah dorongan. Transaksi dinamakan demikian karena jika didasarkan pada perkiraan dalam penetapan (takaran atau timbangan), maka pada akhirnya akan menimbulkan perselisihan dan saling dorong di antara kedua pihak yang berakad.
ولو باع الرجل الزرعَ قبل بَدْوِ الحبّ فيه بالحنطة فلا بأس؛ فإن الزرع حشيشٌ بعدُ غيرُ معدودٍ من المطعومات وهذا لا خفاء به
Jika seseorang menjual tanaman sebelum biji-bijian tampak padanya dengan gandum, maka tidak mengapa; karena tanaman tersebut masih berupa rumput yang belum termasuk dalam kategori bahan makanan, dan hal ini sudah jelas.
Bab Jual Beli ‘Arāyā
قال الشافعي أخبرنا مالك عن داود بن الحُصين عن أبي سفيانَ مولى ابن أبي أحمد عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أرخَصَ في بيع العَرايا فيما دون خمسةِ أوسق أو في خمسة أوسق الشك من داود إلى آخر الباب
Syafi‘i berkata: Malik telah memberitakan kepada kami, dari Dawud bin al-Hushain, dari Abu Sufyan maula Ibnu Abi Ahmad, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. memberikan keringanan dalam jual beli ‘araya pada jumlah kurang dari lima wasaq, atau pada lima wasaq—keraguan ini berasal dari Dawud—hingga akhir bab.
إذا باع رجل الرطب على رؤوس الشجر بالتمر الموضوع على الأرض وخرصَ الرطبَ قدراً ثم قدّره تمراً ثم باعه بخرصِه من التمر الموضوع على الأرضِ وجرى البيعُ فيما دون خمسةِ أوسق فالبيع صحيح عند الشافعي ومعتمدُ البابِ الخبرُ الذي رَواه أبو هُريرة وروى بيعَ العَرايَا على أكمل وجهٍ في البيان زيدُ بنُ ثابتٍ كما ذكَرتُه في الخلاف
Jika seseorang menjual kurma basah yang masih di atas pohon dengan kurma kering yang sudah diletakkan di tanah, lalu ia memperkirakan jumlah kurma basah tersebut, kemudian memperkirakannya dalam bentuk kurma kering, lalu ia menjualnya dengan taksiran tersebut dari kurma kering yang ada di tanah, dan transaksi itu terjadi dalam jumlah kurang dari lima wasaq, maka jual beli tersebut sah menurut Imam Syafi‘i. Dasar utama dalam masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dan penjelasan paling lengkap tentang jual beli ‘araya dalam hal ini telah diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit sebagaimana telah saya sebutkan dalam pembahasan khilaf.
ثم لا يجوز إيراد هذه المعاملةِ على أكثر من خمسة أوسق من التمرِ ويجوز إيرادُها على دون خمسة أوسق وفي تصحيحها في الخمسةِ الأوسُق تردّدٌ للشافعيّ وتميُّلُ قولٍ ولفظه في المختصر وأَحَبُّ إليَّ أن تكون العريَّة أقلَّ من خمسة أوسق ولا أفسخه في الخمسة وأفسخهُ في أكثر فقطع بالصحة فيما دون الخمسَة وقطعَ بالفسادِ فيما زاد على الخمسة ومال إلى الصحة في الخمسة وذكر أصحابنا قولين للشافعي مرسلين في الخمسة
Kemudian, tidak boleh melakukan transaksi ini atas lebih dari lima wasaq kurma, namun boleh dilakukan atas kurang dari lima wasaq. Dalam hal keabsahan transaksi pada lima wasaq, terdapat keraguan menurut Imam Syafi‘i dan kecenderungan pada salah satu pendapat. Lafaz beliau dalam Al-Mukhtashar: “Yang lebih aku sukai adalah agar ‘ariyah itu kurang dari lima wasaq, namun aku tidak membatalkannya pada lima wasaq, dan aku membatalkannya pada lebih dari itu.” Maka, beliau menetapkan keabsahan pada kurang dari lima wasaq, dan menetapkan kebatalan pada lebih dari lima wasaq, serta cenderung pada keabsahan pada lima wasaq. Para ulama kami menyebutkan dua pendapat Imam Syafi‘i yang disampaikan secara mursal terkait lima wasaq ini.
واختار المزني الفساد في الخمسة وما ذكرهُ ظاهر متَّجه فإن التعويل على الحَزْر والخرصُ في طلبِ المماثلةِ في الربويات خارجٌ عن القياس والذي نحكم بصِحَّته مستثنى عنه ملحق بالرخص وقد ورد في بعض الألفاظ تصريح بهذا رُوي أنه نهى عن المزابنة وأرخص في العرايا الحديث
Al-Muzani memilih pendapat bahwa akad tersebut fasad (batal) pada kelima jenis transaksi, dan apa yang beliau sebutkan tampak jelas dan memiliki dasar, karena bersandar pada perkiraan dan taksiran dalam mencari kesetaraan pada barang-barang ribawi adalah sesuatu yang keluar dari qiyās. Adapun yang kami hukumi sah, itu merupakan pengecualian darinya dan termasuk dalam kategori rukhshah (keringanan). Dalam beberapa lafaz hadis juga terdapat penegasan mengenai hal ini, diriwayatkan bahwa Nabi melarang transaksi muzābanah dan memberikan rukhshah pada transaksi ‘arāyā.
وإذا كان كَذلك فالأصل أن يطّرد التَّحريمُ الثابت على موجَب القياس والنهي المطلق عن المزابنة ولا يثبت التصحيح في هذا النوع إلا على ثَبَتٍ والروايةُ مترددة في الخمسة وقد رَوينا في صدرِ الباب أن داودَ بنَ الحصين هو الذي تشكك وإنما ذكرت هذا لأقطع وهمَ من يَعزِي هذا اللفظَ إلى النبي صلى الله عليه وسلم ويعتقد أنه صلى الله عليه وسلم قال فيما دونَ خمسةِ أوسق أو في خمسةِ أوسق فإن هذا لو صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لكان تخييراً فإذا كان التردُّد من الراوي فالخمسةُ مشكوك فيها ومعنا الأصلُ الثابتُ في التحريم فينبغي أن نطردَه
Jika demikian, pada dasarnya keharaman yang telah ditetapkan berdasarkan qiyās dan larangan mutlak terhadap muzābanah harus tetap berlaku, dan tidak boleh ada pembolehan dalam jenis ini kecuali berdasarkan dalil yang kuat. Riwayat tentang lima (wasaq) pun masih diperselisihkan, dan telah kami riwayatkan di awal bab bahwa Daud bin Al-Hushainlah yang ragu. Saya menyebutkan hal ini agar menghilangkan anggapan keliru dari orang yang menisbatkan lafaz ini kepada Nabi ﷺ dan meyakini bahwa beliau ﷺ bersabda tentang kurang dari lima wasaq atau tentang lima wasaq. Sebab, jika hal ini benar-benar berasal dari Rasulullah ﷺ, maka itu berarti adanya pilihan. Namun, karena keraguan itu berasal dari perawi, maka lima wasaq pun masih diragukan, sementara kita memiliki dasar yang kuat dalam keharaman, maka seharusnya kita tetap berpegang pada dasar tersebut.
ومن قالَ بالتصحيح في الخمسةِ وهو ظاهر النَّصِّ فتوجيهه عسرٌ جداً ولستُ أرَى طريقاً في التوجيه إلا أن تُحمَل المزابنَةُ على معامليما صادرة عن التخمين من غير ثَبَتٍ في الخَرْص ولعلَّ المعاملةَ سُمّيت مزابنة لذلك لاشتمالِها على المدافعة في غالب الأمر ولا بُدّ وأن نتخيَّل الخرصَ متأصِّلاً في دَرْك المقادير حتى ينقدِح لهذا القول وجهٌ
Dan barang siapa yang berpendapat tentang pensahihan dalam lima hal, yang merupakan zahir dari nash, maka penjelasannya sangat sulit. Saya tidak melihat jalan dalam penjelasannya kecuali dengan menganggap bahwa muzābanah adalah transaksi yang dilakukan berdasarkan perkiraan tanpa adanya kepastian dalam taksiran. Mungkin transaksi itu dinamakan muzābanah karena di dalamnya terdapat unsur saling menolak dalam kebanyakan kasus. Dan haruslah kita membayangkan bahwa taksiran itu sudah melekat dalam memahami kadar, sehingga pendapat ini memiliki sisi yang dapat diterima.
ومنتهى الإمكانِ فيه أن الخرصَ معتبر في الزكاة سيّما إذا جعلناه تضميناً والماهرُ فيه يقلّ خطؤه والأخرقُ بالكيل يتفاوتُ ما يكيله والكيل بالإضافةِ إلى الوزن كالخرص بالإضافة إلى الكيل وفي كل حالة تقدير معتاد لائق بها فليقم الخرصُ في الرطب الذي لا يمكن كيلُه مقامَ الكيل فيما لم يمكن كيلُه والكيل على حالٍ أيسر من الوزن والوزن أحصرُ من الكيل فإذا احتمل الكيل ليُسرِه مع إمكان إجراء الوزن فليُحتَمل الوزنُ حيث لا يتأتى الكيل
Batas maksimal yang mungkin dalam hal ini adalah bahwa taksiran (kharsh) dianggap sah dalam zakat, terutama jika kita menganggapnya sebagai bentuk penjaminan. Orang yang ahli dalam taksiran jarang melakukan kesalahan, sedangkan orang yang tidak terampil dalam takaran akan berbeda-beda hasil takarannya. Takaran (kail) dibandingkan dengan timbangan (wazan) seperti taksiran (kharsh) dibandingkan dengan takaran (kail). Dalam setiap keadaan, ada taksiran yang lazim dan sesuai dengannya. Maka, hendaknya taksiran (kharsh) pada kurma basah yang tidak mungkin ditakar, menempati posisi takaran pada sesuatu yang tidak mungkin ditakar, dan takaran pada dasarnya lebih mudah daripada timbangan, sedangkan timbangan lebih terbatas daripada takaran. Jika memungkinkan menggunakan takaran karena kemudahannya, meskipun memungkinkan juga menggunakan timbangan, maka hendaknya digunakan timbangan ketika takaran tidak dapat dilakukan.
والشافعيُّ منعَ بيعَ التمرِ بالرطب لما تخيّلهُ من التفاوت عند تجفيف الرطب ومتمسكه قولُ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم أينقص الرطب إذا يبس وهذه إشارةٌ من الشارع إلى المآل فإذاً ما وراء الخمسة مردود بذكر الخمسة؛ فإن التقدير ينقصُ في اقتضاء المفهوم
Syafi‘i melarang jual beli kurma kering dengan kurma basah karena ia membayangkan adanya perbedaan (nilai) ketika kurma basah dikeringkan, dan dalil yang dipegangnya adalah sabda Rasulullah saw.: “Apakah kurma basah itu berkurang jika sudah kering?” Ini merupakan isyarat dari syariat terhadap akibat (mā’āl). Maka, apa yang melebihi lima (jenis riba) tertolak dengan penyebutan lima tersebut; sebab penetapan (hukum) itu berkurang dalam penarikan mafhūm.
فهذا أقصى الإمكان في توجيه النص وهو على نهايَةِ الإشكال
Inilah batas maksimal dalam menafsirkan nash, dan ia berada pada puncak kesulitan.
ثم نفرّع على ما مهدناه مسائلَ منها أنه إذا اشترَى رجل في صفقاتٍ أَوساقاً كثيرة وكل صفقةٍ لا يزيد مضمونُها على ما دون الخمسةِ فالكل صحيحٌ وحكم كل صفقة مأخوذٌ من مضمونها لا تعلق لها بغَيرها
Kemudian, dari apa yang telah kami jelaskan, kami cabangkan beberapa permasalahan, di antaranya adalah jika seseorang membeli dalam beberapa transaksi beberapa wasaq dalam jumlah banyak, dan setiap transaksi tidak melebihi kadar kurang dari lima, maka semuanya sah, dan hukum setiap transaksi diambil dari kadarnya masing-masing, tidak ada kaitannya dengan transaksi yang lain.
ولو اشترى رجلان من رجل تسعةَ أوسق فالبيع صحيح بلا خلاف؛ فإن إطلاق البيع يقتضي أن يملكَ كل واحدٍ من المشتريَيْن أربعةَ أوسقٍ ونصف فلم يدخل في ملكِ كلّ واحد منهما إلا ما ينقصُ عن الخمسةِ
Jika dua orang membeli dari seseorang sembilan wasaq, maka jual belinya sah tanpa ada perbedaan pendapat; karena keumuman akad jual beli mengharuskan bahwa masing-masing dari kedua pembeli memiliki empat setengah wasaq, sehingga tidak ada yang masuk ke dalam kepemilikan masing-masing dari mereka kecuali kurang dari lima wasaq.
ولو باع رجلان تسعة أوسق من رجل واحدٍ فقد اختلف أصحابنا فمنهم من أبطل البيعَ وهو الذي اختاره صاحبُ التلخيص ووجهه أنه لو صح العقد لدخل في مِلكهِ تسعةُ أوسقٍ بطريق الخَرْص دفعةً واحدة وهذا يخالف مقصودَ الخبر وإذا تحققت المخالفةُ فلا فرق بين أن يتعدّدَ البائع أو يتَّحد
Jika dua orang laki-laki menjual sembilan wasaq kepada satu orang, maka para ulama kami berbeda pendapat; sebagian dari mereka membatalkan jual beli tersebut, dan inilah pendapat yang dipilih oleh penulis kitab at-Talkhīṣ. Alasannya adalah, jika akad tersebut sah, maka sembilan wasaq akan masuk ke dalam kepemilikannya melalui taksiran sekaligus dalam satu waktu, dan hal ini bertentangan dengan maksud hadis. Jika pelanggaran itu telah terjadi, maka tidak ada perbedaan apakah penjualnya lebih dari satu atau hanya satu orang.
ومن أصحابنا من صحح العقدَ لأن الصفقةَ تتعدّدُ بتعدد البائع في العَهْد والردّ فيجعل كأن المشتري اشترى أربعةَ أوسُقٍ ونصف في صفقة واشترَى مثلَها في صفقةٍ أُخرى
Sebagian ulama dari kalangan kami membenarkan akad tersebut karena transaksi menjadi berbilang sesuai dengan banyaknya penjual dalam hal ijab dan qabul, sehingga dianggap seolah-olah pembeli membeli empat wasaq setengah dalam satu transaksi dan membeli yang semisalnya dalam transaksi lain.
فترتيب المذهب إذاً أنه لو باع رجلان من رجلين فاعتبار الخرصِ تسعةُ أوسق فالبيع صحيح ولو اشترى رجل من رجلين تسعة أوسق فالبيع على الخلافِ ولو اشترى رجلان من رجلٍ تسعةَ أوسق فالبيع صحيح بلا خلاف
Maka urutan mazhab adalah, jika dua orang menjual kepada dua orang, maka penilaian berdasarkan taksiran (kharṣ) adalah sembilan wasaq, maka jual belinya sah. Namun jika satu orang membeli dari dua orang sembilan wasaq, maka jual belinya diperselisihkan. Dan jika dua orang membeli dari satu orang sembilan wasaq, maka jual belinya sah tanpa ada perbedaan pendapat.
ومما يجب التنبهُ له بعدما أعدنا الأقسامَ أنَّ الرجل الواحدَ إذا اشترى من رجلين شيئاً واطلع على عيب فالصفقةُ محمولةٌ على التعدد في حكم الردّ وللمشتري أن يرد ما اشتراه من أحد البائعين ويُمسِك الباقي
Hal yang perlu diperhatikan setelah kami mengulangi pembagian-pembagian adalah bahwa jika satu orang membeli sesuatu dari dua orang penjual, lalu ia menemukan cacat pada barang tersebut, maka transaksi tersebut dianggap terpisah dalam hukum pengembalian. Pembeli berhak mengembalikan barang yang dibelinya dari salah satu penjual dan tetap memegang barang yang dibeli dari penjual lainnya.
ولو اشترى رجلان من رجل واطلعا على عيبٍ فهل ينفرد أحدُهما بالرد فعلى قولين سنذكرهُما في باب الخراج فحكم الرد على مناقضة ما نحنُ فيه والسبب في ذلك أن المرعي في كل أصل ما يليقُ به وإذا اتحد البائع فقد تخيّل بعض العلماءِ أن المبيع خرج عن ملكه دفعة واحدة فلو رجع إليه بعضُه لكان خارجاً بعيبٍ عائداً بعيبين وإذا تعدد البائع فردَّ المشتري تمامَ ملكِ أحدهما عليه فردُّه لم يتضمن تبعيضاً عليه لم يكن قبل البيع والمقصود المعتبر في بيع العرايا ألاَّ يملك الرجلُ دفعةً واحدةً خمسةَ أوسق أو أكثرَ من خمسةٍ وهذا الأصل يوجبُ ما ذكرناه من الترتيب في محلّ القطع والخلاف
Jika dua orang membeli dari satu orang dan mereka mengetahui adanya cacat, apakah salah satu dari mereka boleh mengembalikan barang secara sendiri-sendiri? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang akan kami sebutkan dalam bab al-kharāj. Hukum pengembalian bertentangan dengan apa yang sedang kita bahas di sini, dan sebabnya adalah bahwa yang menjadi pertimbangan dalam setiap pokok adalah apa yang sesuai dengannya. Jika penjualnya satu, sebagian ulama membayangkan bahwa barang yang dijual keluar dari kepemilikannya sekaligus, sehingga jika sebagian barang itu kembali kepadanya, maka barang itu keluar karena cacat dan kembali dengan dua cacat. Jika penjualnya lebih dari satu, lalu pembeli mengembalikan seluruh kepemilikan salah satu dari mereka, maka pengembalian itu tidak mengandung pemisahan yang tidak ada sebelum jual beli. Maksud yang menjadi pertimbangan dalam jual beli ‘arāyā adalah agar seseorang tidak memiliki sekaligus lima wasaq atau lebih dari lima. Pokok ini mengharuskan apa yang telah kami sebutkan tentang urutan dalam tempat pemotongan dan perbedaan pendapat.
وقد انتظم من مجموع ما ذكرناه أنا في طريقةٍ نبغي ألاَّ نزيدَ على محل النصّ وفي طريقة أخرى نثبت الخرصَ أصلاً ولا يبعد تنزيلُه منزلةَ الكيل ويفسد ما يفسد بالنصّ الدال على الفساد
Dari keseluruhan yang telah kami sebutkan, terkumpul dua metode: pada satu metode, kami berupaya untuk tidak menambah selain pada tempat yang terdapat nash; dan pada metode lain, kami menetapkan taksiran (kharsh) sebagai dasar, dan tidaklah jauh untuk menempatkannya pada kedudukan takaran (kail), serta batal apa yang dibatalkan oleh nash yang menunjukkan kebatalan.
ونحن الآن نُخرّج على ما ذكرناه مسائلَ في الباب منها أنه لو بيع الرطبُ الموضوعُ على الأرض المقطوفُ بخرصٍ من التمر فإن بنينا الباب على الاتباع فهذا ممتنع فإن الخبر وردَ في الرطب على رؤوس الشجر وإن جعلنا الخرص أصلاً سوّغنا هذا
Sekarang, berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, kami akan mengeluarkan beberapa permasalahan dalam bab ini. Di antaranya adalah jika kurma basah yang telah dipetik dan diletakkan di atas tanah dijual berdasarkan taksiran dari kurma kering, maka jika kita membangun bab ini atas dasar mengikuti (nash), hal ini tidak diperbolehkan karena hadis datang mengenai kurma basah yang masih di atas pohon. Namun jika kita menjadikan taksiran (kharsh) sebagai dasar, maka hal ini dibolehkan.
و لو باع الرطبَ بالرطبِ على تقدير المُساواةِ بخرصهما تمرين فقد ذكر العراقيون ثلاثة أوجه أحدُها المنعُ وهو على طريقةِ الاتباع والثاني الجَواز وهو على طريقة تسويغ الرأي والقياس والثالث الفصل بين أن يكون الرطبان أو أحدهما على الأرض وبين أن يكونا جميعاً على الشجر فإن كانا جميعاً على الشجر جاز؛ فإنه قد يكون لهما غرضٌ في استبدالِ الرطبين بأن كان يهوى كلُّ واحدٍ منهما النوعَ الذي لصاحبه وهذا لا يتحقق في الرطب الموضوع على الأرض؛ فإن الغرض الذي أشار إليه الخبرُ أن يبذل الإنسانُ فاضلَ قوتهِ من التمرِ ويستبدل عنه رُطباً على الشجر يأكلُه على مرّ الزمن شيئاً فشيئاً مع أهله رطباً وهذا لا يتحقق في الرطب الموضوع؛ فإنه بين أن يفسدَ وبين أن يجفَّ
Jika seseorang menjual kurma basah dengan kurma basah dengan taksiran kesetaraan berdasarkan perkiraan keduanya sebagai latihan, maka para ulama Irak menyebutkan tiga pendapat: yang pertama adalah pelarangan, dan ini mengikuti metode ittiba‘ (mengikuti pendapat ulama terdahulu); yang kedua adalah kebolehan, dan ini menurut metode membolehkan ra’yu (pendapat rasional) dan qiyās (analogi); dan yang ketiga adalah membedakan antara apakah kedua kurma basah itu, atau salah satunya, masih di pohon atau sudah di tanah. Jika keduanya masih di pohon, maka boleh; karena mungkin keduanya memiliki tujuan untuk saling menukar kurma basah, misalnya masing-masing menyukai jenis yang dimiliki oleh pihak lain, dan hal ini tidak terwujud pada kurma basah yang sudah diletakkan di tanah. Sebab, tujuan yang disebutkan dalam hadis adalah agar seseorang menukarkan kelebihan kurma keringnya dengan kurma basah di pohon, lalu ia memakannya sedikit demi sedikit bersama keluarganya dalam keadaan masih basah. Hal ini tidak terwujud pada kurma basah yang sudah diletakkan di tanah, karena kurma tersebut bisa saja rusak atau menjadi kering.
ومن مسائل الباب أن الخبر الذي رواه زيدُ بنُ ثابت مختصٌّ بالفقراء فإنه قال جاء طائفةٌ من فقراءِ المهاجرين والأنصار وقالوا إن الرطب يأتينا وليس بأيدينا نقد ومَعنا فضولُ قوتٍ من التمر الحديث وظاهر المذهب أنَّ صحةَ بيع العَرِيّة لا يختص بالفقراء؛ فإن إرخاصَ رسول الله صلى الله عليه وسلم في العرية مطلق في الألفاظ وما ذكرهُ زيدٌ حكايةُ حالٍ أداها على وجهِها
Di antara permasalahan dalam bab ini adalah bahwa riwayat yang dibawakan oleh Zaid bin Tsabit khusus untuk orang-orang fakir, karena ia berkata: “Sekelompok fakir dari kalangan Muhajirin dan Anshar datang dan berkata: ‘Kurma basah datang kepada kami, sementara kami tidak memiliki uang tunai, dan kami memiliki kelebihan makanan pokok dari kurma kering.’” (hadis). Namun, menurut pendapat mazhab yang tampak, keabsahan jual beli ‘ariyyah tidak dikhususkan bagi orang-orang fakir; sebab keringanan yang diberikan Rasulullah ﷺ dalam masalah ‘ariyyah bersifat mutlak dalam lafaznya, dan apa yang disebutkan oleh Zaid hanyalah kisah keadaan yang ia sampaikan sebagaimana adanya.
وذكر بعضُ أصحابنا قولاً بعيداً أن صحةَ بيعِ العرايا تختص بأصحاب الحاجةِ وهذا مذهبُ المزني
Sebagian ulama dari kalangan kami menyebutkan pendapat yang lemah bahwa keabsahan jual beli ‘arāyā khusus bagi orang-orang yang membutuhkan, dan ini adalah mazhab al-Muzani.
وبيع الجاف بالرطب في سائر الثمار بناه الأصحابُ على القولين في أن الخرصَ هل يجري في ثمارِ سائر الأشجار وفيه اختلافٌ قدّمتُه في كتاب الزكاة فإن قلنا إنه لا يجري فالبيع ممتنع لتحقق الجهالة وإن قلنا يجري الخرصُ فيهَا فبيعها باعتبار الخرص يخرج على الخِلافِ المقدم في الاتباع وطريق الرأي فمن سلكَ الاتباع منعَ البيعَ ومن جوَّز الرأيَ سوَّغ هذا وحق الفقيه أن لا يغفل في تفاصيلِ المسائلِ عما مهدناه في كتاب الزكاة من تفصيل القول في بيع الثمار وفيها حقُّ المساكين ولا حق فيها والتنبيه كافٍ
Penjualan buah kering dengan buah basah pada seluruh jenis buah-buahan didasarkan oleh para ulama pada dua pendapat mengenai apakah taksiran (kharsh) berlaku pada buah-buahan dari seluruh pohon, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah saya kemukakan dalam Kitab Zakat. Jika kita mengatakan bahwa taksiran tidak berlaku, maka penjualan tersebut tidak diperbolehkan karena adanya ketidakjelasan (jahalah) yang nyata. Namun jika kita mengatakan bahwa taksiran berlaku pada buah-buahan tersebut, maka penjualannya berdasarkan taksiran mengikuti perbedaan pendapat yang telah dikemukakan dalam masalah ittiba‘ dan metode ra’yu. Maka, siapa yang mengikuti ittiba‘ melarang penjualan tersebut, dan siapa yang membolehkan ra’yu memperbolehkannya. Sudah sepatutnya bagi seorang faqih untuk tidak lalai dalam rincian masalah-masalah ini dari apa yang telah kami jelaskan dalam Kitab Zakat mengenai rincian pendapat tentang penjualan buah-buahan, apakah di dalamnya terdapat hak untuk para miskin atau tidak, dan penjelasan ini sudah cukup.
Bab Jual Beli Makanan Sebelum Diterima
قال الشافعي أخبرنا مالاً عن نافعٍ عن ابنِ عمرَ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من ابتاع الطعامَ لا يبعْه حتى يستوفيَه قال ابنُ عباس أما الذي نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم فهو الطعام أن يباعَ حتى يكتال قال ابن عباسٍ برأيه ولا أحسِب كلَّ شيءً إلا مثلَه إلى آخره
Syafi‘i berkata: Malik telah memberitakan kepada kami dari Nafi‘ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa membeli makanan, maka janganlah ia menjualnya sebelum ia menerimanya.” Ibnu Abbas berkata, “Adapun yang dilarang oleh Rasulullah saw. adalah makanan, agar tidak dijual sebelum ditakar.” Ibnu Abbas berpendapat menurut pandangannya, “Dan aku tidak mengira segala sesuatu kecuali seperti itu.”
الأصل في الباب الحديث الذي رواه الشافعي ورُوي أنه صلى الله عليه وسلم كتب إلى عتاب بنِ أَسِيد انهَهُم عن بيعِ ما لم يقبِضُوا وربحِ ما لم يضمنوا ورُوي أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن بيعِ ما لم يُقبَض وربح ما لم يُضمن
Dasar dalam bab ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dan diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. menulis surat kepada ‘Attab bin Asid: “Larangkan mereka dari menjual sesuatu yang belum mereka terima dan dari mengambil keuntungan atas sesuatu yang belum mereka tanggung risikonya.” Dan diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melarang menjual sesuatu yang belum diterima dan mengambil keuntungan atas sesuatu yang belum dijamin risikonya.
ومأخذ الباب يستند إلى أصولٍ منها بيانُ حكم الضمانِ فالمبيع قبل التسليم إلى المشتري من ضمان البائع والمعنيُّ به أنه لو تلف انقلب إلى ملكهِ قبل التلف ولذلك ينفسخ العقد كما سنقرره في باب الخراج ومن أثر الضمان أنه لو عاب المبيعُ ثبت الخيارُ للمشتري ونزل العيب الطارىء في يد البائع منزلةَ العيب المقترن بالعقد حتى كأن العيبَ حَدَثَ في ملكهِ ثم طرأ البيعُ
Dasar pembahasan ini bersandar pada beberapa prinsip, di antaranya penjelasan hukum dhaman, yaitu bahwa barang yang dijual sebelum diserahkan kepada pembeli masih menjadi tanggungan penjual. Maksudnya, jika barang tersebut rusak, maka kepemilikannya kembali kepada penjual sebelum kerusakan itu terjadi. Oleh karena itu, akad dapat dibatalkan sebagaimana akan dijelaskan dalam bab al-kharaj. Salah satu akibat dari dhaman adalah jika barang yang dijual mengalami cacat, maka pembeli berhak memilih (antara melanjutkan atau membatalkan akad). Cacat yang muncul saat barang masih di tangan penjual diperlakukan sama dengan cacat yang sudah ada saat akad, seolah-olah cacat itu terjadi ketika barang masih menjadi milik penjual, kemudian baru terjadi penjualan.
فهذا أحد الأصول
Ini adalah salah satu dari pokok-pokok dasar.
وينشأ منه الحكم بضعف ملك المشتري
Dari situ timbul ketetapan bahwa kepemilikan pembeli menjadi lemah.
وقد جمع الشافعي بين الضمان وضعفِ ملك المشتري
Syafi‘i telah menggabungkan antara tanggung jawab (dhamān) dan lemahnya kepemilikan pembeli.
وممَّا يتردد الكلام عليهِ كونُ المبيع محبوساً بالثمن على قولٍ ثم إذا سَلّمَ المبيعَ إلى المشتري قيل انتقل الضمان إليه والمعنيُّ به استمرارُ ملكه حتى لو فرض تلَفٌ أو عيبٌ كان محسوباً على المشتري
Di antara hal yang sering dibicarakan adalah bahwa barang yang dijual tetap tertahan karena harga menurut suatu pendapat, kemudian apabila barang tersebut telah diserahkan kepada pembeli, dikatakan bahwa tanggungan (jaminan) berpindah kepadanya, yang dimaksud adalah kepemilikannya tetap berlanjut sehingga jika terjadi kerusakan atau cacat, maka hal itu menjadi tanggungan pembeli.
فإذا ثبتت هذه التراجم فنجري بعدها على ترتيب السواد ؛ فنذكر تصرفات المشتري في المبيع ونذكرُ بعدها تفصيلَ القول في كل مقبوض ثم نندفع في مسائل الباب
Jika terjemahan-terjemahan ini telah ditetapkan, maka setelahnya kita akan mengikuti urutan pokok; kita akan menyebutkan tindakan-tindakan pembeli terhadap barang yang dibeli, kemudian setelah itu kita akan menguraikan secara rinci pendapat mengenai setiap barang yang telah diterima, lalu kita akan melanjutkan ke pembahasan masalah-masalah dalam bab ini.
فأما القول في التصرفاتِ فبيع المشتري في المبيع قبلَ القبض مردودٌ والأخبار شاهِدة وذكر الفقهاءُ في ضبط المذهب أن الضمانَين لا يتواليان وعَنَوْا به أنا لو قَدّرنَا نفوذَ بيع المشتري في المبيع قبلَ القبض لكان مضموناً على البائع الأول للمشتري ثم يكون مضموناً على المشتري الأول للمشتري الثاني ولا حاجة إلى هذا مع الخبرِ وما أشرنا إليه من ضعف المِلك بسبب ثبوت الضمان على البائع
Adapun pembahasan mengenai transaksi, maka penjualan oleh pembeli atas barang yang dibeli sebelum menerima barang tersebut adalah tidak sah, dan terdapat hadis-hadis yang menjadi bukti atas hal ini. Para fuqaha juga menyebutkan dalam penetapan mazhab bahwa dua tanggungan (jaminan) tidak boleh terjadi secara berurutan. Maksudnya adalah, jika kita menganggap sah penjualan oleh pembeli atas barang yang dibeli sebelum menerima barang tersebut, maka barang itu akan menjadi tanggungan penjual pertama terhadap pembeli, kemudian menjadi tanggungan pembeli pertama terhadap pembeli kedua. Padahal, hal ini tidak diperlukan karena adanya hadis dan apa yang telah kami isyaratkan tentang lemahnya kepemilikan akibat adanya tanggungan (jaminan) atas penjual.
وامتناعُ البيع في المبيع قبل القبضِ ليس معلَّلاً بحق البائع؛ فإن البائع وإن رضي ببيع المشتري لم ينفذ بيعُه والغالب على هذا الأصل التعبُّدُ
Larangan jual beli atas barang yang belum diterima bukan disebabkan karena hak penjual; sebab meskipun penjual telah rela dengan penjualan yang dilakukan oleh pembeli, jual belinya tetap tidak sah, dan yang dominan dalam ketentuan ini adalah aspek ta‘abbud (penghambaan/ibadah).
ثم لا فرقَ بين أن يقدَّر البيعُ قبل توفيةِ الثمن على البائع وبين أن يقدَّر بعدَها؛ فإنَّ امتناع البيع ليس مبنياً على حق البائع
Kemudian tidak ada perbedaan antara jika penjualan itu dianggap terjadi sebelum pelunasan harga kepada penjual maupun jika dianggap setelahnya; karena larangan penjualan bukanlah didasarkan pada hak penjual.
هذا تفصيل البيع
Ini adalah perincian tentang jual beli.
ولو أعتق المشتري العبدَ المشترَى قبل القبض فالذي قطعَ به الأئمةُ أن العتقَ ينفذُ بعد توفيةِ الثمن على البائع؛ فإن العتقَ ليس تصرفاً يقتضي ضماناً وقد صَادفَ ملكاً لازماً من غير اعتراضٍ على حق الغير وفي بعض التصانيف رمزٌ إلى وجهٍ بعيدٍ في أن العتقَ لا ينفذ وهذا لا وجهَ له
Jika pembeli memerdekakan budak yang dibelinya sebelum menerima (budak tersebut), maka para imam (ulama) telah menetapkan bahwa pemerdekaan itu berlaku setelah pelunasan harga kepada penjual; karena pemerdekaan bukanlah tindakan yang menimbulkan kewajiban ganti rugi dan telah terjadi pada kepemilikan yang tetap tanpa mengganggu hak orang lain. Dalam sebagian kitab terdapat isyarat terhadap pendapat yang lemah bahwa pemerdekaan itu tidak berlaku, dan pendapat ini tidak berdasar.
فأما إذا أعتق المشتري العبدَ قبل تَوْفية الثمن فإن قلنا ليس للبائع حق حبس المبيع فالعتقُ ينفذ نفوذَه بعدَ توفيةِ الثمن وإن أثبتنا للبائع حقَّ حبس المبيع ففي نفوذ عتق المشتري ثلاثةُ أوجه أحدها أنه ينفذ لمصادفته ملكَ المعتِق والثاني لا ينفذ لتضمنه إبطال حق البائع من الحبس والثالث أنه يفصل بين أن يكون المشتري موسراً بالثمن وبين أن يكون معسراً وهذا الوجه ذكره صاحب التقريب وذكر مثلَه في إعتاق الراهن والخلافُ في ذلك كالخلافِ في عتقِ الراهن وكان شيخي يجعل عتقَ المشتري أَوْلى بالنفوذ من عتق الراهن؛ من جهة أن حقَّ الحبسِ يثبتُ تابعاً غيرَ مقصودٍ والرهن يُثْبت للمرتهن حقَّ الاختصاص قصداً ولذلك عُقد الرهن ثم أُكد بالتسليم
Adapun jika pembeli memerdekakan budak sebelum pelunasan harga, maka jika kita katakan bahwa penjual tidak memiliki hak menahan barang yang dijual, maka pemerdekaan itu berlaku sebagaimana berlakunya setelah pelunasan harga. Namun jika kita menetapkan bahwa penjual memiliki hak menahan barang yang dijual, maka dalam hal berlakunya pemerdekaan oleh pembeli terdapat tiga pendapat: pertama, pemerdekaan itu berlaku karena bertepatan dengan kepemilikan orang yang memerdekakan; kedua, tidak berlaku karena mengandung pembatalan hak penjual untuk menahan; ketiga, ada perincian antara pembeli yang mampu membayar harga dan yang tidak mampu, dan pendapat ini disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib, serta disebutkan pula hal yang serupa dalam pemerdekaan oleh orang yang menggadaikan barang. Perselisihan dalam hal ini sama dengan perselisihan dalam pemerdekaan oleh orang yang menggadaikan barang. Guru saya berpendapat bahwa pemerdekaan oleh pembeli lebih utama untuk diberlakukan daripada pemerdekaan oleh orang yang menggadaikan, karena hak menahan itu ditetapkan sebagai pengikut, bukan tujuan utama, sedangkan gadai menetapkan hak khusus bagi penerima gadai secara sengaja, oleh karena itu akad gadai diadakan lalu dikuatkan dengan penyerahan.
ومن تصرفاتِ المشتري الإجارةُ فلو أجر الدارَ المشتراةَ قبلَ القبض وقبل تسليم الثمن والتفريعُ بعدَ هذا نُجريه على ثبوتِ حقّ الحبس للبائع فإذا أجر ففي صحَّة إجارته وجهان أصحهما الصحَّةُ؛ فإنَّ ضمانَ عقدِ الإجارةِ لا يَرِدُ على محلّ ضمان عقد البيع؛ إذ المقصودُ من الإجارة المنافِعُ وليست هي المبيعَ فلا وجهَ لمنع الإجارة عن جهة الضمان ولا وجه لمنعِها من جهة حقِّ الحبس الثابت للبائع؛ فإن ذلك لا يزيد على حقِّ المرتهن وإجارةُ المرهون جائزةٌ على تفصيلٍ سيأتي في الرُّهون إن شاء اللهُ عز وجل
Di antara tindakan pembeli adalah melakukan ijārah (sewa-menyewa). Jika ia menyewakan rumah yang dibelinya sebelum menerima barang dan sebelum membayar harga, maka pembahasan setelah ini akan diarahkan pada penetapan hak hibs (menahan barang) bagi penjual. Jika pembeli menyewakan, terdapat dua pendapat mengenai keabsahan ijārah tersebut, dan pendapat yang lebih sahih adalah ijārah itu sah. Sebab, tanggungan (jaminan) akad ijārah tidak berlaku pada objek tanggungan akad jual beli; karena tujuan dari ijārah adalah manfaat, dan manfaat itu bukanlah barang yang dijual. Maka tidak ada alasan untuk melarang ijārah dari sisi jaminan, dan tidak ada alasan pula untuk melarangnya dari sisi hak hibs yang dimiliki penjual; sebab hal itu tidak lebih besar dari hak yang dimiliki murtahin (pemegang gadai), sementara menyewakan barang yang digadaikan diperbolehkan dengan rincian yang akan dijelaskan dalam pembahasan rahn (gadai), insya Allah عز وجل.
ومن أصحابنا من منع صحةَ الإجارة؛ من جهة استدعائها ملكاً تامّاً والمِلكُ في المبيع قبل القبض ضعيفٌ ثم هذا القائل لا يفصِلُ في منعِ الإجارةِ بين ما قبل تسليم الثمن وبين ما بعده؛ فإن معتمده ما ذكرناه من ضعف الملك وهذا يطَّرد إلى قبض المشتري
Sebagian dari ulama kami melarang keabsahan ijārah, karena ijārah menuntut adanya kepemilikan yang sempurna, sementara kepemilikan dalam barang yang dijual sebelum diterima masih lemah. Kemudian, orang yang berpendapat demikian tidak membedakan dalam pelarangan ijārah antara sebelum penyerahan harga dan sesudahnya; karena sandarannya adalah apa yang telah kami sebutkan tentang lemahnya kepemilikan, dan hal ini berlaku hingga pembeli menerima barang.
وتزويجُ المشتري الجاريةَ المبيعةَ قبل القبض يَنْزِلُ منزلةَ إجارته إياها في الخِلافِ المقدم ولا شك أن التزويجَ مُنقصٌ للقيمة وإذا كان كذلك أمكن أن نفصِل بين أن يزوّج قبل تسليم الثمن وبين أن يزوّج بعدَ تسليمه إذا أثبتنا حقَّ الحبس والإجارةُ ربما لا تؤدِّي إلى تنقيص القيمة وفيها الخلافُ المقدَّمُ وإن أدت إلى تنقيص القيمة وقد ينتظم فيها وجهٌ أن نفرِّق بين ما قبل التوفيةِ وبعدَها
Menikahkan budak perempuan yang dibeli oleh pembeli sebelum penerimaan (qabdh) dipersamakan dengan menyewakannya dalam perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Tidak diragukan lagi bahwa pernikahan itu mengurangi nilai (budak), dan jika demikian, maka memungkinkan untuk membedakan antara menikahkan sebelum pembayaran harga dan menikahkan setelah pembayaran harga, jika kita menetapkan hak penahanan (haq al-habs). Adapun penyewaan, mungkin tidak menyebabkan penurunan nilai, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, meskipun penyewaan itu menyebabkan penurunan nilai. Mungkin juga dapat diatur suatu pendapat untuk membedakan antara sebelum pelunasan dan sesudahnya.
ولا خِلافَ أن من استأجر داراً ثم أخرَها قبلَ القبضِ لم تنفذ إجارتُها والسببُ فيهِ ظاهرٌ وهو أن الإجارةَ موردُها المنفعةُ فازدحام إجارتين على منفعةٍ قبل القبض باطل كما يبطل ازدحامُ ضمانَي بيعين على مبيعٍ واحد
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seseorang yang menyewa sebuah rumah, kemudian menyewakannya lagi sebelum menerima (menguasai) rumah tersebut, maka akad sewanya tidak sah. Sebabnya jelas, yaitu karena objek dari akad ijarah adalah manfaat, sehingga bertumpuknya dua akad ijarah atas satu manfaat sebelum penerimaan adalah batal, sebagaimana batalnya bertumpuknya dua jaminan jual beli atas satu barang yang sama.
ولو رهن المشتري المبيعَ قبل القبض أو وهبهُ؛ فإن كان ذلك بعد تسليم الثمن فهو كالعتق في هذا الأوان ثم إن رَهَنَ أو وَهَب وأراد التسليمَ لم يَمنع منه البائعُ وقد توفر الثمن عليهِ والمشتري بالخيار إن شاء ألزمَ الرهنَ والهبةَ بالإقباض وإن شاء لم يفعل
Jika pembeli menggadaikan barang yang dibeli sebelum menerima barang tersebut atau memberikannya sebagai hibah, maka jika hal itu dilakukan setelah pembayaran harga, hukumnya seperti pembebasan budak pada waktu tersebut. Kemudian, jika ia menggadaikan atau menghibahkan dan ingin menerima barang, penyerahan tidak boleh dihalangi oleh penjual karena harga telah diterima olehnya. Pembeli memiliki pilihan, jika ia mau, ia dapat melaksanakan gadai atau hibah dengan penyerahan barang, dan jika ia mau, ia dapat tidak melakukannya.
وإن فُرِضا نعني الهبةَ والرهنَ قبلَ تسليم الثمن فقد ذكرَ الأئمةُ وَجهين في نفوذهما كالوجهين في العتق في هذا الوقت ثم أجمعُوا على أن للبائع أن يمتنع عن التسليم إذا أثبتنا له حقَّ الحبس وفائدةُ صِحةِ الرهن والهبة أن حق البائعِ إذا زال وقبَضه المشتري فإن حكمنا بفساد الرهن والهبة أولاً فهو ساقطٌ ملغىً وإذا حكمنا بالصحةِ فلا يُحتاجُ إلى تجديد عقدٍ وهو على خِيرَتِه في الإقباض
Jika hibah dan rahn (gadai) diasumsikan terjadi sebelum penyerahan harga, para imam menyebutkan dua pendapat mengenai keabsahan keduanya, sebagaimana dua pendapat dalam masalah pembebasan budak pada waktu ini. Kemudian mereka sepakat bahwa penjual berhak menolak penyerahan barang jika kita menetapkan hak penahanan baginya. Manfaat dari sahnya rahn dan hibah adalah bahwa jika hak penjual telah hilang dan pembeli telah menerima barang, maka jika kita memutuskan bahwa rahn dan hibah itu batal sejak awal, maka keduanya gugur dan tidak berlaku. Namun jika kita memutuskan sahnya, maka tidak perlu memperbarui akad, dan penjual tetap memiliki pilihan dalam menyerahkan barang.
وذكر صاحب التقريب وجهاً ثالثاً فقالَ أما الهبةُ فعلى ما ذكرهُ الأصحاب ويجوز أن يقال لا يصح الرهن وإن صحتِ الهبةُ لأن الرهنَ قرينُ البيع؛ إذ لا يُعنى به إلا البيعُ في حق المرتهن وكل ما امتنعَ بيعُه امتنع رهنُه وقياس هذا يوجب إبطالَ الرهن بعد توفية الثمن كما يمتنع البيعُ في هذا الوقت
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat ketiga, ia berkata: Adapun hibah, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama, dan boleh juga dikatakan bahwa gadai tidak sah meskipun hibahnya sah, karena gadai itu berkaitan erat dengan jual beli; sebab gadai tidak dimaksudkan kecuali untuk jual beli bagi pihak yang menerima gadai, dan segala sesuatu yang tidak boleh dijual, maka tidak boleh pula digadaikan. Qiyās atas hal ini mengharuskan pembatalan gadai setelah pelunasan harga, sebagaimana jual beli juga tidak diperbolehkan pada waktu itu.
ثم ذكر الشافعيُّ بعد الكلام في المبيع تفصيلَ الأيدي التي لا يمتنع بها نفوذُ البيعِ وغيرِه من التصرفات
Kemudian setelah membahas tentang objek jual beli, asy-Syafi‘i menyebutkan secara rinci tentang tangan-tangan (kepemilikan) yang tidak menghalangi berlakunya jual beli dan transaksi lainnya.
والوجه أن نذكر أولاً ما اختلفَ علماؤنا في إلحاقه باليد في البيع
Adapun yang tepat adalah kita sebutkan terlebih dahulu apa yang diperselisihkan oleh para ulama kita mengenai penyamaannya dengan tangan dalam jual beli.
فنقول منها تصرفُ المرأة في الصداق قبل القبض وهذا يُخَرّج على قولين مشهورين في أن الصداق مضمونٌ بالعقد أو باليدِ وسيأتي شرحُ ذلكَ في كتاب الصداق إن شاء الله تعالى
Maka kami katakan, di antaranya adalah tindakan wanita dalam mengelola mahar sebelum menerima mahar tersebut. Hal ini dikembalikan kepada dua pendapat yang masyhur, yaitu apakah mahar itu menjadi tanggungan sejak akad atau sejak berada di tangan, dan penjelasan tentang hal ini akan datang pada Kitab Shadaq insya Allah Ta‘ala.
ومن ذلك الإقالةُ وقد اختلف القولُ في أنَّها بيعٌ أو فسخٌ فإن جعلناها فسخاً فلو تقايَلَ المتبايعان وكانا تقابضَا العوضين في البيع فلكلٍ منهما أن يتصرَّف في العِوَض الذي ارتدَّ إليهِ مِلكُه قبل أن يستردّهُ؛ فإن العقدَ إذا انفسخ فليست يدُ واحدٍ منهما بمثابة يد البائع في المبيع؛ من جهة أن التلف يردُّ المبيعَ إلى مِلك البائع ولو فرض التلف في أحدِ العوضين أو فيهما والتفريع على أن الإقالة فسخٌ فيتلفُ كلُّ عِوضٍ على مِلك من كان مِلْكَه قبل التلف
Di antara contohnya adalah iqālah, dan terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah iqālah itu merupakan jual beli atau pembatalan (fasakh). Jika kita menganggapnya sebagai fasakh, maka apabila kedua belah pihak yang berjual beli melakukan iqālah dan keduanya telah saling menerima barang dan harga dalam transaksi jual beli, maka masing-masing dari mereka berhak melakukan tindakan terhadap barang yang kembali menjadi miliknya sebelum ia mengambilnya kembali. Sebab, apabila akad telah dibatalkan, maka kepemilikan salah satu pihak atas barang tersebut tidak lagi seperti kepemilikan penjual atas barang yang dijual; dari sisi bahwa jika terjadi kerusakan, barang tersebut akan kembali menjadi milik penjual. Seandainya terjadi kerusakan pada salah satu barang atau keduanya, dan berdasarkan pendapat bahwa iqālah adalah fasakh, maka setiap barang yang rusak menjadi tanggungan pemiliknya sebelum terjadi kerusakan.
ثم الكلام في ضمان القيمة لمن كان مالكاً للعَيْن يأتي مستقصىً في موضعه إن شاء الله عز وجل وقَدرُ الغرض منه ما ذكرناه من أن الملك لا يزول بفرض طريان التلف
Selanjutnya, pembahasan tentang jaminan nilai bagi siapa saja yang memiliki barang akan dijelaskan secara rinci pada tempatnya, insya Allah ‘azza wa jalla. Adapun kadar tujuan dari pembahasan ini adalah sebagaimana telah kami sebutkan, yaitu bahwa kepemilikan tidak hilang hanya karena adanya anggapan terjadinya kerusakan.
وإن حكمنا بأن الإقالة بيعٌ فالعوضُ المعيَّنُ في يدِ كلِّ واحدٍ منهما بمثابة المبيع قبل القبض وكأنَّهما تبايَعا على التبادل في العِوضين تبايُعاً جديداً والأجرةُ المعيّنة في الإجارة بمثابة المبيعِ والبَدلُ المعيّنُ في الخُلع والصُّلح عن الدم بمثابة الصداق
Jika kita memutuskan bahwa iqālah adalah jual beli, maka kompensasi yang telah ditentukan yang berada di tangan masing-masing pihak dianggap seperti barang yang dijual sebelum diterima, seolah-olah keduanya melakukan jual beli baru dengan saling menukar kompensasi. Upah yang telah ditentukan dalam akad ijarah dianggap seperti barang yang dijual, dan kompensasi yang telah ditentukan dalam khulu‘ dan shulh atas darah dianggap seperti mahar.
فهذا بيان الأيدي على ما يُعد عِوضاً أو يقرُبُ من معاوضة
Ini adalah penjelasan mengenai tangan (kepemilikan) atas sesuatu yang dianggap sebagai imbalan atau mendekati bentuk pertukaran.
ومن رَدّ بالعيب ما اشتراه ففُسِخَ العقدُ ولم يرفع بعدُ يده فالبائع يتصرَّف فيه قبلَ الاسترداد كما ذكرناه في الإقالة على قول الفسخ
Barang siapa mengembalikan barang yang dibelinya karena cacat, lalu akad dibatalkan dan ia belum mengangkat tangannya dari barang tersebut, maka penjual berhak melakukan tindakan terhadap barang itu sebelum barang tersebut diambil kembali, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah iqālah menurut pendapat yang menyatakan pembatalan.
فأما سائرُ الأيدي فإذا ثبتت يدٌ على ملكِ الغير ولم تكن يدَ معاوضة وملك المالك تامٌّ وهو قادِرٌ على رَدّ المِلكِ إلى يَدِ نفسهِ فبيعُه نافذ سواءٌ كانت تلك اليد يدَ أمانةٍ أو يدَ ضمان فيدُ الأمانة كيدِ المودَع والمقارِض قبل أن يربح وغيرِهما
Adapun tangan-tangan selain itu, apabila suatu tangan tetap berada atas milik orang lain dan bukan merupakan tangan mu‘āwaḍah, sementara kepemilikan pemiliknya sempurna dan ia mampu mengembalikan miliknya ke tangannya sendiri, maka jual belinya sah, baik tangan tersebut adalah tangan amānah maupun tangan ḍamān. Tangan amānah seperti tangan orang yang menerima titipan, mudārib sebelum memperoleh keuntungan, dan selain keduanya.
ويدُ الضمان كيد الغاصب والمستعيرِ والمستام
Tangan penjamin itu seperti tangan orang yang merampas, meminjam, dan meminta untuk menawar.
ولو وهبَ شيئاً وسلّمه وكان يثبت له حق الرجوع فرَجع في الهبَةِ وبقيت العينُ في يَد المتَّهِبِ فتصرّف الراجع نافذٌ لما قدمناه
Jika seseorang memberikan suatu barang sebagai hibah dan telah menyerahkannya, lalu ia memiliki hak untuk menarik kembali hibah tersebut, kemudian ia menarik kembali hibah itu sementara barangnya masih berada di tangan penerima hibah, maka tindakan hukum dari pihak yang menarik hibah tetap sah sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وإذا قبلَ الموصَى له الوصيّةَ النافذةَ والعين الموصَى بها في يدِ الورثة فتصرُّفُ الموصَى لهُ نافذٌ قبل قبض العين إذا استمكنَ من أخذها وإن تصرَّف قبلَ قبول الوصية خرج هذا على تفصيلِ القولِ في أن المِلك في الموصَى به متى يحصل وهذا سيأتي مقرراً في كتاب الوصايا إن شاء الله تعالى
Jika penerima wasiat telah menerima wasiat yang sah dan barang yang diwasiatkan berada di tangan para ahli waris, maka tindakan penerima wasiat sah dilakukan sebelum ia menerima barang tersebut, selama ia mampu mengambilnya. Namun, jika ia bertindak sebelum menerima wasiat, maka hal ini kembali kepada rincian pendapat tentang kapan kepemilikan atas barang yang diwasiatkan itu terjadi, dan hal ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam Kitab Wasiat, insya Allah Ta‘ala.
فهذا منتهى البيان في ذلك
Inilah akhir dari penjelasan mengenai hal tersebut.
فصل
Bab
قال ومن ابتاع جُزافاً إلى آخره
Ia berkata: “Dan barang siapa membeli secara jusāf, dan seterusnya.”
هذا الفصل مضمونُه بيانُ القبضِ ومعناه واختلافِه في المقبوضات على حسب اختلافها فنقول المقبوضاتُ ثلاثةُ أقسام ثابتٌ لا يُنقَل
Bab ini berisi penjelasan tentang qabdh dan maknanya, serta perbedaannya dalam berbagai objek yang diqabdhu sesuai dengan perbedaan objek tersebut. Maka kami katakan, objek-objek yang diqabdhu itu terbagi menjadi tiga bagian yang tetap dan tidak berubah.
ومنقولٌ مقدّر وَرَدَ البيعُ عليه باعتبار التقدير فيه
Dan barang yang ditakar atau ditimbang yang penjualannya didasarkan pada takaran atau timbangan di dalamnya.
ومنقول غيرُ مقدّرٍ أو قابل للتقدير أُورد البيعُ عليه جزافاً
Dan barang bergerak yang tidak ditentukan ukurannya atau yang dapat diukur, maka jual beli dilakukan atasnya secara borongan (jazāfan).
فأما الثابت فهو العَقارُ والقبض فيهِ التخليةُ والقولُ التام في التخليةِ ومعناها أنها تمكينُ القابض مع تمكنه من إثبات اليد عند ارتفاع يدِ الممكن وهذا يستدعي حضورَ المقبوض والقابض معَ التمكن الذي ذكَرناهُ ولو كانت العينُ غائبة ففي تحقيق التمكينِ منها كلامٌ سأذكره في كتاب الرهون إن شاء الله تعالى
Adapun yang tetap adalah properti tetap (al-‘aqār), dan penyerahan (qabḍ) padanya adalah dengan penyerahan secara fisik (takhliyah). Penjelasan yang sempurna tentang takhliyah adalah bahwa takhliyah berarti memberikan kesempatan kepada penerima untuk menguasai barang tersebut, dengan syarat ia mampu meletakkan tangannya atas barang itu setelah pihak yang memungkinkan telah melepaskan tangannya. Hal ini mengharuskan hadirnya barang yang diserahkan dan penerimanya, serta adanya kemampuan sebagaimana telah disebutkan. Jika barang tersebut tidak hadir (ghaib), maka ada pembahasan mengenai realisasi penyerahan (tamkīn) atasnya, yang akan saya jelaskan dalam Kitab Rahn (gadai), insya Allah Ta‘ala.
هذا في الثابت الذي لا ينقل
Ini berkaitan dengan sesuatu yang tetap dan tidak dapat dipindahkan.
فأما المنقول الذي ليس مقدَراً أو كان مقدَّرا ولكن اشتُريَ جزافاً فالمذهب أن القبضَ فيه لا يتتمُّ إلا بالنقلِ والتحويلِ على ما أصفه الآن وذهبَ مالك إلى أن التخليةَ فيه كافٍ ونقل حرملةُ قولاً للشافعي مثلَ ذلك
Adapun barang yang dipindahkan yang tidak ditentukan ukurannya, atau yang telah ditentukan ukurannya tetapi dibeli secara borongan, maka menurut mazhab, penyerahan barang tersebut tidak dianggap sempurna kecuali dengan pemindahan dan pengalihan sebagaimana akan saya jelaskan sekarang. Malik berpendapat bahwa penyerahan secara fisik (takhliyah) sudah cukup, dan Harmalah meriwayatkan pendapat Syafi‘i yang serupa dengan itu.
التوجيه من اعتبرَ النقلَ استمسكَ بالعادةِ والعادةُ مطرَدَةٌ بنقل ما يمكن نقله في القبوضِ
Penjelasan bagi siapa yang menganggap dalil naqlī (teks) adalah berpegang pada kebiasaan, dan kebiasaan itu berlaku secara konsisten dalam hal memindahkan sesuatu yang memungkinkan untuk dipindahkan dalam proses penyerahan (qabḍ).
ومن لم يشترط النقلَ احتجَّ بان الغرضَ من القبضِ ظهورُ تمكُّن القابضِ بتمكين المُقْبضِ وهذا المعنى يحصُل بالتخليةِ والتمكينِ التام فإن قلنا بذلك فالمتبعُ ما ذكَرناه من التمكين والتمكُّن
Dan barang siapa yang tidak mensyaratkan adanya pemindahan (fisik), beralasan bahwa tujuan dari qabdh (penguasaan) adalah tampaknya kemampuan penerima untuk menguasai barang dengan adanya pemberian kesempatan dari pihak yang menyerahkan. Makna ini terwujud dengan adanya pembiaran dan pemberian kesempatan secara penuh. Jika kita berpendapat demikian, maka yang menjadi pegangan adalah apa yang telah kami sebutkan berupa pemberian kesempatan dan kemampuan menguasai.
وإن شرطنا النقلَ لم نشترط التحويلَ إلى مسافةٍ بعيدةٍ ولكن اكتفينا بما يُسمَّى نقلاً
Jika kita mensyaratkan adanya pemindahan, kita tidak mensyaratkan pemindahan itu ke jarak yang jauh, melainkan cukup dengan apa yang disebut sebagai pemindahan.
وهذا يبين بذكرِ صورتين إحداهما أن نَفرض البيعَ وحُضُورَ المبيع في بقعةٍ لا اختصاصَ لها بالبائع مثل أن يتفق ما ذكرناه في شارع أو مسجدٍ أو موضعٍ مباحٍ أو في موضعٍ مخصوص بالمشتري فإذا جَرَى ذلكَ في أمثالِ هذه الأماكِن ثم نقله المشتري بإذن البائعِ من الحيزِ الذي فيه البائعُ إلى حيز آخرَ يراه فهذا نقلٌ كافٍ
Hal ini dapat dijelaskan dengan menyebutkan dua gambaran. Pertama, kita misalkan terjadinya jual beli dan hadirnya barang yang dijual di suatu tempat yang tidak memiliki kekhususan bagi penjual, seperti jika hal tersebut terjadi di jalan, masjid, tempat yang mubah, atau di tempat yang khusus milik pembeli. Jika jual beli tersebut terjadi di tempat-tempat seperti ini, kemudian pembeli memindahkan barang itu dengan izin penjual dari tempat di mana penjual berada ke tempat lain yang ia lihat, maka pemindahan tersebut sudah dianggap cukup.
ولو أن البائع في هذهِ الصوَر نقلَ المبيعَ من جانبه إلى جانبِ المشتري ومكنه من قبضِه والاحتواءِ عليهِ فقد حصل القَبضُ الناقلُ للضمان والمسلّطُ على التَّصرُّفِ وإن لم يُوجد من المشتري فعل ولا استدعاءٌ بل يَحصُلُ القبضُ وإن كرههُ المشتري
Jika penjual dalam kasus-kasus ini memindahkan barang yang dijual dari tempatnya ke tempat pembeli dan memberinya kesempatan untuk mengambil dan menguasainya, maka telah terjadi qabd yang memindahkan tanggungan dan memberikan wewenang untuk melakukan tasharruf, meskipun tidak ada tindakan atau permintaan dari pembeli, bahkan qabd tetap terjadi meskipun pembeli membencinya.
والسببُ فيه أن القبضَ مستحَق على البائع فإذا أتى به وقعَ على جهةِ الاستحقاق وإن أباه المستحِق
Penyebabnya adalah karena qabdh (penyerahan barang) merupakan hak yang harus dipenuhi oleh penjual, sehingga apabila penjual melakukannya, maka itu terjadi sesuai dengan hak yang semestinya, meskipun pihak yang berhak menolaknya.
وفي بعض التصانيف وجهٌ آخر أن هذا لا يكون إقباضاً ما لم يقبله المشتري كما لو وضع مالكُ العينِ عين مالهِ بَيْن يَديْ إنسان وقالَ أودَعتُها عندكَ فهذا لا يكون إيداعاً ما لم يقبل المودَع
Dalam beberapa kitab disebutkan pendapat lain bahwa hal ini tidak dianggap sebagai penyerahan kecuali jika diterima oleh pembeli, sebagaimana jika pemilik barang meletakkan barang miliknya di hadapan seseorang dan berkata, “Aku titipkan ini padamu,” maka hal itu tidak dianggap sebagai penitipan kecuali jika orang yang dititipi menerimanya.
وهذا الوجه عندي يخرّج على قولٍ وهو أن من عليه دينٌ حالٌّ إذا جاء به فهل يُجبَر مستحِقه على قبولهِ المذهبُ أنه يُجبَر وفيه قول بعيدٌ أنه لا يُجبرُ والقولان مشهوران في الدَّينِ المؤجَّل فإن قُلنا لا إجبار فلا يكون ما جاء بهِ إقباضاً وإن قلنا إنه يجبرُ فالظاهر أنه إقباضٌ وفيه احتمالٌ ولا يَبعُد أن يقال إذا لم نجعل هذا إقباضاً فينوب السلطانُ عنهُ ويقبضُ
Menurut saya, pendapat ini dapat dikaitkan dengan satu pendapat, yaitu apabila seseorang memiliki utang yang telah jatuh tempo, lalu ia membayarnya, apakah pihak yang berhak menerima pembayaran tersebut dapat dipaksa untuk menerimanya? Mazhab menyatakan bahwa ia dapat dipaksa, namun ada pendapat lain yang lemah bahwa ia tidak dapat dipaksa. Kedua pendapat ini juga terkenal dalam kasus utang yang belum jatuh tempo. Jika kita mengatakan tidak ada pemaksaan, maka apa yang diberikan tidak dianggap sebagai penyerahan (iqbāḍ). Namun jika kita mengatakan bahwa ia dapat dipaksa, maka yang tampak adalah itu merupakan penyerahan, meskipun masih ada kemungkinan lain. Tidak mustahil pula untuk dikatakan bahwa jika kita tidak menganggap hal itu sebagai penyerahan, maka penguasa dapat mewakilinya dan menerima pembayaran tersebut.
ولو كان بين البائع والمشتري مسافةَ التخاطبِ مثلاً فلو رفعَ المبيعَ من جانبهِ ووضعَه على نصفِ المسافةِ الكائنةِ بينه وبين المشتري وهو يَبغي بذلك الإقباضَ ففي حصولِ القبضِ بذلك وجهان ذكرهما شيخي
Jika antara penjual dan pembeli terdapat jarak sejauh jarak orang berbicara, misalnya, lalu penjual mengangkat barang yang dijual dari sisinya dan meletakkannya di tengah jarak yang ada antara dirinya dan pembeli dengan maksud untuk menyerahkan barang tersebut, maka dalam hal terjadinya qabd (penguasaan) dengan cara demikian terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh guruku.
ولو كان وَضَعَه دون النصف والمسافةُ الباقية وراء المبيع إلى المشتري أكثر من النّصفِ فلا يكون ما جاء به نقلاً ناقلاً للضَمانِ وإقباضاً ولو كان الباقي من المسافة أقلَّ مما بين البائع والمبيع فالذي مضى إقباضٌ؛ فإنا لا نشترط أن نضع المبيع في حجر المشتري أو بالقُرب منه
Jika penjual meletakkan barang itu kurang dari setengah jarak, dan jarak yang tersisa dari barang yang dijual hingga pembeli lebih dari setengahnya, maka apa yang telah dilakukan penjual itu tidak dianggap sebagai penyerahan yang memindahkan tanggungan (ḍamān) dan bukan pula sebagai penyerahan barang. Namun, jika sisa jarak itu lebih sedikit daripada jarak antara penjual dan barang yang dijual, maka apa yang telah berlalu dianggap sebagai penyerahan; karena kami tidak mensyaratkan agar barang yang dijual diletakkan di pangkuan pembeli atau di dekatnya.
وللناظر فيما ذكرناه فضلُ نظرٍ ومزيدُ تدبر فيه إذا كانت المسافةُ بين المتبايعين أكثرَ من مسافةِ التقارب والتخاطب وذلك بأن تكون عشرين ذراعاً مثلاً فلست أرى النقلَ إلى بقعةٍ بينها وبين المشتري تسعةُ أذرعٍ إقباضاً ويقرب أن يقال ينبغي أن يقع المبيعُ من المشتري على مسافة تنالُ المبيعَ يدُ المبتاع من غير احتياجٍ إلى قيام وانتقال
Bagi orang yang menelaah apa yang telah kami sebutkan, hendaknya ia memberikan perhatian lebih dan mempertimbangkan secara mendalam apabila jarak antara penjual dan pembeli melebihi jarak kedekatan dan komunikasi, misalnya jaraknya dua puluh hasta. Maka menurut pendapat saya, memindahkan barang ke tempat yang berjarak sembilan hasta dari pembeli tidaklah dianggap sebagai penyerahan (qabḍ). Dan hampir dapat dikatakan bahwa seharusnya barang yang dijual itu berada pada jarak dari pembeli sedemikian rupa sehingga tangan pembeli dapat menjangkau barang tersebut tanpa perlu berdiri atau berpindah tempat.
ولا شك أن البائعَ لو نقل المبيع من حَيّزهِ إلى صوبٍ عن يمينه أو عن يَسارهِ وهو يبغي الإقباضَ والمشتري في مقابلتِه فليس ما جاء بهِ قبضاً؛ فإن صورةَ النقل لا تكفي حتى يكون نقلاً إلى المشتري أو نقلاً من المشتري؛ فإن المشتري لو أخذ المبيعَ بإذن البائع ونقلَه إلى أيّة جهةٍ فُرضت فهذا قبضٌ
Tidak diragukan lagi bahwa jika penjual memindahkan barang yang dijual dari tempatnya ke arah kanan atau kirinya dengan maksud untuk menyerahkan, sementara pembeli berada di hadapannya, maka apa yang dilakukan itu bukanlah qabd (penyerahan); sebab bentuk pemindahan saja tidak cukup, kecuali jika pemindahan itu menuju kepada pembeli atau berasal dari pembeli. Sebab, jika pembeli mengambil barang yang dijual dengan izin penjual dan memindahkannya ke arah mana pun yang dikehendaki, maka itu adalah qabd.
ولا يخفى على الفقيه أن الإقباضَ من البائع بجهةِ النقل يُشترط فيه أن يُشعرَ المشتري به ويتمكَن منه حتى لو وضعه بين يديه وهو راقدٌ فتلف المبيعُ قبل أن ينتبه فهو من ضمان البائع والسببُ فيه أن سرَ الإقباض التمكينُ ثم صُورُ التمكينِ تختلف باختلاف المبيع ومن ضرورة التمكينِ إشعارُ المشتري بما يجري وعلمُه بحقيقة الحال وتمكّنُه كما ذكرناه في التخلية
Tidak tersembunyi bagi seorang faqih bahwa penyerahan dari penjual dalam bentuk pemindahan disyaratkan agar pembeli diberi tahu tentangnya dan dapat menguasainya. Sehingga, jika penjual meletakkannya di hadapan pembeli yang sedang tidur lalu barang yang dijual itu rusak sebelum pembeli sadar, maka kerusakan itu menjadi tanggungan penjual. Sebabnya adalah karena inti dari penyerahan adalah memberikan kemampuan (kepada pembeli), sedangkan bentuk-bentuk pemberian kemampuan itu berbeda-beda sesuai dengan jenis barang yang dijual. Dan termasuk keharusan dari pemberian kemampuan adalah memberitahu pembeli tentang apa yang terjadi, pengetahuannya terhadap keadaan yang sebenarnya, serta kemampuannya (menguasai barang), sebagaimana telah kami sebutkan dalam pembahasan takhliyah.
وكل ما ذكرناه فيه إذا جَرى البيعُ ونقلُ المبيع في بُقعةٍ لا اختصاص لها بالبائع
Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku apabila jual beli berlangsung dan barang yang dijual dipindahkan ke suatu tempat yang tidak memiliki kekhususan bagi penjual.
فأما إذا جرَى البيعُ في مسكن البائع وكان ملكَه أو مُستَأجَره أو مستعاره فإذا أذن للمشتري في القبضِ والنقلِ فأخذ المشتري المبيع ونقله إلى جانب نفسهِ فليس ما جاء به قبضاً؛ من جهةِ أن الشرط في ثبوت يدِ المشتري القابض زوالُ يدِ المُقبض وإذا كانت الدار للبائع فهي تحت يدهِ وما في الدارِ حكمهُ حكمُ الدارِ ولو فرضَ نزاعٌ بين دخيل في الدارِ وبينَ مالكِ الدار في مبيعٍ قريبٍ من الدخيل ومجلسهِ فصاحبُ اليد فيها صاحبُ الدار إذا لم تكن العينُ متعلِّقة على نعتٍ من الاختصاص بالدخيل بأن يقعَ النزاعُ في ثوبٍ والدخيل لابسه أو في متاع وهو محتوٍ عليه
Adapun jika jual beli terjadi di rumah penjual, baik rumah itu miliknya, disewanya, atau dipinjamnya, lalu penjual mengizinkan pembeli untuk mengambil dan memindahkan barang, kemudian pembeli mengambil barang yang dibeli dan memindahkannya ke sisinya, maka apa yang dilakukan pembeli itu tidak dianggap sebagai qabd (pengambilan secara sah); karena syarat sahnya kepemilikan pembeli yang melakukan qabd adalah hilangnya kepemilikan pihak yang menyerahkan. Jika rumah itu milik penjual, maka rumah tersebut berada dalam kekuasaannya, dan apa yang ada di dalam rumah mengikuti hukum rumah tersebut. Jika terjadi perselisihan antara orang yang berada di dalam rumah dan pemilik rumah mengenai barang yang dijual yang letaknya dekat dengan orang yang berada di dalam rumah dan tempat duduknya, maka yang dianggap sebagai pemilik barang adalah pemilik rumah, kecuali jika barang tersebut memang secara khusus berkaitan dengan orang yang berada di dalam rumah, seperti jika perselisihan terjadi pada pakaian yang sedang dipakai oleh orang tersebut, atau pada barang yang sedang dikuasainya.
وفي هذا كلامٌ طويلٌ ليس هذا موضعَه؛ فإنا سنفصل إن شاء الله تعالى تفصيلَ الأيدي التي تثبتُ بها رتبةُ المدَّعى عليه في كتاب الدعاوى إن شاء الله تعالى
Dalam hal ini terdapat pembahasan yang panjang yang bukan pada tempatnya di sini; karena kami akan menjelaskan, insya Allah Ta‘ala, secara rinci tentang macam-macam cara yang dapat menetapkan kedudukan tergugat dalam Kitab al-Da‘wa, insya Allah Ta‘ala.
فلو أذن البائعُ للمشتري في نقل المبيع إلى بقعةٍ من الدار و أجّر تلك البُقعة منه أو أعارهُ إياها فجرَى النقلُ إلى بقعة من الدار استأجرَها المشتري أو استعارها فهذا نقل كافٍ وقبضٌ ناقل للضمان؛ من جهةِ اختصاصِ المشتري بتلكَ البقعةِ
Jika penjual mengizinkan pembeli untuk memindahkan barang yang dijual ke suatu tempat di rumah, lalu menyewakan tempat tersebut kepada pembeli atau meminjamkannya, kemudian pemindahan barang dilakukan ke tempat di rumah yang disewa atau dipinjam oleh pembeli, maka ini merupakan pemindahan yang cukup dan penguasaan yang memindahkan tanggung jawab (jaminan), karena pembeli telah memiliki kekhususan terhadap tempat tersebut.
وإذا قالَ البائعُ دونكَ المبيعَ فاقبضه وانقُلْه إلى تلك الزاويةِ فهذا إذنٌ في النقل وإعارةٌ للزاوية
Jika penjual berkata, “Ambillah barang yang dijual itu, peganglah dan pindahkanlah ke sudut itu,” maka itu merupakan izin untuk memindahkan dan meminjamkan sudut tersebut.
وإن قال ارفع هذا العينَ المبيعة وانقلها إلى تلك البقعة ولم يتعرض للقبضِ والإقباض والدار مختصةٌ بالبائع فالذي جرى ليس بقبضٍ
Jika seseorang berkata, “Angkatlah barang yang telah dijual ini dan pindahkanlah ke tempat itu,” tanpa menyebutkan soal penyerahan dan penerimaan, sementara rumah tersebut adalah milik khusus penjual, maka apa yang terjadi itu tidak dianggap sebagai qabdh (penyerahan barang).
وإذا فهمَ الفقيهُ المقاصِدَ لم يخفَ عليهِ قضايا الألفاظ وموجبات الصيغ
Dan apabila seorang faqih memahami maqāṣid, maka tidaklah samar baginya persoalan-persoalan lafaz dan implikasi-implikasi bentuk (redaksi)nya.
وتمام البيان في هذا يستدعي كلاماً في تصوير قبض العدوان من الغاصب
Penjelasan yang sempurna dalam hal ini memerlukan pembahasan mengenai gambaran pengambilan secara zalim dari seorang ghashib (perampas).
فنقول وإن فرَّعنا على الأصح في اشتراطِ النقل في المنقول في قبض المبيع فلسنا نشَرطُ ذلك في قبضِ العدوان بل المعتبرُ فيه الاستيلاءُ المحقَّقُ حتى لو ألقى رجلٌ راكبَ فرسٍ من الفرسِ وركبَ مكانَه مستولياً وتلفت البهيمةُ تحتهُ فالضمان يجب عليه على المذهب الظاهر وكذلكَ لَو نحّاه من بساط كان عليه وجلسَ عليه فهذا عدوانٌ مضمِّن
Maka kami katakan, meskipun kami merinci menurut pendapat yang lebih sahih tentang disyaratkannya pemindahan pada barang yang dapat dipindahkan dalam hal penyerahan barang jualan, kami tidak mensyaratkan hal itu dalam penyerahan secara zalim, melainkan yang dianggap adalah penguasaan yang nyata. Sehingga, jika seseorang menjatuhkan orang yang sedang menunggang kuda dari kudanya, lalu ia naik ke tempatnya dengan menguasai, kemudian hewan itu mati di bawahnya, maka kewajiban ganti rugi tetap berlaku atasnya menurut mazhab yang kuat. Demikian pula jika ia menyingkirkan seseorang dari permadani yang sedang didudukinya, lalu ia duduk di atasnya, maka ini adalah perbuatan zalim yang mewajibkan ganti rugi.
والقولُ الوجيزُ الضابطُ لما نقصده أن التمكين المحقَّقَ في المنقول ليس قبضاً في البيع على الصحيح حتى ينضمَّ إليهِ نقلٌ وفيه قولٌ بعيد أن التمكينَ كافٍ والاستيلاءُ المجرَّدُ قبضُ عدوان في المنقول من غيرِ نقل وفيهِ وجهٌ ضعيفٌ أن ضمان العدوان يقف على النقلِ
Pernyataan ringkas yang menjadi patokan dari maksud kami adalah bahwa pemberian kemampuan secara nyata terhadap barang bergerak bukanlah dianggap sebagai qabd (penguasaan) dalam jual beli menurut pendapat yang sahih, kecuali disertai dengan pemindahan. Ada pula pendapat yang lemah bahwa pemberian kemampuan saja sudah cukup. Sedangkan penguasaan semata tanpa pemindahan dianggap sebagai qabd secara zalim pada barang bergerak tanpa adanya pemindahan, dan terdapat pendapat yang lemah bahwa tanggungan atas tindakan zalim itu bergantung pada adanya pemindahan.
فلو جرَى من المشتري استبدادٌ بأخذِ المبيع نُظر فإن جرَى منه ما هو قبضٌ لو صدر من البائع أو من غيرِ إذنهِ فإن كان المشتري يستحق ذلكَ بأن كان وفَّر الثمن وامتنع البائعُ من التسليم المستحَق فالذي فعله المشتري قبضٌ ناقلٌ للضمان مُسلِّط على التصرّف
Jika pembeli bertindak sepihak dengan mengambil barang yang dibeli, maka hal itu perlu ditinjau: jika tindakan tersebut merupakan bentuk qabd (pengambilan barang) yang jika dilakukan oleh penjual atau tanpa izinnya tetap dianggap sah, dan jika pembeli memang berhak melakukannya—misalnya ia telah menyediakan harga dan penjual menolak menyerahkan barang yang memang sudah wajib diserahkan—maka apa yang dilakukan pembeli itu adalah qabd yang memindahkan tanggung jawab (jaminan) dan memberikan hak untuk melakukan tasharruf (pengelolaan) atas barang tersebut.
وإن لم يكن المشتري مستحِقاً لما فعل وفرعنا على أنَّ البدايةَ بالتسليم لا تجب على البائع فالذي فعله المشتري إتيانٌ بصورةِ القبضِ وهو فيه مبطلٌ
Dan jika pembeli tidak berhak melakukan apa yang ia lakukan, serta kita berpegang pada pendapat bahwa memulai penyerahan barang tidak wajib atas penjual, maka apa yang dilakukan oleh pembeli hanyalah sekadar tampak seperti qabdh (pengambilan barang), padahal dalam hal ini ia justru membatalkannya.
والقولُ الوجيزُ في ذلك أنا نجعلُه بمثابةِ ما لو اشترى طعاماً مُكايلةً ثم قبضه جزافاً فلا يتسلّطُ على التصرفِ في الرأي الظاهِر وينتقلُ ضمانُ العُهدةِ إليهِ حتى لو تلف تحت يده كان من ضَمانهِ
Penjelasan ringkas dalam hal ini adalah bahwa kita menganggapnya seperti seseorang yang membeli makanan dengan takaran, lalu menerimanya secara tak tentu (tanpa ditakar), maka menurut pendapat yang tampak, ia tidak berhak melakukan transaksi atasnya, namun tanggung jawab jaminan berpindah kepadanya, sehingga jika makanan itu rusak di tangannya, maka menjadi tanggung jawabnya.
وإذا قُلنا لا بد من النقلِ في قبض المبيع وجعلنا الاستيلاءَ قبضَ عدوانٍ فلو وُجد الاستيلاءُ من المشتري من غير نقلٍ فهو كالقبض جُزافاً فيما اشترى مُكَايلةً
Dan apabila kita mengatakan bahwa harus ada pemindahan dalam penerimaan barang yang dijual, dan kita menganggap penguasaan sebagai penerimaan yang tidak sah, maka jika penguasaan itu terjadi dari pembeli tanpa adanya pemindahan, maka hal itu seperti penerimaan secara sembarangan pada barang yang dibeli dengan takaran.
وذكر شيخي وجهاً آخر أن الاستيلاءَ كما صورنا لا يقتضي نقلَ الضمانِ كما لا يقتضي التسليطَ على التَّصرُّفِ وهذا بعيدٌ والوجه ما تقدَّمَ
Syekh saya menyebutkan pendapat lain bahwa penguasaan, sebagaimana yang telah kami gambarkan, tidak mengharuskan pemindahan tanggung jawab (dhamān), sebagaimana juga tidak mengharuskan pemberian wewenang untuk melakukan tindakan (tasarruf), dan ini adalah pendapat yang lemah. Pendapat yang benar adalah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
ولو جرت التخليةُ من البائع والقبولُ من المشتري من غير نقلٍ ولا فرضِ استيلاءٍ والتفريعُ على أن النقلَ لا بدّ منه فلا يتصرف المشتري وهل ينتقل الضمانُ إليه فيه وجهان ذكرهُما العراقيون فليميز الناظرُ بَيْن تخليةٍ من البائع ولا قبولَ من المشتري وبين تخليةٍ منه وقبولٍ من المشتري في الحكم المطلوب والتفريعُ على اشتراط النقل فإن لم يكن من المشتري قبولٌ فلا ينتقلُ الضمانُ إليه وإن كان منه قبولٌ ففي الانتقالِ وجهان؛ فإن التخليةَ مع القبولِ تُثبت صورةَ الاستيلاء معَ تخلّف النقل المعتبر فافهمُوا ترشدوا
Jika telah terjadi penyerahan (takhliyah) dari penjual dan penerimaan (qabūl) dari pembeli tanpa ada pemindahan barang maupun anggapan penguasaan, dan jika didasarkan pada pendapat bahwa pemindahan barang itu wajib, maka pembeli tidak boleh melakukan tindakan terhadap barang tersebut. Apakah tanggungan (dhamān) berpindah kepadanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Maka hendaknya peneliti membedakan antara penyerahan dari penjual tanpa adanya penerimaan dari pembeli, dan antara penyerahan dari penjual disertai penerimaan dari pembeli, dalam hukum yang diinginkan dan cabang hukum yang didasarkan pada syarat pemindahan barang. Jika dari pihak pembeli tidak ada penerimaan, maka tanggungan tidak berpindah kepadanya. Namun jika ada penerimaan dari pembeli, maka dalam berpindahnya tanggungan terdapat dua pendapat. Sebab, penyerahan (takhliyah) yang disertai penerimaan (qabūl) menetapkan bentuk penguasaan secara lahiriah meskipun pemindahan barang yang dianggap sah belum terjadi. Maka pahamilah, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.
هذا قولنا في النقل والتخلية
Inilah pendapat kami mengenai pemindahan dan pengosongan.
والقسم الثالث فيه إذا كان المبيع مقدَّراً وقد أُورِدَ البيع باعتبار تقديره بأن يقول بعتُكَ هذه الصُّبرة كل صاع بدرهمٍ فلا بد من إجراء الكيل ولا يتم القبضُ دونَهُ والتخليةُ غير كافيةٍ بل لا بد من إجراء الكيلِ أو الوزنِ على حَسَب ما وقعَ تنزيلُ العقدِ
Bagian ketiga adalah jika barang yang dijual telah ditakar dan akad jual beli dilakukan berdasarkan takaran tersebut, misalnya dengan mengatakan, “Aku jual kepadamu tumpukan ini, setiap satu sha‘ seharga satu dirham,” maka harus dilakukan penakaran dan serah terima tidak sah tanpa penakaran tersebut. Penyerahan barang saja tidak cukup, melainkan harus dilakukan penakaran atau penimbangan sesuai dengan yang ditetapkan dalam akad.
والأصل فيه ما رواه الشافعي في السواد عن الحسَن عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه نهى عن بيع الطعام حتى يجري فبه الصاعان ومراسيل الحسن مستحسنةٌ عند الشافعي فلو اشترى بُرّاً كيلاً فلا يتم القبضُ فيه حتى يُكالَ بعد العقد على المشتري ولَو وُزنَ عليه لم يكفِ ولو اشتراهُ وزناً فتمام القبض فيه بالوزن فلو كيل بدلاً من الوزن لم يكفِ
Dasar hukumnya adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab as-Sawad dari al-Hasan, dari Nabi ﷺ bahwa beliau melarang jual beli makanan sampai dilakukan dua takaran atasnya. Riwayat mursal dari al-Hasan dianggap baik menurut asy-Syafi‘i. Jika seseorang membeli gandum dengan takaran, maka serah terima (qabdh) belum sempurna sampai gandum itu ditakar setelah akad kepada pembeli. Jika hanya ditimbang saja, itu belum cukup. Jika ia membelinya dengan timbangan, maka serah terima sempurna dengan penimbangan. Jika hanya ditakar sebagai pengganti timbangan, itu belum cukup.
ولا يخفى على الفقيهِ أن ما نرعاه من اتباع الشرعِ في الكيل والوزن حتى لا يجُوزَ إقامةُ تقديرٍ مقام التقدير الثابت شرعاً إنما هو في بيع مالِ الربا بجنسهِ حيثُ تجبُ رعايةُ المماثلة فإذا لم يكن كذلك فلا حرجَ وكيفَ يُشكِلُ هذا مع جواز ابتياع الحِنطة بالدراهم جُزافاً
Tidaklah samar bagi seorang faqih bahwa ketelitian kita dalam mengikuti syariat terkait takaran dan timbangan, sehingga tidak boleh mengganti ukuran yang telah ditetapkan secara syar‘i dengan ukuran lain, sesungguhnya hal itu berlaku dalam jual beli barang ribawi dengan jenis yang sama, di mana harus menjaga kesetaraan. Jika tidak demikian, maka tidak ada masalah. Bagaimana hal ini bisa dianggap bermasalah, sementara diperbolehkan membeli gandum dengan dirham secara borongan?
فلو اشترى رجلٌ حنطةً كيلاً وبقاها في المكاييل ثم باعها مكايلةً فهل يجوزُ أن يكتفي بصبِّ تلك المكاييل بين يدي المشتري فعلَى وجهين أحدهُما لا يكفي ذلك بل تُصبُّ الحنطةُ ثم يُبتدأ كيلُها للمشتري وهذا القائل يحتج بما روينا أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الطعام حتى تجري فيه الصَّاعان قيل معناه حتى يجرى فيه صاعُ البائع وصاعُ المشتري وهذا يُتصوّرُ فيهِ إذا اشترى رجلٌ طعاماً مكايلةً و باعه مكايلةً ولعلَّ أمثالَ هذهِ المعاملات كانت تجري في مواسمِ الحجيج وغيرِها فكان الرجل يبتاع مكايلة بمقدارٍ ويبيع مكايلةً بأقل أو أكثر فنزل حديثُ رسول الله صلى الله عليه وسلم على ما كانوا يجرون من ذلكَ
Jika seorang laki-laki membeli gandum dengan takaran, lalu ia membiarkannya tetap di dalam wadah-wadah takaran tersebut, kemudian ia menjualnya lagi dengan takaran, maka apakah boleh ia cukup menuangkan wadah-wadah takaran itu di hadapan pembeli? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya, hal itu tidak cukup, melainkan gandum tersebut harus dituangkan terlebih dahulu, lalu ditakar ulang untuk pembeli. Pendapat ini berdalil dengan riwayat bahwa Nabi ﷺ melarang menjual makanan hingga dilakukan dua kali penakaran. Dikatakan maksudnya adalah hingga dilakukan penakaran oleh penjual dan penakaran oleh pembeli. Hal ini dapat dibayangkan jika seseorang membeli makanan dengan takaran, lalu menjualnya lagi dengan takaran. Barangkali transaksi semacam ini sering terjadi pada musim haji dan selainnya, di mana seseorang membeli dengan takaran tertentu, lalu menjualnya lagi dengan takaran yang lebih sedikit atau lebih banyak. Maka hadits Rasulullah ﷺ dipahami sesuai dengan praktik yang biasa mereka lakukan pada waktu itu.
هذا وجهُ هذا الوجه
Ini adalah sisi dari sisi ini.
والوجه الثاني أنه يكفي أن تصُب المكاييل للمشتري الثاني ووجهه أن كونَ الحنطة في المكاييل على الدوام ينزل منزلةَ أخذٍ جديد بالمكاييل؛ فإن الغرض من الأخذ بالكيل احتواءُ الكيل على المَكِيل فإنه المقدِّرُ والحنطةُ مقدّرةٌ به والدليل عليه أنه إذا اشترى حنطةً مكايلةً ثمِ ملأ المكيالَ ونقلَ ذلك كفى وتم القبض ولا حاجةَ إلى تفريغ المكيالِ حتى يُقضى بتمام القبض
Adapun pendapat kedua adalah bahwa cukup menuangkan takaran kepada pembeli kedua. Alasannya adalah bahwa keberadaan gandum di dalam takaran secara terus-menerus dianggap seperti pengambilan baru dengan takaran; karena tujuan dari pengambilan dengan takaran adalah agar takaran tersebut memuat barang yang ditakar, sebab takaran itulah yang menjadi ukuran, dan gandum itu diukur dengannya. Dalilnya adalah apabila seseorang membeli gandum dengan cara ditakar, lalu ia memenuhi takaran dan memindahkannya, maka itu sudah cukup dan serah terima telah sempurna, dan tidak perlu mengosongkan takaran hingga dianggap serah terima telah sempurna.
والغرضُ من هذا الفصل شيء واحد وباقي القول في القبض جزافاً وكيلاً سنجمعه في فصلٍ على إثر هذا إن شاء الله تعالى
Tujuan dari bab ini adalah satu hal saja, sedangkan pembahasan lain mengenai qabdh secara keseluruhan dan sebagai wakil akan kami himpun dalam satu bab setelah ini, insya Allah Ta‘ala.
وذلك المقصودُ أنا إذا جرينا على اشتراط النقل وهو المذهبُ فقد أطلق الأصحابُ القولَ بأن الكيل مع تفريغِ المكيال كافٍ؛ فإنّ من ضرورتهِ النقلُ من جهةِ الأخذِ إلى جهةِ التفريغ وهذا يُوهم لبساً
Maksudnya adalah, jika kita mengikuti syarat adanya pemindahan barang sebagaimana pendapat madzhab, para ulama telah menyatakan secara umum bahwa takaran dengan mengosongkan alat takar sudah cukup; karena hal itu secara otomatis mengharuskan adanya pemindahan barang dari sisi pengambilan ke sisi pengosongan, dan ini dapat menimbulkan kerancuan.
ومُعظمُ العماياتِ في مسائل الفقهِ من تركِ الأولين تفصيلَ أمور كانت بيّنةًً عندهم ونحن نحرِصُ جهدَنا في التفصيل ولا نبالي بتبرم الناظر
Kebanyakan kebingungan dalam masalah-masalah fiqh disebabkan oleh generasi terdahulu yang tidak merinci hal-hal yang pada masa mereka sudah jelas, sementara kita berusaha sekuat tenaga untuk memberikan perincian dan tidak menghiraukan kejengkelan para pembaca.
فالكيلُ لَعَمْري نقلٌ لكن يجب معهُ اعتبار الأمور التي مهّدناها حتى لو كالَ البائع الحِنطة التي باعها مكايلةً وأخذ يصُبّها عن يمينه وعن يسارهِ لا في جهة المشتري فالذي جاء بهِ كيلٌ وليس بنقل والنقلُ باقٍ في الحكم بصحة القبض
Maka takaran, demi umurku, adalah pemindahan, tetapi harus disertai dengan mempertimbangkan hal-hal yang telah kami jelaskan sebelumnya. Seandainya penjual menakar gandum yang dijualnya dengan cara ditakar, lalu ia menuangkannya ke kanan dan ke kiri, bukan ke arah pembeli, maka yang dilakukan itu adalah takaran, bukan pemindahan, dan pemindahan tetap menjadi syarat dalam penetapan sahnya qabdhu (penguasaan fisik).
فإذن الكيلُ أو الوزن معتبرٌ في عَقدِ المكايلة والموازنة وقد يقعُ الكيل على صُورَةِ النقل فيسُدّ مسدَّينِ وقد يقعُ لا على صُورَةِ النقل فيبقى الكلام في النقل على ما تقدَّم
Jadi, takaran atau timbangan dianggap penting dalam akad jual beli berdasarkan takaran dan timbangan. Kadang-kadang takaran terjadi dalam bentuk pemindahan barang sehingga mencakup dua fungsi sekaligus, dan kadang-kadang takaran tidak terjadi dalam bentuk pemindahan barang, sehingga pembahasan tentang pemindahan barang tetap seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
فصل
Bab
في بيع الحنطة مكايلةً مع جريان القبض جزافاً
Dalam jual beli gandum dengan takaran, sementara penyerahannya dilakukan secara borongan.
فنقول إذا اشترى طعاماً كيلاً ثم قبضهُ جزافاً فقد قال الأصحاب لو تلفَ ما قبضه كذلكَ فإنه يتلف من ضمانه وفاقاً ولا ينفسخ البيعُ أصلاً
Maka kami katakan: Jika seseorang membeli makanan dengan takaran, kemudian ia menerimanya secara tanpa takaran (secara acak), para ulama berpendapat bahwa jika makanan yang telah diterima dengan cara demikian rusak, maka kerusakannya menjadi tanggung jawab pembeli, sesuai kesepakatan, dan akad jual belinya sama sekali tidak batal.
ولو أرادَ بيعَ ذلك الطعامِ الذي قبضه جزافاً نُظر فإن أراد بيعَ الكيل فلا يصح منه البيعُ في الجميع؛ إذْ حق البائع متعلِّقٌ به وقد يزيد إذا كيل
Jika ia ingin menjual makanan yang telah diterimanya secara borongan itu, maka perlu dilihat: jika ia ingin menjualnya dengan takaran, maka jual beli tersebut tidak sah untuk seluruhnya; karena hak penjual masih terkait dengan barang itu dan bisa jadi jumlahnya bertambah ketika ditakar.
والمسألة مصوّرة فيه إذا باع عشرةَ آصع وأشار إلى صبرة ويجوز أن تكون الصُّبرة عشرة ويجوز أن تزيدَ فلو أنهُ قبض جزافاً ثم باع القدر الذي يستيقن أنه حقهُ أو أقَلُّ من حقه فهل يصح البيعُ في هذه الصورة ذكر العراقيون وجهين أحدُهما وهو اختيار أبي إسحاقَ أن البيعَ يصحّ؛ لأن القبضَ ناقلٌ للضمان فإذا انتقل الضمانُ تَم الملك وزايله الضعفُ المترتب على تعرض البيع للانفساخ عند تقدير التلف وإذا صادفَ البيعُ مِلكاً تاماً مِن مالكٍ مطلقٍ نَفَذَ
Permasalahan ini digambarkan dalam kasus ketika seseorang menjual sepuluh sha‘ dan menunjuk ke sebuah tumpukan. Bisa jadi tumpukan itu memang berjumlah sepuluh sha‘, dan bisa juga lebih. Jika ia telah menerima barang secara takaran acak, lalu ia menjual sejumlah yang ia yakini pasti merupakan haknya, atau kurang dari haknya, apakah jual beli dalam kondisi ini sah? Ulama Irak menyebutkan dua pendapat; salah satunya, yang dipilih oleh Abu Ishaq, adalah bahwa jual beli tersebut sah, karena penerimaan barang memindahkan tanggungan risiko. Ketika risiko telah berpindah, kepemilikan menjadi sempurna dan hilang kelemahan yang sebelumnya ada akibat kemungkinan batalnya jual beli jika terjadi kerusakan. Jika jual beli terjadi atas kepemilikan yang sempurna dari pemilik yang bebas, maka jual beli itu sah.
والوجهُ الثاني وهو اختيار ابنِ أبي هريرةَ أنه لا يصح البيعُ في شيءٍ مما قبضهُ؛ فإن القبضَ فاسدٌ وهذا ما قطع به شيخي وطوائفُ من الأصحاب وتوجيهُ الوجهِ يترتب على إثبات فسادِ القَبضِ والدليل عليه الخبرُ الذي رَويناه من الأمر بإجراء الصَّاعَين ومناهي الرسول صلى الله عليه وسلم محمولةٌ في هذه المَواضِع على الفسادِ واقتضاءِ التحريم
Pendapat kedua, yang merupakan pilihan Ibn Abi Hurairah, adalah bahwa jual beli tidak sah pada apa pun yang telah diterima; karena penerimaan (qabdh) tersebut rusak (fasid). Inilah yang ditegaskan oleh guruku dan sekelompok sahabat (ulama mazhab). Penjelasan pendapat ini bergantung pada penetapan rusaknya qabdh, dan dalilnya adalah hadis yang kami riwayatkan tentang perintah menjalankan dua sha‘, serta larangan-larangan Rasulullah saw. yang dalam konteks ini dipahami sebagai menunjukkan kerusakan (fasad) dan menuntut keharaman.
ثم قد أطلق الأولون الحكمَ بفسادِ القبض على الجُملة مع المصير إلى تصحيح البيعِ في القدرِ المستيقَن فلو قيل فما معنى الفَسادِ على هذا الوجهِ مع صحَّةِ البيع في القدر المستحق قلنا لو قبض الطعامَ كيلاً ثم ادّعى بعد ذلكَ نقصاناً متفاحشاً لا يتوقعُ مثلُه في الكيل لا يُقبل قولُه ولو قبضهُ جزافاً كما صورناه ثم ادَّعى نقصاناً متفاحشاً عن حقه فالقول قَولُهُ مع يمينه؛ فإن البائع يدعي عليهِ قبضَه وهو يُنكِرُه فالقول قولُه
Kemudian, para ulama terdahulu telah menetapkan hukum rusaknya qabd (penguasaan barang) secara umum, namun tetap membenarkan keabsahan jual beli pada bagian yang diyakini pasti. Jika ada yang bertanya, “Lalu apa makna kerusakan (fasad) dalam hal ini, sementara jual beli pada bagian yang berhak tetap sah?” Kami katakan: Jika seseorang menerima makanan dengan ditakar, lalu setelah itu mengklaim adanya kekurangan yang sangat mencolok—yang tidak lazim terjadi dalam takaran—maka klaimnya tidak diterima. Namun, jika ia menerimanya secara tanpa takaran (jazaf) sebagaimana telah digambarkan, lalu mengklaim adanya kekurangan yang sangat mencolok dari haknya, maka perkataannya diterima dengan sumpahnya; karena penjual mengklaim bahwa ia telah menerima barang, sedangkan pembeli mengingkarinya, maka perkataan pembeli yang dipegang.
وهذا ليس مَحْملاً واضحاً في فسادِ القبض المعترف بهِ وقد قيل لو باع الجملةَ على جهالةٍ فالبيع في الكُلِّ باطل قولاً واحداً ولا يخرّج على تفريق الصفقة فهذا أثرُ الحكمِ بفسادِ القبض بالجملةِ
Hal ini bukanlah alasan yang jelas dalam kerusakan qabd yang diakui. Telah dikatakan, jika seseorang menjual keseluruhan (barang) dalam keadaan tidak diketahui (jumlah atau sifatnya), maka jual beli atas keseluruhan itu batal menurut satu pendapat, dan tidak dapat dikiaskan pada pemisahan transaksi. Inilah akibat dari penetapan hukum batalnya qabd secara keseluruhan.
وهذا كلام مختلط؛ فإنا إذا نقلنا الضمانَ وجوزنا التصرُّف في القدرِ المستيقَن فقد صححنا القبضَ فيه والوجه في فرض بيعِ الكُلِّ التخريج على قول تفريقِ الصفقة ولا حاجةَ إلى الاعترافِ بفسادِ القبض في الكل مع التصحيح في التفصيل وإنما يستحق إطلاقُ الفساد ممن يمنع التصرفَ من القدر المستيقن وهذا لا شك فيه
Ini adalah pernyataan yang bercampur; sebab jika kami memindahkan tanggungan dan membolehkan transaksi pada bagian yang diyakini pasti, berarti kami telah membenarkan qabd (penguasaan) pada bagian itu. Adapun dalam kasus penjualan seluruhnya, maka cara mengatasinya adalah dengan mengacu pada pendapat tafriq ash-shafqah (memisahkan akad). Tidak perlu mengakui rusaknya qabd pada keseluruhan sementara membenarkannya pada perincian. Hanya orang yang melarang transaksi pada bagian yang diyakini pasti saja yang berhak menyatakan rusak secara mutlak, dan hal ini tidak diragukan lagi.
ويتصل الآن باستتمام الكلام فصولٌ نأتي بها أَرْسالاً منها أنا قدَّمنا فيما سبق أن الاستيلاءَ من غير إذن البائع ينقُل الضمانَ حتى لو فرض التلفُ كان من ضمان المشتري القابضِ قهراً ولا ينفسخُ البيع ولكن إذا أثبتنا للبائع حقَّ الحبس فالمبيع مسترَدٌّ من المشتري؛ فإن ذلك ممكن؛ فلو باع المشتري لم ينفذ بيعُه وجهاً واحداً رعايةً لحق البائع وإن تحقق انتقالُ الضمان وهذا كامتناع بيع الراهِن في المرهون
Sekarang, untuk melengkapi pembahasan, kami akan menyampaikan beberapa bagian secara bertahap. Di antaranya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa penguasaan (atas barang) tanpa izin penjual memindahkan tanggungan (jaminan), sehingga jika terjadi kerusakan, maka menjadi tanggungan pembeli yang menerima barang secara paksa, dan akad jual beli tidak batal. Namun, jika kami menetapkan hak penahanan bagi penjual, maka barang yang dijual dapat diambil kembali dari pembeli; hal ini memungkinkan. Maka jika pembeli menjual barang tersebut, penjualannya tidak sah sama sekali demi menjaga hak penjual, meskipun tanggungan telah berpindah. Ini seperti larangan penjualan barang gadai oleh pihak yang menggadaikan pada barang yang digadaikan.
ومسألةُ القبضِ جُزافاً مفروضةٌ فيه إذا جرى ذلك القبضُ عن رضاً من البائع أو فرّعنا على أن لا حَقَّ للبائع في الحبس
Masalah qabdh (pengambilan barang) secara sembarangan diasumsikan terjadi jika qabdh tersebut dilakukan dengan kerelaan dari penjual, atau jika kita membangun pendapat bahwa penjual tidak memiliki hak untuk menahan barang.
ولو رضي بالقبض جزافاً ثم بدا له بعد جريان صورة القبضِ فهذا يخرّج على تسلّط المشتري على البيع في القدر المستيقَن فإن سلطناه عليه فقد أَلْزمنا القبْضَ فلا سبيل إلى تسليط البائع على نقضه؛ إذ القبضُ صدر عن إذنهِ وتوفر عليه مقصودَاه من نقلِ الضمان والتسليطِ على التصرف وإن قلنا لا يتسلّطُ القابضُ على التصرّف في قدر حقّهِ فهل يملك البائعُ نقضَ يده والعودَ إلى حقّ الحبس
Jika pembeli telah rela menerima barang secara taksiran, lalu setelah proses penerimaan barang terjadi ia berubah pikiran, maka hal ini dikembalikan pada persoalan apakah pembeli berhak atas bagian barang yang diyakini jumlahnya. Jika kita memberikan hak tersebut kepadanya, berarti kita telah mewajibkan penerimaan barang, sehingga tidak ada jalan bagi penjual untuk membatalkannya; sebab penerimaan barang telah dilakukan atas izinnya dan dua tujuan utama telah tercapai, yaitu perpindahan tanggungan dan pemberian hak untuk melakukan tasharruf. Namun jika kita mengatakan bahwa penerima barang tidak berhak melakukan tasharruf pada bagian yang menjadi haknya, maka timbul pertanyaan: apakah penjual berhak membatalkan penyerahan barang dan kembali pada hak menahan barang?
هذا محتمل عندنا والعِلم عند الله
Ini memungkinkan menurut kami, dan ilmu yang sebenarnya hanya milik Allah.
وممّا يتعلّقُ الآن بتفصيل بيع الطعام مكايلةً أن الرجل إذا اشترى طعاماً كيلاً سلَماً واستقرَّ له ما اشتراهُ في ذمّةِ المسلَمِ إليه واستقرَّ ذلك عن جهةِ إقراضٍ أو بدلِ متلفٍ ثم استحق عليه مستحِقٌ بجهةٍ من الجهاتِ مكاييلَ من الحنطةِ فقال للمستحِق عليه استَوْفِ حقّكَ من فلان وذكر الذي يُستحَقُّ عليه الطعام فإذا اكتالَ المستحِق المتأخِّر لنفسهِ لم يصح مثلُ ذلك القبض؛ فإن القبض يتعلّق بالقابض والمقْبض ولا يجوز تقديرُ صُدورِهما من شخصٍ واحدٍ فإن قدَّرهُ مقدّرٌ وكيلاً بالقبض من جهة الآمِر قابضاً من جهة نفسهِ فهذا هو الذي لا نُصحّحهُ
Termasuk hal yang berkaitan dengan rincian jual beli makanan secara takaran adalah apabila seseorang membeli makanan dengan takaran melalui akad salam, lalu makanan yang dibelinya itu menjadi tanggungan pihak yang menerima salam, dan hal itu tetap menjadi tanggungan baik karena pinjaman maupun sebagai pengganti barang yang rusak. Kemudian, jika ada pihak yang berhak menuntut darinya sejumlah takaran gandum dengan alasan tertentu, lalu ia berkata kepada pihak yang berhak menuntut itu, “Ambillah hakmu dari si Fulan,” dan ia menyebutkan orang yang menjadi tanggungan makanan tersebut. Maka, apabila pihak yang berhak menuntut itu mengambil takaran untuk dirinya sendiri, penyerahan semacam itu tidak sah; karena penyerahan (qabdh) berkaitan dengan pihak yang menerima dan pihak yang menyerahkan, dan tidak boleh dianggap keduanya berasal dari satu orang. Jika ada yang membayangkan bahwa seseorang bertindak sebagai wakil dalam menerima dari pihak yang memerintahkan dan sekaligus sebagai penerima untuk dirinya sendiri, maka inilah yang tidak kami anggap sah.
ولو قالَ لمستحِق الطعام اكتل حقَّك من حنطتي هذه فإذا اكتاله بنفسه بأمرِ البائع فَفِي حُصول القبضِ على الصحَّةِ وجهان أحدُهما أنه يصح لجريان صورة القبض بإذن صاحب الحنطةِ وبائعها والثاني لا يصح لاتحادِ القابضِ والمُقبض والإذنُ بمجرَّده ليس إقباضاً وهذا القائلُ يعضد كلامَه بالحديث الذي رويناه في صدرِ الفصل
Jika seseorang berkata kepada pihak yang berhak atas makanan, “Ambillah bagianmu dari gandumku ini,” lalu ia mengambilnya sendiri atas perintah penjual, maka terdapat dua pendapat mengenai sah atau tidaknya terjadinya qabd (pengambilan barang). Pendapat pertama menyatakan sah, karena secara lahiriah telah terjadi qabd dengan izin pemilik dan penjual gandum tersebut. Pendapat kedua menyatakan tidak sah, karena pihak yang mengambil dan yang menyerahkan adalah orang yang sama, dan izin semata tidak dianggap sebagai penyerahan (iqbāḍ). Pendapat kedua ini menguatkan argumennya dengan hadis yang telah kami riwayatkan di awal bab ini.
فإن قيل قد قطعتم جوابَكم قبيلَ هذا بما يُناقِضُ هذا إذْ قلتمُ لو كان للآذن الآمِر حنطة على إنسان فقال لمن يستحق عليه اقبض حقَّكَ منه فإذا قبض زعَمتم أنه لا يصح قُلنا الفرقُ ظاهر؛ فإن مِلْكَ الآذنِ فيما قدّمناه لا يثبت في عينٍ حتى يقبض له أولاً فإذا قبض القابض لنفسهِ ولم يجرِ القبض للآذن كان باطلاً وجهاً واحداً؛ فإنه لا يستحق على من قبض منه شيئاً ولم يثبت للآذِن المتوسّطِ استحقاق في عينٍ حتى يترتب عليه قبض هذا القابض والمسألة التي ذَكَرنا الوجهين فيها مفروضة فيه إذا كان للآذن حنطةٌ حاضرةٌ عتيدةٌ فأمر المستحِق بالاكتيال منها
Jika dikatakan, “Kalian telah memutus jawaban kalian sebelumnya dengan sesuatu yang bertentangan dengan ini, yaitu ketika kalian berkata: Jika orang yang memberi izin dan memerintah memiliki gandum pada seseorang, lalu ia berkata kepada orang yang berhak atasnya, ‘Ambillah hakmu darinya,’ kemudian ia mengambilnya, kalian menganggap hal itu tidak sah.” Kami katakan, perbedaannya jelas; karena kepemilikan orang yang memberi izin, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, tidak tetap pada suatu barang tertentu hingga ia mengambilnya terlebih dahulu. Maka jika orang yang mengambil itu mengambilnya untuk dirinya sendiri dan tidak terjadi pengambilan untuk orang yang memberi izin, maka itu batal secara mutlak; karena ia tidak berhak atas apa pun dari orang yang mengambil darinya, dan orang yang memberi izin sebagai perantara tidak memiliki hak atas barang tertentu hingga pengambilan oleh orang yang mengambil itu terjadi. Adapun masalah yang kami sebutkan dua pendapat di dalamnya adalah jika orang yang memberi izin memiliki gandum yang hadir dan tersedia, lalu ia memerintahkan orang yang berhak untuk menakar dari gandum tersebut.
فإذا ظَهر محلُّ الخلاف والوفاقِ بنينا عليه غرضَنا وقلنا لو قال اقبض حقي من فلانٍ صح ووقع القبضُ والملكُ في المقبوض للآذِن حتى لو تلف المقبوض في يَدِ الوكيل كان محسوباً على الآذن ويدُ الوكيل أمانة وبمثلهِ لو قال اقبض لي من فلانٍ حقّي ثم اقبض منه حَقّكَ فأمّا قبضُه له فصحيح وقبْضُه لنفسه بعد قبضه له يخرّجُ على الوجهين المقدمين
Jika telah jelas letak perbedaan dan kesepakatan, maka kita membangun tujuan kita di atasnya dan berkata: Jika seseorang berkata, “Ambillah hakku dari si Fulan,” maka itu sah dan penyerahan serta kepemilikan atas barang yang diambil menjadi milik pihak yang memberi izin. Sehingga jika barang yang diambil itu rusak di tangan wakil, maka kerusakan tersebut menjadi tanggungan pihak yang memberi izin, dan tangan wakil dianggap sebagai amanah. Demikian pula jika ia berkata, “Ambillah hakku dari si Fulan, lalu ambillah hakmu darinya,” maka penyerahan untuknya (pemberi izin) adalah sah, dan penyerahan untuk dirinya sendiri setelah penyerahan untuk pemberi izin dikembalikan kepada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.
ولو قال للذي يستحق عليه طعاماً خُذ هذه الدراهمَ واشترِ بها لنفسِك طعاماً لم يصحّ هذا أبداً
Dan jika seseorang berkata kepada orang yang berhak menerima makanan darinya, “Ambillah uang ini dan belilah makanan untuk dirimu sendiri,” maka hal ini sama sekali tidak sah.
ولو قال اشترِ لي طعاماً في الذمةِ واقبض لنفسك فالشراء صحيح والقبضُ فاسدٌ ولو قالَ اشترِ لي واقبض لي ثم اقبض منه حقّكَ فالشراء والقبض للآمرِ صحيحان وقبضُه لنفسه على الوجهين
Jika seseorang berkata, “Belikan aku makanan secara utang dan ambillah untuk dirimu sendiri,” maka pembeliannya sah, tetapi pengambilannya tidak sah. Namun jika ia berkata, “Belikan aku dan ambillah untukku, lalu ambillah darinya hakmu,” maka pembelian dan pengambilan untuk pihak yang memerintah keduanya sah, dan pengambilan untuk dirinya sendiri berlaku pada kedua keadaan tersebut.
ومما يجب التنبُّه له أنه إذا قال اقبض حقَّك من فلانٍ فقبضه لم يصح والمقبوضُ ملك المقبوضِ منه فليردّهُ عليه وإذا ثبت هذا فلا خفاء في أن تصرفه لا يَنفذ ويدُه ضامِنةٌ؛ فإنها لا تنحط في هذا المقام عن يدِ المستامِ
Perlu diperhatikan bahwa jika seseorang berkata, “Ambillah hakmu dari si Fulan,” lalu ia mengambilnya, maka pengambilan itu tidak sah dan barang yang diambil tetap menjadi milik orang yang darinya barang itu diambil, sehingga harus dikembalikan kepadanya. Jika hal ini telah tetap, maka tidak diragukan lagi bahwa tindakan orang tersebut tidak sah dan tangannya berkewajiban menanggung (menjamin); karena dalam hal ini kedudukannya tidak lebih rendah dari tangan musta‘m (orang yang meminjam barang).
وسأفصّل هذا في آخر الفصل إن شاء الله عز وجل
Saya akan merinci hal ini di akhir bab, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ولو قال اقبض حقَّك من صُبرتي هذه فإذا اكتال بنفسه وقلنا يصح قبضُه فلا كلام ويتسَلّطُ على التصرُّفِ وإن قُلنا لا يصحّ قبضُه فليس هذا كما لو اشترى طعاماً مكايلةً وقبضهُ جزافاً؛ فإنا ذكرنا ثَمَّ أن البيعَ في القدر المستيقن ينفذ عند أبي إسحاق وهَاهُنا لا يَنفُذ البيع أصلاً بل لا يملكُ القابضُ ما أخذ والسبب فيه أن مسألة الجزاف مفروضةٌ في ثبوت الملك في الحنطةِ المعيَّنة بالعقدِ ثم في قبضها التفصيلُ فلقد قبض ما ملك بالعقدِ فجرى الأمرُ على ما مضى والمسألةُ الأخرى مصوّرةٌ فيهِ إذا استحق حنطةً في ذمة إنسانٍ فأمره من عليه الحنطةُ أن يقبضها على وجهٍ فإذا لم يصحّ ذلك الوجه لم يملك المقبوضَ ولم يتعيَّن حقُّه فيه؛ إذ لم يسبق له قبلُ استحقاق عينٍ وهذا واضحٌ لا إشكالَ فيهِ
Dan jika seseorang berkata, “Ambillah hakmu dari gandumku yang ini,” lalu ia menakar sendiri, dan kita katakan penyerahan itu sah, maka tidak ada masalah dan ia berhak melakukan tindakan atasnya. Namun jika kita katakan penyerahan itu tidak sah, maka ini tidak sama seperti jika seseorang membeli makanan dengan takaran lalu menerimanya secara taksiran; karena telah kami sebutkan di sana bahwa jual beli pada kadar yang diyakini sah menurut Abu Ishaq, sedangkan di sini jual beli sama sekali tidak sah, bahkan orang yang menerima tidak memiliki apa yang diambilnya. Sebabnya adalah bahwa masalah taksiran itu terjadi pada kepemilikan yang telah tetap atas gandum tertentu melalui akad, kemudian dalam penerimaannya ada perincian; maka ia telah menerima apa yang telah dimilikinya melalui akad, sehingga perkara berjalan sebagaimana mestinya. Sedangkan masalah yang lain digambarkan ketika seseorang berhak atas gandum dalam tanggungan seseorang, lalu orang yang menanggung gandum itu memerintahkannya untuk mengambilnya dengan cara tertentu; jika cara itu tidak sah, maka ia tidak memiliki apa yang diambilnya dan haknya tidak menjadi tertentu pada barang tersebut, karena sebelumnya ia belum pernah memiliki suatu barang tertentu. Hal ini jelas dan tidak ada keraguan di dalamnya.
وقد نجز القول في أصول القبضِ ونحن نرسم فروعاً شذَّت عن التفاصيل في
Telah selesai pembahasan mengenai pokok-pokok qabdh, dan sekarang kami akan menguraikan beberapa cabang yang menyimpang dari rincian-rincian yang telah disebutkan.
القواعد
Kaedah-kaedah
فرع
Cabang
إذا باع طعاماً بطعامٍ مكايلةً فإذا جرى التكايلُ في المجلسِ وترتب التقابُض عليهِ فإذا تفرّقا استمرت صحةُ العقد ولو جَرَى التقابض مُجازفةً من الجانبين وتفرقا عليه ففي فساد العقد وجهانِ أحدُهما أنه يفسد لأن القبضَ لم يتم والثاني لا يحكم بالفسادِ لجريانِ صورةِ التقابض
Jika seseorang menjual makanan dengan makanan secara takaran, lalu terjadi penakaran di majelis dan diikuti dengan serah terima, maka jika keduanya berpisah, keabsahan akad tetap berlangsung. Namun, jika serah terima dilakukan secara mujawazafah (tanpa takaran yang jelas) dari kedua belah pihak dan mereka berpisah setelahnya, maka ada dua pendapat mengenai batalnya akad: pendapat pertama menyatakan akad batal karena serah terima belum sempurna, dan pendapat kedua tidak memutuskan batal karena telah terjadi bentuk serah terima.
وهذا يَبتني عندنا على الخلافِ المذكور في أن القابضَ على المجازفة هل يتسلط على بيع ما استيقنه
Hal ini, menurut kami, bergantung pada perbedaan pendapat yang telah disebutkan mengenai apakah orang yang menerima barang secara majāzafah (tanpa takaran atau timbangan pasti) berhak menjual apa yang diyakininya.
وتحقيق القول فيهِ أن من يصحح التصرفَ في القدر المستيقنِ يصحح القبضَ من جهةِ أن أثر القبضِ نقلُ الضمانِ والتصرّفِ فإذا اجتمعَا لم يبقَ لذكرِ الفسادِ معنىً فعلى هذا إذا تفرقا لم يبطل العقدُ
Penjelasan yang tepat dalam hal ini adalah bahwa siapa pun yang membenarkan keabsahan tindakan pada bagian yang diyakini pasti, maka ia juga membenarkan keabsahan qabd dari sisi bahwa akibat qabd adalah perpindahan tanggungan dan hak bertindak. Maka jika kedua hal itu telah terpenuhi, tidak ada lagi makna untuk menyebutkan kerusakan (fasad). Berdasarkan hal ini, jika kedua pihak berpisah, akad tidak menjadi batal.
وإن لم يسلَّط القابضُ على التصرف فالقبض على هذا لم يُفِدْ أحدَ مقصوديه وهو التصرفُ وأفادَ نقلَ الضمانِ فإذا فرض التفرقُ على هذا الوجهِ ففي بطلان العقدِ وجهان أحدهما أنه يفسُد لنقصان القبض والثاني يصح لجريانهِ واقتضائه لنقل الضمان
Jika penerima barang tidak diberi wewenang untuk melakukan tasharruf (pengelolaan atau pemanfaatan), maka qabdh (penguasaan) dalam hal ini tidak memberikan salah satu dari dua tujuan utamanya, yaitu tasharruf, namun hanya memberikan perpindahan tanggungan (dhaman). Jika terjadi perpisahan (antara penjual dan pembeli) dalam keadaan seperti ini, terdapat dua pendapat mengenai batal atau tidaknya akad: pendapat pertama menyatakan akad menjadi batal karena qabdh yang kurang sempurna, dan pendapat kedua menyatakan akad tetap sah karena telah berlangsung dan telah menyebabkan perpindahan tanggungan.
وذكر بعضُ الأصحاب أن رجُلين لو تبايعا طعامين في الذمَّةِ ثم تقابضا من غير رؤية في المقبوضِ قال هذا يُخَرَّجُ على هذا الخلافِ المذكور في التقابض مُجازفة وهذا فيه فضلُ نظر؛ فإن القبضَ من غير رؤية يخرّج عندنا على بيع الغائب فإن القبضَ عن ثابتٍ في الذمّةِ مُملِّكٌ كالبيع فحلّ محلّهُ
Sebagian ulama menyebutkan bahwa jika dua orang melakukan jual beli dua jenis makanan secara salam (jual beli dengan pembayaran di muka untuk barang yang akan diterima kemudian) dalam tanggungan, lalu keduanya saling menerima barang tanpa melihat terlebih dahulu barang yang diterima, maka permasalahan ini dikembalikan pada perbedaan pendapat yang telah disebutkan mengenai serah terima barang secara mujazafah (tanpa penakaran atau penimbangan). Namun, hal ini masih memerlukan kajian lebih lanjut; sebab serah terima barang tanpa melihatnya dikategorikan menurut kami sebagai jual beli barang yang tidak hadir (ghā’ib), karena serah terima atas sesuatu yang tetap dalam tanggungan itu menyebabkan kepemilikan, sebagaimana halnya jual beli, sehingga kedudukannya sama.
فإن قلنا لا يحصل التمليك فتفرقا فسدَ العقدُ وليس كالقبض على مُجازفةٍ في عينين فإن القبض وارد على مِلك وإن حكمنا بأن القبضَ مع عدم الرؤية مُملِّكٌ ففي التفرق احتمال؛ من جهة أنه تفرق على جوازِ العقد فإنا إذا خرَّجْنا قبضَ ما لم يره القابضُ على بيع الغائب فلا بدّ من تقديرِ خيارٍ فيهِ والتفرقُ على حكم الخيارِ ضعيف ولهذا لا يثبت خيارُ الشرطِ في عقدِ الصَّرفِ ولنا في خيارِ الرؤيةِ في قبض ما لم يرهُ القابض تردُّدٌ فلينعمُ الناظرُ نظرَه فيه فإن خيارَ الرؤيةِ متعلَّقُهُ الخبر وهو إن صح واردٌ في الشراء ففي الخيار من طريق المعنى غموض أيضاًً؛ من جهة أن المقبوض إذا كان على الصفةِ المستحقةِ فلا فائدة من رد ما قبضه فإنه لو رَدّه لاستمكن المردودُ عليه من رد ذلك بعينه عليه وليس هذا فسخاً بخلاف الخيار في العقد ويجوز أن يقال هذا فسخٌ في القبض فإذا أنشأ من عليه الحق إقباضاً فليفعل
Jika kita mengatakan bahwa tidak terjadi pemilikan, lalu keduanya berpisah, maka akad menjadi batal. Ini tidak seperti penyerahan (qabḍ) secara spekulatif pada dua barang tertentu, karena penyerahan tersebut terjadi atas milik. Namun, jika kita memutuskan bahwa penyerahan tanpa melihat barang dapat menyebabkan pemilikan, maka dalam hal perpisahan terdapat kemungkinan; dari sisi bahwa perpisahan itu terjadi atas dasar kebolehan akad. Jika kita mengaitkan penyerahan barang yang belum dilihat oleh penerima dengan jual beli barang gaib, maka harus diperkirakan adanya hak khiyar di dalamnya, dan perpisahan atas dasar khiyar itu lemah. Oleh karena itu, khiyar syarat tidak ditetapkan dalam akad ṣarf. Kami sendiri masih ragu mengenai khiyar ru’yah dalam penyerahan barang yang belum dilihat oleh penerima, maka hendaknya penelaah benar-benar memperhatikan masalah ini. Sebab, khiyar ru’yah berkaitan dengan pemberitahuan, dan jika benar, itu berlaku dalam pembelian. Maka, dalam hal khiyar dari sisi makna juga terdapat kerancuan; dari sisi bahwa barang yang diterima jika sesuai dengan sifat yang disyaratkan, maka tidak ada manfaat dari mengembalikan barang yang telah diterima, karena jika ia mengembalikannya, pihak yang dikembalikan barang itu dapat mengembalikan barang yang sama kepadanya. Ini bukanlah pembatalan akad, berbeda dengan khiyar dalam akad. Boleh juga dikatakan bahwa ini adalah pembatalan dalam penyerahan, maka jika pihak yang berkewajiban menyerahkan barang ingin melakukannya, silakan dilakukan.
فرع
Cabang
قد ذكرنا أن الأصحَّ اعتبارُ النقلِ في المنقول حتى لا يصحَّ القبضُ دونَه فلو باع رجل داراً وفيها أمتعةٌ باعها مع الدار فقد اختلف أصحابُنا في اشتراط النقلِ فيها لتحقيق القبض فذهب بعضهم إلى أن النقلَ لا بدّ منه؛ طرداً لقياس اعتبار النقل وذهب آخرون إلى أن النقل لا يعتبر ووجّهُوا هذا بأن المنقولات تتبع الدارَ
Telah kami sebutkan bahwa pendapat yang paling sahih adalah mempertimbangkan adanya pemindahan pada barang bergerak sehingga tidak sah penyerahan tanpa pemindahan tersebut. Maka, jika seseorang menjual sebuah rumah dan di dalamnya terdapat barang-barang yang juga dijual bersama rumah itu, para ulama kami berbeda pendapat mengenai syarat pemindahan barang-barang tersebut untuk mewujudkan penyerahan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa pemindahan itu harus dilakukan, sesuai dengan qiyās yang mensyaratkan adanya pemindahan. Sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa pemindahan tidak disyaratkan, dan mereka beralasan bahwa barang-barang bergerak tersebut mengikuti rumahnya.
وهذا التوجيه غيرُ سديدٍ والوجه تخريجُ الخلافِ على أصل سيأتي في الرهون
Penjelasan ini tidaklah tepat, dan yang benar adalah mengaitkan perbedaan pendapat ini dengan kaidah yang akan dijelaskan pada pembahasan tentang rahn.
وهو أن من باع الوديعةَ من المودَع فهل يحتاج إلى إقباضٍ جديد أم يكفي دوامُ اليد ووجهُ خروجِ ما ذكرناه على ذلك الأصل أن اليدَ تثبتُ على الدار فيصيرُ المنقول فيها تحت يد المشتري فانتظم التردد على هذه القاعدة
Yaitu, apabila seseorang menjual barang titipan kepada orang yang dititipi, apakah diperlukan penyerahan (qabdh) baru atau cukup dengan keberlanjutan penguasaan (dawam al-yad)? Adapun alasan keluarnya apa yang telah kami sebutkan berdasarkan kaidah tersebut adalah bahwa penguasaan (yad) tetap ada atas rumah, sehingga barang yang dipindahkan di dalamnya berada di bawah penguasaan pembeli, maka keraguan pun berputar pada kaidah ini.
فإن بقي في النفس اقتضاءُ تفصيل فهو مستقصى في الأصل الذي أشرنا إليه
Jika masih tersisa kebutuhan penjelasan secara rinci dalam benak, maka hal itu telah dibahas secara lengkap dalam sumber yang telah kami isyaratkan.
فرع
Cabang
إذا بَعث من يستحقُ مكيالاً من طعامٍ مكيالَه إلى المستحقّ عليه حتى يملأه فإذا ملأه لم يصر نفس هذا إقباضاً عندَنا خلافاً لأبي حنيفةَ وهذا يخرّج على ما مهدناه من أن صورةَ التقدير لا يكون إقباضاً حتى ينضمَّ إليه ما يتم الإقباضُ به
Jika seseorang mengutus orang yang berhak menerima satu takaran makanan dengan takarannya kepada orang yang wajib memberikannya, lalu orang tersebut mengisinya, maka ketika takaran itu telah terisi, menurut kami hal itu belum dianggap sebagai penyerahan (qabḍ) yang sebenarnya, berbeda dengan pendapat Abū Ḥanīfah. Hal ini didasarkan pada penjelasan yang telah kami kemukakan sebelumnya bahwa bentuk penakaran semata belum dianggap sebagai penyerahan (qabḍ) sampai disertai dengan hal lain yang menyempurnakan proses penyerahan tersebut.
فرع
Cabang
إذا كان لرجل على رجل دينٌ موزونٌ استحقَّهُ عليهِ وزناً فلا يستحق القبض فيه إلا وزناً سواءٌ كان ذلك في بيع أو قرضٍ أو غيرِهما
Jika seseorang memiliki piutang berupa barang yang ditimbang atas orang lain, yang ia berhak menerimanya dalam bentuk timbangan, maka ia tidak berhak menerima pembayaran kecuali dengan cara ditimbang, baik itu dalam jual beli, pinjaman, maupun selainnya.
فلو ألقى من عليه الحقُ إلى مستحِق الحق كيساً فيه دراهمُ مجهولة وقال خذها بحقِّك فأخذها من غير وزنٍ فالقبض فاسدٌ غيرُ مملِّكٍ كما سبق ولكن لو تلفت تلك الدراهمُ في يدِ القابضِ كانت مضمونةً عليه؛ فإنه قبضها على قصد التملُّكِ فإذا لم يصح مقصودُه ثبت الضمان ولا ينحط هذا من ضمان المحكوم به في حق المستام
Jika orang yang memiliki kewajiban menyerahkan hak melemparkan sebuah kantong berisi dirham yang tidak diketahui jumlahnya kepada orang yang berhak menerima, lalu berkata, “Ambillah ini sebagai hakmu,” kemudian orang tersebut mengambilnya tanpa ditimbang, maka penyerahan itu tidak sah dan tidak menyebabkan kepemilikan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika dirham-dirham itu rusak atau hilang di tangan penerima, maka ia tetap bertanggung jawab atasnya; karena ia mengambilnya dengan maksud untuk memiliki. Jika maksudnya tidak sah, maka tetap berlaku kewajiban ganti rugi. Hal ini tidak mengurangi kewajiban ganti rugi yang telah diputuskan hakim terhadap orang yang menawar.
ولو ألقى إليه الكيس وقال خذ منه حقَّك فإنه لم يسلِّم إليه ما في الكيس مملِّكا ولكن سلَّمها إليه والملكُ دائمٌ للمسلِّم فوكَّله بأن يقبضَ حقه منه فإذا قبض حقهُ منه وزناً ففي صحَّة القبضِ الوجهان المقدَّمان في نظائرِ ذلك ولو تلفت تلك الدرَاهِمُ في يده قبلَ أن يقبضَ منها حقَّه فلا يكون التالف مضموناً عليه؛ فإن يده يدُ الوكيل المؤتمن قبل أن يقبض ولا ضمان على الوكيل فيما تلف تحت يدهِ
Dan jika seseorang menyerahkan kantong kepadanya dan berkata, “Ambillah hakmu darinya,” maka ia belum menyerahkan apa yang ada di dalam kantong itu sebagai pemilik, melainkan hanya menyerahkannya kepadanya, dan kepemilikan tetap berada pada orang yang menyerahkan. Maka ia mewakilkannya untuk mengambil haknya dari kantong itu. Jika ia mengambil haknya dari kantong itu dengan ditimbang, maka dalam keabsahan pengambilan tersebut terdapat dua pendapat yang telah dikemukakan dalam kasus-kasus serupa. Dan jika dirham-dirham itu rusak di tangannya sebelum ia mengambil haknya darinya, maka yang rusak itu tidak menjadi tanggungannya; karena tangannya adalah tangan wakil yang dipercaya sebelum ia mengambil, dan tidak ada tanggungan atas wakil terhadap apa yang rusak di bawah tangannya.
وليس كيَدِ المستام؛ فإنه قبض ما قبض لمنفعةِ نفسِه من غير استحقاقٍ واليد إذا كانت بهذه الصفةِ فهي يَدُ ضمان والتوكيل ثابت ويدُه مستمرةٌ على حكم الأمانة إلى أن ينشأ قبضُ حقِّ نفسهِ وهذا يناظر ما لو أودع عند رجل عبداً وذكر أن المودَعَ له أن يستخدمَ العبد إن أراد ذلك فاليد يدُ وديعةٍ في الحالِ فإذا ابتدأ في الاستخدام على حكم العارية فيصير العبدُ إذْ ذاكَ مضموناَّ؛ فإنه مستعار الآن
Tidak seperti tangan musta‘m (peminjam barang), karena ia mengambil apa yang diambilnya untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa hak, dan jika tangan berada dalam keadaan seperti ini maka itu adalah tangan dhamān (tanggung jawab ganti rugi). Sementara perwakilan tetap berlaku dan tangannya tetap berada dalam status amanah hingga muncul pengambilan hak untuk dirinya sendiri. Ini sebanding dengan kasus ketika seseorang menitipkan seorang budak kepada orang lain dan menyebutkan bahwa orang yang dititipi boleh menggunakan budak itu jika ia menghendaki. Maka tangan tersebut adalah tangan wadi‘ah (titipan) pada saat itu. Namun, jika ia mulai menggunakan budak itu atas dasar ‘āriyah (pinjaman pakai), maka budak tersebut saat itu menjadi tanggungan, karena sekarang statusnya adalah barang pinjaman.
وذكر شيخي تردُّداً عن القفال في مسألةٍ أجراها في أثناء الكلام وهي أنه لو دفع رجلٌ إلى إنسانٍ دراهمَ وقال له اشترِ لنفسِكَ بهذا شيئاً فقال يجوز أن يحمل مُطلقُ هذا التسليم على الإقراض ثم لا يخفى حكمُه ويجوز أن يحمل على الهبةِ والنحلة والدليل عليه أن الشافعي قال إذا قال من لزمته كفارة لمالكِ عبدٍ أعتقه عنّي ولم يذكر عِوضاً فإذا أعتقه عنه مطلقاًً صحّ وحُمل العتقُ على جهةِ التبرع فليكن الأمر كذلك هاهنا
Guru saya menyebutkan adanya keraguan dari al-Qaffal dalam suatu permasalahan yang beliau kemukakan di tengah pembicaraan, yaitu: jika seseorang memberikan sejumlah dirham kepada orang lain dan berkata kepadanya, “Belikanlah sesuatu untuk dirimu sendiri dengan uang ini,” maka boleh jadi makna penyerahan secara mutlak ini diarahkan pada peminjaman (iqrāḍ), sehingga hukumnya tidak samar lagi, dan boleh jadi diarahkan pada hibah atau pemberian (nihla). Dalilnya adalah bahwa asy-Syafi‘i berkata: Jika seseorang yang wajib membayar kafarat berkata kepada pemilik budak, “Merdekakanlah budakmu untukku,” tanpa menyebutkan imbalan, lalu pemilik budak itu memerdekakannya secara mutlak, maka hal itu sah dan pembebasan budak tersebut dianggap sebagai bentuk pemberian. Maka hendaknya perkara ini juga berlaku demikian di sini.
فصل
Bab
في الاستبدال
Tentang istibdāl (penggantian).
الأعيانُ الثابتةُ أعواضاً في الحقيقة في المعاوضات لا يجوزُ الاستبدال عنها قبل القبض بناءً على الأصل الممهّدِ في منع بيعِ المبيع قبل القبض والاستبدالُ بيعٌ وفي جوازِ الاستبدالِ في الصداق وما ضممناه إليه من بَدل الخُلع والمصالحةِ عن الدم الخلافُ المقدَّم بناءً على أن الأعيانَ هل تثبت أعواضاً على الحقيقة أم هي مضمونةٌ بالأيدي وعلى هذا يُبْتَنى حكمُ التلفِ على ما سيأتي في كتاب الصداق
Barang-barang (‘ayn) yang ditetapkan sebagai pengganti (‘iwādh) dalam transaksi mu‘āwadah pada hakikatnya tidak boleh diganti sebelum diterima, berdasarkan kaidah dasar yang melarang penjualan barang sebelum diterima, dan penggantian itu termasuk jual beli. Adapun kebolehan penggantian dalam mahar (ṣadaq) dan apa yang kami sertakan dengannya seperti pengganti khulu‘ dan perdamaian atas darah (diyat), terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, berdasarkan apakah barang (‘ayn) itu benar-benar ditetapkan sebagai pengganti (‘iwādh) ataukah hanya dijamin dalam tanggungan. Atas dasar ini pula, hukum kerusakan (talf) akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya dalam Kitab Ṣadaq.
وغرضُ الفصل تفصيلُ القولِ في الاستبدالِ عن الديون
Tujuan dari bab ini adalah merinci pembahasan mengenai penggantian atas utang-utang.
فنقول الأموالُ الثابتةُ في الذمَّة تنقسم ثلاثةَ أقسام أحدها ما يثبت معوَّضاً في محل المبيع المثمَّن والثاني ما يثبت ثمناً والثالث ما يثبت بسبب من الأسباب وليس مُتَّصفاً بكونه ثمناً ولا مثمناً كالقرْضِ في ذمة المقترض وقيمةِ المتلَفِ والمالِ المضمون في ذمّة الضَّامِن
Maka kami katakan, harta yang tetap menjadi tanggungan terbagi menjadi tiga bagian: pertama, harta yang tetap sebagai pengganti pada tempat barang yang dijual sebagai objek yang dinilai; kedua, harta yang tetap sebagai harga; dan ketiga, harta yang tetap karena suatu sebab, namun tidak bersifat sebagai harga maupun objek yang dinilai, seperti pinjaman dalam tanggungan peminjam, nilai barang yang rusak, dan harta yang dijamin dalam tanggungan penjamin.
فأما ما يثبت معوَّضاً مثمناً في محل المبيع فهو المسْلَم فيه فلا يجوز الاعتياض عنه كما لا يجوز الاعتياض عن العَيْن المبيعة وذلك أن المسلمَ فيه مبيع مقصودٌ كالعَين المبيعة والملك في العين أقوى من الملك في الديْن فإذا امتنع الاستبدال عن الملك في العَيْن فلأن يمتنِع عن الدين الذي وقع مبيعاً أولى ولو كان على المسلِمِ قرضٌ فإخال المُقرِضَ بحقهِ على المسلَمِ إليهِ فالحوالة فاسدةٌ؛ فإنها في التحقيق بيع سلمٍ بدينٍ وذلك باطلٌ
Adapun sesuatu yang ditetapkan sebagai pengganti (ma‘wadh) dan menjadi objek dalam akad jual beli adalah barang yang diserahkan dalam akad salam (muslam fīh), maka tidak boleh mengambil pengganti darinya, sebagaimana tidak boleh mengambil pengganti dari barang yang dijual (‘ayn mabī‘ah). Hal ini karena barang yang diserahkan dalam akad salam adalah barang yang menjadi tujuan utama dalam jual beli, sebagaimana barang yang dijual (‘ayn mabī‘ah), dan kepemilikan atas barang (‘ayn) lebih kuat daripada kepemilikan atas utang (dayn). Maka, jika penggantian atas kepemilikan barang (‘ayn) saja tidak diperbolehkan, maka larangan atas utang yang menjadi objek jual beli tentu lebih utama. Jika orang yang melakukan akad salam (muslim) memiliki utang kepada pihak lain, lalu pemberi utang memindahkan haknya kepada pihak yang menerima salam (muslam ilayh), maka hawalah (pemindahan utang) tersebut batal; karena pada hakikatnya itu adalah jual beli salam dengan utang, dan hal itu tidak sah.
ولو كان للمسلَم إليهِ دينٌ على إنسانٍ عن جهةِ قرضٍ وكان من جنسِ ما عليه في عقدِ السلم فلو أحال المسلِمَ على من عليه القرض ففي الحوالة وجهان أحدُهما أنها فاسدة؛ فإنها تضمنت مقابلةَ سليم بقرضِ فلتفسد كما تَفسُد إحالةُ القرضِ على السلم
Jika orang yang menerima salam (musalam ilaih) memiliki piutang pada seseorang berupa utang (qardh), dan piutang tersebut sejenis dengan barang yang menjadi kewajiban dalam akad salam, lalu ia mengalihkan (muhalah) orang yang menyerahkan salam (musallim) kepada orang yang berutang tersebut, maka dalam hal pengalihan ini terdapat dua pendapat. Salah satunya menyatakan bahwa pengalihan itu batal, karena di dalamnya terdapat pertukaran antara barang salam dengan utang (qardh), sehingga batal sebagaimana batalnya pengalihan utang (qardh) kepada akad salam.
ومن أصحابنا من قالَ حوالةُ السلَم على القرض صحيحةٌ؛ فإن الواجبَ على المسلَم إليه أن يوفر على المسلِم حقّهُ فإذا فعل فقد خرج عما عليه فالأصح منع الحوالة؛ فإنا لو صححناها لكُنَّا نقلنا استحقاقَ المسلَم من السلم إلى القرض ومن ذمَّة المسلم إليه إلى ذمّةِ المستقرض وهذا على حقيقة المعاوضة وإن لم نجعل الحوالةَ معاوضةً فيجب أن تصح الحوالة على السلم أيضاًً وذكر الشيخ أبو بكر الصيدلاني وجهاً في صحة إحالةِ القرضِ على السلَم والسلَم على القرض تخريجاً على أن الحوالةَ استيفاءٌ وليس بمعاوضةٍ
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hawalah (pengalihan utang) salam kepada utang qardh adalah sah; karena yang wajib atas pihak yang menerima salam adalah memenuhi hak pihak yang menyerahkan salam, maka jika ia telah melakukannya, ia telah terbebas dari kewajibannya. Namun, pendapat yang lebih sahih adalah melarang hawalah tersebut; sebab jika kita membolehkannya, berarti kita telah memindahkan hak pihak yang menyerahkan salam dari akad salam ke akad qardh, dan dari tanggungan pihak yang menerima salam ke tanggungan pihak yang berutang, dan ini pada hakikatnya adalah bentuk mu‘awadhah (pertukaran), meskipun kita tidak menganggap hawalah sebagai mu‘awadhah. Maka, seharusnya hawalah atas akad salam juga sah. Syaikh Abu Bakar Ash-Shaydalani menyebutkan satu pendapat tentang bolehnya pengalihan utang qardh kepada salam dan salam kepada qardh, dengan alasan bahwa hawalah adalah bentuk istifa’ (penagihan hak), bukan mu‘awadhah.
وإذا جمعنا الإحالَةَ على السلم وإحالةَ السلم على غيرهِ انتظم على ما ذكره ثلاثةُ أوجهٍ أحدها المنع والثاني الجوازُ والثالث الفصل بين إحالة القَرْض على السلم؛ فإنها ممنوعة وبين إحالةِ السلم على القرض؛ فإنها جائزة
Jika kita menggabungkan pengalihan (ḥawālah) atas akad salam dan pengalihan salam kepada selainnya, maka sebagaimana yang telah disebutkan, terdapat tiga pendapat: yang pertama adalah larangan, yang kedua adalah kebolehan, dan yang ketiga adalah membedakan antara pengalihan utang (qarḍ) kepada salam—maka hal ini dilarang—dan antara pengalihan salam kepada utang (qarḍ)—maka hal ini diperbolehkan.
فهذا قولُنا فيما ثبت من الديون على مرتبة الأعيان المبيعة
Inilah pendapat kami mengenai utang-utang yang telah tetap, yang berada pada tingkatan benda-benda yang dijual.
فأما ما ثبت قرْضاً أو قيمةً عن مُتلَفٍ أوْ لازماً عن جهةِ ضمانٍ فالاستبدال عن جميعها جائزٌ وإذا استبدل مستحِقُّ الدين في هذه الجهاتِ وأمثالِها عن الدين عيناً صح الاستبدال لو جرى تسليمُ العين في المجلس وإن تفرقا قبل تسليم العين نُظر فإن كان الاستبدالُ في شقيّه وارداً على ما يشترط التقابض فيه ثم جرى التفرُّقُ فيبطل الاستبدالُ وإن لم يكن العقدُ عقدَ ربا بأن كانت الديون دراهمَ وأعواضُها ثياب وما في معانيها؛ فإذا جرى التفرُّقُ قبل القبض فيها ففي بطلان الاستبدال وجهان أحدهما أنه لا يبطل؛ لأن اشتراط الإقباض لا يستند إلى أصلِ في غير عقود الربا والسَلَم فليكن الاستبدال من دينٍ في عين بمثابَة بيعِ عينِ بدين ولا يُشترط الإقباضُ فيه
Adapun apa yang telah ditetapkan sebagai pinjaman atau sebagai nilai dari sesuatu yang rusak, atau yang wajib dari sisi jaminan, maka penggantian atas semua itu diperbolehkan. Jika pihak yang berhak atas utang dalam hal-hal tersebut dan yang semisalnya mengganti utangnya dengan barang, maka penggantian itu sah apabila terjadi penyerahan barang di majelis. Namun, jika keduanya berpisah sebelum penyerahan barang, maka perlu dilihat: jika penggantian dalam kedua sisinya berkaitan dengan sesuatu yang disyaratkan serah terima secara langsung, lalu terjadi perpisahan, maka penggantian itu batal. Namun, jika akadnya bukan akad riba, seperti utang berupa dirham dan penggantinya berupa pakaian atau yang semakna dengannya, lalu terjadi perpisahan sebelum penyerahan, maka dalam hal batal atau tidaknya penggantian terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah tidak batal, karena syarat penyerahan tidak bersandar pada asal dalam selain akad riba dan salam. Maka, penggantian dari utang menjadi barang diposisikan seperti jual beli barang dengan utang, dan tidak disyaratkan penyerahan di dalamnya.
والوجه الثاني الاستبدالُ يَفسُد ويندرجُ تحت نهي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الدين بالدين وهذا ظاهر نص الشافعي وليس الاستبدال في معنى بيع العين بالدين؛ فإن العقد ينزل على مقصود المتعاقدين وغرضُ الاستبدال استيفاءُ الدين من مالية العَين فإذا لم يجز القبضُ كان في حكم دينٍ في مقابلة دين
Pendapat kedua, istibdal (penggantian) menjadi rusak dan termasuk dalam larangan Rasulullah saw. tentang jual beli utang dengan utang, dan ini adalah teks yang jelas dari Imam Syafi’i. Istibdal tidak sama maknanya dengan jual beli barang (‘ayn) dengan utang; sebab akad itu mengikuti maksud para pihak yang berakad, dan tujuan istibdal adalah untuk mengambil pelunasan utang dari nilai barang. Jika penyerahan (qabdh) tidak diperbolehkan, maka hukumnya sama seperti utang yang dipertukarkan dengan utang.
وهذا تكلّفٌ والصحيح الأول
Ini adalah pemaksaan, dan pendapat yang benar adalah yang pertama.
وإذا ثبت جواز الاستبدالِ عن الديون في هذه الجهاتِ فهل يصح بيعُ الدينِ من إنسان آخر بعينٍ تؤخذ منه فعلى قولين أحدهما يجوز؛ فإن الدينَ مملوكٌ فإذا جاز استبدالُ مستحقِّه عليه ونفذَ تصرُّفُه فيهِ فينبغي أن يجوز بيعُه من الغير أيضاًً اعتباراً بالأعيان التي تَنفُذ التصرفات فيها
Jika telah tetap kebolehan mengganti utang pada perkara-perkara ini, maka apakah sah menjual utang kepada orang lain dengan barang yang diambil darinya? Ada dua pendapat: salah satunya membolehkan; karena utang itu adalah milik, maka jika boleh mengganti orang yang berhak atasnya dan sah tindakan terhadapnya, seharusnya juga boleh menjualnya kepada orang lain, dengan pertimbangan seperti barang-barang yang sah dilakukan transaksi atasnya.
والقول الثاني لا يصح بيعُ الدين من الغيرِ فإن الدينَ ليس ملكاً محصَّلاً ولهذا يمتنع رهنُه وإنما جوزنا الاستبدالَ توصُّلاً إلى الاستيفاءِ وإبراءِ الذمة ولا خلاف أنا وإن جوزنا بيع الدين من الغير فلا يجوز بيعُ الدين من الغير بالدين؛ فإن هذا لَوْ جُوّزَ انطبق عليه نهيُ رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الكالىء بالكالىء
Pendapat kedua menyatakan bahwa tidak sah menjual utang kepada pihak lain, karena utang bukanlah milik yang nyata dan karena itu tidak boleh dijadikan jaminan. Kami hanya membolehkan penggantian sebagai upaya untuk memperoleh pelunasan dan membebaskan tanggungan. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa meskipun kami membolehkan penjualan utang kepada pihak lain, tidak boleh menjual utang kepada pihak lain dengan utang pula; sebab jika hal ini dibolehkan, maka akan termasuk dalam larangan Rasulullah ﷺ tentang jual beli al-kali’ bil-kali’ (jual beli utang dengan utang).
وكان شيخي يقول اشتراطُ القبضِ في الاستبدال متلقىً من القولين من بيع الدين من الغَير فإن جوّزنا ذلك فالاستبدالُ بيعٌ محقق ولا يُشترط في بيع العين القبضُ إذا لم يكن العقدُ مشتملاً على عِوضَي الربا وإذا لم نجوّز بيعَ الدين من الغَيرِ فلا نجعل الاستبدال في حقيقة البيع بل نجعله استيفاءً والاستيفاءُ لا يَتعدَّى المجلسَ
Dan guruku berkata, syarat penyerahan (qabḍ) dalam pertukaran (istibdāl) diambil dari dua pendapat tentang jual beli utang dari selain pihak yang berutang. Jika kita membolehkannya, maka pertukaran itu adalah jual beli yang sebenarnya, dan dalam jual beli barang (‘ain) tidak disyaratkan penyerahan apabila akadnya tidak mengandung dua unsur ribā. Namun jika kita tidak membolehkan jual beli utang dari selain pihak yang berutang, maka kita tidak menganggap pertukaran itu sebagai hakikat jual beli, melainkan sebagai bentuk pemenuhan (istifā’), dan pemenuhan itu tidak boleh melebihi majelis (tempat akad).
فأما القسمُ الثالث وهو الدَّيْن الثابتُ ثمناً فنقول في جَوازِ الاستبدال عن الثمن قولان للشافعي أحدهما أنه باطِل؛ فإنه دَين ثبت عوضاً في معاوضةٍ فلا يجوز الاستبدال عنه كالمسلَم فيه
Adapun bagian ketiga, yaitu utang yang tetap sebagai harga, maka kami katakan tentang kebolehan mengganti harga tersebut ada dua pendapat menurut Imam Syafi‘i. Salah satunya adalah tidak sah; karena ia adalah utang yang tetap sebagai imbalan dalam suatu transaksi, maka tidak boleh diganti sebagaimana pada akad salam.
والقول الثاني يجوز الاستبدال عنه؛ فإن الثمن لا يُقصد لعينهِ وإنما تُقصدُ الماليّةُ منه والاستبدال يُديمُ الماليةَ وحكمَها وليس كذلكَ المسلَم فيه؛ فإنه مقصودٌ في جنسهِ كالأعيان المعيّنَة
Pendapat kedua menyatakan bahwa boleh menggantinya, karena harga tidak dimaksudkan pada zatnya, melainkan pada nilai finansialnya, dan penggantian itu mempertahankan nilai finansial serta hukumnya. Tidak demikian halnya dengan barang yang menjadi objek salam; karena yang dimaksud adalah jenisnya, seperti benda-benda tertentu.
وهذا ضعيف في القياسِ ولكن رُوي عن ابن عُمر أنه قال كنا نبيعُ على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم بالدراهم فنأخذ بدلَها دنانيرَ ونبيع بالدنانير فنأخذ بَدَلها دراهم فسألنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لا بأس إذا تفرقتما وليس بينكما لَبسٌ وروي وليس بينكما شيء وهذا الحديث يقرب من مراتب النصوص وقد حملناه في الخلاف على التبادلِ في المجلس وهذا يخرج على مصيرنا إلى أن إلحاق الزوائد بالثمن والمثمّن جائزٌ في مجلس العقدِ وزمانِ الخيار ويشهدُ لهذا قول الرسول صلى الله عليه وسلم لا بأس إذا تفرقتما وليس بينكما لَبس
Ini lemah dalam qiyās, namun telah diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia berkata: Dahulu kami berdagang pada masa Rasulullah saw. dengan dirham, lalu kami mengambil gantinya dinar, dan kami berdagang dengan dinar lalu kami mengambil gantinya dirham. Maka kami bertanya kepada Rasulullah saw., beliau bersabda: “Tidak mengapa jika kalian berpisah dan tidak ada keraguan di antara kalian.” Dan diriwayatkan pula: “dan tidak ada sesuatu di antara kalian.” Hadis ini hampir setara dengan derajat nash, dan kami memaknainya dalam perbedaan pendapat sebagai pertukaran di majelis. Ini sesuai dengan pendapat kami bahwa penambahan pada harga dan barang yang diperjualbelikan diperbolehkan dalam majelis akad dan selama masa khiyar. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw.: “Tidak mengapa jika kalian berpisah dan tidak ada keraguan di antara kalian.”
وتمام البيان موقوف على أن نذكر حقيقةَ الثمن والمثمَّن وحاصلُ المذهب في ذلك ثلاثةُ أوجه أحدُهما أن الثمن هو الدراهم والدنانير المضروبتان
Penjelasan yang sempurna bergantung pada penyebutan hakikat tsaman (harga) dan mutsamman (barang yang diperjualbelikan), dan inti dari mazhab dalam hal ini terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa tsaman (harga) adalah dirham dan dinar yang dicetak.
والوجه الثاني أن الثمن ما اتصل به باء الثمنيّة في صيغة العقد فإذا قال القائل بعتك هذا العبدَ بهذا الثوبِ فقال مالك الثوب قبلتُ كان الثوبُ ثمناً والعبدُ مثمناً
Pendapat kedua adalah bahwa yang disebut sebagai harga (tsaman) adalah sesuatu yang disertai huruf “bā’” (باء الثمنيّة) dalam lafaz akad. Maka jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budak ini dengan kain ini,” lalu pemilik kain berkata, “Aku terima,” maka kain itu menjadi harga (tsaman) dan budak menjadi objek yang dijual (mutsman).
ولو فُرضت الصيغةُ على خلاف ذلك فالمتبعُ عند هذا القائِل في تمييزِ الثمنِ عن المثمن الباءُ التي سميناها باءَ الثمنية فعلى هذا إذا قال بعتك هذه الدراهم بهذا العبد فالدراهم مثمن والعبدُ ثمن
Jika bentuk lafaznya diasumsikan berbeda dari itu, maka menurut pendapat orang yang mengatakan demikian, yang dijadikan pedoman dalam membedakan antara tsaman (harga) dan mutsman (barang yang dijual) adalah huruf “bā’” yang telah kami sebut sebagai “bā’ ats-tsamaniyyah”. Maka berdasarkan hal ini, jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu dirham-dirham ini dengan budak ini,” maka dirham menjadi mutsman dan budak menjadi tsaman.
والوجهُ الثالث أن العقد إذا اشتمل على نقد وعَرْضٍ فالثمن هو النقدُ سواءٌ ذكر بالباء أو لم يذكر به وإن لم يشتمل العقدُ على نقدٍ وإنما قوبل عَرْضٌ بعرض فالثمن منهما ما يتصل به باءُ الثمنيةِ
Pendapat ketiga adalah bahwa apabila akad mencakup mata uang dan barang, maka harga (tsaman) adalah mata uang, baik disebutkan dengan huruf “bā’” atau tidak. Namun, jika akad tidak mencakup mata uang dan hanya terjadi pertukaran barang dengan barang, maka harga (tsaman) di antara keduanya adalah yang berkaitan dengan huruf “bā’” yang menunjukkan makna harga.
وإن قُلنا الثمنُ هو النقدُ فهل يصحُّ أن يُذكر مثمناً أوْ لا ظهر اختلاف أصحابنا في أن السلم في الدراهم هل يصح والأصح الصحةُ والوجهُ الآخر وإن كان مشهوراً فلا مخرجَ لتوجيهه إلا الامتناعُ من تقدير الدراهم على رتبةِ المبيع المثمَّن
Jika kita mengatakan bahwa tsaman adalah uang tunai, maka apakah sah disebut sebagai matsman atau tidak? Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab kami tentang apakah akad salam dalam bentuk dirham itu sah atau tidak. Pendapat yang lebih shahih adalah sah, sedangkan pendapat lain—meskipun terkenal—tidak ada alasan untuk menguatkannya kecuali larangan menjadikan dirham sebagai takaran pada posisi barang yang dijadikan matsman.
فإذا ثبت هذا فإن قلنا لا يصح السلمُ في الدراهم فلو قال بعتك هذه الدراهمَ بهذا العبد فمن أئمتنا من منع هذا كما منعنا السلم في الدراهم
Jika hal ini telah tetap, maka jika kita mengatakan bahwa salam tidak sah dalam dinar dan dirham, lalu seseorang berkata, “Aku jual kepadamu dinar-dirham ini dengan budak ini,” maka sebagian imam kami melarang hal tersebut sebagaimana kami melarang salam dalam dinar-dirham.
والجامعُ ما ذكرناه من تقدير النقد مبيعاً ومنهم مَنْ أجاز هذا وكان شيخي يقول لو قال بعتك ألفَ درهم بهذا العبد من غير تعيين الدراهم فهو بعينه على الخلاف المذكور في السلم في الدراهم وإنما التردد في الدراهم المعينة إذا ذكرت مبيعةً
Dan yang menjadi titik penghubung adalah apa yang telah kami sebutkan tentang penetapan nilai uang sebagai barang yang dijual. Sebagian ulama membolehkannya, dan guru saya berkata: Jika seseorang berkata, “Aku jual seribu dirham kepadamu dengan budak ini,” tanpa menentukan dirhamnya, maka hukumnya sama persis dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan dalam masalah salam pada dirham. Adapun keraguan hanya terjadi pada dirham tertentu jika disebutkan sebagai barang yang dijual.
فإذا ثبتت هذه المقدمةُ وصلناها بأخرى وقلنا إذا قال بعتك هذا العبدَ بثوبٍ وأطنب في وصفه فالثوبُ هل يثبت له حكمُ المسلمِ فيه أم هو على حكم الأثمان خرج الأصحابُ هذا على الخلاف المذكور في أن العروض هل تصيرُ أثماناً بباء الثمنية ولم يختلفوا في صحة العقد فإن قلنا الثوبُ ثمن فلا يجب تسليمُ العبد في المجلس وإن قلنا الثوبُ في حكم المسلم فيه فهل يجب تسليم العبد في المجلس فعلى وجهين سنذكرهما في كتاب السلم أحدهما أنه يجب؛ فإنّ الصفقةَ اشتملت على موصوفٍ من العروض وهذا هو السلم والثاني لا يثبت حكم السلم؛ فإنها لم تثبت على صيغة السلم ولصيغ العقودِ آثار بيّنة فإذا انضم هذا إلى ما ذكرنا لحقيقة الثمنية عُدْنا بعدَ ذلك إلى إتمام القول في الاستبدال
Jika pendahuluan ini telah ditetapkan, maka kita hubungkan dengan pendahuluan lain dan kita katakan: Jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budak ini dengan sebuah kain,” lalu ia memperpanjang penjelasan tentang sifat kain tersebut, maka apakah kain itu memiliki hukum seperti barang yang diserahkan dalam akad salam, ataukah tetap pada hukum sebagai harga (tsaman)? Para ulama mengaitkan permasalahan ini dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya tentang apakah barang dagangan bisa menjadi harga dengan lafaz tsaman. Mereka tidak berbeda pendapat tentang keabsahan akadnya. Jika kita katakan kain itu adalah harga, maka tidak wajib menyerahkan budak di majelis akad. Namun jika kita katakan kain itu dihukumi sebagai barang yang diserahkan dalam akad salam, maka apakah wajib menyerahkan budak di majelis akad? Ada dua pendapat yang akan kami sebutkan dalam Kitab Salam. Pendapat pertama, wajib menyerahkannya, karena transaksi tersebut mengandung barang yang disifati dari jenis barang dagangan, dan ini adalah akad salam. Pendapat kedua, tidak berlaku hukum salam, karena akad tersebut tidak menggunakan lafaz salam, sedangkan lafaz akad memiliki pengaruh yang jelas. Jika hal ini digabungkan dengan apa yang telah kami sebutkan tentang hakikat harga, maka setelah itu kita kembali untuk menyempurnakan pembahasan tentang penggantian.
فنقول لا مطمع في تصحيح الاستبدال عن الأعيان فأما الديون فما حَكَمنا بكونه مثمناً فلا يجوز الاستبدال عنه وإن لم نوجب تسليمَ مقابله في المجلس فإنَّ مَنْع الاستبدالِ مُتلقّىً من كون الشيء مبيعاً لا من وجوب تسليم مقابلِه
Maka kami katakan, tidak ada harapan untuk membenarkan istibdal (penggantian) atas barang (‘ayn). Adapun utang (dayn), maka apa yang telah kami tetapkan sebagai tsaman (harga), tidak boleh dilakukan istibdal atasnya, meskipun kami tidak mewajibkan penyerahan barang penggantiannya di majelis. Sebab, larangan istibdal diambil dari status sesuatu sebagai barang yang dijual, bukan dari kewajiban penyerahan barang penggantinya.
وكل ما حكمنا بكونه ثمناً فحاصل المذهبِ في الاستبدال عنه ثلاثةُ أقوال أحدها الجوازُ والثاني المنعُ والثالث الفصلُ بين النقد وغيره؛ فإن النقودَ لا تُعنَى لأعيانها بخلاف العُروض وإذا كانت العروضُ معيّنة فلا حاصلَ للفرق بين أن تكون أثماناً أو مثمنات
Segala sesuatu yang kami tetapkan sebagai tsaman (alat tukar), maka inti dari mazhab dalam hal menggantinya terdapat tiga pendapat: pertama, membolehkannya; kedua, melarangnya; dan ketiga, membedakan antara nuqūd (uang logam) dan selainnya; karena nuqūd tidak diperhatikan zatnya, berbeda dengan ‘urūdh (barang dagangan). Jika ‘urūdh itu telah ditentukan, maka tidak ada faedah membedakan apakah ia sebagai tsaman atau matsmūn (barang yang diperjualbelikan).
وذكر صاحبُ التقريب على قولنا بالمنع عن الاستبدال عن الدراهم الواقعة ثمناً إنما نمنع استبدالَ عَرْضٍ عن الدراهم فأما استبدالُ نوعٍ من الدراهم عن نوعٍ أو استبدالُ الدنانيرِ عن الدراهم فهل يمتنع فعلى وجهين فإن القولَ يظهر في التحول من نقدٍ إلى نقد في أن المستبدِلَ لم يحد عن المقصود فإن النقود إذا استوت في الجريان فليست هي مقصودةً لأعيانها وإن سميت ويعتضدُ هذا بحديث عبدِ الله بن عمر ولا مطمع في تقدير معنى
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan bahwa menurut pendapat kami yang melarang penggantian dari dirham yang telah dijadikan sebagai harga, sesungguhnya kami hanya melarang penggantian barang (‘arḍ) dengan dirham. Adapun penggantian satu jenis dirham dengan jenis dirham lain, atau penggantian dinar dengan dirham, apakah itu dilarang? Maka ada dua pendapat. Tampaknya, dalam perpindahan dari satu mata uang ke mata uang lain, orang yang menukar tidak menyimpang dari maksud utama, karena jika mata uang-mata uang itu sama dalam peredarannya, maka ia tidak dimaksudkan untuk zatnya sendiri, meskipun dinamai demikian. Hal ini juga didukung oleh hadis Abdullah bin Umar, dan tidak mungkin untuk menentukan makna secara pasti.
وكل ما أجريناه مسالكُ ضعيفة لا تصبرُ على السبر مع مصيرنا إلى أن إفلاس المشتري بالثمن يُثبت حقَّ الفسخ في المبيع وقد ينقدح فيه أن يقال المالية تعذّرَت بالإفلاس
Semua penjelasan yang telah kami kemukakan adalah argumen-argumen yang lemah dan tidak mampu bertahan dalam pengujian, sementara kami berkesimpulan bahwa kebangkrutan pembeli dalam pembayaran harga menetapkan hak fasakh (pembatalan) pada barang yang dijual. Mungkin dapat dikatakan bahwa nilai harta (al-māliyah) menjadi terhalang karena kebangkrutan tersebut.
وهذا منتهى الكلام في الاستبدال وما يجوز منه وما يمتنع
Inilah akhir pembahasan mengenai istibdāl, apa saja yang diperbolehkan darinya, dan apa saja yang dilarang.
فصل
Bab
في تلف المبيع قبل القبض وتعيُّبه
Tentang rusaknya barang yang dijual sebelum diterima dan cacatnya.
الكلامُ في التلف والنقصان فأما التلف فلا يخلو إما أن يكون بآفة سماوية وإما أن يكون بإتلاف متلفٍ فإن كان التلفُ بآفةٍ فالبيع ينفسخ والمبيع يرتدُّ إلى ملك البائع تبيُناً قبل تقدُّر تلفه وهذا من ضرورة الحكم بالانفساخ فإنه لو هلك ملكاً للمشتري لاستحال أن يُستردَّ الثمنُ ويُقضَى بانفساخ العقد حتى قالَ الأئمةُ لو مات العبدُ المبيعُ قبل القبض فمؤنةُ تجهيزه ودفنهِ على البائع
Pembahasan mengenai kerusakan dan kekurangan, adapun kerusakan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi karena bencana alam, atau karena perbuatan seseorang yang merusak. Jika kerusakan itu disebabkan oleh bencana alam, maka akad jual beli menjadi batal dan barang yang dijual kembali menjadi milik penjual, seakan-akan belum pernah terjadi kerusakan sebelumnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari ketetapan batalnya akad, sebab jika barang itu rusak dalam status milik pembeli, maka mustahil harga dapat dikembalikan dan diputuskan batalnya akad. Bahkan para imam (ulama) mengatakan, jika budak yang dijual meninggal sebelum diterima, maka biaya perawatan dan penguburannya menjadi tanggungan penjual.
ثم إذا كان يتقدم انتقالُ الملك على التلف فقد ذكر بعضُ المصنفين وجهين في التقدير أحدهما أنه ينتقل الملك إلى البائع قبيل التلف والثاني أنه يستند إلى أول العقد وحقيقة هذا يرجع إلى أنا نتبين بالأَخَرة أن لا عقدَ أصلاً فيكون العقدُ قبل القبض موقوفاً على ما تبين فإن لم يسلَم المبيع تبيَّنا أن لا عقدَ فيما مضى
Kemudian, jika perpindahan kepemilikan mendahului kerusakan barang, sebagian ulama penulis menyebutkan dua pendapat dalam penentuan waktunya. Pendapat pertama, kepemilikan berpindah kepada penjual sesaat sebelum kerusakan terjadi. Pendapat kedua, kepemilikan itu dikembalikan ke awal akad. Hakikat dari masalah ini kembali pada kenyataan bahwa pada akhirnya kita mengetahui bahwa sebenarnya tidak ada akad sama sekali. Maka, akad sebelum penyerahan barang menjadi tergantung pada apa yang akan terjadi kemudian. Jika barang yang dijual tidak dapat diserahkan, maka kita mengetahui bahwa tidak ada akad pada masa yang telah lalu.
وهذا في نهايةِ البُعد
Dan ini berada pada puncak keterjauhan.
وبنى هذا القائلُ الزوائدَ المتجدّدة بعد العقد على ما ذكره وقال إن قدرنا النقلَ قبيلَ الموت فالزوائدُ المنفصلةُ تسلم للمشتري؛ لأنها تجدّدت على ملكه وإن حكمنا بتبين انتفاء العقدِ فالزوائد تكون للبائع على طرد التبين أيضاًً ولعلنا نعيد فصل الزوائد في باب الخراج
Dan pendapat ini membangun hukum tentang tambahan-tambahan yang muncul setelah akad berdasarkan apa yang telah disebutkan, dan ia berkata: Jika kita menganggap adanya penyerahan sebelum kematian, maka tambahan-tambahan yang terpisah menjadi milik pembeli, karena ia muncul dalam kepemilikannya. Namun jika kita memutuskan bahwa akad batal sejak awal, maka tambahan-tambahan itu menjadi milik penjual, sesuai dengan kaidah pembatalan juga. Mungkin kita akan mengulang pembahasan tentang tambahan-tambahan ini dalam bab kharaj.
هذا كله تفصيل القول فيه إذا تلف المبيع لا بجنايةِ جانٍ
Semua ini adalah perincian pembahasan jika barang yang dijual rusak bukan karena perbuatan pelaku kejahatan.
فأما إذا أتلفه متلفٌ لم يخلُ إما أن يتلفَه أجنبي أو يتلفَه المشتري أو يتلفَه البائع
Adapun jika barang tersebut dirusak oleh seseorang, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi yang merusaknya adalah pihak ketiga, atau yang merusaknya adalah pembeli, atau yang merusaknya adalah penjual.
فإن أتلفه أجنبي فالذي قطع به المراوزةُ أن البيعَ لا ينفسخ وذكر العراقيون قولين في انفساخ العقد أحدهما أنه ينفسخ كما لو تلف بالآفة السماوية؛ فإن المعقود عليه العينُ المبيعةُ وقد فاتت والقول الثاني أن البيع لا ينفسخ ولكن المشتري بالخيار كما سنفصله في التفريع ووجه هذا القولِ أن إتلاف الأجنبي أعقب ضماناً على المتلف والقيمةُ إذا ثبتت خلفت المقوَّمَ في الأعواض المالية
Jika barang tersebut dirusak oleh pihak ketiga, para ulama Marwazi menegaskan bahwa akad jual beli tidak batal. Sementara itu, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat mengenai batal atau tidaknya akad: pendapat pertama menyatakan bahwa akad batal, sebagaimana jika barang tersebut rusak karena bencana alam, karena objek akad adalah barang yang dijual dan barang itu telah hilang; pendapat kedua menyatakan bahwa akad jual beli tidak batal, namun pembeli memiliki hak memilih (khiyar), sebagaimana akan dijelaskan dalam rincian berikutnya. Dasar pendapat kedua ini adalah bahwa perusakan oleh pihak ketiga menimbulkan kewajiban ganti rugi atas pihak yang merusak, dan nilai barang yang diganti itu menggantikan barang yang dinilai dalam pertukaran harta.
التفريعُ
Pengembangan cabang hukum
إن حكمنا بأن البيع ينفسخ فالمشتري يسترد الثمنَ والبائعُ يطالب الأجنبي بقيمة المتلف
Jika kita memutuskan bahwa akad jual beli batal, maka pembeli berhak mengambil kembali harga (barang) yang telah dibayarkan, dan penjual menuntut pihak ketiga atas nilai barang yang telah dirusak.
وإن قلنا لا ينفسخ البيع فالمشتري بالخيار وسببُ خياره أنه عدِم العينَ التي كانت مورداً للبيع؛ فإن فسخ العقدَ عاد التفريع إلى ما ذكرناه في قول الانفساخ
Dan jika kita mengatakan bahwa jual beli tidak batal, maka pembeli memiliki hak khiyar, dan sebab adanya khiyar baginya adalah karena ia tidak mendapatkan barang yang menjadi objek jual beli; jika ia membatalkan akad, maka rincian kembali kepada apa yang telah kami sebutkan pada pendapat tentang batalnya akad.
وإن أجاز العقدَ استقرّ الثمنُ عليه واتبع الأجنبي بقيمةِ المتلَف فإذا غرِم الأجنبي القيمةَ والتفريع على أنه يثبت للبائع حقُّ الحبس فهل يستحق حبسَ القيمةِ حتى يتوفر الثمن عليه فعلى وجهين أحدهما أنه يستحق ذلك كما لو أتلف أجنبيٌ العينَ المرهونةَ وغرِم القيمةَ؛ فإنها تكون محبوسةً بالدين والوجه الثاني أن البائع لا يملك الحبسَ؛ فإن حق حَبْسه لم يكن مقصود عقدٍ حتى ينتقلَ من العين إلى القيمة بل ثبت على طريق التبعية فينبغي أن يسقط بتلفِ العين والدليل عليه أن الراهن لو أتلف العينَ المرهونةَ في يد المرتهن فإنه يغرِم قيمتَها لتكون رهناً والمشتري لو أتلف المبيعَ لم يلزمه بَذْلُ القيمةِ للبائع لتكون محبوسةً
Jika ia mengizinkan akad tersebut, maka harga menjadi tetap atasnya dan orang asing tersebut dituntut untuk membayar nilai barang yang telah dirusaknya. Jika orang asing itu telah membayar nilai tersebut—dan ini didasarkan pada pendapat bahwa penjual memiliki hak untuk menahan barang—maka apakah penjual berhak menahan nilai tersebut sampai harga seluruhnya diterima? Ada dua pendapat: pertama, penjual berhak menahan nilai itu, sebagaimana jika seorang asing merusak barang yang digadaikan lalu ia membayar nilainya, maka nilai itu tetap tertahan karena utang. Pendapat kedua, penjual tidak berhak menahan nilai tersebut, karena hak penahanan bukanlah tujuan utama akad sehingga dapat berpindah dari barang ke nilai, melainkan hak itu hanya mengikuti saja, sehingga seharusnya gugur dengan hilangnya barang. Dalilnya, jika orang yang menggadaikan merusak barang gadai yang ada di tangan penerima gadai, maka ia wajib membayar nilainya agar tetap menjadi barang gadai. Namun, jika pembeli merusak barang yang dibeli, ia tidak wajib membayar nilainya kepada penjual agar tetap tertahan.
التفريع
Pencabangan
إن قلنا لا يملك البائع حبسَ القيمةِ المأخوذةِ من الأجنبي سِيقت القيمةُ إلى المشتري ولم يملك البائعُ إلا مطالبتَه بالثمن وإن قلنا يملك البائعُ حبسَ القيمةِ فلو تلفت تلك القيمةُ المحصلة في يده بآفة سماوية فالمذهب أن البيعَ لا ينفسخ؛ فإن سببَ انفساخِ البيع تلفُ المبيع وليست القيمة مبيعةً؛ إذ قد تكون ألفين والثمنُ ألفاً ومن أصحابنا من حكم بالانفساخ
Jika kita mengatakan bahwa penjual tidak berhak menahan nilai (uang) yang diambil dari pihak ketiga, maka nilai tersebut harus diserahkan kepada pembeli dan penjual hanya berhak menuntut harga (barang) saja. Namun jika kita mengatakan bahwa penjual berhak menahan nilai tersebut, lalu nilai yang telah diterima itu rusak di tangannya karena sebab di luar kemampuannya, maka menurut mazhab, akad jual beli tidak batal; sebab penyebab batalnya jual beli adalah rusaknya barang yang dijual, sedangkan nilai tersebut bukanlah barang yang dijual; karena bisa jadi nilainya dua ribu sementara harga barangnya seribu. Namun sebagian ulama dari kalangan kami ada yang berpendapat bahwa akad jual beli tersebut batal.
وهذا خبطٌ وسببه أن الأصح أن البائعَ لا يملك حبسَ القيمة والتفريعُ على الضعيف أضعفُ من أصله
Ini adalah kekeliruan, dan penyebabnya adalah bahwa pendapat yang lebih sahih menyatakan bahwa penjual tidak berhak menahan nilai (harga), sedangkan membangun cabang hukum di atas pendapat yang lemah lebih lemah daripada pokoknya sendiri.
فأما إذا تلف المبيع بإتلاف البائع قال العراقيون في المسألة طريقان
Adapun jika barang yang dijual rusak karena dirusak oleh penjual, para ulama Irak menyebutkan dalam masalah ini ada dua pendapat.
وقالت المراوزة في المسألة قولان أحدهما أن إتلافَ البائع المبيعَ بمثابة تلفه بآفة سماوية وهذا أحدُ الطريقين للعراقيين والقول الثاني أن إتلاف البائعِ كإتلاف الأجنبي وإتلافُ الأجنبي لا يوجب انفساخَ العقدِ في طريق المراوزة وهو على قولين في طريقة العراقيين
Para ulama Marw memiliki dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa perusakan barang oleh penjual sama dengan kerusakan karena bencana alam, dan ini adalah salah satu dari dua pendapat ulama Irak. Pendapat kedua menyatakan bahwa perusakan oleh penjual seperti perusakan oleh pihak ketiga, dan perusakan oleh pihak ketiga tidak menyebabkan pembatalan akad menurut metode Marw, sedangkan menurut metode ulama Irak terdapat dua pendapat.
التوجيه من لم يجعله كالأجنبي احتج بأن ضمانه يجب أن يكون ضمان العقود؛ إذْ لم يجرِ القبضُ بعدُ و ضمانُ العقودِ يتضمن ردّ الثمن
Pendapat yang tidak menganggapnya seperti orang asing beralasan bahwa tanggungannya harus berupa tanggungan akad; karena barang belum diterima, dan tanggungan akad mencakup pengembalian harga.
والقول الثاني أنه كالأجنبي فإنه جنى على ملكٍ مستقرٍّ للمشتري
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia seperti orang asing, karena ia telah melakukan pelanggaran terhadap hak milik yang sudah tetap bagi pembeli.
التفريع
Pengembangan cabang hukum
إن حكمنا بالانفساخ فلا كلام وإن قلنا لا ينفسخ على اختلافِ الترتيبين فالمشتري بالخيار بين أن يفسخ ويرجعَ إلى الثمن وبين أن يجيز العقدَ ويُلزمَ البائع قيمةَ المبيع ثم التفريع وراء ذلك كما مضى
Jika kita memutuskan bahwa akad batal, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun, jika kita mengatakan bahwa akad tidak batal—menurut dua pendapat yang berbeda—maka pembeli memiliki pilihan antara membatalkan akad dan kembali kepada harga, atau membiarkan akad tetap berlaku dan mewajibkan penjual membayar nilai barang yang dijual. Selanjutnya, rincian setelah itu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وكان شيخي يقطع بأنه لا يثبت للبائع حقُّ الحبس في القيمة التي يغرمها؛ فإنه المتسبب إلى إبطال حقه من الحبس في عين المبيع وليس كالأجنبي وفي المسألة احتمال على بُعدٍ
Guru saya menegaskan bahwa penjual tidak berhak menahan barang atas nilai yang harus dibayarnya; sebab dialah yang menyebabkan hilangnya haknya untuk menahan barang yang dijual, dan kedudukannya tidak sama dengan pihak lain. Namun, dalam masalah ini masih terdapat kemungkinan pendapat lain, meskipun jauh.
وطرد الأصحابُ وجهين في المرتهن إذا أَتلفَ العينَ المرهونةَ وغرِم القيمةَ في أن القيمة هل تكون مرهونةً وسيأتي ذلك في الرهون إن شاء الله تعالى
Para ulama mazhab juga mengemukakan dua pendapat mengenai kasus apabila penerima gadai (murtahin) merusak barang yang digadaikan, lalu ia mengganti nilainya, apakah nilai tersebut menjadi barang gadai atau tidak. Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam bab rahn (gadai), insya Allah Ta‘ala.
فأما إذا أتلف المشتري المبيعَ فإتلافُه قبضٌ للمبيع اتفق الأصحاب عليه؛ فيستقر العقدُ والثمنُ ولا يلزمُ المشتري بذلَ القيمة ليحبسَها البائعُ وجهاً واحداً وتعليل ذلك أن إتلافَه صادفَ ملكَه فاستبعد العلماءُ أن يقضُوا بردّ المتلَفِ إلى ملك الغيرِ بعد صَدَرِ الإتلاف من المالك
Adapun jika pembeli merusak barang yang dibeli, maka perusakan tersebut dianggap sebagai bentuk qabdh (penguasaan) atas barang, dan para ulama sepakat mengenai hal ini; sehingga akad dan harga menjadi tetap, dan pembeli tidak wajib memberikan nilai barang agar penjual dapat menahannya, menurut satu pendapat. Alasannya adalah karena perusakan tersebut terjadi ketika barang sudah menjadi milik pembeli, sehingga para ulama menganggap tidak masuk akal untuk memutuskan agar barang yang telah rusak dikembalikan ke kepemilikan orang lain setelah perusakan dilakukan oleh pemiliknya.
وإذا أعتق المشتري العبدَ المبيعَ قبل القبض ونفذنا عتقَه على التفصيل المقدّم كان إعتاقُه قبضاً وإتلافاً للمبيع من طريق الحكم
Jika pembeli memerdekakan budak yang dibeli sebelum menerima (menyerahterimakan) dan kami mengesahkan pemerdekaannya sesuai dengan rincian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka pemerdekaannya itu dianggap sebagai penerimaan (qabḍ) dan perusakan terhadap barang yang dijual dari segi hukum.
هذا كلُّه كلامٌ في تلفِ المبيعِ بالجهات
Semua ini adalah pembahasan tentang rusaknya barang yang dijual karena sebab-sebab tertentu.
فأما نقصانُ المبيع فإنه ينقسم إلى نقصان جزئي وإلى نقصانٍ لا يتطرق إليه التجزُّؤ
Adapun kerusakan pada barang yang dijual, maka hal itu terbagi menjadi kerusakan parsial dan kerusakan yang tidak dapat dibagi-bagi.
فأما النقصانُ الجزئي فهو بمثابةِ ما لو اشترى عبدين فتلف أحدُهما أو كُرَّيْن من الطعام فتلِفَ أحدُهما فالبيع ينفسخ في التالف وفي انفساخِه في الباقي قولا تفريق الصفقة على ما سيأتي إن شاء الله تعالى
Adapun kekurangan parsial adalah seperti seseorang membeli dua budak lalu salah satunya rusak, atau membeli dua karung makanan lalu salah satunya rusak, maka akad jual beli batal pada bagian yang rusak. Adapun mengenai batalnya akad pada bagian yang tersisa, terdapat dua pendapat yang dikenal dengan istilah tafrīq ash-shafqah, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah Ta‘ala.
ثم المذهب الذي عليه التفريع أنا إذا خيرنا المشتري على قولنا لا ينفسخ العقد في الباقي فإن أجاز العقدَ في الباقي أجازه بقِسْطه من الثمن هذا هو الصحيح وفيه قول آخر سنذكره في تفريع تفريق الصفقة
Kemudian, mazhab yang dijadikan dasar dalam penjabaran hukum adalah bahwa apabila kami memberikan pilihan kepada pembeli menurut pendapat kami bahwa akad tidak batal pada bagian yang tersisa, maka jika ia menyetujui akad pada bagian yang tersisa, ia menyetujuinya dengan bagian harga yang sepadan. Inilah pendapat yang benar, dan ada pendapat lain yang akan kami sebutkan dalam penjabaran tentang pemisahan transaksi.
والنقصان الذي يرجع إلى الجزئية يَحُدُّهُ في ضبط المذهبِ أن يكون التالفُ بحيث يمكن إفرادُه بالبيع ولا يكون جزءاً من الباقي
Kekurangan yang berkaitan dengan bagian tertentu, menurut ketentuan mazhab, adalah apabila bagian yang rusak tersebut dapat dipisahkan untuk dijual secara tersendiri dan bukan merupakan bagian dari sisa barang yang ada.
ولو باع رجلٌ داراً فاحترق سقفُها فقد اختلف أئمتُنا في ذلك فذهب بعضُهم إلى أن ذلك بمثابة تلفِ أحدِ العبدين من قِبَل أنّ إفرادَ السقف بالبيع قد يمكن تقديرُه وإن عسر فرضُه لتعذُّرِ فصلِه فلا تعويلَ على ذلك مع إمكانِ إفرادِ السقف بتقديرِ القيمة له وليس ذلك كأطراف العبد؛ فإنها لا تستقلّ فيما ذكرناه ومن أصحابنا من جعل احتراق السقفِ وتلفِ غيره من بنيان الدار بمثابة تلفِ أطرافِ العبد حتى ينزل منزلةَ العيبِ على ما سنفصله
Jika seseorang menjual sebuah rumah lalu atapnya terbakar, para imam kami berbeda pendapat mengenai hal itu. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal tersebut serupa dengan rusaknya salah satu dari dua budak, karena atap dapat diperkirakan nilainya secara tersendiri, meskipun sulit untuk membayangkan pemisahannya karena tidak mungkin memisahkannya secara fisik. Maka, tidak perlu memperhatikan hal itu selama memungkinkan untuk memperkirakan nilai atap secara tersendiri. Hal ini berbeda dengan anggota tubuh budak, karena anggota tubuh tersebut tidak berdiri sendiri sebagaimana telah kami sebutkan. Sementara sebagian ulama kami menganggap bahwa terbakar atau rusaknya bagian lain dari bangunan rumah itu seperti rusaknya anggota tubuh budak, sehingga diposisikan sebagai cacat, sebagaimana akan kami jelaskan lebih lanjut.
هذا بيانُ ما يتعلق بنقصانِ الجزءِ
Ini adalah penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kekurangan bagian.
فأما القولُ في العيب الذي يتعلّق بصفةِ المبيع ولا يتعلق بما ينقسم في حكم التقويمِ أو في حكم الإفراد بالعقد فالوجه أن نُعيد فيه التقاسيمَ الثلاثة
Adapun pembahasan tentang cacat yang berkaitan dengan sifat barang yang dijual dan tidak berkaitan dengan hal-hal yang termasuk dalam penilaian harga atau dalam hukum pemisahan dalam akad, maka sebaiknya kita mengembalikan pembahasannya pada tiga pembagian yang telah disebutkan.
فإن عابَ المبيعُ بآفةٍ سماوية مثلِ أن سقطت يدُ العبد بآفةٍ قبل القبضِ فللمشتري الخيارُ لا غيرُ؛ فإن ردّ ارتدَّ الثمنُ وإن أجاز لزمهُ تمامُ الثمن والقول في أحكام الرد في باب الخراج
Jika barang yang dijual cacat karena musibah dari langit, seperti tangan budak terputus karena suatu musibah sebelum diterima oleh pembeli, maka pembeli hanya memiliki hak khiyar; jika ia mengembalikan barang, maka harga akan kembali kepadanya, dan jika ia menerima, maka ia wajib membayar harga penuh. Adapun pembahasan hukum pengembalian akan dijelaskan dalam bab kharaj.
وإن قطعَ أجنبيٌّ يدَ العبدِ المبيعِ فهذا نفرعه على حكم إتلافهِ فإن جعلنا إتلافَه بمثابةِ التلفِ بآفةٍ سماويةٍ فمساقُ ذلك يقتضي لا محالةَ ثبوتَ الخيارِ للمشتري كما لو عابَ المبيعُ بآفةٍ سماويةٍ ثم إن فسخ استرد الثمنَ والبائعُ يطالب الأجنبي بأرش اليد وإن أجاز استقر الثمنُ عليه للبائع وله مطالبة الأجنبي بأرش اليد
Jika seorang asing memotong tangan budak yang dijual, maka kami mengaitkannya dengan hukum perusakan. Jika kami menganggap perusakan tersebut setara dengan kerusakan akibat bencana alam, maka konsekuensinya sudah pasti memberikan hak khiyar kepada pembeli, sebagaimana jika barang yang dijual cacat karena bencana alam. Kemudian, jika pembeli membatalkan akad, ia berhak mengambil kembali harga yang telah dibayarkan, dan penjual dapat menuntut ganti rugi tangan dari orang asing tersebut. Namun jika pembeli tetap melanjutkan akad, maka harga tetap menjadi miliknya penjual, dan pembeli berhak menuntut ganti rugi tangan dari orang asing tersebut.
وإن فرعنا على أن إتلافَه لا يكون كالتّلفِ بالآفةِ السماويةِ فالخيارُ يثبت للمشتري أيضاًً؛ لأن المبيعَ في عُهدةِ البائع إلى أن يسلّم والدليل عليه أنا في صورة إتلافِ الأجنبيِّ نُثبت الخيارَ للمشتري أيَضاً لجريان التلفِ في عُهدةِ البائعِ فإن أجاز المشتري العقدَ غرِم الأجنبيُّ أرشَ اليدِ وإن فسخ استردَّ الثمنَ وغَرَّمه البائعُ
Jika kita berpendapat bahwa perusakan itu tidak sama dengan kerusakan karena bencana alam, maka hak khiyar juga tetap berlaku bagi pembeli; karena barang yang dijual masih berada dalam tanggungan penjual sampai diserahkan. Dalilnya adalah bahwa dalam kasus perusakan oleh pihak ketiga, kita juga menetapkan hak khiyar bagi pembeli, karena kerusakan terjadi dalam tanggungan penjual. Jika pembeli menyetujui akad, maka pihak ketiga yang merusak wajib membayar ganti rugi atas kerusakan tersebut. Namun jika pembeli membatalkan akad, ia berhak mengambil kembali uangnya dan penjual menuntut ganti rugi kepada pihak ketiga.
فيستوي التفريع على القولين في كل حكمٍ بسببين أحدهما أن الذي جرى ليس تلفَ أجنبي يتطرق الاختلافُ إليه في الانفساخ والعهدةُ مطردةٌ على البائع في كلِّ قولٍ واجتماع هذين المعنيين يوجب تسويةً بين القولين
Maka, penetapan cabang hukum atas dua pendapat itu menjadi sama dalam setiap hukum yang memiliki dua sebab; salah satunya adalah bahwa yang terjadi bukanlah kerusakan yang disebabkan oleh pihak lain sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat dalam pembatalan akad, dan tanggung jawab selalu tetap pada penjual menurut setiap pendapat. Berkumpulnya dua makna ini mengharuskan adanya penyamaan antara kedua pendapat tersebut.
وإذا عابَ المبيعُ بفعل من جهة البائعِ فإن جعلناه بمثابةِ الأجنبيّ فقد مضى التفريعُ فيه فيثبتُ له مطالبةُ البائعِ بأرش الجنايةِ فسخَ أو أجازَ
Jika barang yang dijual cacat karena perbuatan dari pihak penjual, maka jika kita menganggapnya seperti orang lain (ajnas), maka cabang hukumnya telah dijelaskan sebelumnya, sehingga pembeli berhak menuntut penjual atas kompensasi kerugian akibat cacat tersebut, baik ia membatalkan akad atau tetap melanjutkannya.
وإن جعلنا فعله كالآفة السماويةِ فنقول على ذلك إن فسخ استردّ الثمن ليس له غيره وإن أجاز لم يطالِب البائعَ بأرشِ الجناية؛ لأنا نزلنا فعلَه منزلةَ آفةٍ سماوية
Jika kita menganggap perbuatannya seperti bencana alam, maka berdasarkan hal itu, jika ia membatalkan (akad), ia hanya berhak mendapatkan kembali harga (barang) dan tidak berhak atas yang lain. Namun jika ia memilih melanjutkan (akad), ia tidak boleh menuntut penjual untuk membayar kompensasi atas kerusakan, karena kita memposisikan perbuatannya seperti bencana alam.
فإن قيل هلاّ سلكتُم هذا المسلكَ فيه إذا كان الجاني أجنبيّاً قلنا لا تعلّق للعقد به وإنما يلتزم ما يلتزم بالجناية المحضة فيستحيل أن نُحبط جنايتَه في جهةٍ من الجهات نعم يجوز أن يختلف مستحِق الأرش فأما أن يَبْرَأَ الجاني فهذا محال وإذا كان الجاني هو البائع وجعلنا فعلَه كآفةٍ سماوية فعهدةُ العقدِ متعلقةٌ به فكفى إثباتُ حقّ الرد للمشتري وهذا بمثابةِ إتلافهِ على قولنا إنه كالتلف السماوي فإنا لا نُلزمه القيمةَ
Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menempuh cara ini juga apabila pelaku kejahatan adalah orang luar?” Kami jawab, tidak ada kaitan akad dengannya, dan ia hanya bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawabnya karena murni melakukan kejahatan, sehingga mustahil untuk menggugurkan kejahatannya dalam salah satu aspek. Benar, boleh jadi pihak yang berhak atas arsy berbeda, tetapi membebaskan pelaku kejahatan adalah hal yang mustahil. Adapun jika pelaku kejahatan adalah penjual, dan kami menganggap perbuatannya seperti musibah dari langit, maka tanggungan akad tetap berkaitan dengannya, sehingga cukup dengan menetapkan hak khiyar bagi pembeli untuk mengembalikan barang. Ini serupa dengan perusakan yang dilakukan olehnya menurut pendapat kami bahwa hal itu seperti kerusakan karena musibah dari langit, maka kami tidak mewajibkan ia membayar nilai barang tersebut.
والمرأةُ إذا ارتدت فقد أفسدت على زوجها حقَّ المستمتعِ ولا تنزل منزلةَ المرضعةِ تُفسدُ النكاح بالإرضاع
Dan apabila seorang wanita murtad, maka ia telah merusak hak suaminya untuk menikmati (hubungan suami istri), dan ia tidak disamakan dengan wanita yang menyusui yang membatalkan pernikahan karena penyusuan.
وإن عاب المبيع بجنايةِ المشتري بأن قطع يدَ العبدِ المبيع فلا شك أنه لا خيارَ له وإن جرى القطعُ في استمرارِ يدِ البائع ولكنا نجعله قابضاً لمقدارٍ من المبيع؛ فإن إحباطَ الجنايات لا سبيلَ إليها والعيبُ في هذا المقام بمثابةِ جزء من المبيع
Jika pembeli mencacati barang yang dibeli dengan melakukan kejahatan, misalnya memotong tangan budak yang dibeli, maka tidak diragukan lagi bahwa ia tidak memiliki hak khiyar, meskipun pemotongan itu terjadi saat tangan budak tersebut masih dalam kekuasaan penjual. Namun, kami menganggapnya telah menerima sebagian dari barang yang dibeli; sebab tidak ada jalan untuk menghapus akibat kejahatan, dan cacat dalam kasus ini dianggap sebagai bagian dari barang yang dibeli.
ثم قال العلماء إن ألزمنا الأجنبي أرشَ القطعِ فجراحُ العبدِ من قيمته كجراح الحرِّ من ديتِه على النَّصِّ وفي المسألة قولٌ آخر خرّجَه ابنُ سُريج إنه يتعلق بالجنايةِ نقصانُ القيمة وسيأتي ذلك في كتاب الخراج
Kemudian para ulama berkata: Jika kita mewajibkan orang lain (bukan tuan) membayar arsy (ganti rugi) atas pemotongan (anggota tubuh) budak, maka luka pada budak diambil dari nilainya, sebagaimana luka pada orang merdeka diambil dari diyat-nya menurut nash. Dalam masalah ini ada pendapat lain yang dikemukakan oleh Ibn Suraij, yaitu bahwa jinayah (kejahatan) itu berkaitan dengan berkurangnya nilai, dan hal ini akan dijelaskan nanti dalam Kitab al-Kharaj.
وإن جعلنا البائعَ كالأجنبي في الجناية فقطع يدي العبدِ ثم رجليه واندملت الجراحات فقد نُلزمه بسبب اليدين القيمة الكاملة وبسبب الرجلين قيمة عبدٍ أقطعَ اليدين ثم نسلِّم العبدَ إلى المشتري إذا كان أجاز ولا نلزمه إلا الثمن المسمَّى
Jika kita menganggap penjual seperti orang asing dalam hal tindak pidana, lalu ia memotong kedua tangan budak kemudian kedua kakinya, dan luka-luka tersebut telah sembuh, maka kita dapat mewajibkan penjual membayar nilai penuh karena kedua tangan, dan membayar nilai budak yang terpotong kedua tangannya karena kedua kaki, kemudian kita serahkan budak tersebut kepada pembeli jika ia setuju, dan kita tidak mewajibkan penjual kecuali membayar harga yang telah disepakati.
وأما إذا كان الجاني هو المشتري فقد قطع الأئمة بأن المرعيَّ في حقه النقصانُ لا المقدَّر والسببُ فيه أنا لو اعتبرنا المقدّرَ لجعلناه قابضاً للعبد حُكماً إذا قطع يديْه مع بقاء العبد في يدِ البائع وهذا محالٌ لا سبيل إليه؛ فكانت هذه الصورة مستثناةً من بين الصور في القطع باعتبار النقصان؛ والسببُ فيه أن قطعَه ليس بجناية وإنما هي قبض والأرش يتقدّر في الجنايات
Adapun jika pelaku adalah pembeli, para imam telah sepakat bahwa yang menjadi pertimbangan baginya adalah kekurangan (nilai) bukan yang telah ditetapkan (secara pasti). Sebabnya adalah, jika kita mempertimbangkan yang telah ditetapkan, berarti kita menganggapnya telah menerima budak tersebut secara hukum ketika ia memotong kedua tangan budak itu, padahal budak tersebut masih berada di tangan penjual. Hal ini mustahil dan tidak dapat diterima. Maka, kasus ini dikecualikan dari berbagai kasus lain dalam hal penetapan berdasarkan kekurangan (nilai); sebab pemotongan yang dilakukan bukanlah suatu tindak kejahatan (jinayah), melainkan merupakan bentuk penerimaan (qabdh), sedangkan besaran kompensasi (arasy) itu ditetapkan dalam kasus-kasus jinayah.
ومن غصب عبداً فسقطت يداه بآفةٍ لم يلزمه إلا النقصانُ مع تحقق العدوان لأنه لم يجنِ فلا إشكالَ إذن في أن الأرشَ المقدرَ لا سبيل إلى اعتباره في حق المشتري وليس ذلك معللاً بالضرورة وإنما تنكر في الضرورة بتلك الصورة مستشهد بها للتقريب من فهم المسترشد والتعليلُ ما ذكرناه من أن ما صدر منه ليس جناية
Barang siapa yang merampas seorang budak lalu kedua tangannya terlepas karena suatu penyakit, maka ia hanya wajib mengganti kerugian (nilai yang berkurang) meskipun jelas ada unsur kezaliman, karena ia tidak melakukan jinayah (kejahatan fisik). Maka tidak ada masalah bahwa arsy (ganti rugi) yang telah ditentukan tidak dapat diberlakukan terhadap pembeli. Hal ini bukan disebabkan oleh keadaan darurat, melainkan keadaan darurat hanya disebutkan dalam bentuk tersebut sebagai pendekatan agar mudah dipahami oleh pencari penjelasan. Adapun alasan sebenarnya adalah apa yang telah kami sebutkan, yaitu bahwa perbuatan yang dilakukan olehnya bukanlah jinayah.
فهذا تفريعُ التلفِ والنقصانِ على أبلغ وجهٍ وأوجزِه
Ini adalah penjabaran mengenai kerusakan dan kekurangan dengan cara yang paling jelas dan paling ringkas.
فرع
Cabang
إذا غصبَ المشتري المبيعَ من يد البائعِ قبل توفيرِ الثمنِ عليه فإن لم نُثبت للبائع حقَّ الحبس فلا كلامَ وإن أثبتنا له حقَّ الحبس فلو أتلف البائعُ المبيعَ في يدِ المشتري وكان اغتصبه فنقول أوّلاً للبائع استردادُ المبيع منه لحقه في الحبس؛ فإن أتلفه البائعُ فقد ذكر صاحبُ التقريب قولين أحدهما أن البيعَ قد استقر بقبضه وإن ظَلَم فيه فعلى البائع القيمةُ ولا خيارَ للمشتري في فسخ البيعِ
Jika pembeli merampas barang yang dibeli dari tangan penjual sebelum ia melunasi harga barang tersebut, maka jika kita tidak menetapkan hak penahanan bagi penjual, tidak ada pembahasan lebih lanjut. Namun jika kita menetapkan hak penahanan bagi penjual, lalu penjual merusak barang yang berada di tangan pembeli dan pembeli telah merampasnya, maka pertama-tama dikatakan bahwa penjual berhak mengambil kembali barang tersebut darinya karena haknya dalam penahanan. Jika penjual kemudian merusaknya, penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat; salah satunya adalah bahwa akad jual beli telah tetap dengan pengambilan barang tersebut meskipun dilakukan secara zalim, sehingga penjual wajib mengganti dengan nilai barang dan pembeli tidak memiliki hak untuk membatalkan akad jual beli.
والقولُ الثاني أن الخيارَ يثبت للمشتري؛ فإن إتلافَه على صورة إتلاف المشتري والمشتري إذا أتلف كان قابضاً فإذا أَتلفَ البائع كان ذلك في معنى استراد العين من المشتري ثم ردّد كلامَه على وجهٍ معناه ما نبديه فيحتَملُ أن يقال ينفسخ العقدُ بإتلافه وكأنه ردّ المبيع إلى يدهِ ثم أتلفه ليخرج على الخلاف في إتلاف البائع المبيع والظاهر أن البيعَ لا ينفسخُ ولكن للمشتري الخيار في الفسخ والإجازة ثم لا يخفى تخريجُ الحكمين وتفريعُهما ولو تَلف المبيع في يد آخذه وهو المشتري كان من ضمانه ولا يستفيدُ التصرفَ فيه لبقاء حق الحبس للبائع فيه
Pendapat kedua menyatakan bahwa hak khiyar tetap dimiliki oleh pembeli; sebab tindakan merusak barang oleh penjual serupa dengan tindakan merusak oleh pembeli, dan jika pembeli merusak barang maka ia dianggap telah menerima barang tersebut. Maka jika penjual yang merusaknya, hal itu bermakna seolah-olah penjual mengambil kembali barang dari pembeli, lalu ia merusaknya. Kemudian penulis mengulang pembicaraannya dengan maksud yang akan kami jelaskan, sehingga dapat dikatakan bahwa akad batal karena perusakan tersebut, seakan-akan penjual mengembalikan barang ke tangannya lalu merusaknya, sehingga hal ini termasuk dalam perbedaan pendapat mengenai perusakan barang oleh penjual. Namun yang tampak adalah bahwa akad jual beli tidak batal, tetapi pembeli memiliki hak khiyar untuk membatalkan atau melanjutkan akad. Selanjutnya, tidak tersembunyi penjelasan kedua hukum tersebut dan cabang-cabangnya. Jika barang yang dijual rusak di tangan penerimanya, yaitu pembeli, maka menjadi tanggungannya, dan ia tidak memperoleh hak untuk memanfaatkannya karena hak penahanan barang oleh penjual masih tetap ada atas barang tersebut.
فهذا تفصيلُ القول في ذلك
Inilah perincian penjelasan mengenai hal itu.
Bab Jual Beli al-Musharrāh
قال الشافعي أخبرنا مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تُصَرُّوا الإبلَ والغنمَ للبيع فمن ابتاعَها بعد ذلك فهو بخيِّر النظرين بعدَ أن يحلبها ثلاثاً إن رضيها أمسكها وإن سخِطَها ردَّها وصاعاً من تمر
Syafi‘i berkata: Malik telah memberitakan kepada kami, dari Abu al-Zinad, dari al-A‘raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian menahan susu unta dan kambing untuk dijual. Maka barang siapa membelinya setelah itu, ia memiliki dua pilihan setelah memerah susunya selama tiga hari: jika ia ridha, ia boleh menahannya, dan jika ia tidak suka, ia boleh mengembalikannya beserta satu sha‘ kurma.”
التصريّةُ الجمعُ وهو مصدر صَرِيَ يَصْرَى ويقال للماء المجتمعِ في مستنقعه ماءٌ صَرَىً وصَري ومعنى التصريةُ في مقصود الباب جمعُ اللبن وسدُّ الأخلاف وتركُ الحِلاب حتى تتكاملَ الدَّرَّة وتتضاعفَ نُوبٌ منها فينظر الناظر فيحسَبُ ما يشاهد درَّةَ نوبةٍ فيعتقدُ غزارة اللبن وقد تُسمَّى المصراةُ مَحَفَّلةً والتحفيل الجمع أيضاًً والخبر يرد باللفظين
Tashriyah adalah pengumpulan, yang merupakan mashdar dari kata shariy yashra. Air yang terkumpul di tempat genangannya disebut mā’un sharā atau sharī. Makna tashriyah dalam konteks pembahasan ini adalah mengumpulkan susu dengan menutup puting susu dan tidak memerahnya, sehingga susu terkumpul dan jumlahnya menjadi berlipat ganda. Maka orang yang melihatnya akan mengira bahwa susu yang tampak itu adalah hasil pemerahan satu kali, sehingga ia menyangka susunya sangat banyak. Hewan yang mengalami tashriyah ini kadang disebut juga maḥaffalah, dan tahfīl juga berarti pengumpulan. Keterangan (hadis) datang dengan kedua istilah tersebut.
فنقول من صَرى ناقةً أو بقرةً أو شاةً وأوهمَ بالتصريةِ غزارةَ اللبن ثم استبان المشتري أن لبنَ المشتراة بَكِيٌّ أو مقتصد فله الخيار وإن لم يَجْرِ شرطُ غزارةٍ لفظاً والمعتمدُ في الباب الخبرُ الذي رواه الشافعي
Maka kami katakan, barang siapa yang melakukan tashriyyah pada unta betina, sapi, atau kambing, dan dengan tashriyyah itu menimbulkan kesan seolah-olah susunya banyak, kemudian pembeli mengetahui bahwa susu hewan yang dibelinya itu sedikit atau sedang-sedang saja, maka ia berhak memilih (antara melanjutkan atau membatalkan transaksi), meskipun tidak ada syarat secara lisan tentang banyaknya susu. Yang menjadi pegangan dalam masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i.
ثم الكلامُ يتعلق بفصلين أحدهما في الخيار والثاني فيما يردّه إذا ردَّ البهيمةَ في مقابلة اللبن
Kemudian pembahasan ini berkaitan dengan dua bagian: yang pertama tentang khiyār, dan yang kedua tentang apa saja yang dikembalikan apabila seseorang mengembalikan hewan sebagai ganti dari susu.
الفصل الأول
Bab Pertama
فأما القول في الخيار فإذا جرت التصريةُ كما وصفناها وتعلّق بها ظنُّ المشتري ثم أَخْلَفَ ثبت الخيار وقاعدةُ مذهب الشافعي تدل على أن ثبوت الخيار جارٍ على القياس وبيان ذلك أن أئمة المذهب قضَوْا بأن كل تلبيسٍ حالٍّ محلَّ التصرية من البهيمة إذا فُرض إخلافٌ فيه ثبت الخيارُ فلو جعَّد الرجلُ شعرَ المملوك تجعيداً لا يتميز عن تجعيد الخِلقة ثم زال ذلك ثبت الخيار للمشتري فنزلوا التجعيد منزلةَ اشتراطِ الجعودة وقد طردتُ في هذا مسلكاً في الأساليب وإذا جرى الخُلفُ بشيء لا ظهورَ له فلا مبالاة به كما إذا كان على ثوب العبد نقطةٌ من مداد فهذا لا يتنزل منزلةَ شرط كونه كاتباً ولو كان وقْعُ المدادِ بحيث يعد من مثله أن صاحب الثوب ممن يتعاطى الكتابةَ فإذا أخلفَ الظنُّ ففي ثبوت الخيار وجهان وإذا بني أمرٌ على ظهورِ شيء في العادة فما تناهى ظهوره يتأصل في الباب وما لا يظهر يخرجُ عنه وما يتردد بين الطرفين يختلف الأصحاب فيه
Adapun pembahasan tentang khiyār, apabila terjadi tashriyah sebagaimana yang telah kami jelaskan dan hal itu menimbulkan dugaan pada pembeli, kemudian ternyata tidak sesuai, maka khiyār menjadi tetap. Kaidah mazhab Syafi‘i menunjukkan bahwa penetapan khiyār ini sesuai dengan qiyās. Penjelasannya, para imam mazhab telah memutuskan bahwa setiap bentuk penipuan yang menempati posisi tashriyah pada hewan ternak, jika ternyata tidak sesuai dengan dugaan, maka khiyār menjadi tetap. Misalnya, jika seseorang mengeriting rambut budak sehingga tidak bisa dibedakan dengan keriting alami, lalu keriting itu hilang, maka khiyār menjadi hak pembeli. Mereka menyamakan pengeritingan tersebut dengan mensyaratkan keriting alami. Aku telah menempuh metode ini dalam beberapa pembahasan. Jika ketidaksesuaian terjadi pada sesuatu yang tidak tampak, maka hal itu tidak dianggap, seperti jika pada pakaian budak terdapat titik tinta, maka ini tidak disamakan dengan syarat bahwa budak itu seorang penulis. Namun, jika bekas tinta itu sedemikian rupa sehingga secara umum dianggap bahwa pemilik pakaian itu adalah orang yang biasa menulis, lalu ternyata tidak demikian, maka dalam penetapan khiyār terdapat dua pendapat. Jika suatu perkara didasarkan pada kemunculan sesuatu secara kebiasaan, maka apa yang sangat jelas kemunculannya menjadi dasar dalam masalah ini, sedangkan yang tidak tampak keluar dari pembahasan, dan apa yang berada di antara keduanya diperselisihkan oleh para ulama.
وهذه المراسمُ تكررت في هذا المجموع
Upacara-upacara ini telah berulang dalam kumpulan ini.
ومن صور الخلاف أن مالك الشاة إذا سعى في علفها على خلافِ العادة حتى ربا بطنُها وكان يبغي بذلك أن يغلبَ على ظن الناظرِ أنها حامل فإذا جرى ذلك ففي ثبوتِ الخيارِ وجهان وسببُ الاختلاف أن رَبْو البطن من العلفِ لا يكاد يلتبس بمخيلة الحمل وعلامته فكان الاختلاف للتردد فيما ذكرناه
Salah satu bentuk perbedaan pendapat adalah jika pemilik kambing berusaha memberi makan kambingnya secara tidak biasa hingga perutnya membesar, dengan tujuan agar orang yang melihatnya menyangka kambing itu sedang hamil. Jika hal ini terjadi, maka ada dua pendapat mengenai apakah hak khiyār (pilihan) tetap berlaku atau tidak. Penyebab perbedaan pendapat ini adalah karena pembesaran perut akibat makan biasanya tidak mudah disamakan dengan tanda-tanda kehamilan, sehingga perbedaan pendapat muncul karena keraguan dalam hal yang telah disebutkan.
وألحق الأئمةُ بصورة القطع حبسَ الماء في القناة وإرسالَها حالة البيع أو حالةَ الإجارة وقد يفرضُ ذلك في إجارة الطواحين
Para imam juga menyamakan dengan bentuk pemutusan, yaitu menahan air di saluran dan melepaskannya pada saat jual beli atau pada saat ijārah, dan hal ini bisa saja terjadi dalam ijārah penggilingan.
وكل هذا مثبتٌ للخيار ملتحقٌ بصورة القطع
Dan semua ini menetapkan adanya khiyār yang terkait dengan bentuk pemutusan.
ومما يتصل بهذا أن من باع جارية ذاتَ لبنٍ وكان صرّاها فإذا بان خلافُ المظنون ففي ثبوت الخيار وجهان أحدهما يثبت الخيار كما يثبت في البهيمة المصراة والثاني لا يثبت الخيار ؛ فإن اللبن لا يقصدُ من الجارية إلا على ندور في الحضانة
Terkait dengan hal ini, apabila seseorang menjual seorang budak perempuan yang sedang menyusui dan ia telah mengikat susunya, kemudian ternyata kenyataannya tidak sesuai dengan yang diduga, maka terdapat dua pendapat mengenai apakah hak khiyar (pilihan) itu tetap ada. Pendapat pertama menyatakan bahwa hak khiyar tetap ada sebagaimana berlaku pada hewan yang diikat susunya. Pendapat kedua menyatakan bahwa hak khiyar tidak tetap, karena susu pada budak perempuan tidaklah menjadi tujuan kecuali dalam keadaan yang jarang, yaitu untuk pengasuhan anak.
وهذا الخلاف ليس من النمط الذي ذكرناه قبيل هذا؛ فإن التلبيس بالتصرية في الجارية كالتلبيس بالتصرية في البهيمة وإنما نشأ الاختلاف من أصلٍ آخر وهو أن الأصل في خيار الخُلْف أن يترتب على الشرط والفعلُ الموهم المدلّس أُلحق بالشرط وهو دونه ويقوى أثرُه فيما يظهر توجُّه القصدِ إليه فأما ما لا يتوجه القصدُ إليه فلا يظهر التلبيسُ فيه ويمكن أن يقال هذا مع هذا التقريب يلتحق بما قدمناه من مواقع الخلاف؛ فإن الشيء إذا كان لا يقصد فما يجري من تلبيسٍ فيه وفاقاً لا يوهم ويمكن أن يقرَّب مما تقدم من وجهٍ آخر وهو أن الضروعَ والأخلافَ يُعتاد معاينتها ويدركُ الفرقُ فيها وليس كذلك الثديُ في بنات آدم؛ فإن المشاهدةَ لا تتعلق به غالباً
Perselisihan ini bukan termasuk jenis yang telah kami sebutkan sebelumnya; sebab penipuan dengan cara menahan susu pada budak perempuan serupa dengan penipuan dengan cara menahan susu pada hewan ternak. Namun, perbedaan pendapat ini muncul dari asal yang lain, yaitu bahwa pada dasarnya hak khiyār karena adanya pelanggaran syarat itu bergantung pada syarat, dan perbuatan yang menimbulkan dugaan penipuan disamakan dengan syarat meskipun derajatnya di bawah syarat, dan pengaruhnya semakin kuat apabila tampak adanya maksud yang jelas ke arah itu. Adapun sesuatu yang tidak ada maksud ke arah itu, maka penipuan di dalamnya tidak tampak, dan bisa dikatakan bahwa dengan pendekatan ini, hal tersebut termasuk dalam kategori perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan sebelumnya; sebab jika sesuatu itu tidak disengaja, maka penipuan yang terjadi di dalamnya secara sepakat tidak menimbulkan dugaan. Hal ini juga dapat didekatkan dengan penjelasan sebelumnya dari sisi lain, yaitu bahwa puting dan ambing pada hewan ternak biasanya diperiksa dan perbedaannya dapat diketahui, sedangkan payudara pada perempuan dari kalangan manusia tidak demikian; sebab pada umumnya tidak diperiksa secara langsung.
وغرضُنا تخريجُ الوِفاق والخلافِ على أصولٍ ضابطةٍ
Tujuan kami adalah merumuskan kesepakatan dan perbedaan pendapat berdasarkan prinsip-prinsip yang terukur.
وذكر العراقيون التصرية في الأتان والمسلك المرضي ما نزيده فنقول ظاهر المذهب أن لبن الأتان نجس فإذا فرضنا التصريةَ فاللبن لا يقابَل بشيء ولكن لا يبعد ثبوت الخيار؛ إذ قد يُقصد غزارةُ لبنها لمكان الجحش فيلتحق هذا الخيارُ بصور التردد ومن أصحابنا من حكم بطهارة لبنها وحرّمه فالقول كما مضى؛ فإن اللبن المحرمَ لا يتقوّم ومن أصحابنا من حكم بحل لبنها تفريعاً على الطهارة حكاه العراقيون عن الإصطخري
Orang-orang Irak menyebutkan kasus tashriyah pada keledai betina, dan pendapat yang diterima adalah apa yang akan kami tambahkan, yaitu bahwa menurut pendapat yang zahir dalam mazhab, susu keledai betina adalah najis. Jika kita anggap terjadi tashriyah, maka susu tersebut tidak dapat menjadi pengganti apa pun, namun tidak mustahil adanya hak khiyar; karena bisa jadi seseorang menginginkan banyaknya susu keledai betina tersebut karena adanya anak keledai, sehingga hak khiyar ini termasuk dalam kasus yang masih diperdebatkan. Di antara ulama kami ada yang berpendapat bahwa susu keledai betina itu suci namun haram, maka pendapatnya tetap seperti yang telah lalu; karena susu yang haram tidak dapat dinilai sebagai barang yang bernilai. Dan di antara ulama kami ada juga yang berpendapat bahwa susu keledai betina itu halal berdasarkan cabang dari kesuciannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh orang-orang Irak dari al-Ishthakhri.
وهذا عندي لا يلتحق بالمذهب وهو من هفوات بعض الأئمة فنقول إن لم يُبح اللبن فالنظر في الخيار وإن فرعنا على الوجه الضعيف وأبحناه فالقول في تصرية الأتان كالقول في تصرية الجارية وسنذكر أن لبن الجارية هل يقابل بشيء في الفصل الثاني من الباب
Menurut saya, hal ini tidak termasuk dalam mazhab dan merupakan kekeliruan sebagian imam. Maka kami katakan, jika susu tidak dibolehkan, maka perlu dilihat adanya hak khiyar. Namun jika kita mengikuti pendapat yang lemah dan membolehkannya, maka hukum tashriyyah pada keledai betina sama dengan hukum tashriyyah pada budak perempuan. Kami akan sebutkan apakah susu budak perempuan dapat menjadi objek pertukaran pada bagian kedua dari bab ini.
فرع
Cabang
إذا تحفَّل اللبنُ بنفسه من غير قصدٍ من مُحفل ثم جرى الظن والإخلافُ كما ذكرناه ففي ثبوت الخيار وجهان كان يذكرهما شيخي في الخلاف وذكرهما غيره
Jika susu itu terkumpul dengan sendirinya tanpa adanya maksud dari orang yang memerah, kemudian terjadi dugaan dan kekeliruan seperti yang telah kami sebutkan, maka dalam penetapan hak khiyar terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh guru saya dalam kitab al-Khilaf dan juga disebutkan oleh selain beliau.
وعندي أن الخلافَ في ذلك يشير إلى تردد الأصحاب في مأخذ الخيار في الباب وينقدح للخيار مأخذان أحدهما تَنْزيلُ فعلِ الملبِّس منزلةَ قوله؛ فإنه بشرطه يُطمع المشتري في مقصودٍ وقولُه بين الخُلْف والصدق كذلك الفعل يُنَزَّلُ هذه المنزلةَ
Menurut saya, perbedaan pendapat dalam hal ini menunjukkan adanya keraguan di kalangan para ulama mengenai dasar hak khiyar dalam bab ini, dan dapat dipahami bahwa hak khiyar memiliki dua dasar. Pertama, tindakan penjual yang menimbulkan keraguan diposisikan seperti ucapannya; sebab dengan syarat yang dia ajukan, penjual membuat pembeli berharap pada suatu tujuan, dan sebagaimana ucapannya bisa benar atau dusta, demikian pula tindakannya dapat diposisikan pada kedudukan tersebut.
ومن أصحابنا من يبني الخيار في الباب على قاعدةِ خيارِ العيب ويزعم أن من اشترى عبداً مطلقاًً ولم يقع التعرضُ لشرط السلامة فسبب الخيار إشعارُ ظاهرِ الحال بالسلامة فإن بان ما يخالف الظاهر ترتب عليه خيارُ الرد وهذا يتحقق في المحفَّلة فإن ظاهرَ الأمر يُشعر بغَزَر اللبن
Sebagian dari ulama mazhab kami mendasarkan pembahasan tentang khiyar dalam bab ini pada kaidah khiyar ‘aib, dan berpendapat bahwa siapa saja yang membeli seorang budak secara mutlak tanpa ada pembicaraan mengenai syarat keselamatan, maka sebab adanya khiyar adalah karena keadaan lahiriah menunjukkan adanya keselamatan. Jika kemudian ternyata ada sesuatu yang bertentangan dengan keadaan lahiriah tersebut, maka timbullah khiyar untuk mengembalikan. Hal ini juga berlaku pada kasus al-muhafalah, karena keadaan lahiriah menunjukkan banyaknya susu.
فإن أخذنا الخيار من تشبيه فعل الملبِّس بقوله فلا خيار في التي تحفَّلت بنفسها من غيرِ قصد وإن أخذنا الخيار من تنزيل العقد على الظاهر فهذا يقتضي ثبوتَ الخيار في التي تحفلت من غير تحفيل
Jika kita mengambil hak khiyar dari penyerupaan perbuatan orang yang menipu dengan ucapannya, maka tidak ada hak khiyar pada wanita yang telah mempercantik dirinya sendiri tanpa maksud menipu. Namun jika kita mengambil hak khiyar dari penetapan akad berdasarkan apa yang tampak, maka hal ini mengharuskan adanya hak khiyar pada wanita yang tampak mempercantik diri padahal sebenarnya tidak demikian.
فرع
Cabang
إذا اشترى مصراة فكما حلبها اتفق درور لبنٍ على الحد المطلوب التي دلّت التصريةُ عليه ثم استمر الأمر كذلك وفاقاً فهل يثبت الخيار للمشتري فعلى وجهين ذكرهما العراقيون وهما خارجان على قياسنا أيضاًً
Jika seseorang membeli sapi yang diikat susunya (musharrah), lalu ia memerahnya dan ternyata keluarnya susu sesuai dengan kadar yang ditunjukkan oleh tindakan pengikatan tersebut, kemudian keadaan itu terus berlanjut sebagaimana adanya, maka apakah hak khiyar (pilihan) tetap berlaku bagi pembeli? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak, dan keduanya juga sejalan dengan qiyās menurut kami.
والخلاف في ذلك مُشبهٌ بأصلٍ سيأتي في الخراج ويلتفت على أصلٍ في النكاح
Perbedaan pendapat dalam hal ini mirip dengan suatu pokok yang akan disebutkan dalam pembahasan kharāj dan berkaitan dengan suatu pokok dalam masalah nikah.
فأما ما يأتي في الخراج فهو أن من اشترى عبداً وكان به عيبٌ قديم لم يتنبه له المشتري إلا بعد زواله ففي ثبوت الخيار وجهان ووجه الشبه بيّن
Adapun yang berkaitan dengan kharāj adalah bahwa siapa saja yang membeli seorang budak dan ternyata pada budak tersebut terdapat cacat lama yang tidak disadari oleh pembeli kecuali setelah cacat itu hilang, maka dalam penetapan hak khiyār terdapat dua pendapat, dan sisi kemiripannya jelas.
وأما أصلُ النكاح فإذا أُعتقت الأمةُ تحت زوجها الرقيق فلم تشعر حتى عَتَق الزوجُ فهل يثبت لها الخيار الآن فعلى اختلاف نصوصٍ وأقوال
Adapun asal pernikahan, apabila seorang budak perempuan dimerdekakan sementara ia masih menjadi istri dari suaminya yang juga seorang budak, lalu ia tidak mengetahui hingga suaminya pun dimerdekakan, maka apakah ia masih memiliki hak memilih (khiyar) saat ini? Dalam hal ini terdapat perbedaan dalam nash dan pendapat.
وذكر العراقيون أن من ابتاع شاةً وعلم أنها مصراةٌ ثم تحقق الأمرُ كما علم وقل اللبنُ فهل يثبت الخيار فعلى وجهين
Orang-orang Irak menyebutkan bahwa seseorang membeli seekor kambing dan ia mengetahui bahwa kambing itu telah diikat susunya (musharrāh), kemudian ternyata benar seperti yang ia ketahui dan ternyata susunya sedikit. Apakah hak khiyar tetap berlaku? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
ولست أرى لقولِ من قال بثبوت الخيار هاهنا وجهاً إلا أن يقول قائل لعل المشتري يستبهم عليه من التحفيل قدرُ اللبن الأصلي فإذا رجع إلى أصله فقد يكون دون القدر المظنون وهذا مزيف لا أصل له
Saya tidak melihat alasan bagi pendapat orang yang mengatakan adanya hak khiyar di sini, kecuali jika ada yang berpendapat bahwa mungkin pembeli menjadi bingung dalam membedakan jumlah susu asli karena adanya penambahan (tahfīl), sehingga ketika dikembalikan ke asalnya, bisa jadi jumlahnya kurang dari yang diperkirakan. Namun, alasan ini lemah dan tidak berdasar.
وقد انتهى القول في الخيار
Dan telah selesai pembahasan mengenai khiyār.
وإذا تبين أصلُ الخيار فالكلام بعد ذلك في أنه على الفور أم لا وكيف السبيلُ فيه فنقول إذا لم يتبين للمشتري اختلاف ظنه إلا بعد يومٍ أو يومين مثلاً فلا يبطل خيارُه؛ فإن الكلام في الفور والتراخي يقع بعد الاطلاع على موجِب الخيارِ
Jika telah jelas dasar dari khiyār, maka pembahasan selanjutnya adalah apakah khiyār itu harus segera dilakukan atau tidak, dan bagaimana caranya. Kami katakan, jika pembeli baru menyadari adanya perbedaan dugaannya setelah satu atau dua hari misalnya, maka khiyār-nya tidak batal; sebab pembahasan tentang keharusan segera atau boleh menunda itu terjadi setelah mengetahui sebab yang membolehkan khiyār.
فلو حصل الاطلاع في اليوم الأول مثلاً فالخيار يثبت على الفور أم يمتد إلى انقضاء ثلاثة أيام من وقت العقد فعلى وجهين مشهورين أحدهما أنه على الفور قياساً على خيار الخُلف والعيب كما سيأتي حكمهما إن شاء الله عز وجل
Jika pengetahuan itu didapatkan pada hari pertama, misalnya, maka apakah hak khiyar itu berlaku seketika ataukah berlangsung hingga berakhirnya tiga hari sejak waktu akad? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa hak khiyar itu berlaku seketika, dengan qiyās kepada khiyar karena adanya penipuan dan cacat, sebagaimana akan dijelaskan hukumnya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
والوجه الثاني أنه يمتد ثلاثةَ أيامٍ؛ فإنه صح في روايات حديث المصراة أنه عليه السلام قال فهو بخير النظرين بعد أن يحلبها ثلاثاً فهذا خيارٌ شرعي مؤقت بما يتأقت به خيارُ الشرط فاتُّبِع
Adapun pendapat kedua adalah bahwa masa itu berlangsung selama tiga hari; karena telah sah dalam riwayat-riwayat hadis tentang al-musharrah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Maka ia berhak memilih dua pilihan setelah memerahnya selama tiga hari.” Maka ini adalah khiyār syar‘i yang dibatasi waktu sebagaimana khiyār syarat, sehingga diikuti.
ومن قال بالوجه الأول انفصل عن ذكر الثلاثة في الحديث وقال الغالب أن التلبيس لا يبين إلا بعد تكميل الحَلْب فجرى ذلك من رسول الله صلى الله عليه وسلم تنزيلاً على العادة في الباب
Dan orang yang berpendapat dengan pendapat pertama, memisahkan dari penyebutan tiga kali dalam hadis, dan berkata bahwa pada umumnya penipuan tidak akan tampak kecuali setelah selesai memerah susu, maka hal itu dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan kebiasaan yang berlaku dalam permasalahan ini.
قال شيخي من أثبت الخيارَ ثلاثةَ أيامٍ يُلحقه بخيار الشرط في حكمه ويعيد فيه الاختلافَ في أن هذا الخيارَ يحتسبُ من وقت العقد أو من وقت انقضاء خيارِ المجلس كما تقدم ذكره في خيار الشرط بالإضافة إلى خيار المجلس
Guru saya berkata, barang siapa yang menetapkan hak khiyar selama tiga hari, maka ia menyamakannya dengan khiyar syarat dalam hukumnya, dan mengulang kembali perbedaan pendapat mengenai apakah khiyar ini dihitung sejak waktu akad atau sejak berakhirnya khiyar majelis, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan khiyar syarat yang dikaitkan dengan khiyar majelis.
ولو حصل الاطلاع على خُلْف الظن آخرَ جزء من الأيام الثلاثة فلا خلاف أنا لا نتعدى هذا فلا يظنن ظان أنَّا نمدُّ الخيارَ من وقت الاطلاع ثلاثة أيام
Jika diketahui bahwa dugaan tersebut keliru pada bagian akhir dari tiga hari, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa kita tidak boleh melewati batas itu. Maka janganlah seseorang mengira bahwa kita memperpanjang masa khiyar selama tiga hari terhitung sejak waktu diketahuinya kekeliruan tersebut.
فإذا ظهر ذلك فالمطلعُ في آخر الأيام خيارُه على الفور ومأخذُ الفور على أحد الوجهين القياسُ على النظائر في خيار الخلف والردَّ بالعيب
Jika telah jelas demikian, maka orang yang mengetahui (cacat) di akhir masa memiliki hak khiyar secara langsung, dan dasar keharusan langsung ini menurut salah satu pendapat adalah qiyās terhadap kasus-kasus serupa dalam khiyar karena pelanggaran dan pengembalian barang karena cacat.
وهو على الوجه الثاني من مصادفته آخر الوقت لا من كونه في وضعه على البدار والفور
Dan hal itu berdasarkan sisi kedua, yaitu bertemunya dengan akhir waktu, bukan karena ia diletakkan dalam keadaan segera dan langsung.
وقد نجز القول في الخيار تأصيلاً وتفصيلاً
Pembahasan tentang khiyār telah selesai baik secara prinsip maupun rinci.
الفصل الثاني
Bab Kedua
وأما الفصل الثاني فمضمونه الكلام فيما يرده المشتري في مقابلة اللبن إذا ردَّ البهيمة المصرَّاة وهذا الفصل معتمده الخبر في أصل المذهب وليس كأصل الخيار؛ فإنه قد يستدّ فيه طرفٌ من القياس كما نبهنا عليه فالمعتمد إذاً في المردود قول النبي عليه السلام وإن سخطها ردّها ورد معها صاعاً من تمر واختلف طرق الأصحاب فذهب بعضهم إلى اتباع الخبر ومحاذرةِ الميل عنه فأوجبوا في مقابلة اللبن المحلوبِ صاعاً من تمر قلَّ اللبنُ أو كثر فإن قل قدرُ اللبن مرةً وأبرّت عليها قيمةُ الصاع عارضَ ذلك الاكتفاءُ بصاعٍ من تمر وإن كثر اللبن فهذا مسلك
Adapun bagian kedua, isinya membahas tentang apa yang dikembalikan oleh pembeli sebagai ganti susu apabila ia mengembalikan hewan yang telah disusui. Bagian ini dasarnya adalah hadis dalam mazhab utama, dan tidak seperti dasar khiyar; karena dalam khiyar masih mungkin digunakan sebagian qiyās sebagaimana telah kami jelaskan. Maka yang dijadikan sandaran dalam hal barang yang dikembalikan adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika ia tidak menyukainya, maka ia boleh mengembalikannya dan mengembalikan bersamanya satu sha‘ kurma.” Para ulama berbeda pendapat dalam menempuh jalan ini. Sebagian mereka mengikuti hadis tersebut dan menghindari penyimpangan darinya, sehingga mereka mewajibkan sebagai ganti susu yang telah diperah satu sha‘ kurma, baik sedikit maupun banyak susunya. Jika jumlah susu sedikit dan nilai satu sha‘ lebih tinggi, maka tetap cukup dengan satu sha‘ kurma. Jika susunya banyak, maka demikian pula. Inilah salah satu pendapat.
ومن أصحابنا من قال يقلّ التمرُ بقلة اللبن ويكثر بكثرته فقد يوجب ردَّ آصعٍ وقد يكتفى بردّ مُدٍّ فما دونه على ما يقتضيه تعديل القيم
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa jumlah kurma menjadi sedikit jika susu sedikit, dan menjadi banyak jika susu banyak; sehingga bisa jadi wajib mengembalikan beberapa sha‘, dan bisa juga cukup mengembalikan satu mud atau kurang dari itu, sesuai dengan apa yang dituntut oleh penyesuaian nilai.
ثم كما اختلف الأصحاب في المقدار فصار صائرون إلى اتباع الصاع من غير زيادة ولا نقصان وذهب آخرون إلى اعتبار قيمة المبذول بقيمة اللبن كذلك اختلفوا في الجنس فذهب ذاهبون إلى أن الأصلَ التمرُ فلا مَعْدِلَ عنه وقال قائلون يقوم مقام التمر الأقواتُ؛ اعتباراً بصدقةِ الفطر ثم لا يعدِّي الأئمةُ في هذه الطريقة القوتَ إلى الأقطِ كما يعدي بعضهم إليه في صدقة الفطر؛ فإن السبب الحامل على المصير إلى إجزاء الأقِط خبر فيه وذلك الخبر لا يعدَّى به مورده
Kemudian, sebagaimana para ulama berbeda pendapat mengenai takaran, sehingga sebagian dari mereka berpendapat untuk mengikuti ukuran satu sha‘ tanpa penambahan maupun pengurangan, dan sebagian lain berpendapat untuk mempertimbangkan nilai barang yang diberikan dengan nilai susu, demikian pula mereka berbeda pendapat mengenai jenisnya. Sebagian berpendapat bahwa asalnya adalah kurma, sehingga tidak boleh beralih darinya, dan sebagian lain berpendapat bahwa yang dapat menggantikan kurma adalah makanan pokok, dengan pertimbangan pada zakat fitrah. Namun, para imam dalam metode ini tidak memperluas makna makanan pokok hingga mencakup aqith (keju kering), sebagaimana sebagian dari mereka memperluasnya dalam zakat fitrah; karena sebab yang mendorong untuk membolehkan aqith adalah adanya hadis khusus tentangnya, dan hadis tersebut tidak dapat diberlakukan di luar konteksnya.
وقد روى شيخي في بعض صيغ حديث المصراة التعرضَ للحنطة وهذا هو الذي مهد لأصحاب القوت مذهبَهم وإلا فالأصل الاتباع
Guru saya telah meriwayatkan dalam beberapa redaksi hadis tentang al-musrāh adanya penyebutan gandum, dan inilah yang menjadi landasan bagi para ahli pangan dalam menetapkan mazhab mereka. Jika tidak demikian, maka pada dasarnya adalah mengikuti (dalil).
ثم من عدَّى إلى الأقوات وانحصر فيها فليس منسلاً بالكلية عن الاتباع
Kemudian, siapa yang membatasi (zakat) hanya pada bahan makanan pokok dan mengkhususkannya pada itu saja, maka ia tidak sepenuhnya keluar dari mengikuti (pendapat ulama).
وأما تنزيل المبذول على قيمة اللبن فهو مسلكٌ في الجُبران والضمانُ منقاسٌ
Adapun penetapan barang yang diberikan berdasarkan nilai susu, maka itu adalah salah satu metode dalam kompensasi, dan penjaminan dapat diqiyaskan.
وذكر شيخي مسلكاً غريباً زائداً على ما ذكرهُ الأصحاب في طرقهم فقالَ من أصحابنا من قالَ نَجري في اللبن على قياس المضمونات فإن بقي عينُه ولم يتغيَّر ردّه وليسَ عليه رَدّ غيرهِ وإن تغير ردَّ مثلَه؛ فإنّ اللبن من ذواتِ الأمثالِ؛ فإن أعوز المثلُ فالرجوعُ إلى القيمة وقد أومأ إليه صاحب التقريب ولم يصرح به
Syekh saya menyebutkan satu metode yang unik, selain apa yang telah disebutkan oleh para sahabat dalam metode-metode mereka. Beliau berkata: Di antara ulama mazhab kami ada yang berpendapat, kita memperlakukan susu berdasarkan qiyās terhadap barang-barang yang wajib diganti. Jika zatnya masih ada dan tidak berubah, maka dikembalikan, dan ia tidak wajib mengembalikan selain itu. Namun jika telah berubah, maka ia wajib mengganti dengan yang semisal, karena susu termasuk barang yang memiliki padanan (amtsāl). Jika tidak ditemukan padanannya, maka kembali kepada nilai (harga). Hal ini telah disinggung oleh penulis at-Taqrīb, meskipun tidak dijelaskan secara gamblang olehnya.
وهذا عندي غلط صريحٌ وتركٌ لمذهب الشافعي بل هو حيدٌ عن مأخذ مذهبه ويبطل عليه مذهب الشافعي في مسألة المصراة ولا يبقى إلا الخيار فإن اعتمدنا فيه الخبر لم يبعد من الخصم حمله على شرط الغزارة مع تأكيد الشرط بالتحفيل
Menurut saya, ini adalah kesalahan yang nyata dan penyimpangan dari mazhab Syafi‘i, bahkan merupakan penyimpangan dari dasar mazhabnya. Hal ini akan membatalkan mazhab Syafi‘i dalam masalah al-muṣarrāh, dan yang tersisa hanyalah hak khiyar. Jika kita berpegang pada hadis dalam masalah ini, tidak mustahil bagi lawan untuk menafsirkannya sebagai syarat banyaknya susu, dengan penegasan syarat tersebut melalui tindakan pengumpulan susu.
فهذا إذن هفوةٌ غير معدودةٍ من المذهب ولا عودَ إليها
Maka ini hanyalah kekeliruan yang tidak dianggap sebagai bagian dari mazhab dan tidak akan kembali kepadanya.
التفريع على الوجهين المقدَّمين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat yang telah dikemukakan.
من قال بالاتباع والانحصارِ على الصاع فلو بلغت قيمةُ الصاع قيمة الشاة أو زادت فقد ذكر العراقيون وجهين أحدهما أنا نوجب الصاع وإن بلغت قِيماً ولا ننزل عن الاتباع
Siapa yang berpendapat dengan mengikuti dan membatasi pada satu sha‘, maka jika nilai satu sha‘ mencapai nilai seekor kambing atau lebih, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat: salah satunya adalah bahwa kita tetap mewajibkan satu sha‘ meskipun nilainya tinggi, dan kita tidak meninggalkan sikap mengikuti (dalil).
والوجه الثاني أنا لا نرى ذلك؛ فإن النبي عليه السلام وإن نصَّ على الصاع من التمر فقد أفهمنا أنهُ مبذولٌ في مقابلةِ شيءٍ فائت من المبيع يقعُ منه موقعَ التابع من المتبوع؛ فينبغي أن لا يتعدَّى على هذا المعنى حدَّ التوابع والغلوّ في كلِّ شيءٍ مذموم وقد يغلو المتبعُ للفظ الشارع فيقع في مسلكِ أصحاب الظاهر
Adapun sisi yang kedua, kami tidak berpendapat demikian; sebab Nabi saw. meskipun telah menetapkan satu sha‘ kurma, beliau telah memberi pemahaman kepada kita bahwa hal itu diberikan sebagai pengganti sesuatu yang hilang dari barang yang dijual, yang posisinya seperti pengikut terhadap yang diikuti; maka seharusnya makna ini tidak melampaui batas hal-hal yang bersifat pengikut, dan berlebihan dalam segala sesuatu adalah tercela. Terkadang orang yang terlalu mengikuti lafaz syariat bisa terjerumus ke dalam jalan para pengikut zahir.
التفريع على الوجهين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن حكمنا بأن الصاعَ واجبٌ فلا كلام وإن لم نر إيجابَ الصاع في الصورة التي ذكرناها اعتبرنا القيمة الوسط للتمر بالحجاز واعتبرنا بحسَب ذلك قيمةَ مثلِ ذلك الحيوانِ اللبون بالحجاز وإذا نحن فعلنا هذا جَرى الأمرُ في المبذول على الحدّ المطلوب
Jika kita memutuskan bahwa satu sha‘ itu wajib, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita tidak mewajibkan satu sha‘ dalam situasi yang telah kami sebutkan, maka kami memperhitungkan nilai rata-rata kurma di Hijaz, dan berdasarkan itu kami perhitungkan nilai hewan yang sejenis dan sedang menyusui di Hijaz. Jika kami melakukan hal ini, maka pemberian yang dikeluarkan akan berjalan sesuai batas yang ditetapkan.
ثم قال العراقيون إن زادت قيمةُ الصاع على نصف قيمة الشاة فالوَجهان جاريان وإن كانت قيمةُ الصاع مثلَ نصفِ قيمة الشاة فيجب بذلُ الصاع هكذا رواه
Kemudian orang-orang Irak berkata: Jika nilai satu sha‘ melebihi setengah nilai seekor kambing, maka dua pendapat itu tetap berlaku. Namun, jika nilai satu sha‘ sama dengan setengah nilai seekor kambing, maka wajib memberikan satu sha‘. Demikianlah yang diriwayatkan.
وقطع صاحب التقريب جوابه باعتبار قيمة الوَسط من صورة الوجهين
Penulis kitab at-Taqrīb memutuskan jawabannya dengan mempertimbangkan nilai rata-rata dari dua pendapat yang ada.
ومما يدور في الخلد أن اللبن إن كان شُرب أو ضاع فالأمر على ما ذكرناه وإن كان متغيراً لم يُردَّ وقد حدث به عيبُ التغيير ولكن وإن كان اللبنُ موجوداً حالة العقد ثم حُلبَ وتغيَّر فلا نجعل الشاةَ مع اللبن بمثابةِ عبدين يشتريهما الرجل ويقبضهما ويحدُث بأحدهما عيبٌ في يَدهِ ويطَّلِع على عيبٍ قديم بالثاني فهذا من فروع تفريق الصفقةِ آخراً وفيه اختلافٌ سيأتي وليس الأمر في اللبن معَ الشاةِ كذلك وفيه نص النبي صلى الله عليه وسلم على إقامةِ الصاع مقامَ اللبن
Hal yang terlintas dalam benak adalah bahwa jika susu itu diminum atau hilang, maka urusannya seperti yang telah kami sebutkan. Namun, jika susu itu telah berubah (mutu atau sifatnya), maka tidak dikembalikan karena telah terjadi cacat berupa perubahan tersebut. Akan tetapi, jika susu itu masih ada saat akad, lalu diperah dan kemudian berubah, maka kita tidak menyamakan antara kambing beserta susunya dengan dua budak yang dibeli seseorang, lalu ia menerima keduanya, kemudian salah satunya mengalami cacat di tangannya dan ia mengetahui cacat lama pada yang kedua. Ini termasuk cabang dari masalah perbedaan akad di akhir, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan dijelaskan nanti. Adapun urusan susu bersama kambing tidaklah demikian, dan dalam hal ini terdapat nash dari Nabi ﷺ tentang penggantian satu sha‘ sebagai ganti susu.
وإن فرض فارض بقاءَ اللبن الحليب من غير تغير حتى يثبت الخيار فهذا تكلُّفُ أمرٍ لا يتصوَّر؛ فإنَ خُلفَ الظن يَبينُ بالحلب في النوبةِ الأخرى ويتغيَّر اللبن لا محالةَ في جميع الأَهْوية ولَو صُوِّرَ ذلَك على بُعد فردُّ عين اللبن عندي مع الاتباع ليس بعيداً عن الاحتمال والخبر يكون محمولاً على غالب الحال وهذا يشابهُ قولَ من يُثبت الخيار على الفور ويحمل ذكرَ المدةِ في الحديث على غالب الأمر فإن الخُلف لا يبين إلا في مُدَّةٍ
Jika seseorang membayangkan bahwa susu segar tetap ada tanpa perubahan hingga hak khiyar (hak memilih) ditetapkan, maka ini adalah suatu pemaksaan terhadap sesuatu yang tidak mungkin terjadi; sebab perbedaan (antara susu lama dan baru) akan tampak pada pemerahan berikutnya dan susu pasti akan berubah di semua kondisi udara. Namun, seandainya hal itu dapat dibayangkan meskipun sangat kecil kemungkinannya, maka menurut saya mengembalikan susu itu secara langsung bersamaan dengan mengikuti (proses jual beli) tidaklah jauh dari kemungkinan, dan hadis tersebut dapat dibawa pada keadaan yang umumnya terjadi. Hal ini mirip dengan pendapat orang yang menetapkan khiyar harus segera dilakukan dan membawa penyebutan jangka waktu dalam hadis pada kebiasaan yang umum, karena perbedaan (antara susu lama dan baru) tidak akan tampak kecuali dalam jangka waktu tertentu.
فرع
Cabang
لو بان التلبيس ورضي المشتري بالبهيمة ثم وجدَ بها عيباً قديماً فأراد الردَّ فله الردُّ بالعيبِ القديم
Jika penipuan itu menjadi jelas dan pembeli telah rela dengan hewan tersebut, kemudian ia menemukan cacat lama pada hewan itu dan ingin mengembalikannya, maka ia berhak mengembalikannya karena cacat lama tersebut.
ثم قالَ الأصحاب يرُدّ مكان اللبن صاعاً من تمر كما لو رَدّ بسبب التصرية قطع الإمام وصاحبُ التقريب والصيدلاني أجوبتَهم بذلك ونصّ الشافعي عليه في المختصر
Kemudian para ulama mazhab mengatakan bahwa ia harus mengembalikan satu sha‘ kurma sebagai pengganti susu, sebagaimana jika pengembalian itu disebabkan oleh tasriyyah. Imam, penulis at-Taqrib, dan as-Sayidilani menyebutkan jawaban mereka demikian, dan asy-Syafi‘i juga menegaskan hal itu dalam al-Mukhtashar.
وهذا فيه إشكال من طريق القياس؛ فإن المعنى لا يُرشد إلى إثبات الصاع بدلاً عن اللبن وإنما المتبع فيهِ الخبر والخبر وردَ في التصرية والقياسُ في هذا يقتضي أن ننزلَ البهيمةَ مع وجود اللبن في ضرعها منزلةَ ما لو اشترى الرجل شجرةً مع ثمرتها ثم تلفت الثمر فأرادَ رَدَّ الشجرةِ بعَيب قديم صادفَهُ بها فيدخل هذا في تفريق الصفقة هذا حكمُ القياس ولكن الشافعي وجميعَ الأصحاب حكموا بما ذكرناه والسببُ فيهِ أن الردَّ بالعيب القديم في معنى الرد بالخُلف قطعاً واللبن في الواقعتين على قضيةٍ واحدةٍ فرأى الشافعيُ إلحاقَ الواقعةِ بالواقعةِ كما رأى إلحاقَ الأمة بالعبد في قوله عليه السلام من أعتق شِرْكاً له من عبدٍ قُوِّم عليه وذكر الشيخ أبو علي في شرح التلخيص إن من أصحابنا من ردّ هذه المسألةَ إلى موجَب القياس وخرَّجها على تفريقِ الصفقةِ وقد ذكرنا طريق القياس
Dalam hal ini terdapat permasalahan dari sisi qiyās; sebab makna (yang ada) tidak menunjukkan penetapan satu sha‘ sebagai pengganti susu, melainkan yang diikuti di sini adalah khabar (riwayat), dan khabar tersebut datang dalam masalah tashriyyah. Qiyās dalam hal ini mengharuskan kita menyamakan hewan ternak yang di dalam susunya masih ada susu dengan keadaan seseorang yang membeli pohon beserta buahnya, lalu buah itu rusak dan ia ingin mengembalikan pohon tersebut karena cacat lama yang ditemukannya pada pohon itu. Maka hal ini termasuk dalam kategori tafrīq ash-shafqah (pemisahan akad). Inilah hukum qiyās. Namun, asy-Syafi‘i dan seluruh ulama mazhab memutuskan sebagaimana yang telah kami sebutkan. Sebabnya adalah bahwa pengembalian karena cacat lama pada hakikatnya sama dengan pengembalian karena adanya kekurangan secara pasti, dan susu dalam kedua kasus tersebut berada dalam satu ketentuan yang sama. Maka asy-Syafi‘i memandang untuk menyamakan satu kasus dengan kasus lainnya, sebagaimana beliau menyamakan budak perempuan dengan budak laki-laki dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa memerdekakan bagian miliknya dari seorang budak, maka budak itu dinilai (harganya) atasnya.” Syaikh Abu ‘Ali dalam Syarh at-Talkhīsh menyebutkan bahwa sebagian ulama kami mengembalikan masalah ini kepada konsekuensi qiyās dan mengaitkannya dengan tafrīq ash-shafqah, dan kami telah menyebutkan metode qiyās.
فرع
Cabang
إذا أثبتنا الخيارَ في الجارية المصرَّاة فإذا رُدّت فهل يجب ردُّ شيءٍ في مقابلةِ لبنها اختلف أصحابنا في المسألة
Jika kita menetapkan adanya khiyār pada budak perempuan yang telah diikat susunya, kemudian jika ia dikembalikan, apakah wajib mengembalikan sesuatu sebagai ganti dari susunya? Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini.
فمنهم من أوجب ردَّ الصاع وقال إذا نزّلنا الجارية منزلة البهيمة المحفّلةِ في أصلِ الخيارِ وجب أن ننزِّلَها منزلتها في التفصيل
Sebagian dari mereka mewajibkan pengembalian satu sha‘, dan berkata: Jika kita menyamakan budak perempuan dengan hewan ternak yang sedang hamil dalam pokok hukum khiyār, maka wajib pula kita menyamakannya dalam rincian hukumnya.
والوجه الثاني ذكره الصيدلاني وغيره أنه لا يجب في مقابلة اللبنِ شيءٌ؛ فإنّ لبنَ الآدميات لا يباع في الغالب
Pendapat kedua disebutkan oleh As-Saidalani dan yang lainnya, bahwa tidak wajib membayar sesuatu sebagai ganti dari air susu; karena air susu wanita pada umumnya tidak diperjualbelikan.
وهذا فيهِ فضل نظر والوجه أن نقولَ إن لم يكن لذلك القدرِ قيمةٌ ونحن نرى تنزيلَ المبذول على قيمة اللبن فلا يجب شيء وإن اتبعنا الصاعَ ولم ننزله على القلَّة والكثرة على قيمة اللبن ففي المسألة وجهان
Hal ini membutuhkan pertimbangan lebih lanjut, dan pendapat yang tepat adalah jika jumlah tersebut tidak memiliki nilai, sementara kita menetapkan pemberian itu berdasarkan nilai susu, maka tidak ada kewajiban apa pun. Namun, jika kita mengikuti ukuran ṣā‘ dan tidak mengaitkannya dengan sedikit atau banyaknya berdasarkan nilai susu, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.
أحدهما أنه يجب الصاعُ لتحقيق الاتباع والثاني لا يجبُ؛ لأن الصاع أُثبت بدلاً شرعياً فليثبت له مبدل وليكن المبدل متمولاً
Pertama, bahwa wajib membayar satu sha‘ untuk merealisasikan keteladanan, dan yang kedua, tidak wajib; karena satu sha‘ itu ditetapkan sebagai pengganti secara syar‘i, maka hendaknya ada pengganti baginya, dan hendaknya pengganti itu berupa sesuatu yang bernilai.
هذا إذا لم يكن اللبن متقوَّماً فإن كان اللبن متقوَّماً يجب البدل لا محالةَ فإنَّ نفيَ البدل في هذا المقام لا يقتضيه خبرٌ ولا يوجبه قياس نعم الواجب فيه وجهان سبقَ ذكرهُما أحدهما الصاعُ والثاني قدرُ قيمة اللبن من التمرِ أو القوت
Ini jika susu tersebut bukanlah barang yang bernilai (mutaqawwam), maka jika susu itu merupakan barang yang bernilai, wajib menggantinya tanpa keraguan. Sebab, meniadakan pengganti dalam hal ini tidak didasarkan pada dalil maupun diwajibkan oleh qiyās. Ya, kewajiban pengganti dalam hal ini ada dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya: yang pertama adalah satu sha‘, dan yang kedua adalah sebesar nilai susu tersebut dari kurma atau makanan pokok.
فهذا كشف الغطاء في ذلك
Inilah penyingkapan tabir dalam hal ini.
فرع
Cabang
حكى العراقيون أنَّ محمدَ بنَ الحسن قال للشافعي لو اشترى الرجل شاةً وحلبها ولم تكن مصراةً فوجد بها عيباً قديماً فهل له الردُّ بالعيب
Orang-orang Irak meriwayatkan bahwa Muhammad bin al-Hasan berkata kepada asy-Syafi‘i, “Jika seseorang membeli seekor kambing lalu memerah susunya, dan kambing itu bukan kambing yang diikat susunya (bukan musyarrah), kemudian ia menemukan ada cacat lama pada kambing itu, apakah ia berhak mengembalikannya karena cacat tersebut?”
فقال الشافعي يرُدُّها قال فهل يردُّ في مقابلة ما حلبَ شيئاً فقال لا يلزمُه شيء؛ فإن اللبن ليس يتحقق وجودُه في غير صُورةِ التصرية فلا يقابَلُ بشيء ويحمل على التجدّد بعد العقد فهذا ما ذكروه
Imam Syafi’i berkata: ia harus mengembalikannya. Lalu ditanyakan: apakah ia harus mengembalikan sesuatu sebagai ganti dari susu yang telah diperah? Ia menjawab: tidak ada kewajiban baginya untuk mengembalikan apa pun; karena susu itu tidak dapat dipastikan keberadaannya kecuali dalam bentuk tashriyah, sehingga tidak perlu diganti dengan apa pun dan dianggap sebagai sesuatu yang baru muncul setelah akad. Inilah yang mereka sebutkan.
وفيه نظر وذلك أنا إن كنا نرددُ القولَ في أن الحمل هل يعلَم فاللبن معلوم في الضَرع وكيف لا وقد تتكامل الدرَّةُ ويأخذ الضرعُ في التقطير ولكن الوجه في ذلك أن نجعل اللبن كالحَمْلِ وسيأتي قولان في أن الحمل هل يقابَل بقسطٍ من الثمن واللَّبن في معنى الحمل فإن قلنا لا يقابل بقسطٍ فالجواب ما حكَوْه وإن قلنا إنهُ يقابلُ بقسط من الثمن فالوجه أن يرد بسبب اللبن شيئاً
Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat, sebab jika kita masih meragukan apakah kehamilan itu dapat diketahui, maka susu di dalam ambing jelas diketahui. Bagaimana tidak, padahal susu itu bisa saja telah sempurna dan ambing mulai meneteskan susu. Namun, pendapat yang tepat dalam hal ini adalah kita memperlakukan susu seperti halnya janin. Akan datang dua pendapat mengenai apakah janin itu harus diperhitungkan dengan bagian dari harga, dan susu itu dalam makna yang sama dengan janin. Jika kita katakan bahwa janin tidak diperhitungkan dengan bagian dari harga, maka jawabannya seperti yang telah mereka sebutkan. Namun, jika kita katakan bahwa janin diperhitungkan dengan bagian dari harga, maka yang tepat adalah mengembalikan sebagian harga karena adanya susu.
Bab hasil (keuntungan) dengan jaminan dan pengembalian karena cacat
قال الشافعي أخبرني من لا أتهم عن ابنِ أبي ذئبٍ عن مَخْلدِ بنِ خُفافٍ أنه ابتاع غلاماً فاستغلّهُ ثم أصابَ به عيباً فقضى له عمرُ بن عبد العزيز بردِّه وغلّتِه فأخبر عُروةُ عُمرَ عن عائشةَ أن النبي عليه السلام قضى في مثل هذا أن الخراجَ بالضمان
Asy-Syafi‘i berkata: Telah menceritakan kepadaku seseorang yang aku tidak ragukan tentangnya, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Makhlad bin Khuffaf, bahwa ia membeli seorang budak lalu memanfaatkannya, kemudian ia mendapati ada cacat pada budak itu. Maka Umar bin Abdul Aziz memutuskan agar budak itu dikembalikan beserta hasil manfaatnya. Lalu ‘Urwah memberitahu Umar dari ‘Aisyah bahwa Nabi saw. memutuskan dalam kasus seperti ini bahwa hasil manfaat (al-kharāj) menjadi hak pihak yang menanggung jaminan (al-dhamān).
فردّ عمرُ قضاءَه وقضى لمَخْلدَ بنِ خُفاف بردّ الخراجِ إلى آخر الكلام
Maka Umar menolak keputusan hakim tersebut dan memutuskan untuk Makhlad bin Khufaf agar kharaj dikembalikan, hingga akhir pembicaraan.
مقصودُ الفصلِ الكلامُ في حكمِ الزوائدِ الحاصلةِ من المبيع عند فرض اطلاع المشتري على عيبٍ قديمٍ يُثبت مثلُه الردَّ فنقولُ
Tujuan dari bagian ini adalah membahas hukum tambahan-tambahan yang muncul dari barang yang dijual ketika diasumsikan pembeli mengetahui adanya cacat lama yang sejenisnya membolehkan pengembalian barang, maka kami katakan
من اشترى شجرة فأثمرت أو شاةً فولدت أو مملوكاً فاكتسبَ فهذه الزوائد إذا تجدَّدَت على ملكِ المشتري تسمى الزوائدُ المنفصلةُ وإذا صوّر معها اطلاع المشتري على عيب قديم والمبيعُ لم يلحقه عيبٌ حادث في يد المشتري فله الردُّ بالعيب ولا تمنعه الزوائدُ من الردّ خلافاً لأبي حنيفة ثم يستبد المشتري بالزوائد فلا يردُّها ولا فرقَ بين ما حدث بعد القبض وبين ما حدث في يد البائع بعدَ لزوم المِلكِ للمشتري
Barang siapa membeli pohon lalu pohon itu berbuah, atau membeli kambing lalu kambing itu beranak, atau membeli budak lalu budak itu memperoleh penghasilan, maka tambahan-tambahan yang muncul setelah kepemilikan pembeli ini disebut sebagai “zawā’id munfashilah” (tambahan yang terpisah). Jika kemudian pembeli mengetahui adanya cacat lama pada barang yang dibeli, dan barang tersebut tidak mengalami cacat baru di tangan pembeli, maka ia berhak mengembalikan barang karena cacat tersebut, dan tambahan-tambahan itu tidak menghalanginya untuk mengembalikan barang, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Setelah itu, pembeli berhak sepenuhnya atas tambahan-tambahan tersebut dan tidak perlu mengembalikannya. Tidak ada perbedaan antara tambahan yang muncul setelah barang diterima pembeli maupun yang muncul di tangan penjual setelah kepemilikan barang menjadi milik pembeli.
والزوائدُ الحادثةُ في زمان الخيارِ قد استقصينا حُكمَها في أبواب الخيار فحاصل المذهب أن الزياداتِ المنفصلةَ متروكة على المشتري وله حق الرد فلا هو يَمنعُ الردَّ ولا يرتدُّ إلى البائع
Tambahan-tambahan yang terjadi pada masa khiyār telah kami bahas hukumnya secara rinci dalam bab-bab khiyār. Kesimpulan dari mazhab adalah bahwa tambahan-tambahan yang terpisah dibiarkan menjadi milik pembeli, dan ia tetap memiliki hak untuk mengembalikan barang, sehingga tambahan tersebut tidak menghalangi hak pengembalian dan tidak kembali kepada penjual.
وإذا كان هذا قولَنا في الزيادات المنفصلةِ فالزيادات المتصلةُ كالمنفصلة في أنها لا تمنع الردَّ ولكن تتبع المردودَ لا محالةَ ولا سبيل إلى تخليفها على المشتري وليس للزياداتِ المُتَّصلة أثرٌ ووقْعٌ إلا في الصداقِ وما يدنو منه وسأذكر فيها قولاً جامعاً إن شاء الله عز وجل
Jika ini adalah pendapat kami tentang tambahan yang terpisah, maka tambahan yang menyatu pun sama dengan yang terpisah dalam hal tidak menghalangi pengembalian, namun tambahan tersebut pasti mengikuti barang yang dikembalikan dan tidak ada jalan untuk membiarkannya tetap pada pembeli. Tambahan yang menyatu tidak memiliki pengaruh atau dampak kecuali dalam masalah mahar dan hal-hal yang serupa dengannya, dan aku akan menyebutkan pendapat yang komprehensif tentang hal ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
وإذا اشترى رجلٌ عبداً أو جاريةً واستخدمهما ثم اطلع على عيبٍ بهما فله الردُّ وانتفاعُه السابقُ قبلَ اطلاعه لا أثر له وهو بمثابة استبدادِهِ بالغلات المستفادة
Jika seseorang membeli seorang budak laki-laki atau perempuan, lalu ia mempekerjakan mereka, kemudian ia menemukan adanya cacat pada mereka, maka ia berhak mengembalikannya. Pemanfaatan yang telah ia lakukan sebelumnya sebelum mengetahui cacat tersebut tidak berpengaruh apa-apa, dan hal itu dianggap seperti ia telah menguasai hasil-hasil yang diperoleh.
ومعتمد الباب ما رواه الشافعي بإسناده عن عروةَ عن عائشةَ عن النبي عليه السلام أنه قضى بأن الخراج بالضمان ومعنى هذا اللفظ أن ما يخرج من المبيع من فائدةٍ فهو للمشتري على مقابلة كون المبيع في ضمانهِ مدة الاستغلالِ والزوائدِ فكأن الشارعَ جعل الزوائد في معارضة خطرِ الضمان عند تقدير التلف
Dasar utama bab ini adalah apa yang diriwayatkan oleh asy-Syafi‘i dengan sanadnya dari ‘Urwah dari ‘Aisyah dari Nabi ﷺ bahwa beliau memutuskan bahwa hasil (al-kharāj) menjadi milik penanggung (al-dhamān). Makna dari lafaz ini adalah bahwa segala sesuatu yang dihasilkan dari barang yang dijual berupa manfaat adalah milik pembeli, sebagai imbalan karena barang yang dijual berada dalam tanggungan risikonya selama masa pemanfaatan dan tambahan-tambahannya. Seakan-akan syariat menjadikan tambahan-tambahan itu sebagai ganti dari risiko tanggungan jika terjadi kerusakan.
هذا معنى الحديث
Ini adalah makna hadis.
ومفهومُه يشير إلى أن الزوائد للبائع إذا تجدَّدت في يد البائع؛ فإن البائعَ في عُهدة الضمان وقد ذهب إلى هذا أبو حنيفه ومذهبُ الشافعي ما قدمناه
Dan maknanya menunjukkan bahwa tambahan-tambahan bagi penjual, jika muncul atau terjadi di tangan penjual, maka penjual berada dalam tanggungan jaminan. Pendapat ini dipegang oleh Abu Hanifah, dan mazhab Syafi‘i sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya.
هذا في الزوائدِ الطارئةِ على ملكِ المشتري فأما إذا ابتاعَ جاريةً حاملاً فالقولُ فيه وفيما لو اشترى شجرة لم تؤبَّر سيأتي في فصلِ مفردٍ إن شاء اللهُ تعالى
Ini berkaitan dengan tambahan-tambahan yang muncul setelah kepemilikan pembeli. Adapun jika seseorang membeli seorang budak perempuan yang sedang hamil, maka pembahasannya, begitu pula jika membeli pohon yang belum dibuahi, akan dijelaskan pada bab tersendiri, insya Allah Ta‘ala.
وإن اشترى شجرةً فكثرت أغصانها فهي ملحقةٌ بالزيادات المتصلة وليست كالثمار ولو اشترى شجرةَ فِرْصَادِ فأورقت في يد المشتري ثم اطلع على عيب فقد اختلفَ أصحابُنا فيه فمنهم من قال الأوراق كالثمارِ التي تتجدد وتبرز في مِلك المشتري ومنهم من قال هي كالأغصان وقد ذكرتُ قريباًً من هذا في باب استتباعِ الأشجارِ الثمارَ قبل التأبير وأوراقُ سائر الأشجار ملحقةٌ بالأغصان
Jika seseorang membeli sebuah pohon lalu cabang-cabangnya bertambah banyak, maka cabang-cabang tersebut termasuk dalam kategori tambahan yang melekat dan tidak disamakan dengan buah-buahan. Jika seseorang membeli pohon firsad lalu pohon itu mengeluarkan daun di tangan pembeli kemudian ditemukan cacat pada pohon tersebut, maka para ulama kami berbeda pendapat tentang hal ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa daun-daun tersebut seperti buah-buahan yang tumbuh dan muncul dalam kepemilikan pembeli, sementara sebagian lain berpendapat bahwa daun-daun itu seperti cabang-cabang pohon. Saya telah menyebutkan hal yang serupa dengan ini dalam bab tentang keterikatan buah pada pohon sebelum proses penyerbukan. Adapun daun-daun pada pohon-pohon lainnya, maka hukumnya disamakan dengan cabang-cabang pohon.
ثم ذكر الشافعي تفصيلَ القول في وطء الجاريةِ المشتراة قبل الاطلاع على عيبها فإن كانت ثيباً فوطؤها عند الشافعي بمثابة استخدامها ولذلك وصل هذا الفصل بما قدّمه من الاستغلال والانتفاع
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan rincian pendapat tentang berhubungan badan dengan budak perempuan yang dibeli sebelum mengetahui cacatnya. Jika ia adalah seorang janda, maka berhubungan badan dengannya menurut asy-Syafi‘i sama kedudukannya dengan memanfaatkannya, oleh karena itu beliau mengaitkan pembahasan ini dengan yang telah beliau sampaikan sebelumnya tentang pemanfaatan dan pengambilan manfaat.
وإن كانت الجارية بكراً فافتضّها ثم اطلع على عيب بها فالافتضاض عيبٌ حادث في يد المشتري وسيأتي التفصيل في العيب الحادث في يد المشتري مع الاطلاع على عيبٍ قديم إن شاء الله تعالى
Jika budak perempuan itu masih perawan lalu pembeli melakukan deflorasi, kemudian ia mengetahui adanya cacat pada diri budak tersebut, maka deflorasi itu merupakan cacat yang terjadi di tangan pembeli. Rincian mengenai cacat yang terjadi di tangan pembeli bersamaan dengan diketahuinya cacat lama akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.
والذي يقتضيه الترتيبُ أن نقول إذا اشترى شيئاً ثمَّ اطلع على عيب به لم يخل إما أن لحقه تغييرٌ أو لم يلحقه فإن لم يلحقه ردّ ما أخذ كما أخذ واستردَّ الثمن
Yang dituntut oleh urutan pembahasan adalah bahwa jika seseorang membeli sesuatu, kemudian menemukan adanya cacat pada barang tersebut, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah barang itu telah mengalami perubahan atau belum. Jika belum mengalami perubahan, maka ia mengembalikan barang yang diambil sebagaimana ia mengambilnya, dan mengambil kembali harga yang telah dibayarkan.
وإن لحقَهُ تغيير لم يخل إما أن يكون زيادةً أو نقصاناً فإن كانت زيادة تنقسم إلى المتصل والمنفصل كما مضى وإن كان نقصاناً فهو العيبُ الحادث
Jika terjadi perubahan padanya, maka perubahan itu tidak lepas dari dua kemungkinan: penambahan atau pengurangan. Jika berupa penambahan, maka penambahan itu terbagi menjadi penambahan yang bersambung dan penambahan yang terpisah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Jika berupa pengurangan, maka itu adalah ‘aib (cacat) yang terjadi kemudian.
وسيأتي تفصيله إن شاء الله تعالى
Penjelasannya akan dijelaskan secara rinci nanti, insya Allah Ta‘ala.
فصل
Bab
قال ولو أصابَ المشتريان صفقةً واحدةً إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika dua orang pembeli mendapatkan satu transaksi…”
إذا اشترى رجلان عبداً من رجل ثم تبيَّن عيبٌ بالعبد فإن اتفقا على ردّه كان لهما ذلك وإن أراد أحدُهما أن ينفرد بالردّ دون صاحبه فالمنصوص عليه للشافعي في كتبه الجديدة ومعظم كتبه القديمة أن لكل واحد منهما أن ينفرد وإن لم يُساعدْه صاحبه وقال أبو حنيفه ليس لواحد منهما أن ينفرد بالرد ونقل أبو ثور قولاً للشافعي موافقاً لمذهب أبي حنيفة
Jika dua orang laki-laki membeli seorang budak dari seseorang, kemudian ternyata terdapat cacat pada budak tersebut, maka jika keduanya sepakat untuk mengembalikannya, mereka berhak melakukan itu. Namun, jika salah satu dari mereka ingin mengembalikan sendiri tanpa yang lain, maka pendapat yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam kitab-kitab barunya dan sebagian besar kitab-kitab lamanya adalah bahwa masing-masing dari keduanya boleh mengembalikan sendiri meskipun tidak didukung oleh temannya. Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh salah satu dari mereka mengembalikan sendiri. Abu Tsaur meriwayatkan satu pendapat asy-Syafi‘i yang sejalan dengan mazhab Abu Hanifah.
والتوجيه مستقصى في الخلاف ولكنا نذكر القدرَ الذي يتعلق بضبط المذهب من التوجيه
Penjelasan telah dibahas secara mendalam dalam perbedaan pendapat, namun kami akan menyebutkan kadar yang berkaitan dengan penetapan mazhab dari penjelasan tersebut.
فمن منع انفرادَ أحدهما بالرد؛ اعتمد معنيين أحدهما أنه قال العبد خرج عن ملك البائع دفعة واحدة والتبعيض عيبٌ؛ فإن نصفَ العبد لا يُشترى بما يخصُّه من الثمن لو بيع كلّه فيؤدي هذا إلى أن يخرج المبيعُ عن ملكه بعيب ويعودَ بعيبين إليه وهذا ممتنع
Maka barang siapa yang melarang salah satu dari keduanya (pembeli atau penjual) untuk melakukan pembatalan secara sepihak, ia berpegang pada dua alasan. Pertama, ia mengatakan bahwa budak tersebut keluar dari kepemilikan penjual sekaligus dalam satu waktu, sedangkan pembagian (tehadap objek jual beli) adalah cacat; karena setengah budak tidak dapat dibeli dengan bagian harga yang sepadan jika seluruhnya dijual, sehingga hal ini menyebabkan barang yang dijual keluar dari kepemilikannya dalam keadaan cacat dan kembali kepadanya dengan dua cacat, dan ini adalah hal yang tidak mungkin.
والمعنى الثاني أن الصفقة متّحدة نظراً إلى اتحاد البائع فلا سبيل إلى تفريقها في الردّ
Makna yang kedua adalah bahwa transaksi itu dianggap satu kesatuan karena penjualnya satu, sehingga tidak ada jalan untuk memisahkannya dalam hal pengembalian.
ومن قال بالقول الصحيح فمعتمَدُه أن كل واحدٍ إذا انفرد بالرد فقد ردّ ما ملك كما ملك وقد قرّرنا ذلك في الأساليب
Dan siapa yang berpendapat dengan pendapat yang benar, maka sandarannya adalah bahwa setiap orang, jika ia sendiri yang melakukan penolakan, maka ia telah menolak apa yang ia miliki sebagaimana ia memilikinya, dan hal ini telah kami jelaskan dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya.
ثم هذا القائل لا يسلِّم أن الصفقةَ متحدةٌ بل يزعمُ أنها متعددة؛ من جهة تعدُّد المشتري
Kemudian, orang yang berpendapat demikian tidak mengakui bahwa akad jual beli itu satu, melainkan menganggap bahwa akad tersebut berbilang karena adanya perbedaan pihak pembeli.
ونقول حقيقة القولين يؤول إلى التعدد والاتحاد فإن حكمنا بأنهُ يجوز لكل واحد من المشتريين الانفرادُ بالرد فهذا قضاءٌ منا بتعدّد الصفقة؛ نظراً إلى جانب المشتري وإن منعنا ذلكَ كان حكماً باتحاد الصفقة؛ اعتباراً بجانب البائع
Sebenarnya, kedua pendapat tersebut bermuara pada perbedaan antara ta‘addud (banyak) dan ittihād (kesatuan). Jika kita memutuskan bahwa masing-masing pembeli boleh secara sendiri-sendiri melakukan pembatalan, maka itu berarti kita menetapkan adanya ta‘addud akad, dengan mempertimbangkan sisi pembeli. Namun jika kita melarang hal itu, maka itu merupakan penetapan adanya ittihād akad, dengan mempertimbangkan sisi penjual.
التفريع على القولين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن جوزنا لكل واحد أن ينفرد بالردّ فلو خاطب البائع رجلين بالبيع فقال بعتُ منكما هذا العبدَ بألف فقبل أحدُهما ولم يقبل الثاني والتفريعُ على قول التعدد ففي صحة البيع إذا انفرد أحدهما بالقبول وجهان أظهرهما في القياس التصحيحُ؛ وفاءً بتعدد الصفقة وإجراءً لحكمِ الآخر على الأول رداً وقبولاً
Jika kita membolehkan masing-masing pihak untuk secara sendiri-sendiri memberikan penolakan, maka apabila penjual menawarkan kepada dua orang dengan berkata, “Aku jual kepada kalian berdua budak ini seharga seribu,” lalu salah satu dari keduanya menerima dan yang lain tidak menerima, dan ini didasarkan pada pendapat tentang adanya pluralitas (pihak), maka dalam hal keabsahan jual beli ketika salah satu dari mereka menerima secara sendiri-sendiri terdapat dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat menurut qiyās adalah membenarkan (keabsahan jual beli tersebut); sebagai bentuk pemenuhan terhadap pluralitas akad dan menerapkan hukum pihak yang satu atas pihak yang lain, baik dalam hal penolakan maupun penerimaan.
وأظهرهُما في النقل أن ذلك مُمتنِعٌ؛ فإنا وإن حكمنا بتعدد الصفقةِ فصيغة قولِ البائع تقتضي جوابَهما حتى كأنها مشروطةٌ بأن يجيباه جميعاً وهذا بمثابةِ اقتضاءِ الإيجاب الجوابَ على الفور وليس هو من حكم العقد وإنما هو من مقتضى اللفظ في مُطَرد العرفِ
Pendapat yang lebih kuat dalam riwayat adalah bahwa hal itu tidak mungkin terjadi; sebab meskipun kita memutuskan adanya dua akad, lafaz yang diucapkan oleh penjual menuntut jawaban dari keduanya, seolah-olah syaratnya adalah keduanya harus menjawab bersama-sama. Ini serupa dengan tuntutan ijab agar segera dijawab, yang bukan merupakan hukum akad itu sendiri, melainkan merupakan konsekuensi dari lafaz menurut kebiasaan yang berlaku.
وللشافعي نصٌّ في كتاب الخُلع يشهدُ لتصحيح القبول من أحدهما؛ فإنه قال إذا خالعَ زوجتَيه فقبلت إحداهما صح القبول منها ولزمها قسطٌ من البدل المسمَّى
Imam Syafi‘i memiliki sebuah nash dalam Kitab al-Khulu‘ yang menjadi bukti atas keabsahan penerimaan dari salah satu pihak; beliau berkata: Jika seseorang melakukan khulu‘ terhadap dua istrinya, lalu salah satu dari keduanya menerima, maka penerimaan dari pihak tersebut sah dan ia wajib menanggung bagian dari kompensasi yang telah disebutkan.
وإذا كان يصح هذا في الخُلع فالبيع بالصحة أولى؛ من قِبَل أن الخلعَ معاوضةٌ مشوبة بالتعليق والتعليق بصفتين يتضمن وقوف الطلاق على وجودهما جميعاً
Jika hal ini dianggap sah dalam khulu‘, maka jual beli lebih utama untuk dianggap sah; karena khulu‘ adalah suatu akad pertukaran yang tercampur dengan ta‘liq (penggantungan), dan penggantungan dengan dua sifat mengandung makna bahwa talak bergantung pada terwujudnya kedua sifat tersebut secara bersamaan.
والمعاوضةُ لا تقتضي هذا الفنَّ؛ فإن الأحكامَ والمقاصدَ عليها أغلبُ وقضايا الألفاظ على التعليقات أغلبُ
Pertukaran tidak menuntut jenis ini; sebab hukum-hukum dan tujuan-tujuan lebih dominan atasnya, sedangkan konsekuensi lafaz lebih dominan pada hal-hal yang bersyarat.
وإن فرّعنا على اتحاد الصفقة فيمتنع انفرادُ أحدهما بالرد فيما يَنقُصُه التبعيضُ فأما ما لا ينقصه التبعيضُ كذوات الأمثال فإذا اشترى رجلان صاعاً من الحِنطةِ واقتسماهُ وظهرَ عيب بالحنطةِ فهل لأحدهما الانفراد برَد نصيبه
Jika kita membangun pendapat berdasarkan kesatuan akad, maka tidak diperbolehkan salah satu dari keduanya melakukan pembatalan secara sendiri-sendiri dalam hal yang berkurang nilainya karena terbagi. Adapun terhadap sesuatu yang tidak berkurang nilainya karena terbagi, seperti barang-barang yang sejenis, maka jika dua orang membeli satu sha’ gandum lalu membaginya, kemudian ditemukan cacat pada gandum tersebut, apakah salah satu dari mereka boleh secara sendiri-sendiri mengembalikan bagiannya?
اختلف أصحابُنا فيه فمن مانعٍ ومن مجوّزٍ والخلاف مأخوذ من المعنيين المذكورين في توجيه القول فإن كان التعويل على اتحاد الصفقة فلا فرقَ بين أن يكون الشيء بحيث ينقُصه التبعيضُ أو لم يكن كذلك وإن وقع التعويل على أن التبعيض عيبٌ حادث فهذا المعنى لا يتحقق في البُرِّ وغيرهِ وكأنّ أصحاب هذا القول غيرُ متفقين في اتحاد الصفقة
Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini; ada yang melarang dan ada yang membolehkan. Perbedaan ini diambil dari dua makna yang telah disebutkan dalam penjelasan pendapat. Jika yang dijadikan sandaran adalah kesatuan akad (ittihad ash-shafqah), maka tidak ada perbedaan antara barang yang jika dibagi akan berkurang nilainya atau tidak. Namun, jika yang dijadikan sandaran adalah bahwa pembagian (tab‘īḍ) merupakan cacat yang baru muncul, maka makna ini tidak terwujud pada gandum dan sejenisnya. Seolah-olah para pengikut pendapat ini pun tidak sepakat dalam hal kesatuan akad.
ومن التفريع على هذا القول أنّا إذا منعنا أحدَهُما من الانفراد بالرد فلو أرادَ مطالبتَهُ بالأرش فهل له ذلك أم لا
Sebagai rincian dari pendapat ini, apabila kita melarang salah satu dari keduanya untuk secara mandiri melakukan tuntutan pengembalian, maka jika ia ingin menuntut ganti rugi (arsh), apakah ia berhak melakukannya atau tidak?
إن أَيِسْنَا من إمكان الردّ في نصيب صاحبه بأن أعتقهُ وكان معسراً فلم يَسْرِ العتق فقد تحقق اليأس من إمكان الرد فله الرجوعُ بالأرش؛ فإن ردّ البعض ممتنعٌ وردُّ الجميع مأيوس عنه وسيأتي تمهيدُ ذلكَ في الرجوع بالأرش
Jika kita telah putus asa dari kemungkinan pengembalian pada bagian milik rekannya karena ia telah memerdekakannya dan ia dalam keadaan tidak mampu (miskin), sehingga pemerdekaan itu tidak berlaku secara menyeluruh, maka telah nyata keputusasaan dari kemungkinan pengembalian, sehingga ia berhak kembali menuntut ganti rugi (arasy); karena pengembalian sebagian tidak mungkin, dan pengembalian seluruhnya pun telah mustahil. Penjelasan mengenai hal ini akan dijelaskan pada pembahasan tentang kembali menuntut ganti rugi (arasy).
وإن لم يُعتِق ولم يأت بما يزيل المِلك بالكلية فلا يخلو إما أن يرضى بالعيب ويُسقِط حقَّ نفسه من الرَّد وإما ألاَّ يرضى ولا يسقطَ ولكن امتنع الردُّ منه لغيبةٍ أو ما في معناها
Jika ia tidak memerdekakan dan tidak melakukan sesuatu yang menghilangkan kepemilikan secara keseluruhan, maka tidak lepas dari dua kemungkinan: ia rela dengan cacat tersebut dan menggugurkan hak dirinya untuk mengembalikan, atau ia tidak rela dan tidak menggugurkan haknya, tetapi pengembalian itu terhalang karena ketidakhadiran atau hal lain yang semakna dengannya.
فإن أسْقط حق الرد فهل للذي لم يُسقط حقهُ الرجوعُ بالأرش أم لا ذكر أصحابُنا وجهين نسردهما ثم نذكر حقيقتَهما أحدُهما أنه يملك المطالبةَ بالأرش؛ فإن الاجتماعَ على الرد منهما غيرُ ممكنٍ بعدما أَسقط أحدهما حقّه
Jika salah satu dari mereka menggugurkan hak untuk mengembalikan, apakah yang tidak menggugurkan haknya masih berhak menuntut arsy atau tidak? Para ulama kami menyebutkan dua pendapat; kami akan menguraikannya, lalu menjelaskan hakikatnya. Salah satu pendapat menyatakan bahwa ia berhak menuntut arsy, karena kesepakatan untuk mengembalikan dari keduanya tidak mungkin dilakukan setelah salah satu dari mereka menggugurkan haknya.
والوجه الثاني أنه لا يرجع بالأرش لأن الرَّدَّ ممكن بأن يملّكَ ذلك النصفَ باتّهابٍ أو ابتياعٍ أو غيرِهما وإذا ملكه فيضمُّ ما ملكه إلى ما اشتراه ويردُّ الجميعَ ويرجعُ بنصف الثمن ويكون النصفُ المضمومُ إلى نصفه الذي اشتراه مؤنةً عليه يدرأ بها عيبَ التبعيض ويلزم البائعَ قبولُه كما يلزمُ قبولُ النعل
Alasan kedua adalah bahwa tidak boleh kembali dengan arsy (ganti rugi) karena pengembalian masih memungkinkan, yaitu dengan cara memiliki setengah bagian tersebut melalui hibah, pembelian, atau cara lainnya. Jika ia telah memilikinya, maka ia menggabungkan bagian yang dimilikinya dengan bagian yang dibelinya, lalu mengembalikan semuanya dan menuntut kembali setengah dari harga. Bagian yang digabungkan dengan bagian yang dibelinya itu menjadi tanggungannya, yang dengannya ia menutupi cacat akibat pemisahan (tab‘īḍ), dan penjual wajib menerimanya sebagaimana ia wajib menerima sandal.
وإذا كان ذلك ممكناً فتوقعه يمنع المطالبةَ بالأرش
Jika hal itu memungkinkan, maka kemungkinan terjadinya mencegah tuntutan atas arsy.
ونحن نقول أما الإجبار على قبول النعل فهو صحيح وكان تفصيلُه محالاً على هذا الباب وسيأتي إن شاء اللهُ تعالى
Kami katakan, adapun pemaksaan untuk menerima sandal itu memang benar, dan perinciannya dikaitkan dengan pembahasan pada bab ini, dan akan dijelaskan nanti insya Allah Ta‘ala.
وأما إلزامُ البائِع قبولَ نصفٍ لم يبعه من هذا الشخص فليس يشابهُ النَعل؛ من جهةِ أن النعل تَبَعٌ
Adapun mewajibkan penjual untuk menerima setengah yang tidak ia jual dari orang ini, maka hal itu tidak serupa dengan sandal; karena sandal merupakan bagian yang mengikuti.
وقد اختلف أصحابُنا في هذا النوع وهو كاختلافهم في أن من باع ثمرة على رؤوس الأشجار فتَجَدّدت للبائع ثمارٌ واختلطت بالمبيع فلو وَهَب تلك الثمارَ من المشتري فهل يُجبر المشتري على القبُول فيه وجهان والأقيسُ عندي أن لا يُجبر على القبول؛ فإن تطويق الإنسان مِنَّة في أمر مقصودٍ ليندفعَ به حقٌّ له ثابت بعيدٌ من الجواز
Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah jenis ini, sebagaimana perbedaan mereka dalam kasus seseorang yang menjual buah-buahan yang masih di atas pohon, lalu tumbuh lagi buah-buahan baru milik penjual dan bercampur dengan buah yang dijual. Jika penjual tersebut menghadiahkan buah-buahan itu kepada pembeli, apakah pembeli wajib menerima hadiah tersebut? Ada dua pendapat. Pendapat yang lebih kuat menurut saya adalah pembeli tidak wajib menerima hadiah itu; sebab memaksa seseorang untuk menerima suatu pemberian dalam perkara yang dimaksudkan agar haknya yang tetap menjadi gugur, adalah jauh dari kebolehan.
فإذا ثبت ذلك عُدنا إلى غَرضِنا فإن كنا لا نلزم البائعَ قبُولَ ذلك النصف فلو قالَ البائع فأنا أقبلُه قُلنا لا حكم لتمليكك إيّاهُ عند هذا القائل قبلت أو أبيت فيثبت إذاً الرجوعُ بالأرش
Jika hal itu telah ditetapkan, kita kembali kepada tujuan kita. Jika kita tidak mewajibkan penjual untuk menerima setengah tersebut, lalu penjual berkata, “Saya menerimanya,” maka kami katakan: tidak ada ketentuan atas kepemilikanmu terhadapnya menurut pendapat ini, baik kamu menerima maupun menolak. Maka yang berlaku adalah kembali kepada arsy.
وإن قلنا لو رجع النصف وضمّه إلى ما اشتراه أُجبر البائعُ على قبولهِ فهل يمتنع حَقُّه من الأرش لذلك فعلى وجهين أصحّهُما أنه لا يمتنع؛ فإنَّ توقعَ العود بعيدٌ وتكليفه التمليكَ أبعدُ منه وليس ذلك العائد مما يملكه بالابتياع من بائعه؛ فإبطال حقُّ ناجزٍ له لتوقع ما ذكرناه لا وجه له وإذا غابَ صاحبُه ولم يبطل حقّه فقد ذكر صاحب التقريب وجهين في أنه هل يرجع بالأرش للحيلولة الناجزة ونظائرُ ذلك كثيرة
Jika kita mengatakan bahwa jika separuhnya kembali dan digabungkan dengan apa yang telah dibeli, maka penjual dipaksa untuk menerimanya, apakah haknya atas arsy (ganti rugi) menjadi gugur karena hal itu? Ada dua pendapat, yang paling sahih adalah bahwa hak tersebut tidak gugur; karena kemungkinan kembalinya sangat kecil dan membebani penjual untuk melakukan pemilikan lebih jauh dari itu. Selain itu, barang yang kembali tersebut bukanlah sesuatu yang dimilikinya melalui pembelian dari penjualnya; maka menggugurkan hak yang sudah nyata baginya hanya karena kemungkinan yang telah disebutkan tidaklah beralasan. Jika pemiliknya tidak ada dan haknya tidak gugur, maka penulis kitab at-Taqrib menyebutkan dua pendapat tentang apakah ia berhak mendapatkan arsy karena adanya penghalang yang nyata, dan kasus serupa dengan ini sangat banyak.
ثم يتفرعُ عليه إذا أمكن الردُّ بالمُساعدة ردّ الأرش والرجوع إلى الرد على خلافٍ للأصحاب في أمثاله معروف ثم حيث أثبتنا له الرجوعَ إلى الأرش ففي كيفيتهِ كلام سنصفهُ في الأصول التي نمهّدها
Kemudian, dari situ bercabang bahwa jika memungkinkan untuk mengembalikan dengan bantuan, maka pengembalian arsy dan hak untuk kembali kepada pengembalian itu terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ashhab dalam kasus-kasus serupa yang sudah dikenal. Selanjutnya, apabila kami menetapkan baginya hak untuk kembali kepada arsy, maka mengenai caranya terdapat pembahasan yang akan kami jelaskan dalam ushul yang akan kami susun.
فإن قيل إذا جوّزتم لأحدهما الانفرادَ بالرد على القول المشهور فهل تُلزمونهُ أن يضم أرشَ نقصِ التبعيض إلى ما يرده قلنا لا فإنا لو سَلّمنَا كونَ التبعيض عيباً حادثاً لكُنَّا مسلِّمين قاعدةَ المسألة ومعتمد القول المشهور النظرُ إلى ما تَملّكَه من البائع وكل واحدٍ لم يتملك منه إلا البعضَ وقَدْ ردَّ ما ملكه فإن قيل الإضرار بالبائع على كل حالٍ من غير جُبرانٍ لا وجه له قُلنا هو الذي أضرَّ بنفسه؛ إذ ملّك الشخصين بعضين
Jika dikatakan: Jika kalian membolehkan salah satu dari keduanya untuk sendirian mengembalikan barang atas dasar pendapat yang masyhur, apakah kalian mewajibkan kepadanya untuk menambahkan kompensasi atas kekurangan akibat pembagian kepada apa yang dikembalikannya? Kami katakan: Tidak, karena jika kami menerima bahwa pembagian itu merupakan cacat yang baru terjadi, maka kami juga menerima kaidah permasalahan ini, dan dasar pendapat yang masyhur adalah melihat kepada apa yang dimiliki dari penjual, dan masing-masing dari keduanya tidak memiliki dari penjual kecuali sebagian, dan ia telah mengembalikan apa yang dimilikinya. Jika dikatakan: Menimbulkan kerugian bagi penjual dalam segala keadaan tanpa kompensasi tidaklah beralasan, kami katakan: Justru penjual sendirilah yang menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri, karena ia telah menjual kepada dua orang sebagian-sebagian.
ومن تمام البيان أنا إذا حكمنا بتعدد الصفقة على القول الصحيح فإذا وفَّر أحد المشتريَيْن حصتَه من الثمن وجب على البائع أن يُسلّم إليه قسطه من المبيع كما يسلمُ الشائعَ
Sebagai penjelasan yang sempurna, apabila kita memutuskan adanya lebih dari satu transaksi menurut pendapat yang benar, maka jika salah satu dari dua pembeli telah melunasi bagiannya dari harga, wajib bagi penjual untuk menyerahkan bagian barang yang menjadi haknya, sebagaimana penyerahan terhadap barang yang dimiliki secara bersama (syuyu‘).
وإذا حكمنا باتحاد الصفقةِ فلا يجب على البائع تسليمُ شيء من المبيع إلى أحدهما وإن وفر الثمن حتى يوفر الثاني حصته أيضاًً وهذا القائل يجعل المشتريَيْن كالمشتري الواحد وإن اشترى رجل عبداً ووفر معظمَ الثمن لم يملك مطالبةَ البائع بتسليم شيء من المثمن إليه إذا أثبتنا للبائع حقَّ حبس المبيع وكذلك إذا اتحد العاقدُ من كل جانبٍ وكان المبيع قابلاً للقسمة فلو وفَّر المشتري بعضَ الثمن وطالبَ بتسليم بعض المثمن فالمذهب الظاهر أن للبائع ألا يجيبَهُ ويديمَ حبس المبيع بكماله ما بقي من الثمن شيء قياساً على الرهن؛ فإنه لا ينفك ما بقي من الدَّيْن شيء
Jika kita memutuskan bahwa akad tersebut adalah satu kesatuan, maka penjual tidak wajib menyerahkan sebagian barang yang dijual kepada salah satu dari keduanya meskipun ia telah melunasi harga, sampai yang kedua juga melunasi bagiannya. Pendapat ini menganggap dua pembeli seperti satu pembeli. Jika seseorang membeli seorang budak dan telah melunasi sebagian besar harga, ia tidak berhak menuntut penjual untuk menyerahkan sebagian barang yang dibeli kepadanya jika kita menetapkan hak penjual untuk menahan barang. Demikian pula, jika pihak yang berakad dari masing-masing sisi hanya satu dan barang yang dijual dapat dibagi, lalu pembeli melunasi sebagian harga dan menuntut penyerahan sebagian barang, maka pendapat yang kuat adalah penjual berhak untuk tidak memenuhi permintaannya dan tetap menahan seluruh barang selama masih ada sisa harga yang belum dibayar, berdasarkan qiyās dengan rahn (gadai); karena barang gadai tidak akan lepas selama masih ada sisa utang.
وأبعد بعضُ أصحابنا فأوجب إجابة المشتري إلى تسليم بعض المبيع على قدر ما سلّمَه من الثمن وصار إلى أن حكمَ الثمن التوزّع على المثمن هذا موجَب المعاوضة فليثبت الحبس على موجَب التوزّع وليسَ بين الدَّينِ والرهنِ مقابلة العوضَين
Sebagian ulama kami berpendapat lebih jauh dengan mewajibkan penjual untuk memenuhi permintaan pembeli agar menyerahkan sebagian barang yang dibeli sesuai dengan bagian harga yang telah dibayarkan, dan mereka berpendapat bahwa hukum harga adalah terbagi pada barang yang menjadi objek jual beli. Inilah konsekuensi dari akad mu‘āwadah (pertukaran), maka hak menahan barang pun berlaku sesuai dengan pembagian tersebut. Tidak ada hubungan timbal balik antara utang dan rahn (gadai) sebagai dua objek pertukaran.
وهذا وإن كان منقاساً من وجهٍ فالمذهبُ الأولُ
Dan meskipun hal ini dapat diqiyaskan dari satu sisi, namun mazhab yang pertama lebih kuat.
ثم ذكر الأصحابُ هذا فيما يقبل القسمةَ وامتنعُوا منه في العَبدِ وغَيرهِ مما لا ينقسم والسبب فيه أنا لو أوجبنا تسليم بعضٍ من هذه الأشياء اضطرَّ البائع إلى تسليم الجميع على مناوبةٍ ومهايأة؛ إذْ تسليمُ المشاع لا يتأتّى إلا كذلك وحق الحبس ضعيفٌ لا يحتمل هذا المعنى؛ ولهذا قطع الأصحاب بأن المرتهن لو رد الرهنَ إلى يد الراهن ولم يرفع الرهنَ فالرهن باقٍ على لزومه ولو أعاد البائع المبيعَ من المشتري فهل يبطل حقّه من الحبس فيه اختلاف بين الأصحاب معروف والفارق أن حق الرهن وثيقةٌ مقصودة بعقدٍ وحق الحبس ظاهرٌ بدون ترتيب في تسلّمٍ وتسليم
Kemudian para ulama mazhab menyebutkan hal ini pada perkara yang dapat dibagi, dan mereka tidak membolehkannya pada budak dan selainnya dari hal-hal yang tidak dapat dibagi. Sebabnya adalah, jika kami mewajibkan penyerahan sebagian dari benda-benda ini, maka penjual akan dipaksa untuk menyerahkan semuanya secara bergiliran dan bergantian; karena penyerahan bagian bersama (musya‘) tidak dapat dilakukan kecuali dengan cara demikian, sedangkan hak menahan (haq al-habs) itu lemah dan tidak dapat menanggung makna seperti ini. Oleh karena itu, para ulama mazhab menegaskan bahwa jika pemegang gadai (murtahin) mengembalikan barang gadai ke tangan pemberi gadai (rahin) dan tidak mengangkat gadai tersebut, maka gadai tetap berlaku dan mengikat. Jika penjual mengembalikan barang yang dijual dari pembeli, apakah gugur haknya untuk menahan barang tersebut, terdapat perbedaan pendapat yang dikenal di kalangan ulama mazhab. Perbedaannya adalah bahwa hak gadai merupakan jaminan yang dimaksudkan dengan akad, sedangkan hak menahan (haq al-habs) bersifat lahiriah tanpa adanya urutan dalam menerima dan menyerahkan.
وممَّا يتصل بذلك أنهُ إذا اشترى رجلٌ من رجلٍ عبداً ثم مات المشتري وخلَّف ابنين واطلعا على عيب قديم بالعبد فليس لأحدهما الانفرادُ برَدّ حصتهِ؛
Terkait dengan hal itu, apabila seorang laki-laki membeli seorang budak dari orang lain, kemudian si pembeli meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak laki-laki, lalu keduanya mengetahui adanya cacat lama pada budak tersebut, maka tidak boleh salah satu dari mereka secara sendiri-sendiri mengembalikan bagiannya.
فإن الملك تفرَّق عليهما إرثاً والعقد في أصله وقع على الاتحاد والاعتبارُ بما وقعَ العقد عليهِ لا بما أفضى حكمُ التوريث إليه
Karena kepemilikan harta itu terbagi kepada keduanya melalui warisan, sedangkan akad pada dasarnya terjadi atas dasar kesatuan, dan yang menjadi pertimbangan adalah apa yang menjadi objek akad, bukan pada apa yang dihasilkan oleh hukum waris.
ولو اشترى رجل من رجلين عبداً فلا خلاف أن الصفقةَ متعدّدةٌ في حكم الرَّدّ فإذا اطّلَع المشتري على عيب قديمِ تخيَّر فإن أحبَّ ردَّ عليهما وإن أراد أن يرد نصيب أحدهما عليه ويمسكَ نصيبَ الآخر فله ذلك ولا خلاف أنهما إذا أنشآ البيعَ في العبد المشترك بينهُما فقبِل المخاطبُ الواحدُ البيعَ في حصةِ أحدهما صح ذلك
Jika seorang laki-laki membeli seorang budak dari dua orang, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa transaksi tersebut dianggap sebagai beberapa transaksi dalam hal pengembalian. Jika pembeli mengetahui adanya cacat lama, ia boleh memilih; jika ia mau, ia dapat mengembalikan kepada keduanya, dan jika ia ingin mengembalikan bagian salah satu dari mereka dan tetap memegang bagian yang lain, maka itu boleh baginya. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika keduanya melakukan akad jual pada budak yang mereka miliki bersama, lalu satu orang yang diajak bicara menerima jual beli pada bagian salah satu dari mereka, maka hal itu sah.
ولو وكّل رجلان رجلاً حتى يشتري لهما عبداً من رجل أو وكّل رجلانِ رجلاً حتى يبيع عبداً مشتركاً بينهُما من رجل وقد صَحَّ تفصيل القول في أن الصفقة تتعدَّد في حكم الرَّدّ بتعدد البائع وفي تَعدُّدِها بتعدد المشتري القولان والتفصيل فإذا تعدَّد الموكِّل من أحد الجانبين واتّحَدَ الوكيل فحاصل ما قالهُ الأصحابُ ثلاثةُ أوجهٍ أحدُها أن الاعتبارَ بالمُوكِّل من الجانبين؛ فإنه الأصلُ وإليه المصيرُ أمّا الموكِّل بالشراء فهو المالكُ دون الوكيل فإذا وكَّل رجلان رجلاً بالشراء اقتضى العقد تثبيت الملك للموكّلَيْن مبعّضاً كما لو توَلّيا الشراء بأنفُسِهما والتعويل على ما يقع عليه مقتضى العقد وإن وكل رجلان رجلاً بالبيع فالمبيع يخرج عن أملاكِ البائعَيْن وما قدرناه من اتحاد الوكيل لا أثرَ له في مقتضى العقد؛ فإن عبارة الوكيل مستعارةٌ وكان وكيل الرجلين ناطق بلسانين
Jika dua orang laki-laki mewakilkan kepada seseorang agar membeli untuk mereka berdua seorang budak dari seseorang, atau dua orang laki-laki mewakilkan kepada seseorang agar menjual seorang budak yang dimiliki bersama oleh mereka berdua kepada seseorang, maka telah sah penjelasan mengenai bahwa transaksi menjadi lebih dari satu dalam hukum pengembalian (radd) karena berbilangnya penjual, dan dalam berbilangnya transaksi karena berbilangnya pembeli terdapat dua pendapat dan penjelasan. Jika yang mewakilkan berbilang dari salah satu pihak dan wakilnya satu, maka inti dari apa yang dikatakan para ulama ada tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa yang menjadi pertimbangan adalah para muwakkil dari kedua belah pihak; karena merekalah yang menjadi pokok dan kepada merekalah kembali urusan. Adapun muwakkil dalam pembelian adalah pemilik, bukan wakil. Jika dua orang mewakilkan kepada seseorang untuk membeli, maka akad tersebut menetapkan kepemilikan bagi kedua muwakkil secara terbagi, sebagaimana jika mereka berdua melakukan pembelian sendiri. Yang menjadi pegangan adalah apa yang menjadi konsekuensi akad. Jika dua orang mewakilkan kepada seseorang untuk menjual, maka barang yang dijual keluar dari kepemilikan kedua penjual. Apa yang kami anggap dari kesatuan wakil tidak berpengaruh terhadap konsekuensi akad; karena ucapan wakil hanyalah pinjaman, dan wakil dari dua orang itu berbicara dengan dua bahasa.
والوجه الثاني أن الاعتبار بالوكيل لأنهُ المتعاطي للعقد وانقسامُ الملك على الموكِّلَيْن إزالة وجلباً بمثابةِ انقسامِ المبيع على الوارثين وكان المشتري واحداً
Pendapat kedua adalah bahwa yang menjadi acuan adalah wakil, karena dialah yang melakukan akad, dan pembagian kepemilikan kepada dua orang yang mewakilkan merupakan penghilangan dan penarikan (hak) yang serupa dengan pembagian barang yang dijual kepada para ahli waris, sementara pembelinya satu orang.
والوجه الثالث أنا نفصِّل بين جانب المشتري وجانب البائع فنقول الاعتبارُ في جانب البائع بالموكِّل وفي جانب المشتري بالوكيل وهذا اختيار أبي إسحاق المروزي والفاصلُ عنده بين الجانبين أن الوكيل في جانب البائع لا استقلال له أصلاً ولو مال العقد عن مُوجَب إذن الموكِّل بالبيع لفسد العقد ثم لم نجد نفاذاً
Adapun sisi yang ketiga, kami merinci antara pihak pembeli dan pihak penjual. Kami katakan bahwa yang menjadi acuan pada pihak penjual adalah muwakkil (pemberi kuasa), sedangkan pada pihak pembeli adalah wakil (penerima kuasa). Inilah pendapat yang dipilih oleh Abu Ishaq al-Marwazi. Pembeda menurut beliau antara kedua sisi tersebut adalah bahwa wakil pada pihak penjual sama sekali tidak memiliki kemandirian; jika akad menyimpang dari apa yang diizinkan oleh muwakkil dalam penjualan, maka akad tersebut menjadi batal, dan kami tidak menemukan adanya keberlakuan (akad tersebut).
وليس كذلك الوكيل بالشراء؛ فإنه قد يقرب ممن يتأصَّل وإذا لم يجد الشراءُ نفاذاً على الموكِّل به فقد ينفذ على الوكيل إذا كان العقدُ وارِداً على الذمَّة
Tidak demikian halnya dengan wakil dalam pembelian; karena ia bisa jadi lebih dekat dengan orang yang memiliki harta sendiri. Dan apabila pembelian tersebut tidak berlaku atas pihak yang mewakilkan, maka bisa saja berlaku atas wakil jika akad tersebut ditujukan kepada tanggungan (dzimmah) wakil.
وهذا الفصل عندنا إنما يستقيم في التوكيل بالشراء في الذمّة فأما إذا وكل رجلٌ رجلاً حتى يشتري له عبداً بثوب معيّنٍ عيَّنه فالوكيل في هذا المقام بمثابةِ وكيل البائع لا شك فيه
Bab ini menurut kami hanya berlaku dalam hal mewakilkan pembelian secara tanggungan (dzimmah). Adapun jika seseorang mewakilkan orang lain untuk membeli seorang budak untuknya dengan kain tertentu yang telah ditentukan, maka dalam hal ini, wakil tersebut posisinya seperti wakil penjual, tidak diragukan lagi.
ثم ما ذكرناه من اختلاف الأصحاب في اعتبار الوكيل والموكِّل يجري في صُورتين إحداهما أن يتّحد الوكيل ويتعدَّد الموكّل والأخرى أن يتعدَّد الوكيل العاقد ويتّحدَ الموكِّل فالخلاف جارٍ في الموضعين كما بَيّنا
Kemudian, apa yang telah kami sebutkan tentang perbedaan pendapat para sahabat dalam mempertimbangkan status wakil dan muwakkil berlaku dalam dua situasi: pertama, jika wakilnya satu dan muwakkilnya lebih dari satu; kedua, jika yang melakukan akad adalah beberapa wakil sedangkan muwakkilnya satu. Maka perbedaan pendapat itu berlaku pada kedua keadaan tersebut sebagaimana telah kami jelaskan.
فصل
Bab
قال ولو اشتراها جَعْدةً فوجدها سبْطةً إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika ia membelinya dalam keadaan rambutnya keriting, lalu ternyata ia mendapatkannya berambut lurus,” dan seterusnya.
معظمُ المقصود من هذا الباب الكلامُ في الرد بالعيب وما يتَّصل به ويشابهه وتفصيلُ القول فيما يتعذّر به الرد وحقيقةُ الأرش والرجُوعُ به وبيانُ مواقع الوفاق والخلاف في هذه الأحكام
Sebagian besar tujuan dari bab ini adalah pembahasan tentang pengembalian barang karena cacat dan hal-hal yang berkaitan serta serupa dengannya, penjelasan rinci mengenai alasan-alasan yang menyebabkan pengembalian tidak dapat dilakukan, hakikat arsy (ganti rugi), cara menuntutnya, serta penjelasan tentang titik-titik kesepakatan dan perbedaan pendapat dalam hukum-hukum ini.
ونحن قد التزمنا الجريانَ على ترتيب المختصر في الأبواب والمسائل فإن اقتضى في بعض المواضع تقديمَ مؤخر وتأخيرَ مقدَّم حتى يلقَى الناظرُ المقاصدَ مجموعةً سهل احتمال هذا
Kami telah berkomitmen untuk mengikuti urutan ringkasan ini dalam bab-bab dan permasalahan, namun jika pada beberapa tempat diperlukan mendahulukan yang seharusnya diakhirkan atau mengakhirkan yang seharusnya didahulukan agar pembaca dapat menemukan tujuan-tujuan secara terkumpul, maka hal ini mudah untuk diterima.
فالذي نرى أن نذكره تفصيلُ القول فيما يكون عيباً ثم التفصيل فيما يتعلق حقُّ الردّ فيه بالشرط وتقدير الخُلف فيه ثم نصف بعدها الحكمَ بتيسُّر الرد ثم نذكر وراءه الأسبابَ التي يتعذر الرد بها
Menurut pendapat kami, yang perlu kami sebutkan adalah penjelasan rinci mengenai hal-hal yang dianggap sebagai cacat, kemudian penjelasan rinci mengenai perkara yang hak khiyār untuk mengembalikan barang bergantung pada syarat dan kemungkinan adanya perbedaan pendapat di dalamnya. Setelah itu, kami akan menjelaskan hukum terkait kemudahan dalam mengembalikan barang, lalu kami sebutkan pula sebab-sebab yang menyebabkan pengembalian barang menjadi sulit.
القول في العيب
Pembahasan tentang cacat
فأما القول في العَيب فالجامع له أن كل ما ينقُص من العَيْن تنقيصاً يخالف المعتادَ في جنسه فهو عيبٌ وإن كان لا يؤثر في نقصانِ القيمةِ بل قد يؤثر في زيادتها وهذا كالخَصْي فمن اشترى عبداً ثم بان أنه خَصِيّ ردّه بالعيب وكل ما يؤثر في تنقيص القيمة عن المعتاد في الجنس فهو عيب وإن لم يكن نقصانَ جزءٍ بل قد يكون زيادةً مثل أن يشتري مملوكاً ثم يطلع منه على إصبعٍ زائدة ونقصانُ القيمة قد يرجع إلى نقصان الصفات كما أن زيادة القيمة قد ترجع إلى زيادة الصفات فالعبد الكاتب يشترى بأكثرَ مما يشترى به الأمّي والعبد العفيف يُشترَى بأكثر مما يُشترَى به الزاني وكذلك القول في الأمين والسارق والخَوَّان
Adapun pembahasan tentang cacat, maka kaidah umumnya adalah bahwa segala sesuatu yang mengurangi kondisi fisik secara tidak lazim menurut kebiasaan jenisnya, maka itu disebut cacat, meskipun tidak berpengaruh pada penurunan nilai, bahkan terkadang justru menambah nilainya. Contohnya adalah kastrasi; jika seseorang membeli seorang budak lalu ternyata budak itu telah dikebiri, maka ia boleh mengembalikannya karena cacat. Segala sesuatu yang menyebabkan penurunan nilai dari kebiasaan jenisnya juga termasuk cacat, meskipun bukan berupa kekurangan anggota, bahkan terkadang berupa kelebihan, seperti seseorang membeli budak lalu diketahui memiliki jari tambahan. Penurunan nilai bisa disebabkan oleh berkurangnya sifat, sebagaimana peningkatan nilai juga bisa disebabkan oleh bertambahnya sifat. Misalnya, budak yang pandai menulis dibeli dengan harga lebih mahal daripada budak yang buta huruf, dan budak yang menjaga kehormatan dibeli dengan harga lebih mahal daripada budak pezina. Demikian pula halnya dengan budak yang amanah dibandingkan dengan budak pencuri atau pengkhianat.
ولا يمكننا أن نقول كل صفةٍ تُفقد فهي ملحقة بالعيوب حتى يثبت الخيارُ بفَقدِها من العقود وتفاوت القيم معَ الصفاتِ نِسَبٌ فكيف الضبط في ذلك
Kita tidak dapat mengatakan bahwa setiap sifat yang hilang itu disamakan dengan cacat sehingga hak khiyar menjadi tetap karena hilangnya sifat tersebut dalam akad, sebab perbedaan nilai dengan adanya sifat-sifat itu bersifat relatif, lalu bagaimana cara menetapkan batasannya dalam hal ini?
الوجه أن نقول النقائص المذمومة معلومةٌ فإذا كان الشيء نقيصةً مذمومة والعادةُ غالبةٌ في اطراد ضدّها فتلك النقيصة إذا نقصت العينَ أو القيمةَ فهي عيب
Pendekatannya adalah dengan mengatakan bahwa kekurangan-kekurangan yang tercela itu sudah diketahui. Maka, apabila sesuatu merupakan kekurangan yang tercela dan kebiasaan yang berlaku adalah lawannya yang terus-menerus, maka kekurangan tersebut, jika mengurangi zat barang atau nilainya, maka itu adalah ‘aib.
وكل صفة لو وُجدت لكانت فضيلةً ولكن لا يعُمّ وجودُها وعدمُها لا ينتهي القول فيه إلى الذم فانعدام هذا الضَّرب لا يلتحقُ بالعيوب
Setiap sifat yang jika ada akan menjadi keutamaan, namun keberadaannya dan ketiadaannya tidak bersifat umum, maka pembicaraan tentangnya tidak berujung pada celaan; sebab ketiadaan jenis sifat ini tidak termasuk ke dalam cacat.
فالوجه أن نتخذ ما ذكرناه معتبراً وتتميَّز عن مقتضاه الخيانةُ والزنا والسرقةُ عن عدم الكتابة والاحتراف وغيرهما
Maka yang tepat adalah kita menjadikan apa yang telah kami sebutkan sebagai acuan, dan perbuatan khianat, zina, serta pencurian dapat dibedakan dari tidak menulis, tidak memiliki keahlian, dan selainnya, berdasarkan ketentuan tersebut.
ومما يجب الإحاطة به أن مبنَى العيوب على أنها تُثبت حقَّ الرَّد للمطلع عليها في العقد المطلق وقد يَشِذُّ عن هذا الأصل واحدٌ وهو أن الافتراع في حكم التعييب بدليل أنا نجعل افتراعَ المشتري مع اطّلاعه على عيبٍ قديمٍ في التفصيل بمثابة عيب حادثٍ ينضم إلى الاطلاع على العيب القديم
Hal yang perlu diketahui adalah bahwa dasar dari cacat (dalam transaksi) adalah bahwa cacat tersebut menetapkan hak untuk mengembalikan barang bagi pihak yang mengetahui cacat itu dalam akad yang bersifat mutlak. Namun, terkadang ada satu pengecualian dari kaidah ini, yaitu bahwa tindakan membuka (membuka kemaluan hewan, misalnya) dianggap sebagai cacat. Ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa jika pembeli melakukan tindakan membuka tersebut sementara ia telah mengetahui adanya cacat lama secara rinci, maka tindakan membuka itu diperlakukan sebagai cacat baru yang bergabung dengan pengetahuan tentang cacat lama.
ثم لو اشترى رجل جارية فكانت ثيباً مفترَعةً لم نجعل الثيابةَ عيباً مثبتاً للرد في مطلق العقد والسبب فيه أن البكارة ليست صفةً غالبةً في العادة والجواري منقسمات إلى الثيبات والأبكار والثُيَّب أكثر فلا يرتبط الظن بالبكارة نظراً إلى غالب الحال حَسَب ارتباط الظن بالسلامة من العيوب فإزالة البكارة تنقيصٌ وليست البكارة مستحقَةً بمطلق العقدِ
Kemudian, jika seorang laki-laki membeli seorang budak perempuan, lalu ternyata ia adalah seorang janda yang sudah tidak perawan lagi, maka kami tidak menganggap status janda tersebut sebagai cacat yang dapat dijadikan alasan untuk membatalkan akad secara mutlak. Sebabnya adalah karena keperawanan bukanlah sifat yang dominan secara kebiasaan; para budak perempuan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu yang sudah tidak perawan dan yang masih perawan, dan yang sudah tidak perawan jumlahnya lebih banyak. Maka, dugaan terhadap keperawanan tidak dapat dihubungkan dengan keadaan yang umumnya berlaku, sebagaimana dugaan terhadap keselamatan dari cacat. Hilangnya keperawanan memang merupakan suatu kekurangan, tetapi keperawanan itu sendiri tidak menjadi hak yang dituntut dalam setiap akad secara mutlak.
ثم ما ذكرنا من أن نقصان العين على المعتاد في الجنس عيبٌ جارٍ ولكنهُ مشروط بأن يفوت بفوات ذلك النقص غرضٌ ماليٌ أو غيرُ مالي فلو اشترى الرجل عبداً ثم تبين له أنهُ قد قُطعت فلقة من لحمةِ ساقه ولم يكن لذلك أثرٌ في غرض ولا ماليّةٍ فهذا ليس بعيب
Kemudian, apa yang telah kami sebutkan bahwa kekurangan pada fisik yang tidak lazim dalam jenisnya merupakan ‘aib yang berlaku, namun hal itu disyaratkan apabila dengan hilangnya kekurangan tersebut juga hilang tujuan, baik tujuan materiil maupun non-materiil. Maka, jika seseorang membeli seorang budak lalu ternyata diketahui bahwa sebagian daging betisnya telah terpotong, namun hal itu tidak berpengaruh pada tujuan ataupun nilai materiil, maka hal tersebut bukanlah ‘aib.
وقد ذكرت لصاحب التقريب تفصيلاً في الشاة إذا وجد مشتريها على أذنها قطعاً قال إن كان لا يمنعُ من الإجزاء في الضحايا فليس بعيب وإن كان مانعاً فهو عيب
Saya telah menjelaskan kepada penulis kitab at-Taqrīb secara rinci mengenai kambing yang ditemukan pembelinya dengan telinganya terpotong, bahwa jika hal itu tidak menghalangi keabsahan dalam kurban, maka itu bukanlah cacat; namun jika menghalangi, maka itu adalah cacat.
والخصاءُ الذي ذكرناه في المملوك إن لم يؤثر في المالية فهو مؤثر في أغراضٍ ظاهرةٍ
Dan kebiri yang telah kami sebutkan pada budak, jika tidak berpengaruh pada nilai finansialnya, maka hal itu berpengaruh pada tujuan-tujuan yang jelas.
ثم ألحق أئمتنا بما مهدناه صوراً فيها خلافٌ مع بعض العلماء فالعبد الزنّاءُ معيبٌ مردود كالجارية إذا كانت مساحقةً خلافاً لأبي حنيفة فإنه لم يجعل اعتياد الزنا من العبد عيباً والبَخَر والبول في الفراش عيبان في الجنسين وأبو حنيفة جعلهما عيباً في الإماء وإن تحققت العُنَّة في المملوك ففيها نظر عندنا والظاهر أنها عيبٌ
Kemudian para imam kami menambahkan pada apa yang telah kami jelaskan, beberapa kasus yang terdapat perbedaan pendapat dengan sebagian ulama. Maka, budak laki-laki pezina dianggap cacat dan dapat dikembalikan seperti halnya budak perempuan yang melakukan lesbianisme, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang tidak menganggap kebiasaan zina pada budak laki-laki sebagai cacat. Bau mulut yang tidak sedap (bakhur) dan kebiasaan mengompol di tempat tidur adalah cacat bagi kedua jenis kelamin, sedangkan Abu Hanifah hanya menganggapnya sebagai cacat pada budak perempuan. Jika impotensi (‘unnah) terbukti pada budak, maka menurut kami masih perlu diteliti, namun yang tampak adalah bahwa itu merupakan cacat.
ثم المناقبُ التي لا تُعد نقائضُها عيوباً ونقائصَ ولا ترتبط الظنون بها تصيرُ مستحقةً بالشرط فإذا اشترى الرجل عبداً على شرط أنه كاتب ثم أخلف الشرطُ ثبت الخيار والتحقَ عدمُ المشروط بالعيوب
Kemudian keutamaan-keutamaan yang kekurangannya tidak dianggap sebagai cacat atau kekurangan, dan tidak terkait dengan prasangka-prasangka, menjadi sesuatu yang berhak diperoleh jika disyaratkan. Maka jika seseorang membeli seorang budak dengan syarat bahwa ia seorang penulis, lalu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka pembeli berhak memilih (antara melanjutkan atau membatalkan akad), dan ketiadaan syarat yang ditetapkan itu disamakan dengan adanya cacat.
ثم إن كان ما يشرطه مما يؤثِّر في الماليّةِ فالخُلف فيه يُثبت الخيارَ فإذا كان العبدُ الكاتب يساوي ألفاً والأمّي يساوي تسعمائةٍ وقد تعلّق الشرط بصفةِ الكمال فالخلف مثبت للخيار وعدَّ الأئمة من ذلك ما لو شرط جُعودةَ الشعرِ فخرج الشعر سَبِطاً
Kemudian, jika syarat yang ditetapkan berkaitan dengan sesuatu yang memengaruhi nilai harta, maka perselisihan dalam hal itu menetapkan hak khiyar. Misalnya, jika seorang budak penulis bernilai seribu, sedangkan budak buta huruf bernilai sembilan ratus, dan syarat tersebut berkaitan dengan sifat kesempurnaan, maka perselisihan menetapkan hak khiyar. Para imam juga memasukkan dalam hal ini, seperti jika disyaratkan rambutnya keriting, namun ternyata rambutnya lurus.
فأما إذا كان الأمرُ المشروط لو عُدم لم يؤثر في نقصانٍ ولو وُجد لم يتضمَّن زيادةً في الماليَّة نُظر فيه فإن كان لا يتعلّق بغرض مقصود فالخُلفُ فيه لا يُثبت الخيارَ وهذا بمثابة ما لو اشترى عبداً على شرط أنه أحمقُ أو مشوّه فخرج حسناً عاقلاً فلا خيار والشرط لاغ على ما سنفصّل مراتب الشروط في بابها
Adapun jika perkara yang disyaratkan itu, apabila tidak ada, tidak berpengaruh pada pengurangan nilai, dan apabila ada, tidak mengandung tambahan nilai harta, maka hal itu perlu diteliti. Jika tidak berkaitan dengan tujuan yang dimaksud, maka pelanggaran terhadapnya tidak menetapkan hak khiyar. Ini seperti halnya seseorang membeli seorang budak dengan syarat bahwa budak itu bodoh atau cacat, namun ternyata budak itu baik dan berakal, maka tidak ada hak khiyar dan syarat tersebut batal, sebagaimana akan kami rinci tingkatan-tingkatan syarat pada babnya.
فأما إذا شرط ما يتعلق بغرضٍ ولا يؤثر في الزيادة الماليَّة مثل أن يشتري جاريةً على شرط أنها ثيّب فإذا خرجت بكراً ففي ثبوتِ الخيار وجهان أحدُهما أنه يثبت لتخلف الغرض والثاني لا يثبت؛ لأن المعتبر في البيع الماليّة وما يتعلق بها
Adapun jika disyaratkan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan tertentu dan tidak berpengaruh pada penambahan nilai harta, seperti seseorang membeli seorang budak perempuan dengan syarat bahwa ia adalah janda, lalu ternyata ia masih perawan, maka dalam hal penetapan hak khiyar terdapat dua pendapat: pertama, hak khiyar tetap ada karena tujuan tidak terpenuhi; kedua, hak khiyar tidak ada karena yang menjadi pertimbangan dalam jual beli adalah aspek harta dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
ومن هذا الجنس ما لو اشترى جارية وشرط أنها سَبطةُ الشعر فإذا كان شعرها جعداً وأخلفَ شرطُ الشارط في السُبوطة فلا شك أنَ الجعدَ أشرفُ وقد يكون السبط أشهى إلى بعض الناس ولا ينسب من يبدي ذلك من نفسهِ إلى مفارقة الجَمهور والانسلالِ عما عليه العامّةُ فإذا فُرض الخُلف في هذا المشروط ففي الخيار الوجهان المذكوران في البكارة والثيابة
Termasuk dalam kategori ini adalah jika seseorang membeli seorang budak perempuan dan mensyaratkan bahwa rambutnya lurus, lalu ternyata rambutnya keriting dan syarat yang ditetapkan tidak terpenuhi dalam hal kelurusan rambut tersebut. Tidak diragukan bahwa rambut keriting itu lebih mulia, namun bisa jadi rambut lurus lebih disukai oleh sebagian orang, dan orang yang mengungkapkan keinginan seperti itu tidak dianggap menyelisihi mayoritas atau keluar dari kebiasaan umum. Jika terjadi perbedaan antara syarat yang ditetapkan dengan kenyataan dalam hal ini, maka dalam hal hak memilih (khiyār) terdapat dua pendapat sebagaimana yang disebutkan dalam kasus keperawanan dan janda.
وقال الصيدلاني كلُّ ما لو كان مشروطاً و اتصل الخُلف به اقتضى خياراً وجهاً واحداً فالتدليس الظاهر فيه كالشرط كما ذكرناه في باب التصرية فإذا جعَّد البائعُ شعرَ المملوك ثم بان سَبطاً ثبتَ الخيار
Menurut ash-Shaydalani, segala sesuatu yang jika disyaratkan dan ternyata tidak terpenuhi akan menimbulkan hak khiyar secara pasti, maka penipuan yang jelas di dalamnya hukumnya seperti syarat, sebagaimana telah kami sebutkan dalam bab tashriyyah. Maka jika penjual mengeritingkan rambut budak lalu ternyata aslinya lurus, maka hak khiyar tetap berlaku.
وكل ما لو فُرض مشروطاً وَصُوّر الخُلف فيه فكان في الخيار وجهان فإذا فُرض التدليس فيه ثم ترتَّب عليه خلف الظن قال لا خيار وجهاً واحداً لضعف المظنون أولاً وقصُور الفعل في الباب عن القول
Segala sesuatu yang jika dianggap sebagai syarat dan dibayangkan adanya perselisihan di dalamnya, maka dalam hal khiyar terdapat dua pendapat. Namun, jika dianggap adanya tadlis (penipuan) di dalamnya lalu timbul akibat berupa perselisihan dugaan, maka menurut satu pendapat tidak ada khiyar, karena lemahnya hal yang diduga sejak awal dan kurangnya kekuatan perbuatan dalam masalah ini dibandingkan dengan perkataan.
وهذا تحكم منه لا يُساعَد عليه فالتدليس في ظاهر الفعل كالقول في مجال الوفاق والخلاف على الاطراد والاستواء فإذا سبَّطَ الرجل شعرَ الجارية ثم بان أن شعرها جَعْدٌ ففي الخيار الوجهان عندنا
Ini adalah sikap otoriter darinya yang tidak dapat dibenarkan, karena tadlīs (penyembunyian cacat) dalam perbuatan yang tampak sama seperti dalam ucapan, baik dalam hal yang disepakati maupun diperselisihkan, berlaku secara konsisten dan setara. Maka jika seseorang meluruskan rambut seorang budak perempuan, lalu ternyata rambutnya aslinya keriting, maka dalam hal hak khiyār (pilihan untuk membatalkan akad), terdapat dua pendapat menurut mazhab kami.
وقد نجز الغرض في بيان العيب وما يجري الخُلف فيهِ وتمييز أحد البابين عن الثاني
Tujuan telah tercapai dalam penjelasan tentang cacat dan hal-hal yang menjadi bahan perselisihan, serta dalam membedakan antara kedua bab tersebut.
القول في الرّد
Pembahasan tentang ar-radd (penolakan).
فأما القول في الرد فحق الرّد ثابت على الفور والبدارِ فإن رضي بالعيب القادرُ على الرد أو لم يرض وقصَّر في الردّ وسكت مع التمكن من النطق بالردّ فيبطل حقُّه وإذا بطل حقُّه لم يرجع إلى أرش؛ فإن الأرشَ إنما يثبت في حق من لا يتمكّن من الرد ولا يرضى الشرعُ باستمرار الظُّلامةِ عليه فأما إذا أبطل حقَّ نفسهِ قصداً أو تقصيراً فلا مرجع له إلى الأرش
Adapun mengenai hak untuk mengembalikan (barang cacat), maka hak untuk mengembalikan itu wajib dilakukan segera dan secepatnya. Jika orang yang mampu mengembalikan barang tersebut ridha terhadap cacatnya, atau tidak ridha namun lalai dalam mengembalikan dan diam padahal mampu untuk menyatakan pengembalian, maka gugurlah haknya. Jika haknya telah gugur, maka ia tidak berhak lagi mendapatkan arsy; karena arsy hanya diberikan kepada orang yang tidak mampu mengembalikan barang dan syariat tidak meridhai kezaliman terus-menerus menimpanya. Adapun jika ia sendiri menggugurkan haknya, baik dengan sengaja maupun karena kelalaian, maka ia tidak berhak lagi mendapatkan arsy.
ولو أراد المطالبةَ بالأرش مع التمكن من الرد لم يَملِك إلزامَ البائع وِفاقاً
Jika pembeli ingin menuntut pembayaran arsy (ganti rugi) padahal masih memungkinkan untuk mengembalikan barang, maka ia tidak berhak memaksa penjual, sesuai pendapat yang disepakati.
ولو تراضيا على الرجوع إلى الأرش؛ ففي المسالةِ وجهان مشهوران أحدهما أنه لا يحل له ذلك؛ فإنه اعتياضٌ عن حق والحقوق المطلقة لا تقابلُ بأموال
Jika kedua belah pihak sepakat untuk kembali kepada arsy (ganti rugi), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa hal itu tidak diperbolehkan baginya, karena itu merupakan penggantian atas hak, sedangkan hak-hak yang bersifat mutlak tidak dapat ditukar dengan harta.
والوجه الثاني أنه يحل أخذُ الأرش؛ فإن للأرش مدخلاً في الباب بدليل الرجوع إليه عند تعذّرُ الرد ثم الحق لا يعدو الرادَّ والمردود عليه فإذا تراضيا على بذل مالٍ بعُدَ امتناعُه
Pendapat kedua adalah bahwa diperbolehkan mengambil arsy; karena arsy memiliki peran dalam masalah ini, sebagaimana dibuktikan dengan kembalinya pada arsy ketika pengembalian barang tidak memungkinkan. Kemudian, hak itu tidak keluar dari pihak yang mengembalikan dan pihak yang dikembalikan kepadanya. Maka jika keduanya sepakat untuk memberikan sejumlah harta, tidak masuk akal jika hal itu dilarang.
التفريع على الوجهين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن قلنا يحل أخذ الأرشِ فلا كلام وإن قلنا لا يحلّ؛ فلو أخذه على ظن الجواز والحلِّ ثم تبين الأمرُ واستردّ منه ما أخذ فهل يعود إلى استحقاق الرد فعلى وجهين ذكرهما العراقيون أحدُهما أنه لا يعود إلى الرد؛ فإنه أسقطه فسقط والثاني يعود إليه؛ فإنه لم يُسقط حقهُ مطلقاًً بل ربطه باستحقاق العِوض وعلَّقَه به فإذا لم يسلم له العوض لم يتحقق سببُ إسقاط الحق
Jika kita mengatakan bahwa boleh mengambil arsy, maka tidak ada masalah. Namun jika kita mengatakan tidak boleh; lalu seseorang mengambilnya dengan dugaan bahwa itu boleh dan halal, kemudian ternyata jelas keadaannya dan ia mengembalikan apa yang telah diambil, maka apakah ia kembali berhak untuk meminta pengembalian? Dalam hal ini ada dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak: salah satunya, ia tidak kembali berhak untuk meminta pengembalian, karena ia telah menggugurkan haknya sehingga hak itu pun gugur. Pendapat kedua, ia kembali berhak, karena ia tidak menggugurkan haknya secara mutlak, melainkan mengaitkannya dengan berhaknya atas kompensasi (iwadh) dan menggantungkan hak itu padanya. Maka jika kompensasi itu tidak diterima, sebab gugurnya hak pun tidak terwujud.
وذكروا هذين الوجهين في الشفيع إذا اعتاض عن الشفعة ظاناً أن ذلك حلال ثم استرد منه العوض فهل يكون على حقّه من الشفعة فيه الخلاف الذي ذكرناه
Mereka menyebutkan dua pendapat ini dalam kasus seorang syafī‘ (pemilik hak syuf‘ah) yang menerima ganti rugi atas hak syuf‘ahnya dengan mengira bahwa hal itu diperbolehkan, kemudian ia mengembalikan ganti rugi tersebut. Apakah ia tetap memiliki hak syuf‘ah setelah itu? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan.
فإن قيل أليس الخلعُ بالعوض الفاسد يوجب البينونة والصلح عن الدم على العوض الفاسد يوجب سقوط القصاص قُلنا السببُ فيه أنه إن لم يثبت ما سماه ثبتَ عوضٌ شرعي وليس ذلك مناظراً لما نحن فيه ونظير ما نحن فيه ما لو خالع الرجل امرأتَه المبذّرةَ على مالٍ فالمال لا يثبت ولا يقعُ الطلاق رجعيّاً
Jika dikatakan, “Bukankah khulu‘ dengan kompensasi yang fasid menyebabkan terjadinya bainunah, dan perdamaian atas darah dengan kompensasi yang fasid menyebabkan gugurnya qishash?” Kami jawab, sebabnya adalah jika apa yang disebutkan tidak sah, maka tetap ada kompensasi yang syar‘i. Dan hal itu tidak sebanding dengan apa yang sedang kita bahas. Yang serupa dengan apa yang sedang kita bahas adalah jika seorang laki-laki melakukan khulu‘ terhadap istrinya yang boros dengan harta, maka hartanya tidak tetap (tidak sah), dan talaknya pun tidak jatuh sebagai talak raj‘i.
وقد حان الآن أن نذكر الموانع من الردّ بالعيب
Sekarang telah tiba saatnya untuk menyebutkan hal-hal yang menjadi penghalang dari pengembalian (barang) karena cacat.
فنقول قد يمتنع إمكانُ الرد بسبب عدم العين أو عدم الملكِ فيه وقد يمتنع بسببٍ مع استمرار الملك على الجُملة في العين
Maka kami katakan, terkadang pengembalian (barang) menjadi tidak mungkin karena ketiadaan barang itu sendiri atau karena tidak adanya kepemilikan atasnya, dan terkadang pengembalian menjadi tidak mungkin karena suatu sebab tertentu meskipun kepemilikan atas barang tersebut secara umum masih tetap ada.
فأمّا إذا فُقد المبيعُ وهلكَ أو زالت الماليَّة فيه بأن أعتق المشتري العبدَ فإذا فَرضنا هلاكاً أو زوال ملكٍ ثم اطلع المشتري على العيب القديم فالردُّ غيرُ ممكن ولا خلافَ أنه لو أراد أن يقيم قيمةَ الفائت مقامه ليردّها ويستردَّ الثمن لم يجد إلى ذلك سبيلاً
Adapun jika barang yang dijual hilang atau rusak, atau nilai harta padanya hilang, seperti ketika pembeli memerdekakan budak, maka jika kita misalkan terjadi kerusakan atau hilangnya kepemilikan, kemudian pembeli mengetahui adanya cacat lama, maka pengembalian barang tidak mungkin dilakukan. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika ia ingin mengganti barang yang hilang tersebut dengan nilainya untuk dikembalikan dan mengambil kembali harga yang telah dibayarkan, maka ia tidak menemukan jalan untuk melakukan hal itu.
ولكن لم يرض الشرعُ بإحباط حقِّه إذا تحقق تعذُّر الردِّ فرجُوعه في هذا المقام إلى الأرش ومعناه ما نصِفُه
Namun, syariat tidak merelakan haknya menjadi gugur apabila benar-benar terbukti mustahil untuk mengembalikan barang tersebut, sehingga dalam hal ini hak tersebut kembali kepada al-arasy, yang maksudnya akan kami jelaskan.
فليعلم الطالب أنا لا نلزم البائعَ نقصان قيمة المبيع في نفسه حتى نقول نُقدِّر المبيعَ سليماً فإذا كانت قيمتُه ألفاً ونقدّرهُ معيباً فإذا قيمتُه تسعمائةٍ ونوجب المائةَ الناقصةَ بل نقولُ نعتبر النقصانَ على النَسقِ الذي بَينَّاه ونضبط نسْبتَه ونعرف جزئيَّته ثم نقول يرد البائع مثلَ ذلك الجزء من الثمن إلى المشتري فإن كان الناقص عُشر القيمة فالمسترد عُشرُ الثمنِ ثم قد يكونُ الثمن مثلَ القيمة أو أقلَّ منها أو أكثر
Maka hendaknya diketahui oleh penuntut ilmu bahwa kami tidak mewajibkan kepada penjual untuk menanggung kekurangan nilai barang yang dijual itu sendiri, sehingga kami mengatakan: kita menaksir barang itu dalam keadaan utuh, jika nilainya seribu, lalu kita taksir dalam keadaan cacat, jika nilainya sembilan ratus, lalu kita wajibkan seratus yang kurang itu. Akan tetapi, kami mengatakan: kita memperhitungkan kekurangan itu sesuai dengan metode yang telah kami jelaskan, kita tetapkan persentasenya dan mengetahui bagiannya, kemudian kita katakan bahwa penjual mengembalikan bagian dari harga sesuai dengan bagian kekurangan itu kepada pembeli. Jika kekurangan itu sepersepuluh dari nilai, maka yang dikembalikan adalah sepersepuluh dari harga. Kemudian, bisa jadi harga itu sama dengan nilai barang, atau kurang darinya, atau lebih.
ومما يجب التنبيهُ له أن العيبَ إذا كان من جهة نقصان العين كالخصاء ثم فات الردُّ بفوات العين أو الملكِ فلا رجوعَ إلى الأرشِ أصلاً؛ إذْ لا نقصانَ في القيمة حتى يُعتبرَ بنسبته استردادُ جزءٍ من الثمن والأعراض لا تتقوم
Perlu diperhatikan bahwa jika cacat itu berasal dari kekurangan pada fisik barang, seperti kebiri, lalu hak pengembalian barang hilang karena barangnya sudah tidak ada atau kepemilikannya sudah berpindah, maka tidak ada hak untuk kembali kepada arsy sama sekali; sebab tidak ada pengurangan nilai sehingga tidak dapat dipertimbangkan untuk mengembalikan sebagian dari harga, dan cacat-cacat seperti ini tidak dapat dinilai.
هذا قولُنا في زوال العين والملك
Inilah pendapat kami tentang hilangnya objek dan kepemilikan.
ويلتحق بهذا القسمِ مصيرُ الجاريةِ المشتراةِ مستولدةً؛ فإن حُرمةَ الاستيلاد في الغرض الذي نحن فيه كالحريّةِ الناجزةِ
Terkait dengan bagian ini juga adalah status budak perempuan yang dibeli dalam keadaan telah menjadi mustauladah; sebab keharaman istibra’ pada kasus yang sedang kita bahas ini sama seperti kebebasan yang telah nyata.
والقول بعد هذا في تقاسيم الموانع مع بقاء المبيع مملوكاً
Setelah ini, pembahasan akan berlanjut pada pembagian-pembagian mawāni‘ (penghalang) dengan tetapnya barang yang dijual sebagai milik.
فنقول من الموانع زوالُ ملك المشتري عن رقبة المبيع بجهةٍ من الجهاتِ فلا شك أن الردَّ غيرُ ممكنٍ والمِلكُ زائلٌ ولكن لو عاد المبيعُ إلى ملكِ المشتري بعدَ الزوالِ فالتفصيل في ذلك أنه إن زال بجهةٍ لا تتعلق بجنسها عهدة الرد كالهبة ثم عاد إليه بمثل تلك الجهة أو بجهةٍ أخرى لا ردَّ فيها فإذا جرى الزوال والعودُ والمشتري غيرُ مطلعٍ على العيب في الأحوال التي جرت ثم اطلع على عيبٍ قديم بعد عود الملك إليه كما صوَّرنا؛ فهل يثبت له الردُّ الآن على البائع فعلى وجهين مشهورين أحدهُما له الردُّ؛ لأنا لو نفذنا ذلك منه كان راداً ما ملك كما ملك
Maka kami katakan, di antara penghalang adalah hilangnya kepemilikan pembeli atas barang yang dijual dari segi apa pun; maka tidak diragukan lagi bahwa pengembalian tidak mungkin dilakukan dan kepemilikan telah hilang. Namun, jika barang yang dijual itu kembali menjadi milik pembeli setelah hilangnya kepemilikan tersebut, maka rinciannya adalah: jika kepemilikan itu hilang melalui sebab yang tidak berkaitan dengan jenis tanggungan pengembalian seperti hibah, kemudian barang itu kembali kepadanya dengan sebab yang sama atau sebab lain yang juga tidak ada pengembalian di dalamnya, maka apabila terjadi hilangnya kepemilikan dan kembalinya barang, dan pembeli belum mengetahui cacat pada kondisi-kondisi yang terjadi tersebut, kemudian setelah kepemilikan kembali kepadanya ia mengetahui adanya cacat lama sebagaimana yang telah kami gambarkan; apakah sekarang ia berhak mengembalikan barang kepada penjual? Maka ada dua pendapat yang masyhur: salah satunya, ia berhak mengembalikan; karena jika kami membolehkannya, berarti ia mengembalikan apa yang ia miliki sebagaimana ia memilikinya.
والوجه الثاني لا يرد لأن الردَّ نقضُ الملكِ المستفادِ من جهة العقد وهذا ملكٌ جديد وليس الملكَ المستفادَ بالعقد
Penjelasan kedua tidak dapat diterima karena penolakan berarti membatalkan kepemilikan yang diperoleh melalui akad, sedangkan ini adalah kepemilikan baru dan bukan kepemilikan yang diperoleh melalui akad.
وسيأتي لهذا نظيرٌ في المفلس إذا قبض المبيعَ وزال ملكه ثم عاد إليه ثم أفلسَ واطَّرد الحجرُ عليه فهل يثبت للبائع حقُّ فسخِ البيع فيه من الخلاف ما ذكرناه
Hal yang serupa akan dijelaskan nanti pada kasus orang yang bangkrut (muflis), apabila ia telah menerima barang yang dibeli, kemudian kepemilikannya hilang lalu kembali lagi kepadanya, kemudian ia bangkrut dan penetapan larangan (hajr) terus berlaku atasnya. Maka, apakah penjual berhak membatalkan jual beli tersebut? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat sebagaimana yang telah kami sebutkan.
وكذلك إذا زال ملك المرأةِ عن الصداق ثم عاد إليها وطلقها زوجُها قبل المسيس وسنكرّر هذا الخلافَ في كل أصلٍ على حسبِ ما يليق به
Demikian pula, jika kepemilikan mahar oleh perempuan hilang kemudian kembali lagi kepadanya, lalu suaminya menceraikannya sebelum terjadi hubungan intim, maka perbedaan pendapat ini akan kami ulangi pada setiap pokok bahasan sesuai dengan yang relevan dengannya.
ولو باع رجل عبداً بجاريةٍ وتقابض المتعاقدان العوضين ثم إنَّ قابضَ العبد وهبه وسلَّمه وعاد إليه بالهبة مثلاً ووجد قابضُ الجارية عيباً فلا شك أنه يثبت لصاحب الجاريةِ ردُّها؛ فإن الملكَ فيها لم يتبدل ولو تلف العبدُ أو عَتَقَ لثبت لصاحب الجاريةِ ردُّهَا غيرَ أنه في ردّها يرجع إلى قيمة العِوضِ المقابلِ للجارية فإذا زال الملكُ عن العبد وعَادَ كما صوَّرناه فردَّ صاحب الجاريةِ الجاريةَ؛ فإنه يرجع إلى العبد العائدِ أم إلى قيمته اختلف أصحابنا على طريقين فمنهم من خرّج استرداد ذلك العبدِ الزائلِ العائدِ على الوجهين السابقين وهذا القائل يسوّي بين الاسترداد وبين فرض الردّ في عينِ ما زال وعَادَ
Jika seseorang menjual seorang budak laki-laki dengan seorang budak perempuan, lalu kedua pihak yang berakad telah saling menerima barang tukarannya, kemudian orang yang menerima budak laki-laki itu menghadiahkannya dan menyerahkannya, lalu budak itu kembali kepadanya dengan hibah misalnya, dan orang yang menerima budak perempuan menemukan cacat pada budak tersebut, maka tidak diragukan lagi bahwa pemilik budak perempuan berhak mengembalikannya; karena kepemilikan atas budak perempuan itu tidak berubah. Jika budak laki-laki itu rusak atau dimerdekakan, maka pemilik budak perempuan tetap berhak mengembalikannya, hanya saja dalam pengembaliannya ia kembali kepada nilai tukaran yang sepadan dengan budak perempuan tersebut. Jika kepemilikan atas budak laki-laki itu hilang lalu kembali seperti yang telah digambarkan, kemudian pemilik budak perempuan mengembalikan budak perempuannya, maka apakah ia kembali kepada budak laki-laki yang telah kembali itu atau kepada nilainya, para ulama kami berbeda pendapat dalam dua pendapat. Di antara mereka ada yang mengaitkan pengambilan kembali budak laki-laki yang telah hilang lalu kembali itu dengan dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya. Pendapat ini menyamakan antara pengambilan kembali dengan pengembalian pada barang yang telah hilang lalu kembali.
ومن أصحابنا من قطع بأن العبدَ يسترد عند ردَّ الجارية وإن اختلف المذهب في أن العبد في نفسه هل يرد إن اطلع على عيبه والفارق عند هذا القائل أن المستردّ ليس مقصوداً فلا يشترط فيه ما يشترطُ في المردود المقصود
Sebagian ulama kami menegaskan bahwa budak laki-laki dikembalikan ketika mengembalikan budak perempuan, meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam mazhab mengenai apakah budak laki-laki itu sendiri dikembalikan jika ditemukan cacat padanya. Perbedaan menurut pendapat ini adalah bahwa barang yang dikembalikan sebagai pengganti bukanlah tujuan utama, sehingga tidak disyaratkan padanya apa yang disyaratkan pada barang yang dikembalikan sebagai tujuan utama.
فهذا كله فيه إذا كان الخروجُ والعودُ لا بجهةٍ تُثبتُ الردَّ
Semua ini berlaku apabila keluar dan kembali itu tidak disertai sebab yang menetapkan pembatalan.
ولا نتعدى هذا الفصلَ حتى نذكر ما يليق به من حكم الأرش
Kita tidak akan melewati bab ini sebelum menyebutkan hukum arsy yang sesuai dengannya.
فإن قلنا إن زال الملك بالجهة التي ذكرناها لم نتوقع بعدهُ إمكان ردٍّ وإن فُرض العودُ فقد تحقق اليأسُ من الردّ فإذا اطَّلعَ على العيبِ والملكُ زائلٌ أم عائد فيرجع لا محالةَ إلى أرش العيب كما لو فاتت العينُ أو زال الملكُ بالعتق
Jika kita katakan bahwa kepemilikan telah hilang dengan sebab yang telah kami sebutkan, maka kita tidak lagi mengharapkan kemungkinan pengembalian setelahnya. Dan jika pun diasumsikan adanya pengembalian, maka telah benar-benar terjadi keputusasaan dari pengembalian itu. Maka apabila seseorang mengetahui adanya cacat, sedangkan kepemilikan telah hilang atau akan kembali, maka ia pasti kembali kepada kompensasi cacat (arasy al-‘ayb), sebagaimana jika barang telah hilang atau kepemilikan hilang karena pembebasan (‘itq).
وإن قلنا الردُّ ممكن عند تقدير العَوْد فهذا الإمكان دائمٌ ما بقي الموهوب مملوكاً بحيث يتصور فيه نقلُ الملك فهل يثبتُ الرجوع إلى الأرش في الحال
Jika kita mengatakan bahwa pengembalian (hibah) mungkin dilakukan ketika ada kemungkinan untuk kembali, maka kemungkinan ini akan selalu ada selama barang yang dihibahkan masih dimiliki sehingga masih dapat dibayangkan terjadinya perpindahan kepemilikan. Lalu, apakah hak untuk kembali (kepada hibah) dapat ditetapkan pada saat ini dalam bentuk arsy (ganti rugi)?
القياس أنه يثبت وهو مذهب طوائفَ من المحققين؛ فإن التعذر ناجز والاستدراك بطريق الردّ عند تقدير العود ممكنٌ على بُعدٍ والحق الناجز لا يتعطل بتوهمِ مستدركٍ قد يكون وقد لا يكون
Qiyās itu tetap berlaku, dan ini adalah mazhab sekelompok ulama yang teliti; karena ketidakmungkinan itu sudah nyata, sedangkan kemungkinan koreksi melalui cara penolakan jika diasumsikan adanya pengulangan itu mungkin saja, meskipun kecil kemungkinannya, dan kebenaran yang sudah nyata tidak boleh ditangguhkan hanya karena dugaan adanya koreksi yang mungkin terjadi atau mungkin juga tidak terjadi.
ومن أصحابنا من قال لا يثبت الرجوعُ إلى الأرش مادامَ إمكانُ الرد متوقعاً
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa tidak tetap kembali kepada arsy (ganti rugi) selama kemungkinan pengembalian (barang) masih dapat diharapkan.
وهذا الخلاف مبني على أن شُهود الزورِ إذا شهدوا على إنسانٍ بمالٍ وجرى القضاءُ بشهادتهم ثم رجعوا فالقضاء بالاستحقاق لا يُنقَضُ وهل يغرَم الشهودُ بدل الفائت للمشهود عليه فعلى قولين ولا خلاف أنهم لو شهدوا على إعتاقٍ أو طلاق ورَجَعوا عن الشهادة بعد نفاذ القضاء؛ فإنهم يغرَمون
Perbedaan pendapat ini didasarkan pada kasus ketika para saksi palsu memberikan kesaksian terhadap seseorang mengenai harta, lalu hakim memutuskan berdasarkan kesaksian mereka, kemudian para saksi tersebut menarik kembali kesaksiannya. Maka, putusan hakim mengenai hak kepemilikan tidak dibatalkan. Apakah para saksi wajib mengganti kerugian yang diderita oleh pihak yang dirugikan, terdapat dua pendapat. Namun, tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika mereka bersaksi tentang pembebasan budak atau perceraian, lalu mereka menarik kembali kesaksiannya setelah putusan hakim dijalankan, maka mereka wajib membayar ganti rugi.
والفاصل بين محلّ الوفاق والقولين أن العتق لا مستدرَك له أصلاً والحيلولةُ الواقعةُ في الشهادة على المال ممكنةُ الزوال بأن يعترفَ المشهودُ له للمشهود عليه
Perbedaan antara titik kesepakatan dan dua pendapat tersebut adalah bahwa pembebasan budak sama sekali tidak dapat dikembalikan, sedangkan penghalang yang terjadi dalam kesaksian atas harta masih mungkin dihilangkan, yaitu apabila pihak yang disaksikan untuknya mengakui kepada pihak yang disaksikan atasnya.
فنميز صورة القطع عن صورة القولين كذلك القول في الرجوع إلى الأرش
Kita membedakan antara bentuk keputusan pasti dengan bentuk dua pendapat, demikian pula halnya dalam kembali kepada arsy.
فأمّا إذا كان زوال الملك بجهةٍ تُثبتُ الردَّ مثل أن يشتري عبداً ويبيعَه من غير علم بعيبه فقد تحقق زوال الملكِ بالبيعَ والبيع جهة يثبت الردُّ فيها فإن اطلع المشتري من المشترِي على العيب وردَّه فللمشتري الأول الرّدُّ على البائع الأول بلا خلافٍ فإن قيل أليس قَد زال الملك وعاد قلنا الردُّ ينقضُ الجهةَ المتجدّدة ويردُّ الملك الذي كان ثابتاً قبل تجدد الجهة وسبب الاختلاف في الرد بعد زوال الملك وعودِه أنا نعتقد العائد ملكاً جديداً وليس كذلك إذا نُقِضت الجهة الحادثةُ وارتد الملك الذي كان قبلَها هذا إذا ردَّ على المشتري الأول ما باعَهُ
Adapun jika hilangnya kepemilikan terjadi melalui sebab yang membolehkan pengembalian, seperti seseorang membeli seorang budak lalu menjualnya tanpa mengetahui cacatnya, maka telah nyata hilangnya kepemilikan melalui jual beli, dan jual beli adalah sebab yang membolehkan pengembalian. Jika pembeli kedua mengetahui cacat tersebut dan mengembalikannya, maka pembeli pertama berhak mengembalikan kepada penjual pertama tanpa ada perbedaan pendapat. Jika ada yang bertanya, bukankah kepemilikan itu telah hilang lalu kembali lagi? Kami katakan, pengembalian itu membatalkan sebab yang baru muncul dan mengembalikan kepemilikan yang telah ada sebelum sebab baru itu muncul. Sebab perbedaan pendapat dalam pengembalian setelah hilangnya kepemilikan dan kembalinya adalah karena kita menganggap kepemilikan yang kembali itu sebagai kepemilikan baru, padahal tidak demikian jika sebab yang baru itu dibatalkan dan kepemilikan yang lama kembali seperti sediakala. Ini jika pengembalian dilakukan kepada pembeli pertama atas barang yang telah dijualnya.
فأمّا إذا اطلع المشتري الثاني على العيب ورضي به فقد بَطل حقه من الرَّدّ
Adapun jika pembeli kedua mengetahui cacat tersebut dan rela menerimanya, maka gugurlah haknya untuk mengembalikan barang.
وهل يملك المشتري الأولُ حق الرجوعِ بالأرش على البائع فعلَى قولَين ذكرهُما صاحب التقريب وغيرُه أحدُهما وهو الأظهر الأشهرُ أنه لا يرجع؛ لأنه كما راج عليه العيبُ في البيع الأوَّل فكذلك روَّجه على المشتري منه وانتهى الأمر إلى رضاه به
Apakah pembeli pertama memiliki hak untuk menuntut ganti rugi (arsh) kepada penjual? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrib dan lainnya. Salah satunya, yang lebih kuat dan lebih masyhur, adalah bahwa ia tidak berhak menuntut ganti rugi; karena sebagaimana cacat itu berlaku atas dirinya dalam jual beli pertama, demikian pula ia telah meneruskan cacat itu kepada pembeli darinya, dan perkara tersebut berakhir pada kerelaannya terhadap cacat itu.
والقولُ الثاني أنه يرجع بالأرش وهذا أميلُ إلى القياس؛ لأن سبب الرجوع بالأرش ما اقتضاه العقد من السلامة وإسقاط المشتري حقَّه عن هذا المعنى لا يُسقطُ حق المشتري الأول ورضاه بمثابة تبرعٍ منه عليهِ وهذا لا يُلزمهُ أن يتبرع على البائع الأول كما تبرعَ عليه
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia berhak kembali dengan menuntut ganti rugi (arsh), dan ini lebih condong kepada qiyās; karena sebab diperbolehkannya menuntut ganti rugi adalah apa yang ditetapkan oleh akad berupa jaminan keselamatan (barang), dan pengguguran hak pembeli atas makna ini tidak menggugurkan hak pembeli pertama. Kerelaannya dianggap sebagai pemberian sukarela darinya, dan hal ini tidak mewajibkannya untuk memberikan secara sukarela kepada penjual pertama sebagaimana ia telah memberikan kepada yang lain.
ولو لم يرض المشتري بالعيب ولم يطلع بعدُ عليه فهل يملك المشتري الأولُ الرجوعَ بالأرش على البائع الأول في الحال هذا يُخرَّجُ على ما قدَّمناه في الهبة إذا كان الزوال بها والعَوْد بمثلها فإن قلنا ثَمَّ مع إمكان الرد بالعَودِ يملك المطالبةَ بالأرش في الحال فكذلك القولُ هاهُنا؛ لتحقق التعذّر في الرد ناجزاً وإن قلنا لا يملك طلبَ الأرشِ؛ لتوقُّع الردّ فهاهُنا لا يملِكُه أيضاًً
Jika pembeli tidak rela dengan cacat tersebut dan belum mengetahuinya, maka apakah pembeli pertama berhak langsung menuntut kompensasi (arsh) kepada penjual pertama? Masalah ini dikembalikan pada apa yang telah kami jelaskan sebelumnya dalam kasus hibah, jika barang hilang karena hibah dan kembali dengan barang sejenis. Jika kita katakan bahwa dalam kasus tersebut, selama masih memungkinkan untuk mengembalikan barang, maka berhak menuntut kompensasi (arsh) secara langsung, maka demikian pula hukumnya di sini; karena memang telah terbukti adanya kesulitan untuk mengembalikan barang secara langsung. Namun jika kita katakan bahwa tidak berhak menuntut kompensasi (arsh) karena masih ada kemungkinan pengembalian barang, maka di sini pun tidak berhak menuntutnya.
ورأى بعضُ الأصحاب عدمَ المطالبةِ بالأرش هاهنا أولى؛ من جهةِ أنَّا نأمُلُ رضا المشتري الثاني بالعيب وهذا عند هؤلاء مَقْطَعةٌ لحق الرجوع بالأرش ومن لا يرى ذلك قطعاً لحق الرجوع بالأرش فقد يَعِنُّ له من جهةٍ أخرى فرق وهي أنَّ رَدّ المشتري الثاني بالعيب على المشتري الأول ممكنٌ ظاهرُ الإمكان وهو مطّرد على نَظْم المعاملة وعوْد الموهوب إلى الواهب توقُّعٌ لا انتظام له وإذا كان الرد أمكنَ كان الرجوعُ بالأرش أبعدَ
Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak menuntut pembayaran arsy di sini lebih utama; karena kita masih berharap pembeli kedua akan rela dengan cacat tersebut, dan menurut mereka hal ini merupakan pemutus hak untuk kembali menuntut arsy. Adapun yang tidak memandang hal ini sebagai pemutus hak untuk kembali menuntut arsy, bisa saja ia memandang dari sisi lain adanya perbedaan, yaitu bahwa pengembalian barang oleh pembeli kedua kepada pembeli pertama karena cacat adalah sesuatu yang mungkin dan jelas kemungkinannya, serta sesuai dengan pola transaksi. Sedangkan kembalinya barang yang dihibahkan kepada pemberi hibah hanyalah sebuah kemungkinan yang tidak teratur. Jika pengembalian itu mungkin dilakukan, maka hak untuk kembali menuntut arsy menjadi lebih jauh.
ولو باع المشتري الأول من المشتري الثاني وأعتق المشتري الثاني ثم اطلع على عيب ورجع بالأرش على المشتري الأول فلا شكَّ أنهُ يرجع بالأرشِ على البائع الأًول؛ فإنّ توقّع الرد منقطعٌ وما تخيّله بعض الأصحاب أن المشتري الأولَ روَّج على المشتري الثاني لا يتحصل في هذه الصورة وقد رجع عليه بالأرش
Jika pembeli pertama menjual kepada pembeli kedua, lalu pembeli kedua memerdekakan (budak tersebut), kemudian ia mengetahui adanya cacat dan menuntut kompensasi (arasy) kepada pembeli pertama, maka tidak diragukan lagi bahwa ia berhak menuntut kompensasi tersebut kepada penjual pertama; sebab kemungkinan pengembalian barang telah terputus, dan apa yang dibayangkan sebagian ulama bahwa pembeli pertama telah menipu pembeli kedua tidak berlaku dalam kasus ini, karena kompensasi telah dikembalikan kepadanya.
ولو باع العبد المشترَى من إنسانٍ ثم إنه اشترى ذلكَ العبدَ من المشتري منه ثم اطلع على عيبٍ قديم كان به في يد البائع الأول فلا شَكَّ أنه لو أراد الرد على الذي باع منه آخراً وهو المشتري الثاني أمكنه ذلك ثم إذا رد عليه فله أن يردَّ عليه حكمَ البيع الأول ثم إذا اتفق ذلك فللمشتري الردُّ على البائع الأول فإن الجهاتِ التي تخللت ارتفعت بالفسوخ وكأن لم تكن
Jika seseorang membeli seorang budak dari seseorang, kemudian ia menjual budak tersebut kepada orang lain, lalu ia membeli kembali budak itu dari pembeli kedua, kemudian ia mengetahui adanya cacat lama yang telah ada pada budak tersebut ketika masih di tangan penjual pertama, maka tidak diragukan lagi bahwa jika ia ingin mengembalikan budak itu kepada orang yang terakhir menjual kepadanya, yaitu pembeli kedua, maka hal itu memungkinkan baginya. Setelah ia mengembalikannya, maka pembeli kedua berhak mengembalikannya sesuai dengan hukum jual beli yang pertama. Jika hal itu terjadi, maka pembeli berhak mengembalikannya kepada penjual pertama, karena hubungan-hubungan yang terjadi di antara transaksi tersebut telah hilang dengan adanya pembatalan-pembatalan, seakan-akan tidak pernah terjadi.
ولو اشترى المشتري الأول من المشتري الثاني ثم اطلع على العيب كما صَوّرنَاه فأراد الردَّ على البائع الأول ففي المسألة وجهان أحدهما لا يملك ذلك والثاني يملكه والوجهان مرتبان على ما لو عَادَ إليهِ بجهةٍ لا تُثبت الردّ
Jika pembeli pertama membeli kembali dari pembeli kedua, kemudian ia mengetahui adanya cacat sebagaimana telah kami gambarkan, lalu ia ingin mengembalikan barang kepada penjual pertama, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: salah satunya, ia tidak berhak melakukan hal itu; dan yang kedua, ia berhak melakukannya. Kedua pendapat ini bergantung pada kasus jika barang itu kembali kepadanya melalui cara yang tidak menetapkan hak pengembalian.
والصورة التي نحن فيها أولى بأن لا يجوز الرَّدُّ فيها على البائع الأول والفرق أن الرد على أقرب الجهات ممكن فالاشتغالُ بالأقربِ أولى وليس كذلك إذا كان العَوْد بهبةٍ؛ فإن الردَّ على من منه تَلقِّي الملكِ آخراً غيرُ ممكن
Dan keadaan yang sedang kita bahas ini lebih utama untuk tidak diperbolehkan pengembalian kepada penjual pertama. Perbedaannya adalah bahwa pengembalian kepada pihak yang paling dekat masih memungkinkan, sehingga lebih utama untuk memprioritaskan yang terdekat. Tidak demikian halnya jika pengembalian itu melalui hibah; sebab pengembalian kepada pihak yang darinya kepemilikan diterima terakhir tidaklah mungkin.
فإن قيل إذا باع المشتري الأولُ ما اشتراه من إنسانٍ ثم وهب ذلك المشتري منه فما قولكم في هذه الصورة قُلنا اجتمع في هذه الصورة ظنُّ الترويج بالبيع الأول وتبدّل المِلك بجهةٍ لا تقتضي الردَّ فالقول في تمليك المشتري الأول الردَّ مُتَلَقَّى مما قدَّمناه من الأصول المفردَة
Jika ditanyakan: Apabila pembeli pertama menjual barang yang ia beli dari seseorang, kemudian pembeli itu menghadiahkan barang tersebut kepada orang lain, bagaimana pendapat kalian tentang kasus ini? Kami katakan: Dalam kasus ini, terdapat dugaan sahnya transaksi pada penjualan pertama dan perpindahan kepemilikan melalui cara yang tidak menuntut pengembalian. Maka, pendapat mengenai hak pembeli pertama untuk mengembalikan barang diambil dari prinsip-prinsip yang telah kami sebutkan sebelumnya secara terpisah.
والفقيهُ لا يختلط عليه مأخذُ الكلام عند اجتماع المقتضيات واختلافها واتفاقها
Seorang faqih tidak akan bingung dalam memahami sumber pembicaraan ketika terdapat berbagai faktor yang saling berkumpul, berbeda, atau sepakat.
وما غادرْنا مأخذاً في تأصيلٍ وتفصيلٍ وترتيبٍ وتقديمٍ من طريق الأوْلى في ملكِ الرد والرجوع بالأرش في محل اليأس والإمكان إلا نبهنا علَيهِ فلاَ معنى للتطويل بتكثير الصُّور
Kami tidak meninggalkan satu pun sumber dalam penetapan dasar, perincian, penataan, dan pendahuluan dengan cara yang lebih utama dalam hak untuk menolak dan mengembalikan arsy pada tempat yang mustahil maupun yang mungkin, kecuali telah kami beri penjelasan padanya. Maka, tidak ada gunanya memperpanjang pembahasan dengan memperbanyak contoh.
وقد نجز الكلامُ في هذا المانع وهو انتقالُ الملكِ
Pembahasan mengenai penghalang ini, yaitu perpindahan kepemilikan, telah selesai.
ومن الموانعِ حدوث العيب في يد المشتري فإذا اشترى رجل شيئاً وقبضه فعاب في يده لم يخلُ إما أن يترتب ذلك على سببٍ كان في يد البائع أَوْ لا يترتب على متقدّم فإن ترتَّب على متقدِّم مثل أن تُقطعَ يدُه بسرقةٍ سبقت أو يتمادى به مرضٌ تقدَّم أصلُه فهذه الأجناسُ نجمعُها في فصلٍ
Di antara penghalang adalah terjadinya cacat pada barang di tangan pembeli. Jika seseorang membeli suatu barang dan telah menerimanya, lalu barang itu cacat di tangannya, maka hal itu tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah cacat tersebut disebabkan oleh sesuatu yang telah ada sejak di tangan penjual, atau tidak berkaitan dengan sebab yang telah ada sebelumnya. Jika cacat itu berkaitan dengan sebab yang telah ada sebelumnya, seperti tangannya terpotong karena pencurian yang terjadi sebelumnya, atau penyakit yang berlanjut yang asalnya sudah ada sebelumnya, maka jenis-jenis kasus seperti ini akan kami kumpulkan dalam satu bab.
ونقصُر الآن غرضنا على العَيب المتجدّد الذي لا استنادَ له إلى سابقٍ
Sekarang kita membatasi pembahasan kita pada cacat baru yang tidak bersandar pada sebab sebelumnya.
فإذا حدث واطلع على عيبٍ قديمٍ فهذا الفصلُ فيه أدنى اختلاط في كلام المشايخ ولكن الوجه أن نستاق ما بلغنا على أقوم ترتيب ثم نذكر حاصلَ المذهب عندنا
Jika seseorang menemukan dan mengetahui adanya cacat lama, maka pembahasan ini terdapat sedikit kerancuan dalam perkataan para ulama, namun pendapat yang lebih kuat adalah kita mengumpulkan apa yang sampai kepada kita dengan susunan yang paling baik, kemudian kita sebutkan inti mazhab menurut kami.
والوجهُ في الترتيب أن نقول إذا جاء المشتري إلى البائع لاستدراكِ الظُّلامةِ فلو رضي البائع بقبول المبيع مع العيب الحادثِ فلا كلام
Adapun alasan urutan tersebut adalah sebagai berikut: apabila pembeli datang kepada penjual untuk menuntut ganti rugi atas kerugian, maka jika penjual rela menerima kembali barang yang dijual beserta cacat yang terjadi setelahnya, maka tidak ada masalah.
ولو أراد المشتري أن يُلزمَه قبولَ المبيع رداً عليه من غير أن يغرَمَ له شيئاً في مقابلةِ العيب الحادث فلا سبيل إلى إلزامه ذلك؛ فإن هذا إلحاق ظُلامة في استدراك ظُلامَةٍ
Jika pembeli ingin memaksa penjual untuk menerima kembali barang yang dijual kepadanya tanpa memberikan ganti rugi apa pun atas cacat yang baru terjadi, maka tidak ada jalan untuk memaksakan hal itu kepadanya; karena hal tersebut berarti menimpakan kezhaliman dalam upaya menghilangkan kezhaliman.
ولو قال المشتري للبائع اغرَم لي أرشَ العيب القديم وقال البائع رضيتُ بالمبيع معيباً فرُدَّه من غير أن تَغْرَمَ شيئاً فليس للمشتري حق الأرش
Jika pembeli berkata kepada penjual, “Tanggunglah untukku kompensasi (arsh) cacat lama,” lalu penjual berkata, “Aku ridha dengan barang yang cacat, maka kembalikanlah tanpa engkau menanggung apa pun,” maka pembeli tidak berhak atas kompensasi (arsh).
ولو قال البائع لستُ أغرَمُ لك الأرشَ ولا أقبلُ المبيع مع العيب الحادث ولكن ضُمَّ إلى المبيع أرشَ العيب الحادث ورُدّ المبيعَ معهُ واسترِدَّ الثمنَ وقال المشتري بل أطلبُ أرشَ العَيبِ القديمِ ولا أرغب في الردِّ مع أرش العيب ففي المسألة وَجهان أحدهما أن المتبع قولُ البائع فإن جرى عليه المشتري فذاك وإن أبى بطل حقُّه وليس له طلبُ الأرشِ
Jika penjual berkata, “Saya tidak mau membayar kompensasi (arsh) kepadamu dan tidak mau menerima kembali barang yang cacat, tetapi tambahkanlah kompensasi cacat yang baru pada barang itu, lalu kembalikan barang tersebut bersamanya dan ambillah kembali harga yang telah kamu bayarkan,” sementara pembeli berkata, “Saya hanya menuntut kompensasi atas cacat lama dan tidak ingin mengembalikan barang beserta kompensasi cacat,” maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya, yang diikuti adalah pendapat penjual; jika pembeli setuju, maka itu yang berlaku, tetapi jika ia menolak, maka gugurlah haknya dan ia tidak berhak menuntut kompensasi.
هذا منتهى ما ذكرهُ الصيدلاني وغَيرُه
Inilah akhir dari apa yang disebutkan oleh As-Saidalani dan yang lainnya.
وذكر بعض أصحابنا خلافاً على صيغةٍ أخرى وقالُوا لو جاء المشتري إلى البائع وقالَ دُونَك المبيعَ وأرشَ العيب الحادث فاقبلهُما ورُدَّ عليَّ الثمن فقال البائع لا أقبلُ ما جئتَ به ولكن أغرَم لك أرشَ العيب القديم فهل يُجبر البائعُ على موجَبِ قول المشتري فعلى وجهين أحدُهما أنه يجبر في هذه الصورة ومعناه أنه ينفذ الردّ عليه وإن لم يقبل كما ينفذ عليه أصلُ الرد إذا لم يكن عيبٌ حادث ويستردُّ منه الثمن
Sebagian ulama kami menyebutkan adanya perbedaan pendapat dalam bentuk lain, mereka berkata: Jika pembeli datang kepada penjual dan berkata, “Ini barang yang dibeli dan kompensasi cacat yang baru terjadi, terimalah keduanya dan kembalikan uangku,” lalu penjual berkata, “Aku tidak mau menerima apa yang kamu bawa, tetapi aku akan membayar kompensasi cacat yang lama,” maka apakah penjual dipaksa untuk menerima tuntutan pembeli? Ada dua pendapat. Salah satunya, penjual dipaksa dalam kasus ini, maksudnya pengembalian barang tetap sah meskipun penjual tidak menerimanya, sebagaimana pengembalian barang pokok tetap sah jika tidak ada cacat baru, dan pembeli berhak mengambil kembali uangnya dari penjual.
والوجه الثاني أنه لا يجبر على ما قاله المشتري وله أن يغرَم أرشَ العيب القديم
Pendapat kedua adalah bahwa penjual tidak dipaksa untuk menerima apa yang dikatakan oleh pembeli, dan ia berhak untuk menuntut ganti rugi (arsh) atas cacat lama.
هذا منتهى ما ذكره الأئمة ولن يحصل شفاء الغليل إلا بما نذكُرُه
Inilah batas akhir dari apa yang telah disebutkan oleh para imam, dan dahaga keingintahuan tidak akan terobati kecuali dengan apa yang akan kami sebutkan.
فنقول تحققنا من كلام الأئمة أن أخذ الأرشِ بالتراضي جائزٌ وليس كأخذ الأرش إذا تجرد العيبُ القديم وتمكن من الرّدِّ؛ فإن في جوازِ أخذِه عند التراضي خلاف وظاهر النصِّ أنه لا يجوز أخذه وكذلك لا خلاف أن إحباط حقِّ المشتري لا يجوزُ ولا بد من تمهيد حقِّه إما بجهة الردّ وضم الأرش وإما بجهة تقرير العقد وغرامةِ الأرشِ للعيب فإذاً المستدرَك وجهان لا غير
Maka kami katakan, kami telah memastikan dari perkataan para imam bahwa pengambilan arsy (ganti rugi) dengan kerelaan kedua belah pihak adalah diperbolehkan dan tidak sama dengan pengambilan arsy jika cacat lama itu murni dan memungkinkan untuk mengembalikan barang; karena dalam hal kebolehan pengambilannya ketika ada kerelaan terdapat perbedaan pendapat, dan zahir nash menunjukkan bahwa hal itu tidak diperbolehkan. Demikian pula tidak ada perbedaan pendapat bahwa menggugurkan hak pembeli tidak diperbolehkan, dan harus ditegakkan haknya, baik dengan cara pengembalian barang dan penambahan arsy, atau dengan menetapkan akad dan membayar arsy karena cacat. Maka, dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan saja, tidak lebih.
وحاصل ما ذكرهُ الأصحاب من الخلاف في الطرفين وما تلقَّيتُه من فحوى كلام الأئمة أنهما إن تراضيا على أرشِ العيب القديم أو على الردّ وضمّ أرش العيب الحادث نفذ ما تراضيا عليه
Kesimpulan dari apa yang disebutkan oleh para ulama mengenai perbedaan pendapat pada kedua sisi, dan apa yang saya pahami dari makna perkataan para imam, adalah bahwa jika kedua belah pihak sepakat atas pembayaran arsy atas cacat lama atau sepakat untuk mengembalikan barang dan menambahkan arsy atas cacat yang baru terjadi, maka apa yang mereka sepakati itu berlaku.
وإن دعا أحدُهما إلى أحد المسلكين وأباه الثاني ودَعَا إلى المسلك الآخر ففي المسألة أوجهٌ أحدها أن المتبع في تعيينِ أحدِ المسلكين رأيُ المشتري؛ فإنه ذو الحق
Jika salah satu dari keduanya mengajak kepada salah satu metode dan yang lain menolak serta mengajak kepada metode yang lain, maka dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat. Salah satunya adalah bahwa yang diikuti dalam menentukan salah satu metode adalah pendapat pembeli, karena dialah yang memiliki hak.
والثاني أن المتبع رأي البائع؛ فإنه الغارم من وَجهٍ والمُدخل في ملِكِه إن شاء لم يردّ عليه العقد في المسلك الآخر فليتخير وليقنع المشتري بأن يحصِّل غرضَه من أحد المسلكين
Kedua, yang diikuti adalah pendapat penjual; karena dialah yang menanggung risiko dari satu sisi dan yang memasukkan barang ke dalam kepemilikannya jika ia menghendaki, selama akad tidak dibatalkan menurut jalur yang lain. Maka, hendaknya ia diberi pilihan dan pembeli cukup dengan memperoleh tujuannya dari salah satu jalur tersebut.
والوجه الثالث وهو مأخوذٌ مما لهج به الفقهاءُ في المسائل وأثناء الكلام وهو أن من دعا إلى الردِّ وضمِّ الأرش لا يجاب إليه؛ لأن هذا إدخالُ شيءٍ جديدٍ في حكم العقد لم يكن قبلُ
Pendapat ketiga, yang diambil dari apa yang sering diucapkan para fuqaha dalam berbagai permasalahan dan pembahasan, adalah bahwa siapa pun yang meminta pengembalian dan penambahan arsy tidak dikabulkan; karena hal ini merupakan memasukkan sesuatu yang baru ke dalam hukum akad yang sebelumnya tidak ada.
وهذا هو المعنيُّ بقول العُلماء العيب الحادث يمنعُ من الردَّ بالعيب القديم فأما الرجوع بالأرش فخارج على مضمون العقد؛ فإن الملك لا يستقرُّ في الثمن على الكمال إلا في مقابلة المبيع السليم فتقريرُ العقد وإلزامُ الاستدراك بطريقِ غرامةِ الأرش أقربُ إلى مقتضى العقد
Inilah yang dimaksud dengan perkataan para ulama bahwa cacat yang terjadi setelahnya menghalangi pengembalian barang karena cacat yang lama, adapun kembali dengan kompensasi (arasy) maka itu keluar dari isi akad; sebab kepemilikan atas harga tidak menjadi sempurna kecuali sebagai imbalan atas barang yang selamat dari cacat. Maka penetapan akad dan mewajibkan penggantian melalui pembayaran arasy lebih dekat kepada konsekuensi akad.
وهذا القائل يقول إذا فُرض التراضي على الرد وضمِّ أرشِ العيب الحادث فسبيله كسبيل الإقالة
Orang yang berpendapat demikian mengatakan: Jika diasumsikan adanya kerelaan kedua belah pihak untuk mengembalikan barang dan menambahkan kompensasi atas cacat yang baru terjadi, maka hukumnya seperti hukum pembatalan akad (iqālah).
وليت شعري ماذا يقول في مبيع يتعيّبُ في يد المشتري ثم يتقايَل البائعُ والمشتري على تقدير ضم الأرش إلى المبيع واسترداد تمام الثمن هذا فيه احتمالٌ؛ من جهة أنا إن جعلنا الإقالة بيعاً فشرطه أن يقع بما وقع عليه العقد الأول وإن جعلناه فسخاً فالفسخ تلوُ العقد ولا يجوز أن يختلف مورد العقد والفسخ ولكن من حيث إن هذا فسخٌ نيط بالتراضي فلا يبعد احتمال ذلك فيه
Aku ingin tahu, apa yang akan dikatakan mengenai barang yang mengalami cacat di tangan pembeli, kemudian penjual dan pembeli melakukan iqālah dengan memperhitungkan penambahan arsy pada barang dan pengembalian seluruh harga. Dalam hal ini terdapat kemungkinan; dari satu sisi, jika kita menganggap iqālah sebagai jual beli, maka syaratnya harus dilakukan dengan harga yang sama seperti akad pertama. Namun jika kita menganggapnya sebagai pembatalan (fasakh), maka fasakh adalah kelanjutan dari akad dan tidak boleh berbeda antara objek akad dan fasakh. Akan tetapi, karena ini adalah fasakh yang bergantung pada kerelaan kedua belah pihak, maka kemungkinan tersebut tidaklah jauh untuk terjadi.
وإن أردنا أصلاً أقربَ منه وبالحقيقة هو المأخذ قلنا إذا اشترى رجل عبدين وتلف أحدُهما في يده واطلَعَ على عيب قديمٍ بالثاني فهل له أن يرد العبدَ القائم وقيمةَ العبدِ التالف ويستردَّ الثمن على قولين سنذكرهُما في تفريق الصفقة
Dan jika kita menginginkan dasar yang lebih dekat darinya, dan pada hakikatnya itulah sumber pengambilan hukum, maka kami katakan: Jika seseorang membeli dua budak, lalu salah satunya rusak di tangannya, dan ia mengetahui adanya cacat lama pada budak yang kedua, maka apakah ia berhak mengembalikan budak yang masih ada beserta nilai budak yang telah rusak, dan mengambil kembali harga yang telah dibayarkan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang akan kami sebutkan dalam pembahasan tafriq ash-shafqah (pemisahan transaksi).
فإن أثبتنا هذا الحقَّ فضَمُّ أرشِ العيب الحادث بذلك أوْلى؛ فإن الفائت لا يتأَصَّلُ مبيعاً وإن منعنا ما ذكرنا في العبدين فالمسألةُ محتملةٌ في العيب الحادث ووجه الاحتمالِ أن المغروم في مقابلةِ العيب الحادث مالٌ متأصل إن لم يكن الفائت بحيث يُفردُ والتراضي في معرض الإقالة على العبد القائم وقيمةِ التالف ما أراه جائزاً وإنما تردَّدنا في العيب الحادث في صورة الإقالة لما فيه من معنى التبعية
Jika kita menetapkan hak ini, maka menambahkan kompensasi atas cacat yang baru terjadi lebih utama; karena barang yang hilang tidak dapat menjadi objek jual beli yang hakiki. Namun, jika kita melarang apa yang telah kami sebutkan pada dua budak, maka permasalahan ini masih mungkin diperdebatkan dalam hal cacat yang baru terjadi. Adapun alasan kemungkinan tersebut adalah bahwa kerugian yang ditanggung sebagai kompensasi atas cacat yang baru terjadi merupakan harta yang hakiki, meskipun barang yang hilang itu tidak dapat dipisahkan. Kesepakatan dalam konteks pembatalan akad atas budak yang masih ada dan nilai budak yang rusak, menurut pendapat saya, tidaklah sah. Kami hanya ragu dalam hal cacat yang baru terjadi pada kasus pembatalan akad karena di dalamnya terdapat makna sebagai sesuatu yang mengikuti.
وقد نجز ما عندنا في هذا نقلاً وترتيباً واستنباطاً من قول الأئمة
Apa yang ada pada kami dalam hal ini telah selesai, baik dalam hal penukilan, penataan, maupun pengambilan kesimpulan dari perkataan para imam.
ثم من بقيةِ هذا الفصل أنهما إذا اتفقَا على أرشِ العيب القديم وقبضَه المشتري فلو زال العيبُ الحادث فهل يثبت للمشتري حقُّ ردِّ المبيع مع الأرش الذي أخذه فعلى وجهين
Kemudian, dari kelanjutan bab ini, apabila kedua belah pihak sepakat atas pembayaran kompensasi (‘arsh) untuk cacat lama dan pembeli telah menerimanya, lalu jika cacat baru tersebut hilang, apakah pembeli tetap berhak mengembalikan barang yang dibeli beserta kompensasi (‘arsh) yang telah diterimanya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
أحدُهما له ذلك؛ فإن الأرش المأخوذَ كان لمكان الحيلولة بين الردّ الذي هو الأصل وبين المشتري
Salah satunya berhak atas hal itu; karena arsy yang diambil tersebut disebabkan adanya penghalang antara pengembalian yang merupakan asalnya dengan pembeli.
والوجه الثاني لا رجوعَ إلى الرد وأخذُ الأرشِ مُسقِطٌ له ولهذا نظائرُ في الشرع في الجراحات والغرامات ستأتي في موضعه
Pendapat kedua, tidak ada hak untuk kembali kepada penjual setelah menerima pengembalian sebagian harga (arsh), dan pengambilan arsh menggugurkan hak tersebut. Hal ini memiliki beberapa padanan dalam syariat pada kasus luka-luka dan denda, yang akan dijelaskan pada tempatnya.
ولو لم يقبض المشتري الأرشَ ولكن قضى قاضٍ بثبوته ثم زال العيبُ الحادثُ ففي المسألة وجهان مرتبان على الوجهين فيه إذا قبض الأرشَ وهذه الصورةُ أوْلى بعَوْدِ حق الرد
Jika pembeli belum menerima arsy, tetapi seorang qadhi telah memutuskan bahwa arsy itu tetap, kemudian cacat yang terjadi itu hilang, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam kasus jika arsy telah diterima. Dan dalam situasi ini, lebih utama untuk mengembalikan hak khiyar untuk mengembalikan barang.
ولو قال المشتري رضيت به ورضي البائع ببذلهِ ولم يجر قضاءٌ ولا قبضٌ ففي المسألة وجهان مرتبان على صورة القضاء والرد أولى في الصورة الأخيرة منه في الصورة التي قُبيْلها
Jika pembeli berkata, “Saya ridha dengannya,” dan penjual pun ridha dengan penyerahan barang tersebut, namun belum terjadi keputusan (qadhā’) maupun serah terima (qabdh), maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang disusun berdasarkan pada gambaran adanya keputusan. Pengembalian (barang) lebih utama pada gambaran terakhir dibandingkan pada gambaran sebelumnya.
ولو لم يجر من ذلك شيء ولم يتفق اطلاعٌ على العيب القديمِ حتى زال العيبُ الحادث فالمذهب المقطوعُ به أن حق الرد ثابتٌ وفيه شيء بعيدٌ غيرُ معتدٍّ به
Jika tidak terjadi sesuatu dari hal tersebut dan tidak terjadi pengetahuan tentang cacat lama hingga cacat baru itu hilang, maka mazhab yang ditegaskan adalah bahwa hak untuk mengembalikan (barang) tetap ada, dan ada pendapat lain yang lemah yang tidak dianggap.
ومما يتعلق بهذا الفصل مسألة النعل وقد ردَّدْنا الاستشهادَ بها فإذا اشترى رجلٌ دابةً وأنعلَها ثم اطلع على عيب قديم بها فإذا كانت الدابّةُ لا يلحقُها عيبٌ حادثٌ بسبب قلع النعل فالمشتري يقلع النعلَ؛ فإنه عينُ ملكهِ ويرد الدابةَ بالعيب القديم ولو أراد ترك النعل على البائع حتى لا يلحقه تعبُ القلعِ لم يكن له ذلك
Terkait dengan bab ini adalah masalah sepatu (n‘al), dan kami telah mengulang-ulang penggunaan dalil dengannya. Jika seseorang membeli seekor hewan tunggangan lalu memasangkan sepatu padanya, kemudian ia menemukan cacat lama pada hewan tersebut, maka jika hewan itu tidak akan mengalami cacat baru akibat pencabutan sepatu, pembeli boleh mencabut sepatu itu karena sepatu tersebut adalah miliknya, dan ia mengembalikan hewan itu karena cacat lama tersebut. Namun, jika ia ingin meninggalkan sepatu itu pada penjual agar penjual tidak perlu repot mencabutnya, maka ia tidak berhak melakukan hal itu.
وإن كان بحيث لو قلعَ النعلَ انخرمت ثُقَبُ المسامير وعاب الحافر عيباً حادثاً ولو تركَ النعلَ لم تعُد الدابة معيبة ولا يلحقها عيب إذا استحق النعلَ فلا نكلفُ المشتري قلعَ النعلِ وله تركه على البائع؛ حتى يتأتى له الردُّ بالعيب القديم
Jika keadaannya sedemikian rupa sehingga jika tapal kuda dicabut, maka lubang-lubang paku akan rusak dan kuku kuda menjadi cacat dengan cacat yang baru, namun jika tapal kuda dibiarkan maka hewan tersebut tidak lagi dianggap cacat dan tidak akan terkena cacat jika tapal kuda itu ternyata milik orang lain, maka kita tidak mewajibkan pembeli untuk mencabut tapal kuda tersebut, dan dia boleh membiarkannya pada penjual, agar ia dapat melakukan pengembalian karena cacat lama.
اتفق عليه الأئمةُ
Disepakati oleh para imam.
ثم اختلفوا في أن هذا تمليكٌ أو إعراضٌ لقطع ما يَحْذرُ من ظهور العيب الحادث
Kemudian mereka berbeda pendapat mengenai apakah hal ini merupakan suatu bentuk pemilikan atau penolakan untuk menghindari kekhawatiran akan munculnya cacat yang baru.
وقد ذكرتُ هذا النوعَ في فصل اختلاطِ الثِّمارِ ووجهتُ الاختلاف فيه وفائدةُ الخلاف أنا إن جَعلنا التركَ تمليكاً فلو سقطَ النعل فهو للبائع وإن قلنا تركُهُ إعراضٌ فهو لازم لا يملك المشتري العودَ إليه مادام متصلاً ولكن لو سقطَ وفاقاً فهو للمشتري وهو بمثابة قولنا الكفنُ ملك الوارث ولكن الشرعَ ألزمَ إدامتَهُ على الميت فإن بلي عليه فذاك وإن جرت حادثةٌ تميَّزَ الكفنُ بسببها عن جثةِ الميت فهو ملكُ الورثةِ
Saya telah menyebutkan jenis ini dalam bab percampuran buah-buahan dan saya telah menjelaskan perbedaan pendapat di dalamnya serta manfaat dari perbedaan tersebut. Jika kita menganggap meninggalkan (sesuatu) sebagai bentuk pemilikan, maka jika sandal itu terjatuh, ia menjadi milik penjual. Namun, jika kita mengatakan bahwa meninggalkannya adalah bentuk pengabaian, maka itu menjadi tetap dan pembeli tidak berhak kembali kepadanya selama masih bersambung. Tetapi jika sandal itu terjatuh secara sepakat, maka itu menjadi milik pembeli. Ini seperti pernyataan kita bahwa kain kafan adalah milik ahli waris, namun syariat mewajibkan agar kain kafan itu tetap bersama mayit. Jika kain kafan itu rusak bersama mayit, maka itu sudah seharusnya. Namun jika terjadi suatu peristiwa yang menyebabkan kain kafan itu terpisah dari jenazah, maka kain kafan itu menjadi milik ahli waris.
ومن تمام ذلكَ أنا إن جوَّزنا للمشتري تركَ النَعل على البائع فلَسنَا
Dan sebagai pelengkap dari hal itu, jika kami membolehkan pembeli untuk meninggalkan sandal pada penjual, maka kami tidak…
نُلزمه ذلكَ فإن اختار قلْعَ النعل قبل الرد بالعيب القديم فله ذلكَ ولكن يمتنع عليه الردُّ ولا يلتحق بالعيب الحادث السماوي من غير اختيارٍ من المشتري بل انتساب المشتري إلى التعييب قطعٌ منه لحقه من الخيار إلا أن يطلع على العيب بعد القلع فيعود ما قدَّمناه من التفاصيل في العَيب الحادث والقديم
Kami mewajibkan hal itu kepadanya; jika ia memilih untuk mencabut alas kaki sebelum mengembalikan barang karena cacat lama, maka ia berhak melakukannya, tetapi ia tidak boleh mengembalikan barang tersebut. Cacat baru yang terjadi karena sebab alamiah tanpa pilihan dari pembeli tidak disamakan dengan hal ini, melainkan tindakan pembeli yang menyebabkan cacat merupakan pemutusan hak pilih (khiyār) yang dimilikinya, kecuali jika ia mengetahui cacat tersebut setelah pencabutan, maka kembali berlaku rincian yang telah kami sebutkan sebelumnya mengenai cacat baru dan cacat lama.
ويخرج من هذا أنهُ إن أرادَ الردّ بالعيب كلفناه أن يلتزم ترك النعل فإن لم يفعل فلا رَدَّ ولا أرش هكذا ذكرهُ الأئمة
Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa jika seseorang ingin mengembalikan barang karena cacat, maka kami mewajibkannya untuk berkomitmen meninggalkan sandal tersebut. Jika ia tidak melakukannya, maka tidak ada pengembalian maupun ganti rugi. Demikianlah yang disebutkan oleh para imam.
وفيه احتمالٌ من جهة أن النعل عينُ ملكه وقد أنعل قبلَ الاطلاع فإلزامُه تركَ ملكهِ فيه بُعد من طريق المعنى
Di dalamnya terdapat kemungkinan dari sisi bahwa sandal itu adalah miliknya sendiri, dan ia telah memasang sol sebelum mengetahui (kerusakan), maka mewajibkan dia untuk meninggalkan kepemilikannya atas sandal tersebut terasa jauh dari segi makna.
وإذا باع الثمار على الأشجار وجرَى فيه الاختلاطُ فقد قدَّمنا في ترك البائع ثمارَهُ الزائدةَ المختلطة كلاماً على الاستقصاء في موضع ذلك في باب الثمار
Jika seseorang menjual buah-buahan yang masih di pohonnya lalu terjadi percampuran di dalamnya, maka kami telah mengemukakan penjelasan secara rinci mengenai kasus penjual meninggalkan buah-buahannya yang lebih dan telah tercampur, pada tempatnya dalam bab buah-buahan.
والذي نَزِيده أن من أصحابنا من جعل ما يتركه البائعُ على المشتري من الثمار بمثابة ما يتركه المشتري على البائع من النعل
Yang dapat kami tambahkan adalah bahwa sebagian ulama dari kalangan kami menganggap apa yang ditinggalkan penjual kepada pembeli berupa buah-buahan itu serupa dengan apa yang ditinggalkan pembeli kepada penjual berupa sandal.
ومن أصحابنا من قال ليست الثمار كالنعل فلا يلزمُ المشتري قبولُ منَّةِ التارك وليس كالنعل؛ فإن الأمر يقرب فيهِ ثم هو من حيث الصيغة متصل بالدَّابَّة مثبتٌ عليها بالمسامير
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa buah-buahan tidaklah seperti sandal, sehingga pembeli tidak wajib menerima pemberian dari orang yang meninggalkannya. Buah-buahan memang tidak seperti sandal; sebab urusannya lebih sederhana, dan dari segi bentuknya, sandal itu menyatu dengan hewan tunggangan serta dipasang padanya dengan paku.
وإن تكلَّمنا في بيع العبد وعليه ثياب فإن ما عليه من الثياب هل يدخل تحت البيع فنذكر تردُّدَ الأصحاب في دخول النعل تحت بيع الدابة
Jika kita membahas tentang penjualan budak yang mengenakan pakaian, maka apakah pakaian yang dipakainya itu termasuk dalam objek jual beli? Dalam hal ini, kita menyebutkan adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai apakah alas kaki termasuk dalam penjualan hewan tunggangan.
فهذا ما أردناه
Inilah yang kami maksudkan.
فصل
Bab
قد ذكرنا في تقاسيمِ العيب الحادثِ ما يطرأ مستنداً إلى سبب في يد البائع وها نحن نبيّن التفصيلَ فيه
Kami telah menjelaskan dalam pembagian cacat yang terjadi, tentang apa yang muncul disebabkan oleh suatu sebab di tangan penjual, dan sekarang kami akan menjelaskan perinciannya.
فنقول ما ذهب إليه معظم الأئمة أن بيعَ العبد المرتدِّ وشراءَه صحيح وإن كان مستحق الدم؛ لأن الماليَّةَ فيه كاملة وذكر الشيخ أبو علي في شرح الفروع وجهاً غريباً أنهُ يمتنع بيعُه وهذا وإن كان ينقدح توجيهُه فهو بعيدٌ في الحكاية غيرُ معتدٍّ به
Maka kami katakan, pendapat mayoritas imam adalah bahwa jual beli budak murtad hukumnya sah, meskipun ia berhak untuk dibunuh, karena nilai kepemilikannya tetap utuh. Syaikh Abu ‘Ali dalam Syarh al-Furū‘ menyebutkan satu pendapat yang ganjil, yaitu bahwa jual belinya tidak diperbolehkan. Meskipun pendapat ini masih mungkin untuk diarahkan, namun ia sangat lemah dalam periwayatan dan tidak dapat dijadikan pegangan.
والعبدُ إذا قَتَلَ في قطع الطريق وظفرنا به وقَضَيْنا بتحتُّم قتلهِ تفريعاً على ردَّ توبته والتفريع على ما عليه الجُمهور من تصحيح بيع المرتد ففي تصحيح بيعه وقد تحتم قتلُه وامتنع سقوطُ القتلِ خلافٌ فالذي ذهب إليه الجُمهور صحّةُ البيع وإن كان دمه مستحَق الإراقة
Dan apabila seorang budak melakukan pembunuhan dalam kasus perampokan di jalan, lalu kita berhasil menangkapnya dan memutuskan bahwa ia harus dihukum mati—berdasarkan penolakan atas taubatnya dan mengikuti pendapat mayoritas ulama yang membolehkan jual beli orang murtad—maka dalam hal keabsahan jual belinya, sementara hukuman mati telah ditetapkan atasnya dan tidak mungkin hukuman itu dibatalkan, terdapat perbedaan pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa jual belinya tetap sah, meskipun darahnya sudah halal untuk ditumpahkan.
وذهب بعض الأصحاب إلى منع بيعهِ وإن جوَّزنا بيع المرتدّ وذهب إلى ذلك أبو عبد الله الختن من مشايخنا
Sebagian ulama berpendapat tidak bolehnya menjualnya, meskipun kita membolehkan penjualan harta orang murtad. Pendapat ini juga dianut oleh Abu ‘Abdullah al-Khatan dari kalangan guru-guru kami.
والفرق بين ما نحن فيه وبين المرتد أن المرتدَّ غيرُ محتومِ القتلِ ومن الممكن أن يُسلمَ فيسقطَ القتلُ عنه وقتلُ القاطع محتومٌ لا دَرْءَ له فكان كالمقتولِ وإذا صححنا بيعَ المرتد فلو قبضهُ المشتري ثم قتل في يده بإصراره على الردّةِ فحاصل المذهب ما جمعهُ الشيخ أبو علي في شرح الفروعِ وهو ثلاثة أوجهٍ أحدها أن التلفَ من ضمان المشتري سواءٌ علمه مرتداً فاشتراه وقبضه أو كان جاهلاً بذلك ووجه هذا أن صُورة التلفِ جرت في يَدِ المشتري وتحت استيلائهِ فكان محسوباً من ضمانه كما لو تلف بآفةٍ سماوية
Perbedaan antara kasus yang sedang kita bahas dengan kasus murtad adalah bahwa hukuman mati bagi orang murtad tidaklah pasti, dan masih mungkin baginya untuk kembali masuk Islam sehingga hukuman mati itu gugur darinya. Sedangkan hukuman mati bagi pelaku pemutusan (hubungan) adalah pasti dan tidak ada pencegahan baginya, sehingga ia seperti orang yang sudah terbunuh. Jika kita menganggap sah jual beli orang murtad, lalu pembeli telah menerima barang tersebut, kemudian orang murtad itu dibunuh saat barang itu masih di tangan pembeli karena ia tetap bersikeras dalam kemurtadannya, maka hasil dari mazhab ini sebagaimana yang dirangkum oleh Syaikh Abu Ali dalam Syarh al-Furū‘, yaitu ada tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa kerusakan (barang) menjadi tanggungan pembeli, baik ia mengetahui bahwa penjualnya murtad lalu membelinya dan menerimanya, maupun ia tidak mengetahuinya. Dasar pendapat ini adalah bahwa kerusakan barang terjadi di tangan pembeli dan di bawah kekuasaannya, sehingga menjadi tanggungannya, sebagaimana jika barang itu rusak karena bencana alam.
والوجه الثاني أنه إن قبضه غيرَ عالمٍ بردّتهِ ثم استمرَّ به الجهل حتى قُتلَ مرتدّاً يُحكم بانفساخ العقد ونزُّل ذلك منزلةَ ما لو قتلَ في يد البائع
Alasan kedua adalah bahwa jika ia menerima barang tersebut tanpa mengetahui bahwa ia telah murtad, kemudian kebodohan itu terus berlanjut hingga ia dibunuh dalam keadaan murtad, maka akad tersebut dianggap batal, dan hal itu diperlakukan seperti halnya jika ia dibunuh saat barang masih berada di tangan penjual.
والوجه الثالث أنه يفصل بين العلم والجهل فإن قبضهُ على علم بحالهِ استقرَّ الضمان عليه وقتلُه في يدهِ بمثابةِ موته حتفَ أنفهِ وإن كان على جهل حتى قُتل العبدُ فهو من ضمان البائع؛ من جهة أن المشتري معذورٌ بسبب جهله المستمرّ
Alasan ketiga adalah bahwa hal ini membedakan antara pengetahuan dan ketidaktahuan. Jika pembeli menerima barang dengan mengetahui keadaannya, maka tanggung jawab menjadi tetap atasnya, dan kematian barang di tangannya sama seperti kematian alami. Namun, jika ia tidak mengetahui hingga budak itu terbunuh, maka tanggung jawabnya tetap pada penjual; karena pembeli dimaafkan disebabkan ketidaktahuannya yang terus-menerus.
توجيه الأوجه من قال التلفُ من ضمان المشتري فوجهه التمسُّكُ بالصورة فإنَّ التلفَ جرى تحت يدِ المشتري فيستحيلُ إلحاقهُ بضمان البائع
Penjelasan pendapat yang mengatakan bahwa kerusakan menjadi tanggungan pembeli adalah berpegang pada bentuk lahiriah, yaitu karena kerusakan terjadi di bawah kekuasaan pembeli, sehingga mustahil disamakan dengan tanggungan penjual.
والدليل عليه أنه يتسلّط على التصرف ويَبعد أن يُفيدَه القبضُ التصرفَ ولا ينقلَ إليه الضمان وفي المصيرِ إلى تجويز البيع مع الحكم بان التلفَ من ضمان البائع حكمٌ بتوالي الضمانين
Dalilnya adalah bahwa pembeli berhak melakukan tasharruf, dan tidak masuk akal jika qabdh (penguasaan barang) memberinya hak tasharruf tetapi tidak memindahkan tanggungan (jaminan) kepadanya. Jika membolehkan penjualan namun menetapkan bahwa kerusakan tetap menjadi tanggungan penjual, berarti menetapkan dua tanggungan (jaminan) yang berlangsung secara bersamaan.
ومن قال التلف من ضمان البائع اعتمد استنادُه إلى سببٍ كان في يد البائع
Dan siapa yang berpendapat bahwa kerusakan menjadi tanggungan penjual, pendapatnya didasarkan pada adanya sebab yang terjadi ketika barang masih berada di tangan penjual.
والأسبابُ وإن تقدمت فالمسبب في حكم المقترن بها ولذلك ألزمنا الميّتَ بسبب احتفاره البئرَ في حياته غُرْمَ المتردِّي وإن خرج بالموت عن كونهِ جانياً
Meskipun sebab telah terjadi lebih dahulu, akibat tetap dianggap bersamaan dengannya. Oleh karena itu, kami mewajibkan orang yang telah meninggal untuk menanggung ganti rugi atas orang yang terjatuh ke dalam sumur yang ia gali semasa hidupnya, meskipun dengan kematiannya ia telah keluar dari status sebagai pelaku.
ونظائر ذلك كثيرةٌ
Contoh-contoh seperti itu sangat banyak.
وعن هذا صار من صار إلى فساد البيع وكان يقرُبُ في ذلك الوجه الوقفُ حتى يقالَ إن قُتلَ المرتدّ تبيّنَّا أن بيعَهُ لم يصح وإن عاد إلى الإسلام تبيَّنا الصحَّة ولم أر ذلك لأحدٍ
Karena hal inilah sebagian orang berpendapat bahwa jual beli menjadi batal, dan dalam hal ini hukum wakaf pun hampir serupa, sehingga dikatakan: jika orang murtad itu dibunuh, maka jelaslah bahwa jual belinya tidak sah, dan jika ia kembali masuk Islam, maka jelaslah keabsahannya. Namun, aku tidak menemukan pendapat ini dari siapa pun.
ومن فصل بين العلمِ والجهلِ رأى السببَ مؤكداً في حالة الجهل وقدَّره منقطعاً مع علم المشتري؛ حتى كأن رضاه بما رآه قاطعٌ لما سبقَ من السبب فإن حكمنا بالانفساخ من غير تفصيل فلا كلام
Barang siapa yang membedakan antara pengetahuan dan ketidaktahuan, ia memandang sebab itu menjadi kuat dalam keadaan tidak tahu dan menganggapnya terputus ketika pembeli mengetahui; sehingga seolah-olah kerelaannya terhadap apa yang telah dilihatnya memutus sebab yang telah ada sebelumnya. Jika kita memutuskan batalnya akad tanpa perincian, maka tidak ada pembicaraan lagi.
وإن قلنا لا ينفسخ العقد فإن كان عالماً لم يرجع بشيء وإن كان جاهلاً رجعَ بأرش العيب فيقوَّمُ العبد مرتداً ومسلماً وتُضبط النسبة والجزئية ويثبت الرجوع بذلك الجزء من الثمن فمهما كان الكلام في الرجوع بالأرش اختلفَ الحكم بالعلمِ والجهل بلا خلاف وإنما الخلافُ في الانفساخ؛ فإن من أصحابنا من حكم بالانفساخ مع العلم بحقيقة الحال
Dan jika kita mengatakan bahwa akad tidak batal, maka jika pembeli mengetahui (keadaan budak tersebut), ia tidak berhak menuntut apa pun. Namun jika ia tidak mengetahui, ia berhak menuntut kompensasi cacat (arasy al-‘ayb). Maka budak tersebut dinilai dalam keadaan murtad dan dalam keadaan muslim, lalu ditentukan perbandingan dan bagian (selisih nilainya), dan pembeli berhak menuntut bagian harga sebesar itu. Maka kapan pun pembicaraan mengenai penuntutan kompensasi, hukum berbeda antara mengetahui dan tidak mengetahui tanpa ada perbedaan pendapat. Adapun perbedaan pendapat terjadi dalam hal batalnya akad; karena sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa akad batal jika mengetahui keadaan yang sebenarnya.
وكان شيخي يحكي طريقين في شراء العبدِ المريض وقبضِه وتمادي المرضِ إلى الموت في يد المشتري فمن أصحابنا من ألحقَهُ بالردة والقتل بها
Guru saya menceritakan dua pendapat mengenai pembelian budak yang sedang sakit dan penerimaan (penyerahan) budak tersebut, lalu penyakitnya berlanjut hingga meninggal di tangan pembeli. Sebagian ulama dari kalangan kami menyamakannya dengan kasus riddah (kemurtadan) dan pembunuhan karena riddah.
ومنهم من قطع بأن الموتَ بالمرض من ضمان المشتري قولاً واحداً؛ فإن المرض يتزايد ويتجدَّد في يد المشتري حتى يُفضي إلى الهلاك والردةُ خصلةٌ واحدةٌ وقد سبقت في يد البائع ثم إذا قلنا التلف من ضمان المشتري فيرجع الكلام إلى الرجوع بالأرشِ وذلك يختلف بالعلمِ والجهل كما تقدّمَ
Sebagian dari mereka berpendapat tegas bahwa kematian karena penyakit menjadi tanggungan pembeli menurut satu pendapat; sebab penyakit itu bertambah dan terus berkembang di tangan pembeli hingga menyebabkan kebinasaan, sedangkan cacat adalah satu hal yang telah terjadi di tangan penjual. Kemudian, jika kita katakan bahwa kerusakan menjadi tanggungan pembeli, maka pembicaraan kembali kepada pengembalian arsy (ganti rugi), dan hal itu berbeda tergantung pada pengetahuan dan ketidaktahuan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ويتفرع على ما ذكرناه أن من اشترى عبداً سارقاً فقُطعت يدُه في يد المشتري فهذا مستندٌ إلى سبب سابق فإن اتبعنا وقوعَ السبب جعلناه كما لو حصل القطعُ في يد البائع فيُرعَى الأرشُ في عبدٍ أقطعَ وسليمٍ وإن اتبعنا وقوعَ المسبَّب فقد يثبت عند الجهلِ الرجوعُ بالأرشِ ولكنَّ سبيلَه ما نصفه فنقول عبدٌ متهيىءٌ للقطع كم قيمته وعبدٌ سليمٌ غيرُ متهيىءٍ للقطع كم قيمته فنعتبر النسبةَ كذلكَ ولا نعتبر وقوعَ القطعِ على هذا الوجهِ لجريانه في يد المشتري
Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, jika seseorang membeli seorang budak yang merupakan pencuri, lalu tangannya dipotong saat berada di tangan pembeli, maka hal ini bersandar pada sebab yang telah ada sebelumnya. Jika kita mengikuti terjadinya sebab, maka kasusnya seperti jika pemotongan tangan terjadi saat budak masih di tangan penjual, sehingga diperhatikan nilai ganti rugi (arsh) antara budak yang tangannya terpotong dan yang sehat. Namun jika kita mengikuti terjadinya akibat, maka ketika tidak diketahui (keadaan sebenarnya), bisa saja ditetapkan hak untuk menuntut ganti rugi, tetapi caranya adalah seperti yang akan kami jelaskan: kita tanyakan berapa nilai budak yang sudah siap untuk dipotong tangannya, dan berapa nilai budak yang sehat yang tidak siap untuk dipotong tangannya, lalu kita bandingkan perbandingan nilainya seperti itu. Kita tidak mempertimbangkan terjadinya pemotongan tangan dengan cara ini hanya karena itu terjadi di tangan pembeli.
فرع
Cabang
لو اشترى جارية مزوَّجة بكراً فافتضها الزوجُ في يد المشتري فهذا ملحق بعيب حادثٍ في يَد المشتري مترتبٍ على سبب في الاستحقاق سابقٍ في يد البائع
Jika seseorang membeli seorang budak perempuan yang masih perawan dan telah menikah, lalu suaminya menggaulinya ketika ia berada di tangan pembeli, maka hal ini disamakan dengan cacat yang terjadi di tangan pembeli yang bersumber dari sebab hak milik yang sebelumnya ada di tangan penjual.
ولا يخفى التفريع بعد هذا التنبيه
Tidak tersembunyi lagi rincian setelah penjelasan ini.
فصل
Bab
قد رأينا أن نأتي في هذا الباب بفُصولِ العيب متوالية ولا نلتزم ترتيب السواد
Kami memandang perlu untuk menghadirkan dalam bab ini beberapa bagian tentang cacat secara berurutan, dan kami tidak terikat pada urutan teks aslinya.
وهذا الفصل يجمع كلاماً في أعيان عيوب قد نحتاج فيها إلى فضلِ نظرٍ وكلاماً على الفوْر ومعناه
Bagian ini memuat pembahasan tentang beberapa jenis cacat tertentu yang mungkin memerlukan penelaahan lebih lanjut, serta pembahasan mengenai tindakan segera dan maknanya.
أما الأصلُ فيما يكون عيباً فقد تمهّد على أحسن وجهٍ فيما سبقَ
Adapun dasar mengenai sesuatu yang dianggap sebagai cacat telah dijelaskan dengan sebaik-baiknya pada bagian sebelumnya.
وغرضنا الآن ذكرُ مسائلَ فالبول في الفراش عدّهُ الأصحاب من العيوب ولا شك أنهم عنَوْا به إذا كان يتفق في غير أوانه المعتاد فأما إذا كان المشتَرَى صغيراً لا يندُر بولُ مثله في الفِراش فليس ذلك منه عيباً
Tujuan kami sekarang adalah menyebutkan beberapa permasalahan. Kencing di atas kasur dianggap oleh para sahabat sebagai cacat, dan tidak diragukan lagi bahwa yang mereka maksud adalah jika hal itu terjadi di luar waktu biasanya. Adapun jika yang dibeli adalah anak kecil yang lazim baginya kencing di atas kasur, maka hal itu bukanlah cacat baginya.
وعَد الأصحاب الصُّنانَ من العيوب وفيه تفصيلٌ لا بدّ منه فإن كان الذي يلحق العبدَ مما يعم مثله في حق الشبان إذا تحرّكوا وعرِقوا فهذا لا يعد عيباً ولو كان يطرأ ذلك من غير سبب وكان لا يندفع إلا بعلاجٍ يخالفُ المعتادَ فهذا تميّزَ عما عليه الناس وقد يعد عيباً
Para ulama mazhab menganggap bau mulut (sunān) sebagai salah satu cacat, namun terdapat rincian yang perlu diperhatikan. Jika bau tersebut menimpa seseorang karena hal yang umum terjadi pada pemuda ketika mereka bergerak dan berkeringat, maka hal itu tidak dianggap sebagai cacat. Namun, jika bau itu muncul tanpa sebab yang jelas dan tidak dapat dihilangkan kecuali dengan pengobatan yang tidak lazim, maka kondisi tersebut berbeda dari kebiasaan manusia pada umumnya dan bisa dianggap sebagai cacat.
والبَخَر الأصلي ناشىء من أخلاطٍ متكرِّجةٍ في خَمْل المعدة وهو العيب
Bau mulut asli berasal dari campuran-campuran yang membusuk di lipatan-lipatan lambung, dan hal itu merupakan suatu cacat.
وما يكون من قَلَح الأسنانِ ويزيله الاعتناءُ بتنظيفِ الفَم فلا يُعدُّ عيباً
Apa yang berupa noda pada gigi dan dapat dihilangkan dengan menjaga kebersihan mulut, maka itu tidak dianggap sebagai cacat.
والجاريةُ إذا احتبس حَيضُها رُوجع في أمرها أهل الصناعة فإن قالُوا الاحتباسُ في هذا السن نادرٌ فهو فيما يقال عيبٌ وفي البنية علةٌ حابسةٌ للفضلةِ التي تَمَس الحاجة إلى استرسالها وإن لم يُبْعد أهلُ الخبرةِ احتباسَ الحيض في هذا السن فلا يكون عيباً حينئذٍ
Apabila seorang gadis mengalami terhentinya haid, maka urusannya dikonsultasikan kepada para ahli di bidangnya. Jika mereka mengatakan bahwa terhentinya haid pada usia tersebut adalah sesuatu yang jarang terjadi, maka hal itu dianggap sebagai cacat, dan pada tubuhnya terdapat penyakit yang menghalangi keluarnya darah yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk dikeluarkan. Namun, jika para ahli tidak menganggap terhentinya haid pada usia tersebut sebagai sesuatu yang mustahil, maka hal itu tidak dianggap sebagai cacat.
ولو اشترى الرجل عبداً فخرج كافراً فالذي ذهب إليه عامة الأصحاب أن الكفر عيبٌ
Jika seseorang membeli seorang budak, lalu ternyata budak itu seorang kafir, maka pendapat mayoritas para sahabat (ulama) adalah bahwa kekafiran merupakan suatu cacat.
وذكر العراقيون وجهاً أنهُ ليس بعيب واسم العبد لا يتعرض للإيمان ولا للكفر
Orang-orang Irak menyebutkan satu pendapat bahwa hal itu bukanlah suatu cacat, dan nama seorang budak tidak berkaitan dengan keimanan maupun kekufuran.
والقول في هذا يُفصّل عندي فإن كان الغالبُ العبدُ المسلمُ في موضع العبدِ وكان الكفرُ منقصاً للقيمة فهو عيب وإن لم يكن الإيمان غالباً في العبيد بل كانوا منقسمين وكان الكفر منقصاً للقيمة فهذا فيه تردُّدٌ وظاهرُ القياس أنه ليس عيباً وظاهر النقلِ أنه عيبٌ؛ فإن الكفر بالإضافة إلى الإيمان مع اضطراب العادة كالجهل بالكتابة بالإضافةِ إلى العلم بها وإن لم يكن الكفر بنقصٍ والعاداتُ مضطربةٌ فالوجهُ القطع بأن الكفرَ لا يكون عيباً
Menurut saya, persoalan ini perlu dirinci: jika mayoritas budak di suatu tempat adalah budak Muslim dan kekufuran mengurangi nilai (budak), maka kekufuran itu dianggap cacat. Namun, jika keimanan tidak dominan di kalangan budak, melainkan mereka terbagi-bagi, dan kekufuran mengurangi nilai, maka dalam hal ini ada keraguan. Secara lahiriah, qiyās menunjukkan bahwa itu bukan cacat, sedangkan secara lahiriah dari riwayat menunjukkan bahwa itu adalah cacat; sebab kekufuran dibandingkan dengan keimanan, dalam kondisi kebiasaan yang tidak tetap, seperti ketidaktahuan menulis dibandingkan dengan pengetahuan menulis. Namun, jika kekufuran tidak menyebabkan kekurangan dan kebiasaan masyarakat tidak menentu, maka yang tepat adalah memastikan bahwa kekufuran tidak dianggap cacat.
فإن قيل إذا خرج العبدُ زنَّاءً فهو معيبٌ عندنا والكفر شرٌّ من الزنا فإن قيل ضررُ الزنا يتعدى ويُفضي إلى حَبطِ الأمانة في الحُرَم وليس الكفر كذلك فينقدح أن يقال العبد الكافر قد ثبت كفره في الصبيان والسفهاء غيرِ ذوي الرأي وهذا يوجب كونَ الكفرِ عيباً على الجُملة قلنا الأمرُ كذلك ولكن في تقرير الضَّرر من الكفرِ بُعدٌ وهو ظاهرٌ في الزنا
Jika dikatakan: Apabila seorang budak keluar dalam keadaan pezina, maka ia dianggap cacat menurut kami, sedangkan kekufuran lebih buruk daripada zina. Jika dikatakan: Bahaya zina itu menular dan dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap kehormatan, sedangkan kekufuran tidak demikian, sehingga dapat dikatakan bahwa budak kafir telah tetap kekafirannya pada anak-anak dan orang-orang bodoh yang tidak berakal, dan ini menuntut bahwa kekufuran secara umum adalah cacat. Kami katakan: Memang demikian, namun dalam menetapkan bahaya dari kekufuran itu terdapat keraguan, sedangkan pada zina hal itu jelas.
ومما يتعلق بهذا أن الرجل إذا اشترى عبداً على أنه كافرٌ فخرج مسلماً نُظر فإن كنا متاخمين لبلادِ الكفر وكانوا يكثرون الوُلوجَ فينا وقد يكون الكافرُ أكثرَ قيمةً فإذا أَخْلفَ الشرطُ والحالة هكذا ثبت الخيار
Terkait dengan hal ini, apabila seseorang membeli seorang budak dengan anggapan bahwa ia seorang kafir, namun ternyata ia seorang muslim, maka hal ini perlu ditinjau. Jika kita berada di daerah yang berbatasan dengan negeri kafir dan mereka sering masuk ke wilayah kita, serta budak kafir biasanya lebih tinggi nilainya, maka apabila syarat tersebut tidak terpenuhi dalam keadaan seperti ini, hak khiyar tetap berlaku.
وأبعد بعضُ أصحابِنا وقال لا خيار وهو مذهبُ أبي حنيفة وارتاعَ هؤلاء من تشغيبٍ في نسبتِنا إلى إيثارِ الكُفر وهذا غيرُ سديدٍ؛ فإن الماليّةَ هي المرعيّة وهي مأخوذةٌ من الرغبات في كثرتها وقلّتها فالكافر يشتريه المسلمُ والكافرُ والمسلمُ لا يمكَّنُ الكافرُ من شرائه هذا إذا كان الكافرُ أكثرَ قيمةً
Sebagian dari para sahabat kami berpendapat jauh dan mengatakan tidak ada khiyar, dan ini adalah mazhab Abu Hanifah. Mereka merasa takut dengan tuduhan bahwa kami lebih memilih kekufuran, dan ini tidaklah tepat; karena yang menjadi perhatian adalah aspek mal (harta), yang diambil dari keinginan terhadap banyak atau sedikitnya. Maka orang kafir dapat dibeli oleh muslim maupun kafir, sedangkan orang muslim tidak boleh dibeli oleh orang kafir, ini jika orang kafir lebih tinggi nilainya.
وإن لم يكن الأمر كذلك فخُلْفُ الشرط فيه بمثابة خُلْفِ الشرط في الثيابَةِ والبكارة والجُعودة والسُبوطة فإذا بان مسلماً والمشروط كونُه كافِراً فهو كما لو شَرط أن يكون سَبِطَ الشعرِ فخرج جَعْدَ الشعرِ
Jika tidak demikian, maka pelanggaran syarat dalam hal ini sama seperti pelanggaran syarat pada pakaian, keperawanan, keriting, dan lurusnya rambut. Jika ternyata dia seorang Muslim, padahal yang disyaratkan adalah kafir, maka hal itu seperti seseorang yang mensyaratkan rambut lurus namun ternyata rambutnya keriting.
ولو اشترى داراً ثم بان له أن الجندِيين ينزلونها فهذا عَيبٌ
Jika seseorang membeli sebuah rumah, lalu ternyata diketahui bahwa para tentara tinggal di rumah itu, maka hal ini merupakan suatu cacat.
ولو اشترى ضيعةً فبان في خراجها ثِقَل فهو عيب وإن كنا لا نرى أصلَ الخراج فإن المتبعَ فيه رأيُ الولاة
Jika seseorang membeli sebidang tanah lalu ternyata beban pajaknya berat, maka itu termasuk cacat, meskipun kita tidak menganggap asal-usul pajak itu sendiri, karena yang dijadikan acuan dalam hal ini adalah pendapat para penguasa.
والرجوعُ فيما يكونُ عيباً وما لا يكون عيباً إلى أهل الخبرة والقيمُ تتفاوت بالرغبات
Dan dalam menentukan sesuatu itu dianggap cacat atau tidak, dikembalikan kepada para ahli di bidangnya, sedangkan nilai-nilai itu berbeda-beda sesuai dengan keinginan.
هذا ما أردناه في هذا المقصود
Inilah yang kami maksudkan dalam tujuan ini.
المقصودُ الثاني من الفصل بيان الفور
Tujuan kedua dari bab ini adalah penjelasan tentang al-fawr (segera).
وكنتُ على أن أؤخّر تفصيلَهُ إلى كتاب الشُّفعةِ ولكن بَدا لي أن أُنجز ما تَمسُّ الحَاجةُّ إليه
Saya semula berniat untuk menunda penjelasannya hingga pada kitab syuf‘ah, namun kemudian tampak bagi saya untuk menyelesaikan apa yang sangat dibutuhkan.
فنقول أولاً نفوذ الفسخ لا يتوقفُ عندَنا على القضاء ولا على الرِّضا فلو انفردَ من له الرَّدّ وقال رَدَدتُ المبيعَ أو فسخت العقدَ انفسخ عندنا
Maka kami katakan pertama-tama, keabsahan pembatalan tidak bergantung, menurut kami, pada keputusan hakim maupun pada kerelaan kedua belah pihak. Maka jika pihak yang berhak melakukan pembatalan secara sepihak berkata, “Saya membatalkan barang yang dibeli” atau “Saya membatalkan akad,” maka akad tersebut batal menurut kami.
فإذا لاح هذا قلنا بعده إن تمكن من الفسخ بين يدي قاضٍ فلا عُذرَ في التأخير ولو أخر بطل حقه ولو هَمَّ بالرفع إلى القاضي ولم يكن المردود عليه حاضراً ولم يتمكن من الإشهاد فليسَ من الوفاءِ بالفور أن يقول في نفسه فسخت العقد بل لو لم يقله وابتدر إلى القاضي فهوَ مشتغلٌ بالأمر على أحزم الوجوه لا يعدُّ في العرفِ مقصراً ولا يلزمه أن ينطق بالفسخ؛ فإنه لو نطقَ به لم يُصدَّق فيه فلا معنى له
Jika hal ini telah jelas, kami katakan setelahnya: Jika seseorang mampu melakukan pembatalan di hadapan seorang qadhi, maka tidak ada alasan untuk menunda, dan jika ia menunda maka gugurlah haknya. Namun jika ia berniat membawa perkara ke qadhi sementara pihak yang ditolak tidak hadir dan ia tidak dapat menghadirkan saksi, maka bukan termasuk pelaksanaan segera jika ia hanya berkata dalam hatinya, “Aku membatalkan akad.” Bahkan, jika ia tidak mengucapkannya dan langsung pergi ke qadhi, maka ia sedang menangani urusan tersebut dengan cara yang paling bijaksana, dan menurut kebiasaan ia tidak dianggap lalai, serta tidak wajib baginya untuk mengucapkan pembatalan; sebab jika ia mengucapkannya pun, ia tidak akan dipercaya, sehingga tidak ada maknanya.
وإن كان المردود عليه حاضراً فابتدر مجلسَ القضاء وترك الرد عليه ظاهرُ المذهب أنه يَبطل حقُّه؛ إذ الناس يعدّونه مقصّراً
Jika pihak yang ditolak hadir lalu ia segera memasuki majelis pengadilan dan meninggalkan haknya untuk membantah, menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, maka gugurlah haknya; karena orang-orang menganggapnya telah lalai.
ولو لم يجد المردودَ عليه وأمكنه أن يتلفظ بالرد ويُشهدَ فأبى إلا الارتفاعَ إلى مجلس القضاءِ ففي المسألةِ وجهان سنذكر نظيرَهما في الشفعَة
Jika orang yang ditolak tidak ditemukan, namun memungkinkan baginya untuk mengucapkan penolakan dan menghadirkan saksi, lalu ia menolak kecuali ingin mengajukan perkara ke majelis pengadilan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang akan kami sebutkan padanannya dalam masalah syuf‘ah.
والانتفاعُ بعد العثور على العيب والاطلاعِ يُبطل حقَّ الردّ فإذا علم عَيْبَ غلامٍ فاستخدمه ولو في لحظةٍ بطل حقه حتى لو استخدمه في مدَّةِ ارتفاعه إلى مجلس القضاء قضينا ببطلان حقّه
Pemanfaatan setelah menemukan dan mengetahui cacat membatalkan hak untuk mengembalikan. Jika seseorang mengetahui cacat pada seorang budak lalu menggunakannya, meskipun hanya sesaat, maka haknya batal, bahkan jika ia menggunakannya dalam rentang waktu menuju majelis pengadilan, kami memutuskan bahwa haknya batal.
وهاهنا نبيّن أثرَ الاستخدام ولا ينبغي أن نفرضَ الاستخدامَ في زمانٍ لو سكتَ فيه بطل حقُّه
Di sini kami akan menjelaskan pengaruh penggunaan, dan tidak sepantasnya kita menganggap adanya penggunaan pada masa di mana jika seseorang diam maka haknya akan hilang.
والقول في ركوب الدابةِ كالقول في الاستخدام إلا أن يكون الركوب ضرورياً في الردّ بأن كان يعسر قَوْد الدابَّة وسوقها فإذ ذاك يُحمل الركوبُ على الردّ قال صاحب التلخيص لو ركب الدابّةَ منتفعاً ثم اطلع على عيب بها فإن استدام الركوبَ بطلَ حقُّه؛ فإن استدامتَه كابتدائه وإن نزل كما اطَّلعَ واشتغل بالبدار فحقُّه ثابت وإن وضع على الدابةِ سَرْجاً أو إكافاً وعلّق عليها لجاماً أو عِذاراً ثم اطّلع على عيبٍ فإن وضعَ الإكافَ والسرجَ من فورهِ لم يبطل حقُّهُ وإن استدام الإكافَ والسرجَ زماناً كان كما لو استدام الركوبَ ولا يضر استدامةُ العِذارِ واللجامِ؛ فإنه لا ثقل منهما ولا يُعدُّ معلِّقهما منتفعاً بالدابة
Pendapat mengenai menunggangi hewan tunggangan sama seperti pendapat tentang penggunaan (barang), kecuali jika menunggangi itu diperlukan untuk mengembalikan (barang), misalnya jika sulit menuntun dan menggiring hewan tersebut, maka saat itu menunggangi dianggap sebagai bagian dari proses pengembalian. Menurut penulis kitab at-Talkhīṣ, jika seseorang menunggangi hewan tunggangan untuk mengambil manfaat, lalu ia mengetahui adanya cacat pada hewan itu, maka jika ia tetap melanjutkan menunggangi, gugurlah haknya; sebab melanjutkan menunggangi sama seperti memulai dari awal. Namun, jika ia turun segera setelah mengetahui cacat tersebut dan segera berusaha mengembalikannya, maka haknya tetap ada. Jika ia meletakkan pelana atau alas pelana di atas hewan, atau menggantungkan tali kekang atau tali kendali, lalu ia mengetahui adanya cacat, maka jika ia segera melepaskan alas pelana dan pelana tersebut, haknya tidak gugur. Namun, jika ia membiarkan alas pelana dan pelana itu dalam waktu yang lama, maka hukumnya sama seperti jika ia tetap menunggangi. Tidak mengapa jika ia tetap membiarkan tali kendali dan tali kekang, karena keduanya tidak menambah beban, dan orang yang menggantungkannya tidak dianggap mengambil manfaat dari hewan tersebut.
والأصل الرجوعُ إلى العادة في الباب فإن ظهرت فالوفاق في النفي والإثبات وإن اضطربت بعضَ الاضطراب ثار خلافُ الأصحاب
Pada dasarnya, rujukan dalam masalah ini adalah kepada kebiasaan; jika kebiasaan itu jelas, maka terjadi kesepakatan dalam penafian dan penetapan. Namun jika kebiasaan itu mengalami sedikit kerancuan, maka timbullah perbedaan pendapat di antara para ulama.
فصل
Bab
قالَ ولو اختلفا في العَيبِ ومثلهُ يحدث إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika keduanya berselisih tentang cacat, dan cacat semacam itu bisa terjadi, dan seterusnya.”
إذا ظهرَ عيبٌ بالمبيع في يد المشتري فاختلف البائع والمشتري في قدمهِ وحُدوثه فادّعَى المشتري قِدَمَه وتلقِّيه منه ووجودَه في يد البائع وقال البائع إنه حدث في يدك فإن كانت المشاهدةُ تُكذب أحدَهما كذَّبناه ولا يكاد يخفى تَصويرُ ذلك
Jika terdapat cacat pada barang yang dibeli di tangan pembeli, lalu penjual dan pembeli berselisih tentang apakah cacat itu sudah lama ada atau baru terjadi, di mana pembeli mengklaim bahwa cacat itu sudah lama ada, ia menerimanya dari penjual, dan cacat itu sudah ada di tangan penjual, sedangkan penjual mengatakan bahwa cacat itu terjadi di tangan pembeli, maka jika pemeriksaan secara langsung membuktikan kebohongan salah satu dari mereka, kita nyatakan ia berdusta. Gambaran kasus seperti ini hampir tidak sulit untuk diketahui.
فإن كانت الجراحةُ طريَّة والتسليمُ من سنين فالمشتري مكذَّب في دعوى القدم وإن كانت الجراحة مندملة والتسليم من أيام معدودَة فالبائع مكذَّب في دعوى الحُدوث
Jika bekas luka itu masih baru dan penyerahan barang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, maka pembeli dianggap berdusta dalam klaim bahwa luka itu sudah lama. Namun jika bekas luka itu sudah sembuh dan penyerahan barang baru terjadi beberapa hari yang lalu, maka penjual dianggap berdusta dalam klaim bahwa luka itu baru terjadi.
وإن احتُمل الأمران فالقول قول البائع في نفي العَيب في يده؛ فإنّ الأصل الغالبَ السلامةُ والأصل بقاءُ العقد على اللزوم والمشتري في دعوى العيب يدعي ثابتاً يخالف الاعتياد ويبغي رفعَ لزوم العقد فالوجهُ الرجوعُ إلى قول البائع ولكن لا بُدَّ من يمينه؛ لتطرُّقِ الاحتمال إلى الحال ثم لا يُقنَع من البائع إلا بيمين جازمة ينفي بها العيب ويقول بالله لقد بعتُه وسلمتُه وما به عيبٌ
Jika kedua kemungkinan itu ada, maka yang dipegang adalah pernyataan penjual dalam menafikan cacat pada barang yang ada di tangannya; karena pada dasarnya yang berlaku umum adalah keselamatan (dari cacat) dan pada dasarnya akad tetap mengikat. Sementara pembeli dalam klaim adanya cacat mengajukan sesuatu yang menetap namun bertentangan dengan kebiasaan dan bermaksud membatalkan keharusan akad. Maka yang tepat adalah kembali kepada pernyataan penjual, namun harus disertai sumpahnya; karena adanya kemungkinan pada keadaan tersebut. Kemudian, tidak cukup dari penjual kecuali dengan sumpah yang tegas yang menafikan adanya cacat, dan ia berkata: “Demi Allah, sungguh aku telah menjual dan menyerahkannya, dan tidak ada cacat padanya.”
وقال ابنُ أبي ليلى إنه يحلف على نفي العلم؛ فإنّ جزمَ اليمين في نفي العيوب مجازفةٌ وسنذكرُ في أقسام اليمين أن ما يتضمَّنُ منها نفيَ فعلِ الغير فهو على نفي العلمِ والعيوب قد تكون بهذه المثابة
Ibnu Abi Laila berkata bahwa seseorang bersumpah atas dasar tidak mengetahui; karena menegaskan sumpah dalam menafikan cacat adalah tindakan yang gegabah. Kami akan sebutkan dalam pembahasan macam-macam sumpah bahwa setiap sumpah yang mengandung penafian terhadap perbuatan orang lain, maka sumpah itu didasarkan pada penafian pengetahuan, dan cacat-cacat bisa termasuk dalam kategori ini.
وهذا الذي ذكره وإن كان فيه وجهٌ من التخييل فهو بعيدٌ عن فقه الفصلِ؛ فإن غرض المشتري ليس يتعلّق بعلم البائع وجهلهِ؛ فإنَ حقهُ من الرد يتعلق بالعيب إن كان وينتفي بانتفائهِ فلا بد من التعرض لنفي موجِب الخيار؛ فإنه لو حلف على نفي العلم اتجه للمشتري ادّعاءُ الخيار مع الاعتراف بانتفاء علمه
Apa yang disebutkannya itu, meskipun mengandung sisi imajinasi, namun jauh dari fiqh bab ini; sebab tujuan pembeli tidak berkaitan dengan pengetahuan atau ketidaktahuan penjual; karena hak pembeli untuk mengembalikan barang terkait dengan adanya cacat, dan hak itu hilang jika cacat tidak ada, sehingga harus ada penjelasan mengenai hilangnya sebab pilihan (khiyār); sebab jika penjual bersumpah atas tidak adanya pengetahuan, maka pembeli tetap bisa mengklaim hak khiyār meskipun mengakui bahwa penjual memang tidak tahu.
فإن قيل فكيف تتجه اليمين وما الوجه فيه قُلنا إن كان خَبَرَ البائعُ العبدَ فقد يطلع على خفاء أمره ويجوز اعتمادُ مثلِ هذا في اليمين بل يجوز إقامةُ الشهادةِ على الإعسار وأن لا وارثَ غيرُ الحاضرين وعلى عدالةِ الشهودِ وانتفاءِ ما يقدحُ فيهم بمثل هذا
Jika dikatakan, “Bagaimana sumpah itu menjadi sah dan apa alasannya?” Kami katakan: Jika penjual telah menanyai budak tersebut, maka bisa jadi ia mengetahui hal-hal tersembunyi tentang dirinya, dan boleh bersandar pada hal semacam ini dalam sumpah. Bahkan, boleh juga mendirikan kesaksian atas kemiskinan, bahwa tidak ada ahli waris selain yang hadir, atas keadilan para saksi, dan atas tidak adanya hal yang mencederai mereka dengan cara seperti ini.
وإن لم يكن خَبَرَ البائعُ العبدَ واستوى في نظره كونُ العيبِ وعدمُه فلا يخفى وجه الاحتياط وطريق التورُّع
Dan jika penjual tidak mengetahui keadaan budak tersebut, sehingga dalam pandangannya antara adanya cacat dan tidak adanya cacat adalah sama, maka tidak samar lagi sisi kehati-hatian dan jalan untuk bersikap wara‘.
وإن سُئلنا عن جوازِ الحلفِ فنصُّ الشافعي مصرّحٌ بجواز الحَلفِ ونَصُّه في مسألة العبد المشرقي والسيد المغربي معروف؛ فإنه قال لو اشترى مغربيٌّ رُبِّيَ بالمغرب وهو ابنُ ثلاثين سنة عبداً مشرقياً ابنَ خمسين سنةً ثم باعه من يومهِ ثم فرض نزاعٌ في قدم عيبٍ وحَدَثِه قال الشافعي يحلف المغربي بالله لقد بعتُه وما به عَيب فإن قيلَ كيف ينساغُ هذا قلنا لا وجه له إلا البناءُ على ظاهرِ السلامة وعلى هذا بُني أصلُ الخيارِ وإلا فحكمُ قولِ القائل بعتُكَ هذا العبدَ يُنزل العبد على صفَاتِه سليماً كان أو معيباً ولكن أقام الشرع لظنّ السلامة حكماً فإذا تعلق أصل الخيار بظنِّ السلامة ابتنى جوازُ الحلف على ظن السلامة
Jika kita ditanya tentang kebolehan bersumpah, maka teks Imam Syafi‘i secara tegas membolehkan bersumpah, dan teks beliau dalam masalah budak dari negeri timur dan tuan dari negeri barat sudah dikenal; beliau berkata: Jika seorang dari negeri barat yang dibesarkan di sana sejak tiga puluh tahun membeli seorang budak dari negeri timur yang berumur lima puluh tahun, lalu langsung menjualnya pada hari itu juga, kemudian terjadi perselisihan tentang cacat lama atau cacat baru, maka Imam Syafi‘i berkata: Orang dari negeri barat itu boleh bersumpah demi Allah, “Sungguh aku telah menjualnya dan tidak ada cacat padanya.” Jika ada yang bertanya, “Bagaimana hal ini bisa diterima?” Kami katakan: Tidak ada alasan kecuali berdasarkan pada dugaan lahiriah keselamatan (dari cacat), dan atas dasar inilah prinsip khiyār dibangun. Jika tidak, maka hukum ucapan seseorang, “Aku telah menjual budak ini kepadamu,” berarti budak itu dijual sesuai sifatnya, baik sehat maupun cacat. Namun, syariat menetapkan hukum berdasarkan dugaan keselamatan. Maka, jika prinsip khiyār didasarkan pada dugaan keselamatan, kebolehan bersumpah pun didasarkan pada dugaan keselamatan tersebut.
ثم قال الشافعي يحلفُ البائع بالئه لقد بعته وما به عيب فاعترض المزني وقال لا تنقطع الخصومةُ بهذه اليمين فقد يحدث العيب بعد البيع وقبل القبض ولو كان كذلك لثبت الخيارُ للمشتري فليحلف بالله لقد بعته وأقبضتُه وما به عيب
Kemudian asy-Syafi‘i berkata, “Penjual bersumpah dengan nama Allah bahwa ia benar-benar telah menjual barang itu dan tidak ada cacat padanya.” Namun al-Muzani mengajukan keberatan dan berkata, “Perselisihan tidak selesai hanya dengan sumpah ini, karena bisa saja cacat itu muncul setelah penjualan dan sebelum penyerahan barang. Jika demikian, maka hak khiyar tetap ada bagi pembeli. Maka hendaknya penjual bersumpah dengan nama Allah bahwa ia benar-benar telah menjual, menyerahkan barang itu, dan tidak ada cacat padanya.”
قلنا لا شك أن البائع لا يخرج عن عهدة الرد باليمين التي ذكرها الشافعي ولكن لعلّه صوَّر دعوى المشتري في اقتران العيب بالبيع وإذا قصَر المشتري دعواه على ذلك فاليمين تكون على حسب الدعوى في حكم المضادَّة
Kami katakan, tidak diragukan bahwa penjual tidak lepas dari tanggung jawab pengembalian dengan sumpah yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i, namun barangkali ia menggambarkan klaim pembeli terkait adanya cacat yang bersamaan dengan akad jual beli. Jika pembeli membatasi klaimnya hanya pada hal tersebut, maka sumpah itu mengikuti klaim sesuai dengan hukum pertentangan.
وقرّر الأئمةُ في هذا الفصل أصلاً في صيغ الدعوى والإنكار واليمين وذلك أنهم قالوا لا يشترط أن يكون الإنكارُ على مضادّة الدعوى لفظاً ومعنى بل يكفي مضادّةُ المعنى هكذا قال الأصحاب
Para imam menetapkan dalam bab ini suatu prinsip mengenai bentuk-bentuk gugatan, penolakan, dan sumpah, yaitu bahwa mereka mengatakan tidak disyaratkan penolakan itu harus bertentangan dengan gugatan baik secara lafaz maupun makna, tetapi cukup jika bertentangan secara makna. Demikianlah yang dikatakan oleh para ashhab.
وهذا اللفظ فيه اختلالٌ والوجه أن يقال يكفي أن يكون الإنكار مضاداً لمقصود المدَّعي
Ungkapan ini terdapat kekeliruan; yang benar adalah cukup dikatakan bahwa penolakan itu bertentangan dengan maksud penggugat.
وبيانُ ذلك أن من ادعى ألفاً على رجلٍ من جهة قرضٍ فيكفي في الإنكار أن يقول المدعَى عليه لا يلزمني تسليم ما تدّعيه إليك فهذا يضادُّ مقصودَه وفيه غرضٌ ظاهرٌ عظيمُ الوقعِ للمنكرين فقد يكون الإقراضُ جارياً ولكن برئت ذمَّةُ المقترض بسبب ولو اعترفَ بالأصلِ وادّعى طريَانَ ذلك السببِ فيقف موقف المدَّعين والقول قولُ صاحبِهِ فربما يجترىء ويحلف وإذا قال لا يلزمُني تردّدَ هذا بين نفي الاقتراض وبين ثبوت البراءة بعد جَريان الاقتراض فاكتفى الشرعُ بلفظٍ يتضمنُ دفعَ مقصودِ المدعي ويشمل الغرضَ الذي نبَّهنا عليه ومضادَّةُ الدعوى في معناها أو مقصُودِها وسرُّ هذا يأتي في كتاب الدعاوى إن شاء الله عز وجلّ
Penjelasannya adalah bahwa jika seseorang mengklaim seribu atas orang lain dengan alasan pinjaman, maka cukup bagi tergugat untuk mengingkari dengan mengatakan, “Saya tidak wajib menyerahkan apa yang kamu klaim kepadaku.” Pernyataan ini bertentangan dengan maksud penggugat dan di dalamnya terdapat tujuan yang jelas dan sangat penting bagi para pengingkar. Bisa jadi peminjaman memang terjadi, tetapi tanggungan peminjam telah gugur karena suatu sebab. Jika ia mengakui pokok hutang dan mengklaim adanya sebab yang menggugurkan, maka ia berada pada posisi sebagai penggugat dan perkataan lawannya yang diterima. Mungkin saja ia berani bersumpah. Jika ia berkata, “Saya tidak wajib,” maka pernyataan ini bisa bermakna penolakan adanya pinjaman atau pengakuan pinjaman namun telah gugur tanggungannya setelah pinjaman terjadi. Maka syariat cukup dengan lafaz yang mengandung penolakan terhadap maksud penggugat dan mencakup tujuan yang telah kami sebutkan, serta bertentangan dengan makna atau maksud gugatan. Rahasia hal ini akan dijelaskan dalam Kitab al-Da‘āwā, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ثم اليمين تقعُ على حسب الإنكارِ ولو وقع الإنكارُ على مضادَّة صيغَةِ الدعوى لفظاً ومعنى فقال المدعي أقرضتُك وقال المدعَى عليه ما أقرضتني فلما انتهى الأمرُ إلى اليمين أراد ردَّ اليمين إلى المقصودِ وأن يحلف بالله لا يلزمُني تسليمُ ما تدعيهِ إليك فَهَلْ يُقبل ذلك منه أم يكلفُ أن يأتي باليمين على حسب الإنكار الذي صدر منه فعلَى وجهين مشهورين
Kemudian sumpah itu dilakukan sesuai dengan bentuk pengingkaran. Jika pengingkaran itu terjadi dengan menentang redaksi gugatan baik secara lafaz maupun makna, misalnya penggugat berkata, “Aku telah meminjamkan kepadamu,” lalu tergugat berkata, “Engkau tidak meminjamkan kepadaku,” maka ketika perkara sampai pada sumpah, tergugat ingin mengembalikan sumpah itu kepada maksudnya, yaitu bersumpah dengan mengatakan, “Demi Allah, aku tidak wajib menyerahkan apa yang engkau gugat kepadaku.” Apakah hal itu dapat diterima darinya, ataukah ia harus bersumpah sesuai dengan bentuk pengingkaran yang telah ia ucapkan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur.
ولو اكتفى في الإنكار بمضادّةِ مقصودِ الدعوى ثم أتى باليمين على صيغةِ مضادَّة الدعوى لفظاً ومعنى قُبلت منه اليمين؛ فإنها اشتملت على مقصود الإنكار وزادت تصريحاً وقطعاً للإيهام
Jika dalam pengingkaran cukup dengan menentang maksud dari gugatan, kemudian ia mengucapkan sumpah dengan lafaz yang menentang gugatan baik secara lafaz maupun makna, maka sumpah tersebut diterima darinya; karena sumpah itu telah mencakup maksud pengingkaran dan bahkan menambah penegasan serta memutuskan kemungkinan adanya keraguan.
ولو قال المدعي أقرضتُكَ ألفاً وعليك ردُّه فاعترف المدعَى عليهِ بالاقتراض ثم قالَ أحلف لا يلزمني تسليم شيءٍ إليك لم يُقبل ذلك منه؛ فإنه اعترفَ بالأصل ووقف موقفَ المُدّعين فيما يُسقط القرضَ ولا تُقبل اليمين من المدَّعِي ولو قال أرجعُ الآن إلى إبهام الإنكار لم يقبل منه؛ فإن ذلك يُقبلُ من وجه تردده وإذا اعترف بالأصل زال التردُّدُ وانحصر مجملُ الإنكار في ادعاء مسقط القرض وهذا مقام المدعين
Jika penggugat berkata, “Aku telah meminjamkan kepadamu seribu dan engkau wajib mengembalikannya,” lalu tergugat mengakui telah meminjam, kemudian berkata, “Aku bersumpah bahwa aku tidak wajib menyerahkan sesuatu pun kepadamu,” maka hal itu tidak diterima darinya; karena ia telah mengakui pokok perkara dan menempati posisi para penggugat dalam hal yang menggugurkan pinjaman, dan sumpah tidak diterima dari penggugat. Jika ia berkata, “Sekarang aku kembali kepada penyangkalan secara umum,” maka hal itu tidak diterima darinya; karena hal itu hanya diterima selama masih ada keraguan, dan jika ia telah mengakui pokok perkara, maka keraguan itu hilang dan penyangkalan secara umum terbatas pada pengakuan adanya hal yang menggugurkan pinjaman, dan ini adalah posisi para penggugat.
وإذا تمهَّد هذا عدنا إلى كلام المزني فنقول لعل الشافعي فرضَ فيه إذا ادّعى المشتري اقترانَ العيب بالبيع ولم يدعِ غَيرَه فإذا أنكر البائعُ دعواه كفاه ذلك؛ فإن الإنكارَ قد يقصُرُ عن معنى الدعوى فيكتفي به كما قدّمنَاه فكيف يُشترَط أن يزيدَ على معنى الدعوى
Setelah hal ini dijelaskan, kita kembali kepada perkataan al-Muzani dan berkata: Mungkin Imam Syafi’i berpendapat dalam hal ini jika pembeli mengklaim bahwa cacat itu sudah ada sejak akad jual beli dan tidak mengklaim selain itu, lalu penjual mengingkari klaimnya, maka itu sudah cukup baginya; karena pengingkaran bisa jadi kurang dari makna klaim, sehingga cukup dengan itu sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Maka bagaimana mungkin disyaratkan harus melebihi makna klaim?
ولو قبض عوضاً كان موصوفاً في الذمةِ ثم تنازع القابضُ والمقبضُ في عيبٍ بالمقبوض يُحتَملُ تقدُّمُه ويحتمل حدوثُه فقد اختلف أصحابُنا فيه َ على ما حكاه صاحبُ التقريب
Jika seseorang menerima imbalan yang berupa sesuatu yang ditentukan sifatnya dalam tanggungan, kemudian terjadi perselisihan antara penerima dan pemberi mengenai cacat pada barang yang diterima, di mana cacat tersebut dimungkinkan sudah ada sebelumnya atau mungkin juga baru terjadi, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini sebagaimana yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb.
فمنهم من قال القول قول المُقبِض النافي لتقدُّمِ العيب كما لو كان التنازع في عيبِ عينٍ متعيَّنةٍ في العقد
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dipegang adalah pernyataan pihak penerima barang yang menafikan adanya cacat sebelumnya, sebagaimana jika terjadi perselisihan mengenai cacat pada barang tertentu yang disebutkan dalam akad.
ومنهم من قال القولُ قولُ القَابضِ؛ فإن الأصلَ اشتغالُ ذمّةِ المقبضِ بما عليه وهو يَدّعي براءةَ نفسهِ
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dipegang adalah pernyataan pihak yang menerima (qābid); karena pada dasarnya tanggungan pihak yang menerima masih terisi dengan kewajibannya, dan dialah yang mengaku telah bebas dari tanggungan tersebut.
وهذا الاختلافُ يقربُ من تقابل الأصلين ويعتضد الوجهُ الأخير بأنَّ ردّ المقبوض ليس يتضمن فسخَ العقد حتى نقولَ الأصلُ استدامةُ لزومهِ وليس في تصديق القابض إلا الاستبدالُ
Perbedaan ini hampir mendekati pertentangan antara dua prinsip dasar, dan pendapat terakhir diperkuat dengan alasan bahwa pengembalian barang yang telah diterima tidaklah mengandung pembatalan akad sehingga kita mengatakan bahwa pada dasarnya akad itu tetap mengikat, dan dalam membenarkan pihak penerima tidak ada kecuali penggantian.
ومما يتعلق بهذا الفصلِ أن المتبايعين إذا تنازعا في قدم العيب وحدوثه وجعلنا القولَ قولَ البائعِ مع يمينه فمقتضى اليمينِ حدوثُ العيب ولكن البائع مصدَّقٌ في نفي قِدمهِ لا في حقيقةِ حدوثهِ
Terkait dengan bab ini, apabila kedua pihak yang berjual beli berselisih tentang apakah cacat itu sudah lama ada atau baru terjadi, dan kami menetapkan bahwa yang dipegang adalah pernyataan penjual disertai sumpahnya, maka konsekuensi dari sumpah tersebut adalah bahwa cacat itu baru terjadi. Namun, penjual hanya dibenarkan dalam menafikan bahwa cacat itu sudah lama ada, bukan dalam memastikan bahwa cacat itu benar-benar baru terjadi.
ويظهرُ أثرُ هذا في مسألةٍ وهي أن المتبايعين بعد جريان ما وصفناه لو تنازعا في مقدار الثمن مثلاً وتحالفا وتفاسخا فإذا ارتدَّ المبيع إلى البائع قال غرّموه أرشَ العيب؛ فإني أَثبتُّ حدوثَه لم نُجبه إلى ذلك؛ فإنا صدقناه محافظةً على استدامةِ لزومِ العقد ودفعاً لما يطرأ عليه بالقطع فالآن إذا انتهى الأمر إلى تغريم المشتري شيئاً بيمين غيرِه والأصلُ براءةُ ذمته فلا سبيل إلى التزامِ هذا
Hal ini tampak pengaruhnya dalam suatu permasalahan, yaitu apabila kedua pihak yang berjual beli, setelah terjadi apa yang telah kami jelaskan, berselisih tentang jumlah harga misalnya, lalu mereka saling bersumpah dan membatalkan akad. Jika barang yang dijual kembali kepada penjual, lalu penjual berkata, “Bebankan kepadanya (pembeli) ganti rugi cacat; karena aku telah membuktikan bahwa cacat itu terjadi,” maka kami tidak mengabulkan permintaannya itu. Sebab, kami membenarkannya demi menjaga kelangsungan keterikatan akad dan mencegah terputusnya akad secara tiba-tiba. Maka sekarang, jika perkara berujung pada membebankan sesuatu kepada pembeli berdasarkan sumpah orang lain, padahal asalnya tanggungan pembeli itu bebas, maka tidak ada jalan untuk mewajibkan hal tersebut.
ومن نظائر ذلك أن الوكيل بالبيع واستيفاءِ الثمن إذا قالَ قد استوفيتُ الثمنَ وسلمتُه إلى الموكِّل قُبِل قولُه مع يمينهِ؛ لأنه مؤتمن من جهةِ موكِّله فلو استُحِق المبيعُ في يَدِ المشتري واقتضى الحالُ الرجوعَ بالثمن فلا نرجع على الموكِّل؛ فإنه أنكر قبضَ الثمن وكُنَّا صدقنا الوكيلَ حتى لا نغرِّمَه شيئاً وهو مؤتمن فأما أن نغرمه حتى تُشغلَ ذمة الأصلُ براءتها فلا سبيل إلى ذلك
Demikian pula, seorang wakil dalam jual beli dan penerimaan pembayaran, jika ia berkata, “Saya telah menerima pembayaran dan menyerahkannya kepada muwakkil,” maka ucapannya diterima dengan sumpahnya; karena ia adalah orang yang dipercaya oleh muwakkilnya. Jika kemudian barang yang dijual itu ternyata disita dari tangan pembeli dan situasinya mengharuskan pengembalian pembayaran, maka kita tidak menuntut muwakkil; sebab ia mengingkari telah menerima pembayaran, dan kita telah membenarkan ucapan wakil sehingga tidak membebaninya apa pun, karena ia adalah orang yang dipercaya. Adapun membebani muwakkil hingga tanggungannya menjadi terbebani tanpa alasan, maka tidak ada jalan untuk itu.
وإذا تولَّجت مسألة من كتابٍ في كتابٍ فهي غريبة ولا وفاءَ باستقصائها إلا في كتابها
Jika suatu permasalahan dari sebuah kitab masuk ke dalam kitab lain, maka ia disebut sebagai masalah yang asing, dan tidak akan sempurna pembahasannya kecuali dalam kitab asalnya.
ونقل الأئمة عن الشافعيِ مسألةً في الاختلاف تدنو من الأصل الذي ذكرناه وهي أن من اشترى عبداً وبه وَضحٌ ثم حدث بياضٌ آخر ثم زال أحدُهما فقال البائع الزائل البياضُ القديم فلا ردَّ لك وقال المشتري الزائل البياضُ الحادث الذي كان يمتنع بسببه الردُّ بالبياض القديم والآن قد زال الحادث المانع فقولاهما متعارضان لا يترجحُ أحدُهما على الثاني ولكنَّ القولَ قولُ من يدعي استمرارَ لزوم العقد؛ فإنه الأصل وليس كما إذا تحالف المتبايعانِ في مقدار الثمن والمثمن؛ فإنهما يتحالفان؛ لأنهما تناكرا جهةَ لزومِ العقد وليس أحدُهما أولى من الثاني
Para imam telah menukil dari Imam Syafi‘i suatu permasalahan dalam hal perselisihan yang mendekati pokok yang telah kami sebutkan, yaitu: apabila seseorang membeli seorang budak yang pada dirinya terdapat bercak putih, kemudian muncul lagi bercak putih yang lain, lalu salah satu dari keduanya hilang. Penjual berkata, “Bercak putih yang hilang itu adalah bercak putih yang lama, maka kamu tidak berhak mengembalikan (budak itu).” Sedangkan pembeli berkata, “Bercak putih yang hilang itu adalah bercak putih yang baru, yang sebelumnya mencegah hak pengembalian karena bercak putih yang lama, dan sekarang penghalang itu telah hilang.” Maka, kedua pernyataan mereka saling bertentangan dan tidak ada yang lebih kuat dari yang lain. Namun, pendapat yang dipegang adalah pendapat orang yang mengklaim tetap berlakunya akad, karena itulah asalnya. Hal ini tidak seperti ketika kedua pihak yang berjual beli saling bersumpah mengenai jumlah harga atau barang yang diperjualbelikan; dalam kasus itu, keduanya bersumpah karena mereka saling mengingkari dari sisi tetapnya akad, dan tidak ada salah satu dari keduanya yang lebih utama dari yang lain.
ثم قال الشافعي فيحلف البائعُ ويغرَم للمشتري أرشَ أقلِّ البياضيْن إذا وقع التناكرُ في الأقلّ من القديم والحادث وكانا مختلفين في المقدار
Kemudian asy-Syafi‘i berkata: Maka penjual harus bersumpah dan membayar kepada pembeli ganti rugi sebesar nilai kerugian dari dua bagian putih yang paling sedikit, apabila terjadi perselisihan tentang bagian yang paling sedikit antara yang lama dan yang baru, dan keduanya berbeda dalam jumlahnya.
والأمر على ما قال؛ فإنا بنينا الأمر على استصحاب اللزوم وعلى براءةٍ في الأرش المبذول
Keadaannya memang seperti yang dikatakan; karena kami mendasarkan perkara ini pada istishab kelaziman dan pada asas kebebasan dari kewajiban membayar ganti rugi yang diberikan.
فصل
Bab
قد مضت مسائلُ الرد على مساقٍ شافٍ ونَحنُ نذكرُ في هذا الفصل حقيقةَ الرد وانشعابَ المذاهب فيهِ وهو يشتمل على مسائلَ في الزوائد أَخَّرتُها لمّا رأيتُها مستندة إلى حقيقةِ القول في الردّ فأقول
Telah berlalu pembahasan-pembahasan tentang ar-radd (pengembalian warisan) dengan penjelasan yang memadai, dan kini kami akan menyebutkan dalam bab ini hakikat ar-radd serta cabang-cabang mazhab di dalamnya. Bab ini juga mencakup beberapa masalah tambahan yang saya tunda pembahasannya karena saya melihatnya berkaitan dengan hakikat pendapat tentang ar-radd. Maka saya katakan:
الردّ بعد قبض المبيع قطعٌ للعقد من وقتِه ولا يستند ارتفاعُ العقد إلى ما تقدَّم
Pengembalian setelah barang dibeli merupakan pemutusan akad sejak saat itu dan pembatalan akad tidak berlaku surut ke masa sebelumnya.
هذا مذهبُ الشافعي وعليه بَنَينا المذهَب في إبقاء الزوائد المنفصلةِ المتجددةِ بعد العقد على المشتري إذا هو ردَّ الأصلَ فلا الزوائدُ تمنعُ من الفسخ بالعيب القديم ولا هي ترتدُّ إلى البائع عند ارتدادِ الأصلِ إليه وهذا إذا جرى الفسخُ بعد قبض المبيع
Ini adalah mazhab Syafi‘i, dan atas dasar inilah kami membangun mazhab dalam hal mempertahankan tambahan-tambahan yang terpisah dan baru muncul setelah akad pada pembeli, jika ia mengembalikan barang pokoknya. Maka tambahan-tambahan itu tidak menghalangi pembatalan karena cacat lama, dan tambahan-tambahan itu juga tidak kembali kepada penjual ketika barang pokoknya kembali kepadanya. Hal ini berlaku jika pembatalan terjadi setelah pembeli menerima barang yang dibeli.
ثم لا فصل فيما مهدناه في الزوائدِ بين ما حدث من الزوائد بعد قبض المبيع وبين ما حدثَ قبل القبض وبعد العقدِ؛ فإنّ الملكَ إذا استقرَّ في الأصلِ بالقبضِ استقرَّ الملكُ في الزوائدِ ثم يختص الأصل بالارتداد
Kemudian, tidak ada perbedaan dalam penjelasan kami tentang tambahan (za’idah) antara tambahan yang terjadi setelah pembeli menerima barang dagangan dengan tambahan yang terjadi sebelum penerimaan tetapi setelah akad; sebab, apabila kepemilikan atas pokok barang telah tetap dengan penerimaan, maka kepemilikan atas tambahan juga menjadi tetap, kemudian pokok baranglah yang khusus mengalami pengembalian.
والذي يعترض في هذا الفصل ما كان موجوداً حالةَ العقد وكان حكمه أن يتبعَ الأصل هل يجبُ التَّعرُّضُ له أو لا
Yang menjadi permasalahan dalam bab ini adalah sesuatu yang sudah ada pada saat akad, dan hukumnya mengikuti hukum asal; apakah hal tersebut wajib disebutkan secara khusus atau tidak.
فإذا اشترى رجل جاريةً وكانت حاملاً فقد اختلف القولُ في أن الحمل هل يُقابلُه قسط من الثمن فعلى قولين أحدهما أنهُ يقابله قسط؛ فإنه مقصود في جنسهِ وقد كفانا الشرعُ أمراً كُنّا لا نَستقلُّ به وهو إدخالُه في البيع مع أنهُ لا يُقدَر على تسليمه
Jika seorang laki-laki membeli seorang budak perempuan dan ternyata ia sedang hamil, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah janin tersebut memiliki bagian dari harga atau tidak. Ada dua pendapat; salah satunya menyatakan bahwa janin memiliki bagian dari harga, karena ia adalah sesuatu yang dimaksudkan dalam jenisnya, dan syariat telah mencukupkan kita dalam perkara yang tidak mampu kita lakukan sendiri, yaitu memasukkan janin dalam akad jual beli meskipun janin tersebut tidak dapat diserahkan.
والقول الثاني لا يقابله قسطٌ؛ إذ لا يمكن إفراده بالبيع وإنما ينتظم التقسيط عند تجويز الإفراد
Pendapat kedua tidak memiliki bagian yang berdiri sendiri; sebab tidak mungkin dipisahkan untuk dijual secara tersendiri, dan pembayaran secara angsuran hanya dapat dilakukan jika pemisahan itu dibolehkan.
التفريع على القولين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن قلنا يقابله قسطٌ فهو مبيع وحكمُه فيما نحن فيه أن يردَّ إذا رُدّت الأم و من حكمه أن يُحبَسَ مع الأم في مقابلةِ الثمن إذا انفصل ويبقَى العقدُ عليه إذا بقي وإن تلفت الأم على أحد قولي التفريق وهو بعد الانفصال بمثابةِ مملوكٍ مضموم إلى مملوكٍ
Jika kita katakan bahwa ia memiliki bagian harga yang sepadan, maka ia adalah barang yang dijual, dan hukumnya dalam permasalahan kita ini adalah harus dikembalikan jika induknya dikembalikan. Di antara hukumnya juga adalah ia harus ditahan bersama induknya sebagai ganti dari harga jika terpisah, dan akad tetap berlaku atasnya jika ia masih ada, dan jika induknya rusak menurut salah satu dari dua pendapat tentang perincian, maka setelah terpisah ia seperti budak yang digabungkan dengan budak lain.
وإن قلنا الحمل لا يقابله قسطٌ من الثمنِ فهو في حكم البيع كالمعدوم فإذا ولدته أُمُّه نجعله كزيادَةٍ متجدِّدةٍ بعد البيع وقد مضى القول في الزياداتِ وسيأتي باقي بيانها إن شاء الله تعالى
Jika kita mengatakan bahwa janin tidak memiliki bagian dari harga, maka dalam hukum jual beli ia dianggap seperti sesuatu yang tidak ada. Maka apabila ibunya melahirkannya, kita menganggapnya sebagai tambahan baru setelah akad jual beli. Pembahasan mengenai tambahan-tambahan telah dijelaskan sebelumnya dan sisanya akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.
وإذا باع شجرةً عليها طلعٌ غيرُ مؤبَّرٍ فمن أئمتنا من خرَّج مقابلةَ الطلع بقسط من الثمن على القولين المقدمَيْن في الحمل والجامعُ أنهما جميعاً دخلا تحت العقد بمطلق تسميةِ الأرض وقد شبَّه الشافعي الطلعَ في كِمامه بالحَمْل في أحشاء البطن
Jika seseorang menjual pohon yang di atasnya terdapat buah kurma yang belum diserbuki, maka sebagian imam kami mengqiyaskan bahwa buah kurma tersebut menjadi imbalan atas bagian tertentu dari harga, berdasarkan dua pendapat yang diunggulkan mengenai janin, dan kesamaannya adalah bahwa keduanya sama-sama termasuk dalam akad dengan penyebutan tanah secara mutlak. Imam Syafi‘i menyamakan buah kurma yang masih dalam kelopak dengan janin yang masih dalam perut.
ومن أئمتنا من قطع بأن الطلعَ يقابله قسطٌ من الثمن وهذا التردد يبتني عندنا على الاختلاف في الثمر قبل التأبير هل يجوز إفرادُه بالبيع وقد مضى فيهِ قولٌ بالغ
Sebagian dari imam kami ada yang memastikan bahwa bunga kurma memiliki bagian tertentu dari harga, dan keraguan ini menurut kami didasarkan pada perbedaan pendapat mengenai buah sebelum penyerbukan, apakah boleh dijual secara terpisah; dan dalam hal ini telah disebutkan satu pendapat yang tegas.
فهذا مما اعترض في نظمِ كلامنا في الزوائد
Inilah hal yang menjadi catatan dalam susunan pembahasan kami mengenai tambahan-tambahan.
ومما يعترض أيضاًً وبه تمام هذا الغرض أن من اشترى جاريةً فعَلِقت بمولودٍ وأرادَ ردّها ولم يعبْها الحملُ الطارىء في يدِ المشترِي أو كان طرأ في يد البائع فإذا أراد الردَّ فهل يتبعُ الحملُ الأصلَ حتى يرتد إلى البائع؛ كما يتبعُ الحملُ الأصلَ في الدخول تحت استحقاق المشتري على قولين وكذلك القولان في الطلع الذي لم يُؤبّر إذا كان كذلكَ يومَ الرَّد وقد تجدد بعد العقدِ ففي ارتداده إلى البائع القولان
Termasuk hal yang juga menjadi keberatan, dan dengan ini tujuan ini menjadi sempurna, adalah bahwa jika seseorang membeli seorang budak perempuan lalu ia hamil, kemudian pembeli ingin mengembalikannya, dan kehamilan yang terjadi di tangan pembeli itu tidak dianggap sebagai cacat, atau kehamilan itu terjadi di tangan penjual, maka jika pembeli ingin mengembalikannya, apakah kehamilan tersebut mengikuti induknya sehingga kembali kepada penjual, sebagaimana kehamilan mengikuti induknya dalam masuk ke dalam hak kepemilikan pembeli? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Demikian pula dua pendapat tersebut berlaku pada buah kurma yang belum dibuahi jika keadaannya seperti itu pada hari pengembalian dan terjadi setelah akad; maka dalam hal kembalinya kepada penjual juga terdapat dua pendapat.
وهما يجريان في صُوَرٍ؛ منها
Keduanya berlaku dalam beberapa bentuk, di antaranya:
إذا أفلس المشتري بالثمن والجاريةُ المبيعةُ حامل في يده بحَمْلٍ متجدّدٍ فإذا رجع البائعُ فيها فهل يرجعُ في حَملها فعلى قولين
Jika pembeli jatuh pailit atas harga dan budak perempuan yang dijual sedang hamil di tangannya dengan kehamilan yang baru terjadi, maka apabila penjual mengambil kembali budak tersebut, apakah ia juga berhak mengambil kembali kandungannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وكذلك إذا علقت الدابّةُ المرهونةُ بحَمْلٍ بعد الرهن ثم احتجنا إلى بيعها في الديْن وهي حامل فهل نقضي بتعلّق حق المرتهن بالحمل فعلى قولين
Demikian pula, jika hewan tunggangan yang digadaikan mengandung setelah akad gadai, kemudian kita membutuhkan untuk menjualnya karena utang sementara hewan itu sedang hamil, maka apakah hak penerima gadai juga terkait dengan kandungan tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وإذا وهب الرجل من ابنه جاريةً وافتضها وعلقت بمولودٍ رقيقٍ فرجع الأبُ في الهبة فهل ينقلب الحمل إليه ملكاً فعلى قولين
Apabila seorang laki-laki menghadiahkan seorang budak perempuan kepada anaknya, lalu anak itu menyetubuhinya dan budak tersebut hamil dari hubungan itu dengan anak yang masih berstatus budak, kemudian sang ayah menarik kembali hibahnya, maka apakah janin tersebut kembali menjadi milik ayah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
ولا فرق في هذه المواقف بين الطلع الذي لم يُؤبر وبين الحملِ
Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara bunga kurma yang belum diserbuki dan buah yang sudah ada.
وضابط الباب أن الحمل والطلع المستتر يتبعان الأصلَ في الأعواضِ الثابتة في العقودِ الاختياريّة سواء ثبتَ الأصلان مبيعاً أو ثمناً أو صداقاً أو أجرةً أو بدلاً في خُلعٍ أو صلح وإذا أُثبتا في عقد الهبةِ فالمنصوصُ في الجديد أنهما لا يستتبعان الحملَ والطلعَ ونَصَّ في القديم على أن الهبةَ كالبيع في اقتضاء الاستتباع وإذا كانت الأصول ترتد بطرقٍ قهريّةٍ كالردِّ والرجوعِ في الهبةِ ورجوعِ البائع إلى المبيع عند إفلاس المشتري والبيع المحتوم في حق المرتهن فهل تستتبعُ الأصولُ الطلعَ والحملَ فعلى قولين والفرق بين الابتداءِ المعلّقِ بالاختيارِ
Patokan dalam bab ini adalah bahwa janin dan bunga yang masih tersembunyi mengikuti pokoknya dalam hal kompensasi yang tetap dalam akad-akad pilihan, baik pokok tersebut ditetapkan sebagai barang yang dijual, harga, mahar, upah, atau pengganti dalam khulu‘ atau shulh. Jika keduanya ditetapkan dalam akad hibah, maka menurut pendapat baru yang dinyatakan, keduanya tidak mengikuti janin dan bunga, sedangkan dalam pendapat lama dinyatakan bahwa hibah seperti jual beli dalam hal menuntut adanya pengikutan. Jika pokok-pokok tersebut kembali melalui cara-cara yang bersifat memaksa, seperti penolakan, penarikan kembali hibah, kembalinya penjual kepada barang yang dijual ketika pembeli bangkrut, dan penjualan yang dipaksakan demi kepentingan pemegang gadai, maka apakah pokok-pokok tersebut juga diikuti oleh bunga dan janin? Dalam hal ini ada dua pendapat, dan perbedaannya terletak pada permulaan yang bergantung pada pilihan.
وبين ما يجري قهراً أنّ عُقودَ الاختيارِ تستدير بُعْد المبيع عن العُسر ولو نفذنا البيعَ على الجاريةِ والشجر دون الحمل والثَمرةِ لجرَّ ذلك عُسراً في الأصلين فاقتضى الشرع إتْبَاعَ الحمل والطلع الأصلَيْن
Dan di antara hal yang terjadi secara terpaksa adalah bahwa akad-akad pilihan berputar pada menjauhkan objek jual beli dari kesulitan. Seandainya kita melaksanakan jual beli atas budak perempuan dan pohon tanpa (termasuk) kandungan dan buahnya, niscaya hal itu akan menimbulkan kesulitan pada pokok keduanya. Maka syariat menetapkan agar kandungan dan buah mengikuti pokoknya.
وما يجري من الارتداد قهراً ليس في حكم العقود فجرى الأمرُ في التبعيّةِ على التردُّدِ ولما كانت الهبةُ دون البيع في التعبداتِ فرّق الشافعي في الجديد بينهما في مقتضى الإقباض
Apa yang terjadi dari murtad secara paksa tidak termasuk dalam hukum akad, sehingga perkara mengenai ketergantungan (hukum) di dalamnya menjadi diperselisihkan. Karena hibah lebih ringan daripada jual beli dalam hal ibadah, maka asy-Syafi‘i dalam pendapat barunya membedakan antara keduanya dalam hal konsekuensi penyerahan (barang).
فهذا تفصيل القول في الزوائد والردّ بعد قبض المبيع
Inilah rincian penjelasan mengenai tambahan dan pengembalian setelah barang dagangan diterima.
فأما إذا رَدّ المشتري المبيعَ قبل القبض بعيبٍ كان مقترناً بالعقد أو تجدد في يد البائع فالزوائد التي تجددت بعد العقد لمن تكون في المسألة وجهان مبنيان على حقيقةِ القول في اقتضاء الفسخ قبل القبض وفيه وجهان أحدُهما أن الفسخ قبل القبض كالفسخ بعده في أنه يتضمن قطعَ العقد في الحال ولا يتضمن الاستناد إلى ما تقدّمَ
Adapun jika pembeli mengembalikan barang yang dibeli sebelum menerima barang tersebut karena cacat yang sudah ada sejak akad atau yang muncul di tangan penjual, maka tambahan-tambahan yang muncul setelah akad, menjadi milik siapa? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada hakikat pendapat mengenai konsekuensi pembatalan akad sebelum penerimaan barang. Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa pembatalan akad sebelum penerimaan barang sama dengan pembatalan setelahnya, yaitu sama-sama memutus akad pada saat itu juga dan tidak berlaku surut terhadap apa yang telah terjadi sebelumnya.
والثاني أن الفسخ يتضمَّن ارتفاعَ العقدِ من أصله تبيُّناً حتى كأن لم يكن العقد
Kedua, bahwa fasakh mengandung makna batalnya akad sejak awal secara penjelasan, sehingga seolah-olah akad itu tidak pernah ada.
فإن قلنا الفسخُ قطعٌ لا يتضمن استناداً فالزوائد المتجددة بعد العقد متروكةٌ على المشتري كما تُترك عليه إذا جرى الفسخُ بعد القبضِ
Jika kita mengatakan bahwa fasakh adalah pemutusan yang tidak mengandung unsur penelusuran ke belakang, maka tambahan-tambahan yang muncul setelah akad tetap menjadi milik pembeli, sebagaimana tambahan tersebut tetap menjadi miliknya jika fasakh terjadi setelah barang diterima.
وإن قلنا الفسخُ قبل القبض يتضمن الاستنادَ فترتدُّ الزوائدُ إلى البائع
Dan jika kita mengatakan bahwa pembatalan (fasakh) sebelum penyerahan (qabdh) mengandung makna kembali ke asal, maka tambahan-tambahan (zawā’id) itu kembali kepada penjual.
وهذا الاختلاف هو الذي قدّمناه فيه إذا تلف المبيعُ قبل القبض وانفسخ العَقد فقد ذكرنا الخلافَ في الزوائد المتجدّدةِ بعد العقدِ إذا كان الانفساخ بتلفِ المبيع قبل القبض
Perbedaan inilah yang telah kami kemukakan sebelumnya mengenai kasus apabila barang yang dijual rusak sebelum diterima dan akad menjadi batal. Kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai tambahan-tambahan yang muncul setelah akad, apabila pembatalan akad terjadi karena barang yang dijual rusak sebelum diterima.
ومما ذكرهُ بعضُ الأصحاب أن الزوائدَ المتجددةَ بعد العقد هل يحبسها البائعُ حَبْسَ المبيع فعلى وجهين وهذا فيه فضلُ نظر أما الحملُ الذي كان موجوداً حالة العقد فحبْسُه محمولٌ على اختلافِ القَولِ في أن الحملَ هل يقابله قسط من الثمن كما مضى
Sebagian ulama menyebutkan bahwa tambahan-tambahan yang muncul setelah akad, apakah penjual boleh menahannya sebagaimana ia menahan barang yang dijual, terdapat dua pendapat dalam hal ini, dan masalah ini membutuhkan kajian lebih lanjut. Adapun janin yang sudah ada saat akad, penahanannya tergantung pada perbedaan pendapat tentang apakah janin tersebut memiliki bagian dari harga atau tidak, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
وأما الحبس في الزوائد المتجدّدةِ بعد العقد فليس على حُكمِ حبسِ المبيع بالثمن ولكن إنما ينقدح الاختلافُ فيه من قِبَل تعرضِ العقدِ للانفساخ ثم إذا فرض فالمذهب متردّد في أن الزوائدَ لمن
Adapun penahanan terhadap tambahan-tambahan yang muncul setelah akad, maka hal itu tidak mengikuti ketentuan penahanan barang yang dijual karena harga, tetapi perbedaan pendapat dalam hal ini muncul dari kemungkinan akad tersebut batal. Kemudian, jika hal itu terjadi, maka terdapat perbedaan pendapat dalam mazhab mengenai apakah tambahan-tambahan tersebut menjadi milik…
فالذي ذكره بعضُ الأصحابِ في منع الزوائدِ من المشتري محمولٌ على هذا الأصل لا على تقدير الحبس في مقابلةِ الثمن
Apa yang disebutkan oleh sebagian ulama mazhab mengenai larangan tambahan dari pembeli, didasarkan pada prinsip ini, bukan atas dasar penahanan sebagai ganti dari harga.
وهذا القياس يتضمن طردَ الخلاف في الأكساب وإن لم تكن من عيْن المبيع؛ لما نبهنا عليه
Qiyās ini mencakup penghilangan perbedaan pendapat dalam hal penghasilan, meskipun bukan berasal dari barang yang dijual itu sendiri, sebagaimana telah kami isyaratkan.
فليفهم الناظر ذلك
Maka hendaklah orang yang memperhatikan memahami hal itu.
فهذا بيان المذهبِ في حقيقة الرد بعدَ القبض وقبله وكيفية ابتناء أمرِ الزوائد على أصل المذهب في حقيقة الرد
Ini adalah penjelasan mazhab mengenai hakikat pengembalian (rad) setelah dan sebelum penyerahan (qabdh), serta bagaimana perkara tambahan-tambahan (zawā’id) dibangun di atas dasar mazhab dalam hakikat pengembalian.
وأما أبو حنيفة فإنه جعل الفسخَ قبل القبض رفعاً للعَقدِ من أصله ورَدَّ الزوائدَ مع الأصل وأراد طردَ ذلك بعدَ القبض وقال الرّدُّ بعدَ القبض رفع للعقدِ من أصله ثم ترَدّد في الزوائد فلم يسمح بردّ الزوائد ولم يرَ إسقاطَ اعتبارها فقال الزوائدُ تمنع الردَّ بعد القبض
Adapun Abu Hanifah, ia memandang bahwa pembatalan (fasakh) sebelum penyerahan (qabdh) merupakan penghapusan akad dari asalnya dan mengembalikan tambahan-tambahan bersama pokoknya. Ia juga bermaksud untuk menerapkan hal itu setelah penyerahan, dan berkata bahwa pengembalian (radd) setelah penyerahan adalah penghapusan akad dari asalnya. Namun, ia ragu dalam hal tambahan-tambahan tersebut, sehingga ia tidak membolehkan pengembalian tambahan-tambahan itu dan tidak pula menganggapnya gugur. Maka ia berkata, tambahan-tambahan itu menghalangi pengembalian setelah penyerahan.
فهذا منتهى القولِ في ذلك
Inilah akhir pembahasan mengenai hal itu.
فصل
Bab
إذا اشترى رجلٌ عبدَيْن وقبضهما فتلف أحدهما بعد القبض ووجد المشتري بالثاني عيباً وأراد ردَّه بالعيب إفراداً من غير أن يضم إليه قيمةَ التالف وجوزنا ذلك في تفريق الصفقة كما سيأتي إن شاء اللهُ عز وجل فالوجه أن يُقوَّم التالفُ والقائمُ المردودُ وننسب إحدى القيمتين إلى الثانية ثم نقول إذا رَدَّ العبدَ القائمَ استردّ من الثمن مثلَ نسبة قيمةِ القائم من التالف فإن كان قيمةُ التالف ألفين وقيمةُ القائم ألفاً استرد ثلثَ الثمن وعلى هذا البابُ وقياسُه
Jika seseorang membeli dua budak lalu telah menerima keduanya, kemudian salah satu dari keduanya rusak setelah penerimaan, dan pembeli menemukan cacat pada budak yang kedua serta ingin mengembalikannya karena cacat tersebut secara terpisah tanpa menggabungkannya dengan nilai budak yang telah rusak, dan kita membolehkan hal itu dalam kasus tafriq ash-shafqah (memisahkan transaksi), sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah ‘Azza wa Jalla, maka caranya adalah menaksir nilai budak yang rusak dan budak yang masih ada yang ingin dikembalikan, lalu membandingkan salah satu dari kedua nilai tersebut dengan yang lainnya. Kemudian kita katakan, jika ia mengembalikan budak yang masih ada, maka ia berhak mengambil kembali dari harga yang telah dibayar sebesar persentase nilai budak yang masih ada dibandingkan dengan budak yang telah rusak. Jika nilai budak yang rusak dua ribu dan nilai budak yang masih ada seribu, maka ia berhak mengambil sepertiga dari harga yang telah dibayar. Demikianlah kaidah dan qiyās-nya.
ومقصدنا أن القيمةَ في التالف بأيّ يوم تعتبرُ ذكر صاحب التقريب قولين عن الشافعي
Maksud kami adalah bahwa nilai pada barang yang rusak dianggap berdasarkan hari terjadinya kerusakan. Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat dari Imam asy-Syāfi‘ī mengenai hal ini.
أحدهما أنا ننظر إلى قيمة يومِ البيع؛ فإن التوزيع بيان تقسيط الثمن على المثمن وهذا يحصل يومَ العقد؛ فإن كل جملةٍ توزعت على جملةٍ قابلت أجزاؤها أجزاءها
Pertama, kita melihat pada nilai pada hari penjualan; karena pembagian adalah penjelasan tentang pembagian harga atas barang yang dijual, dan hal ini terjadi pada hari akad; sebab setiap bagian dibagi atas bagian yang lain, di mana setiap bagiannya saling berpadanan.
والقول الثاني أنا نعتبر حالةَ قبضِ المشتري؛ فإن المبيع إنما يدخل في ضمانهِ ساعةَ قبضه حتى كأنه مبتدأُ العقدِ وهذا يلتفت عندنا على ما قدَّمناه من أن الفسخ قبلَ القبض يُعدِم العقدَ تبيُّناً أم كيف السبيل فيه ولكن هذا تقديرٌ بعد القبض فيوجه هذا القول بأن المبيع يدخل في ضمانه بقبضه فإنما يحسب عليه الأمر من يوم قبضه؛ فإن الردَّ والاسترداد من أحكامه
Pendapat kedua adalah bahwa kita mempertimbangkan keadaan saat pembeli menerima barang; karena barang yang dijual baru masuk dalam tanggungan (jaminan) pembeli pada saat ia menerimanya, seakan-akan itu adalah permulaan akad. Hal ini berkaitan, menurut kami, dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya bahwa pembatalan sebelum penerimaan barang membatalkan akad secara keseluruhan, atau bagaimana cara penanganannya. Namun, ini adalah penetapan setelah penerimaan barang. Maka, pendapat ini diarahkan bahwa barang yang dijual masuk dalam tanggungan pembeli dengan penerimaannya; sehingga segala sesuatu dihitung atasnya sejak hari ia menerima barang tersebut, karena pengembalian dan pengambilan kembali adalah termasuk hukum-hukumnya.
وذكر صاحب التقريب قولاً ثالثاً مخرَّجاً وهو أنا نعتبر أقلَّ القيمتين في التالف من يوم البيع والقبض فإن كانت قيمةُ التالف يوم البيع أقل فبها العَبْرُ ؛ فإن التوزيع وقع يومئذٍ وإن كانت قيمتُه يوم القبض أقلَّ فالاعتبار به؛ فإنه يومئذٍ دخل في ضمانهِ فإن كانت من زيادة قبل ذلك فلا اعتبار بها
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat ketiga yang merupakan hasil istinbāṭ, yaitu kita mempertimbangkan nilai terendah dari dua nilai barang yang rusak, yaitu pada hari penjualan dan hari penerimaan. Jika nilai barang yang rusak pada hari penjualan lebih rendah, maka itulah yang dijadikan acuan, karena pembagian terjadi pada saat itu. Namun, jika nilainya pada hari penerimaan lebih rendah, maka yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari penerimaan, karena pada saat itulah barang tersebut masuk dalam tanggungannya. Adapun jika terdapat kenaikan nilai sebelum itu, maka tidak dianggap.
ثم طرد الأئمةُ ما ذكرناه من التردّدِ في الوقت المعتبَر في القيمة في الرجوع بأرشِ العيب القديم عند مسيس الحاجَةِ إليه فإن كان العيبُ القديم يومَ البيع مُنْقصاً ثلث القيمةِ وكان يوم القبض مُنقصاً ربعَها ففي المسألة أقوال أحدها الاعتبار بيوم العقد والثاني الاعتبارُ بيوم القبض والثالث أنا نراعي ما هو الأضرُّ بالبائع في الحالتين؛ فإن الأصلَ عدمُ استقرار الثمن والعبارة عن هذا أنَّا نَعتبرُ أكثر النقصانين من يوم العقدِ والقبض
Kemudian para imam memperluas apa yang telah kami sebutkan tentang keraguan dalam waktu yang dijadikan patokan untuk menentukan nilai dalam pengembalian arsy atas cacat lama ketika ada kebutuhan mendesak terhadapnya. Jika cacat lama pada hari jual beli mengurangi sepertiga nilai, dan pada hari penerimaan barang mengurangi seperempatnya, maka dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat: salah satunya adalah patokan pada hari akad, yang kedua patokan pada hari penerimaan barang, dan yang ketiga adalah kami memperhatikan mana yang lebih merugikan penjual di antara kedua keadaan tersebut; karena pada dasarnya harga belum tetap, dan ungkapan dari hal ini adalah kami mempertimbangkan pengurangan yang lebih besar antara hari akad dan hari penerimaan barang.
فهذا بيان المراد في القيمة المعتبَرةِ في أرش العيب وسنعود إليها ببيانٍ شافٍ في تفريق الصفقة إن شاء اللهُ عز وجل
Inilah penjelasan mengenai nilai yang diperhitungkan dalam arsy al-‘ayb, dan kami akan kembali membahasnya dengan penjelasan yang memadai pada pembahasan tafriq ash-shafqah, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فصل
Bab
قال المزني سمعت الشافعيَّ يقولُ كل ما اشتريتَ مما يكون مأكولُه في جوفه إلى آخره
Al-Muzani berkata, “Aku mendengar asy-Syafi‘i berkata: Setiap sesuatu yang engkau beli, yang bagian dalamnya adalah sesuatu yang dimakan hingga habis seluruhnya.”
إذا اشترى الرجل جَوْزاً فكسره فوجده فاسدَ الجوف أو اشترى بطيخاً أو رماناً فتبيّنَ ما ذكرناه فسبيل التفصيل فيه أنه إن زاد في الكسرِ والقَطعِ على المقدار الذي يُطَّلَعُ به على فسادِ الجوفِ فهذا الذي أحدثه في حكم عيبٍ حادثٍ في يد المشتري وقد سبق القولُ في أن العيبَ الحادثَ مع الاطلاع على العيب القديم هل يمنع الردَّ بالعيب القديم
Jika seseorang membeli buah kenari lalu memecahkannya dan mendapati isinya rusak, atau membeli semangka atau delima lalu ternyata seperti yang telah disebutkan, maka rincian hukumnya adalah: jika ia menambah dalam memecah atau memotong melebihi kadar yang diperlukan untuk mengetahui kerusakan isi bagian dalamnya, maka apa yang ia lakukan itu dianggap sebagai cacat baru yang terjadi di tangan pembeli. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa cacat baru yang muncul bersamaan dengan ditemukannya cacat lama, apakah hal itu menghalangi pengembalian barang karena cacat lama atau tidak.
فأما إذا اقتصر على القدر الذي يَطلعُ به على فساد الجَوفِ وذلك يختلف باختلافِ وجهِ الفساد فإن كان الفساد في الطعم بأن كان البطيخ حامضَ الجَوف أو مُرَّه فتقوير البطيخ للاطلاع على الطعم زيادةٌ على قدر الحاجة إذ يكفي في ذلكَ غرزُ مِسلَّةٍ وذوقُ ما يعلق بها وإن كان الفساد من تدوّد البطيخ فقد لا يطلع عليه إلا بالتقوير
Adapun jika hanya sebatas mengetahui kadar yang dapat menunjukkan kerusakan bagian dalam, maka hal itu berbeda-beda sesuai dengan bentuk kerusakannya. Jika kerusakan terletak pada rasa, seperti semangka yang bagian dalamnya asam atau pahit, maka membolongi semangka untuk mengetahui rasanya adalah melebihi kadar kebutuhan, karena cukup dengan menusukkan jarum dan mencicipi apa yang menempel padanya. Namun jika kerusakannya berupa adanya ulat di dalam semangka, maka terkadang hal itu tidak dapat diketahui kecuali dengan membolonginya.
فإذا حصل التنبيهُ لهذا عُدنا إلى مقصود المسألة قائلين إذا وقع الاقتصارُ على قدر الحاجة ثم أراد المشتري الردَّ بالعيب القديم فكيف السبيل فيه
Jika telah terjadi peringatan terhadap hal ini, kita kembali kepada maksud permasalahan dengan mengatakan: apabila hanya sebatas kebutuhan yang dilakukan, kemudian pembeli ingin mengembalikan barang karena cacat lama, maka bagaimana caranya dalam hal ini?
المسألة لها صورتان وراء ما ذكرناه إحداهُما أن يكون للمبيع مع الفساد الذي بان قيمةٌ والأخرى ألا يكون للمبيع مع ذلك الفساد قيمةٌ
Masalah ini memiliki dua bentuk selain yang telah kami sebutkan: pertama, apabila barang yang dijual masih memiliki nilai meskipun terdapat cacat yang telah tampak; kedua, apabila barang yang dijual tidak memiliki nilai sama sekali karena cacat tersebut.
فإذا كان للمبيع قيمة بأن قيل هذا صحيحاً بكذا وهو مع الفساد بكذا فهل يملكُ المشتري الردَّ فعلى قولين أحدهُما لا يملكه؛ لمكان العيب الذي حدث في يده فيهِ؛ اعتباراً بالعيوب الحادثةِ في يد المشتري لا من جهة الاطلاع على وجه الفسادِ
Jika barang yang dijual memiliki nilai, misalnya dikatakan barang ini dalam keadaan sah seharga sekian dan dalam keadaan rusak seharga sekian, maka apakah pembeli berhak mengembalikan barang tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; salah satunya menyatakan bahwa pembeli tidak berhak mengembalikannya, karena cacat yang terjadi pada barang tersebut muncul ketika berada di tangan pembeli; hal ini dipertimbangkan sebagaimana cacat-cacat yang terjadi di tangan pembeli, bukan karena mengetahui sebab kerusakan.
والقول الثاني يملك المشتري الردَّ؛ فإن التغيير الذي صدرَ منه كان طريقاً إلى الاطلاع على العيب فلا يصير مانعاً من الردّ بالعيب
Pendapat kedua menyatakan bahwa pembeli berhak mengembalikan barang; karena perubahan yang dilakukan olehnya merupakan jalan untuk mengetahui cacat tersebut, sehingga hal itu tidak menjadi penghalang untuk mengembalikan barang karena cacat.
التفريع على القولين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن حكمنا بأن العيبَ الحادث بالكسر كالعيوب الحادثة لا بالجهات التي يطلع بها على العيب فالقول في العيب الحادث والقديم كما تفصَّل فيما مضى
Jika kita menetapkan bahwa cacat yang terjadi karena pecah itu sama seperti cacat-cacat yang baru terjadi, maka hal itu bukan berdasarkan cara-cara untuk mengetahui cacat tersebut; sehingga pembahasan mengenai cacat yang baru maupun yang lama adalah sebagaimana telah dirinci sebelumnya.
وإن قلنا العيبُ الحاصل بجهة الاطلاع لا يمنع حق الرد فهل يغرَم المشتري أرشَ العيب الحادث بسبب كسره وتغييره ليضمه إلى المبيع ويستردّ الثمنَ فعلى وجهين أحدهما أنه يغرَمُ الأرشَ فعَلى هذا لا فرق بين ما انتهينا إليهِ وبين عيبٍ حادثٍ لا عن جهة الاطلاع إذا فرعنا على أن المشتري يملكُ ضمَّ الأرش إلى المبيع واسترداد الثمن وإن قلنا لا يملك ذلك في العيب الحادث إلا في جهة الاطلاع فعَلى هذا الوجه يتميز العيب في جهة الاطلاع عن غيره في التفريع على هذَا القول
Jika kita berpendapat bahwa cacat yang terjadi karena proses pemeriksaan tidak menghalangi hak khiyar (hak mengembalikan barang), maka apakah pembeli wajib membayar kompensasi (arasy) atas cacat yang timbul akibat ia membongkar dan mengubah barang untuk memeriksanya, lalu ia mengembalikan barang tersebut dan meminta kembali uangnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya, pembeli wajib membayar kompensasi tersebut. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara kasus ini dengan cacat yang timbul bukan karena proses pemeriksaan, jika kita berpendapat bahwa pembeli berhak menambahkan kompensasi ke barang dan meminta kembali uangnya. Namun, jika kita berpendapat bahwa pembeli tidak berhak melakukan hal itu kecuali pada cacat yang timbul karena proses pemeriksaan, maka dalam pendapat ini, cacat yang terjadi karena proses pemeriksaan berbeda hukumnya dengan cacat yang terjadi bukan karena proses pemeriksaan, menurut rincian pendapat ini.
ومن أصحابنا من قال يرد المشتري المكسورَ من غير أرشٍ في مقابلةِ الكسر ويسترد الثمنَ بكماله وكأن المشتري معذور فيما يُوصِّله إلى الاطلاع من غير تعرُّضٍ للضمان
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa pembeli boleh mengembalikan barang yang pecah tanpa membayar ganti rugi (arsh) sebagai kompensasi atas kerusakan tersebut, dan ia berhak meminta kembali seluruh harga yang telah dibayarkan. Seolah-olah pembeli dianggap tidak bersalah atas apa yang menyebabkan ia mengetahui kerusakan itu, selama ia tidak melakukan tindakan yang menimbulkan tanggungan jaminan (dhamān).
ومما يجب التنبُّه له ولا تتحقق الإحاطة بالمسألة دونه أن المسألة التي نحن فيها لا تتميّز أصلاً عن تفصيل القول في العيوب الحادثةِ إلا على قولنا إن المشتري يرد المغيَّر المكسورَ من غير أَرْش فإن لم نسلك هذا المسلكَ فلا فرقَ؛ فإنا إذا ذكرنا في الكسر خلافاً في المنع من الرد وضَمِّ أرش الحادث من العيب فقد ذكرنا مثلَه في كل عيبٍ حادثٍ فلا تنفصل هذه المسألةُ عن غيرها إلا إذا جوَّزنا الردَّ من غير غُرم أرشٍ في مقابلة عيبِ الكسر
Hal yang juga perlu diperhatikan dan tidak akan tercapai pemahaman menyeluruh terhadap permasalahan ini tanpanya adalah bahwa permasalahan yang sedang kita bahas sebenarnya tidak berbeda sama sekali dari rincian pendapat mengenai cacat yang terjadi kemudian, kecuali menurut pendapat kita bahwa pembeli boleh mengembalikan barang yang telah berubah dan pecah tanpa membayar arsy. Jika kita tidak menempuh pendapat ini, maka tidak ada perbedaan; sebab jika kita menyebutkan dalam kasus barang pecah adanya perbedaan pendapat tentang larangan pengembalian dan kewajiban menambah arsy atas cacat yang terjadi, maka hal yang serupa juga disebutkan pada setiap cacat yang terjadi kemudian. Maka, permasalahan ini tidak terpisah dari yang lain kecuali jika kita membolehkan pengembalian tanpa kewajiban membayar arsy sebagai kompensasi atas cacat pecah tersebut.
ولو قال قائلٌ مسألةُ الكسر أولى بأن يحتكم المشتري فيها بالرد مَعَ غرامةِ الأَرْش كان هذا فرقاً في ترتيب مسألةٍ على مسألةٍ
Jika ada yang berkata, “Masalah kerusakan (kekurangan) lebih utama bagi pembeli untuk menuntut pengembalian barang disertai pembayaran ganti rugi (arsh),” maka ini merupakan pembedaan dalam menyusun satu masalah atas masalah yang lain.
ثم ما أجريناه من أرش عيب الكسر لا خفاء به
Kemudian, apa yang telah kami tetapkan berupa kompensasi (arsh) atas cacat berupa patah, tidak ada yang samar di dalamnya.
فنقول كم قيمةُ الجوز صحيحاً فاسد الجوف فيقال مثلاً مائة ثم نقول كم قيمتُه مكسوراً بيِّن الفساد فيقال خمسون فالأرش إذاً خمسون؛ فإن الأرشَ المعتبر للعيب الحادثِ مَحْضُ نقصانِ القيمة لا حاجةَ فيه إلى تقديرِ نسبةٍ ومقابلةٍ
Maka kami katakan: Berapa nilai kacang kenari dalam keadaan utuh namun rusak bagian dalamnya? Misalnya dikatakan seratus. Lalu kami tanyakan: Berapa nilainya jika telah pecah dan kerusakannya tampak jelas? Dikatakan lima puluh. Maka arsy (ganti rugi) adalah lima puluh; sebab arsy yang diperhitungkan untuk cacat yang terjadi semata-mata adalah pengurangan nilai, tidak perlu memperkirakan persentase atau perbandingan.
وكل ما ذكرناه؛ في الصورة الأولى وهي إذا كان للجوز مع فساد جوفه قيمةٌ
Dan semua yang telah kami sebutkan berlaku pada gambaran pertama, yaitu apabila kenari tersebut, meskipun isinya rusak, tetap memiliki nilai.
فأما الصورة الثانية وهي إذا قيل لا قيمةَ للجوز مع فسادِ جوفه في حالة صحَّتهِ ويظهر تصوير هذا في البيض وقشرهِ فقد قال طائفةٌ من أئمتنا إذا تبيّن ذلك وأراد المشتري الرجوعَ بالأرش فيرجع بجميع الثمن على البائع وسبيل رجوعهِ بالجميع استدراك الظُلامَة لا استبانةُ أن البيع لم ينعقد من أصله لكون المبيع غيرَ متقوَّم وهذا القائل يقول إذا استرد المشتري الثمنَ استدراكاً للظلامة فذلك المكسر يبقى على حكم اختصاصه بالمشتري حتى إن مست الحاجةُ إلى تنقيةِ الطريق فعلى المشتري تكلّفُ ذلك
Adapun gambaran kedua, yaitu ketika dikatakan bahwa tidak ada nilai pada kenari jika isinya rusak dalam keadaan sehat, dan hal ini tampak jelas pada telur dan kulitnya, maka sekelompok ulama dari kalangan kami berpendapat: jika hal itu telah jelas dan pembeli ingin menuntut pengembalian sebagian harga (arasy), maka ia berhak mengembalikan seluruh harga kepada penjual. Cara pengembalian seluruh harga ini adalah sebagai bentuk menebus kezaliman, bukan karena diketahui bahwa akad jual beli sejak awal tidak sah karena barang yang dijual tidak memiliki nilai (ghayr mutaqawwam). Pendapat ini menyatakan bahwa jika pembeli mengembalikan harga sebagai penebusan kezaliman, maka barang yang rusak tersebut tetap menjadi milik pembeli, sehingga jika suatu saat diperlukan untuk membersihkan jalan, maka pembeli yang harus menanggung usaha tersebut.
وهذا فاسدٌ؛ فإن الذي لا يتقوَّمُ لا يجوز أن يكون مورداً للبيع ولا يدرأ هذا الإشكالَ أن يقولَ قائل يقدّر في الصحيح من الجنس ضربٌ من الانتفاع وإن قَلَّ مثل أن يُنقَش ويُتخذ منه اللُّعبَ أو ينثر كدأبِ الناسِ في الجوز وقد يعبث به الصبيان؛ فإن هذا تشبيبٌ بتقدير قيمة وإن قلت وإذا كان كذلك التحق هذا بالصورة الأولى
Ini adalah pendapat yang rusak; sebab sesuatu yang tidak memiliki nilai tidak boleh dijadikan objek jual beli, dan tidak dapat diatasi permasalahan ini dengan mengatakan bahwa pada barang yang sah dari jenis tersebut terdapat semacam manfaat, meskipun sedikit, seperti dijadikan ukiran, mainan, atau disebar sebagaimana kebiasaan orang terhadap kenari, dan kadang-kadang dimainkan oleh anak-anak; karena ini hanyalah upaya untuk memperkirakan nilai, meskipun sedikit. Jika demikian, maka hal ini kembali kepada bentuk yang pertama.
وإن قال هذا القائل نُقدّر لصحيحه قيمةً على تقدير ألا يتبين فساد وهو على ما هو عليه من صحته فهذا تكلُّفٌ أيضاً وقد تبين الأمرُ
Dan jika orang ini berkata, “Kita perkirakan untuk hewan yang sehat suatu nilai dengan anggapan bahwa tidak tampak kerusakannya dan ia tetap dalam keadaan sehatnya,” maka ini juga merupakan suatu bentuk pemaksaan, dan perkara ini telah menjadi jelas.
وإن قال هذا القائل يمكن ترويجُ الصحيح بضم آحاده إلى ما ليس فاسداً في جنسه فهذا في تقديره له وُجَيْه
Dan jika orang ini berkata, “Dapat mempromosikan hadis sahih dengan menggabungkan hadis-hadis perorangan (āḥād) dengan apa yang tidak rusak dalam jenisnya,” maka hal ini, menurut penilaiannya, adalah masuk akal.
وبالجملة لا وجهَ إلا القطع بتبيّن فساد العقد؛ فإن من يصير إلى الصحَّة لا يخلو من أحد أمرين إما أن يُقدِّرَ قيمةً قليلةً والمسألة مفروضةٌ حيث يتبين أن لا قيمة مع الصحة
Singkatnya, tidak ada alasan selain memastikan rusaknya akad; sebab siapa pun yang berpendapat akad itu sah, tidak lepas dari dua kemungkinan: pertama, ia memperkirakan adanya nilai yang rendah, padahal masalah ini telah ditetapkan bahwa tidak ada nilai sama sekali jika akad dinyatakan sah.
وإما أن يقدِّر رواجاً في آحادِ ما فيه الكلام مع ما لا فساد بهِ وهذا ليس بشيء؛ فإن الذي يسمح بقبول فاسدٍ لا قيمة له يسمح بقبول الناقص دونه وقد تجري قيمةٌ تقدر على تلبيسٍ وهذا الأخير فيه فالوجه القطع بتبيُّن فسادِ العقدِ والقشورُ مختصّةٌ بالبائع
Atau bisa juga diperkirakan adanya laku pada sebagian barang yang sedang dibicarakan bersama dengan barang yang tidak rusak, namun ini tidak ada artinya; sebab orang yang membolehkan menerima barang rusak yang tidak bernilai, tentu akan membolehkan menerima barang yang cacat di bawahnya, dan bisa saja ada nilai yang ditetapkan berdasarkan tipuan, dan yang terakhir ini pun demikian, maka yang tepat adalah memastikan rusaknya akad tersebut, dan kerugian hanya menjadi tanggungan penjual.
فإن قيل قد قال الشافعي إلا أن لا يكون لفاسدِه قيمة فيرجع بجميع الثمن فما محمل هذا قلنا معناه أنه يرجع بجميع الثمن لتبين فساد العقد
Jika dikatakan, “Imam Syafi‘i telah berkata: kecuali jika barang rusak itu tidak memiliki nilai, maka pembeli berhak menuntut kembali seluruh harga,” maka apa maksud dari pernyataan ini? Kami katakan, maksudnya adalah pembeli berhak menuntut kembali seluruh harga karena telah jelas bahwa akad tersebut batal.
وهذا تمام المراد
Dan inilah keseluruhan maksud yang dimaksudkan.
ويلتحق بالمسألة أن من قال بجواز الرد في الصورة الأولى استشهد برَدّ المصرَّاة؛ فإن تلك الواقعةَ اشتملت على لحوقِ تغييرٍ بالمبيع ثم لم يمتنع الرَّدُّ؛ إذ اللبنُ قد حُلب ثم حال واستحال والاستشهاد بتلك المسألة والمذهبُ فيها مستندٌ فلما تعارضت هذه الوجوه اختلف لأجلها أصحابُنا؛ لمّا علموا أن لا سبيل إلى إبطال حق المشتري من الأرش والرد جميعاً
Terkait dengan masalah ini, orang yang membolehkan pengembalian pada kasus pertama berdalil dengan pengembalian barang musyrāh; karena peristiwa tersebut mencakup terjadinya perubahan pada barang yang dijual namun pengembalian tetap tidak dilarang; sebab susu telah diperah kemudian berubah dan beralih bentuk. Dalil dengan kasus tersebut dan pendapat dalam masalah itu memiliki dasar. Ketika berbagai pendapat ini saling bertentangan, para ulama kami pun berbeda pendapat karenanya; karena mereka mengetahui bahwa tidak mungkin membatalkan hak pembeli baik berupa arsy maupun pengembalian sekaligus.
فذهب ابنُ سُريج إلى أن هذا عقد تعذَّر إمضاؤُه فالوجه فسخُه كما يُفسخ العقدُ إذا اختلف المتبايعان وتحالفا ثم من حُكمِ الفَسخِ ردُّ الثمنِ ولا سبيل إلى استردادِ الحلي لما ذكرناه من وجوه الإشكال فنقدِّر كأن الحلي تلف والوجه إذا قدَّرنا ذلك الرجوعُ إلى قيمةٍ معتبرة بالذهب إن كان الحُليُّ من فضةٍ فنعتبر قيمةَ الحلي وبه العيب القديم ومساقُ هذا يقتضي تبقيةَ الحُلي على المشتري ملكاً هذا مذهب ابن سُريج
Ibnu Surayj berpendapat bahwa ini adalah akad yang tidak dapat dilaksanakan, sehingga solusinya adalah membatalkannya, sebagaimana akad dibatalkan jika dua pihak yang berjual beli berselisih dan saling bersumpah. Kemudian, salah satu hukum dari pembatalan adalah mengembalikan harga, namun tidak mungkin mengembalikan perhiasan karena berbagai alasan yang telah disebutkan. Maka, kita anggap seolah-olah perhiasan itu telah rusak, dan jika kita menganggap demikian, maka yang harus dilakukan adalah mengembalikan nilai yang diperhitungkan dengan emas jika perhiasan itu terbuat dari perak. Kita perhitungkan nilai perhiasan tersebut beserta cacat lamanya, dan alur pemikiran ini mengharuskan perhiasan tetap menjadi milik pembeli. Inilah pendapat Ibnu Surayj.
وذكر العراقيون وجها آخر وهو أن الحُليَّ يُرَدُّ على البائع ونورد الفسخَ عليه ثم المشتري يغرَم للبائع أرشَ العيبِ الحادث على تقدير أنه عيَّبَ ملكَ غيرهِ في يده الثابتةِ على سبيل السَّوْم
Orang-orang Irak menyebutkan pendapat lain, yaitu bahwa perhiasan itu dikembalikan kepada penjual dan pembatalan akad ditetapkan atasnya, kemudian pembeli membayar kepada penjual ganti rugi atas cacat yang terjadi, dengan anggapan bahwa ia telah menyebabkan cacat pada milik orang lain yang berada di tangannya secara sah dalam rangka tawar-menawar.
وهذا يُناظر قولاً للشافعي منصوصاً عليه في النكاح وهو أن الرجل إذا دخل بامرأته ثم فسخ النكاح أو انفسخ لمعنىً بعد المسيس فالمنصوص عليه أن الزوج يستردّ جملةَ المسمَّى ويرتد إليها البُضْعُ ثم يغرَم الزوج لها مهرَ المثل فجرى رجوعُ المهرِ وارتفاعُ النكاحِ على قياس الفسوخ ثم الزوج غرم مهر المثل حتى لا يخلو الوطء عن المهر
Hal ini serupa dengan pendapat yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam masalah nikah, yaitu bahwa apabila seorang laki-laki telah berhubungan dengan istrinya kemudian akad nikahnya dibatalkan atau batal karena suatu sebab setelah terjadi hubungan, maka pendapat yang dinyatakan adalah suami mengambil kembali seluruh mahar yang telah ditentukan dan kembali kepada istri hak atas kemaluannya, kemudian suami wajib membayar kepada istri mahar mitsil. Maka, pengembalian mahar dan hilangnya akad nikah berjalan sesuai dengan qiyās pembatalan-pembatalan akad, kemudian suami membayar mahar mitsil agar hubungan suami istri tidak pernah tanpa mahar.
وقالَ صاحب التقريب يُحتملُ وجة ثالث وهو أن البائعَ يغرَم للمشتري أرشَ العيب القديم ثم لفظه في الكتاب وأرجو أن يصح هذا وقد مال إلى اختيار ذلك بعضُ المحققين وقال قد وقعَ التقابُل على شرط الشرع ابتداءً وجرى الملك على جميع الثمن فإذا فُرِض ضمانُ أرشِ العيب فهذا تمليكٌ جديد وإن كان له استناد إلى سابق من طريقِ الاستحقاق والمرعي في تعبدات الربويّات حالةُ العقد فغرامةُ الأرش في هذا المضيق يقدَّرُ كأرشٍ مبتدأ مترتبٍ على جناية على ملكِ الغير
Penulis kitab at-Taqrīb mengatakan, ada kemungkinan pendapat ketiga, yaitu bahwa penjual membayar kepada pembeli kompensasi (arsh) atas cacat lama, kemudian ia menyatakan dalam kitabnya: “Saya berharap pendapat ini sahih.” Sebagian ulama yang teliti juga cenderung memilih pendapat ini dan mengatakan: “Akad jual beli telah terjadi sesuai syarat syariat sejak awal, dan kepemilikan telah berpindah atas seluruh harga. Jika kemudian ditetapkan adanya kewajiban membayar arsh cacat, maka itu merupakan pemberian kepemilikan baru, meskipun ada kaitannya dengan hak sebelumnya dari sisi istihqāq (hak menuntut). Dalam ibadah-ibadah yang berkaitan dengan riba, yang diperhatikan adalah keadaan saat akad. Maka, pembayaran arsh dalam kondisi sempit seperti ini dianggap sebagai arsh baru yang muncul akibat pelanggaran terhadap hak milik orang lain.”
فلما تعارضت هذه الوجوه اختلف لأجلها أصحابُنا؛ لمّا علموا أن لا سبيل إلى إبطال حق المشتري من الأرش والرد جميعاً
Ketika berbagai pendapat ini saling bertentangan, para ulama kami pun berbeda pendapat karenanya; karena mereka mengetahui bahwa tidak ada jalan untuk membatalkan hak pembeli atas arsy dan hak pengembalian sekaligus.
فذهب ابنُ سُريج إلى أن هذا عقد تعذَّر إمضاؤُه فالوجه فسخُه كما يُفسخ العقدُ إذا اختلف المتبايعان وتحالفا ثم من حُكمِ الفَسخِ ردُّ الثمنِ ولا سبيل إلى استردادِ الحلي لما ذكرناه من وجوه الإشكال فنقدِّر كأن الحلي تلف والوجه إذا قدَّرنا ذلك الرجوعُ إلى قيمةٍ معتبرة بالذهب إن كان الحُليُّ من فضةٍ فنعتبر قيمةَ الحلي وبه العيب القديم ومساقُ هذا يقتضي تبقيةَ الحُلي على المشتري ملكاً هذا مذهب ابن سُريج
Ibnu Surayj berpendapat bahwa ini adalah akad yang tidak mungkin dilanjutkan, maka solusinya adalah membatalkannya, sebagaimana akad dibatalkan jika dua pihak yang berjual beli berselisih dan saling bersumpah. Kemudian, salah satu hukum dari pembatalan adalah pengembalian harga, namun tidak mungkin mengembalikan perhiasan karena berbagai alasan yang telah disebutkan. Maka, kita anggap seolah-olah perhiasan itu telah rusak, dan jika kita menganggap demikian, maka yang harus dikembalikan adalah nilai yang diperhitungkan dengan emas jika perhiasan itu terbuat dari perak. Maka, kita perhitungkan nilai perhiasan tersebut beserta cacat lamanya, dan alur pemikiran ini mengharuskan agar perhiasan tetap menjadi milik pembeli. Inilah pendapat Ibnu Surayj.
وذكر العراقيون وجها آخر وهو أن الحُليَّ يُرَدُّ على البائع ونورد الفسخَ عليه ثم المشتري يغرَم للبائع أرشَ العيبِ الحادث على تقدير أنه عيَّبَ ملكَ غيرهِ في يده الثابتةِ على سبيل السَّوْم
Orang-orang Irak menyebutkan pendapat lain, yaitu bahwa perhiasan itu dikembalikan kepada penjual dan pembatalan akad dibebankan kepadanya, kemudian pembeli mengganti kepada penjual nilai kerugian cacat yang terjadi, dengan anggapan bahwa ia telah menyebabkan cacat pada milik orang lain yang berada di tangannya secara sah dalam rangka tawar-menawar.
وهذا يُناظر قولاً للشافعي منصوصاً عليه في النكاح وهو أن الرجل إذا دخل بامرأته ثم فسخ النكاح أو انفسخ لمعنى بعد المسيس فالمنصوص عليه أن الزوج يستردّ جملةَ المسمَّى ويرتد إليها البُضْعُ ثم يغرَم الزوج لها مهرَ المثل فجرى رجوعُ المهرِ وارتفاعُ النكاحِ على قياس الفسوخ ثم الزوج غرم مهر المثل حتى لا يخلو الوطء عن المهر
Hal ini serupa dengan pendapat yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i dalam masalah nikah, yaitu bahwa apabila seorang laki-laki telah berhubungan dengan istrinya, kemudian akad nikah itu dibatalkan atau batal karena suatu sebab setelah terjadinya hubungan, maka pendapat yang dinyatakan adalah suami mengambil kembali seluruh mahar yang telah disebutkan, dan hak hubungan suami istri kembali kepada istri, kemudian suami wajib membayar kepada istri mahar mitsil. Maka, pengembalian mahar dan berakhirnya akad nikah berjalan sesuai dengan qiyās pada kasus-kasus pembatalan, kemudian suami membayar mahar mitsil agar hubungan suami istri tidak terjadi tanpa mahar.
وقالَ صاحب التقريب يُحتملُ وجة ثالث وهو أن البائعَ يغرَم للمشتري أرشَ العيب القديم ثم لفظه في الكتاب وأرجو أن يصح هذا وقد مال إلى اختيار ذلك بعضُ المحققين وقال قد وقعَ التقابُل على شرط الشرع ابتداءً وجرى الملك على جميع الثمن فإذا فُرِض ضمانُ أرشِ العيب فهذا تمليكٌ جديد وإن كان له استناد إلى سابق من طريقِ الاستحقاق والمرعي في تعبدات الربويّات حالةُ العقد فغرامةُ الأرش في هذا المضيق يقدَرُ كأرشٍ مبتدأ مترتبٍ على جناية على ملكِ الغير
Pemilik kitab at-Taqrīb mengatakan bahwa ada kemungkinan pendapat ketiga, yaitu penjual mengganti kepada pembeli arsy (ganti rugi) atas cacat lama, kemudian beliau menyatakan dalam kitabnya: “Saya berharap pendapat ini sahih.” Sebagian ulama yang teliti juga cenderung memilih pendapat ini. Mereka mengatakan bahwa akad jual beli telah terjadi sesuai syarat syariat sejak awal, dan kepemilikan telah berpindah atas seluruh harga. Jika kemudian ditetapkan adanya kewajiban membayar arsy cacat, maka itu merupakan pemberian hak milik yang baru, meskipun ada kaitannya dengan hak sebelumnya melalui jalur istihqāq (hak menuntut). Dalam ibadah-ibadah yang berkaitan dengan riba, yang diperhatikan adalah keadaan saat akad. Maka, pembayaran arsy dalam kondisi sempit seperti ini dianggap sebagai arsy yang baru, yang muncul akibat pelanggaran terhadap hak milik orang lain.
فهذا بيان مذاهب الأصحاب
Berikut ini adalah penjelasan mengenai mazhab-mazhab para sahabat.
ولا يكاد يخفى على ذي بصيرةٍ أن كل مسلك من المسالك التي ذكرناها لا يخلو عن حيدٍ عن قانونٍ في القياس جارٍ في حالة الاختيارِ ولابد من احتمالِ مسلكٍ من المسالك
Hampir tidak tersembunyi bagi orang yang memiliki pemahaman bahwa setiap metode dari metode-metode yang telah kami sebutkan tidak lepas dari penyimpangan terhadap kaidah dalam qiyās yang berlaku dalam keadaan normal, dan pasti mengandung kemungkinan salah satu dari metode-metode tersebut.
والكلامُ في تعيين ما يظنه الفقيهُ منها ولم يَصِر أحدٌ إلى التخيير بين جميع هذه المسالك؛ من حيث اشتملَ كلُّ واحد على مَيْل عن أصلٍ والضرورةُ تحوج إلى واحدٍ منها؛ وذلك أن كلَّ متمسك بمسلك قد بنى كلامَه على أمرٍ غلب على ظنه أن مسلكه أولى وأقربُ إلى طرق الرأي وأبعدُ عن اقتحام ما لا يجوز فإذا كان سبيلُ اختلافِهم ما ذكرناه ووصَفناه فلا خِيَرةَ
Pembahasan mengenai penentuan apa yang diyakini oleh seorang faqih dari metode-metode tersebut, dan tidak ada seorang pun yang memilih secara bebas di antara semua metode ini; karena masing-masing metode mengandung kecenderungan dari suatu prinsip, dan kebutuhan mendesak menuntut untuk memilih salah satunya. Hal ini karena setiap orang yang berpegang pada suatu metode telah membangun pendapatnya atas dasar sesuatu yang menurutnya lebih kuat, bahwa metodenya lebih utama dan lebih dekat kepada cara berpikir yang benar serta lebih jauh dari melakukan hal yang tidak diperbolehkan. Maka jika sebab perbedaan mereka adalah seperti yang telah kami sebutkan dan gambarkan, maka tidak ada pilihan bebas.
وأقربُها عندنا الرجوعُ إلى أرش العيب القديم والمصيرُ إلى أن حقَّ العقدِ قد توفَّر في التعبد بالمقابلة وهذا الأرشُ استرجاعٌ مُنشَأٌ اقتضَته الضرورةُ
Pendapat yang paling dekat menurut kami adalah kembali kepada arsy atas cacat lama dan berpegang pada bahwa hak akad telah terpenuhi dalam hal pengabdian terhadap pertukaran, dan arsy ini merupakan pengembalian yang diadakan karena adanya kebutuhan mendesak.
وهذا عندنا كالتوزيع إذا اضطررنا إلى الحكم به؛ فإن العقدَ لا يتضمّنُه ولا يقتضيه فإذا بَاع الرجل شِقْصاً مشفوعاً وسَيفاً بألفٍ ثم طلبَ الشفيعُ الشُفعَةَ في الشقص اقتضى الشَرْعُ التوزيعَ على السيفِ والشِّقص اقتضاء له استنادٌ إلى العقد ولكنَّ العقدَ لا يقتضيه كذلك جملةُ الثمن ملكها البائع وإن كان المبيع معيباً
Hal ini menurut kami seperti pembagian apabila kita terpaksa harus memutuskan dengannya; sebab akad tidak mencakupnya dan tidak menuntutnya. Jika seseorang menjual bagian (syu‘) yang memiliki hak syuf‘ah dan sebuah pedang seharga seribu, kemudian pemilik hak syuf‘ah menuntut syuf‘ah pada bagian tersebut, maka syariat mengharuskan pembagian harga antara pedang dan bagian itu, sebagai konsekuensi yang bersandar pada akad. Namun, akad itu sendiri tidak secara langsung menuntutnya. Demikian pula, seluruh harga menjadi milik penjual meskipun barang yang dijual itu cacat.
ولو كان الثمن جارية استباح بائعُ الثوب بالجارية وطأها وإن كان قد ينتقض المِلك في بَعض الجاريةِ لمكان الأرش
Jika harga barang tersebut adalah seorang budak perempuan, maka penjual kain boleh menggauli budak perempuan itu, meskipun kepemilikannya atas sebagian budak perempuan tersebut bisa batal karena adanya pengurangan harga (arasy).
وينشأ من هذا الذي أشرنا إليه ومما فهمته من فحوى كلام الأئمة تردُّدٌ في أمرٍ وهو أن الحاجة إذا مسَّت إلى تغريم قابض الثمنِ الأرشَ فلوْ أراد أن يأتي من مالٍ آخر بمقدار الأرشِ فأبى المشتري إلا استردادَ جزء من الثمن المعيّن فكيف السبيل فيه
Dari hal yang telah kami isyaratkan dan dari apa yang saya pahami dari maksud perkataan para imam, timbul keraguan dalam suatu perkara, yaitu apabila kebutuhan menuntut untuk membebankan kepada penerima harga (penjual) pembayaran arsy, lalu jika ia ingin membayar arsy tersebut dari harta lain yang sepadan, namun pembeli menolak kecuali dengan mengembalikan sebagian dari harga yang telah ditentukan, maka bagaimana jalan keluarnya dalam masalah ini?
الظاهر أنه يتعين ردُّ جزءٍ من الثمن المعيَّنِ وفي مرامزِ الأصحابِ ما يخالف هذا ويدلّ على أنه لو جبر النقصانَ من مالٍ آخر جاز
Tampaknya yang wajib adalah mengembalikan sebagian dari harga yang telah ditentukan, namun dalam referensi para ulama terdapat pendapat yang berbeda dan menunjukkan bahwa jika kekurangan tersebut diganti dari harta lain, maka hal itu diperbolehkan.
ومما يجب التنبُّه له أنا إذا قلنا في العيب الحادث حيث لا ربا في الصفقةِ ولا تعدّدَ إن المشتري يضم أرشَ العيب الحادثِ إلى المبيع ويرُدُّهما فهذا في أصلِ وضعهِ إشكال؛ فإن التمليك بالفسخِ رداً واسترداداً حقُّه ألا يتعدَّى المعقودَ عليه والردُّ كاسمه فتقدير إدخالِ مالٍ جديدٍ في التمليك بطريق الرّدِّ بعيدٌ وقد ذكرتُ طرفاً من هذا في فصلِ العيوب الحادثة
Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa ketika kita mengatakan dalam kasus cacat yang terjadi setelah akad, di mana tidak ada unsur riba dalam transaksi dan tidak ada akad ganda, bahwa pembeli menggabungkan nilai ganti rugi (arsh) atas cacat yang terjadi dengan barang yang dibeli lalu mengembalikannya, maka pada dasarnya hal ini mengandung problematika. Sebab, kepemilikan melalui pembatalan akad dengan cara pengembalian dan penarikan kembali seharusnya tidak melampaui objek akad itu sendiri, dan pengembalian itu sesuai dengan namanya. Maka, memperkirakan adanya harta baru yang dimasukkan dalam kepemilikan melalui cara pengembalian adalah sesuatu yang jauh (dari ketentuan asal). Saya telah menyebutkan sebagian dari hal ini dalam bab tentang cacat yang terjadi setelah akad.
ولا وجه يطابق القاعدةَ إلا أن نقول الرَّدُّ يَرِدُ على المعيبِ بالعيبيْنِ فحسب من غير أنه يقتضي تضمينَ المشتري أرشَ العيب بتأويلِ تقدير الضمان في حقِّه وتشبيهِ يده بالأيدي الضامنة ولكن قد لا يثق المردودُ عليه بذمّة الراد فيضمُّ الأرشَ إلى المبيع المردود فيكون المضمومُ مستحقاً بالسبيل الذي أشرتُ إليه وليسَ أرشُ العيب الحادث مردوداً ولو قال الراد أَرُدُّ ثم أبذل لم يكن له ذلك؛ لعدم الثقةِ وإذا ردَّ مع الأرش جرى الملكُ في عين المضمومِ بتأويل أنه ضمن وأقبض لا على معنى أنه ملكَ بالرد شيئاً لم يَرِد عليهِ العقد
Tidak ada penjelasan yang sesuai dengan kaidah kecuali jika kita katakan bahwa pengembalian (barang) hanya berlaku pada barang cacat dengan dua cacat saja, tanpa mengharuskan pembeli menanggung arsy (ganti rugi) cacat dengan penafsiran memperkirakan adanya tanggungan pada dirinya dan menyerupakan kepemilikannya dengan kepemilikan yang menanggung. Namun, bisa jadi pihak yang menerima barang yang dikembalikan tidak percaya pada pihak yang mengembalikan, sehingga arsy digabungkan dengan barang yang dikembalikan, dan yang digabungkan itu menjadi hak dengan cara yang telah saya isyaratkan. Arsy cacat yang baru tidak dikembalikan. Jika pihak yang mengembalikan berkata, “Saya kembalikan lalu saya serahkan (ganti rugi),” maka itu tidak diperbolehkan baginya karena tidak adanya kepercayaan. Jika ia mengembalikan bersama arsy, maka kepemilikan atas barang yang digabungkan berlaku dengan penafsiran bahwa ia telah menanggung dan menyerahkan, bukan dalam arti ia memiliki sesuatu melalui pengembalian yang tidak termasuk dalam akad.
فإذا تبين هذا فقد عيّنَ بعضُ أصحابنا في صفقة الربا هذا المسلَك ولم يرَ غيره وقد أوضحنا الأصحَّ عندنا
Jika hal ini telah jelas, sebagian ulama kami telah menentukan metode ini dalam transaksi riba dan tidak melihat adanya metode lain, dan kami telah menjelaskan pendapat yang paling sahih menurut kami.
وأبعدُ الوجوه تقديرُ تبقيةِ الحُلي على المشتري وإلزامهُ قيمتَه ذهباً ويليه ردُّ الآنيةِ مع الأرش وهو أمثل من الأول لما حققناه من اختلافِ جهةِ الأرشِ وردّ المبيع وإذا كان كذلك فلا ربا وأمثلُ الوجوه الرجوع إلى الأرش للعيب القديم
Pendapat yang paling lemah adalah memperkirakan tetapnya perhiasan pada pembeli dan mewajibkan ia membayar nilainya dengan emas. Setelah itu, pendapat yang lebih dekat adalah mengembalikan bejana beserta arsy (ganti rugi), dan ini lebih baik daripada pendapat pertama karena telah kami jelaskan adanya perbedaan antara arsy dan pengembalian barang yang dijual. Jika demikian keadaannya, maka tidak ada riba. Dan pendapat yang paling kuat adalah kembali kepada arsy karena cacat lama.
فرع
Cabang
قال صاحب التقريب إذا اشترى رجل ثوباً فصبغهُ صبغاً منعقداً ولم ينقُصه الصبغُ بل زادَ في قيمته ثم اطَّلع على عيبٍ قديم فإن رضي المشتري بردّ الثوب مع الصبغ من غير مطالبةٍ بشيء في مقابلة الصبغ فله ذلك ويستردُّ الثمنَ ويملك المردودُ عليه الثوبَ فإنه صفةٌ للثوب لا تُزايلهُ وليس كالنعل ولم يَصِر أحدٌ من الأصحاب إلى أن المشتري يرد الثوبَ ويبقى شريكاً بسبب الصبغ كما سيجيء أمثالُ ذلك في الغُصوب وغيرها لم أرَ هذا لأحدٍ مع تطرق الاحتمال
Penulis kitab at-Taqrīb berkata: Jika seseorang membeli sehelai kain lalu mewarnainya dengan pewarna yang kuat dan pewarna itu tidak mengurangi nilainya, bahkan justru menambah nilainya, kemudian ia mengetahui adanya cacat lama pada kain tersebut, maka jika pembeli rela mengembalikan kain beserta pewarnanya tanpa menuntut apa pun sebagai ganti rugi atas pewarnaan itu, maka ia boleh melakukannya dan ia berhak mengambil kembali uangnya, sedangkan pihak yang menerima pengembalian kain menjadi pemilik kain tersebut. Sebab, pewarnaan itu merupakan sifat yang melekat pada kain dan tidak terpisah darinya, berbeda dengan sandal. Tidak ada seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang berpendapat bahwa pembeli mengembalikan kain lalu tetap menjadi sekutu karena pewarnaan, sebagaimana akan dijelaskan dalam kasus-kasus serupa pada bab ghashab dan lainnya. Saya tidak menemukan pendapat ini dari siapa pun, meskipun secara kemungkinan masih terbuka.
ولو قال المشتري أردُّ الثوبَ وأُلزمُك قيمةَ الصبغِ فهل يُجبر البائع على إسعافه فعلى وجهين كالوجهين فيه إذا قال المشتري أضم أرشَ العيب الحادث وأردُّ المبيعَ وأسترد الثمن ففي إجبار البائع على هذا وجهان تقدّمَ ذكرهُما
Jika pembeli berkata, “Aku akan mengembalikan kain ini dan aku akan menuntutmu membayar nilai pewarnaannya,” maka apakah penjual dipaksa untuk memenuhi permintaan tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, sebagaimana dua pendapat dalam kasus ketika pembeli berkata, “Aku akan menambahkan kompensasi atas cacat yang baru terjadi, mengembalikan barang yang dibeli, dan meminta kembali harga barang.” Dalam memaksa penjual untuk melakukan hal tersebut, terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.
ولو قال المشتري أطلب أرشَ العيب القديم وقال بل رُدّ الثوب وأغرَم لك قيمةَ الصبغ فعلى وجهين فقد جرى الصبغُ الزائد مجرى أرشِ العيب الحادث في طرفي المطالبة
Jika pembeli berkata, “Saya menuntut kompensasi atas cacat lama,” sedangkan penjual berkata, “Kembalikan kainnya dan saya akan mengganti nilai pewarnaannya,” maka ada dua pendapat. Sebab, pewarnaan tambahan diperlakukan seperti kompensasi atas cacat baru dalam dua sisi tuntutan.
وهذه المسألةُ ذكرها صاحب التقريب وأشار إليها العراقيون والاحتمال فيها من الجهة التي ذكرتُها وهو تجويز الرد مع ملك المشتري في عين الصبغ؛ فإنا قد نجعل الغاصبَ إذا صبغ الثوب شريكاً
Masalah ini disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb dan juga disinggung oleh para ulama Irak, sedangkan kemungkinan dalam masalah ini berasal dari sisi yang telah saya sebutkan, yaitu membolehkan pengembalian (barang) meskipun pembeli telah memiliki hak atas zat pewarnaannya; sebab kita bisa saja menganggap bahwa orang yang merampas, jika mewarnai kain, menjadi sekutu (dalam kepemilikan).
فصل
Bab
قال الشافعي لو باع عبدهُ وقَد جنى إلى آخره
Imam Syafi‘i berkata: Jika seseorang menjual budaknya, sementara budak itu telah melakukan tindak pidana, dan seterusnya.
إذا استُحق دمُ العبد أو طرفُه بجهةٍ لا يتطرقُ إليها مالٌ كالردّةِ والقتلِ في المحاربة والقطعِ في السرقة فقد تمهد القول في هذه الفنون
Jika darah atau anggota tubuh seorang budak menjadi hak untuk dihilangkan karena suatu sebab yang tidak berkaitan dengan harta, seperti riddah (murtad), pembunuhan dalam kasus muharabah, atau pemotongan tangan dalam kasus pencurian, maka pembahasan dalam bidang-bidang ini telah dijelaskan.
ومقصودُ هذا الفصلِ محصورٌ فيه إذا جَنى العبدُ على آدميٍّ مضمونٍ خطأً أو عمداً
Tujuan dari bab ini terbatas pada pembahasan jika seorang budak melakukan tindak pidana terhadap seorang manusia yang wajib diberi ganti rugi, baik secara tidak sengaja maupun sengaja.
والبدايةُ بالخطأ ومَوجَبُه المال ثم الأرشُ يتعلق برقبةِ العبد كما سنبين في كتاب الديات فإذا تعلق أرشُ الجناية الواقعةِ خطأً برقبة العبدِ أوْ أوجبت الجنايةُ قَوَداً فعفا مستحِقُّهُ على مالٍ فمتعلَّقُه الرقبةُ فلو باع سيد العبدِ العبدَ الجاني قبل أن يفديَه ففي صحة البيع قولان أحدهما أنه لا يصح كبيع العبدِ المرهون والمالُ متعلِّق بالرقبةِ في الموضعين وإذا جنى المرهونُ تقدَّم المجني عليه بحق الأرشِ على المرتهنِ فإذا منَعَ حقُّ المرتهن البيعَ وجب أن يمنعَ حقُّ المجني عليه أيضاًً
Permulaan perkara adalah kesalahan, dan akibatnya adalah kewajiban membayar harta, kemudian diyat (arsh) itu terkait dengan leher budak, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Diyat. Apabila diyat atas tindak pidana yang terjadi karena kesalahan itu terkait dengan leher budak, atau tindak pidana tersebut mewajibkan qishash, lalu pihak yang berhak memaafkan dengan syarat membayar harta, maka yang menjadi tanggungan adalah leher budak. Jika tuan budak menjual budak yang melakukan tindak pidana sebelum menebusnya, maka ada dua pendapat mengenai keabsahan jual beli tersebut. Salah satunya adalah tidak sah, seperti menjual budak yang digadaikan, karena harta itu terkait dengan leher budak pada kedua keadaan tersebut. Jika budak yang digadaikan melakukan tindak pidana, maka pihak yang dirugikan lebih berhak atas diyat daripada pihak yang menerima gadai. Jika hak pihak penerima gadai dapat menghalangi penjualan, maka hak pihak yang dirugikan juga harus dapat menghalangi penjualan.
ومن قال بصحة بيع العبد الجاني احتج بأن تعلّق الأرش لم يصدر عن اختيارِ السيّد وإليه الفِدَاء فلْينفُذ بيعهُ وليكن اختياراً للفدَاء والرهنُ وثيقة أنشأهَا المالك وقصد بها الحجر على نفسهِ إلى أداء الدينِ؛ فكان مطالباً بموجَب اختياره
Dan barang siapa yang berpendapat sahnya jual beli budak yang melakukan tindak pidana, beralasan bahwa keterikatan diyat tidak terjadi atas pilihan tuannya, dan tebusan (fidyah) ada di tangan tuannya; maka hendaknya jual belinya tetap berlaku dan dianggap sebagai pilihan untuk menebus. Sedangkan gadai adalah jaminan yang dibuat oleh pemilik dan dimaksudkan untuk membatasi dirinya sendiri hingga pelunasan utang; maka ia harus bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya.
التفريع على القولين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن قلنا البيعُ فاسدُ فلا يصير السيدُ ملتزماً للفداءِ به ولا يطالَب بل هو على خِيرتهِ فإن أحب فدى وإن أحب سلَّم العبدَ للبيع
Jika kita katakan bahwa jual beli itu fasad (rusak), maka tuan tidak menjadi wajib menebusnya dan tidak dituntut, melainkan ia bebas memilih; jika ia mau, ia menebus, dan jika ia mau, ia menyerahkan budak itu untuk dijual.
وإن قلنا البيعُ صحيحٌ فقد اختلف أصحابُنا في التفريع على هذا القول فمنهم من قال البائعُ يلتزم الفداءَ ويتوجَّه علَيه الطلبُ من جهة المجني عليه وعليه الخروجُ عنه باطِناً وظاهراً فعلى هذا عبّر الأصحابُ عن البيعِ باللزوم
Jika kita mengatakan bahwa jual beli itu sah, maka para ulama kami berbeda pendapat dalam penjabaran atas pendapat ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa penjual wajib menebus dan pihak yang dirugikan berhak menuntutnya, serta penjual wajib menunaikan kewajiban tersebut baik secara lahir maupun batin. Oleh karena itu, menurut pendapat ini, para ulama mengekspresikan jual beli tersebut sebagai jual beli yang mengikat.
ومن أصحابنا من قالَ لا يصيرُ السيدُ بالبيع ملتزماً للفداء ولا يتوجَّه عليه الطَّلِبَةُ بخلاف ما لو أعتقَ العبدَ ونفذنا إعتاقه؛ فإن الطلبة بالفداء تحق عليه
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa tuan tidak menjadi wajib menebus (fida’) karena penjualan, dan tuntutan untuk menebus tidak diarahkan kepadanya, berbeda halnya jika ia memerdekakan budak tersebut dan kami mengesahkan pemerdekaannya; maka tuntutan untuk menebus benar-benar menjadi kewajibannya.
وهؤلاء يقولون البيعُ الذي عَقَدَه على الجواز فإن فدى فقد وفَّى بحق العقد فيلزمُ إذْ ذاك وإن لم يَفْدِ انفسخ البيعُ وبِيعَ العبدُ
Mereka ini berpendapat bahwa jual beli yang dilakukan dengan sifat boleh, maka jika menebus, berarti telah memenuhi hak akad sehingga pada saat itu menjadi wajib. Namun jika tidak menebus, maka jual beli batal dan budak tersebut dijual.
وفيما ذكرناه أولاً من لزوم العقدِ فضلُ نظر؛ فإن البائع لو أعسر بالأرش أو امتنع منه ولم يقدر عليه فُسخ بيعُه والذي يقتضيه قياسُ قول الأصحاب أنه لو تعذر الوصولُ إلى الأرشِ بغيبةِ السيد البائع أو باستقراره في المحبس وتوطينه النفسَ على طول الحبس فالبيع ينفسخ
Dalam apa yang telah kami sebutkan pertama kali tentang keharusan tetapnya akad, masih terdapat ruang untuk pertimbangan lebih lanjut; sebab jika penjual tidak mampu membayar arsy atau menolak untuk membayarnya dan ia benar-benar tidak mampu, maka jual belinya dibatalkan. Dan yang dituntut oleh qiyās pendapat para sahabat (ulama mazhab) adalah bahwa jika tidak memungkinkan untuk mendapatkan arsy karena penjual (pemilik) sedang tidak ada atau karena ia dipenjara dan telah membulatkan tekad untuk tetap lama di penjara, maka jual beli tersebut batal.
فإذا يرجع حاصل الخلافِ إلى أنَّا في الوجه الأول لا نجوّزُ للبائع أن يفسخَ البيعَ بنفسه ولو رضي المجني عليه بمطالبته والاستمرارِ عليها كان له ذلك
Maka, inti dari perbedaan pendapat itu kembali pada bahwa menurut pendapat pertama, kami tidak membolehkan penjual membatalkan akad jual beli sendiri, dan jika pihak yang dirugikan rela dengan tuntutannya dan tetap melanjutkannya, maka ia berhak melakukan hal itu.
وفي الوجه الثاني لا تتوجه الطَّلِبةُ على اللزوم ولو أراد البائع بنفسه فسخَ العقد ليعرضَ العبدَ الجاني على البيع كان له ذلك
Pada pendapat kedua, tuntutan untuk keharusan tidak berlaku, dan jika penjual sendiri ingin membatalkan akad untuk menawarkan budak pelaku tindak pidana tersebut kepada penjualan, maka ia berhak melakukan hal itu.
فهذا معنى تردد الأصحاب ولا صائر يصير منهم إلى أن البيع ينفدُ نُفوذاً لا يَستدركهُ المجني عليه إذا تعذر عليه استيفاءُ أرشه
Inilah makna keraguan para sahabat (ulama mazhab), dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berpendapat bahwa jual beli itu sah secara mutlak sehingga tidak dapat dibatalkan oleh pihak yang menjadi korban jika ia tidak mampu memperoleh kompensasi (arsh)-nya.
ولا خلاف أن السيد لو قال أفدي هذَا العبدَ فلا يلزمه الفداء بهذا القول؛ فإنه وعدٌ مُجرَّدٌ ولو قال ضمنتُ الأرشَ فهذا مبني على أن العبدَ هل له ذمةٌ في الجنايات وفيه اختلاف سنذكرهُ في الديات فإن قلنا له ذمَّة فالضمان لازم ملزِم وإن قلنا لا ذمَّة له ففي لزوم الضمان وجهان سنذكرهما في كتاب الضمان أو في كتاب الديات
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seorang tuan berkata, “Aku akan menebus budak ini,” maka tidak wajib baginya untuk menebus hanya dengan ucapan tersebut; karena itu hanyalah janji semata. Dan jika ia berkata, “Aku menanggung diyatnya,” maka hal ini tergantung pada apakah budak memiliki dzimmah dalam perkara jinayah atau tidak, dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan kami sebutkan dalam pembahasan diyat. Jika kita katakan budak memiliki dzimmah, maka penjaminan itu menjadi wajib dan mengikat. Namun jika kita katakan budak tidak memiliki dzimmah, maka dalam kewajiban penjaminan terdapat dua pendapat yang akan kami sebutkan dalam Kitab Adh-Dhaman atau dalam Kitab Ad-Diyat.
ولو أعتق المولى العبدَ الجاني فالقول في عتقه مرتَّبٌ على القول في بيعهِ فإن نفذنا بيعَهُ فالعتق أولى بالنفوذ
Jika tuan memerdekakan budak yang melakukan tindak pidana, maka pembahasan tentang kemerdekaannya mengikuti pembahasan tentang penjualannya; jika kita menganggap sah penjualannya, maka kemerdekaannya lebih utama untuk dianggap sah.
ثم كان شيخي يقولُ ينفذ العتق وإن قلنا لا يلزم البيع إذا كنا نحكم بصحّتهِ؛ لأن العتقَ هكذا سبيل نفوذه وإن قلنا لا ينفذ البيعُ كما لا ينفذ في المرهون فالقولُ في عتقه كالقول في عتق الراهِن في العبد المرهون وسيأتي شرح المذهب فيه إن شاء اللهُ تعالى
Kemudian guruku berkata: Pembebasan budak tetap berlaku meskipun kita mengatakan bahwa jual beli tidak wajib jika kita memutuskan keabsahannya; karena pembebasan budak memang demikianlah cara berlakunya. Namun jika kita mengatakan bahwa jual beli tidak berlaku sebagaimana tidak berlaku pada barang yang digadaikan, maka hukum pembebasan budaknya sama seperti hukum pembebasan budak oleh orang yang menggadaikan pada budak yang digadaikan. Penjelasan tentang mazhab dalam hal ini akan dijelaskan kemudian, insya Allah Ta‘ala.
ثم إذا أعتق أو باع وجعلنا البيعَ لازماً فالوجه القَطع بأنه يغرَم أقلَّ الأمرين من الأرش والقيمة بخلاف ما إذا أراد الفداء على الابتداء
Kemudian, apabila ia memerdekakan atau menjual, dan kita menetapkan bahwa penjualan itu bersifat mengikat, maka pendapat yang tepat adalah ia wajib membayar ganti rugi sebesar yang lebih kecil antara arsy dan nilai barang, berbeda halnya jika ia ingin menebus sejak awal.
وإذا قُلنا البيعُ غيرُ لازم فالأمرُ موقوفٌ على الفداء وفي الفداء قولان سيأتي شرحُهما إن شاء اللهُ عز وجل
Dan jika kita mengatakan bahwa jual beli itu tidak mengikat, maka perkara tersebut tergantung pada fidyah, dan dalam hal fidyah terdapat dua pendapat yang penjelasannya akan datang, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كانت الجنايةُ خطأً فإن كانت عمداً موجبة للقصاص فإن لأصحابنا طرقاً
Dan semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika tindak pidana tersebut dilakukan karena kesalahan (khatha’). Namun, jika dilakukan secara sengaja (‘amdan) yang mewajibkan qishash, maka para ulama mazhab kami memiliki beberapa pendapat.
منهم من قال إذا قلنا موجَبُ العمدِ القَودُ فيجوز البيعُ قولاً واحداً وإذا قلنا موجَبُه أحدُهما ففي صحَّة العقد طريقان أحدُهما القطعُ بالصحَّة؛ نظراً إلى ثبوتِ القصاص والشاهد فيه أن القتل على هذا القول لا يثبت إلا بعدلين كما لا يثبت على قَولنا موجَبُه القود إلا بعدلين
Sebagian dari mereka berpendapat: jika kita mengatakan bahwa akibat hukum pembunuhan sengaja adalah qishāsh, maka jual beli (budak pembunuh) boleh dilakukan menurut satu pendapat. Namun, jika kita mengatakan akibat hukumnya salah satu dari keduanya (qishāsh atau diyat), maka dalam keabsahan akad terdapat dua pendapat; salah satunya adalah memastikan keabsahan, dengan pertimbangan bahwa qishāsh telah tetap. Dalilnya adalah bahwa pembunuhan menurut pendapat ini tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dua orang saksi yang adil, sebagaimana juga tidak dapat ditetapkan menurut pendapat bahwa akibat hukumnya adalah qishāsh kecuali dengan dua orang saksi yang adil.
ومن أصحابنا من خرَّج جواز البيع على قولين لثبوت المال على هذا القول فكان كالجناية التي مُوجَبُها المالُ وقد ذكرنا في الجاني خطأ قولين
Sebagian ulama kami mengeluarkan pendapat tentang bolehnya jual beli menjadi dua pendapat, karena harta tetap ada menurut pendapat ini, sehingga ia seperti tindak pidana yang akibatnya adalah kewajiban membayar harta. Kami juga telah menyebutkan dalam kasus pelaku tindak pidana karena kesalahan terdapat dua pendapat.
وشبَّب بعضُ أصحابنا بتخريج القولين على قولنا موجَبُ العمد القَود؛ وذلك أن الماليّةَ ثابتةٌ ضمناً ولهذا قُلنا مستحِق القصاص يرجع إلى المال دونَ رضا من عليه القصاص ويثبتُ المالُ بفوات مَحلِّ القصاص
Sebagian ulama kami mengaitkan munculnya dua pendapat dengan pendapat kami bahwa akibat dari pembunuhan sengaja adalah qishāsh; hal ini karena nilai harta tetap ada secara implisit, dan karena itu kami katakan bahwa pihak yang berhak mendapatkan qishāsh dapat beralih kepada harta tanpa persetujuan dari pihak yang terkena qishāsh, dan hak atas harta itu menjadi tetap jika pelaksanaan qishāsh tidak memungkinkan.
وبَعْدُ
Adapun setelah itu,
الترتيب الجامع للطُّرق أن يقال في الجاني خطأ قولان وفي الجاني عمداً على قولنا الموجَب أحدُهما لا بعينهِ قولان مرتبان فالأولى الجواز؛ لأن المال غيرُ متجرِّد ولا متعيَّن وإن قُلنا موجَب العمد القودُ المحضُ ففي البيع قولان مرتبان على الصورة المتقدِّمة
Urutan yang mencakup seluruh cara adalah dengan dikatakan: pada pelaku kesalahan (khathā’) terdapat dua pendapat, dan pada pelaku dengan sengaja (‘amdan) menurut pendapat kami bahwa yang diwajibkan adalah salah satu dari keduanya tanpa penentuan, terdapat dua pendapat yang berurutan; yang pertama adalah boleh, karena harta tersebut tidak murni dan tidak tertentu. Jika dikatakan bahwa yang diwajibkan atas pembunuhan sengaja (‘amdan) adalah qishāsh murni, maka dalam hal jual-beli terdapat dua pendapat yang berurutan pada gambaran yang telah disebutkan sebelumnya.
والغرضُ مما ذكرناه تبيين المراتب وإلا فلا ينتظم بناءُ القولين في التفريع على قولٍ على قولين في التفريع على القول الآخر
Tujuan dari apa yang telah kami sebutkan adalah untuk menjelaskan tingkatan-tingkatan, adapun susunan dua pendapat dalam penjabaran atas satu pendapat tidak akan teratur, begitu pula dua pendapat dalam penjabaran atas pendapat yang lain.
فصل
Bab
قال الشافعي ومن اشترى عبداً وله مالٌ إلى آخره
Imam Syafi‘i berkata: “Barang siapa membeli seorang budak yang memiliki harta, dan seterusnya.”
العبد القِنُّ لا ينفرد بتثبيت ملك لنفسه دونَ مولاه ولو احتشَّ أو احتطبَ أو اصْطادَ ثبتَ الملك فيما تثبتُ يده عليه لمولاه و إن لم يَجر شيء من الأسباب إلا بإذن السيّد
Budak qin tidak dapat secara mandiri menetapkan kepemilikan untuk dirinya sendiri tanpa tuannya. Jika ia mengumpulkan rumput, memungut kayu bakar, atau berburu, maka kepemilikan atas apa yang ia peroleh dengan tangannya itu tetap menjadi milik tuannya, meskipun tidak ada sebab lain yang terjadi, kecuali jika ada izin dari sang tuan.
ولو اتَّهبَ العبدُ شيئاً أو أُوصيَ له فقبل فإن كان بإذن السيد صح ووقع الملكُ في الموهوب والموصَى به للسيد
Jika seorang budak diberi hibah sesuatu atau diwasiatkan sesuatu kepadanya lalu ia menerimanya, maka jika dengan izin tuannya, hibah dan wasiat tersebut sah dan kepemilikan atas barang yang dihibahkan atau diwasiatkan itu menjadi milik tuan.
وإن قبلَ العبدُ الهبةَ والوصيةَ بغير إذن السيد ففي صحَّة القبول وجهان أحدهما أنه يصح؛ فإن ما جاء العبدُ به ليس عقدَ عُهدة فكان قبولُه كالاحتشاش والاحتطاب
Jika seorang budak menerima hibah dan wasiat tanpa izin tuannya, maka dalam keabsahan penerimaannya terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa penerimaannya sah, karena apa yang didapatkan oleh budak tersebut bukanlah akad yang mengandung tanggungan, sehingga penerimaannya seperti mengambil rumput liar dan kayu bakar.
والوجه الثاني أن القبولَ مردودٌ؛ فإنهُ عقدٌ يُحكم تارة بصحته وأخرى بفسادِه فلم يبعد اشتراطُ إذنِ من يقع الملكُ له وسنذكر كلاماً للأصحاب في شراء العبد شيئاً في ذمته
Adapun alasan kedua, bahwa penerimaan itu tertolak; karena ia adalah akad yang kadang-kadang dihukumi sah dan kadang-kadang dihukumi batal, maka tidaklah jauh jika disyaratkan izin dari orang yang akan menjadi pemiliknya. Kami akan menyebutkan pendapat para ulama mengenai budak yang membeli sesuatu atas tanggungannya.
وإذا خالع العبدُ زوجتَه على مالٍ ثبت المَالُ للسيّدِ؛ فإن الخُلعَ لا مردَّ له فالتحق بالاحتطاب وإن كان عقداً
Apabila seorang budak melakukan khulu‘ terhadap istrinya dengan imbalan harta, maka harta tersebut menjadi milik tuannya; karena khulu‘ tidak dapat dibatalkan, sehingga hukumnya disamakan dengan hasil usaha sendiri, meskipun khulu‘ itu merupakan suatu akad.
ولو أراد إنسانٌ أن يُملّكَ عبدَ غيره شيئاً ويقيمَه مالكاً فيه لم يجد إليه سبيلاً
Jika seseorang ingin memberikan kepemilikan suatu barang kepada budak milik orang lain dan menjadikannya sebagai pemilik barang tersebut, maka ia tidak akan menemukan jalan untuk melakukannya.
والسيد لو ملّكَ بنفسه عبدَه القِنَّ شيئاً ففي ثبوت الملكِ له ومملّكُه مولاه قولان أحدهما وهو المنصوص عليه في الجديد أنه لا يملِكُ بالتمليكِ والملْك التام فيه يُخرجُه عن رتبة المالكين
Dan apabila seorang tuan memberikan sesuatu kepada budaknya yang murni miliknya, maka terdapat dua pendapat mengenai apakah kepemilikan itu sah baginya dan yang memberikannya adalah tuannya. Pendapat pertama, yang merupakan pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru, adalah bahwa budak tersebut tidak menjadi memiliki dengan pemberian itu, dan kepemilikan penuh atas sesuatu itu mengeluarkannya dari derajat para pemilik.
والقول الثاني أنه يملكُ كما يملك حق النكاحِ بالنكاح وقد يَستَشهد هذا القائلُ بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم من باع عبداً وله مالٌ فماله للبائع
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia memiliki (hak tersebut) sebagaimana seseorang memiliki hak pernikahan melalui akad nikah. Pendapat ini dapat menguatkan argumennya dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa menjual seorang budak yang memiliki harta, maka hartanya menjadi milik penjual.”
فإضافة المال إلى العبد شاهدة لثبوت المِلكِ وللتأويل توجّه ظاهر على اللفظ
Penyandaran harta kepada seorang budak menunjukkan adanya kepemilikan, dan untuk penafsiran terdapat kecenderungan yang jelas pada lafaz tersebut.
التفريع على القولين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن قلنا لا يُتصوّرُ أن يملك القِنُّ فلا كلام والتمليك لاغٍ من السيد
Jika kita mengatakan bahwa tidak mungkin seorang budak murni (al-qin) memiliki sesuatu, maka tidak ada pembicaraan lagi, dan pemberian kepemilikan dari tuan menjadi batal.
وإن قلنا تمليك العبد القِنِّ صحيحٌ فمِلْكُه جائزٌ معرض لاسترجاع المولى متى شاء ولا يملكُ العبدُ شيئاً من التصرفات بحق الملكِ الذي ثبت له حتى يأذَنَ السيد فيه وهذا وفاقٌ
Dan jika kita mengatakan bahwa kepemilikan budak qin itu sah, maka kepemilikannya dibolehkan namun tetap terbuka kemungkinan untuk diambil kembali oleh tuannya kapan saja ia menghendaki, dan budak tidak memiliki hak melakukan suatu tindakan atas dasar kepemilikan yang telah ditetapkan baginya sampai tuannya mengizinkannya, dan hal ini merupakan kesepakatan (ijmā‘).
وهل يتسرَّى العبدُ الجاريةَ التي ملّكه السيدُ إيّاها نُظر فإن أَذِن له في التسريّ فالذي ذهب إليه الجمهورُ من الأصحاب أن له أن يتسرى بالإذن وذهب الأستاذ أبو إسحاق إلى أنه لا يتسرّى مع الإذن؛ فإن الوطءَ يستدعي ملكاً كاملاً وملكُ العبد غيرُ كاملٍ وإن لم يأذن السيد للعبد في التسري فمُطلَقُ التمليك لا يُسلّطه على التسرّي عند معظم الأصحاب
Apakah seorang budak laki-laki boleh melakukan tasarrī terhadap budak perempuan yang diberikan kepadanya oleh tuannya? Dalam hal ini terdapat rincian: jika tuan mengizinkannya untuk melakukan tasarrī, maka mayoritas ulama dari kalangan mazhab berpendapat bahwa budak laki-laki tersebut boleh melakukan tasarrī dengan izin tersebut. Namun, Al-Ustadz Abu Ishaq berpendapat bahwa ia tidak boleh melakukan tasarrī meskipun dengan izin, karena hubungan seksual mensyaratkan kepemilikan yang sempurna, sedangkan kepemilikan budak tidaklah sempurna. Jika tuan tidak mengizinkan budak laki-laki untuk melakukan tasarrī, maka pemberian kepemilikan secara mutlak tidak memberinya hak untuk melakukan tasarrī menurut mayoritas ulama mazhab.
وذكر بعضهم وجهاً آخر أن مطلَقَ التمليك يفيد جواز التسرِّي وإن لم يجرِ فيه إذنٌ وهذا ضعيفٌ مع اتفاق الأصحاب على أن مطلَقَ التمليكِ لا يُسلّط العبد على التصرفات؛ والتسري تصرفٌ من التصرفاتِ ولعل صاحبَ المذهبِ يطرد مذهبَه في أكل الطعام المملّكِ وشُرب الشراب وإنما يسلِّمُ افتقارَ العقود إلى الإذن فإن طرد إذنَه في التصرفات جُمَع قياساً على المتّهبِ الذي يَثبت للواهب حق الرجوع فيما وهبَهُ منه فهو بعيدٌ لم أره لأحدٍ
Sebagian ulama menyebutkan pendapat lain bahwa pemberian kepemilikan secara mutlak menunjukkan bolehnya melakukan tasarri (berhubungan dengan budak perempuan) meskipun tidak ada izin di dalamnya. Namun, pendapat ini lemah karena para ulama sepakat bahwa pemberian kepemilikan secara mutlak tidak memberikan wewenang kepada budak untuk melakukan berbagai tindakan; sedangkan tasarri adalah salah satu bentuk tindakan tersebut. Mungkin pemilik mazhab ini konsisten dengan pendapatnya dalam hal makan makanan yang dimiliki dan minum minuman, di mana ia hanya mengakui bahwa akad-akad membutuhkan izin. Jika ia konsisten dalam memberikan izin untuk berbagai tindakan, maka hal itu dianalogikan dengan orang yang menerima hibah, di mana pemberi hibah tetap memiliki hak untuk menarik kembali hibahnya. Namun, ini adalah pendapat yang jauh (lemah) dan aku belum pernah menemukannya dari siapa pun.
وأكْثَرَ الأصحابُ في تفريع أحكام المِلكِ ولا معنى لها والشرط التعرض لما يختصُّ بملك العبد القِنّ
Mayoritas para sahabat (ulama mazhab) memperluas pembahasan dalam rincian hukum-hukum kepemilikan, padahal hal itu tidak ada maknanya, dan yang menjadi syarat adalah membahas hal-hal yang khusus berkaitan dengan kepemilikan budak murni.
نعم كلُّ ما يقتضيه زوالُ الملكِ فهو متعلَّقٌ بتمليك السيّدِ عبدَه من انقطاع الحول وما في معناه ويتعلق وجوب الاستبراء به إذا رجع وما يتعلق بصورة الملكِ فهو يحصل بملكِ العبدِ كانفساخ النكاح إذا ملّكه سيّدُهُ زوجتَه
Ya, segala sesuatu yang menuntut hilangnya kepemilikan itu berkaitan dengan tindakan tuan memberikan kepemilikan budaknya, seperti terputusnya haul dan hal-hal yang serupa dengannya. Kewajiban istibra’ juga berkaitan dengannya jika budak itu kembali, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan bentuk kepemilikan itu terjadi dengan kepemilikan budak, seperti batalnya pernikahan jika tuan memberikan istrinya kepada budak tersebut.
وما يستدعي كمالاً في الملكِ والمالك فلا يحصل في مِلكِ العبدِ كوجوب الزكاة وكتقدير العتق إذا ملّكه سيّدُه أباه أو ابنَه وكيف يعتِق عليه قريبه وهو رقيق! وإذا ملّكه مولاه مالاً ففي تكفيره به كلامٌ سأذكرُه في كفّارة الظهار إن شاء الله تعالى
Apa yang menuntut kesempurnaan dalam kepemilikan dan pemilik, maka hal itu tidak terwujud dalam kepemilikan seorang budak, seperti kewajiban zakat dan seperti penetapan pembebasan budak jika tuannya memberikan kepemilikan atas ayah atau anaknya kepada budak tersebut. Bagaimana mungkin kerabatnya bisa merdeka karena dia, padahal dia sendiri masih budak! Jika tuannya memberikan harta kepada budak tersebut, maka ada pembahasan mengenai apakah harta itu dapat digunakan untuk menunaikan kafarat, yang akan saya sebutkan dalam pembahasan kafarat zhihar, insya Allah Ta‘ala.
فرع
Cabang
إذا ملك الرجل عبدَينِ سالماً وغانماً فملّكَ كلَّ واحدٍ منهما الآخرَ فقد اتفق الأصحاب على أن الملكَ لهما علَيهما لا يجتمع ويستحيل أن يكون السيد مملوكاً لمملوكه فإذا كنا نحكم بانفساخ النكاح بملكِ زوجته فكيف نستجيز تقديرَ شخص مالكاً لمن هو مالِكُه نعم المستأخر ممّا وصفناه ناقضٌ للملكِ المتقدّم ومثبتٌ حقَّ التمليكِ الجديدِ على قولنا بتمليك العبد وإن وكَّل السيدُ وكيلين حتى يهبَا سالماً من غانم وغانماً من سالمٍ ثم جرَى ذلكَ من الوكيلين معاً لم يَنفذ واحدٌ منهما؛ إذ لا سبيل إلى الجمع وليس أحدهما أولى بالرد من الثاني
Jika seorang laki-laki memiliki dua budak, yaitu Salim dan Ghanim, lalu ia menjadikan masing-masing dari keduanya sebagai pemilik atas yang lain, maka para sahabat sepakat bahwa kepemilikan keduanya atas satu sama lain tidak dapat bersatu, dan mustahil seorang tuan menjadi milik budaknya sendiri. Maka jika kita memutuskan batalnya pernikahan karena seorang suami memiliki istrinya, bagaimana mungkin kita membenarkan kemungkinan seseorang menjadi pemilik atas orang yang juga adalah pemiliknya? Benar, kepemilikan yang datang belakangan sebagaimana yang telah kami sebutkan membatalkan kepemilikan yang terdahulu dan menetapkan hak kepemilikan yang baru menurut pendapat kami tentang bolehnya budak memiliki. Dan jika tuan menunjuk dua wakil agar masing-masing menghadiahkan Salim dari Ghanim dan Ghanim dari Salim, lalu kedua wakil itu melaksanakan hal tersebut secara bersamaan, maka tidak sah salah satu dari keduanya; karena tidak mungkin keduanya digabungkan, dan tidak ada salah satu yang lebih berhak untuk dibatalkan daripada yang lain.
فصل
Bagian
إذا فرّعنا على القديم وقُلنا يملك العبدُ ما ملّكه سيدُه فإذا ملّكه ثم أعتقه أو باعه ولم يتعرّض لما ملَّكه إئاه فيكون العتقُ والبيعُ استرجاعاً منه فيما ملّكه ويتخلَّف ذلك الذي جَرَى التمليك فيه على البائعِ والمعتقِ ولا استتباع أصلاً وليس كالمكاتب يُعتَق؛ فإنه يستتبع أَكْسابَه وأولادَه كما سيأتي شرح ذلك في مَوضِعه إن شاء اللهُ تعالى والمكاتب على الجُملة أثبت الشرع له استقلالاً حتى انتهى الأمرُ إلى تصحيح مُعامَلته سيدَه والعبدُ المملَّك لا يعامل سيّدَه المملِّك حتى لو ابتاع سيدُه منه شيئاً مما كان ملّكه فالذي جرى ليس بابتياعٍ ولكنّهُ رجوعٌ فيما استردَّهُ
Jika kita berpegang pada pendapat lama dan mengatakan bahwa seorang hamba memiliki apa yang diberikan tuannya kepadanya, maka apabila tuannya telah memberikannya sesuatu lalu membebaskannya atau menjualnya tanpa menyinggung apa yang telah diberikan kepadanya, maka pembebasan dan penjualan itu merupakan pengambilan kembali dari apa yang telah diberikan, dan apa yang telah terjadi dalam proses pemberian itu tetap menjadi milik penjual dan orang yang membebaskan, tanpa ada konsekuensi mengikuti sama sekali. Hal ini tidak seperti kasus mukatab yang dimerdekakan; karena ia akan diikuti oleh hasil usahanya dan anak-anaknya, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala. Secara umum, syariat telah menetapkan kemandirian bagi mukatab hingga sampai pada pembolehan bermuamalah dengan tuannya, sedangkan hamba yang diberi kepemilikan tidak bermuamalah dengan tuan yang memberinya, sehingga jika tuannya membeli sesuatu darinya dari apa yang telah diberikan kepadanya, maka yang terjadi bukanlah jual beli, melainkan pengambilan kembali atas apa yang telah diambilnya.
وهل يكون ما جرى تمليكاً فيما بذله عوضاً فعلى وجهين أصحهما أنه لا يكون تمليكاً؛ فإنه ذكر جهةً فاسدةً والثاني أنه تمليك على صيغةٍ وهذا غيرُ سديدٍ
Apakah yang terjadi itu merupakan suatu bentuk pemilikan terhadap apa yang diberikan sebagai imbalan? Ada dua pendapat; yang paling sahih adalah bahwa itu bukanlah pemilikan, karena ia menyebutkan suatu sebab yang rusak. Pendapat kedua menyatakan bahwa itu adalah pemilikan berdasarkan suatu lafaz, namun pendapat ini tidak tepat.
ولو باعَ العبدَ مُطلقاً فقد ذكرنا أنه لا يدخل شيء مما كان ملّكَه عبدَه في ملك المشتري ولا يبقى شيءٌ في ملك العبد
Jika seseorang menjual seorang budak secara mutlak, maka telah kami sebutkan bahwa tidak ada sesuatu pun dari apa yang telah dimiliki budak tersebut yang masuk ke dalam kepemilikan pembeli, dan tidak ada sesuatu pun yang tetap menjadi milik budak.
واختلف أصحابُنا في الثياب التي تكون على العبدِ والأمةِ حالةَ العقد فالذي ذهب إليه القيّاسون أنه لا يدخل سلكُ منها في العقدِ وهي بجملتها ملك البائع إلا أن تُشترطَ في العَقد
Para ulama kami berbeda pendapat mengenai pakaian yang dikenakan oleh budak laki-laki dan perempuan pada saat akad. Menurut pendapat para ahli qiyās, tidak ada satu pun dari pakaian tersebut yang termasuk dalam akad, dan seluruhnya tetap menjadi milik penjual, kecuali jika disyaratkan dalam akad.
ومن أصحابنا من أدخلَ الثيابَ في العقد للعُرف الغالب حتى كأن اللفظَ مشعرٌ به
Sebagian dari ulama mazhab kami memasukkan pakaian ke dalam akad karena kebiasaan yang berlaku, sehingga seolah-olah lafaz tersebut menunjukkan makna itu.
وهذا الخلاف يقرب من تردّدٍ ذكرناه في دخولِ جمَّةِ ماءِ البئر في البيع المشتمل على تسمية الدار
Perbedaan pendapat ini hampir sama dengan keraguan yang telah kami sebutkan mengenai masuknya sejumlah besar air sumur dalam jual beli yang mencakup penamaan rumah.
ثم الذين حكموا بدخول الثياب في العقد اضطربوا فذهب ذاهبون إلى أن الداخل ما سترَ العورةَ وذهب آخرون إلى أنه يدخل جميع ما العبدُ والأمةُ لابسُه حالةَ العقد هذا إذا لم يسمّ في العقدِ إلا العبدُ فأما إذا سُمّي مع العبد الأموالُ التي كان ملَّكه إياها فإن قلنا العبدُ لا يملك بالتمليكِ فسبيل ما سمَّاه معَهُ سبيلُ مالٍ مقصودٍ بالبيع ليس فيه تخيّل التبعيَّة ويُرعى فيه شرائطُ العقد وتعبّداته في اجتناب ما يحرم في الربويّات واشتراطِ القبض فيما يشترطُ فيه التقابض إلى غير ذلك
Kemudian, mereka yang berpendapat bahwa pakaian termasuk dalam akad mengalami perbedaan pendapat; sebagian berpendapat bahwa yang termasuk adalah apa yang menutupi aurat, sementara yang lain berpendapat bahwa semua yang dipakai oleh budak laki-laki maupun budak perempuan pada saat akad juga termasuk. Ini berlaku jika dalam akad hanya disebutkan budak saja. Adapun jika dalam akad disebutkan bersama budak juga harta-harta yang telah diberikan kepadanya, maka jika kita berpendapat bahwa budak tidak memiliki hak milik melalui pemberian, maka apa yang disebutkan bersamanya diperlakukan seperti harta yang memang menjadi tujuan utama dalam jual beli, sehingga tidak ada anggapan sebagai pelengkap, dan harus diperhatikan syarat-syarat akad serta ketentuan-ketentuan syariat dalam menghindari hal-hal yang diharamkan pada barang ribawi, serta mensyaratkan penyerahan langsung pada hal-hal yang memang disyaratkan adanya serah terima, dan lain sebagainya.
وإن قلنا العبدُ يملك بالتمليك فإذا ذكر البائعُ في بيعهِ ما كان ملّكه فيتعلق البيع به ثم للشافعي في القديم قولان
Jika kita mengatakan bahwa budak memiliki (harta) melalui pemberian kepemilikan, maka apabila penjual menyebutkan dalam jual belinya sesuatu yang pernah ia berikan kepemilikannya (kepada budak tersebut), maka jual beli itu terkait dengan hal tersebut. Kemudian menurut Imam Syafi‘i dalam pendapat lamanya terdapat dua pendapat.
أحدهما أنا لا نشترط فيما كان ملكاً للعبد ما نشترطهُ في الأموال المقصودة بالبيع فلا نراعي الإعلامَ ولا نلتفت إلى قواعد الربا
Pertama, kami tidak mensyaratkan pada sesuatu yang dimiliki oleh budak apa yang kami syaratkan pada harta yang menjadi tujuan utama dalam jual beli, sehingga kami tidak memperhatikan pemberitahuan (informasi) dan tidak mengindahkan kaidah-kaidah riba.
والقول الثاني أنه لا بدّ من رعايةِ شرائطِ العقدِ فيها
Pendapat kedua menyatakan bahwa harus memperhatikan syarat-syarat akad di dalamnya.
التوجيه على القديم من قالَ لا بُدَّ من الإعلام جرَى على القياس ومن لم يشترط أثبتَ الأموال في مقتضى العقد تبعاً وقد يدخل في العقد الشيءُ تبعاً على وجهٍ لا يصح ثبوته فيه متبوعاً كمجرَى الماء والحقوقِ والثمرةِ قبل بدوّ الصلاح؛ فإنها تدخل في العقدِ وإن كنا لا نرى إفرادَها بالبيع
Pendapat lama yang mewajibkan adanya pemberitahuan mengikuti qiyās, sedangkan yang tidak mensyaratkan pemberitahuan menetapkan harta sebagai konsekuensi akad secara ikut-ikutan. Kadang sesuatu dapat masuk dalam akad sebagai pengikut dengan cara yang tidak sah jika ia berdiri sendiri sebagai objek utama, seperti aliran air, hak-hak, dan buah sebelum tampak tanda-tanda kematangan; semuanya dapat masuk dalam akad meskipun kita tidak membolehkan menjualnya secara terpisah.
وحقيقةُ التوجيهِ يبين بالتفريع فإذا تعلق حكمُ العقد بمالِ العبد فأول تأثيره أن العقدَ لو كان مُطلقاً لَزال ملكُ العبد عما كان له وتخلَّف على السيد المملِّك وإذا ضم إلى العبدِ انقطعَ عنه حق البائع
Hakikat dari pengarahan akan menjadi jelas melalui perincian. Jika hukum akad berkaitan dengan harta budak, maka pengaruh pertamanya adalah bahwa jika akad itu dilakukan secara mutlak, kepemilikan budak atas apa yang dimilikinya akan hilang dan berpindah kepada tuannya yang memiliki. Namun, jika harta itu disandarkan kepada budak, maka hak penjual terputus darinya.
ثم اختلفَ أصحابُنا في أن ذلكَ المال يكون ملكاً للمشتري أم هو مبقًّى على ملك العبدِ والتردد لابن سُريج فيما حكاهُ صاحبُ التقريب
Kemudian para ulama kami berbeda pendapat mengenai apakah harta tersebut menjadi milik pembeli atau tetap menjadi milik budak, dan terdapat keraguan menurut Ibn Surayj sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis at-Taqrīb.
وعندي أن أصلَ القولين في اشتراطِ الإعلام والتزامِ أحكام الرِّبا يرجع إلى الخلاف الذي ذكرناه الآن فإن حكمنا بأن المِلكَ يحصل للمشتري فالذي جَرى ضمُّ مالٍ إلى العبد فلاَ بُدّ من رعايَةِ شرائط العقد وإن قلنا إنه يبقَى ملكاً للعبد فلا حاجة إلى الإعلام
Menurut pendapat saya, pokok dari dua pendapat mengenai syarat pemberitahuan dan komitmen terhadap hukum-hukum riba kembali kepada perbedaan yang telah kami sebutkan tadi. Jika kita memutuskan bahwa kepemilikan berpindah kepada pembeli, maka yang terjadi adalah penambahan harta pada budak, sehingga harus memperhatikan syarat-syarat akad. Namun jika kita mengatakan bahwa harta tersebut tetap menjadi milik budak, maka tidak perlu ada pemberitahuan.
ثم إذا بَقَيْناه ملكاً للعبدِ فهذا فيه إذا قال بعتُك هذا العبدَ بماله فأما إذا قالَ بعتُك هذا العبدَ ومالَه فهذا يتضمّنُ قطعَ مِلكِ العبدِ وتثبيتَ ملك المشتري ثم قد قدمتُ أن هذا يتضمّنُ التزامَ شرائط العقد
Kemudian, jika kita tetap menjadikannya sebagai milik hamba, maka hal ini berlaku jika ia berkata, “Aku jual kepadamu hamba ini beserta hartanya.” Adapun jika ia berkata, “Aku jual kepadamu hamba ini dan hartanya,” maka ini mengandung makna memutus kepemilikan hamba dan menetapkan kepemilikan bagi pembeli. Kemudian, telah aku sampaikan sebelumnya bahwa hal ini mengandung komitmen terhadap syarat-syarat akad.
ومما يتفرعُ على هذا أنَّ العبدَ لو كان مأذوناً من جهَةِ السيّدِ الأوّل في التصرف والتسرِّي فهل يحتاجُ إلى إذنٍ جديدٍ من المشتري أم يستمر على ما كان عليه فعلى وجهين أظهرهُما أنّه يستمرُّ على ما كان عليه إلا أن ينهاه المشتري فإن نهاه انتهى
Salah satu cabang dari permasalahan ini adalah jika seorang budak telah diberi izin oleh tuan pertamanya untuk melakukan transaksi dan berhubungan (dengan budak perempuan), apakah ia memerlukan izin baru dari pembeli (tuan baru) ataukah tetap berlaku izin yang lama? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ia tetap berlaku seperti sebelumnya kecuali jika pembeli (tuan baru) melarangnya; jika pembeli melarang, maka izin tersebut berakhir.
ولا خلافَ أن المشتري لو أرادَ أخْذَ تلك الأموال منه جاز له ذلكَ وهو على الجملة حالٌّ محلَّ البائع ونازلٌ منزلتَه
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika pembeli ingin mengambil harta-harta tersebut darinya, maka itu boleh baginya, dan secara umum ia menempati posisi penjual dan menggantikan kedudukannya.
ولو أراد البائعُ أن يسترجعَ ما كان للعبدِ لم يكن له ذلكَ؛ فإنهُ قطعَ سلطانَ نفسهِ ونقل ما كان له من حتي إلى المشتري
Jika penjual ingin mengambil kembali apa yang dahulu milik budak, maka ia tidak berhak melakukannya; sebab ia telah memutuskan kekuasaannya sendiri dan telah memindahkan apa yang dahulu menjadi miliknya kepada pembeli.
والوجهُ الثاني أنه لا بد من أخذ إذنٍ جديدٍ من المشتري؛ فإنه ذو الحق وله الرجوع والاسترجاع ولم يسبق منه إذنٌ وهذا وإن كان يميل إلى وجهٍ فالأشهرُ والأصح الأول
Pendapat kedua adalah bahwa harus ada izin baru dari pembeli; sebab dialah yang memiliki hak dan berhak untuk membatalkan serta mengambil kembali, dan sebelumnya belum ada izin darinya. Meskipun pendapat ini memiliki kecenderungan pada satu sisi, namun pendapat yang lebih masyhur dan lebih sahih adalah pendapat pertama.
ومما يتعلق بتفريع ذلك أن المشتري إذا اطلع على عيب بالعبدِ ذي المال والتفريعُ على أن ملكَه مستمرٌّ في الشراء فإذا أراد ردَّهُ ردَّه مع مالهِ ولا خِيرَةَ له في تخليفِ مالهِ وقطعِه عنه فليردّهُ كما اشتراه ولو اقتضى الحالُ رجوعاً إلى الأرشِ بعيب قديم فنقول كم قيمة عبدٍ سليمٍ ذي مالٍ وكم قيمةُ عبدٍ معيب ذي مالٍ ولا بد فيما ذكرناه من التعرّض لقدرِ المال؛ فإن القيَم تختلف بذلك اختلافاً بَيَّناً
Terkait dengan cabang permasalahan ini, jika pembeli menemukan cacat pada budak yang memiliki harta, dan berdasarkan cabang hukum bahwa kepemilikannya tetap berlanjut dalam pembelian, maka jika ia ingin mengembalikannya, ia harus mengembalikannya beserta hartanya, dan ia tidak memiliki pilihan untuk meninggalkan hartanya dan memutuskan hubungan darinya. Maka hendaklah ia mengembalikannya sebagaimana ia membelinya. Jika situasinya mengharuskan kembali kepada arsy karena cacat lama, maka kita katakan: berapa nilai budak yang sehat yang memiliki harta, dan berapa nilai budak yang cacat yang memiliki harta. Dalam hal ini, harus disebutkan jumlah harta tersebut, karena nilai-nilai itu sangat berbeda tergantung pada hal itu.
فصل
Bab
قال وحرامٌ التدليسُ إلى آخره
Ia berkata: Dan haram melakukan tadlīs hingga akhir.
التدليس محرَّمٌ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كشنا فليس منا ومن التدليس في مقصودِنا أن يبيعَ شيئاً يعلمُ به عيباً ولا يُطلع المشتري على عيبه وإذا كان هذا من التدليس فإذا جرَّد قصده وفعَل فعلاً يقتضي التلبيسَ فهو ارتكاب محرّم ثم البيع يصح مع ذلكَ والشاهدُ فيه تصحيحُ رسول الله صلى الله عليه وسلم بيعَ المصراة مع ما فيه من التلبيس
Tadlis (penipuan dalam jual beli) adalah perbuatan yang diharamkan. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” Di antara bentuk tadlis dalam pembahasan kita adalah seseorang menjual suatu barang yang ia ketahui terdapat cacat padanya, namun ia tidak memberitahukan cacat tersebut kepada pembeli. Jika hal ini termasuk tadlis, maka apabila seseorang memang sengaja melakukan perbuatan yang mengandung unsur penipuan, berarti ia telah melakukan perbuatan yang diharamkan. Namun demikian, akad jual belinya tetap sah. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah saw. mensahkan jual beli musyarrah (sapi atau kambing yang susunya sengaja tidak diperah agar tampak banyak), padahal di dalamnya terdapat unsur penipuan.
والضابطُ فيما يحرم من ذلك أن من علم سبباً يثبت الخيار فأخفاه أو سَعَى في تدليسٍ فيه فقد فعل مُحرَّماً
Patokan dalam hal apa yang diharamkan dari perkara tersebut adalah bahwa siapa saja yang mengetahui adanya sebab yang menetapkan hak khiyār lalu ia menyembunyikannya atau berusaha melakukan penipuan terkait hal itu, maka ia telah melakukan sesuatu yang diharamkan.
وإن لم يكن السببُ مثبتاً للخيار فترْكُ التعرضِ له لا يكون من التدليس المحرم
Dan jika sebab tersebut tidak menetapkan hak khiyār, maka tidak menyebutkannya tidak termasuk dalam kategori tadlīs yang diharamkan.
ومما لا يجب عليه التعرُّض له ذكرُ القيمة؛ فليس البائعُ متعبداً في الشرع بأن يبيع الشيءَ بثمن مثله وهذا يبتني أيضاًً على ما ذكرناه من أمرِ الخيار؛ فإن الغبنَ بمجرَّدِه إذا اطّلعَ المشتري عليه لا يتضمّنُ خياراً
Dan hal yang tidak wajib baginya untuk disebutkan adalah nilai (harga sebenarnya); maka penjual tidak diwajibkan secara syariat untuk menjual suatu barang dengan harga pasarnya. Hal ini juga didasarkan pada apa yang telah kami sebutkan mengenai masalah khiyār; karena kerugian (ghabn) semata-mata, jika pembeli mengetahuinya, tidak otomatis mengandung hak khiyār.
فصل
Bagian
قال وأكرهُ بيعَ العصير ممن يعصر الخمرَ إلى آخره
Ia berkata, “Aku memakruhkan menjual perasan anggur kepada orang yang memerasnya menjadi khamar, dan seterusnya.”
بيعُ ما يتخذ منه الخمرُ ممن يعلم أنه سيتخذ منه الخمرَ صحيح ولكن البائعٍ متعرضٌ لارتكاب محرّم وقد لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم في الخمر عشرة
Menjual sesuatu yang dapat dijadikan khamar kepada orang yang diketahui akan menggunakannya untuk membuat khamar adalah sah, namun penjualnya terancam melakukan perbuatan haram, dan Rasulullah ﷺ telah melaknat sepuluh orang terkait khamar.
وبالجملة الإعانةُ على المعصيَة محرَّمة
Secara ringkas, membantu dalam perbuatan maksiat adalah haram.
وإن لم يظهر العلمُ وظن البائعُ ذلكَ ظنّاً كرهنا ما جاء به
Dan jika ilmu itu tidak tampak dan penjual hanya menduganya saja, maka kami memakruhkan apa yang dibawanya.
وبيعُ السلاحِ من قطّاعِ الطريق من المسلمين وأهل العرامَة صحيحٌ والقول في التحريم والكراهة كما ذكرناه
Menjual senjata kepada para perampok dari kalangan Muslim dan orang-orang yang berbuat kerusakan adalah sah, dan pendapat mengenai keharaman dan kemakruhannya sebagaimana telah kami sebutkan.
وأطلق الأئمةُ أقوالَهم بأن بيع السلاح من أهلِ الحربِ لا ينعقد؛ لأنهم لا يَقتنونها إلا لمقاتلة المسلمين هذا هو الظاهر
Para imam telah menyatakan pendapat mereka bahwa jual beli senjata kepada orang-orang yang memerangi (muslim) tidak sah; karena mereka tidak memilikinya kecuali untuk memerangi kaum muslimin, inilah yang tampak jelas.
ومن أصحابنا من جرى على القياس وصحّحه على ما سأذكرهُ في كتاب السِّيَر إن شاء الله عز وجل
Sebagian dari ulama kami ada yang mengikuti qiyās dan membenarkannya, sebagaimana akan saya jelaskan dalam Kitab as-Siyar, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
وبيع السلاح من أهل الذمةِ صحيح وبيع الحديد من أهل الحرب صحيح؛ لأنه لا يتعيَّن للأسلحة وقد تتخذ منها المساحِي وآلات المهنة
Menjual senjata kepada ahludz-dzimmah adalah sah, dan menjual besi kepada ahlul-harb juga sah; karena besi tidak dikhususkan untuk senjata saja, dan bisa juga dijadikan cangkul serta alat-alat pekerjaan lainnya.
فرع
Cabang
إذا أتلف رجلٌ على رجلٍ ديكاً مِهراشاً أو كبشاً نطاحاً فقد تقدّرُ القيمةُ أكثرَ لمكانِ الهراش والنطح ولكن لا مُعتبرَ بتلكَ الزيادَة؛ فإن السّعيَ في إيقاع الهراش والنطح معصية والتهيؤ لها لا قيمةَ له شَرعاً
Jika seseorang merusak ayam jantan petarung atau domba jantan aduan milik orang lain, maka nilainya mungkin akan dihitung lebih tinggi karena kemampuan bertarung dan menanduknya. Namun, tambahan nilai tersebut tidak dianggap sah; sebab, usaha untuk menjadikan hewan bertarung atau menanduk adalah perbuatan maksiat, dan persiapan untuk itu tidak memiliki nilai menurut syariat.
Bab Jual Beli Barā’ah
قال الشافعي وإذا باع الرجل شيئاً من الحيوانِ بالبراءة فالذي ذهبَ إليهِ قضاءُ عُثمانَ أنه بريءٌ من كل عيب لم يعلمه ولا يبرأ من عيبٍ علمهُ إلى آخره
Syafi‘i berkata: Apabila seseorang menjual sesuatu dari hewan dengan syarat barā’ah (peniadaan tanggung jawab atas cacat), maka pendapat yang dipegang berdasarkan keputusan ‘Utsman adalah bahwa penjual bebas dari tanggung jawab atas setiap cacat yang tidak diketahuinya, dan ia tidak bebas dari tanggung jawab atas cacat yang diketahuinya, dan seterusnya.
نذكر في الباب تفصيلَ القول في بيع الحيوان بشرط البراءة ثم نذكر شرطَ البَراءةِ في غير الحيوانِ
Dalam bab ini, kami akan menguraikan secara rinci pembahasan tentang jual beli hewan dengan syarat barā’ah, kemudian kami akan membahas syarat barā’ah pada selain hewan.
فأما شرط البراءةِ في الحيوان فظاهرُ نصِّ الشافعي في صدر البابِ اتباعُ قضاءِ عثمانَ رضي الله عنه وقد قضى بان البائع مبرَّأٌ من كل عيبٍ لم يعلمه ولا يبرأ من عيبٍ علمه ولم يُطلِع المشتري عليه وقالَ في آخر الباب القياسُ لولا ما وصفناه يعني قضاءَ عثمانَ أنه لا يبرأ عن العيب الذي لم يره المشتري أو يبرأ عن الجميع
Adapun syarat berlepas diri (barā’ah) dalam jual beli hewan, maka secara jelas teks Imam Syafi’i di awal bab mengikuti putusan Utsman radhiyallahu ‘anhu, dan beliau memutuskan bahwa penjual terbebas dari segala cacat yang tidak diketahuinya, dan tidak terbebas dari cacat yang diketahuinya namun tidak diberitahukan kepada pembeli. Dan beliau berkata di akhir bab: qiyās, seandainya bukan karena apa yang telah kami sebutkan—yaitu putusan Utsman—maka penjual tidak terbebas dari cacat yang belum dilihat oleh pembeli, atau ia terbebas dari semua cacat.
وقد اختلف أصحابُنا على طريقين فمنهم من قال ما ذكرهُ الشافعيُ في أول الباب وآخرِه ترديد للأقوال ففي المسألة ثلاثةُ أقوال أحدها أن البراءة باطلةٌ والمشتري على خياره مهما اطلع ولا فرقَ بين ما علمه البائعُ وكتمهُ وبين ما لم يعلمه
Para ulama kami berbeda pendapat dalam dua jalan. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i di awal dan akhir bab adalah pengulangan pendapat-pendapat, sehingga dalam masalah ini terdapat tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa pernyataan berlepas diri (bara’ah) batal, dan pembeli tetap memiliki hak memilih (khiyar) kapan pun ia mengetahui cacat tersebut, tanpa membedakan antara cacat yang diketahui dan disembunyikan oleh penjual maupun yang tidak diketahui oleh penjual.
والقول الثاني أن البراءةَ صحيحةٌ عن جميع العيوب من غير تفصيل
Pendapat kedua menyatakan bahwa pernyataan bebas tanggungan (barā’ah) sah terhadap semua cacat tanpa perincian.
والقول الثالث الفصلُ بين ما علمه وبين ما لم يعلمه فما علمه لم يصحّ البراءةُ فيه؛ لأنه بكتمانِه وتركِ ذِكره منتسِبٌ إلى التدليس والتدليسُ محرَّمٌ فلا يستحق صاحبُه حطَّ الخيارِ عنه
Pendapat ketiga adalah membedakan antara apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Maka, terhadap apa yang telah diketahui, tidak sah pelepasan tanggung jawab di dalamnya; karena dengan menyembunyikannya dan tidak menyebutkannya, ia termasuk dalam perbuatan tadlis, dan tadlis itu diharamkan, sehingga pelakunya tidak berhak untuk dihapuskan hak khiyar darinya.
والتوجيه مستقصى في الخلاف ونحن نذكرُ منه ما يتعلّقُ بترتيبِ المذهب
Penjelasan secara rinci telah dibahas dalam perbedaan pendapat, dan di sini kami akan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan urutan mazhab.
فأما من قال إنّ البراءة لا تصح فمعتمده شيئان أحدُهما أن خيارَ الردّ بالعيب يثبت شرعاً في مقتضى العقد فشرطُ نفيهِ تغييرٌ لموجَب الشرع والثاني أن العيوبَ الممكنةَ مجهولة فلئن كانت البراءة من المرافق فلتكن معلومةً كخيار الشرط والأجَل والرهن والكفيل
Adapun orang yang berpendapat bahwa pembebasan (dari cacat) tidak sah, maka dasarnya ada dua hal. Pertama, bahwa hak khiyār untuk mengembalikan barang karena cacat ditetapkan secara syar‘i sebagai konsekuensi akad, sehingga syarat untuk meniadakannya berarti mengubah ketetapan syariat. Kedua, bahwa cacat-cacat yang mungkin terjadi itu tidak diketahui secara pasti, maka jika pembebasan dari tanggungan itu diperbolehkan, seharusnya ia diketahui secara jelas seperti halnya khiyār syarat, tempo, rahn, dan kafīl.
ومن قالَ بصحة البراءة على العموم فوجهه أن الشرط يتضمن إسقاطَ حقٍّ وفي إسقاطه استفادةُ لزومِ العقد
Dan siapa yang berpendapat bahwa pernyataan berlepas diri (bara’ah) secara umum itu sah, alasannya adalah karena syarat tersebut mengandung pengguguran suatu hak, dan dalam pengguguran itu terdapat manfaat berupa keharusan (kelaziman) akad.
ومن فصَّل استدَلَّ بمذهب عثمانَ أولاً وأشار إلى ما ذكرناه من الانتساب إلى التدليس في صورة العلم
Dan siapa yang merinci, ia berdalil dengan mazhab ‘Utsmān terlebih dahulu dan mengisyaratkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang penyandaran kepada tadlīs dalam bentuk pengetahuan.
ثم من يسلك طريقةَ الأقوال يستدل بأن الشافعي أشار إلى الأثر والقياس ومذهبُه في القديم اتباعُ الأثرِ وتركُ القياس له وهذا يخالف رأيَه في الجديد
Kemudian, siapa pun yang menempuh metode pendapat, ia berdalil bahwa Imam Syafi‘i telah mengisyaratkan kepada atsar dan qiyās, dan madzhab beliau dalam pendapat lama adalah mengikuti atsar dan meninggalkan qiyās untuknya, dan hal ini berbeda dengan pendapat beliau dalam pendapat baru.
فإن قال قائل لم يبد نكيراً على عثمانَ فمذهبه في الجديدِ أنه لا يُنْسَب إلى ساكت قول
Jika ada yang berkata, “Mengapa tidak tampak adanya penolakan dari ‘Utsman?” Maka pendapatnya dalam pendapat baru (qaul jadid) adalah bahwa tidak boleh dinisbatkan suatu pendapat kepada orang yang diam.
ومن أصحابنا من قالَ مذهب الشافعي هو التفصيل الموافق لمذهبِ عثمانَ وقد صَرَّح بذلك في صدر الباب وما ذكرهُ في آخر الباب إشارةٌ إلى وجهِ القياس وليس مذهباً له
Sebagian ulama dari kalangan kami mengatakan bahwa mazhab Syafi‘i adalah perincian yang sesuai dengan mazhab ‘Utsman, dan beliau telah menegaskan hal itu di awal bab. Adapun yang beliau sebutkan di akhir bab hanyalah isyarat kepada sisi qiyās dan bukan merupakan mazhab beliau.
والأشهرُ طريقة الأقوال والأليقُ بكلام الشافعي القطعُ بما ذكرناه
Pendapat yang paling masyhur adalah dengan metode penyebutan pendapat-pendapat, dan yang lebih sesuai dengan perkataan asy-Syafi‘i adalah memastikan sebagaimana yang telah kami sebutkan.
ثم إنا نُلحقُ بما تقدم شيئين أحدُهما أنا علَّلنا القَولَ بفساد الشرط بشيئين أحدُهما أن البراءة تغييرُ وضعِ الشرع والثاني أنها تقتضي جهالةً
Kemudian, kami menambahkan pada penjelasan sebelumnya dua hal: Pertama, kami telah mengemukakan alasan pendapat tentang batalnya syarat dengan dua hal. Pertama, bahwa pembebasan (barā’ah) merupakan perubahan terhadap ketentuan syariat, dan kedua, bahwa hal itu mengakibatkan adanya ketidakjelasan.
ثم الأصحاب فرضوا صورةً على هذا القول وذكروا فيها اختلافاً مخرّجاً على المعنيين وهي أنه لو شرط البراءةَ عن عيوبٍ معدودةٍ وأعلم بالوصف أصنافَها فإن علَّلنا شرطَ البراءةِ بتغييرِ مقتضى العقدِ فالشرط فاسدٌ مع الإعلام وإن علَّلنا فسادَ الشرط بالجهالة فلا جهالةَ في الصورة التي ذكَرناها فليصح الشرطُ
Kemudian para ulama mazhab membuat sebuah ilustrasi berdasarkan pendapat ini dan menyebutkan adanya perbedaan pendapat yang diturunkan dari dua makna tersebut, yaitu: jika seseorang mensyaratkan bebas dari cacat-cacat tertentu yang telah disebutkan dan ia memberitahukan sifat-sifat jenis cacat tersebut, maka jika kita mengaitkan syarat bebas cacat dengan perubahan konsekuensi akad, maka syarat tersebut batal meskipun telah diberitahukan. Namun jika kita mengaitkan batalnya syarat dengan adanya ketidakjelasan (jahalah), maka tidak ada ketidakjelasan dalam ilustrasi yang telah kami sebutkan, sehingga syarat tersebut sah.
وليس المعني بالإعلام أن يطّلع المشتري على العيوب أو يرى من نفسه العلمَ بها وإنما المراد البراءةُ من صفاتٍ لا يقطع الشارط بكونها وإنما تقدَّرُ البراءة لو كانت ولو حصل الاطلاع على العيب فلا حاجة إلى شرطِ البراءة فإن الخيار لا يثبت مع الاطلاع وإن لم تجر البراءةُ
Yang dimaksud dengan pemberitahuan di sini bukanlah bahwa pembeli harus mengetahui cacat tersebut atau melihat sendiri pengetahuannya tentang cacat itu, melainkan yang dimaksud adalah pelepasan tanggung jawab dari sifat-sifat yang pihak yang mensyaratkan tidak dapat memastikan keberadaannya, dan pelepasan tanggung jawab itu dianggap berlaku seandainya sifat-sifat tersebut memang ada. Jika pembeli telah mengetahui cacat tersebut, maka tidak perlu lagi ada syarat pelepasan tanggung jawab, karena hak khiyar tidak berlaku jika sudah mengetahui cacat itu, meskipun tidak ada pelepasan tanggung jawab.
ومن الاطلاع أن يقول البائع هذه العيوب به فأبرئني منها فاعتراف البائع بها بمثابة معاينةِ المشتري العيوبَ؛ فإن العقد مستند إلى قولِ العاقد وعليه التعويلُ في الملكِ وإن كان المشتَرى لحماً فالاعتماد على قول البائع في كونهِ لحمَ ذكيّة
Dan termasuk penjelasan adalah ketika penjual berkata, “Barang ini memiliki cacat-cacat tersebut, maka bebaskanlah aku darinya,” maka pengakuan penjual terhadap cacat-cacat itu dianggap sama dengan pembeli yang melihat langsung cacat-cacat tersebut; sebab akad didasarkan pada ucapan pihak yang berakad dan kepemilikan bertumpu padanya. Jika barang yang dibeli adalah daging, maka kepercayaan didasarkan pada ucapan penjual bahwa daging tersebut adalah daging yang disembelih secara syar‘i (dzakiyyah).
فهذا أحد الأمرين
Maka inilah salah satu dari dua hal.
والثاني أن الأئمة في قول التفصيل قالوا لا تصح البراءةُ عمَّا عَلِمه البائع وكتمه وتصح البراءةُ عما لم يعلمه وألحق أربابُ التحقيق بهذه العيوبَ الظاهرةَ والباطنةَ فقالوا البراءةُ في العيوب الظاهرة باطلة وإن لم يكن البائع مطلعاً عليها وجَعلوا التمكنَ من الاطلاع مع ترك البحث بمثابة الاطلاع على الخفيّات مع الكتمانِ وقال هؤلاء في الترتيب البراءةُ عن العيوب الباطنة منقسمةٌ فما علمه البائع لم تصح البراءة عنه وما جهِله فتصح البراءةُ عنه
Kedua, para imam dalam pendapat tafsili mengatakan bahwa tidak sah berlepas diri dari cacat yang diketahui oleh penjual dan disembunyikannya, namun sah berlepas diri dari cacat yang tidak diketahuinya. Para ahli tahqiq menyamakan hal ini dengan cacat yang tampak maupun tersembunyi; mereka mengatakan bahwa berlepas diri dari cacat yang tampak adalah batal, meskipun penjual tidak mengetahuinya. Mereka menganggap kemampuan untuk mengetahui cacat dengan tidak melakukan pemeriksaan sama dengan mengetahui cacat tersembunyi lalu menyembunyikannya. Menurut mereka, secara berurutan, berlepas diri dari cacat tersembunyi terbagi dua: apa yang diketahui penjual, tidak sah berlepas diri darinya; dan apa yang tidak diketahuinya, maka sah berlepas diri darinya.
ومن أصحابنا من قال لا ننظر إلى الظاهر والباطن وإنما ننظر إلى العلمِ مع الكتمان وإلى الجهل؛ فإن المبطلَ للشرط انتسابُه إلى التدليس وهذا المعنى لا يتحقق في العيوب الظاهرة التي لم يعلمها البائع
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa kita tidak melihat kepada yang tampak maupun yang tersembunyi, melainkan kita melihat kepada pengetahuan yang disertai penyembunyian dan kepada ketidaktahuan; karena yang membatalkan syarat adalah keterkaitannya dengan tadlīs, dan makna ini tidak terwujud pada cacat-cacat yang tampak yang tidak diketahui oleh penjual.
وقد نجز الكلامُ في الحيوان
Telah selesai pembahasan mengenai hewan.
فأمّا ما عداه فقد اختلف أصحابنا فيه على طريقين منهم من قال شرط البراءة فيما عدا الحيوان باطلٌ كيف فُرض وإنما تصح البراءةُ في الحيوان للضرورة لأنه يغتدي بالصحة والسقَمِ وهو عرضةُ التغايير ولو قيل لا يخلو حيوان عن آفةٍ باطنةٍ لم يكن هذا الكلام مجازفةً فلو لم يصح بيعُ الحيوان بشرط البراءة لما استقرَّ على حيوانٍ بيعٌ وهذا لا يتحقق في غير الحيوان هذا مسلك
Adapun selain itu, para ulama kami berbeda pendapat mengenainya dalam dua pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa syarat berlepas diri (barā’ah) dalam selain hewan adalah batal, bagaimanapun keadaannya. Sesungguhnya barā’ah hanya sah pada hewan karena adanya kebutuhan, sebab hewan bisa sehat dan bisa sakit, serta rentan terhadap perubahan. Bahkan jika dikatakan bahwa tidak ada hewan yang benar-benar bebas dari cacat tersembunyi, maka pernyataan ini tidaklah berlebihan. Seandainya jual beli hewan dengan syarat barā’ah tidak sah, niscaya tidak akan ada jual beli hewan yang tetap berlangsung. Hal ini tidak terjadi pada selain hewan. Inilah salah satu pendapat.
ومن أصحابنا من قال يجري في غير الحيوان الأقوالُ الثلاثة وقال قائلون لا يجري في غير الحيوان الفرق بين الظاهرِ والباطن؛ فإن ما سِوى الحيوانات عيوبُها ظاهرةٌ إن كانت فجملةُ عيوبِها بمثابة العُيوب الظاهرة من الحيوان
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa dalam selain hewan berlaku tiga pendapat, dan ada pula yang berpendapat bahwa dalam selain hewan tidak berlaku perbedaan antara yang tampak (zāhir) dan yang tersembunyi (bāthin); karena selain hewan, cacat-cacatnya jika ada adalah cacat yang tampak, sehingga seluruh cacatnya setara dengan cacat-cacat yang tampak pada hewan.
وقد ذكرنا التفصيلَ في العيوب الظاهرة من الحيوان
Kami telah menjelaskan secara rinci tentang cacat-cacat yang tampak pada hewan.
فهذا هو التفصيل في شرط البراءة
Inilah rincian mengenai syarat al-barā’ah.
فإذا جمع جامعٌ الحيوانَ إلى غيرهِ انتظم له أقوال أحدها الصحةُ في الجميع والثاني الفسادُ كذلك والثالث الفرق بين الحيوان وبين غيره والرابع الفرق بين ما علمه البائع وكتمه وبين ما لم يعلمه
Jika seseorang menggabungkan hewan dengan selainnya, maka terdapat beberapa pendapat: pertama, sah untuk semuanya; kedua, batal untuk semuanya; ketiga, membedakan antara hewan dan selainnya; dan keempat, membedakan antara apa yang diketahui oleh penjual lalu disembunyikan, dengan apa yang tidak diketahuinya.
وقد ذكرنا التعرضَ للظاهر والباطن فقد يجري من خلاف الأصحاب فيه قولٌ خامس
Kami telah menyebutkan pembahasan tentang makna lahir dan batin, maka terkadang muncul pendapat kelima dari perbedaan pendapat para sahabat (ulama) dalam hal ini.
فإن حكمنا بصحَّة الشرط فلا كلام وإن حكمنا بفساده فهل يصح العقدُ فعلى قولين أظهرهما أنهُ يصح ويلغو الشرط؛ لأنَّ الشرط في وضعه ليس مخالفاًً لمقصود العقد ومقتضاه؛ من جهة أن الغرض من العقد النفوذ والشرط في نفي الفسخ يتضمن تأكيدَ لزومه والظاهر السلامةُ أيضاًً
Jika kita memutuskan bahwa syarat tersebut sah, maka tidak ada masalah. Namun, jika kita memutuskan bahwa syarat tersebut batal, apakah akadnya tetap sah? Ada dua pendapat, dan yang lebih kuat adalah bahwa akadnya tetap sah dan syaratnya dianggap gugur; karena pada dasarnya syarat tersebut tidak bertentangan dengan tujuan dan konsekuensi akad, sebab tujuan dari akad adalah berlakunya akad, dan syarat yang meniadakan pembatalan justru menguatkan keharusan akad tersebut, dan secara lahiriah juga tidak ada masalah.
والقول الثاني أن العقد يفسد لفساد الشرط المتعرض لمقصوده ولو صح ما تمسك به القائل الأول لوجب القضاء بصحة الشرطِ؛ من جهة موافقةِ مقصود العقد فإذا فسد الشرطُ وجب الحكم بفسادِ العقد
Pendapat kedua menyatakan bahwa akad menjadi batal karena batalnya syarat yang berkaitan dengan tujuan akad. Seandainya benar apa yang dijadikan dasar oleh pendapat pertama, niscaya harus diputuskan keabsahan syarat tersebut karena sesuai dengan tujuan akad. Maka jika syarat tersebut batal, wajib pula memutuskan batalnya akad.
ثم جمع المرتِّبون صحَّةَ الشرط وفسادَه وصحةَ العقد وفسادَه وقالوا في المسألة ثلاثة أقوال أحدُها أن الشرط والعقد يفسدان والثاني أنهما يصحان
Kemudian para penyusun menggabungkan antara sahnya syarat dan rusaknya syarat, serta sahnya akad dan rusaknya akad, lalu mereka mengatakan dalam masalah ini terdapat tiga pendapat: salah satunya adalah bahwa syarat dan akad keduanya rusak, dan yang kedua bahwa keduanya sah.
والثالث أنه يصح العقد ويفسد الشرط
Ketiga, akadnya sah tetapi syaratnya batal.
وهذا كاختلاف الأقوال في شرط نفي خيار المجلس والرؤية إذا جوّزنا بيعَ الغائب وفيهما الأقوال الثلاثة كما وصفناهَا وخيار الرد بالعيب خيارٌ شرعي يتضمنه مطلقُ العقد كخيار المجلس وخيار الرؤية
Hal ini seperti perbedaan pendapat mengenai syarat meniadakan khiyār majlis dan khiyār ru’yah apabila kita membolehkan jual beli barang yang tidak hadir, dan dalam kedua hal tersebut terdapat tiga pendapat sebagaimana telah kami jelaskan. Adapun khiyār radd ‘ala al-‘ayb adalah khiyār syar‘i yang terkandung dalam akad secara mutlak, seperti khiyār majlis dan khiyār ru’yah.
وممّا يتفرع في الباب أنا إذا صحَّحنا شرطَ البراءةِ؛ فلو قال أنا بَريء من العيوب الكائنة والعيوب التي ستحدث في يدي فهل يصح شرط البراءةِ عما سيحدث إذا ضَمَّ الشرطَ إلى ذِكر العيوب الكائنة فعلى وجهين أحدهما أن ذلك لا يصح؛ فإن البراءة عن العيوب الكائنة في حكم إسقاط حق ثابت وأما البراءة عما سيحدث فتغيير لموجَب ضمان العقد وربط الشرط بما سيكون وهذا يبعد احتماله
Di antara cabang pembahasan dalam bab ini adalah, apabila kita menganggap sah syarat berlepas diri (dari cacat); maka jika seseorang berkata, “Saya berlepas diri dari cacat-cacat yang ada dan cacat-cacat yang akan terjadi di tangan saya,” apakah sah syarat berlepas diri dari apa yang akan terjadi jika syarat tersebut digabungkan dengan penyebutan cacat-cacat yang ada? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa hal itu tidak sah; sebab berlepas diri dari cacat-cacat yang ada dianggap sebagai pengguguran hak yang sudah tetap, sedangkan berlepas diri dari apa yang akan terjadi merupakan perubahan terhadap konsekuensi jaminan akad dan mengaitkan syarat dengan sesuatu yang belum terjadi, dan hal ini kecil kemungkinan untuk dibenarkan.
والثاني يصح تبعاً للعيوب الكائنة
Yang kedua, sah secara ikutannya karena adanya cacat-cacat yang ada.
ولو خصّص الشرطَ بالبراءة عمّا سيحدث ولم يتعرض للعيوب الكائنة فالمذهب أن الشرط يبطل بخلاف ما ذكرناه في المسألة الأولى؛ فإن ما سيحدث ذُكر تابعاً للعيب الكائن القديم فإن ثبتت البراءة فسبيلها التبعيّةُ وهذا لا يتحقق إذا أُفرد ما سيَحدث بالذكر والقصد
Jika syarat dikhususkan pada pembebasan dari cacat yang akan terjadi dan tidak menyebutkan cacat yang sudah ada, maka menurut mazhab, syarat tersebut batal, berbeda dengan yang telah kami sebutkan pada masalah pertama; karena apa yang akan terjadi disebutkan sebagai pengikut dari cacat yang sudah ada sebelumnya. Jika pembebasan itu ditetapkan, maka jalannya adalah sebagai pengikut, dan hal ini tidak terwujud jika yang akan terjadi disebutkan secara tersendiri dan disengaja.
وإذا ضممنا ما قدَّمناه تابعاً إلى ما أخّرناه مقصوداً انتظمت أوجهٌ في العيوب التي ستحدث على قولنا بصحةِ البراءةِ عن العيوب القديمة أحدها الصحةُ والثاني
Jika kita menggabungkan apa yang telah kami sampaikan sebelumnya sebagai pengantar dengan apa yang kami sampaikan belakangan sebagai tujuan, maka akan tersusun beberapa sisi dalam pembahasan tentang cacat-cacat yang akan muncul menurut pendapat kami tentang sahnya pembebasan dari cacat-cacat lama; yang pertama adalah sah, dan yang kedua…
الفساد والثالث الفرق بين أن يذكر تابعاً أو مقصوداً
Kerusakan, dan yang ketiga adalah perbedaan antara disebutkan sebagai sesuatu yang mengikuti atau sebagai tujuan utama.
فرع
Cabang
إذا منعنا شرطَ البراءةِ وقلنا لابد من الاطلاع؛ فإن كان العيبُ مما لا يعايَن فيكفي فيه اعترافُ البائع به كاعتيادِ السرقة والإباق وغيرهما
Jika kita melarang syarat berlepas diri dan mengatakan bahwa harus ada pengetahuan (pembeli); maka jika cacat tersebut termasuk yang tidak dapat dilihat secara langsung, maka cukup dengan pengakuan penjual terhadapnya, seperti kebiasaan mencuri, kabur, dan selainnya.
وإن كان مما يُعايَن كالبَرص وغيره فإن اطلع المشتري عليهِ كفى وإن ذكرهُ البائع لم يكفِ ؛ فإن المقصود يختلف بمقدار البرص وموضعه فإن ذكر مقدارَه ومحلّه وصفتَهُ كفى حينئذٍ
Jika cacat itu dapat dilihat secara langsung seperti belang putih (barash) dan sejenisnya, maka jika pembeli telah melihatnya, itu sudah cukup. Namun, jika penjual hanya menyebutkannya, itu belum cukup; karena maksud (pembeli) berbeda-beda tergantung pada kadar belang putih, letaknya, dan sifatnya. Jika penjual menyebutkan kadar, tempat, dan sifatnya secara jelas, barulah itu dianggap cukup.
Bab tentang istibra’ dalam jual beli
الاستبراءُ بأصولهِ وفصُولهِ يأتي بعد كتاب العدّةِ إن شاء الله عز وجل فلا خَوْضَ فيه بل نقتصرُ على غرض الشافعي من مضمون الباب وهو مسألتان إحداهما أن المشتري لو وفَّر الثمنَ على البائع فامتنع البائع من تَسليمِها حتى يستبرىء زاعماً أنه يحتاط بذلك لصون مائهِ فليس له ذلك عندَنا وقالَ مالكٌ له منعُها من المشتري ثم يعدَّلُ على يدِ امرأةٍ مؤتمنةٍ فهذا غَرضُه من هذهِ المسألة
Pembahasan tentang istibra’ dengan pokok-pokok dan rincian-rinciannya akan dibahas setelah Kitab ‘Iddah, insya Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, kami tidak membahasnya di sini, melainkan hanya membatasi pada tujuan Imam Syafi’i dari isi bab ini, yaitu dua permasalahan. Pertama, jika pembeli telah melunasi harga kepada penjual, lalu penjual menolak menyerahkan (budak perempuan) sampai dilakukan istibra’, dengan alasan ia berhati-hati untuk menjaga nasabnya, maka menurut kami penjual tidak berhak melakukan itu. Namun, menurut Malik, penjual boleh menahan (budak perempuan) dari pembeli, kemudian istibra’ dilakukan di bawah pengawasan seorang perempuan yang terpercaya. Inilah tujuan Imam Syafi’i dalam permasalahan ini.
ثم الذي يتصل بهذا الباب في هذا الغرض اختلافُ الأصحاب في أن الجارية لو حاضت في يد البائع فهل يعتدّ بذلكَ استبراءً أم نقول ينبغي أن يجري الاستبراءُ بعدَ انتقال الضمان إلى المشتري فمنهم من قال يعتدّ بما جرى في يد البائع؛ فإنها وإن كانت من ضمان البائع فهي في ملكِ المشتري
Kemudian, yang berkaitan dengan bab ini dalam pembahasan ini adalah perbedaan pendapat para sahabat (ulama mazhab) mengenai apakah jika seorang budak perempuan mengalami haid saat masih di tangan penjual, hal itu sudah dianggap sebagai istibra’ (masa penantian untuk memastikan bebas dari kehamilan), ataukah harus dilakukan istibra’ setelah tanggung jawab (jaminan) berpindah kepada pembeli. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa apa yang terjadi di tangan penjual sudah dianggap cukup sebagai istibra’, karena meskipun masih dalam jaminan penjual, budak tersebut sudah menjadi milik pembeli.
ومنهم من قال لا يعتدُّ بما جرى استبراءً؛ فإن الملك ضعيفٌ قبل القبض متعرّض للارتداد إلى البائع
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa apa yang terjadi selama masa istibra’ tidak dianggap sah; sebab kepemilikan masih lemah sebelum terjadi qabdh dan masih mungkin kembali kepada penjual.
فهذا أحدُ مقصودَي الباب
Inilah salah satu dari dua tujuan utama bab ini.
والمقصود الثاني أن من اشترى متاعاً من رجل غريبٍ فليس لهُ عندنا أن يطالبَه بمن يَعرفُه ويتحملُ عنه ضمانَ الدَّرَك وقالَ مالكٌ له مطالبتُه بذلك وعندنا لا يلزم ذلك إلا أن يشترط الضمان في العقد فيكون كاشتراط الرهن كما سيأتي إن شاء الله عز وجل
Maksud kedua adalah bahwa siapa pun yang membeli barang dari seseorang yang asing, menurut kami, ia tidak berhak menuntut penjual untuk menghadirkan seseorang yang mengenalnya dan yang dapat menanggung jaminan dārak. Malik berpendapat bahwa pembeli berhak menuntut hal itu. Menurut kami, hal itu tidak wajib kecuali jika jaminan tersebut disyaratkan dalam akad, maka hukumnya seperti mensyaratkan rahn, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah ‘Azza wa Jalla.
Bab Murabahah
صورة المرابحةِ أن يقول لمن يُخاطبُه اشتريتُ هذا بكذا وقد بعتكَهُ إياه بربح الواحد على كل عشرة أو على العَشرة نصفُ درهم على ما يقعُ الاتفاق عليه
Bentuk murabahah adalah seseorang berkata kepada orang yang diajak bicara: “Aku telah membeli barang ini seharga sekian, dan aku menjualnya kepadamu dengan keuntungan satu untuk setiap sepuluh, atau untuk setiap sepuluh setengah dirham, sesuai dengan kesepakatan yang terjadi.”
وحقيقةُ العقد بناؤه على العقد الأول مع شرط مزيدِ الربح أو حطيطةٍ مع التعويل على أمانةِ البائع فإذا قال بعتُك هذا بما اشتريتُ وهو كذا مرابحةً على كل عشرةٍ واحداً أو اثنين أو أقلَّ أو أكثرَ على حسب التوافق فالعقد يصح على هذا الوجه ويثبتُ المزيد الذي أُثبتَ على صيغةِ الربح
Hakikat akad ini adalah membangunnya di atas akad pertama dengan syarat adanya tambahan keuntungan atau pengurangan, dengan bersandar pada kejujuran penjual. Jika penjual berkata, “Aku jual kepadamu barang ini dengan harga yang aku beli, yaitu sekian, dengan akad murabahah, setiap sepuluh mendapat satu atau dua atau kurang atau lebih sesuai kesepakatan,” maka akad ini sah dengan cara seperti ini dan tambahan yang ditetapkan dalam bentuk keuntungan itu menjadi tetap.
فإن ذكرا مبلغ الثمن والربح عليه فالبيع صحيح
Jika keduanya menyebutkan jumlah harga dan keuntungan di atasnya, maka jual beli tersebut sah.
وإن كان المشترِي جاهلاً بالمقدار فقال البائع بعتُك هذا العبدَ بما اشتريتُ فالبيع فاسدٌ على الصحيح
Jika pembeli tidak mengetahui jumlah (harga) lalu penjual berkata, “Aku menjual budak ini kepadamu dengan harga yang aku beli,” maka jual beli tersebut fasid menurut pendapat yang shahih.
وحكى بعض الأئمة عن صاحب التقريب أنه قال لو جرى هذا العقدُ فلم يفترقا عن المجلس حتى أعلم البائعُ المشتريَ مقدارَ الثمن فالمذهب أن البيع فاسدٌ
Sebagian imam meriwayatkan dari penulis kitab at-Taqrīb bahwa ia berkata: Jika akad ini berlangsung dan kedua belah pihak belum berpisah dari majelis hingga penjual memberitahukan kepada pembeli jumlah harga, maka menurut mazhab, jual beli tersebut fasid (rusak/tidak sah).
وفيه وجهٌ أن العقد ينقلب صحيحاً وهذا ليس بشيءٍ؛ فإنَّ المجلسَ فرعُ انعقادِ البيع فإذا لم ينعقد البيعُ فلا مجلس له
Ada pendapat bahwa akad tersebut berubah menjadi sah, namun pendapat ini tidak benar; sebab majelis adalah cabang dari terjadinya jual beli, sehingga jika jual beli tidak terjadi maka tidak ada majelis baginya.
وأبو حنيفة نفى خيار المجلس وأثبتَ للمجلس أثراً في صحة العقد بعد جريان الإيجاب والقبول على الفساد
Abu Hanifah menolak adanya khiyār majlis dan menetapkan bahwa majlis memiliki pengaruh terhadap keabsahan akad setelah terjadinya ijab dan qabul atas dasar kerusakan.
ومن أصحابنا من قال يصح البيعُ في الأصل وإن كان المشتري جاهلاً برأس المال؛ فإن الإحاطةَ به ممكنة والعقد الثاني مبنيٌّ على العقد الأول وهو كالشفيع يطلب الشُّفعةَ قبل الإحاطة بمبلغِ الثمنِ وليس هذا كما لو قال بعتُك عبدي بما باع به فلانٌ عبدَه وكانا جاهلين أو أحدَهما بما وقع عليه بيعُ فلان فالبيع باطلٌ؛ فإنه لا تعلق لذلك الثمن بعقدِهما وهذا ضعيفٌ والأصح الحكم بالفسادِ
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa jual beli pada dasarnya sah meskipun pembeli tidak mengetahui modal pokoknya; karena mengetahui modal tersebut memungkinkan, dan akad kedua dibangun di atas akad pertama. Hal ini seperti seorang syafī‘ yang menuntut hak syuf‘ah sebelum mengetahui jumlah harga, dan ini berbeda dengan kasus seseorang berkata, “Aku jual budakku kepadamu dengan harga yang digunakan si Fulan menjual budaknya,” sementara keduanya atau salah satunya tidak mengetahui harga yang terjadi pada jual beli si Fulan, maka jual belinya batal; karena harga tersebut tidak ada kaitannya dengan akad mereka. Namun, pendapat ini lemah dan yang lebih sahih adalah hukum fasad (rusak) pada akad tersebut.
ثم إذا حكمنا بصحة هذا العقدِ فقد اختلف أصحابُنا في أنه هل يشترط إعلامُه في مجلس العقد فمنهم من قال لا يُشترط هذا؛ لأن العقدَ إذا انعقد على الصحةِ تعويلاً على إمكان الإعلام فهذا الإمكان يَطَّرد وإنما تمسُّ الحاجةُ إلى الإعلام عند المطالبة بالثمنِ
Kemudian, apabila kita telah memutuskan keabsahan akad ini, para ulama kami berbeda pendapat mengenai apakah disyaratkan pemberitahuan dalam majelis akad. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu tidak disyaratkan, karena apabila akad telah sah dengan bersandar pada kemungkinan pemberitahuan, maka kemungkinan tersebut tetap berlaku, dan kebutuhan terhadap pemberitahuan itu baru muncul ketika ada tuntutan pembayaran harga.
ومن أصحابنا من قال وإن حكمنا بصحة العقد فلا بدّ من الإعلام في المجلسِ حتى لا يتفرقا إلا على ثَبَتٍ وهذا يناظر اشتراطَ التَّقابُضِ في عقود الربا
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa meskipun kami memutuskan sahnya akad, tetap harus ada pemberitahuan dalam majelis agar kedua belah pihak tidak berpisah kecuali setelah ada kepastian. Hal ini sebanding dengan syarat taqābud dalam akad-akad riba.
ثم قال الأصحابُ عقدُ المشتري مرابحة وإن ابتنى على عقدِ البائع فلا حرج على البائع أن يزيد شيئاً من الثمن ويقدّرَه من الأصلِ ثم يذكرُ على صيغة المرابحة ما يقع التوافق عليه وذلك بأن يقول قد اشتريت هذا بعشرة وقد بعتكَه بعشرين ورِبح ده يازده فيصح العقد على هذا الوجه وإن ضمَّ إلى رأس المال شيئاً ثم قدّر الربحَ بعدهما
Kemudian para ulama berkata, akad murabahah oleh pembeli, meskipun didasarkan pada akad penjual, tidak mengapa bagi penjual untuk menambahkan sejumlah harga dan memperkirakannya dari pokoknya, kemudian menyebutkan dalam bentuk murabahah apa yang telah disepakati. Yaitu dengan mengatakan, “Aku telah membeli ini seharga sepuluh, dan aku menjualnya kepadamu seharga dua puluh, dan keuntungannya adalah sepuluh.” Maka akad sah dengan cara seperti ini, meskipun ia menambahkan sesuatu pada modal, kemudian memperkirakan keuntungan setelah keduanya.
وهذا عندي تكلُّفٌ فإن ذلك المضمومَ مع المذكور ربحاً ربحٌ في المعنى ولا نرى في الباب لما يثبت بصيغة الربح مزيّةً وخاصّية على ما يقدَّر أصلاً مضموماً إلى رأس المال
Menurut saya, ini adalah suatu bentuk pemaksaan, karena keuntungan yang disatukan dengan yang disebutkan sebagai keuntungan itu pada hakikatnya tetap merupakan keuntungan. Kami tidak melihat dalam masalah ini adanya keistimewaan atau kekhususan bagi sesuatu yang ditetapkan dengan lafaz keuntungan dibandingkan dengan apa yang dianggap sebagai pokok yang disatukan dengan modal.
ثم المرابحة تُفرض على وجهين أحدهما أن يقع البيعُ بما اشتراه البائع مع ربحٍ يذكرانه
Kemudian, murabahah itu ditetapkan dalam dua bentuk. Pertama, terjadinya jual beli dengan harga yang dibeli oleh penjual, ditambah keuntungan yang disepakati oleh kedua belah pihak.
والآخر أن يقع البيعُ بما قام على البائع مع مزيدِ ربحٍ
Yang lainnya adalah terjadinya jual beli dengan harga pokok yang dikeluarkan oleh penjual ditambah dengan keuntungan tambahan.
فإن قال بعتُك بما اشتريت به وهو كذا بربح كذا فالأصل هو الثمن ولا تحسب أجرة الدلالِ والكيالِ وغيرِهما من مؤن العقد؛ فإن التعويل على موجَب لفظهِ فإذا قال بعتك بما اشتريت أبه فالذي به الشراءُ هو الثمن
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu dengan harga yang aku beli, yaitu sekian, dengan keuntungan sekian,” maka yang menjadi patokan adalah harga pokok, dan tidak dihitung upah makelar, penakar, dan selainnya dari biaya-biaya akad; karena yang dijadikan sandaran adalah makna lafaznya. Maka jika ia berkata, “Aku menjual kepadamu dengan harga yang aku beli dengannya,” maka yang dimaksud dengan harga beli adalah harga pokok.
فأما إذا أراد العقدَ بلفظةٍ تشتمل فسبيله أن يَضُم مؤنةَ الدلالِ والكيالِ والحمالِ وأجرةَ البيت الذي جرى التربص فيهِ إن كان البيت بكراءٍ فيضُمُّ هذه المبالغَ إلى الثمن ويَقُول بعتُك بما قامَ علَيَّ وهو كذا مُرابحة على كذا فإذا وقع العقد على هذه الصيغة فالمؤن التي تُعدُّ من توابع التجارة تدخُل تحت قول البائع بما قام علَيَّ
Adapun jika ia ingin melakukan akad dengan lafaz yang mencakup hal tersebut, maka caranya adalah dengan menambahkan biaya makelar, penakar, pemikul, dan sewa rumah tempat menunggu jika rumah itu disewa, lalu ia menambahkan jumlah biaya-biaya ini ke dalam harga, dan berkata: “Aku jual kepadamu dengan harga yang telah dikeluarkan olehku, yaitu sekian, secara murabahah atas sekian.” Jika akad dilakukan dengan lafaz seperti ini, maka biaya-biaya yang dianggap sebagai pelengkap perdagangan termasuk dalam ucapan penjual “dengan harga yang telah dikeluarkan olehku.”
ثم قال الأصحاب إذا اشترى دابَّه وعلفها مدَّة ثم باعها بما قامت عليه فمؤنةُ العلفِ لا تدخل تحت اللفظ
Kemudian para ulama mazhab berkata: Jika seseorang membeli hewan tunggangan dan memberinya makan selama suatu masa, lalu ia menjualnya dengan harga sebesar biaya yang telah dikeluarkan, maka biaya pakan tidak termasuk dalam makna lafaz tersebut.
وهذا محلُّ النظرِ؛ فإن العلفَ لاستبقاءِ الملكِ بعد ثبوته والبيتُ الذي يحفظ فيه المتاع في معنى العلف؛ فإنه ليس من توابع التجارةِ بخلاف مؤنةِ الدلال وغيرهما فمؤنةُ السكنى والنفقةُ متساويتان في تعلقهما بحاجة الاستبقاءِ والاستدامةِ إلى اتفاق البيع ولكن أجمع الأصحابُ على أن النفقةَ غيرُ معتبرة وكراء البيتِ المكترى محسوبٌ من جملة المؤن الداخلة تحت قول البائع بما قام عليَّ
Ini adalah tempat untuk meneliti; sebab pakan diberikan untuk mempertahankan kepemilikan setelah kepemilikan itu tetap, dan rumah yang digunakan untuk menyimpan barang-barang memiliki makna yang sama dengan pakan; karena rumah itu bukan termasuk bagian dari perdagangan, berbeda dengan biaya makelar dan lainnya. Maka biaya tempat tinggal dan nafkah sama-sama berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan dan melanjutkan hingga terjadi kesepakatan jual beli. Namun, para sahabat (ulama) sepakat bahwa nafkah tidak diperhitungkan, sedangkan sewa rumah yang disewa termasuk dalam jumlah biaya yang masuk dalam pernyataan penjual: “apa yang telah aku keluarkan.”
وفي الفرق نوع عُسْر على الناظر
Dalam perbedaan tersebut terdapat semacam kesulitan bagi orang yang menelaahnya.
وقد قال بعض الحُذَّاق لو اشترى دابة وزَادَ على علفِها المعتاد زيادة يُبغى
Sebagian ahli yang cermat berkata, “Jika seseorang membeli seekor hewan tunggangan lalu ia menambah pakan hewan itu melebihi jumlah yang biasa diberikan, dengan tambahan yang diinginkan…”
بمثلها السِّمَنُ والازديادُ فهذه الزيادة داخلة تحت لفظة القيام؛ فيرجع حاصلُ الجواب إلى أن الداخل تحت الصيغةِ التي فيها الكلام ما يُعدُّ من مُؤن التجارة أو يُبغَى به الاستنماء لطلب الربح
Seperti halnya lemak dan pertambahan, maka pertambahan ini termasuk dalam lafaz “al-qiyām”; sehingga inti jawaban kembali pada bahwa yang termasuk dalam redaksi yang sedang dibicarakan adalah apa yang dianggap sebagai biaya perdagangan atau yang dimaksudkan untuk pengembangan guna mencari keuntungan.
والآن سبيلُ الكلام على الكراء أن نقول هذا الباب مسائلُه غيرُ موضوعةٍ على أمرٍ فقهيّ وإنما مقصودُه في اتِّباعِ اللفظ فإذا قال بعتُ بما اشتريتُ اقتضى ذلك التعرُّضُ للثمن؛ إذ به الشراءُ وإذا قالَ بعتُك بما قام عليَّ فصيغة اللفظ شاملةٌ للمؤن وإذا كان كذلك فالوجه اتباع اللفظ
Sekarang, cara membahas tentang sewa-menyewa adalah dengan mengatakan bahwa permasalahan-permasalahan dalam bab ini tidak diletakkan atas dasar persoalan fiqh, melainkan maksud utamanya adalah mengikuti lafaz. Jika seseorang berkata, “Aku jual dengan harga yang aku beli,” maka hal itu menuntut penjelasan tentang harga, karena dengan itulah pembelian terjadi. Dan jika ia berkata, “Aku jual kepadamu dengan apa yang telah menjadi tanggunganku,” maka bentuk lafaz tersebut mencakup biaya-biaya. Jika demikian keadaannya, maka yang tepat adalah mengikuti lafaz.
ثم العرفُ في المعاملات غالبٌ جداً محكَّمٌ على العقودِ والعباراتُ منزَّلةٌ عليه نزولَ عباراتِ الحالفين على عُرف المتفاوضين ويمكن أن يقال حفظُ المتاع في البيت تربُّصٌ وهو ركن في التجاير وانتظار الأسعار هذا حكم العُرف
Kemudian, ‘urf dalam muamalah sangat dominan dan dijadikan sebagai pedoman dalam akad-akad, serta ungkapan-ungkapan disesuaikan dengannya sebagaimana ungkapan orang yang bersumpah disesuaikan dengan ‘urf orang yang bernegosiasi. Dapat juga dikatakan bahwa menyimpan barang di rumah merupakan bentuk menunggu (tarrabbus), dan ini adalah rukun dalam perdagangan, sedangkan menunggu harga adalah hukum ‘urf.
وأما العلف فهو قوامُ البقاءِ وليس هو للاتجار وهذا مع التكلّفِ مشكلٌ والقياسُ إدخال الكراء والعلف لا إخراجهما لكن المذهب نقل
Adapun pakan adalah penopang kelangsungan hidup dan bukan untuk tujuan perdagangan. Namun, hal ini jika dipaksakan menjadi masalah, dan menurut qiyās seharusnya sewa dan pakan dimasukkan, bukan dikeluarkan, tetapi pendapat yang dipegang adalah berdasarkan riwayat.
ولا خلاف أنه لو ضم النفقةَ إلى مبلغ الثمنِ والمؤنِ فقال بعتُكَ بما قام عليّ وبما أنفقتُهُ وهو كذا صحّ
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang menambahkan nafkah pada jumlah harga dan biaya, lalu berkata, “Aku jual kepadamu dengan apa yang telah aku keluarkan dan apa yang telah aku belanjakan, yaitu sekian,” maka jual beli tersebut sah.
ولو كالَ بنفسه كما جرى في باب المكايلة وحمل بنفسه وأراد أن يَعُدَّ أجرة نفسه من المؤن وقد جَرى العقدُ بصيغَةِ القيام لم يكن له ذلك وفاقاً
Jika ia menakar sendiri sebagaimana yang terjadi dalam bab penakaran, dan ia sendiri yang mengangkut barang, lalu ia ingin menghitung upah dirinya sebagai bagian dari biaya, padahal akad telah berlangsung dengan redaksi pelaksanaan sendiri, maka ia tidak berhak melakukan hal itu, menurut kesepakatan.
وكذلكَ لو كان البيتُ الذي يحفظ المتاع فيه ملكَه فأراد حَسْبَ أجرته من المؤن لم يكن له ذلكَ نعم لو صرّح بذكر هذه المقالةِ وقالَ بعتُك بما اشتريتُ وبأجرتي كذا وأجرة البيت والمبلغ كذا صحَّ
Demikian pula, jika rumah tempat menyimpan barang itu adalah miliknya, lalu ia ingin memasukkan sewa rumah tersebut ke dalam harga pokok barang, maka hal itu tidak diperbolehkan baginya. Namun, jika ia secara tegas menyebutkan hal ini dan berkata, “Aku menjual kepadamu dengan harga sesuai yang aku beli, ditambah sewa rumah sekian, dan jumlah totalnya sekian,” maka hal itu sah.
فالكلام يدور إذاً على اللَّفظِ ومُستندُ اللفظ العرفُ
Maka pembicaraan berputar pada lafaz, dan sandaran lafaz adalah ‘urf (kebiasaan masyarakat).
ولا يفهم من لفظِ القيام تقديرُ أُجرةِ البائع وتقديرُ أجرةِ بيته المملوكِ
Tidak dapat dipahami dari lafaz “al-qiyām” adanya penetapan upah bagi penjual maupun penetapan upah untuk rumah miliknya.
فقد لاح الغرض ولم يبق استكمالٌ فقهي
Maka tujuan telah tampak jelas dan tidak ada lagi penyempurnaan fiqh yang tersisa.
والذي ذكرناه من الفرقِ بين العلف وكراء البيت إشكالٌ يؤول إلى مقتضى لفظٍ
Apa yang telah kami sebutkan tentang perbedaan antara pakan dan sewa rumah merupakan suatu permasalahan yang kembali kepada konsekuensi makna lafaz.
ومؤنةُ السائس فيها تردُّدٌ عندي والأظهر إلحاقُها بالعلف ولها شبهٌ بكراء البيت؛ فإن السياسةَ تؤثر في الحفظ أثرَ البيت ولها اتصالٌ بالعلف؛ من جهة أن السائسَ هو الذي يرتِّب العلف والسقي في مظانهما
Biaya untuk penjaga hewan (sā’is) dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat menurut saya, dan pendapat yang lebih kuat adalah menyamakannya dengan biaya pakan, karena ada kemiripan dengan sewa rumah; sebab penjagaan memberikan pengaruh dalam pemeliharaan sebagaimana rumah, dan ada juga keterkaitan dengan pakan, dari sisi bahwa penjaga hewanlah yang mengatur pemberian pakan dan minum pada tempatnya.
فرع
Cabang
إذا اشترى شيئاً بعشرةٍ وباعه بخمسةَ عشرَ ثم اشتراه بعشرةٍ ثم أراد أن يبيعه مرابحةً فإن عقدَ العقدَ بقولهِ بعت بما اشتريتُ فالاعتبارُ بثمنِ العقدِ الأخير بلا خلافٍ على المذهب؛ فإنَّ قوله بما اشتريتُ لا يُحمل على العقود السابقة وإنما يُحمل على العقدِ الذي يلي المرابحةَ
Jika seseorang membeli sesuatu seharga sepuluh, lalu menjualnya seharga lima belas, kemudian membelinya kembali seharga sepuluh, lalu ingin menjualnya dengan akad murābahah, maka jika ia melakukan akad dengan ucapannya “Aku jual dengan harga yang aku beli,” maka yang menjadi acuan adalah harga pada akad terakhir tanpa ada perbedaan pendapat menurut mazhab; karena ucapannya “dengan harga yang aku beli” tidak dimaknai pada akad-akad sebelumnya, melainkan dimaknai pada akad yang langsung mendahului murābahah.
ولو أرادَ العقدَ بقوله بما قامَت عليَّ فهل يُحسب ما استفاد قبل هذا العقدِ من ربحٍ حتى يُقالَ لما اشترى أول مرة بعَشرةٍ ثم باع بخمسةَ عشرَ؛ فقد استفاد خمسةً فإذا اشترى بعشرةٍ فالسلعةُ قامت عليه بخمسة
Jika ia bermaksud melakukan akad dengan ucapannya “dengan harga yang telah aku keluarkan”, maka apakah keuntungan yang telah diperoleh sebelum akad ini dihitung, sehingga dikatakan: ketika pertama kali membeli dengan harga sepuluh, lalu menjualnya dengan harga lima belas, ia telah memperoleh keuntungan lima; maka jika ia membelinya lagi dengan harga sepuluh, berarti barang tersebut telah ia keluarkan biaya sebesar lima atasnya.
اختلف أصحابنا في المسألةِ فذهب ابن سُريجٍ إلى أنه إذا أراد العقدَ بصيغةِ القيام فلا ينبغي أن يذكر إلا خمسةً وهذا مذهبُ أبي حنيفة ووَجهُه أن أهل العُرفِ يقولون في مثل هذه الصورة هذه السلعةُ قائمةٌ على فلانٍ بالخمسة
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Ibn Surayj berpendapat bahwa jika seseorang ingin melakukan akad dengan menggunakan lafaz “al-qiyām”, maka sebaiknya tidak menyebutkan kecuali lima (harga), dan ini adalah mazhab Abu Hanifah. Alasannya adalah karena menurut kebiasaan (‘urf), orang-orang mengatakan dalam kasus seperti ini, “Barang ini berdiri atas si Fulan dengan lima (harga).”
والأصح أنه يعتبر بثمن العقد الأخير وهو العشرة ولا التفات إلى ما تقدَّمَ من عقدٍ واستفادةِ ربح وإنما تبتني المرابحةُ على العقد الذي يليها فإن عُقدت بصيغة القيام فالمرادُ قيامُ السلعةِ بما بُذلَ في العقد الأخير فأما الالتفاتُ على العقود السابقةِ فمقتضاه تنزيلُ المرابحة على عقودٍ قبلَها وهذا لا سبيل إليه
Pendapat yang paling sahih adalah bahwa yang dijadikan acuan adalah harga pada akad terakhir, yaitu sepuluh, dan tidak perlu memperhatikan akad-akad sebelumnya serta keuntungan yang telah diperoleh. Sesungguhnya, murabahah didasarkan pada akad yang langsung mendahuluinya. Jika akad dilakukan dengan lafaz “qiyām”, yang dimaksud adalah nilai barang sesuai dengan yang dibayarkan pada akad terakhir. Adapun memperhatikan akad-akad sebelumnya berarti menjadikan murabahah berdasarkan akad-akad sebelum itu, dan hal ini tidak dapat dilakukan.
ولو اشترى سلعةً بعشرةٍ وباعها بخمسةٍ ثم اشتراهَا بعشَرةٍ فليس له أن يحسبَ الخُسرانَ ويَضم مبلغَه إلى ثمن العقد الأخير ويقُول بعتُك السلعةَ مرابحة بخمسة عشرَ التي قامت السلعة علىَّ بها
Jika seseorang membeli suatu barang seharga sepuluh, lalu menjualnya seharga lima, kemudian membelinya kembali seharga sepuluh, maka ia tidak boleh menghitung kerugian dan menambahkan jumlahnya ke harga akad terakhir, lalu berkata, “Aku jual kepadamu barang ini secara murabahah seharga lima belas, yaitu harga yang telah dikeluarkan untuk barang ini olehku.”
هذا متَّفق عليه في الخُسران فليكن الربحُ في معناه وليقتصر على ما يجري في العقد الأخير من ثمنٍ ومؤنٍ كما فصَّلناها
Hal ini telah disepakati dalam hal kerugian, maka hendaknya keuntungan juga mengikuti makna yang sama, dan dibatasi hanya pada apa yang terjadi dalam akad terakhir berupa harga dan biaya-biaya sebagaimana telah kami rinci.
فرع
Cabang
يجوزُ بناءُ العقد الثاني على الأوّل محاطَّةً كما يجوز بناؤه عليه مرابحةً
Diperbolehkan membangun akad kedua di atas akad pertama secara muḥāṭṭah, sebagaimana diperbolehkan juga membangunnya di atas akad pertama secara murābaḥah.
وذلك بأن يقول بعتُكَ السلعةَ بما اشتريتُها به وهو مائة محاطَةً بوضيعة درهمٍ من كل عشرة ينعقدُ البيع ويُحَطّ على حسب ما اقتضاه اللفظُ
Yaitu dengan mengatakan: “Aku jual barang ini kepadamu dengan harga yang aku beli, yaitu seratus, secara keseluruhan dengan potongan satu dirham dari setiap sepuluh,” maka akad jual beli sah dan dipotong sesuai dengan apa yang diisyaratkan oleh lafaz tersebut.
ثم المحاطّة تعقد بالعبارتين المعهودتين في الباب إحداهما أن يقول بما اشتريتُ والأخرى أن يقول بما قامت علي
Kemudian akad muḥāṭṭah dilakukan dengan dua ungkapan yang sudah dikenal dalam bab ini: salah satunya dengan mengatakan “dengan apa yang aku beli”, dan yang lainnya dengan mengatakan “dengan apa yang menjadi tanggunganku”.
ثم إن قال بعتُكَ بما اشتَرَيْتُ وهو مائةٌ بحطّ دِهْ يَازْدِه فقد اختلف أصحابنا في المقدار المحطوط فمنهم من قالَ يُحط من كل عشرةٍ واحدٌ كما يزاد في المرابحة بهذه اللفظة على كل عشرةٍ واحدٌ لتكون المحاطَّةُ على مناقضةِ المرابحة وهذا مذهب أبي حنيفة ومحمدٍ
Kemudian, jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu dengan harga yang aku beli, yaitu seratus, dengan pengurangan dih yazdih,” maka para ulama kami berbeda pendapat mengenai besaran pengurangan tersebut. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa dikurangi satu dari setiap sepuluh, sebagaimana dalam akad murabahah dengan ungkapan ini ditambahkan satu pada setiap sepuluh, sehingga pengurangan ini menjadi kebalikan dari murabahah. Inilah pendapat Abu Hanifah dan Muhammad.
ومنهم من قالَ نَجعل كلَّ عشرة أحدَ عشَرَ جزءاً ثم نحطُّ من هذه الأجزاء جزءاً وهذا هو الصحيح؛ فإنا إذا حطَطْنا عن كل عشرة واحداً فليس في هذا اعتبارُ نسبةٍ الده يازده
Sebagian dari mereka berkata, “Kita jadikan setiap sepuluh menjadi sebelas bagian, lalu kita kurangi satu bagian dari bagian-bagian ini.” Inilah yang benar; sebab jika kita mengurangi satu dari setiap sepuluh, maka di dalamnya tidak terdapat pertimbangan nisbah du hiyāz dah.
وذكر شيخي أبو محمد أنا نحط من كل أحدَ عشرَ درهماً درهماً وهذا بيان الوجه الثاني
Syekhku, Abu Muhammad, menyebutkan bahwa kami mengurangi satu dirham dari setiap sebelas dirham, dan ini adalah penjelasan untuk pendapat yang kedua.
والعبارة الأولى والتي ذكرَها الشيخُ تؤدِّيان معنى واحداً والغرض أن يكون كلُّ جزءٍ من المال مجزأً بأحد عشر جزءاً ثم يُحط منه جزءٌ من أحدَ عشر
Ungkapan pertama yang disebutkan oleh Syekh memberikan makna yang sama, dan maksudnya adalah setiap bagian dari harta itu dibagi menjadi sebelas bagian, kemudian diambil satu bagian dari sebelas bagian tersebut.
وهذا مذهبُ أبي يوسف وابنِ أبي ليلى
Ini adalah mazhab Abu Yusuf dan Ibn Abi Laila.
وغَلِط العراقيون في تصوير المسألةِ فوضعُوها في صُورةِ الوفاق وحكَوْا الخلافَ فيها؛ فقالوا إذا قالَ بعتُ منك هذا العبدَ بوضيعةِ درهم في كلِّ عشرة فالمَوضُوعُ كم فعلى وجهين وهذا غلط؛ فإنّ الصيغَةَ مصرّحة بأنا نحط من كل عشرةٍ واحداً
Orang-orang Irak keliru dalam menggambarkan masalah ini, sehingga mereka meletakkannya dalam bentuk kesepakatan dan menyebutkan adanya perbedaan pendapat di dalamnya; mereka berkata: Jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budak ini dengan potongan satu dirham pada setiap sepuluh,” maka jumlah yang dipotong ada dua pendapat. Ini adalah kekeliruan; karena redaksi kalimat tersebut secara jelas menyatakan bahwa kita mengurangi satu dari setiap sepuluh.
وإنما التردُّد في لفظ ده يازده ولست أرى في العربيّةِ صيغةً تنطبق على هذه اللفظة العجمية
Adapun keraguan terdapat pada lafaz “ده يازده”, dan aku tidak melihat dalam bahasa Arab suatu bentuk yang sesuai dengan lafaz ajam ini.
فصل
Bab
قال وإذا باع مرابحة على العشرة واحداً إلى آخره
Dan apabila ia menjual secara murabahah dengan perhitungan satu dari sepuluh hingga seterusnya.
إذا قال بعتُك بما اشتريتُ وهو مائة أو بما قامت عليّ السّلعةُ به وهو مائة مرابحةً على العشرة واحداً فحَكَمنا بالانعقاد على الظاهر ثم بان أنَّ رأس المالِ كانِ تسعين فنذكر التفصيل فيه إذا خان واعتمدَ الكذبَ ثم نذكرُ التفصيل إذا غلط
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu dengan harga yang aku beli, yaitu seratus, atau dengan harga pokok barang itu bagiku, yaitu seratus, secara murabahah dengan keuntungan satu dari sepuluh,” lalu kami menetapkan akad berdasarkan yang tampak, kemudian ternyata modal sebenarnya adalah sembilan puluh, maka kami akan menyebutkan perinciannya jika ia berkhianat dan sengaja berdusta, kemudian kami akan menyebutkan perinciannya jika ia keliru.
فأما إذا خان فالذي قطع به الأئمةُ أن البيع منعقدٌ والكلام وراء ذلك في الحط والخيارِ
Adapun jika ia berkhianat, maka para imam telah memastikan bahwa akad jual beli tetap sah, dan pembicaraan setelah itu berkaitan dengan pengurangan harga dan hak khiyar.
وذكر صاحب التقريب قولاً غريباً أن البيع لا ينعقد وهذا يبتني على أن الحطَّ مستحَقٌ لو قُدرت الصحّةُ فيؤدِّي مجموعُ الكلام إلى ورود العقد على جهالةٍ
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat yang ganjil bahwa jual beli tidak sah, dan hal ini didasarkan pada anggapan bahwa pengurangan itu merupakan hak jika keabsahan dianggap ada, sehingga keseluruhan ucapan tersebut mengakibatkan akad terjadi dalam keadaan jahalah (ketidakjelasan).
وهذا بعيد ما أراه معتداً به فلا عودَ إليه
Ini adalah pendapat yang jauh dari apa yang saya anggap dapat dijadikan pegangan, maka saya tidak akan kembali kepadanya.
فإذا ثبتَ انعقادُ العقد فهل يُحطُّ عن المشتري ما زداه البائعُ وحصتُه من الربح فعلى قولين أحدُهما أنه لا يُحط؛ فإنه جزم العقدَ بالمائة وكذبَ في قولهِ اشتريتُ بها وثمن هذا العقدِ ما عَقَد به
Jika akad telah sah, maka apakah pembeli berhak mendapatkan pengurangan atas kelebihan harga yang ditambahkan oleh penjual beserta bagian keuntungannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa tidak ada pengurangan; karena ia telah menetapkan akad dengan harga seratus dan telah berdusta dalam ucapannya “aku membelinya dengan harga itu”, sedangkan harga akad ini adalah harga yang disepakati dalam akad.
والقول الثاني أنه يُحط؛ لأنه لم يقتصر على العقدِ بالمائةِ بل ربطَه بثمنِ العقد الأول أو بما قام الثوب به في العقد الأول فإذا بان الخُلْف لم يستقر العقد على المائة المذكورة
Pendapat kedua menyatakan bahwa (harga) harus dikurangi; karena tidak hanya terbatas pada akad dengan seratus, tetapi juga mengaitkannya dengan harga akad pertama atau dengan nilai kain pada akad pertama. Maka jika ternyata ada perbedaan, akad tidak tetap pada seratus yang disebutkan.
فأحد القولين يعتمد المائةَ المذكورةَ والقول الثاني يعتمد ذكرَ ما جرى في العقد الأول
Salah satu pendapat berpegang pada seratus yang disebutkan itu, sedangkan pendapat kedua berpegang pada apa yang terjadi dalam akad pertama.
وذكر العراقيون في طريقهم أنا إذا فرَّعنا على الحَطّ فمعناه أنه ينحط عن العقد لا أنه ينشأ حطُّه
Orang-orang Irak menyebutkan dalam metode mereka bahwa apabila kita membangun cabang hukum berdasarkan al-hath, maka maksudnya adalah bahwa ia turun dari akad, bukan berarti munculnya pengurangan itu sendiri.
وإذا قلنا نحط معناه نحكم بالانحطاط فيرجع حاصل القولين إلى أنا في قولٍ نحكم بأن المائة تثبت والعقد ينعقد عليها وفي قولٍ نقول لم ينعقد العقد إلا على تسعين وليس هذا الحط بمثابة استرجاع أصل أرش العيب القديم؛ فإنَّ الأرشَ المسترجَع وإن كان جزءاً من الثمن فاسترجاعه نقصٌ في جُزءٍ من الثمن
Dan jika kita mengatakan “kita mengurangi” maksudnya adalah kita memutuskan adanya pengurangan, maka inti dari kedua pendapat itu kembali pada: menurut satu pendapat, kita menetapkan bahwa seratus itu tetap dan akad terjadi atasnya; sedangkan menurut pendapat lain, kita mengatakan bahwa akad tidak terjadi kecuali atas sembilan puluh. Pengurangan ini tidak sama dengan pengembalian bagian arsy al-‘ayb yang lama; karena arsy yang dikembalikan, meskipun merupakan bagian dari harga, maka pengembaliannya adalah pengurangan pada sebagian dari harga.
والدليل عليه أن البيعَ إذا ورد على معيب فموجَبُ العيب الردّ ولا نجوِّز الرجوعَ إلى الأرش مع القدرة على الرد فكأنَّ الأرشَ بدلٌ عن الرد إذا تعذر
Bukti atas hal itu adalah bahwa apabila jual beli terjadi atas barang cacat, maka konsekuensi dari cacat tersebut adalah pengembalian barang, dan kami tidak membolehkan kembali kepada arsy (kompensasi) selama masih mampu mengembalikan barang, sehingga seakan-akan arsy itu adalah pengganti dari pengembalian barang jika pengembalian itu tidak memungkinkan.
ولا ينتظم عندنا إلا هذا؛ فإنّ حملَ الحط على إنشاءِ إسقاطٍ على حكمِ التخيّر لا معنى له وما استحق حطُّه محطوطٌ؛ إذ معتمدُ قولِ الحط حَمْلُ العقدِ الثاني على ثمنِ العقدِ الأول فإن رأى طالبٌ لبعض الأصحاب لفظةً تُشعر بإنشاء الحطِّ فمعناها الحكمُ بالانحطاط وهو كقول الفقيهِ في البيع الباطل إذا اشتمل البيعُ على الشرط الفاسد أبطلناه
Menurut kami, tidak ada yang teratur kecuali hal ini; sebab menafsirkan pengurangan (ḥaṭṭ) sebagai penciptaan pelepasan (isqāṭ) berdasarkan hukum pilihan (takhyīr) tidaklah bermakna, dan apa yang berhak untuk dikurangi telah dikurangi; karena dasar pendapat tentang pengurangan adalah menafsirkan akad kedua berdasarkan harga akad pertama. Jika ada seorang penuntut dari sebagian sahabat (ulama) menemukan suatu lafaz yang menunjukkan penciptaan pengurangan, maka maksudnya adalah penetapan hukum pengurangan, dan itu seperti ucapan seorang faqih dalam jual beli yang batal, apabila jual beli tersebut mengandung syarat yang rusak, maka kami membatalkannya.
فإن قيل فالعقدُ إذاً منعقدٌ على ثمنٍ مجهول؛ فإن المشتري غيرُ عَالم حالةَ العقد بما انعقد عليه العقدُ في حكم الله تعالى قلنا هذا كلام واقعٌ في موقعه وعلى هذا منشأُ القول الذي حكاه صاحب التقريب في بطلان العقد
Jika dikatakan, “Maka akad itu berarti terjadi atas harga yang tidak diketahui; sebab pembeli pada saat akad tidak mengetahui dengan pasti apa yang menjadi objek akad menurut hukum Allah Ta‘ala,” kami katakan: Ini adalah pernyataan yang tepat pada tempatnya, dan dari sinilah muncul pendapat yang dinukil oleh penulis kitab at-Taqrīb tentang batalnya akad tersebut.
وسبيل الجواب أن العقدَ عقد على ظن العلم بالثمن فاكتفَى الانعقاد بذلك فإذا أُخلف فطريقُ الاستدراك بالخيار لا الحكمُ بالفساد وهذا يناظر قولَنا لا يزوجُ السيد أمتَه من مجبوب على علمٍ ولو فعل لم يصحّ ولو زوّجها على ظن السلامة انعقد العقدُ وتخيَّرت الأمةُ
Cara menjawabnya adalah bahwa akad tersebut adalah akad yang didasarkan pada dugaan mengetahui harga, sehingga keabsahan akad cukup dengan hal itu. Jika ternyata dugaan tersebut keliru, maka cara memperbaikinya adalah dengan memberikan hak khiyar, bukan dengan memutuskan akad itu batal. Hal ini sejalan dengan pendapat kami bahwa seorang tuan tidak boleh menikahkan budaknya dengan laki-laki yang telah dikebiri secara sadar, dan jika dilakukan maka akadnya tidak sah. Namun, jika ia menikahkan budaknya dengan dugaan bahwa laki-laki itu sehat, maka akadnya sah dan budak perempuan tersebut berhak memilih (melanjutkan atau membatalkan akad).
هذا منتهى النظرِ في ذلك التفريعِ على قولَي الحط إن قلنا لا يُحطّ عن المشتري شيء فله الخيارُ؛ من جهة أنه خاض في العقد على شرط أنه ينزل على عوض العقد المتقدّم فإذا لم يتفق ذلك تخيَّر
Inilah akhir dari pembahasan pada cabang masalah ini menurut dua pendapat tentang pengurangan harga. Jika kita mengatakan bahwa tidak ada pengurangan apa pun dari pembeli, maka ia memiliki hak khiyar; karena ia telah melakukan akad dengan syarat bahwa ia akan menerima kompensasi dari akad sebelumnya, sehingga jika hal itu tidak terjadi, ia berhak memilih.
وإن قُلنا يُحط الزيادةُ عنه ففي ثبوت الخيار للمشتري مع انحطاطِ الزيادة قولان أحدُهما لا خيار له؛ فإن مقصوده قد حصل والقول الثاني له الخيار وهو موجَّهٌ في ترتيب المذهب بمعنيين أحدهما أنه إذا خانه مرةً لم نثق به ولم نأمن أنه خانه في مقدارٍ آخر وإن الثمن كان ثمنين أو أقلَّ فهذا وجه
Jika kita katakan bahwa tambahan harga itu dihapuskan darinya, maka dalam penetapan hak khiyar bagi pembeli ketika tambahan harga itu dihapuskan terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, pembeli tidak memiliki hak khiyar, karena tujuannya telah tercapai. Pendapat kedua, pembeli tetap memiliki hak khiyar, dan ini merupakan pendapat yang lebih kuat dalam urutan mazhab dengan dua alasan. Pertama, jika penjual pernah berkhianat sekali, maka kita tidak lagi mempercayainya dan tidak merasa aman dari kemungkinan ia berkhianat dalam jumlah lain, baik harga itu dua kali lipat atau lebih sedikit. Inilah alasannya.
والوجه الثاني أنه قد يُفرَضُ للمشتري غرضٌ في الابتياع بالمائة في تنفيذِ وصيَّة أو وفاءٍ بنذر أو تحلّةِ قسَمٍ هذا إذا حكمنا بالانحطاط شرعاً وإن قلنا لا انحطاطَ والعقدُ ثابتٌ بالمائة فقد ذكرنا أن المشتري يتخيّر؛ لمكان التلبيس فلو قال البائع لا تفسخ؛ فإني أحط عنك الزيادةَ فإذا حطها هل يتخيّر المشتري فعلَى وجهين
Adapun alasan kedua adalah bahwa bisa saja pembeli memiliki tujuan tertentu dalam membeli dengan harga seratus, seperti untuk melaksanakan wasiat, menunaikan nazar, atau membebaskan sumpah. Ini jika kita memutuskan adanya pengurangan secara syar‘i. Namun, jika kita mengatakan tidak ada pengurangan dan akad tetap berlaku dengan harga seratus, maka telah kami sebutkan bahwa pembeli berhak memilih (antara melanjutkan atau membatalkan akad) karena adanya unsur penipuan. Jika penjual berkata, “Jangan batalkan; aku akan mengurangi kelebihan harga itu darimu,” lalu ia benar-benar menguranginya, maka apakah pembeli tetap berhak memilih? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وهذه الصورةُ في مقتضى الخيار أيضاًً تُضاهي التفريعَ على قولنا إن الزيادة تنحط غير أن الصورة الأخيرةَ أولى بالخيار؛ من جهة أن الخيارَ ثبت لصفةِ العقدِ؛ فإنه انعقد على التلبيس فإذا أراد البائعُ الحطَّ فهذا إبراءٌ والعقد في وضعهِ انعقد على موجَب التلبيس وإذا حكمنا بالانحطاطِ فالعقد لم ينعقد على موجَب التلبيس ولكن بان كذب البائع
Dan gambaran ini, menurut konsekuensi khiyār juga, menyerupai rincian menurut pendapat kami bahwa tambahan itu dihapuskan, hanya saja gambaran terakhir lebih utama untuk mendapatkan khiyār; dari sisi bahwa khiyār itu ditetapkan karena sifat akad; sebab akad terjadi atas dasar penipuan. Jika penjual ingin menghapuskan (tambahan), maka itu adalah pembebasan, dan akad pada dasarnya terjadi atas dasar penipuan. Namun jika kami memutuskan penghapusan (tambahan), maka akad tidak terjadi atas dasar penipuan, melainkan terbukti bahwa penjual telah berbohong.
وقد ذكر صاحب التقريب قولاً ثالثاً مخرَّجاً في خيار المشتري وذلك أنه قال من
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan pendapat ketiga yang diistinbatkan dalam masalah khiyār bagi pembeli, yaitu ia berkata bahwa…
أصحابنا من قال إن ظهرت الخيانةُ بإقرار البائع فلا خيارَ للمشتري وإن ظهرت الخيانةُ ببيّنةٍ فله الخيار؛ فإن الإقرارَ يبيّن تندُّمَه على ما تقدَّم منه ويثبت ثقة بقوله بخلاف البيّنة
Menurut pendapat ulama mazhab kami, jika terbukti adanya kecurangan berdasarkan pengakuan penjual, maka pembeli tidak memiliki hak khiyar. Namun, jika kecurangan itu terbukti dengan adanya bukti (syar‘i), maka pembeli berhak mendapatkan khiyar. Sebab, pengakuan menunjukkan adanya penyesalan dari penjual atas perbuatannya yang telah lalu dan menimbulkan kepercayaan terhadap ucapannya, berbeda halnya dengan bukti (syar‘i).
وهذا لا حاصل له
Dan ini tidak memiliki substansi apa pun.
والفقهُ المطلوب في هذا أنَ توقع خيانةٍ أخرى يجري في الإقرار وقيام البيّنة
Fiqh yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa kemungkinan terjadinya pengkhianatan lain berlaku baik dalam pengakuan maupun dalam adanya bukti.
ولكن إن تحقق المشتري مبلغَ الثمن وأمِنَ من تقدير خيانةٍ وذلكَ بأن يتذكَّر بنفسه ما وقع ذلك العقدُ الأول عليه وكان شهدهُ وشاهَدهُ ثم نسيَهُ فإن كان كذلكَ فالخيارُ مع الحطِّ لا متعلَّق له إلا الأغراضُ البعيدة التي أشرنا إليها في الأَيْمان والوصايا ولا اختصاص لها بغرض العقد ويتعذر إثبات الخيار لها وإن لم يتيقن المشتري زوالَ إمكان خيانةٍ أخرى فيتعلَّق الخيار بالمعنيين المذكورين
Namun, jika pembeli telah memastikan jumlah harga dan merasa aman dari kemungkinan adanya kecurangan—yaitu dengan cara ia sendiri mengingat apa yang menjadi isi akad pertama tersebut, dan ia telah menyaksikannya lalu melupakannya—maka jika demikian, hak khiyar dengan pengurangan harga tidak lagi berkaitan kecuali dengan tujuan-tujuan jauh yang telah kami singgung dalam pembahasan sumpah dan wasiat, dan itu pun tidak khusus berkaitan dengan tujuan akad, sehingga sulit menetapkan hak khiyar untuk tujuan-tujuan tersebut. Namun, jika pembeli belum yakin hilangnya kemungkinan kecurangan lain, maka hak khiyar tetap berkaitan dengan dua makna yang telah disebutkan.
وتمامُ الكلام في ذلكَ أنا إن حططنا من المشتري ولم نخيّره أو خيَّرناه فما اختار الفسخَ بل أجازَ العقدَ فهل يثبت للبائع الخيارُ؛ من جهة أنه طمِعَ في المبلغ الذي سقاه ثمناً ثم أخلف ظنُّه في المسألة وجهان أحدُهما أنهُ لا خيار له؛ لأنهُ لم يفُتْه حق مستحق بالعقد ويبعد أن يصير تلبيسُه أو غلطُه سبباً لثبوت الخيار له
Penyempurnaan pembahasan dalam hal ini adalah, jika kita menurunkan kedudukan pembeli dan tidak memberinya hak memilih, atau kita memberinya hak memilih namun ia tidak memilih pembatalan, melainkan membiarkan akad tetap berjalan, maka apakah penjual berhak mendapatkan khiyār; dari sisi bahwa ia telah berharap pada jumlah yang diterimanya sebagai harga, namun ternyata harapannya tidak terpenuhi dalam masalah ini, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa penjual tidak memiliki hak khiyār; karena tidak ada hak yang hilang darinya yang dijamin oleh akad, dan tidaklah pantas jika tipu daya atau kekeliruannya menjadi sebab baginya untuk mendapatkan hak khiyār.
والوجه الثاني أنه يثبت الخيار له؛ لأن ذلك أمّلَه بأن يسقم له ما سمَّاه ثم خاب ظنُّه وهذا يقرب من الخيار الذي ذكرناه في بَيع الصُّبرة بالصُّبرةِ مُكايلة حيث قال الشافعي وللمنتقَص صُبرتُه الخيارُ؛ فإنه على ظنّه باستحقاق الصُبرة ثم اقتضت المكايلةُ خروج بعضها عن الاستحقاق
Alasan kedua adalah bahwa hak khiyar ditetapkan baginya; karena hal itu membuatnya berharap akan mendapatkan apa yang telah disebutkan, namun harapannya tidak terpenuhi. Ini mirip dengan khiyar yang telah kami sebutkan dalam jual beli ṣubrah dengan ṣubrah secara taksiran, di mana Imam Syafi‘i berkata: “Bagi orang yang ṣubrah-nya berkurang, ia memiliki hak khiyar”; sebab ia berasumsi bahwa ia berhak atas seluruh ṣubrah, kemudian taksiran tersebut menyebabkan sebagian darinya keluar dari haknya.
وهذا نجاز الكلام في الخيانة
Demikianlah pembahasan mengenai khianat.
فأمّا إذا باع الشيءَ مرابحةً ثم بان أن ثمنَ العقدِ الأولِ كان أقلَّ ولكن لم يعتمد البائعُ ذلك خائناً بل أخطأ فترتيبُ الكلامِ في قواعدِ الخلافِ والوفاقِ في الحطِّ والخيارِ كما تقدَّم في الخيانةِ غيرَ أن الخَطأ قد يترتبُ على الخيانةِ كما سنصفُ ذلك
Adapun jika seseorang menjual suatu barang dengan cara murabahah, kemudian ternyata harga pada akad pertama lebih rendah, namun penjual tidak sengaja melakukan itu karena berkhianat, melainkan karena keliru, maka urutan pembahasan dalam kaidah perbedaan dan kesepakatan terkait pengurangan harga dan hak khiyar adalah sebagaimana telah dijelaskan pada kasus khianat, hanya saja kekeliruan bisa saja terjadi akibat adanya unsur khianat, sebagaimana akan dijelaskan nanti.
ففي الحَط أولاً قولان كالقولين في الخيانَةِ ولا فرق فإن حَططنا ففي ثبوتِ الخيارِ للمشتري قولان مرتبان على القولين في نظير ذلك في الخيانة وهذه الصورة يعني صورةَ الغلط أولى بألا يثبتَ الخيار فيها
Dalam hal pengurangan harga, pertama-tama terdapat dua pendapat sebagaimana dua pendapat dalam kasus khianat, dan tidak ada perbedaan antara keduanya. Jika kita melakukan pengurangan harga, maka dalam penetapan hak khiyar bagi pembeli terdapat dua pendapat yang diurutkan berdasarkan dua pendapat dalam kasus serupa pada khianat. Dan kasus ini, yaitu kasus kekeliruan, lebih utama untuk tidak ditetapkan hak khiyar di dalamnya.
وكيفيّةُ الترتيب أنا إن لم نثبت الخيارَ في الخيانةِ بعد الحط فلأن لا يثبتَ في صورةِ الغلطِ أولى وإن قُلنا يثبتُ الخيارُ بالخيانةِ ففي صورةِ الغَلط قولان مبنيان على المعنيين؛ فإن ربطنا الخيارَ في الخيانة بزوال الأمن وتوقُّعِ مثلِ ما وقعَ فلا خيار في الغلط وإن ربطنا الخيار ثَمَّ بالأغراض التي ذكرناها فهذا يتحقق في الغَلط أيضاً
Adapun tata cara urutan, jika kita tidak menetapkan hak khiyar dalam kasus khianat setelah adanya pengurangan harga, maka lebih utama lagi untuk tidak menetapkannya dalam kasus kekeliruan. Namun, jika kita mengatakan bahwa hak khiyar ditetapkan karena adanya khianat, maka dalam kasus kekeliruan terdapat dua pendapat yang dibangun di atas dua makna tersebut; jika kita mengaitkan hak khiyar dalam khianat dengan hilangnya rasa aman dan kekhawatiran terulangnya kejadian serupa, maka tidak ada hak khiyar dalam kekeliruan. Namun, jika kita mengaitkan hak khiyar di sana dengan tujuan-tujuan yang telah kami sebutkan, maka hal ini juga terwujud dalam kasus kekeliruan.
ولا نص للشافعي في صورة الخيانة فإنه فرضَ كلامَه في الخطأ ونصَّ على القولين في الحط ثم ذكر النقَلةُ عنه قولين في ثبوت الخيار للمُشتري فروى حرملَةُ أن الخيار لا يثبت ورَوى المزني ثبوت الخيار فذكر الأصحاب وجهين في الخيانة لمَّا لم يجدوا في تلك الصورةِ نصوص صاحب المذهب واعتقدوا أن صورةَ الخيانة أولى بالخيار
Tidak ada nash dari Imam Syafi‘i mengenai kasus khianat, karena beliau membahas permasalahan dalam konteks kesalahan, dan beliau telah menegaskan dua pendapat dalam masalah pengurangan (harga). Kemudian para perawi meriwayatkan darinya dua pendapat tentang tetapnya khiyar bagi pembeli. Harmalah meriwayatkan bahwa khiyar tidak tetap, sedangkan al-Muzani meriwayatkan tetapnya khiyar. Maka para ulama madzhab menyebutkan dua pendapat dalam kasus khianat, karena mereka tidak menemukan nash dari pendiri madzhab dalam kasus tersebut, dan mereka berpendapat bahwa kasus khianat lebih utama untuk diberikan hak khiyar.
فإن قيل كما يتوقع خيانةٌ بعد الخيانة الأولى فكذلك يُتوقَّع غلطٌ بعد ظهور الغلط الأوّل فما وجه البناء على المعنيين قلنا لا سواء فالخيانةُ إذا ظهرت حطَّت الثقةَ وسلبت الأمنَ والغلط لا يُثبت مزيداً في توقع الغلط مرةً أخرى بل توقُّعُه ثانياً على حسب توقعه أول مرَّة وتوقُّع الخطأ أوّلَ مرةِ لا يُثبت الخيارَ
Jika dikatakan, sebagaimana dikhawatirkan adanya pengkhianatan setelah pengkhianatan pertama, demikian pula dapat diharapkan terjadinya kesalahan setelah tampaknya kesalahan pertama, maka apa alasan membangun hukum atas dua makna tersebut? Kami katakan, keduanya tidaklah sama. Pengkhianatan, jika telah tampak, akan menghilangkan kepercayaan dan mencabut rasa aman, sedangkan kesalahan tidak menambah kemungkinan terjadinya kesalahan lagi; melainkan kemungkinan terjadinya kesalahan kedua kali sama saja dengan kemungkinan terjadinya kesalahan pada kali pertama. Adapun kemungkinan terjadinya kesalahan pada kali pertama tidak menetapkan adanya hak khiyar.
وكلُّ ما ذكرناه فيه إذا فُرض كون الثمنِ المذكورِ في عقد المرابحة أقل مما كان في العقد الذي عليه البناءُ
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya berlaku jika diasumsikan bahwa harga yang disebutkan dalam akad murabahah lebih rendah daripada harga dalam akad yang menjadi dasar.
فأما إذا قال البائع قد غلطتُ إذ ذكرتُ المائةَ؛ فإني كنتُ اشتريتُ السلعةَ بمائةٍ وخمسين فإن صدَّقه المشتري في ذلك وثبت الغَلطُ بتوافُقِهما فالذي ذكرهُ الجمهور من الأصحاب أنا نتبيّنُ فسخَ العقد من أصله قالوا وهذا يخالف بيانَ الغلط بالزيادة في الصورة المقدّمَة؛ فإن المذهب في تلك الصورة صحّةُ العقد ولم يصر إلى فساده أحدٌ إلا صاحبُ التقريب؛ فإنه حكى قولاً غريبا كما مضى
Adapun jika penjual berkata, “Aku telah keliru ketika menyebut seratus; sesungguhnya aku telah membeli barang itu seharga seratus lima puluh,” lalu pembeli membenarkannya dan kekeliruan itu terbukti dengan kesepakatan keduanya, maka menurut pendapat mayoritas ulama dari kalangan mazhab, kita menetapkan bahwa akad tersebut batal sejak awal. Mereka berkata, “Hal ini berbeda dengan penjelasan kekeliruan karena kelebihan harga pada gambaran sebelumnya; sebab menurut mazhab, dalam gambaran tersebut akad tetap sah dan tidak ada yang berpendapat batal kecuali penulis kitab at-Taqrib, karena ia meriwayatkan pendapat yang ganjil sebagaimana telah disebutkan.”
وكان شيخي يُنزل الغلطَ بالزيادةِ منزلةَ الغلط بالنقصان ويقول كما أنَّ المائةَ ليست عبارةً عن تسعين فليست عبارةً عن مائةٍ وخمسين فإن كان التعويل على المسمَّى فليصح في الموضعين وإن كان التعويلُ على ما وقع عليه العقدُ الأول فلا فرقَ بين الزيادة والنقصان
Dan guruku menyamakan kesalahan berupa penambahan dengan kesalahan berupa pengurangan, dan beliau berkata: Sebagaimana seratus bukanlah berarti sembilan puluh, demikian pula seratus bukanlah berarti seratus lima puluh. Jika yang dijadikan sandaran adalah makna yang dimaksud, maka keduanya sah; namun jika yang dijadikan sandaran adalah apa yang menjadi objek akad pertama, maka tidak ada perbedaan antara penambahan dan pengurangan.
وهذا قياسٌ متَّجهٌ ولكن الذي ذكرهُ الأصحاب واتفق النقل فيهِ ما قدّمته
Ini adalah qiyās yang masuk akal, namun pendapat yang disebutkan oleh para ulama dan yang disepakati dalam riwayat adalah apa yang telah saya kemukakan sebelumnya.
والذي يمكن أن يقال في الفرق أن الحطَّ من الثمن قد يُستَحق في بعض العقود إذا حُط الأرش ولا يُتصوّرُ استحقاق زيادةٍ ملتحقةٍ بالعقدِ لم يجر لها ذكرٌ نعم قد تفسد الأعواض في العقود التي لا تفسد بفساد أعواضها فنحيدُ عن المسمّى رأساً ونُثبتُ مهرَ المثل وقيمةَ المثل ثم قد يتفق ذلك زائداً أو ناقصاً
Yang dapat dikatakan mengenai perbedaan adalah bahwa pengurangan harga dapat menjadi hak dalam sebagian akad jika ada pengurangan arsy, dan tidak terbayangkan adanya hak atas tambahan yang melekat pada akad yang sebelumnya tidak disebutkan. Memang, kadang-kadang imbalan dalam akad bisa menjadi rusak pada akad-akad yang tidak batal karena kerusakan imbalannya, sehingga kita meninggalkan nominal yang disebutkan sama sekali dan menetapkan mahar mitsil atau nilai sepadan. Kemudian, hal itu bisa saja kebetulan lebih atau kurang.
وهذا فيه إذا اتفقا على الغلط بالنقصان
Hal ini berlaku apabila keduanya sepakat bahwa telah terjadi kekeliruan berupa kekurangan.
فأما إذا لم يعترف المشتري بما ادّعاه البائع فقال البائع قد كنت اشتريتُ بمائةٍ وخمسين وغلطت بذكر المائة فلا يُرجع إلى قول البائع ولو أراد إقامَةَ البيّنةِ لم تُسمَع بينتُه؛ فإن سماعَ البينةِ يترتبُ على صحة الدعوى وقد ذكرنا أن دعواه مناقضةٌ لدعواه فلا سبيل إلى تصحيحها وإذا لم تصح فسماع البينةِ يترتَّبُ على سماع الدعوى فلو قال للمشتري أنت تعلمُ أني غلطتُ ونقصتُ الثمن فاحلف أنك لا تعلم فهل يحلف المشتري إذا استدعى ذلك البائعُ
Adapun jika pembeli tidak mengakui apa yang diklaim oleh penjual, lalu penjual berkata, “Aku telah membeli dengan harga seratus lima puluh, namun aku keliru menyebut seratus,” maka tidak kembali kepada perkataan penjual. Dan jika penjual ingin mendatangkan bukti (bayyinah), maka buktinya tidak diterima; karena penerimaan bukti bergantung pada kebenaran gugatan, sedangkan telah kami sebutkan bahwa gugatannya bertentangan dengan gugatannya sendiri, sehingga tidak mungkin membenarkannya. Jika tidak sah, maka penerimaan bukti bergantung pada penerimaan gugatan. Jika penjual berkata kepada pembeli, “Engkau tahu bahwa aku keliru dan mengurangi harga, maka bersumpahlah bahwa engkau tidak tahu,” apakah pembeli harus bersumpah jika penjual memintanya?
ذكر صاحب التقريب وغيره وجهين مبنيّين على أصلٍ مشهورٍ في الدعاوى وهو أن يمين الردِّ بمنزلةِ إقرار المدعى عليه أو تنزل منزلةَ البيّنة المقامة وفيه قولان مأخوذان من معاني كلام الشافعي سيأتي ذكرُهما في كتاب الدعاوى
Penulis kitab at-Taqrīb dan yang lainnya menyebutkan dua pendapat yang didasarkan pada suatu prinsip yang masyhur dalam perkara gugatan, yaitu bahwa sumpah yang dikembalikan (yamin ar-radd) diposisikan seperti pengakuan dari pihak tergugat atau dianggap setara dengan bukti (bayyinah) yang diajukan. Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang diambil dari makna perkataan asy-Syafi‘i, yang akan disebutkan nanti dalam Kitab ad-Da‘āwā.
قال فإن قلنا يمين الرد ينزل منزلةَ البينة فلا يحلف المشتري في الصورة التي ذكرناها؛ فإن غرضَهُ لا يتضح في تحليفه إلا بتقدير نكوله مع رد اليمين على البائع المستحلِف وإلا فلا فائدةَ في تحليفه فعلى هذا لا يحلف؛ لأنا جعلنا يمين الرد كالبيّنة وقد ذكرنا أن بينته لا تسمع فلا تحليفَ إذن
Ia berkata: Jika kita katakan bahwa sumpah balasan (yamin ar-radd) diposisikan seperti bukti (bayyinah), maka pembeli tidak disumpah dalam kasus yang telah kami sebutkan; karena tujuannya tidak akan jelas dalam menyuruhnya bersumpah kecuali jika penjual enggan bersumpah lalu sumpah itu dikembalikan kepada penjual yang menuntut sumpah, jika tidak maka tidak ada manfaat dalam menyuruhnya bersumpah. Maka berdasarkan hal ini, pembeli tidak disumpah; karena kami telah menjadikan sumpah balasan seperti bayyinah, dan telah kami sebutkan bahwa bayyinahnya tidak diterima, maka tidak ada sumpah baginya.
وإن قلنا يمينُ الرد بمنزلةِ إقرار المدعى عليه فاليمين معروضةٌ على المدعى عليه؛ فإن يمين الرد في عقباه كإقرار المدعَى عليه ولو أقرّ المدعَى عليه لثبت موجَبُ الغلط
Jika kita mengatakan bahwa sumpah rad (sumpah pengembalian) itu setara dengan pengakuan dari tergugat, maka sumpah tersebut diarahkan kepada tergugat; karena sumpah rad pada akhirnya seperti pengakuan dari tergugat, dan jika tergugat mengakui, maka konsekuensi kekeliruan pun tetap berlaku.
وذكر بعض أصحابنا وجهاً ثالثاً فقال إن باع بالمائة ثم ادعى المائة والخمسين وذكر الغلطَ مطلقاًً من غير ذكر سبب يقتضي الغلطَ فدعواه مردودةٌ والمدعَى عليهِ لا يحلف وإن ذكر سبباً لا يمتنع وقوعُ مثلهِ مثل أن يقول طالعتُ جريدتي فغلطتُ من ثمنِ متاعٍ إلى ثمنِ آخر وأخبرني من أثق به فعوّلتُ على قوله ثم تبينت خطأه فما يقوله من هذه الأجناس ممكنٌ وإن ذكر شيئاً منها كان له تحليفَ المشتري بخلاف ما إذا أطلقَ؛ فإن مطلقَ الدعوى مضادٌّ لصيغة البيع
Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat ketiga, yaitu: jika seseorang menjual dengan harga seratus, lalu ia mengklaim seratus lima puluh dan menyebutkan adanya kesalahan secara mutlak tanpa menyebutkan sebab yang dapat menimbulkan kesalahan tersebut, maka klaimnya ditolak dan pihak yang dituduh tidak perlu bersumpah. Namun, jika ia menyebutkan sebab yang memungkinkan terjadinya kesalahan, seperti mengatakan, “Saya melihat catatan saya lalu keliru antara harga barang yang satu dengan yang lain, atau saya diberitahu oleh seseorang yang saya percaya lalu saya bersandar pada ucapannya, kemudian ternyata ia keliru,” maka apa yang ia sebutkan dari jenis-jenis ini adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Jika ia menyebutkan salah satu dari hal tersebut, maka ia berhak meminta pembeli untuk bersumpah, berbeda halnya jika ia mengklaim secara mutlak; karena klaim yang mutlak bertentangan dengan akad jual beli.
وإذا تَواردا على التضادّ لم يُقبل أحدهما وإذا ذكر عُذراً قَرُبَ قبولُ القولِ
Apabila dua pendapat saling bertentangan, maka tidak diterima salah satunya. Namun, jika disebutkan suatu alasan, maka kemungkinan diterimanya pendapat tersebut menjadi lebih besar.
ثم لا خلاف أنا لا نقبل قول المدعي بل فائدة ما ذكرناه تمكينُه من تحليف المشتري وهذا الفصلُ اختيارُ أبي إسحاقَ المروزي
Kemudian tidak ada perbedaan pendapat bahwa kita tidak menerima perkataan pihak yang mengklaim, melainkan manfaat dari apa yang telah kami sebutkan adalah memberinya kesempatan untuk meminta sumpah dari pembeli, dan bagian ini adalah pilihan Abu Ishaq al-Marwazi.
وذكر صاحب التقريب أن من أصحابنا من قطع القول بجواز تحليفه المشتري إذا ذكر السبب وردَّ الوجهين إلى الإطلاق
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan bahwa sebagian ulama dari kalangan kami secara tegas berpendapat bolehnya pembeli disumpah apabila ia menyebutkan sebabnya, dan beliau mengembalikan dua pendapat tersebut kepada pendapat yang bersifat umum.
وهذا الآنَ فيه مزيدُ نظرٍ؛ فإنا إذا قطعنا القولَ بالتحليف لزم أن تُسمع بيّنةُ المدعِي فإنّ القطعَ بالتحليف يُثبت يمينَ الردَّ ولا تثبتُ يمينُ الرد مقطوعاً بها من غير خلاف إلا حيث تُسمع البينةُ وحيث ذكرنا خلافاً بنيناه على أن يمينَ الرَّدِّ كالبيِّنةِ أم هي كالإقرار وفيه الخلافُ المقدَّم وهذا بيّنٌ لمن تأَمَّله
Hal ini sekarang memerlukan kajian lebih lanjut; sebab jika kita memastikan adanya sumpah (dalam perkara ini), maka harus diterima pula bukti (bayyinah) dari pihak penggugat. Karena memastikan adanya sumpah berarti menetapkan adanya sumpah balasan (yamin ar-radd), dan sumpah balasan tidak dapat dipastikan keberadaannya tanpa ada perbedaan pendapat, kecuali pada kasus di mana bukti (bayyinah) diterima. Dan ketika kami menyebut adanya perbedaan pendapat, hal itu didasarkan pada apakah sumpah balasan itu seperti bayyinah atau seperti pengakuan (iqrar), dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini jelas bagi siapa saja yang memperhatikannya.
فصل
Bab
فيما يجبُ الإخبارُ به في بيع المرابحة وما لا يجب
Tentang hal-hal yang wajib diberitahukan dalam jual beli murābahah dan hal-hal yang tidak wajib diberitahukan.
فنقول إذا اشترى شيئاً وقبضه ثم عاب في يدهِ عيباً يُثبتُ مثلُه الردَّ فإذا أراد أن يبيع مرابحةً بالثمن أو بما قام عليهِ فيتعيَّن عليه ذكرُ ما تجدد في يدهِ من العيب حتى لا يكون ملبّساً على مُعاملِه؛ فإن من خاصيّه هذه المعاملة تنزيلُ العقد الثاني على الأول حالةَ ورود العقد والمشتري يعتقد أنه حالّ محلَّ البائعِ في جميع الحقوق إلا في مزيد الربح فوجب لذلك أن يذكر ما يجري من العيب ولا فرق بين أن يطرأ العيبُ بآفةٍ سماويَّةٍ أو بجناية جانٍ أو بجنايةٍ من هذا البائع
Maka kami katakan: Jika seseorang membeli suatu barang dan telah menerimanya, kemudian barang itu mengalami cacat di tangannya dengan cacat yang sejenis dengannya dapat menjadi alasan untuk mengembalikan barang, lalu ia ingin menjualnya dengan akad murabahah dengan harga beli atau dengan harga yang telah dikeluarkan atasnya, maka wajib baginya untuk menyebutkan cacat yang baru muncul di tangannya agar tidak menipu pihak yang bertransaksi dengannya. Sebab, salah satu karakteristik transaksi ini adalah akad kedua dianggap mengikuti akad pertama pada saat akad dilakukan, dan pembeli mengira bahwa ia menempati posisi penjual dalam seluruh hak kecuali dalam tambahan keuntungan. Oleh karena itu, wajib baginya untuk menyebutkan cacat yang terjadi, dan tidak ada perbedaan apakah cacat itu timbul karena musibah dari langit, karena perbuatan orang lain, atau karena perbuatan penjual itu sendiri.
فأما ما لا يوجب تغيير المبيع في صفته لا في عينه ولا في ماليّته فلا حاجة إلى ذكره فلو اكتسب العبد أو أثمرت الشجرة المشتراةُ فاز البائعُ بالزيادات المنفصلة وكان له إجراءُ العقد بالثمن أو بما قام عليه من غير تعرضٍ لذكر الزوائد ولو جنى العبد في يدهِ وفداه ثم أراد بيعه مرابحةَ بما اشتراه أو بما قام عليه فليس له أن يذكر مما فداه به مطلقاًً مع رأس المال ذِكْرَه مؤنَ التجارة؛ فإنا ذكرنا فيما سبق أن ما لا يكون من مؤن التجارة ولا يقتضي استنماءً واسترباحاً فلا يجوز ضمه إلى رأس المال مطلقاًً من غير تنصيصٍ عليه وإذَا كنا لا نرى ضم مؤنة العلف إلى رأس المال على ظهورها فالفداءُ الواقعُ نادراً أوْلى وهو يناظر مؤن المعالجة إذا فُرِض مرضٌ ولا شك أنها لا تُضم
Adapun hal-hal yang tidak menyebabkan perubahan pada barang yang dijual, baik pada sifatnya, zatnya, maupun nilainya, maka tidak perlu disebutkan. Jika budak memperoleh penghasilan atau pohon yang dibeli berbuah, maka penjual berhak atas tambahan-tambahan yang terpisah itu, dan ia boleh menjalankan akad dengan harga jual atau dengan nilai yang telah dikeluarkan tanpa perlu menyebutkan tambahan-tambahan tersebut. Jika budak melakukan pelanggaran saat masih di tangan penjual dan penjual menebusnya, kemudian ingin menjualnya dengan akad murabahah berdasarkan harga beli atau nilai yang telah dikeluarkan, maka tidak boleh baginya untuk memasukkan biaya penebusan tersebut ke dalam modal secara mutlak, juga tidak boleh menyebutkannya sebagai biaya perdagangan. Sebab, telah kami sebutkan sebelumnya bahwa sesuatu yang bukan merupakan biaya perdagangan dan tidak bertujuan untuk pengembangan atau memperoleh keuntungan, maka tidak boleh digabungkan ke dalam modal secara mutlak tanpa penegasan. Jika kami tidak membolehkan penggabungan biaya pakan ke dalam modal padahal itu jelas, maka penebusan yang jarang terjadi tentu lebih utama untuk tidak digabungkan, dan hal itu sebanding dengan biaya pengobatan jika terjadi sakit, yang jelas tidak boleh digabungkan.
وما ذكرناه معناه إطلاق الضم من غير تنصيص على الجهة فأمّا إذا قال بعتك هذا العبد بما قام عليَّ وهو كذا وبما فديتُه به لما جنى مُرابحةً على كذا وكذا فهذا لا منعَ فيهِ وهو مطَّردٌ فيما يريد البائعُ ضمَّه إلى رأس المال مع التصريح
Apa yang telah kami sebutkan maksudnya adalah membebaskan penambahan tanpa penegasan pada jenisnya. Adapun jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budak ini dengan harga yang telah aku keluarkan untuknya, yaitu sekian, dan dengan biaya yang aku tebuskan karena kesalahannya, secara murābahah sebesar sekian dan sekian,” maka hal ini tidak terlarang dan berlaku umum pada apa saja yang ingin penjual tambahkan ke dalam modal dengan penjelasan yang jelas.
فأما إذا جُني على العبد وغرِمَ الجاني أرش جنايته فسبيلُ ضبط المذهب أن أثر الجناية عيبٌ طارىء فلا بدَّ من ذكره فلو أراد ألا يذكر العيبَ ولا يَحطَّ الأرشَ الذي أخذهُ عن الجاني بل يذكرَ جميعَ الثمن أو جميعَ ما قام عليه به لم يكن له ذلك وكان مدلّساً
Adapun jika seorang budak mengalami tindak kejahatan dan pelaku kejahatan membayar diyat atas kejahatan tersebut, maka menurut mazhab, dampak dari kejahatan itu adalah cacat yang baru muncul, sehingga wajib untuk menyebutkannya. Jika seseorang ingin tidak menyebutkan cacat tersebut dan tidak mengurangi diyat yang telah diterimanya dari pelaku kejahatan, melainkan menyebutkan seluruh harga atau seluruh nilai budak tersebut, maka hal itu tidak diperbolehkan baginya dan ia dianggap sebagai penipu.
ولو جرت جناية وزال أثرُها بالكلية ولكنا كنا نرى في وجهٍ تغريمَ الجاني شيئاً على مقابلة جنايته فالظاهرُ في هذه الحالة أنه لا يجب عليه ذكرُ ما جرى والمأخوذ من الجاني في حكم زيادةٍ مستفادةٍ من المبيع والسبب فيه أن المبيعَ غيرُ مُنتقَصٍ
Jika terjadi suatu tindak kejahatan dan dampaknya telah hilang sepenuhnya, namun kita berpendapat dalam satu sisi untuk mewajibkan pelaku membayar sesuatu sebagai kompensasi atas kejahatannya, maka yang tampak dalam keadaan ini adalah ia tidak wajib menyebutkan apa yang telah terjadi, dan apa yang diambil dari pelaku kejahatan itu dianggap sebagai tambahan manfaat dari barang yang dijual. Sebabnya adalah karena barang yang dijual tidak mengalami pengurangan.
ومن أصحابنا من أوجب ذكر ذلك وهو بعيدٌ لا أصل له
Sebagian ulama dari kalangan kami mewajibkan penyebutan hal tersebut, namun pendapat itu lemah dan tidak memiliki dasar.
وإذا جرينا على الأصح وقلنا جراحُ العبدِ من قيمته كجراح الحر من ديته ثم جرت جناية مُوجَبها من طريق التقدير نصفُ القيمة وما نقصت من الجنايةِ إلا ثُلثها
Dan jika kita mengikuti pendapat yang paling sahih dan mengatakan bahwa luka pada budak dihitung dari nilainya sebagaimana luka pada orang merdeka dihitung dari diyat-nya, kemudian terjadi tindak pidana yang akibatnya secara taksiran adalah setengah dari nilai (budak), maka yang berkurang dari tindak pidana tersebut hanyalah sepertiganya.
فإذا باع العبدَ بما قام عليهِ وحَط مقدارَ النقصان من القيمة ولم يحط ما غرِمه الجاني له وراء النقصان ففي المسألةِ وجهان والأصح أن ذلك جائز؛ فإن الزائد على النقصان غرِمه الجاني لحقّ الدية والمعتبر في المرابحة القضايا الماليّةُ
Jika seseorang menjual budak dengan harga sesuai nilai yang ada padanya, lalu mengurangi jumlah kekurangan dari nilainya, namun tidak mengurangi apa yang telah dibayarkan oleh pelaku kejahatan kepadanya selain dari kekurangan tersebut, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat yang paling sahih adalah bahwa hal itu diperbolehkan; karena kelebihan dari kekurangan tersebut adalah tanggungan pelaku kejahatan sebagai hak diyat, sedangkan yang menjadi pertimbangan dalam transaksi murabahah adalah perkara-perkara yang bersifat finansial.
ومن أصحابنا من اعتبر جملة الأرش الذي غرِمه الجاني وإن زاد على مقدار النقصان؛ طرداً للباب؛ ومصيراً إلى أن تقدير الشرع أولى بالاعتبار من تقويم المقوّمين في السوق؛ فنجعل كان الناقصَ النصفُ الذي حكم الشرعُ به
Sebagian dari ulama mazhab kami ada yang mempertimbangkan seluruh jumlah arsy (ganti rugi) yang dibayarkan oleh pelaku, meskipun melebihi kadar kekurangan (kerugian); sebagai konsistensi dalam bab ini, dan berpendapat bahwa ketetapan syariat lebih layak dijadikan acuan daripada penilaian para penaksir di pasar; maka kami menganggap bahwa kekurangan itu adalah setengah, sebagaimana yang telah ditetapkan syariat.
وقد يرى الناظرُ في كتب العراق وجهين مطلقين في أنه هل يجب على البائع ذكرُ الجناية أصلاً
Seorang penelaah dalam kitab-kitab ulama Irak dapat menemukan dua pendapat yang bersifat mutlak mengenai apakah penjual wajib menyebutkan adanya cacat (jīnāyah) sama sekali.
وهذا غيرُ معقولٍ إلا في أرشٍ لا يقابِل تنقيصاً من القيمة كما ذكرته الآن في الصورتين إحداهما في أرش يقابل جنايةً لم يبقَ أثرُها والأخرى أن يكون الأرش وراء النقص مأخوذاً من تقدير الشرع
Hal ini tidak dapat diterima kecuali dalam kasus arsy yang tidak berhubungan dengan pengurangan nilai, sebagaimana telah saya sebutkan sekarang dalam dua gambaran: yang pertama adalah arsy yang berkaitan dengan tindak pidana yang bekasnya sudah tidak ada lagi, dan yang kedua adalah apabila arsy yang melebihi pengurangan nilai diambil berdasarkan ketetapan syariat.
ثم تمام البيان في ذلك أنه لا يختلف الأمر بأن يبيع بما اشترى أو بما قام في العيوب الطارئة؛ فإنا وإن كنا نتبع المسمى ثمناً فنشترطُ بقاءَ المثمَّن على ما كان عليه حالةَ العقد
Penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa tidak ada perbedaan apakah seseorang menjual dengan harga yang sama saat membeli atau dengan harga yang telah diperhitungkan karena adanya cacat yang muncul kemudian; sebab meskipun kita mengikuti harga yang telah disebutkan sebagai harga jual, kita tetap mensyaratkan agar barang yang dijual tetap dalam kondisi seperti saat akad dilakukan.
ثم حيث قلنا يجب ذكرُ العيب الطارىء فلو لم يذكره وأطلق العقدَ فمقدار الأرش إذ لم يتعزض له بمثابة ما لو زاد في الثمن بأن كان اشترى بتسعين فذكر المائة
Kemudian, ketika kami katakan bahwa wajib menyebutkan cacat yang muncul kemudian, maka jika ia tidak menyebutkannya dan mengikrarkan akad secara mutlak, maka besarnya arsy (kompensasi) selama tidak disebutkan secara khusus adalah seperti halnya jika ia menambah harga, misalnya ia membeli dengan harga sembilan puluh lalu ia menyebutkan seratus.
هذا حكمُ تركِ ذكرِ العيب
Ini adalah hukum meninggalkan penyebutan cacat.
فيعود الكلام في الحط والخيار كما مضى حرفاً حرفاً
Maka pembahasan tentang pengurangan dan khiyar kembali seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kata demi kata.
ولو علم المشتري بطريانِ العيب ثم اشترى بالثمن الأول المذهبُ أن العلمَ كافٍ والبيعُ ينعقد بالثمن الأول المذكور
Jika pembeli mengetahui adanya cacat yang muncul kemudian, lalu ia membeli dengan harga pertama, maka pendapat yang dipegang adalah bahwa pengetahuan tersebut sudah cukup dan jual beli sah dengan harga pertama yang telah disebutkan.
ومن أصحابنا من قالَ لا أثر للعلِم والزيادةُ محطوطةٌ وهي مقدار الأرش في قولٍ وليست محطوطةً في قول نعم لا خيار للمشتري؛ لمكان علمه
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa pengetahuan (pembeli) tidak berpengaruh, dan tambahan itu dianggap sebagai kadar arsy menurut satu pendapat, serta tidak dianggap sebagai kadar arsy menurut pendapat lain. Namun, pembeli tidak memiliki hak khiyar karena ia telah mengetahui (keadaan barang tersebut).
ولو قالَ بعتُك بمائةٍ وهي ما اشتريتُ به فقبل المشتري على ما علم بكذبه فالمذهب إجراءُ القولين في الحط مع نفي الخيارِ ولو قلنا لا يُحط فقال المشتري خضتُ في العقد على تقدير أن يُحطَّ عني فإن لم تحُطوا فخيّروني ففي الخيار خلافٌ والمذهبُ أنه لا يثبت
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu dengan harga seratus, dan itulah harga yang aku beli,” lalu pembeli menerima padahal ia tahu penjual berbohong, maka menurut mazhab, berlaku dua pendapat dalam masalah pengurangan harga dengan meniadakan hak khiyar. Jika kita berpendapat tidak ada pengurangan harga, lalu pembeli berkata, “Aku melakukan akad dengan anggapan akan ada pengurangan harga bagiku. Jika kalian tidak menguranginya, maka berikanlah aku hak khiyar,” maka dalam hal hak khiyar terdapat perbedaan pendapat, dan menurut mazhab, hak khiyar itu tidak tetap.
فلو اشترى عبداً وخصاه فازدادت قيمتُه فهذا مما يجب ذكرُه فإنه من العيوب وقد ذكرنا أن كل ما يُثبت الردَّ يجب ذِكرُه فلو لم يذكُرْه فلا حَطَّ؛ فإن الخِصاء لا يَنقُصُ شيئاً من المالية ولكن لا أثر لما جرى إلاّ تَعْصيةُ البائع لانتسابه إلى التلبيس في معاملةٍ مبناها على الأمانة ولا شك أن المشتري لهُ الخيار لاطلاعهِ على عيبٍ بما اشتراه فليس هذا من خاصيّة المرابحةِ
Jika seseorang membeli seorang budak lalu mengebirinya sehingga nilainya bertambah, maka hal ini wajib disebutkan karena termasuk cacat. Telah kami sebutkan bahwa segala sesuatu yang dapat menjadi alasan pengembalian barang harus disebutkan. Jika tidak disebutkan, maka tidak ada pengurangan harga; sebab pengebirian tidak mengurangi nilai harta sedikit pun. Namun, tindakan tersebut tidak berdampak apa-apa kecuali penjual dianggap berdosa karena melakukan tipu daya dalam transaksi yang dasarnya adalah kejujuran. Tidak diragukan lagi bahwa pembeli memiliki hak memilih (khiyār) karena ia mengetahui adanya cacat pada barang yang dibelinya. Maka, hal ini bukanlah kekhususan dari akad murābahah.
ولو اشترى عبداً بثمنٍ غالٍ وغُبنَ في ثمنه فقد ذكر طوائف من محققينا أنه يجب ذكرُ ذلك فيكون المشتري على بصيرةٍ من أمره
Jika seseorang membeli seorang budak dengan harga yang mahal dan ia tertipu dalam harganya, maka sejumlah ulama terkemuka dari kalangan kami menyebutkan bahwa hal itu wajib disebutkan, agar pembeli mengetahui dengan jelas perkara yang dihadapinya.
وقد قطع شيخي وصاحبُ التقريب أن ذلك لا يجب؛ فإنه باع ما اشترى كما اشترى ومن باع شيئاً وغَبَن مشتريَه لم يكن مدلِّساً ولو كتم عيباً يعلمه به كان غاشّاً مدلِّساً
Guru saya dan penulis kitab at-Taqrīb telah menegaskan bahwa hal itu tidak wajib; sebab ia menjual apa yang ia beli sebagaimana ia membelinya, dan siapa yang menjual sesuatu lalu menipu pembelinya, ia tidak dianggap sebagai orang yang melakukan tadlīs (penipuan dalam jual beli). Namun, jika ia menyembunyikan cacat yang diketahuinya pada barang tersebut, maka ia dianggap sebagai orang yang menipu dan melakukan tadlīs.
ثم الذين قالوا لا بد من ذكر الغبن بَنَوْا عليه أنه لو اشترى من ولده الطفلِ فيجب عليه ذكرُ ذلك وإن كان اشترى بثمنِ المثلِ من غير مزيدٍ؛ لأن شراءه من ولده يوهم نظرَه له وتركَ النظرِ لنفسه
Kemudian, mereka yang berpendapat bahwa harus disebutkan adanya gharar (penipuan harga), mendasarkan pendapatnya bahwa jika seseorang membeli dari anaknya yang masih kecil, maka wajib baginya untuk menyebutkan hal itu, meskipun ia membeli dengan harga pasar tanpa ada tambahan; karena membeli dari anaknya menimbulkan dugaan bahwa ia lebih memperhatikan kepentingan anaknya dan mengabaikan kepentingan dirinya sendiri.
وهذا خَبْط عظيم وهو بناءٌ على وجوب ذكرِ الغبن وقد ذكرنا أن الأصح أنه لا يجب ذكرُه حتى قال المفرّعون على ذكر الغبن لو اشتراه من ابنه البالغ أو أبيه فهل يجب ذكر ذلك فيه تردُّدٌ مبنيٌّ على أن الوكيلَ بالبيع مطلقاًً هل يبيع من أبيه أو ابنه بثمن المثل وفيه تردُّدٌ والمذهب القطعُ بجواز بيع الوكيل من ابنه وأبيه بثمن المثل ووجهُ المنعِ بعيدٌ وهو مذهبُ أبي حنيفة ثم نحن إن أبعدنا فمنعنا حَمَلْنَا ذلكَ على تطرق التهمة ومحاذرةِ الغبن الخفيّ والعجبُ أن أبا حنيفة جوّز البيعَ بالغبن الفاحش ومنع البيعَ من الابن
Ini adalah kekeliruan besar, dan hal ini didasarkan pada kewajiban menyebutkan adanya ghaban (kerugian dalam transaksi). Padahal, telah kami sebutkan bahwa pendapat yang lebih sahih adalah tidak wajib menyebutkannya, bahkan para ulama yang merinci tentang penyebutan ghaban mengatakan: jika seseorang membeli dari anak laki-lakinya yang sudah baligh atau dari ayahnya, apakah wajib menyebutkan hal itu? Ada keraguan yang didasarkan pada apakah seorang wakil dalam jual beli secara mutlak boleh menjual kepada ayah atau anaknya dengan harga pasar, dan dalam hal ini juga terdapat keraguan. Madzhab yang dipegang kuat adalah bolehnya wakil menjual kepada ayah atau anaknya dengan harga pasar, dan alasan pelarangan sangatlah lemah. Ini adalah pendapat Abu Hanifah. Kemudian, jika kita mengambil pendapat yang lebih ketat dan melarangnya, maka kita menisbatkan hal itu pada kemungkinan adanya tuduhan (kecurangan) dan kehati-hatian terhadap ghaban yang tersembunyi. Yang mengherankan adalah Abu Hanifah membolehkan jual beli dengan ghaban yang besar, namun melarang jual beli kepada anak.
وبالجُملةِ هذه التفريعاتُ في المرابحة مائلةٌ عن سَنَنِ التحقيق عندنا والوجهُ القطع بحسم هذه المادّةِ وإسقاطُ وجوبِ ذكرِ الغَبْن
Secara keseluruhan, rincian-rincian dalam murābahah ini menyimpang dari jalur penelitian yang benar menurut kami, dan yang tepat adalah memutuskan secara tegas untuk menutup celah ini serta menggugurkan kewajiban menyebutkan adanya penipuan (ghabn).
وممَّا أجراهُ المفرعون على ذكر الغَبْنِ أن من اشترى شيئاً بثمنٍ آجلٍ ثم أراد بيعَه مرابحةً بنقدٍ قيل إن كان هذا البائع ملياً وفياً فلا تفاوت ولا يجب ذكرُ كونِ الثمن ديناً وإن كان هذا البائع مسوِّفاً مطوِّلاً أو مُعسراً فبالحريّ أن لا يقنع منه بثمن المثل فهو مغبون أو يمكن ذلك فيه فلا بد من ذكر حقيقة الحالِ
Di antara hal yang dijelaskan oleh para ahli fiqh terkait gharar adalah bahwa jika seseorang membeli sesuatu dengan harga tangguh, lalu ia ingin menjualnya kembali secara murabahah dengan pembayaran tunai, maka dikatakan: jika penjual tersebut adalah orang yang mampu dan terpercaya, maka tidak ada perbedaan dan tidak wajib menyebutkan bahwa harga sebelumnya adalah utang. Namun jika penjual tersebut suka menunda-nunda pembayaran atau kesulitan membayar, maka sepatutnya tidak menerima harga seperti harga pasar darinya, karena ia dianggap dirugikan atau hal itu mungkin terjadi padanya, sehingga wajib menyebutkan keadaan yang sebenarnya.
وكل ذلك خبطٌ نعم إذا اشترى بثمن مؤجل ثم أراد بيعَه بمثله حالاً فهذا تلبيسٌ؛ فإن الماليّةَ تختلف بهذا
Semua itu adalah kekacauan. Ya, jika seseorang membeli dengan harga yang ditangguhkan lalu ingin menjualnya dengan harga yang sama secara tunai, maka ini adalah tipuan; karena nilai harta menjadi berbeda karena hal ini.
فإن اشترى بثمن حال فباع بمثله مؤجَّلاً فلا بأس به؛ فإنه لم ينقُص المشتري شيئاً بل زاده ولا خُلفَ أيضاًً في صيغة لفظه
Jika seseorang membeli dengan harga tunai lalu menjualnya dengan harga yang sama secara tangguh, maka tidak mengapa; karena pembeli tidak dirugikan sedikit pun, bahkan mendapat tambahan, dan tidak ada perbedaan pula dalam redaksi lafaznya.
ولو اشترى عبداً بعَرْض فليذكر قيمته حالة العقد حتى لو ارتفعت قيمةُ ذلك الجنس بعد البيع فلا ينبغي أن يعوّل على تلك القيمة؛ فإن المعتبر ماليّةُ العبد حالةَ العقد
Jika seseorang membeli seorang budak dengan barang (bukan uang), maka hendaknya ia menyebutkan nilainya pada saat akad, sehingga jika nilai barang tersebut naik setelah jual beli, maka tidak sepatutnya berpatokan pada nilai yang baru; karena yang dianggap adalah nilai budak pada saat akad.
ولو اشترى عبدين وباع أحدَهما مرابحة بحصّته من الثمن على التقسيط العدل فهو صحيح عندنا خلافاً لأبي حنيفة
Jika seseorang membeli dua budak, lalu menjual salah satunya dengan akad murabahah sesuai bagian harganya secara angsuran yang adil, maka hal itu sah menurut kami, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
فإذا انضبط ما يجبُ ذكره وما لا يجب فالعبارةُ الجامعةُ على الطريقة المرضية عندنا أنه يجب ذكر ما طرأ مما ينقص القيمةَ أو العينَ وقال آخرون يجب ذلك ويجب معه التعرض للغبن إن كان وذكرُ ما يوهم الغبنَ
Jika telah jelas apa saja yang wajib disebutkan dan apa yang tidak wajib, maka ungkapan yang mencakup secara umum menurut metode yang kami anggap benar adalah bahwa wajib menyebutkan segala sesuatu yang terjadi yang dapat mengurangi nilai atau barang itu sendiri. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa hal itu wajib disebutkan, dan juga wajib menyebutkan adanya penipuan (ghabn) jika memang ada, serta menyebutkan hal-hal yang dapat menimbulkan dugaan adanya penipuan.
فصل
Bagian
معقود في التولية والإشراك وبقية من حكم المرابحة
Terkait dengan akad dalam hal pelimpahan wewenang, penyertaan, dan sebagian hukum murābahah lainnya.
فإذا اشترى الرجل شيئاً وقبضهُ ثم قال لإنسانٍ ولَّيتُك بيعَه فقال المخاطَبُ قبلتُ انعقد البيعُ بلفظةِ التوليةِ وابتنى حكمُ العقدِ المنعقدِ بها على العقد الأول
Jika seseorang membeli suatu barang dan telah menerimanya, kemudian ia berkata kepada seseorang, “Aku menjadikanmu sebagai penerima jual-beli ini (tawliyah),” lalu orang yang diajak bicara itu berkata, “Aku menerima,” maka jual-beli pun sah dengan lafaz tawliyah, dan hukum akad yang terjadi dengan lafaz tersebut mengikuti hukum akad pertama.
هذا قاعدةُ المذهب
Ini adalah kaidah mazhab.
فإذا حُطّ عن المشتري البائعِ المولِّي شيءٌ من الثمن فهو محطوط عن المشترِي منه ولو حُط عنه جميعُ الثمن فهو محطوط عن المشتري منه وحقيقةُ التولية إحلال المولَّى محل المولّي؛ حتى كان المولِّي مرفوعٌ من البين
Jika penjual yang melakukan tawliyah membebaskan sebagian harga dari pembeli, maka pembebasan itu juga berlaku bagi pembeli berikutnya. Jika seluruh harga dibebaskan darinya, maka pembebasan itu juga berlaku bagi pembeli berikutnya. Hakikat tawliyah adalah menempatkan pihak yang diberi tawliyah pada posisi pihak yang melakukan tawliyah, sehingga pihak yang melakukan tawliyah dianggap telah keluar dari urusan tersebut.
هذا ما أطلقهُ الأئمةُ في طُرقهم
Inilah yang telah dikemukakan oleh para imam dalam metode-metode mereka.
وقالوا لو اشترى شيئاً واستفاد منه زوائدَ منفصلةً ثم ولّى عقدَ البيع بالتوليةِ فتلك الزوائد تسلم للبائع المولِّي لا حق فيها للمشتري المولَّى ولو كان المشترَى شقصاً وفيه الشفعة فأسقَط الشفيع حقَّه ثم جرت التوليةُ فالذي ذكره الأصحاب أن التوليةَ تقتضي تجديدَ الحق للشفيع
Mereka berkata, jika seseorang membeli sesuatu dan memperoleh tambahan-tambahan yang terpisah darinya, kemudian ia mengalihkan akad jual beli tersebut dengan cara tawliyah, maka tambahan-tambahan tersebut menjadi milik penjual yang mengalihkan (al-muwallī), dan tidak ada hak bagi pembeli yang menerima pengalihan (al-muwallā). Jika barang yang dibeli itu berupa bagian (syuqs) yang di dalamnya terdapat hak syuf‘ah, lalu pemilik hak syuf‘ah menggugurkan haknya, kemudian terjadi tawliyah, maka yang disebutkan oleh para ulama adalah bahwa tawliyah menimbulkan pembaruan hak bagi pemilik syuf‘ah.
فحاصل المذهب أن التوليةَ تبتني على العقد السابق في حَط البعضِ والجميع ولا ابتناء لَها في الزوائد المتخللة وليست على حكم الاستمرار في حكم الشُفعةِ حتى يقال لا تقتضي شفعةً جديدة
Kesimpulan mazhab adalah bahwa penyerahan (tawliyah) didasarkan pada akad sebelumnya dalam hal pengurangan sebagian atau seluruhnya, dan tidak didasarkan padanya dalam hal tambahan-tambahan yang terjadi di tengah-tengah. Penyerahan ini juga tidak mengikuti hukum keberlanjutan dalam hukum syuf‘ah sehingga dikatakan tidak memerlukan syuf‘ah baru.
وقال القاضي الوجه التردد في جميع ذلك فكأنا نقول في وجه خلفَ المولَّى المولِّي حتى كأن الملك مستمرٌ على الأخير فعلى هذا يلحقه الحطُّ
Hakim berkata: Ada sisi keraguan dalam semua itu, seakan-akan kita mengatakan dalam satu pendapat bahwa yang menjadi pengganti adalah orang yang dimerdekakan, sehingga seolah-olah kepemilikan tetap pada yang terakhir; berdasarkan pendapat ini, maka pengurangan (hak) berlaku padanya.
والزوائدُ التي جرت قبل التولية مصروفة إليه ولا تتجدد الشفعةُ بها فإنها على هذا الوجه بمثابة استمرار الملك
Tambahan-tambahan yang terjadi sebelum penyerahan (kepemilikan) menjadi haknya dan tidak memperbarui hak syuf‘ah karenanya, karena dalam hal ini dianggap sebagai kelanjutan kepemilikan.
والوجه الثاني أن المولَّى لا يَخلفُ المولِّي في شيء مما ذكرناه فالزوائد للبائع وإذا حُطّ عن البائع شيءٌ لم يُحَط عن المشتري منه بلفظ التولية والشفعةُ تتجدد بوقوع التولية وهي في حكم بيع جديدٍ إلا أن لفظ التولية يتضمن نزولَ العقد على ثمنِ العقد الأول لا فائدة إلا هذا
Pendapat kedua adalah bahwa pihak yang menerima penyerahan (muwallā) tidak menggantikan pihak yang menyerahkan (muwallī) dalam hal-hal yang telah kami sebutkan, sehingga tambahan-tambahan menjadi milik penjual. Jika ada pengurangan dari penjual, maka tidak otomatis berkurang dari pembeli melalui lafaz penyerahan (tawliyah). Hak syuf‘ah juga diperbarui dengan terjadinya penyerahan, dan penyerahan itu dipandang sebagai akad jual beli baru, kecuali bahwa lafaz penyerahan mengandung makna bahwa akad tersebut berlangsung dengan harga akad pertama; tidak ada manfaat lain selain itu.
والذي ذكره رحمهُ الله من التردد في الحط منقاس حسن؛ فإنه لم يثبت عندنا توقيفٌ في إحلال الثاني محل الأول في الحط وإنما يُتلقَّى ذلك من اللفظ وليس في اللفظ ما يُشعرُ بهذا تصريحاً
Apa yang disebutkan oleh beliau rahimahullah tentang keraguan dalam pengurangan adalah qiyās yang baik; sebab tidak ada dalil yang menetapkan bahwa yang kedua dapat menggantikan yang pertama dalam pengurangan, melainkan hal itu hanya diambil dari lafaz, dan dalam lafaz tersebut tidak terdapat sesuatu yang secara tegas menunjukkan hal itu.
ومِلك الشفيع مبني على مِلك المشتري ثم الحط من المشتري لا يوجب الحطَّ من الشفيع عندنا وهذا ابتناء شرعي فإذا كنا لا نحط عن الشفيع ما حُط عن المشتري فالمولَّي والمولَّى بهذا أولى
Kepemilikan syuf‘ah didasarkan pada kepemilikan pembeli, kemudian pengurangan dari pembeli tidak mewajibkan pengurangan dari syuf‘ah menurut kami, dan ini adalah dasar syar‘i. Maka jika kami tidak mengurangi dari syuf‘ah apa yang dikurangi dari pembeli, maka orang yang diberi hibah dan yang menerima hibah lebih utama lagi dalam hal ini.
وأما ما ذكرهُ من التردد في الزوائد فبعيدٌ لا يليق بمنصبه
Adapun apa yang ia sebutkan tentang keraguan dalam hal-hal tambahan, maka itu sangat jauh dan tidak pantas bagi kedudukannya.
وكذلك يجب القطعُ بأن الشفعة تتجدد للضرورة إلى تقديرٍ يخالف الحقيقة
Demikian pula, harus dipastikan bahwa hak syuf‘ah dapat diperbarui karena adanya kebutuhan mendesak hingga pada suatu penetapan yang berbeda dari kenyataan sebenarnya.
وبالجملة ليس الحط في معنى الزوائد ولا في معنى تجدد الشفعة؛ فإنه يجوز أن يقال معنى التولية أن المولِّي يقول للمولَّى لا أطالبك إلا بما أُطلب به
Secara keseluruhan, pengurangan itu bukan dalam makna tambahan, dan bukan pula dalam makna terjadinya hak syuf‘ah yang baru; karena boleh saja dikatakan bahwa makna at-tawliyah adalah orang yang menyerahkan (muwallī) berkata kepada orang yang menerima (muwallā) “Aku tidak menuntutmu kecuali dengan apa yang aku sendiri dituntut dengannya.”
هذا على ما فيه من الإشكال معقول فأما تمليكه الزوائد السابقة فبعيد وكذلك دفعُ حق الشفيع وقد تجدد التمليك بالمعاوضة غيرُ متخيّل
Hal ini, meskipun mengandung problematika, masih dapat diterima secara rasional. Adapun memberikan kepemilikan atas tambahan-tambahan yang telah lalu, maka itu jauh (dari kebenaran), demikian pula pembayaran hak syuf‘ah, karena kepemilikan yang baru saja terjadi melalui akad pertukaran tidak dapat dibayangkan.
ومما يجب التنبه له أنا إذا جرينا على ظاهر المذهب وحططنا عن المولَّى ما يُحط عن المولَي فينقدح على هذا ألا يطالِب البائعُ المولَي المشتري المولَّى حتى يطالبَ البائعُ الأولُ البائعَ الثاني
Dan hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika kita mengikuti pendapat zahir mazhab dan memberikan keringanan kepada orang yang dimudahkan sebagaimana keringanan yang diberikan kepada orang yang dimudahkan, maka dari sini timbul kemungkinan bahwa penjual tidak menuntut pembeli yang dimudahkan sampai penjual pertama menuntut penjual kedua.
فلينظر الناظر في ذلك وليت شعري هل يثبت للبائع الأول مُطالبة المولَّى المشتري الأخير بناءً على الاستمرار ولا ينبغي أن يُظن أن مطالبة البائع الأول تنقطع عن البائع الثاني المولَّى فهذا منتهى القول فيما أردناه
Maka hendaklah orang yang memperhatikan hal ini merenungkannya, dan alangkah ingin aku tahu, apakah penjual pertama tetap memiliki hak menuntut kepada orang yang diberi kewalian, yaitu pembeli terakhir, berdasarkan kelanjutan (akad), dan tidak sepantasnya disangka bahwa hak penjual pertama untuk menuntut terputus dari penjual kedua yang juga diberi kewalian. Inilah akhir dari penjelasan yang kami maksudkan.
ومما فرعه الشيخ أبو علي على التولية أن قالَ ليس للمشتري أن يبيع ما اشتراه قبل القبض من أجنبي وقد اختلفَ أصحابنا في جواز بيع المبيع من البائع قبل القبض منه فمنهم من منع وهو القياس وظاهر المذهب ومنهم من أجاز؛ فإن مقتضاه انقلابُ المبيع إلى من هو في يدهِ وضمانه فإذا ثبت هذا فلو ولى المشتري البيع قبل قبض المبيع أجنبياً ففي المسألة وجهان ذكرهما الشيخُ أحدهما المنع وهو القياس والثاني الصحّة ولا وجه له إلا حملُ الأمر على تقدير الاستمرار والبناء وعلى هذا بنى القاضي عدمَ تجدد الشفعة وأمرَ الزوائد
Di antara cabang yang dihasilkan oleh Syekh Abu Ali terkait penyerahan wewenang adalah pernyataannya bahwa pembeli tidak boleh menjual barang yang dibelinya kepada pihak lain sebelum barang tersebut diterima. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai kebolehan menjual barang yang dibeli kepada penjual sebelum barang itu diterima darinya; sebagian melarang, dan inilah qiyās serta pendapat yang tampak dalam mazhab, sementara sebagian lain membolehkan. Sebab, konsekuensinya adalah barang yang dijual kembali kepada orang yang memegangnya dan berada dalam tanggungannya. Jika hal ini telah ditetapkan, maka jika pembeli menyerahkan penjualan barang sebelum menerima barang tersebut kepada pihak lain, terdapat dua pendapat dalam masalah ini yang disebutkan oleh Syekh: yang pertama adalah larangan, dan inilah qiyās; yang kedua adalah kebolehan, namun tidak ada alasan baginya kecuali dengan menganggap adanya kesinambungan dan kelanjutan. Berdasarkan hal ini, Qadhi menetapkan tidak adanya pembaruan hak syuf‘ah dan urusan tambahan lainnya.
ولو ولّى المشتري البائعَ البيعَ فوجهان مرتبان على البيع منه من غير لفظ التولية أو على التولية مع الأجنبيّ
Jika pembeli menyerahkan penjualan kepada penjual, terdapat dua pendapat yang mengikuti hukum penjualan darinya tanpa lafaz penyerahan wewenang (tawliyah), atau mengikuti hukum penyerahan wewenang (tawliyah) kepada pihak ketiga.
وهذا منتهى الكلام في التولية
Inilah akhir pembahasan mengenai pengangkatan.
وفي معناهَا الإشراك غيرَ أن الإشراك يتضمن البناءَ على العقدِ الأول في بعض المبيع فإن جرى التصريحُ بمقدارٍ فيه نزل البيع عليه مثل أن يقول أشركتك في ثلث ما اشتريت أو نصفِه وإن أطلق الإشراك ففي المسألة وجهان أحدُهما أنه محمول على النصف والثاني أنه مجهول لا ينعقد البيعُ به ثم لا بد من ذكر البيع ولا يكفي أن يقول أشركتك حتى يقول أشركتك في عقدِ هذا
Maknanya serupa dengan isyrāk (penyertaan), hanya saja isyrāk mengandung makna membangun di atas akad pertama pada sebagian barang yang dibeli. Jika dinyatakan secara tegas jumlahnya, maka penjualan mengikuti jumlah tersebut, seperti ketika seseorang berkata, “Aku menyertakanmu dalam sepertiga dari apa yang aku beli” atau “setengahnya.” Namun, jika penyertaan itu diungkapkan secara mutlak, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: pertama, bahwa penyertaan itu dianggap setengah; kedua, bahwa penyertaan itu tidak jelas sehingga akad jual beli tidak sah dengannya. Kemudian, harus disebutkan kata “jual beli” dan tidak cukup hanya dengan mengatakan “Aku menyertakanmu,” sampai ia mengatakan, “Aku menyertakanmu dalam akad ini.”
ثم القدر الذي ينعقد البيع عليهِ بلفظ الإشراك حكمه حكم التولية في كل تفصيل قدَّمناه
Kemudian, kadar yang menjadi objek akad jual beli dengan lafaz isyrāk (penyertaan) hukumnya sama dengan hukum tawliyah dalam setiap rincian yang telah kami sebutkan sebelumnya.
فأمّا المرابحةُ إذا جرت ثم حُط عن البائع المرابح شيء من الثمن بعد لزوم العقد فالذي ذهب إليه الأصحابُ أنه لا يَحُط ما حُطّ عنه عن المشتري بخلاف التولية والإشراك والسبب فيه أن التولية مقتضاها حلولُ المولَّى محل المولِّي وهذا يُشعر بمشابهته إياه في موجَب الحط وليس في البيع بالثمن أو بما قام إشعارٌ بهذا فيما يجري في المستقبل من حط
Adapun murabahah, jika telah terjadi kemudian penjual murabahah memberikan potongan harga setelah akad menjadi mengikat, maka menurut pendapat para ulama yang paling kuat, potongan tersebut tidak berlaku bagi pembeli, berbeda halnya dengan akad tawliyah dan isyrak. Sebabnya adalah karena dalam tawliyah, konsekuensinya adalah pihak yang menerima tawliyah menempati posisi pihak yang menyerahkan tawliyah, sehingga hal ini menunjukkan adanya kesamaan dalam hal konsekuensi potongan harga. Sedangkan dalam jual beli dengan harga (murabahah) atau dengan apa yang telah dikeluarkan, tidak terdapat indikasi seperti itu terhadap potongan harga yang terjadi di masa mendatang.
وذكر شيخي وجهاً آخر أن الحط يلحق المشتري مرابحة وهذا بعيدٌ ولست أذكره في مسموعاتي عنه ولكني رأيتُه في تعليقة بخطه
Syekhku menyebutkan pendapat lain bahwa pengurangan itu juga berlaku bagi pembeli dalam akad murābahah, namun ini pendapat yang lemah. Aku sendiri tidak pernah mendengarnya langsung dari beliau, tetapi aku menemukannya dalam catatan yang ditulis dengan tangannya.
فإن قيل إذا جرى الحطُّ قبل المرابحة ثم جرت المعاملة فما رأيكم قلنا التفريع على المذهب والذي رأيته للشيخ لست أعتدُّ به فليُنظر بعد ذلك إلى اللفظ فإن قال بعتُكَ بما اشتريتُ فلا نظر إلى الحطِّ والمرابحةُ تنزل على البيع الأول وثمنه وإن قال بعد جريان الحطِّ بعتك بما قام عليَّ فالظاهر أن المحطوط لا يجوز ذكره
Jika dikatakan: Apabila terjadi pengurangan harga sebelum akad murabahah, kemudian dilakukan transaksi, bagaimana pendapat kalian? Kami katakan: Penjelasan ini mengikuti mazhab, dan apa yang aku lihat dari Syekh tidak aku anggap sebagai pegangan. Setelah itu, hendaknya diperhatikan lafaznya. Jika ia berkata, “Aku jual kepadamu dengan harga yang aku beli,” maka tidak perlu memperhatikan pengurangan harga, dan murabahah mengikuti akad jual beli pertama beserta harganya. Namun jika setelah terjadi pengurangan harga ia berkata, “Aku jual kepadamu dengan harga yang menjadi tanggunganku,” maka yang tampak adalah bahwa harga yang telah dikurangi tidak boleh disebutkan.
وممّا يتعلق بهذا الفصل أنا إذا لم نحط عن المشتري مرابحةً ما حُط عن معامله بعد لزوم العقد فهل نحط عنه ما كان حُط عنه في مجلس الخيارِ أو في زمان الخيار
Termasuk hal yang berkaitan dengan bab ini adalah, apabila kita tidak memberikan potongan kepada pembeli dalam akad murabahah atas potongan yang telah diberikan kepada pihak yang bertransaksi dengannya setelah akad menjadi mengikat, maka apakah kita memberikan potongan kepadanya atas potongan yang telah diberikan dalam majelis khiyar atau pada masa khiyar?
فعلى وجهين مشهورين وهما يجريان في حق الشفيع مع المشتري
Ada dua pendapat yang masyhur, dan keduanya berlaku dalam hak syuf‘ah antara syafi‘ dan pembeli.
وسيأتي ذلك في تفصيل إلحاق الزوائد بالعقود
Hal itu akan dijelaskan nanti dalam rincian tentang penyertaan tambahan pada akad-akad.
Bab tentang seseorang yang menjual suatu barang dengan pembayaran tangguh, kemudian membelinya kembali dengan harga yang lebih rendah.
إذا اشترى شيئاً وقبضه ثم باعه من البائع بمثل ذلك الثمن أو أقلَّ أو أكثر صح العقدُ عندنا سواء جرى العقد الثاني بعد نقد الثمن الأوّل أو قبله
Jika seseorang membeli sesuatu dan telah menerimanya, kemudian ia menjualnya kembali kepada penjual pertama dengan harga yang sama, lebih rendah, atau lebih tinggi, maka akad tersebut sah menurut kami, baik akad kedua dilakukan setelah pembayaran harga pertama maupun sebelumnya.
وبالجُملة لا تعلُّق لأحد العقدين بالثاني خلافاً لأبي حنيفة وتفصيلُه مذكورٌ في الخِلافِ
Secara keseluruhan, tidak ada keterkaitan antara salah satu dari kedua akad tersebut dengan akad yang lain, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah, dan perinciannya telah disebutkan dalam kitab al-Khilāf.
والمسألة مبناها بعد أثر عائشة على الذريعة
Permasalahan ini didasarkan, setelah riwayat dari ‘Aisyah, pada prinsip sadd az-zarī‘ah.
ونحن لا نرى عقداً ذريعةً إلى عقدٍ إذا تميَّز أحد العقدينِ عن الثاني وقد يضطرب فيهِ إذا عم العُرف بشيءٍ فهل نجعل عمومَ العرف في حكم الشرط مثل أن يعمَّ العرف بإباحة منافع الرهن فهل نجعل الرهنَ المطلقَ مع اقتران العُرف به بمثابة ما لو شرط في الرهن إباحةَ المنافع للمرتهن هذا فيهِ تردُّد للأصحابِ وقد ذكرتُه مفصلاً في باب الربا
Kami tidak memandang suatu akad sebagai sarana menuju akad lain apabila kedua akad tersebut jelas berbeda. Namun, terkadang terjadi kebingungan dalam hal ini apabila suatu kebiasaan (‘urf) telah berlaku umum. Apakah kita menganggap kebiasaan yang telah berlaku umum itu setara dengan syarat? Misalnya, apabila telah menjadi kebiasaan umum untuk membolehkan pemanfaatan barang gadai (rahn), apakah kita menganggap akad rahn yang bersifat mutlak dan disertai kebiasaan tersebut sama seperti jika dalam akad rahn itu secara eksplisit disyaratkan bolehnya pemanfaatan barang gadai oleh penerima gadai (murtahin)? Dalam hal ini terdapat keraguan di kalangan para ulama, dan saya telah menjelaskannya secara rinci dalam bab riba.
Bab Pemisahan Transaksi
جمعَ المزني أقاويلَ الشافعيّ في تفريق الصفقة في الكبير ثم طال عليه ذكرُها في المختصر فقالَ لمن كان يُملي عليه بيِّض موضعاً نكتب فيه شرحَ أَوْلى قَوْليه في تفريق الصفقةِ ثم لم يتفرغ إليه فماتَ رحمه اللهُ وفي بعض النسخ ترك ورقة أو ورقتين على البياض
Al-Muzani telah mengumpulkan pendapat-pendapat asy-Syafi‘i tentang tafriq ash-shafqah dalam kitab al-Kabir, kemudian penjelasannya tentang hal itu menjadi panjang dalam al-Mukhtashar. Maka ia berkata kepada orang yang menuliskan untuknya: “Sisakanlah satu tempat kosong agar kita dapat menulis penjelasan tentang pendapat yang lebih utama dari dua pendapat asy-Syafi‘i mengenai tafriq ash-shafqah.” Namun ia tidak sempat melakukannya hingga wafat, rahimahullah. Dalam sebagian naskah, ia meninggalkan satu atau dua lembar dalam keadaan kosong.
وهذا الباب عظيم الوقعِ ومسائلُه كثيرةُ التولّج في الأصول ونحن بعون الله تعالى نأتي بمسائلِ الباب على أبلغ وجه وأقرب مسلك في الضبط لا نغادر حكماً يتعلّقُ بالتفريق إلا نوفيه حقّه والله المستعان
Bab ini sangat penting dan permasalahannya banyak yang masuk ke dalam ranah ushul. Dengan pertolongan Allah Ta‘ala, kami akan membahas permasalahan-permasalahan dalam bab ini dengan cara yang paling jelas dan metode yang paling mudah untuk dipahami. Kami tidak akan melewatkan satu pun hukum yang berkaitan dengan perpisahan kecuali akan kami jelaskan secara tuntas. Hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.
فنقول القول في التفريق يتعلق بما يقعُ في الابتداء وبما يقعُ في الانتهاء
Maka kami katakan, pembahasan tentang perbedaan berkaitan dengan apa yang terjadi pada permulaan dan apa yang terjadi pada akhir.
فأما تقسيم القول فيما يقع في الابتداء فالصفقةُ لا تخلو إما أن تشتمل على شيئين فصاعداً يجوز تقديرُ صحةِ العقد في كل واحد
Adapun pembagian pembahasan mengenai apa yang terjadi pada permulaan, maka suatu transaksi tidak lepas dari kemungkinan mencakup dua hal atau lebih, di mana dimungkinkan untuk memperkirakan keabsahan akad pada masing-masingnya.
وإما أن تشتمل على شيئين فصاعداً يجوز تقديرُ صحةِ العقدِ في البعض منها دون البعضِ
Atau bisa juga mencakup dua hal atau lebih, sehingga dimungkinkan untuk menetapkan keabsahan akad pada sebagian darinya dan tidak pada sebagian yang lain.
فأما إذا اشتملت الصفقةُ على عدَد يجوز تقديرُ الصحةِ في آحادها عند إفرادها فالذي يتعلق بغرض الباب منها اشتمالُ العقد على مختلفين يتباين أثرُ العقد فيهما فسخاً وإجازةً وقرباً من الغرر وبعداً منه كالصفقة تشتمل منافع وعيناً يقابلان عوضاً أو عوضين فصاعداً ففي صحَّة الصفقة قولان أحدُهما وهو الأصح أنها تصح؛ لأنها ما اشتملت على ما يمتنع إفرادُه بالعقدِ والصفقة متَحدة في نفسها ولا حاجة إلى تقدير توزيع حتى يُفضي إلى جهالة فأشبه ذلك ما لو اشترى عبداً وثوباً وقد قدَّمنا في الربويات أن التوزيع ليس من مقتضى العقد وإنما ينشأ للضرورة عند مسيس الحاجة
Adapun jika suatu transaksi mencakup beberapa hal yang masing-masingnya boleh dinilai sah secara terpisah, maka yang berkaitan dengan pembahasan di sini adalah apabila akad mencakup dua hal yang berbeda, di mana pengaruh akad terhadap keduanya berbeda, baik dalam hal pembatalan, pengesahan, maupun tingkat kedekatannya dengan unsur gharar atau jauhnya dari gharar, seperti transaksi yang mencakup manfaat dan barang yang keduanya menjadi imbalan atau lebih dari satu imbalan. Dalam hal sahnya transaksi tersebut terdapat dua pendapat; salah satunya, dan ini yang lebih sahih, adalah bahwa transaksi itu sah, karena tidak mencakup sesuatu yang tidak mungkin diakadkan secara terpisah, dan transaksi itu sendiri bersifat satu kesatuan, sehingga tidak perlu memperkirakan pembagian yang dapat menimbulkan ketidakjelasan. Hal ini serupa dengan kasus membeli seorang budak dan sehelai kain sekaligus. Sebagaimana telah dijelaskan dalam pembahasan ribawiyat, pembagian bukanlah konsekuensi dari akad, melainkan muncul karena kebutuhan mendesak saja.
والقول الثاني أن الصفقةَ باطلة؛ لأن حكمَ الإجارة والبيعِ يختلف فيما يتعلّقُ بالفسخ ونقيضه أما المنافع فلا تحويها اليدُ وتثبتُ التصرفات فيها مع تعرض العقد للانفساخ عند تقدير التلف؛ فإن من استأجر داراً وقبضَها تصرف فيها بسبب القبض ولو تلفت الدار في يدي المستأجر انفسخت الإجارةُ
Pendapat kedua menyatakan bahwa akad tersebut batal, karena hukum ijarah dan jual beli berbeda dalam hal pembatalan dan kebalikannya. Adapun manfaat, tidak dapat dimiliki oleh tangan, dan tindakan hukum atasnya tetap sah meskipun akad terancam batal jika terjadi kerusakan. Sebab, siapa pun yang menyewa sebuah rumah dan telah menerimanya, ia dapat memanfaatkannya karena telah menerima, dan jika rumah itu rusak di tangan penyewa, maka akad ijarah menjadi batal.
والغرض مما ذكرناه أن العقد إذا اختلف وقعُه وأثره بسبب اختلاف المعقودِ عليه فالنفوس تتشَّوف لا محالة إلى تقدير التوزيع وإيراد العقد على قصدهِ وليس كذلك أجناس المبيعات؛ فإن آثار العقد لا تختلف فيها فلا تتشوَّف إلى تقدير بقاء العقد في بعضِها وانفساخِه عن بعضها فرجع ما ذكرناهُ إلى تنزيل العقدِ على مقتضى التوزيع وهذا يجُرّ جهالةً؛ فإن التوزيع اجتهادٌ بعد ورود العقدِ فهذا سبيلُ التوجيه
Tujuan dari penjelasan yang telah kami sebutkan adalah bahwa apabila suatu akad berbeda pelaksanaan dan akibat hukumnya karena perbedaan objek akad, maka jiwa manusia pasti terdorong untuk menentukan pembagian dan menyesuaikan akad dengan maksudnya. Hal ini tidak berlaku pada berbagai jenis barang yang dijual, karena akibat hukum akad tidak berbeda di dalamnya, sehingga tidak ada dorongan untuk memperkirakan keberlangsungan akad pada sebagian barang dan batalnya pada sebagian yang lain. Maka, apa yang telah kami sebutkan kembali pada penyesuaian akad sesuai dengan ketentuan pembagian, dan ini menimbulkan unsur jahalah (ketidakjelasan); sebab pembagian merupakan hasil ijtihad setelah akad terjadi. Inilah cara penjelasannya.
ثم نذكر ما يتعلق بهذا القسم وما يخرج منه فالجمع بين بيعِ عينٍ وسلمٍ من صُور القولين؛ فإنه يتطرق إلى السّلَم ما لا يتطرق إلى بيع العين في حكم الفسخ ونقيضه
Kemudian kami akan menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengan bagian ini dan apa saja yang dikecualikan darinya. Maka, penggabungan antara jual beli barang tertentu dan salam merupakan salah satu contoh dari dua pendapat; karena pada akad salam terdapat hal-hal yang tidak terdapat pada jual beli barang tertentu dalam hal hukum pembatalan dan kebalikannya.
ولو جمع بين بيع عين وتزويجِ امرأة أو أمةٍ وقابلهما بعوضٍ ينقسم عليهما ففي صحة البيع والصداق قولان كما قدّمناهما والنكاح صحيح لا شك فيه فإن المحذور فيهِ جهالةُ العوض وهذا غير مؤثر في النكاح فإن أفسدنا الصفقة لم يخف حكمُ فسادِ البيع وحكم فساد الصداق وفي هذه الصورة الرجوعُ إلى مهر المثل كما سيأتي شرحه في كتاب الصداق إن شاء الله تعالى
Jika seseorang menggabungkan antara jual beli suatu barang dengan pernikahan seorang wanita atau budak perempuan, lalu menukarnya dengan imbalan yang terbagi untuk keduanya, maka dalam hal keabsahan jual beli dan mahar terdapat dua pendapat sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, sedangkan akad nikahnya sah tanpa keraguan. Sebab, yang dikhawatirkan dalam hal ini adalah ketidakjelasan imbalan, dan hal ini tidak berpengaruh pada keabsahan nikah. Jika akad jual belinya dianggap rusak, maka tidak samar lagi hukum rusaknya jual beli dan hukum rusaknya mahar. Dalam kasus ini, rujukannya adalah kepada mahar mitsil, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Ash-Shadaq, insya Allah Ta‘ala.
ومن صور القولين السلمُ في أجناسٍ إلى أجل واحد بعوض واحد والسلم في جنس واحد إلى آجال ووجهُ إلحاق هاتين الصورتين بصُوَر القولين أن الأجناس تختلف وجوداً وعدماً ويختلف الحكم بحسب ذلك في بقاء العقد وانفساخه فجرى القولان فيهما
Di antara bentuk dua pendapat adalah akad salam pada beberapa jenis barang dengan satu tenggat waktu dan satu imbalan, serta akad salam pada satu jenis barang dengan beberapa tenggat waktu. Alasan penyamaan kedua bentuk ini dengan bentuk-bentuk dua pendapat adalah karena jenis-jenis barang tersebut berbeda dalam hal ada atau tidak adanya, dan hukum pun berbeda karenanya terkait keberlangsungan atau batalnya akad, sehingga terdapat dua pendapat dalam masalah ini.
ومن أصحابنا من لم يُلحق هاتين الصورتين بصور القولين وقطع القول فيهما بالصحة؛ لاتحاد العقد في حكمه وخفاءِ أثر الاختلاف والأظهر الطريقةُ الأولى
Sebagian ulama mazhab kami tidak memasukkan dua kasus ini ke dalam kategori kasus dua pendapat, dan secara tegas menetapkan keabsahan akad pada keduanya; karena akad tersebut memiliki hukum yang sama dan pengaruh perbedaan pendapatnya samar. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah metode pertama.
ولو قال بعتك صاعاً من حنطةٍ ودرهماً بصاعٍ من شعيرٍ ودينارٍ فهذا يلتحق بصور القولين لاشتمال الصفقة على التفاوت في شرط التقابض
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu satu sha’ gandum dan satu dirham dengan satu sha’ jelai dan satu dinar,” maka hal ini termasuk dalam dua bentuk yang telah disebutkan sebelumnya, karena transaksi tersebut mengandung perbedaan dalam syarat penyerahan secara tunai (taqabudh).
فإن قيل كيف يختلف مضمون العقد فيما ذكرتم من التقابض والطعام بالطعام يُشترط فيهِ التقابض وكذلك النقد بالنقد ومضمون الصفقة من الجانبين طعامٌ ونقد قلنا وجه الاختلافِ أنّ الدرهم يقعُ في مقابلة شيءٍ من الطعام في الجانب الثاني وكذلك الدينار يقع شيء منه في مقابلة شيءٍ من الطعام في الجانب الثاني والتقابض ليس مشروطاً في بيع الطعام بالنقد؛ فمن هذا الوجه اختلف مضمونُ الصفقة في التقابض
Jika dikatakan, bagaimana mungkin isi akad berbeda dalam hal yang kalian sebutkan mengenai kewajiban serah terima (qabḍ) dan makanan dengan makanan yang disyaratkan adanya serah terima, demikian pula uang dengan uang, sedangkan isi transaksi dari kedua belah pihak adalah makanan dan uang? Kami katakan, letak perbedaannya adalah bahwa dirham berada sebagai imbalan atas sebagian makanan di sisi kedua, demikian pula dinar, sebagian darinya menjadi imbalan atas sebagian makanan di sisi kedua, dan serah terima (qabḍ) tidak disyaratkan dalam jual beli makanan dengan uang; maka dari sisi inilah isi transaksi berbeda dalam hal kewajiban serah terima.
ولو باع ثوباً وديناراً بثوبٍ ودراهم فالتحاقُ ذلك بصُور القولين بيّن وإنما خُصَّ مسألةُ الطعام والنقد بالذكرِ للدقيقة التي نبهنا عليها
Jika seseorang menjual satu kain dan satu dinar dengan satu kain dan beberapa dirham, maka keterkaitan kasus ini dengan dua bentuk pendapat itu jelas. Hanya saja, permasalahan makanan dan uang disebutkan secara khusus karena adanya rincian halus yang telah kami singgung sebelumnya.
فإن قيل إذا اشتملت الصفقة على شقصٍ وسيفٍ فحكم الصفقة مختلف؛ فإن الشفعة تتعلق بالشقص دون السيف وهذا تباين بيّن في مورد العقدِ قلنا الصفقة صحيحة قولاً واحداً؛ فإن مقصود العقد في الشقص والسيف لا يختلف فيما يتعلق بالفسخ والتنفيذ وصورة القولين تُتلقَّى من اختلافٍ يتعلق بالفسخ والإجازة بسبب أنه إذا قُدّر سبْقُ الفسخ إلى شيء اعتاضَ ما يبقى في مقابلة الباقي ورجع هذا الإشكال إلى وضع العقد والشفيعُ إذا أخذ الشقص فهو مقرر للعقد وإن كان ينشأ بينه وبين المشتري توزيعٌ فهذا لا ينعطف إلى العقد فسخاٌ في البعض وإبقاء في البعض نعم من اشترى شقصاً مشفوعاً وسيفاً ثم إن المشتري باعهُما فهل يلتحق بصورة القولين؛ من جهة أن الشفيع يملك فسخ بيعهِ في الشقص ولا يملك ذلك في السيف فقد اختلفت الصفقة فسخاً وإبقاءً على الحد الذي ذكرناه فاختلف القول
Jika dikatakan: Apabila suatu transaksi mencakup bagian (syuqṣ) dan pedang, maka hukum transaksi tersebut berbeda; karena hak syuf‘ah berkaitan dengan bagian (syuqṣ) dan tidak dengan pedang, dan ini merupakan perbedaan yang jelas dalam objek akad. Kami katakan: Transaksi tersebut sah menurut satu pendapat; sebab tujuan akad pada bagian (syuqṣ) dan pedang tidak berbeda dalam hal pembatalan dan pelaksanaan. Bentuk dua pendapat itu diambil dari perbedaan yang berkaitan dengan pembatalan dan pengesahan, karena jika diasumsikan pembatalan mendahului pada salah satu barang, maka barang yang tersisa menjadi pengganti dari barang yang masih ada, dan permasalahan ini kembali pada bentuk akad. Adapun syafī‘ (pemilik hak syuf‘ah), jika ia mengambil bagian (syuqṣ), maka ia menetapkan akad, meskipun terjadi pembagian antara dia dan pembeli, hal ini tidak berpengaruh pada akad berupa pembatalan pada sebagian dan pelaksanaan pada sebagian yang lain. Namun, jika seseorang membeli bagian (syuqṣ) yang menjadi objek syuf‘ah dan pedang, lalu pembeli menjual keduanya, apakah hal ini masuk dalam bentuk dua pendapat; dari sisi bahwa syafī‘ berhak membatalkan penjualan pada bagian (syuqṣ) dan tidak berhak pada pedang, sehingga transaksi tersebut berbeda antara pembatalan dan pelaksanaan sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat.
هذا منتهى الكلام في نوع من تفريق الصفقة ابتداء
Ini adalah akhir pembahasan mengenai salah satu jenis tafriq ash-shafqah sejak awal.
والقسم الثاني في الابتداء أن تشتمل الصفقةُ على عدد يجوز إفرادُ بعضها بالعقد ولا يقبل بعضُها العقدَ على الوجه الذي أورده العاقد
Bagian kedua dalam permulaan adalah apabila suatu transaksi mencakup sejumlah hal yang boleh sebagian darinya diakadkan secara terpisah, namun sebagian lainnya tidak dapat menerima akad dengan cara yang diajukan oleh pihak yang mengadakan akad.
وهذا القسم ينقسم قسمين أحدهما أن يشتمل العقدُ على ما يقبل العقدَ وعلى ما لا يقبله ولكنه يقبل التقوُّم تحقيقاً
Bagian ini terbagi menjadi dua: yang pertama adalah ketika akad mencakup sesuatu yang dapat diterima oleh akad dan sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akad, namun ia dapat dinilai secara nyata.
والقسم الثاني ألا يكون ما يَفسد العقدُ فيه قابلاً للتقويم
Bagian kedua adalah apabila sesuatu yang merusak akad itu tidak dapat dinilai (tidak memiliki nilai ekonomi).
فأما إذا كان قابلاً للتقويم تحقيقاً فهو كما لو باع الرجل عبداً مملوكاً له وعبداً مغصوباً عنده أو باع عبداً وأم ولد أو عبداً ومكاتباً
Adapun jika sesuatu itu dapat dinilai secara nyata, maka keadaannya seperti seseorang yang menjual seorang budak yang dimilikinya dan seorang budak yang digasap yang ada padanya, atau menjual seorang budak dan seorang umm walad, atau seorang budak dan seorang mukatab.
أما المغصوب فلا شك في تقويمهِ والمستولدةُ متقوَّمةٌ باليد والإتلاف والمكَاتَبُ متَقوَّمٌ بالإتلاف فإذا جرت الصفقةُ شاملةً لفظاً لما يصح ولما لا يصح وجرى الحكم بالفساد فيما لا يصح؛ فهل تصح الصفقةُ فيما يصح إفرادُه بالعقدِ فعلى قولين هما من أمهات الباب أحدُهما أن البيع صحيحٌ؛ من جهة أن الصفقة اشتملت على ما يصح ويفسد فمقتضى الإنصاف حذفُ الفساد وتقريرُ العقدِ في جهة الصحة وهذا من طريق التمثيل يُضاهي قولَ القائل قدم زيدٌ وعمرو وكان قدم أحدُهما دون الثاني فلا نقضي على القول بالخُلفِ فيهما ولا بالصِّدقِ ولكنهُ خلفٌ في محل الخلف صدقٌ في محله
Adapun barang yang digasak (maghsūb), tidak diragukan lagi bahwa barang tersebut harus dinilai (dihitung harganya), dan budak perempuan yang melahirkan anak dari tuannya (mustauladah) juga dinilai baik karena kepemilikan maupun karena perusakan, sedangkan budak mukatab dinilai karena perusakan. Jika suatu transaksi mencakup secara lafaz baik hal-hal yang sah maupun yang tidak sah, lalu diputuskan hukum rusak (fasad) pada bagian yang tidak sah, maka apakah transaksi tersebut tetap sah pada bagian yang bisa dipisahkan dan sah jika dilakukan secara tersendiri? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang merupakan pokok dalam bab ini. Salah satunya menyatakan bahwa jual beli tersebut sah, karena transaksi itu mencakup hal-hal yang sah dan yang rusak, sehingga demi keadilan, bagian yang rusak dihapus dan akad ditegakkan pada bagian yang sah. Hal ini, secara analogi, mirip dengan ucapan seseorang: “Zaid dan Amr telah datang,” padahal yang datang hanya salah satu dari keduanya, bukan keduanya. Maka, kita tidak memutuskan adanya perbedaan pada keduanya, juga tidak memutuskan kebenaran secara mutlak, melainkan perbedaan itu ada pada tempat yang memang berbeda, dan kebenaran ada pada tempatnya.
والقول الثاني أن البيع باطل لعلتين إحداهما أن ما يقابِل العبدَ المملوك من الثمن مجهول عند المتعاقدين حال العقد؛ فإنه إنما يعرفُ قسطُه من الثمن بتوزيعه على القيمتين وهذا يستدعي ضبطَ القيمتين ولا يُتوصل إليه إلا بالاجتهاد
Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tersebut batal karena dua alasan. Pertama, bagian harga yang menjadi imbalan bagi budak yang dimiliki tidak diketahui oleh kedua pihak yang berakad pada saat akad berlangsung; sebab bagian tersebut hanya dapat diketahui dengan membagi harga atas dua nilai, dan hal ini mengharuskan penetapan kedua nilai tersebut, yang tidak dapat dicapai kecuali dengan ijtihad.
ولو قال بعتُك عبدي هذا بما يقابله من الألف لو وزع عليهِ وعلى عبد فلان فالبيع باطل إجماعاً ومآل الأمر في بيع العبدِ المملوك والمغصوب هذا فليكن ما تبيّن آخراً بمثابة ما لو وَرَدَ العقدُ كذلك أوّلاً
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu budakku ini dengan harga yang sebanding dari seribu dinar jika dibagi antara budakku ini dan budak si Fulan,” maka jual beli tersebut batal menurut ijmā‘. Dan akibat dari perkara dalam penjualan budak yang dimiliki dan budak yang digasap ini, hendaknya apa yang kemudian menjadi jelas diperlakukan seperti halnya jika akad tersebut sejak awal telah terjadi demikian.
فهذا أحد المعنيين
Inilah salah satu dari dua makna tersebut.
والمعنى الثاني أن العقد متَّحد في نفسه فإذا تطرق الفساد إليه وجب أن لا ينقسم إذا لم يبن على الغلبة والسريان وكان مما يفسده الشرط احترازاً من العتق والطلاق وما في معناهما؛ فإن العتق لا يرتدّ بالشرط الفاسد بل ينفذ ويلغو الشرط بخلاف البيع
Makna kedua adalah bahwa akad itu satu kesatuan pada dirinya sendiri, sehingga apabila terdapat unsur fasad (cacat) di dalamnya, maka akad tersebut tidak boleh terbagi-bagi jika tidak didasarkan pada dominasi dan penyebaran, serta termasuk hal-hal yang dapat merusaknya adalah syarat, sebagai bentuk kehati-hatian terhadap pembebasan budak (‘itq), talak, dan hal-hal yang serupa dengannya; sebab pembebasan budak tidak batal karena syarat yang rusak, melainkan tetap sah dan syaratnya dianggap tidak berlaku, berbeda halnya dengan jual beli.
فهذا أصلٌ
Maka ini adalah suatu prinsip.
ونحن نفرع عليه مسائلَ في الباب فنقولَ لو باع صاعين من حنطة متماثلين في الصفات وكان أحدُهما مملوكاً والثاني مغصوباً أو باع عبداً نصفُه له ونصفه لغيره ولم يأذن الشريك في البيع ففي صحة البيع في المقدار المملوك للبائع قولان مرتبان على القولين في الصورة الأولى فإن حكمنا بالصحَّة ثَمَّ فلأن نحكم هاهُنا أوْلى وإن حكمنا بالفسادِ ثَمّ فهاهُنا قولان مبنيَّان على المعنيين الذين وجهنا بهما قولَ الفسادِ في الصورة الأولى فإن قلنا علةُ الفسادِ في تلك الصورة جهالةُ الثمن فالبيع يصح فيما أخرناه؛ فإنه لا حاجةَ إلى تقدير التقويم وردِّ الأمر إلى الاجتهاد بل إذا وزَّعنا فالواجب نصفُ الثمن مثلاً على ما تقتضيه الجزئيَّة وإن عللنا الفسادَ في تلك الصورة باتحاد الصفقةِ وتطرق الفساد إليها فنحكم بالفساد في العبدِ المشترك أو الحِنطةِ المشتركةِ لتحقق الاتحاد وتَطرُّق الفساد
Kami menurunkan dari hal tersebut beberapa permasalahan dalam bab ini, maka kami katakan: jika seseorang menjual dua sha‘ gandum yang serupa dalam sifat-sifatnya, salah satunya milik sendiri dan yang lainnya hasil ghasab, atau menjual seorang budak yang setengahnya milik dia dan setengahnya milik orang lain tanpa izin dari sekutunya dalam penjualan, maka mengenai keabsahan penjualan pada bagian yang dimiliki oleh penjual, terdapat dua pendapat yang dikaitkan dengan dua pendapat pada kasus pertama. Jika kita memutuskan sah pada kasus tersebut, maka lebih utama untuk memutuskan sah di sini. Namun jika kita memutuskan batal pada kasus tersebut, maka di sini juga terdapat dua pendapat yang dibangun di atas dua alasan yang telah kami jelaskan terkait pendapat batal pada kasus pertama. Jika kita mengatakan bahwa sebab batal pada kasus tersebut adalah ketidakjelasan harga, maka penjualan sah pada bagian yang kita tunda; karena tidak perlu memperkirakan penilaian dan mengembalikan perkara pada ijtihad, melainkan jika kita membagi, maka yang wajib adalah setengah harga, misalnya, sesuai dengan bagian kepemilikan. Namun jika kita mengaitkan batalnya pada kasus tersebut dengan kesatuan akad dan masuknya unsur cacat ke dalamnya, maka kita memutuskan batal pada budak yang dimiliki bersama atau gandum yang dimiliki bersama, karena adanya kesatuan akad dan masuknya unsur cacat.
ومما يلتحق بهذه المرتبة الجمعُ بين مملوكٍ ومغصوبٍ في هبةٍ أو رهنٍ ووجهُ الالتحاقِ أنه لا عِوضَ في الهبةِ والرهن حتى يتخيلَ الفساد بجهةِ جهالة العوض
Termasuk dalam tingkatan ini adalah menggabungkan antara barang milik sendiri dan barang yang digasap dalam hibah atau gadai. Adapun alasan penyertaannya adalah karena tidak ada ‘iwadh (imbalan) dalam hibah dan gadai, sehingga tidak terbayangkan terjadinya kerusakan (fasad) dari sisi ketidakjelasan imbalan.
وهذا فيه فضلُ نظر؛ فإن الدَّيْن وإن لم يكن عوضاً عن الرهن فرهن الشيء بالدَّينِ المجهول لا يصحّ على الأصح كما سيأتي في كتاب الرهون نعَم ما ذكرناه جارٍ في الهبَةِ بل الهبَةُ تَقبلُ وجوهاً لا يقبلها البيع كما سيأتي إن شاء الله
Hal ini memerlukan pertimbangan yang cermat; sebab utang, meskipun bukan sebagai imbalan atas barang gadai, maka menggadaikan sesuatu dengan utang yang tidak jelas tidak sah menurut pendapat yang lebih kuat, sebagaimana akan dijelaskan dalam Kitab Rahn. Adapun apa yang telah kami sebutkan juga berlaku dalam hibah, bahkan hibah menerima beberapa bentuk yang tidak diterima dalam jual beli, sebagaimana akan dijelaskan insya Allah.
فينبغي أن نتخيل مراتب أَوْلاها بالفسادِ الجمعُ بين عبدين في البيع وحيث تمس الحاجةُ في التوزيع إلى التقويم لتبيين العوض ويلي ذلك في الترتيب الظاهر الجمعُ بين عبدين أحدهما مغصوب في الرهن والفرق ما نبهنا عليهِ من خروج الديْنِ عن كونه عوضاً ويلي الرهنَ بيعُ العبد المشترك وبيع الحنطَةِ المشتركة المتساوية الأجزاء في الصفات ويلي هذه الصورةَ الهبةُ؛ من حيث إنها قد تقبلُ ما لا يقبله أصلُ البيع
Maka seharusnya kita membayangkan tingkatan-tingkatan yang paling utama dalam kerusakan adalah menggabungkan dua budak dalam jual beli, di mana kebutuhan mendesak dalam pembagian menuntut adanya penilaian untuk menjelaskan kompensasi. Setelah itu, dalam urutan yang tampak, adalah menggabungkan dua budak, salah satunya merupakan budak hasil ghasab, dalam akad rahn (gadai), dan perbedaannya telah kami jelaskan sebelumnya, yaitu bahwa utang keluar dari statusnya sebagai kompensasi. Setelah rahn, berikutnya adalah jual beli budak yang dimiliki bersama, dan jual beli gandum yang bagian-bagiannya sama dalam sifat. Setelah gambaran ini, berikutnya adalah hibah, karena hibah dapat menerima sesuatu yang tidak dapat diterima oleh asal jual beli.
ومما يدنو من هذه المرتبة نكاحُ المسلمةِ والمجوسيّة في عقدة واحدة فإذا وقع القطع بفساد نكاح المجوسية ففي نكاح المسلمةِ قولان أصَحُّهما الصِّحةُ والقول الثاني أن النكاح يفسد في المسلمة ورتّب الأئمة هذا على القولين في بيع العبد المملوك والمغصوب وسلكوا السبيل المقدَّم في البناء على المعنيين بعد الترتيب
Dan yang mendekati tingkatan ini adalah menikahi seorang perempuan Muslimah dan seorang Majusi dalam satu akad. Jika telah dipastikan bahwa pernikahan dengan perempuan Majusi batal, maka dalam pernikahan dengan perempuan Muslimah terdapat dua pendapat; yang paling sahih adalah pernikahannya sah, dan pendapat kedua menyatakan bahwa pernikahan dengan perempuan Muslimah juga batal. Para imam mengaitkan hal ini dengan dua pendapat dalam jual beli budak yang dimiliki dan budak yang digasak, dan mereka menempuh cara yang telah dijelaskan sebelumnya dalam membangun hukum atas dua makna tersebut setelah dilakukan pengurutan.
فإن قلنا علةُ الفساد في بيع العبدين جهالةُ العوض فهذا لا يضر في النكاحِ فيجب القضاءُ بالصحة وإن قلنا علةُ الفساد الاتحادُ وتطرّقُ الفسادِ فهذا قد يُعتَقَد في النكاح أيضاًً
Jika kita mengatakan bahwa ‘illat kerusakan dalam jual beli dua budak adalah karena ketidakjelasan imbalan, maka hal ini tidak membahayakan dalam pernikahan, sehingga wajib diputuskan keabsahannya. Namun jika kita mengatakan bahwa ‘illat kerusakannya adalah karena adanya kesatuan dan kemungkinan terjadinya kerusakan, maka hal ini juga bisa diyakini berlaku dalam pernikahan.
والذي أراه أن النكاح أولى بالصحة من جميع ما وقع في هذه المرتبة والسببُ فيه أن الصورةَ التي ذكرناها في الهبَةِ والرهنِ والبيعِ في المشترك يفسدُ العقدُ فيها بالشرائطِ المفسدةِ والنكاح لا يُفسده الشرطُ الفاسد إذا لم يتضمن الاعتراضَ على مقصوده فانضمام المجوسية إلى المسلمة ينبغي ألا يزيد تأثيره على شرط نكاح المجوسيَّةِ في نكاحِ المسلمة ولو جرى ذلك لم يفسد النكاح
Menurut pendapat saya, pernikahan lebih utama untuk dinyatakan sah dibandingkan semua hal lain yang berada pada tingkatan ini. Sebabnya adalah bahwa bentuk yang telah kami sebutkan pada hibah, rahn, dan jual beli pada sesuatu yang dimiliki bersama, akadnya menjadi batal karena syarat-syarat yang merusak. Sedangkan pernikahan tidak menjadi batal karena syarat yang rusak jika syarat tersebut tidak mengandung penolakan terhadap tujuan utamanya. Maka, bergabungnya seorang Majusi dengan seorang Muslimah seharusnya tidak lebih berpengaruh daripada syarat menikahi perempuan Majusi dalam pernikahan dengan seorang Muslimah. Dan jika hal itu terjadi, maka pernikahan tidak menjadi batal.
فهذا هو المنتهى في غرضِ الصحة والفسادِ في هذه المراتب ولا نَعدُوها إلى القسم الآخر حتى نذكر حكم العِوض فيها
Inilah batas akhir dalam tujuan membahas sah dan batal pada tingkatan-tingkatan ini, dan kita tidak akan beranjak ke bagian lain sebelum menyebutkan hukum ‘iwadh di dalamnya.
فإذا باع الرجل عبداً مملوكاً وعبداً مغصوباً أو مملوكاً ومستولدة فإن حكمنا بفساد العقد فلا كلام وإن حكمنا بالصحَّة فيما يقبل العقد فالعقد يثبت فيه بجملة الثمن المسمى أم يُقَسَّط منه فعلى قولين أصحهما أن العقد يثبت فيه بقسطٍ من الثمن كما يقتضيه التوزيع؛ فإن صيغة العقد تقتضي مقابلةَ العبدين بالألف فردُّ الألف إلى أحدهما مخالفةٌ لمعنى اللفظ ويستحيل ثبوت الثمن على خلاف مقتضى اللفظ
Jika seseorang menjual seorang budak yang dimilikinya dan seorang budak yang digasak, atau seorang budak yang dimiliki dan seorang budak perempuan yang telah melahirkan anak darinya, maka jika kita memutuskan akad tersebut batal, tidak ada pembahasan lebih lanjut. Namun jika kita memutuskan akad tersebut sah pada bagian yang dapat diterima akadnya, maka akad itu berlaku atas seluruh harga yang disebutkan, ataukah harus dibagi? Dalam hal ini terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah bahwa akad itu berlaku atas bagian dari harga sesuai dengan pembagian yang seharusnya; karena redaksi akad menunjukkan bahwa kedua budak itu menjadi imbalan dari seribu (misalnya), maka mengembalikan seribu itu hanya kepada salah satunya bertentangan dengan makna lafaz, dan tidak mungkin harga itu ditetapkan bertentangan dengan makna lafaz.
والقولُ الثاني أن الثمن يثبت بكماله في مقابلة ما صح العقد فيه؛ لأن المضموم إليه ليس قابلاً للمقابلة فليحذف من العقد كأنه لم يذكر
Pendapat kedua menyatakan bahwa harga tetap berlaku sepenuhnya sebagai imbalan atas barang yang sah akadnya; karena barang yang digabungkan tidak layak untuk menjadi imbalan, maka harus diabaikan dari akad seolah-olah tidak disebutkan.
وهذا ضعيفٌ لا ثباتَ له عند القيَّاسين ولكنه مشهور وسيظهر أثره في التفريع
Ini lemah dan tidak memiliki dasar yang kuat menurut para ahli qiyās, namun pendapat ini masyhur dan pengaruhnya akan tampak dalam perincian hukum.
فإن قلنا العقد يصح في المملوك بتمام الثمن فلا شك أن المشتري بالخيارِ فإنه بذل الألف على مقابلة عبدين ثم لم يسلّم له إلاَّ أحدهما واستمر عليه بذلُ الألف
Jika kita mengatakan bahwa akad sah pada barang yang dimiliki dengan pembayaran harga penuh, maka tidak diragukan lagi bahwa pembeli memiliki hak khiyar, karena ia telah membayarkan seribu dinar untuk mendapatkan dua budak, namun yang diserahkan kepadanya hanya satu, sementara ia tetap harus membayar seribu dinar.
وإن قلنا لا يلزم في مقابلة العبد المملوك إلا قسطٌ من الثمن فالخيار يثبت أيضاًً للمشتري فإنه وإن كان لا يخسر في الماليَّة فقد خاض في العقد على أن يسلَّم له العبدان فأخلف ظنُّه فاقتضى ذلك ثبوتَ الخيارِ له فإن أجاز المشتري العقدَ على مقتضاه نُظر فإن قلنا إنه يجيزه بتمام الثمن فلا خيار للبائع فإنه رضي بألفٍ في مقابلة العبدين فإذا سلَّم الألَف في مقابلة أحدهما فلا معنى للخيار
Dan jika kita katakan bahwa yang wajib sebagai ganti budak yang dimiliki hanyalah bagian dari harga, maka hak khiyar juga tetap berlaku bagi pembeli. Sebab, meskipun ia tidak mengalami kerugian dalam hal nilai harta, ia telah melakukan akad dengan harapan kedua budak akan diserahkan kepadanya, namun ternyata harapannya tidak terpenuhi. Hal ini menuntut adanya hak khiyar baginya. Jika pembeli menyetujui akad sesuai dengan ketentuannya, maka perlu dilihat: jika kita katakan bahwa ia menyetujuinya dengan membayar harga penuh, maka tidak ada hak khiyar bagi penjual, karena ia telah rela dengan seribu sebagai ganti kedua budak. Maka, jika seribu itu diserahkan sebagai ganti salah satunya, tidak ada alasan untuk adanya hak khiyar.
وإن قُلنا يُجيز المشتري العقدَ في المملوك بقِسطه من الثمن فهل يثبت للبائع الخيار فعلى وجهين أصحهما أنه لا خيار له؛ فإنه سُلّم له ثمنُ ما ملك عليه
Jika kita mengatakan bahwa pembeli membolehkan akad pada bagian yang dimilikinya dengan porsi harga, maka apakah penjual berhak mendapatkan khiyar? Ada dua pendapat, dan yang paling sahih adalah bahwa penjual tidak memiliki hak khiyar; karena telah diserahkan kepadanya harga dari bagian yang menjadi miliknya.
ومن أصحابنا من قال له الخيار؛ من جهة أنه علّق استحقاقه بالألف الكامل؛ فلم يسلّم له
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa ia memiliki hak memilih; karena hak kepemilikannya digantungkan pada seribu yang utuh, namun hal itu tidak diserahkan kepadanya.
وهذا رديء لا أصل له وله التفات على بيع التجزي إذا باع الرجل صُبرَةً بصُبرةٍ مكايلةً حيث قال الشافعي وللمشقَّصِ صُبرته الخيارُ
Ini adalah pendapat yang lemah, tidak ada dasarnya, dan berkaitan dengan jual beli secara taksiran apabila seseorang menjual satu tumpukan barang dengan tumpukan barang lain secara taksiran, sebagaimana Imam Syafi‘i berkata: “Bagi pemilik tumpukan barang yang telah ditentukan, ia memiliki hak memilih.”
وكل ما ذكرناهُ فيه إذا كان التوزيع يقتضي جهالةَ العوض فأما إذا كان التوزيع لا يقتضي جهالة العوض كالصُور المقدَّمةِ في العبد المشترك وغيره فالمشتري بكم يجيزُ العقدَ في المسألة طريقان من أصحابنا من قال نقطع القولَ بأنه يجيز بالقسط وإنما القولان فيه إذا كان التوزيعُ يجرُّ جهالة
Semua yang telah kami sebutkan di atas berlaku jika pembagian tersebut mengakibatkan ketidakjelasan imbalan. Adapun jika pembagian tidak mengakibatkan ketidakjelasan imbalan, seperti contoh yang disebutkan pada budak yang dimiliki bersama dan selainnya, maka pembeli dengan harga berapa pun membolehkan akad tersebut. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami: ada yang mengatakan bahwa kami menetapkan pendapat bahwa ia membolehkan dengan proporsional, dan dua pendapat itu hanya ada jika pembagian tersebut menimbulkan ketidakjelasan.
ومن أصحابنا من قال نطرد القولين في هذه الصُّورة أيضاًً
Dan sebagian ulama kami berkata, “Kita menerapkan kedua pendapat itu juga dalam kasus ini.”
والفرق بين المرتبتين أن التوزيع إذا كان يَجرُّ جهالة فقد يمكن أن يقال سببُ الإجازة بالجميع أنا لو قسّطنا لاقتضى التوزيعُ جهالةً والجهالةُ مفسدةٌ للعقد وهذا لا يتحقق حيث لا يقتضي التوزيع جهالة
Perbedaan antara dua tingkatan tersebut adalah bahwa jika pembagian menyebabkan adanya ketidakjelasan, maka mungkin dapat dikatakan bahwa alasan diperbolehkannya keseluruhan adalah karena jika kita membaginya, pembagian tersebut akan menimbulkan ketidakjelasan, dan ketidakjelasan itu merusak akad. Namun, hal ini tidak berlaku jika pembagian tidak menyebabkan ketidakjelasan.
وإذا ضممنا صُورة الجهالة إلى هذه الصُورة انتظم في غرضِنا ثلاثةُ أقوال أحدُها أن الإجازةَ بالبعض في جميع هذه المسائل وهذا لا يسوغ في القياس غيرُه
Jika kita menggabungkan bentuk jahalah dengan bentuk ini, maka dalam pembahasan kita terdapat tiga pendapat; salah satunya adalah bahwa pengesahan (ijazah) terhadap sebagian dalam seluruh permasalahan ini, dan ini tidak dibenarkan dalam qiyās selainnya.
والثاني أن الإجازة بكل الثمن في جميع المسائل
Kedua, bahwa persetujuan (ijazah) terhadap seluruh harga berlaku dalam semua permasalahan.
والثالث أنا نفصّل بين صُورةٍ يجرّ التوزيعُ فيها جهالةً فيثبت جميعُ الثمن وبين صورة لا يقتضي التوزيعُ فيها جهالة فيثبت فيها بعضُ الثمن على ما يقتضيه التوزيع
Ketiga, kami merinci antara keadaan di mana pembagian menyebabkan adanya unsur jahalah sehingga seluruh harga menjadi tetap, dan keadaan di mana pembagian tidak menyebabkan adanya unsur jahalah sehingga sebagian harga menjadi tetap sesuai dengan apa yang dihasilkan oleh pembagian tersebut.
ومن تمام القول في ذلك أن من نكح مسلمةً ومجوسيّةً فصححنا نكاح المسلمة فالذي قطعَ به المحققون أنا لا نثبت جميعَ الصداق المسمّى في مقابلة نكاح المسلمة ولا يُخرّج هذا القول والسبب فيه أنا لو قلنا بهذا كنا مجحفين بالزوج على وجهٍ لا نجد له دفعاً من قِبلَ أنه لا يثبت للزوج حقُّ الخيار وليس كذلك البيعُ؛ فإنا إن قُلنا الإجازة تقعُ بجميع الثمن فللمشتري دفعُ ذلك بأن يفسخ العقدَ
Dan sebagai penyempurna pembahasan dalam hal ini, jika seseorang menikahi seorang wanita Muslimah dan seorang wanita Majusi, lalu kami mengesahkan pernikahan dengan wanita Muslimah, maka para peneliti terkemuka menegaskan bahwa kami tidak menetapkan seluruh mahar yang telah disebutkan sebagai imbalan atas pernikahan dengan wanita Muslimah, dan pendapat ini tidak dapat dianalogikan (qiyās) dengan kasus lain. Sebabnya adalah, jika kami mengatakan demikian, berarti kami telah berbuat zalim kepada suami dengan cara yang tidak dapat ia hindari, karena suami tidak memiliki hak khiyar (memilih) dalam hal ini. Hal ini berbeda dengan jual beli; jika kami mengatakan bahwa persetujuan (ijazah) berlaku untuk seluruh harga, maka pembeli masih dapat menghindarinya dengan membatalkan akad.
وعلى هذا القياس نقول إذا اكترى داراً سنةً ومضت ستةُ أشهرِ من المدة وهو ينتفع فيها ثم انهدمت الدار وانفسخت الإجارة في بقيَّة المدَّة وفرَّعنا على الأصح وهو أنهُ لا نجد سبيلاً إلى فسخِ الإجارة في المدّة المنقضية عَلى ما سيأتي في القسم الآخر إن شاء الله تعالى وهو التفرق في أثناء العقد فلا جرم لا نقول جملةُ الأجرة تلزم في مقابلة ما انقضى من المدَّة؛ لأنا لو قلنا ذلك كنا كلفناه تمامَ العِوض في مقابلة بعضِ المعوَّض على وجهٍ لا نجد لدفعه سبيلاً
Berdasarkan qiyās ini, kami katakan: jika seseorang menyewa sebuah rumah selama satu tahun, lalu telah berlalu enam bulan dari masa sewa tersebut dan ia telah memanfaatkannya, kemudian rumah itu runtuh dan akad ijarah pun batal untuk sisa masa sewa, serta kami menetapkan menurut pendapat yang lebih kuat bahwa tidak ada jalan untuk membatalkan akad ijarah pada masa yang telah berlalu—sebagaimana akan dijelaskan pada bagian lain, insya Allah Ta‘ala, yaitu tentang perpisahan di tengah-tengah akad—maka dengan demikian, kami tidak mengatakan bahwa seluruh upah menjadi wajib sebagai imbalan atas masa yang telah berlalu. Sebab, jika kami mengatakan demikian, berarti kami mewajibkan pembayaran seluruh imbalan untuk sebagian objek yang diperjanjikan, dengan cara yang tidak ada jalan untuk menghindarinya.
وذكر الشيخ أبو علي في نكاح المسلمة والمجوسيّه أو الحرة والأمَةِ في حق الناكح الحر القولين في أصل النكاحِ ثم قال إذا صح النكاح في محل الصحَّة ففي المهر ثلاثةُ أقوال أحدُها أنه يبطل المهرُ المسمى والرجوع إلى مهر المثل
Syekh Abu Ali menyebutkan dalam masalah pernikahan antara perempuan muslimah dan perempuan majusi, atau antara perempuan merdeka dan budak perempuan, terkait hak laki-laki merdeka yang menikahinya, terdapat dua pendapat dalam pokok hukum nikah. Kemudian beliau berkata: Jika akad nikah sah di tempat yang memang sah, maka dalam hal mahar terdapat tiga pendapat; salah satunya adalah batalnya mahar yang telah disebutkan dan kembali kepada mahar mitsil.
والثاني أنه يجب للحرة قسطٌ من المهرِ المسمَّى فيقسّط على مهر مثلها ومهر مثل الأمة أو على مهر مثل المسلمة ومهر مثل المجوسيّة
Kedua, bahwa seorang wanita merdeka berhak mendapatkan bagian dari mahar yang telah ditentukan, maka mahar itu dibagi antara mahar wanita sepertinya dan mahar wanita budak, atau antara mahar wanita muslimah dan mahar wanita majusi.
والقول الثالث أنه يجب للتي صح النكاحُ عليها تمامُ المسمى وهذا لم أره إلا للشيخ أبي علي وهو ضعيف جداً أما الرجوع إلى مهر المثل فله خروج والتوزيع وإيجاب القسط ظاهر وأما إثبات تمام المسمى فبعيد
Pendapat ketiga menyatakan bahwa perempuan yang sah dinikahi wajib mendapatkan seluruh mahar yang telah disepakati. Pendapat ini, sejauh yang saya ketahui, hanya dinyatakan oleh Syekh Abu Ali, dan pendapat ini sangat lemah. Adapun kembali kepada mahar mitsil, maka hal itu memiliki dasar, pembagian, dan kewajiban bagian (qisth) adalah jelas. Namun, menetapkan seluruh mahar yang telah disepakati adalah sesuatu yang jauh (dari kebenaran).
ثم قال الشيخ إذا قلنا جميعُ المهر المسمى يثبتُ في مقابلة الحُرة التي صح النكاح عليها فلا شك أنا لا نقول للزوج فَسْخُ النكاح ولكن نقول لهُ الخيار في ردَّ المسمى والرجوعِ إلى مَهْر المثل وهذا الذي ذكرهُ لا يخلِّصُ مما ذكرناه؛ فإن مهر المثل قد يكون مثلَ المسمى أو أكثرَ منه
Kemudian Syaikh berkata: Jika kita katakan bahwa seluruh mahar yang telah disebutkan menjadi hak bagi perempuan merdeka yang sah akad nikahnya, maka tidak diragukan lagi bahwa kita tidak mengatakan kepada suami untuk membatalkan akad nikah, tetapi kita katakan kepadanya bahwa ia memiliki pilihan untuk menolak mahar yang telah disebutkan dan kembali kepada mahar mitsil. Namun, apa yang beliau sebutkan itu tidak menyelesaikan apa yang telah kami sebutkan; sebab mahar mitsil bisa saja sama dengan mahar yang disebutkan atau bahkan lebih besar darinya.
وقد نجز غرضُنا في قسم واحدِ من القسمين المتأخرين حيث قلنا المنضمُّ إلى ما يصح العقدُ فيه ينقسم إلى ما يتقوَّم وإلى ما لا يُتقوَّمُ وقد انتهَى القول فيما يُتقوّمُ
Tujuan kami telah tercapai pada salah satu dari dua bagian terakhir, ketika kami mengatakan bahwa sesuatu yang bergabung dengan apa yang sah untuk dijadikan objek akad terbagi menjadi dua: yang memiliki nilai (dapat dinilai) dan yang tidak memiliki nilai (tidak dapat dinilai). Dan pembahasan tentang yang memiliki nilai telah selesai.
فأمّا إذا كان المضمومُ إلى ما يصح العقد فيه لو أُفرد غيرَ متقوَّم فهذا
Adapun jika barang yang digabungkan dengan sesuatu yang sah akadnya jika berdiri sendiri itu bukan barang yang bernilai (ghair mutaqawwam), maka hal ini…
ينقسم إلى ما يقبل تقديرَ القيمةِ حكماً من غير تقدير تغيير صفةٍ في الخلقة وإلى ما لا يقبل التقدير إلا بفرض تغييبر في الخلقة
Terbagi menjadi apa yang dapat ditetapkan nilainya secara hukum tanpa menetapkan perubahan sifat pada ciptaan, dan apa yang tidak dapat ditetapkan nilainya kecuali dengan mengandaikan adanya perubahan pada ciptaan.
فأمَّا ما لا يقبل التقويم تقديراً حكماً فهو كالحر يضم إلى العبد فالحرُّ لا يُتقوَّمُ شرعاً ولكن تقديره رقيقاً وتقويمه على حسب هذا ليسَ مستحيلاً وقد يُقدَّر في الحكوماتِ الحُرّ رقيقاً ويُبنَى عليه مبلغُ الحكومة
Adapun sesuatu yang tidak dapat dinilai secara taksiran menurut hukum, seperti orang merdeka yang digabungkan dengan budak, maka orang merdeka itu tidak dapat dinilai secara syar‘i. Namun, memperkirakannya sebagai budak dan menilainya berdasarkan hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan, dalam penyelesaian hukum, orang merdeka dapat diperkirakan sebagai budak dan nilai hukumannya didasarkan atas hal tersebut.
فإذا باع الرجل حراً وعبداً ففي صحة البيع في العبد طريقان من أصحابنا من قال قولان كما لو جمع بين مملوكٍ له ومغصوب
Jika seseorang menjual seorang hamba sahaya dan seorang yang merdeka sekaligus, maka mengenai keabsahan jual beli pada hamba sahaya terdapat dua pendapat di kalangan ulama kami; sebagian dari mereka mengatakan ada dua pendapat, sebagaimana jika seseorang menggabungkan antara budak miliknya dengan budak yang digasak (bukan miliknya).
ومنهم من قطع بالبطلان من جهة أن قَرِين العبدِ خارجٌ عن جنس المبيعاتِ فكان هذا مقتضياً مزيد فَسادٍ ولو قلنا في صحة البيع قولان مرتبان على ما إذا باع عبداً مملوكاً وآخر مغصوباً لأفاد ذلك ما ذكرنا من نقل الطريقين وهكذا كل ترتيبٍ
Dan di antara mereka ada yang memastikan batalnya (akad) dari sisi bahwa pasangan budak itu berada di luar jenis barang-barang yang dapat diperjualbelikan, sehingga hal ini menuntut kerusakan (akad) yang lebih besar. Dan seandainya kita mengatakan bahwa dalam keabsahan jual beli terdapat dua pendapat yang diurutkan berdasarkan kasus ketika seseorang menjual seorang budak miliknya dan seorang budak yang digasap, maka hal itu menunjukkan apa yang telah kami sebutkan tentang adanya dua jalur pendapat. Demikian pula setiap urutan (pendapat) lainnya.
فهذا فيما يقبل تقدير القيمَةِ
Ini berlaku pada hal-hal yang dapat ditaksir nilainya.
فأما ما لا يقبل تقدير القيمةِ إلا بتغيير الخلقة فهو كالخمر والخنزير والميتَة فإذا جُمع في عقدٍ بين الخمر والخل وبين شاة وخنزير وبين لحم المذكّى ولحم الميتة فكيف الترتيب فيه قال الأئمةُ هذه الصورةُ أولى بالبطلان من مسألَةِ الحرّ والعبد؛ فإن تقدير القيمة غيرُ ممكنٍ في هذه المسائل وإن فرضنا تغير صفاتها خلقةً لم يكن ما نُقَدِّر قيمتَه هو المذكور في العقد فظهر الحكم بالفساد والكلام بآخره
Adapun barang-barang yang tidak dapat ditaksir nilainya kecuali dengan mengubah bentuk aslinya, seperti khamar, babi, dan bangkai, maka jika dalam satu akad digabungkan antara khamar dan cuka, antara kambing dan babi, atau antara daging yang disembelih secara syar‘i dan daging bangkai, bagaimana urutannya dalam hal ini? Para imam berpendapat bahwa kasus ini lebih utama untuk dinyatakan batal dibandingkan dengan kasus budak dan orang merdeka; sebab penaksiran nilai tidak mungkin dilakukan dalam masalah-masalah ini, dan seandainya pun sifat-sifatnya diubah dari bentuk aslinya, maka yang kita taksir nilainya bukanlah yang disebutkan dalam akad. Maka jelaslah hukum batalnya akad tersebut, dan pembahasan berakhir di sini.
وهذه المسائل أصولها ملتفَّةٌ بفروعِها حتى يجري في أثناء الكلام أخذُ الأصلِ من فرعهِ
Permasalahan-permasalahan ini pokok-pokoknya saling terkait dengan cabang-cabangnya, sehingga dalam pembahasan sering kali pokok diambil dari cabangnya.
فنقول أولاً من أصحابنا من يقدِّر الخمرَ خلاً ولحم الميتة لحم مذكاة والخنزيرَ نعجةً أو ما يقرب على ما يقتضيه الحال
Maka kami katakan pertama-tama, di antara ulama kami ada yang menganggap khamr sebagai cuka, daging bangkai sebagai daging hewan yang disembelih secara syar‘i, dan babi sebagai domba atau sesuatu yang serupa, sesuai dengan keadaan yang dituntut.
وهذا ذكره طوائف من أصحابنا من أصحاب القفال وهو بعيد وإن كان ينقدح القياسُ على تقدير الرق في الحر ثم يتطرق من طريق الاحتمال لو فُتح هذا الباب أمران أحدهما أن يُقدَّر الخمر عصيراً فنكون اعتبرناه بحالة إذا كان عصيراً وكان الخمرية لم تطرأ وهذا أمثل من تقديرها خلاً وقد ذكرهُ بعض الأصحاب
Hal ini telah disebutkan oleh sekelompok ulama kami dari kalangan pengikut al-Qaffal, namun pendapat ini jauh (dari kebenaran), meskipun qiyās dapat terlintas jika memperkirakan adanya status budak pada orang merdeka. Kemudian, dari sisi kemungkinan, jika pintu ini dibuka, maka ada dua hal yang mungkin terjadi: Pertama, memperkirakan khamr sebagai ‘asir (jus anggur), sehingga kita menganggapnya dalam keadaan masih berupa ‘asir dan sifat khamr belum muncul padanya. Ini lebih masuk akal daripada memperkirakannya sebagai cuka, dan hal ini telah disebutkan oleh sebagian ulama.
ومما يجري في ذلك تقدير قيمة الخمر خمراً عند من يرى للخمر قيمةً وكذلك القولُ في الخنزير وقد نصير إلى هذا الاعتبار في بعض مسائل الوصايا على ما سيأتي إن شاء اللهُ عز وجل وسنُجري مثل ذلك في فروع نكاح المشركات
Termasuk dalam hal ini adalah penetapan nilai khamar sebagai khamar menurut pendapat yang menganggap khamar memiliki nilai, demikian pula halnya dengan babi. Kami juga akan menggunakan pertimbangan ini dalam beberapa permasalahan wasiat sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla, dan kami akan menerapkan hal serupa dalam cabang-cabang hukum nikah dengan perempuan musyrik.
وكل ذلك خبطٌ فإن قدَّرنا هذه التغاييرَ فلا كلام وإن لم نقدّرْها فلا خروج للحكم بصحَة البيع فيما يصح إفرادُه به إلا على رأي من يُثبت العقدَ فيما يصح العقدُ فيه بتمام الثمن؛ فإن التوزيع قد يتعذّر
Semua itu adalah kekacauan; jika kita menganggap adanya perubahan-perubahan tersebut, maka tidak ada masalah. Namun jika kita tidak menganggapnya, maka tidak ada jalan untuk menetapkan hukum sahnya jual beli pada sesuatu yang sah untuk dijual secara terpisah, kecuali menurut pendapat orang yang membolehkan akad pada sesuatu yang sah diakadkan dengan harga penuh; karena pembagian harga bisa jadi sulit dilakukan.
وهذا أوان تمام البيان فيما نحن فيه
Dan inilah saatnya penjelasan yang kami maksudkan ini selesai.
وذهب المحققون إلى أن صحةَ البيع وفسادَه يُتلقى من أن العقدَ حيث يمكن التوزيع يجازُ في مورد صحيح بتمام الثمن أو بقسطٍ منه فإن رأينا الإجازة بالتمام لم نبعد أن نصحح العقدَ في مسألة الخمر والخنزير والميتة فإنا إذا كُنا لا نوزع لم يختلف الأمر بأن يكون التوزيعُ ممكناً أو غيرَ ممكن
Para peneliti berpendapat bahwa sah atau tidaknya jual beli diambil dari kenyataan bahwa akad, ketika memungkinkan untuk dibagi, dapat dibolehkan pada bagian yang sah dengan seluruh harga atau sebagian darinya. Jika kita melihat kebolehan secara keseluruhan, maka tidaklah jauh untuk membenarkan akad dalam masalah khamar, babi, dan bangkai. Sebab, jika kita tidak membagi, maka tidak ada perbedaan apakah pembagian itu memungkinkan atau tidak.
وإن رأينا إجازة العقد في مورده بقسطٍ من الثمنِ فإذا تعذّرَ التقسيطُ فلا وجه لتصحيح العقد
Dan jika kita memandang bolehnya akad pada tempatnya dengan pembayaran sebagian dari harga, maka apabila pembayaran secara angsuran tidak memungkinkan, tidak ada alasan untuk membenarkan akad tersebut.
وتمام القول في هذا بذكر مسألةٍ وهي أن البائع إذا ضَمّ إلى المبيع القابلِ للعقد مجهولاً لا يُحاط به فلا مطمع في تقدير التوزيع أصلاً ولا خُروج للصحَّة في المعلوم إلا على إجازة العقد بتمام الثمن
Penyempurnaan pembahasan dalam hal ini adalah dengan menyebutkan satu masalah, yaitu apabila penjual menambahkan kepada barang yang dijual yang dapat dijadikan objek akad, sesuatu yang tidak diketahui dan tidak dapat dijangkau pengetahuannya, maka tidak ada harapan untuk memperkirakan pembagian sama sekali, dan tidak ada jalan untuk mengesahkan akad pada bagian yang diketahui kecuali dengan menyetujui akad dengan harga penuh.
فليفهم الناظر المراتبَ
Maka hendaklah orang yang memperhatikan memahami tingkatan-tingkatan tersebut.
وهذه المراتب أولاها فيما يتقوّم وثانيتها فيما يمكن تقدير القيمة فيهِ حكماً من غيرِ تغييرٍ وثالثتُها فيما لا يتأتى ذلك إلا بتقدير تغيير الخلقة ورابعتُها فيما لا يتأتى فيه التقويم أصلاً
Tingkatan-tingkatan ini, yang pertama adalah pada sesuatu yang nilainya dapat ditentukan, yang kedua pada sesuatu yang nilai harganya dapat diperkirakan secara hukum tanpa ada perubahan, yang ketiga pada sesuatu yang hal itu tidak dapat dilakukan kecuali dengan memperkirakan adanya perubahan bentuk, dan yang keempat pada sesuatu yang sama sekali tidak mungkin dilakukan penilaian.
وهذا آخر القول في تفريق العقد من ابتدائهِ
Dan inilah akhir pembahasan mengenai pemisahan akad sejak permulaannya.
فأمّا إذا جرى التفريق في الأثناء فالقول ينحصر فيما يتعلق بالانفساخ من غير اختيارٍ وفيما يتعلق بالفسخ المختار بسبب يقتضيه
Adapun jika terjadi pemisahan di tengah-tengah, maka pembahasan terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan pembatalan tanpa pilihan dan hal-hal yang berkaitan dengan pembatalan yang dipilih karena adanya sebab yang menuntutnya.
فأما القول في الانفساخ فنقول إذا اشترى رجل عبدين وتلف أحدُهما قبل قبض المشتري فالعقد ينفسخ فيهِ وهل ينفسخ في العبد القائم الباقي لم يخلُ من أحوال إما أن يكون العبد القائمُ بعدُ في يد البائع وإما أن يقبضه المشتري وهو باقٍ في يده وإما أن يقبضه المشتري ويتلفَ في يده ثم يتلف العبد الآخر في يد البائع
Adapun pembahasan tentang pembatalan (an-nufsakh), maka kami katakan: Jika seseorang membeli dua budak, lalu salah satunya rusak sebelum diterima oleh pembeli, maka akad batal atas budak yang rusak itu. Apakah akad juga batal atas budak yang masih ada? Hal ini tidak lepas dari beberapa keadaan: bisa jadi budak yang masih ada itu masih berada di tangan penjual, atau sudah diterima oleh pembeli dan tetap berada di tangannya, atau sudah diterima oleh pembeli lalu rusak di tangannya, kemudian budak yang lain rusak di tangan penjual.
فإن كان العبد الباقي في يد البائع بعدُ فإذا انفسخ العقدُ في الذي تلف في يده فهل ينفسخ في الثاني فعلى قولين أحدُهما أنه لا ينفسخ لبقائه وسببُ انفساخِ العقد في التالفِ تلفُه وهو في ضمان البائع وهذا المعنَى مفقود في القائم
Jika masih ada budak yang tersisa di tangan penjual, kemudian akad menjadi batal pada budak yang telah rusak di tangannya, maka apakah akad juga batal pada budak yang kedua? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya adalah bahwa akad tidak batal karena budak tersebut masih ada, dan sebab batalnya akad pada yang telah rusak adalah karena kerusakannya, di mana ia masih dalam tanggungan penjual, dan makna ini tidak terdapat pada budak yang masih ada.
والقول الثاني أن العقدَ ينفسخ فيه حتى لا تتبعَّضَ الصفقةُ وهي مُتَّحدة
Pendapat kedua menyatakan bahwa akad tersebut batal di dalamnya agar transaksi tidak terpecah, sedangkan transaksi itu bersifat satu kesatuan.
قال المحققون مأخذ التفريق في البقاء والانفساخ آخراً هو مأخذ التفريق في الابتداء صحَّةً وفساداً ولكن الوجه ترتيبُ الآخِر على الأول
Para peneliti menyatakan bahwa dasar pembedaan dalam hal keberlangsungan dan pembatalan pada akhirnya adalah sama dengan dasar pembedaan dalam permulaan, yaitu antara sah dan batal, namun yang tepat adalah menjadikan yang terakhir sebagai konsekuensi dari yang pertama.
فإن قلنا إذا جَمَعت الصفقةُ ما يجوز بيعُه وما لا يجوز بيعُه فالعقدُ صحيحٌ فيما يجوز فلأن نحكم ببقاء العقدِ فيما بقي أولى
Jika kita mengatakan bahwa apabila suatu transaksi mencakup barang yang boleh dijual dan barang yang tidak boleh dijual, maka akadnya sah atas barang yang boleh dijual, maka menetapkan tetapnya akad atas barang yang masih tersisa lebih utama.
وإن قُلنا يفسُد العقد ابتداء فيما يصح إفراده بالعقد؛ نظراً إلى تطرُّق الفسادِ وتغليباً له فهل نحكم بالانفساخ في العبدِ القائمِ فعلى قولين
Jika kita mengatakan bahwa akad menjadi batal sejak awal pada sesuatu yang sah untuk diakadkan secara terpisah, dengan mempertimbangkan adanya unsur kerusakan dan mengedepankan kerusakan tersebut, maka apakah kita memutuskan terjadinya pembatalan pada budak yang masih ada? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
والفرق أن الصفقةَ إذا انقسمَتْ في ابتداءِ عقدها اختَلَّ لفظُها وإذا صحت الصفقةُ فالوجه اتباعُ البقاء والهلاك والحكمُ باستمرار العقد على ما بقي وانفساخِهِ فيما تلف
Perbedaannya adalah bahwa apabila suatu transaksi terbagi pada awal akadnya, maka lafaznya menjadi cacat. Namun, jika transaksi tersebut telah sah, maka yang tepat adalah mengikuti keadaan barang yang masih ada dan yang telah rusak, serta menetapkan bahwa akad tetap berlangsung atas barang yang masih ada dan batal atas barang yang telah rusak.
فإن قلنا العقدُ ينفسخ في العبدِ الباقي فلا كلام والثمن مردود على المشتري وإن قلنا لا ينفسخ العقدُ في العبدِ الباقي فللمشتري الخيارُ في فسخِ العقد فإن فسخ عاد الكلامُ إلى ما ذكرناه في قول الانفساخ وإن أجاز العقدَ فيجيزه في الباقي بتمام الثمن أو بقسطهِ فعلى قولين أحدُهما وهو الصحيح الذي لا ينساغ غيرُه أنه يجيز العقدَ فيه بقسطه والثاني أنه يجيز العقدَ في العبد الباقي بتمام الثمن وهذا لا اتّجاه له ولو لا اشتهارُه في النقل لما ذكرناه
Jika kita katakan bahwa akad batal pada budak yang tersisa, maka tidak ada pembicaraan lagi dan harga dikembalikan kepada pembeli. Namun jika kita katakan bahwa akad tidak batal pada budak yang tersisa, maka pembeli memiliki hak khiyar untuk membatalkan akad. Jika ia membatalkan, maka kembali pada pembahasan yang telah kami sebutkan dalam pendapat tentang batalnya akad. Jika ia membiarkan akad tetap berjalan, maka ia membiarkannya pada budak yang tersisa dengan membayar seluruh harga atau dengan bagian harganya, menurut dua pendapat. Salah satunya, dan ini yang benar serta tidak layak selainnya, adalah ia membiarkan akad pada budak yang tersisa dengan bagian harganya. Pendapat kedua, ia membiarkan akad pada budak yang tersisa dengan membayar seluruh harga, dan ini tidak memiliki dasar. Kalau saja pendapat ini tidak masyhur dalam riwayat, tentu tidak akan kami sebutkan.
ثم قال الأئمة القولان فيما ذكرناه في الآخِر مرتبان على القولين المذكورين في هذا الحكم في أول تفريق الصفقة
Kemudian para imam berkata bahwa dua pendapat yang kami sebutkan terakhir tadi didasarkan pada dua pendapat yang disebutkan dalam hukum ini pada awal pembahasan tafrīq ash-shafqah.
فإن قُلنا المشتري يجيز الصفقةَ فيما يصح العقدُ فيه ابتداء بقسطه من الثمن فهذا في الانتهاء أَوْلى
Jika kita mengatakan bahwa pembeli membolehkan transaksi pada sesuatu yang sah akadnya sejak awal dengan bagian harganya, maka hal ini dalam penyelesaian (akad) lebih utama.
وإن قُلنا المشتري يجيز العقد فيما يصح فيه ابتداء بتمام الثمن ففي الدوامِ قولانِ
Dan jika kita mengatakan bahwa pembeli membolehkan akad pada perkara yang sejak awal sah dengan pelunasan harga secara penuh, maka dalam kelangsungan akad terdapat dua pendapat.
والفرق أنا إن قلنا يقف الثمن ابتداء فيما يقبل المقابلة بالثمن فهذا فن من الكلام فأما المصيرُ إلى أن الثمن الواقعَ في مقابلة العبدين ينصرفُ إلى مقابلة الباقي منهما فهذا لا وجه له
Perbedaannya adalah, jika kita mengatakan bahwa harga sejak awal berhenti pada sesuatu yang dapat dibandingkan dengan harga, maka ini adalah satu bentuk pembicaraan. Adapun berpendapat bahwa harga yang terjadi sebagai imbalan dari dua budak itu beralih menjadi imbalan bagi salah satu yang tersisa di antara keduanya, maka hal ini tidak ada dasarnya.
وكل ما ذكرناه فيه إذا تلف أحداً العبدين والثاني قائم في يد البائع
Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku apabila salah satu dari dua budak tersebut rusak (hilang) dan yang satunya masih ada di tangan penjual.
فأما إذا قبض المشتري أحدَ العبدين وتلف الثاني في يد البائع و انفسخ العقدُ في التالف فهل ينفسخ في العبدِ المقبوضِ القائمِ في يد المشتري فعلى قولين مرتبين على ما إذا كان العبدُ الباقي قائماً في يد البائع وهذه الصورة الأخيرةُ أوْلى بألا ينفسخ العقدُ فيها في العبد الباقي والسبب فيه أن العقدَ تأكَّد في العبد المقبوض بانتقال الضمانِ فيه إلى المشتري
Adapun jika pembeli telah menerima salah satu dari dua budak, lalu budak yang kedua rusak di tangan penjual dan akad pun batal atas budak yang rusak itu, maka apakah akad juga batal atas budak yang telah diterima dan masih ada di tangan pembeli? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada kasus apabila budak yang tersisa masih ada di tangan penjual. Dan gambaran terakhir ini lebih utama untuk tidak membatalkan akad atas budak yang tersisa. Sebabnya adalah karena akad telah menjadi kuat atas budak yang telah diterima dengan berpindahnya tanggungan (jaminan) atasnya kepada pembeli.
فأما إذا قبض المشتري أحدَهما وتلف في يدهِ ثم تلف العبدُ الآخرُ في يد البائع وانفسخ العقد عليه فهل ينفسخُ فيما قبَضَ المشتري وتلف في يده فعلى قولين مبنيين على القولينِ فيه إذا كان العبد المقبوض قائماً بعدُ في يد المشتري
Adapun jika pembeli telah menerima salah satu dari keduanya lalu barang itu rusak di tangannya, kemudian budak yang lain rusak di tangan penjual dan akad menjadi batal atasnya, maka apakah akad juga batal atas barang yang telah diterima pembeli dan telah rusak di tangannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada dua pendapat dalam masalah apabila budak yang telah diterima masih tetap ada di tangan pembeli.
والفرق أن الفواتَ إذا لم يقتض انفساخاً فإنه يبعد فيه تقديرُ الانفساخ بعده فقد تأكَّد العقدُ بالقبض والتلفُ في المقبوض فاقتضى ذلكَ فيها ترتيباً
Perbedaannya adalah bahwa luputnya (objek) jika tidak menyebabkan pembatalan, maka sulit untuk menganggap adanya pembatalan setelahnya, karena akad telah menjadi kuat dengan adanya qabd (penguasaan) dan kerusakan terjadi pada barang yang telah dikuasai, sehingga hal itu menuntut adanya urutan (hukum) di dalamnya.
وقالَ الأصحاب تخريجاً على هذه الصورة الأخيرة إذا اكترَى رجل داراً وقبضها وانتفع بها ستة أشهر ثم انهدمت الدار فلا شك في انفساخ الإجارة في بقية المُدَّة وهل تنفسخ في المدة الماضية هذا يُخرّجُ على ما ذَكرناه في العبد المقبوض التالف في يدِ المشتري فإن قلنا ينفسخ العقدُ فيه فتنفسخ الإجارةُ في المدة الماضية وإن تلفت المنافع فيها في يد المستأجر وإن منعنا الانفساخَ في المقبوض التالف فيمتنع الانفساخُ في المدةِ الماضية في الإجارة
Para ulama mazhab berkata, sebagai hasil takhrij atas kasus terakhir ini: Jika seseorang menyewa sebuah rumah, lalu ia telah menerima dan memanfaatkannya selama enam bulan, kemudian rumah itu runtuh, maka tidak diragukan lagi bahwa akad ijarah batal untuk sisa masa sewa. Namun, apakah akad juga batal untuk masa sewa yang telah berlalu? Hal ini dikembalikan kepada apa yang telah kami sebutkan mengenai budak yang telah diterima lalu rusak di tangan pembeli. Jika kita katakan bahwa akadnya batal dalam kasus tersebut, maka akad ijarah juga batal untuk masa sewa yang telah berlalu, meskipun manfaatnya telah hilang di tangan penyewa. Namun jika kita melarang pembatalan akad pada barang yang telah diterima lalu rusak, maka pembatalan akad juga tidak berlaku untuk masa sewa yang telah berlalu dalam akad ijarah.
هذا تمامُ القول في التبعيض الواقع انتهاءً بطريق الانفساخ
Inilah akhir dari pembahasan mengenai pemisahan yang terjadi pada akhirnya melalui jalan pembatalan.
فأما القول في التبعيضِ المتعلق بالفسخ الاختياري فإذا اشترى رجل عبدين وقبضهما ثم وجد بأحدهما عيباً فهل له أن يُفرد العبدَ المعيب بالرد ويستردَّ قسطه من الثمن فعلى قولين مشهورين أحدهما له ذلك والثاني لا سبيل له إلى التفريق وهذا يقرب مما تقدم الآن
Adapun pembahasan tentang pemisahan yang berkaitan dengan pembatalan secara sukarela, maka jika seseorang membeli dua budak lalu telah menerima keduanya, kemudian ia menemukan cacat pada salah satunya, apakah ia boleh mengembalikan budak yang cacat saja dan mengambil kembali bagian harga untuknya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur: salah satunya membolehkan hal itu, dan yang kedua tidak membolehkan adanya pemisahan. Ini hampir sama dengan pembahasan yang telah disebutkan sebelumnya.
فإن قُلنا له ردُّ المعيب فإذا ردَّ استردَّ قسطاً من الثمن على ما يقتضيهِ التوزيع لا خلاف فيه؛ إذ لو قُلنا يسترد جميع الثمن والعبد الآخر باقٍ في يده لكان ذلك محالاً خارجاً عن الضبط مفضياً إلى إثبات شيءٍ من المبيع في يد المشتري من غير أن يكون له مقابل
Jika kita katakan kepadanya: “Kembalikan barang cacat itu,” maka jika ia mengembalikannya, ia berhak mengambil kembali bagian dari harga sesuai dengan ketentuan pembagian; tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Sebab, jika kita katakan bahwa ia berhak mengambil kembali seluruh harga sementara budak yang lain masih tetap di tangannya, maka hal itu adalah sesuatu yang mustahil, di luar ketentuan yang benar, dan akan menyebabkan sebagian dari barang yang dijual tetap berada di tangan pembeli tanpa ada imbalan yang sepadan.
وإن قلنا لا يرد العبدَ المعيبَ فله ردُّهما جميعاً لم يختلف العُلماءُ فيه؛ وذلكَ لاتحاد الصفقة
Jika kita mengatakan bahwa budak yang cacat tidak dapat dikembalikan, maka ia berhak mengembalikan keduanya sekaligus; para ulama tidak berselisih pendapat dalam hal ini, karena adanya kesatuan akad.
ومن تمام التفريع أنا إذا جوزنا له ردَّ المعيب وحدَه فلو قال أردّهما المعيبَ والسليمَ فالمذهبُ أن له ذلك
Sebagai penyempurna penjabaran, jika kami membolehkan baginya untuk mengembalikan barang cacat saja, maka jika ia berkata, “Aku akan mengembalikan keduanya, yang cacat dan yang baik,” maka menurut mazhab, ia dibolehkan melakukan hal itu.
ومن أصحابنا من قال ليس له أن يرد إلا المعيبَ منهُما على هذا القول
Dan sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ia tidak boleh mengembalikan kecuali barang yang cacat di antara keduanya menurut pendapat ini.
وفرَّع الشيخ أبو علي فقال إذا قلنا لا سبيل إلى التبعيض فلَو قالَ المشتري رددتُ المعيبَ هل يكون هذا رداً لهُما ذكر وجهين أحدُهما أنه ردٌّ لهما جميعاً وهذا في نهايةِ الضعفِ والثاني وهو الذي لا يصح غيره أنه لا يكون ما جاء به رداً فيهما ولكنه يلغو فكأنه لم يردّ
Syekh Abu Ali memberikan rincian sebagai berikut: Jika kita mengatakan tidak ada jalan untuk melakukan pemisahan, lalu pembeli berkata, “Saya mengembalikan barang cacat,” apakah ini dianggap sebagai pengembalian keduanya? Ada dua pendapat; salah satunya adalah bahwa itu merupakan pengembalian keduanya sekaligus, namun pendapat ini sangat lemah. Pendapat kedua, yang tidak benar selain ini, adalah bahwa apa yang dilakukan pembeli itu tidak dianggap sebagai pengembalian keduanya, melainkan dianggap sia-sia, seolah-olah ia tidak mengembalikan apa pun.
ومما فرَّعه حيث انتهى الكلامُ أنا إذا منعنا التفريقَ فلو رضي البائع بردِّ العبد وحده وردّ قسطٍ من الثمن فهل يصح ذلك مع رضاه فعلى وجهين وفيهما احتمالٌ على حال؛ فإن الرد على الجملةِ متعلقٌ بالاختيار وليس كالانفساخ وكالحكم بفسادِ العقد ابتداءً؛ فإنه غير متعلق بالاختيار فينفذ الحكم المنعقد ولا يؤثر الرضى بعده
Dan di antara cabang permasalahan yang dijelaskan ketika pembahasan berakhir adalah, jika kita melarang adanya pemisahan, lalu penjual rela mengembalikan budak saja dan mengembalikan bagian dari harga, apakah hal itu sah dengan kerelaannya? Maka terdapat dua pendapat, dan dalam keduanya terdapat kemungkinan, dalam keadaan apapun; karena pengembalian secara keseluruhan berkaitan dengan pilihan, dan tidak seperti pembatalan akad atau penetapan rusaknya akad sejak awal, karena hal itu tidak berkaitan dengan pilihan sehingga keputusan yang telah ditetapkan tetap berlaku dan kerelaan setelahnya tidak berpengaruh.
ولو اشترى الرجل عبدين وقبضهما وعَثَر منهما جميعاً على عيب فأراد ردَّ أحدهما دون الثاني ففي المسألة قولان ومنْعُ التفريق هاهنا أولى؛ بسبب ثبوت العيب الموجب للخيار في كل واحدٍ منهما
Jika seseorang membeli dua budak dan telah menerima keduanya, lalu ia menemukan cacat pada keduanya sekaligus, kemudian ia ingin mengembalikan salah satunya saja dan tidak yang lainnya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Larangan memisahkan di sini lebih utama, karena adanya cacat yang menyebabkan hak khiyar pada masing-masing dari keduanya.
وكل ما ذكرناه فيهِ إذا قبض العبدين فأراد ردَّ أحدهما مع قيام الثاني
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya, apabila kedua budak telah diterima, lalu ia ingin mengembalikan salah satunya sementara yang kedua masih ada.
فلو قبضهما وتلف أحدُهما في يده ووجد بالثاني عيباً فهل له رده مفرداً فعلى قولين مُرتَّبَيْن على القولين فيه إذا كان العبدان باقيين وهذه الصورةُ الأخيرةُ أوْلى بجواز ردَّ أحد العبدين؛ فإن العبدين إذا كانا باقيين أمكن ردُّهما وفسخُ العقد من غير تفريق وإذا تلفَ أحدهما فيعسُر الرد في التالف ويعذَر المشتري بأفراد العبدِ الباقي بالرد
Jika ia telah menerima keduanya lalu salah satunya rusak di tangannya dan ia menemukan cacat pada yang kedua, maka apakah ia boleh mengembalikan yang kedua saja? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam kasus jika kedua budak tersebut masih ada. Dan gambaran terakhir ini lebih layak untuk membolehkan pengembalian salah satu dari kedua budak; sebab jika kedua budak masih ada, maka memungkinkan untuk mengembalikan keduanya dan membatalkan akad tanpa memisahkan, sedangkan jika salah satunya telah rusak, maka sulit untuk mengembalikan yang telah rusak dan pembeli dapat dimaklumi jika hanya mengembalikan budak yang masih ada.
فإن قلنا بردِّه فلا كلام وإن قلنا لا يردُّه فلو قال أُخرج قيمةَ العبد التالفِ وأضمُّها إلى العبد القائم وأردُّهما وأسترد جملةَ الثمن فهل له ذلك فعلى قولين أحدُهما له ذلك؛ فإن فيه استدراكُه للظُّلامةِ التي لحقته وإقامةُ القيمةِ مقام الفائت في حق المردود عليه مع ترك تفريق الصفقة
Jika kita mengatakan bahwa barang tersebut dikembalikan, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita mengatakan bahwa barang tersebut tidak dikembalikan, lalu seseorang berkata, “Keluarkan nilai budak yang telah rusak itu dan tambahkan pada budak yang masih ada, kemudian kembalikan keduanya dan ambil kembali seluruh harga yang telah dibayarkan,” apakah ia berhak melakukan hal itu? Maka terdapat dua pendapat: salah satunya, ia berhak melakukannya; karena dengan cara itu ia dapat mengembalikan kerugian yang menimpanya dan menjadikan nilai sebagai pengganti dari yang hilang bagi pihak yang menerima pengembalian, tanpa memisahkan akad.
والقول الثاني ليس له ذلك؛ فإن القيمة ليست موردَ العقد وسبيل الفسخ أن يَرِدَ على ما وردَ عليهِ العقد ولا خلاف أن من اشترى عبداً وقبضه وتلف في يدهِ ثم اطلع على عيب بهِ فأراد بذلَ قيمتِه وإيرادَ الفسخ عليها لم يكن له ذلك فليكن الأمر كذلك في أحد العبدين
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak berhak melakukan hal itu; karena nilai bukanlah objek akad, dan cara pembatalan harus kembali pada apa yang menjadi objek akad. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seseorang yang membeli seorang budak, lalu menerimanya, kemudian budak itu rusak di tangannya, lalu ia mengetahui adanya cacat pada budak tersebut dan ingin mengganti dengan nilai budak itu serta membatalkan akad atas nilai tersebut, maka ia tidak berhak melakukan hal itu. Maka hendaknya perkara ini juga berlaku pada salah satu dari dua budak.
وقد تقدم في تفصيلِ المذهب في العيب الحادث في يد المشتري مع الاطلاع على العيب القديم أنه لو أراد ضمَّ أرش العيب الحادث إلى المبيع وردَّهما فهل يجبر البائع على قبول ذلك وردِّ الثمن وقد قال الأئمة ردُّ قيمةِ أحدِ العبدين مع العبد القائم أبعدُ عن الجَوازِ؛ من جهة أن العبدَ التالفَ مبيعٌ مقصودٌ وينفسخ العقد بتلفهِ في يد البائع فردُّ قيمةِ مقصود أبعدُ من ردَّ أرش نقصانٍ لا يتأصل
Telah dijelaskan sebelumnya dalam perincian mazhab mengenai cacat yang terjadi di tangan pembeli bersamaan dengan diketahuinya cacat lama, bahwa jika pembeli ingin menambahkan kompensasi (arsh) atas cacat yang baru terjadi pada barang yang dibeli dan mengembalikan keduanya, apakah penjual wajib menerima hal itu dan mengembalikan harga barang? Para imam berpendapat bahwa mengembalikan nilai salah satu dari dua budak bersama budak yang masih ada lebih jauh dari kebolehan; karena budak yang telah rusak adalah barang yang menjadi tujuan utama dan akad batal dengan rusaknya barang tersebut di tangan penjual. Maka, mengembalikan nilai barang yang menjadi tujuan utama lebih jauh (dari kebolehan) dibandingkan mengembalikan kompensasi atas kekurangan yang tidak bersifat mendasar.
ولا خلاف أن العبدَ إذا عابَ في يد البائع لم يُقضَ بانفساخ العقد في شيء وليس للمشتري إلا الخيارُ في الفسخ والإجازة كما تقدَّم
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa apabila budak mengalami cacat saat masih di tangan penjual, maka tidak diputuskan batalnya akad dalam hal apa pun, dan pembeli hanya memiliki hak memilih antara membatalkan atau melanjutkan akad, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فإن قُلنا للمشتري ردُّ العبدِ والقيمةِ فلا كلام وإن قلنا ليس له ذلك فيرجع بأرش العيب القديمِ
Jika kita katakan kepada pembeli bahwa ia boleh mengembalikan budak dan nilai harganya, maka tidak ada masalah. Namun jika kita katakan bahwa ia tidak boleh melakukan hal itu, maka ia berhak menuntut kompensasi (arsh) atas cacat lama.
ومن تمام تفريع هذا أنه لو طلب أرشَ العيب القديم فقال البائع اغرم لي قيمةَ العبد التالف وارددها مع العبد القائم فهل يجبر المشتري على هذا الحكم إن أراد استدراك الظُّلامة فعلى قولين
Sebagai penyempurnaan dari cabang masalah ini, jika pembeli menuntut kompensasi atas cacat lama, lalu penjual berkata, “Bayarlah kepadaku nilai budak yang telah rusak dan kembalikan nilai itu bersamaan dengan budak yang masih ada,” maka apakah pembeli dipaksa untuk menerima ketentuan ini jika ia ingin menuntut keadilan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وقد أجرينا مثل هذا في أرش العيب الحادث وذكرنا الخلاف في مُطالبة البائع المشتري ومطالبةِ المشتري البائعَ
Kami telah melakukan hal yang serupa dalam pembahasan arsy al-‘ayb yang terjadi, dan kami telah menyebutkan perbedaan pendapat mengenai tuntutan penjual kepada pembeli dan tuntutan pembeli kepada penjual.
وهذا آخر القول في أصول تفريق الصفقة أتينا به على أكمل وجه وأشمله
Inilah akhir pembahasan mengenai ushul tafriq ash-shafqah yang telah kami sampaikan dengan cara yang paling sempurna dan paling lengkap.
ونحن نرسم وراءها فروعاً
Dan kami menggambarkan cabang-cabang di belakangnya.
فرع
Cabang
إذا قال بعتُك هذين الصاعين بدرهمٍ فقال المخاطب اشتريت أحدهما بنصف درهم فالبيع مردود؛ فإن الصفقة متحدة؛ فلا سبيل إلى تبعيضِها في الجوابِ وهذا متَّفَقٌ عليهِ وإن حكمنا بأن الفسادَ في بعض مضمون العقد لا يتَداعَى إلى فساد باقيه وإن كان يصح إفرادُه بالعقدِ
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu dua sha‘ ini seharga satu dirham,” lalu orang yang diajak bicara menjawab, “Aku membeli salah satunya seharga setengah dirham,” maka jual beli tersebut batal; karena akadnya satu kesatuan, sehingga tidak boleh dibagi dalam jawabannya. Hal ini telah menjadi kesepakatan, meskipun kami berpendapat bahwa kerusakan pada sebagian isi akad tidak serta-merta menyebabkan rusaknya bagian lain, meskipun bagian itu sah jika diakadkan secara terpisah.
ولو زوج الرجل أمتيه من عبدٍ فقال العبد قبلت نكاح إحداهما فقد قطع الشيخ أبو علي بصحة النكاح وفرق بين النكاح والبيع وهذا محتمل ولو قيل يجب تخريج ذلك على ما قدمناه في أحكام التفريق من أن الرجل إذا نكح مسلمةً ومجوسيةً في عقد واحدٍ فهل يخرج فسادُ نكاح المسلمة على تفريق الصفقة أم يقطع بصحة النكاح فيها لكان حسناً فإن أفسدنا النكاحَ في المسلمةِ بسبب التفريق وجب القطع بأن تفريقَ القبولِ يمنع صحةَ النكاح وإن صححنا النكاح في المسلمة وفرقنا بين النكاح وبين البيع في الترتيبات المقدمة لم يبعد على ذلك الحكمُ بصحة النكاح في الصورة التي ذكرناها
Jika seorang laki-laki menikahkan dua budak perempuannya dengan seorang budak laki-laki, lalu budak laki-laki itu berkata, “Aku terima nikah salah satu dari keduanya,” maka Syaikh Abu Ali memutuskan sahnya akad nikah tersebut dan membedakan antara nikah dan jual beli, dan hal ini memungkinkan. Jika dikatakan bahwa hal ini harus dikeluarkan (ditafsirkan) berdasarkan apa yang telah kami sebutkan dalam hukum-hukum tafriq (pemisahan), yaitu jika seorang laki-laki menikahi seorang wanita muslimah dan seorang wanita majusi dalam satu akad, apakah rusaknya nikah wanita muslimah itu mengikuti hukum tafriq shafqah (pemisahan transaksi), ataukah diputuskan sahnya nikah pada wanita muslimah saja, maka itu adalah pendapat yang baik. Jika kita menganggap rusaknya nikah pada wanita muslimah karena tafriq, maka harus diputuskan bahwa pemisahan dalam penerimaan (ijab kabul) mencegah sahnya nikah. Namun jika kita mensahkan nikah pada wanita muslimah dan membedakan antara nikah dan jual beli dalam urutan-urutan yang telah disebutkan sebelumnya, maka tidak jauh kemungkinan untuk memutuskan sahnya nikah pada kasus yang telah kami sebutkan.
فرع
Cabang
إذا اشترى عشرين درهماً بدينارٍ وأقبض الدينارَ وقبض من الدراهم تِسعةَ عشرَ وتفرقا قبل قبض الدرهم انفسخ العقد في الدرهم وما يقابله من الدينار وهل ينفسخ في الباقي فعَلى قولين كما تمهَّد في أصول التفريق فإن قلنا لا ينفسخ في الباقي فهل يثبت الخيارُ للمشتري الذي لم يقبض تمام حقه فعلى أوجهٍ أحدُها له الخيار؛ طرداً لقاعدة الخيار عند تبغض مقصودِ العقد
Jika seseorang membeli dua puluh dirham dengan satu dinar, lalu ia menerima dinar tersebut dan menerima sembilan belas dirham dari penjual, kemudian mereka berpisah sebelum menerima satu dirham sisanya, maka akad menjadi batal pada satu dirham tersebut beserta bagian dinar yang sepadan dengannya. Adapun apakah akad juga batal pada sisanya, terdapat dua pendapat sebagaimana telah dijelaskan dalam kaidah pemisahan. Jika kita berpendapat bahwa akad tidak batal pada sisanya, maka apakah pembeli yang belum menerima seluruh haknya berhak mendapatkan khiyar (hak memilih untuk melanjutkan atau membatalkan akad)? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat; salah satunya adalah ia berhak mendapatkan khiyar, sesuai dengan kaidah khiyar ketika tujuan utama akad menjadi tidak menyenangkan.
والثاني لا خيار له؛ فإنه هو الذي سعى في هذا التبعيضِ والمسألةُ مفروضة فيه إذا تفرقا عن اختيارٍ
Yang kedua tidak memiliki hak khiyar; sebab dialah yang menyebabkan terjadinya pemisahan ini, dan masalah ini diasumsikan terjadi apabila keduanya berpisah atas dasar pilihan.
والوجه الثالث أنهما إن علما أن العقد ينفسخ في الباقي وتفرقا على قصدٍ فلا خيار فيما جرى التقابض فيه وإن لم يعلما ذلكَ ثبت الخيار للمشتري
Pendapat ketiga, jika keduanya mengetahui bahwa akad akan batal pada bagian yang tersisa dan mereka berpisah dengan sengaja, maka tidak ada hak khiyar pada bagian yang telah terjadi serah terima; namun jika mereka tidak mengetahui hal itu, maka hak khiyar tetap ada bagi pembeli.
فرع
Cabang
إذا نكح امرأتين وأصدقهما عبداً وقُلنا يصح الصداقُ مُوزَّعاً على مهريهما على ما سيأتي تمهيدُ هذا الأصل في الصداق فلو بان فساد نكاحِ إحداهما وارتد ما ثبت في العبد صداقاً لها وثبت قسط من العبد صداقاً للتي صحّ نكاحُها قال الشيخُ للزوج الخيارُ في حق هذه التي صح نكاحُها في رَدّ المسمى صداقاً لها والرجوعُ إلى مهر المثل والسبب فيه أن العقدَ تبعّض عليه لمَّا بان فسادُ نكاح إحداهما والتبعيض عيبٌ فليتخير لذلك
Jika seseorang menikahi dua wanita dan memberikan mahar kepada keduanya berupa seorang budak, dan kita katakan bahwa mahar itu sah dibagi antara mahar keduanya—sebagaimana akan dijelaskan dasar ini dalam pembahasan mahar—lalu ternyata pernikahan salah satu dari keduanya batal, maka bagian budak yang menjadi mahar untuk yang batal pernikahannya menjadi gugur, dan bagian budak yang menjadi mahar untuk yang sah pernikahannya tetap berlaku. Syekh berkata, suami memiliki hak memilih terhadap wanita yang sah pernikahannya, yaitu antara mengembalikan mahar yang telah disebutkan untuknya dan kembali kepada mahar mitsil. Sebabnya adalah karena akad tersebut menjadi terbagi setelah diketahui batalnya pernikahan salah satu dari keduanya, dan pembagian seperti ini merupakan cacat, maka suami diberi hak memilih karena hal itu.
هكذا قال وقد عرضتُ هذا على الشيخ يعني القفالَ فرآه صواباً ورضيه
Demikianlah yang dikatakannya, dan aku telah mengajukan hal ini kepada Syekh, yaitu al-Qaffal, lalu beliau memandangnya benar dan menerimanya.
وهذا مشكِل عندي فإن التبعيض لم يأت من قِبل هذه التي صح نكاحها فاسترجاع ما صح صداقاً لها بعيدٌ ولا يبعد أن ينتسب الزوج في هذا إلى قلّة التحفظ وتركِ البحث عن حال التي فسدَ نكاحها
Ini menjadi persoalan bagi saya, karena pemisahan itu tidak berasal dari pihak perempuan yang sah pernikahannya, sehingga mengembalikan mahar yang telah sah menjadi miliknya adalah sesuatu yang jauh (tidak tepat). Tidaklah jauh kemungkinan bahwa suami dalam hal ini dianggap kurang berhati-hati dan tidak meneliti keadaan perempuan yang pernikahannya rusak.
فرع
Cabang
ذكرنا اختلافَ القول فيه إذا اشترى الرجل عبدين فأرادَ رَدّ أحدِهما بالعيب فلو اشترى عبداً فوجد به عيباً فأرادَ رَدَّ نصفه فالذي قطع به الأصحاب امتناعُ ذلك؛ من جهة أن التبعيضَ عيبٌ فلو أثبتنا له ردَّ نصفِه لكان قابضاً بعيبٍ رادّاً بعيبين وقال الشيخُ رأيت لبعض أصحابنا أن المسألة تخرج على قولين فيها وقد رأيتُ هذا لصاحب التقريب
Kami telah menyebutkan perbedaan pendapat dalam hal ini jika seseorang membeli dua budak lalu ingin mengembalikan salah satunya karena cacat. Maka, jika seseorang membeli satu budak lalu mendapati ada cacat padanya dan ingin mengembalikan setengahnya, pendapat yang dipastikan oleh para sahabat adalah tidak bolehnya hal itu; karena pemisahan (taba‘īḍ) itu sendiri merupakan cacat. Jika kami membolehkan dia mengembalikan setengahnya, berarti dia menerima dengan satu cacat dan mengembalikan dengan dua cacat. Syekh berkata, “Aku melihat sebagian sahabat kami menyatakan bahwa masalah ini memiliki dua pendapat di dalamnya, dan aku juga melihat hal ini disebutkan oleh penulis at-Taqrīb.”
وهو خطأ عندي غيرُ معتد به
Menurut saya, itu adalah kesalahan yang tidak dapat dijadikan pegangan.
والذي ذكره الأئمّةُ أنه لو اشترى عبداً وباع نصفه ثم اطلع على عيبٍ قديمٍ به فأراد ردَّ النصفِ الثاني مع ضمه أرشَ عيب التبعيض فهو يندرج تحت التفاصيل المقدَّمةِ في العيب القديم والعيب الحادث
Para imam menyebutkan bahwa jika seseorang membeli seorang budak lalu menjual setengahnya, kemudian ia mengetahui adanya cacat lama pada budak tersebut dan ingin mengembalikan setengah yang tersisa dengan menambahkan kompensasi cacat akibat pemisahan, maka hal ini termasuk dalam rincian yang telah dijelaskan sebelumnya mengenai cacat lama dan cacat yang baru terjadi.
فرع
Cabang
إذا باع عبداً وحُرّاً من إنسانٍ وكان المشتري جاهلاً بحقيقة الحال فالمسألةُ على قولي تفريق الصفقة ولا يتغيّر الأمر بعلم البائع
Jika seseorang menjual seorang budak dan seorang yang merdeka kepada seseorang, dan pembeli tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka permasalahan ini menurut dua pendapat adalah termasuk tafrīq ash-shafqah (pemisahan transaksi), dan keadaan tidak berubah meskipun penjual mengetahui hal tersebut.
ولو كانا عالمين بحقيقة الحَالِ فقد كان شيخي الإمام يقول الوجه القطع بالبطلان وتنزل المسألة منزلة ما لو قال الرجل لمن يخاطبه بعتُك عبدي هذا بما يخُصّه من ألفٍ لو وزع عليه وعلى قيمة فلان
Jika keduanya mengetahui hakikat keadaan sebenarnya, guru saya, Imam, biasa mengatakan bahwa pendapat yang benar adalah memastikan batalnya (akad tersebut), dan permasalahan ini disamakan dengan kasus ketika seseorang berkata kepada orang yang dia ajak bicara, “Aku telah menjual budakku ini kepadamu dengan bagian seribu yang khusus baginya, jika dibagi antara dia dan nilai si Fulan.”
وهذا عندي غيرُ سديدٍ والوجه طردُ القولين في الأصلِ نعم يجوز أن يتخيل في صورة العِلم اتجاه قولنا في وقوع كل الثمن في مقابلة العبدِ على أنه خيالٌ أيضاًً؛ فإن تيك المسائل بتفريعاتها مدار على مقتضى الألفاظ نعم إن كنا نقول العقد يُجاز في العبدِ بقسطٍ من الثمن فلا وجه لاثبات الخيارِ للمشتري؛ فإن العلم بحقيقة الحال ينافي ثبوتَ الخيار
Menurut pendapat saya, hal ini tidaklah tepat, dan yang benar adalah mengikuti dua pendapat dalam permasalahan pokok. Memang, boleh saja dibayangkan dalam kasus pengetahuan (pembeli) bahwa pendapat kami tentang jatuhnya seluruh harga sebagai imbalan atas budak itu juga hanya sebatas dugaan; sebab permasalahan-permasalahan tersebut dengan rincian-rinciannya bergantung pada makna lafaz. Namun, jika kita berpendapat bahwa akad dapat dibenarkan atas budak dengan sebagian dari harga, maka tidak ada alasan untuk menetapkan hak khiyar bagi pembeli; karena pengetahuan tentang keadaan yang sebenarnya bertentangan dengan penetapan hak khiyar.
فرع
Cabang
إذا قبض المشتري العبدين وتلف أحدُهما وجعلنا له أن يردَّ العبد القائم وقيمةَ التالف فلو اختلف البائع والمشتري في مقدار قيمة العبد التالف فالقولُ قولُ المشتري باتفاق الأصحاب؛ فإنه الغارم وإذا تنازع الغارم والمغروم له فالرجوعُ إلى قول الغارم؛ لأن الأصل براءةُ ذمَّتهِ
Jika pembeli telah menerima dua budak tersebut lalu salah satunya rusak, dan kami menetapkan bahwa ia boleh mengembalikan budak yang masih ada beserta nilai budak yang rusak, maka jika penjual dan pembeli berselisih mengenai besarnya nilai budak yang rusak, pendapat yang dipegang adalah pendapat pembeli menurut kesepakatan para ulama; karena dialah yang menanggung kerugian. Dan apabila terjadi perselisihan antara pihak yang menanggung kerugian (ghārim) dan pihak yang menerima ganti rugi (maghrūm lahu), maka yang dijadikan pegangan adalah pendapat pihak yang menanggung kerugian; karena pada dasarnya tanggungannya dianggap bebas dari kewajiban.
وكذلك لو باع رجل ثوباً بعبد وجرى التقابضُ ثم تلف العبدُ في يد قابضهِ ووجد قابضُ الثوب عيباً بما قبضَه فإنه يردُّه وإن كان عِوضه تالفاً؛ فإن الاعتبارَ بوجود المردود ولو تلف أحدُ العوضين في يد قابضه ومقابلُه باقٍ فأراد من تلف في يده ما قبضه أن يغرَم قيمتَه ويردها بناء على وجود المقابل لم يكن له ذلك فالتعويل في ثبوت الرد ونفيه على وجود المردود وعدمه فإذا كان موجوداً فيردّه وإن كان مقابله تالفاً فإنه يسترد قيمتَه
Demikian pula, jika seseorang menjual kain dengan imbalan seorang budak, lalu terjadi serah terima, kemudian budak itu rusak di tangan penerimanya, dan penerima kain menemukan cacat pada kain yang diterimanya, maka ia boleh mengembalikannya meskipun imbalannya telah rusak; karena yang menjadi pertimbangan adalah keberadaan barang yang dikembalikan. Jika salah satu dari dua imbalan rusak di tangan penerimanya sementara pasangannya masih ada, lalu orang yang barangnya rusak di tangannya ingin membayar nilainya dan mengembalikannya dengan alasan masih adanya pasangan barang tersebut, maka ia tidak berhak melakukan itu. Penentuan sah atau tidaknya pengembalian bergantung pada ada atau tidaknya barang yang dikembalikan. Jika barang itu masih ada, maka ia boleh mengembalikannya meskipun pasangannya telah rusak, dan ia berhak menuntut nilai barang tersebut.
ولو اختلفا في مقدار القيمة فالقول قولُ غارمِ القيمة؛ بناء على الأصل الذي قدمناه
Jika keduanya berselisih mengenai besaran nilai, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan pihak yang menanggung nilai tersebut; berdasarkan kaidah yang telah kami sebutkan sebelumnya.
ولو مات أحد العبدين في يدِ المشتري وقلنا له أن يردَّ العبدَ القائم من غيرِ قيمة التالف ويستردَّ قسطاً من الثمن وكان لا يتأتى الرجوعُ إلى قسطِ الثمنِ إلا بتوزيعهِ على قيمةِ القائم وقيمةِ التالف فاختلفا في قيمة التالف فالقول قول من
Jika salah satu dari dua budak itu meninggal di tangan pembeli, dan kami mengatakan kepadanya bahwa ia harus mengembalikan budak yang masih ada tanpa membayar nilai budak yang rusak, serta mengambil kembali bagian dari harga, dan pengembalian bagian harga itu tidak dapat dilakukan kecuali dengan membaginya atas nilai budak yang masih ada dan nilai budak yang telah rusak, lalu mereka berselisih pendapat tentang nilai budak yang rusak, maka pendapat siapa yang dipegang?
فعلى قولين أحدُهما أن القول قولُ البائع؛ فإنه يسترد منه شيء من الثمن قد تقدَّم استحقاقه فيه فعلى المشتري أن يبيّن استحقاقَ الاسترداد
Menurut dua pendapat, salah satunya adalah bahwa pendapat yang dipegang adalah pendapat penjual; sebab ia akan mengambil kembali sebagian dari harga yang sebelumnya telah menjadi haknya, maka pembeli harus menjelaskan alasan pengembalian tersebut.
والقول الثاني أن القول قولُ المشتري؛ فإن البائع يدَّعي استقرارَ ملكه على مقدار فلا يقبل قولُه مع بدوّ العيب القديمِ وهذا فيه احتمالٌ على حال ولعل الأصح الرجوعُ إلى قول البائع ويمينه
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dipegang adalah pernyataan pembeli; karena penjual mengklaim bahwa kepemilikannya telah tetap atas jumlah tertentu, maka pernyataannya tidak diterima ketika ditemukan cacat lama. Namun, dalam hal ini terdapat kemungkinan lain, dan barangkali pendapat yang lebih kuat adalah kembali kepada pernyataan penjual beserta sumpahnya.
فإن قيل أطلقتم القيمةَ ولم تذكرُوا تفصيلَها وأنها تُعتبر بأي وقتٍ؛ قُلنا هذا سَيُذكَر في باب التحالف ولعلنا نذكر فيه ما يتعلق بأطراف هذا الفَصل إن شاء الله عز وجل
Jika dikatakan, “Kalian telah menyebutkan nilai (al-qīmah) secara umum dan tidak merincinya, serta tidak menjelaskan pada waktu kapan ia diperhitungkan,” maka kami katakan, hal ini akan disebutkan dalam bab at-tahālu f, dan mungkin kami akan menyebutkan di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan bagian akhir pembahasan ini, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
Bab Perselisihan antara Dua Pihak yang Berjual Beli
قواعد الباب يجمعُها فصول ونحن نذكرُها على ترتيبها ثم نتعرض لما يشذُّ منها
Kaedah-kaedah dalam bab ini terkumpul dalam beberapa fasal, dan kami akan menyebutkannya sesuai urutannya, kemudian kami akan membahas hal-hal yang menyimpang darinya.
الفصل الأول
Bab Pertama
في الاختلاف ومعناه
Tentang perbedaan dan maknanya
فليعتقد المنتهي إلى الباب أن المتبايعين إذا اختلفا في صفةِ العقدِ على ما سنصف اختلافَهما فإنهما يتحالفانِ ثم يفسخ العقد بينهما أو ينفسخ
Maka hendaklah orang yang telah sampai pada pembahasan ini meyakini bahwa apabila dua pihak yang melakukan jual beli berselisih mengenai sifat akad sebagaimana akan kami jelaskan bentuk perselisihan mereka, maka keduanya saling bersumpah, kemudian akad antara mereka dibatalkan atau menjadi batal.
والذي يقتضيه الترتيبُ وصفُ اختلافِهما ثم وصفُ أيمانهما ثم بيان الحكم إذا تحالفَا
Yang dituntut oleh urutan adalah menjelaskan perbedaan keduanya terlebih dahulu, kemudian menjelaskan sumpah keduanya, lalu menerangkan hukum apabila keduanya saling bersumpah.
فأمَّا الاختلاف؛ فإن اتفقا على المبيع واختلفا في مقدار الثمن فقالَ البائع بعتُه بألف وقال المشتري بل بخمسمائةٍ أو اختلفا في جنس الثمن فذكر أحدُهما الدراهم وذكر الآخر الدنانير فالاختلاف على هذه الوجوه يتضمن التحالف
Adapun mengenai perselisihan; jika kedua belah pihak sepakat mengenai barang yang dijual namun berselisih tentang jumlah harga, misalnya penjual berkata, “Aku menjualnya seharga seribu,” sedangkan pembeli berkata, “Bukan, melainkan seharga lima ratus,” atau mereka berselisih mengenai jenis harga, salah satunya menyebut dirham dan yang lain menyebut dinar, maka perselisihan dalam bentuk-bentuk seperti ini mengandung unsur tahāluf (saling bersumpah).
وكذلك لو اتفقا على المبيع كما ذكرناه واختلفا في عين الثمن فقال البائع بعتك داري هذه بهذا الثوب وقال المشتري بل بعتنيها بهذا العبد فهذا يتضمن التحالف
Demikian pula, jika keduanya telah sepakat mengenai objek yang dijual seperti yang telah disebutkan, namun berselisih tentang jenis harga, misalnya penjual berkata, “Aku telah menjual rumahku ini kepadamu dengan kain ini,” sedangkan pembeli berkata, “Bahkan engkau telah menjualnya kepadaku dengan budak ini,” maka hal ini mengandung konsekuensi tahāluf (saling bersumpah).
ولو قال البائع بعتك داري هذه بعبدك هذا و قال صاحبه بعتَني بستانَك هذا بثوبي هذا فما اجتمعَا على ثمنٍ ولا مُثمّنٍ فليسَ هذا من مقصودالباب؛ فإن غرض الباب يستدعي اتحادَ العقد واختلافَهما في الصفة حتى إذا فرض التحالف ابتنى عليهِ التفاسخ في العقد الواحد بينهما وإذا ذَكر أحدُهما ثمناً ومثمناً مُعيَّنين وذكر الآخر ثمناً ومثمناً آخرين فقولاهما راجعان إلى عقدين فالوجه فيهِ أن يدعي كل واحدٍ العقدَ الذي يذكرُه وصاحبُه إذا استمرَّ على نفيه فالبينةُ على المدعي واليمين على من أنكر
Jika penjual berkata, “Aku menjual rumahku ini kepadamu dengan budakmu ini,” dan pemilik budak berkata, “Engkau telah menjual kebunmu itu kepadaku dengan kainku ini,” maka keduanya tidak sepakat pada harga maupun barang yang diperjualbelikan, sehingga hal ini bukan termasuk maksud dari pembahasan bab ini; sebab tujuan bab ini mensyaratkan adanya kesatuan akad dan perbedaan keduanya hanya pada sifatnya, sehingga jika terjadi perbedaan sumpah (tahalluf), maka akan berakibat pada pembatalan akad yang satu di antara mereka. Jika salah satu dari mereka menyebutkan harga dan barang tertentu, dan yang lain menyebutkan harga dan barang yang lain, maka ucapan keduanya kembali kepada dua akad yang berbeda. Dalam hal ini, masing-masing mengklaim akad yang ia sebutkan, dan jika lawannya tetap menolaknya, maka bukti (bukti syar‘i) dibebankan kepada yang mengklaim, dan sumpah dibebankan kepada yang mengingkari.
وكذلك لو ادّعَى مالك الدار أنه باعها بألفٍ من زيد فقال زيد بل وهبتنيها فليس هذا من الباب؛ فإنهما تَدَاعَيا عقدين فكل واحد منهما منكر لما يدعي صاحبُه
Demikian pula, jika pemilik rumah mengklaim bahwa ia telah menjual rumahnya kepada Zaid seharga seribu, lalu Zaid berkata, “Bahkan, engkau telah memberikannya kepadaku sebagai hibah,” maka ini bukan termasuk dalam pembahasan ini; karena keduanya saling mengklaim dua akad yang berbeda, sehingga masing-masing dari mereka mengingkari apa yang diklaim oleh pihak lainnya.
ولو اختلفا في عين المبيع واتفقا في عَين الثمن وكان الثمن مُعَيّناً فهذا موضع التخالف المقصود في الباب؛ فإنهما اتفقَا على أحد العوضين وارتبط العقد به ورجع الاختلاف بعده إلى تفصيل العقد وبمثله لو اختلفا في عين المبيع وذكرا ثمناً في الذمة لم يختلفا فيه مقداراً وجنساً مثل أن يقول أحدُهما بعتُك عبدي هذا بألفٍ ويقول المشتري بل بعتني جاريتكَ هذه بألف فكيف السبيل والاختلاف كذلك ذكر العراقيون أن هذا من باب التَّداعِي في عقدين فإن المبيع مختلَفٌ فيه والثمن ليس بمتعيَّن حتى يعتقد مرتَبطاً للعقد
Jika keduanya berselisih tentang objek barang yang dijual, namun sepakat mengenai objek harga, dan harga tersebut telah ditentukan, maka inilah letak perbedaan yang dimaksud dalam bab ini; sebab keduanya telah sepakat pada salah satu dari dua pengganti (barang atau harga), dan akad pun terikat dengannya, lalu perselisihan setelah itu kembali pada rincian akad. Demikian pula jika keduanya berselisih tentang objek barang yang dijual dan menyebutkan harga dalam bentuk utang yang tidak diperselisihkan jumlah dan jenisnya, seperti salah satu dari mereka berkata, “Aku telah menjual budakku ini kepadamu seharga seribu,” dan pembeli berkata, “Tidak, engkau telah menjual budak perempuanmu ini kepadaku seharga seribu.” Maka bagaimana jalan keluarnya jika terjadi perselisihan seperti itu? Ulama Irak menyebutkan bahwa ini termasuk bab at-tadā‘ī (saling mengklaim) dalam dua akad, karena barang yang dijual diperselisihkan, sedangkan harga belum ditentukan sehingga dianggap sebagai pengikat akad.
فالطريق على مذهبهم فصلُ الخصومةِ عن الخصومةِ فبينهما عقدان يتداعيانهما كما تقدَّم نظائر هذا
Menurut mazhab mereka, cara yang ditempuh adalah memisahkan satu perkara sengketa dari perkara sengketa lainnya, karena di antara keduanya terdapat dua akad yang dipersengketakan oleh kedua belah pihak, sebagaimana telah disebutkan contoh-contoh serupa sebelumnya.
وفي طُرق المراوزة ما يدل أن التحالف يجري في هذا؛ فإنَّ الألْفَ متفقٌ عليه
Dalam riwayat-riwayat dari para ulama Marw terdapat petunjuk bahwa sumpah dapat dilakukan dalam masalah ini; karena seribu (dirham) telah disepakati.
والكلام في جهة ثبوته والعِوضُ الثابت ديناً مملوك كالعوض المسمى عيناً
Pembahasan mengenai sisi penetapannya, dan kompensasi yang ditetapkan sebagai utang adalah milik, sebagaimana kompensasi yang disebutkan secara tunai.
وللعراقيين أن يقولوا الألف الذي يدَّعيه أحدُهما غيرُ الألف الذي يعترف به الثاني ويتصور التزام ألفين من جهتين فالتعيين لا يتحقق في الألف وليس كالعين يتعين ملكاً
Orang-orang Irak dapat berpendapat bahwa seribu yang diklaim oleh salah satu dari keduanya berbeda dengan seribu yang diakui oleh yang kedua, dan dapat dibayangkan adanya kewajiban dua seribu dari dua sisi, sehingga penetapan tidak terjadi pada seribu tersebut dan tidak seperti barang tertentu yang dapat ditetapkan sebagai milik.
وهذا الذي ذكَرُوه مع ما ذكرهُ المراوزة بلتفت على أصلٍ سيأتي في الدعاوى وهو أن رجلاً لو اعترفَ بألف لإنسان عن جهةِ ضمان وأنكر المقَرُّ لهُ الضمانَ وادَّعى عليه ألفاً عن جهةٍ أخرى أنكرها المقِر ففي وجوب الألف على المقر خلافٌ مشهورٌ
Apa yang mereka sebutkan ini, bersama dengan apa yang disebutkan oleh para ulama Marw, berkaitan dengan suatu kaidah yang akan dijelaskan dalam bab gugatan, yaitu: jika seseorang mengakui memiliki utang seribu kepada seseorang lain karena sebab dhaman (jaminan), lalu orang yang diakui tersebut mengingkari adanya dhaman dan menuntut seribu dari sebab lain yang diingkari oleh orang yang mengakui, maka dalam hal kewajiban membayar seribu atas orang yang mengakui terdapat perbedaan pendapat yang masyhur.
ولو اعترف رجل بالملكِ في عَينٍ لإنسانِ عن جهةِ فأنكر المقَرّ له تلكَ الجهة وادَّعى الملكَ بجهةٍ أخرى فلا خلاف في وجوب تسليم العين إلى المقرّ له
Jika seseorang mengakui kepemilikan suatu benda kepada orang lain berdasarkan suatu alasan, lalu orang yang diakui kepemilikannya itu mengingkari alasan tersebut dan mengklaim kepemilikan dengan alasan lain, maka tidak ada perbedaan pendapat tentang wajibnya menyerahkan benda tersebut kepada orang yang diakui kepemilikannya.
فهذا مضطرب للفريقين والمسألةُ محتملةٌ ويظهر فائدةُ ما ذكرناه في الفسخ
Hal ini membingungkan bagi kedua kelompok, dan masalah ini masih memungkinkan untuk diperdebatkan. Tampaklah manfaat dari apa yang telah kami sebutkan mengenai pembatalan.
فإن اعتقدنا الألف في حكم العين المتَّحدة فإذا جرى التحالف فسخنا العقدَ وقد نقول ينفذ الفسخُ باطناً كما سيأتي شرحه إن شاء اللهُ فيثبت ما بينهما وإن لم نر هذا تَحالُفاً في مقصود الباب فتُفصلُ الخصومتان بطريق فَصلِهما ولا فسخ ولا انفساخَ والمبطل منهما في علم الله مطالبٌ بما عليهِ طرداً لقياس الخصومات
Jika kita menganggap alif dalam hukum seperti ‘ain yang satu, maka apabila terjadi sumpah saling menolak (tahālu f), kita membatalkan akad, dan terkadang kami mengatakan bahwa pembatalan itu berlaku secara batin sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah, sehingga tetap berlaku apa yang ada di antara keduanya. Namun jika kita tidak melihat ini sebagai tahālu f dalam maksud pembahasan bab ini, maka kedua perselisihan itu diputuskan dengan cara pemisahan masing-masing, tanpa ada pembatalan atau batal dengan sendirinya, dan pihak yang batil di antara keduanya menurut ilmu Allah tetap dituntut atas kewajibannya, sesuai dengan qiyās dalam perkara-perkara perselisihan.
وممَّا يتعلق بصفة الاختلافِ أن الزوائد التي تثبت بالشرط إذا فرض النزاع فيها فالحكمُ التحالف عندنا مثل أن يدعي البائع شرطَ الرَّهن أو الكفيل أو شرط البراءة إذا رأينا صحتَه أو يدعي المشتري شرطَ الأجل في الثمن أو شرطَ الكتابة وغيرِها في العبد المشترى فإذا جرى الدعوى والإنكار فحكم الحال التحالف عندنا ثم الفسخُ أو الانفساخ بمثابةِ الاختلاف في الثمن والمثمن
Adapun yang berkaitan dengan sifat perbedaan pendapat adalah bahwa tambahan-tambahan yang ditetapkan berdasarkan syarat, apabila terjadi perselisihan mengenai hal itu, maka hukum yang berlaku menurut kami adalah kedua belah pihak saling bersumpah. Misalnya, penjual mengklaim adanya syarat rahn (jaminan), kafīl (penanggung), atau syarat berlepas diri (barā’ah) jika kami memandang syarat itu sah, atau pembeli mengklaim adanya syarat penangguhan pembayaran harga, syarat penulisan (kitābah), dan selainnya pada budak yang dibeli. Maka apabila terjadi klaim dan penyangkalan, maka hukum yang berlaku menurut kami adalah kedua belah pihak saling bersumpah, kemudian dilakukan pembatalan atau batal dengan sendirinya, sebagaimana halnya perbedaan pendapat dalam harga dan barang yang diperjualbelikan.
وأبو حنيفة لا يثبت التحالف إلا عند فرضِ الاختلاف في الثمن أو المثمن فإذا صار إلى أن الأصل عدمُ الشرائط المدّعاة فليكن القولُ قولَ نافيها مع يمينهِ قلنا لا ننكر أن هذا قياس جَليٌّ في وضعه ولكن هذه الشرائط بمثابة مزيد الثمن إذا ادّعاه البائع على المشتري؛ فإن الأصل عدمُ التزامه وبَراءةُ ذمّةِ المشتري عنه ثم جرى التحالفُ فيه مع قيام السلعة وفاقاً فإن كان التعويل على الخبر فذكر الاختلاف في الخبر مطلقٌ لا تعرض فيه للثمن والمثمن وإن كنا نتكلف تقريب القول من جهةِ المعنى فنقول العقد متفق عليه والمتعاقدان مختلفان في صفته فكل واحدٍ منهما يدّعي صفةً وينكر صفةً وهذا متحقق والتداعي في الشرائط يحققه والتداعي في زيادةِ الثمن والمثمن
Abu Hanifah tidak menetapkan adanya sumpah berbalasan (tahāluf) kecuali ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai harga atau barang yang diperjualbelikan. Maka, jika kembali pada prinsip bahwa asalnya tidak ada syarat-syarat yang diklaim, seharusnya yang dijadikan pegangan adalah pernyataan orang yang menafikan syarat tersebut dengan sumpahnya. Kami katakan, kami tidak mengingkari bahwa ini adalah qiyās yang jelas dalam penerapannya. Namun, syarat-syarat ini posisinya seperti tambahan harga jika penjual mengklaimnya atas pembeli; karena pada dasarnya pembeli tidak berkewajiban menanggungnya dan tanggungannya bebas dari hal itu, namun tetap terjadi tahāluf dalam hal ini selama barangnya masih ada, menurut kesepakatan. Jika yang dijadikan dasar adalah hadis, maka penyebutan perbedaan dalam hadis itu bersifat umum, tidak secara khusus membahas harga dan barang. Jika kita berusaha mendekatkan pendapat dari sisi makna, maka kita katakan bahwa akadnya telah disepakati, namun kedua belah pihak berbeda pendapat mengenai sifat akad tersebut. Masing-masing mengklaim satu sifat dan menafikan sifat lainnya, dan hal ini benar-benar terjadi. Saling klaim dalam syarat-syarat membuktikan adanya perselisihan, demikian pula saling klaim dalam tambahan harga dan barang.
ومما خالف أبو حنيفة رحمه الله فيه الأجلُ مع العلم بأن التداعي فيه تداعٍ في المالية؛ فإن الألف المؤجل دون الألف الحالّ
Salah satu hal yang diselisihi oleh Abu Hanifah rahimahullah adalah mengenai tempo (waktu pembayaran), dengan pengetahuan bahwa perselisihan di dalamnya adalah perselisihan dalam hal nilai harta; sebab seribu yang ditangguhkan (pembayarannya) tidak sama dengan seribu yang tunai.
ولو اختلف المتعاقدان فادعى أحدُهما جريانَ شرطٍ مفسدٍ للعقد وأنكر الثاني فاختلف أصحابنا فمنهم من قالَ القول قول من ينفي الشرطَ؛ لأن الأصل عدمه ومنهم من قال القول قول من يثبته؛ فإن في إثباته نفيَ العقدِ
Jika kedua pihak yang berakad berselisih, lalu salah satunya mengklaim adanya syarat yang merusak akad sementara yang lain mengingkarinya, maka para ulama kami berbeda pendapat. Sebagian mereka berpendapat bahwa yang dipegang adalah pernyataan orang yang menafikan syarat tersebut, karena pada dasarnya syarat itu tidak ada. Sebagian lain berpendapat bahwa yang dipegang adalah pernyataan orang yang menetapkan adanya syarat, karena menetapkan syarat tersebut berarti meniadakan akad.
وبالجملة ليست هذه الصورة من صور التحالف لما ذكرنا الآن من أن التحالف يترتب على الاختلاف في صفةِ العقدِ مع الاعتراف بأصلهِ والنزاع في الصورة التي نحن فيها راجع إلى أصل العقد؛ فإن أحدهما يدَّعيه والثاني ينفيه
Secara keseluruhan, kasus ini bukan termasuk salah satu bentuk tahāluf, karena seperti yang telah kami sebutkan, tahāluf terjadi ketika terdapat perbedaan dalam sifat akad dengan pengakuan terhadap pokok akadnya. Adapun perselisihan dalam kasus yang sedang kita bahas ini kembali kepada pokok akad itu sendiri; sebab salah satu pihak mengakuinya, sementara pihak yang lain menolaknya.
وهذا الاختلاف قريبُ المأخذ من مسألة في الأقارير وهي أن الرجل إذا أقرَّ بألفٍ من ثمن خمرٍ فهل نلزمهُ الألف تعلُّقاً بصَدَرِ الإقرار أم نقول الكلام بآخرِه وليس في منتهاه ما يوجب ثبوتَ الألف
Perbedaan pendapat ini berkaitan erat dengan suatu permasalahan dalam bab iqrar, yaitu apabila seseorang mengakui berutang seribu dari harga khamar, apakah kita mewajibkan ia membayar seribu tersebut karena terkait dengan awal pengakuannya, ataukah kita mengatakan bahwa yang menjadi pegangan adalah akhir ucapannya, dan pada akhirnya tidak ada sesuatu yang mewajibkan penetapan seribu tersebut.
وذكر القاضي مسألةً ونحن ننقل جوابَه فيها أولاً ونذكر وجهَ الرأي وهو أن البائع لو قال بعتُك هذا العبدَ بهذَا الثوبِ وثوبٍ آخر تلف في يدك وقال المشتري بل اشتريتُه بهذا الثوب لا غير قال القاضي هذا يبتني على تفريق الصفقة في الانتهاء وما يقابل القائمَ من الثمن فإن قلنا ينفسخ العقد في القائم أيضاً فليس يدّعي البائع عقداً في الحال وإن قلنا جميع العِوَض يقف في مقابلةِ القائم فلا معنى للتحالف أيضاً؛ لأن البائع يلزمُه تسليم العبد على هذا القول فلا يستفيد
Qadhi menyebutkan suatu permasalahan, dan kami akan menyampaikan jawabannya terlebih dahulu, kemudian menyebutkan dasar pendapatnya. Permasalahannya adalah: jika penjual berkata, “Aku telah menjual budak ini kepadamu dengan kain ini dan kain lain yang telah rusak di tanganmu,” sedangkan pembeli berkata, “Aku membelinya hanya dengan kain ini saja, tidak lebih,” maka qadhi berkata: “Ini bergantung pada perincian akad dalam penyelesaian dan bagian harga yang masih ada. Jika kita katakan bahwa akad juga batal untuk barang yang masih ada, maka penjual tidak sedang mengklaim adanya akad saat ini. Namun, jika kita katakan bahwa seluruh imbalan (iwadh) tetap berhadapan dengan barang yang masih ada, maka tidak ada makna untuk saling bersumpah (tahalluf); karena menurut pendapat ini, penjual wajib menyerahkan budak tersebut, sehingga ia tidak mendapatkan manfaat.”
بما ذكره شيئاً وإن قلنا القائم الباقي يقابله قسطٌ من الثمن فهذا يُفضي إلى الخلاف في القدر المستحق من العبد فيترتب عليه التحالف حينئذٍ؛ فإنه تنازع في مقدار الثمن أوّلاً مقتضاه دوام النزاع في مقدار البدل آخراً
Apa yang telah disebutkan tidak berpengaruh, dan jika kita katakan bahwa bagian yang masih ada dan tersisa itu berhak atas bagian dari harga, maka hal ini akan mengakibatkan perselisihan tentang besaran hak yang dimiliki dari budak tersebut, sehingga akan berujung pada saling bersumpah; sebab, jika terjadi perselisihan tentang besaran harga pada awalnya, maka konsekuensinya adalah perselisihan yang terus-menerus tentang besaran pengganti pada akhirnya.
وهذا الذي ذكرهُ حسنٌ سديد في أطرافه ولكن يتطرق الكلام إلى شيء منه وهو أنا إذا قلنا البدل في مقابلة الباقي القائم فهذه الحالةُ لو جرت تضمّنت خيار البائع والمشتري ينكره فقد أدَّى التنازعُ إلى تناكُرٍ في الخيار وهو مستند إلى نزاع في المعقود عليه وإذا ظهرت فائدة وقد استند النزاع إلى صفة العقد في الأصل اتَّجه التحالفُ؛ فإنهما لو تنازعا في شرط الخيار تحالفا مع كون الخيار زائداً مائلاً عن مقصود العقد فما الظن بخيار يقتضيه النزاع في أصل المقصودِ
Apa yang disebutkan di atas adalah baik dan tepat dalam berbagai aspeknya, namun terdapat pembahasan yang perlu diperhatikan, yaitu apabila kita mengatakan bahwa pengganti (badal) itu sebagai imbalan dari sisa yang masih ada, maka dalam keadaan seperti ini jika terjadi, akan mengandung hak khiyar bagi penjual dan pembeli, yang mungkin salah satunya mengingkarinya. Maka perselisihan tersebut akan berujung pada penolakan terhadap hak khiyar, yang bersandar pada perselisihan mengenai objek akad. Jika terdapat manfaat dan perselisihan itu bersandar pada sifat akad secara asal, maka yang tepat adalah kedua belah pihak saling bersumpah (tahāluf); sebab jika keduanya berselisih tentang syarat khiyar, mereka saling bersumpah, padahal khiyar itu tambahan yang menyimpang dari tujuan utama akad. Maka bagaimana lagi dengan khiyar yang dituntut oleh perselisihan dalam inti tujuan akad itu sendiri?
هذا منتهى نظرِنا الآن والرأي بعد ذلك مشتركٌ بين الفقهاء
Inilah batas akhir kajian kami saat ini, dan setelah itu pendapat menjadi urusan bersama para fuqaha.
وقد نجز بما ذكرناه القولُ في صفة الاختلاف الذي يبتني عليه التحالف
Dengan penjelasan yang telah kami sebutkan, telah sempurna pembahasan mengenai sifat perbedaan pendapat yang menjadi dasar terjadinya tahaluf (saling bersumpah).
ونحن نقول بعد ذلك
Setelah itu, kami berkata.
الاختلاف في العقود المشتملة على الأعواض يتضمن التحالف فلا اختصاصَ لما ذكرنا بالبيع فإذا تنازعَ المتكاريان تحالفا وكذلك المتصالحان والمتكاتبان وكذلك إذا اختلف الزوج والزوجة في الصداق تحالفا ثم يتأثر بتحالفهما الصداق كما سيأتي في كتابه إن شاء اللهُ
Perbedaan pendapat dalam akad-akad yang mengandung imbalan mencakup adanya sumpah, sehingga apa yang telah kami sebutkan tidak khusus berlaku pada jual beli saja. Jika dua pihak yang melakukan akad ijarah berselisih, maka keduanya saling bersumpah, demikian pula dua pihak yang melakukan akad islah dan akad mukatabah. Begitu juga jika suami dan istri berselisih mengenai mahar, maka keduanya saling bersumpah, kemudian mahar tersebut akan terpengaruh oleh sumpah keduanya, sebagaimana akan dijelaskan dalam babnya, insya Allah.
وكذلك التحالف جارٍ في المساقاة ومعاملة القراض والجامع له أن التحالف يجري في كل عقد يشتمل على عوض
Demikian pula, sumpah (tahālu f) berlaku dalam akad musāqah dan akad mudhārabah (qirādh), dan yang menjadi titik penghubungnya adalah bahwa sumpah berlaku pada setiap akad yang mengandung imbalan.
ثم العقود تنقسم فمنها ما يؤثِّر الفسخ في رفعها ومنها ما لا يرتفع مقصودُها ويرجع التأثر إلى العوض كالصداق والخلع والمصالحة عن الدم وعقد العتاقة وليست الكتابة كذلك؛ فإن العتق لا يتأكد فيها إلا بعد وقوع العتق
Kemudian, akad-akad itu terbagi; di antaranya ada yang pembatalannya berpengaruh dalam menghapus akad tersebut, dan ada pula yang maksudnya tidak hilang, melainkan pengaruhnya kembali kepada kompensasi, seperti mahar, khulu‘, islah atas darah, dan akad pembebasan budak. Sedangkan mukatabah tidak demikian; karena kemerdekaan dalam mukatabah tidak menjadi pasti kecuali setelah terjadinya pembebasan.
فإن قيل أي معنىً للتحالف في القِراض وهو عقد جائز في الجانبين يتمكن كل واحدٍ من المتعاقدَيْن من فسخه قلنا هذا غفلةٌ عن مقصود الباب؛ فإن التحالف لم يوضع في الباب للفسخ ولكن الأَيْمان تُعرض على رجاء أن ينكفّ عنها الكاذب ويستقل العقد بيمين الصادق والتفاسخ أمرٌ ضروري رآه الشرع بعد جريان التحالف
Jika dikatakan, “Apa makna dari saling bersumpah (tahālu f) dalam akad qirād, padahal ia adalah akad yang boleh bagi kedua belah pihak dan masing-masing pihak dapat membatalkannya?”, kami jawab: Ini adalah kelalaian terhadap maksud dari pembahasan ini; sebab saling bersumpah tidaklah ditetapkan dalam pembahasan ini untuk membatalkan akad, melainkan sumpah-sumpah itu diajukan dengan harapan agar pihak yang berdusta mengurungkan diri darinya dan akad tetap berjalan dengan sumpah pihak yang jujur. Adapun pembatalan bersama adalah sesuatu yang niscaya menurut syariat setelah terjadinya saling bersumpah.
ولا شك في جريان التحالف في الكتابة وإن كانت جائزة من جهةِ المكاتَب
Tidak diragukan lagi bahwa sumpah dapat berlaku dalam akad kitābah, meskipun akad tersebut diperbolehkan dari pihak mukātab.
ونقل بعض من يوثق به عن القاضِي أن التحالف في البيع لا يجري في زمان الخيارِ ومكانه؛ لأن كل واحدٍ منهما في الفسخ بالخيار فلا حاجة بهما إلى التحالف في ثبوت الفسخ
Sebagian orang yang dapat dipercaya menukil dari al-Qadhi bahwa sumpah dalam jual beli tidak berlaku pada masa dan tempat adanya khiyar, karena masing-masing pihak masih memiliki hak untuk membatalkan (akad), sehingga mereka tidak membutuhkan sumpah untuk menetapkan pembatalan.
وهذا غير سديدٍ؛ لما ذكرته من أن التحالف ليس موضوعاً للتفاسخ وقد صرح القاضي بثبوت التحالف في القراض مع جوازه ونصَّ الشافعي في الكتابة على التحالف مع جواز العقد في جانب المكاتَب
Ini tidaklah tepat; karena sebagaimana telah saya sebutkan bahwa sumpah saling menuduh (tahāluf) bukanlah perkara yang menyebabkan pembatalan akad, dan Qādī telah secara tegas menyatakan adanya tahāluf dalam akad qirādh meskipun akad tersebut boleh dilakukan, serta Imam Syafi‘i juga menegaskan dalam masalah kitābah tentang adanya tahāluf meskipun akad itu boleh dilakukan di pihak mukātab.
والذي يتأتى به توجيه كلام القاضي أن توجيه الطلب مع الجواز بعيدٌ فلو طولب باليمين وما فيه اليمينُ في أصله ليس بلازمٍ لكان بعيداً ولو جاز هذا لجاز أن يقال يطالب المشتري بالثمن في زمان الخيارِ ويُحبس فيه ويقال له إن أردت الخلاص فافسخ وهذا لا قائل به ويلزم على مساق كلام القاضي أن يقال من ادعى على إنسانٍ بيعاً بشرط الخيارِ له فلا يتوجه اليمينُ على المدعَى عليه توجُّهاً محققاً ولا يلزم على هذا مطالبةُ السيّد مكاتَبَه بالنجم؛ فإنه يستفيد به فسخَ عقدِ الكتابة إذا امتنع المكاتَب فعاقبةُ مطالبته رفعُ حقٌ واجبٍ
Penjelasan atas pendapat al-Qadhi dapat diarahkan bahwa mengajukan tuntutan bersamaan dengan adanya kebolehan adalah hal yang jauh (tidak tepat). Jika seseorang dituntut untuk bersumpah, padahal sumpah itu pada asalnya tidak wajib, maka hal itu dianggap jauh (tidak tepat). Jika ini dibolehkan, maka akan dibolehkan juga untuk mengatakan bahwa pembeli dapat dituntut membayar harga pada masa khiyar, lalu ditahan karenanya, dan dikatakan kepadanya: “Jika kamu ingin bebas, maka batalkanlah (akadnya).” Padahal tidak ada yang berpendapat demikian. Berdasarkan alur pemikiran al-Qadhi, seharusnya dikatakan bahwa jika seseorang mengklaim kepada orang lain adanya jual beli dengan syarat khiyar baginya, maka sumpah tidak dapat diarahkan secara pasti kepada tergugat. Demikian pula, tidak wajib bagi tuan menuntut budaknya yang mukatab untuk membayar cicilan (najm), karena dengan tuntutan itu, ia dapat membatalkan akad mukatab jika budak tersebut menolak membayar, sehingga akibat dari tuntutan itu adalah hilangnya hak yang seharusnya tetap ada.
والوجه عندي في زمان الخيار أن القاضي لا يلزمهما أن يتحالفا لو ادَّعَيا ورأيا أن يتحالفا عَرَض الأيمانَ عليهما ونظرنا إلى ما يكون من أمرهما
Menurut pendapat saya, dalam masa khiyār, hakim tidak wajib memerintahkan keduanya untuk saling bersumpah jika keduanya saling mengklaim dan berpendapat untuk saling bersumpah; hakim hanya menawarkan sumpah kepada mereka berdua dan kita melihat apa yang akan terjadi dari urusan mereka.
وهذا مشكل أيضاًً؛ فلا عهد لنا بيمين يتخيَّر المرءُ فيها فهذا منتهى الأمر
Ini juga merupakan persoalan yang sulit; kita tidak pernah mengetahui adanya sumpah di mana seseorang diberi pilihan di dalamnya, maka inilah batas akhirnya.
وقصاراهُ موافقةُ القاضي
Singkatnya, hal itu adalah persetujuan dari qadhi.
ولستُ أخلي هذا الكتابَ عن طريق المباحثة مع التمكن من الاقتصار على نتيجة حتى يتدرَّب الناظر في مسالك البحث
Aku tidak mengosongkan kitab ini dari metode pembahasan, meskipun aku mampu hanya menyajikan hasil akhirnya saja, agar pembaca dapat berlatih dalam menempuh jalan-jalan penelitian.
ثم الذي يقتضيه مساق هذا الأمر أن تحالف المتعاملَيْن في القِراض قبل الخوض في شيءٍ من العمل لا معنى له ويعن فيه شيء آخر هو أن نجعل نفس التناكر تفاسخاً وستأتي نظائر ذلك؛ فإن الشافعي نص على أن دعوى الرجعة من الزوج في مدَّة الرجعة رجعة وهذا كلام يطول وسيأتي في موضعه إن شاء الله
Kemudian, yang dituntut oleh alur perintah ini adalah bahwa sumpah antara dua pihak yang bertransaksi dalam qiradh sebelum memulai suatu pekerjaan tidak ada maknanya, dan yang dimaksud di sini adalah hal lain, yaitu menjadikan perselisihan itu sendiri sebagai pembatalan akad. Akan datang contoh-contoh serupa; karena asy-Syafi‘i telah menegaskan bahwa klaim ruju‘ dari suami dalam masa iddah ruju‘ dianggap sebagai ruju‘. Pembahasan ini cukup panjang dan akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah.
نعم إذا عمل المقارض فيعود النزاع إلى مقصود الأخير في دفعه من أجرِ مثل أو ربح
Ya, jika muḍārib telah bekerja, maka perselisihan kembali kepada maksud pihak terakhir dalam memberikannya, apakah sebagai upah sepadan atau sebagai bagian dari keuntungan.
فهذا غايةُ القول في ذلك
Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal tersebut.
ثم نختتم الفصلَ ونقولُ جريانُ التحالف في البيع لا يتوقف على قيام المبيع بل يجري بعد تلفه فإن معتمدَهُ العقد والعقد لا يزول بتلف المبيع في يد المشتري والخلاف مشهور مع أبي حنيفة رحمه الله
Kemudian kita menutup bab ini dan mengatakan bahwa berlakunya tahaluf dalam jual beli tidak bergantung pada keberadaan barang yang dijual, melainkan tetap berlaku meskipun barang tersebut telah rusak, karena yang menjadi sandarannya adalah akad, dan akad tidak batal dengan rusaknya barang di tangan pembeli. Perbedaan pendapat dalam hal ini terkenal bersama Abu Hanifah rahimahullah.
وكما لا يتوقف التحالف على بقاء المبيع لا يتوقف على بقاء المتعاقدَيْن فلو ماتا أو مات أحدُهما خلف الوارثُ المورُوثَ وجرى التحالفُ والتعويل على ما ذكرناه من بقاء العقد؛ فإنه باقي في حقوق الورثة
Sebagaimana halnya tahāluf tidak bergantung pada keberadaan barang yang dijual, demikian pula tidak bergantung pada keberadaan kedua pihak yang berakad. Jika keduanya meninggal atau salah satu dari mereka meninggal, maka ahli waris menggantikan yang diwarisi, dan tahāluf tetap berlangsung serta berpegang pada apa yang telah kami sebutkan tentang keberlangsungan akad; karena akad tersebut tetap berlaku dalam hak-hak para ahli waris.
الفصل الآخر
Bab Lain
في كيفية التحالف
Tentang tata cara pengambilan sumpah
والذي نرى تقديمَه أن تحالفَ المتعاقدَيْن لا يهتدي إليه القياسُ الجلي على الاستقلال في بعض الصور وقد يجري بعضَ الجريان في بعضِها
Menurut pendapat kami yang lebih kuat, bahwa persekutuan antara dua pihak yang berakad tidak dapat dijangkau oleh qiyās yang jelas secara mandiri dalam beberapa kasus, meskipun dalam sebagian kasus lain qiyās tersebut masih dapat diterapkan sebagian.
فإن كان المبيع متفقاً عليه ومقدار الثمن متنازعاً فيه فقد يظهر أن ملك المبيع لا نزاع فيه وكذلك المُتَّفقُ من قدر الثمن والزائد على ذلك يدّعيه البائع وينفيه المشتري والأصل براءةُ ذمّته عنه هذا وجه
Jika barang yang dijual telah disepakati dan jumlah harga masih diperselisihkan, maka tampak bahwa kepemilikan atas barang yang dijual tidak diperselisihkan, demikian pula bagian harga yang telah disepakati. Adapun kelebihan dari itu, penjual mengklaimnya dan pembeli menolaknya, sedangkan asalnya adalah kebersihan tanggungan pembeli dari kelebihan tersebut. Inilah penjelasannya.
ومعتمد الباب إما الخبر على ما قررناه في الخلافِ وإما مصلحة ناجزة حاقَّة خصيصَةٌ بالباب هي أولى بالاعتبارِ من الأمر الكلِّي وهي أن المتعاقدَيْن يعم اختلافُهما وكل واحدٍ منهما جالبٌ باذلٌ فلو خصَصنا بالتصديق أحدهما جرَّ ذلك عُسراً عظيماً فرعاية مصلحة العقد أولى من النظر إلى عموم القول في براءة الذمَّة
Dasar hukum dalam bab ini adalah hadis sebagaimana telah kami jelaskan dalam pembahasan khilaf, atau kemaslahatan yang nyata dan khusus pada bab ini, yang lebih utama untuk dipertimbangkan daripada kaidah umum. Hal ini karena kedua belah pihak yang berakad sering terjadi perbedaan, dan masing-masing dari mereka adalah pihak yang mengajukan dan memberikan. Jika kita hanya mempercayai salah satu pihak saja, maka hal itu akan menimbulkan kesulitan yang besar. Oleh karena itu, menjaga kemaslahatan akad lebih utama daripada berpegang pada kaidah umum tentang bebasnya tanggungan.
فإن فرضت بيّنة فهي متبعة وإن تعارضت بيّنتان لم يخفَ حكمُ التَّهاتر والاستعمال وإن لم تكن بيّنةٌ فلا وجه إلا التسوية بين المتعاقدَيْن فيما يعم وقوعه
Jika ada bukti (bayyinah), maka bukti tersebut harus diikuti. Jika terdapat dua bukti (bayyinah) yang saling bertentangan, maka hukum saling menggugurkan dan penggunaan (bukti) tidaklah samar. Jika tidak ada bukti (bayyinah), maka tidak ada jalan lain kecuali menyamakan kedudukan kedua pihak yang berakad dalam hal-hal yang umum terjadi.
فهذا أصل الباب
Inilah pokok pembahasan bab ini.
ثم الكلام يتعلق بأمرين أحدهما فيمن يُبدأ به من المتعاقدين والآخرُ في عدد اليمين وصيغتِها
Kemudian pembahasan berkaitan dengan dua hal: yang pertama tentang siapa di antara kedua pihak yang berakad yang didahulukan, dan yang kedua tentang jumlah sumpah dan redaksinya.
فأما الكلام في البداية فظاهر نصوص الشافعي أن البدايةَ بالبائع ومن ينزل منزلتَه في العقود ونص في البيع نفسِه أن البداية بالبائع وقالَ في السلم البدايةُ بالمسلم إليه وهو في مقام البائع
Adapun pembahasan mengenai permulaan, maka jelas dari teks-teks Imam Syafi‘i bahwa permulaan itu pada penjual dan siapa saja yang menempati posisinya dalam akad-akad. Beliau menegaskan dalam akad jual beli itu sendiri bahwa permulaan pada penjual, dan beliau berkata dalam akad salam bahwa permulaan pada orang yang menerima salam, yang dalam hal ini menempati posisi penjual.
ونص في الكتابة أن البداية بالسيِّد وهو في التقدير في رتبة البائع
Dan disebutkan dalam Kitābah bahwa permulaan (penyebutan) adalah dengan tuan, yang dalam penilaian berada pada tingkatan yang sama dengan penjual.
ونصُّه في النكاح يخالف هذه النصوص؛ فإنه قال البدايةُ بالزوج وهو في التقدير في منزلة المشتري إذا أُضيف إلى المقصود بالعقد وهو استحقاق حِل البُضعِ فنظر الأصحاب في النصوص فرأوها مخالفة لما نص عليه في النكاح واختلفوا على طرقٍ فذهب بعضهم إلى إجراء القولين وضربَ النصوصَ بعضَها ببعض فينتظم في كل مسألةٍ ذكرناها قولان أحدُهما أن البداية بالبائع؛ فإن قولَه يدور على مقصود العقد وهو المبيع والشرع يَعتَني بإثباتِ العقدِ إذا ثبت أصلُه فهذا يقتضي تقديمَ من يتلقَّى مقصودَ العقد من جهتِه
Teks beliau dalam masalah nikah berbeda dengan teks-teks ini; karena beliau mengatakan bahwa permulaan (dalam ijab-qabul) dimulai dari pihak suami, dan dalam hal ini posisinya dalam takdir seperti pembeli jika dikaitkan dengan tujuan akad, yaitu memperoleh kehalalan hubungan badan. Maka para ulama memerhatikan teks-teks tersebut dan mendapati bahwa teks-teks itu berbeda dengan apa yang beliau tegaskan dalam masalah nikah, lalu mereka berbeda pendapat dalam beberapa cara. Sebagian mereka berpendapat untuk menjalankan dua pendapat dan membenturkan teks-teks itu satu sama lain, sehingga dalam setiap permasalahan yang telah kami sebutkan terdapat dua pendapat: salah satunya bahwa permulaan dari pihak penjual; karena pendapat beliau berputar pada tujuan akad, yaitu barang yang dijual, dan syariat memperhatikan penetapan akad jika asalnya telah tetap, maka hal ini menuntut untuk mendahulukan pihak yang menerima tujuan akad dari sisinya.
والقول الثاني أن البداية بالمشتري وبمن يحل محلَّه؛ فإن القياس الكلي يقتضي تصديقَ المشتري؛ من جهة أن البائعَ معترفٌ له بالملك في المبيع لكنَّه يدعي عليهِ مزيداً وهو يُنكره فالقياس أن القولَ قولُ المشتري؛ فإن الأصل بَراءةُ ذمّتِه عن المزيد الذي ادُّعي عليه فلئن لم نكتف بقوله فلا أقل من البداية به
Pendapat kedua adalah memulai dengan pembeli dan siapa pun yang menggantikan posisinya; karena qiyās secara umum mengharuskan pembenaran terhadap pembeli, dari sisi bahwa penjual telah mengakui kepemilikan pembeli atas barang yang dijual, namun penjual mengklaim adanya tambahan terhadapnya, sementara pembeli mengingkarinya. Maka menurut qiyās, yang dipegang adalah pernyataan pembeli; karena pada dasarnya tanggungannya terbebas dari tambahan yang dituduhkan kepadanya. Maka jika kita tidak cukup dengan pernyataannya, setidaknya kita memulai dengannya.
ثم ما طرَدْناه في البائع يجري في كل من يحل محلَّهُ وهو المسلَمُ إليه في السلم والمكري في الإجارة والسيد في الكتابة والزوجة في النكاحِ وما أطلقنَاهُ في المشتري يجري في كل من يحل محله في العقود التي ذكرناها
Apa yang telah kami tetapkan pada penjual juga berlaku bagi siapa saja yang menempati posisinya, seperti pihak yang menerima barang dalam akad salam, pihak yang menyewakan dalam akad ijarah, tuan dalam akad kitabah, dan istri dalam akad nikah. Demikian pula, apa yang kami tetapkan pada pembeli juga berlaku bagi siapa saja yang menempati posisinya dalam akad-akad yang telah kami sebutkan.
ومن أصحابنا من أجرى النصوص على حقائقها في محالّها؛ فقال البدايةُ بالبائع والمسلَمِ إليه والمكري والسيّد في الكتابة والبداية بالزوج وإن كان في مقام المشتري إذا أضيف إلى مقصود النكاح
Sebagian dari ulama kami menjalankan nash-nash sesuai makna hakikinya pada tempat-tempatnya; maka dikatakan bahwa permulaan (penyebutan) adalah pada penjual, orang yang menerima salam, pemilik sewaan, dan tuan dalam akad kitabah, serta permulaan pada suami meskipun berada pada posisi pembeli jika dikaitkan dengan maksud pernikahan.
والسبب في ذلك كُلِّه تقديمُ من يقوى جنبتُه في المسائل والزوجُ في مقام الاختلاف أقوى؛ من جهة أن مقصودَ العقد يبقى عليه وإن بلغ التحالف منتهاه؛ فإن النكاح لا ينفسخ ولا يُفسخ وهو مقصودُه فكان جانبه أقوى لذلك وجانب البائع ومن يحل محله في المسائل أقوى؛ من جهة أن مقصود العقد ينقلب إليه في نهاية التحالف فكان جانبه أقوى والمستحق على الزوجة لا ينقلب إليها في نهاية التحالف
Penyebab dari semua itu adalah mendahulukan pihak yang lebih kuat posisinya dalam permasalahan; dan suami dalam situasi perselisihan lebih kuat, karena tujuan akad tetap ada padanya meskipun perselisihan (tahālu f) mencapai puncaknya. Sebab, pernikahan tidak batal dan tidak dibatalkan, dan itulah tujuan akad, sehingga posisinya lebih kuat karena hal itu. Sedangkan posisi penjual atau pihak yang menggantikannya dalam permasalahan lebih kuat, karena tujuan akad beralih kepadanya pada akhir perselisihan, sehingga posisinya lebih kuat. Adapun hak yang menjadi tanggungan istri tidak beralih kepadanya pada akhir perselisihan.
والوجه عندي في تقرير هذه الطريقَةِ أن النكاح في وضع الشرع في حكم المستثنى عن مضطرب الاختلاف حتى كأنّ الصداقَ ليس في حكم الأعواض المقابلة وإنما هو مُتعة معجلة للمرأة من جانب الزوج وهذا المعنَى هو الذي أوجب للزوج الحكمَ ببقاء النكاح في نهاية التحالف فكأنَّ الاختلافَ منحصرٌ في الصداق فالزوج إذاً هو الذي يُتلقى ملكُ عين الصداق منه كما أن البائعَ يتلقى ملك المبيع منه فهذا هو الذي اقتضى البدايةَ بالزوج في الصداق
Menurut pendapat saya, cara menjelaskan metode ini adalah bahwa pernikahan dalam ketentuan syariat berada dalam posisi yang dikecualikan dari perbedaan yang rumit, sehingga seolah-olah mahar itu bukan termasuk dalam kategori kompensasi yang saling dipertukarkan, melainkan merupakan pemberian yang disegerakan kepada perempuan dari pihak suami. Makna inilah yang menyebabkan suami tetap memiliki hak atas keberlangsungan pernikahan pada akhir proses saling bersumpah. Seakan-akan perbedaan itu hanya terbatas pada mahar, sehingga suamilah yang menjadi sumber kepemilikan mahar tersebut, sebagaimana penjual menjadi sumber kepemilikan barang yang dijual. Inilah yang menyebabkan dimulainya pembahasan mahar dari pihak suami.
وذكر صاحبُ التقريب طريقين سوى ما ذكرناهما إحداهما أن القاضي يبدأ بمن شاء فلا احتكام عليهِ والأمر في ذلك مفوّض إليه وهذا القائل يحمل نصوصَ الشافعيّ على حكم الوفاق في إجراء الكلام فإنه إذا لم يكن من البداية بأحدِهما بُدُّ فقد يتفق للخائضِ في الكلام أن يستفتحَ تقديرَ البداية بأحدهما ثم لا ضَبط للوِفاقِ فتارةً يَتّّفقُ ذكرُ جانبٍ وتارة يتفق ذكر جانبٍ آخر
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat selain yang telah kami sebutkan. Salah satunya adalah bahwa qadi (hakim) boleh memulai dengan siapa saja yang ia kehendaki, sehingga tidak ada aturan khusus baginya, dan urusan ini sepenuhnya diserahkan kepadanya. Pendapat ini menafsirkan nash-nash asy-Syafi‘i sebagai hukum kesepakatan (al-wifāq) dalam memulai pembicaraan. Sebab, jika memang harus memulai dengan salah satu dari keduanya, terkadang orang yang memulai pembicaraan akan secara spontan memilih salah satu untuk memulai, dan tidak ada ketentuan pasti dalam kesepakatan itu. Kadang-kadang yang disebutkan lebih dahulu adalah pihak yang satu, dan kadang-kadang pihak yang lain.
والطريقة الثانيةُ وهي تداني هذه في مأخذها أن القاضي يُقرع بينهما إذا تنازعا البداية كما يُقرع بين متساوقين إلى مجلسهِ وكل يبغي أن يقدّم خصومَته
Cara kedua, yang hampir sama dengan cara sebelumnya dalam hal dasar pengambilannya, adalah bahwa hakim melakukan undian di antara keduanya jika mereka berselisih mengenai siapa yang memulai, sebagaimana hakim melakukan undian di antara dua orang yang datang bersamaan ke majelisnya dan masing-masing ingin agar perkaranya didahulukan.
والطريقتان صادرتان على قياس؛ فإن المتبايعين إذا كانا يتحالفان ولا يقدم أحدهما بالتصديق مع اليمين فلا فرقَ وما يتكلّفه الفقهاء من تقوية جانبٍ على جانبٍ إذا كان لا يفيد التصديقَ فلا معنى له وإذا كان كذلك فلا ينقدح إلا مسلكان أحدهما ردُّ الأَمْر إلى خِيَرةِ القاضي والآخر الإقراع
Kedua metode tersebut didasarkan pada qiyās; sebab jika kedua pihak yang berjual beli saling bersumpah dan tidak ada salah satu dari mereka yang didahulukan untuk dibenarkan bersama sumpahnya, maka tidak ada perbedaan. Apa yang diupayakan para fuqaha dalam menguatkan satu pihak atas pihak lain, jika tidak memberikan faedah pembenaran, maka tidak ada maknanya. Jika demikian, maka tidak ada jalan lain kecuali dua cara: salah satunya mengembalikan perkara kepada pilihan hakim, dan yang lainnya dengan cara undian.
فإن قيل قطعتم بالإقراع بين المتساوقين إلى مجلس القاضي ولم تردُّوا الأمرَ إلى اختيار القاضي فما الفرق قلنا ذاك مفروض في خصومتين وللمتقدّم غرضٌ ظاهر في تنجُّزِ مقصوده وانقلابه والخصومةُ واحدةٌ في مسألتنا لا تنفصل بأحدِ الجانبين فَذَكَرْنا الخِيَرَة في الاختلاف لهذا
Jika dikatakan, “Kalian memutuskan dengan undian (iqra‘) di antara dua orang yang datang bersamaan ke majelis qadhi dan tidak mengembalikan perkara itu kepada pilihan qadhi, maka apa perbedaannya?” Kami katakan, “Itu (kasus undian) diasumsikan dalam dua perkara sengketa, dan bagi yang datang lebih dahulu ada tujuan yang jelas dalam mempercepat tercapainya maksudnya dan penyelesaiannya. Sedangkan dalam permasalahan kita, sengketa hanya satu dan tidak terpisah oleh salah satu pihak, maka kami sebutkan adanya pilihan (khiyārah) dalam perbedaan pendapat untuk kasus ini.”
ونقل بعضُ من يوثقُ به طريقةً أخرى معزيّةً إلى طريقة القاضي وهي أن القاضي يقدّم منهما من يؤدي اجتهادُهُ إلى تقديمه
Beberapa orang yang dapat dipercaya telah menukilkan cara lain yang dinisbatkan kepada metode al-Qadhi, yaitu bahwa al-Qadhi mendahulukan di antara keduanya pendapat yang ijtihadnya mengarah kepada pendahuluan tersebut.
وهذا كلام في ظاهرهِ ركيك من جهة أن القُضاة في الوقائع كلِّها يقضون باجتهادِهم وإنما الكلام كلّه في ذكر وجوه الاجتهادِ فإذا تعدّينا تقديمَ جانب فذكر اجتهاد القاضي لا معنى له والظن أن المراد بهذا تخيّر القاضي ولكن المعلِّق عنه لم يرَ التّخيُّرَ في الوقائع فحمل هذا على الاعتقاد في ردَّ الأمر إلى الاجتهادِ
Ini adalah pernyataan yang secara lahiriah tampak lemah, karena para qadi dalam seluruh kasus memutuskan berdasarkan ijtihad mereka. Padahal, seluruh pembahasan adalah mengenai bentuk-bentuk ijtihad. Maka, jika kita telah melewati pembahasan tentang mengedepankan salah satu sisi, maka menyebut ijtihad qadi tidak ada maknanya. Dugaan saya, yang dimaksud di sini adalah pilihan qadi, namun penulis syarah tidak melihat adanya pilihan dalam kasus-kasus tersebut, sehingga ia menafsirkan hal ini sebagai keyakinan dalam mengembalikan perkara kepada ijtihad.
فهذا استقصاءُ أقوال الأصحاب في البداية
Inilah penelusuran menyeluruh terhadap pendapat-pendapat para sahabat dalam permulaan.
ووراء ذلك نظر وبحثٌ عندنا فنقول إذا تبايع رجلان عبداً بجاريةٍ واشتمل العقدُ على عوضين من الجانبين فلا ينبغي أن يظن ظانٌّ أن جانباً يقدَّم على جانبٍ وقد تبادل المتبايعان عوضين وآلَ النزاعُ إلى زيادةٍ يدَّعِيها كلُّ واحدٍ على صاحبه والمدعَى عليه ينفيها ويدعي زيادةً وإنما الكلام في البداية وموقعُ النصوص فيه إذا كان الثمنُ في الذمّة وكان المبيع عيناً أو جنساً مقصوداً كالمسلَم فيه؛ فإنّ منشأَ الكلامِ في البدايةِ ما قدَّمناه في توجيهِ القولين على طريقةِ من يُجري النصوصَ على قولين
Di balik itu terdapat kajian dan penelitian menurut kami. Maka kami katakan, apabila dua orang melakukan jual beli: yang satu menukar budak dengan budak perempuan, dan akad tersebut mencakup dua kompensasi dari kedua belah pihak, maka tidak sepantasnya seseorang mengira bahwa satu pihak didahulukan atas pihak lain, padahal kedua pihak yang bertransaksi telah saling menukar dua kompensasi, dan perselisihan berujung pada adanya tambahan yang diklaim masing-masing terhadap lawannya, sementara pihak yang dituduh menolaknya dan mengklaim adanya tambahan. Adapun pembahasan adalah pada permulaan dan letak dalil-dalil nash di dalamnya, yaitu apabila harga (tsaman) berupa utang (di dalam tanggungan) dan barang yang dijual berupa barang tertentu atau jenis barang yang dimaksudkan seperti pada akad salam; maka asal mula pembahasan tentang permulaan adalah sebagaimana yang telah kami sampaikan dalam penjelasan dua pendapat menurut metode orang yang menjalankan dalil-dalil nash pada dua pendapat.
وإذا فرض الكلام في مبيع مقابَلٍ بثمنٍ في الذمَّة فميل النص إلى البدايةِ بالبائع
Jika pembicaraan diarahkan pada suatu barang yang dijual dengan imbalan harga yang menjadi tanggungan (utang), maka kecenderungan nash adalah memulai dari pihak penjual.
والتسويةُ بين الجانبين وإن كان منقاساً فهو إضرابٌ عن النص بالكليّة والتخريج على خلاف النص يبعد إلحاقُه بالمذهب فما الظنُّ بالإعراض عن النص بالكلية
Penyamaan antara kedua sisi, meskipun berdasarkan qiyās, merupakan penolakan total terhadap nash, dan menetapkan hukum yang bertentangan dengan nash sangat jauh untuk dapat disandarkan pada mazhab; maka bagaimana lagi jika berpaling dari nash secara keseluruhan?
والذي أراه في ذلك أن التحكم بالتقديم بعيدٌ وإذا كنا نقرعُ عند التَّساويَ فالاستمساكُ بمتعلَّقٍ أولى من تحكيم القُرعة
Menurut pendapat saya, penentuan secara sewenang-wenang dalam mendahulukan sesuatu adalah tidak tepat. Jika kita menggunakan undian (qur‘ah) ketika terjadi kesetaraan, maka berpegang pada sesuatu yang memiliki dasar lebih utama daripada menggunakan undian.
ثم نص الشافعي يشير إلى تثبيت مقصود العقد كما قدمناه وهذا النص ينطبق على ما سنَذكرُه في الفصل الثاني وهو الاكتفاءُ بيمين واحدة تشتمل على النفي والإثبات هذا نصُّ الشافعي على ما سنذكرُه
Kemudian, teks Imam Syafi‘i menunjukkan penetapan maksud akad sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya. Teks ini berlaku pada apa yang akan kami sebutkan dalam bab kedua, yaitu cukup dengan satu sumpah yang mencakup penafian dan penetapan. Inilah teks Imam Syafi‘i mengenai apa yang akan kami sebutkan.
ثم من نفى وأثبت ونَكل صاحبُه قضينا للحالف فإن سبق إثباتُه في يمينهِ تبيَّن نكولُ خصمِه عن يمين النفي
Kemudian, apabila salah satu pihak menolak dan yang lain menetapkan, lalu lawannya enggan bersumpah, maka kami memutuskan perkara untuk pihak yang bersumpah. Jika penetapan itu didahului oleh sumpahnya, maka jelaslah bahwa lawannya telah enggan bersumpah untuk menolak.
وهذا يخالف قياسَ الخصومات ولكنْ وَضعُ الشرعِ على الميل إلى إثبات العقدِ ثم رأى الشافعي صدَرَ العقدِ من البائع فبنى عليه البدايةَ
Hal ini berbeda dengan qiyās dalam perkara sengketa, namun syariat menetapkan kecenderungan untuk menguatkan akad, kemudian asy-Syafi‘i melihat bahwa akad telah dimulai dari penjual, maka beliau membangun permulaan hukum atas dasar itu.
هذا منتَهى النظر في ذلك
Inilah akhir dari pembahasan mengenai hal tersebut.
والذي نجز فهو أهون الفصلين الموعودين ونحن الآن نتكلم في صفة اليمين واتحادها وتعَدُّدِها وهو غمرة الباب وفيه اختباطُ الأصحاب على ما سننبّه عليه ونوضح الحقَّ إن شاء الله عز وجل
Apa yang telah selesai adalah bagian yang lebih ringan dari dua bagian yang dijanjikan, dan sekarang kita berbicara tentang sifat sumpah, kesatuan dan keberagamannya, yang merupakan inti dari pembahasan ini. Dalam hal ini, para sahabat berbeda pendapat, sebagaimana akan kami tunjukkan dan kami akan menjelaskan kebenarannya, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فصل في صفة اليمين
Bab tentang tata cara sumpah
فنقول كل واحدٍ من المتعاقدين مُثبتاً نافٍ وهو متصوّر بصُورة مدّعٍ ومدعىً عليه فالبائع يقول بعتُ العبد بألفٍ وما بعتُه بخمس مائةٍ والمشتري يقول اشتريتُه بخمس مائة وما اشتريتُه بألفٍ وكل واحد في جهة الإثبات مدّعٍ وفي جهة النفي مدَّعىً عليه
Maka kami katakan, masing-masing dari kedua pihak yang berakad adalah pihak yang menetapkan dan menafikan, yang dapat dibayangkan dalam bentuk penggugat dan tergugat. Penjual berkata, “Aku telah menjual budak itu seharga seribu, dan aku tidak menjualnya seharga lima ratus.” Sementara pembeli berkata, “Aku membelinya seharga lima ratus, dan aku tidak membelinya seharga seribu.” Maka masing-masing pada sisi penetapan adalah penggugat, dan pada sisi penafian adalah tergugat.
وإذا كان كذلك فلتقع البدايةُ بالقولِ في عدد اليمين واتحادِها
Jika demikian, maka hendaknya pembahasan dimulai dengan membicarakan tentang jumlah sumpah dan kesatuannya.
ظاهر نص الشافعي رحمه الله الاقتصارُ على يمينٍ واحدةٍ تشتمل على النفي والإثبات كما سنصفها في التفريع وخرج الأئمة قولاً آخر أن اليمينَ تتعدَّدُ وزعمُوا أنّهم أخذوا هذا من اختلاف الرجلين في دارٍ تحت أيديهما كل واحدٍ يدعي أن جميعها له فالمنصوصُ أنه يتعرَّض كل واحدٍ ليمينين في محالهما؛ إذ يد كل واحدٍ منهما ثابتة على نصف الدارِ وهو فيه مدعىً عليه فالقول قولهُ فيه مع يمينه على نفي دعوى المدَّعي ولو فُرض نكول من أحدِهما عن اليمين على ما هو مدعىً عليه فيه رُدّت اليمينُ على صاحبه فيأتي بيمين الردِّ على صيغة الإثبات فيدور في الخصومة إمكان يمينين؛ فقال المخرجون اختلاف المتبايعين بمثابة اختلاف المختلفين في الدار الكائنةِ تحت اليدَينِ؛ من جهة اشتمال الخصومتين في الموضعين على التعرض لمقام المدعي والمدعَى عليهِ
Teks zahir dari Imam Syafi’i rahimahullah menunjukkan bahwa cukup dengan satu sumpah yang mencakup penolakan dan penetapan, sebagaimana akan kami jelaskan dalam perincian. Namun para imam mengemukakan pendapat lain bahwa sumpah itu bisa berulang, dan mereka mengklaim bahwa mereka mengambil hal ini dari kasus perselisihan dua orang laki-laki atas sebuah rumah yang berada di bawah kekuasaan mereka berdua, di mana masing-masing mengaku bahwa seluruh rumah itu miliknya. Dalam nash disebutkan bahwa masing-masing dari mereka menghadapi dua sumpah pada tempatnya; karena tangan masing-masing dari mereka tetap atas setengah rumah, dan pada bagian itu ia menjadi pihak yang didakwa, maka perkataan diterima darinya dengan sumpah untuk menolak klaim penggugat. Jika salah satu dari mereka menolak bersumpah atas apa yang didakwakan kepadanya, maka sumpah itu dikembalikan kepada lawannya, sehingga lawannya bersumpah dengan sumpah balasan dalam bentuk penetapan. Maka dalam perselisihan itu memungkinkan adanya dua sumpah. Para ulama yang mengemukakan pendapat ini berkata bahwa perselisihan antara dua orang yang berjual beli serupa dengan perselisihan dua orang atas rumah yang berada di bawah kekuasaan mereka berdua, dari sisi bahwa kedua perselisihan itu sama-sama mengandung posisi sebagai penggugat dan tergugat.
وهذا مُخرجٌ والنص ما قدَّمناه من الاكتفاء بيمين ومسألة الدار لا خلاف فيها وليس هذا مما ينقل فيه الجوابُ من كل جانب إلى الجانب الآخر حتى نفرضَ جَريان القولين في الجانبين نقلاً وتخريجاً لكنْ مسألةُ الدار متفق عليها وخرَّج المخرجون منها قولاً في اختلاف المتعاقدَيْن
Ini adalah pengecualian, dan nash yang telah kami kemukakan sebelumnya adalah cukup dengan satu sumpah. Adapun masalah rumah, tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Ini bukanlah perkara yang jawaban di dalamnya dipindahkan dari satu sisi ke sisi lain sehingga kita menganggap adanya dua pendapat yang berjalan di kedua sisi, baik secara naql maupun takhrij. Namun, masalah rumah telah disepakati, dan para mujtahid yang melakukan takhrij mengeluarkan satu pendapat darinya dalam kasus perselisihan antara dua pihak yang berakad.
توجيه القولين من قال بالقول المخرَّج اعتمد قياس الخصومات ولا يكاد يخفى أن منصبَ المدعي يخالف منصبَ المدَّعَى عليه مخالفةً بينةً والجمعُ بين مقامين مختلفين بعيدٌ ناءٍ عن القياس
Penjelasan dua pendapat: Orang yang berpendapat dengan pendapat yang di-mukharrij (dikeluarkan) mendasarkan pada qiyās dalam perkara-perkara sengketa. Namun, hampir tidak tersembunyi bahwa posisi penggugat berbeda secara jelas dengan posisi tergugat, dan menggabungkan dua kedudukan yang berbeda ini sangat jauh dari qiyās.
والذي نحققه أن الجمع بين الإثبات والنفي يتضمن تحليفَ المدعي ابتداءً في جهةِ دعواه من غير تقدّم نكولٍ من الخصم عن اليمين فيما هو مدعىً عليه وهذا بعيدٌ جداً وبيانه أن البائع إذا قال ما بعتُ العبدَ بألفٍ ولقد بعتُه بألفين فقوله بعتُ بألفَينِ إثباتُ ما يَدَّعيه ونحن اعترفنا بخروج البداية بالمدعي في أيمان القسامة عن قياس الخصومات مع ظهور اللوث والتأكّد بالعدد ومسيس الحاجة إلى رفع غوائل المغتالين في خلواتٍ وأحيانٍ يَبعُد الإشهاد فيها ولا ضرورة إلى الاقتصار على يمين واحدة هاهنا هذا وجهُ هذا القول
Pendapat yang kami anggap kuat adalah bahwa menggabungkan antara penetapan dan penafian mengandung makna mewajibkan sumpah kepada penggugat sejak awal dalam perkara yang ia gugat, tanpa didahului oleh penolakan sumpah dari pihak lawan atas apa yang didakwakan kepadanya, dan hal ini sangat jauh (dari kebenaran). Penjelasannya adalah, jika penjual berkata, “Saya tidak menjual budak itu seharga seribu, dan sungguh saya telah menjualnya seharga dua ribu,” maka ucapannya “saya telah menjualnya seharga dua ribu” adalah penetapan atas apa yang ia klaim. Kami memang mengakui bahwa permulaan sumpah pada penggugat dalam kasus qasāmah keluar dari qiyās perkara-perkara perselisihan, karena adanya indikasi kuat, penguatan dengan jumlah (sumpah), dan kebutuhan mendesak untuk menghilangkan bahaya para pembunuh secara sembunyi-sembunyi di tempat dan waktu yang sulit menghadirkan saksi. Namun, tidak ada kebutuhan untuk membatasi pada satu sumpah saja dalam kasus ini. Inilah sisi pendapat ini.
وأمَّا وجه القول المنصوص عليه أن البيع بين المتعاقدين في النفي والإثبات في حكم الخَصْلةِ الواحدة
Adapun alasan pendapat yang dinyatakan secara eksplisit bahwa jual beli antara kedua pihak yang berakad, baik dalam penafian maupun penetapan, berada dalam hukum satu perkara.
هذا وضعُ الباب وهو مضمون الأخبار وهو اللائق بمصلحة هذا العقد كما سبق تقريره في صدرِ الفصول؛ فإنَّ الاختلافَ بيْن المتبايعين عامُّ الوقوع ولا حاجةَ لتخصيص جَانب عن جانبٍ ولو فصلنا النفيَ عن الإثبات وأقمنا خصومتين تنفصل إحداهما عن الأخرى لما انتظمت حكمةُ الشريعة في التسوية بين المتعاقدين ولما أفضى الأمرُ إلى الفسخ والانفساخ
Inilah ketentuan bab ini, dan inilah inti dari berbagai riwayat, serta yang paling sesuai dengan kemaslahatan akad ini sebagaimana telah dijelaskan di awal pembahasan; sebab perselisihan antara para pihak yang berjual beli sangat sering terjadi, dan tidak ada kebutuhan untuk mengkhususkan satu pihak dari pihak lainnya. Jika kita memisahkan penolakan dari penetapan dan mengadakan dua perkara sengketa yang terpisah satu sama lain, maka hikmah syariat dalam menyamakan kedudukan para pihak yang berakad tidak akan terwujud, dan hal itu akan berujung pada pembatalan akad dan terurainya perjanjian.
ولكنّا نقول القول قولُ المشتري في نفي المزيد الذي يُدعى عليهِ في الثمن والقول قول البائع في أنه لا يجب عليهِ تسليمُ المبيع لو كنا نؤاخذه بمطلق إقراره للمشتري بالمِلك في المبيع ونراه مدَّعياً في الجهة التي نذكرُها؛ فإذاً وضعُ الباب على الاستواء حتى كأنهما يتنازعان نفياً واحداً وإثباتاً واحداً ولكن لما اشتملت الخصومةُ على النفي والإثبات اشتملَت اليمين الواحدةُ عليهما كما سنصفها ولا يطلع الناظر على حقيقة التوجيه إلا بالتفريع عليهما
Namun, kami berpendapat bahwa pernyataan pembeli diterima dalam menolak tambahan harga yang dituduhkan kepadanya, dan pernyataan penjual diterima dalam hal bahwa ia tidak wajib menyerahkan barang dagangan jika kami membebaninya hanya berdasarkan pengakuan mutlaknya kepada pembeli atas kepemilikan barang tersebut, dan kami memandangnya sebagai pihak yang mengklaim dalam aspek yang akan kami sebutkan. Maka, permasalahan ini diletakkan secara seimbang, seolah-olah keduanya saling berselisih dalam satu penolakan dan satu penetapan. Namun, karena perselisihan tersebut mencakup penolakan dan penetapan, maka satu sumpah pun mencakup keduanya, sebagaimana akan kami jelaskan. Dan seorang pengamat tidak akan mengetahui hakikat argumentasi kecuali dengan penjabaran atas keduanya.
التفريع على القولين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن رأينا الاقتصارَ على يمين واحدةٍ فاتفقت البدايةُ بالبائع مثلاً؛ فإنا نقول له احلف بالله ما بعتُ العبد بألفٍ ولقد بعتُه بألفين فإن حلف عرضنا اليمينَ على المشتري وقلنا له احلف بالله ما اشتريت بالفين ولقد اشتريت بألفٍ فإن حلف كذلك فقد تحالفَا
Jika kita melihat cukup dengan satu sumpah saja, lalu dimulai misalnya dari penjual, maka kita katakan kepadanya: Bersumpahlah demi Allah, aku tidak menjual budak itu seharga seribu, sungguh aku telah menjualnya seharga dua ribu. Jika ia bersumpah, maka kita tawarkan sumpah kepada pembeli dan kita katakan kepadanya: Bersumpahlah demi Allah, aku tidak membeli seharga dua ribu, sungguh aku telah membelinya seharga seribu. Jika ia juga bersumpah demikian, maka keduanya telah saling bersumpah (tahāluf).
ويقع الكلام وراء ذلك في الفسخ والانفساخ كما سنصف القولَ فيه إن شاء الله عز وجل بعد نجاز صفة التحالف
Setelah itu, pembahasan berlanjut pada masalah fasakh dan infisakh, sebagaimana akan kami jelaskan insya Allah ‘Azza wa Jalla setelah selesai membahas sifat tahāluf.
ولو حلف البائع وكنا بدأنا به ونكل المشتري قضَينا للبائع وهذا خروج بيِّنٌ عن القياس الكُلِّي وإن كان لائقاً بمصلحةِ الباب؛ فإنا قضينا له بالإثبات سابقاً على النكول من خصمه
Jika penjual bersumpah—dan kita memulai dari penjual—lalu pembeli menolak bersumpah, maka kita memutuskan perkara untuk penjual. Ini merupakan penyimpangan yang jelas dari qiyās secara umum, meskipun sesuai dengan kemaslahatan dalam bab ini; karena sebelumnya kita telah memutuskan perkara untuk penjual berdasarkan pembuktian setelah lawannya menolak bersumpah.
ولو عرضنا اليمين على البائع أولاً فنكل نعرضُ اليمينَ على المشتري فإن حلف قضينا له بالعقد على موجب قوله وهذا منقاسٌ فإن القضاء جرى بعد تقدّم النكول
Jika kita menawarkan sumpah terlebih dahulu kepada penjual lalu ia menolak, maka kita tawarkan sumpah kepada pembeli. Jika pembeli bersumpah, kita putuskan perkara berdasarkan akad sesuai dengan pengakuannya. Ini termasuk qiyās, karena keputusan diambil setelah adanya penolakan bersumpah.
ولو حلف البائع على النفي والإثبات فحلف المشتري على النفي ولم يتعرض للإثبات فالذي ذكرهُ الأئمة أنه يُقضى عليه ويمضي العقدُ على موجب قول البائع
Jika penjual bersumpah atas penolakan dan penetapan, lalu pembeli bersumpah atas penolakan saja dan tidak menyebutkan penetapan, maka sebagaimana yang disebutkan para imam, diputuskan atas pembeli dan akad berjalan sesuai dengan pernyataan penjual.
وهذا في نهاية الإشكال؛ فإنا كنا نُبعد القضاء بالإثبات قبل النكول وهذا قضاء بالإثبات مع تقدير اليمين على النفي
Ini adalah puncak dari permasalahan; sebab sebelumnya kami menganggap jauh kemungkinan memutuskan dengan menetapkan hak sebelum adanya penolakan sumpah, sedangkan ini adalah keputusan dengan menetapkan hak disertai anggapan adanya sumpah untuk menolak.
وسبيلُ الجواب عنه أن صيغة اليمين على هذا القول التعرض للنفي والإثبات واليمين تُعرض كذلك فإذا لم يأت المشتري باليمين المعروضة عليه لا نحلّفُه على النفي وإنما يتحقق النكول عن يمينِ تُعرض فيأباها المعروض عليه
Cara menjawabnya adalah bahwa bentuk sumpah menurut pendapat ini mencakup penegasan dan penafian, dan sumpah pun diajukan demikian. Maka jika pembeli tidak mengucapkan sumpah yang diajukan kepadanya, kita tidak menyuruhnya bersumpah untuk menafikan, melainkan yang disebut sebagai penolakan (nakl) adalah terhadap sumpah yang diajukan lalu ditolak oleh orang yang diajukan kepadanya.
ومما يتعلق ببيان التفريع على هذا القول أن الأئمةَ قالوا حق من نحلّفه من المتعاقدَيْن أن يذكر صيغة الإقسام باللهِ ويبتدىء بعد ذكر المقسم به بالنفي ثم يُعْقِب النفيَ بالإثبات؛ فيقول باللهِ ما بعتُه بألفٍ ولقد بعتُه بألفين والغرضُ من ذلك تأصيل اليمين على النفي وإتباع الإثبات إياه من جهة أن القائل قائلان فيقع الإثبات تابعاً والتبعية تقتضي تأخير ذكر التابع وتقديمَ المتبوع
Terkait dengan penjelasan cabang dari pendapat ini, para imam mengatakan bahwa pihak yang berhak disuruh bersumpah dari kedua pihak yang berakad harus mengucapkan lafaz sumpah dengan menyebut nama Allah, lalu memulai setelah menyebut yang dijadikan sumpah dengan pernyataan negatif, kemudian diikuti dengan pernyataan positif; misalnya ia berkata, “Demi Allah, saya tidak menjualnya seharga seribu, dan sungguh saya telah menjualnya seharga dua ribu.” Tujuan dari hal ini adalah menegaskan sumpah atas penolakan (nfi) dan kemudian mengikuti dengan penetapan (itsbat), karena yang berbicara ada dua pihak, sehingga penetapan menjadi pengikut, dan sifat mengikuti menuntut penyebutan pengikut itu belakangan dan yang diikuti didahulukan.
والذي رأيتُ طُرقَ الأصحاب متفقةً عليهِ أن هذا الترتيب مستحقٌّ وليس ترتيباً مستحبّاً ولو فُرض قلب ذلك لم يُعتدّ باليمين
Yang aku lihat, seluruh pendapat para sahabat sepakat bahwa urutan ini adalah sesuatu yang wajib, bukan urutan yang dianjurkan. Jika urutan tersebut dibalik, maka sumpahnya tidak dianggap sah.
وحكى العراقيون عن الإصطخري أنه قال ينبغي أن يُقدَّمَ الإثباتُ ورأى ذلك فيما نُقلَ عنه حتماً واعتمدَ أن الإثبات هو المقصود وفيهِ يقعُ التناقض المحقق
Orang-orang Irak meriwayatkan dari al-Ishthakhri bahwa ia berkata: “Seyogianya pembuktian didahulukan,” dan ia memandang hal itu, sebagaimana yang dinukil darinya, sebagai suatu keharusan. Ia berpegang bahwa pembuktian adalah yang dimaksudkan, dan padanyalah terjadi pertentangan yang nyata.
وهذا متروك عليه؛ فإنه خالفَ الفقهَ الذي ذكرناه من استتباع النفي الإثباتَ ثم غلا فرأى استحقاقَ تقديم الأثبات ولو قال لا يُستحقُّ ترتيبٌ في المقصودين إذا كنا نقضي بالنكول عند ترك أحدِهما لكان هذا منسلكاً في الاحتمال بعضَ الانسلاك
Pendapat ini ditinggalkan; sebab ia bertentangan dengan fiqh yang telah kami sebutkan tentang keterikatan penafian dengan penetapan, kemudian ia berlebihan dengan berpendapat bahwa yang menguatkan lebih berhak didahulukan. Seandainya ia mengatakan bahwa tidak ada yang berhak didahulukan di antara dua tujuan tersebut jika kita memutuskan dengan sumpah ketika salah satunya meninggalkan, maka ini masih termasuk dalam kemungkinan, meskipun hanya sebagian.
هذا كُلّه تفريع على الحكم باتحاد اليمين
Semua ini merupakan rincian dari hukum mengenai penyatuan sumpah.
فأما إذا فرَّعنا على القول الآخر وهو أنا لا نجمع بين النفي والإثبات في يمينٍ واحدةٍ فالتفريع على هذا القول مزِلّةٌ وفيه الخبطُ الذي وعدناه ونحن نأتي على ما يفصّل الأمر إن شاء الله عز وجل
Adapun jika kita membangun pendapat berdasarkan pendapat lain, yaitu bahwa kita tidak menggabungkan antara penafian dan penetapan dalam satu sumpah, maka penjabaran berdasarkan pendapat ini adalah sesuatu yang membingungkan dan di dalamnya terdapat kekacauan yang telah kami sebutkan sebelumnya, dan kami akan menjelaskan permasalahan ini secara rinci, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فنقول أولاً إذا بدأنا بتحليف أحدهما فلا نجمع في حقّهِ بين يمينين في العرض الأول ولكنا نعرض على المبدوء به يمينَ النفي ثم ننظر إلى ما يُفضي إليه الحال فنقول للبائع احلف بالله ما بعت بالألف فإن حلف عدنا إلى المشتري والسبب فيهِ أن المحذورَ في هذا القول التحليفُ على الإثبات قبل تبيّن النكول من الخصم عن يمين النفي فإذا حلفَ من بدأنا به أولاً على النفي عرضنا اليمينَ على صاحبهِ
Maka kami katakan pertama-tama, jika kami memulai dengan meminta sumpah kepada salah satu dari keduanya, maka kami tidak menggabungkan dua sumpah sekaligus pada kesempatan pertama, melainkan kami meminta kepada pihak yang pertama diminta sumpah untuk bersumpah menolak (nafi), kemudian kami melihat bagaimana keadaan selanjutnya. Maka kami katakan kepada penjual, “Bersumpahlah demi Allah bahwa engkau tidak menjual dengan harga seribu.” Jika ia bersumpah, kami kembali kepada pembeli. Sebabnya adalah bahwa yang dikhawatirkan dalam hal ini adalah meminta sumpah untuk menetapkan (itsbat) sebelum jelas pihak lawan menolak bersumpah atas sumpah penolakan. Maka jika pihak yang pertama kami mulai bersumpah atas penolakan, kami ajukan sumpah kepada pihak lawannya.
وكانت اليمينُ المعروضةُ على النفي أيضاً ثم ننظر فإن حلف المشتري على النفي أيضاً فهذا مبتدأ اختباط الطرق
Sumpah yang diajukan juga atas penolakan, kemudian kita lihat, jika pembeli bersumpah juga untuk menolak, maka di sinilah awal terjadinya kekacauan jalan penyelesaian.
ونحن نبدأ بما كان يذكرُه شيخنا في دروسهِ ونستتمّها ثم نذكر ما ذكره بعضُ الأصحاب ثم نحكم بما يحضرنا في التصحيح والتزييف
Kami memulai dengan apa yang disebutkan oleh guru kami dalam pelajarannya dan kami menyempurnakannya, kemudian kami sebutkan apa yang dikemukakan oleh sebagian sahabat, lalu kami menetapkan hukum berdasarkan apa yang kami miliki dalam hal tashih dan tazyiif.
قالَ شيخي إذا حلف الأولُ على النفي وحلف الثاني على النفي أيضاً فقد تحالفا؛ فإنَّ يمينيهما تناقضا في المقصود وليس أحدُهما أولى بالتصديق فنكتفي بما جرى ونقضي بالانفساخ أو يَنْشَأُ الفسخ
Guru saya berkata, apabila pihak pertama bersumpah untuk menolak dan pihak kedua juga bersumpah untuk menolak, maka keduanya telah saling bersumpah; karena kedua sumpah mereka saling bertentangan dalam maksudnya dan tidak ada salah satu dari mereka yang lebih berhak untuk dibenarkan, maka cukup dengan apa yang telah terjadi dan diputuskanlah pembatalan atau timbulnya pembatalan.
وإن حلف الأول يمين النفي فعرضنا اليمينَ على الثاني فنكل ردَدنا اليمين إلى الأول الحالف فإن حلف على الإثبات قضَيْنا له بمُوجَب يمينهِ وقطعنا الخصومةَ على هذا المقتضى وقد حلفَ هذا البادىء أولاً وآخراً يمينين أولاهما على النفي والثانيةُ على الإثبات
Jika pihak pertama bersumpah dengan sumpah penolakan, lalu kami tawarkan sumpah kepada pihak kedua namun ia enggan, maka kami kembalikan sumpah kepada pihak pertama yang telah bersumpah. Jika ia bersumpah untuk penetapan, kami putuskan perkara sesuai dengan konsekuensi sumpahnya dan kami akhiri perselisihan berdasarkan ketetapan tersebut. Dengan demikian, pihak pertama ini telah bersumpah dua kali, pertama dengan sumpah penolakan dan kedua dengan sumpah penetapan.
وإن عرضنا اليمين على الأول فنكل نعرض اليمين على الثاني ونكتفي بيمينٍ واحدةٍ تجمع النفي والإثباتَ ونقضي له بموجَب يمينه
Jika kami menawarkan sumpah kepada pihak pertama lalu ia menolak, maka kami tawarkan sumpah kepada pihak kedua dan cukup dengan satu sumpah yang mencakup penolakan dan penetapan, lalu kami putuskan perkara sesuai dengan konsekuensi sumpahnya.
فخرج مما ذكرناه أنهما لو حلفا على النفي كان ذلك كافياً ولا نعرِض بعده يمين الإثبات
Maka dari penjelasan yang telah kami sebutkan, jika keduanya bersumpah untuk menolak (tuduhan), maka hal itu sudah cukup dan tidak perlu lagi diajukan sumpah untuk pembuktian setelahnya.
وإن حلف الأول ونكل الثاني رددنا اليمين على الحالِف أولاً فيحلف على الإثبات المجرد؛ فإنه قد حلف على النفي من قبل ولا يجتمع يمينانِ في حق أحدهما إلا في هذه الصورة في طريقة شيخي؛ فإنهما لو حلفا على النفي ترادَّا ولو نكل الثاني حلف الأول فيجتمع اليمينان ولو نكل الأول حلف الثاني يميناً واحدة على النفي والإثبات
Jika pihak pertama bersumpah dan pihak kedua menolak bersumpah, maka sumpah dikembalikan kepada pihak yang pertama untuk bersumpah atas penetapan secara murni; karena sebelumnya ia telah bersumpah atas penolakan, dan tidak akan berkumpul dua sumpah pada salah satu dari keduanya kecuali dalam kasus ini menurut pendapat guruku; sebab jika keduanya bersumpah atas penolakan, maka sumpah dikembalikan, dan jika pihak kedua menolak, maka pihak pertama bersumpah, sehingga berkumpul dua sumpah. Namun jika pihak pertama yang menolak, maka pihak kedua bersumpah satu kali atas penolakan dan penetapan.
فهذا حاصِلُ الطريقةِ التي تلقيناها من شيخنا ولم أجد لنكولهما عن اليمينين ذكراً وإني سأذكره بعد نجاز الطرق إن شاء الله تعالى
Inilah ringkasan metode yang kami terima dari guru kami, dan aku tidak menemukan penyebutan alasan keduanya meninggalkan dua sumpah tersebut. Aku akan menyebutkannya setelah menyelesaikan pembahasan metode-metode, insya Allah Ta‘ala.
وذهبت طائفةٌ من أصحابنا إلى سلوك مسلكٍ آخر في التفريع على قول اليمينين فنأتي به على وجههِ
Sekelompok dari kalangan kami memilih pendekatan lain dalam merinci pendapat tentang dua sumpah, maka kami akan menyampaikannya sesuai dengan bentuknya.
قالُوا يحلف أحدُهما على النفي ونعرض اليمينَ على الثاني فإن حلف على النفي لم يتم التحالف بهذا؛ فإنهما لم يتعرضا للإثبات بعدُ وإنما يتمّ التحالفُ إذا تناقضا في يمينيهما في النفي والإثبات جميعاً فيحلف بعدَ يميني النفي على الإثبات
Mereka berkata, salah satu dari keduanya bersumpah untuk menolak, lalu kami tawarkan sumpah kepada yang kedua. Jika ia juga bersumpah untuk menolak, maka belum terjadi tahaluf (saling bersumpah) dengan ini; karena keduanya belum menyatakan penetapan (itsbat). Tahaluf baru terjadi apabila keduanya saling bertentangan dalam sumpah mereka, yaitu satu menolak dan yang lain menetapkan. Maka setelah keduanya bersumpah untuk menolak, barulah dilakukan sumpah untuk penetapan.
ونبدأ بمن بدأنا به أول مرة فإن حلف على الإثبات حلّفنا صاحبه فإن حلف هو أيضاً على الإثبات فقد تم التحالُف وحان الحكم بانفساخه أو إنشاء الفسخ وإن نكل الثاني عن يمين الإثبات قضينا لمن بدأنا به بموجب يمين الإثبات وقررنا العقد بينهما على ذلك الموجَب
Kita mulai dengan orang yang pertama kali kita mulai dengannya; jika ia bersumpah untuk menetapkan, maka kita minta lawannya bersumpah juga. Jika ia juga bersumpah untuk menetapkan, maka kedua belah pihak telah saling bersumpah, dan saatnya untuk memutuskan pembatalan atau menetapkan pembatalan akad. Jika pihak kedua enggan bersumpah untuk menetapkan, maka kita putuskan untuk orang yang pertama kali kita mulai dengannya berdasarkan sumpah penetapan, dan kita tetapkan akad di antara mereka sesuai dengan ketetapan tersebut.
ومن تمام هذه الطريقة أن الأولَ إذا حلف على النفي فلما عرضنا اليمينَ على الثاني نكل فيحلف الأول على الإثبات ونكتفي ونقضي له بموجَب اليمينين
Dan penyempurnaan dari metode ini adalah bahwa jika pihak pertama bersumpah untuk menolak (tuduhan), lalu ketika kami menawarkan sumpah kepada pihak kedua, ia menolak bersumpah, maka pihak pertama bersumpah untuk menetapkan (tuduhannya), dan kami cukupkan dengan itu serta memutuskan perkara untuknya berdasarkan konsekuensi dari dua sumpah tersebut.
ولو نكل الأول عن يمين النفي عرضنا اليمين على الثاني واكتفينا منه بيميني واحدةٍ تجمع النفيَ والإثباتَ ونزَّلنا العقدَ على موجَبها
Jika pihak pertama enggan bersumpah untuk menolak, maka kami tawarkan sumpah kepada pihak kedua dan cukup baginya dengan satu sumpah yang mencakup penolakan dan penetapan, lalu kami tetapkan akad sesuai dengan konsekuensi sumpah tersebut.
وإنما اكتفينا بيمين واحدة لأن المستحلَف في ترتيب الخصومات في مقام يمين الرد فوقع الاكتفاءُ بيمين واحدة
Kami cukupkan dengan satu sumpah saja karena pihak yang diminta bersumpah dalam urutan perselisihan pada posisi sumpah balasan, sehingga dianggap cukup dengan satu sumpah saja.
ولا ينبغي أن يعتقد الناظر في هذا الفصل الاطلاع على كل ما انتهينا إليه؛ فإن تمام البيان في آخِره
Tidak sepantasnya bagi orang yang menelaah bagian ini untuk mengira bahwa ia telah mengetahui seluruh apa yang kami capai; karena penjelasan yang sempurna ada di bagian akhirnya.
وهذه الطريقةُ تُباين طريقةَ شيخنا مباينةً ظاهرةً في قاعدة التفريع؛ فإن شيخنا كان يحكم بالتحالف إذا حلَفَا يميني النفي وهؤلاء لم يحكموا بالتحالف بجريان يميني النفي بل عرضوا يمينَ الإثبات على الجانبين فلا تحالف عندهم إلا بيمينين من كل جانبٍ إحداهما على النفي والأخرى على الإثبات ولكنهما لا يُجمَعانِ في دفعةٍ بشخصٍ بل يعرَضانِ في دفعتين فإذا تَمّ يمينا النفي أعيد يميناً الإثبات
Metode ini berbeda secara jelas dengan metode guru kami dalam kaidah tafri‘; sebab guru kami memutuskan adanya tahaluf (saling bersumpah) jika kedua belah pihak mengucapkan sumpah penolakan, sedangkan mereka tidak memutuskan tahaluf hanya dengan berlangsungnya dua sumpah penolakan, melainkan mereka menawarkan sumpah penetapan kepada kedua belah pihak. Maka menurut mereka, tidak ada tahaluf kecuali dengan dua sumpah dari masing-masing pihak, salah satunya berupa sumpah penolakan dan yang lainnya berupa sumpah penetapan. Namun, kedua sumpah itu tidak dikumpulkan sekaligus pada satu orang, melainkan ditawarkan dalam dua tahap. Jika dua sumpah penolakan telah selesai, maka sumpah penetapan diulang kembali.
هذا وإن كان فيه بعضُ البعدِ فلا يَبعُد احتماله على حالٍ
Meskipun hal ini terkesan agak jauh, namun kemungkinan itu tetap tidak mustahil dalam kondisi tertentu.
وأما إشكال هذا الفصل في شيء وهو أن هؤلاء يقولون إذا حلفا يميني النفي وحلف الأول يمينَ الإثبات ونكل الثاني عن يمين الإثبات فقُضي للحالف على الإثبات بمُوجَب إثباته
Adapun permasalahan bab ini terletak pada satu hal, yaitu bahwa mereka mengatakan: apabila kedua pihak bersumpah dengan sumpah penafian, lalu pihak pertama bersumpah dengan sumpah penetapan, dan pihak kedua enggan bersumpah dengan sumpah penetapan, maka diputuskan kemenangan bagi pihak yang bersumpah dengan sumpah penetapan sesuai dengan konsekuensi penetapannya.
وهذا مشكل فإنَّ الذي حلف على الإثبات يمينه معارِضة يمينَ الأول على النفي على المضادّة المحققة فالقضاءُ بيمين الإثبات مع جَريان يمينٍ على نفي هذا الإثبات مشكل ووضعُ الخصومة على أنا إنما نحكم باليمين المثبتة للمدعي إذا نكل خصمُه عن يمين النفي
Ini merupakan persoalan yang pelik, karena orang yang bersumpah untuk menetapkan (suatu perkara) sumpahnya berhadapan dengan sumpah orang pertama yang menafikan, yang benar-benar bertentangan. Maka, memutuskan perkara dengan sumpah penetapan sementara ada sumpah lain yang menafikan penetapan tersebut adalah masalah. Dan dasar dari persengketaan ini adalah bahwa kami hanya memutuskan dengan sumpah penetapan yang diucapkan oleh penggugat apabila lawannya enggan bersumpah untuk menafikan.
ومثلُ هذا التفريع لا يجري في طريقة شيخنا؛ فإنه يجعل التحالفَ على النفي تاماً في اقتضاء الفسخ أو الانفساخ فلا يتفرع بعد التحالف على النفي عرضُ يمينِ الإثبات
Pencabangan seperti ini tidak berlaku dalam metode guru kami; karena beliau menjadikan sumpah saling menafikan itu sempurna dalam menuntut pembatalan atau terurainya akad, sehingga setelah adanya sumpah saling menafikan, tidak bercabang lagi dengan penawaran sumpah pembuktian.
فإن قيل قد ذكرتم الطريقتين فما الذي يصح على السَّبرِ منهما قُلنا الأصح طريقةُ شيخنا؛ فإنه لما فزَعَ على اليمينين ردَّ الأمرَ إلى قياس الخصومات واكتفى في إثبات التحالف بالتناقضِ والتحالفِ في النفي فاستدَّ التفريع جارياً على القياس
Jika dikatakan, “Kalian telah menyebutkan dua metode, lalu manakah yang sah menurut metode al-sabr?” Kami katakan: Yang paling sah adalah metode guru kami; karena ketika beliau berpegang pada dua sumpah, beliau mengembalikan perkara itu kepada qiyās dalam persengketaan dan mencukupkan dalam penetapan tahāluf dengan adanya pertentangan dan tahāluf dalam penafian, sehingga cabang-cabang hukumnya berjalan sesuai dengan qiyās.
ولا يتطرق إلى طريقته إلا شيءٌ واحدٌ وهو أنهُ قال إذا نكل البادىء حلف الثاني يميناً واحدة وهذا حسنٌ منقاس؛ فإن الثاني واقفٌ في مقام من يحلف يمين الرد
Tidak ada yang membedakan metodenya kecuali satu hal, yaitu ia berkata: jika pihak pertama enggan bersumpah, maka pihak kedua cukup bersumpah satu kali saja. Ini adalah hal yang baik dan sesuai dengan qiyās, karena pihak kedua berada pada posisi orang yang bersumpah sebagai tanggapan.
ولكني كنتُ أحب أن يقول يقتصر هذا الثاني على الإثبات ولا يتعرضُ للنفي جَرياً على قياس الخصومات؛ فإن من ادّعى شيئاً على إنسان فأنكره ثم انتهت الخصومةُ إلى ردَّ اليمين إلى المدّعي فإنه لا يزيد على إثبات دعواه
Namun, aku lebih suka jika dikatakan bahwa yang kedua ini hanya terbatas pada penetapan dan tidak membahas penafian, mengikuti qiyās dalam perkara sengketa; sebab apabila seseorang mengklaim sesuatu terhadap orang lain lalu orang itu mengingkarinya, kemudian sengketa itu berakhir dengan dikembalikannya sumpah kepada penggugat, maka penggugat tidak menambah selain menetapkan klaimnya.
ولكن كان شيخُنا يقول نجمع في يمين واحدة بين النفي والإثبات
Namun guru kami berkata, “Kami menggabungkan dalam satu sumpah antara penafian dan penetapan.”
وأما أصحاب الطريقة الأخرى فإنهم بنَوْا ما رتَّبوه على أن النفي والإثباتَ لا بدّ منهما ولا يتتم الأمر دونهما وزعموا أنا وإن قلنا بتردد اليمين فلسنا نعدد الخصومةَ ولكن نقول التَنازعُ في قضيّةٍ واحدة مشتملةٍ على النفي والإثبات فاليمين متعددةٌ والخصومة متّحدةٌ وقالوا على حسب ذلك إذا حلفا على النفي ثم عرضنا يمين الإثبات على البادىء فحلف فعرضناها على الثاني فنكل فنكوله عن يمين الإثبات آخراً رجوعٌ منه عن اليمين على النفي أولاً؛ فإن الخصومة متَّحدة فيقع القضاءُ للحالف على الإثبات بعد بطلان يمين الثاني في النفي والإثبات
Adapun para pengikut metode lain, mereka membangun pendapat yang mereka susun berdasarkan bahwa penafian dan penetapan harus ada dan perkara tidak akan sempurna tanpanya. Mereka beranggapan bahwa meskipun kami mengatakan sumpah itu berulang-ulang, kami tidak menggandakan perselisihan, melainkan kami mengatakan bahwa perselisihan itu dalam satu perkara yang mencakup penafian dan penetapan. Maka sumpahnya menjadi berulang, namun perselisihannya tetap satu. Mereka berkata, berdasarkan hal itu, jika keduanya telah bersumpah atas penafian, lalu kami tawarkan sumpah penetapan kepada pihak yang memulai, kemudian ia bersumpah, lalu kami tawarkan kepada pihak kedua dan ia menolak, maka penolakannya terhadap sumpah penetapan di akhir merupakan rujukannya dari sumpah penafian di awal. Karena perselisihannya satu, maka keputusan diberikan kepada pihak yang bersumpah atas penetapan setelah batalnya sumpah pihak kedua dalam penafian dan penetapan.
ومساقُ كلامهم أن تعدد اليمين كاتحاد اليمين على القول الأول فلو نكل أحدُهما عن الإثبات وحلف على النفي كان نكولُه عن معنى الإثبات نكولاً عن معنى النفي كذلك القولُ في النفي والإثبات المدرجين في اليمينين
Dari uraian mereka, bahwa penggandaan sumpah itu sama dengan penyatuan sumpah menurut pendapat pertama. Maka jika salah satu dari keduanya enggan membuktikan dan bersumpah untuk menolak, maka keengganannya untuk membuktikan sama dengan keengganannya untuk menolak. Demikian pula halnya dengan penolakan dan pembuktian yang tercakup dalam dua sumpah tersebut.
وهذا الذي ذكرناه لهؤلاء تكلّفٌ؛ فإن اليمينين مشعرتان بمقصودين فهؤلاء المفرعون على قول اليمينين طَمِعُوا أن يستصحبوا سرَّ قولِ اتّحادِ اليمين فإن ذلك القولَ في اتحاد اليمين مأخوذ من اتحاد الخصومة فإذا فرضنا غرضينِ ويمينين ونكولاً عن النفي ويميناً ممحَّضَةً للإثبات فلا يستدُّ عليه إلا طريقةُ شيخنا
Apa yang telah kami sebutkan kepada mereka ini adalah suatu bentuk pemaksaan; sebab kedua sumpah tersebut menunjukkan dua maksud yang berbeda. Mereka yang membangun pendapat atas dasar dua sumpah berharap dapat mempertahankan inti dari pendapat tentang penyatuan sumpah, karena pendapat tersebut dalam penyatuan sumpah diambil dari penyatuan perkara sengketa. Maka, jika kita mengandaikan adanya dua tujuan, dua sumpah, penolakan untuk menafikan, dan sumpah yang murni untuk penetapan, maka tidak ada yang dapat menegakkannya kecuali metode guru kami.
وقد نجز القولان وتفريعهما واختلافُ الطرق في مأخذ الكلام
Kedua pendapat tersebut telah dijelaskan beserta rincian dan perbedaan jalur dalam memahami asal-usul pembicaraan ini.
فإن قيل ذكرتم التفصيل فيه إذا تحالفا وبينتم حلف أحدهما ونكولَ الثاني فبيّنوا الحكم فيه إذا ارتفعا إلى مجلس القاضِي وتداعَيا على التناقض وآل الأمرُ إلى اليمين فنكلا جميعاً كيف السبيل فيه قلنا لم يتعرض أئمة المذهب في مصنَّفاتهم للتنصيص على هذا والقول في ذلك بَيْن احتمالين يجوز أن يقال نكولهما عن اليمينين بمثابة تحالفهما؛ فإنا نجعل نكولَ كل واحد منهما عن اليمين التي ترتد إليه بمثابة حَلِف صاحبه وينتظم منه تنزيلُ الأمر منزلة ما لو حلفا وهذا يعتضد بمعنى فقهي يختص بما نحن فيه وهو أن سبب إنشاء الفسخ أو الانفساخ تعذُّرُ إمضاءِ العقد في استواء المتداعيين على التناقض وظُهورُ ذلك في مجلس الحكم وهذا يتحقق بنكولهما كما يتحقق بتحالفهما وكان لا يبعد أن يقال إذا تحالفَا وقفت الخصومةُ وحُمِلا على الوقف إلى أن يتقارَّا فإذْ لم نقل هذا دَلَّ على أنّا لا نتركُ الخصومةَ ناشبة ولا ندعهما على التخاصم
Jika dikatakan, “Kalian telah menyebutkan perincian dalam hal apabila keduanya saling bersumpah, dan kalian telah menjelaskan sumpah salah satu dari keduanya serta penolakan yang kedua, maka jelaskanlah hukum jika keduanya mengajukan perkara ke majelis qadhi dan saling mengklaim secara kontradiktif, lalu perkara berujung pada sumpah, namun keduanya sama-sama menolak bersumpah. Bagaimana solusinya?” Kami katakan, para imam mazhab tidak secara eksplisit membahas hal ini dalam karya-karya mereka, dan dalam hal ini terdapat dua kemungkinan: boleh jadi dikatakan bahwa penolakan keduanya untuk bersumpah sama kedudukannya dengan saling bersumpah; sebab kami menganggap penolakan masing-masing dari keduanya terhadap sumpah yang kembali kepadanya setara dengan sumpah lawannya, sehingga perkara ini dapat diposisikan seperti halnya jika keduanya bersumpah. Hal ini didukung oleh makna fiqh yang khusus dalam konteks ini, yaitu bahwa sebab terjadinya pembatalan atau batalnya akad adalah karena tidak mungkin melaksanakan akad ketika kedua pihak yang bersengketa sama-sama bersikukuh pada klaim yang saling bertentangan, dan hal itu tampak di majelis pengadilan. Keadaan ini dapat terwujud baik dengan penolakan sumpah dari keduanya maupun dengan saling bersumpah. Tidaklah jauh kemungkinan untuk dikatakan bahwa jika keduanya saling bersumpah, maka persengketaan dihentikan dan keduanya diarahkan untuk menunggu hingga berdamai. Namun, karena kita tidak mengatakan demikian, hal itu menunjukkan bahwa kita tidak membiarkan persengketaan tetap menggantung dan tidak membiarkan keduanya terus berselisih.
وقد ذكر شيخي في طريقه صورةً تعضد ما ذكرناه وهي أنه قال لو حلف أحدُهما على النفي تفريعاً على قول تعدد اليمين وعرضنا اليمين على الثاني فنكل فرددنا اليمينَ على البادىء ليحلف على الإثبات يمينَ الردّ فنكل قال نجعل هذا بمثابةِ التحالف فإن نكولَ البادىء عن اليمين بمثابة حَلِف صاحبه وهذا أصل ممهَّد في الدعاوي عندنا وهو أن نكول المردود عليه عن يمين الردّ بمثابة حَلِف الناكل أولاً
Guru saya telah menyebutkan dalam penjelasannya sebuah gambaran yang menguatkan apa yang telah kami sebutkan, yaitu beliau berkata: Jika salah satu dari keduanya bersumpah untuk menolak (tuduhan), berdasarkan pendapat bahwa sumpah itu berbilang, lalu kami tawarkan sumpah kepada yang kedua, namun ia enggan bersumpah, kemudian kami kembalikan sumpah kepada yang pertama agar ia bersumpah untuk menetapkan (tuduhan) dengan sumpah balasan, lalu ia pun enggan, maka kami menganggap hal ini seperti kasus saling bersumpah. Sebab, keengganan yang pertama untuk bersumpah dianggap seperti sumpah lawannya. Ini adalah prinsip yang telah ditetapkan dalam perkara-perkara sengketa menurut kami, yaitu bahwa keengganan orang yang dikembalikan sumpah kepadanya dari sumpah balasan, dianggap seperti sumpah orang yang pertama kali enggan.
فإذا كان ما ذكرنا في طريق شيخنا كالتحالف فلا يبعد أن نجعل نكولهما كتحالفهما ولا نعدَم أمثلةَ هذا على بُعدٍ فالنكاح على قولٍ يرفعه الحكمان إذا أعضل فصلُ الخصومة وإذا تداعى رجلان مولوداً يحتمل أن يكون من أحدهما أريناه القائف ولو تناكراه أريناه القائف كما لو تداعياه
Jika apa yang telah kami sebutkan menurut metode guru kami adalah seperti sumpah berbalasan (tahālu f), maka tidaklah jauh kemungkinan kami menjadikan penolakan sumpah dari keduanya seperti sumpah berbalasan dari keduanya, dan kami tidak kekurangan contoh untuk hal ini meskipun jarang. Misalnya, dalam masalah nikah menurut salah satu pendapat, dua orang hakim dapat membatalkan pernikahan jika terjadi perselisihan yang sulit diselesaikan. Jika dua orang laki-laki saling mengklaim seorang anak yang mungkin berasal dari salah satu dari mereka, maka kami memperlihatkan anak itu kepada ahli nasab (qā’if). Jika keduanya sama-sama mengingkari, kami tetap memperlihatkan anak itu kepada qā’if, sebagaimana jika keduanya saling mengklaim.
هذا وجه
Ini adalah satu pendapat.
ويجوز أن يُقال لا فسخ ولا انفساخ إذا لم تجرِ يمينٌ فإن التعويل في الباب على ألفاظ الرسول عليه السلام وجُملة ما نقله الرواة مقيَّدٌ بالتحالف فإذا لم تجر يمين أصلاً فكأنَّهما تركا الخصومةَ ولم يُنهياها نهايتَها والفسخ منوط بنهايةِ الخصومة وقد رأيتُ ذلك في بعض تصانيف المتقدمين والعلم عند الله
Boleh dikatakan bahwa tidak ada fasakh dan tidak ada infisakh jika tidak terjadi sumpah, karena dalam masalah ini yang dijadikan sandaran adalah lafaz-lafaz Rasulullah saw., dan seluruh riwayat yang dibawakan oleh para perawi itu dikaitkan dengan adanya tahaluf (saling bersumpah). Maka jika sama sekali tidak terjadi sumpah, seolah-olah keduanya telah meninggalkan persengketaan dan tidak menyelesaikannya hingga tuntas, sedangkan fasakh itu bergantung pada berakhirnya persengketaan. Aku telah melihat hal ini dalam sebagian karya ulama terdahulu, dan ilmu itu di sisi Allah.
فصل
Bab
كتاب البيع باب اختلاف المتبايعين
Kitab al-Bay‘ Bab Perselisihan antara Penjual dan Pembeli
إذا جرى التحالف على الوصف الذي ذكرناه فالقول بعده فيما يصير العقد إليه
Jika sumpah telah dilakukan sesuai dengan penjelasan yang telah kami sebutkan, maka pembahasan selanjutnya adalah mengenai akibat yang ditimbulkan terhadap akad tersebut.
فظاهر نص الشافعي أن العقد لا ينفسخ ولكن يُنشأ فسخه ووجه ذلك بيّن؛ فإنه لا يتحقق بالتحالف إلا تعَدُّرُ إمضاءِ العقد لو أصرّا على اختلافهما ولا بأس من أن يصدّق أحدُهما الثاني فلا معنى للحكم بالانفساخ ولكنا نقول لكل واحد منهما إما أن توافق صاحبك وتصدُقَ إن كنتَ الكاذب وإما أن تفسخ العقد
Tampak jelas dari teks Imam Syafi‘i bahwa akad tidak batal dengan sendirinya, melainkan pembatalannya harus dilakukan. Alasannya pun jelas; karena dengan adanya sumpah kedua belah pihak, yang terjadi hanyalah tidak mungkin melanjutkan akad jika keduanya tetap bersikukuh pada perbedaan mereka. Namun, tidak mengapa jika salah satu dari mereka membenarkan pihak yang lain, sehingga tidak ada alasan untuk menetapkan batalnya akad secara otomatis. Akan tetapi, kami katakan kepada masing-masing dari mereka: kamu boleh saja menyetujui rekanmu dan membenarkannya jika kamu yang berdusta, atau kamu boleh membatalkan akad.
وذكر بعض أصحابنا قولاً اَخر مخرّجاً أن العقدَ ينفسخ وهذا القول منسوبٌ إلى أبي بكرٍ الفارسي وفقهُه عندي أن العقد إذا انتهى إلى التنازع في المعقود عليه فنجعل كأن العقدَ فُرض إنشاؤه مع الاختلاف في المعقود عليه ولو كان الأمر كذلك لما انعقد العقد فإن أفضى الأمر إلى هذا وتأكد بالأيمان قدَّرنا كأن صيغةَ العقد كانت على الاختلافِ وصيغةُ هذا المذهب المنسوب إلى الفارسي تُشعر بأنّا نتبيّن أن لا عقد استناداً
Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat lain yang ditarjihkan, yaitu bahwa akad menjadi batal. Pendapat ini dinisbatkan kepada Abu Bakar al-Farisi. Menurut pemahamanku, maksudnya adalah jika akad sampai pada perselisihan mengenai objek akad, maka kita anggap seolah-olah akad itu sejak awal dibuat dalam keadaan terdapat perbedaan pendapat tentang objek akad. Jika memang demikian keadaannya, maka akad tidak akan sah sejak awal. Jika perkara ini berujung pada hal tersebut dan dikuatkan dengan sumpah, maka kita anggap seolah-olah lafaz akad memang terjadi dalam keadaan berbeda pendapat. Rumusan mazhab yang dinisbatkan kepada al-Farisi ini menunjukkan bahwa kita menetapkan tidak adanya akad berdasarkan hal tersebut.
وهذا ضعيفٌ
Ini lemah.
ولا خِلافَ أن الزوائد التي حدثت بعد العقدِ وقبل التحالف مقررةٌ على المشتري وكذلك لا خلاف أن المشتري لو كان تصرف تصرفاً مزيلاً للملك ثم فرض الاختلاف من بعدُ فلا نتبيَّن فساد العقد وارتفاعَه
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa tambahan-tambahan yang terjadi setelah akad dan sebelum tahaluf tetap menjadi milik pembeli. Demikian pula, tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika pembeli melakukan tindakan yang menghilangkan kepemilikan, kemudian terjadi perselisihan setelah itu, maka kita tidak menetapkan bahwa akad tersebut batal dan hilang.
وذكر الشيخ أبو علي في تفريع مذهب الفارسيّ أنا نتبين فسادَ التصرّفات التي جَرت قبل التحالف وهذا وفاءٌ بحق التبيُّن والإسناد ومَصيرٌ إلى أن نجعل كأَنَّ العقد لم يَجْرِ وهذا يتضمن ارتدادَ الزوائد إلى البائع لا محالةَ هكذا ذكر الشيخ أبو علي
Syekh Abu Ali menyebutkan dalam penjabaran mazhab al-Farisi bahwa kita dapat mengetahui rusaknya transaksi-transaksi yang terjadi sebelum sumpah diucapkan. Ini merupakan pemenuhan hak untuk mengetahui dan bersandar, serta berarti kita menganggap seolah-olah akad itu tidak pernah terjadi. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa tambahan-tambahan (manfaat) pasti kembali kepada penjual. Demikianlah yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali.
ولو قيل التحالف يوجب الانفساخَ لأمكن تقريرُ وجهٍ فيه من غير ردَّ الأمر إلى تقدير وقوع العقد كذلك؛ فإنَّ استحقاق إنشاء الفسخ إن نيط بالتحالُفِ فغيرُ بدع أن تناط به عين الانفساخ
Jika dikatakan bahwa sumpah berakibat pada batalnya akad, maka memungkinkan untuk menetapkan alasan dalam hal ini tanpa mengembalikan perkara kepada anggapan bahwa akad itu terjadi demikian; sebab jika hak untuk melakukan pembatalan dikaitkan dengan sumpah, maka tidaklah aneh jika pembatalan itu sendiri dikaitkan langsung dengan sumpah.
وهذا على بعده أمثل مما ذكرناه
Dan meskipun pendapat ini cukup jauh, ia lebih layak dibandingkan apa yang telah kami sebutkan.
التفريع
Pencabangan
إن حكمنا بأن الفسخَ يُنشأ فقد اختلف أصحابنا فيمن يتولاه فمنهم من قال يتولاه الحاكم أو من يفوِّض الحاكمُ إليه
Ketika kita menetapkan bahwa pembatalan itu diadakan, para ulama kami berbeda pendapat mengenai siapa yang melakukannya. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang melakukannya adalah hakim atau orang yang didelegasikan oleh hakim kepadanya.
ومنهم من قال يتولاه المتعاقدان وهذا الوجه الأخيرُ أفقهُ؛ فإن التحالف تحقق جريانه وهو المعتبر في إثبات حق الفسخ ولا يبقى بعد جَريانه مضطرَبٌ لنظر الحاكم فتعليق الفسخ بإنشائه بعيدٌ في المعنى وإن كان مشهوراً في الحكاية
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kedua pihak yang berakad sendiri yang melakukan pembatalan, dan pendapat terakhir inilah yang lebih sesuai dengan fiqh; karena sumpah telah dilaksanakan dan itulah yang dianggap dalam menetapkan hak pembatalan, sehingga setelah sumpah dijalankan tidak ada lagi keraguan yang memerlukan pertimbangan hakim. Maka, menggantungkan pembatalan pada keputusan hakim itu secara makna adalah jauh, meskipun hal itu masyhur dalam riwayat.
ثم حكى أئمتُنا أن البائع إذا كان يفسخ البيعَ بسبب إفلاس المشتري بالثمن ووجود عين المبيع فهو الذي يفسخ قطعوا بهذا وهذا حسن وإفلاس المشتري إن كان مجتهداً فيه فالحجر مطَّرِد عليه والتعذر متحقق وإن لم نتحقق في علم الله الفَلَس
Kemudian para imam kami menyebutkan bahwa apabila penjual membatalkan jual beli karena pembeli jatuh pailit dalam pembayaran harga dan barang yang dijual masih ada, maka penjual itulah yang membatalkan, dan mereka sepakat atas hal ini, dan ini adalah pendapat yang baik. Jika kepailitan pembeli merupakan hasil ijtihad dalam hal itu, maka larangan (hajr) berlaku atasnya secara konsisten dan ketidakmampuan (untuk membayar) benar-benar terjadi, meskipun kita tidak mengetahui secara pasti dalam ilmu Allah tentang kepailitan tersebut.
وقال بعض الأصحاب القاضي هو الذي يفسخ النكاح عند تحقق العُنَّة وجهاً واحداً والزوجة تتعاطى الفسخ بالإعسارِ بالنفقة ولستُ أرى بين العُنَّةِ والإعسار فرقاً؛ فإن الأمرين جميعاً متعلقان بالاجتهادِ فليخرَّج الأمرُ فيهما على التردد الذي ذكرناه في التحالُفِ والقياس في الجميع أن الفسخ لا يتوقف على إنشاءِ القاضي
Sebagian ulama berpendapat bahwa qadhi adalah pihak yang membatalkan pernikahan ketika terbukti adanya ‘innah (impotensi) secara mutlak, sedangkan istri dapat melakukan pembatalan karena suami tidak mampu memberi nafkah. Saya tidak melihat adanya perbedaan antara ‘innah dan ketidakmampuan memberi nafkah, karena kedua perkara tersebut sama-sama bergantung pada ijtihad. Maka, hendaknya persoalan ini dikembalikan pada keraguan yang telah kami sebutkan dalam masalah sumpah, dan qiyās dalam semua hal ini adalah bahwa pembatalan tidak bergantung pada keputusan qadhi.
نعم لا بد من حكمه بثبوت العُنّة والإعسار ولا حاجةَ إلى حكمه بعد التحالف
Ya, memang harus ada keputusan hakim tentang terbuktinya ‘unnah (impotensi) dan ketidakmampuan (membayar), dan tidak diperlukan lagi keputusan hakim setelah adanya sumpah berlawanan (tahalluf).
وأما فسخ البائع بسبب الفلسِ ففيهِ مزيدُ نظَرٍ سنذكرهُ في كتاب الحجر إن شاء الله عز وجل
Adapun pembatalan oleh penjual karena pailit, maka dalam hal ini terdapat pembahasan lebih lanjut yang akan kami sebutkan dalam Kitab al-Hajr, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ثم إذا ثبت ما ذكرناه في الفسخ والانفساخ فالقول بعده في الظاهرِ والباطنِ فإن حكمنا بالانفساخ نفذ ذلك ظاهراً وباطناً عُقيبَ التحالف ولا حاجةَ في هذا القولِ إلى عرض الأمر على المتعاقدَيْن بعد التحالُف
Kemudian, apabila telah tetap apa yang telah kami sebutkan mengenai fasakh dan infisakh, maka selanjutnya pembahasan mengenai zhahir dan batin. Jika kami memutuskan infisakh, maka keputusan itu berlaku secara zhahir maupun batin setelah terjadinya sumpah berlawanan, dan dalam keputusan ini tidak perlu lagi mengajukan perkara kepada kedua pihak yang berakad setelah terjadinya sumpah berlawanan.
وإن قُلنا بفسخ العقد وهو المذهب فالفسخ ينفذ ظاهراً وباطناً أم ينفذ ظاهراً والكاذب مؤاخذٌ بعُهدة العقد بينه وبين الله تعالى قال الأئمة إن كان المشتري كاذباً وكان الثمن ألفين وهو منكرٌ لألفٍ واحدٍ فإن جرى الفسخُ انفسخ العقد ظاهراً وباطناً ونزل التعذُر المترتب على التحالف منزلةَ التعذّرِ المترتب على الفَلَس؛ فإنّ البائع يقدر على بعض من الثمن لو رضي بالمضاربة والمخاصَمة فجعل تخلّفَ بعضِ الثمن عنه مُسلِّطاً على الفسخ والرجوع إلى المبيع ظاهراً وباطناً
Jika kita mengatakan bahwa akad dibatalkan, dan inilah pendapat mazhab, maka apakah pembatalan itu berlaku secara lahir dan batin, ataukah hanya berlaku secara lahir sementara pihak yang berdusta tetap memikul tanggung jawab akad antara dirinya dengan Allah Ta’ala? Para imam berkata: Jika pembeli berdusta dan harga sebenarnya adalah dua ribu, namun ia mengingkari seribu darinya, lalu terjadi pembatalan, maka akad batal secara lahir dan batin. Kesulitan yang timbul akibat sumpah dianggap seperti kesulitan yang timbul akibat pailit; karena penjual masih bisa mendapatkan sebagian dari harga jika ia rela dengan bersengketa dan berjuang. Maka, kegagalan mendapatkan sebagian harga itu memberikan hak untuk membatalkan dan kembali kepada barang yang dijual, baik secara lahir maupun batin.
وإن كان البائع كاذباً والتفريع على إنشاء الفسخ فهل ينفسخ العقد باطناً فعلى وجهين مشهورين أحدهما أنه ينفسخ باطِناً؛ لأن صورة التحالف تقتضي رفعَ العقد إذا أصرَّ المتعاقِدان المتحالفان
Jika penjual berbohong dan pembahasan diarahkan pada pelaksanaan pembatalan, maka apakah akad batal secara batin? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa akad batal secara batin, karena bentuk tahaluf (saling bersumpah) menuntut dihapuskannya akad apabila kedua pihak yang berakad dan saling bersumpah tetap bersikukuh pada pendiriannya.
والوجه الثاني أن الفسخ لا يقع باطناً؛ فإن البائع هو الكاذب والتعذُّر راجع إلى جهة المشتري وليس لهذا النوع من التعذّر نظيرٌ يثبت حقَّ الفسخ كما ذكرنا نظير الفلسِ في جانب المشتري
Adapun sisi yang kedua, pembatalan tidak terjadi secara batin; karena penjuallah yang berdusta dan ketidakmampuan itu kembali kepada pihak pembeli, dan untuk jenis ketidakmampuan seperti ini tidak ada padanannya yang menetapkan hak pembatalan sebagaimana telah kami sebutkan padanan kebangkrutan di pihak pembeli.
وحق الناظر أن يحوي هذه الفصول ويَعيها
Hak bagi seorang penelaah adalah untuk mengumpulkan bab-bab ini dan memahaminya.
وتمامُ البيان في نجازها
Dan penjelasan yang sempurna terdapat pada penyelesaiannya.
وذكر شيخي أبو محمد رحمه الله طريقةً أخرى فقال إذا كان البائع كاذباً فلا ينفسخ البيعُ باطناً وجهاً واحداً وإن كان البائع صادقاً والمشتري كاذباً ففي الانفساخ باطناً وجهَانِ
Syekh saya, Abu Muhammad rahimahullah, menyebutkan cara lain, beliau berkata: Jika penjual berdusta, maka akad jual beli tidak batal secara batin menurut satu pendapat saja. Namun jika penjual jujur dan pembeli yang berdusta, maka dalam hal batalnya akad secara batin terdapat dua pendapat.
والطريقةُ المشهورةُ ما قدَّمناها والبيان بين أيدينا بعدُ
Metode yang masyhur adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan, dan penjelasannya masih akan kami sampaikan setelah ini.
فنقولُ في هذا الفصلِ مباحثةٌ جليَّةٌ أغفلها الأصحاب ونحن نأتي عليها بعون الله تعالى فنقول
Maka kami katakan dalam bab ini terdapat pembahasan yang jelas yang telah diabaikan oleh para sahabat (ulama terdahulu), dan kami akan membahasnya dengan pertolongan Allah Ta‘ala, maka kami katakan:
أولاً ذهب ذاهبون إلى أن القاضي هو الذي يتولى الفسخَ كما تقدّمَ وسببُه أنه مادام يرجو تصديقَ أحدهما الآخر فإنه لا يفسخ فدرْكُ ذلك الوقت إلى نظرهِ فكان هو المتعاطي للفسخ
Pertama, sebagian ulama berpendapat bahwa qāḍī (hakim) adalah pihak yang melakukan pembatalan (fasakh), sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Alasannya adalah selama masih ada harapan salah satu pihak membenarkan pihak lainnya, maka pembatalan tidak dilakukan. Oleh karena itu, penentuan waktu tersebut dikembalikan kepada pertimbangan qāḍī, sehingga dialah yang berwenang melakukan pembatalan.
فلو قالَ المتعاقدان لا نريد أن نفسخ ونحن على خصامِنا نتنازع فالقاضي يفسخ
Jika kedua pihak yang berakad berkata, “Kami tidak ingin membatalkan akad sementara kami masih berselisih dan saling bertikai,” maka hakimlah yang membatalkannya.
وإن قالا أعرضنا عن الخصومة ولم يصدّق أحدُهما صاحبَه ولكن زعم المشتري أنه تَركَ المبيع في يدِ البائع وقالَ البائع لستُ أطالبُ المشتري بالمزيد الذي ادّعيته فاتركنا ولا تفسخ العقدَ بيننا فللأصحاب في هذا لفظٌ ننقله ثم ننظر
Jika keduanya berkata, “Kami berpaling dari perselisihan,” namun salah satu dari mereka tidak membenarkan ucapan yang lain, melainkan pembeli mengklaim bahwa ia telah meninggalkan barang yang dibeli di tangan penjual, dan penjual berkata, “Aku tidak menuntut pembeli atas tambahan yang aku klaimkan, maka biarkan kami dan jangan batalkan akad di antara kami,” maka para ulama memiliki pendapat dalam hal ini yang akan kami sebutkan, kemudian kami akan menelitinya.
قالوا إذا جَرى التحالفُ فإن رغب أحدُهما في الأخذ بقول صاحبهِ فذاك وإلاَّ فسخ بينهما للتعذر
Mereka berkata, apabila telah terjadi sumpah, lalu salah satu dari keduanya ingin menerima pernyataan pihak lainnya, maka itu diperbolehkan. Namun jika tidak, maka akad antara keduanya dibatalkan karena adanya kesulitan.
وظاهر هذا يدل على أن أحدهما إن صدَّق الآخر اندفع الفسخ وإن لم يجرِ من أحدهما تصديقُ الآخر فالقاضي يفسخ
Tampak jelas dari hal ini bahwa jika salah satu dari keduanya membenarkan yang lain, maka pembatalan tidak terjadi. Namun, jika tidak ada salah satu dari keduanya yang membenarkan yang lain, maka hakim membatalkan.
ولكن في كلام الأصحاب ذكرُ التعذر فإنهم قالوا فسخ للتعذر والمسألةُ على الجملة محتملةٌ إذا أعرضا وقطعَا الطَّلِبة فيجوز أن يقال يقطع القاضي مادَّة الخصومة بالفسخ؛ فإنّه لا يأمن أن يعودا في مستقبل الزمان وإنما تنقطع مادةُ الخصام بالتصادق على قولٍ أو بالفسخ
Namun, dalam penjelasan para ulama disebutkan adanya keadaan sulit, karena mereka mengatakan bahwa pembatalan dilakukan karena adanya kesulitan. Secara umum, permasalahan ini masih memungkinkan jika kedua belah pihak berpaling dan benar-benar menghentikan tuntutan. Maka, boleh dikatakan bahwa hakim dapat memutus sumber perselisihan dengan pembatalan, karena tidak ada jaminan keduanya tidak akan kembali berselisih di masa mendatang. Sumber perselisihan baru benar-benar terputus dengan adanya kesepakatan bersama atas suatu pendapat atau dengan pembatalan.
ويجوز أن يقال إذا أعرضا فلا تعذُّرَ وإنما التعذُّر إذا كانا على التآخذ والمطالبة وقالا للقاضي وفِّ حَقَّ كُلِّ واحدٍ منَّا على ما يليق بالحال أو التَمسا الفسخَ فيبعدُ أن نحكم بوجوب الفسخ
Boleh juga dikatakan bahwa jika keduanya berpaling, maka tidak ada kesulitan, dan kesulitan itu hanya terjadi jika keduanya saling menuntut dan meminta kepada qadhi untuk memenuhi hak masing-masing sesuai dengan keadaan, atau mereka berdua meminta pembatalan, maka jauh kemungkinan kita memutuskan wajibnya pembatalan.
فهذا تردد واقع
Maka inilah keraguan yang terjadi.
ثم نقول إن كان الفاسخ هو القاضي فالذي ذكرهُ الأصحابُ في الظاهرِ والباطنِ مفهوم
Kemudian kami katakan, jika yang membatalkan adalah qadhi, maka apa yang disebutkan oleh para ulama dalam perkara lahir dan batin adalah sesuatu yang dapat dipahami.
وإن قلنا الفسخ إلى المتعاقدَيْنِ فإن توافقَا على الفسخ فلا شك في انفساخ العقد باطناً ولا يجوز أن نقدِّر في هذا خلافاً؛ فإنهما إذا تفاسخا فقد جَرى الفسخُ من صَادقٍ محق فيجب القضاءُ بتنفيذ فسخه سواء كان ذلك المحق البائع أو المشتري فإن كان المحق هو البائع فهو مشبهُ بمسألة الفلس وإن كان المحق هو المشتري فالمبيع لم يسلم له بالثمن الواقع في علمِ الله تعالى
Dan jika kita mengatakan bahwa pembatalan (fasakh) berada di tangan kedua pihak yang berakad, maka apabila keduanya sepakat untuk membatalkan, tidak diragukan lagi bahwa akad tersebut batal secara batin, dan tidak boleh kita menganggap ada perbedaan pendapat dalam hal ini; karena apabila keduanya saling membatalkan, maka pembatalan itu dilakukan oleh pihak yang benar dan berhak, sehingga wajib diputuskan untuk melaksanakan pembatalannya, baik pihak yang berhak itu adalah penjual maupun pembeli. Jika yang berhak adalah penjual, maka hal itu serupa dengan kasus kepailitan (al-fals), dan jika yang berhak adalah pembeli, maka barang yang dijual itu belum benar-benar diterimanya dengan harga yang telah diketahui oleh Allah Ta‘ala.
وإذا تعذَّر استيفاءُ المبيع على الجهة المستحقَّة في العقد فثبوت الخيار للمشتري أَوْجَه؛ فإنّ من لم يُثبت الخيارَ للبائع بعذر الفلس أثبت الخيار للمشتري بتعذّراتٍ تطرأ على المبيع
Apabila pemenuhan barang yang dijual tidak dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang disepakati dalam akad, maka penetapan hak khiyar bagi pembeli lebih kuat; sebab, siapa yang tidak menetapkan hak khiyar bagi penjual karena alasan pailit, justru menetapkan hak khiyar bagi pembeli ketika terjadi halangan-halangan yang menimpa barang yang dijual.
وتمام البيان في هذا أنا إذا قلنا يثبت حق الفسخ لهما لا نشترط أن يتوافقا؛ فإنهما قد لا يتوافقان وتبقى الخصومة ناشبة بينهما ولكن من ابتدرَ إلى الفسخ منهما يحكم به أولاً في ظاهرِ الأمرِ
Penjelasan yang sempurna dalam hal ini adalah bahwa ketika kami mengatakan hak fasakh ditetapkan bagi keduanya, kami tidak mensyaratkan adanya kesepakatan antara keduanya; karena bisa jadi keduanya tidak sepakat dan perselisihan tetap terjadi di antara mereka, namun siapa di antara mereka yang lebih dahulu melakukan fasakh, maka fasakh itulah yang diputuskan terlebih dahulu secara lahiriah.
ولكن إن كان الفاسخ مُحقّاً فالوَجه تنفيذ الفسخ باطناً وإن كان مبطلاً فالوجه القطع بأنه لا ينفذ الفسخ باطِناً والوجهانِ يختصان بفسخ القاضي؛ فإنّ فسخه يرجع إلى مصلحة فإن تخيلنا نفاذه باطناً فمن هذه الجهة وهذا لا يتحقق فيهِ إذا كان أنشأ المبطِل الفسخ
Namun, jika pihak yang membatalkan memang berada di pihak yang benar, maka pendapat yang kuat adalah pembatalan tersebut berlaku secara batin. Namun jika ia berada di pihak yang salah, maka pendapat yang kuat adalah pembatalan tersebut tidak berlaku secara batin. Kedua pendapat ini khusus berkaitan dengan pembatalan yang dilakukan oleh qadhi; sebab pembatalannya berkaitan dengan kemaslahatan. Jika kita membayangkan pembatalannya berlaku secara batin, maka hal itu berasal dari sisi ini. Namun hal tersebut tidak terwujud jika yang melakukan pembatalan adalah pihak yang salah.
وتمام البيان أنا إذا قلنا لا ينفذ الفسخ باطناً على وجه فيهِ إذا تولَّى القاضي الفسخَ فهل يثبت للمحق من المتعاقدين أن يفسخ ويوافقَ القاضي
Penyempurnaan penjelasan adalah bahwa apabila kita mengatakan pembatalan tidak berlaku secara batin dalam suatu kasus, lalu hakim yang melakukan pembatalan, maka apakah pihak yang berhak dari kedua pihak yang berakad boleh membatalkan dan menyetujui hakim?
هذا فيه احتمال؛ من جهة أنا إذا فوَّضنا إلى القاضي فلا يمتنع أن لا يثبت للمتعاقدَيْن فيه سلطنة ولكن الظاهر أنه ينفذ فسخ المحق باطناً وإن كان لا يستقلّ به في الظاهر هكذا ذكره شيخي
Hal ini mengandung kemungkinan; dari satu sisi, jika kita menyerahkan perkara kepada qadhi, maka tidak mustahil bahwa kedua pihak yang berakad tidak memiliki kekuasaan (sultānah) di dalamnya. Namun yang tampak adalah bahwa pembatalan (fasakh) oleh pihak yang berhak tetap berlaku secara batin, meskipun secara lahiriah ia tidak dapat melakukannya sendiri. Demikianlah yang disebutkan oleh guruku.
والدليل البات فيه أنا إذا لم نثبت هذا المسلكَ لما كان في الحكم بالفسخ ظاهراً فائدة
Dan dalil yang tegas dalam hal ini adalah bahwa jika kita tidak menetapkan metode ini, maka dalam menetapkan hukum pembatalan tidak tampak adanya manfaat yang jelas.
ولكن يُعنَى من الفسخ زجرُ القاضي إياهما عن التآخذ هذا منتهى البيان ولم نخالف الأئمَّةَ ولكنهُم لم يبحثوا ونحن بنينا البحث على ما تلقيناه منهم
Namun yang dimaksud dengan pembatalan adalah agar hakim memberikan peringatan kepada keduanya agar tidak saling mengambil. Inilah penjelasan yang paling jelas, dan kami tidak menyelisihi para imam, hanya saja mereka tidak membahasnya, sedangkan kami membangun pembahasan ini berdasarkan apa yang kami terima dari mereka.
فصل
Bab
إذا اختلف المتبايعان والسلعةُ قائمة لم يلحقها عيب تحالفَا وتَرادَّا على ما سَبق تفصيل الفسخ والانفساخ وإن لحق السلعةَ عيب نقصَ من القيمة وفُسِخ العقدُ استردَّ البائعُ السلعةَ وغرِم المشتري أرشَ العيب
Jika penjual dan pembeli berselisih pendapat sementara barang masih ada dan belum terkena cacat, maka keduanya saling bersumpah dan mengembalikan barang sesuai dengan rincian pembatalan dan pembubaran akad yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun jika barang tersebut terkena cacat yang menyebabkan penurunan nilai dan akad dibatalkan, maka penjual mengambil kembali barang tersebut dan pembeli menanggung ganti rugi atas cacat tersebut.
والأصل المعتبرُ في هذا وأمثالِه أن السلعةَ لو كانت تالفة فالفسخ يجري بسبب التحالُف بعد تلفها عندنا؛ فإن معتمدَ الفَسخ التنازُعُ في العقد والتنازُع واقع والعقد دائم فيترادّانِ ويستردُّ البائعُ قيمةَ المبيع ويردُّ الثمنَ فإذا كان يغرم القيمةَ عند تقدير التلف يغرم أرش العيب عند ثبوت العيب وكل يدٍ تضمن القيمةَ عند الفوات تضمن أرشَ النقصان عند النقصان وهذا مطَّرد ولا يجوز أن يُعتقدَ خلافُه وهو منعكس؛ فإن المبيع إذا عابَ في يد البائع لم يلتزم البائعُ للمشتري أرشَ العَيبِ؛ لأن المبيع لو تلف في يَده لم يلتزم قيمتَه بل الحكم بالانفساخ
Dasar yang dijadikan acuan dalam masalah ini dan yang semisalnya adalah bahwa jika barang dagangan telah rusak, maka pembatalan (fasakh) tetap berlaku karena adanya sumpah (tahālu f) setelah barang itu rusak menurut kami; sebab dasar pembatalan adalah adanya perselisihan dalam akad, dan perselisihan itu memang terjadi serta akad masih tetap berlaku, sehingga kedua belah pihak saling mengembalikan (apa yang telah diterima), penjual mengambil kembali nilai barang yang dijual, dan mengembalikan harga (yang telah diterima). Jika penjual harus mengganti nilai barang ketika terjadi kerusakan, maka ia juga harus mengganti kompensasi cacat (arsh al-‘ayb) ketika cacat itu terbukti. Setiap pihak yang wajib mengganti nilai barang ketika barang itu hilang, juga wajib mengganti kompensasi kekurangan ketika terjadi kekurangan. Kaidah ini berlaku secara konsisten dan tidak boleh diyakini sebaliknya. Sebaliknya, jika barang yang dijual mengalami cacat di tangan penjual, maka penjual tidak wajib memberikan kompensasi cacat kepada pembeli; karena jika barang itu rusak di tangannya, ia juga tidak wajib mengganti nilainya, melainkan hukum akad menjadi batal.
ولا يُمكننا أن نُثبتَ في العَيب الانفساخَ؛ فإن الفائت بسبب العيب جزءٌ ليس مقصوداً مفرداً على حيالهِ فكان أقربُ الأمور تخييرَ المشتري في الفسخ
Kita tidak dapat menetapkan terjadinya pembatalan (infisakh) dalam kasus cacat; sebab, yang hilang akibat cacat tersebut hanyalah sebagian yang bukan merupakan tujuan utama secara tersendiri. Maka, yang paling mendekati adalah memberikan pilihan (khiyar) kepada pembeli untuk membatalkan (fasakh) transaksi.
وذكر الشيخ أبو علي بعد تمهيد ما ذكرناه في الطرد والعكس مسألة ظاهرها يخالف ما مفَدناه وهي أن من عَجَّل شاةً عن الزكاة قبل وجوبها ثم تلف مال المعجِّل قبل حلول الحول؛ فإنه يسترد على تفصيلٍ سبق ذكره فيسترد الشاةَ من المسكين إن كانت قائمة وإن كانت تالفة رجع عليه بقيمتها وإن كانت باقيةً ولكنها عابت في يد المسكين قال الشافعي يُخرج الإمامُ من المال العام أرشَ النقص ويضمُّه إلى الشاة ولا يكلف المسكين غُرمَ العيب وهذا بظاهِرِه يخالف ما مهَّدناه من إتباع الأرش القيمةَ
Syekh Abu Ali menyebutkan, setelah penjelasan yang telah kami sampaikan mengenai thard dan ‘aks, sebuah permasalahan yang secara lahiriah tampak bertentangan dengan apa yang telah kami jelaskan, yaitu: jika seseorang menyegerakan seekor kambing sebagai zakat sebelum kewajibannya tiba, kemudian harta orang yang menyegerakan itu hilang sebelum genap satu tahun, maka ia berhak meminta kembali zakat tersebut dengan rincian yang telah disebutkan sebelumnya. Ia dapat mengambil kembali kambing itu dari orang miskin jika masih ada, dan jika sudah hilang, ia berhak menuntut nilainya. Jika kambing itu masih ada namun cacat di tangan orang miskin, menurut pendapat Imam Syafi‘i, imam (penguasa) mengambil dari baitul mal (harta umum) ganti rugi atas cacat tersebut dan menambahkannya pada kambing itu, serta tidak membebani orang miskin untuk menanggung kerugian akibat cacat tersebut. Secara lahiriah, hal ini bertentangan dengan apa yang telah kami jelaskan sebelumnya tentang mengikuti nilai ganti rugi (arasy) terhadap nilai barang.
وذهب بعض أصحابنا إلى القول بظاهر النّص وهذا خيالٌ لا أصل له والوجْهُ حملُ نصِّ الشافعي على الاستحباب عند اتساع المالِ ثم هذا يجري في القيمة لو تلفت الشاة
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat sesuai dengan makna lahiriah nash, namun ini adalah anggapan yang tidak berdasar. Pendapat yang benar adalah membawa nash asy-Syafi‘i pada anjuran (istihbab) ketika harta seseorang lapang. Kemudian, hal ini juga berlaku pada nilai (qimah) jika kambing tersebut rusak.
فلو كانت الجارية المبيعةُ خليةً عن الزوج حالة العقدِ فزَوّجها المشتري ثم فرض التحالف والفسخُ فالتزويج عيبٌ
Jika budak perempuan yang dijual itu tidak bersuami pada saat akad, lalu pembeli menikahkannya, kemudian terjadi saling bersumpah dan pembatalan akad, maka pernikahan tersebut dianggap sebagai cacat.
قال الشيخ أبو علي لو اشترى عبداً ثم أذن له فزَوَّجه فتزويجُه عيبٌ؛ فإنه يشغل كسبَه وتنقص الرغبةُ فيه وهذا بيّن
Syekh Abu Ali berkata: Jika seseorang membeli seorang budak lalu memberinya izin, kemudian menikahkannya, maka pernikahan itu merupakan cacat; karena hal itu akan menyibukkan budak tersebut dari pekerjaannya dan mengurangi minat terhadapnya, dan ini jelas.
ثم إن جرى التفاسُخُ والسلعةُ تالفةٌ فالرجوع إلى القيمة
Kemudian, jika terjadi pembatalan akad sementara barang telah rusak, maka pengembalian didasarkan pada nilai (barang tersebut).
ثم اضطربَ الأصحاب في الوقت الذي يعتبر فيه قيمة السلعة فذكر العراقيون قولين أحدهما أنا نعتبر قيمة التالف؛ فإن القيمة تخلُفُ العينَ ومورد الفسخ العينُ لو بقيت فإذا فاتت فنعتبر القيمةَ من وقت فواتِها
Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai waktu yang dijadikan acuan dalam menilai harga barang. Ulama Irak menyebutkan dua pendapat, salah satunya adalah bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai barang yang rusak; karena nilai tersebut menggantikan barang itu sendiri, dan objek pembatalan adalah barang itu jika masih ada. Maka jika barang itu hilang, yang dijadikan acuan adalah nilainya pada saat barang itu hilang.
والقول الثاني أنا نعتبر أقصى قيمةٍ من يوم القبض إلى يوم التلف؛ فإن البائع يبغي العينَ وكان تقدير الفسخ ممكناً في كل وقتٍ من القبض إلى التلف فتعتبر أرفع قيمةٍ
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai tertinggi sejak hari penerimaan hingga hari kerusakan; karena penjual menginginkan barangnya, dan penetapan pembatalan (akad) memungkinkan dilakukan kapan saja sejak penerimaan hingga kerusakan, maka yang dijadikan acuan adalah nilai tertinggi.
وذكر شيخي قولاً ثالثاً وهو أنا نعتبر قيمةَ يوم القبض؛ فإنها أولُ دخول المبيع في ضمان المشتري فلا ننظر إلى زيادةٍ بعد ذلك أو نقصان؛ فإن الزيادة إن كانت فهي على ملك المشتري والنقصان إن كان فهو من ضمانه
Syekh saya menyebutkan pendapat ketiga, yaitu bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari penerimaan; karena itulah awal masuknya barang yang dijual ke dalam tanggungan pembeli, sehingga kita tidak memperhatikan adanya kenaikan atau penurunan setelah itu; sebab jika ada kenaikan maka itu menjadi milik pembeli, dan jika ada penurunan maka itu menjadi tanggungannya.
وذكر بعض الأثْباتِ قولاً رابعاً وهو أنا نعتبرُ أقل قيمةٍ من يومِ العقدِ إلى يوم القبض فإن كانت قيمته يوم العقد أقل فالزيادةُ على ملك المشتري وإن كانت يوم القبض أقلَّ فهي المعتبرة فإنها قيمةُ يوم الضمان وأما ما يكون بعد ذلك من زيادة ونقصان فهما غير مُعتبَرين كما قدَّمناه وهذا أضعف الطرق؛ فإن إدخالَ يوم العقد في الاعتبار بعيدٌ في هذا المقام
Sebagian ulama yang terpercaya menyebutkan pendapat keempat, yaitu bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai terendah dari hari akad sampai hari penerimaan. Jika nilainya pada hari akad lebih rendah, maka kelebihan nilainya menjadi milik pembeli. Namun jika nilainya pada hari penerimaan lebih rendah, maka itulah yang dijadikan acuan karena itu adalah nilai pada hari tanggungan. Adapun kenaikan atau penurunan nilai setelah itu, keduanya tidak diperhitungkan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ini adalah pendapat yang paling lemah, karena memasukkan hari akad dalam pertimbangan adalah hal yang jauh (tidak tepat) dalam masalah ini.
وقد قدمنا في باب الخراج بالضمان اختلافاً في قيمته وذلك الاختلافُ يباين ما نحن فيه ولا نجد بداً من إعادة تصوير ما مضى ليتبين الفرقُ بين المقامَيْن للناظر
Kami telah mengemukakan dalam bab kharaj dengan jaminan adanya perbedaan pendapat mengenai nilainya, dan perbedaan tersebut berbeda dengan apa yang sedang kita bahas di sini. Kami tidak dapat menghindari untuk mengulang penjelasan yang telah lalu agar perbedaan antara kedua keadaan tersebut menjadi jelas bagi pembaca.
ذكرنا أن من اشترى عبدين وتلف أحدُهما في يدهِ ووجد بالثاني عيباً وفرَّعنا على أنه يُفرِد العبدَ الموجود بالردّ ويستردّ قسطاً من الثمن وسبيلُ التقسيط توزيعُ الثمن على قيمة التالف والباقي ثم قيمةُ التالف في غرض التوزيع بأيّ يوم تعتبر فيه أقوال أحدها أنا ننظر إلى قيمةِ يوم البيع؛ فإنا نحتاج إلى التوزيع ومعناه بيان ما وقع من المقابلةِ والتقسيط ابتداء
Kami telah menyebutkan bahwa jika seseorang membeli dua budak, lalu salah satunya rusak di tangannya dan pada budak yang kedua ditemukan cacat, maka kami telah menjelaskan bahwa budak yang masih ada dapat dikembalikan secara terpisah dan pembeli berhak meminta kembali bagian dari harga. Cara pembagian harga adalah dengan membagi harga tersebut pada nilai budak yang rusak dan yang masih ada. Adapun nilai budak yang rusak untuk keperluan pembagian, terdapat beberapa pendapat mengenai hari mana yang dijadikan acuan. Salah satunya adalah kita melihat nilai pada hari penjualan, karena kita membutuhkan pembagian tersebut, dan maksudnya adalah untuk menjelaskan apa yang terjadi dari pertukaran dan pembagian sejak awal.
والقول الثاني أنا نعتبر حالة قبض المشتري؛ فإن المبيع عندها يدخل في ضمانهِ
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dijadikan acuan adalah keadaan setelah pembeli menerima barang; maka pada saat itu barang yang dijual masuk dalam tanggungan (jaminan) pembeli.
والقول الثالث أنا نعتبر الأقلَّ من يوم البيع إلى القبض
Pendapat ketiga adalah bahwa yang dijadikan patokan adalah waktu yang paling singkat antara hari penjualan hingga penerimaan.
وقد وجَّهنا هذه الأقوالَ وليست القيمةُ فيها على نسق القيمة التي يغرمها المشتري عند التحالف؛ فإن تلك القيمةَ لم نثبتها ليغرم وإنما قدرناها ليطلع بها على حقيقةِ التوزيع وهذا يستدعي لا محالة نظراً إلى يوم العقد
Kami telah mengemukakan pendapat-pendapat ini, dan nilai (harga) yang dimaksud di sini tidaklah sama dengan nilai yang harus dibayar oleh pembeli ketika terjadi sumpah (perselisihan); karena nilai tersebut tidak kami tetapkan untuk dibayar, melainkan kami perkirakan agar dapat diketahui hakikat pembagian, dan hal ini tentu saja memerlukan pertimbangan terhadap hari akad.
وقد يَظُن ظان أن الاعتبار بأول حالِ الضمانِ فعنده قرار الضمان فأما اعتبار التلفِ فلا يقتضيه هذا الأصل والقيمة في مسألَتِنا مغرومة فاعتبار العقد فيها بعيدٌ واعتبار التلف قريب فليفصِل الناظر بين البابين
Mungkin ada yang mengira bahwa yang menjadi pertimbangan adalah keadaan awal jaminan, karena pada saat itulah jaminan menjadi tetap. Adapun mempertimbangkan kerusakan, hal itu tidak dituntut oleh kaidah ini, dan nilai dalam masalah kita ini merupakan beban yang harus ditanggung, sehingga mempertimbangkan akad di dalamnya adalah jauh, sedangkan mempertimbangkan kerusakan adalah dekat. Maka hendaknya orang yang meneliti membedakan antara kedua bab tersebut.
وإذا قلنا لا يرد العبدَ القائمَ إلا مع قيمةِ التالف فيضم القيمةَ إلى العبدِ القائم ويسترد جملةَ الثمن فقيمة العبد التالف مغرومة مبذولة والتفصيل فيها كالتفصيل في السلعة التالفة إذا كان المشتري يغرَم قيمتها بعد التحالف
Dan jika kita mengatakan bahwa budak yang masih ada tidak dikembalikan kecuali bersama dengan nilai budak yang telah rusak, maka nilai tersebut digabungkan dengan budak yang masih ada dan seluruh harga dibayarkan kembali. Maka nilai budak yang telah rusak menjadi tanggungan yang harus dibayarkan, dan perinciannya sama seperti perincian pada barang yang rusak apabila pembeli harus membayar nilainya setelah terjadi sumpah.
فهذا تمام ما أردناه في ذلك
Inilah seluruh yang kami maksudkan dalam hal itu.
ولو اختلفَ المشتري الغارم في مسألة التحالف والبائعُ المغروم له في مقدار القيمة فالقولُ قولُ الغارم وهذا أصلٌ تمهّد نبهنا عليه فيما تقدَّم
Jika pembeli yang menanggung utang berselisih pendapat dalam masalah sumpah dengan penjual yang menanggung kerugian mengenai besarnya nilai, maka pendapat yang dipegang adalah pendapat pihak yang menanggung utang. Ini adalah kaidah yang telah kami jelaskan sebelumnya.
ولو اشترى عبداً وقبضه وأَبِق من يده ثم اختلفا وتحالفا فالفسخ جارٍ؛ فإنه إذا كان لا يمتنع الفسخ بتلف المعقود عليه فلا يمتنع بإباقه والعجزِ عن تسليمه ثم إذا نفذ الفسخ غرِم المشتري قيمةَ العبدِ؛ فإن كل من يغرِم عيناً لو تلفت بقيمتها يغرِم قيمتَها عند وقوع الحيلولة فيها
Jika seseorang membeli seorang budak lalu telah menerimanya, kemudian budak itu melarikan diri dari tangannya, lalu keduanya (penjual dan pembeli) berselisih dan saling bersumpah, maka pembatalan (akad) tetap berlaku; sebab jika pembatalan tidak terhalang oleh rusaknya objek akad, maka tidak pula terhalang oleh pelarian budak tersebut dan ketidakmampuan untuk menyerahkannya. Kemudian, jika pembatalan telah dilaksanakan, pembeli wajib mengganti nilai budak tersebut; karena setiap orang yang wajib mengganti suatu barang dengan nilainya jika barang itu rusak, maka ia juga wajib mengganti nilainya ketika terjadi halangan (untuk menyerahkannya).
ثم العبد في إباقه ملك من المذهب الأصح أنه ملك البائع والفسخ نقضَ الملكَ فيه إلى البائع والقيمةُ التي أوجبناها سببها الحيلولةُ فعلى هذا إذا عادَ العبد تعين رَدُّه ثم القيمةُ مسترَدَّةٌ وينْزل إباق العبدِ فيما نحن فيه منزلةَ إباق العبد المغصوب؛ فإن الملك فيه للمغصوب منه ولكن القيمةَ تلزم الغاصبَ؛ لمكان الحيلولة وإذا عاد العبدُ ردّه الغاصبُ واستردّ القيمةَ هذا وجه
Kemudian, mengenai budak yang melarikan diri, menurut pendapat mazhab yang paling sahih, kepemilikan kembali kepada penjual, dan pembatalan (akad) berarti membatalkan kepemilikan atas budak tersebut kepada penjual. Nilai (harga) yang kami wajibkan itu sebabnya adalah adanya penghalang (hiyūlah). Berdasarkan hal ini, jika budak itu kembali, maka wajib mengembalikannya, kemudian nilai (harga) tersebut harus dikembalikan. Pelarian budak dalam permasalahan kita ini diposisikan seperti pelarian budak yang digasb (dirampas); di mana kepemilikan tetap milik orang yang dirampas, tetapi nilai (harga) wajib ditanggung oleh perampas karena adanya penghalang (hiyūlah). Jika budak itu kembali, maka perampas mengembalikannya dan mengambil kembali nilai (harga) tersebut. Inilah pendapatnya.
ومن أصحابنا من قال الملك في العبد الآبق لا يرتد إلى البائع والفسخ لا يَرِد على الآبق وإنما يرِد على القيمة كما يَرِد عليها إذا كان المبيع تالفاً؛ وذلك لأن الفسخ يستدعي مورداً ناجزاً والذي تنجز فيه لا يغيّر ولا يحال
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa kepemilikan atas budak yang melarikan diri tidak kembali kepada penjual, dan pembatalan akad tidak berlaku atas budak yang melarikan diri, melainkan berlaku atas nilai (harganya), sebagaimana pembatalan itu berlaku atas nilai jika barang yang dijual telah rusak; hal ini karena pembatalan akad membutuhkan objek yang nyata, dan objek yang nyata itu tidak berubah dan tidak dialihkan.
والأصح الوجه الأول
Pendapat yang paling sahih adalah pendapat pertama.
ونحن نقول في الوجه الثاني إن الفسخ إذا ألزم المشتري القيمةَ أبقى عليه ملك العبدِ الآبق
Dan kami katakan pada sisi kedua bahwa jika pembatalan (fasakh) mewajibkan pembeli untuk membayar nilai (barang), maka itu berarti tetap mempertahankan kepemilikan budak yang melarikan diri pada dirinya.
ولو أعتق المشتري العبد المشترَى أو كان اشترى جارية واستولدها فالعتق والاستيلاد بمثابة التلف وقد تقدم تلف المبيع ولو كان اشترى عبداً فرهنه وأقبضه أو كاتبه كتابةً صحيحة ثم جرى التحالُف فالفسخ فالمشتري مطالبٌ بالقيمة لا محالة كما لو أبق العبد
Jika pembeli memerdekakan budak yang dibelinya, atau membeli seorang budak perempuan lalu menghamilinya, maka pemerdekaan dan penghamilan itu dipandang seperti kerusakan barang, dan sebelumnya telah dijelaskan tentang kerusakan barang yang dijual. Jika seseorang membeli budak lalu menggadaikannya dan menyerahkannya, atau membuat perjanjian pembebasan (kitābah) yang sah dengannya, kemudian terjadi saling bersumpah (tahāluf) lalu pembatalan (fasakh), maka pembeli tetap wajib membayar nilai (budak) tersebut, sebagaimana jika budak itu melarikan diri.
ثم اختلفَ الأصحاب في أن الملك هل ينقلب في رقبةِ المرهون والمكاتب إلى البائعِ فمنهم من قال ينقلب إليه ولكن على المشتري القيمةُ لمكانِ الحيلولة والتفريع عليه كما تقدَّم في العبدِ الآبق
Kemudian para sahabat berbeda pendapat mengenai apakah kepemilikan beralih pada barang yang digadaikan dan budak mukatab kepada penjual. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kepemilikan memang beralih kepadanya, namun pembeli tetap berkewajiban membayar nilai barang tersebut karena adanya halangan (hiyalah), dan cabang hukum atas hal ini sebagaimana telah dijelaskan pada kasus budak yang melarikan diri.
ومنهم من قال يَرِدُ الفسخُ على القيمة ولا معدل عنها ولا ينقلب الملك في الرقبة إلى البائع
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa pembatalan (fasakh) berlaku atas nilai (barang), dan tidak ada alternatif lain selain itu, serta kepemilikan atas pokok barang tidak kembali kepada penjual.
وكان شيخي يردد جوابه في الآبق على نحو ما سبق ويقطع بأن الفسخ يَرِد على القيمةِ في المكاتب والمرهون؛ فإن المرهون خارجٌ عن قبول التصرف بجهة الردِّ والمكاتَب كذلك ونحن إنما نمنع بيعَ الآبق للعجز عن تسليمه لا لنقصٍ في ملكِ الرقبة وكان يعضد ذلك ويقول إذا باع رجل عبداً وسلمه ثم أفلسَ المشتري بالثمن والعبدُ آبقٌ فللبائع الفسخُ ويرجع إليهِ الملكُ في رقبةِ الآبق ولو كان رهنه المشتري أو كاتَبه فليس للبائع ردُّ الملكِ في المكاتب والمرهون إلى نفسه
Guru saya sering mengulangi jawabannya tentang budak yang melarikan diri sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan menegaskan bahwa pembatalan (fasakh) berlaku atas nilai pada budak mukatab dan barang gadai; karena barang gadai tidak dapat menerima tindakan berupa pengembalian, demikian pula budak mukatab. Kami melarang penjualan budak yang melarikan diri karena ketidakmampuan untuk menyerahkannya, bukan karena kekurangan dalam kepemilikan atas dirinya. Beliau juga menguatkan hal itu dan berkata: Jika seseorang menjual seorang budak dan menyerahkannya, kemudian pembeli bangkrut dalam pembayaran harga dan budak tersebut melarikan diri, maka penjual berhak melakukan pembatalan (fasakh) dan kepemilikan atas budak yang melarikan diri itu kembali kepadanya. Namun, jika pembeli telah menggadaikan atau memukatabkan budak tersebut, maka penjual tidak berhak mengembalikan kepemilikan atas budak mukatab dan barang gadai itu kepada dirinya sendiri.
وهذا عندنا حسن بالغ؛ فإن الرهن إذا كان لا ينفك فيتعين أن يبقى مملوكاً للراهنِ وكذلك القولُ في الكتابة وإذا بقي مملوكاً له حالةَ نفوذ الفسخ فيستحيل أن يتغير هذا بعد الفسخ
Hal ini menurut kami sangat baik; sebab jika rahn tidak dapat dilepaskan, maka harus tetap menjadi milik orang yang menggadaikan. Demikian pula halnya dengan kitabah. Jika tetap menjadi miliknya pada saat pembatalan berlaku, maka mustahil hal ini berubah setelah pembatalan.
ولو اشترى عبداً وأجّره ثم جرى التحالف فإن قلنا الإجارةُ لا تمنعُ صحَّة البيع وَرَدَ الفسخُ على رقبة العبدِ وإن قلنا الإجارةُ تمنع صحةَ البيع فهذا فيه احتمال عندي يجوز أن يقال يُنْحى بالعبد المستأجَر نحو الآبق؛ فإن البيعَ يمتنع فيه لا لحقِّ المستأجر في رقبته وموردُ البيعِ الرقبةُ وإنما امتنعَ البيعُ ليد المستأجر ومَنع الشرع من إزالتها وليس كذلك المرهون؛ فإن للمرتهن حقّاً في مَاليَّه الرقبة وكذلك القول في المُكاتَب
Jika seseorang membeli seorang budak lalu menyewakannya, kemudian terjadi saling bersumpah (antara penjual dan pembeli), maka jika kita berpendapat bahwa akad ijarah (sewa) tidak menghalangi sahnya jual beli, maka pembatalan jual beli kembali kepada budak tersebut. Namun jika kita berpendapat bahwa akad ijarah menghalangi sahnya jual beli, maka menurut saya ada kemungkinan bahwa budak yang disewakan diperlakukan seperti budak yang melarikan diri (ābiq); sebab jual beli tidak sah bukan karena hak penyewa atas tubuh budak, sedangkan objek jual beli adalah tubuh budak itu sendiri, melainkan jual beli terhalang karena budak berada dalam kekuasaan penyewa dan syariat melarang pengalihan kekuasaan tersebut. Hal ini berbeda dengan budak yang digadaikan; karena penerima gadai memiliki hak atas harta (māliyya) budak tersebut. Demikian pula halnya dengan budak mukatab.
هذا وجهٌ من الاحتمال وهو الأظهرُ
Ini adalah salah satu sisi kemungkinan dan inilah yang paling jelas.
ويجوز أن يقال العبد المستأجَر كالمرهون والمُكاتب
Dan boleh dikatakan bahwa budak yang disewa itu seperti budak yang digadaikan dan budak mukatab.
هذا بيان هذا الفن
Ini adalah penjelasan tentang ilmu ini.
وعَبَّر الشيخ أبو علي عن هذا الغرض بعبارةٍ أُخرى فقال لو اختار البائع الفسخَ والرجوعَ إلى القيمةِ فله ذلك ولو قال أصبرُ حتى يفك الرهن فله ذلك
Syekh Abu Ali mengungkapkan maksud ini dengan ungkapan lain, beliau berkata: Jika penjual memilih untuk membatalkan (akad) dan kembali kepada nilai (barang), maka ia berhak melakukannya. Dan jika ia berkata, “Aku akan bersabar hingga gadaiannya ditebus,” maka ia juga berhak melakukannya.
وهذا عندنا يخرّج على ما ذكرناه فإن عجَّل الفسخ وأَرادَ القيمة أُجيب إليها ثم القول في أن المرهون عند انفكاكِ الرهن هل يعود إليه على ما مضى وإن لم يُرِد القيمةَ وقال أؤخر حقّي إلى انفكاكِ الرهن فهذا نخرّجه على الخلافِ المقدَّم
Hal ini menurut kami dikembalikan kepada apa yang telah kami sebutkan; jika ia segera membatalkan dan menginginkan nilai barang, maka permintaannya dikabulkan. Kemudian, mengenai apakah barang yang digadaikan setelah lepasnya gadai akan kembali kepadanya seperti yang telah lalu, dan jika ia tidak menginginkan nilai barang dan berkata, “Saya akan menunda hak saya sampai lepasnya gadai,” maka hal ini dikembalikan kepada perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.
فإن قلنا الملك في المرهون ينقلب إليه فله أن يؤخر طلبَ القيمة
Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan atas barang yang digadaikan beralih kepadanya, maka ia berhak menunda permintaan nilai barang tersebut.
وهذا يبنيه أصل وهو أن كلَّ ما يجب بدلُه لمكان الحيلولة وكان زَوالُها ممكناً فإن طلبه ذو الحق لزم إسعافُه وإن لم يطلبه فأراد الضامن أن يجبره على قبوله لم يكن له ذلك وليس كما لو أراد من عليه دين مستقر أن يجبر مُستحِقّه على قبولهِ فإن الأصح أنه يُجبرُ على القبول
Hal ini didasarkan pada suatu prinsip, yaitu bahwa segala sesuatu yang wajib diganti karena adanya penghalang, sementara penghalang tersebut masih mungkin dihilangkan, maka jika pemilik hak meminta barangnya, wajib untuk memenuhinya. Namun jika ia tidak memintanya, lalu penjamin ingin memaksanya untuk menerima pengganti, maka penjamin tidak berhak melakukan hal itu. Ini berbeda dengan kasus orang yang memiliki utang tetap lalu ingin memaksa pihak yang berhak untuk menerima pembayaran utangnya; menurut pendapat yang lebih sahih, pihak yang berhak dapat dipaksa untuk menerima pembayaran tersebut.
فنقول في مسألتنا إن قلنا أصلُ حق البائع القيمةُ ولا مَعْدِل عنها فيظهر إجباره على قبولها على قولٍ؛ قياساً على الديون كلها وإن قلنا القيمة تثبت للحيلولة فلا يُجبر البائع على قبولها
Maka kami katakan dalam permasalahan kita: jika kita berpendapat bahwa hak pokok penjual adalah nilai barang dan tidak ada alternatif lain, maka tampak bahwa penjual dapat dipaksa untuk menerimanya menurut salah satu pendapat, dengan qiyās terhadap seluruh utang. Namun jika kita berpendapat bahwa nilai barang itu ditetapkan karena adanya halangan (terhadap barang), maka penjual tidak dapat dipaksa untuk menerimanya.
فرع لابن الحدَّاد بناه على صورة التحَالف ولا اختصاص له بمقصود الباب ونحن نذكر غرضه على الإيجاز والاختصار ونتعدَّاه
Cabang menurut Ibn al-Haddad yang dibangun berdasarkan bentuk saling bersumpah, tidak memiliki kekhususan dengan maksud pembahasan bab ini. Kami akan menyebutkan tujuannya secara ringkas dan singkat, lalu melewatinya.
فإذا تحالف المتعاقدان وفرَّعنا على أن العقدَ يُفسخ ولا ينفسخ فلو قال البائع قبل إنشاء الفسخ هذا العبد حرٌّ إن صدق المشتري وقال المشتري هذا العبد حرٌّ إن صدق البائع فإذا جرَى هذا منهما بعد التحالف ثم أنشأ القاضي الفسخ نفذ الفسخُ وحكمنا بأن العبد حر على البائع في الظاهر وسبب ذلك أن المشتري قال قولاً لو كان كاذباً فيه لعتق العبد والبائع ادّعى كذبه وحلف عليه فيجتمع من تكذيب البائع إياه ومن قول المشتري هو حُرّ إن صدق البائع كونُ الحرّيةِ حاصلةً على موجَب قول البائع وهو مؤاخذ بإقراره فهذا إذن عتقٌ محكومٌ به ونفوذه في الباطن موقوف على موجَب علم الله
Jika kedua pihak yang berakad saling bersumpah, dan kita berpegang pada pendapat bahwa akad itu dibatalkan (fasakh) dan bukan batal dengan sendirinya (infasakh), maka jika penjual berkata sebelum terjadinya pembatalan, “Budak ini merdeka jika pembeli berkata benar,” dan pembeli berkata, “Budak ini merdeka jika penjual berkata benar,” kemudian hal ini terjadi dari keduanya setelah saling bersumpah, lalu hakim menetapkan pembatalan akad, maka pembatalan itu sah dan kami memutuskan bahwa budak tersebut merdeka atas penjual secara lahiriah. Sebabnya adalah karena pembeli telah mengucapkan suatu pernyataan yang jika ia berdusta maka budak itu menjadi merdeka, dan penjual mengklaim bahwa pembeli berdusta dan bersumpah atasnya. Maka dari pendustaan penjual terhadap pembeli dan dari ucapan pembeli “ia merdeka jika penjual berkata benar,” terwujudlah kemerdekaan budak itu berdasarkan pernyataan penjual, dan penjual terikat dengan pengakuannya. Maka ini adalah kemerdekaan yang diputuskan, dan keberlakuannya secara batin tergantung pada apa yang diketahui Allah.
فإن كان المشتري كاذباً فالعتق واقعٌ لا محالةَ وإن كان صادقاً لم يقع باطناً ولكن حُكم به ظاهِراً من قِبَل أن العبد ارتد إلى البائع فكان مؤاخذاً بموجَب أقوالهِ السابقة فيه
Jika pembeli berdusta, maka pembebasan budak itu tetap terjadi tanpa keraguan. Namun jika ia jujur, maka pembebasan itu tidak terjadi secara batin, tetapi tetap diputuskan secara lahiriah, karena budak tersebut telah kembali kepada penjual, sehingga ia tetap terikat dengan konsekuensi dari pernyataan-pernyataan sebelumnya tentangnya.
وهذا بمثابة لو قال رجل أعتقَ فلان عبده فلو اشتراه هذا القائل نفَّذنا العقدَ وحكمنا بنفوذ العتق عليه ظاهراً؛ فإنه لم يقبل قولُه في حق البائع؛ فهو مؤاخذ بحكم قول نفسه وهذا واضح لا يُحتاج فيه إلى تكلّف بيان
Ini seperti jika seseorang berkata, “Si Fulan telah memerdekakan budaknya.” Maka jika orang yang berkata itu membeli budak tersebut, kita akan melaksanakan akadnya dan menetapkan berlakunya pemerdekaan atasnya secara lahiriah; sebab ucapannya tidak diterima dalam hak penjual, sehingga ia terikat dengan hukum ucapannya sendiri. Hal ini jelas dan tidak memerlukan penjelasan yang rumit.
ثم ولاءُ هذا العبدِ مشكل ليس يدَّعيه البائع لنفسه من قِبَل أنه يقول عَتَقَ هذا العبدُ على المشتري فالولاءُ له والمشتري يأباه؛ فكان الولاءُ موقوفاً ولهذا نظائر ستأتي في كتاب الولاءِ إن شاء الله
Kemudian, status wala’ dari budak ini menjadi masalah yang rumit; penjual tidak dapat mengklaimnya untuk dirinya sendiri dengan alasan bahwa ia berkata, “Budak ini merdeka atas pembeli, maka wala’ menjadi miliknya,” sementara pembeli menolaknya. Maka, status wala’ menjadi tergantung, dan ada beberapa kasus serupa yang akan dijelaskan dalam Kitab Wala’ insya Allah.
ولو لم يفسخ العقد وقال المشتري بعد جريان التفاوض الذي ذكرناه بينه وبين البائع قد صدق البائع فنقول العقد يقرَّر بينهما والعتق ينفذ على المشتري تحقيقاً إن صدق في تصديق البائع والولاء له في ظاهِر الحكم
Jika akad tidak dibatalkan dan pembeli berkata, setelah terjadi tawar-menawar seperti yang telah kami sebutkan antara dia dan penjual, “Aku membenarkan penjual,” maka kami katakan: akad tetap berlaku di antara keduanya dan pembebasan budak berlaku atas pembeli secara pasti jika ia jujur dalam membenarkan penjual, dan hak wala’ menjadi miliknya menurut hukum lahiriah.
ولو قالَ البائع قبل إنشاءِ الفسخ صدق المشتري فيما ادَّعاه فالعقد يقرَّر على موجب قول المشتري ولا ينفذ العتق على المشتري وقول البائع لا يوجب العتقَ في العبد المبيع فإنه ملكُ المشتري نعم لو عادَ هذا العبد يوماً إلى البائع فنحكم إذ ذاك بأنه يعتِق عليه كما تمهَّد
Jika penjual berkata sebelum melakukan pembatalan, “Aku membenarkan apa yang diklaim oleh pembeli,” maka akad tetap berlaku sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pembeli, dan pembebasan budak (‘itq) tidak berlaku atas pembeli. Pernyataan penjual tidak menyebabkan budak yang dijual menjadi merdeka, karena budak tersebut adalah milik pembeli. Namun, jika suatu hari budak tersebut kembali kepada penjual, maka saat itu kita menetapkan bahwa budak tersebut menjadi merdeka atas penjual, sebagaimana telah dijelaskan.
ولو قال المشتري بعد ما جرى منهما من تعليق العَتاقة قد صدق البائع فينفذ العتقُ على موجَب قوله وتلزمُه القيمةُ للبائع عند التفاسخ؛ فإنه أعتق العبدَ بتعليقه السابق وتصديقه اللاحق
Jika pembeli berkata, setelah terjadi antara keduanya penangguhan pembebasan budak, “Aku membenarkan penjual,” maka pembebasan budak berlaku sesuai dengan pernyataannya, dan ia wajib membayar nilai budak kepada penjual ketika terjadi pembatalan akad; karena ia telah membebaskan budak tersebut dengan penangguhan sebelumnya dan pembenaran yang datang kemudian.
وبالجملة لا إشكال في أطراف المسألة كيف رُدّدت
Secara keseluruhan, tidak ada keraguan dalam berbagai sisi permasalahan ini, bagaimanapun cara permasalahan tersebut dikaji.
فرع
Cabang
إذا اشترى الرجل جارية وقبضها واختلف المتبايعان وترافَعا إلى مجلس الحكم فهل يحل للمشتري وطؤُها بعد التنازع قبل التحالف فعلى وجهين أحدهما يحل؛ فإن ملكه قائم بعدُ فيها
Jika seorang laki-laki membeli seorang budak perempuan dan telah menerimanya, kemudian penjual dan pembeli berselisih dan membawa perkara mereka ke majelis hakim, maka apakah halal bagi pembeli untuk menggaulinya setelah terjadi perselisihan sebelum keduanya saling bersumpah? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan halal, karena kepemilikannya atas budak tersebut masih tetap ada.
والوجه الثاني لا يحل له وطؤُها؛ فإن جهةَ الملكِ مختلفٌ فيها وإن كان أصل الملكِ متفقاً عليه؛ فالمشتري يزعم أنه استفاد ملكها بسبب عقدٍ ثمنُه مائة والبائع يزعم أنه استفاد الملك بعقد ثمنه مائتان والقولان معتبران
Pendapat kedua, tidak halal baginya untuk menggaulinya; karena sisi kepemilikan masih diperselisihkan meskipun pokok kepemilikan telah disepakati. Pembeli mengklaim bahwa ia memperoleh kepemilikan melalui akad dengan harga seratus, sedangkan penjual mengklaim bahwa ia memperoleh kepemilikan melalui akad dengan harga dua ratus, dan kedua pendapat tersebut dianggap sah.
وقد قال الشافعي إذا اشترى الرجل زوجتَه على شرط الخيارِ لم يملِك وطأها في زمان الخيارِ؛ فإنه لا يدري أيطأ زوجتَه أو مملوكتَه والأصح تحليل الوطء
Imam Syafi‘i berkata, jika seorang laki-laki membeli istrinya dengan syarat khiyar, maka ia tidak berhak menggaulinya selama masa khiyar; sebab ia tidak tahu apakah ia menggauli istrinya atau budaknya. Namun, pendapat yang lebih sahih adalah bolehnya menggauli.
ولو جَرى التحالفُ فأراد الوطءَ قبل إنشاءِ الفسخ فوجهانِ مرتَّبان على الأول
Jika sumpah telah dilakukan, lalu suami ingin melakukan hubungan suami istri sebelum mengucapkan pernyataan pembatalan, maka terdapat dua pendapat yang mengikuti pendapat pertama.
وهذه الصورةُ أولى بالتحريم
Dan bentuk yang seperti ini lebih utama untuk diharamkan.
أما نصُّ الشافعي فيه إذا اشترى زوجتَه بشرط الخيار فمشكلٌ جداً؛ فإنها مستحلة في كل حساب فلا معنى للتحريم بسبب إشكال الجهةِ إذا كان الحل يعم الجهتين
Adapun teks Imam Syafi‘i mengenai seseorang yang membeli istrinya dengan syarat khiyar, maka hal itu sangat problematis; sebab ia telah halal baginya dalam segala hal, sehingga tidak ada makna pengharaman karena adanya kerancuan sisi (status), apabila kehalalan mencakup kedua sisi tersebut.
ولو ملك الرجل جارية وقطع بالملك فيها وأشكل عليه فلم يدرِ أنه اتهبها أو ورثها أو اشتراها فالوطء حلالٌ بلا خلاف
Jika seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan dan ia yakin sepenuhnya atas kepemilikannya terhadap budak tersebut, namun ia bingung dan tidak tahu apakah ia mendapatkannya melalui hibah, warisan, atau membelinya, maka hubungan suami istri (dengan budak itu) hukumnya halal tanpa ada perbedaan pendapat.
وسأذكر تأويل النص في كتاب الرهن إن شاء الله عز وجل
Saya akan menjelaskan tafsir teks ini dalam kitab rahn, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
والذي أراه في هذا الموضع أن أوجّه الوجهين بمسلكٍ آخر فأقول من أباح الوطءَ فوجهُ قوله بين ومن حرَّمه فلا ينبغي أن يعتلّ بالاختلافِ في الجهة ولكن ينبغي أن يقول صارت الجارية مشرفةً على استحقاق الرد على البائع فينبغي أن يمتنع على المشتري وطؤُها وهذا بعدَ التحالف أظهر؛ من قِبلَ أنّه لم يبق إلا إنشاءُ الفسخ
Menurut pendapat saya dalam masalah ini, saya akan mengarahkan kedua pendapat tersebut dengan pendekatan lain, yaitu: barang siapa yang membolehkan hubungan suami istri, maka alasan pendapatnya jelas; dan barang siapa yang mengharamkannya, maka seharusnya tidak berdalil dengan perbedaan dalam aspek tersebut, melainkan seharusnya mengatakan bahwa budak perempuan itu telah berada dalam posisi hampir berhak untuk dikembalikan kepada penjual, sehingga pembeli sebaiknya menahan diri untuk tidak menggaulinya. Hal ini setelah terjadinya tahaluf (saling bersumpah) lebih jelas lagi, karena yang tersisa hanyalah pelaksanaan pembatalan.
فهذا سبيل الكلام عندنا
Inilah cara pembahasan menurut kami.
وسيأتي شرحُ النصّ إن شاء الله عز وجل
Penjelasan teks akan disampaikan nanti, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
فصل
Bab
إذا اختلف رجلان في عقدين مضافين إلى عينٍ واحدة وذلك مثل أن يقول من في يده الجاريةُ قد وهبتَها منّي وأقبضتنيها وقال الآخرُ بل بعتكها بكذا فاختلافهما يتعلّق بعقدين صاحب اليد يدّعي الهبةَ على صاحبه وهو يُنكرها فالقول قولُه مع يمينه في نفيها وهو يدعي على صاحب اليد الشراءَ وعهدتُه وثمنُه وهو منكرٌ فالقول قوله في نفيه فإذا حلف كل واحد منهما على نفي العقدِ الذي ادُّعي عليه انتفى العقدان ولا حاجةَ إلى فسخٍ وقولٍ بانفساخ هذا حكمُ الظاهر والثابتُ باطناً ما هو صِدقٌ في علم الله من قوليهما
Jika dua orang berselisih mengenai dua akad yang berkaitan dengan satu barang yang sama—misalnya seseorang yang memegang seorang budak perempuan berkata, “Engkau telah memberikannya (menghibahkan) kepadaku dan aku telah menerimanya darimu,” sementara yang lain berkata, “Bukan, aku telah menjualnya kepadamu dengan harga sekian”—maka perselisihan mereka berkaitan dengan dua akad. Pemegang barang mengklaim hibah atas lawannya, namun lawannya mengingkari, maka perkataan lawannya diterima dengan sumpahnya dalam menafikan hibah tersebut. Sebaliknya, lawannya mengklaim bahwa ia telah membeli dari pemegang barang beserta bukti dan harganya, namun pemegang barang mengingkari, maka perkataan pemegang barang diterima dalam menafikan jual beli tersebut. Jika masing-masing dari keduanya bersumpah menafikan akad yang diklaim atas dirinya, maka kedua akad tersebut gugur dan tidak perlu dilakukan pembatalan atau pernyataan batal. Inilah hukum lahiriah, sedangkan yang tetap secara batin adalah apa yang benar menurut ilmu Allah dari ucapan keduanya.
ووراء ذلك نظر سيأتي في كتاب الأقارير وهو أن صاحبَ اليدِ اعترفَ بأن الجارية كانت لصاحبه وادَّعى انتقالَ الملك فيها إليه بطريق الهبةِ فانتفت الهبَةُ في ظاهر الحكم بيمين منكرِها وبقي إقرارُ منكرِ الهبة بالملكِ عن جهةِ البيع وهذا أصل من أصول الأقارير سيأتي إن شاء اللهُ والضبط فيه أن من أقرّ باستحقاقٍ وعزاه إلى جهةٍ فأنكر المقَرُّ له الجهةَ فهل يثبت له الملك في المقر به وسيأتي هذا مفصلاً إن شاء اللهُ
Di balik itu terdapat pembahasan yang akan dijelaskan dalam Kitab al-Aqarir, yaitu bahwa seseorang yang memegang barang mengakui bahwa budak perempuan itu sebelumnya milik orang lain, lalu ia mengklaim bahwa kepemilikan berpindah kepadanya melalui hibah. Maka, hibah tersebut gugur secara lahiriah dengan sumpah dari orang yang mengingkarinya, namun pengakuan orang yang mengingkari hibah terhadap kepemilikan melalui jual beli tetap ada. Ini merupakan salah satu pokok dalam masalah pengakuan yang akan dijelaskan, insya Allah. Kaidahnya adalah: siapa saja yang mengakui suatu hak dan menisbatkannya pada suatu sebab, lalu orang yang diakui haknya mengingkari sebab tersebut, apakah kepemilikan atas barang yang diakui itu tetap sah baginya? Hal ini akan dijelaskan secara rinci, insya Allah.
فصل
Bab
قال ولو لم يختلفا وقال كل واحدٍ منهما لا أدفع حتى أقبض إلى آخره
Dan jika keduanya tidak berselisih, lalu masing-masing dari mereka berkata, “Aku tidak akan menyerahkan (hak) sampai aku menerima (hakku),” dan seterusnya.
إذا باع الرجلُ سلعة معينة بثمن في ذمّة المشتري ثم تنازع البائعُ والمشتري في البداية بالتسليم فقال البائع لا أسلّم المبيعَ حتى يتوفّر عليّ الثمنُ وقال المشتري لا أسلِّمُ الثمنَ حتى تسلّم إليَّ المبيعَ فمن الذي يجاب منهما إلى ما يطلبه
Jika seseorang menjual suatu barang tertentu dengan harga yang menjadi tanggungan pembeli, kemudian penjual dan pembeli berselisih mengenai siapa yang harus memulai penyerahan, penjual berkata, “Saya tidak akan menyerahkan barang sebelum saya menerima pembayaran,” dan pembeli berkata, “Saya tidak akan membayar sebelum barang diserahkan kepada saya,” maka siapakah di antara keduanya yang permintaannya harus dipenuhi?
هذا غرضُ الفصلِ والشافعي عبَّر عنه فقال ولو لم يختلفا وقال كل واحدٍ منهما ومعلوم أن تنازع البائع والمشترِي في البدايةِ بالتسليم اختلافٌ فقولُ الشافعي ولو لم يختلفا معناه لم يختلفا الاختلافَ الذي تقدَّم في مقدار الثمن وجنسهِ بل اتفقا على صفةِ العقد وافتتحا نزاعاً في البدايةِ وقد حكى الشافعي أقوالاً مختلفة عن العُلماء في الكبير فحكى عن بعضهم أنهم يجبران معاً وحكى عن بعضهم أنهم لا يجبران ولكن من تبرع منهما بتسليم ما عليه أُجبر حينئذٍ صاحبُه على تسليم ما عنده وحكى عن بعض العلماء أنه يُجبَر البائع
Ini adalah tujuan dari pembahasan ini, dan asy-Syafi‘i telah mengungkapkannya dengan berkata: “Seandainya keduanya tidak berselisih,” dan ia juga berkata: “Masing-masing dari keduanya…” Telah diketahui bahwa perselisihan antara penjual dan pembeli mengenai siapa yang lebih dahulu melakukan penyerahan adalah suatu bentuk perbedaan pendapat. Maka, maksud dari ucapan asy-Syafi‘i “seandainya keduanya tidak berselisih” adalah mereka tidak berselisih seperti perselisihan yang telah disebutkan sebelumnya mengenai jumlah harga dan jenisnya, melainkan mereka sepakat tentang sifat akad dan kemudian memulai perselisihan dalam hal siapa yang lebih dahulu. Asy-Syafi‘i telah meriwayatkan beberapa pendapat yang berbeda dari para ulama dalam masalah ini. Ia meriwayatkan dari sebagian mereka bahwa keduanya dipaksa bersama-sama (untuk menyerahkan), dan dari sebagian yang lain bahwa keduanya tidak dipaksa, tetapi siapa di antara mereka yang lebih dahulu secara sukarela menyerahkan apa yang menjadi tanggungannya, maka pada saat itu pihak lainnya dipaksa untuk menyerahkan apa yang ada padanya. Ia juga meriwayatkan dari sebagian ulama bahwa yang dipaksa adalah penjual.
والمزني لم ينقل هذه الأقاويل ولم يصفها واختلف أصحابُنا فمنهم من جعل هذه المذاهب أقوالاً للشافعي
Al-Muzani tidak meriwayatkan pendapat-pendapat ini dan tidak menjelaskannya, lalu para sahabat kami pun berbeda pendapat; di antara mereka ada yang menjadikan mazhab-mazhab ini sebagai pendapat-pendapat asy-Syafi‘i.
ومنهم من خرَّج معها قولاً رابعاً وهو أنه يُجبَر المشتري على التَّسليم ابتداء
Sebagian dari mereka mengeluarkan pendapat keempat bersamaan dengan pendapat-pendapat sebelumnya, yaitu bahwa pembeli diwajibkan untuk menyerahkan (barang) sejak awal.
وهذا مخرَّج من نصّ الشافعي في الصداق؛ فإنه أجبر الزوجَ على البدايةِ بتسليم الصداق وهو في مقام المشتري
Ini diambil dari nash Imam Syafi‘i tentang mahar; beliau mewajibkan suami untuk memulai dengan menyerahkan mahar, sedangkan ia berada pada posisi sebagai pembeli.
ومن الأئمة من قال مذهب الشافعي أن البائعَ يجبر على البداية بالتسليم
Sebagian ulama berpendapat bahwa menurut mazhab Syafi‘i, penjual dapat dipaksa untuk memulai dengan penyerahan (barang).
والشاهد له ما نقله المزني حيث قال الذي أحَبَّ الشافعي من أقاويلَ وصفَها أن نأمر البائعَ بدفع السلعةِ إليه ونجبر المشتري على دفع الثمن من ساعته
Dan yang menjadi pendukungnya adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Muzani, di mana ia berkata: Pendapat yang disukai oleh asy-Syafi‘i dari beberapa pendapat yang ia sebutkan adalah bahwa kita memerintahkan penjual untuk menyerahkan barang kepada pembeli dan memaksa pembeli untuk segera membayar harga pada saat itu juga.
ومن أصحابنا من قال ميلُ الشافعي إلى أنهما يُجبران معاً؛ لأن المزني نقل في آخر الفصلِ عن الشافعي أنه قال لا ندع الناس يتمانعون الحقوق ونحن نقدر على أخذها منهم
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa kecenderungan Imam Syafi‘i adalah keduanya dipaksa bersama-sama; karena al-Muzani meriwayatkan di akhir bab bahwa Imam Syafi‘i berkata: “Kita tidak membiarkan orang-orang saling menahan hak, padahal kita mampu mengambilnya dari mereka.”
والطريقة المشهورة إجراءُ أربعة أقوال وعدُّ جميعها من المذهب ونحن نوجهها
Cara yang terkenal adalah dengan menyebutkan empat pendapat dan menganggap semuanya sebagai bagian dari mazhab, dan kami akan memberikan penjelasannya.
فمن قال إنهما يجبران احتج بأن كلَّ واحدٍ منهما طلب من صاحبه مقصوداً بعوضٍ يبذله له والإنصاف التسويةُ بينهما من غير تخصيص أحدٍ بمزيةٍ ومقتضى ذلك إجبارهما وهو كما لو كان له دينٌ على إنسانٍ ولذلك الإنسان عنده عينٌ غصبها
Maka barang siapa yang mengatakan bahwa keduanya dapat dipaksa, beralasan bahwa masing-masing dari keduanya menginginkan tujuan tertentu dari pihak lain dengan imbalan yang ia berikan kepadanya, dan keadilan adalah menyamakan keduanya tanpa mengkhususkan salah satu dengan keistimewaan, dan konsekuensi dari hal itu adalah keduanya dapat dipaksa. Hal ini seperti seseorang yang memiliki piutang pada orang lain, sementara orang tersebut memiliki barang miliknya yang digelapkan.
ومن قال لا يجبران احتج بأنهما أنشآ العقدَ على التراضي بينهما فيجب أن يدوم هذا الحكم؛ فإن أحدهما لم يلتزم شيئاً إلا بعوض ومراعاةُ التسوية حق كما ذكرناه فالوجه أن يقال من تبرع بالبداية فقد وفَّى ما عليه فيصير ماله بعد هذا حقاً متجدداًَ
Dan siapa yang berpendapat bahwa keduanya tidak boleh dipaksa, beralasan bahwa mereka berdua telah membuat akad atas dasar saling ridha, maka hukum ini harus tetap berlaku; karena salah satu dari mereka tidak berkomitmen pada sesuatu kecuali dengan imbalan, dan menjaga kesetaraan adalah hak sebagaimana telah kami sebutkan. Maka pendapat yang tepat adalah, siapa yang rela memulai lebih dahulu, berarti ia telah menunaikan kewajibannya, sehingga setelah itu hartanya menjadi hak baru baginya.
ومن قال يجبر البائعُ على البداية بالتسليم احتجَّ بأن تصرّفَ البائع نافذٌ في الثمن وتصرفَ المشترِي غيرُ نافذٍ في المبيع قبل القبض فينبغي أن يملكَ المشتري إجبار البائع على تمكينه من التصرف وإنما يحصل هذا بتسليم المبيع
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa penjual dipaksa untuk memulai dengan penyerahan barang, berdalil bahwa tindakan penjual sah terhadap harga, sedangkan tindakan pembeli tidak sah terhadap barang sebelum diterima. Maka seharusnya pembeli berhak memaksa penjual untuk memberinya kesempatan melakukan tindakan terhadap barang, dan hal ini hanya dapat terjadi dengan penyerahan barang.
ومن قال بإجبار المشتري على البدايةِ احتج بأن حقَّ المشتري متعيّن وحق البائع مطلقٌ في الذمَّة حتى كأنّهُ وعدٌ يجب الوفاء به فله أن يجبر المشتري على تعيين حقَه وقد يستدلُّ هذا القائلُ بأن الثمن في البيع على مضاهاة رأس المالِ في السلم ثم يجبُ تقديم رأس المال
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa pembeli dapat dipaksa untuk memulai (pembayaran), ia berdalil bahwa hak pembeli itu sudah tertentu, sedangkan hak penjual masih bersifat umum dalam tanggungan, sehingga seolah-olah merupakan janji yang wajib dipenuhi. Maka penjual berhak memaksa pembeli untuk menentukan haknya. Pendapat ini juga dapat berdalil bahwa harga dalam jual beli itu sebanding dengan modal dalam akad salam, sedangkan dalam akad salam wajib mendahulukan penyerahan modal.
وفيما قدمناه مقنع
Apa yang telah kami sampaikan sebelumnya sudah memadai.
والأقوالُ الأربعةُ إنما تطّرد إذا كان المبيع عيناً والثمن دَيناً
Keempat pendapat tersebut hanya berlaku apabila barang yang dijual berupa barang tertentu (‘ain) dan harga (tsaman) berupa utang (dayn).
فأما إذا باع عبداً بجاريةٍ فالعوضان في شقي العقد عينان ولا يجري في هذه الصورةِ إلا قولان أحدهما أنهما يُجبران والثاني أنهما لا يجبران
Adapun jika seseorang menjual seorang budak laki-laki dengan seorang budak perempuan, maka kedua pengganti dalam dua sisi akad tersebut adalah barang tertentu, dan dalam kasus ini hanya terdapat dua pendapat: salah satunya adalah keduanya dapat dipaksa (untuk melanjutkan akad), dan yang kedua adalah keduanya tidak dapat dipaksa.
وإذا كان التنازعُ في الصداق وتسليمهِ وتسليمِ المرأةِ نفسَها فلا يخرج إلا ثلاثة أقوالٍ أحدها أن الزوجَ يجبر على البداية وهذا إذا رأينا إجبار المشتري على البداية
Jika terjadi perselisihan mengenai mahar, penyerahannya, dan penyerahan diri wanita, maka tidak ada kecuali tiga pendapat. Salah satunya adalah bahwa suami dipaksa untuk memulai terlebih dahulu, dan ini jika kita berpendapat bahwa pembeli dipaksa untuk memulai terlebih dahulu.
والقول الثاني أنهما يجبران معاً
Pendapat kedua menyatakan bahwa keduanya diganti bersama-sama.
والثالث أنهما لا يجبران بل من بدأ بتسليم ما عليهِ أجبر صاحبه على تسليم مقابله من ساعته
Ketiga, keduanya tidak dipaksa, tetapi siapa yang lebih dahulu menyerahkan apa yang menjadi tanggungannya, maka pasangannya dipaksa untuk segera menyerahkan apa yang menjadi tanggungannya pada saat itu juga.
ولا يخرّج هاهنا قولٌ في إجبار المرأةِ على البداية؛ فإنها لو سلّمت نفسَها لفاتَ الأمرُ في جانبها وتلف منافعُ بُضعها على وجهٍ لا يتوقع لها مستدرك
Tidak ada pendapat yang dikeluarkan di sini mengenai pemaksaan perempuan untuk memulai; sebab jika ia telah menyerahkan dirinya, maka perkara itu telah berlalu dari sisinya dan manfaat kemaluannya pun hilang dengan cara yang tidak memungkinkan untuk diperbaiki kembali.
فهذا تأسيس الطرق وتوجيه الأقوال
Inilah penetapan metode dan penjelasan pendapat-pendapat.
والآن نفرعّ عليها ونستعين الله
Sekarang, kita akan menguraikannya dan memohon pertolongan kepada Allah.
أما قولنا إنهما يجبران معاً فمعناه أنهما محمولان على أن يأتيا بعوضي العقد ناجزاً فإن فعلا في مجلسٍ واحدٍ انفصلَ الأمر ويسلم المبيعُ إلى المشتري والثمن إلى البائع وقد يتأتى تحصيل الغرض بأن يأخذ الحاكم المبيعَ من البائع والثمنَ من المشتري ويمسكه بنفسه أو يضعُه على يد عدلٍ حتى إذا اجتمعَ العِوضانِ في يدي العدل أو في يد الحاكم سلّم إلى كُلّ واحدٍ من المتعاقدَيْن حقَّه
Adapun pernyataan kami bahwa keduanya dipaksa bersama-sama, maksudnya adalah keduanya diwajibkan untuk menyerahkan pengganti akad secara tunai. Jika keduanya melakukannya dalam satu majelis, maka urusan selesai: barang diserahkan kepada pembeli dan harga diserahkan kepada penjual. Tujuan juga dapat tercapai dengan cara hakim mengambil barang dari penjual dan harga dari pembeli, lalu menahannya sendiri atau meletakkannya di tangan orang yang adil. Kemudian, apabila kedua pengganti telah terkumpul di tangan orang yang adil atau di tangan hakim, maka masing-masing pihak yang berakad diberikan haknya.
وإنما يجري ما ذكرناه إذا طلب كلُّ واحدٍ من صاحبه حقَّه فأمَّا إذا أعرضا فلا يتعرض لهما
Hal yang telah kami sebutkan itu berlaku jika masing-masing dari keduanya menuntut haknya dari yang lain. Adapun jika keduanya berpaling, maka tidak perlu ada campur tangan terhadap mereka berdua.
ولو طلب أحدهما حقه والثاني معرضٌ قلنا للمعرض منهما أتؤدي ما عليك وتأخذ مالَكَ فإذا قال أجل أجرينا الأمرَ في الجانبين على ما وصفناه
Jika salah satu dari keduanya menuntut haknya sementara yang lain berpaling, maka kami katakan kepada yang berpaling di antara mereka: “Apakah engkau akan menunaikan kewajibanmu dan mengambil hartamu?” Jika ia menjawab, “Ya,” maka kami jalankan perkara pada kedua belah pihak sebagaimana yang telah kami jelaskan.
وإن قال المعرض أؤدي ما عليَّ ولا أطلب في الحالِ مالي فإن رضي صاحبُة بذلك أجرينا الأمر على هذا النحو وإن قال صاحبه أجبروه على قبض حقه كما تأخذون حقي منه فهذا يخرّج على أن من عليه الحقّ إذا وفَّاه هل يُجبر صاحبُه على القبول
Jika pihak yang berpaling berkata, “Aku akan melunasi kewajibanku dan tidak menuntut hartaku saat ini,” lalu pemiliknya ridha dengan hal itu, maka urusan dijalankan sesuai cara tersebut. Namun jika pemiliknya berkata, “Paksa dia untuk menerima haknya sebagaimana kalian mengambilkan hakku darinya,” maka hal ini dikembalikan pada pembahasan apakah orang yang memiliki hak, jika yang berkewajiban telah melunasinya, boleh dipaksa untuk menerima atau tidak.
وهذا يجري في الثمن فأمَّا المبيع المعيَّنُ فيجبر المشتري على قبوله إذا بذله البائع وذلك أنه في ضمانِ البائع والعقد بهذا السبب عرضة للانفساخ فالوجه أن يخلص البائع عن غَرر الضمان
Hal ini berlaku pada harga, adapun barang yang telah ditentukan maka pembeli dipaksa untuk menerimanya jika penjual telah menyerahkannya, karena barang tersebut berada dalam tanggungan penjual dan akad karena sebab ini berpotensi batal, maka yang tepat adalah membebaskan penjual dari risiko tanggungan.
ولو قال البائع للمشتري دونك المبيعَ فاقبضه ولست أطالبُك بالثمن في الحال فقال المشتري لا أقبض المبيعَ حتى أتمكّن من توفية الثمن فهو مجبر على قبض المبيع لما ذكرناه من وجوب تخليص البائع عن عهدة العقد إذا طلب الخلاصَ
Jika penjual berkata kepada pembeli, “Ambillah barang yang dijual ini dan terimalah, aku tidak menuntutmu untuk membayar harga sekarang,” lalu pembeli berkata, “Aku tidak akan menerima barang yang dijual sampai aku mampu melunasi harganya,” maka pembeli tetap diwajibkan untuk menerima barang yang dijual, sebagaimana telah disebutkan tentang kewajiban membebaskan penjual dari tanggungan akad jika penjual meminta pembebasan tersebut.
وإذا قلنا إنهما لا يُجبران فمعنى ذلك أن الطلب لا يوجه على واحدٍ منهما ابتداءً ولكن من بدأ فوفَّى حقَّت الطَّلِبةُ على صَاحبه بتسليم ما عليه
Jika kita mengatakan bahwa keduanya tidak dapat dipaksa, maka maksudnya adalah tuntutan tidak langsung ditujukan kepada salah satu dari keduanya sejak awal, tetapi siapa yang memulai dan melunasi, maka kewajiban untuk menyerahkan apa yang menjadi tanggungannya berpindah kepada rekannya.
فأمَّا إذا قلنا يجبر البائع على التسليم أو لم نَرَ إجبارَه ولكنَه تبرع بالبداية قال الشافعي مفرّعاً على هذا إذا سلَّم البائعُ المبيعَ فإن كان الثمن حاضراً في المجلسِ أُجبر المشتري على التسليم من ساعته وإن غاب أَشهدَ على وقف ماله وعلى وقف السلعة فإذا سلَّم ما عليه انطلق عنه الوقف
Adapun jika kita mengatakan bahwa penjual dipaksa untuk menyerahkan barang atau kita tidak melihat adanya pemaksaan terhadapnya, tetapi ia menyerahkan barang secara sukarela sejak awal, maka asy-Syafi‘i menjelaskan berdasarkan hal ini: jika penjual telah menyerahkan barang yang dijual, maka jika harga (pembayaran) ada di majelis saat itu juga, pembeli dipaksa untuk langsung menyerahkan pembayaran pada saat itu juga. Namun jika harga tidak ada, maka penjual diminta untuk menghadirkan saksi atas penahanan hartanya dan penahanan barang tersebut. Jika pembeli telah menyerahkan apa yang menjadi kewajibannya, maka penahanan itu pun dilepaskan.
وهذا موقفٌ يتعين على الناظر التثبت في فهم الكلام
Ini adalah suatu sikap yang mengharuskan orang yang menelaah untuk berhati-hati dalam memahami perkataan.
أوَّلاً معناه الظاهر ضربُ الحَجْر على المشتري هذا هو المراد بالوقف فقد قال أحجر عليه في سائر أمواله وفي المبيع الذي سلّم إليه؛ حتى لا يتصرف في شيءٍ ثم يدوم الحجر إلى أداء الثمن فإذا أدّاه انطلق
Pertama, makna zahirnya adalah memberlakukan larangan (hajr) terhadap pembeli; inilah yang dimaksud dengan waqf. Maka dikatakan, “Telah diberlakukan hajr atasnya dalam seluruh hartanya dan pada barang yang telah diserahkan kepadanya, sehingga ia tidak dapat melakukan transaksi apa pun.” Kemudian larangan itu tetap berlaku hingga ia membayar harga (barang tersebut). Jika ia telah membayarnya, maka larangan itu dicabut.
وهذا حجرٌ بدع لا عهدَ بمثله في القواعد
Ini adalah batu bid‘ah yang tidak pernah ada sebelumnya dalam kaidah-kaidah.
وقد اضطرب الأصحاب؛ فذهب بعضهم إلى أن هذا الحجرَ على قياس الحجر على المفلس ثم أصلُ المذهب فيه أن دَيْن المرء إذا زاد على ماله وطلبَ مستحقُّ الدين الحجرَ على المديون أجيب إلى ذلك
Para ulama berbeda pendapat; sebagian dari mereka berpendapat bahwa tindakan pelarangan ini didasarkan pada qiyās terhadap pelarangan atas orang yang pailit. Kemudian, menurut pendapat utama dalam mazhab ini, jika utang seseorang melebihi hartanya dan pihak yang berhak atas utang tersebut meminta agar orang yang berutang itu dikenai pelarangan, maka permintaan tersebut dikabulkan.
وإن كان الدينُ أقلَّ من المال قليلاً أو مثلَه فاستدعى من يستحق الدينَ الحجرَ ففي المسالةِ أوجهٌ ستأتي مفصلةً إن شاء الله تعالى في كتاب الحجر
Jika utang itu sedikit lebih kecil dari harta atau sama dengan harta, lalu orang yang berhak atas utang tersebut meminta agar dilakukan hajr (pembatasan hak bertindak) terhadapnya, maka dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat yang akan dijelaskan secara rinci, insya Allah Ta‘ala, dalam Kitab al-Hajr.
فما ذكره الشافعيُّ من وقف مالِ المشتري وضَرْب الحجر عليهِ خارج على هذا القياس عند هذا القائل حتى إن كان في مال المشتري وفاءٌ بالثمن أو أضعافُ الوفاء فلا حجرَ ولا وقف هذا حكاه شيخي عن بعض الأصحابِ وكان يبالغُ في تضعيف هذه الطَرِيقة ويزيفُها وينسُب صاحبَها إلى الذهول عن فهم كلام الشافعي بالكليّة
Apa yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i tentang penahanan harta pembeli dan pemberlakuan interdiksi terhadapnya, menurut pendapat ini, keluar dari qiyās tersebut. Sehingga, jika dalam harta pembeli terdapat kecukupan untuk membayar harga atau bahkan berlipat-lipat dari kecukupan itu, maka tidak ada interdiksi dan tidak ada penahanan. Hal ini diceritakan guruku dari sebagian sahabat (ulama mazhab), dan beliau sangat menekankan pelemahan metode ini, menganggapnya tidak sahih, serta menisbatkan pemilik pendapat tersebut pada ketidakpahaman secara total terhadap perkataan asy-Syafi‘i.
ونحن نصف وجهَ التزييف ثم نفتتح معنى كلام الشافعيّ ونبني عليه تمامَ مقصوده إن شاء اللهُ عز وجل
Kami akan menguraikan sisi pemalsuan terlebih dahulu, kemudian memulai penjelasan makna perkataan asy-Syafi‘i dan membangun penjelasan tersebut hingga tuntas sesuai maksud beliau, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
أولاً ما ذكره هذا القائل يخالفُ صريحَ النص على ما يُنقل لفظُ صاحبِ المذهب قال رضي الله عنه ويجبر المشتري على دفع الثمن من ساعته فإن غاب مالُه أَشهدَ على وقفِ مالهِ وأَشهدَ على وقف السلعة فإذا دفع أطلق عنه الوقفُ وإن لم يكن له مالٌ فهذا مفلس والبائع أحق بسلعته ولا ندع الناس يتمانعون الحقوق
Pertama, apa yang disebutkan oleh orang ini bertentangan dengan teks yang jelas sebagaimana yang dinukil secara lafaz dari pemilik mazhab. Beliau, semoga Allah meridhainya, berkata: “Pembeli dipaksa untuk membayar harga barang saat itu juga. Jika hartanya tidak ada, maka ia harus menghadirkan saksi atas penahanan hartanya dan menghadirkan saksi atas penahanan barang. Jika ia membayar, maka penahanan itu dilepaskan darinya. Jika ia tidak memiliki harta, maka ia adalah seorang yang muflis (bangkrut), dan penjual lebih berhak atas barangnya. Kita tidak boleh membiarkan orang-orang saling menahan hak.”
هذه ألفاظ الشافعي وقد ذكر الوقفَ أولاً مربوطاً بغيبةِ المال ثم ذكر المفلسَ بعد نجازِ الغَرض من الوقف الذي أشهد عليه؛ فمن نزَّل ذلك الوقفَ على وقف مال المفلس فقد خلطَ ما فصله الشافعي وأبطل التعليلَ بغَيْبة المال فهذا بيّن
Ini adalah ungkapan-ungkapan asy-Syafi‘i, di mana beliau pertama kali menyebutkan waqaf yang terkait dengan ketiadaan harta, kemudian menyebutkan orang yang pailit setelah selesainya tujuan dari waqaf yang telah disaksikan atasnya; maka barang siapa yang menisbatkan waqaf tersebut pada waqaf harta orang yang pailit, sungguh ia telah mencampuradukkan apa yang telah dipisahkan oleh asy-Syafi‘i dan membatalkan alasan dengan ketiadaan harta, maka hal ini jelas.
وأما من طريق المعنى فإذا رأينا إجبارَ البائع على تسليم المبيع ولم يكن مالُ المشتري في المجلسِ فلو سلمنا المبيعَ إليه وتركناه ينطلق لم نأمن غوائله وكنا معرضين حقَّ البائع للضَّياع ولا سبيلَ إلى حبسه فالوجه أن يُحجر عليه حتى نمنع عليه التصرّفات في الأموال؛ إذْ لو كان مطلقَ التصرُّفِ لخيفَ أن يهبَ أمواله وما قبضه الآن من طفلٍ له ويتسبَّب إلى إبطال حق البائع؛ فالوجه الأقصدُ الذي يجمع تسليمَ المبيع من غير تعرض حق البائع للضياع ما ذكره
Adapun dari segi makna, jika kita melihat bahwa penjual dipaksa untuk menyerahkan barang yang dijual sementara harta pembeli belum ada di majelis, maka jika kita menyerahkan barang tersebut kepadanya dan membiarkannya pergi, kita tidak dapat menjamin keamanannya dan kita telah mempertaruhkan hak penjual untuk hilang, sementara tidak ada cara untuk menahannya. Maka yang tepat adalah membatasi geraknya agar kita dapat mencegahnya melakukan tindakan terhadap harta; sebab jika ia dibiarkan bebas bertindak, dikhawatirkan ia akan memberikan hartanya, termasuk yang baru saja diterimanya, kepada anak kecilnya dan menyebabkan hak penjual menjadi batal. Maka cara yang paling tepat yang dapat menggabungkan antara penyerahan barang tanpa membahayakan hak penjual adalah sebagaimana yang telah disebutkan.
فهذا نوع من الحجر مختصٌّ بهذا المقام ولا يمكن تخصيص الحجر بالبعض دون البعض من أمواله
Ini adalah jenis pembatasan tertentu yang khusus untuk konteks ini, dan tidak mungkin membatasi sebagian harta saja tanpa yang lainnya.
هذا مسلك المعنى ويترتب عليه أمران لا بد من فهمهما أحدهما أنا لا نعتبر قياس الحجر على المفلس في النظر إلى الأقدار كما ذكرناه
Ini adalah pendekatan makna, dan darinya muncul dua hal yang harus dipahami. Pertama, kami tidak mempertimbangkan qiyās antara orang yang dikenai pembatasan (hajr) dengan orang yang bangkrut (muflis) dalam hal memperhatikan kadar-kadar tertentu, sebagaimana telah kami sebutkan.
والآخر أن الحجر على المفلس يسلّط البائعَ على فسخ البيع والرجوعِ إلى عين المتاع وهذا النوع من الحجر لا يقتضي ذلك فإنا لم نضرب هذا الحجر بسبب ضيق المال وإنما هو لمقصودٍ آخر ولو ظن ظانّ أن هذا الحجر يسلط على الفسخ لكان مُزْوَرّاً عن فهم مقصود المسألة بالكلِّيَّة؛ فإن الغرض تقريرُ المبيع وإيصالُ كل ذي حق إلى حقه وإلا فأي معنىً للإجبار على التسليم وضربِ الحجر حتى يثبت حق الفسخ والاسترداد
Yang lainnya adalah bahwa penetapan status pailit pada seseorang memberikan hak kepada penjual untuk membatalkan jual beli dan mengambil kembali barang yang dijual. Namun, jenis penetapan status seperti ini tidak mengakibatkan hal tersebut, karena penetapan status ini bukan disebabkan oleh kekurangan harta, melainkan untuk tujuan lain. Jika ada yang mengira bahwa penetapan status ini memberikan hak untuk membatalkan (jual beli), maka ia telah berpaling dari memahami maksud permasalahan ini secara keseluruhan; sebab tujuannya adalah menegaskan keberadaan barang yang dijual dan menyampaikan setiap orang yang berhak kepada haknya. Jika tidak demikian, apa makna dari kewajiban untuk menyerahkan barang dan penetapan status pailit, jika pada akhirnya justru menetapkan hak pembatalan dan pengambilan kembali?
فإذا تمهَّد ما ذكرناه حان الآن أن نفصّل المذهبَ بعون اللهِ وتوفيقه
Setelah apa yang telah kami jelaskan menjadi jelas, kini saatnya kami merinci mazhab ini dengan pertolongan dan taufik dari Allah.
فنقول إذا سلّم البائعُ المبيعَ أولاً قلنا للمشتري عجّل الثمنَ فإن كان حاضراً أدّاه ولو قال المشتري مالي غائب وسأحضره عما قريب قال الشافعي وقفتُ ماله كما مضى
Maka kami katakan, jika penjual telah menyerahkan barang yang dijual terlebih dahulu, kami katakan kepada pembeli: segerakanlah pembayaran harga. Jika harga tersebut sudah tersedia, maka ia harus membayarnya. Namun jika pembeli berkata, “Hartaku tidak ada di sini, dan akan segera aku bawa,” menurut pendapat asy-Syafi‘i, hartanya ditahan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
ثم ذكر العراقيون طريقةً نحن نطردُها فقالوا إن كان مال المشتري على مسافة القصر وقد وقفنا ماله فللبائع فسخُ العقد والرجُوعُ إلى عين المبيع وإن كان دون مسافة القصر ولكن كان غائباً عن البلد فهل يثبت حق الفسخ فعلى وجهين
Kemudian para ulama Irak menyebutkan suatu metode yang kami ikuti, yaitu mereka berkata: Jika harta pembeli berada pada jarak safar qashar dan kami telah menahan hartanya, maka penjual berhak membatalkan akad dan kembali kepada barang yang dijual. Namun jika jaraknya kurang dari jarak safar qashar tetapi berada di luar kota, apakah hak pembatalan tetap berlaku? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
وإن كان المال في البلدِ ولكن كان غائباً عن المجلس فلا يثبتُ حقُّ الفسخِ في هذه الصورة
Jika harta itu berada di negeri tersebut, namun tidak hadir di majelis, maka hak untuk membatalkan (akad) tidaklah tetap dalam keadaan seperti ini.
هذا كلامهم
Ini adalah pendapat mereka.
وقال ابن سُرَيج إن كان مالُه في البلد ولكن كان غائباً عن مجلس التسليم فيمهل المشتري إلى تحصيل الثمن ويُحجر عليه ولا يردّ المبيع إلى البائع فأما إذا كان ماله غائباً عن البلدِ فليرد المبيعَ إلى البائع إلى أن يتوفَّر عليه الثمن ولا يثبت حقُّ فسخِ البيع عند ابن سريج أصلاً بهذا الوقف الذي نص عليه الشافعي وإنما يثبت الفسخُ إذا انتهى الأمرُ إلى الإعسار أو إلى امتناع الوصول إلى الثمن بغيبةٍ شاسعة يُعَدّ مثلها امتناعاً
Ibnu Surayj berkata, jika hartanya ada di kota namun ia tidak hadir di majelis penyerahan, maka pembeli diberi waktu hingga memperoleh harga (barang) dan ia dikenai pembatasan (hajr), serta barang tidak dikembalikan kepada penjual. Adapun jika hartanya tidak ada di kota, maka barang dikembalikan kepada penjual sampai harga (barang) tersebut tersedia. Menurut Ibnu Surayj, hak pembatalan jual beli sama sekali tidak tetap dengan penangguhan yang dinyatakan oleh asy-Syafi‘i, melainkan pembatalan hanya tetap jika perkara tersebut berujung pada ketidakmampuan (al-i‘sar) atau pada ketidakmungkinan memperoleh harga karena ketiadaan yang sangat jauh, yang dalam kondisi seperti itu dianggap sebagai ketidakmungkinan.
وبين طريق ابن سُريج والعراقيين بَونٌ بينٌ وحاصل كلام ابن سريج يؤول إلى أنا إذا عرفنا غيبة المالِ لم نوجب على البائع البدايةَ بالتسليم؛ إذ لا فائدة في التسليم والاسترداد ومن ربط من أصحابنا هذا الحجرَ بحد الفَلَس أثبت للبائع الفسخَ
Terdapat perbedaan yang jelas antara metode Ibn Surayj dan para ulama Irak, dan inti pembicaraan Ibn Surayj bermuara pada bahwa jika kita mengetahui ketiadaan harta, maka kita tidak mewajibkan penjual untuk memulai dengan penyerahan barang; karena tidak ada manfaat dalam penyerahan dan pengambilan kembali. Dan di antara para sahabat kami yang mengaitkan masalah ini dengan batasan al-falas, mereka menetapkan hak penjual untuk membatalkan akad.
فهذا بيان الطرق
Inilah penjelasan tentang berbagai metode.
ثم الذين راعَوْا حدَّ الفَلَس قالوا إن كان يتأَتَّى تأديةُ الثمنِ من غير بيع المبيع فَلا حجر ولا وَقف وإن كان يتأتى تأدية الثمن ببيع المبيع أو بِبَيع بعضه ضماً إلى سائر مال المشتري ففي المسألة وجهان أحدهما أنه لا يحجر عليه؛ إذْ أداء الثمن ممكن والثاني يُحجر عليهِ؛ فإن بيعَ المبيع تفويتُ حق الحبس على البائع
Kemudian, para ulama yang memperhatikan batasan falas (kebangkrutan) mengatakan: Jika memungkinkan pelunasan harga (utang) tanpa menjual barang yang dibeli, maka tidak ada larangan (hajr) dan tidak ada penahanan (waqf). Namun, jika pelunasan harga hanya dapat dilakukan dengan menjual barang yang dibeli atau menjual sebagian darinya bersama dengan harta pembeli yang lain, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa tidak dikenakan hajr kepadanya, karena pelunasan harga masih mungkin dilakukan. Pendapat kedua menyatakan bahwa ia dikenakan hajr, karena menjual barang yang dibeli berarti menghilangkan hak penahanan (haq al-habs) bagi penjual.
وهذا خبط؛ فإنه بناءٌ على حمل الوقف على حد الفَلَسِ وليس الأمر كذلك
Ini adalah kekeliruan; sebab hal itu didasarkan pada penyamaan wakaf dengan batasan pailit, padahal kenyataannya tidak demikian.
وقد نجز الفصلُ بما فيهِ
Dan telah selesai pembahasan ini beserta isinya.
فرع
Cabang
إذا سلّم البائع المبيعَ فامتنع المشتري عن تسلمه وقبضه فقد ذكرنا في الفصل السابق ما يليق بأصل المذهب
Jika penjual telah menyerahkan barang yang dijual, lalu pembeli menolak untuk menerima dan mengambilnya, maka kami telah menyebutkan pada bab sebelumnya hal-hal yang sesuai dengan pokok mazhab.
وقد ذكر صاحب التقريب في جواب ذلك وجوهاً لم أر ذكرَها في قانون المذهب فرسمتُ فرعاً حتى أستوفي ما ذكره
Penulis kitab at-Taqrīb telah menyebutkan beberapa penjelasan dalam menjawab hal itu, yang tidak aku temukan disebutkan dalam Qānūn al-Madzhab. Maka aku menuliskan satu cabang agar aku dapat menyempurnakan apa yang telah disebutkannya.
قال إذا امتنع المشتري عن القبض فالوجه إجباره فإن لم يقبضه قبضه القاضي عنه أو أناب نائباً ليقبض عنه وذكرَ وجهاً غريباً أن القاضي يبرئه من ضمان المبيع فتصير يدُه يدَ أمانةٍ؛ حتى لو تلفَ في يده لم ينفسخ البيعُ بتلفه وكان من ضمان المشتري
Ia berkata: Jika pembeli menolak untuk menerima barang, maka yang tepat adalah memaksanya. Jika ia tetap tidak mau menerima, hakim akan menerima barang itu atas namanya atau menunjuk wakil untuk menerimanya atas namanya. Ada juga pendapat yang ganjil, yaitu bahwa hakim membebaskannya dari tanggungan atas barang yang dijual, sehingga kepemilikannya menjadi kepemilikan amanah; sehingga jika barang itu rusak di tangannya, akad jual beli tidak batal karena kerusakan tersebut dan tanggungannya tetap pada pembeli.
وهذا بعيدٌ جداً وهو في التحقيق تغييرُ وضع الشرع في قطع الضمان لا بالطريق الشرعي هذا إذا وجدنا قاضياً
Hal ini sangat jauh, dan pada hakikatnya merupakan perubahan terhadap ketentuan syariat dalam menghapus tanggungan, bukan melalui cara yang syar‘i; hal ini jika kita menemukan seorang qadhi.
فأما إذا لم نجد قاضياً وامتنع المشتري عن القبض فالوجه القطع بأن المبيع يبقى في ضمان البائع ويأثم المشتري بإدامةِ الضمان عليه بسبب الامتناع عن القبض
Adapun jika kita tidak menemukan qāḍī dan pembeli enggan menerima barang, maka pendapat yang tepat adalah bahwa barang yang dijual tetap berada dalam tanggungan penjual, dan pembeli berdosa karena terus membebankan tanggungan tersebut kepada penjual akibat penolakannya untuk menerima barang.
قال صاحب التقريب قال بعض أصحابنا إن البائعَ يقبض بنفسه عن نفسه للضّرورة الداعية إليه
Menurut penulis kitab at-Taqrīb, sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa penjual dapat melakukan qabḍ (pengambilan barang) sendiri atas nama dirinya sendiri karena adanya kebutuhan mendesak yang mengharuskannya demikian.
وهذا كما أنا نقول إذا ظفر بغير جنس حقِّه أو بجنسه وقد تعذَّر عليه استيفاء حقِّه من المستحَق عليه طوعاً يأخذ ويكون قبضاً منه بحق نفسه فهو القابض والمقبض فكذلك البائع يقبض للمشتري فيكون قابضاً مقبضاً
Demikian pula sebagaimana kita katakan, jika seseorang mendapatkan selain jenis haknya atau mendapatkan jenis haknya, namun ia kesulitan untuk memperoleh haknya dari pihak yang wajib memberikannya secara sukarela, maka ia boleh mengambilnya dan pengambilan itu dianggap sebagai penerimaan atas hak dirinya sendiri; maka ia adalah pihak yang menerima dan sekaligus yang menyerahkan. Demikian pula penjual menerima untuk pembeli, sehingga ia menjadi pihak yang menerima sekaligus yang menyerahkan.
وهذا بعيد جداً وإذا كان على إنسان دين فجاء به فامتنع مستحِقُّه من قبضه ففي المسألة قولان مشهوران فإن قلنا لا يجبر مستحِق الحق على قبضه فالقاضي لا يبرئه عن أصل الدَّيْن وليس الإبراء عن أصل الديْن بمثابة الإبراء عن ضمان العين؛ فإن إسقاطَ أصل الحق لا وجه له ولو صحَّ ما ذكره صاحب التقريب من تقديره قابضاً مُقبضاً لكان لا يمتنع أن يجعل بنفسه حيث لا قاضيَ قابضاً مقبضاً حتى يصيرَ ما جاء به في يده مقبوضاً لمستحقه ويده فيه يدُ أمانةٍ ولا أصل لما ذكره
Hal ini sangat jauh. Jika seseorang memiliki utang, lalu ia membawanya (untuk membayar), namun pihak yang berhak menagihnya menolak untuk menerima, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Jika kita mengatakan bahwa pihak yang berhak tidak dipaksa untuk menerima, maka hakim tidak membebaskan orang tersebut dari pokok utang. Dan pembebasan dari pokok utang tidaklah sama dengan pembebasan dari jaminan barang; karena menggugurkan pokok hak tidak ada dasarnya. Seandainya benar apa yang disebutkan oleh penulis at-Taqrīb tentang menganggapnya sebagai orang yang menerima dan menyerahkan, maka tidak mustahil untuk menjadikannya sendiri, di mana tidak ada hakim, sebagai orang yang menerima dan menyerahkan, sehingga apa yang ia bawa berada di tangannya sebagai barang yang telah diterima oleh yang berhak, dan tangannya atas barang itu adalah tangan amanah. Namun, tidak ada dasar untuk apa yang ia sebutkan itu.
فصل
Bab
قال ولو كان الثمن عرْضاً أو ذَهباَّ بَعينهِ إلى آخِره
Ia berkata: “Dan seandainya harga (barang) itu berupa barang (‘arḍ) atau emas itu sendiri, dan seterusnya.”
المبيع إذا أتلفَه الأجنبي فالمذهَبُ أن البيعَ لا ينفسخ وعليهِ التفريع
Barang yang dijual apabila dirusak oleh pihak ketiga (orang lain), maka menurut mazhab, akad jual beli tidak batal, dan hukum-hukum selanjutnya didasarkan atas hal itu.
التفريع في هذا الفصل
Penjabaran dalam bab ini
فإذا فرَّعنا على أن المشتري هو الذي يبدأ بالتسليم فللبائع حق حبس المبيع فإذا أتلفه الأجنبي فقد أفسدَ ملكَ المشتري وحقُّ البائع في الحبس فيثبت لكل واحد منهما مطالبته بالقيمة أما المالك فلملكهِ والبائعُ لحقه وهذا يتفرع على أن البائع يحبس قيمةَ المبيع بالثمن قياساً على قيمة المرهون إذا تلف
Jika kita berpendapat bahwa pembeli adalah pihak yang memulai penyerahan, maka penjual memiliki hak untuk menahan barang yang dijual. Jika barang tersebut dirusak oleh pihak ketiga, berarti pihak ketiga telah merusak hak milik pembeli dan hak penjual dalam menahan barang, sehingga masing-masing dari keduanya berhak menuntut ganti rugi berupa nilai barang tersebut; pemilik karena hak kepemilikannya, dan penjual karena haknya. Hal ini didasarkan pada qiyās bahwa penjual menahan nilai barang yang dijual sebagai pengganti harga, sebagaimana nilai barang gadai jika barang tersebut rusak.
ومن أصحابنا من يقول ينقطع حقُّ حبس البائع بفوات عين المبيع وقد قدّمنا هذا فيما سبق
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa hak penahanan penjual gugur dengan hilangnya barang yang dijual, dan hal ini telah kami sampaikan sebelumnya.
وإذا أتلف الأجنبيَّ العينَ المرهونةَ والتزمَ قيمتَها توجَّهت عليه الطَّلِبةُ من الراهن لحق الملك وتوجهت عليه الطَّلِبَةُ من المرتهن لحق الوثيقة؛ فإنّ القيمةَ إذا حصلت كانت رهناً
Jika pihak ketiga merusak barang yang dijadikan jaminan (rahn) dan ia bertanggung jawab membayar nilainya, maka tuntutan dari pihak rahin (pemberi rahn) diarahkan kepadanya karena hak kepemilikan, dan tuntutan dari pihak murtahin (penerima rahn) juga diarahkan kepadanya karena hak sebagai jaminan; sebab jika nilai barang tersebut telah diperoleh, maka nilai itu menjadi barang jaminan (rahn).
هذا متفق عليه في الرهن
Hal ini telah disepakati dalam masalah rahn.
وإنما الخلاف في المبيع وحق الحبس
Adapun perbedaan pendapat itu terletak pada objek yang dijual dan hak menahan (haq al-habs).
وإذا أتلف البائعُ المبيعَ وقلنا ينفسخ العقدُ فلا كلام وإن قلنا لا ينفسخ فهل يطالبه المشتري بالقيمة قبل توفير الثمن هذا يخرَّجُ على أن البداية بالتسليم على من فإن قلنا البدايةُ على البائع طالبه المشتري بالقيمة قبل توفير الثمن ثم ينقُد الثمنَ من ساعته كما مضى وإن قلنا البداية على المشتري فلا يطالبه بالقيمة ما لم ينقد الثمن
Jika penjual merusak barang yang dijual dan kita berpendapat bahwa akadnya batal, maka tidak ada masalah. Namun jika kita berpendapat bahwa akadnya tidak batal, apakah pembeli dapat menuntut penjual untuk membayar nilai barang sebelum ia menyerahkan harga? Masalah ini dikembalikan pada persoalan siapa yang lebih dahulu wajib melakukan penyerahan. Jika kita berpendapat bahwa penyerahan dimulai dari pihak penjual, maka pembeli dapat menuntut nilai barang sebelum menyerahkan harga, kemudian ia membayar harga saat itu juga sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Namun jika kita berpendapat bahwa penyerahan dimulai dari pihak pembeli, maka pembeli tidak dapat menuntut nilai barang selama ia belum membayar harga.
ولو سلَّم المشتري الثمنَ والمبيعُ عبدٌ فأبِق العبدُ من يد البائع ولم يتمكن من تسليمه فالإباق يُثبت للمشتري حقَّ الخيارِ في فسخ البيع لا محالة ولو لم يرد الفسخَ وأبق العبدُ وما كان وفّر الثمن فلا يلزمه توفيرُ الثمن
Jika pembeli telah menyerahkan harga dan barang yang dijual adalah seorang budak, lalu budak itu melarikan diri dari tangan penjual dan penjual tidak mampu menyerahkannya, maka pelarian budak tersebut memberikan hak khiyar (memilih) kepada pembeli untuk membatalkan jual beli tanpa keraguan. Namun jika pembeli tidak ingin membatalkan dan budak itu tetap melarikan diri, sementara pembeli belum menyerahkan harga, maka ia tidak wajib menyerahkan harga tersebut.
وإن فرعنا على أن البدايةَ تجب على المشتري فإذا وفّر الثمنَ ثم أبق العبدُ فهل يستردُّ الثمنَ بناءً على أنه كان لا يجب عليه التوفير بعد الإباق فطريان الإباق هل يثبت حق الاسترداد
Jika kita berpendapat bahwa kewajiban memulai (pembayaran) ada pada pembeli, kemudian ia telah menyediakan harga, lalu budak itu melarikan diri, maka apakah pembeli berhak meminta kembali harga tersebut? Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa setelah budak melarikan diri, kewajiban menyediakan harga tidak lagi berlaku baginya. Maka, apakah terjadinya pelarian budak menetapkan hak untuk meminta kembali harga tersebut?
نقل القاضِي عن القفَّال أنه لا يملك استرداد الثمن فإن أراد استرداده فليفسخ العقدَ وهذا محتمل والأظهرُ ما ذكره القفال؛ فإن الاسترداد بالفسخ إذا أمكن فهو أولى وهذا كما أنا لا نُثبت للمشتري الرجوعَ بأرش العيب القديم مع القدرة على الرَّدِّ وفسخ العقد
Qadhi menukil dari al-Qaffal bahwa penjual tidak berhak meminta kembali harga barang; jika ia ingin mengambil kembali harga tersebut, maka hendaklah ia membatalkan akad, dan hal ini memungkinkan. Pendapat yang lebih kuat adalah apa yang disebutkan oleh al-Qaffal; sebab pengambilan kembali harga dengan cara membatalkan akad, jika memungkinkan, itu lebih utama. Hal ini sebagaimana kita tidak menetapkan hak bagi pembeli untuk meminta ganti rugi atas cacat lama jika masih mampu mengembalikan barang dan membatalkan akad.
فصل
Bab
قال ولا أحب مبايعةَ مَن أكثرُ ماله حرام إلى آخره
Ia berkata, “Aku tidak suka melakukan transaksi jual beli dengan orang yang sebagian besar hartanya berasal dari yang haram,” dan seterusnya.
لا يخفى حكمُ اليقين في الحل والحرمة وإنما الكلام فيه إذا أشكل الأمرُ وكان من يعامله المرءُ ممن يظن أنه لا يتحفظ وقد يغلب ذلك بناء على معاملاته مع قلّة التحفظ فيها
Tidak tersembunyi hukum keyakinan dalam hal halal dan haram, namun pembicaraan di sini adalah apabila perkara tersebut menjadi samar, dan orang yang diajak bertransaksi adalah seseorang yang diduga tidak berhati-hati, dan hal itu sering terjadi berdasarkan transaksi-transaksinya yang kurang kehati-hatian di dalamnya.
أمّا الورع فلا يخفى على من يُوفّق له قال النبي عليه السلام الحلال بيَّن والحرام بين وبينهُما أمور متشابهات فمن توقَّاهن فقد استبرأ لدينه وعرضه
Adapun wara‘, maka tidaklah samar bagi siapa saja yang diberi taufik kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar. Barang siapa menjaga diri dari perkara-perkara itu, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.”
وفي روايةٍ فمن يدع ما تشابه عليه برىء له دينه ألا إن لكل ملكٍ حمى وحمى الله محارمُه فمن رتَع حول الحمى يوشك أن يقعَ فيهِ وقال عليه السلام دع ما يريبُك إلى ما لا يُريبك هذا طريق الورع
Dalam sebuah riwayat disebutkan: Maka barang siapa meninggalkan perkara yang samar baginya, agamanya akan selamat. Ketahuilah, setiap raja memiliki wilayah larangan, dan wilayah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Maka barang siapa berkeliaran di sekitar wilayah larangan, dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalamnya. Rasulullah saw. bersabda: “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” Inilah jalan wara‘.
فأما الجواز والحكم بالصحة فمذهبنا أنه وإن غلب على الظن أن ما تحويه يدُ من يعامله حرام فالشرع يقضي بتقريره على ملكه ولذلك نجعل القولَ قولَه إذا ادُّعي عليه مع يمينه فإن قيل هلا خرّجتم ذلك على قولي غلبة الظن في النجاسة والطهارة قلنا لأنا صادفنا أصلاً مرجوعاً إليه في الأملاك وهو اليد فاعتمدناه ولم نجد في النجاسة والطهارة أصلاً يعارِض غلبةَ الظنّ في النجاسة إلا استصحابَ الطهارة
Adapun kebolehan dan penetapan keabsahan, maka menurut mazhab kami, meskipun kuat dugaan bahwa apa yang ada di tangan orang yang bertransaksi dengannya adalah haram, syariat menetapkan kepemilikan atasnya. Oleh karena itu, kami menjadikan pernyataannya sebagai pegangan jika ada tuduhan terhadapnya, disertai sumpahnya. Jika ada yang bertanya, “Mengapa kalian tidak mengaitkan hal ini dengan pendapat tentang kuatnya dugaan dalam najis dan suci?” Kami jawab, karena kami menemukan adanya asas yang dapat dijadikan rujukan dalam masalah kepemilikan, yaitu tangan (penguasaan), maka kami berpegang padanya. Kami tidak menemukan dalam masalah najis dan suci asas yang dapat menandingi kuatnya dugaan tentang kenajisan, kecuali istishab thaharah (praduga tetapnya kesucian).
Bab Syarat yang Membatalkan Jual Beli
قال أئمة المذهب الشرائط المذكورة في صُلب العقد قسمان قسم يقتضيه إطلاق العقد وقسم لا يقتضيه الإطلاق فأما ما يقتضيه مطلقُ العقد فكالملك ووجوب التسليم والتسلُّم وجواز التصرُّف فهذه الأشياءُ وما في معانيها مقتضياتُ العقد فإذا وقع التعرُّضُ لها على وَفْقِ موضوع العقد لم يضرّ
Para imam mazhab mengatakan bahwa syarat-syarat yang disebutkan dalam inti akad terbagi menjadi dua bagian: bagian yang dituntut oleh keumuman akad, dan bagian yang tidak dituntut oleh keumuman tersebut. Adapun yang dituntut oleh keumuman akad, seperti kepemilikan, kewajiban menyerahkan dan menerima, serta kebolehan melakukan tindakan (atas objek akad), maka hal-hal ini dan yang semakna dengannya merupakan konsekuensi akad. Jika hal-hal tersebut disebutkan sesuai dengan maksud akad, maka hal itu tidak membahayakan.
والقسمُ الثاني ما لا يقتضيه مطلقُ العقد وهو ينقسم قسمين أحدهما لا يتعلق بمصلحة العقد والثاني يتعلق بها فأما ما لا يتعلق بمصلحة العقد ولم يرد بتسويغه الشرع فهو ينقسم فمنه ما يتعلّق بغرض العقدِ ومنه ما لا يتعلق به فأما ما لا تَعلُّق له بغرض العقد فهو مثلُ أن يقول بعتُك هذا العبدَ بألفٍ على ألا يلبسَ بعده إلا الحرير أو ما ضاهى ذلك من الاقتراحاتِ التي لا تعلق لها بمقصود العقد فهذا فاسد ملغى غيرُ مفسدٍ للعقد وهو في حكم اللغو
Bagian kedua adalah apa yang tidak dituntut oleh keumuman akad, dan ini terbagi menjadi dua: pertama, yang tidak berkaitan dengan kemaslahatan akad, dan kedua, yang berkaitan dengannya. Adapun yang tidak berkaitan dengan kemaslahatan akad dan tidak ada dalil syariat yang membolehkannya, maka ini juga terbagi lagi: di antaranya ada yang berkaitan dengan tujuan akad, dan ada yang tidak berkaitan dengannya. Adapun yang tidak berkaitan dengan tujuan akad, misalnya seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budak ini seharga seribu, dengan syarat setelah itu ia tidak boleh memakai apa pun kecuali sutra,” atau syarat-syarat lain yang serupa yang tidak ada hubungannya dengan maksud akad, maka syarat seperti ini batal dan diabaikan, tidak membatalkan akad, dan hukumnya seperti perkataan sia-sia.
وأما ما يتعلّق بغرض العقد فهو مثل أن يقول بعتك العبد على ألا تبيعه أو بعتُك الجارية على ألا تطأَها أو ما أشبه ذلك فهذه الشرائطُ فاسدةٌ وإذا ذُكرت في صلبِ العقد أفسدَت العقد
Adapun syarat yang berkaitan dengan tujuan akad, contohnya seperti seseorang berkata, “Aku jual budak ini kepadamu dengan syarat kamu tidak boleh menjualnya,” atau, “Aku jual budak perempuan ini kepadamu dengan syarat kamu tidak boleh menggaulinya,” atau yang semisal dengan itu, maka syarat-syarat seperti ini adalah fasid (rusak), dan jika disebutkan dalam inti akad, maka syarat tersebut merusak akad.
هذا ما ذكرهُ الأئمّةُ ودلّت عليه النصوص
Inilah yang disebutkan oleh para imam dan ditunjukkan oleh nash-nash.
وحكى صاحب التقريب قولاً غريباً أن الشرائط الفاسدةَ تلغو ويصحُّ العقدُ وردّد هذا القولَ في مواضعَ من كتابه وحكاه الشيخ أبو علي أيضاً وزَعم بعض أصحابنا أن أبا ثور حكى هذا القولَ عن الشافعي في جميع هذه الشرائط الفاسدة التي نحن فيها
Penulis kitab at-Taqrīb meriwayatkan sebuah pendapat yang ganjil bahwa syarat-syarat yang rusak (fasidah) dianggap tidak berlaku dan akad tetap sah. Ia mengulang pendapat ini di beberapa tempat dalam kitabnya, dan Syaikh Abu ‘Ali juga meriwayatkannya. Sebagian ulama mazhab kami menyatakan bahwa Abu Tsaur menisbatkan pendapat ini kepada asy-Syafi‘i dalam seluruh syarat fasidah yang sedang kita bahas ini.
فهذا حكيناه ولا عَوْدَ إليه
Inilah yang telah kami ceritakan, dan kami tidak akan kembali lagi kepadanya.
فأما ما يتعلق بمصالح العقد كالأجل والخيارِ وشرط الكفيل والرهن فهذه شرائط تصحُّ إذا وافقت الشرعَ ولا يتأتى ضبطُها من طريق المعنى؛ فإن مصالح العقود في مقاصد الخلق كثيرة وإنما يصح منها ما ورَد التوقيف به
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan kemaslahatan akad seperti tempo, khiyār, syarat penjamin, dan rahn, maka syarat-syarat ini sah jika sesuai dengan syariat, dan tidak mungkin membatasinya melalui makna; sebab kemaslahatan akad dalam tujuan manusia sangat banyak, dan yang sah hanyalah apa yang terdapat penetapan dari syariat.
ثم هذه المقاصد إن شُرطت على مقتضى الشرع صحت وثبتت وإن شرطت مخالفةً لمقتضى الشرع مثل أن يثبت الخيار زائداً على الثلاث أو يُشْرَط على الجهالة والأجلُ إذا أثبت مجهولاً أو شرط في عقدٍ لا يقبله
Kemudian, tujuan-tujuan ini jika disyaratkan sesuai dengan ketentuan syariat, maka sah dan tetap berlaku. Namun jika disyaratkan bertentangan dengan ketentuan syariat, seperti menetapkan hak khiyar lebih dari tiga hari, atau mensyaratkan dalam keadaan tidak jelas, atau tempo yang ditetapkan tidak jelas, atau mensyaratkan dalam akad yang tidak menerimanya, maka tidak sah.
فسبيل التقسيم فيه أن نقول ما يذكر على الفسادِ ينقسم فمنه ما لا يقبل الإفرادَ ولا يثبت قط إلا مشروطاً ومنه ما يفرد بعقدٍ من غير شرطٍ فأما ما لا يفرد كالخيار والأجل فإذا شُرط على الفَساد فَسدَ وأفسد العقدَ
Maka cara pembagian dalam hal ini adalah dengan mengatakan bahwa apa yang disebutkan berkaitan dengan kerusakan (fasad) terbagi menjadi dua: di antaranya ada yang tidak dapat berdiri sendiri dan tidak pernah tetap kecuali dengan syarat, dan di antaranya ada yang dapat berdiri sendiri melalui akad tanpa syarat. Adapun yang tidak dapat berdiri sendiri seperti khiyar dan tenggang waktu (ajal), maka jika disyaratkan secara fasad, hal itu menjadi rusak dan merusak akad.
وما يفردُ بعقدٍ كالرهنِ والكفيل فإذا شرط على الفساد فسدَ الشَرط وهل يفسد العقدُ فعلى قولين سيأتي ذكرهما إن شاء الله مع التوجيه والتفريع في كتاب الرهون
Adapun akad yang berdiri sendiri seperti rahn dan kafīl, apabila disyaratkan syarat yang rusak, maka syarat tersebut batal. Adapun apakah akadnya juga menjadi batal, terdapat dua pendapat yang akan disebutkan nanti, insya Allah, beserta penjelasan dan rincian dalam Kitab Rahn.
فهذا في حكم التراجم الكليّة لمسائل الباب
Ini termasuk dalam ketentuan terjemahan global untuk permasalahan dalam bab ini.
فصل
Bab
وإذا اشترى مملوكاً وشرط عليه البائع أن يعتقه؛ فالمنصوص عليه للشافعي أن العقد لا يفسُد والشرط يصح وإن لم يكن موافقاً لمضمون العقد ومقصودِه وليس من مصالح العقد أيضاً
Jika seseorang membeli seorang budak dan penjual mensyaratkan agar pembeli memerdekakannya, maka menurut pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i, akadnya tidak batal dan syarat tersebut sah, meskipun syarat itu tidak sesuai dengan substansi dan tujuan akad, serta bukan termasuk maslahat akad.
وخرَّج بعضُ أصحابنا قولاً أن البيعَ يفسد بشرط العتق اعتباراً بسائر الشروط الفاسدة وهذا مذهب أبي حنيفة وهو القياس
Sebagian ulama dari kalangan kami mengemukakan satu pendapat bahwa jual beli menjadi batal karena syarat memerdekakan budak, dengan mempertimbangkan syarat-syarat lain yang rusak, dan ini adalah mazhab Abu Hanifah serta merupakan qiyās.
والمعوّل في نصرة القول المنصوص عليه حديث بريرة كما سنرويه في أثناء الفصل إن شاء الله
Dan yang dijadikan sandaran dalam menguatkan pendapat yang dinyatakan secara tegas adalah hadis Barirah, sebagaimana akan kami riwayatkan di tengah-tengah pembahasan ini, insya Allah.
وذكر بعضُ أصحابنا قولاً آخر أن البيعَ يصح والشرط يلغو
Sebagian ulama kami menyebutkan pendapat lain bahwa akad jual beli tetap sah, sedangkan syaratnya dianggap batal.
وحكى العراقيون هذا القولَ عن أبي ثور عن الشافعي
Orang-orang Irak meriwayatkan pendapat ini dari Abu Tsaur dari asy-Syafi‘i.
ونقل صاحب التقريب هذا عامّاً في جميع الشرائط الفاسدة وحكاه هؤلاء في هذا على الخصوص
Penulis kitab at-Taqrīb telah menukilkan hal ini secara umum pada semua syarat yang rusak, dan mereka telah meriwayatkan hal ini secara khusus dalam permasalahan ini.
فإن ألغينا الشرطَ فلا كلام وإن صححناه فيجب الوفاء به
Jika kita mengabaikan syarat tersebut, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita menganggapnya sah, maka wajib menunaikannya.
ثم العتق المشروط حق الله تعالى أو حقُّ البائع فعلى وجهين مشهورين أحدهما أنه حق الله وهو كالعتق الملتَزَم بالنذرِ فعلى هذا يتعين على المشتري أن يعتق ولو عفا البائع عنه وأسقط حقَّ العتق لم يؤثر عفوهُ وإسقاطُه
Kemudian, pembebasan budak yang disyaratkan adalah hak Allah Ta‘ala atau hak penjual, menurut dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa itu merupakan hak Allah, dan hukumnya seperti pembebasan budak yang diwajibkan karena nadzar. Dengan demikian, wajib bagi pembeli untuk membebaskan budak tersebut, dan jika penjual memaafkan atau menggugurkan hak pembebasan itu, maka pemaafan dan penggugurannya tidak berpengaruh.
ولو أعتق المشتري العبد المشترَى عن كفارته نفذ العتقُ ولم ينصرف إلى كفارته؛ فإن من أصلنا أن العتق المستحقَّ في جهة لا ينصرف إلى جهة الكفارة وعليه بنينا امتناعَ انصراف عتق المكاتب إلى كفّارَة العتق إلى غيرِ ذلك من المسائل
Jika pembeli memerdekakan budak yang dibelinya untuk kafaratnya, maka pemerdekaan itu sah, namun tidak berlaku untuk kafaratnya; sebab menurut prinsip kami, pemerdekaan yang wajib pada suatu tujuan tertentu tidak dapat dialihkan kepada tujuan kafarat. Atas dasar ini, kami menetapkan tidak bolehnya pemerdekaan budak mukatab dialihkan kepada kafarat pemerdekaan, dan juga pada masalah-masalah lainnya.
ومما نفرعه على هذا القول أن العتق إذا أثبتناه لله فهل يملك البائع المطالبةَ به أم لا فعلى وجهين أصحهما أنه يملك ذلك؛ فإن العتق وإن كان لله تعالى فقد ثبت بشرط البائع وقد يكون له غرضٌ في تحصيل العتق وإن كان منسوباً إلى حق الله تعالى
Dan di antara cabang dari pendapat ini adalah bahwa jika kita menetapkan pembebasan budak itu untuk Allah, maka apakah penjual berhak menuntutnya atau tidak? Ada dua pendapat, dan yang paling sahih adalah bahwa penjual berhak menuntutnya; sebab pembebasan budak itu meskipun untuk Allah Ta‘ala, namun telah ditetapkan dengan syarat dari penjual, dan bisa jadi penjual memiliki tujuan tertentu dalam mewujudkan pembebasan budak tersebut, meskipun hal itu dinisbatkan kepada hak Allah Ta‘ala.
وإن قلنا العتق حق البائع فإن وفَّى المشتري به فلا كلام وإن امتنع فهل يجبر المشتري عليه ذكر صاحب التقريب فيه قولين أحدهما أنه يُجبر عليه ويؤمر به قهراً قياساً على سائر الحقوق المستحقَّة
Jika kita mengatakan bahwa pembebasan budak adalah hak penjual, maka jika pembeli melaksanakannya, tidak ada masalah. Namun, jika pembeli menolak, apakah pembeli dapat dipaksa untuk melakukannya? Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan ada dua pendapat dalam hal ini. Salah satunya adalah pembeli dipaksa dan diperintahkan secara paksa, berdasarkan qiyās dengan hak-hak lain yang wajib dipenuhi.
و القول الثاني أنه لا يجبر عليه ولكن إذا لم يَفِ المشتري فللبائع خيار فسخ البيع وهو كما لو شرط في البيع رهناً أو كفيلاً فلم يف المشتري بما اشترطه فلا يجبر عليه ولكن للبائع حق فسخ البيع إذا لم يسلّم له المشروط
Pendapat kedua menyatakan bahwa pembeli tidak dipaksa untuk memenuhinya, namun jika pembeli tidak memenuhi syarat tersebut, penjual memiliki hak untuk membatalkan akad jual beli. Hal ini seperti halnya jika dalam jual beli disyaratkan adanya rahn (barang jaminan) atau kafīl (penjamin), lalu pembeli tidak memenuhi apa yang disyaratkan, maka ia tidak dipaksa untuk memenuhinya, tetapi penjual berhak membatalkan jual beli jika syarat yang ditetapkan tidak dipenuhi.
ولم يطرد صاحبُ التقريب القولين في شرط الرهن والكفيل وكان لا يبعد في القياس طردُ القولين ولعل العتق اختص بالوجوب والإجبار عليه لتميزه عما سواه بمزيَّة القوة والنفاذ ولذلك يسري إلى ملك الغير
Penulis kitab at-Taqrīb tidak menerapkan kedua pendapat secara konsisten dalam syarat rahn dan kafīl, padahal dalam qiyās tidaklah jauh kemungkinan untuk menerapkan kedua pendapat tersebut. Mungkin saja ‘itq (pembebasan budak) dikhususkan dengan kewajiban dan paksaan atasnya karena ia memiliki keistimewaan berupa kekuatan dan ketetapan hukum, sehingga ia dapat berlaku hingga pada kepemilikan orang lain.
التفريع
Pengembangan cabang hukum
إن حكمنا بأن المشتري يجبر على الإعتاق فيتَّجه تخريج ذلك على قولين كالقولين في المُولي إذا لم يفىء بعد انقضاء المدة وثَم قولان أحدهما أنه يُحبس حتى يُطلِّق والثاني أن السلطانَ يطلَِّقُ عليه
Jika kita memutuskan bahwa pembeli dipaksa untuk memerdekakan, maka hal itu dapat dianalogikan dengan dua pendapat, seperti dua pendapat dalam kasus seorang mu‘allaq (suami yang bersumpah tidak akan menggauli istrinya) apabila ia tidak kembali setelah habis masa yang ditentukan. Ada dua pendapat: yang pertama, ia dipenjara sampai ia menceraikan; dan yang kedua, penguasa menceraikan atas namanya.
ويجوز أن يُقال لا يتجه في الإجبار على العتق إلا الحبسُ وإنما خُصَّ النكاح بتمليك السُّلطان الطلاقَ لما على المرأةِ من دوام الضِّرار وقد يصابرُ الزوجُ طولَ الحبس نَكَداً
Dan boleh dikatakan bahwa dalam pemaksaan untuk memerdekakan budak tidak ada cara lain selain penahanan, sedangkan pernikahan dikhususkan dengan memberikan wewenang kepada penguasa untuk menjatuhkan talak karena adanya bahaya yang terus-menerus menimpa perempuan, sementara suami mungkin saja tetap bertahan dalam penahanan dalam waktu lama hanya untuk membalas dendam.
ولو عفا البائع عن حق العِتاق فظاهرُ المذهب أنه يسقط وكذلك إذا كان شرط في العقد رهناً أو كفيلاً ثم أسقط عنه ما استحقه من ذلك بالشرط يسقُط حقّه حتى لو أراد الرجوع إلى الطلب لم يمكنه
Jika penjual memaafkan hak ‘itāq, maka menurut pendapat yang tampak dalam mazhab, hak tersebut gugur. Demikian pula jika dalam akad disyaratkan adanya rahn atau kafīl, kemudian ia menggugurkan apa yang menjadi haknya berdasarkan syarat tersebut, maka haknya gugur, sehingga jika ia ingin kembali menuntutnya, ia tidak dapat melakukannya.
وفي كلام شيخي رمزٌ إلى خلاف هذا؛ فإن هذه الحقوقَ لا تستقل بأنفسها فلا وجه لتخصيصها بالإسقاط وهذا كما أن الأجلَ حق المشتري وفُسْحَتُه لا حقَّ للبائع فيه ولو أسقط المشتري حق الأجل لم يسقط
Dalam perkataan guruku terdapat isyarat terhadap pendapat yang berbeda dari ini; karena hak-hak ini tidak berdiri sendiri, maka tidak ada alasan untuk mengkhususkannya dengan pengguguran. Hal ini sebagaimana tenggang waktu (ajal) merupakan hak pembeli dan kelonggarannya, bukan hak penjual di dalamnya. Jika pembeli menggugurkan hak tenggang waktu, maka hak itu tidak gugur.
فإذا جرينا على ظاهِر المذهب وحكمنا بأن حقَّ البائع يَسقطُ بالإسقاطِ والعتقُ حقُّه فلو أعتق المشتري العبدَ عن كفارته بعد إسقاطِ البائع حقَّه فهل يقع العتق عن كفارته فعلى وجهين مشهورين أصحهما أنه يقع عن كفارة المعتق؛ فإنه لم يبق للبائع حقٌ والمشتري معتق على الاختيار
Jika kita mengikuti pendapat zahir mazhab dan memutuskan bahwa hak penjual gugur dengan pengguguran, dan pembebasan budak (‘itq) adalah haknya, maka jika pembeli memerdekakan budak tersebut untuk kafaratnya setelah penjual menggugurkan haknya, apakah pembebasan itu sah untuk kafaratnya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur, dan yang paling sahih adalah bahwa pembebasan itu sah untuk kafarat orang yang memerdekakan; karena hak penjual sudah tidak ada lagi dan pembeli memerdekakan atas pilihannya sendiri.
والوجه الثاني لا يقع عن كفارته؛ من جهة أن العقدَ على شرط العتاقة لا يخلو عن محاباةٍ في الثمن؛ فإن العتقَ في مقابلة تلك الحطيطة والمشتري في حكم معتقٍ عبدَه بمالٍ عن كفارته
Pendapat kedua menyatakan bahwa hal itu tidak sah sebagai pelaksanaan kafarat; karena akad jual beli dengan syarat pembebasan budak tidak lepas dari adanya keringanan harga, sebab pembebasan budak itu sebagai imbalan atas potongan harga tersebut, dan pembeli dalam hal ini dianggap seperti orang yang memerdekakan budaknya sendiri dengan harta untuk kafaratnya.
وهذا في نهاية الغثاثة ولولا اشتهار هذا الوجه في الطرق لما حكيته
Ini adalah puncak dari kelemahan, dan kalau saja pendapat ini tidak terkenal dalam berbagai riwayat, niscaya aku tidak akan meriwayatkannya.
ومما يجب الاعتناءُ به أنا إذا جعلنا العتق لله تعالى فإذا حققه المشتري فلا شك أن الولاءَ له؛ فإن العتق صدرَ في ملكه والأصل أن ولاءَ العتاقة لمن يقع العتق في ملكه
Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika kita menjadikan pembebasan budak itu karena Allah Ta‘ala, maka apabila pembebasan itu direalisasikan oleh pembeli, tidak diragukan lagi bahwa hak wala’ menjadi miliknya; karena pembebasan itu terjadi dalam kepemilikannya, dan pada dasarnya hak wala’ pembebasan budak adalah bagi orang yang pembebasan itu terjadi dalam kepemilikannya.
وإن قلنا العتق للبائع فالولاء للمشتري قطع به صاحب التقريب وشيخي والأئمةُ والسبب فيه أن الولاءَ لو كان للبائع لاقتضى ذلك تقديرَ انقلاب الملك إليه ونفوذَ العتق على ملكه؛ هذا لابد منه ولو كان كذلك لتجردَ الثمنُ عن مقابِلٍ في عقد المقابلة؛ وهذا محالٌ
Dan jika kita mengatakan bahwa pembebasan budak itu milik penjual, maka hak wala’ menjadi milik pembeli. Hal ini dipastikan oleh penulis kitab at-Taqrib, guruku, dan para imam. Sebabnya adalah, jika hak wala’ itu milik penjual, maka hal itu mengharuskan adanya anggapan bahwa kepemilikan kembali kepada penjual dan pembebasan budak terjadi atas kepemilikannya; ini pasti terjadi. Jika demikian, maka harga (yang dibayarkan) menjadi tanpa imbalan dalam akad pertukaran; dan ini adalah hal yang mustahil.
فلو شرط البائع العتقَ وشرط لنفسه الولاء ففي فساد العقد قولان أحدهما أنه يفسد ؛ لأن مقتضاهُ ردَّ الملك في الرقبة إلى بائعها مع دوام استحقاقه في الثمن
Jika penjual mensyaratkan pembebasan budak dan mensyaratkan hak wala’ untuk dirinya, maka dalam hal batalnya akad terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa akad menjadi batal, karena konsekuensinya adalah mengembalikan kepemilikan atas budak kepada penjualnya, sementara ia tetap berhak atas harga (yang telah diterima).
والقولُ الثاني أن البيع لا يفسد؛ لقصة بريرة لما جاءت إلى عائشةَ تستعين بها على أداء شيء من النجوم فقالت لو باعوكِ لصببت لهم ثمنَك صبّاً فأخبرت ساداتِها قالوا لا نفعل ذلك إلا بشرط أن يكون ولاؤك لنا فأخبرت عائشةَ ما قالوه فذكرته للنبي صلى الله عليه وسلم فقال اشتري واشترطي لهم الولاء ثم قام خطيباً وقال ما بال أقوامٍ يشترطون شروطاً ليست في كتاب الله الحديث ووجه الدليل أن النبي عليه السلام إذ أمرها بأن تشتري وتشترط فقد كان الشراء على هذه الصفةِ مأذوناً فيه من جهة الشارع والمأذون فيه صحيح
Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tidak batal; berdasarkan kisah Barirah ketika ia datang kepada Aisyah meminta bantuan untuk melunasi sebagian cicilannya, maka Aisyah berkata, “Jika mereka menjualmu, aku akan membayarkan harga dirimu secara tunai kepada mereka.” Barirah pun memberitahukan hal itu kepada para tuannya, lalu mereka berkata, “Kami tidak akan melakukan itu kecuali dengan syarat bahwa wala’ (hak perwalian) tetap menjadi milik kami.” Barirah kemudian memberitahukan kepada Aisyah apa yang mereka katakan, lalu Aisyah menyampaikan hal itu kepada Nabi ﷺ. Beliau pun bersabda, “Belilah dan syaratkan kepada mereka bahwa wala’ tetap milik mereka.” Kemudian beliau berdiri berkhutbah dan bersabda, “Mengapa ada sekelompok orang yang menetapkan syarat-syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah…” dan seterusnya. Dalil dari kisah ini adalah bahwa ketika Nabi ﷺ memerintahkan Aisyah untuk membeli dan mensyaratkan (wala’), maka jual beli dengan kondisi seperti itu telah diizinkan oleh syariat, dan sesuatu yang diizinkan oleh syariat adalah sah.
فإن قيل ما معنى قوله في خطبته وما وجه إنكارِه قلنا الممكن فيه أنه نهى عن الإقدام على أمثال هذه الشرائط واستحث على اتباع الكتاب والسنة ولِمَا جرى حُكْمٌ بصحته فإنه عليه السلام مبرأٌ عن التناقض والأمرِ سرّاً في معرض التقرير مع النهي عنه جهراً
Jika ada yang bertanya, apa makna ucapannya dalam khutbahnya dan apa alasan penolakannya, kami katakan: yang mungkin dalam hal ini adalah bahwa beliau melarang untuk melakukan hal-hal seperti syarat-syarat tersebut dan menganjurkan untuk mengikuti kitab dan sunnah. Adapun jika telah terjadi dan telah diputuskan keabsahannya, maka beliau—shalawat dan salam atasnya—terbebas dari pertentangan, karena beliau memerintahkan secara diam-diam dalam konteks penetapan hukum, sementara melarangnya secara terang-terangan.
فإن قلنا البيع فاسدٌ فلا كلام وإن حكمنا بصحة البيع ففي الولاء المشروط نظر ذهب بعضُ الأصحابِ إلى أن الوجهَ فيه إلغاءُ الشرط وتصحيحُ العقد وهذا فاسد مع أمر النبي عليه السلام بالاشتراط إذ قال اشتري واشترطي لهم الولاء ومتعلق القول بصحة العقد قصةُ بريرة فلا ينبغي أن يُعتبَرَ أصلُها ويعطّلَ تفصيلُ القول فيها؛ فإذاً الوجهُ تصحيحُ الشرطِ إذا صححنا العقدَ؛ تعلّقاً بقصَّة بريرة ويلزمُ من هذا أن يكون الولاءُ للبائع على حسب الشرط
Jika kita mengatakan bahwa jual beli itu fasid (rusak), maka tidak ada pembahasan lagi. Namun jika kita memutuskan bahwa jual beli itu sah, maka mengenai syarat wala’ yang ditetapkan masih perlu diteliti. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang tepat adalah membatalkan syarat tersebut dan mensahkan akadnya, namun pendapat ini tidak benar karena Nabi saw. sendiri memerintahkan untuk menetapkan syarat tersebut, sebagaimana sabdanya: “Belilah dan syaratkanlah wala’ untuk mereka.” Dasar pendapat yang menyatakan sahnya akad adalah kisah Barirah, maka tidak sepatutnya hanya mengambil pokok kisahnya saja dan mengabaikan rincian penjelasan di dalamnya. Oleh karena itu, pendapat yang tepat adalah mensahkan syarat tersebut jika kita mensahkan akadnya, berdasarkan kisah Barirah. Konsekuensinya, wala’ menjadi milik penjual sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan.
فإن قيل يلزم منه انقلابُ الملك إليه
Jika dikatakan, hal itu mengharuskan beralihnya kepemilikan kepadanya.
قلنا لا وجه في هذا المنتهى إلا إثباتُ الولاء للبائع من غير تقدير نقلِ الملك وقد ثبت الولاءُ بأسبابٍ من غير تقدم ملك فيمن عليه الولاء على ما سيأتي في موضعه إن شاء الله تعالى فمن أمثلة ذلك أن السيد إذا باع عبده من نفسه بمالٍ فإذا اشترى نفسَه عَتَق وسبيل العتق أنه ملك نفسَه فاستحال أن يكون مملوكاً لنفسه ومالكاً ثم إذا حصل العتق فالولاء للسيّد
Kami katakan, tidak ada jalan dalam persoalan ini kecuali menetapkan hak wala’ bagi penjual tanpa menganggap adanya perpindahan kepemilikan. Dan sungguh, hak wala’ telah tetap karena beberapa sebab tanpa adanya kepemilikan sebelumnya pada pihak yang terkena hak wala’, sebagaimana akan dijelaskan pada tempatnya, insya Allah Ta’ala. Di antara contohnya adalah apabila seorang tuan menjual budaknya kepada dirinya sendiri dengan sejumlah harta, maka ketika budak itu membeli dirinya sendiri, ia menjadi merdeka. Cara kemerdekaannya adalah ia memiliki dirinya sendiri, sehingga mustahil ia menjadi milik dirinya sendiri sekaligus pemiliknya. Kemudian, apabila kemerdekaan telah terjadi, maka hak wala’ tetap bagi tuannya.
وفي مأخذ الولاءِ على الجملة تعقيداتٌ لا يستقل هذا الفصل ببيانها
Dalam sumber hukum al-walā’ secara keseluruhan terdapat kerumitan-kerumitan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas dalam bab ini.
فإن قلنا إن الولاء للمشتري فلا كلامَ وإن قلنا إنه للبائع فلا نقدّرُ انقلابَ الملك إليه قطعاً؛ فإنّ الحكم بتقرير البيع على حقيقة المعاوضة يناقض الحكمَ بانقلاب الملكِ إلى البائع وسببُ انفساخ البيع بتلفِ المبيع قبلَ القبض أن الملك ينقلبُ إلى البائع قبيل التلف فامتنع مع هذا إمكان بقاء العقد
Jika kita mengatakan bahwa hak wala’ menjadi milik pembeli, maka tidak ada masalah. Namun jika kita mengatakan bahwa hak wala’ menjadi milik penjual, maka kita sama sekali tidak memperkirakan kembalinya kepemilikan kepada penjual secara pasti; sebab penetapan jual beli atas dasar hakikat mu‘āwadah (pertukaran) bertentangan dengan penetapan kembalinya kepemilikan kepada penjual. Adapun sebab batalnya jual beli karena barang yang dijual rusak sebelum diterima adalah karena kepemilikan beralih kepada penjual sesaat sebelum kerusakan terjadi, sehingga dalam kondisi ini tidak mungkin akad tetap berlaku.
فرع
Cabang
إذا صححنا العقدَ عند شرط العتق على الأصح فلو تلف هذا العبدُ الذي اشتراه في يدِ المشتري بهذا الشرط قبل الوفاء فقد تعذر المشروط الذي صار مستحقاً
Jika kita mengesahkan akad dengan syarat pembebasan budak menurut pendapat yang lebih kuat, maka jika budak yang dibeli tersebut rusak di tangan pembeli dengan syarat ini sebelum pelaksanaan, maka syarat yang telah menjadi hak itu menjadi mustahil untuk dipenuhi.
وفي المسألةِ أوجه ذكرها العراقيون أحدها أنه لا يجبُ على المشتري شيء بسبب فوات العتق؛ فإنه تعذَر الوفاء بالمشروط وليس ذلك المتعذِّر مما يتقوّمُ في نفسه ولو قدَّرنا للمشروط الفائت بدلاً لكان بدلُه جميعَ القيمةِ ولو ألزمنا المشتري جميعَ القيمة وألزمناه الثمن المسمى؛ لكان ذلك خارجاً بالكلية عن ضبطِ القياسِ؛ ولتضمن الجمعَ بين البدل وبين المبدل في حق البائع
Dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Salah satunya adalah bahwa tidak ada kewajiban apa pun atas pembeli akibat batalnya pembebasan budak; sebab pelaksanaan syarat tersebut menjadi mustahil, dan hal yang mustahil itu sendiri bukanlah sesuatu yang memiliki nilai pada dirinya. Seandainya kita menganggap ada pengganti untuk syarat yang batal itu, maka penggantinya adalah seluruh nilai budak tersebut. Jika kita mewajibkan pembeli membayar seluruh nilai budak dan juga mewajibkannya membayar harga yang telah disepakati, maka hal itu sama sekali keluar dari ketentuan qiyās; karena hal itu berarti menggabungkan antara pengganti dan yang digantikan dalam hak penjual.
والوجه الثاني أنا نلزم المشتري تفاوتاً بين القيمتين منسوباً إلى الثمن المسمى
Adapun cara yang kedua adalah kami mewajibkan kepada pembeli untuk menanggung selisih antara dua nilai yang dihubungkan dengan harga yang telah disepakati.
وبيان ذلك أن نقولَ هذا العبد لو بيع مطلقاً من غير شرط فما ثمن المثل فيقال مائة وخمسون ديناراً فنقول وكم قيمة مثله مع هذا الشرط فيقال مائة فنعلم أن التفاوتَ بين الثمنين في الإطلاق والشرط بنسبة الثلث فنعود بعد ضبط هذه النسبة ونقول الثمن المسمى تسعون وقد بان أن ما فات بالنسبةِ إلى الجملة ثلث الجملة فكأنه أخذ ثمنَ ثلثي العبد فإذا كان ثمنُ ثُلثي العبدِ تسعين فثمن الجملة مائةٌ وخمسة وثلاثون فيغرم المشتري للبائع على مثل هذه النسبةِ خمسةً وأربعين
Penjelasannya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang budak dijual secara mutlak tanpa syarat, berapakah harga pasarnya? Dijawab: seratus lima puluh dinar. Lalu ditanyakan, berapa nilai budak yang sama jika disertai syarat tertentu? Dijawab: seratus dinar. Maka kita mengetahui bahwa selisih antara kedua harga tersebut, yaitu antara penjualan mutlak dan penjualan bersyarat, adalah sepertiga. Setelah mengetahui persentase ini, kita kembali dan berkata: harga yang disebutkan adalah sembilan puluh, dan telah jelas bahwa yang hilang dibandingkan dengan jumlah keseluruhan adalah sepertiga dari jumlah tersebut, sehingga seolah-olah ia hanya menerima harga dua pertiga budak. Jika harga dua pertiga budak adalah sembilan puluh, maka harga keseluruhannya adalah seratus tiga puluh lima. Maka pembeli harus membayar kepada penjual sesuai persentase ini, yaitu sebanyak empat puluh lima.
وذكرَ الشيخ أبو علي هذا الوجهَ وألزمَ المشتري قيمةَ الثُّلث من غير نظرٍ إلى مبلغ الثمن؛ فإنَّا قدَّرنا القيمةَ في الإطلاق مائة وخمسين فقيمةُ الثلث خمسون إذاً فلا حاجة إلى النظر إلى مقدار الثمن المسمى؛ بل نُلزم المشتري قيمةَ ما فات في يده والفائت الثلثُ تقديراً وهو خمسون
Syekh Abu Ali menyebutkan pendapat ini dan mewajibkan pembeli untuk membayar nilai sepertiga tanpa melihat jumlah harga; karena kita telah memperkirakan nilai secara mutlak sebesar seratus lima puluh, maka nilai sepertiganya adalah lima puluh. Oleh karena itu, tidak perlu memperhatikan besarnya harga yang disebutkan; melainkan kita mewajibkan pembeli untuk membayar nilai barang yang hilang di tangannya, dan yang hilang itu secara taksiran adalah sepertiga, yaitu lima puluh.
وحقيقةُ الجوابين يرجع إلى وجهين آخرين في بيان النسبة أحدهما أنا نلزم المشتري القيمةَ المحققةَ في مقابلة الثلث ولا ننظر إلى المسمى ولا نبالي بأن تكون هذه القيمةُ مثلَ المسمى أو أكثر منه وفي الوجه الثاني نقول لما باع العبدَ بتسعين وكان قيمتُه مع الشرط مائة فقد نزّل العقد على المسامحة والمحاباة بالثمن فلا نُلزم المشتري إلا على نسبة المحاباة
Hakikat dari kedua jawaban tersebut kembali kepada dua sisi lain dalam menjelaskan hubungan (nisbah). Pertama, kami mewajibkan pembeli untuk membayar nilai yang sebenarnya atas sepertiga bagian, tanpa memperhatikan harga yang disebutkan (dalam akad), dan tidak masalah apakah nilai tersebut sama dengan harga yang disebutkan atau lebih tinggi darinya. Pada sisi kedua, kami katakan bahwa ketika budak dijual seharga sembilan puluh, padahal nilainya dengan syarat adalah seratus, maka akad tersebut didasarkan pada toleransi dan kemurahan hati dalam harga, sehingga kami tidak mewajibkan pembeli kecuali sesuai dengan kadar kemurahan tersebut.
هذا بيان الجوابين في ذلك
Ini adalah penjelasan dari dua jawaban dalam hal itu.
وذكر أصحابنا وجهاً ثالثاً في أصل المسألة وهو أنا نحكم بانفساخ العقد لتعذّر الإمضاء؛ إذْ لا وجه لإيجاب شيء من غير انتساب المشتري إلى إتلاف شيء أو ضمان شيء بحكم اليد؛ فإنّ يده ما ثبتت إلا على ملكه؛ ولكن جرى العقدُ في وضعه مائلاً عن القياسِ فقدّر فيه وفاء بالشرط عند الوجود ثم تعذر الوفاءُ بالموتِ فلا حاجة لإيجاب شيء على المشتري لم يلتزِمه ولا وجه لتخليصه مجاناً؛ لأن البائع لم يرض بالقدرِ الذي سمَّاه من الثمن إلا لما شرطه من الحق فعلى المشتري قيمةُ العبدِ وَيسْترد الثمنَ المسمى
Para ulama mazhab kami menyebutkan pendapat ketiga dalam pokok permasalahan ini, yaitu bahwa kami memutuskan batalnya akad karena tidak mungkin dilaksanakan; sebab tidak ada alasan untuk mewajibkan sesuatu tanpa adanya keterkaitan pembeli dengan perusakan sesuatu atau kewajiban menanggung sesuatu berdasarkan hukum kepemilikan; karena kepemilikan pembeli hanya sah atas miliknya sendiri. Namun, akad ini pada dasarnya memang menyimpang dari qiyās, sehingga di dalamnya dipersyaratkan pemenuhan syarat jika memungkinkan, lalu ketika pemenuhan itu terhalang oleh kematian, maka tidak perlu mewajibkan sesuatu atas pembeli yang tidak ia komitmenkan, dan juga tidak ada alasan untuk membebaskannya secara cuma-cuma; karena penjual tidak rela dengan jumlah harga yang disebutkan kecuali karena hak yang disyaratkan. Maka atas pembeli wajib membayar nilai budak tersebut dan ia berhak mengambil kembali harga yang telah disepakati.
هذا موجب الانفساخ
Ini adalah sebab terjadinya pembatalan.
ويُفتَرض وراء بيان الوجوه نظر في شيء وهو أنا ذكرنا وجهين في أن العتقَ حقُّ الله تعالى أو حق البائع فإذا فات الوفاءُ فالأوجه الثلاثة في الظاهر تتفرعُ على أن العتقَ حقُّ البائع أم تتفرع على الوجهين هذا فيه تدبر للناظر ويجوز أن يقال إنما يغرَمُ البائع إذا قدرنا الحقَّ له ويظهر في القياس أن يطرد هذا على الوجهين؛ فإن البائع يقول كأني لم أبع ثلث العبد فإذا فات مشروطي فيه فاغرَم لي في مقابلته ما يقتضيه التقسيط
Setelah penjelasan tentang berbagai sisi, terdapat satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa kami telah menyebutkan dua pendapat mengenai apakah pembebasan budak (’itq) merupakan hak Allah Ta‘ala atau hak penjual. Jika pelunasan tidak terpenuhi, maka tiga pendapat yang tampak secara lahiriah itu bercabang pada apakah pembebasan budak merupakan hak penjual, ataukah bercabang pada dua pendapat tersebut; hal ini memerlukan perenungan bagi yang menelaahnya. Boleh jadi dikatakan bahwa penjual hanya menanggung kerugian jika kita menganggap hak itu miliknya, dan tampak dalam qiyās bahwa hal ini berlaku pada kedua pendapat; sebab penjual dapat berkata, “Seakan-akan aku tidak menjual sepertiga budak itu, maka jika syaratku padanya tidak terpenuhi, bayarlah kepadaku sebagai gantinya sesuai dengan perhitungan proporsional.”
وسبب الإشكال في هذه التفريعات خروج الأصلِ عن قاعدة القياس
Penyebab munculnya permasalahan dalam rincian-rincian ini adalah karena asal permasalahan tersebut keluar dari kaidah qiyās.
فصل
Bab
إذا فسدَ البيع بفساد الشرط في أحد العوضين فالبيع الفاسد لا يفيد الملكَ عندنا سواء اتصل به القبضُ أو لم يتصل خلافاً لأبي حنيفة ؛ فإنه قال إذا اتصل البيع الفاسد بالقبض تضمن الملكَ للمشتري القابض على وجه الفساد
Jika jual beli menjadi rusak karena kerusakan syarat pada salah satu dari dua barang tukar, maka jual beli fasid menurut kami tidak memberikan kepemilikan, baik disertai penyerahan barang maupun tidak, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah; beliau berpendapat bahwa jika jual beli fasid disertai dengan penyerahan barang, maka kepemilikan menjadi tanggungan bagi pembeli yang menerima barang secara tidak sah.
ثم ما قبضه المشتري مضمونٌ عليه ولو تلف في يده لزمته قيمتُه للبائع؛ فإنّا إذا كنا نُضمِّن المستامَ لقبضه على حكم المعاوضةِ المنتظرة فالقبض على ظن المعاوضَة الواقعة أولى باقتضاءِ الضمان
Kemudian, barang yang telah diterima oleh pembeli menjadi tanggungannya; jika barang itu rusak di tangannya, maka ia wajib membayar nilainya kepada penjual. Sebab, jika kita membebankan tanggungan kepada calon pembeli karena ia menerima barang dalam rangka kemungkinan terjadinya akad, maka menerima barang dengan dugaan bahwa akad benar-benar telah terjadi lebih utama untuk mewajibkan adanya tanggungan.
ثم إذا ضمناه القيمةَ فالاعتبارُ بأيّةِ قيمة ذكر الأئمة في طرقهم ثلاثة أقوالٍ قولان منها ذكرهما العراقيون فنذكرهما على ما ذكروا أحدهما أن الضمانَ على القابض كالضمان على الغاصب فيغرَم أقصى القيم من يوم القبض إلى يوم الفواتِ كما سنقرر ذلكَ في أحكام الغصوب
Kemudian, apabila kita mewajibkan ganti rugi berupa nilai, maka yang menjadi pertimbangan adalah nilai yang mana? Para imam dalam karya-karya mereka menyebutkan tiga pendapat, dua di antaranya disebutkan oleh para ulama Irak, dan kami akan menyebutkannya sebagaimana mereka sebutkan. Pendapat pertama, bahwa kewajiban ganti rugi atas penerima sama seperti kewajiban ganti rugi atas perampas, yaitu ia wajib mengganti nilai tertinggi dari hari penerimaan hingga hari kehilangan, sebagaimana akan kami jelaskan dalam hukum-hukum tentang barang rampasan.
والقول الثاني أنا نعتبر قيمةَ يومِ التلف؛ فإن الأصل فيما يجب رَدّه ردُّ العين والتحول إلى القيمةِ سببه فواتُ ردَّ العين وهذا إنما يتحقق بالتلف
Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dijadikan acuan adalah nilai pada hari barang itu rusak; karena pada dasarnya yang wajib dikembalikan adalah barang itu sendiri, dan beralih kepada nilai disebabkan karena tidak mungkin lagi mengembalikan barang tersebut, dan hal ini hanya terjadi jika barang itu telah rusak.
وذكر المراوزَةُ القولين فوافقوا في ضمان الغصب وقالوا في القول الثاني الاعتبارُ بقيمته يوم القبض هكذا ذكره الشيخ والصيدلاني وغيرُهما
Para ulama Marw menyebutkan dua pendapat; mereka sepakat dalam hal tanggungan atas barang yang digasb, dan pada pendapat kedua mereka mengatakan bahwa yang menjadi acuan adalah nilainya pada hari barang itu diterima. Demikian disebutkan oleh asy-Syaikh, asy-Syaidilani, dan yang lainnya.
فانتظم من الطرق ثلاثةُ أقوال أحدها قيمةُ الغصب والثاني قيمةُ يوم التلف
Maka terkumpullah dari berbagai pendapat tiga pendapat: yang pertama adalah nilai barang yang dighasab, yang kedua adalah nilai pada hari kerusakan.
والثالث قيمةُ يوم القبض والقولان أو الأقوال نجريها في كل ضامنٍ غيرِ معتدٍ ولا متصرفٍ في غصب فإذا ضَمَّنا المستامَ قيمةَ ما تلف في يدهِ فالقول في القيمةِ المعتبرةِ كما ذكرناه وهذا يطرد في اليد المضَمَّنة التي ليست غصباً
Ketiga, nilai pada hari penerimaan, dan dua pendapat atau beberapa pendapat tersebut berlaku pada setiap penjamin selain pelaku pelanggaran dan selain yang melakukan tindakan dalam kasus ghashab. Jika kita mewajibkan kepada orang yang meminta barang untuk menjamin nilai barang yang rusak di tangannya, maka pendapat mengenai nilai yang dianggap sah adalah seperti yang telah kami sebutkan. Hal ini berlaku secara konsisten pada kepemilikan yang dijamin yang bukan merupakan ghashab.
وفي المستعار فضلُ نظرٍ؛ فإن من استعارَ ثوباً وقبضه فلو تلف في يَده لزمه ضمانُه فلو اعتبرنا أقصى القيم لضمّناه الأجزاءَ التي أتلفها بالإبلاء مع العلم بأنه أتلفها بإذن مالك الثوب وكذلك لو اعتبرنا قيمةَ يوم القبض ففيه هذا التعذّر فما الوجه فيه هذا يُبتنى على أن المستعيرَ هل يضمن الأجزاءَ التي أبلاها فإن قضينا بأنه يضمنها وهو أضعف الطرق فيقع في عماية أخرى؛ فإن ما يفوت لا تعتبر قيمته بعد فواته وفيه تتسلسل فروعٌ لابن الحداد في مسائل الغصوب فلا معنى للخوض فيها الآن
Pada barang yang dipinjam (al-musta‘ār) terdapat keistimewaan dalam hal pertimbangan; yaitu, jika seseorang meminjam sebuah pakaian dan telah menerimanya, lalu pakaian itu rusak di tangannya, maka ia wajib menanggung ganti rugi. Jika kita mempertimbangkan nilai tertinggi, maka kita akan membebankan kepadanya bagian-bagian yang telah ia rusakkan karena pemakaian, padahal kita mengetahui bahwa ia merusaknya dengan izin pemilik pakaian. Demikian pula, jika kita mempertimbangkan nilai pada hari penerimaan, maka terdapat kesulitan yang sama. Lalu, bagaimana solusinya? Hal ini bergantung pada apakah peminjam wajib menanggung bagian-bagian yang telah ia rusakkan karena pemakaian. Jika kita memutuskan bahwa ia wajib menanggungnya—dan ini adalah pendapat yang lebih lemah—maka akan timbul kebingungan lain; sebab, sesuatu yang telah hilang tidak lagi dinilai setelah kehilangannya. Dalam hal ini, muncul cabang-cabang masalah menurut Ibn al-Haddād dalam persoalan-persoalan tentang barang yang digasak (al-ghusūb), sehingga tidak ada gunanya membahasnya lebih jauh saat ini.
والوجه التفريعُ على الأصح وهو أن الفائت بالبلى غيرُ مضمونٍ
Pendapat yang menjadi cabang dari pendapat yang paling sahih adalah bahwa barang yang hilang karena rusak dimakan waktu tidak menjadi tanggungan.
فالوجه أن نقول إذا انسحق الثوبُ بعضَ الانسحاق ثم تلف في يده ففي قولٍ نقول تجب قيمة ثوبٍ منسحقٍ بأقصى ما يقدَّر من يومِ القبضِ إلى يوم التلفِ
Maka pendapat yang benar adalah kita katakan: jika kain itu sebagian hancur lalu rusak di tangannya, maka dalam satu pendapat kita katakan wajib membayar nilai kain yang sudah hancur dengan taksiran tertinggi sejak hari penerimaan hingga hari kerusakan.
وفي قولٍ تجب قيمتُه يومَ التلفِ وهذا منطبق على الغرض
Menurut salah satu pendapat, wajib membayar nilai barang tersebut pada hari rusaknya, dan ini sesuai dengan maksud yang dimaksudkan.
وفي قول نقول تجب قيمة ثوبٍ منسحق يوم القبض
Dalam satu pendapat, kami katakan: wajib membayar nilai sebuah pakaian yang sudah usang pada hari penerimaan.
فهذا منتهى الغرض في القيمة المعتبرة
Inilah batas akhir tujuan dalam nilai yang dianggap.
ثم ذكر الشافعي جملاً تتعلَّق بقضايا الضمان في تصرفات صاحب اليدِ المضمنة وتلك الأحكام تأتي مفرقةً في محالّها ولكنا نتَّبِع ترتيب المختصر فنذكر منها ما يليق بشرح السواد
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan sejumlah hal yang berkaitan dengan persoalan jaminan (dhamān) dalam tindakan orang yang memegang barang yang wajib dijamin, dan hukum-hukum tersebut akan dibahas secara terpisah pada tempatnya masing-masing. Namun, kami mengikuti urutan dalam kitab al-Mukhtashar, sehingga kami akan menyebutkan di sini apa yang sesuai untuk penjelasan bagian ini.
فإذا قبض المشتري الجاريةَ المشتراةَ على الفسادِ ووطئها فإن كان عالماً بالتحريم وفساد العقد ففي الحدَّ نظر؛ من جهة خلافِ أبي حنيفة في مِلك المشترى فيجوز أن يقال لا حدَّ؛ لهذه الشبهة ويجوز أن يقال يلزم الحدَّ لأن أبا حنيفة لا يبيح الوطء فخلافه في الملك كخلاف العلماء في وجوب الحدّ وانتفائه وليس هذا كما لو وطىء في نكاح المتعة والنكاح بلا شهود وولي؛ فإن المخالف في هذه المسائل يبيح الوطء
Jika pembeli telah menerima budak perempuan yang dibelinya melalui akad yang rusak, lalu ia menggaulinya, maka jika ia mengetahui keharaman dan kerusakan akad tersebut, terdapat perbedaan pendapat mengenai penerapan hudud; hal ini disebabkan adanya perbedaan pendapat Abu Hanifah tentang kepemilikan pembeli, sehingga bisa dikatakan tidak dikenakan hudud karena adanya syubhat ini, dan bisa juga dikatakan tetap dikenakan hudud karena Abu Hanifah pun tidak membolehkan hubungan tersebut, sehingga perbedaan pendapatnya dalam hal kepemilikan sama seperti perbedaan pendapat para ulama dalam kewajiban hudud dan gugurnya. Ini berbeda dengan kasus menggauli perempuan dalam nikah mut‘ah atau nikah tanpa saksi dan wali, karena pihak yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah tersebut membolehkan hubungan tersebut.
وتحقيق منازل الشبهات في كتاب الحدود
Menjelaskan tingkatan-tingkatan syubhat dalam kitab hudud.
وإن كان المشتري جاهلاً فلا حد ويلزمُ المهرُ إن كانت الأمةُ جاهلة وإن كانت عالمةً فينعكس هذا على الأصل وهو أنَّ علم المشترى هل يُلحقُه بالزناة أم لا فإن لم يلحقه بالزناة فلا أثر لعلمِها وإن ألحقه علمه بالزناة فإذا كانت عالمة فهي بمثابة جاريةٍ مغصوبةٍ تطاوعُ الغاصبَ من غير استكراه ولو كان كذلك ففي ثبوت المهرِ وجهان سيأتيان في كتاب الغصب إن شاء الله تعالى
Jika pembeli tidak mengetahui (status budak perempuan tersebut), maka tidak ada had (hukuman) dan wajib membayar mahar jika budak perempuan itu juga tidak mengetahui. Namun jika ia mengetahui, maka hal ini kembali kepada asal permasalahan, yaitu apakah pengetahuan pembeli menyamakan kedudukannya dengan para pezina atau tidak. Jika tidak menyamakan dengan para pezina, maka pengetahuan budak perempuan itu tidak berpengaruh. Namun jika pengetahuan pembeli menyamakan kedudukannya dengan para pezina, maka jika budak perempuan itu mengetahui, ia diposisikan seperti budak perempuan yang digasak (diambil secara paksa) lalu mau diajak berzina oleh penggasak tanpa adanya paksaan. Jika demikian, maka dalam penetapan mahar terdapat dua pendapat yang akan dijelaskan dalam Kitab Ghashb, insya Allah Ta‘ala.
فهذا قولنا في المهرِ والحدّ فليقع الفرضُ في اطراد الجهل ثم حكم المهر على ما ذكرناه
Inilah pendapat kami tentang mahar dan hudud, maka hendaklah penetapan hukum dilakukan dalam kondisi ketidaktahuan yang merata, kemudian hukum mengenai mahar sebagaimana yang telah kami sebutkan.
وإن علقت الجارية بمولودٍ فالولد حرّ لا ولاءَ له ؛ فإنه لم يمَسه رِق ولم ينله عتقٌ وعليه قيمةُ المولود يوم يسقط حيّاً وسبب ذلك أن الرق اندفع عن المولود بظنه
Jika seorang budak perempuan hamil lalu melahirkan anak, maka anak tersebut merdeka dan tidak memiliki wala’; karena ia tidak pernah tersentuh oleh status budak dan tidak pula mengalami pembebasan (‘itq). Atas anak itu dikenakan pembayaran senilai harga anak pada hari ia lahir dalam keadaan hidup. Sebabnya adalah karena status budak telah terhindar dari anak tersebut berdasarkan dugaan.
ولو انفصل الولد ميتاً فلا ضمان بلا خلاف وهذا جارٍ في الضمان الذي يتعلق بمحالّ الغرور
Jika anak lahir dalam keadaan meninggal, maka tidak ada kewajiban ganti rugi tanpa ada perbedaan pendapat, dan hal ini berlaku pula pada kewajiban ganti rugi yang berkaitan dengan tempat-tempat terjadinya penipuan.
ولو غصب الرجل جاريةً فعلقت بمولود من سفاحٍ وانفصل المولودُ ميتاً فالمذهب أنّه لا ضمان وفيه شيء بعيد سنذكره في موضعه إن شاء الله
Jika seorang laki-laki merampas seorang budak perempuan lalu ia hamil dan melahirkan anak dari hubungan zina, kemudian anak tersebut lahir dalam keadaan meninggal, maka menurut mazhab tidak ada kewajiban ganti rugi. Namun, ada pendapat lain yang cukup jauh dari pendapat ini, yang akan kami sebutkan pada tempatnya, insya Allah.
وكذلك ولد الصيد في حق المحرم
Demikian pula, anak hasil buruan dalam hukum bagi orang yang sedang ihram.
والقياس المتبع في الضمانِ في كل جنين ينفصل ميتاً هذا إلاّ أن ينفصل بجنايةِ جان فعلى الجاني الضمانُ ثم ثبوت الضمان في حقّه يثبت الضمانَ في حق صاحب اليد وفي حق المغرور
Qiyās yang digunakan dalam penetapan tanggungan (dhamān) pada setiap janin yang lahir dalam keadaan mati adalah demikian, kecuali jika janin tersebut lahir mati akibat perbuatan pelaku kejahatan, maka pelaku kejahatanlah yang menanggung dhamān. Kemudian, jika dhamān telah ditetapkan atas pelaku, maka dhamān juga berlaku atas orang yang memegang (janin tersebut) dan atas orang yang tertipu (maghrūr).
ولا وفاء ببيان هذه الأُصول؛ فإنها قواعدُ تأتي في محالّها إن شاء الله تعالى
Tidak perlu membahas secara rinci tentang ushul-ushul ini, karena prinsip-prinsip tersebut akan dijelaskan pada tempatnya masing-masing, insya Allah Ta‘ala.
ثم مما يتصل بهذا الفصل أنّ المغرورَ إذا غرِم قيمةَ الولد يرجع على من غَرّه وفي الرجوع بالمهرِ على الغارِ قولان والمشتري على حكم الفساد يُنظر فيه فإن كان البائع عالماً بالفسادِ فهو في صورة الغارّ فلا معنى لإثبات قيمةِ الولد له؛ فإنه لو غرمه لرجع على من غرَّه والمغروم له في هذا التقدير هو الغارُّ بعينه
Selanjutnya, yang berkaitan dengan bab ini adalah bahwa orang yang tertipu (maghrūr) jika ia membayar ganti rugi atas nilai anak, maka ia dapat menuntut kembali kepada orang yang menipunya (ghārr). Dalam hal pengembalian mahar kepada penipu, terdapat dua pendapat. Adapun pembeli dalam kasus akad yang rusak, maka perlu dilihat: jika penjual mengetahui adanya cacat (fasād), maka ia berada dalam posisi sebagai penipu (ghārr), sehingga tidak ada alasan untuk menetapkan nilai anak baginya; sebab jika ia membayar ganti rugi, ia akan menuntut kembali kepada orang yang menipunya, dan orang yang menerima ganti rugi dalam hal ini adalah penipu itu sendiri.
وإن كان البائع لا يدري فسادَ العقد ففي المسألة احتمالٌ ظاهر؛ من جهة أنه لم يعتمد تغريراً حتى ينتهض ذلك سبباً لانقلاب الضمان عليه
Jika penjual tidak mengetahui rusaknya akad, maka dalam masalah ini terdapat kemungkinan yang jelas; karena ia tidak sengaja melakukan penipuan sehingga hal itu dapat dijadikan alasan untuk beralihnya tanggungan (jaminan) kepadanya.
وقد رمز المحققون إلى هذا التردد واستقصاؤه في باب الغرور إن شاء الله تعالى
Para peneliti telah menyinggung keraguan ini dan pembahasannya secara mendalam dalam bab al-ghurūr, insya Allah Ta‘ala.
ومن أهم ما يجب الاعتناءُ به في هذه الفصول أن من ثبتت له يد مضمَّنة من غير فرض تصرّف في مغصوبٍ فلو حدثت في يده زوائدُ منفصلةٌ وتلفت فقد خرَّج الأئمةُ ضمانها على القاعدةِ التي صدَّرنا الفصل بها وهي أن العين تضمن ضمان الغصوب أم لا فإن قضينا بأنها تضمن ضمان الغصوب فالزوائد مضمونة وإن حكمنا بأنها لا تضمن ضمان الغصوب فالضمان لا يتعداها إلى الزوائد
Salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan dalam pembahasan ini adalah bahwa apabila seseorang memegang suatu barang dengan tanggungan (jaminan) tanpa adanya tindakan terhadap barang yang digasak (maghshub), kemudian muncul tambahan-tambahan yang terpisah pada barang tersebut di tangannya dan tambahan itu rusak, para imam (ulama) telah mengaitkan jaminan atas tambahan tersebut dengan kaidah yang telah kami sebutkan di awal bab, yaitu apakah barang tersebut dijamin seperti barang yang digasak atau tidak. Jika kita memutuskan bahwa barang tersebut dijamin seperti barang yang digasak, maka tambahan-tambahan itu juga dijamin. Namun jika kita berpendapat bahwa barang tersebut tidak dijamin seperti barang yang digasak, maka jaminan tidak mencakup tambahan-tambahan tersebut.
وظاهر نص الشافعي يُشعرُ بإثبات ضمان الغصوب في الأيدي المضمَّنة وذلك أنه قال لو غصب جارية وتلفت في يده ضمن أكثر ما كانت قيمته من يوم الغصب إلى يوم التلف ثم قال وكذلك البيع الفاسدُ فكان هذا العطف ظاهراً فيما ذكرناه
Teks zahir dari Imam Syafi‘i menunjukkan penetapan kewajiban ganti rugi atas barang yang digasb (diambil secara zalim) pada tangan-tangan yang wajib menanggung, yaitu ketika beliau berkata: Jika seseorang menggasb seorang budak perempuan lalu budak itu rusak di tangannya, maka ia wajib mengganti nilai tertinggi dari budak tersebut sejak hari digasb hingga hari kerusakan. Kemudian beliau berkata: Demikian pula pada jual beli fasid (jual beli yang rusak/batal). Maka penyandaran ini jelas menunjukkan apa yang telah kami sebutkan.
فإن قيل إذا لم توجبوا ضمانَ الأولاد فلم أوجبتم قيمة الولد إذا انفصل حياً على الحرية قلنا سببه أن المغرور في تقدير الشرع منتسبٌ إلى تفويت الرق وهذا يلتحق بباب ضمان القيم على المتلِفين ولكنا لا نضمنه إذا انفصل ميتاً؛ لأنه لم يخرج وله تقدير قيمة وليس مفوتَ روحه بخلاف الجاني الذي تصير جنايتُه سبباً لتفويت الروح أو منعها في الانسلاك
Jika dikatakan, “Jika kalian tidak mewajibkan tanggungan atas anak-anak, lalu mengapa kalian mewajibkan pembayaran nilai anak jika ia lahir dalam keadaan hidup sebagai orang merdeka?” Kami jawab, sebabnya adalah bahwa orang yang tertipu menurut pertimbangan syariat dianggap telah menyebabkan hilangnya status budak, dan ini termasuk dalam bab tanggungan nilai atas orang yang menyebabkan kerugian. Namun, kami tidak mewajibkan tanggungan tersebut jika anak lahir dalam keadaan mati, karena ia belum keluar dan tidak memiliki nilai yang dapat ditaksir, serta tidak menyebabkan hilangnya nyawa, berbeda dengan pelaku kejahatan yang perbuatannya menjadi sebab hilangnya atau terhalangnya nyawa untuk bergabung (dengan kehidupan).
ومما أجراه الأصحاب في أدراج هذه الأحكام المرسلة أن الجاريةَ لو علقت بالمولود وماتت في الطَّلْق وجب ضمانُ قيمتها وإن ماتت بعد الرَّدِّ؛ لأنه المتسبّب إلى الحمل المفضِي إلى الطلق
Di antara hal yang dijalankan oleh para ulama dalam memasukkan hukum-hukum yang bersifat umum ini adalah bahwa jika seorang budak perempuan hamil karena anak yang dilahirkan, lalu ia meninggal dunia saat melahirkan, maka wajib membayar ganti rugi atas nilainya, meskipun ia meninggal setelah dikembalikan; karena pihak yang menyebabkan kehamilan yang berujung pada proses melahirkan adalah penyebabnya.
ولو وطىء حُرّةً زانياً واستكرهها وعلقت بمولود ثم ماتت في الطلق ففي ضمان الدِّية قولان أحدهما أنه يجب قياساً على نظيره في الجارية والثاني لا يجب؛ فإن اليدَ لا تثبت على الحرة وإنما اعتضد الضمان في الأمة باتصالِ اليد المضمنة بها في ابتداءِ السبب
Jika seorang laki-laki menzinai seorang wanita merdeka dan memaksanya, lalu ia hamil dan melahirkan anak, kemudian wanita itu meninggal saat melahirkan, maka dalam hal kewajiban membayar diyat terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa diyat wajib dibayar dengan qiyās atas kasus serupa pada budak perempuan. Pendapat kedua menyatakan bahwa diyat tidak wajib dibayar, karena kepemilikan tangan (hak atas diri) tidak berlaku pada wanita merdeka, sedangkan kewajiban membayar diyat pada budak perempuan didasarkan pada adanya hubungan tangan yang menimbulkan tanggungan sejak awal sebab terjadinya peristiwa.
ثم إذا علقت الجاريةُ بمولودٍ حرٍّ لم تصر أمَّ ولد في الحال؛ فإن الوطء لم يصادف ملكَ الواطىء ولو ملك الواطىء الجاريةَ يوماً فهل تصير عند الملكِ مستولدةً له فعلى قولين سيأتي توجيههما في أمهات الأولاد إن شاء الله تعالى
Kemudian, jika seorang budak perempuan hamil dari seorang anak yang merdeka, ia tidak langsung menjadi umm walad; karena hubungan suami istri itu tidak terjadi dalam keadaan sang laki-laki memiliki budak tersebut. Namun, jika laki-laki itu suatu hari memiliki budak perempuan tersebut, apakah ia menjadi mustauladah baginya saat kepemilikan itu? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang penjelasannya akan disebutkan pada pembahasan umm al-awlad, insya Allah Ta‘ala.
فصل
Bab
قال ولو اشترى زرعاً واشترط على البائع حصادَه إلى آخره
Dia berkata: “Dan jika seseorang membeli tanaman lalu mensyaratkan kepada penjual untuk memanennya hingga selesai.”
إذا اشترى زرعاً بدينارٍ على أن يحصده البائع هذه صورةُ المسألة وعلى الناظر أن يعتني في مضمون هذا الفصل بصيغ ألفاظ العاقدين
Jika seseorang membeli tanaman dengan harga satu dinar dengan syarat penjual yang akan memanennya, inilah gambaran masalahnya. Bagi yang menelaah, hendaknya memperhatikan dengan saksama redaksi lafaz kedua pihak yang berakad dalam pembahasan bab ini.
والذي نرى في ذلك أن نجدّد العهدَ بأصولٍ سبقت ونرمز إلى بعض ما يأتي مما تَمَسُّ الحاجةُ إليه ثم نخوضُ في تفصيل مسائل الفصل
Menurut pendapat kami dalam hal ini, hendaknya kita memperbarui komitmen terhadap sejumlah ushul yang telah disebutkan sebelumnya, serta menyinggung beberapa hal berikut yang sangat diperlukan, kemudian kita akan membahas secara rinci permasalahan-permasalahan dalam bab ini.
فممَّا مضى أن من جمع في صفقةٍ واحدةٍ بين إجارة وبيعٍ فهل يُقضى بصحة العقد وذلك إذا قال بعتُك عبدي هذا وأجرتك داري بدينارٍ هذا من قواعد تفريق الصفقة وقد مضى ومما سيأتي أن شرط عقدٍ في عقدٍ يُفسد العقدَ المشروطَ فيه وذلك مثل أن يقول بعتُك داري هذه بألفٍ على أن تبيعني عبدك فبيعُ الدارِ يَفسُد بشرط بيع العبد فيه وعليه حمل نهيُ رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيعتين في بيعة على ما سيأتي إن شاء الله
Dari penjelasan sebelumnya, jika seseorang menggabungkan dalam satu transaksi antara ijārah dan jual beli, apakah akad tersebut dinyatakan sah? Misalnya, jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budakku ini dan aku sewakan rumahku kepadamu dengan satu dinar,” maka ini termasuk dalam kaidah tafrīq ash-shafqah yang telah dijelaskan sebelumnya. Dan sebagaimana akan dijelaskan, mensyaratkan satu akad dalam akad lain dapat merusak akad yang disyaratkan di dalamnya. Contohnya, jika seseorang berkata, “Aku jual rumahku ini kepadamu seharga seribu dengan syarat kamu menjual budakmu kepadaku,” maka jual beli rumah menjadi batal karena adanya syarat jual beli budak di dalamnya. Atas dasar inilah larangan Rasulullah saw. tentang dua jual beli dalam satu jual beli dipahami, sebagaimana akan dijelaskan, insya Allah.
وممَّا يتعين ذكره في مقدمة هذه المسائل أن الرجل إذا قال لعبده كاتبتُك وبعتُك عبدِي هذا بكذا فإذا قبل العبد فقد وقع أحد سْقَّي العقد من العبد المخاطب قبل انعقادِ الكتابةِ والظاهرُ الحكمُ ببطلان البيع لما أشرنا إليه
Hal yang perlu disebutkan dalam pendahuluan masalah-masalah ini adalah bahwa apabila seseorang berkata kepada budaknya, “Aku telah melakukan mukātabah denganmu dan aku telah menjual budakku ini kepadamu dengan harga sekian,” lalu budak tersebut menerimanya, maka salah satu dari dua akad telah terjadi dari pihak budak yang diajak bicara sebelum akad mukātabah itu sah. Yang tampak adalah hukum batalnya jual beli tersebut, sebagaimana yang telah kami isyaratkan.
فإذا تمهدت الأصول خُضنا بعدها في المسائل
Setelah prinsip-prinsip dasar telah dijelaskan, barulah kita membahas permasalahan-permasalahan.
فإذا قال اشتريت منك هذا الزرعَ واستأجرتُك على حصاده بدينارٍ فقد اختلف أصحابنا في ذلك على طريقين فمنهم من قال في فساد الإجارة والبيع قولان مأخوذان من الجمع بين الإجارة والبيع في صفقةٍ
Jika seseorang berkata, “Aku membeli darimu tanaman ini dan aku menyewamu untuk memanennya dengan satu dinar,” maka para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang hal itu dalam dua pendapat. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa dalam kerusakan akad ijarah dan jual beli terdapat dua pendapat yang diambil dari penggabungan antara akad ijarah dan jual beli dalam satu transaksi.
ومنهم من قال الإجارةُ فاسدةٌ قولاً واحداً؛ لأن أحدَ شِقَّيها وقع قبل ملك الزرع وإنما يصح الاستئجار على العملِ في مملوكٍ فإن من استأجر إنساناً على حصاد زرعٍ لم يملكه ثم استفاد ذلك الزرعَ فذلك الاستئجار مردود ثم إذا فسدت الإجارةُ في مسألتنا ففي فساد البيع قولان ملحقانِ بالقولين في صفقةٍ تشتمل على شيئين وتفسدُ في أحدهما هل يُقضى بفسادها في الثاني كالجمع بين عبدٍ مملوكٍ وعبدٍ مغصوبٍ
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa akad ijarah tersebut batal secara mutlak, karena salah satu dari dua sisi akad itu terjadi sebelum kepemilikan atas tanaman, sedangkan yang sah adalah menyewa untuk bekerja pada sesuatu yang dimiliki. Jika seseorang menyewa orang lain untuk memanen tanaman yang belum dimilikinya, kemudian ia memperoleh kepemilikan atas tanaman itu, maka akad sewa-menyewa tersebut tetap batal. Kemudian, jika akad ijarah dalam permasalahan kita ini batal, maka dalam hal batalnya akad jual beli terdapat dua pendapat yang mengikuti dua pendapat dalam satu transaksi yang mencakup dua hal dan batal pada salah satunya: apakah batal pula pada yang kedua, seperti menggabungkan antara budak yang dimiliki dan budak yang digasap.
هذا تفصيل القول فيه إذا قال اشتريت هذا الزرعَ واستأجرتك على حصَادهِ
Berikut adalah perincian pembahasan tentang hal ini apabila seseorang berkata, “Aku membeli tanaman ini dan aku menyewamu untuk memanennya.”
فأما إذا قال اشتريتُ منك هذا الزرعَ بدينارٍ على أن تحصده فقد اختلف أصحابنا أولاً في قوله على أن تحصدَه فمنهم من قال هذا شرط عقدٍ في عقد؛ فتفسدُ الصفقةُ من أصلها ولا يكون من فروع تفريق الصفقة ومنهم من قال قوله على أن تحصده وإن كان على صيغة الشرط فالملتمَس والمقصودُ من اللفظ تحصيلُ الزرع ومنفعةُ الحاصدِ بدينارٍ فيكون كما لو قال اشتريت الزرعَ واستأجرتُك بدينارٍ
Adapun jika seseorang berkata, “Aku membeli tanaman ini darimu seharga satu dinar dengan syarat engkau yang menuainya,” maka para ulama kami berbeda pendapat terlebih dahulu mengenai ucapannya “dengan syarat engkau yang menuainya.” Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ini adalah syarat akad dalam akad, sehingga transaksi tersebut batal sejak awal dan tidak termasuk cabang dari perincian transaksi. Sebagian lain berpendapat bahwa ucapannya “dengan syarat engkau yang menuainya,” meskipun dalam bentuk syarat, maksud dan tujuan dari ungkapan tersebut adalah memperoleh tanaman dan manfaat dari orang yang menuai dengan satu dinar, sehingga hukumnya seperti jika ia berkata, “Aku membeli tanaman ini dan menyewamu dengan satu dinar.”
وقد فصلنا هذا على ما ينبغي والألفاظ تُعنَى لمعانيها
Kami telah merincikan hal ini sebagaimana mestinya, dan lafaz-lafaz itu diperhatikan untuk maknanya.
ولو قال اشتريتُ منك هذا الزرعَ بدينارٍ واستأجرتُكَ على حصاده بدرهم فقد فصل الإجارةَ عن البيع وذكر لكل واحد من المقصودين عوضاً
Jika seseorang berkata, “Aku membeli tanaman ini darimu seharga satu dinar dan aku menyewamu untuk memanennya seharga satu dirham,” maka ia telah memisahkan akad ijarah dari akad jual beli dan menyebutkan imbalan untuk masing-masing tujuan tersebut.
أما الإجارةُ ففي فسادِها وصحتها ما تقدَّم وأما بيع الزرع فصحيح قولاً واحداً ولا يلتحق هذا بتفريق الصفقة؛ فإن التفريق إنما يجري إذا اتحد العوضُ وجَمَعت الصفقةُ مقصودَين مختلفين وسبب الاختلاف ما تقدم من مسيس الحاجةِ إلى توزيعِ العوض عند اختلاف المقصودَين فسخاً وإبقاءً
Adapun ijarah, maka dalam hal batal dan sahnya telah dijelaskan sebelumnya. Adapun jual beli tanaman, maka hukumnya sah menurut satu pendapat, dan hal ini tidak termasuk dalam kategori tafriq ash-shafqah (memisahkan transaksi); karena tafriq hanya terjadi jika imbalan (al-‘iwadh) itu satu dan transaksi tersebut mencakup dua tujuan yang berbeda. Sebab perbedaan itu, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, adalah karena adanya kebutuhan mendesak untuk membagi imbalan ketika terdapat dua tujuan yang berbeda, baik dengan membatalkan sebagian maupun membiarkan sebagian yang lain.
ولو قال اشتريتُ منك هذا الزرعَ بدينارٍ على أن تحصده بدرهمٍ فبيع الزرع باطل قولاً واحداً؛ فإنه لما أفرد الإجارةَ بعوضٍ جعلها عقداً على حيالها وشرطها في عقد البيع؛ فكان هذا تصريحاً بشرط عقدٍ في عقد
Jika seseorang berkata, “Aku membeli tanaman ini darimu seharga satu dinar dengan syarat engkau menuainya seharga satu dirham,” maka jual beli tanaman tersebut batal menurut satu pendapat; karena ketika ia memisahkan akad ijarah dengan imbalan tertentu, ia menjadikannya sebagai akad tersendiri dan mensyaratkannya dalam akad jual beli; maka ini merupakan pernyataan tegas mensyaratkan satu akad dalam akad yang lain.
وجميعُ مقاصدِ الفصل تأتي في تفصيل هذه المسألةِ الواحدةِ ولكنا نذكر أخرى للتوطئة والتمهيد
Seluruh tujuan dari bab ini membahas secara rinci satu masalah ini saja, namun kami akan menyebutkan hal lain sebagai pengantar dan pendahuluan.
فإذا قال اشتريت منك هذا الصَّرْم واستأجرتُك لخصفه على هذا الخف فهذا يناظر ما لو قال اشتريت منك هذا الزرع واستأجرتُك لحصاده وإن قال اشتريت منك هذا الصَّرْم بدرهمٍ على أن تخصفه على هذا الخف فهو كما لو قال اشتريت منك هذا الزرعَ على أن تحصده
Jika seseorang berkata, “Aku membeli darimu serat ini dan aku menyewamu untuk menjahitkannya pada sepatu ini,” maka hal ini serupa dengan seseorang yang berkata, “Aku membeli tanaman ini darimu dan aku menyewamu untuk memanennya.” Dan jika ia berkata, “Aku membeli serat ini darimu seharga satu dirham dengan syarat engkau menjahitkannya pada sepatu ini,” maka ini seperti seseorang yang berkata, “Aku membeli tanaman ini darimu dengan syarat engkau memanennya.”
والجملة في نظائر هذه المسائل أنه يجري فيها إجارةٌ يقع شقُّها قبل الملك ويجري فيها إقامةُ لفظ الشرط مقام الاستئجار ويجري فيها قواعدُ تفريق الصفقة ويجري أيضاً شرطُ عقدٍ في عقدٍ على وفاق وعلى خلاف
Secara umum dalam kasus-kasus serupa, berlaku di dalamnya akad ijarah yang sebagian syaratnya terjadi sebelum kepemilikan, berlaku juga penggunaan lafaz syarat sebagai pengganti akad sewa-menyewa, berlaku pula kaidah-kaidah tafriq ash-shafqah, dan juga berlaku syarat akad dalam akad, baik menurut pendapat yang membolehkan maupun yang tidak membolehkan.
فلا يُشكِل بعد هذا الترتيب هذا الفنُّ على الفطن
Maka setelah penataan seperti ini, ilmu ini tidak lagi sulit bagi orang yang cerdas.
فصل
Bab
قال ولو قال بعني هذه الصُّبرة كل إردبّ بدرهم إلى آخره
Ia berkata: “Jika seseorang berkata, ‘Jualkan kepadaku tumpukan ini, setiap irdabb seharga satu dirham hingga habis,’…”
الإردب مكيال من مكاييل مِصرَ واللفظ من لغة أهله وقيل إنه يسع أربعة وعشرين صاعاً والقفيز عندهم على النصف من الإردب
Irdab adalah satuan takaran dari takaran-takaran Mesir, dan kata ini berasal dari bahasa penduduknya. Dikatakan bahwa satu irdab setara dengan dua puluh empat sha‘, dan qafīz di sana setengah dari irdab.
فإذا أشار الرجل إلى صبرةٍ معلومةِ الصّيعانِ أو مجهولةِ الصيعان وقال بعتك هذه الصُّبرةَ كل صاع بدرهم فالبيع صحيح سواء كانت الصّبرةُ معلومةَ الصيعان أو مجهولةَ الصيعان
Jika seseorang menunjuk kepada satu tumpukan barang yang takaran sha‘-nya diketahui atau tidak diketahui, lalu berkata, “Aku jual kepadamu tumpukan ini, setiap satu sha‘ seharga satu dirham,” maka jual beli tersebut sah, baik tumpukan itu takaran sha‘-nya diketahui maupun tidak diketahui.
فإن قيل كيف قطعتم بصحة العقد ولو سئل المتعاقِدان على مبلغ الثمن لم يُعربا عنه ولم يعرفاه وهلاَّ نزلتم هذا منزلة ما لو قال الرجل بعتك داري هذه بما باع فلان عبده قلنا الصُّبرةُ مرتبطة بالعِيان وهو أعلى جهات الإعلام والثمن مرتبط بها فالثمن إذن معلوم من نفس مقتضى العقد؛ من جهة إعلام المبيع وليس ذلك كربط الإعلام بشيءٍ لا تعلّق له بالعقد والكلام الظاهر فيه أن من اشترى ملء بيت من الحنطة على نسبة معلومةٍ من الثمن فهو في العرف ليس مغروراً والرجوع في طريق الإعلام إلى العرف وإذا قال بعتُك بما باع به فلانٌ فهو على غررٍ منه وبين حالتين في القلّة والكثرة تسوءه إحداهما وتسرّه أخرى
Jika dikatakan, “Bagaimana kalian bisa memastikan keabsahan akad, padahal jika kedua pihak yang berakad ditanya tentang jumlah harga, mereka tidak dapat mengungkapkannya dan tidak mengetahuinya? Mengapa kalian tidak menyamakan hal ini dengan kasus ketika seseorang berkata, ‘Aku jual rumahku ini kepadamu dengan harga yang digunakan si Fulan menjual budaknya?’” Kami menjawab: Tumpukan barang (ṣubrah) itu terkait dengan barang yang nyata (‘iyān), dan itu adalah bentuk pemberitahuan yang paling tinggi, sedangkan harga terkait dengannya. Maka harga itu diketahui dari konsekuensi akad itu sendiri, dari sisi pemberitahuan tentang barang yang dijual. Hal ini tidak sama dengan mengaitkan pemberitahuan dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan akad. Secara lahiriah, jika seseorang membeli satu ruangan penuh gandum dengan harga perbandingan yang jelas, maka menurut kebiasaan (‘urf), ia tidak tertipu. Dalam hal pemberitahuan, rujukannya adalah kebiasaan (‘urf). Namun jika ia berkata, “Aku jual kepadamu dengan harga yang digunakan si Fulan,” maka itu mengandung gharar (ketidakjelasan), dan antara dua keadaan, yaitu sedikit dan banyak, salah satunya akan merugikannya dan yang lain akan menguntungkannya.
ثم صور الشافعي صيغاً في العقد والاستثناءات ونحن نتبع مسائله
Kemudian asy-Syafi‘i menggambarkan beberapa bentuk dalam akad dan pengecualian-pengecualiannya, dan kami mengikuti permasalahan-permasalahan yang beliau kemukakan.
فمما ذكره أنه لو قال بعني هذه الصُّبرةَ كل صاع بدرهم على أن تزيدَني صاعاً فأجابه صاحبُ الصُّبرة على حسب لفظه فقوله على أن تزيدني لفظٌ فيه تردد فإن زعم الشارطُ أنه أراد بقوله على أن تزيدني أن يهب منه صاعاً من غير هذه الصبرة فهذا شرطُ هبةٍ في البيع وهو مفسد للعقد لا محالة
Di antara yang disebutkan adalah, jika seseorang berkata, “Jualkan kepadaku tumpukan ini, setiap satu sha‘ seharga satu dirham, dengan syarat engkau menambahkanku satu sha‘,” lalu pemilik tumpukan itu menyetujuinya sesuai dengan ucapannya, maka ungkapan “dengan syarat engkau menambahkanku” adalah lafaz yang mengandung keraguan. Jika orang yang mengajukan syarat itu mengklaim bahwa maksudnya dengan ucapannya “dengan syarat engkau menambahkanku” adalah agar ia dihibahkan satu sha‘ dari selain tumpukan ini, maka ini adalah syarat hibah dalam jual beli, dan hal itu pasti merusak akad.
وإن قال عَنَيْت بقولي على أن تزيدني صاعاً أن يعتبر صيعانَ الصبرة بالدراهم وُيعري عن هذا الحساب صاعاً واحداً ولم يقصد أن يكون ذلك الصاع موهوباً ولكن رام إدراج جميع الصُّبرة في العقد على الحساب الذي قدره
Dan jika ia berkata, “Maksudku dengan ucapanku ‘dengan syarat engkau menambahkanku satu sha‘’ adalah agar sha‘-sha‘ dari tumpukan itu dinilai dengan dirham, lalu satu sha‘ dikeluarkan dari perhitungan itu,” dan ia tidak bermaksud agar satu sha‘ itu dihibahkan, melainkan ia ingin memasukkan seluruh tumpukan ke dalam akad berdasarkan perhitungan yang telah ia tetapkan.
فالذي ذكره الأصحاب في ذلك أن صيعان الصُّبرة إن كانت معلومة فالبيع صحيح والتقديرُ فيه أن الصبرةَ إذا كانت عشرة آصُع مثلاً وعلم المتعاقدان ذلك فيرجع حاصل ما ذكره المشتري إلى بيع الصبرة كل صاع وتُسعٍ بدرهم ولو صرح بهذا صح فإذا عناه بلفظه وهو محتمل صح
Apa yang disebutkan oleh para ulama dalam hal ini adalah bahwa jika takaran-takaran ṣubrah itu diketahui, maka jual belinya sah. Penjelasannya adalah jika ṣubrah itu, misalnya, terdiri dari sepuluh ṣā‘ dan kedua pihak yang berakad mengetahuinya, maka hasil dari apa yang disebutkan pembeli kembali pada jual beli ṣubrah tersebut setiap satu ṣā‘ dan sepersembilan dengan satu dirham. Jika hal ini dinyatakan secara eksplisit, maka sah; dan jika dimaksudkan dengan lafaz yang mengandung kemungkinan makna tersebut, maka juga sah.
وذكر صاحب التقريب وجهاً ومال إليه أن البيع لا يصح في هذه الصبرة؛ فإن ما ذكره من المعنى وهو بيع الصاعِ والتسع بالدرهم وإن كان صحيحاً فالعبارةُ لا تنبىء عنه إلا على بُعدٍ في المحمل يضاهي محامل اللُّغز وينضم إليه أنه ذكرَ مقصودَه بصيغة الشرط وقد قدمنا في الفصل السابق ما يبطل بصيغ الشروط وعليه خرَّجنا فسادَ الصفقةِ في وجه إذا قال اشتريت هذا الزرعَ منك على أن تحصده
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan satu pendapat dan cenderung kepadanya, yaitu bahwa jual beli tidak sah pada tumpukan ini; karena makna yang disebutkannya, yaitu menjual satu sha‘ dan sembilan sha‘ dengan satu dirham, meskipun benar, namun ungkapannya tidak menunjukkan hal itu kecuali dengan kemungkinan yang jauh, yang menyerupai teka-teki, dan ditambah lagi bahwa ia menyebutkan maksudnya dengan bentuk syarat. Kami telah jelaskan pada bab sebelumnya bahwa akad dengan bentuk syarat itu batal, dan berdasarkan hal itu kami mengeluarkan pendapat tentang rusaknya transaksi jika seseorang berkata, “Aku membeli tanaman ini darimu dengan syarat engkau yang memanennya.”
وإن كانت الصُّبرةُ مجهولةَ الصيعان عندهما أو عند أحدهما فالبيع باطل؛ فإن الصاع المستثنى يغيِّر مقابلةَ الصاع بالدرهم ويرجع الأمر إلى مقابلة صاعٍ وشيء بدرهم وليسا يَدرِيَان أن الزوائد على كل صاعٍ ليقابله درهم كم تقع؛ فالمقصودُ إذاً مجهول ولو أراد أن يعبر عن سعر الحنطة في الصفقة لم يجد إليهِ سبيلاً وكأنهما قالا كلُّ صاع وشيء بدرهم وهذا باطل
Jika tumpukan (barang) itu tidak diketahui jumlah ṣā‘-nya oleh keduanya atau oleh salah satu dari mereka, maka jual belinya batal; karena ṣā‘ yang dikecualikan itu mengubah perbandingan antara ṣā‘ dengan dirham dan perkara itu kembali kepada perbandingan antara satu ṣā‘ dan sesuatu (tambahan) dengan satu dirham, padahal keduanya tidak mengetahui berapa banyak kelebihan pada setiap ṣā‘ yang akan ditukar dengan satu dirham; maka maksud (akad) itu menjadi tidak jelas. Bahkan jika ingin mengekspresikan harga gandum dalam transaksi itu pun tidak akan menemukan caranya, seolah-olah keduanya berkata: setiap ṣā‘ dan sesuatu (tambahan) dengan satu dirham, dan ini batal.
فهذا بيان مسألةٍ
Ini adalah penjelasan suatu masalah.
والمسألة الثانية أن يقول اشتريتُ هذه الصبرةَ كل صاعٍ بدرهمٍ على أن أنقص صاعاً فهذه اللفظةُ مترددةٌ كما تقدَّم
Masalah kedua adalah seseorang berkata, “Aku membeli tumpukan ini, setiap satu sha‘ seharga satu dirham, dengan syarat aku mengurangi satu sha‘.” Ungkapan ini masih diperselisihkan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فإن عَنَى بذلك أن يهبَ منه صاعاً من الصبرة ويبيعَ الباقي بحساب الدرهم فهذا شرطُ هبةٍ في بيعٍ وإن أراد تغيير الحساب وقال يكون الحساب بيننا والصبرة مبيعةٌ على هذا النحو فهو كما لو قال على أن تزيدني وقد مضى التفصيل فيه والفرق بين أن تكون الصيعان معلومة أو مجهولة
Jika yang dimaksud dengan itu adalah ia memberikan satu sha‘ dari tumpukan tersebut sebagai hibah dan menjual sisanya dengan perhitungan dirham, maka ini adalah syarat hibah dalam jual beli. Namun jika ia bermaksud mengubah perhitungan dan berkata, “Perhitungannya antara kita, dan tumpukan ini dijual dengan cara seperti ini,” maka hal itu seperti ia berkata, “Dengan syarat engkau menambahkannya untukku,” dan rincian tentang hal ini telah dijelaskan sebelumnya, serta perbedaan antara jika takaran-takaran itu diketahui atau tidak diketahui.
وقد نجز غرضُ الأصحاب
Dan tujuan para ulama telah tercapai.
ولا يصفو الفصل عن الكدر إلا بالتنبيه لأمرٍ قال الأئمة رضي الله عنهم كل لفظ نيط به حكم وهو مما ينفرد اللاَّفظ به ولا يحتاج إلى جواب مخاطب فهو قابل للصَّريح والكناية كالطلاق والعتاق والإبراء والإقرار وما في معانيها
Bab ini tidak akan benar-benar jernih dari kerancuan kecuali dengan penjelasan mengenai suatu hal yang dikatakan oleh para imam rahimahumullah: Setiap lafaz yang dikaitkan dengan suatu hukum, yang mana pengucapnya dapat melakukannya sendiri tanpa membutuhkan jawaban dari pihak yang diajak bicara, maka lafaz tersebut dapat mengandung makna sharih (jelas) maupun kinayah (sindiran), seperti talak, ‘itāq (pembebasan budak), ibrā’ (pembebasan dari tanggungan), iqrar (pengakuan), dan hal-hal yang serupa dengannya.
فهذه الأشياء يتطرّق إليها الصريح والكناية ثم الكنايات مفتقرةٌ إلى نية اللاَّفظ والرجوعُ فيها إليه كما سيأتي تفصيله في كتاب الطلاق
Maka hal-hal ini dapat dimasuki oleh lafaz sharih maupun kinayah, kemudian lafaz-lafaz kinayah memerlukan niat dari orang yang mengucapkannya, dan dalam hal ini dikembalikan kepada niatnya, sebagaimana akan dijelaskan rinciannya dalam Kitab Thalaq.
وأما ما لا يستقل فيه لفظُ شخصٍ واحدٍ ويستدعي جواباً كالعقودِ المفتقرةِ إلى الإيجاب والقبول فلا شكّ في انعقادِها بالصريح
Adapun perkara yang tidak dapat berdiri sendiri dengan ucapan satu orang saja dan memerlukan jawaban, seperti akad-akad yang membutuhkan ijab dan qabul, maka tidak diragukan lagi bahwa akad tersebut sah dengan lafaz yang sharih (jelas).
وأما تقديرُ عقدِها بالكنايات فالعقود تنقسم إلى ما تفتقر إلى الإشهاد وإلى ما لا تفتقر إليه
Adapun penetapan akad dengan kināyah, maka akad-akad terbagi menjadi yang memerlukan penyaksian dan yang tidak memerlukannya.
فأما المفتقر إلى الإشهاد كالنكاح وكبيع الوكيل إذا شرط الموكِّلُ عليه الإشهاد على البيع فلا ينعقد بالكناية؛ فإن الشهود لا يطلعون على القُصود ومجردُ الألفاظ إذا كانت كنايات لا تكون عقوداً
Adapun perkara yang memerlukan penyaksian seperti nikah dan jual beli oleh wakil apabila muwakkil mensyaratkan adanya penyaksian atas jual beli tersebut, maka tidak sah dilakukan dengan kinayah; karena para saksi tidak dapat mengetahui maksud (yang tersembunyi), dan semata-mata lafaz jika berupa kinayah tidak dapat menjadi akad.
فأما ما لا يفتقر إلى الإشهادِ فينقسم إلى ما يتطرق إليه التعليق بالإغرار وإلى ما لا يقبل ذلك فأمَّا ما يكون مضمونه قابلاً للإغرار فيصح العقد فيه بالكنايات مع النياتِ كالخلع وعقود العتاقة والصلح عن الدم وقد قال الشافعي رحمة الله عليه إذا قال لامرأته أنت بائنٌ بألفٍ فقالت قبلتُ ونويا وقع الطلاق مبيناً وصح الخلع
Adapun perkara yang tidak memerlukan penyaksian, terbagi menjadi dua: ada yang memungkinkan terjadinya penangguhan dengan tipu daya, dan ada yang tidak dapat menerima hal tersebut. Adapun perkara yang substansinya memungkinkan adanya tipu daya, maka akad di dalamnya sah dengan menggunakan kinayah (ungkapan sindiran) disertai niat, seperti khulu‘, akad pembebasan budak, dan sulh (perdamaian) atas darah. Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Jika seseorang berkata kepada istrinya, “Engkau bā’in (terpisah) dengan seribu (dirham),” lalu istrinya berkata, “Aku terima,” dan keduanya berniat demikian, maka jatuhlah talak bain dan khulu‘ pun sah.
وأما العقود التي لا يقبل مقصودُها التعليقَ ولا يشتَرط فيها الإشهاد ففي انعقادِها بالكنايات وجهان مشهوران أحدهما الانعقاد كالخلع وما في معناه وكالألفاظ الفردةِ التي لا تفتقر إلى جواب
Adapun akad-akad yang maksudnya tidak menerima penangguhan dan tidak disyaratkan adanya penyaksian di dalamnya, maka dalam keabsahannya dengan kinayah terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah akad tersebut sah, seperti khulu‘ dan yang semakna dengannya, serta seperti lafaz-lafaz tunggal yang tidak memerlukan jawaban.
والوجه الثاني أنها لا تصح فإن المخاطَبَ لا يدري بم خُوطب ولا يتأتى التخاطب بالكناياتِ كما لا يتأتى تحمّل الشهادة حيث تُشرط الشهادة في الكنايات
Adapun alasan kedua adalah bahwa hal itu tidak sah, karena orang yang diajak bicara tidak mengetahui dengan apa ia diajak bicara, dan tidak mungkin terjadi komunikasi dengan kinayah, sebagaimana tidak mungkin pula memikul kesaksian ketika kesaksian disyaratkan dalam kinayah.
فهذا عقدُ هذه الجملة
Inilah ringkasan dari keseluruhan pembahasan ini.
والذي أراه فيها أن قرائن الأحوال لا معتبر بها عندنا في التحاق الكنايات بالصرائح حتى إذا قال الرجل في حال مسألة الطلاق وظهور مخايل إرادة الطلاق أنتِ بائن وقال لم أُردِ الطلاق صُدِّق مع يمينه خلافاً لأبي حنيفة
Menurut pendapat yang saya anut dalam masalah ini, petunjuk keadaan tidak dianggap sebagai dasar dalam mengaitkan lafaz kinayah dengan lafaz sharih. Sehingga, jika seorang laki-laki dalam situasi ditanya tentang talak dan tampak tanda-tanda keinginannya untuk mentalak, lalu ia berkata kepada istrinya, “Engkau bā’in,” kemudian ia mengatakan, “Aku tidak bermaksud talak,” maka ia dibenarkan dengan sumpahnya, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
ومجرد القرائن لا تصلح للعقود ولذلك لا نجعل المعاطاةَ بيعاً كما سيأتي شرح ذلك إن شاء الله عز وجل
Sekadar adanya indikasi-indikasi saja tidak cukup untuk menetapkan suatu akad, oleh karena itu kita tidak menganggap mu‘āṭāh sebagai jual beli, sebagaimana akan dijelaskan nanti insya Allah ‘Azza wa Jalla.
وإذا فرض في العقد المفتقر إلى الإيجاب والقبول كناياتٌ وانضمَّت إليها قرائن الأحوال وترتب عليها التفاهم فيجب القطع بصحة العقد؛ تعويلاً على التفاهم
Jika dalam akad yang memerlukan ijab dan qabul terdapat ungkapan-ungkapan kinayah, lalu disertai dengan adanya indikator-indikator situasi dan menghasilkan saling pengertian, maka harus dipastikan keabsahan akad tersebut; dengan berpegang pada adanya saling pengertian.
ومَوضع خلاف الأصحابِ في انعدام قرائن الأحوال والظاهر أن لا عقدَ إذا لم يحصل التفاهم
Tempat terjadinya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah ketika tidak adanya indikasi keadaan, dan yang tampak adalah tidak terjadi akad jika tidak terjadi saling pengertian.
فإن قيل هلاّ انعقد النكاح بالكناية مع قرينة الحال إذا حضر الشهود قلنا ما يتعلق بالجحود لا ينفع فيها قرينة الحال عندنا والغرض من حضور الشهود إثباتُ مجحودِ ثم مسألة النكاح لم تبن على هذه النكتة فحسب وإنما مدارها على تعبُّدات رعاها الشافعيُّ كما قرَّرناه في الأساليب
Jika dikatakan, “Mengapa akad nikah tidak sah dengan lafaz kinayah beserta adanya indikasi situasi ketika para saksi hadir?” Kami jawab, “Dalam hal-hal yang berkaitan dengan kemungkinan pengingkaran, indikasi situasi tidak bermanfaat menurut kami, dan tujuan dari kehadiran para saksi adalah untuk menetapkan sesuatu yang mungkin diingkari. Kemudian, permasalahan nikah tidak hanya dibangun di atas poin ini saja, melainkan dasarnya adalah pada aspek-aspek ta‘abbud yang dijaga oleh Imam Syafi‘i sebagaimana telah kami jelaskan dalam berbagai metode.”
فإن قيل أطلق الشافعي ألفاظاً مجملةَ وحكم بانعقاد العقد بها وهذا يخالف ما رتّبتموه قلنا لم يقصد الشافعي الكلامَ على المجمل والمفصَّل والصريح والكناية وإنما تعرض لتفصيل المعاني التي تصح العقود عليها وتفسد كما تفصّل الغرض فيه
Jika dikatakan bahwa asy-Syafi‘i menggunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat umum dan menetapkan keabsahan akad dengannya, padahal hal ini bertentangan dengan apa yang telah kalian susun, maka kami katakan: asy-Syafi‘i tidak bermaksud membahas tentang lafaz yang umum dan terperinci, atau yang jelas (sharīh) dan kināyah, melainkan beliau membahas secara terperinci makna-makna yang dapat membuat akad menjadi sah atau batal, sebagaimana tujuan dalam pembahasan tersebut.
ويُمكن فرض الأمر في قرينة كما ذكرتها حتى يردَّ غرض الفصل إلى المعنى فأما إذا ذكر اللفظ من غير قرينةٍ وهو كناية فلا بد من تخريج المسألة على القاعدة التي مهَّدناها في الصرائح والكنايات
Dan perintah dapat diasumsikan dalam suatu indikasi sebagaimana telah saya sebutkan, sehingga tujuan pemisahan kembali kepada makna. Adapun jika suatu lafaz disebutkan tanpa adanya indikasi dan ia merupakan kinayah, maka harus mengeluarkan permasalahan berdasarkan kaidah yang telah kami tetapkan mengenai lafaz sharih dan kinayah.
فليتخذ الناظر ما ذكرناه معتبره في نظائر هذه المسألة من الألفاظ المترددة من جهاتِ الاحتمالات
Hendaklah orang yang meneliti menjadikan apa yang telah kami sebutkan sebagai acuannya dalam kasus-kasus serupa dari permasalahan ini, yang berkaitan dengan lafaz-lafaz yang mengandung kemungkinan dari berbagai sisi.
فصل
Bab
قال ولو اشترط في بيع السمن أن يزنه بظروفه إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika disyaratkan dalam jual beli minyak samin bahwa ia akan menimbangnya beserta wadahnya, dan seterusnya.”
الفصل يشتمل على مسائلَ مرسلة نذكرها إن شاء الله منها أنه إذا أشار إلى سمن في وعاء وقد عُهِد الوعاء من قبل وعُرف غلظه ودِقته أو كان شيئاً لا يتوقع فيه تفاوت به مبالاة كالزِّق وما في معناه فإذا قال والحالةُ هذه بعتك هذا السمنَ بكذا وكان وجهه بادياً وأجزاؤه متساوية فالبيع صحيح لا شكَّ فيه
Bab ini mencakup beberapa permasalahan yang akan kami sebutkan, insya Allah. Di antaranya adalah apabila seseorang menunjuk pada minyak samin dalam sebuah wadah, sedangkan wadah tersebut sudah dikenal sebelumnya dan telah diketahui tingkat ketebalan dan ketipisannya, atau jika wadah tersebut adalah sesuatu yang tidak diharapkan terjadi perbedaan di dalamnya yang berarti, seperti kantong kulit dan sejenisnya. Maka jika dalam keadaan seperti ini ia berkata, “Aku jual kepadamu minyak samin ini dengan harga sekian,” sementara permukaan minyaknya tampak dan bagian-bagiannya merata, maka jual beli tersebut sah dan tidak ada keraguan di dalamnya.
ولو كان السمن في ظرف مختلفِ الأجزاء دقةً وغلظاً وكان بحيث لا يستدل بما يبدو من طرفه على ما يغيب عن البصر من باطنه وجوَّز المشتري أن يتفاوت الأمرُ تفاوتاً بيِّناً فقد ذهب بعضُ المحققين إلى أن البيع يبطل في هذه الصورة
Jika minyak samin berada dalam wadah yang bagian-bagiannya berbeda tingkat kekentalan dan keencerannya, serta keadaannya sedemikian rupa sehingga apa yang tampak di permukaannya tidak dapat dijadikan petunjuk terhadap apa yang tersembunyi di dalamnya yang tidak terlihat oleh mata, dan pembeli memperkirakan kemungkinan adanya perbedaan yang nyata, maka sebagian ulama yang teliti berpendapat bahwa jual beli dalam kondisi seperti ini batal.
والسبب فيه أن التعويل على العِيان في هذا البيع والعِيان ليس مفيداً إحاطة فكان كَلاَ عِيان والجهالة مفسدةٌ للعقد
Penyebabnya adalah karena dalam jual beli ini bertumpu pada penglihatan langsung, sementara penglihatan langsung tersebut tidak memberikan pengetahuan yang menyeluruh, sehingga seolah-olah tidak ada penglihatan langsung, dan ketidakjelasan (jahālah) itu merusak akad.
وقال شيخي أبو محمد البيع في مثل هذا مخرَّج على قولي بيعِ الغائب ولا وجه للقطع بالفساد وهذا الذي ذكره صحيح لا شك فيه
Syekhku, Abu Muhammad, berkata: Jual beli dalam kasus seperti ini dihukumi berdasarkan pendapat tentang jual beli barang yang tidak hadir, dan tidak ada alasan untuk memastikan bahwa akadnya batal. Apa yang beliau sebutkan itu benar dan tidak diragukan lagi.
ومن أفسد البيع من أصحابنا فرَّع قولَه على منع بيع الغائب ولا يُظن بمن يرجع إلى تحقيقٍ يخرّج بيعَ الغائب فيه إذا قال البائع بعتك الثوبَ الذي في كُمّي على قولين مع القطع ببيع السمن في الظَّرف الذي يُظن اختلاف أجزائه
Dan di antara para ulama kami yang membatalkan jual beli, ia membangun pendapatnya atas dasar pelarangan jual beli barang yang tidak hadir. Tidak patut disangka bahwa seseorang yang kembali kepada penelitian mendalam akan membolehkan jual beli barang yang tidak hadir, jika penjual berkata, “Aku jual kepadamu kain yang ada di lengan bajuku,” menurut dua pendapat, padahal telah ada ketegasan dalam membolehkan jual beli minyak samin dalam wadah yang diduga bagian-bagiannya berbeda.
والذي يبيّن الغرضَ في هذا الفصل أن العِيان إذا أفاد الإحاطةَ بالجوانب ولم يُبن خلافَ ذلك فهو إعلام وإن كان العيان لا يفيد الإحاطةَ في الحال كما ذكرناه في الظرف المشكل فالوجهُ إلحاق ذلك ببيع الغائب
Yang menjelaskan tujuan dalam bab ini adalah bahwa penglihatan (‘iyān) jika memberikan pengetahuan menyeluruh dari berbagai sisi dan tidak tampak adanya perbedaan dari hal itu, maka hal tersebut dianggap sebagai pemberitahuan (i‘lām). Namun, jika penglihatan tidak memberikan pengetahuan menyeluruh pada saat itu, sebagaimana telah kami sebutkan dalam kasus barang yang berada dalam wadah yang sulit dilihat, maka yang tepat adalah menyamakan hal itu dengan jual beli barang yang tidak hadir (bai‘ al-ghā’ib).
وإن بني العقدُ على عيانٍ يثير غلبةَ الظن بالإحاطة ثم يتبين أمر يخالف هذا كالرجل يشتري صُبرةً ويظنها على استواءٍ من الأرض ثم يبينُ في خَلِلها دِكّة أو كما اشترى فاكهةً متساويةَ الأجزاء في قرطالة يحسبها ملءَ القِرطالة فيبين في أسفلها حشوٌ الصحيح الحكمُ بالصحة في هذه المسائل مع إثبات الخيار للمشتري؛ فإن العيان أشعر بظنٍّ في الإعلام فاعتمده العقدُ ثم لما بان خلافُ المظنون اقتضى ذلك الخيارَ
Jika akad didasarkan pada penglihatan yang menimbulkan dugaan kuat akan pengetahuan menyeluruh, lalu ternyata ada sesuatu yang berbeda dari itu—seperti seseorang membeli setumpuk barang dan mengira permukaannya rata dengan tanah, kemudian ternyata di dalamnya ada gundukan; atau seperti membeli buah-buahan yang tampak seragam di dalam keranjang dan mengira keranjang itu penuh, lalu ternyata di bagian bawahnya ada isian—maka hukum yang benar dalam masalah-masalah ini adalah akad tetap sah, namun pembeli berhak mendapatkan khiyar (hak memilih untuk melanjutkan atau membatalkan akad); sebab penglihatan tersebut menimbulkan dugaan adanya pemberitahuan, sehingga akad didasarkan padanya, lalu ketika ternyata berbeda dari yang diduga, hal itu menimbulkan hak khiyar.
وكان شيخي أبو محمد يُلحق هذا القسمَ ببيع الغائب أيضاً ويقول إن ظننا إفادَةَ العيانِ علماً فقد تبيَّنا بالأَخَرة خلافَ ذلك فليقع التعويل على المعلوم آخراً لا على المظنون أولاً
Dan guruku, Abu Muhammad, juga mengaitkan bagian ini dengan jual beli barang yang tidak hadir, dan beliau berkata: Jika kita menyangka bahwa melihat secara langsung dapat memberikan pengetahuan, maka pada akhirnya kita telah mengetahui bahwa kenyataannya tidak demikian. Maka hendaknya yang dijadikan sandaran adalah apa yang benar-benar diketahui pada akhirnya, bukan apa yang hanya disangka-sangka pada awalnya.
ولو اشترى سمناً في بُستوقةٍ وهو يرى الغِلَظَ والدقة من رأس البستوقة والغالب على الظن أنها لا تتفاوت فالذي يقعُ الحكمُ به ظاهراً الصحَّةُ فإن بان تفاوتٌ في غلظ الداخل على خلاف الاعتياد التحقت المسألةُ بالصُّبرة التي يبين تحتها دكة وقد تفصل المذهب فيه
Jika seseorang membeli minyak samin dalam sebuah kendi, sementara ia dapat melihat bagian yang kental dan yang encer dari mulut kendi, dan umumnya diyakini bahwa tidak ada perbedaan di seluruh isinya, maka hukum yang berlaku secara lahiriah adalah sah. Namun, jika ternyata ada perbedaan kekentalan di bagian dalam yang tidak lazim, maka permasalahan ini disamakan dengan kasus membeli tumpukan barang yang di bawahnya terdapat cacat, dan dalam hal ini terdapat rincian pendapat dalam mazhab.
فإن قيل إذا كان العيان لا يفيد إعلامَ المقدار ولا تغليبَ الظن فقد ألحقتم القولَ فيه ببيع الغائب فبم تنكرون على من يقول إذا كان المبيع متساوي الأجزاء ولم يختلف ظاهره وباطنه وإنما بان تفاوتٌ في المقدار فالبيع صحيح فإن صحَّةَ البيع تعتمد العلمَ بصفةِ المبيع لا بمقدارِه؛ فإن المقدارَ إنما يراعى في عقود الربا
Jika dikatakan: Jika melihat secara langsung tidak memberikan pengetahuan tentang kadar (jumlah) dan tidak menguatkan dugaan, maka kalian telah menyamakan hal ini dengan jual beli barang yang tidak hadir (ghā’ib). Maka dengan apa kalian mengingkari orang yang berkata: Jika barang yang dijual itu seragam seluruh bagiannya dan tidak ada perbedaan antara bagian luar dan dalamnya, hanya saja terdapat perbedaan dalam kadar (jumlah), maka jual beli itu sah. Karena sahnya jual beli bergantung pada pengetahuan tentang sifat barang yang dijual, bukan pada kadarnya; sebab kadar itu hanya diperhatikan dalam akad-akad riba.
قلنا القدر معني من المبيع كما أن الصفة معنيّهٌ منه ولعلّ القدرَ أوْلى بالرعايةِ؛ فإن المقدار من المبيع مبيعٌ والصفةُ لا تستحق إلا تبعاً وإنما صح بيع الصُّبرة على الاستواءِ من الأرض؛ من حيث إن العِيان يحصرها ويحيط بها
Kami katakan bahwa takaran adalah bagian dari objek jual beli, sebagaimana sifat juga merupakan bagian darinya. Bahkan, bisa jadi takaran lebih utama untuk diperhatikan; sebab takaran dari barang yang dijual adalah bagian dari barang itu sendiri, sedangkan sifat hanya berhak diperoleh sebagai pelengkap. Adapun jual beli tumpukan barang (ṣubrah) yang dilakukan secara langsung di atas tanah, itu sah karena barang tersebut dapat dilihat secara langsung sehingga dapat diketahui dan dilingkupi seluruhnya.
فإن قيل العيان لا يقدّر الصبرة إلا خرْصاً وحزْراً وقد لا يعرف الحَزْر إلاَّ الخواصُّ من الناس ثم صح البيع دلَّ أن القدرَ ليس معنِياً ولما كان القدر معنيّاً معتبراً في الربويات لم يجز التعويلُ فيها على العيان واعتقد مالكٌ الاعتناءَ بمعرفة المقدار فمنع بيع الصُّبرة جزافاً بالدراهم ومنع بيع السلعة بكف من الدراهم جزافاً
Jika dikatakan bahwa penglihatan langsung terhadap tumpukan barang hanya dapat memperkirakan jumlahnya secara taksiran dan dugaan, dan terkadang perkiraan itu hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, namun jual beli tetap sah, maka hal itu menunjukkan bahwa takaran bukanlah hal yang menjadi tujuan utama. Adapun karena takaran adalah hal yang diperhitungkan dalam barang-barang ribawi, maka tidak boleh mengandalkan penglihatan langsung saja dalam jual belinya. Malik berpendapat bahwa mengetahui takaran adalah hal yang penting, sehingga beliau melarang jual beli tumpukan barang secara sembarangan dengan dirham, dan melarang jual beli barang dengan segenggam dirham secara sembarangan.
قلنا أما الربويات فالتعويل فيها على التعبد وما تعبدنا فيه بالكيل لا نقنع فيه بالوزن وإن كان أَحْصرَ وأما ما ذكره السائل من الحزر واختصاص بعض الناسِ به فصحيح ولكن العقد يبتنى على إحاطة العيان لا على إحاطة المقدار؛ فالذي عاين الصُّبرة واشتراها اعتقدَ أن الصبرةَ إلى استواء الأرض حنطةٌ وربط العقدَ به فهذا هو المعتبرُ لا الحزر
Kami katakan, adapun barang-barang ribawi, maka dasar hukumnya adalah pada aspek ta‘abbud (ketaatan terhadap ketentuan syariat), dan apa yang telah ditetapkan syariat untuk ditakar, maka kita tidak cukupkan dengan ditimbang, meskipun penimbangan itu lebih teliti. Adapun apa yang disebutkan penanya tentang perkiraan (takaran kira-kira) dan kekhususan sebagian orang dalam hal itu, memang benar, tetapi akad jual beli didasarkan pada penglihatan langsung, bukan pada kepastian ukuran; maka orang yang telah melihat tumpukan (barang) dan membelinya, ia meyakini bahwa tumpukan itu sampai rata dengan tanah adalah gandum, dan ia mengaitkan akad dengan hal itu, maka inilah yang dianggap, bukan perkiraan.
وعلى الجملة لِما بحث السائل عنه وَقْعٌ
Secara keseluruhan, apa yang ditanyakan oleh penanya memang memiliki dasar atau kenyataan.
وقد ذهبَ بعض أصحابنا فيما حكاهُ الشيخ أبو علي في مذهبه الكبير أن جهالةَ المقدارِ لا تُلحق البيعَ ببيع الغائب ولكنه من تفرّداته وإنما يُفتَى بما يأتي به في شرحه فلذلك أخرتها فهذه مسألة
Sebagian ulama kami berpendapat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syekh Abu Ali dalam kitabnya yang besar, bahwa ketidakjelasan kadar (barang) tidak menjadikan jual beli tersebut disamakan dengan jual beli barang yang tidak hadir. Namun, pendapat ini merupakan kekhasan beliau sendiri, dan fatwa hanya diberikan berdasarkan apa yang beliau sampaikan dalam penjelasannya. Oleh karena itu, saya menunda pembahasannya. Inilah permasalahannya.
ومن مسائل الفصل أنه لو باع السمنَ مع الظرف كل منّ بكذا وشَرَطَ طرحَ وزن الظرف صح البيع وإن قال بعتُك هذا السمنَ كلَّ مَن بكذا على أن أزنه بظرفه ولا أحط وزنَ الظرف فهذا باطل؛ لأنه وجه العقد على السمن ثم شرط أن يتسلم ما ليس بسمن بدلاً عن السمن وهذا قولٌ متناقض؛ فلا ينعقد البيع
Di antara permasalahan dalam bab ini adalah jika seseorang menjual minyak samin beserta wadahnya, setiap satu man dengan harga tertentu, dan mensyaratkan pengurangan berat wadah, maka jual beli tersebut sah. Namun, jika ia berkata, “Aku jual kepadamu minyak samin ini, setiap satu man dengan harga tertentu, dengan syarat aku akan menimbangnya beserta wadahnya dan tidak mengurangi berat wadah,” maka jual beli ini batal; karena ia menjadikan akad atas minyak samin, lalu mensyaratkan agar yang diterima bukan hanya minyak samin, melainkan juga wadahnya sebagai pengganti minyak samin. Ini adalah pernyataan yang kontradiktif; sehingga jual belinya tidak sah.
وإن قال بعتُك السمن مع الظرف كل من بكذا فمقتضى لفظه لا تناقض فيه ومقصوده وزن الظرف مع السمن وبيعه بحسابه فإن كان الظرف متقوّماً بحيث يصح إفراده بالبيع فالبيع صحيح وإن اختلفَ جنس السمن والظرف وقد تختلف القيمة وهو كبيع الفواكه المختلطة على وزن واحدٍ في الجميع
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu minyak samin beserta wadahnya, masing-masing seharga sekian,” maka menurut lafaz tersebut tidak terdapat kontradiksi, dan maksudnya adalah menimbang wadah bersama minyak samin dan menjualnya berdasarkan timbangannya. Jika wadah tersebut memiliki nilai (mutaqawwam) sehingga sah dijual secara terpisah, maka jual beli tersebut sah, meskipun jenis minyak samin dan wadahnya berbeda dan nilainya bisa saja berbeda. Hal ini seperti menjual buah-buahan yang bercampur dengan satu timbangan untuk semuanya.
وقال بعض أصحابنا لا يجوز البيع كذلك؛ لأنه لا يعرف قدر السمن والظرف والمقاصد تختلف في ذلك وقد قدمنا في الفواكه المختلطة كلاماً فيما مضى فلو كانا عالمين بمقدار الظرف وجرى العقد كما ذكرناه صح بلا خلافٍ
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa jual beli seperti itu tidak boleh dilakukan, karena tidak diketahui kadar minyak samin dan wadahnya, sedangkan tujuan-tujuan orang berbeda-beda dalam hal tersebut. Kami telah mengemukakan pembahasan mengenai buah-buahan yang tercampur pada bagian sebelumnya. Maka, jika kedua belah pihak mengetahui kadar wadahnya dan akad dilakukan sebagaimana yang telah kami sebutkan, maka jual belinya sah tanpa ada perbedaan pendapat.
فرع
Cabang
إذا قال بعتك من هذا السمن كلَّ منّ بدرهم أو بعتك من هذه الصُّبرة كلَّ صاع بدرهم فلفظه ليس يتضمن استيعاب الجميع؛ فإن من مقتضاه التبعيضُ فلا يصح العقد بهذا اللفظ في جميع السمن والصبرة وهل يصح العقد في منّ أو صاع
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu dari mentega ini setiap satu mann seharga satu dirham,” atau “Aku menjual kepadamu dari tumpukan ini setiap satu sha‘ seharga satu dirham,” maka lafaz tersebut tidak mencakup keseluruhan barang; karena maknanya mengandung unsur pembagian, sehingga akad dengan lafaz seperti ini tidak sah untuk seluruh mentega atau seluruh tumpukan itu. Adapun apakah akad sah untuk satu mann atau satu sha‘, maka hal ini masih diperselisihkan.
ذكر صاحب التقريب فيه وجهين وشبَّهها بمسألة في الإجارة وهي إذا قال
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan di dalamnya dua pendapat dan menyerupakannya dengan suatu permasalahan dalam bab ijarah, yaitu apabila seseorang berkata…
آجرتك هذا الحانوتَ كل شهر بعشرةٍ فليس للإجارة أمد بحدود وإنما هي معقودةٌ على الأبدِ والمعتمد تبيين حصَّةِ كل شهر فالإجارةُ فاسدة فيما وراء الشهر الأول وهل تصح في الشهر الأول بالقِسط المذكور فعلى وجهين قال صاحب التقريب الصاع من الصبرة بمثابة الشهر في الصورة التي ذكرناها وما ذكره قريبٌ ولكن الأصح فساد الإجارة في الشهر الأول والوجه المذكور فيه ساقط غير معتدِّ به
Aku menyewakan kepadamu toko ini setiap bulan dengan sepuluh (dirham), maka sewa-menyewa ini tidak memiliki batas waktu tertentu, melainkan diadakan untuk selamanya. Pendapat yang dipegang adalah harus dijelaskan bagian setiap bulan, sehingga akad sewa-menyewa ini batal untuk bulan-bulan setelah bulan pertama. Adapun apakah akad ini sah untuk bulan pertama dengan tarif yang disebutkan, terdapat dua pendapat. Penulis kitab at-Taqrib mengatakan bahwa satu sha‘ dari tumpukan (barang) itu serupa dengan bulan dalam gambaran yang telah kami sebutkan. Apa yang ia sebutkan memang mendekati, namun pendapat yang lebih sahih adalah batalnya akad sewa-menyewa pada bulan pertama, dan pendapat yang disebutkan tadi tidak dianggap dan tidak diperhitungkan.
فرع
Cabang
إذا قال بعتك السمن مع ظرفهِ هذا كل من بدرهمٍ وكان الظرف غير متقوم؛ بحيث لو قدر إفراده بالبيع لم يصح فقد قطع بعض أصحابنا بفساد البيع في السمن؛ من حيث اشتمل على اشتراط بذل مالٍ في مقابلةِ ما ليس بمال والوجه عندنا تخريج هذا على تفريق الصفقة فالزق مع السمن جُمعا في العقد وقوبلا بالثمن فكان ذلك كصفقة تجمع حُرّاً وعبداً أو شاة وخنزيراً
Jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu minyak samin beserta wadahnya ini, semuanya seharga satu dirham,” dan wadah tersebut bukanlah sesuatu yang bernilai (tidak dianggap sebagai mal); sehingga jika wadah itu dijual secara terpisah, maka jual belinya tidak sah, maka sebagian ulama kami menegaskan bahwa jual beli minyak samin tersebut batal, karena mengandung syarat memberikan harta sebagai imbalan atas sesuatu yang bukan harta. Namun menurut pendapat kami, masalah ini dikembalikan kepada kaidah tafriq ash-shafqah (memisahkan akad); yaitu wadah dan minyak samin digabungkan dalam satu akad dan keduanya dijadikan sebagai objek harga, sehingga hal itu seperti akad yang menggabungkan antara orang merdeka dan budak, atau antara kambing dan babi.
فصل
Bab
قال ولو اشترط الخيار في البيع أكثرَ من ثلاث إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika disyaratkan hak khiyar dalam jual beli lebih dari tiga hari hingga seterusnya…”
قد سبق القول في خيار المجلس وخيار الشرط على أبلغ وجهٍ في الاستقصاءِ والغرض من ذكر هذا الفصل بيانُ ميل النص إلى وجهٍ ضعيف في القياس ثم نذكر بعد التنبيه ما رأيناه للأصحاب فإن كان زائداً على ما قدمناه في صدر الكتاب فليضمَّه الناظرُ إلى ما تقدَّم وإن لم يكن زائداً لم تضر الإعادة
Telah dijelaskan sebelumnya tentang khiyār majlis dan khiyār syarat dengan penjelasan yang paling lengkap dan mendalam. Tujuan dari penyebutan bab ini adalah untuk menunjukkan kecenderungan nash kepada pendapat yang lemah dalam qiyās, kemudian setelah penjelasan tersebut kami akan menyebutkan pendapat yang kami temukan dari para ashhab. Jika pendapat itu merupakan tambahan dari apa yang telah kami sampaikan di awal kitab, maka hendaknya pembaca menggabungkannya dengan penjelasan sebelumnya. Namun jika tidak ada tambahan, maka pengulangan itu tidaklah bermasalah.
ظهر اختلاف الأصحاب في أن البيع إذا اشتمل على شرط خيار ثلاثة أيامٍ فابتداء زمان الخيار يحسب من وقت العقد أو من وقت التفرق فيه وجهان ذكرناهما أقيسهما أنه من وقتِ العقد؛ فإن وقت التفرق مجهول والمجلس قد يقصر وقد يطول وإثبات المجهول لا يليق بعقد البيع هذا هو القياس
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para sahabat (ulama mazhab) mengenai apakah dalam jual beli yang mengandung syarat khiyār selama tiga hari, awal waktu khiyār dihitung sejak waktu akad atau sejak waktu berpisah (dari majelis akad). Ada dua pendapat yang telah kami sebutkan; pendapat yang lebih sesuai dengan qiyās adalah bahwa awal waktu khiyār dihitung sejak waktu akad, karena waktu berpisah tidak diketahui, dan majelis bisa saja singkat atau lama, sehingga menetapkan sesuatu yang tidak diketahui tidaklah layak dalam akad jual beli. Inilah yang sesuai dengan qiyās.
والوجه الثاني أن ابتداء المدة محسوبٌ من وقت التفرق وعليه يدلّ نص الشافعي وقد ذكرنا توجيهَ هذا الوجه في موضعهِ والغرضُ من إعادته ما ذكرنا من ميل النصّ إليه
Pendapat kedua adalah bahwa awal masa dihitung sejak waktu berpisah, dan hal ini didukung oleh nash dari asy-Syafi‘i. Kami telah menjelaskan alasan pendapat ini pada tempatnya, dan tujuan pengulangan ini adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu kecenderungan nash kepada pendapat tersebut.
وإذا كان كذلك فيتعين الاعتناءُ بالجواب عما ذكره صاحبُ الوجهِ الآخر من الجهالةِ فنقول لا جهالةَ في الخيارِ المشروط وإنما الجهالةُ في أمدِ المجلس وذلك محتمل بلا خلافٍ والذي ذكره ناصرُ ذلك الوجهِ لا يفضي إلى جهالةٍ في الخيار المشروط فإن جُهِلَ مبتدؤه فهو بمثابة الجهل بمبتدأ لزوم الملك وهذا بالِغٌ في دفع فصل الجهالةِ
Jika demikian, maka wajib memberikan perhatian pada jawaban terhadap apa yang disebutkan oleh pihak yang mengambil pendapat lain mengenai adanya ketidakjelasan. Maka kami katakan: tidak ada ketidakjelasan dalam khiyār yang disyaratkan, melainkan ketidakjelasan itu terdapat pada batas waktu majelis, dan hal itu dapat diterima tanpa ada perbedaan pendapat. Apa yang disebutkan oleh pendukung pendapat tersebut tidak menyebabkan adanya ketidakjelasan dalam khiyār yang disyaratkan. Jika permulaannya tidak diketahui, maka hal itu serupa dengan ketidaktahuan terhadap awal berlakunya kepemilikan, dan ini sudah cukup untuk menolak adanya perbedaan dalam masalah ketidakjelasan.
والذي يتوجَّه به النصُّ أن شرط الخيار يشعر بتخير مشروطٍ لولا الشرطُ لثبت نقيضُه ولو أثبتنا خيار الشرط من ابتداء العقد لما كان في الشرط معنى والخيارُ ثابتٌ لحق المجلس والأجلُ المطلق في العقد خارج على الخلاف أيضاً ولكن الإمام كان يرتّبه على خيار الشرط ويقول إن حكمنا بأن ابتداءَ الخيارِ محسوبٌ من وقتِ العقد فالأجل بذلك أولى وإن قلنا ابتداءُ خيار الشرط من وقت التفرق ففي الأجل وجهان والفرق أن الخيارَ يجانس الخيارَ فيبعد اجتماعهما
Teks yang ditunjukkan oleh nash adalah bahwa syarat khiyār menunjukkan adanya pilihan yang disyaratkan, yang mana jika tidak ada syarat tersebut maka akan tetap berlaku kebalikannya. Jika kita menetapkan khiyār syarat sejak awal akad, maka syarat itu tidak lagi memiliki makna, karena khiyār sudah tetap karena hak majelis, sedangkan tenggat waktu mutlak dalam akad juga menjadi perdebatan. Namun, Imam biasa mengaitkannya dengan khiyār syarat dan berkata: Jika kita memutuskan bahwa permulaan khiyār dihitung sejak waktu akad, maka tenggat waktu lebih utama demikian pula. Namun jika kita katakan bahwa permulaan khiyār syarat sejak waktu berpisah, maka dalam tenggat waktu ada dua pendapat. Perbedaannya adalah bahwa khiyār sejenis dengan khiyār, sehingga sulit untuk menggabungkan keduanya.
والأجل يخالف الخيارَ في مقصوده ووضعه فلم يبعد أن يثبت في وقت ثبوت الخيار
Jatuh tempo berbeda dengan khiyār dalam tujuan dan fungsinya, maka tidaklah mustahil jika jatuh tempo itu ditetapkan pada waktu penetapan khiyār.
فإن قيل هذا الفرق واضح جداً فما وجه قول من يقول الأجلُ يحسب ابتداؤه من وقت التفرق قلنا وجهه أن المقصود من الأجل تأخير الطلِبة بالثمن وهذا المقصود يحصل بالخيار؛ فإن البائع لا يملك الطَّلِبةَ بالثمن في زمان الخيار فالأجل وإن لم يكن خياراً فمقصودُه يضاهِي مقصودَ الخيارِ ولذلك يمتنع شرط الأجل في البيع الذي يمتنع فيه شرط الخيار
Jika dikatakan bahwa perbedaan ini sangat jelas, lalu apa alasan orang yang berpendapat bahwa awal jatuh tempo dihitung sejak waktu berpisah? Kami katakan, alasannya adalah bahwa maksud dari jatuh tempo adalah menunda penagihan pembayaran harga, dan maksud ini tercapai dengan adanya khiyār; sebab penjual tidak berhak menagih pembayaran harga selama masa khiyār. Maka, meskipun jatuh tempo bukanlah khiyār, tujuannya mirip dengan tujuan khiyār. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan mensyaratkan jatuh tempo dalam jual beli yang tidak boleh disyaratkan adanya khiyār di dalamnya.
ومما يتعلق بتمام البيان في ذلك أنا إذا رأينا حَسْبَ ابتداء الأجل من وقت التفرق فلو اشتمل العقدُ على شرطِ الخيار ثلاثةَ أيام وأجل الثمن فيه فابتداء الأجل على الوجه الذي انتهينا إليه يحسب من أي وقت على وجهين أحدهما أنه يحسب من انقضاء الخيارِ المشروط حتى لا يجتمع الأجل والخيار كما أنا لا نجمع بين الأجل وخيارِ المجلسِ
Dan termasuk hal yang berkaitan dengan penjelasan yang sempurna dalam masalah ini adalah bahwa jika kita melihat bahwa permulaan jatuh tempo dihitung sejak waktu perpisahan, maka apabila akad mencakup syarat khiyār selama tiga hari dan ada tempo pembayaran harga di dalamnya, maka permulaan jatuh tempo menurut pendapat yang telah kami sebutkan dihitung dari waktu mana ada dua kemungkinan: pertama, dihitung sejak berakhirnya khiyār yang disyaratkan, sehingga tempo dan khiyār tidak berkumpul, sebagaimana kita juga tidak menggabungkan antara tempo dan khiyār majlis.
والثاني أنه يحسب من وقت التفرق عن المجلس وكأنَّ الثمنَ يلحقه نوعان من الأجل أحدهما يتضمن الخيار والثاني يتضمن الفُسحةَ والمهلة
Kedua, bahwa waktu dihitung sejak berpisah dari majelis, seolah-olah harga tersebut terkena dua jenis tenggang waktu: yang pertama mengandung unsur khiyar, dan yang kedua mengandung kelonggaran dan penundaan.
والوجه عندنا القطعُ بأن ابتداء الأجل من انقضاءِ الخيار المشروط على الوجهِ الذي عليه نفرع؛ فإن الأجل أحق بمجانسة خيارِ الشرط منه بمجانسة خيار المجلس والمجانسة تؤثر في منع الجمع
Menurut kami, pendapat yang benar adalah bahwa awal jatuh tempo dimulai sejak berakhirnya khiyār syarat, sebagaimana yang akan kami uraikan; sebab jatuh tempo lebih layak disamakan dengan khiyār syarat daripada dengan khiyār majlis, dan kesamaan tersebut berpengaruh dalam mencegah penggabungan.
فإن قلنا الخيار المشروط المطلق محسوبٌ من وقت التفرق فلو صرح العاقدان بحَسْب ابتدائه من وقت العقد ففي صحة العقد والشرط وجهان أحدهما أنهما إذا صرحا بذلك وقع الأمر كما شرطاه وإنما الكلام في الإطلاق
Jika kita mengatakan bahwa khiyār yang disyaratkan secara mutlak dihitung sejak waktu berpisah, maka jika kedua pihak yang berakad secara tegas menyatakan bahwa awal khiyār itu dimulai sejak waktu akad, maka dalam keabsahan akad dan syarat tersebut terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa jika keduanya telah menyatakannya secara tegas, maka berlaku sebagaimana yang mereka syaratkan; adapun pembahasan adalah pada kasus yang bersifat mutlak.
ومن أصحابنا من قال يفسد العقد والشرط
Dan sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa akad dan syaratnya menjadi batal.
وحقيقةُ هذا الخلاف ترجع إلى أن منع الجمع بين الخيارين من مقتضى اللفظ المطلق أم هو حكم يجب اتباعه وهذا مختلف فيه فمن راعى من أصحابنا في صورةِ الإطلاق مقتضى اللفظ وزعم أن شرط الخيار مشعر بثبوت تخيرٍ لولاه لكان اللزوم بدلَه فإذا وقع التصريح بجمع الخيارين لم يمتنع عنده
Hakikat perbedaan pendapat ini kembali kepada pertanyaan apakah larangan menggabungkan dua khiyar merupakan konsekuensi dari lafaz yang bersifat mutlak ataukah merupakan hukum yang wajib diikuti. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Di antara para ulama kami, ada yang memandang bahwa dalam keadaan lafaz yang mutlak, yang menjadi pertimbangan adalah konsekuensi lafaz tersebut. Mereka berpendapat bahwa syarat khiyar menunjukkan adanya pilihan, yang jika tidak ada, maka yang berlaku adalah keharusan (lazim) sebagai gantinya. Oleh karena itu, jika secara tegas dinyatakan penggabungan dua khiyar, maka menurut mereka hal itu tidak terlarang.
ومن اتبع الحكمَ ورأى اجتماعَ الخيارين بعيداً واعتقد أن خيار الشرط لغوٌ مع خيار المجلس فالتصريحُ بالشرط يفسُد من طريق الحكم ولا يبعد أن يؤثر في فسادِ العقد
Dan barang siapa yang mengikuti hukum serta memandang bahwa berkumpulnya dua pilihan itu mustahil, serta meyakini bahwa khiyār syarṭ menjadi sia-sia jika digabungkan dengan khiyār majlis, maka penegasan syarat tersebut menjadi batal dari segi hukum, dan tidak mustahil bahwa hal itu berpengaruh pada rusaknya akad.
وهذا فيه نظر عندنا وإن اتبعنا الحكمَ فَقُصارَاهُ أن يلغوَ خيار وليس الخيارُ مقصوداً في البيع؛ حتى يؤثِّر كونُه لغواً في إفساد البيع والشرط المفسد هو الذي يغير مقصوداً من العقد
Hal ini masih perlu ditinjau menurut kami. Jika kita mengikuti hukum tersebut, paling jauh hanya akan menggugurkan hak khiyar, padahal khiyar bukanlah tujuan utama dalam jual beli; sehingga keberadaannya yang dianggap sia-sia tidak berpengaruh dalam membatalkan jual beli. Syarat yang membatalkan adalah syarat yang mengubah tujuan utama dari akad.
فالأظهر إذاً أَنَّ المتعاقدَيْن إذا صرَّحا باحتساب ابتداء الخيارِ من وقتِ العقدِ جاز ذلك وقد يتجه لمن يميل إلى الإفساد شيء وهو أن يقول إذا كان يلغو خيار الشرط في زمان المجلس فكأَنْ لا خيارَ من جهة الشرط في المجلس وإنما يثبتُ منه ما يقع بعد التفرق ولا يدرَى كم قدرُه فهو خيار مجهول المقدار
Maka yang lebih kuat adalah bahwa jika kedua pihak yang berakad secara tegas menyatakan bahwa awal masa khiyār dihitung sejak waktu akad, maka hal itu diperbolehkan. Namun, ada kemungkinan bagi yang cenderung membatalkan (pendapat ini) untuk mengatakan: Jika khiyār syarat menjadi tidak berlaku selama masa majelis, maka seakan-akan tidak ada khiyār dari sisi syarat selama di majelis, dan yang tetap hanyalah khiyār yang terjadi setelah berpisah. Namun tidak diketahui berapa lamanya, sehingga khiyār tersebut menjadi khiyār yang tidak jelas jangka waktunya.
وإذا فرعنا على أن خيار الشرط عند الإطلاق محسوب من ابتداء العقد فلو صرّح المتعاقدان بشرط احتساب أول مدة الخيار من وقت التفرق فالذي قطع به الأصحاب أن هذا مفسد للعقد على الوجه الذي نفرع عليه ووجه ذلك ظاهر؛ فإن المعتمد عند هذا القائل ما في ذلك من الجهالةِ وإذا وقع التصريح بها فالوجه الحكم بالفساد
Jika kita membangun pendapat bahwa khiyār syarṭ ketika tidak disebutkan secara spesifik dihitung sejak awal akad, maka jika kedua pihak yang berakad secara tegas mensyaratkan bahwa awal masa khiyār dihitung sejak waktu berpisah, para ulama yang terkemuka secara tegas menyatakan bahwa hal ini merusak akad menurut pendapat yang sedang kita bahas, dan alasannya jelas; karena yang dijadikan sandaran oleh pendapat ini adalah adanya unsur jahālah (ketidakjelasan), dan jika ketidakjelasan itu dinyatakan secara tegas, maka yang tepat adalah menetapkan kerusakan akad.
وذكر صاحب التقريب وجهين على هذا الوجه كالوجهين اللذين فرعناهما على الوجه الأول
Penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat pada pendapat ini, sebagaimana dua pendapat yang telah kami rincikan pada pendapat pertama.
وهذا لا أصل له؛ فإن الوجهين المذكورين المفرَّعين على الوجه الأول مأخوذان من التردد في أن ذلك الوجه مبنيٌّ على حكم متَّبع أم هو متلقًّى من صيغة اللفظِ المطلق ولا ينقدح في الوجه الثاني هذا؛ فإن المعتمد في الوجهِ الثاني اجتنابُ الجهالة والتصريحُ بهذا يناقض المقصودَ
Hal ini tidak memiliki dasar; sebab dua pendapat yang disebutkan dan diturunkan dari pendapat pertama diambil dari keraguan apakah pendapat tersebut didasarkan pada hukum yang diikuti ataukah berasal dari lafaz mutlak itu sendiri, dan hal ini tidak mungkin terjadi pada pendapat kedua; karena yang menjadi sandaran pada pendapat kedua adalah menghindari ketidakjelasan, dan penegasan seperti ini justru bertentangan dengan maksud yang diinginkan.
ومما فرعه الأصحاب في ذلك أن البيع إذا اشتمل على خيار الشرط فإذا قلنا ابتداؤه محتسب من وقت العقد فلو قال المتعاقدان في المجلس أبطلنا الخيارَ فهذا يتضمن قطعَ الخيارين؛ فإن الإبطال صادفهما جميعاً وإذا قلنا ابتداءُ خيار الشرط محسوب من وقت التفرق فإذا قالا في المجلس أبطلنا الخيار
Di antara cabang permasalahan yang dijelaskan oleh para ulama dalam hal ini adalah bahwa apabila jual beli mengandung khiyār syarat, maka jika kita mengatakan bahwa permulaan masa khiyār dihitung sejak waktu akad, lalu kedua belah pihak yang berakad berkata di majelis, “Kami membatalkan khiyār,” maka hal itu berarti memutuskan kedua khiyār sekaligus; karena pembatalan tersebut mengenai keduanya. Namun jika kita mengatakan bahwa permulaan khiyār syarat dihitung sejak waktu berpisah, lalu keduanya berkata di majelis, “Kami membatalkan khiyār,”…
وأطلقا ذلك فينقطع خيار المجلس وفي بطلان خيار الشرط وجهان أحدهما أنه لا يبطل؛ فإن إبطالهما لم يصادفه فوجب أن يقصر على خيار المجلس
Keduanya menyatakan demikian, maka hak khiyār majelis pun terputus. Adapun mengenai batalnya khiyār syarat, terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa khiyār syarat tidak batal; sebab pembatalan keduanya tidak mengenainya, sehingga harus dibatasi hanya pada khiyār majelis.
والثاني أنه يبطل خيارُ الشرط؛ فإن إطلاقَ إبطالِ الخيار يتضمَّن قصد إلزام العقد؛ وهذا يقتضي قطعاً قطعَ التأخير ودفعَ ما سيقع
Kedua, bahwa pilihan syarat menjadi batal; karena pernyataan membatalkan pilihan secara mutlak mengandung maksud untuk mewajibkan akad; dan hal ini secara pasti menuntut untuk menghentikan penundaan dan mencegah apa yang akan terjadi.
Bab larangan menjual barang yang mengandung gharar dan harga jasa pejantan.
ذكر الشافعي نَهْي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ثمن عَسْبِ الفَحلِ وذلك أن يستأجر فحلاً للضّرابِ بمال يبذله فهو باطل لأن المالَ إن بذل على مقابلة الماء كان باطلاً؛ إذ لا قيمة له وإن كان مبذولاً على مقابلة الضراب فهو مجهول وليس هو مما يقع على وجهٍ واحدٍ وقد لا يقع فكان في حكم ما يخرج عن مقدور تحصيله
Imam Syafi‘i menyebutkan larangan Rasulullah saw. terhadap upah dari jasa pejantan, yaitu menyewakan pejantan untuk mengawini betina dengan imbalan uang yang diberikan. Hal ini batal karena jika uang itu diberikan sebagai imbalan atas air mani, maka itu batal karena air mani tidak memiliki nilai. Jika uang itu diberikan sebagai imbalan atas proses mengawini, maka hal itu tidak jelas (majhūl) dan bukan sesuatu yang terjadi dengan satu cara saja, bahkan bisa jadi tidak terjadi sama sekali, sehingga termasuk dalam hukum sesuatu yang di luar kemampuan untuk diperoleh.
واستعارةُ الفحل للضراب مسوَّغةٌ فإن الضراب والتسبب إليه ليس محرَّماً والاستعارة لا تقتضي اجتنابَ الجهالة
Meminjamkan pejantan untuk mengawini (betina) diperbolehkan, karena mengawini dan sebab-sebab yang mengantarkannya tidaklah diharamkan, dan peminjaman tidak menuntut untuk menghindari unsur ketidakjelasan (jahālah).
فصل
Bab
ذكر الشافعي نهي رسول الله عن بيع الغَرر ثم عدَّ وجوهاً من الغَرر المفسدِ للبيع ونحن نجري على ترتيبه فيها
Imam Syafi‘i menyebutkan larangan Rasulullah terhadap jual beli gharar, kemudian beliau menyebutkan beberapa bentuk gharar yang merusak akad jual beli, dan kami akan mengikuti urutan beliau dalam hal ini.
ومعنى الغَررِ ما ينطوي عن الإنسان عاقبتُه ومنه أغرّ الثوب فيقال ردَّ الثوب إلى غَرِّه أي إلى طيّه الأول
Makna gharar adalah sesuatu yang akibatnya tersembunyi bagi manusia. Di antaranya adalah ungkapan agharra ats-tsaub, yang berarti mengembalikan kain ke ghar-nya, yaitu ke lipatan pertamanya.
ثم لا يحرم كل غرر؛ إذ ما من عقدٍ إلا ويتطرَّق إليه نوع من الغرر وإن خفي
Kemudian, tidak setiap gharar itu diharamkan; sebab tidak ada satu akad pun kecuali pasti terdapat padanya suatu bentuk gharar, meskipun samar.
وقد نص الشافعيُّ على الوجوه المؤثِّرة فمما ذكره بيع الجمل الشارد والعبد الآبق وهو باطل؛ فإن البيع يقتضي تسليمَ المعقود عليه فينبغي أن يكون التسليم ممكناً فإذا عُدَّ متعذّراً في العرف قُضي ببطلان العقدِ وهذا يختلف باختلاف الأحوال وصفات العاقدين؛ فإذا أبقَ العبدُ وخفي مكانُه فبيعه باطل لما ذكرناه ولا يشترط في الحكم بالبطلان اليأسُ من التسليم بل يكتفَى بظهور التعذُر
Syafi‘i telah menegaskan tentang aspek-aspek yang berpengaruh, di antaranya yang beliau sebutkan adalah jual beli unta liar dan budak yang melarikan diri, dan hal itu batal; karena jual beli menuntut adanya penyerahan objek akad, sehingga penyerahan itu harus mungkin dilakukan. Jika penyerahan dianggap mustahil menurut kebiasaan, maka diputuskan batalnya akad. Hal ini berbeda-beda tergantung pada keadaan dan sifat para pihak yang berakad; jika budak melarikan diri dan tempatnya tidak diketahui, maka jual belinya batal sebagaimana telah dijelaskan. Dalam menetapkan kebatalan tidak disyaratkan harus putus asa dari kemungkinan penyerahan, tetapi cukup dengan tampaknya kemustahilan penyerahan tersebut.
وإذا باع عبداً مغصوباً فهذا يختلف فإن كان البائع يقدر على استرداده من الغاصب وتسليمه صحّ البيعُ وإن كان لا يقدر عليه لضعفه واستظهار الغاصب بفضلِ قوته فالبيع مردود
Jika seseorang menjual seorang budak yang digasap, maka hukumnya berbeda-beda: jika penjual mampu mengambil kembali budak itu dari penggasap dan menyerahkannya, maka jual belinya sah. Namun jika penjual tidak mampu mengambilnya karena kelemahannya dan penggasap lebih kuat darinya, maka jual belinya batal.
ولو كان المشتري قادراً على أخذه من الغاصب وكان البائع عاجزاً عنه ففي صحَّة البيع خلاف بين الأصحاب منهم من أفسده نظراً إلى عجز البائع؛ فإنه هو الذي يجب عليه التسليم فإذا عجز عمَّا يجب عليه بحكم العقد لم يصح ومنهم من قال يصح العقدُ نظراً إلى قدرة المشتري على الوصول إلى حقه وهذا هو الأصح
Jika pembeli mampu mengambil barang dari pihak yang merampasnya, sedangkan penjual tidak mampu mengambilnya, maka terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai keabsahan jual beli tersebut. Sebagian dari mereka membatalkannya dengan mempertimbangkan ketidakmampuan penjual, karena penjual adalah pihak yang wajib menyerahkan barang, sehingga jika ia tidak mampu melaksanakan kewajibannya berdasarkan akad, maka akad tersebut tidak sah. Namun, sebagian yang lain berpendapat bahwa akad tersebut sah dengan mempertimbangkan kemampuan pembeli untuk memperoleh haknya, dan pendapat inilah yang lebih kuat.
ولكن إن علم المشتري حقيقةَ الحال فلا خيارَ له وإن جهل وظن أن المبيع في يد البائع فله الخيار؛ فإن العقد لا يُلزمه تكلّفَ تحصيل المبيع
Namun, jika pembeli mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ia tidak memiliki hak khiyar. Tetapi jika ia tidak tahu dan mengira bahwa barang yang dibeli masih berada di tangan penjual, maka ia memiliki hak khiyar; karena akad tidak mewajibkannya untuk bersusah payah mendapatkan barang yang dibeli.
ثم إذا شرع في العقد على علمٍ وتوجَّه على البائع التسليمُ فإذا عجز عنه ولم يتمكن من تحصيله بنفسه فيثبتُ الخيارُ أيضاً للمشتري وإن شرع في العقد على علم هذا هو الأصحّ
Kemudian, apabila akad telah dimulai dengan pengetahuan, dan kewajiban penyerahan barang telah dibebankan kepada penjual, lalu penjual tidak mampu menyerahkannya dan tidak dapat memperolehnya sendiri, maka hak khiyar juga tetap berlaku bagi pembeli, meskipun akad telah dimulai dengan pengetahuan; inilah pendapat yang paling sahih.
فإن قيل هذا يناقض ما ذكرتموه الآن من الفرق بين العلم والجهل؛ فإنكم أثبتم الخيار مع العلم أخيراً قلنا الفرق قائم؛ فإنه إذا كان جاهلاً فعَلِم تخيَّر وإن لم يدخل وقتُ وجوبِ تسليم المبيع على التفصيل المقدم في أقوال البداية وإذا شرع في العقد على علم فلا خيارَ له ما لم يدخل وقتُ وجوب التسليم
Jika dikatakan bahwa hal ini bertentangan dengan apa yang kalian sebutkan sebelumnya tentang perbedaan antara mengetahui dan tidak mengetahui; sebab kalian menetapkan adanya hak khiyar meskipun dengan pengetahuan pada akhirnya, maka kami katakan perbedaannya tetap ada; yaitu jika seseorang awalnya tidak tahu lalu kemudian mengetahui, maka ia berhak memilih (khiyar) meskipun belum masuk waktu wajibnya penyerahan barang yang dijual, sesuai rincian yang telah disebutkan pada pendapat-pendapat di awal. Namun jika ia memulai akad dengan pengetahuan, maka ia tidak memiliki hak khiyar kecuali setelah masuk waktu wajibnya penyerahan.
ويجوز تزويج الآبقة وينفذ عتقُها؛ فإن التزويج والعتق لا يفتقران إلى تسليمٍ حتى يُرعَى فيهما إمكان التسليم
Boleh menikahkan budak yang melarikan diri (ābiqah) dan sah pembebasannya; karena pernikahan dan pembebasan tidak memerlukan penyerahan, sehingga tidak disyaratkan kemungkinan penyerahan dalam keduanya.
ومما ذكره الشافعي من أنواع الغرر بيعُ الطائر في الهواء
Di antara jenis gharar yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i adalah menjual burung yang masih berada di udara.
والتفصيل فيه أنه إذا لم يكن مملوكاً للبائع فلا شكّ في فساد العقد وإن كان مملوكاً للبائع لكنه أفلت وكان الوصول إليه متعذراً فبيعُه فاسدٌ؛ لما قدمناه من فساد بيع ما لا يقدر على تسليمه
Rinciannya adalah bahwa jika barang tersebut bukan milik penjual, maka tidak diragukan lagi bahwa akadnya batal. Namun jika barang tersebut milik penjual tetapi terlepas dan sulit untuk didapatkan, maka penjualannya batal; karena telah dijelaskan sebelumnya bahwa batal hukumnya menjual sesuatu yang tidak mampu diserahkan.
وأما الحماماتُ التي تكون مملوكةً والتي تطير نهاراً وتأوِي إلى أوكارها ليلاً فالمذهب صحة بيعها نهاراً؛ بناءً على عوْدِها الغالب وهو كتصحيحنا بيعَ العبدِ الغائب الذي نرجو إيابه وأبعد بعض أصحابنا فمنع بيعها قبل أن تأوي؛ فإن عودها على حكم عادة والآفات كثيرةُ الطروق ولا ثقة بما لا عقل له والصحيح التصحيح
Adapun burung merpati yang dimiliki dan biasa terbang pada siang hari serta kembali ke sarangnya pada malam hari, maka menurut mazhab, jual beli burung tersebut pada siang hari adalah sah; berdasarkan kebiasaan umumnya burung itu kembali, sebagaimana kami mensahkan jual beli budak yang sedang tidak ada namun diharapkan kembali. Sebagian ulama kami berpendapat lebih jauh dengan melarang jual belinya sebelum burung itu kembali ke sarangnya, karena kembalinya burung hanya berdasarkan kebiasaan, sementara banyak bahaya yang dapat menghalangi, dan tidak dapat dipercaya pada sesuatu yang tidak berakal. Namun pendapat yang benar adalah membolehkan jual belinya.
ومما يذكر في ذلك وبه تمام البيان أن الشيء الذي يتوصل إلى تسليمه ولكن بعد تعذّرٍ وعُسرٍ ظاهرٍ كالطَّائر في دار فيحاءَ متسعةِ الرقعة إذا لم يكن لها منفذ فالوصول إليها مع تحمل العسر متصوّر فإذا بيع ما وصفناه ففي صحة البيع وجهان أحدهما لا يصح لتحقق التعذّر حالة العقد والثاني أن البيع يصح لتحقق الإمكان وإن كان مع عسرٍ بيّن وهذا بمثابة تصحيح بيع العبد الآبق الغائب الذي هو على مسافةٍ بعيدةٍ من المشتري
Perlu disebutkan di sini, sebagai penyempurna penjelasan, bahwa suatu barang yang memungkinkan untuk diserahkan namun setelah mengalami kesulitan dan kesukaran yang nyata—seperti burung di dalam rumah yang luas tanpa pintu keluar—maka mencapainya dengan menanggung kesulitan masih dapat dibayangkan. Jika barang seperti yang telah kami gambarkan itu dijual, terdapat dua pendapat mengenai keabsahan jual belinya: yang pertama, jual beli tidak sah karena pada saat akad terjadi ketidakmungkinan; yang kedua, jual beli sah karena pada dasarnya masih mungkin dilakukan meskipun dengan kesulitan yang jelas. Hal ini serupa dengan pendapat yang membolehkan jual beli budak yang melarikan diri dan sedang berada di tempat yang jauh dari pembeli.
فرجع حاصل القول إلى أن التعذر إذا تحقق حالةَ العقد ولم يكن التمكن موثوقاً به فالبيع فاسد قطعاً وإن كان التسليم ممكناً مع أدنى عُسر محتمل في العادة فالبيع صحيح وإن تحقق التعذر ولكن كان التمكن موثوقاً به مع معاناة عُسر ففي المسألة وجهان
Kesimpulan dari pembahasan ini kembali pada bahwa jika ketidakmungkinan benar-benar terjadi pada saat akad dan tidak ada keyakinan akan adanya kemampuan (untuk menyerahkan barang), maka jual beli itu batal secara pasti. Namun, jika penyerahan barang masih mungkin dilakukan meskipun dengan sedikit kesulitan yang masih dapat diterima menurut kebiasaan, maka jual beli itu sah. Dan jika ketidakmungkinan memang terjadi, tetapi ada keyakinan akan kemampuan (untuk menyerahkan barang) meskipun harus menghadapi kesulitan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat.
ومما ذكره الأصحاب بيعُ البرجِ وفيه الحمامات المملوكة أما القول في الحمامات فعلى ما فصّلناه وبيع البرج صحيح والتسليم فيه التخليةُ وهل يتم التسليم في الحمامات إذا أَوَتْ إلى البرج بالتخليةِ تبعاً للبرج والتفريع على أن لا يكفي في تسليم المنقولاتِ التخليةُ في المسألة وجهانِ وقد تقدَّم نظيرُهما في بيع الدار مع أقمشةٍ فيها
Di antara yang disebutkan oleh para ulama adalah jual beli menara yang di dalamnya terdapat pemandian-pemandian yang dimiliki. Adapun pembahasan mengenai pemandian-pemandian, telah kami rinci sebelumnya, dan jual beli menara adalah sah, serta penyerahannya dilakukan dengan cara membiarkan (takhliyah). Apakah penyerahan pada pemandian-pemandian yang berada di dalam menara juga cukup dengan takhliyah sebagai bagian dari menara? Hal ini bergantung pada pendapat bahwa takhliyah saja tidak cukup untuk penyerahan barang-barang bergerak dalam masalah ini, terdapat dua pendapat. Keduanya telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan jual beli rumah beserta kain-kain yang ada di dalamnya.
وبيع النحل في الكُوَارَة جائز وإن كانت خارجةً من الكُوَارَة ولكنها تَؤوبُ في العادة فالقول فيها كالقول في الحمامات الهادية
Menjual lebah di dalam sarangnya adalah boleh, meskipun sebagian lebah keluar dari sarang tersebut tetapi biasanya kembali, maka hukumnya sama seperti menjual burung merpati jinak.
ومما يُذكر في ذلك بيعُ السمك في الماء والتفصيل فيه كالتفصيل في الطير في الهواء فإن لم يكن مملوكاً فلا خفاءَ بفساد بيعه ولو كان مملوكاً فسبيل التفصيل ما مضى من كونه مقدوراً أو غير مقدور
Termasuk yang perlu disebutkan dalam hal ini adalah jual beli ikan di dalam air, dan perinciannya sama seperti perincian pada burung di udara. Jika ikan tersebut bukan milik seseorang, maka jelas jual belinya batal. Namun jika ikan tersebut adalah milik seseorang, maka perinciannya kembali pada apakah ikan itu dapat dikuasai atau tidak dapat dikuasai.
وقد يتصل بذلك أن السمكة إن كانت مرئيةً تحت الماء الصافي فتفصيل القول ما تقدَّم وإن كانت غير مرئيَّةٍ فينضم إلى ما ذكرناه القولُ في بيع ما لم يره المشتري
Terkait dengan hal itu, jika ikan tersebut terlihat di bawah air yang jernih, maka rincian pembahasannya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun jika ikan tersebut tidak terlihat, maka permasalahannya bergabung dengan pembahasan tentang jual beli sesuatu yang belum dilihat oleh pembeli.
وذكر أصحابنا طرقاً من الكلام في أن السمكة كيف تملك وما وجه ثبوت اليد عليها والقول في ذلك يتعلق بكتاب الصيد على ما سيأتي إن شاء الله تعالى
Para ulama kami menyebutkan beberapa cara dalam pembahasan tentang bagaimana ikan dapat dimiliki dan bagaimana cara menetapkan kepemilikan atasnya. Pembahasan mengenai hal ini berkaitan dengan Kitab al-Shayd, sebagaimana akan dijelaskan nanti, insya Allah Ta‘ala.
فرع
Cabang
من اصطاد سمكةَّ فَخرج من بطنها دُرَّةٌ فإن كانت مثقوبةً فهي لُقطةٌ؛ لقَطْعِنا بأنه لا يثقب الدرّةَ إلا مالكٌ وإن كانت غير مثقوبة فهي للصياد؛ لأنها بمثابة أجزاء السمكة في أنها مصادَفةٌ موجودة وليس عليها علامةُ ملك مالكٍ
Barang siapa yang menangkap seekor ikan lalu keluar dari perutnya sebuah mutiara, maka jika mutiara itu berlubang, ia adalah luqathah; karena kita yakin bahwa tidak ada yang melubangi mutiara kecuali pemiliknya. Namun jika mutiara itu tidak berlubang, maka ia menjadi milik si penangkap ikan; karena ia seperti bagian-bagian ikan lainnya yang ditemukan secara kebetulan dan tidak ada tanda kepemilikan dari seseorang atasnya.
وإن قدِّر فيها ملكٌ لم يبعُد تقدير الملك في السمكة أيضاً بأن تفرض مُفلِتةً بعد القبض عليها
Dan jika di dalamnya diperkirakan adanya kepemilikan, maka tidaklah jauh kemungkinan adanya kepemilikan pada ikan juga, yaitu dengan menganggap ikan tersebut terlepas setelah ditangkap.
ولو باع واحد تلك السمكة وفي بطنها الدرَّة لم يملك المشتري تلك الدرة؛ لأن حكم البيع أن يَرِدَ على أجزاءِ ما قُصدَ بالبيع وليست الدرة من أجزائها ولا فضلة منفوضة منها بخلاف البيضة في جوف الدجاجة واللبن في ضرع الشاة
Jika seseorang menjual seekor ikan yang di dalam perutnya terdapat mutiara, maka pembeli tidak memiliki mutiara tersebut; karena hukum jual beli itu berlaku atas bagian-bagian dari apa yang menjadi maksud dalam jual beli, sedangkan mutiara bukanlah bagian dari ikan tersebut dan bukan pula sisa yang keluar darinya, berbeda halnya dengan telur di dalam perut ayam atau susu di dalam ambing kambing.
فصل
Bab
قال ومما يدخل في هذا المعنى أن يبيع الرجل عبداً لرجل إلى آخره
Ia berkata, “Dan termasuk dalam makna ini adalah apabila seseorang menjual seorang budak kepada orang lain, dan seterusnya.”
ألحق الشافعيُّ بيع الرجل مالَ غيرهِ بالغرر الذي يجب اجتنابه وغرض الفصل الكلامُ في وقف العقود
Imam Syafi‘i mengaitkan jual beli seseorang atas harta milik orang lain dengan gharar yang wajib dihindari, dan tujuan pembahasan ini adalah mengenai penangguhan akad-akad.
وهو ثلاثة أصنافٍ عندي أحدها أن يبيع الرجل مال غيره بغير إذنٍ منه ولا ولايةٍ والمنصوص عليه للشافعي في الجديد أن البيع باطل ونص في القديم على أنه منعقدٌ ونفوذه موقوف على إجازة المالك وهو مذهبُ أبي حنيفة
Menurut saya, hal ini terbagi menjadi tiga jenis. Salah satunya adalah ketika seseorang menjual harta milik orang lain tanpa izin darinya dan tanpa adanya wewenang. Pendapat yang ditegaskan oleh asy-Syafi‘i dalam pendapat barunya adalah bahwa jual beli tersebut batal. Sedangkan dalam pendapat lamanya, beliau menegaskan bahwa akadnya tetap terjadi, namun keberlakuannya tergantung pada persetujuan pemilik. Ini juga merupakan mazhab Abu Hanifah.
ثم من مذهبه أن العقدَ إنما يقف إذا كان له مجيزٌ حالة الإنشاء فلو باع الرجل مالَ طفل فبلغ الطفل وأجازه لم ينفذ العقدُ نعم يقف بيع مال الطفل على إجازة الوصي والولي والوالي العام على حسب مراتبهم والوقوف على إجازة من يملك الإنشاء منهم
Kemudian, menurut mazhabnya, suatu akad hanya dapat bergantung (tidak langsung sah) jika pada saat akad itu ada pihak yang berwenang untuk mengesahkannya. Maka, jika seseorang menjual harta anak kecil, lalu anak itu telah dewasa dan kemudian mengesahkan akad tersebut, maka akad itu tidak menjadi sah. Namun, penjualan harta anak kecil bergantung pada persetujuan dari washi (pengampu), wali, atau penguasa umum, sesuai dengan urutan kewenangan mereka. Penggantungan ini berlaku pada persetujuan pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan akad di antara mereka.
ولو باع الرجل مال غيره ثم ملكه بعد ذلك العقد لم ينفذ عند أبي حنيفة ؛ فإنه لم يكن حالة العقدِ مالكاً للإجازة
Dan jika seseorang menjual harta milik orang lain, kemudian setelah akad itu ia menjadi pemiliknya, maka akad tersebut tidak sah menurut Abu Hanifah; karena pada saat akad berlangsung, ia bukanlah pemilik yang berhak memberikan izin.
قال شيخي إذا فرعنا على القديم لم نخالف أبا حنيفة في هذه التفاصيل
Guru saya berkata, “Jika kita membangun cabang hukum berdasarkan pendapat lama, maka dalam rincian-rincian ini kita tidak berbeda pendapat dengan Abu Hanifah.”
ومما نذكره تفريعاً على القديم أن أبا حنيفة قال من اشترى شيئاً وقصد به شخصاً لم يقف الشراء على إجازته بل ينفذ على الذي تعاطى الشراء وزعم أن الشراء إذا أمكن تنفيذه على الذي قال اشتريت فلا حاجة إلى وقفه على إجازة غيرِه
Perlu kami sebutkan sebagai cabang dari pendapat lama bahwa Abu Hanifah berkata: Barang siapa membeli sesuatu dan bermaksud untuk orang lain, maka pembelian itu tidak bergantung pada persetujuan orang tersebut, melainkan berlaku atas orang yang melakukan pembelian. Ia berpendapat bahwa jika pembelian dapat dilaksanakan atas orang yang mengatakan “aku membeli”, maka tidak perlu menunggu persetujuan orang lain.
وذكر بعض المحققين من أصحابنا أنا إذا وقفنا بيعَ مال الغير على إجازته فيقف الشراء أيضاً على إجازَةِ من قصده المشتري؛ فإن التوكيل يجري في شقي العقد ومن قُصد بالشراء ممن يصح منه التوكيل في تلك الحالة فلا فرقَ بين الشراء والبيع
Sebagian ulama muhaqqiq dari kalangan kami menyebutkan bahwa jika kami menggantungkan penjualan harta milik orang lain pada izinnya, maka pembeliannya pun tergantung pada izin orang yang menjadi tujuan pembeli; sebab perwakilan (tawkil) berlaku pada kedua sisi akad, dan orang yang menjadi tujuan pembelian, jika ia sah menjadi wakil dalam keadaan tersebut, maka tidak ada perbedaan antara pembelian dan penjualan.
هذا فيه إذا اشترى في الذمّة شيئاً فأما إذا اشترى شيئاً بمال غيره فهو بيعُ مال الغير بغير إذنهِ فلا نشكُّ أنه يُخرَّج على القولين
Ini berlaku jika seseorang membeli sesuatu dengan tanggungan (utang), adapun jika ia membeli sesuatu dengan harta orang lain, maka itu adalah jual beli harta milik orang lain tanpa izinnya, sehingga tidak diragukan lagi bahwa hal itu dikembalikan kepada dua pendapat (ulama).
وإن فرَّعنا على الجديد وأبطلنا بيعَ مال الغير فمن اشترى شيئاً في الذمّةِ وقصد به غيرَه فلا شك في نفوذ العقد على الذي باشر الشراء
Jika kita mengikuti pendapat baru dan membatalkan jual beli harta milik orang lain, maka siapa pun yang membeli sesuatu atas tanggungan (dalam dzimmah) dan bermaksud untuk orang lain, tidak diragukan bahwa akad tetap sah atas orang yang langsung melakukan pembelian.
وإن قال اشتَريتُ هذا العبدَ لفلانٍ والتفريع على الجديد فلا شك أن الشراء لا يقف على إجازة ذلك المسمَّى ولكن في نفوذه على هذا المشتري وقد سمَّى غيرَه وجهان أحدهما أنه ينفذ عليه وتلغو تسميتُه الغيرَ والوجه الثاني أنه يفسد العقد ولا ينفذ على الذي تعاطى ولا يقف على إجازة الذي سمى
Jika seseorang berkata, “Aku membeli budak ini untuk si Fulan,” dan menurut pendapat baru (qaul jadid), tidak diragukan lagi bahwa pembelian tersebut tidak bergantung pada persetujuan orang yang disebutkan namanya itu. Namun, mengenai keabsahan pembelian atas nama pembeli yang menyebutkan nama orang lain, terdapat dua pendapat: yang pertama, pembelian itu sah atas dirinya sendiri dan penyebutan nama orang lain dianggap tidak berlaku; pendapat kedua, akad tersebut batal dan tidak sah atas orang yang melakukan transaksi, serta tidak bergantung pada persetujuan orang yang disebutkan namanya.
هذا الذي ذكرناه صنف واحد من الأصناف الثلاثة في الوقف
Apa yang telah kami sebutkan ini adalah satu jenis dari tiga jenis dalam waqaf.
والعراقيون لم يعرفوا القول القديم في هذا القسم وقطعوا بالبطلان
Orang-orang Irak tidak mengetahui pendapat lama dalam bagian ini dan mereka secara tegas berpendapat batal.
فأما الصنف الثاني فهو كبيع الرجل مالاً يحسبه لأبيه ثم يَبين أن أباه قد مات وانتقل المال إليه ميراثاً ففي صحة البيع ولزومِه قولان مشهوران نقلهما العراقيون كما نقلهما المراوزةُ
Adapun golongan kedua adalah seperti seseorang yang menjual harta yang ia kira milik ayahnya, kemudian ternyata ayahnya telah wafat dan harta tersebut telah berpindah kepadanya sebagai warisan. Dalam hal keabsahan dan keharusan jual beli tersebut terdapat dua pendapat yang masyhur, yang dinukil oleh para ulama Irak sebagaimana juga dinukil oleh para ulama Marw.
أما وجه قول التصحيح فلائح وأما وجه قول الإفساد فهو أن هذا العقدَ وإن كان منجَّزاً في صيغته فمحلّه التعليق والتقدير فيه إن مات أبي فقد بعتك هذا العبدَ وللشافعي في الجديد مرامزُ إلى القولين في هذا النوع
Adapun alasan pendapat yang membenarkan, maka sudah jelas. Sedangkan alasan pendapat yang membatalkan adalah bahwa akad ini, meskipun secara lafaz bersifat pasti, namun substansinya bergantung pada syarat dan maksudnya adalah: “Jika ayahku meninggal, maka aku telah menjual budak ini kepadamu.” Dan menurut asy-Syafi‘i dalam pendapat barunya, terdapat isyarat kepada dua pendapat dalam jenis masalah seperti ini.
والصنف الثالث من الوقف يداني الصنف الأول في وضعه ولكن يمتاز عنه بما نصفه
Jenis ketiga dari wakaf mendekati jenis pertama dalam penetapannya, namun memiliki keistimewaan dibandingkan dengannya sebagaimana akan kami jelaskan.
فإذا غصب الرجل أموالاً وباعها وتصرَّف في أثمانها وأوردَ العقودَ على العقود وعَسُرَ المستدرَكُ ولو نفذ المالكُ تلك العقود لسلمت له تلك الأثمان بأرباحها ولو كلّف نفسه تتبعَ تلك العقودِ لشق عليه التدارك ففي جواز تنفيذها قولان نص عليهما في كتاب الغصوب على ما سيأتي ذكرهما إن شاء الله
Apabila seseorang merampas harta orang lain, lalu menjualnya dan menggunakan hasil penjualannya, serta melakukan berbagai akad di atas akad-akad tersebut hingga sulit untuk mengembalikannya, maka jika pemilik harta membiarkan akad-akad tersebut tetap berlaku, ia akan memperoleh hasil penjualan beserta keuntungannya. Namun, jika ia membebani dirinya untuk menelusuri semua akad tersebut, akan sangat sulit baginya untuk mendapatkan kembali haknya. Dalam hal kebolehan membiarkan akad-akad tersebut tetap berlaku, terdapat dua pendapat yang dinyatakan secara tegas dalam Kitab al-Ghushub, yang akan disebutkan penjelasannya nanti, insya Allah.
وإنما تمتاز هذه الحالة على القسم الأول بعسر التدارك وطلبِ مصلحة المالك
Keadaan ini hanya berbeda dari bagian pertama dalam hal sulitnya memperbaiki dan mencari kemaslahatan bagi pemilik.
فهذا جوامع القول في الوقف
Inilah ringkasan pembahasan mengenai wakaf.
ثم وقف العقود يطّرد في كل عقد يقبل الاستنابة كالبياعاتِ والإجارات والهبات والعتق والطلاق والنكاح وغيرها والضابط ما ذكرناه من قبول الاستنابةِ ثم إذا صحَّحنا العقدَ في القديم نجَّزْنا صحّتَه بَيْدَ أن الملك لا يحصل إلا عند الإجازة
Kemudian, hukum tentang akad berlaku secara konsisten pada setiap akad yang menerima perwakilan, seperti jual beli, sewa-menyewa, hibah, pembebasan budak, talak, nikah, dan selainnya. Kaidahnya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu menerima perwakilan. Kemudian, jika kami membenarkan akad tersebut menurut pendapat lama, maka kami menetapkan keabsahannya, hanya saja kepemilikan tidak terjadi kecuali setelah adanya persetujuan.
ولو وهب وأقبضَ لم يحصل الملك فإذا أجاز المالك استعقبت الإجازةُ حصولَ الملك ولم يتقدم الملك عليها تبيناً واستناداً
Jika seseorang memberikan hibah dan telah menyerahkannya, kepemilikan belum terjadi. Maka apabila pemilik mengizinkan (hibah tersebut), izin tersebut menyebabkan terjadinya kepemilikan, dan kepemilikan itu tidak dianggap terjadi sebelumnya, baik secara penjelasan maupun secara istinbat.
هذا ما أراه وليس يخرج في هذا القول الغريب في أن الهبة إذا تأكّدت بالقبض فيتبين أن الملك استند إلى حالة العقد كما سيأتي في الهبات
Inilah pendapat yang saya lihat, dan tidak termasuk dalam pendapat yang ganjil bahwa hibah, apabila telah dipastikan dengan adanya qabd (penguasaan fisik), maka tampaklah bahwa kepemilikan itu bersandar pada saat akad, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan hibah.
فصل
Bab
قال ولو اشترى مائةَ ذراع من دَارٍ لم يجز إلى آخره
Ia berkata: “Dan jika seseorang membeli seratus hasta dari sebuah rumah, maka itu tidak sah hingga akhirnya.”
مضمون الفصل مسائلُ منها أن يقول بعتُك ذراعاً من هذه العَرْصة فإن كانت معلومةً الدُّرعان صح البيع وكان الذراع بالإضافة إلى الدُّرعان بمثابة جزءٍ شائعٍ كالعُشرِ ونحوه إلا أن يَعني بالذراع معيناً لا على تأويل الإشاعَةِ فلا يصح العقد حينئذٍ
Isi bab ini membahas beberapa permasalahan, di antaranya jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu satu hasta dari tanah lapang ini.” Jika ukuran hasta-hasta tersebut diketahui, maka jual beli itu sah, dan satu hasta tersebut dianggap sebagai bagian yang bersifat syuyu‘ (tidak tertentu), seperti sepersepuluh dan semisalnya, kecuali jika yang dimaksud dengan satu hasta adalah bagian tertentu, bukan dalam pengertian syuyu‘, maka akadnya tidak sah pada saat itu.
ولو اختلف البائع والمشتري فقال المشتري أردت جزءاً شائعاً فيها وقال البائع بل أردتَ ذراعاً معيناً لا على مذهب الإشاعَة بل نحوتَ بذكر الدار نحو قول القائل بعتُ شاةً من القطيع
Jika penjual dan pembeli berselisih, lalu pembeli berkata, “Aku menginginkan bagian yang bersifat syuyu‘ (tidak tertentu) di dalamnya,” sedangkan penjual berkata, “Justru engkau menginginkan satu hasta yang tertentu, bukan menurut mazhab isyā‘ah (kepemilikan bersama yang tidak tertentu), melainkan engkau telah mengarahkannya dengan menyebut rumah itu seperti ucapan seseorang, ‘Aku menjual seekor kambing dari kawanan kambing.’”
فهذا فيه احتمال عندنا يجوز أن يقال الظاهرُ حملُه على الإشاعة ولا يقبل من البائع العدول عنه ويجوز أن يقال يقبلُ قولُه؛ فإن اللفظ الصريح في الإشاعة الجزءُ المنسوبُ إلى الكل كالنصف والربع وما في معناهما
Dalam hal ini terdapat kemungkinan menurut kami, boleh dikatakan bahwa yang tampak adalah memaknainya sebagai isyā‘ah, dan tidak diterima dari penjual untuk berpaling darinya. Namun boleh juga dikatakan bahwa perkataannya diterima; karena lafaz yang jelas dalam isyā‘ah adalah bagian yang dinisbatkan kepada keseluruhan seperti setengah, seperempat, dan yang semakna dengannya.
ولو كانت العرصة مجهولة الدُّرعان فقال بعتك منها ذرَاعاً فالبيع مردود
Jika tanah tersebut tidak diketahui ukuran panjangnya, lalu seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu satu dzira‘ (ukuran hasta) darinya,” maka jual beli tersebut batal.
وليس كما لو قال بعتك صاعاً من هذه الصُّبرة وكانت الصبرة مجهولة الصيعان؛ فإن البيع صحيح على ظاهر المذهب والفرق أن الصُّبرةَ متساوية الأجزاء بخلاف ذرعان الأرض؛ فإنها متفاوتة الأجزاء
Tidak seperti ketika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu satu sha‘ dari tumpukan ini,” sementara tumpukan itu tidak diketahui jumlah sha‘-nya; maka jual beli tersebut sah menurut pendapat yang masyhur. Perbedaannya adalah bahwa tumpukan itu bagian-bagiannya sama, berbeda dengan ukuran tanah yang bagian-bagiannya tidak sama.
ولو وقف على طرفِ الأرض وقال بعتك عشرةَ أذرع من موقف قدمي في جميع العرض إلى حيث ينتهي في الطول فهذا إعلامٌ وقد اختلف أصحابنا في صحة البيع تعويلاً عليه فذهب الأكثرون إلى الصحة ووجهه بيّن وقال قائلون لا يصح البيع؛ فإنه لا يدرى منتهى القدر المبيع حتى يُذرعَ وهذا ساقطٌ لا أصل له
Jika seseorang berdiri di ujung tanah lalu berkata, “Aku jual kepadamu sepuluh hasta dari tempat berdiriku ini, mencakup seluruh lebar hingga batas akhir pada panjangnya,” maka ini merupakan penjelasan. Para ulama kami berbeda pendapat mengenai keabsahan jual beli yang didasarkan pada penjelasan tersebut. Mayoritas berpendapat jual belinya sah, dan alasannya jelas. Namun, sebagian mengatakan jual belinya tidak sah karena batas akhir dari ukuran yang dijual belum diketahui sampai diukur terlebih dahulu. Pendapat ini lemah dan tidak memiliki dasar.
ولو وقف في وسط الأرض وقال بعتك عشرةَ أذرع من موقفي في جميع العرض إلى حيث ينتهي في الطول ولم يشر إلى الجهة التي يقع المبيع فيها وكان موقفه محفوفاً بالأرضِ من قدامه وورائه فلا شك في فساد العقد
Jika seseorang berdiri di tengah tanah lalu berkata, “Aku jual kepadamu sepuluh hasta dari tempat aku berdiri ke seluruh lebar hingga batas panjangnya,” namun ia tidak menunjukkan arah di mana letak barang yang dijual, sementara tempat ia berdiri dikelilingi tanah baik di depan maupun di belakangnya, maka tidak diragukan lagi bahwa akad tersebut batal.
ولو رسمَ في وسط الأرض مقداراً منها يحيط به خطوط هي أضلاع له أَوْ رَسَم مقداراً على شكل التدوير يحتوي عليه محيط الدائرة وباعه فإن كان قطرٌ منه ْيُتاخم الشارَع أو يتصل بملك المشتري فالبيع صحيح
Jika seseorang menggambar di tengah tanah suatu bagian darinya yang dikelilingi oleh garis-garis sebagai sisi-sisinya, atau menggambar suatu bagian berbentuk lingkaran yang dilingkupi oleh keliling lingkaran lalu ia menjualnya, maka jika ada salah satu diameternya yang berbatasan langsung dengan jalan atau terhubung dengan milik pembeli, maka jual belinya sah.
وإن كان لا يتصل ذلك المقدار المعين بشارعٍ ولا بملك المشتري نُظر فإن قال بعتك هذا المقدارَ بحقوقه صح وثبت للمشتري حقُّ الممرِّ وإن أطلق البيعَ ففي المسألة وجهان أحدهما أن مطلقَ البيع يقتضي حقَّ الممرّ في الذي لم يبعه والثاني لا يقتضي الإطلاقُ ذلك
Jika bagian tertentu itu tidak terhubung dengan jalan umum maupun dengan milik pembeli, maka perlu dilihat: jika penjual berkata, “Aku jual kepadamu bagian ini beserta hak-haknya,” maka jual beli itu sah dan pembeli berhak mendapatkan hak jalan. Namun jika penjual hanya mengucapkan akad jual beli secara umum, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat: pertama, bahwa akad jual beli secara umum mengandung hak jalan pada bagian yang tidak dijual; kedua, bahwa akad secara umum tidak mengandung hak tersebut.
فإن حكمنا بأن الإطلاقَ يقتضي حقَّ الممر فالبيع صحيح وإن قلنا لا يقتضيه ففي البيع وجهان أصحهما البطلان؛ لأنه لا ينتفع ببقعةٍ لا ممرَّ لها
Jika kita memutuskan bahwa lafaz mutlak mengandung hak jalan, maka jual beli itu sah. Namun jika kita mengatakan bahwa lafaz tersebut tidak mengandung hak jalan, maka dalam jual beli itu terdapat dua pendapat, dan yang lebih sahih adalah batal; karena seseorang tidak dapat memanfaatkan sebidang tanah yang tidak memiliki jalan.
وكذلك اختلف أصحابنا فيه إذا باع الرجل بيتاً من داره ولم يتعرض لإدخال حق الممر في العقد ففي صحة البيع التفصيلُ الذي ذكرناه بناءً على أن الإطلاق هل يقتضي حقَّ الممر
Demikian pula, para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai hal ini apabila seseorang menjual sebuah rumah dari rumahnya dan tidak menyebutkan hak jalan masuk dalam akad. Maka, mengenai keabsahan jual beli tersebut terdapat perincian yang telah kami sebutkan, berdasarkan apakah keumuman lafaz dalam akad itu mengandung hak jalan masuk atau tidak.
ومما يتم به البيان أنه إذا عيّن مقداراً مشكَّلاً من وسط الأرض وِقلنا يثبت للمشتري حقُّ المرور وكان الممرّ يُفرض من الجوانب؛ فالوجه إثباته من جميع الجوانب؛ إذ ليس جانب أولى من جانب وحقيقة هذا يرجع إلى أنا نُثبت للمشتري في تلك القطعة ما كان ثابتاً للبائع قبل البيع من حق الممر
Dan yang memperjelas penjelasan ini adalah bahwa jika ditentukan suatu ukuran tertentu dari tengah tanah, lalu kita katakan bahwa pembeli berhak mendapatkan hak lewat, dan jalur lewat itu bisa ditetapkan dari sisi-sisi tanah; maka yang tepat adalah menetapkannya dari semua sisi, karena tidak ada satu sisi pun yang lebih utama dari sisi lainnya. Hakikat dari hal ini kembali pada kenyataan bahwa kita menetapkan bagi pembeli pada bagian tanah tersebut apa yang sebelumnya telah tetap bagi penjual sebelum terjadinya jual beli, yaitu hak lewat.
ولو قال بعتك هذه القطعةَ بحقوقها فحق الممر من الجوانب يدخل في استحقاق المشتري فكذلك المطلق عند هذا القائل محمول على ما يقتضيه إطلاق شرط الحقوق
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu tanah ini beserta hak-haknya,” maka hak jalan dari sisi-sisinya termasuk dalam hak yang menjadi milik pembeli. Maka demikian pula, menurut pendapat orang ini, lafaz mutlak dalam hal ini diartikan sesuai dengan apa yang dituntut oleh keumuman syarat hak-hak tersebut.
وإن كان الشكل المقدّر متاخماً للشارع فالذي يقتضيه كلام الأصحاب أنه لا يثبت للمشتري حق طروق الملك بل ممرُّه إلى صوب الشارع؛ والسبب فيه تنزيل العقد على موجب العرف وليس من موجبه أن يتردد المشتري فيما أبقاه البائع لنفسه إذا كان طرف من المبيع متصلاً بالشارع
Jika bentuk yang diperkirakan itu bersebelahan dengan jalan, maka menurut pendapat para ulama, pembeli tidak berhak untuk melintasi tanah milik penjual, melainkan jalur lalu-lintasnya menuju arah jalan; sebabnya adalah karena akad disesuaikan dengan ketentuan ‘urf, dan bukan termasuk ketentuannya bahwa pembeli bebas keluar-masuk ke bagian yang masih dimiliki penjual untuk dirinya sendiri, apabila sisi dari barang yang dijual itu terhubung langsung dengan jalan.
ولو كان يتصل طرف من المبيع بملكِ المشتري فالظاهِر أنه لا يملك طروقَ ملك البائع بل ينزل العقدُ على اكتفاء المشتري بأن يوسع بالمبيع رَبْعَه والممر من ملكه القديم إلى ما اشتراه الآن
Jika ada bagian dari barang yang dijual bersambung dengan milik pembeli, maka yang tampak adalah bahwa pembeli tidak memiliki hak jalan di atas milik penjual, melainkan akad tersebut dianggap sebagai bentuk kecukupan pembeli dengan memperluas halamannya melalui barang yang dibeli, dan jalan masuk dari miliknya yang lama menuju barang yang baru dibelinya.
فلو قال البائع في هذه الصورة الأخيرة بعتك هذا المقدارَ بحقوقه فالوجه أن يستحق المشتري طروقَ ملك البائع وإذا كان مُطلقاً فالظاهِر ما ذكرته وفيه احتمال والعلم عند الله تعالى
Maka jika penjual dalam kasus terakhir ini berkata, “Aku jual kepadamu sejumlah ini beserta hak-haknya,” maka pendapat yang kuat adalah pembeli berhak atas segala hak milik penjual. Dan jika (lafaznya) mutlak, maka yang tampak adalah seperti yang telah aku sebutkan, namun masih ada kemungkinan lain, dan ilmu yang pasti hanya di sisi Allah Ta‘ala.
ولو قال بعتك هذه القطعةَ وكانت محفوفةً بما أبقاه لنفسه وشرط في البيع ألا يكون له إلا ممرٌ واحد فإن عيّنه جاز وإن أبهمه فالوجه الحكم ببطلان العقد؛ فإن الجهالة في الحقوق مؤثرةٌ في العرف تأثيرَ الجهالة في المعقود عليه فإنا لو لم نفعل هذا وصححنا العقد لكان بعده نزاعٌ في صوب الممر وكنا لا ندري من المتبع والعلم عند الله تعالى
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu sebidang tanah ini,” sementara tanah tersebut dikelilingi oleh bagian yang ia sisakan untuk dirinya sendiri, lalu ia mensyaratkan dalam akad jual beli bahwa ia hanya memiliki satu jalan masuk, maka jika ia menentukan jalan tersebut secara jelas, akadnya sah. Namun jika ia membiarkannya samar, maka pendapat yang kuat adalah akad tersebut batal; sebab ketidakjelasan dalam hak-hak memiliki pengaruh dalam kebiasaan sebagaimana ketidakjelasan dalam objek akad. Jika kita tidak melakukan hal ini dan membenarkan akad tersebut, maka setelahnya akan timbul perselisihan mengenai arah jalan masuk, dan kita tidak akan tahu siapa yang harus diikuti. Ilmu hanya milik Allah Ta‘ala.
هذا تفصيل القول في أطرافِ هذا الفصل
Inilah penjelasan rinci mengenai pokok-pokok bahasan dalam bab ini.
فصل
Bab
إذا أشارَ الرجل إلى قطعةٍ من الأرض وقال بعتك هذه القطعةَ على أن تكسيرها مائةُ ذراع فخرجت القطعةُ مائةً وخمسين أو نقصت فخرجت خمسين فإذا أخلف المقدار المشروط بالزيادة أو بالنقصان ففي صحة البيع في الصورتين قولان أحدهما أنه يصح تعويلاً على الإشارة وخُلف الشرط في المقدار يقرب عند هذا القائل من خُلف الشرط في الصفة ولو قال بعتك هذا العبدَ على أنه تركي فإذا هو من جنسٍ آخر فالبيع صحيح
Jika seseorang menunjuk pada sebidang tanah dan berkata, “Aku jual kepadamu sebidang tanah ini dengan ketentuan ukurannya seratus hasta,” lalu ternyata bidang tanah itu berukuran seratus lima puluh atau kurang, misalnya hanya lima puluh, maka apabila ukuran yang disyaratkan berbeda, baik lebih maupun kurang, terdapat dua pendapat mengenai keabsahan jual belinya dalam kedua kasus tersebut. Salah satu pendapat menyatakan bahwa jual beli tetap sah dengan berpegang pada penunjukan (isyarat), dan perbedaan syarat dalam ukuran dianggap hampir sama dengan perbedaan syarat dalam sifat. Misalnya, jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budak ini dengan syarat dia orang Turki,” lalu ternyata dia berasal dari bangsa lain, maka jual belinya tetap sah.
والقول الثاني أن البيع باطل نظراً إلى لفظ العقد ومقتضاه أن المبيع مائة فإذا كان زائداً لم يكن المقدارُ الزائد معنياً بالبيع فكأن الصفقة اشتملت من جهة أن
Pendapat kedua menyatakan bahwa jual beli tersebut batal jika dilihat dari lafaz akad dan konsekuensinya, yaitu bahwa barang yang dijual adalah seratus. Maka jika jumlahnya melebihi, kelebihan tersebut tidak termasuk dalam maksud jual beli, sehingga seolah-olah transaksi tersebut mencakup dari satu sisi bahwa…
الإشارة احتوت على جميع الأرض واللفظُ اختص بالبعض على مبيع وغير مبيع
Isyarat mencakup seluruh tanah, sedangkan lafaz hanya terbatas pada sebagian, baik yang dijual maupun yang tidak dijual.
وهذه المسألة تلتفت إلى أصولٍ وتتردّد بين قواعدَ ونحن ننبه عليها
Masalah ini berkaitan dengan beberapa ushul dan berputar di antara sejumlah kaidah, dan kami akan memberikan penjelasan tentangnya.
فمنها أن من أشار إلى شاة وقال بعتك هذه البقرة فاللفظ يتضمن جنساً مخالفاً للمشار إليه والإشارة مغنيةٌ عن ذكر الجنس؛ فإنه لو قال بعتك هذا كفى ذلك
Di antaranya adalah jika seseorang menunjuk seekor kambing lalu berkata, “Aku jual kepadamu sapi ini,” maka lafaz tersebut memuat jenis yang berbeda dengan yang ditunjuk, dan isyarat sudah mencukupi tanpa perlu menyebutkan jenis; sebab jika ia berkata, “Aku jual kepadamu ini,” maka itu sudah cukup.
وقد ظهر خلاف الأصحاب في صحة البيع فمن اعتمد على الإشارة صحح
Telah tampak perbedaan pendapat di antara para ulama mazhab mengenai keabsahan jual beli; maka barang siapa yang berpegang pada isyarat, ia membolehkannya.
ومن اعتمد العبارة أفسد
Dan barang siapa yang hanya mengandalkan ungkapan (lafaz), maka ia akan merusak.
ومن الأصول التي تستند هذه المسألة إليه تفريق الصفقة ولا يتحقق التحاقُ هذه المسألةِ بقاعدة التفريق إلا بعد تمييزها عن الخُلف في الصفات المشروطة
Di antara prinsip yang menjadi sandaran masalah ini adalah tafriq ash-shafqah (memisahkan akad). Masalah ini tidak dapat dikaitkan dengan kaidah tafriq kecuali setelah membedakannya dari perbedaan dalam sifat-sifat yang disyaratkan.
فإذا قال بعتك هذا العبدَ على أنه كاتب فالكتابة لا تجوز أن تعتقد مورداً للبيع
Jika seseorang berkata, “Aku menjual budak ini kepadamu dengan syarat ia seorang mukatab,” maka status mukatab tidak boleh dijadikan sebagai objek dalam jual beli.
والمقدار يجوز أن يفردَ بالبيع ويقدَّرَ مورداً له كالعبدين أحدهما مملوك للبائع والثاني مغصوب والصورة التي نحن فيها ممتازةٌ عن قاعدة التفريق؛ من جهة اشتمال الإشارة على استغراق القطعة المعيّنة بالبيع وليس في صيغة البيع جمع بين موجود ومعدوم؛ فنشأ الخلافُ في صحة البيع من جهة التردد بين هذه الجهات
Ukuran (bagian) itu boleh dijual secara terpisah dan dapat dijadikan sebagai objek penjualan, seperti dua budak: salah satunya milik penjual dan yang lainnya digasak (maghsūb). Adapun kasus yang sedang kita bahas ini berbeda dari kaidah pemisahan; karena adanya penunjukan (isyarat) yang mencakup seluruh bagian tertentu dalam penjualan, dan dalam lafaz akad jual beli tidak terdapat penggabungan antara sesuatu yang ada dan yang tidak ada. Maka, timbullah perbedaan pendapat tentang keabsahan jual beli ini karena adanya keraguan di antara sisi-sisi tersebut.
وإذا كنا نقول الخُلف في الصفات في النكاح يوجب تخريج صحته على قولين؛ من جهة أن المقصود من النكاح على الجملة الصفاتُ كما سيأتي فالخُلف في المقدار في المبيع أَوْلى بالخلاف والبيع أقبل للفساد بالشرط والنكاح أبعد منه
Jika kita mengatakan bahwa perbedaan dalam sifat-sifat pada akad nikah menyebabkan keabsahannya ditakhrij menjadi dua pendapat—karena tujuan utama dari pernikahan secara umum adalah sifat-sifat, sebagaimana akan dijelaskan nanti—maka perbedaan dalam kadar pada objek jual beli lebih utama untuk diperselisihkan, dan jual beli lebih mudah rusak karena syarat dibandingkan dengan nikah yang lebih jauh dari kerusakan tersebut.
فالذي يقتضيه الترتيبُ بعد تمهيد ما ذكرناه ترتيبُ مسألتنا في الصحة والفساد على التفريق في الصفقة وهذه المسألة أولى بالصحة
Maka yang dituntut oleh urutan setelah penjelasan yang telah kami sebutkan adalah mengurutkan pembahasan kita tentang sah dan batal berdasarkan pembedaan dalam akad, dan permasalahan ini lebih utama untuk dinyatakan sah.
وإن رتَّبناها على خُلف الصفاتِ في النكاح فمسألتنا أولى بالفسادِ
Dan jika kita mengurutkannya berdasarkan perbedaan sifat dalam pernikahan, maka permasalahan kita lebih utama untuk dianggap batal.
والذي به الفتوى صحةُّ البيع
Pendapat yang menjadi dasar fatwa adalah sahnya jual beli.
وذكر العراقيون هذه المسألةَ في الزيادة والنقصان وحكموا بأن الساحة إذا نقصت عن المقدار المذكور صح البيع قولاً واحداً وإن زادت ففي صحة البيع قولان
Para ulama Irak menyebutkan masalah ini dalam hal penambahan dan pengurangan, dan mereka memutuskan bahwa jika luas tanah kurang dari ukuran yang telah disebutkan, maka jual beli tersebut sah menurut satu pendapat. Namun jika luasnya melebihi ukuran tersebut, maka dalam hal keabsahan jual beli terdapat dua pendapat.
ولا يكاد يظهر فرق بين النقصان والزيادة
Hampir tidak tampak adanya perbedaan antara pengurangan dan penambahan.
وطرد صَاحبُ التقريب وشيخي القولين في الصورتين
Pemilik kitab at-Taqrīb dan guru dari dua pendapat tersebut menerapkan hal yang sama pada kedua kasus tersebut.
وإذا ثبت أصلُ الكلام في الصّحة والفساد فنحن نفرع صورة الزيادة ثم نفرع صورة النقصان
Jika telah tetap kaidah dasar mengenai sah dan batal, maka kita akan membahas cabang kasus penambahan terlebih dahulu, kemudian membahas cabang kasus pengurangan.
فأما تفريع الزيادة فإذا قال بعتك هذه الأرضَ على أنها مائةُ ذراع فخرجت عن المساحة مائةً وخمسين ذراعاً فإن قلنا بفسادِ العقد فلا كلامَ وإن قلنا يصح العقدُ لم يختلف الأصحاب في تخيّر البائع ثم لا يخلو إما أن يفسخ وإما أن يُجيز فإن أجازَ العقدَ فليس له مع الاختيارِ للإجازة مطالبةُ المشتري بشيء زائدٍ؛ فإنَّ قول التصحيح مأخوذ من اعتماد الإشارة والإشارة محيطةٌ بالأرض ولا سبيلَ إلى إلزام المشتري شيئاً لم يسمّ ثمناً ولو أراد الفسخ فله ذلك
Adapun rincian tentang tambahan, jika seseorang berkata, “Aku menjual tanah ini kepadamu dengan ukuran seratus hasta,” lalu setelah diukur ternyata luasnya seratus lima puluh hasta, maka jika kita berpendapat bahwa akadnya batal, maka tidak ada pembahasan lebih lanjut. Namun jika kita berpendapat bahwa akadnya sah, para ulama sepakat bahwa penjual memiliki hak untuk memilih (antara melanjutkan atau membatalkan). Selanjutnya, penjual bisa memilih untuk membatalkan atau membiarkan akad tetap berjalan. Jika ia membiarkan akad tetap berjalan, maka ia tidak berhak menuntut pembeli untuk membayar tambahan apa pun; karena pendapat yang menyatakan sahnya akad didasarkan pada kepercayaan terhadap penunjukan (isyarat), dan isyarat tersebut mencakup seluruh tanah, sehingga tidak mungkin mewajibkan pembeli membayar sesuatu yang tidak disebutkan sebagai harga. Namun jika penjual ingin membatalkan, maka ia berhak melakukannya.
فلو قال المشتري لا تفسخ العقدَ حتى أزيدك ثمنَ الخمسين على نسبة الثمن المسمى والمسألة مفروضة فيه إذا كانت الأرض لا تختلف قيمتها في تلك البقعة
Jika pembeli berkata, “Jangan batalkan akad sampai aku menambah harga lima puluh sesuai dengan persentase harga yang telah disepakati,” maka permasalahan ini diasumsikan terjadi apabila tanah tersebut tidak berbeda nilainya di kawasan itu.
فلا سبيل إلى هذا فإن ما يريدُ إثباته ثمناً في حُكم ملحقٍ بالعقد والزيادة لا تلحق العقد عندنا في الثمن والمثمن
Maka tidak ada jalan menuju hal ini, karena apa yang ingin ia tetapkan sebagai harga dalam hukum yang diikutkan pada akad, dan tambahan itu tidak mengikuti akad menurut kami dalam hal harga dan barang yang diperjualbelikan.
ولو قال المشتري لا تفسخ العقد فإني أقنع من هذه الأرض بمقدار مائة ذراع فقد ذكر صاحب التقريب قولين في المسألة أحدهما أن الخيار يبطل وينزل العقدُ على ذلك ويجاب المشتري إلى ما يقول وهذا هو الذي قطع به شيخي والقول الثاني أن البائع يبقى على تخيّره
Jika pembeli berkata, “Jangan batalkan akad, karena saya rela dari tanah ini hanya sebesar seratus hasta,” maka penulis kitab at-Taqrīb menyebutkan dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat pertama, hak khiyar batal dan akad disesuaikan dengan hal itu, serta permintaan pembeli dikabulkan. Inilah pendapat yang ditegaskan oleh guru saya. Pendapat kedua, penjual tetap memiliki hak memilih (takhayyur).
ووجه القول الأول زوالُ الغَبينَةِ عن البائع ووجه القول الثاني أنه يقول ثبوت حق المشتري على الشيوع يلحقَ ضرراً فيما يبقى لي هذا ما ذكره صاحب التقريب
Penjelasan pendapat pertama adalah hilangnya kerugian dari pihak penjual, sedangkan penjelasan pendapat kedua adalah bahwa ia mengatakan: tetapnya hak pembeli atas kepemilikan bersama menimbulkan mudarat pada bagian yang masih menjadi milikku; demikian yang disebutkan oleh penulis kitab at-Taqrīb.
والذي أراه أن تنزيلَ المبيع على مائةٍ شائعةٍ في المائة والخمسين لا وجه له وهو مخالفٌ لموضوع العقد وصيغةِ اللفظ؛ فإن التعويل في التصحيح على الإشارة وموجبها الاحتواء فإذا رددنا العقدَ إلى شائعٍ فهذا في التحقيق تغيير لموجب العقد ولو ساغ هذا النوع لساغ أن يزيد المشتري في الثمن على حسب ما ذكرناه قبلُ؛ فلا وجه إذاً لهذا التغيير وإن فرض الرضا به
Menurut pendapat saya, menempatkan objek jual beli pada seratus bagian yang tidak tertentu dari seratus lima puluh bagian tidaklah berdasar dan bertentangan dengan maksud akad serta lafaz yang diucapkan; sebab dalam pembenaran akad, yang dijadikan sandaran adalah isyarat dan konsekuensinya berupa mencakup keseluruhan. Jika kita mengembalikan akad kepada bagian yang tidak tertentu, maka pada hakikatnya ini adalah perubahan terhadap konsekuensi akad. Jika jenis perubahan seperti ini dibolehkan, maka pembeli pun dapat menambah harga sesuai dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya; oleh karena itu, tidak ada alasan untuk perubahan ini, sekalipun diasumsikan adanya kerelaan terhadapnya.
والوجه إفساد العقد أو تصحيحه وإثبات الخيار للبائع؛ فإن فسخ فذاك وإن أجاز سلَّم جميع الأرض
Pendapat yang kuat adalah membatalkan akad atau membetulkannya dengan menetapkan hak khiyar bagi penjual; jika penjual membatalkan maka selesai, dan jika ia menerima maka ia harus menyerahkan seluruh tanah.
فإن قيل هلا حققتم تنزيل العقد على بعض الأرض للمصلحة والصفةُ بمثابة قسمةِ الأملاك المشتركة مع العلم بأنه إذا أُفرزت حصة كل شريك فليس ما يسلم لآحاد الشركاءِ على قياس الملك الذي كان قبلُ قلنا لهذا قُدِّرت القسمةُ بيعاً على الأصح وبالجملة ليس ما نحن فيه من ذاك بسبيل نعم إن كان يناظر شيئاً فهو قريبُ الشبه مما مهدناه من غرامات الأروش القديمة والحادثة ولكن كان يجب أن يجوزَ بذل مزيدٍ من الثمن على مقابلةِ الزيادة ولم أرَ أحداً من الأصحاب يسوّغ ذلك
Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak menerapkan akad pada sebagian tanah demi kemaslahatan, sementara sifatnya serupa dengan pembagian harta milik bersama, padahal diketahui bahwa jika bagian masing-masing mitra telah dipisahkan, maka apa yang diserahkan kepada masing-masing mitra tidaklah sama dengan kepemilikan yang ada sebelumnya?” Kami katakan, “Karena itu, pembagian tersebut dianggap sebagai jual beli menurut pendapat yang lebih sahih. Secara umum, apa yang sedang kita bahas di sini bukanlah termasuk hal itu. Benar, jika ada sesuatu yang sebanding, maka hal itu mirip dengan yang telah kami jelaskan mengenai ganti rugi atas a’rāsh (denda) yang lama maupun yang baru. Namun, seharusnya diperbolehkan memberikan tambahan harga sebagai kompensasi atas tambahan tersebut, dan aku tidak melihat seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang membolehkannya.”
فهذا وجهُ التنبيه على مجاري الكلام في المسألة نقلاً واحتمالاً
Inilah penjelasan mengenai arah pembahasan dalam masalah ini, baik berdasarkan riwayat maupun kemungkinan-kemungkinan yang ada.
وهذا كله إذا زادت الأرض
Dan semua ini berlaku jika tanah tersebut bertambah.
فأما إذا نقصت الأرضُ عن المقدار المذكور فإن حكمنا بفساد العقد فلا كلامَ وإن حكَمنا بصحته فلا خيارَ للبائع وللمشتري الخيارُ في فسخ البيع
Adapun jika tanah itu kurang dari ukuran yang telah disebutkan, maka jika kita memutuskan akad itu batal, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita memutuskan akad itu sah, maka penjual tidak memiliki hak khiyar, sedangkan pembeli memiliki hak khiyar untuk membatalkan jual beli.
وتعليله بيّن فلو قال البائع لا تفسخ البيع وأنا أحط عنك من الثمن مقدار النقصان فلا يسقط خيار المشتري بهذا
Alasannya jelas, sehingga jika penjual berkata, “Jangan batalkan jual beli ini, dan aku akan mengurangi dari harga sejumlah nilai kekurangan itu,” maka hak khiyar pembeli tidak gugur dengan hal ini.
والدليل عليه أن الصفقة إذا جمعت عبداً مملوكاً وآخر مغصوباً وحكمنا بالصحة وأثبتنا الخيار للمشتري فخياره ثابت سواء قلنا إنه يجيز العقد في المملوك منهما بقسط من الثمن أو قلنا إنه يجيز العقد في المملوك بتمام الثمن
Dan dalil atas hal itu adalah bahwa apabila suatu transaksi mencakup seorang budak yang dimiliki dan seorang lagi yang digasap, lalu kita memutuskan keabsahan transaksi tersebut dan menetapkan hak khiyar bagi pembeli, maka hak khiyar tersebut tetap berlaku baik kita mengatakan bahwa ia membolehkan akad atas budak yang dimiliki dengan bagian dari harga, maupun kita mengatakan bahwa ia membolehkan akad atas budak yang dimiliki dengan seluruh harga.
ثم المشتري لا يخلو إما أن يجيز العقد وإما أن يفسخه فإن فسخه فلا كلام وإن أجازه فبكم يجيزه فعلى قولين أحدهما أنه يجيزه بتمام الثمن
Kemudian, pembeli tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia mengesahkan akad atau membatalkannya. Jika ia membatalkannya, maka tidak ada pembicaraan lebih lanjut. Namun jika ia mengesahkannya, dengan berapa ia mengesahkan akad tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; salah satunya adalah bahwa ia mengesahkannya dengan membayar seluruh harga.
والثاني أنه يجيزه بقسط من الثمن والقولان في هذا مرتبان على نظيرهما في تفريق الصفقة
Kedua, bahwa ia membolehkannya dengan bagian dari harga, dan kedua pendapat ini terkait dengan padanannya dalam masalah pemisahan transaksi.
والأوْلى في التفريق الإجازةُ في المملوك بالبعض وهذه الصورة أوْلى بالإجازة بجميع الثمن؛ من جهةِ احتواء الإشارة واستناد صحة العقد إليها كما تقدم وحق الفرع أن يُلاحَظ أصلُه وأيضاً يكاد المقدار على قولي التصحيح مع تغليب الإشارة يضاهي صفة المبيع
Yang lebih utama dalam perbedaan pendapat adalah membolehkan pada kasus budak yang dimiliki sebagian, dan gambaran ini lebih utama untuk dibolehkan dengan seluruh harga; dari sisi adanya isyarat dan bersandarnya keabsahan akad pada isyarat tersebut sebagaimana telah dijelaskan, dan hak cabang seharusnya memperhatikan asalnya. Selain itu, jumlah (bagian) menurut dua pendapat yang membolehkan dengan menguatkan isyarat hampir menyerupai sifat barang yang dijual.
فهذا مجموع القول في ذلك تأصيلاً وتفريعاً
Inilah keseluruhan penjelasan mengenai hal tersebut, baik secara dasar maupun rinciannya.
فصل
Bab
إذا باع الرجل ذراعاً من كرباس فهو كما لو باع ذراعاً من أرضٍ إن أرادَ الإشاعة والتفصيل في عدد الذُّرعان إذا كانت مجهولة أو معلومة كما مضى في الأرض حرفاً حرفاً وإن أراد ذراعاً لا على مذهب الإشاعة فهو على الفساد كما ذكرناه في الأرض
Jika seseorang menjual satu hasta kain, maka hukumnya seperti jika ia menjual satu hasta tanah, yaitu jika yang dimaksud adalah penyerataan (al-isyā‘ah) dan perincian dalam jumlah hasta, baik jumlahnya tidak diketahui maupun diketahui, sebagaimana telah dijelaskan pada kasus tanah, huruf demi huruf. Namun jika yang dimaksud adalah satu hasta tanpa mengikuti metode penyerataan (al-isyā‘ah), maka hukumnya rusak (fasad), sebagaimana telah kami sebutkan pada kasus tanah.
وغرض هذا الفصل أنه لو اشترى ذراعاً معيّناً من أحد طرفي الثوب على أن يقطعه ويَفْصله فالأصل المرجوع إليه في ذلك أن القطعَ إن كان يُحدث نقصاً فيما يبقى للبائع يُحتَفل بمثله فالذي ذكره الأصحاب بطلان البيع في هذه الصورة ولم يُشبِّب أحد بالخلاف وإن رضي البائع بالتزام النقص ثم ذكروا لذلك صوراً
Tujuan dari bab ini adalah bahwa jika seseorang membeli satu hasta tertentu dari salah satu ujung kain dengan syarat akan memotong dan memisahkannya, maka prinsip yang dijadikan acuan dalam hal ini adalah apabila pemotongan tersebut menyebabkan kekurangan pada sisa kain milik penjual yang biasanya diperhatikan, maka menurut pendapat para ulama, jual beli dalam kasus ini batal dan tidak ada seorang pun yang menyebutkan adanya perbedaan pendapat, meskipun penjual rela menanggung kekurangan tersebut. Kemudian mereka menyebutkan beberapa contoh terkait hal ini.
منها أن يشتري نصفاً من فصل على التعيين وشَرْطِ الفصلِ ومنها أن يشتريَ ذراعاً من ثوب نفيسٍ يَنقُصه التفصيل والقطع
Di antaranya adalah membeli setengah dari suatu bagian secara spesifik dengan syarat bagian tersebut, dan di antaranya adalah membeli satu hasta dari kain yang berharga yang nilainya akan berkurang jika dipotong dan dijahit.
وإن كان القطع لا يَنْقُص نقصاً يعتبر مثله أو يؤثر كالكرباس الصفيق ففي صحة البيع وجهانِ أحدهما الصحة والثاني لا يصح؛ لأنه لا يخلو من تأثيرٍ وتغييرٍ فيما ليس مبيعاً وقيل هذا اختيارُ صَاحب التلخيص
Jika pemotongan itu tidak mengurangi secara signifikan atau tidak memberikan pengaruh seperti pada kain katun yang tebal, maka ada dua pendapat mengenai keabsahan jual belinya: pendapat pertama menyatakan sah, dan pendapat kedua menyatakan tidak sah; karena tetap ada pengaruh dan perubahan pada sesuatu yang bukan merupakan objek jual beli. Dikatakan bahwa ini adalah pendapat yang dipilih oleh penulis kitab at-Talkhīṣ.
وإذا باع جزءاً معيناً من خشبة على حكم التفصيل فيختلف ذلك باختلافِ الصور فإن كانت الخشبة تُعنى لطولها ولو قُطعت ظهر نقصان القيمة فهذا يلتحق بصور القطع بفساد البيع وإن كانت لا تعنى لطولها ولا يظهر بسبب القطع نقصان قيمتها فهذا يلتحق بصور الوجهين
Jika seseorang menjual bagian tertentu dari sebuah kayu menurut ketentuan perincian, maka hukumnya berbeda-beda sesuai dengan situasinya. Jika kayu tersebut dianggap bernilai karena panjangnya, dan apabila dipotong akan tampak penurunan nilai, maka hal ini termasuk dalam kategori pemotongan yang menyebabkan jual beli menjadi fasid (rusak). Namun jika kayu tersebut tidak dianggap bernilai karena panjangnya dan pemotongan tidak menyebabkan penurunan nilai, maka hal ini termasuk dalam kategori dua kemungkinan (wajahain).
وفي القلب من القطع بفساد البيع في صورة التأثير البيّن شي ولكن الممكن فيه أنا لو صححنا العقد وألزمنا البائع القطعَ كان بعيداً؛ لأن هذا إلزامُ تنقيصٍ فيما ليس مبيعاً وإن لم نُلزمه فالحكم بصحة العقد وليس على البائع الوفاءُ بالتسليم محالٌ فهذا تعليل الفساد على حسب الإمكان
Dalam hati terdapat keraguan untuk memastikan batalnya jual beli dalam kasus adanya pengaruh yang jelas, namun yang mungkin dalam hal ini adalah jika kita mengesahkan akad dan mewajibkan penjual untuk memotong (bagian yang rusak), maka itu terasa jauh (dari kebenaran); karena ini berarti mewajibkan pengurangan pada sesuatu yang bukan merupakan objek jual beli. Dan jika kita tidak mewajibkannya, maka menetapkan sahnya akad sementara penjual tidak berkewajiban memenuhi penyerahan adalah mustahil. Maka inilah alasan batalnya (akad) sesuai dengan kemungkinan yang ada.
والصور التي لم أذكرها تخرّج على ما ذكرناها وتنقسم انقسامها
Gambaran-gambaran yang tidak saya sebutkan dapat dikembalikan kepada apa yang telah kami sebutkan dan terbagi sebagaimana pembagiannya.
فصل
Bab
قال ولا يجوز بيع اللبن في الضرع لأنه مجهول إلى آخره
Ia berkata: Tidak boleh menjual susu yang masih di dalam kantung susu (hewan), karena ia tidak diketahui (kadarnya), dan seterusnya.
اتفق أئمتنا على منع بيع اللبن في الضرع والعلّةُ السليمة أنّ اللبن يتزايد على ممر اللحظات سيّما إذا أُخذ في احتلابه فلا يتأتى تسليم المبيع الكائن حالة العقد
Para imam kami sepakat melarang penjualan susu yang masih di dalam kantong susu (ambing), dan alasan yang jelas adalah bahwa susu tersebut terus bertambah seiring berjalannya waktu, terutama jika mulai diperah, sehingga tidak mungkin menyerahkan barang yang dijual dalam keadaan saat akad dilakukan.
وتعرّض الشافعي لتعليل منع البيع بكونه مجهولاً وهذا يهون تقريره؛ فإن الضروع مختلفةٌ فمنها ضرع سمين مكتنزٌ ضيقُ المنافذ يقل ما يحويه من اللبن
Syafi‘i menjelaskan alasan pelarangan jual beli dengan alasan objeknya tidak diketahui secara jelas, dan hal ini mudah untuk dijelaskan; karena ambing sapi itu berbeda-beda, di antaranya ada ambing yang gemuk, padat, dan saluran susunya sempit sehingga jumlah susu yang dikandungnya sedikit.
ومنه ضرع متسع المنافذ غير مكتنز يكثر ما يحويه من اللبن فَضِمْن الضرع مجهول والمس من ظاهره لا يفيد علماً بمقدار اللبن وهذا تقريره هيِّن ولكن يرد عليه أن يُخرَّج على بيع الغائب؛ فإنا على قول تجويزه نجوّز بيعَ الشيء في ظرفٍ مع الجهل بصفته وقدره فالأولى أن تستعمل الجهالة في مقدار المبيع على معنى أنه لا يتأتى التسليم غير ممتزج فاستعمال الجهالة على هذا منساغ؛ ولا يلزم تخريجُ المسألة على بيع الغائب
Di antaranya adalah puting susu yang lubangnya lebar dan tidak padat, sehingga banyak menampung susu; maka isi puting susu itu tidak diketahui, dan menyentuh bagian luarnya tidak memberikan pengetahuan tentang jumlah susunya. Penjelasan ini mudah, namun ada keberatan bahwa hal ini dapat dianalogikan dengan jual beli barang yang tidak hadir (bai‘ al-ghā’ib); sebab menurut pendapat yang membolehkannya, kita membolehkan menjual sesuatu yang ada dalam wadah dengan ketidaktahuan terhadap sifat dan jumlahnya. Maka, lebih utama jika ketidaktahuan (jahālah) dalam jumlah barang yang dijual digunakan dalam arti bahwa penyerahan barang tidak dapat dilakukan kecuali dalam keadaan bercampur, sehingga penggunaan jahālah dalam hal ini dapat diterima; dan tidak harus mengaitkan masalah ini dengan jual beli barang yang tidak hadir.
وإن حلب قدراً من اللبن فأبداه نموذجاً وقال للطالب بعتك من هذا اللبن الذي في الضرع فقد ذكر الأئمةُ وجهين في أن هذا هل يكون سبيلاً يتوصّل به إلى تصحيح البيع
Jika seseorang memerah sejumlah susu lalu memperlihatkannya sebagai contoh dan berkata kepada pembeli, “Aku jual kepadamu susu seperti ini yang ada di dalam ambing,” para imam telah menyebutkan dua pendapat mengenai apakah cara ini dapat dijadikan jalan untuk mensahkan jual beli tersebut.
وهذا يحتاج إلى فضل نظرٍ فإن باع مقداراً لا يتأتى حلبه إلا ويتزايد اللبن مع
Hal ini memerlukan penelaahan lebih lanjut, sebab jika seseorang menjual sejumlah susu yang tidak mungkin diperah kecuali susu itu akan terus bertambah bersama…
حلبه فلا ينفع إبداء النموذج؛ فإن المانع قائم وذكْرُ الوجهين مطلقاً يشير إلى أن المحذور حيث لا نموذج عدمُ الرؤية أو عدمُ الإحاطة بالصفة ومن سلك هذا المسلك يلزمه التخريج على بيع الغائب
Maka tidak bermanfaat menampilkan contoh; karena penghalangnya tetap ada, dan penyebutan dua sisi secara mutlak menunjukkan bahwa permasalahan terjadi ketika tidak ada contoh, yaitu tidak adanya ru’yah (melihat) atau tidak mengetahui sifat barang. Dan siapa yang menempuh jalan ini, maka wajib baginya melakukan takhrij atas jual beli barang yang ghaib (tidak hadir di majelis).
وكان شيخي يتأنق في التصوير ويفرضُ بيعَ مقدارٍ إذا ابتدر حلبه واللبن على كمال دِرّته لم يظهر اختلاطُ شيء له قدرٌ به مبالاة وإن فرض شيء على بُعدٍ فمثله محتمل كما إذا باع جِزةً من قُرْط
Dan guruku sangat teliti dalam menggambarkan (masalah), serta mewajibkan penjualan sejumlah tertentu jika susu mulai diperah dan susu tersebut dalam kondisi puncak produksinya, maka tidak tampak adanya campuran sesuatu yang memiliki kadar yang patut diperhitungkan. Namun jika sesuatu itu diasumsikan terjadi dari kejauhan, maka hal semacam itu masih dapat ditoleransi, sebagaimana jika seseorang menjual seikat wol dari seekor domba.
فإذا قلّ مقدارُ المبيع وتُصوّر بالصورة التي ذكرناها وفرض إبداءُ النموذج فينقدح ذكر خلافٍ هاهنا؛ فإن هذا المقدارَ يُمثل ببيع جِزَّةٍ من قُرطٍ يبتدر جزها وإذا كثر المقدار كان مشبَّهاً ببيع ما يتزايد على شرط التبقية؛ فإن الحلب وإن ابتُدر إذا كثر القدرُ ظهر التزايد؛ فإنّ سبيل تزايد اللبن من منافذه كسبيل بيع الماء من عيون البئر
Jika jumlah barang yang dijual sedikit dan dapat dibayangkan seperti gambaran yang telah kami sebutkan, serta diasumsikan adanya penunjukan contoh, maka timbul kemungkinan adanya perbedaan pendapat di sini; sebab jumlah ini dapat diumpamakan dengan penjualan sejumput wol dari anting yang segera diambil bagiannya. Namun jika jumlahnya banyak, maka hal itu menyerupai penjualan sesuatu yang terus bertambah dengan syarat dibiarkan tetap; sebab pemerahan susu, meskipun segera diambil, jika jumlahnya banyak maka pertambahannya akan tampak; karena cara bertambahnya susu dari salurannya itu seperti halnya penjualan air dari mata air sumur.
والجَمةُ إذا كملت لا تزيد وإذا أخذ في نزحها فارت العيون
Dan kolam yang airnya penuh tidak akan bertambah, dan jika mulai disedot airnya, maka mata air pun akan memancar.
ومن حقيقة هذا الفصل أن الخلاف إذا رد إلى تعليل المقدار فلا حاجة إلى ذكر النموذج في التخريج على الخلاف
Dan inti dari pembahasan ini adalah bahwa apabila perbedaan pendapat dikembalikan kepada alasan mengenai kadar (ukuran), maka tidak perlu menyebutkan contoh dalam melakukan takhrij atas perbedaan pendapat tersebut.
وحاصل القول أنه إذا ظهر الزائد والاختلاطُ امتنع البيع قولاً واحداً وامتاز اللبن في الضرع في هذه الصورة عن قاعدة بيع الغائب بما ذكرناه من الاختلاط
Kesimpulannya adalah bahwa apabila tambahan dan percampuran telah tampak, maka jual beli menjadi terlarang menurut satu pendapat, dan dalam hal ini susu yang ada di dalam kantong susu (hewan) berbeda dari kaidah jual beli barang yang tidak hadir, sebagaimana telah kami sebutkan mengenai adanya percampuran.
وإن قل المقدار وكان الاختلاط فيه غيرَ معتد به فمن أصحابنا من يرى إلحاقَ هذا ببيع الغائب وقد تقدم التفصيل فيه والنموذج من أطرافِ تفريعه
Jika jumlahnya sedikit dan pencampurannya tidak dianggap signifikan, maka sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa hal ini disamakan dengan jual beli barang yang tidak hadir, dan rincian serta contohnya telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan cabang-cabangnya.
ومنهم من حسم الباب ورأى إلحاق القليل بالكثير؛ فإنه لا ضبط للقدر الذي يقال فيه إنه مبيع خالصٌ غيرُ مختلطٍ؛ فالوجه حسم الباب بالمنع
Sebagian dari mereka menutup pintu (perbedaan pendapat) dan berpendapat bahwa sedikit (campuran) disamakan dengan banyak; karena tidak ada batasan pasti mengenai kadar yang dapat dikatakan sebagai barang yang benar-benar murni dan tidak tercampur; maka pendapat yang tepat adalah menutup pintu dengan melarangnya.
هذا تحقيق المذهبِ
Ini adalah penjelasan mazhab.
وذكر بعض أصحابنا لمَّا جرى ذكرُ النموذج فصلاً فيه لا اختصاص له باللبن وهو أن من أبدى نموذجاً من لبنٍ أو حنطة أو غيرِهما وأراه الطالبَ وقال التزمت لك على هذه الصفة كذا رَطلاً فقبله الطالبُ ونقدَ الثمنَ فهل يكون هذا سلَماً صحيحاً وهل يجري إبداء النموذج مجرى استقصاءِ الوصف كان شيخي يقطع بأن هذا لا يصح ويخرّجه على أن التعويلَ فيه على التعيين والنموذج يُعرَّض للضياع فقد يجرّ التعيينُ عليه خبالاً وهذا ممتنع في السلم
Sebagian ulama kami menyebutkan, ketika pembahasan tentang contoh (nawāmidz) muncul, sebuah bagian yang sebenarnya tidak khusus berkaitan dengan susu, yaitu: jika seseorang memperlihatkan contoh dari susu, gandum, atau selain keduanya, lalu ia memperlihatkannya kepada pembeli dan berkata, “Aku berkomitmen kepadamu untuk menyediakan barang dengan sifat seperti ini sejumlah sekian rathl,” kemudian pembeli menerimanya dan membayar harga, apakah ini dianggap sebagai akad salam yang sah? Dan apakah memperlihatkan contoh itu sama dengan menjelaskan sifat secara rinci? Guru saya berpendapat tegas bahwa ini tidak sah, dan beliau mengaitkannya dengan prinsip bahwa dalam hal ini penekanan terletak pada penentuan (ta‘yīn), sedangkan contoh (nawāmidz) itu rawan hilang, sehingga penentuan atas contoh tersebut dapat menimbulkan masalah. Hal ini tidak diperbolehkan dalam akad salam.
وقال طوائفُ من المحققين لفظُ الأنموذج لا يكفي من غير تدبّر وإن كان يُكتفَى باللحظ في بيع العِيان؛ فإن الملحوظ إذا كان هو المسلَم لم يعد مجهولاً وإن كان الملحوظُ عِبرةً لموصوفٍ في الذمةِ ثم لم يتأمَّل عُدَّ الثابتُ في الذمة مجهولاً وإن تأمّل العاقدُ النموذجَ وضبط أوصافَه على وجهٍ لو فات لاستقل بتلك الأوصاف
Sekelompok ulama dari kalangan para peneliti menyatakan bahwa lafaz “an-namūdzaj” (contoh) tidaklah cukup tanpa adanya penelaahan, meskipun dalam jual beli barang yang terlihat (bay‘ al-‘iyān) cukup dengan sekadar melihat. Sebab, jika yang dilihat itu adalah barang yang diserahkan, maka ia tidak lagi dianggap majhul (tidak diketahui), namun jika yang dilihat itu hanyalah sebagai acuan bagi barang yang bersifat maushūf fi al-dzimmah (barang dengan sifat tertentu yang menjadi tanggungan), lalu tidak ditelaah dengan saksama, maka barang yang tetap menjadi tanggungan itu dianggap majhul. Namun, jika pihak yang berakad menelaah contoh tersebut dan mencatat sifat-sifatnya secara rinci sehingga jika contoh itu hilang, sifat-sifat tersebut sudah cukup mewakili, maka hal itu dianggap sah.
قالوا إن كان كذلك انعقد وكان ما جاء به وصفاً كافياً وهذا حسن
Mereka berkata, jika demikian maka akadnya sah dan apa yang ia sampaikan merupakan deskripsi yang cukup, dan ini adalah pendapat yang baik.
وامتنع شيخي منه وقال السلم يعتمد الأوصاف المذكورة والإحاطةُ بالأوصاف لم يجر ذكرها
Guru saya menolak hal itu dan berkata, “Salam didasarkan pada sifat-sifat yang disebutkan, sedangkan pengetahuan menyeluruh terhadap sifat-sifat tersebut tidak pernah disebutkan.”
فصل
Bab
منع الأصحاب بيعَ الصوف على ظهر الغنم؛ لأن مطلقَ البيع يتناول الصوفَ إلى الأصل المتصل بظاهِر الجلد وتسليمُه على هذا الوجه ممتنع؛ فإن فيه إن قصده القاصد تعذيبَ الحيوان على أنه مع الإيلام غيرُ ممكنٍ ولا عادةَ في بيعِ الصوفِ على الغنم حتى ينزل ذلك على المعتادِ في مثله
Para ulama yang terkemuka melarang jual beli wol yang masih menempel di punggung domba, karena lafaz jual beli secara mutlak mencakup wol hingga ke bagian dasarnya yang menempel pada permukaan kulit, dan penyerahannya dalam bentuk seperti ini tidak mungkin dilakukan; sebab jika seseorang bermaksud mengambilnya, hal itu akan menyakiti hewan, di samping itu juga tidak memungkinkan dan tidak ada kebiasaan dalam jual beli wol yang masih menempel pada domba sehingga dapat disamakan dengan kebiasaan dalam hal serupa.
فإن قيل في الجزّ عادةٌ فلُينزَّل عليها البيعُ قلنا ليس في الجزِّ عادةٌ مضبوطة بل الأمر يتفاوت ومن يجز غنم نفسه لا يبالي بتفاوته فإذا رُدّ الأمرُ إلى البيع أثار ذلك تنافياً
Jika dikatakan bahwa dalam pencukuran terdapat kebiasaan, maka hendaknya penjualan didasarkan padanya, kami katakan: tidak ada kebiasaan yang baku dalam pencukuran, bahkan perkara ini sangat bervariasi. Orang yang mencukur domba miliknya sendiri tidak mempermasalahkan perbedaan tersebut. Maka jika perkara ini dikembalikan pada jual beli, hal itu akan menimbulkan pertentangan.
ولو أشار إلى كتلة من الصوف وأعلم على موضعها وباع ذلك المقدار لم يمتنع بيعُها وليس كالقصيل والفث؛ فإن استيعابه ممكن بالقطع
Jika seseorang menunjuk pada segumpal wol, menandai letaknya, lalu menjual sejumlah itu, maka penjualannya tidak terlarang. Hal ini berbeda dengan rumput yang baru dipotong dan tanaman polong-polongan; karena mengambil seluruhnya memungkinkan dengan cara dipotong.
فصل
Bab
قال ولا يجوز بيعُ المسك في فأرة إلى آخره
Ia berkata: Tidak boleh menjual misk dalam kantongnya, dan seterusnya.
الفأرة تنفصل عن الظبية خِلقةً وحشوها المسك وهذا مخصوصٌ بذلك الجنس وهي على موضع السرة منها والرب تعالى يربّي في كل سنة فأرةً وينميها وتُلفَى ملتحمةً ثم تستشعر أطرافها قشفاً ويُبْساً واحتكاكاً فتحتك الظبيةُ بالصرار والمواضع الخشنة فتسقط الفارةُ وحشوها المسك وقد يقطرُ في احتكاكِهَا المسك أيضاً كالدم العبيط فَيتبَع ويُلْقَط هذه صورة الفأرة ولا يكون فيها فتق إلا أن يلحقها خَرق وقد تُفْتَق الفأرةُ ويخرج مسكها ويعاد مع أمثاله ويخاطُ موضع الفتق
Fārah (kantung) terpisah dari kijang secara alami, dan isinya adalah misik (kasturi). Hal ini khusus pada jenis hewan tersebut. Letaknya berada di sekitar pusar kijang. Allah Ta‘ala menumbuhkan setiap tahun satu fārah dan membesarkannya. Fārah itu ditemukan dalam keadaan menyatu, kemudian bagian-bagian ujungnya mulai terasa kering, kasar, dan gatal. Maka kijang itu menggosokkan dirinya pada batu-batu atau tempat-tempat yang kasar hingga fārah tersebut terlepas, dan isinya adalah misik. Terkadang, saat kijang menggosokkan dirinya, misik juga menetes seperti darah segar, lalu dikumpulkan dan diambil. Inilah gambaran tentang fārah, dan tidak terdapat robekan pada fārah kecuali jika terkena luka. Kadang fārah itu dibelah, misiknya dikeluarkan, lalu dicampur dengan misik lainnya dan bagian yang robek dijahit kembali.
فإن كانت الفأرة على الفطرة الأصلية فهي في الصورة كالجوزة وحشوُها اللّب المقصود وإن فُتقت وأعيد المسك إليها بعد الإخراج منها فالفأرةُ على صورة الظرف
Jika fa’rah (kantung kesturi) masih dalam keadaan asalnya, maka bentuknya seperti buah kenari dan isinya adalah inti yang dimaksudkan. Namun jika telah dibelah dan musk dimasukkan kembali setelah dikeluarkan darinya, maka fa’rah itu berbentuk seperti wadah.
هذا بيان الصورة
Ini adalah penjelasan gambaran.
وأما الحكمُ فنذكر المذهبَ في الفأرة التي لم تفتق ثم نذكر التفصيل في المفتوق
Adapun hukum, maka kami akan menyebutkan mazhab mengenai tikus yang belum dibelah, kemudian kami akan menyebutkan perincian pada yang telah dibelah.
فأمّا التي لم تفتق فقد ذهب صاحب التقريب إلى أنها كالجوزة فإذا بيعت مع قشرتها نفذ البيع قولاً واحداً نَفاذَ بيع الجوزة؛ فإن الفأرةَ صوانُ المسك والحاجة إلى صوان المسك ماسة ظاهرة؛ فإن الهواء يخطَفُ ما يلقُط منها ويغيّر رائحتَها وليس الصوان المخلوقُ كالمفتوق والمخيط فإن كان في حشو الفأرة جهالة فهي محتملة عند الحاجة؛ إذ يُفرض مثل ذلك في لب الجوز والرانج وغيرهما
Adapun yang belum terbelah, menurut pendapat penulis kitab at-Taqrīb, hukumnya seperti buah kenari; jika dijual bersama kulitnya, maka jual belinya sah secara mutlak, sebagaimana sahnya jual beli buah kenari. Sebab, kulit tikus kesturi adalah pelindung misik, dan kebutuhan terhadap pelindung misik sangat mendesak dan jelas; karena udara dapat dengan cepat mengambil dan mengubah aromanya. Pelindung alami tidak sama dengan yang sudah dibelah atau dijahit. Jika terdapat ketidakjelasan pada isi tikus kesturi, maka hal itu dapat ditoleransi ketika ada kebutuhan; sebagaimana hal serupa juga terjadi pada inti buah kenari, buah ranj, dan selainnya.
وقال طوائفُ من أئمتنا الفأرة غيرُ المفتوقة ليست كالجوزة؛ فإن حشوَ الفأرة يختلف اختلافاً بيناً على نفاسته وعِظم خطره وإذا أخرج المسكُ من فأرة أمكن صونُه بالرد أو بالظروف المصممة وليس كاللبوب؛ فإنه لا يَسُدّ ظرفٌ في صونها مسدَّ قشورها وإذا تبيَّن مفارقتُها للجوز وما في معناها فقد قال بعض أصحابنا على هذه الطريقة البيع فاسد لاستتارِ المبيع بما ليس من صلاحه
Sebagian kelompok dari para imam kami mengatakan bahwa fa’rah (kantung kesturi) yang tidak terbelah tidaklah sama dengan biji kenari; karena isi fa’rah sangat berbeda-beda dalam hal kualitas dan nilainya yang besar. Jika kesturi dikeluarkan dari fa’rah, maka memungkinkan untuk menjaganya kembali dengan memasukkannya atau dengan wadah-wadah yang dirancang khusus, dan ini tidak seperti daging buah kenari; karena tidak ada wadah yang dapat menjaga daging buah kenari sebagaimana kulitnya. Jika telah jelas perbedaan antara fa’rah dan biji kenari serta yang sejenisnya, maka sebagian sahabat kami berpendapat bahwa menurut metode ini, jual beli tersebut batal karena barang yang dijual tersembunyi oleh sesuatu yang bukan merupakan bagian dari kemaslahatannya.
والوجه عندنا تخريج البيع على بيع الغائب؛ فإن بيع المسك في فأرة مع فأرة لا يزيد على بيع الثوب في الكتم فإن كان ما ذكره الأصحاب جواباً عن منع بيع الغائب فصحيح وإن كان قطعاً بفسادِ البيع والتزاماً للفرق بين هذا وبين بيع الغائب فهذا لا سبيل إليه
Menurut kami, permasalahannya adalah mengqiyaskan jual beli ini dengan jual beli barang yang tidak hadir; karena menjual kesturi di dalam kantong bersama kantongnya tidak lebih dari menjual kain yang masih tersembunyi. Jika apa yang disebutkan para ulama adalah jawaban untuk menolak jual beli barang yang tidak hadir, maka itu benar. Namun jika itu merupakan penegasan akan batalnya jual beli dan mengharuskan adanya perbedaan antara kasus ini dengan jual beli barang yang tidak hadir, maka hal itu tidak dapat diterima.
وهذا كله في الفأرة التي لم تفتق
Dan semua ini berlaku pada tikus yang belum robek.
وتمام بيان القول فيها يستدعي شرحَ شيءٍ آخر
Penjelasan lengkap mengenai pendapat dalam masalah ini memerlukan penjelasan tentang hal lain.
وهو أن الأكثرين من الأئمة ذهبوا إلى أن الفأرة طاهرة وقال قائلون إنها نجسة؛ فإنها بانت من حيٍّ وما يبين من الحي فهو ميت وهذا وإن كان ظاهِراً فلا حقيقة له لإطباق الخلق أولاً على خلاف ذلك ثم ما ذكرناه من تصدير الفصل بالتصوير يبيِّن أن ما ينمو ويسقط يضاهي البيضةَ التي تنفصل من الدجاجة فهي طاهرةُ العين وإن كان نموها في الحيوان وقد يقول من يحكم بنجاسة الفأرة البيضةُ لا تتصل بالدجاجة قط اتصال التحام إنما يخلقها الباري مودعة في البطن والفأرة تكون ملتحمةً ثم تسقط
Mayoritas imam berpendapat bahwa fa’rah (embrio hewan yang gugur sebelum sempurna) adalah suci, sementara sebagian orang mengatakan bahwa ia najis; karena ia terpisah dari hewan yang masih hidup, dan segala sesuatu yang terpisah dari hewan hidup hukumnya bangkai. Meskipun pendapat ini tampak jelas, sebenarnya tidak demikian, karena sejak awal mayoritas umat telah sepakat sebaliknya. Selain itu, sebagaimana telah kami sebutkan pada awal bab tentang penjelasan, bahwa sesuatu yang tumbuh lalu terlepas itu serupa dengan telur yang terpisah dari ayam, maka ia suci pada zatnya meskipun pertumbuhannya terjadi di dalam tubuh hewan. Ada pula yang berpendapat bahwa fa’rah itu najis, dengan alasan bahwa telur tidak pernah benar-benar menyatu dengan ayam, melainkan diciptakan oleh Allah dan diletakkan di dalam perut, sedangkan fa’rah itu menyatu (dengan induknya) lalu terlepas.
هذا سبب الخلاف
Inilah sebab terjadinya perbedaan pendapat.
فكأَنَّ ما يقطع من الحيوان أو يسقط على ندور يحكم بنجاسته وما يُخلَق مودَعاً وينفصلُ إذا تكامل خلقُه لا نحكم بنجاسته كالبيض وما يخلق ملتحماً وهو إلى السقوط فليس عضواً أصلياً فيتردَّدُ وجهُ الرأي فيه
Seakan-akan apa yang terpotong dari hewan atau terjatuh secara jarang dihukumi najis, sedangkan apa yang diciptakan dalam keadaan tersimpan dan terpisah ketika penciptaannya telah sempurna, seperti telur, tidak dihukumi najis. Adapun apa yang diciptakan menyatu dan dalam keadaan akan terjatuh, maka itu bukan anggota asli, sehingga pendapat mengenai hukumnya masih diperdebatkan.
فإن حكمنا بطهارة الفأرة فبيعها صحيح كما يصح بيعُ البيضة
Jika kita memutuskan bahwa tikus itu suci, maka jual-beli tikus itu sah sebagaimana sahnya jual-beli telur.
واختلافُ الأصحاب في نجاسةِ ظاهر البيضة أخذاً من ملاقاتها الرطوبةَ النجسة في داخل المنفذ لا يؤثر في منع البيع؛ فإن المانع من البيع نجاسةُ الأعيان لا النجاسات المجاورة لها
Perbedaan pendapat para ulama mengenai kenajisan bagian luar telur, yang diambil dari kemungkinan bersentuhan dengan kelembapan najis di dalam lubang, tidak berpengaruh dalam pelarangan jual beli; karena yang menjadi penghalang jual beli adalah kenajisan zat (benda) itu sendiri, bukan najis yang hanya bersentuhan dengannya.
فإن حكمنا بطهارة الفأرة فالأمر في البيع كما مضى وإن حكمنا بنجاستها فالمسك في حشوها طاهرٌ وِفاقاً وكان أحب الطيب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقالت عائشة طيبتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم لحُرْمِه حين أحرم فرأيتُ وبيص المسك في مفارقه بعد ثلاث
Jika kita memutuskan bahwa tikus itu suci, maka hukum jual belinya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun jika kita memutuskan bahwa tikus itu najis, maka misk yang ada di dalam isinya tetap suci menurut kesepakatan. Misk adalah wewangian yang paling disukai oleh Rasulullah ﷺ. Aisyah berkata, “Aku pernah memakaikan wewangian kepada Rasulullah ﷺ untuk ihramnya ketika beliau berihram, lalu aku melihat kilauan misk di bagian kepala beliau setelah tiga hari.”
فإذا باع الفأرة والمسك الذي فيها فينتظم إلى ما ذكرناه من خبطِ الأصحاب في الجهالة أن الصفقة جمعت نجساً لا يجوز بيعه وطاهراً فيتولّج في المسألة تفاريعُ تفريق الصفقة
Jika seseorang menjual tikus beserta kantung kasturi yang ada padanya, maka hal ini berkaitan dengan apa yang telah kami sebutkan mengenai kebingungan para ulama dalam masalah ketidakjelasan, yaitu bahwa akad jual beli tersebut mencakup barang najis yang tidak boleh dijual dan barang suci, sehingga dalam permasalahan ini timbul cabang-cabang pembahasan mengenai pemisahan akad jual beli.
فأما إذا فتقت الفأرة ورُدّ المسكُ إليها فلا كلام في بيع المسك فيها دونها ومعها كالإعلام في بيع السمن في البُسْتوقة وقد مضى ذلك مستقصىً
Adapun jika tikus kesturi telah dibuka dan kasturi dikembalikan ke dalamnya, maka tidak ada perbedaan pendapat mengenai bolehnya menjual kasturi di dalamnya, baik tanpa wadah maupun bersamanya, sebagaimana halnya penanda dalam penjualan minyak samin dalam kendi, dan hal ini telah dijelaskan secara rinci sebelumnya.
وبيع اللبوب دون قشورها باطل وإن أجزنا بيع الغائب؛ فإنه لا يتوصل إلى تسليمها إلا بكسر القشور وهو من باب تغيير عيْن المبيع لأجل تسليم المبيع وقد ذكرنا تمهيد هذا الأصل في اقتضاء الفساد وقد يخطر من طريق الاحتمال مع القطع في النقل أن صحة القشور ليست مطلوبة واللب للغير ولكن الأمر على ما ذكرناه
Menjual isi buah tanpa kulitnya adalah batal, meskipun kami membolehkan jual beli barang yang gaib; karena tidak mungkin menyerahkannya kecuali dengan memecahkan kulitnya, dan ini termasuk dalam kategori mengubah zat barang yang dijual demi menyerahkan barang tersebut. Kami telah menjelaskan landasan kaidah ini dalam pembahasan yang menuntut kerusakan (fasad). Mungkin saja terlintas secara kemungkinan, meskipun secara pasti dalam riwayat, bahwa keberadaan kulit tidaklah menjadi syarat dan isi buah itu milik orang lain, namun perkara ini tetap seperti yang telah kami sebutkan.
وفي بيع بيض ما لا يؤكل لحمُه وجهان مخرجان على الطهارة والنجاسة
Dalam jual beli telur hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan, terdapat dua pendapat yang dikaitkan dengan persoalan suci dan najis.
والخلاف في طهارة بيض ما لا يؤكل لحمه يخرّج على الخلاف في منيّ الحيوان الطاهر العين المحرَّمِ اللحم
Perbedaan pendapat tentang kesucian telur hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya dikembalikan kepada perbedaan pendapat mengenai mani hewan yang suci ‘ain-nya namun haram dagingnya.
وفي بيع بِزْر دود القز وجهان؛ فإنه من الدود كالبيض من الطائر و في بيع القز وفي أدراجه الدودُ الميتةُ تفصيل فإنْ بيع جزافاً جاز؛ تعويلاً على الإشارة
Dalam jual beli biji ulat sutra terdapat dua pendapat; karena biji tersebut dari ulat sebagaimana telur dari burung. Dalam jual beli sutra dan dalam penyertaan ulat mati di dalamnya terdapat perincian: jika dijual secara borongan, maka diperbolehkan, dengan mengandalkan pada penunjukan.
وإن بيع وزناً لم يجز؛ فإنّ الدّودَ لا يقصد بالوزن والقزُّ المقصودُ بالوزن يكون مجهولاً بسبب الدود
Jika dijual berdasarkan timbangan, maka tidak diperbolehkan; karena ulatnya tidak dimaksudkan untuk ditimbang, sedangkan benang sutra yang dimaksudkan untuk ditimbang menjadi tidak jelas (jumlahnya) karena adanya ulat.
فصل
Bab
في تملك الكافر المسلم
Tentang kepemilikan orang kafir terhadap orang Muslim
وكفر الكافر لا ينافي ثبوتَ الملك له على العبد المسلم؛ فإنه لو ملك عبداً كافراً فأسلم لم ينقطع ملكه بإسلامه بل هو مقَرٌّ على ملكه إلى أن يتفق بيعُه عليه والكافر إذا كان في ملكه عبد مسلم على التقدير الذي ذكرناه فإذا مات ورثه وارثه الكافر فلا يمتنع إذاً كونُ المسلمِ مملوكاً للكافر
Kekafiran seorang kafir tidak menafikan adanya kepemilikan atas seorang hamba Muslim; sebab jika seseorang memiliki seorang hamba kafir lalu hamba tersebut masuk Islam, kepemilikannya tidak terputus karena keislaman hamba itu, melainkan ia tetap diakui atas kepemilikannya hingga terjadi penjualan terhadap hamba tersebut. Dan apabila seorang kafir memiliki seorang hamba Muslim sebagaimana yang telah disebutkan, lalu ia meninggal dunia, maka hamba itu diwarisi oleh ahli warisnya yang juga kafir. Maka, tidaklah mustahil seorang Muslim menjadi milik seorang kafir.
وإذا صادفنا ذلك أمرناه بإزالةِ ملكه بهبةٍ أو ببيع أو عتقٍ فإن أجاب وإلا بعناه عليه بثمن المثل فإن لم نجد راغباً يشتريه بثمنه في الحال صبرنا إلى الوجود وحُلنا بينه وبين السيد ولا نبيعه بالغبن ثم لا نعطّل منفعته في زمان التربص بل نستكسبه ونفقته واجبة على سيده الكافر
Jika kami menjumpai hal tersebut, kami memerintahkannya untuk melepaskan kepemilikannya dengan cara hibah, atau menjual, atau memerdekakan. Jika ia memenuhi, maka selesai. Jika tidak, kami menjualnya dengan harga yang sepadan. Jika tidak ada peminat yang mau membelinya dengan harga tersebut saat itu juga, kami menunggu sampai ada yang berminat, dan kami menghalangi antara dia dan tuannya, serta tidak menjualnya dengan harga yang merugikan. Kemudian, kami tidak menelantarkan manfaatnya selama masa penantian, melainkan kami mempekerjakannya, dan nafkahnya tetap menjadi kewajiban tuannya yang kafir.
ولو كاتبه كتابةً يصح مثلها فهل يخرج عن عهدة المطالبة فعلى وجهين
Dan jika ia menuliskan suatu perjanjian yang sah seperti itu, apakah ia terbebas dari tanggung jawab tuntutan? Dalam hal ini terdapat dua pendapat.
أحدهما أنه لا يخرج عن العهدة لاستمرار ملكه على رقبة المكاتب والمحذور دوامُ ملكه مع إمكان الإزالة لا تسلطهُ بالاستخدام؛ إذْ لو كان المحذور ذلك لأجبنا السيد الكافرَ إلى إبقاء ملكه عليه مع إيقاع الحيلولة بينه وبينه
Pertama, ia tidak terbebas dari tanggungan karena kepemilikannya atas diri mukatab tetap berlangsung, dan hal yang dikhawatirkan adalah tetapnya kepemilikan tersebut padahal masih mungkin untuk dihilangkan, bukan karena ia berkuasa untuk memanfaatkannya; sebab jika yang dikhawatirkan adalah hal itu, tentu kami akan membolehkan tuan yang kafir untuk tetap memiliki mukatab tersebut dengan tetap menghalangi hubungan antara keduanya.
والوجه الثاني أنه يخرج بالكتابة عن عهدة المطالبة؛ لأن الكتابة تُثبت للعبد رتبة الاستقلال والانقطاعَ عن تحكم السيد وهذا هو الغرض
Pendapat kedua adalah bahwa dengan adanya kitabah, seorang budak terbebas dari tuntutan pembayaran; karena kitabah memberikan kepada budak kedudukan kemandirian dan terputusnya kekuasaan tuan atas dirinya, dan inilah tujuannya.
فإن اكتفينا بالكتابة حكمنا بصحتها وإن لم نكتف بالكتابة فقد اختلف أصحابنا فمنهم من أفسدها وباع العبد ومنهم من صححها وسلط الشرعَ على فسخها
Jika kita cukup dengan penulisan, maka kita memutuskan keabsahannya. Namun jika kita tidak cukup dengan penulisan, maka para ulama kami berbeda pendapat: sebagian dari mereka membatalkannya dan menjual budak tersebut, sementara sebagian lain menganggapnya sah dan menyerahkan kepada syariat untuk membatalkannya.
وكل ذلك إذا منعنا بيعَ المكاتَب فإن جوزنا بيعَه كما سيأتي بيانُ ذلك نفذنا الكتابة وبعناه مكاتَباً وتفصيل ذلك في الكتابة
Semua itu berlaku jika kita melarang penjualan mukatab. Namun, jika kita membolehkan penjualannya sebagaimana akan dijelaskan nanti, maka kita melaksanakan akad kitābah dan menjualnya sebagai mukatab. Rinciannya akan dijelaskan dalam pembahasan tentang kitābah.
ولا خلاف أن الكافر لا يتخلص بالرهن والتزويج عن المطالبة
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa orang kafir tidak terbebas dari tuntutan (hutang) hanya dengan memberikan barang jaminan (rahn) atau melalui pernikahan.
هذا كلام في الملك الدائم للكافر على المسلم مع مطالبتهِ بإزالته
Ini adalah pembahasan tentang kepemilikan tetap orang kafir atas orang muslim beserta tuntutannya untuk menghilangkannya.
فأما إذا أراد الكافر أن يتملك عبداً مسلماً اختياراً بعقد يفيد الملك مثل أن يشتري أو يتهب عبداً مسلماً ففي صحة العقد وترتب ثبوت الملك عليه قولان مشهوران موجهان في الخلاف
Adapun jika seorang kafir ingin memiliki seorang budak Muslim secara sukarela melalui akad yang memberikan kepemilikan, seperti membeli atau menerima hibah seorang budak Muslim, maka dalam hal keabsahan akad dan konsekuensi penetapan kepemilikan atasnya terdapat dua pendapat yang masyhur dan masing-masing memiliki argumentasi dalam perbedaan pendapat tersebut.
وإذا منعنا العقد وأفسدناه فقد اختلف أصحابنا في مسائلَ نُرسلها ثم ننظمها في ترتيب
Dan apabila kami melarang akad dan membatalkannya, para ulama kami berbeda pendapat dalam beberapa permasalahan yang akan kami sebutkan, kemudian kami susun secara teratur.
فإذا اشترى الكافرُ أباه المسلم أو ابنَه والتفريع على فسادِ الابتياع ففي ابتياع من يَعتِق عليه وجهان أحدُهما المنعُ لاختيارِ الشراء والعتق واقع بعد حصول الملك لو صححنا الشراء؛ فالوجه المنع ليطرد امتناع اختيار التملّك
Jika seorang kafir membeli ayahnya yang muslim atau anaknya, dan berdasarkan pendapat bahwa jual beli tersebut batal, maka dalam hal pembelian seseorang yang akan merdeka karena hubungan nasab terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah larangan, karena pembelian tersebut dilakukan atas pilihan sendiri dan kemerdekaan terjadi setelah kepemilikan sah jika jual beli itu dianggap sah; maka pendapat yang kuat adalah larangan, agar tetap konsisten dengan larangan memilih kepemilikan.
والثاني يجوز توصّلاً إلى العتق ومن صحح ذلك زعم أن هذا العقدَ عقدُ عتاقة وليس عقداً ينبغي به التملك والإنشاء فالملك إذن يثبت ذريعة إلى العتق لا مقصوداً والدليل عليه أنه يصح من المسلم ابتياع والده وإن كان لا يحل له إذلالُه والردتى أعلى درجات الإذلال فإذاً جاز على الجملة أن يشتري الولدُ والدَه باعتبار أن الرق غيرُ مقصودٍ فيه
Yang kedua, diperbolehkan sebagai jalan menuju pembebasan budak. Orang yang membenarkan hal ini berpendapat bahwa akad ini adalah akad pembebasan, bukan akad yang dimaksudkan untuk kepemilikan dan penciptaan (hak milik), sehingga kepemilikan itu ditetapkan sebagai sarana menuju pembebasan, bukan sebagai tujuan utama. Dalilnya adalah bahwa seorang muslim sah membeli ayahnya sendiri, meskipun tidak halal baginya merendahkan ayahnya, sedangkan riddah adalah bentuk perendahan tertinggi. Maka secara umum diperbolehkan seorang anak membeli ayahnya dengan pertimbangan bahwa perbudakan bukanlah tujuan dalam hal ini.
ومما ذُكر من هذا الجنس أن الكافر إذا قال لمسلم أعتق عبدك هذا عني فأعتقه عنه بعوضِ أو بغير عوض ففي نفوذ العتق عن الكافر المستدعي خلافٌ على مَنْعنا الكافرَ من شراء العبد المسلم ووجه التجويز ما ذكرناه من أن العتق عنه وإن كان يفتقر إلى تقدير الملكِ له قبيل نفوذ العتق فليس ذلك ملكَ قرار ويتضح أن يقال الممنوع اختيار الملك والملك في هذا العقد وفي الذي تقدم غير مختار وإنما المقصود المختارُ العتقُ فلم يكن الملكُ الحاصل في حكم الملكِ الدائم وقد ذكرنا أنه غير ممتنع مع الكفر
Di antara hal yang disebutkan dari jenis ini adalah apabila seorang kafir berkata kepada seorang Muslim, “Merdekakanlah budakmu ini atas namaku,” lalu Muslim tersebut memerdekakannya atas nama si kafir, baik dengan imbalan maupun tanpa imbalan, maka terdapat perbedaan pendapat mengenai keabsahan pemerdekaan atas nama kafir yang memintanya, berdasarkan larangan kita terhadap kafir untuk membeli budak Muslim. Adapun alasan yang membolehkan adalah sebagaimana telah kami sebutkan, bahwa pemerdekaan atas namanya meskipun membutuhkan adanya kepemilikan secara estimasi sebelum pemerdekaan itu sah, namun kepemilikan tersebut bukanlah kepemilikan yang tetap. Hal ini dapat dijelaskan dengan mengatakan bahwa yang dilarang adalah memilih kepemilikan, sedangkan kepemilikan dalam akad ini dan dalam kasus sebelumnya bukanlah kepemilikan yang dipilih, melainkan yang dimaksud dan dipilih adalah pemerdekaan itu sendiri. Maka kepemilikan yang terjadi tidak dianggap sebagai kepemilikan yang tetap, dan telah kami sebutkan bahwa hal itu tidak mustahil terjadi pada orang kafir.
ومما ذكره الأصحاب أن الكافر لو قال العبد الذي في يد فلانٍ المسلمِ قد أعتقه فلو أن الكافر اشترى هذا العبدَ فلو قدّرنا الصحةَ لكان يعتِق عليه بحكم الإقرار السابق فذكر الأصحاب وجهين في تصحيح ابتياعه كما تقدم
Di antara yang disebutkan oleh para ulama adalah bahwa jika seorang kafir berkata, “Budak yang berada di tangan si Fulan, seorang muslim, telah aku merdekakan,” lalu si kafir itu membeli budak tersebut, maka jika kita menganggap jual belinya sah, budak itu akan merdeka baginya berdasarkan pengakuan sebelumnya. Para ulama menyebutkan dua pendapat mengenai keabsahan pembelian ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
فهذا بيان المسائل التي أطلقها الأصحاب والوجه أن نرتبها
Berikut ini adalah penjelasan mengenai masalah-masalah yang dikemukakan secara umum oleh para ulama, dan sebaiknya kita menatanya.
فنقول أما شراؤه أباه المسلم فعلى وجهين وفي استدعائه إعتاقَ عبدٍ مسلم عنه وجهان مرتبان على شراء الأب وهذا أولى بالنفوذ من شراء الأب؛ فإن الملك لا يجري فيه إلا ضمناً مقدراً وشراء الأب بيعٌ على حقيقة البياعاتِ يُبطله التعليق بالإغرار ويفسد بفساد العوض حتى إذا فسد فلا عتقَ وهذا يشعر بأن الملك مقصودٌ فيه والعتقُ بعده واستدعاء العتق يقبل التعليق ولو ذكر عِوضٌ فاسد نفذ العتق ورجع إلى بدلٍ آخر على قياسِ فساد البدلِ في الخلع فاقتضى ذلك ترتيباً
Maka kami katakan, adapun seseorang membeli ayahnya yang muslim, terdapat dua pendapat, dan dalam permintaan untuk membebaskan seorang budak muslim darinya juga terdapat dua pendapat yang mengikuti pendapat tentang membeli ayah. Permintaan ini lebih utama untuk berlaku (sah) dibandingkan dengan membeli ayah, karena kepemilikan dalam hal ini hanya terjadi secara tidak langsung dan terbatas, sedangkan membeli ayah adalah jual beli yang sebenarnya, yang dapat batal karena adanya syarat penipuan dan menjadi rusak jika imbalannya rusak. Sehingga jika rusak, maka tidak terjadi pembebasan budak. Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan memang dimaksudkan dalam jual beli tersebut, dan pembebasan budak terjadi setelahnya. Adapun permintaan pembebasan budak dapat menerima syarat, dan jika disebutkan imbalan yang rusak, maka pembebasan budak tetap sah dan diganti dengan imbalan lain, sebagaimana dalam kasus rusaknya imbalan pada khulu‘. Maka hal ini menuntut adanya urutan (dalam penerapannya).
وأما مسألة الإقرار وبناء الشراء فالأوجه فيها المنع؛ فإنه بيعٌ والعتق إن حكم به فهو ظاهر وليس كعتق الأب؛ فإنه واقعٌ تحقيقاً
Adapun masalah pengakuan dan membangun pembelian, maka yang lebih kuat adalah larangan; karena itu adalah jual beli, dan jika pembebasan budak diputuskan atasnya maka itu jelas, dan tidak seperti pembebasan budak oleh ayah; karena itu benar-benar terjadi.
فهذا بيان هذه المسائل
Berikut adalah penjelasan mengenai masalah-masalah ini.
ومما نفرعه على منع اختيار التملّك أن الكافر إذا باع عبداً مسلماً كان أسلم في يده أو ورثه بثَوْبٍ فلا شك في صحته ولو وجد بالثوب الذي أخذه بدلاً عن العبد المسلم عيباً قديماً فهل له ردُّه واسترداد العبد المسلم فعلى وجهين أحدهما له ذلك؛ فإن الرد يَرِد على العقد وارتداد العبد يترتب على انفساخ العقد وله في رد الثوب غرضٌ سوى اختيار تملّك العبد فلا يتجرد القصد إلى تملكه
Salah satu cabang dari larangan memilih kepemilikan adalah bahwa apabila seorang kafir menjual seorang budak muslim yang telah masuk Islam di tangannya atau ia mewarisinya dengan menukarnya dengan sehelai kain, maka tidak diragukan lagi keabsahan jual belinya. Namun, jika pada kain yang ia terima sebagai pengganti budak muslim itu ditemukan cacat lama, apakah ia berhak mengembalikannya dan mengambil kembali budak muslim tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Salah satunya, ia berhak melakukan itu; karena pengembalian (barang) berkaitan dengan akad, sedangkan kembalinya budak bergantung pada batalnya akad. Selain itu, dalam mengembalikan kain, ia memiliki tujuan lain selain memilih untuk memiliki budak tersebut, sehingga niatnya tidak semata-mata untuk memilikinya.
ومن الدليل على ذلك أن الفسوخ وإن تضمنت ترادّاً في العوضين فإنها لا تنزل منزلة إنشاء العقود بدليل أنه لا يترتب على الفسوخ حقُّ الشفعة ولا يلحق الفسخ فسخٌ؛ إذ المقصود من الفسخ ردُّ الأمرِ إلى ما كان قبل العقد
Salah satu bukti atas hal itu adalah bahwa pembatalan (fasakh), meskipun mengandung pengembalian timbal balik pada kedua pihak, tidak dapat disamakan dengan pembentukan akad baru. Buktinya, pembatalan tidak menimbulkan hak syuf‘ah dan pembatalan tidak dapat dibatalkan lagi; sebab tujuan dari pembatalan adalah mengembalikan keadaan seperti sebelum akad terjadi.
ومن أصحابنا من منع ذلك؛ فإنه يقتضي تملك العبد المسلم على سبيل الاختيار وذلك ممتنعٌ
Sebagian ulama dari kalangan kami melarang hal itu; karena hal tersebut mengandung konsekuensi kepemilikan seorang hamba Muslim atas dasar pilihan, dan itu tidak diperbolehkan.
هذا إذا أراد الكافر ردَّ عوض العبد المسلم
Ini jika orang kafir ingin mengembalikan ganti rugi atas budak muslim.
فأما إذا وجد مشتري العبدِ المسلمِ به عيباً قديماً فأراد ردّه واسترداد الثمن فقد قطع بعض المحققين بنفوذ الرد في هذا الطرف؛ من جهة أنه لا اختيارَ للكافر فيه والعبد يرتد عليه من غير قصده
Adapun jika pembeli budak Muslim menemukan cacat lama pada budak tersebut, lalu ia ingin mengembalikannya dan meminta kembali harga yang telah dibayar, maka sebagian ulama yang teliti telah menegaskan sahnya pengembalian dalam kasus ini; karena pihak kafir tidak memiliki pilihan dalam hal ini dan budak tersebut kembali kepadanya tanpa kehendaknya.
وكان شيخي يطرد الخلافَ في الطرفين؛ فإنا كما نمنع الكافر من اختيار تملك عبد مسلم نمنع المسلم من اختيار تمليك كافرِ عبداً مسلماً؛ فليمتنع الرد على المسلم ثم إذا امتنع الرد فليكن رجوعه إلى أرش العيب القديم
Dan guruku menolak adanya perbedaan pendapat pada kedua sisi; sebagaimana kita melarang orang kafir untuk memilih memiliki budak Muslim, kita juga melarang seorang Muslim untuk memilih memberikan kepemilikan budak Muslim kepada orang kafir; maka hendaknya penolakan (pengembalian) kepada Muslim juga dicegah, kemudian jika pengembalian itu dicegah, maka hendaknya ia kembali kepada kompensasi (ganti rugi) atas cacat lama.
وما ذكرناه من الاختلاف في الرد في هذا الحكم يبتني على اختلافٍ في نظير ذلك وهو أن من اشترى بعضاً ممن يعتق عليه سرى عتقه إلى الباقي إذا كان موسراً فلو فرض رد عوض واسترداد بعض من يعتق عليه في مقابلته وهذا يفرض في المواريث بأن يرث الرجل عوض نصف أبيه ويجد به عيباً فإذا رده وارتد إليه نصف أبيه وعتق عليهِ هل يسري العتق فيه خلاف وسيأتي مشروحاً في موضعه إن شاء الله تعالى
Apa yang telah kami sebutkan mengenai perbedaan pendapat dalam pengembalian pada hukum ini didasarkan pada perbedaan pendapat dalam kasus yang serupa, yaitu apabila seseorang membeli sebagian dari budak yang akan merdeka atas dirinya, maka kemerdekaan itu akan berlaku pada sisanya jika ia mampu secara finansial. Jika diasumsikan adanya pengembalian kompensasi dan pengambilan kembali sebagian dari budak yang akan merdeka atas dirinya sebagai gantinya—dan ini dapat terjadi dalam kasus warisan, yaitu seseorang mewarisi kompensasi setengah dari ayahnya lalu menemukan cacat padanya, kemudian ia mengembalikannya dan setengah dari ayahnya kembali kepadanya dan menjadi merdeka atas dirinya—apakah kemerdekaan itu berlaku juga padanya, terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini, dan akan dijelaskan secara rinci pada tempatnya, insya Allah Ta‘ala.
ومما نفرعه على قول منع الشراء أن الكافر لو وكَّل مسلماً حتى يشتري له عبداً مسلماً أو توكل عن مسلم حتى يشتري له عبداً مسلماً فكيف السبيل
Salah satu cabang dari pendapat yang melarang jual beli adalah jika seorang kafir mewakilkan kepada seorang Muslim untuk membelikan baginya seorang budak Muslim, atau ia menjadi wakil dari seorang Muslim untuk membelikan baginya seorang budak Muslim, maka bagaimana solusinya?
أما إذا وكَّل مسلماً حتى يشتري عبداً مسلماً فلا يقع الملك للموكِّل قطعاً عندنا؛فإن هذا مسلك لائح في قصد تملك العبد المسلم وهو ممنوع منه على القول الذي نفرع عليه فالشراء ينفذ على الوكيل ولا يتعداه إلى الموكِّل
Adapun jika seseorang mewakilkan kepada seorang Muslim untuk membeli seorang budak Muslim, maka kepemilikan tidak jatuh kepada muwakkil (pemberi kuasa) secara pasti menurut kami; karena hal ini merupakan jalan yang jelas dalam upaya memiliki budak Muslim, dan hal itu dilarang menurut pendapat yang kami jadikan dasar. Maka akad pembelian berlaku atas wakil dan tidak beralih kepada muwakkil.
فأما إذا كان الكافرُ وكيلاً لمسلم في شراء عبد مسلم له فإن سمى موكله وصححنا البيع بصيغة السفارة صح ذلك؛ فإن عُهدة العقد لا تتعلق بالسفير فأما إذا أضاف العقدَ إلى نفسه ونوى به موكِّلَه ففي المسألة وجهان مبنيان على أن عهدة العقد تتعلق بالوكيل أم لا على ما سيأتي شرح ذلك في كتاب الوكالة
Adapun jika orang kafir menjadi wakil bagi seorang Muslim dalam membeli seorang budak Muslim untuknya, maka jika ia menyebutkan nama orang yang mewakilkannya dan kita mengesahkan akad dengan lafaz sebagai perantara, maka hal itu sah; karena tanggung jawab akad tidak berkaitan dengan perantara. Adapun jika ia menyandarkan akad kepada dirinya sendiri dan meniatkannya untuk orang yang mewakilkannya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang didasarkan pada apakah tanggung jawab akad berkaitan dengan wakil atau tidak, sebagaimana penjelasan yang akan datang dalam Kitab Wakalah.
وإذا اشترى الكافر عبداً مرتداً ففي صحة الشراء على قولنا بمنع شراء المسلم وجهان مبنيان على أن المرتد لو قتل ذمياً هل يُقتل به وفيه خلاف سيأتي
Jika seorang kafir membeli budak yang murtad, maka mengenai keabsahan jual beli tersebut menurut pendapat kami yang melarang pembelian budak muslim, terdapat dua pendapat yang dibangun di atas permasalahan: jika seorang murtad membunuh seorang dzimmi, apakah ia dibunuh sebagai qisas atau tidak; dan dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan dijelaskan nanti.
وأصل التردّدِ في ذلك مرتب على أن من الأصحاب من يرعى الكفر ومنهم من يرعى تبقيةَ الإسلام في المرتد وعليه يخرّج الخلاف في ولد المرتد من مرتدة أو كافرة أصلية فإن أثبتنا عُلقَةَ الإسلام في المرتد حكمنا بإسلام ولده
Dasar keraguan dalam hal ini didasarkan pada perbedaan di antara para sahabat (ulama mazhab), di mana sebagian dari mereka mempertimbangkan kekufuran, sementara sebagian lain mempertimbangkan keberlangsungan status Islam pada orang murtad. Atas dasar itu pula perbedaan pendapat mengenai anak dari seorang murtad yang berasal dari perempuan murtad atau kafir asli dimunculkan. Jika kita menetapkan adanya ikatan Islam pada orang murtad, maka kita memutuskan bahwa anaknya berstatus Muslim.
وسيأتي ذلك في أحكام المرتدين إن شاء الله تعالى
Hal itu akan dibahas pada pembahasan hukum para murtad, insya Allah Ta‘ala.
وإذا أسلمت أم ولد الكافر فظاهر المذهب وهو المنصوص عليه أنه لا يجبر على إعتاقها بل يحال بينه وبينها وتستكسبُ ويؤمر بالإنفاق عليها
Jika umm walad milik orang kafir memeluk Islam, maka menurut mazhab yang tampak—dan inilah yang dinyatakan—ia tidak dipaksa untuk memerdekakannya, tetapi dipisahkan antara dia dan perempuan itu, dan perempuan tersebut diperbolehkan bekerja mencari nafkah, serta pemiliknya diperintahkan untuk menafkahinya.
وذهب بعض أصحابنا إلى أنه يجبر على إعتاقها وهذا بعيد ووجهه على بعده أنها مستحقة للعتاقة فإذا طرأ الإسلام أُمر بتحقيقه
Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa ia diwajibkan untuk memerdekakannya, namun pendapat ini lemah. Alasannya, meskipun lemah, adalah karena ia memang berhak untuk dimerdekakan, sehingga apabila Islam datang kemudian, ia diperintahkan untuk merealisasikannya.
وإذا اشترى الكافر عبداً كافراً فأسلم في يد البائع فقد اختلف أصحابنا فمنهم من قال ينفسخ البيع؛ لأن بطريان الإسلام يعسر القبض وهذا بعيد؛ فإن الانفساخ يترتب على سبب لا يرجى زوالُه كالتلف والضلال الذي لا يُرتقب بعده وجدان وأُلحق به اختلاطُ المبيع بغير المبيع في قول وزوال التعذر ممكن بفرض الإسلام من المشتري
Jika seorang kafir membeli seorang budak kafir, lalu budak itu masuk Islam ketika masih di tangan penjual, maka para ulama kami berbeda pendapat. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa jual beli tersebut batal, karena munculnya Islam menyulitkan penyerahan (budak tersebut). Namun, pendapat ini lemah; sebab pembatalan jual beli hanya berlaku pada sebab-sebab yang tidak diharapkan hilang, seperti kerusakan atau hilangnya barang yang tidak diharapkan akan ditemukan lagi. Dalam satu pendapat, hal ini juga disamakan dengan tercampurnya barang yang dijual dengan barang lain. Padahal, hilangnya kesulitan ini masih mungkin terjadi jika pembeli juga masuk Islam.
والوجه الثاني أن البيع لا ينفسخ ولكن اختلف أصحابنا على هذا الوجه
Pendapat kedua adalah bahwa akad jual beli tidak batal, namun para ulama kami berbeda pendapat dalam hal ini.
فقال بعضهم يقبضه المشتري ثم يباع عليه أو يبيعه بنفسه
Sebagian mereka berkata, pembeli mengambil barang itu terlebih dahulu, kemudian barang itu dijual kepadanya, atau ia sendiri yang menjualnya.
وقال آخرون لا يقبضه كما لا يشتريه؛ فإن القبض أمر اختياري يؤثر في تأكيد الملك؛ فينبغي أن يمتنع فالوجه أن يأمر القاضي من يقبضُ المبيعَ عنه ثم يبيعه عليه
Dan sebagian yang lain berpendapat bahwa ia tidak boleh menerima barang itu sebagaimana ia juga tidak boleh membelinya; karena penerimaan (qabḍ) adalah suatu tindakan pilihan yang berpengaruh dalam meneguhkan kepemilikan; maka seharusnya hal itu dicegah. Maka pendapat yang tepat adalah hakim memerintahkan seseorang untuk menerima barang yang dijual itu atas namanya, kemudian menjualkannya kepadanya.
ولا يخفى على هذا الوجه أن يتخير في فسخ البيع؛ فإن ما جرى من التعذر طارئاً لا ينقص عن إباق العبد قبل القبض فهذا ما ذكره الأصحاب
Tidak tersembunyi dalam hal ini bahwa ia boleh memilih untuk membatalkan akad jual beli; sebab apa yang terjadi berupa ketidakmampuan yang datang kemudian tidak kurang dari budak yang melarikan diri sebelum diterima. Inilah yang disebutkan oleh para ulama.
والمسألة تستدعي مزيد تفصيل عندنا فإن كان البائع مسلماً فالأمر كما ذكرناه
Masalah ini memerlukan penjelasan lebih lanjut menurut kami; jika penjualnya seorang Muslim, maka keadaannya seperti yang telah kami sebutkan.
وإن كان كافراً فلو حكمنا بانفساخ العقد لقلبناه من كافر إلى كافر فلا ينقدح وجهُ الانفساخ إلا على بعد وهو أن الانفساخ يقع قهرياً وقد ثبت للكافر ملكٌ قهري على المسلم وهذا كلامٌ مطلق؛ فإنا حيث نثبت الملك القهري على المسلم فسببه ضروريٌّ؛ فإن العبد إذا أسلم في يد الكافر فلا سبيل إلى تخيره والقضاءِ بانبتات مِلكه وكذلك إذا فرض إرث؛ فقَطْعُ التوريث مستحيل فأمّا فيما نحن فيه فالمطلوب من الانفساخ رعايةُ حرمة الإسلام وهذا المعنى لا يزول بالانفساخ
Dan jika ia seorang kafir, maka seandainya kita memutuskan pembatalan akad, berarti kita memindahkan (kepemilikan) dari kafir kepada kafir, sehingga tidak tampak alasan yang kuat untuk pembatalan kecuali dengan penjelasan yang jauh, yaitu bahwa pembatalan terjadi secara paksa dan telah tetap bagi orang kafir kepemilikan secara paksa atas seorang muslim. Ini adalah pernyataan yang bersifat umum; sebab, ketika kita menetapkan kepemilikan secara paksa atas seorang muslim, maka sebabnya adalah sesuatu yang darurat; misalnya jika seorang budak masuk Islam di tangan orang kafir, maka tidak ada jalan untuk memberinya pilihan dan memutuskan terputusnya kepemilikan. Demikian pula jika terjadi pewarisan; maka memutuskan pewarisan adalah hal yang mustahil. Adapun dalam permasalahan yang sedang kita bahas, tujuan dari pembatalan adalah menjaga kehormatan Islam, dan makna ini tidak hilang dengan pembatalan.
ومما يفرع على قول المنعِ أن الكافر لو ألزم ذمة المسلم بطريق الاستئجار عملاً جاز ذلك؛ فإن الاستحقاق لا يتعلق بعين المسلم وله أن يحصله بغيره
Salah satu cabang dari pendapat yang melarang adalah bahwa jika orang kafir mewajibkan tanggungan kepada seorang muslim melalui akad sewa untuk suatu pekerjaan, maka hal itu diperbolehkan; karena hak atas pekerjaan tersebut tidak terkait langsung dengan diri muslim itu sendiri dan ia boleh memenuhinya melalui orang lain.
وهل يستأجر الكافر عينَ المسلم على منع الشراء وجهان أحدهما لا يجوز ذلك كما لا يشتري مسلماً والثاني يجوز؛ لأن الإجارة لا تفيد ملكاً في الرقبة ولا يتحقق بها الذِّلة ولو كان فيها ذلةٌ لما جاز استئجارُ الحر المسلم ثم للإجارة منتهى محدود بخلاف الشراء
Apakah orang kafir boleh menyewa milik orang Muslim untuk mencegah pembelian? Ada dua pendapat: salah satunya mengatakan tidak boleh, sebagaimana tidak boleh membeli seorang Muslim; pendapat kedua mengatakan boleh, karena sewa-menyewa (ijarah) tidak memberikan kepemilikan atas zat barang dan tidak mewujudkan kehinaan (dzillah) dengannya. Jika memang ada kehinaan di dalamnya, tentu tidak boleh menyewa orang Muslim yang merdeka. Selain itu, sewa-menyewa memiliki batas waktu tertentu, berbeda dengan pembelian.
فإن قلنا تصح الإجارة فهل يؤاجر عليه كما يباع عليه عبده المسلم فعلى وجهين وتوجيههما يقربان من توجيه الإجارة في الأصل
Jika kita mengatakan bahwa ijārah itu sah, maka apakah boleh disewakan atasnya sebagaimana budak Muslimnya dijual atasnya? Ada dua pendapat, dan alasan keduanya mendekati alasan ijārah pada asalnya.
وللمسلم أن يعير عبده المسلم من كافرٍ وله أن يودعه عنده وذكر الأئمة وجهين في منع ارتهانِ الكافر عبداً مسلماً وهما قريبان من الخلافِ في الاستئجار الوارد على العين
Seorang Muslim boleh meminjamkan budaknya yang Muslim kepada orang kafir, dan ia juga boleh menitipkannya pada orang kafir. Para imam menyebutkan dua pendapat mengenai larangan orang kafir menerima gadai budak Muslim, dan kedua pendapat ini hampir sama dengan perbedaan pendapat dalam masalah ijarah (sewa-menyewa) yang berkaitan dengan barang.
وأجرى الأئمة قولين في شراء الكافر المصحفَ والدفاترَ التي فيها أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم فرأَوا ترتيبَ القولين على القولين في شراء العبد المسلم وزعموا أن شراء المصحف والكتاب المحترم أولى بالفساد من شراء العبد المسلم؛ من قِبَل أن العبدَ لو أهانه مولاه تمكن من الاستعانة ثم تمكُّنُه من هذا يزع مولاه من الإقدام على الاستهانةِ والمصحف لو جوّزنا شرَاءه وقبضَه فقد يستهين به المشتري ولا يُطلع عليه
Para imam mengemukakan dua pendapat mengenai pembelian mushaf dan buku catatan yang di dalamnya terdapat hadis Nabi ﷺ oleh orang kafir. Mereka mengaitkan dua pendapat ini dengan dua pendapat dalam pembelian budak muslim, dan mereka berpendapat bahwa pembelian mushaf dan kitab yang dimuliakan lebih utama untuk dinyatakan batal dibandingkan dengan pembelian budak muslim; karena jika seorang tuan menghina budaknya, budak itu masih bisa meminta bantuan, dan kemampuannya untuk melakukan hal itu dapat mencegah tuannya dari berani menghina. Adapun mushaf, jika kita membolehkan pembeliannya dan penyerahannya, bisa jadi pembelinya akan meremehkannya dan tidak ada yang mengetahuinya.
فرع
Cabang
إذا اشترى المسلم عبداً فخرج كافراً نُظر فإن اشتراه في بلاد الإسلام فله ردّه؛ فإن الكفر في العبيد نادرٌ في هذه الديار
Jika seorang Muslim membeli seorang budak, lalu ternyata budak itu kafir, maka hal ini perlu diteliti. Jika ia membelinya di negeri Islam, maka ia berhak mengembalikannya; sebab kekafiran pada budak-budak sangat jarang terjadi di negeri-negeri ini.
وإن اشترى عبداً في دار الحرب فخرج كافراً فالذي ذهب إليه الأكثرون أنه لا يرده؛ فإن الرد بالعيب يبنى على ظن البراءة منه فإذا أخلفَ الظنُّ ثبت الخيارُ
Jika seseorang membeli seorang budak di wilayah perang lalu budak itu keluar dalam keadaan kafir, maka menurut pendapat mayoritas ulama, budak tersebut tidak dapat dikembalikan; sebab pengembalian karena cacat didasarkan pada dugaan bebas dari cacat tersebut, sehingga jika dugaan itu meleset maka hak memilih (khiyār) menjadi tetap.
ولا يغلب على الظن إسلامُ العبد في دار الحرب
Dan tidak kuat dugaan bahwa seorang budak memeluk Islam di negeri perang.
وكان شيخي يقول يثبت الخيار؛ لأن الكفر عيب فمهما اتفق الاطلاع عليه ثبت الخيار
Dan guruku berkata, hak khiyar tetap berlaku; karena kekufuran adalah suatu cacat, maka kapan pun diketahui adanya kekufuran, hak khiyar menjadi tetap.
فصل
Bab
لو اشترى قطيعاً من الغنم مشار إليه كل رأسِ بدرهم جاز وإن لم يكن عددُ الرؤوس معلوماً عنده حال العقد إذا أحاطت الإشارة بالقطيع ومنع أبو حنيفة ذلك
Jika seseorang membeli satu kawanan kambing yang ditunjuk dengan isyarat, setiap ekor seharga satu dirham, maka hukumnya boleh meskipun jumlah kepala kambing tidak diketahui saat akad, selama isyarat tersebut mencakup seluruh kawanan. Namun, Abu Hanifah melarang hal itu.
ولو قال بعتُك عشرة أرؤس من هذا القطيع لا يجوز؛ فإنها مختلفة وإيراد العقد على هذَا الوجه مجهول وليس كما لو اشترى آصعاً من صُبرة ففيها التفاصيل المقدمة ولا خفاء بالفرق
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu sepuluh ekor dari kawanan ini,” maka itu tidak boleh; karena hewan-hewan itu berbeda-beda dan akad yang dilakukan dengan cara seperti ini mengandung ketidakjelasan. Hal ini tidak sama seperti jika seseorang membeli beberapa sha‘ dari satu tumpukan, karena dalam hal itu terdapat rincian yang telah dijelaskan sebelumnya, dan perbedaannya pun jelas.
فصل
Bab
إذا وكَّل المسلم ذمياً بشراء خمر له لم يصح ولم تصر إذا اشتراها الذمي للمسلم بمثابة الخمرة المحترمة المتخذة لأجل الخل وجوّز أبو حنيفة ذلك وإن منعنا شراء الغائب فوكَّل إنسان وكيلاً حتى يشهد شيئاً ويشتريه بعد المعاينة صح الشراء للموكل؛ فإنه استعانَ بمعاينة الموكَّل وأحلَّها محلَّ معاينة نفسه وأجرى التوكيل فيها فصح ذلك كما يصح التوكيل بأصل الشراء وليس ذلك كالتوكيل بشراء الخمر؛ فإن الخمر ليست مالاً في اعتقاد الموكّل والله أعلم
Jika seorang Muslim mewakilkan kepada seorang dzimmi untuk membeli khamar untuknya, maka hal itu tidak sah, dan jika dzimmi tersebut membelinya untuk Muslim itu, khamar tersebut tidak dianggap sebagai khamar yang dihormati yang dijadikan untuk cuka. Abu Hanifah membolehkannya. Jika kita melarang pembelian barang yang tidak hadir, lalu seseorang mewakilkan seorang wakil untuk menyaksikan suatu barang dan membelinya setelah melihatnya, maka pembelian itu sah untuk pihak yang mewakilkan; karena ia telah meminta bantuan dengan penglihatan pihak yang diwakilkan dan menjadikannya seperti penglihatannya sendiri, serta menjalankan perwakilan dalam hal itu, maka hal itu sah sebagaimana sahnya perwakilan dalam pokok pembelian. Hal ini tidak sama dengan perwakilan untuk membeli khamar; karena khamar bukanlah harta menurut keyakinan pihak yang mewakilkan. Allah Maha Mengetahui.
Bab Jual Beli Hablu al-Habalah, Mulamasah, dan Munabadzah
صدر الشافعي رحمة الله عليهِ البابَ بنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع حَبَل الحبَلة
Imam Syafi‘i rahimahullah memulai bab ini dengan larangan Rasulullah saw. terhadap jual beli habal al-habalah.
وللحديث تأويلان أحدهما أن يبيع الناقة بثمن مؤجل إلى نتاج نتاجها ولا شك في فسادِ العقد وسببه جهالة الأجلِ والتأويل الثاني أن يبيع نتاجَ النتاج قبل أن يخلق وهذا ممنوع وهو المعتاد في العرب وظاهر اللفظ أيضاً
Hadis ini memiliki dua penafsiran. Pertama, seseorang menjual unta dengan harga yang dibayar secara tangguh hingga waktu kelahiran anak dari anak unta tersebut, dan tidak diragukan lagi bahwa akad ini batal karena sebab ketidakjelasan waktu jatuh tempo. Penafsiran kedua, seseorang menjual anak dari anak unta sebelum ia diciptakan, dan hal ini dilarang serta merupakan kebiasaan yang umum di kalangan Arab, juga sesuai dengan makna lahiriah lafaz hadis tersebut.
ومال الشافعي إلى التأويل الأول واختار أبو عبيد التأويل الثاني وقيل فسر الراوي الخبر بمَا ذكره الشافعي وتفسير الراوي عنده مقدم
Imam Syafi’i condong kepada penafsiran pertama, sedangkan Abu ‘Ubaid memilih penafsiran kedua. Dikatakan bahwa perawi hadis menafsirkan hadis tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Syafi’i, dan menurut beliau, penafsiran perawi lebih diutamakan.
وروى أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الملاقيح والمضامين فالملاقيح جمع الملقاح وهو ما في أرحام الأمهاتِ والمضامين ما في أصلاب الفحول
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang jual beli al-malaqīḥ dan al-muḍāmin. Al-malaqīḥ adalah jamak dari al-mulqāḥ, yaitu apa yang ada di dalam rahim induk, sedangkan al-muḍāmin adalah apa yang ada di sulbi pejantan.
ومما ذكره الشافعي نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الملامسة والمنابذة فأما الملامسة فلها تأويلان أحدهما أن يجعلا نفس اللمسِ بيعاً فيقول صاحب الثوب لطالبه إذا لمست ثوبي فهو مبيعٌ منك بكذا هذا أحد التأويلين ولا شك في فساد البيع عليه
Di antara yang disebutkan oleh asy-Syafi‘i adalah bahwa Rasulullah saw. melarang transaksi mulāmasah dan munābadzah. Adapun mulāmasah memiliki dua penafsiran. Pertama, keduanya menjadikan sentuhan itu sendiri sebagai akad jual beli, yaitu pemilik kain berkata kepada pembeli: “Jika kamu menyentuh kainku, maka kain itu terjual kepadamu dengan harga sekian.” Ini adalah salah satu penafsiran, dan tidak diragukan lagi bahwa jual beli dengan cara ini adalah batal.
وقيل الملامسة معناها أن يتبايعا سلعة في ظلمة الليل وجعلا لمسها قاطعاً لخيار الرؤية فيقيما اللمس مقامَ الرؤية وهذا باطل؛ فإنا إن منعنا بيع مالم يره المشتري فلا كلام وإن صححنا بيع الغائب فتعليق خيار الرؤية باللمسِ باطل ويتطرق إلى هذا احتمال؛ من جهة أن من اشترى شيئاً على شرط قطع خيار الرؤية ففي صحة العقد خلاف ذكرناه فلا يمتنع تركُ هذا القول في الصورة التي ذكرناها
Dikatakan bahwa makna al-mulāmasah adalah ketika dua orang melakukan jual beli suatu barang di kegelapan malam dan mereka menjadikan sentuhan terhadap barang tersebut sebagai pengganti hak khiyār ru’yah, sehingga mereka menempatkan sentuhan sebagai pengganti dari melihat barang. Ini adalah batil; sebab jika kita melarang jual beli atas sesuatu yang belum dilihat oleh pembeli, maka tidak ada pembicaraan lagi. Namun jika kita membolehkan jual beli barang yang ghaib, maka menggantungkan hak khiyār ru’yah pada sentuhan adalah batil, dan dalam hal ini terdapat kemungkinan; yaitu bahwa siapa saja yang membeli sesuatu dengan syarat menggugurkan hak khiyār ru’yah, maka dalam keabsahan akad tersebut terdapat perbedaan pendapat sebagaimana telah kami sebutkan, sehingga tidak mustahil untuk meninggalkan pendapat ini dalam kasus yang telah kami sebutkan.
/م والمنابذة أن تنبذ الشيءَ إلى غيرك وينبذ الغيرُ إليك ثم ينقدح لها التأويلان المذكوران في الملامسة قال الأئمة المنابذة في العوض والمعوّض مع القرينة الدالة على إرادة البيع هي المعاطاة بعينها
Dan al-manābadhah adalah engkau melemparkan sesuatu kepada orang lain dan orang lain melemparkan sesuatu kepadamu, kemudian muncul dua penafsiran yang telah disebutkan dalam al-mulāmasah. Para imam berkata, al-manābadhah dalam hal ‘iwadh (imbalan) dan mu‘awwad (barang yang dipertukarkan) dengan adanya indikasi yang menunjukkan kehendak jual beli, maka itu pada hakikatnya adalah al-mu‘āthāh itu sendiri.
فظاهر المذهب والنص أن المعاطاة لا تكون بيعاً وإن اقترنت قرائن أحوال بها
Pendapat yang tampak dari mazhab dan nash adalah bahwa mu‘āṭāh tidak dianggap sebagai jual beli, meskipun disertai dengan adanya indikasi-indikasi keadaan.
ولا بد من لفظٍ في العقد وسأصف تفصيلاً في ألفاظ البيع في باب تجارة الوصي
Harus ada lafaz dalam akad, dan saya akan menjelaskan secara rinci tentang lafaz-lafaz jual beli pada bab Perdagangan Wali.
وقال أبو حنيفة المعاطاة بيع من غير لفظ في المستحقراتِ وذكر ابنُ سريج قولين في أن المعاطاة مع القرائن في إرادة البيع هل تكون بيعاً وخرجهما على القولين في أن من ساق هدياً فعطب في الطريق فغمس نعله في دمه وضرب به صفحة سنامه فمن رأى تلك العلامةَ هل يحل له الأكل منه فعلى قولين ولعلنا نعقد في قرائن الأحوال وآثارِها ومواقع الخلاف والوفاق فصلاً جامعاً في آخر كتاب البيع إن شاء الله تعالى
Abu Hanifah berpendapat bahwa mu‘āṭāh adalah jual beli tanpa lafaz pada barang-barang yang dianggap remeh. Ibnu Surayj menyebutkan dua pendapat mengenai apakah mu‘āṭāh dengan adanya indikator yang menunjukkan kehendak jual beli dapat dianggap sebagai jual beli. Ia mengaitkan kedua pendapat ini dengan dua pendapat dalam kasus seseorang yang menggiring hewan hadyu lalu hewan itu mati di jalan, kemudian ia mencelupkan sandalnya ke dalam darah hewan itu dan menandai punuknya dengan sandal tersebut. Maka, bagi siapa saja yang melihat tanda itu, apakah halal baginya memakan daging hewan tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Mungkin kami akan membuat satu bab khusus yang komprehensif tentang indikator keadaan, pengaruhnya, serta titik-titik perbedaan dan kesepakatan para ulama di akhir Kitab al-Bay‘, insya Allah Ta‘ala.
ومما نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم بيع الحصاة وله تأويلان أحدهما أن يجعل رمي الحصاة بيعاً وهذا فاسد والآخر أن يقول بعتك ما يقع عليه حصاتك من هذه الأمتعة وهذا فاسد والثالث أن يبيع من أرضٍ قدرَ ما يبلغه حصاة يرميها المشتري؛ فيكون المبيع من موقفه إلى منتهى الحصاة وهذا فاسد أيضاً
Di antara hal yang dilarang oleh Rasulullah saw. adalah jual beli dengan cara melempar kerikil, dan larangan ini memiliki dua penafsiran. Pertama, menjadikan lemparan kerikil sebagai bentuk jual beli, dan ini tidak sah. Kedua, seseorang berkata, “Aku jual kepadamu apa yang terkena oleh kerikilmu dari barang-barang ini,” dan ini juga tidak sah. Ketiga, menjual sebidang tanah sebanyak yang dapat dijangkau oleh kerikil yang dilemparkan oleh pembeli; sehingga yang dijual adalah dari tempat berdirinya hingga ujung jatuhnya kerikil, dan ini pun tidak sah.
فصل
Bab
قال ولا يجوز شراء الأعمى إلى آخره
Ia berkata: Tidak boleh membeli barang yang tidak terlihat (majhul) hingga akhirnya.
ما ذهب إليه جماهير الأصحابِ أن شراء الأعمى وبيعَه فاسدان
Pendapat mayoritas para ulama mazhab adalah bahwa jual beli yang dilakukan oleh orang buta, baik sebagai pembeli maupun penjual, hukumnya fasad (rusak/tidak sah).
وخرَّج بعضُ أصحابنا بيعه وشراءه على بيع ما لم يره البائع وشراء ما لم يره المشتري ثم من صحَّحه من الأعمى فسبيل لزوم العقد عنده أن يوكّل من يرى له العينَ المشتراةَ ثم إذا امتنع منه البيع والشراء يجوز له أن يوكل في كل واحدٍ منهما بصيراً
Sebagian ulama kami mengqiyaskan jual beli orang buta dengan jual beli sesuatu yang tidak dilihat oleh penjual dan pembeli. Kemudian, menurut pendapat yang membolehkan jual beli bagi orang buta, cara agar akadnya tetap sah adalah dengan mewakilkan kepada orang yang dapat melihat untuk melihat barang yang dibeli. Jika ia tidak mampu melakukan jual beli sendiri, maka boleh baginya untuk mewakilkan kepada orang yang dapat melihat dalam masing-masing transaksi tersebut.
فإن كان بصيراً ورأى شيئاً ثم كُفَّ بصره فاشتراه جاز ذلك إذا لم يتقادم الزمن أو تقادم وكان الشيء ممّا يبعد تغيُّره كالحديد والنحاس وغيرهما
Jika seseorang dulunya dapat melihat lalu melihat suatu barang, kemudian ia menjadi buta dan membeli barang tersebut, maka hal itu diperbolehkan selama waktunya tidak terlalu lama, atau meskipun sudah lama asalkan barang tersebut termasuk yang kecil kemungkinan berubah seperti besi, tembaga, dan sejenisnya.
وإذا اشترى شيئاً لم يره ثم كُفَّ بصره قبل أن يراه فمن أصحابنا من قال ينفسخ البيع من قِبَل أنا أَيِسْنا من قرار العقد عند الرؤية
Jika seseorang membeli sesuatu yang belum ia lihat, lalu ia buta sebelum sempat melihatnya, maka sebagian ulama kami berpendapat bahwa akad jual beli tersebut batal, karena kita telah putus asa dari kemungkinan tetapnya akad saat melihat barang.
وذكر الشيخ أبو علي ما هو أصلُ الفصل وبه يتبيّن مشكلُه فقال البصير إذا اشترى شيئاً لم يره وصححنا العقد فلو وكل وكيلاً وفوض الأمر إليه في الفسخ والإجازة عند الرؤية قال في صحة الوَكالة وجهان أحدهما يصح كتفويض الأمر في خيار العيب والخُلف والثاني لا يصح؛ فإن الخيار ليس مربوطاً بغرضٍ وإنما هو إلى إرادة من له الخيار ولا تعقلُ النيابةُ إذا انتفى الغرضُ قال وهذا كما إذا أسلم كافر على عشر نسوة وأسلمن فإنه يختار أربعاً منهن ولو وكل في هذا الاختيار لم يجز
Syekh Abu Ali menyebutkan pokok permasalahan ini, dan dengan itu menjadi jelas hal-hal yang sulit dipahami darinya. Ia berkata: Orang yang cermat, jika membeli sesuatu yang belum dilihatnya dan kita mengesahkan akadnya, lalu ia mewakilkan kepada seseorang dan menyerahkan urusan kepadanya untuk membatalkan atau melanjutkan akad setelah melihat barang tersebut, maka dalam keabsahan wakalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan sah, sebagaimana penyerahan urusan dalam hak khiyar ‘aib dan khiyar syarat. Pendapat kedua menyatakan tidak sah, karena hak khiyar tidak terkait dengan suatu tujuan tertentu, melainkan tergantung pada kehendak orang yang memiliki hak khiyar, dan tidak masuk akal adanya perwakilan jika tujuannya tidak ada. Ia berkata: Ini seperti jika seorang kafir masuk Islam bersama sepuluh istri, lalu para istrinya juga masuk Islam, maka ia memilih empat di antara mereka. Jika ia mewakilkan urusan pemilihan ini kepada orang lain, maka tidak diperbolehkan.
ثم قال إن صححنا التوكيلَ في خيار الرؤية فيبتنى عليه قياسُ شراء الأعمى على شراء الغائب من البصير وإن لم نصحح التوكيلَ في خيار الرؤية من البصير قطعنا بفساد شراء الأعمى؛ فإنه لو صح لم يُفضِ إلى قرار
Kemudian ia berkata, jika kita membolehkan perwakilan (wakalah) dalam hak khiyar ru’yah, maka hal itu menjadi dasar qiyās pembelian oleh orang buta atas pembelian oleh orang yang dapat melihat namun tidak hadir. Namun jika kita tidak membolehkan perwakilan dalam hak khiyar ru’yah bagi orang yang dapat melihat, maka kita menetapkan batalnya pembelian oleh orang buta; sebab jika hal itu sah, tidak akan berujung pada kepastian.
وهذا الذي ذكره حسن وفي التوكيل باختيار أربع نسوة أيضاً احتمال ولكن حكى الوفاق
Apa yang disebutkan tersebut adalah baik, dan dalam hal mewakilkan untuk memilih empat wanita juga merupakan suatu kemungkinan, namun telah dinukil adanya kesepakatan.
وللأعمى أن يؤاجر نفسه ويشتري نفسه من سيده للخلاص كما له أن يقبل الكتابة إذا كاتبه مولاه
Orang buta boleh menyewakan dirinya sendiri dan membeli dirinya dari tuannya untuk memperoleh kebebasan, sebagaimana ia juga boleh menerima akad kitābah jika tuannya mengajukan kitābah kepadanya.
وأمّا عَقْدُ السلم فقد استثناه الشافعي من شراء العين وصححه من الأعمى التزاماً وإلزاماً
Adapun akad salam, maka Imam Syafi‘i mengecualikannya dari jual beli barang tertentu dan membolehkannya bagi orang buta, baik dalam hal komitmen maupun kewajiban.
قال المزني ظني بلطف الشافعي أنه إنما يصحِّح السلم ممن كان بصيراً وعاين ما لا تدرك حقيقته إلا بالعِيان كالألوانِ وما في معانيها فإذا طرأ العمى صَدَرَ وصفه عن علم
Al-Muzani berkata, “Dugaan saya, dengan kelembutan Imam Syafi‘i, beliau hanya membolehkan akad salam dari orang yang benar-benar paham dan telah menyaksikan secara langsung sesuatu yang hakikatnya hanya dapat diketahui dengan penglihatan, seperti warna-warna dan hal-hal yang serupa dengannya. Maka jika setelah itu orang tersebut menjadi buta, deskripsi yang ia berikan tetap bersumber dari pengetahuan.”
فأما الأكمه فلا علم معه بحقائق الأوصاف وإن كان يذكرها
Adapun orang buta sejak lahir, maka ia tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat-hakikat sifat, meskipun ia menyebutkannya.
واختلف أصحابنا في التفصيل الذي ذكره المزني فمنهم من وافقه ونزَّل نصَّ الشافعي عليه
Para ulama kami berbeda pendapat mengenai perincian yang disebutkan oleh al-Muzani; sebagian dari mereka menyetujuinya dan menafsirkan nash asy-Syafi‘i sesuai dengan perincian tersebut.
ومنهم من لم يفصل بين الأكمه ومن كان بصيراً عاقلاً ثم عمي وصحح السلم مع العمى التزاماً وإلزاماً؛ فإن الأوصاف إذا كانت تجري من الأكمه على حد الإعلام والإعلام هو المقصود فعدم إحاطته بنفسه وقد جرى مسلكٌ في الإعلام غير ضائر
Sebagian dari mereka tidak membedakan antara orang yang buta sejak lahir dan orang yang sebelumnya dapat melihat serta berakal kemudian menjadi buta, dan mereka membolehkan akad salam meskipun dalam keadaan buta, baik bagi pihak yang berkomitmen maupun yang mewajibkan. Sebab, jika sifat-sifat barang dapat dijelaskan oleh orang yang buta sejak lahir sebagaimana penjelasan pada umumnya, dan penjelasan itulah yang menjadi tujuan, maka ketidaktahuannya secara langsung tidaklah menjadi masalah selama ada cara lain untuk memberikan penjelasan.
وهو بمثابة توكيل الأعمى بصيراً وإقامتِه مقام نفسه
Hal itu seperti orang buta yang mewakilkan kepada orang yang dapat melihat, dan menempatkannya sebagai pengganti dirinya sendiri.
ومما يتعلق بحكم الأعمى أنه إذا أسلم وصححنا منه السَّلَم وحان وقتُ القبض فهل يصح منه القبض قال معظم أئمتنا قبضُه بمثابة شرائه عيناً؛ من جهة أنه يتعلق بمعيَّن وهو لا يحيط به وقد ذكرنا في شراء الأعمى تفصيلَ الأصحَاب
Terkait dengan hukum orang buta, apabila ia melakukan akad salam dan kita menganggap sah akad salam darinya, lalu tiba waktu penyerahan barang, apakah sah penyerahan barang darinya? Sebagian besar imam kami berpendapat bahwa penyerahan barang oleh orang buta itu seperti ia membeli barang secara langsung; karena penyerahan itu berkaitan dengan barang tertentu yang ia sendiri tidak dapat mengetahuinya secara menyeluruh. Kami telah menyebutkan rincian pendapat para sahabat (ulama) mengenai pembelian oleh orang buta.
ومن أصحابنا من رأى قبضَه بالصحة أولى وفي المسألة احتمال
Sebagian ulama kami berpendapat bahwa menerima (barang) itu lebih utama untuk keabsahan, dan dalam masalah ini terdapat kemungkinan (perbedaan pendapat).
Bab Dua Akad Jual Beli dalam Satu Akad Jual Beli
روى أبو هريرةَ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيعتين في بيعة وذكر الشافعي تأويلين أحدُهما أن يقول بعتك هذا العبد بألف نقداً أو بألفين إلى سنة فأيهما شئت أنت أو أنا وجب البيع به فهذا باطل بالنص والإجماع ومعناه ظاهر
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melarang dua akad jual beli dalam satu jual beli. Asy-Syafi‘i menyebutkan dua penafsiran; salah satunya adalah seseorang berkata, “Aku jual budak ini kepadamu seharga seribu secara tunai atau dua ribu secara tempo satu tahun, maka mana saja yang kamu atau aku pilih, jual beli itu berlaku dengan harga tersebut.” Ini batal berdasarkan nash dan ijmā‘, dan maknanya jelas.
والتأويل الثاني أن يقول بعتك عبدي هذا على أن تبيعني فرسَك فالبيع باطل يعني البيعَ الذي شرط فيه البيع وهذا خارج على قياس الشرائط الفاسدة
Penafsiran kedua adalah jika seseorang berkata, “Aku menjual budakku ini kepadamu dengan syarat kamu menjual kudamu kepadaku,” maka jual belinya batal, yaitu jual beli yang di dalamnya disyaratkan adanya jual beli lain. Ini keluar dari qiyās syarat-syarat yang rusak (syarā’iṭ fāsidah).
وأما البيع الثاني إن اتفق جريانه خلياً عن شرط فهو صحيح
Adapun jual beli yang kedua, jika berlangsung tanpa disertai syarat, maka hukumnya sah.
وجمع الشافعي في الباب مناهي عن الشارع فترك كلَّ خبر على معناه
Imam Syafi‘i dalam bab ini mengumpulkan larangan-larangan dari syariat, lalu membiarkan setiap hadis sesuai dengan maknanya.
فمنها نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن النَجَش وهو ضرب من الخديعة قال الشافعي ليس من أخلاق أهل الدين ومعناه أن يتقدم الرجل إلى سلعةٍ تباع فيمن يزيد وربما عُرف بالحذاقة في التجاير فيزيد في ثمنها وهو لا يريدها ولكنه يبغي أن يغترّ الناس ويحرصوا على شرائها؛ فيعطوا أكثر ممَّا كانوا يعطون لولا تغريره وهذا حرام منه وهو اللَّبس المحظور
Di antaranya adalah larangan Rasulullah saw. terhadap najasy, yaitu suatu bentuk penipuan. Imam Syafi‘i berkata bahwa hal ini bukanlah akhlak orang-orang yang beragama. Maksudnya adalah seseorang mendatangi suatu barang yang sedang dijual dengan sistem lelang, dan mungkin ia dikenal sebagai orang yang pandai dalam berdagang, lalu ia menaikkan harga barang tersebut padahal ia sendiri tidak bermaksud membelinya. Namun, tujuannya adalah agar orang-orang tertipu dan berlomba-lomba untuk membelinya, sehingga mereka membayar lebih mahal daripada yang seharusnya jika tidak ada penipuannya itu. Perbuatan ini haram, dan merupakan bentuk penipuan yang dilarang.
ولكن إن جرى العقد على مبلغٍ من الثمن صح فإن التلبيس لا يمنع صحة العقد والتفصيل في الخيار فإن جرى ذلك من غير مواطأةٍ مع صاحب السلعة يصح العقد كما ذكرناه ولا خيار والحرج على الناجش
Namun, jika akad dilakukan atas sejumlah harga tertentu, maka akad tersebut sah, karena penipuan tidak menghalangi keabsahan akad. Rinciannya dalam hal khiyār: jika hal itu terjadi tanpa adanya kesepakatan dengan pemilik barang, maka akadnya sah sebagaimana telah kami sebutkan, dan tidak ada hak khiyār serta dosa ditanggung oleh an-nājisy.
وإن جرى النَّجَش في مواطأة صاحب السلعة فالعقد صحيح وفي الخيار وجهان
Jika terjadi najasy dengan adanya kesepakatan antara pemilik barang, maka akadnya tetap sah, dan dalam hal hak khiyar terdapat dua pendapat.
أحدهما يثبت الخيار للتلبيس؛ اعتباراً بالتصرية وما في معناها
Salah satunya menetapkan hak khiyār karena adanya penipuan; dengan mempertimbangkan kasus tashriyyah dan hal-hal yang sejenis dengannya.
والوجه الثاني لا خيار؛ فإن هذا الخداع غيرُ راجع إلى صفة المبيع ولكنه متعلق بالعين وليس في قَبيله خيارٌ والنجش المنهي عنه معناه في اللغة الرفعُ والناجش الرافع للسعر
Adapun pendapat kedua, tidak ada hak khiyar; karena penipuan ini tidak berkaitan dengan sifat barang yang dijual, melainkan berhubungan dengan objek itu sendiri, dan dalam hal seperti ini tidak ada hak khiyar. Adapun najasy yang dilarang, maknanya dalam bahasa adalah menaikkan (harga), dan an-nājisy adalah orang yang menaikkan harga.
ثم ذكر الشافعي نَهْيَ رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ قال لا يبيعن أحدكم على بيع أخيه ولا يسومن على سوم أخيه
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan larangan Rasulullah saw. ketika beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian menjual di atas penjualan saudaranya, dan jangan pula menawar di atas tawaran saudaranya.”
وصورة البيع على البيع أن يجري العقد ويكون المتعاقدان في مجلس العقد مغتبطين غيرَ نادمين فيتقدم واحد إلى المشتري ويعرض عليه سلعة خيراً من السلعة التي اشتراها بمثل ثمن سلعته أو سلعة مثل سلعته بأقلَّ من ثمنها ويرغّبه في فسخ البيع الأول بهذا السبب هذا هو البيع على البيع وهو محرم باتفاق الأصحاب غيرَ أن البيع يصح؛ فإن التحريم لا يرجع إلى معنى في البيع وإنما يرجع إلى معنى كلِّي في محاذرة الإضرار بالغير وكل نهي جرى هذا المجرى كان في معنى النهي عن البيع في وقت النداء حين يُخشى فواتُ الجمعة
Gambaran tentang jual beli atas jual beli adalah ketika akad telah berlangsung dan kedua pihak yang berakad masih berada di majelis akad dalam keadaan puas dan tidak menyesal, lalu seseorang datang kepada pembeli dan menawarkan kepadanya barang yang lebih baik dari barang yang telah dibelinya dengan harga yang sama, atau barang yang sejenis dengan barangnya dengan harga yang lebih murah, serta mendorongnya untuk membatalkan jual beli pertama karena alasan tersebut. Inilah yang disebut jual beli atas jual beli, dan hukumnya haram menurut kesepakatan para ulama, namun jual belinya tetap sah; karena keharamannya tidak kembali pada substansi jual beli itu sendiri, melainkan pada makna umum, yaitu menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Setiap larangan yang seperti ini, hukumnya sama dengan larangan jual beli pada waktu adzan Jumat ketika dikhawatirkan akan terlewatnya salat Jumat.
وأما السوم على السوم فصورته أن يساوم سلعةَ غيره ويتفقا على قدر الثمن ويهُما بالعقد ويرجع أحدهما لإحضار الثمن فإذا جاء إنسان وساومه السلعةَ بأكثرَ من ذلك الثمن أو عرض على المشتري سلعة بأقلَّ من ذلك الثمن وتسبب إلى دفع ما كاد يتفق فهذا منهي عنه محرّم وهو المعنى بالسوم
Adapun sūm ‘ala sūm, bentuknya adalah seseorang menawar barang milik orang lain, lalu keduanya sepakat atas harga tertentu dan hampir melakukan akad, kemudian salah satu dari mereka pergi untuk mengambil uang. Ketika itu datanglah seseorang yang menawar barang tersebut dengan harga lebih tinggi dari harga tadi, atau menawarkan kepada pembeli barang dengan harga lebih rendah dari harga tadi, sehingga menyebabkan batalnya kesepakatan yang hampir terjadi. Maka perbuatan ini dilarang dan diharamkan, dan inilah yang dimaksud dengan sūm.
ولو كانت السلعة معروضة فيمن يزيد فإذا طلبها طالب بثمن فللغير أن يطلبَها بأكثر؛ إذ لم يتحقق توافقٌ على مقدارٍ والسلعة إنما تعرض على من يزيد للتزايد فكان الذي يجري ليس سوماً
Jika suatu barang ditawarkan dalam lelang siapa yang menawar lebih tinggi, lalu ada seseorang yang menawarnya dengan suatu harga, maka orang lain boleh menawarnya dengan harga yang lebih tinggi; karena belum terjadi kesepakatan atas suatu jumlah tertentu dan barang tersebut memang ditawarkan kepada siapa yang menambah harga untuk saling menaikkan tawaran, sehingga apa yang terjadi bukanlah akad jual beli.
ثم قال أصحابنا لو خطب الرجل امرأة فرُدَّ فللغير أن يخطِبها وإن أجيب
Kemudian para ulama mazhab kami berkata: Jika seorang laki-laki melamar seorang wanita lalu ditolak, maka orang lain boleh melamarnya, meskipun lamarannya telah diterima.
فيحرم على الغير الخِطبة ولو خطب إلى الأبِ ابنته فسكت ولم يجب ولم يرد فهل يحرم الخِطبة فعلى قولين سيأتي ذكرهما إن شاء الله تعالى في النكاحِ
Maka haram bagi orang lain untuk melamar, bahkan jika seseorang melamar kepada seorang ayah untuk putrinya lalu sang ayah diam saja, tidak menjawab maupun menolak, maka apakah haram melamar dalam keadaan ini? Ada dua pendapat yang akan disebutkan nanti, insya Allah Ta‘ala, dalam pembahasan nikah.
ولو اتفق السكوت في السوم فللغير أن يستام قولاً واحداً عند المراوزة؛ فإن السكوت في باب النكاح قريبٌ من التصريح بالرضا في مقام الخطبة؛ فإن المخطوب يستحي في أول مجلس ولا يصرح
Jika terjadi diam dalam proses tawar-menawar, maka orang lain boleh mengajukan penawaran secara langsung menurut pendapat jumhur ulama; sebab diam dalam urusan pernikahan hampir sama dengan pernyataan setuju dalam konteks lamaran, karena pihak yang dilamar biasanya merasa malu pada pertemuan pertama dan tidak secara terang-terangan menyatakan persetujuan.
وذَكر العراقيون في السوم طريقةً أخرى فقالوا إن سكت من خُطب إليه أو من طلب منه متاع ولم يقترن بالسكوت ما يدل على الرضا فلا يحرم بهذا السكوت الخِطبةُ ولا السوم والسكوت يقدر على وجوه وإنما يدل على الرضا بعضُها ولو اقترن بالسكوت ما يدل على الرضا ففي الخِطبة والسوم جميعاً قولان
Orang-orang Irak menyebutkan dalam masalah khitbah dan sūm (penawaran barang) cara lain, yaitu mereka mengatakan: Jika orang yang dilamar atau orang yang diminta barangnya diam, dan diamnya itu tidak disertai dengan sesuatu yang menunjukkan kerelaan, maka dengan diam tersebut tidaklah diharamkan khitbah maupun sūm. Diam itu sendiri memiliki beberapa bentuk, dan hanya sebagian bentuk diam saja yang menunjukkan kerelaan. Jika diam itu disertai dengan sesuatu yang menunjukkan kerelaan, maka dalam masalah khitbah dan sūm, terdapat dua pendapat.
فلم يفرقوا بين السوم والخِطبة في الطريقة التي رتبوها
Mereka tidak membedakan antara al-saum dan khitbah dalam metode yang mereka susun.
وما ذكروه منقاسٌ ولكن لا يمكن أن نُنكر الفرقَ بين السوم والخِطبة
Apa yang mereka sebutkan memang dapat diqiyaskan, namun kita tidak bisa mengingkari adanya perbedaan antara tawar-menawar dan khitbah.
فالوجه أن يقال الدال على الرضا مع السكوت في الخطبة ربما يخالف الدالَّ على الرضا في السوم في مجاري العاداتِ فيقع الفرق في أصناف القرائن وإطلاق القول بأن السكوت دليل الرضا في الخطبة ليس كذلك
Maka yang tepat adalah dikatakan bahwa penunjuk kerelaan dengan diam dalam khitbah (lamaran) mungkin berbeda dengan penunjuk kerelaan dalam tawar-menawar menurut kebiasaan yang berlaku, sehingga terdapat perbedaan dalam jenis-jenis indikasi, dan pernyataan secara mutlak bahwa diam adalah tanda kerelaan dalam khitbah tidaklah demikian.
فهذا تمام الغرض في هذا الفصل
Demikianlah tujuan pembahasan pada bab ini telah selesai.
ثم قال الشافعي صاحب البيع على البيع والسوم على السوم يَحْرَجُ إذا كان عالماً بالخبر والناجش يعصِي وإن لم يبلغه الخبر المخصوص في النجش وسبب ذلك أن تحريم البيع على البيع والسوم على السوم لا يدركه عامةُ الناس وأما النجش فخداعٌ وقد استفاضَ في الناس وشاع تحريمُ الخداع والقول فيه قريب
Kemudian asy-Syafi‘i berkata, “Orang yang melakukan jual beli di atas jual beli orang lain dan menawar di atas tawaran orang lain menjadi berdosa jika ia mengetahui larangan tersebut, dan orang yang melakukan najasy (menawar palsu untuk menaikkan harga) berbuat maksiat meskipun belum sampai kepadanya larangan khusus tentang najasy. Sebabnya adalah bahwa keharaman jual beli di atas jual beli dan menawar di atas tawaran tidak diketahui oleh kebanyakan orang, sedangkan najasy adalah penipuan yang telah tersebar di tengah masyarakat dan telah masyhur keharaman penipuan, sehingga pembicaraan tentangnya pun hampir sama.”
Bab: Larangan Orang Kota Menjualkan Barang untuk Orang Desa
ذكر الشافعي رحمة الله عليه في صدر الباب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا يبيع حاضر لبادٍ
Imam Syafi‘i rahimahullah menyebutkan di awal bab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang kota tidak boleh menjualkan (barang) untuk orang desa.”
والحديث وارد في القرويّ أو البدوي يدخل البلد بسلَعٍ وأمتعة وهو يبغي بيعَها بسعر اليوم خائفاً أن تعظم المؤنةُ عليه لو أقام فإذا تقدم إليه حضريٌّ والتمس منه أن يترك أمتعته عنده حتى يبيعها على مر الزمن وقد يتضيق بهذا السبب الأمرُ على أهل البلد فهذا منهي عنه
Hadis ini berkaitan dengan orang desa atau badui yang masuk ke kota membawa barang dagangan dan perbekalan, yang ingin menjualnya dengan harga hari itu juga karena khawatir biaya akan membesar jika ia menetap. Lalu datanglah seorang penduduk kota dan memintanya agar meninggalkan barang-barangnya padanya, supaya ia yang menjualkannya secara bertahap dalam kurun waktu tertentu. Tindakan seperti ini bisa menyulitkan penduduk kota, maka hal tersebut dilarang.
وإن كان البدوي عازماً على الإقامة والتربص بالأمتعة وبيعها على مر الأوقاتِ فإذا أعانه حضريٌّ على عزمه والتمس منه أن يفوّض الأمرَ إليه لم يلحقه بذاك حَرجٌ وكان ما جاء به من باب التعاون وكذلك إذا طلب البدوي ذلك ابتداء من الحضري فأسعفه فلا بأس ولا حرج
Jika seorang badui berniat untuk menetap dan menunggu barang-barangnya serta menjualnya dari waktu ke waktu, lalu seorang penduduk kota membantunya dalam niat tersebut dan memintanya agar menyerahkan urusan itu kepadanya, maka tidak ada kesulitan baginya dalam hal itu, dan apa yang dilakukan termasuk dalam kategori tolong-menolong. Demikian pula, jika badui tersebut sejak awal meminta bantuan kepada penduduk kota, lalu penduduk kota itu membantunya, maka tidak mengapa dan tidak ada kesulitan.
وكل ما ذكرناه إذا كان يظهر بسبب التربص ضيقٌ على المسلمين
Dan semua yang telah kami sebutkan, apabila dengan menunggu itu tampak adanya kesulitan bagi kaum Muslimin,
فإن لم يكن كذلك والأسعار رخيصة وأمثال تلك السلعةِ موجودة وكان لا يظهر بالتربص بها أثر محسوس فهل يَحرَج من يحمل البدويَّ على التربص فعلى وجهين أحدهما أنه يحرَج بمطلق النهي والثاني لا يحرَج؛ لأنَّ معنى الضرار مقصود من النهي فإذا لم يكن فلا بأس
Jika tidak demikian, harga-harga murah dan barang sejenis tersedia, serta tidak tampak adanya dampak yang nyata dengan menunggu, maka apakah orang yang mendorong orang Badui untuk menunggu akan terkena dosa? Ada dua pendapat: pertama, ia berdosa karena adanya larangan secara mutlak; kedua, ia tidak berdosa, karena makna mudarat adalah tujuan dari larangan tersebut, sehingga jika mudarat itu tidak ada, maka tidak mengapa.
ثم إذا باع حاضر لبادٍ فلا شك في انعقاد العقد؛ فإن النهي ليس يتمكن من مقصود البيع
Kemudian, apabila seorang penduduk kota menjualkan barang untuk penduduk desa, tidak diragukan lagi bahwa akad jual beli tersebut tetap sah; karena larangan tersebut tidak berkaitan dengan tujuan utama jual beli.
ثم ذكر الشافعي قول النبي صلى الله عليه وسلم لا تتلقوا الركبان للبيع فمن تلقاها فصاحب السلعة بالخيار بعدَ أن يقدَم السوق
Kemudian asy-Syafi‘i menyebutkan sabda Nabi ﷺ: “Janganlah kalian menyongsong para kafilah untuk membeli barang dagangan mereka. Barang siapa menyongsong mereka, maka pemilik barang tetap memiliki hak khiyar setelah barangnya sampai di pasar.”
وصورة ذلك أن يعلم إنسان بقدوم رُفقة تحمل سلعاً وأمتعة فيستقبلَهم على قصد أن يشتريَ منهم ويتقدم إليهم ويَكْذِبَهم في سعر البلدِ ويشتري منهم شيئاً من سلعهم أو جميعها بغبنٍ هذا مورد الخبر
Contohnya adalah seseorang mengetahui kedatangan suatu kafilah yang membawa barang dagangan dan peralatan, lalu ia menyambut mereka dengan maksud untuk membeli dari mereka. Ia mendatangi mereka dan membohongi mereka tentang harga di kota, kemudian membeli dari mereka sebagian atau seluruh barang dagangan mereka dengan harga yang merugikan mereka; inilah yang dimaksud dalam hadis.
ولا شك أن صنع هذا المتلقي حرام إذا كان عالماً بالحديث والعقد ينعقد
Tidak diragukan lagi bahwa membuat alat penerima ini hukumnya haram jika orang yang melakukannya mengetahui tentang hadis dan akadnya menjadi sah.
وللبائع الخيار لنص الحديثِ هذا إذا كذب في السعر واسترخص فأما إذا صدقَ في السعر واشترى منهم بأقلَّ من ثمن المثل أو بمثل الثمن ففي الخيار وجهان أحدهما يثبت لظاهر الحديث؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم أطلق إثباتَ الخيار ولم يفصّل بين أن يكذبَ أو يصدق
Penjual memiliki hak khiyar berdasarkan nash hadits ini jika ia berbohong tentang harga dan meminta harga murah. Adapun jika ia jujur tentang harga dan membeli dari mereka dengan harga di bawah harga pasar atau dengan harga yang sama, maka dalam hal khiyar terdapat dua pendapat: salah satunya menetapkan khiyar karena zhahir hadits; sebab Nabi ﷺ secara mutlak menetapkan adanya khiyar tanpa merinci apakah ia berbohong atau jujur.
ومما يتعلق بذلك أنه لو لقي الركبَ وفاقاً وما قصد تلقِّيَهم على نحو ما وصفناه ولكن اتفق الالتقاء بهم فإن صدق في ذكرِ السعر واشترى نفذ ولا خيار وإن كذب في السعر ففي ثبوت الخيار وجهان أحدهما لا خيار؛ فإن الحديث وارد في تلقي الركبان وهذا ليس متلقِّياً والثاني يثبت الخيار؛ لأن معنى الحديث النهي عن المخادعة وهذا جار في هذه الصورة؛ فهي في معنى مورِد الحديث
Terkait dengan hal itu, jika seseorang bertemu dengan rombongan kafilah secara kebetulan dan bukan dengan maksud untuk menyongsong mereka seperti yang telah kami jelaskan, namun pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja, maka jika ia jujur dalam menyebutkan harga dan melakukan pembelian, maka transaksi itu sah dan tidak ada hak khiyar. Namun jika ia berbohong tentang harga, terdapat dua pendapat mengenai adanya hak khiyar: pendapat pertama, tidak ada hak khiyar, karena hadis berkaitan dengan menyongsong kafilah, sedangkan dalam kasus ini ia bukanlah orang yang menyongsong; pendapat kedua, hak khiyar tetap ada, karena makna hadis adalah larangan melakukan penipuan, dan hal itu juga terjadi dalam kasus ini, sehingga kasus ini termasuk dalam makna yang dimaksud oleh hadis.
فصل
Bab
في بيع الجارية والبهيمة على شرط الحمل وفي بيعها مع استثناء الحمل
Dalam jual beli budak perempuan dan hewan dengan syarat adanya kehamilan, serta dalam jual beli keduanya dengan pengecualian kehamilan.
فإذا باع جارية على أنها حُبلى أو شاةً على أنها لَبون أو جُبة وشرط حشوَها؛ ففي المسائل طرق
Jika seseorang menjual seorang budak perempuan dengan syarat bahwa ia sedang hamil, atau seekor kambing dengan syarat bahwa ia sedang menyusui, atau sebuah jubah dengan syarat terdapat isian di dalamnya, maka dalam permasalahan-permasalahan ini terdapat beberapa pendapat.
من أصحابنا من قطع بفساد البيع في هذه المسائل؛ فإن البيع تضمن شرطَ مجهولٍ لا إحاطةَ به ومنهم من قال في جميعها قولان في صحة البيع ومنهم من قال
Sebagian ulama dari kalangan kami secara tegas menyatakan batalnya jual beli dalam masalah-masalah ini; karena jual beli tersebut mengandung syarat yang tidak jelas dan tidak diketahui batasannya. Sebagian lain berpendapat bahwa dalam seluruh masalah ini terdapat dua pendapat mengenai keabsahan jual beli, dan sebagian lagi berkata…
يصح البيع في مسألة الجبة وفي الباقيتين قولان
Jual beli dalam masalah jubah hukumnya sah, sedangkan dalam dua masalah lainnya terdapat dua pendapat.
وقطع بعضُ أصحابنا بصحة البيع في اشتراط كون الشاة لبوناً وقال هذا صفةٌ في الشاة وليست تقتضى ثبوتَ لبني في الضرع فأما إذا اشترط اللبن في ضرعها حالةَ البيع فيكون ذلك كاشتراط كونها حاملاً
Sebagian ulama kami menegaskan sahnya jual beli dengan syarat bahwa kambing tersebut adalah kambing yang sedang menyusui (labūn), dan mereka mengatakan bahwa ini adalah sifat pada kambing, bukan berarti harus ada susu di ambingnya. Adapun jika disyaratkan adanya susu di ambingnya pada saat jual beli, maka hal itu seperti mensyaratkan kambing tersebut sedang bunting.
فهذه طرق الأصحاب
Inilah metode-metode para sahabat.
قال الشيخ أبو علي لو قال بعتك هذه الجاريةَ وما في بطنها أو بعتك هذه الشاةَ وما في ضرعها أو هذه الجُبةَ وما فيها من الحشو فيبطل البيع في هذه الصور قولاً واحداً؛ فإنه تعرض لمجهولات وأثبتَها مبيعةً مقصودةً وليس كما لو قال بعتُها على أنها حامل؛ فإنه ما جعل الحمل مبيعاً مقصوداً بل ذكره وصفاً
Syekh Abu Ali berkata: Jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu budak perempuan ini beserta apa yang ada dalam perutnya,” atau “Aku jual kepadamu kambing ini beserta apa yang ada di ambingnya,” atau “Jubah ini beserta isinya berupa kapas,” maka jual beli dalam kasus-kasus ini batal menurut satu pendapat; karena ia telah menyertakan hal-hal yang tidak diketahui dan menjadikannya sebagai objek jual beli yang dimaksudkan. Ini berbeda dengan jika ia berkata, “Aku jual kepadamu budak ini dengan syarat ia sedang hamil,” karena ia tidak menjadikan kandungan itu sebagai objek jual beli yang dimaksudkan, melainkan hanya menyebutkannya sebagai sifat.
والوصف قد يكون وقد لا يكون فكان كما لو اشترى عبداً على أنه خبازٌ
Sifat tersebut bisa saja ada dan bisa juga tidak ada, sehingga keadaannya seperti seseorang yang membeli seorang budak dengan syarat bahwa ia adalah seorang tukang roti.
وهذا الذي ذكره حسن وما ذكره الأصحاب مع ما ذكر الشيخ أبو علي يلتفتُ على أن المذكور على صيغة الشرط هل يكون كما يذكر على صيغة الضم إلى المبيع
Apa yang disebutkan ini adalah baik, dan apa yang disebutkan oleh para sahabat, beserta apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Ali, kembali pada pertanyaan apakah hal yang disebutkan dalam bentuk syarat itu sama seperti yang disebutkan dalam bentuk penggabungan dengan barang yang dijual.
وقد ذكرنا أمثلة هذا فيه إذا قال اشتريتُ منك الزرعَ على أن تحصده فإن جعلنا المفهومَ من الشرط كالمضموم لفظاً فيقرب الحكمُ بالبطلان
Kami telah menyebutkan contoh hal ini, yaitu jika seseorang berkata, “Aku membeli tanaman darimu dengan syarat engkau yang akan memanennya.” Jika makna syarat tersebut dipandang seperti sesuatu yang tercantum secara eksplisit dalam lafaz, maka hukum batal menjadi lebih dekat.
والظاهر ما قاله الشيخ إلا أنه ضمَّ حشوَ الجبة إلى الحمل وفيه بعضُ النظر فلا يبعد أن يُجعل كبيع الغائب
Yang tampak benar adalah apa yang dikatakan oleh Syekh, hanya saja beliau memasukkan lapisan dalam jubah ke dalam kategori barang yang dibawa, dan dalam hal ini masih perlu ditinjau lagi. Maka tidaklah jauh kemungkinan untuk dipersamakan dengan jual beli barang yang tidak hadir (ghā’ib).
ثم يتطرق إلى ما قاله نوعٌ آخر من الاحتمال وهو أن البيع إن بطَل في الحمل واللبن فالوجه تخريج البيع في الجارية والشاة على قولين في تفريق الصفقة
Kemudian, pembahasan berlanjut kepada pendapat lain yang merupakan jenis kemungkinan lain, yaitu jika jual beli batal pada janin dan susu, maka cara mengeluarkan hukum jual beli pada budak perempuan dan kambing didasarkan pada dua pendapat dalam masalah tafriq ash-shafqah (memisahkan akad dalam satu transaksi).
وقد تعرض الشيخُ لهذا ثم قال الوجه القطع بالبطلان؛ فإن المضموم مجهولٌ لا يتأتى توزيع الثمن عليه وعلى المبيع والقياس ما ذكره لكنَّا أجرينا قولَيْ تفريق الصفقة في صورةٍ لا يتأتى التوزيع فيها كما في بيع شاةٍ وخنزير وذلك يُخرّج على القولين في أن العقد إن أجيز بكم يجاز فإن قلنا يجاز العقدُ في الذي يصح فيه بتمام الثمن فلا حاجة إلى التوزيع ولا يضر تعذر التوزيع؛ إذْ لا حاجة إليه
Syekh telah membahas hal ini, kemudian beliau berkata bahwa pendapat yang kuat adalah membatalkan (akad tersebut); karena bagian yang digabungkan itu tidak diketahui, sehingga tidak mungkin membagi harga antara barang yang dijual dan barang yang digabungkan tersebut. Qiyās-nya seperti yang telah disebutkan, namun kami telah menerapkan dua pendapat tentang pemisahan transaksi pada kasus yang tidak memungkinkan pembagian harga di dalamnya, seperti dalam penjualan seekor kambing dan seekor babi. Hal ini dikembalikan kepada dua pendapat mengenai apakah akad, jika disetujui, disetujui dengan harga berapa. Jika kita mengatakan bahwa akad dapat disahkan pada bagian yang sah dengan seluruh harga, maka tidak perlu ada pembagian harga dan tidak masalah jika pembagian itu tidak memungkinkan; karena memang tidak diperlukan.
ومما يتعلق بتمام القول في هذا أن من اشترى جاريةً حاملاً وأطلق العقدَ فالبيع صحيح والحمل مستحَق للمشتري والخلاف في أنه هل يقابله قسط من الثمن وسيجري تحقيق ذلك في كتاب الرهن إن شاء الله تعالى
Termasuk hal yang berkaitan dengan penyempurnaan pembahasan ini adalah bahwa siapa saja yang membeli seorang budak perempuan yang sedang hamil dan akadnya dilakukan secara mutlak, maka jual belinya sah dan janin yang dikandung menjadi hak pembeli. Adapun perbedaan pendapat terjadi pada apakah janin tersebut memiliki bagian dari harga atau tidak, dan pembahasan rinci tentang hal ini akan dijelaskan dalam Kitab Rahn, insya Allah Ta‘ala.
ولو باع جاريةً إلا حملَها ففي صحة الاستثناء والبيع وجهان أحدهما يصح كما يصح استثناء الثمار قبل بدو الصلاح؛ فعلى هذا يبقى الحمل للبائع
Jika seseorang menjual seorang budak perempuan kecuali kandungannya, maka dalam hal keabsahan pengecualian dan penjualan terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa hal itu sah, sebagaimana sahnya pengecualian buah-buahan sebelum tampak tanda-tanda kematangan; berdasarkan pendapat ini, kandungan tetap menjadi milik penjual.
والوجه الثاني يبطل الاستثناء؛ فإن الحمل بمثابة جزءٍ من الجارية في حكم البيع
Pendapat kedua membatalkan pengecualian tersebut; karena janin dianggap sebagai bagian dari budak perempuan dalam hukum jual beli.
هذا في التصريح بالاستثناء
Ini berkaitan dengan pernyataan secara eksplisit mengenai pengecualian.
فأما إذا باع جارية وهي حامل بولد حُر فالأصح صحةُ العقد وإن وقع الحمل مستثنىً عن البيع شرعاً
Adapun jika seseorang menjual seorang budak perempuan yang sedang hamil dengan anak yang merdeka, maka pendapat yang paling sahih adalah akad jual belinya tetap sah, meskipun secara syariat kandungan tersebut dikecualikan dari objek jual beli.
وأبعد بعضُ أصحابنا؛ فذكر وجهاً في منع بيعها إلى أن تلد
Sebagian ulama kami berpendapat berbeda; mereka menyebutkan satu pendapat yang melarang menjualnya sampai ia melahirkan.
وكذلك إذا كان الحمل بالوصية لزيد وكانت الجارية لعمرو فإذا باع مالك الجارية فهو كما لو فُرض البيع وهي حامل بولد حُر
Demikian pula, jika kehamilan itu berdasarkan wasiat untuk Zaid, sedangkan budak perempuan itu milik Amr, maka apabila pemilik budak perempuan menjualnya, hukumnya sama seperti jika dijual sementara ia sedang hamil anak yang merdeka.
Bab larangan jual beli dan pinjaman yang mengandung manfaat (tambahan).
صح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع وسلف وصورته أن يشترط في البيع أن يُقرضه مالاً وهذا يلتحق بشرط عقدٍ في عقد
Telah sah bahwa Rasulullah saw. melarang jual beli dan pinjaman dalam satu akad, yaitu bentuknya apabila dalam jual beli disyaratkan agar ia meminjamkan sejumlah uang kepadanya. Ini termasuk dalam kategori syarat satu akad dalam akad yang lain.
ثم لو قال البائع بعتك هذا العبدَ بألفٍ على أن أقرضك ألفاً وقبل المشتري فالبيع باطل
Kemudian, jika penjual berkata, “Aku jual kepadamu budak ini seharga seribu dengan syarat aku meminjamkan kepadamu seribu,” dan pembeli menerima, maka jual belinya batal.
وكذلك لو قال بعتك هذا العبدَ بألفٍ على أن تقرضني ألفاً فالبيع فاسد
Demikian pula, jika seseorang berkata, “Aku jual budak ini kepadamu seharga seribu dengan syarat kamu meminjamkan aku seribu,” maka jual beli tersebut fasid (rusak/tidak sah).
أما إذا اشترط على المشتري أن يقرضه فهذا ضمُّ منفعةٍ إلى الثمن واشتراط ارتفاق ولا يثبت ما شَرَطَ فيصير الثمن مجهولاً به وكأن التقديرَ بعتك هذا العبدَ بألفٍ وارتفاقٍ بشيءٍ آخر غيره
Adapun jika penjual mensyaratkan kepada pembeli agar meminjaminya (uang), maka ini berarti menggabungkan suatu manfaat dengan harga dan mensyaratkan suatu keuntungan tambahan, sehingga syarat tersebut tidak sah dan harga menjadi tidak jelas karenanya. Seolah-olah maknanya adalah: “Aku menjual budak ini kepadamu seharga seribu dan keuntungan lain berupa sesuatu yang berbeda darinya.”
وإذا قال البائع بعتك هذا العبدَ بألفٍ على أن أقرضك فكأنه لم يقنع بأن يقابلَ العبدَ بالألف فقابلَ العبدَ ورفقاً بألف فلم يصح
Jika penjual berkata, “Aku jual kepadamu budak ini seharga seribu dengan syarat aku meminjamkan (uang) kepadamu,” maka seolah-olah ia tidak puas menukar budak itu dengan seribu, lalu ia menukar budak dan pinjaman dengan seribu, maka jual beli tersebut tidak sah.
وما ذكره معتضدٌ بنص الرسول صلى الله عليه وسلم
Apa yang disebutkan itu didukung oleh nash Rasulullah saw.
فصل
Bab
تعرض الشافعي لإفساد القرضِ الذي يجر منفعة
Syafi‘i membahas tentang batalnya akad pinjaman (qardh) yang mendatangkan manfaat.
والوجه عندنا أن نذكر أصلَ القرض ووصفَه وقواعد الأحكام فيه ثم نذكر فساده إذا شرط فيه جرَّ منفعةٍ
Menurut kami, cara yang tepat adalah dengan menyebutkan terlebih dahulu hakikat qardh, sifatnya, dan kaidah-kaidah hukum yang berkaitan dengannya, kemudian membahas kerusakannya apabila disyaratkan adanya keuntungan yang ditarik darinya.
فالقرض في نفسه متفق عليه وليس عقداً تاماً على قياس المعاوضات؛ فإنه لو كان مردوداً إلى قياسها لما صح اقتراضُ مالٍ من أموال الربا لشَرْطِ التقابض في بيع بعضه بالبعض
Maka, qardh itu sendiri telah disepakati dan bukanlah akad yang sempurna menurut qiyās pada akad-akad mu‘āwadah; sebab jika ia dikembalikan kepada qiyās tersebut, niscaya tidak sah meminjam harta dari jenis harta ribawi karena adanya syarat serah terima dalam jual beli sebagian dengan sebagian yang lain.
ومعلوم أن من أقرض إنساناً دراهمَ فإنما يبذلُها ليأخذ منه مثلَها وهذا على القطع مقابلةُ عوض بعوض وقياسُ هذا يقتضي التقابضَ في مجلس العقد؛ فإن كل عوضين جمعتهما علةٌ واحدة في تحريم ربا الفضل إذا اشتمل العقد عليهما وجب التقابُض فيهما فليس القرضُ إذاً على قياس العقود وليس خالياً عن تقابل العوضين مقصوداً
Dan telah diketahui bahwa siapa pun yang meminjamkan sejumlah dirham kepada seseorang, maka ia memberikannya dengan tujuan untuk mengambil yang semisal darinya. Ini secara pasti merupakan pertukaran antara dua imbalan. Qiyās atas hal ini menuntut adanya serah terima dalam majelis akad; sebab setiap dua imbalan yang memiliki ‘illah yang sama dalam keharaman riba fadhl, jika akad mencakup keduanya, maka wajib dilakukan serah terima atas keduanya. Maka, pinjaman (qardh) tidaklah sesuai dengan qiyās akad-akad lainnya, namun juga tidak lepas dari adanya pertukaran dua imbalan yang dimaksudkan.
وامتنع الشافعي من إثبات الأجل في القرض؛ من قِبَل أن الأجل إنما يثبت في حقائق العقود المشتملةِ على حقيقة المعاوضة فإذا لم يكن القرض كذلك لم يكن في إثبات الأجل معنى ووافق أبو حنيفةَ على هذا وكان القرض معروفٌ أثبته الشارع رخصةً مستثنى من قياس المعاوضات وما فيها من التعبدات؛ فإن القرض لو روعي فيه التقابض لم يكن فيه معنى وغرض الشارع بإثبات القرض استثناؤه عن تصنيفات المبيع وإيصال المقترض إلى القرض من غير أن يُنجز له عوضاً
Imam Syafi’i menolak penetapan tempo (jatuh tempo) dalam akad pinjaman (qardh); karena tempo itu hanya ditetapkan dalam hakikat akad-akad yang mengandung unsur pertukaran (mu‘āwadah) yang sebenarnya. Maka, jika pinjaman tidak demikian, tidak ada makna dalam penetapan tempo tersebut. Abu Hanifah sependapat dalam hal ini. Pinjaman (qardh) adalah sesuatu yang sudah dikenal dan telah ditetapkan oleh syariat sebagai keringanan, dikecualikan dari qiyās akad-akad pertukaran dan apa yang ada di dalamnya dari sisi ibadah; sebab jika dalam pinjaman disyaratkan serah terima langsung, maka tidak ada maknanya. Tujuan syariat dalam penetapan pinjaman adalah pengecualiannya dari kategori jual beli, serta agar peminjam dapat memperoleh pinjaman tanpa harus segera memberikan imbalan.
وهذا لا خفاء به
Dan hal ini tidaklah samar.
وينشأ من هذا الأصل خلافٌ عظيمُ الوقع مع مالك فإنه قال ليس للمُقرض أن يسترد ما أقرضه على الفور حتى يقضي المقترضُ وطراً أو يمضي زمانٌ يسع ذلك وزعم أنا لو ملكنا المقرضَ استرجاع القرض في الحال لم يكن للقرض فائدةٌ وبنى هذا على إثبات الأجل ولزوم الوفاء به إذا ذُكر وحمل هذا على موافقة مقصودِ القرض
Dari prinsip ini timbul perbedaan pendapat yang sangat besar dengan Imam Malik, karena beliau berpendapat bahwa pemberi pinjaman (muqriḍ) tidak berhak menuntut kembali pinjamannya secara langsung hingga peminjam (muqtariḍ) telah mengambil manfaat darinya atau telah berlalu waktu yang cukup untuk itu. Ia berpendapat bahwa jika kita membolehkan pemberi pinjaman untuk segera menarik kembali pinjamannya, maka pinjaman itu tidak lagi memiliki manfaat. Ia mendasarkan pendapat ini pada penetapan adanya tenggat waktu (ajal) dan kewajiban menepatinya jika telah disebutkan, serta mengaitkan hal ini dengan tujuan dari akad pinjaman itu sendiri.
وهذا الذي ذكره فيه تخييل إذا نظر الناظر إلى مقصود القرض ولكن لا وجه لما قاله؛ من جهة أن منعه المقرضَ من مطالبة المقترض تحكّم منه عليه لا عن أصل ثابت في الشرع ثم ذِكْرُه قضاءَ الوطر عماية لا يهتدى إليها وأمرٌ خارج عن الضبط
Apa yang disebutkannya itu hanyalah ilusi jika seseorang melihat pada tujuan dari pinjaman, namun tidak ada alasan atas apa yang ia katakan; karena melarang pemberi pinjaman untuk menuntut peminjam adalah tindakan sewenang-wenang terhadapnya, bukan berdasarkan prinsip yang tetap dalam syariat. Kemudian penyebutan “memenuhi keinginan” adalah sesuatu yang samar dan tidak dapat dijadikan petunjuk, serta merupakan perkara yang berada di luar batasan yang jelas.
والوجه إذا عقلنا غرضَ الشرع مائلاً عن قياس كلِّي أن نقتصر عليه ولا نُتبعُه هدمَ الأصول ومقصود الشارع استثناءُ القرض عن التعبّد الثابت في التقابض المشروط وهذا معترف به فأما الحجر على المقرض فلا والأمر محمول فيه على أنه إن شاء وفَى بامتناعه فإن لم يفِ فهو المالك
Dan pendapat yang benar, jika kita memahami tujuan syariat condong untuk menyimpang dari qiyās secara keseluruhan, maka kita cukupkan pada hal itu saja dan tidak mengikuti dengan meruntuhkan kaidah-kaidah dasar. Maksud syariat adalah mengecualikan pinjaman (qardh) dari ketentuan ibadah yang tetap dalam syarat serah terima (taqābudh), dan hal ini diakui. Adapun pelarangan terhadap pemberi pinjaman, maka tidak demikian, dan perkara ini dikembalikan pada bahwa jika ia mau, ia dapat melunasi dengan menahan diri; jika ia tidak melunasi, maka ia tetap sebagai pemilik.
وقد طرد مالكٌ أصلَه في إلزام العواري إلى قضاء الأوطار
Malik telah menerapkan prinsip dasarnya dalam mewajibkan pihak yang meminjam barang (‘āriyah) untuk memenuhi kebutuhan (pihak pemilik).
وهذا عندي خَرق لما عليه علماءُ الأمة؛ فإنهم ما زالوا يعرفون من وضع الشرع في العواري تخيّر المعير وأن له الرجوع متى شاء وقد ثبت في وضع الشرع عقودٌ مقرونةٌ بشرط الرجوع والواهب المملِّك بالإقباضِ عندنا وبنفسِ الهبةِ عند مالك رحمه الله يرجع فيما وهب ولم يُنكِر أصلَ الرجوع في الهبة منكر
Menurut pendapat saya, ini merupakan pelanggaran terhadap apa yang telah menjadi ketetapan para ulama umat; sebab mereka senantiasa mengetahui bahwa dalam ketentuan syariat mengenai pinjaman (al-‘āriyah), pemberi pinjaman memiliki kebebasan memilih dan berhak untuk menarik kembali kapan saja ia mau. Dalam ketentuan syariat juga terdapat akad-akad yang disertai dengan syarat boleh menarik kembali. Orang yang memberikan hibah yang disertai penyerahan barang menurut mazhab kami, dan dengan sekadar hibah menurut Imam Malik rahimahullah, boleh menarik kembali apa yang telah dihibahkan, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari prinsip kebolehan menarik kembali hibah.
فالذي يقتضيه الفقه أن يُعتقَدَ استثناءُ الشارع القرضَ كما ذكرناه مع أن الأمر فيه مبني على أن المقرض يفي بالامتناع ولا يخلف الموعدَ وهذا ما اطّرد العرفُ فيه
Maka yang dituntut oleh fiqh adalah hendaknya diyakini bahwa syariat mengecualikan pinjaman sebagaimana telah kami sebutkan, meskipun perkara ini dibangun atas dasar bahwa pihak yang memberi pinjaman menepati penolakannya dan tidak mengingkari janji, dan inilah yang telah menjadi kebiasaan (‘urf) di dalamnya.
فإن أراد الاسترجاع فلا مانع منه
Jika ia ingin mengambil kembali, maka tidak ada larangan baginya.
وأما الأجل فقول مالكٍ في إثباته أَثْبتُ وسبيل الكلام عليه ما قدّمناه من أن الأجل من توابع العقود المحققة ولو أثبتنا الأجل فيه لألحقناه بالعقود ولو التحق بها لامتنع الأجل في مقابلة الدراهم بالدنانير؛ ففي إثباته في الربويات نفيُه
Adapun tentang penetapan tempo, pendapat Malik dalam menetapkannya lebih kuat, dan cara pembahasan tentangnya sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya, bahwa tempo merupakan salah satu konsekuensi dari akad-akad yang sah. Jika kita menetapkan tempo dalam hal ini, berarti kita menyamakannya dengan akad-akad tersebut. Jika ia telah disamakan, maka tidak diperbolehkan adanya tempo dalam pertukaran dirham dengan dinar; sehingga penetapan tempo dalam transaksi ribawi berarti meniadakannya.
ثم إذا تمهد قولُنا في أصل القرض وتنزيله فنتكلمُ وراء ذلك في شيئين أحدهما أنه يقتضي الملك للمقترض وكيف التفصيل فيه والثاني فيما يصح إقراضه وفيما لا يصح ثم نذكر بعدهما القرضَ الذي يجرّ منفعةً
Setelah pembahasan kami tentang dasar qardh dan penjelasannya selesai, maka selanjutnya kami akan membahas dua hal: pertama, bahwa qardh menyebabkan kepemilikan bagi pihak yang meminjam dan bagaimana rinciannya; kedua, mengenai apa saja yang sah untuk dipinjamkan dan apa yang tidak sah. Setelah itu, kami akan membahas qardh yang mendatangkan manfaat.
فأما القول في وقت الملكِ فقد ذكر أئمتنا قولين من معاني كلام الشافعي في ذلك أحدهما أن الملك يحصل بالإقباض وهذا هو القياس؛ فإن المقترض يتصرف فيما اقترضه وقبضه تصرفاتٍ مفتقرة إلى الملك كالبيع وغيره وأيضاً؛ فإن كل عقد مملِّكٍ على الصحة إذا لم يقترن به مانِع من نقل الملك فالملك لا يتأخر فيه عن القبض
Adapun pembahasan mengenai waktu kepemilikan, para imam kami telah menyebutkan dua pendapat yang diambil dari makna perkataan asy-Syafi‘i dalam hal ini. Salah satunya adalah bahwa kepemilikan terjadi dengan penyerahan (qabdh), dan inilah yang sesuai dengan qiyās; karena orang yang meminjam dapat melakukan berbagai tindakan terhadap barang yang dipinjam dan telah diterimanya, seperti jual beli dan lainnya, yang semuanya membutuhkan kepemilikan. Selain itu, setiap akad yang bersifat memindahkan kepemilikan secara sah, jika tidak disertai penghalang untuk memindahkan kepemilikan, maka kepemilikan tidak tertunda dari penyerahan (qabdh).
والقول الثاني أن الملك لا يحصل ما لم يتصرف المقترض كما سنصف تصرّفَه؛ فإن الاقتراضَ ما وقع للتمليك المحض حتى لا يقتني المقترضُ ما يقترضه ولو كان المقصود منه ذلك لرُدَّ إلى قياس العقود فحكمُ القرض في وضعه يقتضي وقوفَ الملك إلى اتفاق التصرف
Pendapat kedua menyatakan bahwa kepemilikan tidak terjadi kecuali setelah peminjam melakukan tindakan tertentu sebagaimana akan kami jelaskan tindakannya; sebab peminjaman itu tidak terjadi untuk tujuan kepemilikan murni sehingga peminjam tidak langsung memiliki apa yang dipinjamnya. Jika memang tujuannya demikian, maka hal itu akan dikembalikan kepada qiyās akad-akad. Maka hukum qardh dalam asalnya mengharuskan tertahannya kepemilikan hingga terjadi kesepakatan tindakan.
التفريع على القولين
Penjabaran berdasarkan dua pendapat
إن حكمنا بأن الملك يحصل في القرض بنفس القبض مع جريان لفظٍ مشعر باقتراض فقد قال صاحبُ التقريب وأئمة العراق لو أراد المُقرِضُ أن يسترد عينَ ما أقرضه كان له ذلك وهو ما قطع به القاضي وسببه أنه إذا كان يملك تغريمه مثلَ حقه عند فواته فينبغي أن يملك استردادَ عين ملكه ولو أبى المقترض كان حاملاً للقرض على مقصود الاقتناء وقد أوضحنا خلاف ذلك
Jika kita menetapkan bahwa kepemilikan terjadi dalam akad pinjam-meminjam (qardh) dengan serah terima disertai lafaz yang menunjukkan peminjaman, maka menurut penulis kitab at-Taqrib dan para imam Irak, jika pemberi pinjaman ingin mengambil kembali barang yang dipinjamkannya secara persis, maka ia berhak melakukannya. Inilah pendapat yang ditegaskan oleh al-Qadhi. Alasannya, jika ia berhak menuntut ganti barang sejenis ketika barang itu hilang, maka seharusnya ia juga berhak mengambil kembali barang miliknya sendiri. Jika peminjam menolak, berarti ia menjadikan pinjaman itu sebagai sarana untuk memiliki barang tersebut. Namun, kami telah menjelaskan pendapat yang berbeda dari hal ini.
وذكر الشيخ أبو علي في الشرح أن المقرض ليس له أن يسترد عينَ القرض إلا أن يرضى به المقترض فلو أراد أن يأتي بمثل ما قبضه فله ذلك
Syekh Abu Ali menyebutkan dalam syarah bahwa pemberi pinjaman tidak berhak meminta kembali barang pinjaman secara langsung kecuali jika penerima pinjaman rela mengembalikannya. Namun, jika pemberi pinjaman ingin menerima barang sejenis dari apa yang telah diberikan, maka hal itu diperbolehkan.
وهذا الذي ذكره قياس حسن ولكن جمهور الأصحاب ذهبوا إلى مَا قدمناه
Apa yang disebutkan ini adalah qiyās yang baik, namun mayoritas para sahabat (ulama mazhab) berpendapat seperti yang telah kami kemukakan sebelumnya.
ولو أراد المقترض ردَّ عين القرض فلا شك أنَ المقرض محمول على قبوله وليس له أن يقول إنما أقرضتك هذه الدراهم بعوضها فلا أقبل عينها؛ وذلك أن القرض منتزعٌ عن حقائق المعاوضات ولو باع رجل درهماً في الذمة بدرهم ثم أقبض أحدُهما صاحبه درهماً فردّه على صاحبه وكان مثلاً له جاز ذلك فإذا لم يمتنع هذا في المعاوضات المحققة فلا شك أن المقرض محمول على قبول عينِ حقه
Jika peminjam ingin mengembalikan barang pinjaman itu sendiri, tidak diragukan lagi bahwa pemberi pinjaman wajib menerima dan tidak boleh berkata, “Aku meminjamkan dirham ini kepadamu untuk diganti dengan yang sepadan, maka aku tidak mau menerima barang aslinya.” Hal ini karena akad qardh diambil dari hakikat-hakikat mu‘āwadah (pertukaran). Jika seseorang menjual satu dirham dalam tanggungan dengan satu dirham, lalu salah satu dari keduanya menyerahkan satu dirham kepada yang lain, kemudian dikembalikan lagi kepada pemiliknya dan keduanya sepadan, maka hal itu dibolehkan. Jika dalam mu‘āwadah yang nyata saja hal ini tidak dilarang, maka tidak diragukan lagi bahwa pemberi pinjaman wajib menerima barang aslinya sebagai haknya.
هذا إذا فرعنا على أن الملك يحصل بالقبض في القرض
Ini jika kita berasumsi bahwa kepemilikan diperoleh melalui penerimaan (qabḍ) dalam transaksi pinjaman (qarḍ).
فأما إذا فرعنا على القول الآخر وقلنا لا يحصل الملك في القرض إلا بتصرفٍ من المقترض فالكلام أولاً في نفس التصرف
Adapun jika kita mengikuti pendapat lain dan mengatakan bahwa kepemilikan dalam qardh tidak terjadi kecuali dengan adanya tindakan dari pihak yang meminjam, maka pembahasan pertama adalah mengenai tindakan itu sendiri.
لا خلاف على هذا القول أنه لو استخدم العبدَ المقترَض أو أعاره فلا يحصل الملك بهذا القبيل من التصرفات
Tidak ada perbedaan pendapat mengenai pendapat ini, yaitu jika seseorang mempekerjakan budak yang dipinjam atau meminjamkannya, maka kepemilikan tidak terjadi melalui jenis tindakan seperti ini.
ولو باعه بيعَ بتات أو وهبه وأقبضه فيحكم بنفوذ تصرفه ويستبين أن الملك انتقل إليه قُبَيْل التصرف الصادر منه فإنا بالتصرف نعلم جريانَ المقترض في مقصود القرض وإذا تبيَّنا ذلك أسندنا تصرفاته إلى ملكٍ مقدَّرٍ قُبيلَها
Jika ia menjualnya dengan jual beli mutlak atau memberikannya sebagai hibah dan telah menyerahkannya, maka diputuskan bahwa tindakannya sah dan jelas bahwa kepemilikan telah berpindah kepadanya sesaat sebelum tindakan tersebut dilakukan. Sebab, dengan tindakan itu kita mengetahui bahwa peminjam telah menjalankan maksud dari akad pinjaman, dan jika hal itu telah jelas, maka kita sandarkan tindakannya pada kepemilikan yang dianggap telah ada sesaat sebelumnya.
ولو آجر العبدَ المقترَضَ أو رهنه فكيف القول في التصرف الذي لا يزيل الملك عن الرقبة ويستدعي نفوذُه ملكَ المتصرف
Jika seorang hamba yang dijadikan objek pinjaman disewakan atau digadaikan, maka bagaimana hukum terhadap tindakan yang tidak menghilangkan kepemilikan atas pokoknya dan pelaksanaannya mensyaratkan kepemilikan dari pihak yang melakukan tindakan tersebut?
في كلام أصحابنا خبطٌ في هذا أمّا شيخي فكان يقول كل تصرف لو صدر من المتّهب انقطع به حق رجوع الواهبِ منه ولولاه لرجع فذلك التصرف يثبت ملكَ المقترض على حكم التبيّن وكذلك كل تصرفٍ لو صدر من المشتري ثم أفلس لامتنع به حق رجوع البائع إلى عين ماله فإذا صدر من المقترض تضمّن حصولَ الملك له فلا فرق بين هذا المعتبَرِ وبين ما ذكرناه في المتهب
Dalam pendapat para ulama kami terdapat kerancuan dalam masalah ini. Adapun guru saya, beliau berpendapat bahwa setiap tindakan yang jika dilakukan oleh penerima hibah akan menyebabkan hak penarikan kembali hibah oleh pemberi hibah terputus, dan jika tidak dilakukan maka pemberi hibah masih bisa menarik kembali, maka tindakan tersebut menetapkan kepemilikan bagi peminjam menurut hukum tabayyun (penjelasan). Demikian pula setiap tindakan yang jika dilakukan oleh pembeli lalu ia bangkrut, maka tindakan itu menghalangi hak penjual untuk mengambil kembali barangnya secara langsung; jika tindakan tersebut dilakukan oleh peminjam, maka hal itu mengandung penetapan kepemilikan baginya. Maka tidak ada perbedaan antara hal yang dipertimbangkan di sini dengan apa yang telah kami sebutkan pada kasus penerima hibah.
هذا مسلك شيخي
Ini adalah jalan guruku.
ومن أئمتنا من قال التصرف المعتبَر فيما نحن فيه هو الذي يزيل الملكَ عن رقبة المقترض؛ فإن الغرض من الإقراض إخراجُ المقترَض وهذا القائل لا يجعل الرهن مما يكتفى به وإن تعلّق برقبة المقترَض
Di antara para imam kami ada yang berpendapat bahwa tindakan yang dianggap sah dalam permasalahan ini adalah tindakan yang menghilangkan kepemilikan dari pihak yang meminjam; sebab tujuan dari pemberian pinjaman adalah mengeluarkan barang yang dipinjamkan dari kepemilikan peminjam. Pendapat ini tidak menganggap gadai sebagai sesuatu yang cukup, meskipun gadai tersebut berkaitan dengan barang yang dipinjamkan.
وقال بعض أئمتنا كل تصرف يتعلق بالمنفعةِ فإنه لا يثبت حقَّ الملك في المقترَض كالإجارة وكل تصرف يتعلق بالرقبة على لزومٍ فإنه يتضمن ملك المقترض فالرهن عند هذا القائل يتضمن تحصيل الملك
Sebagian ulama kami mengatakan bahwa setiap transaksi yang berkaitan dengan manfaat, maka tidak menetapkan hak kepemilikan pada barang yang dipinjamkan, seperti ijarah. Dan setiap transaksi yang berkaitan dengan kepemilikan secara tetap, maka itu mengandung kepemilikan bagi peminjam. Maka, menurut pendapat ini, rahn (gadai) mengandung perolehan kepemilikan.
وقال بعض أئمتنا كل تصرف يستدعي ملكاً فهو من المقترض يتضمن تمليك القرض على مذهب التبيّن
Sebagian ulama kami berkata, setiap tindakan yang memerlukan kepemilikan maka itu berasal dari pihak yang meminjam, yang mengandung makna pemindahan kepemilikan pinjaman menurut mazhab at-tabayyun.
وصاغ بعض أصحابنا عن هذا عبارةً أخرى وقال ما يستباح بالإباحة لا أثر له وما لا يستفاد إلا بملكٍ فهو الذي يُثبت الملك
Sebagian ulama kami merumuskan hal ini dengan ungkapan lain, mereka berkata: “Apa yang dibolehkan dengan izin, tidak berpengaruh, sedangkan apa yang hanya dapat diperoleh melalui kepemilikan, itulah yang menetapkan kepemilikan.”
فهذا تمام طرق الأصحابِ في تفصيل التصرفات المعتبرة في تحصيل الملك في القرض
Demikianlah seluruh penjelasan para ulama mengenai rincian bentuk-bentuk transaksi yang dianggap sah dalam memperoleh kepemilikan pada akad qardh.
ومن قال لا يحصل الملك إلا بما يزيل الملك فلا يمنع المقتَرِضَ من استخدام العبدِ المُقْتَرَضِ ويَحْمِلُ الإقراضَ على إباحة ذلك وعلى تمهيد تحصيل الملك إن أراد المقترض تحصيلَ الملك فأما الإجارة فلا نصححها فإنها تستدعي ملكاً والملك عند هذا القائل لا يحصل بها
Dan barang siapa yang berpendapat bahwa kepemilikan tidak terjadi kecuali dengan sesuatu yang menghilangkan kepemilikan, maka ia tidak melarang peminjam untuk menggunakan budak yang dipinjamkan, dan ia menafsirkan peminjaman sebagai pembolehan penggunaan tersebut serta sebagai persiapan untuk memperoleh kepemilikan jika si peminjam ingin memperoleh kepemilikan. Adapun sewa-menyewa, maka kami tidak mengesahkannya, karena sewa-menyewa menuntut adanya kepemilikan, sedangkan kepemilikan menurut pendapat ini tidak terjadi dengannya.
ولسنا نحوم بعدُ على استقراض الجارية فإنا سنذكر أمرها في الفصل الثاني وهو ما يُستقرَض وما لا يستقرَض
Kami belum membahas tentang meminjam budak perempuan, karena kami akan menjelaskan perkaranya pada bab kedua, yaitu tentang apa saja yang boleh dipinjamkan dan apa saja yang tidak boleh dipinjamkan.
فرع
Cabang
إذا استقرض عيناً وباعها على شرط الخيار فإن قلنا البيع لا ينقل الملك والتفريع على أنه لابد من تصرفٍ ناقل للملك فلا يحصل الملك للمستقرض
Jika seseorang meminjam suatu barang dan menjualnya dengan syarat khiyār, maka jika kita berpendapat bahwa jual beli tidak memindahkan kepemilikan, dan berdasarkan pendapat bahwa harus ada tindakan yang memindahkan kepemilikan, maka kepemilikan tidak berpindah kepada peminjam.
وإن فرعنا على أن المعتبر تصرفٌ يستدعي الملك فالبيع يُملّك المستقرضَ؛ فإنه يستدعي ملكاً وإن كان لا ينقل الملك ما لم يَلْزم
Jika kita berpendapat bahwa yang dianggap adalah suatu tindakan yang memerlukan kepemilikan, maka jual beli memberikan hak milik kepada peminjam; karena jual beli memerlukan adanya kepemilikan, meskipun tidak memindahkan kepemilikan selama belum menjadi wajib.
وإن قلنا البيع ينقل الملك والتفريع على أنه لابد من ناقل للملك فهذا نقل على الجواز لا على اللّزوم وفيه تردد للأصحاب وهو محتمل جداً
Jika kita mengatakan bahwa jual beli memindahkan kepemilikan, dan penjabaran atas dasar bahwa harus ada sesuatu yang memindahkan kepemilikan, maka ini adalah pemindahan atas dasar kebolehan, bukan atas dasar keharusan. Dalam hal ini terdapat keraguan di kalangan para ulama, dan hal ini sangat mungkin terjadi.
وكان شيخي يقول لا خلاف أن الملك إذا حصل في زمان الخيار لمن اشترى زوجته فالنكاح ينفسخ
Guru saya berkata, tidak ada perbedaan pendapat bahwa apabila kepemilikan diperoleh pada masa khiyār oleh seseorang yang membeli istrinya, maka akad nikahnya batal.
هذا منتهى التفريع على التصرفاتِ المعتبرة في قولنا لا يملك المستقرض ما لم يتصرف
Ini adalah batas akhir dari penjabaran mengenai berbagai bentuk tindakan hukum yang dianggap sah dalam pernyataan kami: “Peminjam tidak memiliki (hak atas barang yang dipinjam) selama ia belum melakukan tindakan hukum.”
وقد نجز الغرض فيما يملّك المستقرَض
Dan tujuan telah tercapai dalam hal apa yang dimiliki oleh pihak yang meminjam.
فأما القول فيما يصح إقراضه
Adapun pembahasan mengenai apa saja yang sah untuk dipinjamkan.
قال صاحب التلخيص ما يصح السلم فيه يصح إقراضُه إلا الولائد أراد الجواري فنقول أولاً
Penulis kitab at-Talkhīṣ berkata: Sesuatu yang sah dijadikan objek salam, sah pula untuk dipinjamkan, kecuali budak perempuan; yang dimaksud adalah para budak wanita. Maka kami katakan, pertama-tama…
مقتضى كلامه أن ما يمتنع السلم فيه لأن الوصفَ لا يحيط به لا يصحّ إقراضُه
Implikasi dari ucapannya adalah bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan akad salam atasnya karena sifat-sifatnya tidak dapat dijelaskan secara rinci, maka tidak sah pula untuk dipinjamkan.
وهذا ما ذهب إليه الجماهير المعتبرون من الأصحاب ووجهه أن القرض مقتضاه إلزامُ ذمة المقترض عوضاً موصوفاً فينبغي أن يكون الشيء قابلاً للصفة وكأنَّ العينَ المقرضَة بصفاتها سبيلٌ في وصفِ ما يُلزمه ذمةَ المقترض وهي نازلةٌ منزلةَ ذكر الأوصاف في السلم
Inilah pendapat mayoritas ulama terkemuka dari kalangan mazhab, dan alasannya adalah bahwa akad qardh menuntut adanya kewajiban pada tanggungan pihak yang meminjam untuk mengganti dengan sesuatu yang memiliki sifat tertentu. Oleh karena itu, barang yang dipinjamkan haruslah dapat diberi sifat. Seolah-olah barang yang dipinjamkan beserta sifat-sifatnya menjadi dasar dalam menentukan sifat pengganti yang menjadi kewajiban pihak peminjam, dan hal ini serupa dengan penyebutan sifat-sifat dalam akad salam.
فيخرج إذاً مما ذكرناه أن اللؤلؤةَ لا يجوز إقراضُها وكذلك النشابة والقوس وكل ما يمتنع السلم فيه وذكر الشيخ أبو علي هذا الوجهَ ووجهاً آخر وهو أن الإقراضَ يجوز في هذه الأشياء
Maka dari apa yang telah kami sebutkan, dapat disimpulkan bahwa mutiara tidak boleh dipinjamkan, demikian pula anak panah, busur, dan segala sesuatu yang tidak diperbolehkan akad salam padanya. Syaikh Abu Ali menyebutkan pendapat ini dan juga pendapat lain, yaitu bahwa peminjaman diperbolehkan pada benda-benda tersebut.
والقول في هذا ينبني على ما سأذكره في آخر الفصل وأنبه على رد هذه المسألة إن شاء الله تعالى
Pendapat mengenai hal ini didasarkan pada apa yang akan saya sebutkan di akhir bab ini, dan saya akan memberikan penjelasan tentang penolakan masalah ini, insya Allah Ta’ala.
ومما يتعلق بهذا الفصل الكلامُ في إقراض الجواري وقد نص الشافعي على قولين فيه أحدهما تجويز ذلك قياساً على العبيد والعُرُوض والنقود والقول الثاني لا يجوز إقراضهن
Terkait dengan bab ini adalah pembahasan tentang meminjamkan budak perempuan. Imam Syafi‘i telah menetapkan dua pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama membolehkannya dengan qiyās kepada budak laki-laki, barang dagangan, dan uang. Pendapat kedua menyatakan tidak boleh meminjamkan mereka.
وقد اتفق أصحابنا على أحد هذين القولين في أن الملك متى يحصل في القرض
Para ulama mazhab kami telah sepakat pada salah satu dari dua pendapat ini mengenai kapan kepemilikan terjadi dalam transaksi qardh (pinjaman).
ثم ذهب الأكثرون إلى أنا إن قلنا يحصل الملك بالقبض فيصح إقراضُ الجارية ويملكها المقترض بالقبض كما يملكها بالاتهاب والقبض
Kemudian mayoritas ulama berpendapat bahwa jika kita mengatakan kepemilikan terjadi dengan penyerahan, maka sah meminjamkan budak perempuan dan peminjam memilikinya dengan penyerahan, sebagaimana ia memilikinya melalui hibah dan penyerahan.
وإن قلنا لا يحصل الملكُ في القرض بالقبض فلا يصح إقراضُ الجواري ؛ فإن في تصحيحه تسليمَهن إلى المقترض فتثبت يدُه عليها من غير ملكٍ وقد يُفضي ذلك إلى الإلمام فالوجه حسم هذه الجملة بالكلية
Dan jika kita mengatakan bahwa kepemilikan tidak terjadi dalam akad pinjaman (qardh) dengan penyerahan, maka tidak sah meminjamkan budak perempuan; karena jika dibolehkan, berarti menyerahkan mereka kepada peminjam sehingga ia memegangnya tanpa hak milik, dan hal itu bisa mengarah pada perbuatan tercela. Maka yang tepat adalah menutup seluruh bentuk ini secara total.
وذكر الشيخ أبو علي مسلكاً آخر في بناء إقراض الجواري على الملك وهو عكس ما ذكره الأصحاب فقال إن قلنا يحصل الملك في القرض بالقبض فلا يصح إقراض الجارية؛ فإن المقترض لو ملكها لاستحلها ثم مَلكَ ردها في عينها فيكون ذلك على صورة إعارة الجواري للوطء وإذا قلنا لا يملك القرضَ بالقبض فيصح إقراضُ الجارية؛ فإن مستقرضَها إذا لم يملكها لا يستحلها ولا يقع ما صورناه من وطء الجارية وردّها في عينها
Syekh Abu Ali menyebutkan pendapat lain dalam membangun kebolehan meminjamkan budak perempuan atas dasar kepemilikan, yang merupakan kebalikan dari apa yang disebutkan oleh para sahabat. Ia berkata: Jika kita mengatakan bahwa kepemilikan dalam pinjaman (qardh) terjadi dengan penyerahan (qabdh), maka tidak sah meminjamkan budak perempuan; sebab jika peminjam memilikinya, ia akan menghalalkannya, kemudian ia mengembalikannya dalam wujud yang sama, sehingga hal itu serupa dengan meminjamkan budak perempuan untuk digauli. Namun jika kita mengatakan bahwa pinjaman tidak menyebabkan kepemilikan dengan penyerahan, maka sah meminjamkan budak perempuan; sebab peminjamnya jika tidak memilikinya, ia tidak menghalalkannya, dan tidak terjadi apa yang telah kami gambarkan berupa menggauli budak perempuan lalu mengembalikannya dalam wujud yang sama.
هذا مسلكه والذي ذكره الأصحاب قريبٌ ولا بأس بما ذكره الشيخ أيضاً
Inilah pendapatnya, dan apa yang disebutkan oleh para ulama juga mendekati kebenaran, serta tidak mengapa dengan apa yang disebutkan oleh asy-Syaikh.
والقياسُ جواز الإقراض على القولين ولكن صح عن السلفِ النهيُ عن إقراض الوَلائدِ وكأن المسألة اتباعية
Qiyās membolehkan pemberian pinjaman menurut dua pendapat, namun telah shahih dari para salaf larangan meminjamkan budak perempuan, dan sepertinya masalah ini bersifat ittiba‘ (mengikuti pendapat ulama terdahulu).
وأجمع أئمتنا أن الجارية إن كانت من محارم المستقرِض بنسب أو رضاع أو صهرٍ فيجوزُ إقراضها منه لم أرَ في هذا خلافاً وهذا يُنبِّهُ على أن المحذورَ الوطءُ واستحلاله على التفصيل الذي ذكرناه
Para imam kami sepakat bahwa jika budak perempuan itu termasuk mahram bagi orang yang meminjam karena nasab, persusuan, atau hubungan pernikahan, maka boleh meminjamkannya kepadanya. Aku tidak melihat adanya perbedaan pendapat dalam hal ini. Hal ini menunjukkan bahwa yang dikhawatirkan adalah terjadinya hubungan seksual dan penghalalannya, sesuai dengan rincian yang telah kami sebutkan.
فإذا ثبت التفصيل فيما يجوزُ إقراضه فالمقترَض لا يخلو إما أن يكون من ذوات الأمثالِ وإما أن يكون من ذوات القيم؛ فإن كان من ذوات الأمثال فلا شك أن المردود مثلُ المستقرَض
Jika telah tetap adanya perincian mengenai apa yang boleh dipinjamkan, maka barang yang dipinjamkan tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa termasuk barang yang memiliki padanan (dzawāt al-amtsāl) atau termasuk barang yang bernilai (dzawāt al-qīm). Jika termasuk barang yang memiliki padanan, maka tidak diragukan lagi bahwa yang dikembalikan adalah sepadan dengan yang dipinjam.
وإن كانَ المُقرَضُ من ذوات القيم فقد ظهر اختلاف الأصحاب فيه فذكروا وجهين أشبههما بظاهر الحديث أنه يرد مثل ما قبض وإن لم يكن من ذواتِ الأمثالِ وصح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم استقرض بكراً من أعرابي فتقاضى عليه وأغلظ عليه في القول قال أبو هريرة فهممنا به فقال عليه السلام دعوه فإن لصاحبِ الحق يداً ولساناً ثم أمر أبا رافع أن يقضيه فلم يجد إلا بازلاً فقال أعطوهُ إياه خيركم أحسنكم قضاءً ويعتضد هذا الوجه أيضاً بأن القرض ليس فيه تعرض لذكر العوض ولو كان الواجب ردَّ قيمة العين لوجب إعلامها فوضح أن القرض ينزل على العين وعلى ما يجانسه
Jika barang yang dipinjamkan (muqrad) termasuk barang yang bernilai (dzawat al-qimah), maka para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Mereka menyebutkan dua pendapat, dan yang lebih sesuai dengan makna lahiriah hadis adalah bahwa yang dikembalikan adalah barang sejenis dengan yang diterima, meskipun bukan termasuk barang yang memiliki padanan (dzawat al-amtsal). Telah sahih bahwa Rasulullah saw. pernah meminjam seekor unta muda dari seorang Arab Badui, lalu orang itu menagihnya dan berkata dengan kata-kata yang keras. Abu Hurairah berkata, “Kami hampir saja membalasnya.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Biarkanlah dia, karena pemilik hak itu boleh berkata dan bertindak.” Kemudian beliau memerintahkan Abu Rafi‘ untuk membayarnya, namun tidak didapati kecuali unta yang lebih baik. Maka beliau bersabda, “Berikanlah kepadanya, sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” Pendapat ini juga diperkuat dengan kenyataan bahwa dalam akad qardh tidak disebutkan adanya penggantian (iwadh). Jika yang wajib dikembalikan adalah nilai barang, tentu harus diberitahukan nilainya. Maka jelaslah bahwa qardh itu dikembalikan dengan barang yang sama atau yang sejenis dengannya.
والوجه الثاني وهو الأقيس أن العين إذا كانت من ذوات القيم فالواجب على المستقرض قيمتُها؛ فإنه لا مثل لها ولو ضمنت بالمثلِ في القرض لضمنت في الإتلافِ بالمثلِ وهذا القائل يقول القرضُ إذاً في التصرف والاستهلاك مضمَّن بالبدل الذي يثبت عند الإتلاف
Pendapat kedua, yang lebih sesuai dengan qiyās, adalah bahwa jika barang yang dipinjamkan termasuk barang yang bernilai (bukan barang sejenis), maka yang wajib dikembalikan oleh peminjam adalah nilai barang tersebut; karena barang itu tidak memiliki padanan yang sejenis. Jika dalam pinjaman diwajibkan mengembalikan barang sejenis, maka dalam kasus perusakan pun seharusnya diganti dengan barang sejenis. Orang yang berpendapat demikian mengatakan bahwa pinjaman, dalam hal penggunaan dan konsumsi, wajib diganti dengan pengganti yang ditetapkan ketika terjadi perusakan.
هذا تقديره
Inilah maksudnya.
وما قدّمناه من الوجهين في إقراض ما لا يصح السلم فيه مبنيان على هذا الذي ذكرناه الآن
Apa yang telah kami kemukakan dari dua sisi dalam hal meminjamkan sesuatu yang tidak sah untuk akad salam, didasarkan pada apa yang telah kami sebutkan sekarang.
فإن قلنا العين المُقرَضةُ مضمونة بالقيمة إذا لم تكن من ذواتِ الأمثال فإقراض الدُّرةِ جائز بناءً على قيمتها وإن أوجبنا ردَّ المثل لم يجز فيما لا يضبطه الوصف
Jika kita mengatakan bahwa barang yang dipinjamkan itu dijamin dengan nilainya apabila bukan termasuk barang yang memiliki padanan sejenis, maka meminjamkan mutiara itu diperbolehkan berdasarkan nilainya. Namun jika kita mewajibkan pengembalian barang sejenis, maka tidak diperbolehkan pada barang yang tidak dapat ditentukan dengan deskripsi.
وأمَّا إقراض الخبز وكل ما لا يجوز بيعُ بعضِه ببعضٍ ينبني على أن ما ليس من ذوات الأمثالِ يَضمن المقترض مثلَه أو قيمتَه فإن ألزمناه القيمةَ والخبز ليس من ذواتِ الأمثال فيجوز إقراضه فإنه ليس فيه مقابلة الخبز بالخبز وإن قلنا يضمن المقترض المثل فهذا يؤدي إلى مقابلة الخبز بالخبز وقد اختلف أصحابنا فيه فمنهم من منع الإقراض لأدائه إلى مقابلة الخبز بالخبز ومنهم من جوز للحاجةِ الماسة كما يجوز مقابلة الدراهم بالدراهم من غير تقابضٍ وإلى هذا مال القاضي
Adapun meminjamkan roti dan segala sesuatu yang tidak boleh dijual sebagian dengan sebagian yang lain, hal ini bergantung pada apakah barang yang bukan termasuk benda yang sejenis (dzawāt al-amtsāl) itu, si peminjam wajib mengganti dengan barang sejenis atau dengan nilainya. Jika kita mewajibkan penggantian dengan nilai, sedangkan roti bukan termasuk dzawāt al-amtsāl, maka boleh meminjamkannya, karena di situ tidak terjadi pertukaran roti dengan roti. Namun jika kita mengatakan bahwa si peminjam wajib mengganti dengan barang sejenis, maka ini akan menyebabkan terjadinya pertukaran roti dengan roti. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam hal ini; sebagian mereka melarang peminjaman karena akan menyebabkan pertukaran roti dengan roti, sementara sebagian lain membolehkannya karena kebutuhan yang mendesak, sebagaimana dibolehkan pertukaran dinar dengan dinar tanpa serah terima langsung, dan pendapat inilah yang dipilih oleh al-Qadhi.
وقد نجز الكلامُ في أصول القرض
Dan telah selesai pembahasan mengenai dasar-dasar qardh.
وحان أن نُفَصِّل القرضَ الذي يجر منفعة فنقول صح أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن قرضٍ جرَّ منفعة واتفق المسلمون على منع ذلك على الجملة وإن كان مِنْ تردُّدٍ ففي التفصيل والمعنى المعتبر أن القرض معروفٌ أثبته الشارع لمسيس الحاجة واستثناه عن تعبداتِ البياعاتِ وإنما يتحقق معروفاً إذا لم يقصد المقرض جرَّ منفعة
Sudah saatnya kita merinci tentang pinjaman yang mendatangkan manfaat, maka kami katakan: Telah sah bahwa Nabi ﷺ melarang pinjaman yang mendatangkan manfaat, dan kaum muslimin telah sepakat untuk melarang hal itu secara umum, meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam perinciannya. Makna yang dianggap penting adalah bahwa pinjaman (qardh) merupakan bentuk kebaikan yang ditetapkan oleh syariat karena adanya kebutuhan mendesak, dan dikecualikan dari aturan-aturan transaksi jual beli. Pinjaman itu benar-benar disebut sebagai kebaikan jika pemberi pinjaman tidak bermaksud mengambil manfaat dari pinjaman tersebut.
فإذا أقرض رجُل رجلاً دراهمَ مكسّرة وشرط أن يردها صحيحةً فالقرض فاسد
Jika seseorang meminjamkan uang dirham yang pecahan kepada orang lain dan mensyaratkan agar dikembalikan dalam bentuk yang utuh, maka akad pinjaman tersebut batal.
ومن هذه الجملة السفاتج فإذا جرت مشروطة فأقرض رجل رجلاً مالاً ببلدةٍ وشرط أن يرده ببلدة أخرى فهذا الشرط يفسد القرض؛ فإن المقرض يبغي به درْءَ خطر السفر عن ماله وهو منفعة ظاهرة
Di antara contoh-contoh tersebut adalah safatij. Jika safatij dilakukan dengan syarat, misalnya seseorang meminjamkan uang kepada orang lain di suatu kota dan mensyaratkan agar uang itu dikembalikan di kota lain, maka syarat tersebut merusak akad pinjaman; karena pemberi pinjaman bermaksud dengan syarat itu untuk menghindarkan risiko perjalanan atas hartanya, dan ini merupakan manfaat yang nyata.
فإن قيل أتجوزون القرض على شرط الرهن والكفيل قلنا هو جائز لا خلاف فيه وليس هو من القرض الذي يجر منفعة؛ فإن الرهن لا منفعة فيه إلا التوثيق وكذلك الكفيل وليس في استيثاقِ المقرض بالرهن جلبُ منفعة زائدة؛ فإنه كان بملكه أوثقَ منه بالرهن الآن
Jika ditanyakan, “Apakah kalian membolehkan pinjaman dengan syarat adanya rahn (barang jaminan) dan kafīl (penjamin)?” Kami katakan, “Itu diperbolehkan dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya. Hal itu bukan termasuk pinjaman yang mendatangkan manfaat; karena rahn tidak mengandung manfaat kecuali sebagai penguat (jaminan), demikian pula kafīl. Tidak ada dalam tindakan pemberi pinjaman yang meminta rahn suatu manfaat tambahan; sebab jika barang itu miliknya, ia sudah lebih kuat (jaminannya) daripada dengan rahn sekarang.”
ولو قال أقرضتك هذه الدراهمَ الصحاح على أن تردها مكسّرة فهذا حط من مقدار الحق وليس جلبَ منفعة ثم تفصيله أنه إن لم يكن هذا القرض في معرِض الشرط بل ذكره متساهلاً واعداً فالقرضُ صحيح وهو بالخيار في الوفاء بالوعد
Jika seseorang berkata, “Aku meminjamkan kepadamu dirham-dirham yang utuh ini dengan syarat engkau mengembalikannya dalam keadaan pecahan,” maka ini merupakan pengurangan dari nilai hak, bukan mengambil manfaat. Rinciannya adalah jika peminjaman ini tidak dalam konteks syarat, melainkan hanya disebutkan secara santai sebagai janji, maka qardh tersebut sah dan ia bebas memilih untuk menepati janji itu atau tidak.
وإن ذكر ذلك على صيغة الشرط فقد اختلف أصحابنا فيه فمنهم من حمله على المحمل الأول وصحح القرضَ وهو الأصح؛ فإن الشرط في الحقيقة مكرمة وإنما تشعر صيغةُ الشرط بحقيقة وضعه إذا كان يستجلب الشارط حظاً وغرضاً
Jika hal itu disebutkan dalam bentuk syarat, para ulama kami berbeda pendapat mengenainya. Sebagian dari mereka memaknainya seperti makna yang pertama dan menganggap sah akad qardh, dan inilah pendapat yang paling kuat; sebab syarat tersebut pada hakikatnya adalah suatu kemurahan hati, dan bentuk syarat itu hanya menunjukkan makna hakikinya apabila pihak yang mensyaratkan menginginkan suatu keuntungan dan tujuan tertentu.
ومن أصحابنا من أفسد القرض بصيغة الشرط وقد تمهد هذا فيما سبق
Sebagian dari ulama mazhab kami berpendapat bahwa akad pinjaman menjadi batal karena adanya lafaz syarat, dan hal ini telah dijelaskan sebelumnya.
قال الشيخ أبو علي من أقرض رجلاً مائة درهم على أن يقرضه مائةً أخرى ولم يتعرض المقترض لذلك فالصحيح أن القرض لا يفسد بهذا؛ فإن ما ذكره المقرض ليس إلزاماً وإنما هو وعد وهو بالخيار في الوفاء به وفيه الوجه الضعيف تمسكاً بصيغة الشرط ولا عود إليه بعد هذا
Syekh Abu Ali berkata: Jika seseorang meminjamkan seratus dirham kepada seorang laki-laki dengan syarat bahwa orang tersebut akan meminjamkan seratus dirham lagi kepadanya, namun pihak yang meminjam tidak membahas hal itu, maka pendapat yang benar adalah bahwa akad pinjaman tidak batal karena hal ini; sebab apa yang disebutkan oleh pihak yang meminjamkan bukanlah suatu keharusan, melainkan hanya janji, dan ia bebas untuk menepatinya atau tidak. Dalam masalah ini terdapat pendapat yang lemah yang berpegang pada redaksi syarat, namun tidak perlu kembali membahasnya setelah ini.
وقال الشيخ لو وهب رجل من رجلٍ شيئاً على أن يهب منه شيئاً آخر لا تفسد الهبة كما ذكرناه في القرض وهذا في الهبة أظهر كما سنصفه في آخر المسائل
Dan Syekh berkata: Jika seseorang memberikan hibah kepada orang lain dengan syarat agar ia juga menerima hibah darinya, maka hibah tersebut tidak batal, sebagaimana telah kami sebutkan dalam masalah pinjaman. Dan hal ini dalam hibah lebih jelas, sebagaimana akan kami jelaskan pada akhir pembahasan.
ولو قال بعتك هذا العبدَ بألفٍ على أن أهب منك هذا الثوب فالبيع باطل والسبب فيه أن المبيع يقابِل عوضاً فإذا ضمَّ إليه ما لا يلزم خرج المبيع عن كونه مقابلاً على التجريد بعوضه؛ وهذا يتضمن جهالةَ العوض من غير فرق بين أن يكون الشرط للشارط أو عليه والهبة لا عوض فيها فلا حكم لما يأتي به الشارط إذا كان يلتزم مزيداً ولا يُلزم
Jika seseorang berkata, “Aku menjual budak ini kepadamu seharga seribu dengan syarat aku akan menerima hadiah darimu berupa kain ini,” maka jual beli tersebut batal. Sebabnya adalah karena barang yang dijual harus ditukar dengan imbalan. Jika ditambahkan sesuatu yang tidak wajib, maka barang yang dijual itu tidak lagi murni sebagai barang yang ditukar dengan imbalannya. Hal ini menyebabkan ketidakjelasan pada imbalan, tanpa membedakan apakah syarat itu untuk keuntungan pihak yang mensyaratkan atau menjadi kewajibannya. Sedangkan hibah tidak mengandung imbalan, maka tidak ada ketentuan atas apa yang dibawa oleh pihak yang mensyaratkan jika ia berjanji memberikan tambahan, dan ia tidak diwajibkan.
وأما القرض فهو ملحق بالهبة وإن كان مقابلاً بالعوض؛ فإن حقائق الأعواض لا تراعى فيها ولو روعيت لكان يسمى
Adapun qardh, maka ia termasuk dalam kategori hibah meskipun ada imbalan; sebab hakikat imbalan tidak diperhatikan di dalamnya, dan jika hakikat itu diperhatikan, maka ia akan disebut…
ولو أقرض وشرط الأجل فالوجه أن يقال إن لم يكن للمقرِض غرض في الأجل فالأجل لا يثبت والقرض لا يفسد كما ذكرناه وإن قُدِّر للمقرض غرضٌ في ذكر الأجل بأن يفرض زمانُ نَهْبٍ والمقترضُ مليءٌ وفيٌّ فالأحْزم إيقاع المال في ذمته؛ حتى لا يتعرض للضياع فإن كان كذلك فمن أصحابنا من جعل شرطَ الأجل جرَّ منفعة وهو اختيار القاضي ووجهه لائح ومنهم من حسم الباب وجعل الأجل حقَّ المقترض؛ فإنه تأخير المطالبة وإسقاط الطلب بالشيء كإسقاط المطلوب فلا نظر إلى فرض التعرض للآفةِ
Jika seseorang memberikan pinjaman dan mensyaratkan tempo, maka pendapat yang tepat adalah: jika pemberi pinjaman tidak memiliki tujuan tertentu dengan penetapan tempo tersebut, maka tempo itu tidak berlaku dan akad pinjaman tidak rusak, sebagaimana telah kami sebutkan. Namun, jika diasumsikan pemberi pinjaman memiliki tujuan tertentu dalam menyebutkan tempo—misalnya pada masa terjadi penjarahan dan peminjam adalah orang yang mampu dan terpercaya—maka yang lebih bijaksana adalah menempatkan harta dalam tanggungannya, agar tidak terkena risiko hilang. Jika demikian keadaannya, sebagian ulama kami menganggap syarat tempo sebagai bentuk penarikan manfaat, dan ini adalah pilihan Qadhi, dengan alasan yang jelas. Sebagian lain menutup pintu ini dan menganggap tempo sebagai hak peminjam; karena itu hanyalah penundaan penagihan dan penghapusan tuntutan atas sesuatu, seperti penghapusan tuntutan itu sendiri, sehingga tidak perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya bahaya.
ثم ما ذكرناه من أن القرض إذا اشتمل على شرط يجرّ منفعة فهو فاسد فهو فيه إذا كان المالُ المقترضُ من أموال الربا فأما إذا لم يكن من أموال الربا فالشرط الذي يجر المنفعة هل يفسده فعلى وجهين ذكرهما صَاحب التقريب والعراقيون أحدهما أن القرضَ يفسد؛ لأنه إذا اشتمل على جرِّ المنفعة كان المال خارجاً عن وضعه ومقصوده
Kemudian, apa yang telah kami sebutkan bahwa qardh apabila mengandung syarat yang mendatangkan manfaat maka hukumnya fasid, hal itu berlaku jika harta yang dipinjamkan termasuk dari harta ribawi. Adapun jika bukan dari harta ribawi, maka syarat yang mendatangkan manfaat, apakah membuatnya menjadi fasid? Ada dua pendapat yang disebutkan oleh penulis at-Taqrib dan para ulama Irak. Salah satunya adalah bahwa qardh menjadi fasid, karena apabila mengandung syarat yang mendatangkan manfaat, maka harta tersebut keluar dari tujuan dan maksud asalnya.
والوجه الثاني أنه لا يفسد؛ فإن المحذور في مال الربا أن يُردَّ إلى قياسِ المعاوضة ثم إذا رُدّ إليها فسد من قِبَل ترك التقابض في المجلس وإذا كان المال خارجاً عن الربا لم يضرّ ردُّ القرض إلى قياس البيع
Adapun alasan kedua adalah bahwa hal itu tidak batal; sebab yang dikhawatirkan dalam harta riba adalah jika dikembalikan kepada qiyās mu‘āwaḍah, kemudian jika telah dikembalikan kepadanya maka batal karena tidak terjadi serah terima di majelis. Namun jika harta tersebut di luar riba, maka tidak mengapa mengembalikan pinjaman kepada qiyās jual beli.
وهذا فيه نظر من قِبَل أنه إذا رُدّ إلى قياس البيع وجب فيه التزام شرائط البيع من تسمية العوض ورعاية شقي العقد إيجاباً وقبولاً ثم يكون هذا خارجاً عن الباب بالكلية ويرجع بيعاً محضاً
Hal ini masih perlu ditinjau kembali, karena jika dikembalikan kepada qiyās jual beli, maka harus dipenuhi syarat-syarat jual beli seperti penamaan imbalan dan memperhatikan kedua sisi akad, yaitu ijab dan kabul. Dengan demikian, hal ini keluar sepenuhnya dari pembahasan dan kembali menjadi jual beli murni.
ومن جوز هذا من أصحابنا لم يشترط ردّه بيعاً محضاً فليفهمه الناظر وقد صح أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر عمرو بنَ العاص حتى استسلف بعيراً ببعيرين إلى إبل الصدقة ثم مهما حكمنا بفساد القرض لم يملك المستقرض ما أخذه على قولنا بحصول الملك بالقبض ولم يملك التصرف فيه على القول الآخر
Dan di antara para ulama kami yang membolehkan hal ini tidak mensyaratkan pengembaliannya sebagai jual beli murni, maka hendaklah hal ini dipahami oleh para pembaca. Telah sahih bahwa Nabi ﷺ memerintahkan ‘Amr bin al-‘Ash hingga ia meminjam seekor unta dengan imbalan dua ekor unta sampai datangnya unta-unta zakat. Maka kapan pun kami memutuskan bahwa pinjaman itu batal, maka peminjam tidak memiliki apa yang diambilnya menurut pendapat kami yang menyatakan kepemilikan terjadi dengan penyerahan, dan ia juga tidak berhak melakukan transaksi atasnya menurut pendapat lain.
فرع
Cabang
إذا أقرض رجل رجلاً دراهمَ ببلدة ثم رآه في بلدة أخرى وأراد مطالبته بالقرض نُظر في المال فإن كان مثل النقود التي لا عسر في نقلها ولا تتفاوت قيمتُها بتفاوت البقاع فظاهرُ المذهب أن لمستحق الحق مطالبتَه وإن كان الشيء مما يعسر نقله وتختلف قيمةُ جنسه باختلاف البلادِ فلا يطالبه في غير بلد الإقراضِ
Jika seseorang meminjamkan sejumlah dirham kepada orang lain di suatu kota, kemudian ia melihatnya di kota lain dan ingin menagih pinjaman tersebut, maka dilihat dahulu jenis hartanya. Jika berupa uang yang mudah dipindahkan dan nilainya tidak berbeda-beda menurut tempat, maka menurut pendapat yang kuat dalam mazhab, pihak yang berhak boleh menagihnya. Namun jika barang tersebut sulit dipindahkan dan nilainya berbeda-beda menurut daerah, maka ia tidak boleh menagihnya kecuali di kota tempat peminjaman.
وإن غصب عيناً ثم ظفر المغصوب منه بالغاصبِ في غير محل العدوان والضّمانِ ولم تكن العين معه فأراد أن يغرمه مثلَ العين المغصوبة وهي من ذوات الأمثال ففي المسألةِ وجهان أحدهما أنه لا يطالبه بها ونقلها عسر وقيمتها متفاوتة كما لا يطالَب المستقرِض
Jika seseorang merampas suatu barang, kemudian orang yang dirampas berhasil menemukan perampas tersebut di tempat yang bukan lokasi terjadinya perampasan dan bukan pula tempat tanggungan, sementara barang yang dirampas tidak ada bersamanya, lalu orang yang dirampas ingin menuntut ganti rugi berupa barang sejenis dari barang yang dirampas, padahal barang tersebut termasuk barang yang memiliki padanan, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ia tidak dapat menuntutnya, karena memindahkan barang tersebut sulit dan nilainya pun berbeda-beda, sebagaimana orang yang meminjamkan barang tidak dapat menuntutnya.
والوجه الثاني أنه يطالَب؛ تغليظاً عليه بخلاف المقترض
Dan alasan kedua adalah bahwa ia diminta pertanggungjawaban; sebagai bentuk penegasan terhadapnya, berbeda dengan orang yang meminjam.
وسيكون لنا إلى هذا عَوْدٌ بأشفى بيانٍ إن شاء الله تعالى في كتاب الغصب
Kami akan kembali membahas hal ini dengan penjelasan yang lebih memadai, insya Allah Ta‘ala, dalam kitab al-ghaṣb.
ثم إن قلنا لا يطالبه بمثل المغصوب فيطالبه بقيمته اعتباراً ببلد الغصب وهذا للحيلولة ثم إذا لقيه في بلد الغصب والعين المغصوبةُ قائمة ردَّ القيمة واستردَّها وإن كانت تالفةً فهل يرد القيمة ويسترد مثلَ المغصوب وهو من ذوات الأمثال فيه خلافٌ سيأتي إن شاء الله وإن ظفر المقرض بالمستقرض فقد ذكرنا أنه لا يلزمه مثل المال إذا كان يثقل نقلُه ولكن يلزمه القيمة اعتباراً ببلد القرض؛ فإنا لو لم نقل بهذا لاتخذ المقترضون التغرّبَ ذريعةً في إسقاط الطَّلِبة في الأموال التي وصفناها
Kemudian, jika kita mengatakan bahwa ia tidak menuntut ganti dengan barang sejenis dari barang yang dighasab, maka ia menuntut ganti dengan nilainya berdasarkan nilai di negeri tempat terjadinya ghasab, dan ini sebagai bentuk pencegahan. Kemudian, jika ia bertemu dengannya di negeri tempat ghasab dan barang yang dighasab masih ada, maka ia mengembalikan nilai tersebut dan mengambil kembali barangnya. Namun, jika barang tersebut telah rusak, maka apakah ia mengembalikan nilai dan mengambil barang sejenis dari barang yang dighasab—jika barang itu termasuk barang yang memiliki padanan sejenis—maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang akan dijelaskan nanti, insya Allah. Jika pemberi pinjaman berhasil menemukan peminjam, telah kami sebutkan bahwa ia tidak wajib mengganti dengan barang sejenis jika sulit untuk memindahkannya, tetapi ia wajib mengganti dengan nilai berdasarkan nilai di negeri tempat peminjaman; sebab, jika kita tidak mengatakan demikian, para peminjam akan menjadikan bepergian sebagai alasan untuk menggugurkan tuntutan pada harta-harta yang telah kami sebutkan.
فرع
Cabang
عماد الإقراض اللفظ والإقباض ثم اللفظ أن يقول أقرضتك أو لفظٌ هذا معناه ومن الألفاظ أن يقول له خذ هذا واصرفه في حوائجك بمثله مهما وجدت
Dasar dari akad pinjaman (iqrāḍ) adalah ucapan (lafaz) dan penyerahan (iqbāḍ). Adapun ucapan (lafaz) misalnya seseorang mengatakan, “Aku meminjamkan kepadamu,” atau ucapan lain yang maknanya serupa. Di antara ucapan tersebut adalah jika seseorang berkata kepadanya, “Ambillah ini dan gunakanlah untuk keperluanmu, lalu kembalikan dengan yang semisalnya kapan pun kamu mampu.”
وأمّا قبول المستقرض نطقاً ففيه خلاف فمن أصحابنا من لم يشترطه وهو ظاهر المذهب؛ لأن الإقراض حاصله يرجع إلى الإذن في الإتلاف على شرط الضمان وهذا لا يستدعي قبولاً
Adapun mengenai penerimaan dari pihak yang meminjam secara lisan, terdapat perbedaan pendapat. Sebagian ulama dari kalangan kami tidak mensyaratkannya, dan ini adalah pendapat yang tampak dalam mazhab; karena inti dari peminjaman itu kembali kepada izin untuk menggunakan (menghabiskan) dengan syarat adanya jaminan, dan hal ini tidak memerlukan adanya penerimaan.
ومن أصحابنا من قال لا بد من القبول؛ فإن هذا التصرف لا يقصر عن الهبة وهي مفتقرة إلى القبول مع عروّها عن العوض؛ فالقرض المضمَّن بالعوض بذلك أولى
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa harus ada penerimaan; sebab tindakan ini tidak kurang dari hibah yang memerlukan penerimaan karena tidak adanya imbalan; maka qardh yang disertai dengan imbalan lebih utama untuk memerlukan penerimaan.
وهذا الخلاف يقرب من القولين في أن القرض هل يتضمن تمليكاً إذا اتصل به القبض ولا يكاد يخفى وجه الأخذ منه
Perbedaan pendapat ini hampir sama dengan dua pendapat mengenai apakah pinjaman (qardh) mengandung unsur pemilikan apabila disertai dengan penerimaan (qabdh), dan alasan pengambilan pendapat tersebut hampir tidak samar lagi.
فصل
Bab
قال لو كان له على رجل حق حَالٌّ من بيع أو غيره فأخّره به مدةً معلومة إلى آخره
Ia berkata: Jika seseorang memiliki hak yang telah jatuh tempo atas orang lain, baik dari jual beli atau selainnya, lalu ia menundanya dengan tenggat waktu tertentu hingga akhirnya.
لا خلاف بيننا وبين أبي حنيفة رحمه الله في أنه إذا أقرض شيئاً ثم أراد أن يلحق به أجلاً لم يلتحق؛ فإنه لو ذكر الأجل عند الإقراض لم يثبت فأما إلحاق الأجل بالثمن بعد لزوم البيع ففاسدٌ لاغٍ والزوائد التي تلحق بالثمن أو المثمن بعد لزوم العقد لا تلتحق وهي ملغاة إذا ذكرت خلافاً لأبي حنيفة
Tidak ada perbedaan pendapat antara kami dan Abu Hanifah rahimahullah bahwa jika seseorang meminjamkan sesuatu lalu ingin menambahkan tempo setelahnya, maka tempo tersebut tidak berlaku; sebab jika tempo disebutkan saat peminjaman, itu pun tidak sah. Adapun penambahan tempo pada harga setelah akad jual beli menjadi mengikat, maka itu batal dan tidak berlaku. Tambahan-tambahan yang disertakan pada harga atau barang setelah akad menjadi mengikat, tidaklah berlaku dan dianggap batal jika disebutkan, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
والحط من الثمن نافذ ولكنه تبرع غيرُ ملتحق بالعقد عندنا وأثر ذلك أن البائع لو أبرأ المشتري عن شيء من الثمن بعد لزوم العقد لم يحط المحطوطُ عن المشتري عن الشفيع؛ فإنه يأخذ المبيع بما وقع العقدُ عليه وهذا الإبراء غيرُ منعطفٍ على حكم العقد وهو بمثابة ما لو قبض الثمن ثم وهبَ بعضَه من المشتري
Pengurangan harga itu sah, namun menurut kami, hal itu merupakan hibah yang tidak terkait dengan akad. Konsekuensinya adalah jika penjual membebaskan pembeli dari sebagian harga setelah akad menjadi mengikat, maka bagian harga yang dibebaskan itu tidak mengurangi hak syuf‘ah; karena syafi‘ (pemilik hak syuf‘ah) mengambil barang yang dijual dengan harga yang disepakati dalam akad. Pembebasan ini tidak berpengaruh pada hukum akad, dan keadaannya sama seperti jika penjual telah menerima harga lalu menghadiahkan sebagian darinya kepada pembeli.
وهذا إذا كان الإلحاق بعدَ لزوم البيع
Ini berlaku jika penyamaan (ilḥāq) dilakukan setelah akad jual beli menjadi mengikat.
فأما إذا فرض إلحاق بالثمن أو بالمثمن في حال جواز العقد بدوام المجلس أو بسبب خيار الشرط ففي التحاق الزيادة وجهان مشهوران أحدهما أنها تلتحق وتصير كالمذكورة في العقد
Adapun jika diasumsikan adanya penambahan pada harga atau pada barang yang dijual pada saat akad masih boleh dilakukan selama majelis masih berlangsung atau karena adanya khiyar syarat, maka dalam hal penambahan tersebut terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah bahwa penambahan itu dianggap mengikuti dan menjadi seperti yang disebutkan dalam akad.
والثاني أنها لا تلتحق
Kedua, bahwa ia tidak mengikuti.
وقد بنى الأصحابُ هذا الخلاف على أن البيع في زمان الخيار هل ينقل الملك قالوا فإن قلنا إنه ينقله فلا إلحاق وإن حكمنا بأن البيع لا ينقل الملك فذكر الزيادة على التوافق بمثابة ذكرها بين الإيجاب والقبول
Para ulama membangun perbedaan pendapat ini atas dasar apakah jual beli pada masa khiyār dapat memindahkan kepemilikan atau tidak. Mereka berkata: Jika kita berpendapat bahwa jual beli tersebut memindahkan kepemilikan, maka tidak ada penyamaan (dengan kasus lain). Namun jika kita berpendapat bahwa jual beli tidak memindahkan kepemilikan, maka penyebutan tambahan setelah adanya kesepakatan dianggap seperti penyebutan tambahan antara ijab dan kabul.
والصحيح عندنا أن الزيادة لا تلحق وإن حكمنا بأن البيع لا ينقل الملك؛ لأن البيع الأول إذا لم يُرفع ولم يشتمل لفظ العقد على هذه الزيادة فلا معنى لتقدير إلحاق الزيادة من غير فسخ محقَّق وإعادة فيمتنع لحوق الزيادة لفساد الصيغة
Pendapat yang benar menurut kami adalah bahwa tambahan tidak dapat disusulkan, meskipun kami berpendapat bahwa jual beli tidak memindahkan kepemilikan; karena jika jual beli pertama tidak dibatalkan dan lafaz akad tidak memuat tambahan tersebut, maka tidak ada makna untuk memperkirakan penyusulan tambahan tanpa adanya pembatalan yang nyata dan pengulangan akad. Maka, tidak mungkin tambahan itu disusulkan karena rusaknya shighat (lafaz akad).
ثم من رأى إلحاق الزيادة قال لو حُط بعض الثمن عن المشتري فهو محطوط عن الشفيع وقال لو حُط جميع الثمن فسد العقد وكأنه خلا في أصله عن ذكر الثمن
Kemudian, menurut pendapat yang menganggap tambahan itu dapat disamakan, dikatakan: jika sebagian harga dikurangi untuk pembeli, maka bagian itu juga dikurangi untuk syafii‘. Dan jika seluruh harga dikurangi, maka akad menjadi batal, seolah-olah pada dasarnya akad tersebut tidak menyebutkan harga.
ولو توافقا على إلحاق شرط فاسد فسد العقد به ولو ألحق أحدهما شرطاً فاسداً فسد العقد أيضاً وإن لم يوافقه صاحبه
Jika kedua belah pihak sepakat untuk menambahkan syarat yang fasid, maka akad menjadi batal karenanya. Jika salah satu dari keduanya menambahkan syarat yang fasid, maka akad juga menjadi batal meskipun pihak lainnya tidak menyetujuinya.
ولو انفرد أحدهما بذكر زيادة صحيحةٍ وامتنع من قبولها الثاني لم تلحق الزيادة ولكن إن تمادى الشارط ولم يفسخ البيعَ استمر العقد صحيحاً ولغت الزيادة وليس كما لو ذكر أحدهما بين الإيجاب والقبول شرطاً ولم يساعده الثاني فإن العقد لا ينعقد؛ إذ صيغةُ العقد تستدعي توافقاً بين الموجب والقابل وإذا اختلف القولان خَرَجا عن مرتبة الجواب والخطاب
Jika salah satu dari keduanya menyebutkan tambahan syarat yang sahih dan yang lain menolak menerimanya, maka tambahan tersebut tidak berlaku. Namun, jika pihak yang mensyaratkan tetap melanjutkan dan tidak membatalkan jual beli, maka akad tetap sah dan tambahan tersebut menjadi batal. Ini berbeda dengan kasus ketika salah satu dari keduanya menyebutkan suatu syarat di antara ijab dan kabul, namun yang lain tidak menyetujuinya, maka akad tidak sah; karena lafaz akad menuntut adanya kesepakatan antara pihak yang berijab dan yang menerima, dan jika kedua ucapan itu berbeda maka keduanya keluar dari derajat jawaban dan pembicaraan.
ومن عليه الحق المؤجل إذا أسقط الأجل لم يسقط الأجل في حق مستحِق الدين حتى لو أتى به قبل حلول الأجل المذكور لم يجبر مستحِق الدين على القبول على القول الصحيح
Orang yang memiliki utang yang jatuh temponya masih di masa depan, jika ia menggugurkan tempo tersebut, maka tempo itu tidak gugur bagi pihak yang berhak atas utang tersebut. Sehingga, jika ia membayar utangnya sebelum jatuh tempo yang telah disebutkan, pihak yang berhak atas utang tidak dapat dipaksa untuk menerima pembayaran tersebut menurut pendapat yang benar.
وهل يسقط الأجل في حق من عليه الدين المؤجل حتى لو أراد مستحِق الدين مطالبتَه قبل حلول الأجل هل يكون له ذلك فعلى وجهين أحدهما يسقط الأجل في حق من عليه الدين؛ لأنه أسقط حقَّه والثاني لا يسقط الأجل؛ لأنه صفة والصفة لا استقلال لها
Apakah jatuh tempo dapat gugur bagi orang yang memiliki utang yang ditangguhkan, sehingga jika pihak yang berhak atas utang ingin menagihnya sebelum jatuh tempo, apakah ia berhak melakukannya? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: pertama, jatuh tempo gugur bagi orang yang berutang karena ia telah menggugurkan haknya; kedua, jatuh tempo tidak gugur karena ia merupakan sifat, dan sifat tidak berdiri sendiri.
وهذا بمثابة ما لو استحق الرجل دراهمَ صحيحةً فقال أسقطت حقي في صفة الصحة وأنا راضٍ بالمكسّرة فلا يسقط حقه إجماعاً فكذلك الأجل
Ini seperti halnya apabila seseorang berhak menerima sejumlah dirham yang utuh, lalu ia berkata, “Aku gugurkan hakku atas sifat keutuhan itu dan aku rela menerima yang pecahan,” maka haknya tidak gugur menurut ijmā‘. Demikian pula halnya dengan tempo (jatuh tempo pembayaran).
ومن قال بالأول انفصل عن الصحة والجودة وقال هي صفةُ حق لمستحِق والأجل حقّ لمن عليه الدين وليس الموصوف بالأجل حقُّه فهو إذاً في حقه حقٌّ محض متأصل ليس صفةً
Dan barang siapa yang berpendapat seperti pendapat pertama, ia memisahkan antara keabsahan dan kualitas, serta mengatakan bahwa keduanya adalah sifat hak bagi yang berhak menerimanya. Sedangkan tenggat waktu (ajal) adalah hak bagi orang yang memiliki utang, dan yang disifati dengan tenggat waktu itu bukanlah haknya. Maka, dalam hal ini, bagi dirinya adalah hak murni yang melekat, bukan suatu sifat.
Bab Perdagangan Wali terhadap Harta Anak Yatim
قال وأحب أن يتجر الوصي بمال من يلي إلى آخره
Ia berkata: “Aku suka jika wali (wasi) memperdagangkan harta orang yang berada dalam tanggungannya, dan seterusnya.”
أصول القول في الأوصياء يأتي في كتاب الوصايا إن شاء الله تعالى ونحن نذكر في هذا الباب ما يليق به وأطرافاً مما نعود إليهِ في كتاب الوصايا تمس الحاجة إليها في نظم مقصود الباب
Pokok-pokok pembahasan tentang para washi (orang yang diberi wasiat) akan dibahas dalam Kitab Wasiat, insya Allah Ta‘ala. Dalam bab ini, kami akan menyebutkan hal-hal yang sesuai dengannya, serta beberapa bagian yang akan kami kembali bahas dalam Kitab Wasiat, yang sangat dibutuhkan untuk menyusun maksud bab ini.
فنقول وصيُّ الأب ومنصوبه يتصرف في مال الأطفال كما كان يتصرف الأب في حياته والقول في الجد أب الأب ووصيه كالقول في الأب
Maka kami katakan, washi (wali yang ditunjuk) oleh ayah dan orang yang diangkatnya berwenang mengelola harta anak-anak sebagaimana ayah mengelolanya semasa hidupnya. Adapun ketentuan mengenai kakek (ayah dari ayah) dan washi-nya sama seperti ketentuan pada ayah.
فأما وصي الأم فلا يتصرف في مال أطفالها وأولادها المجانين في ظاهر المذهب؛ لأنها بنفسها لا تتصرف في أموالهم في حياتها فكيف يتصرف نائبها بعد وفاتها
Adapun washi (wali) dari pihak ibu, maka ia tidak berwenang mengelola harta anak-anaknya dan anak-anaknya yang gila menurut pendapat yang zahir dalam mazhab; karena sang ibu sendiri tidak berwenang mengelola harta mereka semasa hidupnya, maka bagaimana mungkin wakilnya dapat mengelolanya setelah wafatnya.
وذهب الإصطخري إلى أن الأم تملك التصرفَ في ولدها وماله والنكاح مستثنى عن تصرفات النسوة ثم قال الأصطخري وصي الأم يلي أطفالها بعد وفاتها كما أنها بنفسها تتصرف في حياتها
Al-Ishthakhri berpendapat bahwa seorang ibu memiliki hak untuk mengatur anaknya dan hartanya, sedangkan pernikahan dikecualikan dari tindakan-tindakan yang boleh dilakukan oleh perempuan. Kemudian al-Ishthakhri berkata, washi (wali) dari ibu berhak mengurus anak-anaknya setelah wafatnya ibu, sebagaimana ibu sendiri berwenang mengurus mereka semasa hidupnya.
ثم إن نصب السلطان قيِّماً في أمر الأطفال فلفظ النصب مع لقب القوام لا يسلِّط المنصوبَ على التصرف في مال الطفل؛ فإنا نجوز أن يكون نصبُه إياه للحفظ فحسب
Kemudian, apabila seorang sultan mengangkat seorang wali dalam urusan anak-anak, maka lafaz pengangkatan beserta gelar sebagai wali tidak serta merta memberikan wewenang kepada orang yang diangkat tersebut untuk melakukan tindakan terhadap harta anak; karena kami membolehkan kemungkinan bahwa pengangkatannya itu hanya untuk tujuan menjaga saja.
فإن صرح بتفويض التصرف مَلَكَه على موجَب الشرع
Jika ia secara tegas memberikan wewenang untuk bertindak, maka ia memiliki hak tersebut sesuai dengan ketentuan syariat.
فأما الأب إذا قال نصبتك وصياً على أطفالي أوْ في أموال أطفالي فلا شك أن الوصي يحفظ عليهم أموالهم وهل يملك التصرفَ تعويلاً على لفظ الإيصاء من غير تصريح بالإذن في التصرف فعلى وجهين أظهرهما يملك ذلك بخلاف نصب القاضي القيمَ ومن أصحابنا من قال لا يملك التصرفَ من غير تصريح كنصب القيم من جهة السلطان
Adapun seorang ayah, jika ia berkata, “Aku mengangkatmu sebagai washi (wali) atas anak-anakku atau atas harta anak-anakku,” maka tidak diragukan bahwa washi tersebut menjaga harta mereka. Namun, apakah ia berhak melakukan tindakan (atas harta itu) hanya berdasarkan lafaz pengangkatan washi tanpa ada pernyataan tegas yang mengizinkan tindakan tersebut? Dalam hal ini terdapat dua pendapat; yang lebih kuat adalah bahwa ia berhak melakukan tindakan itu, berbeda dengan pengangkatan qāḍi terhadap seorang qayyim. Sebagian ulama mazhab kami berpendapat bahwa ia tidak berhak melakukan tindakan tanpa pernyataan tegas, sebagaimana halnya pengangkatan qayyim oleh pihak penguasa.
فإن قيل فما الفرق قلنا القُوَّام ينقسمون إلى حفظةٍ ومتصرّفين وليس يغلب عرفٌ في التصرف والأوصياء عمَّ العرفُ في تصرفهم وانضم إليه قرينةُ مسيس الحاجة عند انقطاع نظر الموصي بالموت
Jika ditanyakan, apa perbedaannya? Kami katakan: para pengelola (al-quwwām) terbagi menjadi penjaga dan pengelola, dan tidak ada kebiasaan yang dominan dalam pengelolaan mereka. Sedangkan para washi (al-awṣiyā’) telah berlaku kebiasaan umum dalam pengelolaan mereka, ditambah lagi adanya indikasi kebutuhan mendesak ketika pengawasan dari pewasiat terputus karena kematian.
وظهر اختلاف الأصحاب في اجتماع وصي الأب وجدّ الطفل من قِبل الأب فمن أصحابنا من قدّم الجدَّ ورآه أولى ومنهم من قدم وصي الأب وذلك يأتي على الاستقصاء إن شاء الله عز وجل
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai pertemuan antara washi (wali) dari ayah dan kakek anak dari pihak ayah. Sebagian dari ulama kami mengedepankan kakek dan memandangnya lebih utama, sementara sebagian yang lain mengedepankan washi dari ayah. Pembahasan ini akan dijelaskan secara rinci, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
ومقصود البابِ تفصيل القول في تصرف الموصى فنقول
Tujuan pembahasan ini adalah merinci penjelasan mengenai tindakan yang dilakukan oleh orang yang berwasiat, maka kami katakan:
لا شك أن المأخوذ على الوصي مراعاةُ النظر والغبطةِ والمبالغةِ في الاحتياط حتى لا يبيع سلعةً له بعشرة وثم من يطلبها بعشرة وحبة وللوصي أن يبيع بالنسيئة إذا زاد القدر بسبب الأجل وارتهن به رهناً وافياً فإن أراد البيع نسيئةً من غير أخذ رهن وكان من عليه تقدير الدين مليّاً وفياً فالأصح الصحةُ
Tidak diragukan lagi bahwa yang diwajibkan atas washi adalah menjaga kemaslahatan, memperhatikan keuntungan, dan bersungguh-sungguh dalam kehati-hatian, sehingga ia tidak boleh menjual suatu barang milik anak yatim seharga sepuluh, padahal ada yang menginginkannya dengan harga sepuluh dan satu butir. Washi boleh menjual secara kredit jika harga menjadi lebih tinggi karena tenggang waktu, dan ia mengambil jaminan yang memadai atas transaksi itu. Jika ia ingin menjual secara kredit tanpa mengambil jaminan, dan orang yang berutang itu adalah orang yang mampu dan terpercaya, maka pendapat yang paling sahih adalah boleh.
ومن أصحابنا من منع دون الرهنِ والكفيلُ لا يسد مسدَّ الاستيثاق بالرهن فإن متضمن الضمان ضمّ ذمةٍ إلى ذمة والذمم وإن تَضامَّت لا تسد مسدَّ الاستيثاق بالرهن
Sebagian dari ulama mazhab kami melarang (jual beli) tanpa adanya rahn (barang jaminan), dan penjamin (kafīl) tidak dapat menggantikan fungsi penguatan jaminan dengan rahn, karena substansi dari penjaminan adalah menambahkan satu tanggungan (dzimmah) ke atas tanggungan yang lain, dan meskipun tanggungan-tanggungan itu digabungkan, tetap tidak dapat menggantikan fungsi penguatan jaminan dengan rahn.
وسنذكر أصلَ هذا الخلاف في سياق الفصل
Kami akan menyebutkan pokok perbedaan ini dalam pembahasan bab ini.
والوكيل المطلق والعامل لا يتبايعانِ بالنسيئة؛ فإنهما يتصرفان بالنيابة المحضةِ والوصي وإن كان نائباً فتصرفه تصرفُ الولاة؛ فإنه خلفَ الأبَ عند فواته ثم الأب يبيع نسيئة على شرط المصلحة
Wakil mutlak dan ‘āmil tidak boleh saling berjual beli secara nisyā’ (utang), karena keduanya bertindak atas dasar perwakilan murni. Adapun washi meskipun merupakan wakil, tindakannya seperti tindakan para wali; sebab ia menggantikan ayah ketika ayah tidak ada, sedangkan ayah boleh menjual secara nisyā’ dengan syarat adanya kemaslahatan.
ومما يليق بتصرف الوصي الكلامُ في مسافرته بالمال في البر والبحر أما إن كان في الطريق خوفٌ فلا سبيل إلى المسافرة بمال الأطفال وإن غلب الأمن في الطريق بحيث تغلب السلامةُ ويندر نقيضها فهل يملك الوصي المسافرة بمال الأطفال
Termasuk hal yang patut dibahas terkait tindakan wali adalah perjalanannya membawa harta anak-anak di darat maupun di laut. Jika di jalan terdapat bahaya, maka tidak boleh melakukan perjalanan dengan membawa harta anak-anak. Namun, jika keamanan di jalan lebih dominan sehingga keselamatan lebih sering terjadi dan kebalikannya jarang terjadi, maka timbul pertanyaan: apakah wali berhak melakukan perjalanan dengan membawa harta anak-anak?
أما السفر في البر فقد ذكر الأصحابُ فيه وجهين وقالوا أظهرهما أنه يملك المسافرة فإنه جهة في الاكتسابِ وهو موكول إلى نظر الوصي
Adapun bepergian di daratan, para ulama mazhab menyebutkan dua pendapat tentangnya, dan mereka mengatakan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah bahwa bepergian itu diperbolehkan, karena ia merupakan salah satu cara dalam mencari penghasilan, dan hal itu diserahkan kepada pertimbangan washi.
والوجه الثاني أنه لا يملكه كما لا يملك المودعَ المسافرةَ بالوديعة والأول يقول لم يُجعل إلى المودعَ النظرُ لمالك الوديعةِ وجُعل إلى الوصي النظر في استنماء مال الطفل وهذا يُعذ من جهات الاستنماء
Pendapat kedua menyatakan bahwa ia tidak memilikinya, sebagaimana orang yang menerima titipan (mudi‘) tidak berhak bepergian dengan barang titipan. Sedangkan pendapat pertama mengatakan bahwa hak pengelolaan tidak diberikan kepada penerima titipan untuk kepentingan pemilik barang titipan, sementara kepada washi diberikan hak pengelolaan dalam mengembangkan harta anak kecil, dan hal ini termasuk salah satu bentuk pengembangan (istinamā’).
وما ذكرناه من الخلاف في البيع نسيئة من غير رهن قريبُ المأخذ من المسافرة مع غلبة الأمن
Apa yang telah kami sebutkan mengenai perbedaan pendapat dalam jual beli secara nisyā’ah (tempo) tanpa adanya rahn (jaminan) adalah hal yang dekat dengan persoalan safar (bepergian) ketika keamanan lebih dominan.
هذا قولنا في البر
Inilah pendapat kami tentang al-birr.
فأما المسافرة بمال اليتيم في البحر فإن كان معطبةَ فلا سبيل إليه وإن لم يكن كذلك وكان يركبه التجار في تجايرهم وقد يقال الأمن غالبٌ فيه فقد قطع معظم الأصحاب بالمنع عن المسافرة فيه بمال اليتيم بخلاف البر؛ فإن غرر أسلمِ البحار لا ينقص عن خطر البر مع الخوف
Adapun bepergian dengan membawa harta anak yatim melalui laut, jika kapalnya rusak maka tidak boleh dilakukan. Namun jika tidak demikian, dan kapal tersebut biasa digunakan para pedagang dalam aktivitas perdagangan mereka, serta dikatakan bahwa keamanannya lebih dominan, maka mayoritas ulama tetap menegaskan larangan bepergian dengan harta anak yatim melalui laut, berbeda halnya dengan melalui darat; sebab bahaya laut yang paling aman sekalipun tidak lebih kecil dari bahaya perjalanan darat yang disertai rasa takut.
وذهب بعض الأئمة إلى أن هذا يخرّجُ على وجوب ركوب البحر للحج فإن لم نوجبه فلا يجوز المسافرةُ بمال الأطفال فيه وإن أوجبنا ركوبَ البحر للحج فقد نزلناه منزلة البر وقد صح أن عائشة أبضعت بأموال بني محمد بن أبي بكر في البحر
Sebagian imam berpendapat bahwa masalah ini dianalogikan dengan kewajiban menyeberangi laut untuk haji. Jika kita tidak mewajibkannya, maka tidak boleh melakukan perjalanan dengan membawa harta anak-anak di laut. Namun jika kita mewajibkan menyeberangi laut untuk haji, maka kita menyamakannya dengan perjalanan di darat. Telah sahih bahwa ‘Aisyah pernah mengirimkan harta anak-anak Muhammad bin Abu Bakar melalui laut.
ومن منع ذلك تعب في تأويله وأقربُ مسلك في ذلك أنها أمرت بذلك والممر على السَّاحل الذي لا يتوقع فيه غررٌ من جهة البحر فإذا كان كذلك فهو كالبر لا شك فيه وقيل لعلها فعلت ذلك بشرط الضمان وهذا بعيد؛ فإن ما يضمن فهو ممنوع
Dan siapa yang melarang hal itu akan kesulitan dalam menakwilkannya. Pendekatan yang paling dekat dalam hal ini adalah bahwa ia diperintahkan untuk melakukan hal tersebut dan jalur yang dilalui adalah di tepi pantai yang tidak dikhawatirkan adanya bahaya dari arah laut. Jika demikian, maka hukumnya seperti di daratan, tidak ada keraguan di dalamnya. Ada yang mengatakan, mungkin ia melakukannya dengan syarat adanya jaminan (dhamān), namun pendapat ini jauh, karena sesuatu yang mengharuskan jaminan adalah terlarang.
والأولى أن يقال رأت ذلك رأياً والمسألة مظنونة
Yang lebih utama adalah dikatakan bahwa ia melihat hal itu sebagai sebuah pendapat, dan masalah ini masih bersifat dugaan.
ومما يتعلق بغرض الباب أن أئمة العراقِ والقاضي ذهبوا إلى فرقٍ بين تصرف الأب وبين تصرف الوصيِّ ونحن نسوقه على وجهه قالوا لا ينفذُ القاضي شيئاً من تصرفات الوصي إذا ارتفع إلى مجلسه من غير بينةِ تقوم على أنها موافقةٌ للغبطةِ وينفّذ تصرفات الأب مطلقاً وعلى من يدعي خلافَ الغبطةِ البيّنةُ
Terkait dengan tujuan bab ini, para imam Irak dan para qadi berpendapat bahwa terdapat perbedaan antara tindakan ayah dan tindakan washi. Kami akan menyampaikannya sebagaimana adanya: mereka mengatakan bahwa qadi tidak dapat memberlakukan salah satu tindakan washi jika perkara tersebut diajukan ke majelisnya tanpa adanya bukti yang menunjukkan bahwa tindakan tersebut sesuai dengan kemaslahatan. Sedangkan tindakan ayah diberlakukan secara mutlak, dan siapa pun yang mengklaim bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan kemaslahatan, maka dialah yang wajib mendatangkan bukti.
ولو بلغ الصبي وادعى على الوصي مخالفةَ الغبطةِ فالقول قوله وعلى الوصي البيّنةُ ولو ادعى على أبيه مخالفةَ الغبطة فالقول قول الأب والسبب فيه أنَّ تصرف الأب محمولٌ على فرط شفقته وانتفاءِ التهمة عنه واستحثاث الأبوة إياه على طلب الغبطةِ والوصي عدلٌ في ظاهر الأمر وليس على شفقة تستحث على طلبِ الغبطة
Jika seorang anak telah baligh lalu menuduh wali wasiatnya telah bertindak tidak sesuai dengan kemaslahatan, maka perkataan anak itu yang diterima dan wali wasiat wajib menghadirkan bukti. Namun jika ia menuduh ayahnya bertindak tidak sesuai dengan kemaslahatan, maka perkataan ayah yang diterima. Sebabnya adalah karena tindakan ayah dianggap didorong oleh kasih sayang yang sangat besar, tidak ada tuduhan buruk terhadapnya, dan dorongan kebapakan membuatnya selalu mencari kemaslahatan. Adapun wali wasiat, meskipun secara lahiriah adalah orang adil, namun ia tidak memiliki kasih sayang yang mendorongnya untuk selalu mencari kemaslahatan.
ولا يكفي في تصرف الأوصياء أن يعرَى عن الغبن
Tidak cukup dalam tindakan para wali (waṣī) hanya sekadar bebas dari kerugian (ghabn).
ولو أنفق الأب شيئاً في مصلحة الصبي فبلغ الصبي وأنكره أو زعم أنك تعديت قدرَ الحاجة فالقول قولُ الأب ولو ادعى مثلَ ذلك على الوصي فهل يقبل قول الوصي فعلى وجهين أحدهما لا يقبل كما لا يقبل منه دعوى الغبطة في البياعاتِ والثاني يقبل؛ فإن تكليفه الإشهادَ على كل ما ينفق عليه عسر والإشهادُ على البياعات من الممكنات
Jika seorang ayah membelanjakan sesuatu untuk kepentingan anak kecil, lalu anak itu telah dewasa dan mengingkarinya atau mengklaim bahwa ayahnya telah melampaui batas kebutuhan, maka yang dijadikan pegangan adalah pernyataan ayah. Namun, jika klaim serupa ditujukan kepada wali (washī), apakah pernyataan wali diterima? Ada dua pendapat: pertama, tidak diterima, sebagaimana tidak diterima darinya klaim adanya keuntungan (ghabṭah) dalam transaksi jual beli; kedua, diterima, karena mewajibkan wali untuk selalu menghadirkan saksi atas setiap pengeluaran adalah hal yang sulit, sedangkan menghadirkan saksi pada transaksi jual beli adalah hal yang memungkinkan.
فصل
Bab
قال وإذا كنا نأمر الوصيَّ أن يشتري بمال اليتيم عقاراً إلى آخره
Dan apabila kami memerintahkan wali wasiat untuk membeli properti dengan harta anak yatim, dan seterusnya.
المتصرِّفُ في مال الطفل بالوصاية والولاية إذا رأى من النظر أن يشتري له عقاراً يردّ عليه غلّةً يُقصد مثلُها ببذل ثمن العقار فليفعل ذلك والعقار المغلُّ خير من إعدادِ المالِ للتجارة؛ فإن التجاير على غرر من جهةِ الأسعار أوَّلاَ وإن فرض مسافرة بها يعترضها فنون من الغرر والعقارُ على إغلاله باقٍ في الأصل ولو أراد أن يشتري عقاراً نفيساً من جهة القيمة لا يُغل غَلّة بمبلغها احتفالٌ بالإضافةِ إلى ما بذل في ثمن العقار مثل أن يشتريَ داراً عظيمة لا حاجة بالصبي إليها ولا يوجد من يكتريها فهذا ليس من النظر وما خالف النظر فهو مردودٌ
Orang yang mengelola harta anak di bawah perwalian atau wasiat, jika menurut pertimbangannya lebih baik membelikan anak tersebut properti yang dapat menghasilkan pendapatan yang sepadan dengan harga properti itu, maka hendaklah ia melakukannya. Properti yang menghasilkan pendapatan lebih baik daripada menyiapkan uang untuk diperdagangkan, karena perdagangan mengandung risiko dari segi harga, dan jika uang itu digunakan untuk berdagang ke luar kota, maka akan menghadapi berbagai macam risiko. Sedangkan properti yang menghasilkan pendapatan tetap ada pada pokoknya. Namun, jika ia ingin membeli properti yang sangat mahal dari segi nilai tetapi tidak menghasilkan pendapatan yang sebanding dengan harga yang dikeluarkan, seperti membeli rumah besar yang tidak dibutuhkan oleh anak dan tidak ada yang menyewanya, maka ini bukanlah tindakan yang bijaksana. Segala sesuatu yang bertentangan dengan pertimbangan yang bijaksana adalah tertolak.
وإذا كنا نرى أن يشتري العقار للطفل على الترتيب الذي ذكرناه فينبغي ألا يبتدر بيعَ العقار إلا على تثبتِ وتبتن ونظرٍ ظاهر
Dan jika kita berpendapat bahwa sebaiknya membeli properti untuk anak sesuai urutan yang telah kami sebutkan, maka seharusnya tidak tergesa-gesa menjual properti tersebut kecuali setelah memastikan, meneliti dengan cermat, dan pertimbangan yang jelas.
وحاصل القول أنه يبيعه لغبطةِ ظاهرة تقدَّم على شرفِ العقارِ وفضيلةِ ثبوته على سائر المال وذلك بأن يكون للصبي شقصٌ من عقار وكان يطلبُه الشريكُ بأكثرَ من ثمنه وظهرت الزيادة على التقريب الذي ذكرناه وكان الشريك يحتاج إليه لتخليص العقار لنفسه أو لتسوية رَبْعه فهذه غبطة
Kesimpulannya adalah bahwa ia boleh menjualnya demi kemaslahatan yang nyata, yang diutamakan atas kehormatan properti dan keutamaan kekekalannya dibandingkan harta lainnya. Hal itu terjadi apabila anak kecil memiliki bagian dari properti, lalu rekan sekutunya menawarnya dengan harga lebih tinggi dari nilai sebenarnya, dan kelebihan harga tersebut tampak jelas menurut perkiraan yang telah kami sebutkan, serta rekan sekutunya membutuhkan bagian tersebut untuk menyelamatkan properti bagi dirinya sendiri atau untuk menyamakan bagiannya. Maka inilah yang disebut kemaslahatan.
ومن تمام تصويرها ألا يعجز الناظر للطفل من شراء عقار آخر للطفلِ أكثرَ قيمة وريعاً مما يبيعه فهاهنا تظهر الغبطة
Dan agar gambaran masalah ini menjadi lengkap, hendaknya orang yang mengurus anak tidak kesulitan untuk membeli properti lain untuk anak tersebut yang nilainya dan hasilnya lebih besar daripada yang dijualnya; di sinilah letak adanya maslahat (al-ghibṭah).
ولو كان لا يقدر على تحصيلِ عقارٍ بالثمن الذي يأخذه فذاك في غالب الحال لعلمِ الناسِ بشرف العقار ومزيته على الثمن الذي حصله؛ فإن الناس تتبع الغبطة فإن كان لا يقدر على تحصيل العقار فالغالب أن لا خير في بيع العقار
Jika seseorang tidak mampu memperoleh properti dengan harga yang didapatkannya, maka hal itu pada umumnya disebabkan karena orang-orang mengetahui kemuliaan properti dan keunggulannya dibandingkan harga yang diperoleh; sebab manusia selalu mencari keuntungan. Jika memang tidak mampu memperoleh properti, maka pada umumnya tidak ada kebaikan dalam menjual properti.
فهذا تمهيد معنى الغبطة وقد لاح أن لا يكتفى فيه بثمن المثل ولا بزيادةٍ قريبةٍ يستهين بها أربابُ العقول بالإضافة إلى شرف العقار وينضم إليه الاستمكانُ من تحصيل عقارٍ للطفلِ
Ini adalah penjelasan tentang makna ghibṭah, dan telah jelas bahwa dalam hal ini tidak cukup hanya dengan harga pasar atau dengan tambahan yang kecil yang dianggap remeh oleh orang-orang berakal jika dibandingkan dengan kemuliaan properti, serta harus disertai dengan kemampuan memperoleh properti bagi anak.
فإذا وقع التنبيه على الأصل هان اتباعُ الصور فهذا بيع العقار لأجل الغبطة
Maka apabila telah diberikan penjelasan tentang asal permasalahan, akan mudah mengikuti rincian-rinciannya; ini adalah penjualan properti demi kemaslahatan.
وأما بيعه لأجل الحاجة فإن مست حاجة الطفلِ إلى النفقةِ ولم يتأت تحصيلها إلا من جهة العقارِ فيبيعُ منه بقدر الحاجة؛ إن عجز عن تحصيل النفقةِ بجهة أخرى
Adapun penjualan karena kebutuhan, jika anak sangat membutuhkan nafkah dan tidak mungkin memenuhinya kecuali dari harta tak bergerak, maka boleh menjualnya sebatas kebutuhan; jika tidak mampu memperoleh nafkah dari sumber lain.
ثم القولُ في تصديق الولي في ادعاء الغبطةِ أو الحاجة وفي إجراء الوصي على خلافه وإحواجه إلى إثبات الغبطة بالبيّنة كما ذكرناه
Kemudian pembahasan mengenai diterimanya pernyataan wali dalam mengklaim adanya kemaslahatan atau kebutuhan, serta mengenai tindakan washi yang bertentangan dengan hal itu dan keharusannya untuk membuktikan adanya kemaslahatan dengan bukti, sebagaimana telah kami sebutkan.
فصل
Bab
يحوي أحْكامَ ألفاظ الطفلِ في المعاملاتِ وغيرهَا
Memuat ketentuan-ketentuan mengenai ucapan anak dalam muamalah dan selainnya.
أما حكمه في العباداتِ فقد مضى وأما إسلامه فسيأتي ذلك في كتاب اللقيط
Adapun hukum terkait ibadah telah dijelaskan sebelumnya, sedangkan mengenai keislamannya akan dibahas nanti dalam Kitab al-Luqāṭ.
وشهاداته مردودة وفي روايته ولا عرامة به خلافٌ وفي وصيته والتدبيرُ من الوصية قولان
Kesaksiannya ditolak, dan dalam periwayatannya terdapat perbedaan pendapat; dalam wasiatnya, dan at-tadbīr termasuk bagian dari wasiat, terdapat dua pendapat.
وإذا انضم إلى قوله قرينة تتضمن تصديقَه مثل أن يفتح البابَ ويخبر عن إذن صاحبها بالدخول أو يخبر في بعثه الهدايا والتحف عن حقيقتها
Dan apabila ucapannya disertai dengan suatu indikasi yang mengandung pembenaran terhadapnya, seperti ketika ia membuka pintu dan memberitahukan bahwa pemiliknya telah mengizinkan untuk masuk, atau ketika ia mengabarkan dalam pengiriman hadiah dan cenderamata tentang kebenarannya.
فإن انتفت العرامةُ وجرى ما ذكرناه مرسلاً ولا قرينة فتصديقه فيما يخبر عنه محمولٌ على الخلاف في قبول روايته وإن انضم قرينة مصدقة نُظر فإن بلغ الأمرُ إلى العلم سقط أثر قوله وإن لم تنته القرينة إلى العلم فلأصحابنا طريقان منهم من خرَّجه على الخلاف في روايته ومنهم من قطع بالتعويل عليه واستمسك بعاداتِ الأولين في اعتماد مثل ذلك
Jika tidak ada kecurigaan dan apa yang telah kami sebutkan terjadi secara lepas tanpa adanya indikasi, maka membenarkan apa yang ia kabarkan tergantung pada perbedaan pendapat dalam menerima riwayatnya. Namun jika terdapat indikasi yang menguatkan, maka perlu dilihat: jika indikasi tersebut sampai pada tingkat keyakinan, maka perkataannya tidak lagi berpengaruh. Namun jika indikasi tersebut belum sampai pada tingkat keyakinan, maka menurut para ulama kami ada dua pendapat: sebagian mengembalikannya pada perbedaan pendapat dalam menerima riwayatnya, dan sebagian lagi secara tegas menetapkan untuk berpegang pada indikasi tersebut serta berpegang pada kebiasaan para pendahulu dalam mengandalkan hal semacam itu.
ولا تصلح عبارته لشيء من العقود خلاَ الوصيةَ والعبادة فلا تستقل ولا تصح عبارته بإذن من يليه ولا فرق بين أن يكون من يليه عنده يراقبه وبين أن تقدّر غيبته عنه وهذا يؤخذ من سقوط عبارته في هذه القواعد عندنا والخلاف مشهور مع أبي حنيفة
Ucapannya tidak sah untuk digunakan dalam akad apa pun selain wasiat dan ibadah, maka ia tidak dapat berdiri sendiri dan ucapannya tidak sah meskipun dengan izin wali yang mengurusnya. Tidak ada perbedaan apakah wali tersebut hadir mengawasinya atau diperkirakan sedang tidak hadir. Hal ini diambil dari batalnya ucapannya dalam kaidah-kaidah ini menurut kami, dan perbedaan pendapat dengan Abu Hanifah dalam hal ini sudah masyhur.
واختلف أصحابنا في بيع الاختبار وذلك أنا قد نرى للولي أن يخبُرَ الصبي إذا ناهزَ الحلم؛ حتى يستبينَ رشدَه في الوجوه فإن رأى أن يفوض إليه عقداً حتى يتعاطاه وهو يراقبه ليستبين تهدِّيه وكَيْسه فهل ينفذ ذلك؛ المذهب أنه لا ينفذ واشتهر عن بعض الأصحاب تنفيذ هذا العقد وهذا لا وجه له ولا أصل في قاعدة المذهب لهذا
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai jual beli ujian. Hal ini karena kami memandang bahwa wali boleh menguji anak yang mendekati usia baligh agar dapat diketahui kecerdasannya dalam berbagai hal. Jika wali melihat perlu menyerahkan suatu akad kepadanya agar ia melakukannya sementara wali mengawasinya untuk mengetahui kecermatan dan kecerdasannya, maka apakah akad tersebut sah? Menurut mazhab, akad itu tidak sah. Namun, sebagian ulama mazhab ada yang membolehkannya, tetapi pendapat ini tidak memiliki dasar dan tidak ada asalnya dalam kaidah mazhab.
والصبي ليس من أهل القبض فيما لا يكون من أهل العقد فيه؛ فإن القبض فيه من الخطر ما يزيد على العقد وإذا كان القبض مملِّكاً في عقدٍ كالقبض في الهبة فيدُ الصبي لا تصلح له كما لا تصلح عبارتُه للفظ الذي يملِّك لو صدر من أهله
Anak kecil bukanlah pihak yang berhak melakukan qabḍ dalam hal-hal yang ia juga bukan pihak yang berhak melakukan akad di dalamnya; sebab qabḍ dalam hal ini mengandung risiko yang lebih besar daripada akad. Jika qabḍ menjadi sebab kepemilikan dalam suatu akad, seperti qabḍ dalam hibah, maka tangan anak kecil tidak sah untuk melakukan qabḍ tersebut, sebagaimana ucapannya juga tidak sah untuk lafaz yang menyebabkan kepemilikan jika diucapkan oleh orang yang berhak.
وقال الأئمة لو قال مالك الوديعة للمودَع سلِّم الوديعةَ إلى هذا الصبي فسلمها إليه برىء؛ فإنه امتثل أمرَه فيما هو خالصُ حقه
Para imam berkata, jika pemilik titipan berkata kepada orang yang dititipi, “Serahkanlah titipan itu kepada anak kecil ini,” lalu ia menyerahkannya kepada anak kecil tersebut, maka ia terbebas dari tanggung jawab; karena ia telah melaksanakan perintah pemilik titipan dalam perkara yang sepenuhnya merupakan haknya.
ولو قال للمودعَ ألقِ هذه الوديعةَ في النارِ فألقاها بَرِىء
Jika pemilik titipan berkata kepada orang yang dititipi, “Buanglah titipan ini ke dalam api,” lalu ia membuangnya, maka ia bebas dari tanggung jawab.
ولو قال مستحق الدين لمن عليه الدين سلّم حقي عليك إلى هذا الصبي فإذا فعل لم يبرأ حتى لو ضاع من يد الصبي فحق مستحِق الدين باقٍ في ذمة المديون؛ فإن يد الصبي لا تصلح للقبض ولم يتعين بعدُ حق ذي الحق حتى يكون قولُه هذا بمثابةِ الرضا بإتلاف حقه
Jika orang yang berhak atas utang berkata kepada orang yang berutang, “Serahkan hakku atasmu kepada anak kecil ini,” lalu ia melakukannya, maka ia belum terbebas dari utang. Bahkan jika hak itu hilang dari tangan anak kecil tersebut, hak orang yang berhak atas utang tetap ada dalam tanggungan orang yang berutang; karena tangan anak kecil tidak sah untuk menerima (serah terima), dan hak orang yang berhak pun belum ditentukan secara pasti sehingga ucapannya ini dianggap sebagai kerelaan untuk menghilangkan haknya.
ولو قال لمن عليه الدين ألْقِ حقي في هذه النار فإذا ألقى مقداره فيها لم يبرأ؛ فإن ما يلقيه حقُّ الملقي بعدُ إلى أن يتعيَّن بقبضٍ صحيح هو المملِّكُ في العين
Dan jika seseorang berkata kepada orang yang berutang kepadanya, “Lemparkan hakku ke dalam api ini,” lalu orang itu melemparkan sejumlah hak tersebut ke dalam api, maka ia belum terbebas dari utang; karena apa yang dilemparkan itu masih merupakan hak pemberi perintah hingga menjadi tertentu dengan penerimaan yang sah, yaitu penerimaan yang menyebabkan kepemilikan atas barang tersebut secara nyata.
وهذا ظاهر
Dan ini jelas.
ثم إذا ضاع ما سلمه إلى الصبي فبقاءُ الحق على ما وصفناه ولا ضمان على الصبي
Kemudian, jika barang yang diserahkan kepada anak hilang, maka hak tetap seperti yang telah kami jelaskan, dan tidak ada tanggungan (kewajiban ganti rugi) atas anak tersebut.
وقد قال الأئمة إذا أودع الرجل شيئاً من ملكه عند صبي فضاع في يده بسبب ترك الحفظ فلا ضمان والمضيعُ ربُّ الوديعة؛ إذْ وضعها عند من ليس أهلاً لها
Para imam telah berkata, jika seseorang menitipkan sesuatu dari miliknya kepada seorang anak kecil lalu barang itu hilang di tangannya karena lalai dalam menjaga, maka tidak ada kewajiban ganti rugi, dan yang menyebabkan hilangnya adalah pemilik titipan itu sendiri; karena ia menitipkan barang tersebut kepada orang yang bukan ahlinya.
ولو أتلف الصبي الوديعة ففي وجوب الضمان عليه وجهان سيأتي ذكرهما في كتاب الودائع أحدهما لا يجب الضمان؛ فإن المودِع هو المسلِّط على الإتلاف
Jika anak kecil merusak barang titipan, terdapat dua pendapat mengenai kewajiban ganti rugi atasnya, yang akan disebutkan dalam Kitab Wada’i‘. Salah satunya adalah tidak wajib ganti rugi, karena pihak yang menitipkan adalah orang yang memberikan wewenang untuk merusaknya.
ولا خلاف أنه لو باع منه شيئاً وسلمه إليه فأتلفه لم يضمن؛ فإن التسليم في البيع تسليط على وجوه التصرّف بخلاف التسليم في الوديعة
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa jika seseorang menjual sesuatu kepada orang lain lalu menyerahkannya kepadanya, kemudian orang itu merusaknya, maka ia tidak menanggung ganti rugi; karena penyerahan dalam jual beli merupakan pemberian wewenang untuk melakukan berbagai bentuk tasharruf, berbeda dengan penyerahan dalam wadi‘ah.
وقال المحققون لو دفع الصبي ديناراً إلى صراف لينقده فإذا أخذه منه لم يجز أن يرده عليه وهو مال الغير حصل في يده فليردّه على مالكه فإن رده على الصبي دخل في ضمانه يعني في ضمان الصراف حتى لو ضاع في يد الصبي ضمنه الصرّاف
Para peneliti (ulama) mengatakan: Jika seorang anak kecil menyerahkan satu dinar kepada penukar uang agar menukarkannya, lalu penukar uang itu mengambilnya dari anak tersebut, maka tidak boleh mengembalikannya kepada anak itu, karena itu adalah harta milik orang lain yang telah berada di tangannya. Maka hendaknya ia mengembalikannya kepada pemiliknya. Jika ia mengembalikannya kepada anak kecil, maka ia masuk dalam tanggungan (jaminan) penukar uang, artinya menjadi tanggungan penukar uang, sehingga jika harta itu hilang di tangan anak kecil, penukar uang tetap wajib menggantinya.
ولو ظفر الصبي بدرهم فاشترى به شيئاً فأكله فما أكله لا ضمان عليه فيه وما قُبض منه فقابضه مضمون عليه أما الضمان فبيّن وإهدار ما أكله معلل بتسليط المالك إياه على الإتلاف
Jika seorang anak mendapatkan satu dirham lalu membelikan sesuatu dengannya, kemudian ia memakannya, maka atas apa yang telah dimakannya tidak ada kewajiban ganti rugi baginya, sedangkan apa yang telah diambil darinya maka orang yang mengambilnya wajib menanggungnya. Adapun kewajiban ganti rugi itu jelas, dan pengabaian terhadap apa yang telah dimakan dijelaskan dengan alasan bahwa pemilik telah memberikan izin kepadanya untuk membinasakan (menghabiskan) barang tersebut.
Bab tentang Utang Piutang Budak
نذكر في الباب قاعدتين إحداهما في العبد المأذون في التجارة والثانية في العبد الذي ليس مأذوناً له في التجارة
Pada bab ini, kami akan menyebutkan dua kaidah: yang pertama tentang budak yang diberi izin untuk berdagang, dan yang kedua tentang budak yang tidak diberi izin untuk berdagang.
فأما المأذون فالأولى تصدير حكمه بحقيقة أمره فمذهبنا أن السيد إذا أذن لعبده في التجارة فعقوده فيها واقعة للمولى والعبدُ مستنابٌ فيها فإن سَلّم إليه مالاً وأمره بالتجارة فالمعنى الذي ذكرناه ظاهر في هذه الصورة؛ فإنه لو سلم هذا المال إلى حرٍّ مطلق وأمره بأن يتصرف فيه عنه كان التصرف للآمر؛ من حيث أن ما يباع فهو مالُه وإذا خرج عن ملكه انقلب العوضُ إلى مخرج المعوَّض فإذا كان هذا قولَنا والمأمور حر مطلق فالعبد بذلك أولى
Adapun mengenai budak yang diberi izin, maka yang utama adalah memulai penetapan hukumnya dengan menjelaskan hakikat keadaannya. Mazhab kami berpendapat bahwa apabila tuan mengizinkan budaknya untuk berdagang, maka seluruh akad yang dilakukan dalam perdagangan tersebut berlaku atas nama tuan, dan budak hanyalah sebagai wakil di dalamnya. Jika tuan menyerahkan harta kepada budaknya dan memerintahkannya untuk berdagang, maka makna yang kami sebutkan ini jelas dalam kasus tersebut; sebab jika harta itu diserahkan kepada orang merdeka secara mutlak dan ia diperintahkan untuk mengelolanya atas nama tuan, maka segala transaksi yang dilakukan adalah untuk kepentingan si pemberi perintah, karena barang yang dijual adalah miliknya, dan apabila keluar dari kepemilikannya, maka penggantinya pun menjadi milik pemberi barang tersebut. Jika ini adalah pendapat kami untuk orang merdeka yang diperintah, maka budak tentu lebih utama lagi dalam hal ini.
وإن لم يسلّم إلى العبد شيئاً وأمره بأن يشتري ويؤدي الثمنَ من كسبه فكسبه ملك المولى ولا يكتسب شيئاً إلا ويصير عينُ المكتسب عينَ مال السيد ثم يقع تصرفه فيه بمثابة تصرفه في سائر أعيان مال المولى
Dan jika tidak diberikan apa pun kepada budak tersebut dan ia diperintahkan untuk membeli serta membayar harga dari hasil usahanya, maka hasil usahanya menjadi milik tuannya, dan apa pun yang diusahakan oleh budak itu, maka barang yang dihasilkan tersebut menjadi harta milik tuannya. Kemudian, tindakan budak terhadap barang itu sama seperti tindakannya terhadap seluruh harta milik tuannya yang lain.
وقال أبو حنيفة المأذون له في التجارة يتصرف لنفسه وهذا نظر زائلٌ عن منهاج الحق وإنما حمله على هذا ظنٌّ له في أحكام العُهدة ونحن نختتم بذكرها آخر مسائل المأذون
Abu Hanifah berkata, orang yang diberi izin untuk berdagang, ia bertransaksi untuk dirinya sendiri. Namun, pendapat ini menyimpang dari jalan kebenaran. Yang mendorongnya berpendapat demikian hanyalah dugaan terhadap hukum-hukum tanggungan. Kami akan menutup dengan menyebutkan hukum-hukum tersebut pada akhir pembahasan masalah orang yang diberi izin.
ونعود الآن فنقول إذا ركب المأذونَ ديونٌ فما ركبه من ديون التجارة على حسب الإذن فهو متعلق بذمته وكسبه أما معنى التعلّق بالذمة فيظهر في أنه يطالب بالملتزَم إذا عَتَق وأما التعلق بالكسب فمعناه تعيّن الكسب لأداء ما التزمه
Sekarang kita kembali dan mengatakan: Jika seorang yang diberi izin (mā’dzūn) memiliki utang, maka utang yang timbul dari perdagangan sesuai izin tersebut berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) dan penghasilannya (kasb). Adapun makna keterkaitan dengan dzimmah tampak dalam hal bahwa ia tetap dituntut untuk melunasi kewajibannya jika ia merdeka. Sedangkan keterkaitan dengan kasb berarti penghasilannya ditetapkan untuk membayar apa yang telah ia janjikan.
والحقوق المالية ثلاثة أقسام منها ما يلزم بغير رضا مستحق الحق كأروش الجنايات ومتعلقها في الحال الرقبةُ وفي تعلّقها بالذمة خلاف جرى منا التنبيه عليه واستقصاؤه في آخر كتاب الديات
Hak-hak harta terbagi menjadi tiga bagian: di antaranya ada yang wajib dipenuhi tanpa kerelaan pihak yang berhak, seperti diyat atas tindak pidana dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Dalam hal ini, pada saat itu yang menjadi tanggungan adalah leher (jiwa) pelaku, sedangkan mengenai keterkaitannya dengan tanggungan (dzimmah) terdapat perbedaan pendapat yang telah kami singgung dan uraikan secara rinci di akhir Kitab Diyat.
وأثر الخلاف في التعلق بالذمة أنا إن حكمنا بالتعلّق فلو عَتَقَ اتّبع بالأرش بالغاً ما بلغ وإن لم نحكم بالتعلّق انحصر حقُّ المجني عليه في رقبته وماليَّته فلا يتبع إذا عَتَق بشيء
Dampak perbedaan pendapat dalam hal keterikatan pada dzimmah adalah, jika kita memutuskan adanya keterikatan, maka jika budak tersebut merdeka, ia tetap dibebani membayar diyat (ganti rugi) berapapun jumlahnya. Namun jika kita tidak memutuskan adanya keterikatan, maka hak korban terbatas pada diri dan harta budak tersebut saja, sehingga ketika budak itu merdeka, ia tidak lagi dibebani apa pun.
هذا بيان هذه الجملة على الإرسال
Ini adalah penjelasan dari kalimat ini secara ringkas.
والقسم الثاني ما يجب برضا ذي الحق وبإذن المولى فيتعلق بالذمةِ لا محالة ويتعلق بالكسب ولا يتعلق بالرقبة
Bagian kedua adalah apa yang wajib dengan kerelaan pemilik hak dan dengan izin tuan, maka hal itu pasti berkaitan dengan tanggungan (dzimmah), berkaitan dengan hasil usaha (kasb), dan tidak berkaitan dengan tubuh budak (raqabah).
وما يثبت برضا ذي الحق من غير إذن المولى فهو الذي يتعلق بالذمة على الإطلاق دون الكسب وعنده يقول الفقيه لا يطالَب به مادام رقيقاً رعايةً لحق السيد فيتبع إذا عَتَقَ
Apa yang ditetapkan dengan kerelaan pemilik hak tanpa izin tuan (pemilik budak), maka itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) secara mutlak, bukan dengan hasil usaha (kasb). Menurut pendapatnya, seorang faqih mengatakan bahwa hal itu tidak dapat dituntut selama ia masih berstatus budak, demi menjaga hak tuan, dan baru dapat dituntut setelah ia merdeka.
وإن كوتب فأوْجبت له الكتابةُ الاستقلال فظاهر المذهب أنه لا يطالَب بديون الذمة التي تثبت في حالة الرق؛ فإنه بعدُ مملوك ولا يبعد أن ينقلب قِناً ولهذا رُدت تبرعاتُه وسيأتي هذا في الكتابة إن شاء الله تعالى
Jika seorang budak melakukan mukatabah sehingga mukatabah itu memberinya kemandirian, maka menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab, ia tidak dituntut untuk membayar utang-utang yang timbul pada masa ia masih berstatus budak; sebab ia masih tetap merupakan milik (tuannya) dan tidak mustahil ia kembali menjadi budak murni. Oleh karena itu, hibah-hibah yang ia lakukan pun ditolak, dan hal ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan tentang mukatabah, insya Allah Ta‘ala.
فهذا تقسيم أوّلي
Ini adalah pembagian awal.
والذي نبدأ به الآن تفصيلُ القول فيما يتعلق بالكسب وهذا ينقسم قسمين أحدُهما ما يتعلق بالكسب مع التقييد بالتجارة والثاني ما يتعلَّق بالكسب مطلقاً
Yang akan kita mulai sekarang adalah penjelasan rinci mengenai masalah kasb, yang terbagi menjadi dua bagian: pertama, yang berkaitan dengan kasb dengan pembatasan pada perdagangan; dan kedua, yang berkaitan dengan kasb secara mutlak.
فأما ما يتعلق بالكسب والإذنُ متقيد بالتجارة فنقول فيه ما يلتزمه من ديون المعاملة وهو مأذون في التجارة يتعلق بما اكتسبه من رأس المال وهو الأرباح ويتعلق برأس المال نفسِه لا خلاف فيه وإن لم يكن من كسبه؛ فإن الإذن في التجارة يعيّنُه متعلَّقاً لحقوق التجارة وإذا كان الإذن المطلق في الضمان والشراء والنكاح يتضمن تأديةَ الملتزَم من الكسب وإن لم يجر له ذكر فتعيُّن رأس المال لتأدية ديون المعاملات أوْلى
Adapun yang berkaitan dengan penghasilan, dan izin yang dibatasi pada perdagangan, maka kami katakan bahwa utang-utang transaksi yang menjadi tanggungannya, selama ia diizinkan untuk berdagang, berkaitan dengan apa yang ia peroleh dari modal pokok, yaitu keuntungan, dan juga berkaitan dengan modal pokok itu sendiri—tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini, meskipun bukan berasal dari hasil usahanya. Sebab, izin dalam perdagangan menjadikan modal pokok itu sebagai objek hak-hak perdagangan. Jika izin mutlak dalam penjaminan, pembelian, dan pernikahan mencakup kewajiban untuk membayar dari penghasilan, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, maka penetapan modal pokok untuk membayar utang-utang transaksi tentu lebih utama.
وإذا فرض للعبد كسب لا من جهة التجارة مثل أن يحتشَّ أو يحتطب ففي تعلق ديون معاملاته المأذونة بما يكتسبه لا من جهة التجارة وجهان أحدهما أنها تتعلق بها؛ فإنها لزمت بإذن المولى فضاهت مهرَ النكاح ومؤنها الدارّة
Jika seorang budak memperoleh penghasilan bukan dari jalur perdagangan, seperti memungut rumput atau mencari kayu bakar, maka dalam hal keterkaitan utang-utang dari transaksi yang diizinkan dengan penghasilan yang diperoleh bukan dari jalur perdagangan terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa utang-utang tersebut tetap terkait dengannya, karena utang itu timbul dengan izin tuannya, sehingga serupa dengan mahar pernikahan dan biaya-biaya yang terus-menerus.
والوجه الثاني أن ديون المعاملة والإذن تتقيد بالتجارة لا تتعلق بهذه الاكساب؛ فإن تخصيصه جهةَ التجارة يتضمن حصرَ التأدية في أموال التجارة وليس كما لو كان الإذن مطلقاً
Pendapat kedua adalah bahwa utang-utang yang timbul dari transaksi dan izin dibatasi pada perdagangan, tidak berkaitan dengan penghasilan-penghasilan ini; karena pembatasan izin pada bidang perdagangan berarti membatasi pelunasan utang hanya pada harta perdagangan, dan tidak seperti jika izinnya bersifat mutlak.
والأظهر تعلُّقُ الديون بجميع أكسابه؛ فإن الإذن في التجارة رضا من المولى في الالتزام والرضا به مشعرٌ بالإذن في التأدية وأقرب المجال الكسبُ
Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa utang-utang itu terkait dengan seluruh penghasilan; karena izin untuk berdagang merupakan kerelaan dari tuan dalam menerima tanggungan, dan kerelaan tersebut menunjukkan adanya izin untuk membayar, sedangkan bidang yang paling dekat adalah penghasilan.
وإذا أحاطت الديون بالعبد المأذون واطرد الحجر عليه باستدعاء الغرماء وقُسم المال الحاصل على الديون فما يفضل بعد قسمة تلك الأموال كيف السبيل فيه فعلى وجهين وهما الوجهان المقدمان أصحهما أن فضلات الديون يؤديها من الأكساب التي ستكون حالاً على حال ولايزال الأمر كذلك إلى ألا يبقى من الديون شيء
Apabila utang-utang telah melingkupi seorang budak yang diberi izin (untuk berdagang), lalu penetapan pembatasan (hajr) diberlakukan atasnya atas permintaan para kreditur, dan harta yang ada dibagi untuk melunasi utang-utang tersebut, maka sisa yang tersisa setelah pembagian harta itu, bagaimana cara penanganannya? Ada dua pendapat, dan keduanya adalah pendapat utama. Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa sisa utang tersebut harus dibayar dari penghasilan yang akan diperoleh budak tersebut, sesuai dengan keadaannya, dan demikianlah seterusnya hingga tidak tersisa lagi utang sedikit pun.
والوجه الثاني أن الفاضل من أقدار تلك الأموال ينقلب إلى الذمة المحضة
Pendapat kedua adalah bahwa kelebihan dari nilai harta-harta tersebut berubah menjadi tanggungan murni (dzimmah mahḍah).
وهذا وإن كان يستدعي مزيد تفصيل فهو الخلاف الأول غير أنا فرضنا ذلك الخلافَ في مال التجارة وأكسابٍ تحصل لا من جهتها فجرى الوجهان وهذه الصورة في معناها؛ فإنه إذا سلَّم طائفةً من المال إلى عبده وأذن له في التجارة وكان أحد القابلين يعتقد الحصر في تلك الأموال حتى إذا قسمت فلو فرض بعد ذلك كسب باحتطاب فهو على الوجهين وإن فرض تسليم مال آخر إليه للتجارة فهو على الوجهين أيضاً؛ فإنه غير تلك الأموال كما أن الحاصل بالاحتطاب غيرها
Meskipun hal ini memerlukan penjelasan lebih lanjut, inilah perbedaan pendapat yang pertama. Namun, kami telah mengasumsikan perbedaan pendapat tersebut dalam harta perdagangan dan penghasilan yang diperoleh bukan dari jalur itu, sehingga muncul dua pendapat, dan kasus ini serupa maknanya. Jika seseorang menyerahkan sejumlah harta kepada budaknya dan mengizinkannya berdagang, lalu salah satu pihak yang menerima berpendapat bahwa pembatasan hanya pada harta tersebut, maka jika harta itu dibagi, lalu setelah itu diasumsikan ada penghasilan lain dari mencari kayu bakar, maka berlaku dua pendapat juga. Jika diasumsikan ada penyerahan harta lain kepadanya untuk berdagang, maka berlaku dua pendapat juga, karena harta itu berbeda dari harta yang pertama, sebagaimana penghasilan dari mencari kayu bakar juga berbeda dari harta yang pertama.
التفريع على الوجهين
Pengembangan hukum berdasarkan dua pendapat
إن رددنا فاضل الديون إلى الذمة المحضة فلا كلام
Jika kita mengembalikan kelebihan utang kepada dzimmah murni, maka tidak ada perbincangan lagi.
وإن رددناه إلى الكسب فلو باع سيد العبد العبدَ فالتعلق بالكسب لا ينقطع وقد صارت الأكساب على هذا الوجه مستحقة التعلق إلى تمام البراءة
Dan jika kita kembalikan hal ini kepada penghasilan, maka jika tuan budak menjual budaknya, keterkaitan dengan penghasilan tidak terputus, dan dengan demikian penghasilan-penghasilan tersebut tetap berhak untuk terkait hingga benar-benar terbebas.
وإذا نكح العبد بإذن مولاه وتعلق المهر والنفقة بكسبه فإذا باعه سيدُه لم ينقطع التعلق ثم لا شك أن المشتري إذا اطلع على ذلك بعد الشراء ثبت له الخيار في فسخ البيع وإن رددنا فاضل الديون إلى الذمة فلا خيار للمشتري؛ إذ لا ضرر عليه في تعلق دينٍ بذمته إذا كان رقه وكسبه متخلصين له وخالف أبو حنيفة في هذا
Apabila seorang budak menikah dengan izin tuannya, maka mahar dan nafkahnya menjadi tanggungan dari hasil kerjanya. Jika tuannya menjual budak tersebut, keterikatan itu tidak terputus. Tidak diragukan lagi bahwa jika pembeli mengetahui hal tersebut setelah pembelian, ia berhak memilih untuk membatalkan jual beli. Namun, jika kita mengembalikan sisa utang kepada tanggungan (dzimmah), maka pembeli tidak memiliki hak khiyar, karena tidak ada mudarat baginya jika utang itu menjadi tanggungan dzimmah budak, selama status perbudakan dan hasil kerjanya menjadi milik pembeli. Dalam hal ini, Abu Hanifah memiliki pendapat yang berbeda.
ولو عَتَقَ العبد قبل أن يتفق أداء فاضل الديون فلا شك أنه يطالَب به؛ فإنه لا يتصور أن يتعلق دين بالكسب إلاَّ وهو متعلق بالذمة
Jika seorang budak dimerdekakan sebelum disepakati pelunasan sisa utang, maka tidak diragukan lagi bahwa ia tetap dituntut untuk melunasinya; sebab tidak mungkin suatu utang terkait dengan hasil usaha kecuali juga terkait dengan tanggungan (dzimmah)-nya.
ثم إذا أدى ما عليه بعد العتق فهل يرجع به على مولاه فعلى وجهين أحدهما لا يرجع به؛ فإنه من آثار تصرف السيد في محلِّ ملكه ولا تبعة على المتصرف في محل الملك وما أدى الدينَ منه بعد الحرية بين أن يكون في حكم المستَحَق بالتصرف السابق في حالة الرق وبين أن يقال ما يرجع إلى الذمة المحضة فالعبد مختص بالالتزام فيه فلا نجد مرجعاً لما اختصَّ بالتزامه
Kemudian, apabila ia telah melunasi kewajibannya setelah merdeka, apakah ia dapat menuntut kembali kepada tuannya? Ada dua pendapat: salah satunya, ia tidak dapat menuntut kembali; karena hal itu merupakan akibat dari tindakan tuan terhadap miliknya, dan tidak ada tanggungan atas orang yang bertindak dalam kepemilikannya. Apa yang telah dibayarkan untuk utang tersebut setelah merdeka, ada yang berpendapat bahwa itu dianggap sebagai sesuatu yang wajib karena tindakan sebelumnya saat masih dalam status budak, dan ada pula yang mengatakan bahwa hal itu kembali kepada tanggungan murni, sehingga budaklah yang secara khusus bertanggung jawab atasnya, maka kami tidak menemukan alasan untuk mengembalikan apa yang secara khusus menjadi tanggung jawabnya.
والوجه الثاني أنه يرجع؛ فإن تصرف السيد جرَّ على العبد هذا الغرم بعد العِتاق وانقطاع علائق استحقاق المولى فكأنه ورَّطه في هذا الغرم وهو لا يستحقه بحق ملك الرق
Alasan kedua adalah bahwa ia kembali; sebab tindakan tuan telah menyebabkan budak menanggung beban utang ini setelah merdeka dan terputusnya segala hubungan hak kepemilikan tuan, sehingga seolah-olah tuan telah menjerumuskannya ke dalam beban utang ini padahal ia tidak lagi berhak atasnya berdasarkan hak kepemilikan budak.
وعبَّر الأئمة عن هذا النوع وقالوا اختلف الأصحاب في أن المولى هل يتصرف في عبده تصرفاً يبقَى ضررُه بعد العتق ويعدُّ ذلك من بقايا الاستحقاق بعد العتاق كالولاء فمنهم من قال لا يستحق السيد هذا وإن وقع فهو بشرط الضمان وهذا القائل ينظر إلى حالة العَتاقة وانقطاع السلطان
Para imam telah mengungkapkan tentang jenis ini dan mengatakan bahwa para sahabat berbeda pendapat mengenai apakah seorang tuan boleh melakukan tindakan terhadap budaknya yang dampaknya tetap ada setelah budak itu dimerdekakan, dan apakah hal itu dianggap sebagai sisa-sisa hak setelah pembebasan seperti halnya wala’. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tuan tidak berhak atas hal ini, dan jika itu terjadi maka harus dengan syarat adanya jaminan. Pendapat ini memandang pada keadaan setelah pembebasan dan terputusnya kekuasaan.
والثاني يملك ذلك ويستحقه ولا مرجع وهذا القائل ينظر إلى حالة الرق
Yang kedua, ia memiliki hal itu dan berhak atasnya tanpa ada rujukan, dan pendapat ini memandang pada keadaan perbudakan.
ومن هذا الأصل إذا أجر السيد عبده ثم أعتقه في أثناءِ المدة فإذا حصل الوفاء بالإجارة فهل يرجع بمثل أجرة نفسه في المدة الواقعة بعد العتق على سيده؛ فعلى الوجهين اللذين ذكرناهما في الإجارة وفي ملك العبد فسخها إذا عَتَق تفصيل يأتي في كتاب الإجارة إن شاء الله تعالى
Dari prinsip ini, jika seorang tuan menyewakan budaknya lalu memerdekakannya di tengah masa sewa, kemudian pembayaran sewa telah diterima, maka apakah ia berhak menuntut upah setara dengan jasa budaknya untuk masa setelah dimerdekakan dari tuannya; hal ini kembali pada dua pendapat yang telah kami sebutkan dalam bab ijarah dan dalam kepemilikan budak untuk membatalkan akad sewa jika ia dimerdekakan, dengan rincian yang akan dijelaskan dalam Kitab Ijarah, insya Allah Ta‘ala.
وإذا ضمن العبد عن مولاه دَيْناً كان عليه بإذنه ثم أدَّاه بعد العتق فهل يرجع به على المولى فعلى ما ذكرناه من الوجهين
Jika seorang budak menjamin utang tuannya yang menjadi tanggungannya dengan izin tuannya, kemudian ia melunasinya setelah dimerdekakan, maka apakah ia dapat menuntut kembali kepada tuannya? Hal ini kembali kepada dua pendapat yang telah kami sebutkan.
هذا قولنا في متعلق ديون العبد المأذون في التجارة ويخرج مما قدمناه أولاً وفصلناه آخراً أن ديون التجارة لا تتعلق برقبة العبد؛ فإنها ليست محل التجارة وليس ما يلتزمه على قياس أروش الجنايات؛ ولهذا قال أئمتنا لا يؤاجر العبد المأذون نفسه؛ فإن رقبته ليست محل تصرفه وهل يؤاجر الأموال التي يتجر فيها على وجهين أحدهما أنه يؤاجرها؛ فإن السيد أذن له في استنمائها وتحصيل الفوائد منها بالجهات التي تعد استنماء
Inilah pendapat kami mengenai hal yang berkaitan dengan utang-utang budak yang diizinkan berdagang. Dari apa yang telah kami kemukakan di awal dan kami rinci di akhir, dapat disimpulkan bahwa utang-utang perdagangan tidak berkaitan dengan tubuh (riqabah) budak; karena tubuh budak bukanlah tempat perdagangan dan apa yang ia tanggung tidak dapat diqiyās-kan dengan diyat (arwah) akibat tindak pidana. Oleh karena itu, para imam kami mengatakan bahwa budak yang diizinkan berdagang tidak boleh menyewakan dirinya sendiri, karena tubuhnya bukanlah objek transaksi. Adapun apakah ia boleh menyewakan harta yang diperdagangkan, terdapat dua pendapat: salah satunya membolehkan, karena tuannya telah mengizinkannya untuk mengembangkan dan memperoleh keuntungan dari harta tersebut dengan cara-cara yang dianggap sebagai pengembangan.
والوجه الثاني أنه لا يملك ذلك؛ فإن الإجارة لا تعد من أنواع التجارة وفيها حجر في بعض المذاهب مانع من التجارة الحقيقية؛ فإن المكرَى لا يباع في قولٍ
Dan alasan kedua adalah bahwa ia tidak memiliki hal tersebut; karena ijarah tidak termasuk dalam jenis perdagangan, dan dalam beberapa mazhab terdapat larangan yang mencegah terjadinya perdagangan yang sebenarnya; sebab barang yang disewakan tidak dapat dijual menurut suatu pendapat.
وفي المأذون وتصرفاته وتصرفات المولى فيما في يده أحكام سيأتي ذكرها في كتاب النكاح إن شاء الله تعالى ولو جمعنا أحكام المأذون لطال الباب ولسنا نلتزم مثل هذا؛ فإنه يُحوج إلى الخروج عن التزام ترتيب السواد
Adapun tentang orang yang diberi izin (mā’dzūn), tindakan-tindakannya, serta tindakan wali terhadap apa yang ada di tangannya, terdapat hukum-hukum yang akan disebutkan dalam Kitab Nikah, insya Allah Ta‘ala. Jika kita mengumpulkan hukum-hukum tentang orang yang diberi izin, maka pembahasan ini akan menjadi panjang, dan kami tidak berkomitmen untuk melakukan hal semacam itu; sebab hal itu akan mengharuskan keluar dari komitmen terhadap urutan pokok pembahasan.
فإن قيل بيّنوا أحكام العُهدة بين السيد والعبد وبين تعامل العبد وبين السيد
Jika dikatakan: Jelaskanlah hukum-hukum tanggungan antara tuan dan budak, serta antara transaksi budak dan tuan.
قلنا ظن أبو حنيفة وأصحابُه أن عُهدة العقود التي يعقدها المأذون تنحصر عليه ولا تتعداه إلى مولاه وبنَوْا على ذلك مصيرهم إلى أن العبد متصرف لنفسه ونحن نذكر ما ظنوه في معرض الأسئلة والإلزامات ثم نبيّن المذهبَ في معرض الأجوبة عن تلك الأسئلة
Kami katakan, Abu Hanifah dan para sahabatnya beranggapan bahwa tanggung jawab akad-akad yang dilakukan oleh budak yang diberi izin hanya terbatas pada dirinya sendiri dan tidak beralih kepada tuannya. Berdasarkan hal itu, mereka berpendapat bahwa budak bertindak atas nama dirinya sendiri. Kami akan menyebutkan apa yang mereka sangka dalam bentuk pertanyaan dan sanggahan, kemudian kami akan menjelaskan mazhab dalam bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
قالوا لو اشترى المأذون شيئاً لا يطالَب المولى بثمنه بل العبد هو المطالب وإذا اشترى الوكيل شيئاً لموكله فللبائع مطالبة الموكِّل بالثمن وقالوا إذا غرم المأذون بعد العتق دينَ معاملة لم يرجع على السيد ولو غرِم الوكيل ثمن العقد رجع على الموكل وقالوا إذا باع المأذون سلعة وأخذ ثمنها واستُحِقَت السلعة فالرجوع بالثمن على العبد دون المولى
Mereka berkata, jika seorang budak yang diberi izin membeli sesuatu, maka tuannya tidak dapat dituntut untuk membayar harganya, melainkan budak itulah yang dituntut. Namun jika seorang wakil membeli sesuatu untuk orang yang mewakilkannya, maka penjual berhak menuntut orang yang diwakilkan untuk membayar harganya. Mereka juga berkata, jika budak yang diberi izin menanggung utang transaksi setelah dimerdekakan, maka ia tidak dapat kembali menuntut tuannya. Namun jika seorang wakil menanggung harga akad, ia dapat menuntut orang yang mewakilkannya. Mereka juga berkata, jika budak yang diberi izin menjual suatu barang dan menerima harganya, lalu barang itu ternyata harus dikembalikan (karena ada cacat atau sebab lain), maka pengembalian harga hanya kepada budak, bukan kepada tuannya.
فهذه أسئلتُهم
Maka inilah pertanyaan-pertanyaan mereka.
واعتقدوا أنها مسلمةٌ لهم
Dan mereka meyakini bahwa hal itu telah diserahkan kepada mereka.
ونحن نقدِّم على الخوض في الجواب عنها أصلاً فنقول إذا دفع المولى ألفَ درهم إلى عبده ليتجر فيه فاشترى به شيئاً ثم تلف الألف في يده نُظر فإن عيّن الألفَ وتلف انفسخ به العقد وارتد به المبيع إلى ملك البائع
Sebelum kami masuk ke dalam pembahasan jawabannya secara mendasar, kami katakan: Jika seorang tuan memberikan seribu dirham kepada budaknya untuk diperdagangkan, lalu budak tersebut membelikan sesuatu dengan uang itu, kemudian seribu dirham tersebut rusak di tangannya, maka perlu dilihat: jika seribu dirham itu telah ditentukan dan kemudian rusak, maka akad menjadi batal karenanya dan barang yang dibeli kembali menjadi milik penjual.
وإن كان قد اشترى في الذمة سلعةً بألف وكان على صرفِ الألف إلى الثمن فتلف في يده ففي المسألة وجهان أحدهما أن العقد باقٍ وعلى المولى إخراج ألفٍ آخر؛ فإن العقدَ وقع له ولم يتعين الألف بالتعيّن فعلى السيد الوفاء بعهدة العقد هذا هو الصحيح
Jika seseorang membeli suatu barang secara utang seharga seribu, dan ia bertanggung jawab menukarkan seribu itu menjadi harga barang, lalu uang itu rusak di tangannya, maka dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, akad tetap berlaku dan majikan wajib mengeluarkan seribu yang lain; karena akad tersebut terjadi untuknya dan seribu itu belum menjadi tertentu dengan penentuan, maka wajib bagi tuan untuk memenuhi tanggungan akad tersebut. Inilah pendapat yang benar.
والوجه الآخر أن السيد لا يلزمه إخراج ألف آخر
Dan sisi lainnya adalah bahwa tuan tidak wajib mengeluarkan seribu yang lain.
ثم اختلف الأصحاب فمنهم من قال ينفسخ العقد بتلف الألف كما لو كان معيَّناً في العقد؛ من جهة أن السيد حصر إذنه في التصرف في ذلك الألف فإذا فات فقد انقطع محل الإذن ولم يلتزم السيد على الإطلاق الوفاءَ بعقده والانفساخُ على هذا الوجه اختيار القاضي
Kemudian para ulama berbeda pendapat; sebagian dari mereka berpendapat bahwa akad menjadi batal jika seribu (uang) tersebut rusak, sebagaimana halnya jika telah ditentukan secara spesifik dalam akad; karena tuan membatasi izinnya untuk bertransaksi hanya pada seribu (uang) tersebut, sehingga jika hilang maka hilang pula objek izin tersebut, dan tuan tidak berkewajiban secara mutlak untuk memenuhi akadnya. Pembatalan akad dengan cara seperti ini adalah pendapat yang dipilih oleh al-Qadhi.
ومن أصحابنا من قال للسيد أن يؤدي الألف من سائر ماله؛ فإن العقد صحّ له فإن فعل جرى العقدُ ونفذ وإن أبى فالبائع يفسخ العقدَ حنيئذٍ
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tuan boleh membayar seribu itu dari harta lainnya; jika akad itu sah baginya, maka jika ia melakukannya, akad berjalan dan berlaku, namun jika ia menolak, maka penjual dapat membatalkan akad pada saat itu.
وكان شيخي يختار هذا الوجه وهو أمثل من الوجه الأول والوجهان في الأصل قبل التفريع ينبنيان على ما إذا دفع الرجل ألفاً إلى واحد قِراضاً فاشترى به شيئاً من غير تعيين ثم تلفط الألفُ قبل تسليمه فهل يجب على المالك ألفٌ آخر أم ينقلب العقد إلى المقارِض العامل وسيأتي شرح ذلك إن شاء الله تعالى
Guru saya memilih pendapat ini, dan pendapat ini lebih kuat daripada pendapat pertama. Kedua pendapat tersebut pada dasarnya, sebelum adanya perincian, didasarkan pada kasus ketika seseorang menyerahkan seribu (dinar/dirham) kepada orang lain sebagai qiradh, lalu orang tersebut membeli sesuatu dengan uang itu tanpa penentuan barang, kemudian seribu tersebut hilang sebelum diserahkan. Apakah pemilik harus mengganti dengan seribu yang lain, ataukah akad berubah menjadi milik muqāridh (pengelola) sebagai pekerja? Penjelasan tentang hal ini akan datang, insya Allah Ta‘ala.
فإن قلنا في مسألة القراض على ربّ المال توفيةُ الثمن فعلى السيد ذلك أيضاً وإن قلنا العقد ينقلب إلى العامل وينفذ عليه فلا يجب على السيد تأديةُ ألف آخر ثم يعود الكلام إلى الخلاف الذي قدمته في الانفساخ
Jika kita mengatakan dalam masalah qiradh bahwa pemilik modal wajib melunasi harga, maka hal itu juga berlaku bagi tuan (pemilik budak). Namun jika kita mengatakan bahwa akad beralih kepada pekerja dan berlaku atasnya, maka tuan tidak wajib membayar seribu (dirham) lagi. Kemudian pembahasan kembali kepada perbedaan pendapat yang telah saya sebutkan sebelumnya mengenai pembatalan akad.
ثم إذا قلنا على السيد أن يأتي بألف آخر فقد ذكر أئمتنا وجهين في أن العامل هل يتصرّف فيه بحكم الإذن السابق أم لا بدّ من إذن جديد فيه وبنوا هذين الوجهين على ما إذا أوجبنا على مالك رأس المال في القراض أن يأتي بألف آخر فرأسُ المال ألفٌ أم ألفان فيه وجهان سيأتي شرحهما إن شاء الله تعالى
Kemudian, jika kita mengatakan bahwa tuan harus memberikan seribu (uang) yang lain, para imam kita telah menyebutkan dua pendapat mengenai apakah pekerja boleh mengelola (uang) tersebut berdasarkan izin sebelumnya ataukah harus ada izin baru untuk itu. Kedua pendapat ini didasarkan pada permasalahan apabila kita mewajibkan pemilik modal dalam akad qiradh untuk memberikan seribu (uang) yang lain, maka apakah modalnya tetap seribu atau menjadi dua ribu; dalam hal ini terdapat dua pendapat yang penjelasannya akan datang, insya Allah Ta‘ala.
وإن غمض على الناظر أن يصير الألف الثاني من رأس المال ولم يكن مذكوراً حالة العقد قيل له هو تابع للألف الأول والعقد عليه وإذا تبعه كان ملحقاً به كما يلتحق حطُّ أرش العيب بالعقد حتى يُحَط من الشفيع وإن كان يأخذ الشقصَ بالثمن المسمَّى في العقد
Jika sulit bagi pengamat untuk memastikan bahwa seribu yang kedua termasuk dalam modal pokok dan tidak disebutkan pada saat akad, maka dikatakan kepadanya bahwa ia mengikuti seribu yang pertama dan akad berlaku atasnya. Jika ia mengikutinya, maka ia dianggap melekat padanya, sebagaimana pengurangan kompensasi cacat melekat pada akad hingga dikurangi dari hak syuf‘ah, meskipun syafi‘ mengambil bagian tersebut dengan harga yang disebutkan dalam akad.
ولسنا نلتزم الآن شرح هذه المسألة في أحكام القراض ولكن لا بد من كشف ما ذكرناه في أحكام المأذون وكيف تصوير الوجهين والسيد هو الذي يخرج الألفَ وإنما يطالبه بائع السلعة لا العبدُ فما معنى ترديد الكلام في تصرف العبد فيه وليس للعبد أن يمد يده إلى الألف من مال السيد
Kami tidak sedang berkomitmen sekarang untuk menjelaskan masalah ini dalam hukum qiradh, namun kami harus menjelaskan apa yang telah kami sebutkan dalam hukum al-ma’dzūn dan bagaimana gambaran kedua sisi permasalahan tersebut. Tuanlah yang mengeluarkan seribu (uang), dan yang menuntutnya adalah penjual barang, bukan budak. Maka apa makna pengulangan pembicaraan tentang tindakan budak dalam hal itu, padahal budak tidak berhak menjulurkan tangannya kepada seribu (uang) dari harta tuannya.
فالوجه في ذلك أن نقول إذا أدى الألفَ ثم فُرض ارتفاع العقد بسببٍ فالعبد هل يستقل بالتصرف في الألف الراجع فيه الخلاف المقدم وهو مأخوذ من التحاق الألف برأس المال في القِراض
Penjelasannya adalah sebagai berikut: Jika seseorang telah menyerahkan seribu, kemudian akadnya batal karena suatu sebab, maka apakah budak boleh secara mandiri bertransaksi dengan seribu yang telah dikembalikan? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, dan perbedaan ini diambil dari permasalahan apakah seribu tersebut dianggap sebagai bagian dari modal dalam qiradh.
وينبني على تحقيق هذا أنا إذا قلنا لا بد من إذنٍ جديد فالعبد يصير محجوراً عليه بتلف الألف؛ فيرتدُّ العقد إلى تصرف السيد حتى إن فُرض فيه فسخ فهو الفاسخ وهو المخاطب بأحكام العقد
Berdasarkan penjelasan ini, jika kita mengatakan bahwa harus ada izin baru, maka budak menjadi terhalang untuk bertindak karena hilangnya seribu (uang); sehingga akad kembali kepada tindakan tuan, bahkan jika dianggap terjadi pembatalan, maka yang membatalkan adalah tuan dan dialah yang dikenai hukum-hukum akad.
وإن ألحقناه برأس المال فتصرُّفُ العبد قائم في العقد على حسب الغبطة
Dan jika kita menganggapnya sebagai bagian dari modal, maka tindakan budak dalam melakukan akad tetap berlaku sesuai dengan kemaslahatan.
ثم إن قلنا تصرّف العبد باقٍ في العقد فالمطالبةُ والتعلّق بالذمة على الاستمرار الذي كان وإن قلنا يرتدّ العقد إلى السيد ففي بقاء التعلق بذمة العبد وكسبه تردد فليتأمله الناظر
Kemudian, jika kita mengatakan bahwa tindakan budak tetap berlaku dalam akad, maka tuntutan dan keterikatan pada tanggungan (dzimmah) tetap berlangsung sebagaimana sebelumnya. Namun, jika kita mengatakan bahwa akad kembali kepada tuan, maka terdapat keraguan mengenai tetapnya keterikatan pada tanggungan dan hasil usaha budak, maka hendaknya hal ini diperhatikan oleh yang menelaah.
فهذا أصل قدمناه في الكلام على أحكام العُهدة وعاد بعده بنا الكلامُ إلى الجواب عن أسئلتهم
Ini adalah pokok bahasan yang telah kami kemukakan dalam pembahasan mengenai hukum-hukum tanggungan, kemudian setelah itu pembicaraan kembali kepada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
فإذا باع المأذون سلعةً وقبض الثمنَ واستُحِقَّت السلعةُ وقد كان تلف الثمن في يد العبد فالمذهب الصحيح أن المشتري يرجع إلى المولى بالعهدة؛ فإنّ يدَ العبد يدُه فكأنه البائع والقابضُ للثمن ولسنا نبرىء العبد عن الضمان؛ فإنه خائضٌ في العقد بإذن المولى
Jika seorang budak yang diberi izin menjual suatu barang, lalu menerima pembayaran, kemudian barang tersebut ternyata disita, dan uang pembayaran telah hilang di tangan budak tersebut, maka mazhab yang benar adalah bahwa pembeli dapat menuntut jaminan kepada tuan (pemilik budak); karena tangan budak adalah tangan tuannya, sehingga seolah-olah tuanlah yang menjual dan menerima pembayaran. Namun, ini tidak berarti membebaskan budak dari tanggung jawab; sebab ia terlibat dalam akad dengan izin tuannya.
هذا هو الأصح
Inilah pendapat yang paling benar.
ومن أصحابنا من قال لا طَلِبةَ على العبد وعبارته مستعار في الوسط ويده يدُ سيده وهذا مزيف لا أصل له؛ فإن يدَه يدُ ضمان في عقد مضمَّن وقد جرى ما جرى بإذن المولى
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tidak ada tuntutan atas seorang hamba, dan menurut mereka, statusnya hanyalah sebagai perantara, serta tangannya adalah tangan tuannya. Namun, pendapat ini lemah dan tidak berdasar; sebab tangannya adalah tangan penjamin dalam akad yang mengandung tanggungan, dan semua yang terjadi itu berlangsung dengan izin dari tuannya.
هذا إذا قلنا السيد يطالب بما تلف في يد العبد
Ini jika kita mengatakan bahwa tuan menuntut atas apa yang rusak di tangan budak.
ومن أصحابنا من قال لا مطالبة على السيد وهذا لا أصل له ولولا أنَّ في التقريب رَمْزاً إلى هذا وإلا كنتُ لا أذكره ولا شك أنه إذا سلّم العبدُ الثمنَ إلى السيد ثم ثبت الاستحقاق فالعهدة متعلقة به
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tidak ada tuntutan terhadap tuan, namun pendapat ini tidak memiliki dasar. Seandainya tidak ada isyarat dalam kitab at-Taqrīb mengenai hal ini, niscaya aku tidak akan menyebutkannya. Tidak diragukan lagi, jika budak telah menyerahkan harga kepada tuannya kemudian ternyata ada pihak lain yang lebih berhak (atas budak tersebut), maka tanggung jawab tetap terkait pada tuan.
هذا جوابنا عن الاستحقاق
Ini adalah jawaban kami tentang hak kepemilikan.
والحاصل المعتمد فيه أن السيد يطالَب والعبدُ في العهدةِ أيضاً ثم العهدةُ في حق العبد تتعلق بذمته وكسبه
Kesimpulan yang dijadikan pegangan dalam hal ini adalah bahwa tuan dapat dituntut, dan budak juga berada dalam tanggungan. Kemudian tanggungan atas budak berkaitan dengan tanggung jawab dan hasil usahanya.
وأما قولهم لو عَتَقَ المأذونُ وغرِم دينَ المعاملة لم يرجع فقد تكلمنا على هذا الفصل فيما تقدم
Adapun pernyataan mereka bahwa jika seorang budak yang diberi izin merdeka dan ia membayar utang transaksi, maka ia tidak dapat meminta kembali (dari tuannya), maka kami telah membahas bagian ini pada penjelasan sebelumnya.
فإن قلنا يرجع فهو على قياس الوكيل وإن قلنا لا يرجع فليس هو لوقوع العقد له وانحصارِه عليه؛ إذ لو وقع العقد له لكان المبيع في يده كما أن الثمن عليه فإذا كان المبيع في يد السيد دَلَّ أن تغريم العبد بعد العتق من غير إثبات مرجع له من أصل آخر وهو أن السيد تصرّف في حالة الرِّق تصرفاً لم ينقطع ضراره بالعتق وقد مهدنا هذا الأصل
Jika kita katakan bahwa ia dapat kembali (mengambil kembali), maka itu berdasarkan qiyās terhadap wakil. Namun jika kita katakan bahwa ia tidak dapat kembali, maka hal itu karena akad terjadi untuk dirinya sendiri dan terbatas padanya; sebab jika akad itu terjadi untuk dirinya, tentu barang yang dijual berada di tangannya sebagaimana harga (pembayaran) menjadi tanggungannya. Maka, ketika barang yang dijual berada di tangan tuan (pemilik), hal itu menunjukkan bahwa membebani budak setelah merdeka tanpa menetapkan hak kembali baginya berasal dari kaidah lain, yaitu bahwa tuan telah melakukan tindakan pada masa perbudakan yang dampaknya tidak terputus dengan kemerdekaan, dan kami telah menjelaskan kaidah ini.
وأما قولهم إذا اشترى المأذونُ شيئاً للتجارة لم يطالَب السيد بالثمن في الحال
Adapun pernyataan mereka bahwa apabila seorang budak yang diberi izin membeli sesuatu untuk tujuan perdagangan, maka tuannya tidak langsung dituntut untuk membayar harganya pada saat itu juga.
وهذا فرضوه فيه إذا كان في العبد وفاءٌ فقد ظهر الخلاف في هذه الصورة فمن أصحابنا من قال وهم القيّاسون يطالب السيد بالثمن كما يطالب الموكَل بثمن العقد الذي عقده الوكيل؛ لأن العقد وقع له ومِلْكُ الثمن عليه كما مِلْكُ المثمن على البائع
Mereka mewajibkan hal ini jika pada budak terdapat kecukupan (untuk membayar), maka tampaklah perbedaan pendapat dalam kasus ini. Sebagian dari ulama kami, yaitu para ahli qiyās, berpendapat bahwa tuan budak dituntut untuk membayar harga (budak) sebagaimana seseorang yang mewakilkan dituntut untuk membayar harga akad yang dilakukan oleh wakilnya; karena akad itu terjadi untuk kepentingannya dan kepemilikan harga ada padanya, sebagaimana kepemilikan barang yang dijual ada pada penjual.
ومن أصحابنا من قال لا يطالَب السيد إذا كانت مطالبة العبد ممكنة وكان ما في يده وافياً وليس هذا لوقوع العقد للعبد وإنما هو لتنزيل السيد عهدَ عقدِ عبدِه على ما سلمه إليه فكان كل من يعامله يُنزِل أمره على هذا ولهذا الفقه تعلّق دينُ المعاملة بما في يده ولولا ذلك لما صار رأسُ المال مرتهناً بدين المعاملة
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tuan tidak dapat dituntut jika penuntutan kepada budak masih memungkinkan dan harta yang ada di tangan budak mencukupi. Hal ini bukan karena akad dilakukan untuk budak, melainkan karena tuan dianggap menurunkan tanggung jawab akad budaknya pada apa yang telah ia serahkan kepadanya. Maka setiap orang yang bertransaksi dengan budak tersebut juga menurunkan urusannya atas dasar ini. Oleh karena itu, menurut fiqh, utang dari transaksi tersebut terkait dengan harta yang ada di tangan budak. Jika bukan karena hal ini, maka modal pokok tidak akan menjadi jaminan bagi utang transaksi.
ثم الدليل على أن سبب انقطاع المطالبة عن السيد هذا أن العقد لو وقع للعبد لما تعين له مالُ السيد وقد ذكر أصحابنا في المقارِض والمقارَض هذا الخلاف بعينه وإن كان عقد المقارِض لا يقع لنفسه ولكن معاملة القِراض منزلةٌ على مال معيّن فنشأ منه الخلاف الذي ذكرناه
Kemudian, dalil bahwa sebab terputusnya tuntutan dari tuan ini adalah karena jika akad itu terjadi atas nama budak, maka harta tuan tidak menjadi tertentu baginya. Para ulama kami telah menyebutkan perbedaan pendapat ini secara persis dalam kasus mudārabah, meskipun akad mudārabah tidak terjadi atas nama mudārib itu sendiri, tetapi transaksi mudārabah itu didasarkan pada harta tertentu, sehingga timbullah perbedaan pendapat yang telah kami sebutkan.
ولو سلم رجل إلى وكيل ألفاً وقال اشترِ لي عبداً وأد هذا الألفَ في ثمنه فإذا اشترى الوكيلُ فلأصحابنا طريقان في مطالبة الموكل منهم من خرجه على الخلاف المذكور في رب المال والعامل ومنهم من قال لا حكم لهذا التعيين مع الوكيل
Jika seseorang menyerahkan seribu dinar kepada seorang wakil dan berkata, “Belikan untukku seorang budak dan bayarkan seribu ini sebagai harganya,” maka apabila wakil tersebut telah membeli, menurut para ulama kami terdapat dua pendapat dalam hal menuntut muwakkil: di antara mereka ada yang mengaitkannya dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan mengenai rabb al-māl dan ‘āmil, dan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa penetapan seperti ini tidak memiliki konsekuensi hukum bagi wakil.
والقياسُ طردُ الخلاف في الوكيل
Qiyās adalah memperlakukan perbedaan pendapat dalam masalah wakil (agen) secara konsisten.
وكل ما ذكرناه فيه إذا كان ما في يد العبد المأذون وافياً فهل يطالَب السيد فهو على ما تقدم
Dan semua yang telah kami sebutkan di dalamnya, apabila harta yang ada di tangan budak yang telah diberi izin itu mencukupi, maka apakah tuannya tetap dituntut? Hal ini kembali kepada penjelasan yang telah lalu.
فأمَّا إذا قصر ما في يده عن الدَّيْنِ الذي ركبه فيفرض هذا في تلف بعض ما في يده وإذا تلف جميع ما في يده فقد مضى الكلام في أنه هل يجب على السيد توفيةُ الثمن من سائر ماله فهذا ذاك بعينه
Adapun jika harta yang ada di tangannya kurang dari utang yang menimpanya, maka hal ini dianggap dalam kasus rusaknya sebagian harta yang ada di tangannya. Dan jika seluruh harta yang ada di tangannya rusak, maka telah dijelaskan sebelumnya apakah wajib bagi tuan untuk melunasi harga dari harta lainnya. Maka ini adalah permasalahan yang sama persis.
وإذا ضممنا صورة الوفاء إلى الصورة التي لا وفاء فيها انتظم في الصورتين ثلاثةُ أوجه أحدها أن السيد لا يطالَب فيهما والثاني أنه يطالب فيهما والثالث أنه لا يطالَب وفي المال وفاءٌ ويطالب إذا لم يف ما في يد العبد بالمقدار المعقود
Jika kita menggabungkan kasus adanya pelunasan dengan kasus yang tidak ada pelunasan, maka dari kedua kasus tersebut terdapat tiga kemungkinan: pertama, tuan tidak dituntut pada keduanya; kedua, tuan dituntut pada keduanya; dan ketiga, tuan tidak dituntut jika harta yang ada cukup untuk pelunasan, dan ia dituntut jika harta yang ada pada budak tidak mencukupi sebesar nilai yang telah disepakati.
ثم لا خلاف أن العبد مطالب
Kemudian tidak ada perbedaan pendapat bahwa seorang hamba itu dituntut.
واختلف الأصحاب في أن الوكيل بالشراء هل يطالَب بالثمن إذا أضاف الشراء إلى نفسه ولم يعقد العقد على صيغة السفارة وفي عُهدةِ العقد في حق الوكيل والموكّل كلامُ سيأتي مشروحاً في الوكالة إن شاء الله تعالى
Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah wakil dalam pembelian dapat dituntut membayar harga jika ia menisbatkan pembelian kepada dirinya sendiri dan tidak melakukan akad dengan lafaz sebagai perantara. Adapun tanggungan akad bagi wakil dan muwakkil akan dijelaskan secara rinci pada pembahasan tentang wakalah, insya Allah Ta‘ala.
والقدر الذي نذكره الآن الفرق بين المأذون؛ فإنه مطالبٌ في حال الرق وبعد العتق وبين الوكيل وفيه عسر
Dan kadar yang kami sebutkan sekarang adalah perbedaan antara orang yang diberi izin; maka ia tetap dituntut baik dalam keadaan sebagai budak maupun setelah merdeka, sedangkan pada wakil terdapat kesulitan.
والممكن فيه أن السيد يستخدم عبده في أمره بالشراء ويُلزمه أن يمتثل أمره
Yang mungkin dalam hal ini adalah bahwa tuan dapat menggunakan budaknya untuk memerintahkannya membeli sesuatu dan mewajibkan budak tersebut untuk menaati perintahnya.
وليس على الحر أمرٌ من جهة موكَله فإذا التمس منه التوكيلَ عنه والنيابة تمحّض معنى النيابة وعقد العبد يعتمد أكسابَه وهي مملوكة للمولى ثم لا يتأتى تعلّق الطَّلِبة بأكسابه من غير فرض التعلق بالذمة ولا يتحقق هذا في الوكيل
Tidak ada perintah atas orang merdeka dari pihak yang mewakilkannya; maka jika ia diminta untuk menjadi wakil dan mewakili, makna perwakilan menjadi murni. Adapun akad yang dilakukan oleh budak bergantung pada penghasilannya, sedangkan penghasilan itu adalah milik tuannya. Selanjutnya, tidak mungkin tuntutan itu terkait dengan penghasilannya tanpa mengandaikan keterkaitan dengan tanggungan (dzimmah), dan hal ini tidak terwujud pada seorang wakil.
فهذا هو الفرق بين الموقفين
Inilah perbedaan antara kedua sikap tersebut.
ثم ذكر الأصحاب المسائل الخلافية بيننا وبين أبي حنيفة في أحكام المأذون ونحن نذكر ما نطلب بها بيان مذهبنا وتمييزَ أصلنا عن أصل أبي حنيفة
Kemudian para ulama mazhab kami menyebutkan masalah-masalah khilafiyah antara kami dan Abu Hanifah dalam hukum-hukum tentang orang yang diberi izin (mā’dzūn), dan kami akan menyebutkan hal-hal yang kami perlukan untuk menjelaskan mazhab kami dan membedakan dasar kami dari dasar Abu Hanifah.
فمما أجريناه أن ديون المعاملة لا تتعلق برقبة العبد المأذون وتتعلق بالمال الذي في يده
Maka di antara yang kami tetapkan adalah bahwa utang-utang yang timbul dari transaksi tidak berkaitan dengan diri budak yang diberi izin, melainkan berkaitan dengan harta yang ada di tangannya.
وقال أبو حنيفة تتعلَّق بذلك المال وبالرقبة
Abu Hanifah berkata, hal itu berkaitan dengan harta tersebut dan juga dengan budak (yang dimaksud).
ومن المسائل أن المأذون لا يؤاجر نفسه عندنا وذكرنا الخلاف في إجارته ما يقبل الإجارة من الأموال التي تحت يده
Di antara permasalahan adalah bahwa orang yang diberi izin (mā’dzūn) tidak boleh menyewakan dirinya menurut pendapat kami, dan kami telah menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai kebolehan ia menyewakan harta yang berada di bawah kekuasaannya yang dapat disewakan.
ومنها أن السيد إذا أذن لعبده في نوع من التجارة لم يصر مأذوناً في غيره
Di antaranya adalah bahwa apabila seorang tuan memberi izin kepada hambanya untuk melakukan suatu jenis perdagangan, maka hamba tersebut tidak otomatis diizinkan untuk melakukan jenis perdagangan yang lain.
خلافاً لأبي حنيفة
Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
وهذا مبني لنا على أن العبد يتصرف لمولاه
Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa seorang hamba bertindak atas nama tuannya.
ولو رأى السيد العبد يتصرف فسكت لم يكن سكوته إذناً في التصرف الذي عاينه ولم يكن إذناً في التجارة
Jika tuan melihat budaknya melakukan suatu tindakan lalu diam saja, maka diamnya itu tidak dianggap sebagai izin terhadap tindakan yang dilihatnya tersebut, dan juga tidak dianggap sebagai izin untuk berdagang.
وأبو حنيفة جعل السكوت إذناً في التجارة ولم ينفذ به التصرف الذي اتفق السكوت عنده
Abu Hanifah menganggap diam sebagai izin dalam perdagangan, namun tidak menjadikan sah tindakan yang dilakukan bersamaan dengan diam tersebut.
ومن المسائل أن المأذون إذا أبق لم ينعزل بالإباق ولم ينقطع الإذن
Di antara permasalahan adalah bahwa seorang budak yang telah diberi izin (mā’dzūn) apabila melarikan diri (abq), maka izin tersebut tidak batal karena pelariannya dan izin itu tidak terputus.
وقال أبو حنيفة ينقطع وتصرفه على حكم الإذن نافذ في الإباق إلاَّ أن يكون الإذن يقيد بالتصرف في البلدة التي بها السيد فلا ينفذ في غيرها
Abu Hanifah berkata, izin itu terputus dan tindakannya berdasarkan izin tetap sah selama dalam keadaan melarikan diri (ibāq), kecuali jika izin tersebut dibatasi hanya untuk melakukan tindakan di kota tempat tuannya berada, maka tidak sah di tempat lain.
ومنها أن المأذون لا يأذن لعبده في التجارة كما أن المقارِض لا يقارِض وللمقارض أن يُوكِّل والأصح أن المأذون يملك ذلك في آحاد التصرفات وإنما يمتنع إقامته غيرَه مقام نفسه
Di antaranya adalah bahwa orang yang diberi izin (mā’dzūn) tidak boleh memberi izin kepada budaknya untuk berdagang, sebagaimana muqārid (pemberi modal dalam akad mudhārabah) tidak boleh melakukan akad mudhārabah kepada orang lain. Namun, muqārid boleh mewakilkan, dan pendapat yang lebih sahih adalah bahwa mā’dzūn boleh melakukan hal itu dalam satu-satu transaksi, hanya saja ia tidak boleh menempatkan orang lain sebagai pengganti dirinya.
وأجاز أبو حنيفة أن يأذن المأذون لعبده؛ بناءً على أنه يتصرف لنفسه
Abu Hanifah membolehkan seorang yang telah diberi izin (mā’dzūn) untuk memberi izin kepada budaknya; berdasarkan bahwa ia bertindak untuk dirinya sendiri.
ومنها أنه ليس له اتخاذ الدعوة وجمع المجهزين
Di antaranya adalah bahwa ia tidak berhak mengadakan seruan dan mengumpulkan para penyedia perlengkapan.
خلافاً لأبي حنيفة
Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah.
ومنها أنه لو ركبته الديون لم يَزُل ملك السيد عن المال في يده
Di antaranya adalah bahwa jika ia dililit utang, kepemilikan tuan tidak hilang atas harta yang ada di tangannya.
وقال أبو حنيفة يزول ملكه عنه ولا يدخل في ملك الغرماء
Abu Hanifah berkata, kepemilikannya atas harta tersebut hilang darinya dan tidak masuk ke dalam kepemilikan para kreditur.
ومنها أن المأذون إذا احتطب أو اصطاد لم ينضم ما حصله من هذه الجهات إلى رأس المال حتى يتصرف فيه تصرّفه في رأس المال نعم في تعلق ديون معاملاته بالمكتسب من هذه الجهات وجهان تقدم ذكرهما
Di antaranya adalah bahwa apabila orang yang diberi izin (mā’dzūn) mengumpulkan kayu bakar atau berburu, maka hasil yang diperolehnya dari aktivitas-aktivitas tersebut tidak otomatis menjadi bagian dari modal pokok sehingga ia dapat memperlakukannya seperti memperlakukan modal pokok. Namun, dalam hal keterkaitan utang-utang dari transaksi yang dilakukannya dengan hasil yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas tersebut, terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya.
وقال أبو حنيفة ينضم ما يحصّله إلى رأس المال في نفوذ التصرف
Abu Hanifah berkata, apa yang diperoleh itu digabungkan dengan modal pokok dalam berlakunya tindakan hukum.
ومنها أن المأذون لا يعامل سيده وإن ركبته الديون
Di antaranya adalah bahwa budak yang telah diberi izin berdagang tidak boleh melakukan transaksi dengan tuannya, meskipun ia dililit utang.
وقال أبو حنيفة له معاملته إذا ركبته الديون
Abu Hanifah berkata: Boleh memperlakukannya (dengan akad muamalah) jika ia dililit utang.
ومنها أنه لا يشتري أبَ سيدِه وابنَه بمطلق الإذن في التجارة؛ فإنّ ذلك لو صح لألحق ضرراً بالسيد وخسره مالاً وهو نقيض التجارة
Di antaranya adalah bahwa seseorang tidak boleh membeli ayah atau anak tuannya hanya dengan izin umum dalam berdagang; sebab jika hal itu dibolehkan, niscaya akan menimbulkan kerugian bagi tuan dan menyebabkan hilangnya harta, padahal itu bertentangan dengan tujuan perdagangan.
وقال أبو حنيفة يصح ذلك منه
Abu Hanifah berkata, hal itu sah darinya.
ومنها أن العبد إذا ادّعى أن سيده أذن له في التجارة فليس لأحد معاملتُه ما لم يعلم إذنَ السيد من جهته أو من بينة تقوم
Di antaranya adalah bahwa apabila seorang hamba mengaku bahwa tuannya telah mengizinkannya untuk berdagang, maka tidak boleh seorang pun bertransaksi dengannya kecuali jika diketahui izin tuan tersebut secara langsung darinya atau berdasarkan bukti yang tegak.
وقال أبو حنيفة تصح معاملته
Abu Hanifah berkata, “Transaksi dengannya sah.”
واختلف أصحابنا فيه إذا شاع الإذن في الناس ولعل الأصحَّ الصحة؛ فإن إثبات الإذن على كلّ معامل بتسجيل القاضي شديد ولو عامله إنسان ولم يدْرِ كَوْنَه عبداً نفذت المعاملة فليس علم من يعامِل بحقيقة الحال شرطاً
Para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang hal ini apabila izin telah tersebar di tengah masyarakat, dan barangkali pendapat yang paling sahih adalah keabsahan; sebab menetapkan izin untuk setiap orang yang bertransaksi dengan pencatatan hakim adalah perkara yang sulit. Jika seseorang melakukan transaksi dengannya tanpa mengetahui bahwa ia adalah seorang budak, maka transaksi tersebut tetap sah, sehingga pengetahuan orang yang bertransaksi tentang keadaan sebenarnya bukanlah syarat.
ثم على من علمه عبداً رقيقاً أن يمتنع من الإقدام على معاملته من غير ثبت ولو علم من يعامله كوْنه عبداً فعامله ثم تبين أنه كان مأذوناً فهذا يقرب خروجه على قسم من وقف العقود وهو إذا باع الرجل مالَ أَبيه على اعتقاد حياته ثم استبان وقوعُ البيع بعد وفاته
Kemudian, bagi orang yang mengetahui bahwa seseorang adalah budak, wajib baginya untuk menahan diri dari melakukan transaksi dengannya tanpa kepastian. Dan jika seseorang mengetahui bahwa orang yang bertransaksi dengannya adalah budak, lalu ia tetap melakukan transaksi, kemudian ternyata budak tersebut telah mendapat izin (dari tuannya), maka hal ini hampir serupa dengan salah satu jenis penangguhan akad, yaitu ketika seseorang menjual harta milik ayahnya dengan anggapan bahwa ayahnya masih hidup, lalu ternyata penjualan itu terjadi setelah ayahnya wafat.
وكان شيخي أبو محمد يقول لو باع الرجل مالَ أبيه وظنَّه مال نفسه غالطاً ثم تبين أنه كان مالَ أبيه وكان ميتاً حالة العقد قال هذا العقد يصح قولاً واحداً؛ فإنه لم يبنه على خلاف الشريعة وهذا الذي ذكره على حسنه محتمل
Dan guruku, Abu Muhammad, berkata: Jika seseorang menjual harta milik ayahnya dan ia mengira bahwa itu adalah hartanya sendiri karena keliru, lalu ternyata diketahui bahwa itu adalah harta ayahnya dan ayahnya telah wafat pada saat akad, maka akad ini sah menurut satu pendapat; karena ia tidak mendasarkan akad tersebut pada sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Dan apa yang beliau sebutkan ini, meskipun baik, masih mengandung kemungkinan.
ومنها أن العبد المأذون إذا زعم أن سيده حجر عليه وقال السيد لم أحجر عليه لا تجوز معاملته في ظاهر المذهب؛ لأنه يزعم أن التصرّفَ معه غير صحيح ومبنى التصرّف في ظاهر الأمر على قول العاقد
Di antaranya adalah bahwa seorang budak yang diberi izin, jika ia mengklaim bahwa tuannya telah memberlakukan pembatasan terhadapnya, sementara tuannya mengatakan bahwa ia tidak memberlakukan pembatasan, maka tidak boleh bermuamalah dengannya menurut pendapat yang zahir dalam mazhab; karena budak tersebut menganggap bahwa transaksi dengannya tidak sah, dan dasar sahnya transaksi secara lahiriah didasarkan pada pernyataan pihak yang berakad.
ومن أصحابنا من صحح التصرف بناء على قول السيد وهذا مذهب أبي حنيفة
Sebagian ulama dari kalangan kami membenarkan keabsahan transaksi berdasarkan pernyataan tuan (pemilik), dan ini adalah mazhab Abu Hanifah.
ومنها أن السيد لو أذن للعبد المأذون أن يأذن للعبدِ الذي في يده للتجارة صحّ ذلك ثم لو حجر السيد على المأذون الأول صح واستمر الثاني مأذوناً ولو أراد أن يحجر على العبد الثاني صح
Di antaranya adalah bahwa jika tuan mengizinkan budak yang telah diberi izin untuk memberi izin kepada budak lain yang berada di tangannya untuk berdagang, maka hal itu sah. Kemudian, jika tuan mencabut izin dari budak pertama, hal itu sah dan budak kedua tetap berstatus sebagai budak yang diberi izin. Namun, jika tuan ingin mencabut izin dari budak kedua, maka hal itu juga sah.
وقال أبو حنيفة لا يصح الحجر على العبد الثاني ما لم يرده إلى يده
Abu Hanifah berkata, tidak sah melakukan hajr atas budak kedua selama belum dikembalikan ke dalam kekuasaannya.
ومنها أن إقرار المأذون نافذ بدين المعاملة وهذا متفق عليه ولو أقر بشيءٍ منه لأبيه أو ابنه صح
Di antaranya adalah bahwa pengakuan orang yang diberi izin (mā’dzūn) sah terhadap utang hasil transaksi, dan hal ini telah disepakati. Jika ia mengakui sebagian dari utang tersebut kepada ayahnya atau anaknya, maka pengakuan itu tetap sah.
وقال أبو حنيفة لا يصح
Abu Hanifah berkata: “Tidak sah.”
ومنها أنه لو كان في يده عين مالٍ فأقرَّ بأنه مغصوب أو وديعة لا يصح إقراره؛ فإن إقراره يصح فيما يتعلق به الإذن في التجارة
Di antaranya adalah bahwa jika seseorang memegang suatu barang, lalu ia mengakui bahwa barang itu adalah barang ghashab atau titipan (wadi‘ah), maka pengakuannya tidak sah; karena pengakuan itu hanya sah dalam hal-hal yang berkaitan dengan izin untuk berdagang.
وقال أبو حنيفة يصح
Abu Hanifah berkata: itu sah.
ومنها أنه لو علم رجل أنه مأذون وعامله ثم امتنع من التسليم إلى أن يقع الإشهادُ على الإذن فله ذلك؛ فإنه لو سلم كان على غرر وقد ينكر السيد أصل الإذن وهذا كما لو ادّعى رجل أن فلاناً وكَّلني بقبض حقه منك فصدقه بذلك مَنْ عليه الحق فله ألا يسلمَ إليه ما لم يُشْهِد على أنّه وكله وهذا الأصل فيه تردد واحتمال سيأتي في كتاب الوكالة
Di antaranya adalah bahwa jika seseorang mengetahui bahwa ia telah diberi izin, lalu ia melakukan transaksi dengannya, kemudian ia menolak untuk menyerahkan (barang) sampai terjadi penyaksian atas izin tersebut, maka itu boleh baginya; sebab jika ia menyerahkan (barang) tanpa penyaksian, berarti ia berada dalam keadaan yang berisiko, dan bisa jadi tuan (pemilik) mengingkari asal izin tersebut. Ini seperti halnya jika seseorang mengaku bahwa si Fulan telah mewakilkannya untuk menerima haknya darimu, lalu orang yang berkewajiban membayar membenarkan pengakuan itu, maka ia berhak untuk tidak menyerahkan (hak tersebut) kepadanya selama belum ada penyaksian bahwa ia benar-benar telah diwakilkan. Pokok permasalahan ini masih terdapat keraguan dan kemungkinan yang akan dijelaskan dalam Kitab Wakalah.
وقد اشتمل ما ذكرناه على معظم أحكام المأذون لم يشِذ منه إلاَّ تصرّف السيد في المال الذي في يد المأذون قبل أن تركبه الديون وبعد أن تركبه وهذا ذكره الشافعي في مسائل النكاح عند ذكره نكاحَ العبد ومتعلّق المهر والنفقة
Apa yang telah kami sebutkan mencakup sebagian besar hukum-hukum tentang orang yang diberi izin (mā’dzūn), tidak ada yang terlewatkan kecuali tindakan tuan terhadap harta yang berada di tangan orang yang diberi izin sebelum ia diliputi utang dan setelah ia diliputi utang. Hal ini disebutkan oleh asy-Syafi‘i dalam permasalahan nikah ketika membahas pernikahan budak serta hal-hal yang berkaitan dengan mahar dan nafkah.
وقد نجز ما أردناه من تعلق ديون المأذون وكنا ذكرنا قسمين أحدهما المأذون له في التجارة وقد نجز
Apa yang kami maksudkan tentang keterikatan utang-utang orang yang diberi izin telah selesai kami bahas, dan sebelumnya kami telah menyebutkan dua bagian, salah satunya adalah orang yang diberi izin untuk berdagang, dan itu telah selesai.
والثاني في المأذون له في تصرف يُلزِم الذمةَ عوضاً مطلقاً من غير أن يتضمن الإذنُ حصراً للتصرف في مالٍ وهذا بمثابة ما لو أذن السيد لعبده أن ينكح فهذا إذْنٌ بالتزام المهر والنفقة وكذلك لو أذن له في أن يشتري مطلقاً أو أذن له في أن يضمن ديناً
Yang kedua adalah mengenai orang yang diberi izin untuk melakukan suatu tindakan yang mewajibkan tanggungan (dzimmah) berupa imbalan secara mutlak, tanpa izin tersebut membatasi tindakan hanya pada harta tertentu. Ini seperti halnya jika seorang tuan mengizinkan budaknya untuk menikah, maka itu adalah izin untuk menanggung mahar dan nafkah. Demikian pula jika ia mengizinkannya untuk membeli sesuatu secara mutlak, atau mengizinkannya untuk menanggung utang (menjadi penjamin) atas suatu utang.
فهذه جهات في التزامٍ جَرَت عن إذن السيد ولا تعلق لأدائها بأموالٍ خاصة بخلاف ديون المعاملة في حق المأذون له في التجارة فما يكون كذلك فهو يتعلق بجميع جهات كسب العبد التي منها الاحتطاب والاحتشاش والاحتراف إن كان محترفاً صَنَاعَ اليد ثم جميع جهات الكسب بالإذن المطلق تصير مستغرقة بالديون التي تلزم من هذه الجهات؛ حتى لا يجوز للسيد أن يستغلَّها قبل أداء الديون المتعلقة بها إلاَّ على شرط ضمان
Maka, inilah beberapa aspek dalam kewajiban yang timbul karena izin dari tuan, dan pelunasannya tidak terkait dengan harta tertentu, berbeda dengan utang transaksi pada budak yang diizinkan berdagang. Apa yang demikian itu, maka ia terkait dengan seluruh sumber penghasilan budak, seperti hasil memungut kayu bakar, mengumpulkan rumput, dan keahlian jika ia memiliki keahlian tangan. Kemudian, seluruh sumber penghasilan yang diperoleh dengan izin mutlak menjadi tercakup oleh utang-utang yang timbul dari sumber-sumber tersebut; sehingga tidak boleh bagi tuan untuk memanfaatkannya sebelum melunasi utang-utang yang terkait dengannya, kecuali dengan syarat jaminan.
ولو استخدم عبده يوماً أو أياماً ففيما يلزمه تفصيل مذكور في كتاب النكاح
Jika seseorang mempekerjakan budaknya selama satu hari atau beberapa hari, maka rincian kewajiban yang harus dipenuhi terdapat dalam Kitab Nikah.
ولو التزم ديوناً مطلقةً كما وصفناها بالإذن المطلق ثم كان مأذوناً له في التجارة في أموالٍ في يده فالديون المطلقة تتعلق بما يستفيده بالتجارة اتفق أصحابنا عليه
Jika seseorang berkomitmen terhadap utang-utang yang bersifat mutlak sebagaimana telah kami jelaskan dengan izin yang mutlak, kemudian ia diberi izin untuk berdagang dengan harta yang ada di tangannya, maka utang-utang yang bersifat mutlak tersebut berkaitan dengan apa yang ia peroleh dari perdagangan. Hal ini telah disepakati oleh para ulama mazhab kami.
وفي تعلق ديون التجارة بسائر جهات الكسب سوى التجارة خلافٌ قدمناه واختلف أصحابنا في تعلق الديون المطلقة بعين رأس المال ولم يختلفوا في تعلق دين التجارة بها
Terdapat perbedaan pendapat mengenai keterkaitan utang perdagangan dengan berbagai sumber penghasilan selain perdagangan, sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya. Para ulama mazhab kami berbeda pendapat tentang keterkaitan utang yang bersifat mutlak dengan pokok modal secara langsung, namun mereka tidak berbeda pendapat mengenai keterkaitan utang perdagangan dengan pokok modal tersebut.
فهذا نهاية التفصيل في متعلقات ديون العبد إذا ثبتت عن إذنٍ مطلق أو مقيد بالتجارة
Inilah akhir dari penjelasan rinci mengenai hal-hal yang berkaitan dengan utang seorang hamba apabila utang tersebut ditetapkan berdasarkan izin yang bersifat mutlak atau terbatas pada perdagangan.
وقد انتهينا إلى تفصيل ما يصدر من العبد المحجور من غير إذن السيد فالوجه أن ننص على مواقع الإشكال ولا نُطنب بالتقاسيم
Kita telah selesai merinci apa saja yang dilakukan oleh hamba yang berada dalam status mahjur tanpa izin tuannya, maka yang tepat adalah menegaskan pada titik-titik permasalahan dan tidak memperpanjang dengan pembagian-pembagian.
فكل تصرف يتعلق بالرقبة فلا يملك العبد الانفراد به من جملتها النكاح وهو الذي يكاد يغمض تعليله فلا ينكح العبد دون إذن مولاه ولو صححنا نكاحه دونه لزمنا أن نبيح له قضاءَ وطره وذلك يوهي مِنهُ القُوى ولا ضبط له ولا منتهى ويستحيل تصحيح النكاح ووقف التحليل على مراجعة السيد فكان النكاحُ متعلقاً بالرقبة من الوجه الذي ذكرناه
Setiap tindakan yang berkaitan dengan kepemilikan penuh (atas diri budak), maka budak tidak berhak melakukannya secara mandiri, di antaranya adalah pernikahan. Inilah yang penjelasannya hampir tersembunyi; maka seorang budak tidak boleh menikah tanpa izin tuannya. Jika kita membolehkan pernikahannya tanpa izin tuan, berarti kita membolehkan ia memenuhi hasratnya, padahal hal itu dapat melemahkan tenaganya, tidak ada batasan dan tidak ada akhirnya. Tidak mungkin membenarkan pernikahan namun mensyaratkan kehalalannya pada persetujuan tuan. Maka pernikahan itu berkaitan dengan kepemilikan penuh (atas diri budak) dari sisi yang telah kami sebutkan.
وأما التصرفات المتعلقة بالذمة ففيها الكلام وهي المعنيّة فإذا اشترى العبدُ المحجور عليه شيئاً بغير إذن سيده ففي صحة شرائه وجهان ذكرهما العراقيون والشيخ أبو علي أحدهما لا يصح وهذا الذي قطع به الإمام وصاحب التقريب
Adapun tindakan-tindakan yang berkaitan dengan dzimmah, maka di dalamnya terdapat pembahasan, dan inilah yang dimaksud. Jika seorang budak yang berada dalam status mahjur melakukan pembelian sesuatu tanpa izin tuannya, maka dalam keabsahan pembeliannya terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak dan Syekh Abu Ali. Salah satunya adalah tidak sah, dan inilah yang diputuskan oleh Imam dan penulis kitab at-Taqrib.
والثاني يصح شراؤه؛ فإنه يعتمد ذمته والسيد لا يملك ذمةَ عبده
Yang kedua, jual belinya sah; karena ia bergantung pada tanggungan dirinya sendiri, sedangkan tuan tidak memiliki tanggungan budaknya.
وذهب هؤلاء إلى بناء الوجهين على قولين في أن المحجور عليه بالفلَس إذا اشترى شيئاً في زمان اطراد الحجر عليه ففي صحة شرائه قولان سيأتي ذكرهما
Mereka berpendapat bahwa dua pendapat tersebut didasarkan pada dua pandangan mengenai orang yang dikenai hajr karena bangkrut (al-muflis), apabila ia membeli sesuatu pada masa berlakunya hajr atas dirinya, maka dalam keabsahan jual belinya terdapat dua pendapat yang akan disebutkan nanti.
وزعم من ذكرناهم أن العبد محجور عليه لحق غيره كالمفلس ولا حجر على الذمة وهذا لا أصل له
Dan orang-orang yang telah kami sebutkan itu beranggapan bahwa seorang hamba dibatasi kebebasannya demi hak orang lain, seperti orang yang bangkrut, sedangkan tidak ada pembatasan terhadap dzimmah, dan anggapan ini tidak memiliki dasar.
والفرق أن المفلس من أهل التملّك والعبد ليس من أهله وعماد الشراء إمكان الملك للمشتري
Perbedaannya adalah bahwa orang yang bangkrut termasuk golongan yang memiliki hak kepemilikan, sedangkan budak bukan termasuk golongan tersebut, dan dasar dari jual beli adalah kemungkinan kepemilikan bagi pembeli.
ثم من صحح الشراء قال إنما تترتب صحة الشراء على قولنا القديم في أن العبد يُتصوّر أن يملك وهذا مشكل على هذا القول أيضاً؛ فإن العبد إن صُوّر له ملك لم يُصوّر إلا من جهة تمليك السيد إياه فأما التمليك من جهة غيره فلا مساغ له ولا يمكننا أن نقول المبيع يدخل في ملك السيد قهراً كما يحصله العبد من جهة الاحتطاب والاحتشاش وغيرهما؛ فإن تلك الجهات أفعال تقع لا مردَّ لها والعقود يتطرق إليها الفساد والصحة
Kemudian, bagi yang membolehkan jual beli tersebut, mereka mengatakan bahwa keabsahan jual beli itu didasarkan pada pendapat lama kami bahwa budak dapat dimungkinkan memiliki sesuatu. Namun, hal ini juga bermasalah menurut pendapat tersebut; sebab jika dimungkinkan bagi budak untuk memiliki sesuatu, maka hal itu tidak terjadi kecuali melalui pemberian kepemilikan dari tuannya kepadanya. Adapun pemberian kepemilikan dari selain tuannya, maka itu tidak mungkin dan tidak dapat diterima. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa barang yang dijual otomatis masuk ke dalam kepemilikan tuan secara paksa, sebagaimana budak memperoleh sesuatu melalui mencari kayu bakar, memungut dedaunan, dan semacamnya; karena cara-cara tersebut adalah perbuatan yang terjadi tanpa bisa dicegah, sedangkan akad-akad dapat mengandung unsur batal atau sah.
ثم الذي ذكره العراقيون في قول الصحة أن الملك في المبيع يقع للعبد ثم السيد فيه بالخيار إن شاء أقره عليه وإن شاء انتزعه من يده؛ فإنه يستحيل أن يثبت للعبد ملكٌ مستقر لا يُزيله سيده
Kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama Irak mengenai pendapat tentang keabsahan, bahwa kepemilikan atas barang yang dijual jatuh kepada budak, lalu tuannya memiliki pilihan, jika ia mau, ia membiarkan barang itu tetap pada budak, dan jika ia mau, ia mengambilnya dari tangan budak tersebut; maka tidak mungkin bagi budak untuk memiliki kepemilikan yang tetap yang tidak dapat dihilangkan oleh tuannya.
ثم قال المفرعون على ذلك إن لم يأخذ السيد المبيع من عبده فالبائع بالخيار إن أراد فَسَخَ العقد واستردَّ المبيع كما يفسخ البائع البيعَ عند إفلاس المشتري بالثمن والتعذر أظهر في العبد؛ فإنه مع دوام الملك لا مضطرَب له في جهات الكسب؛ بخلاف المعسر
Kemudian para ulama yang berpendapat demikian mengatakan, jika tuan tidak mengambil barang yang dijual dari hambanya, maka penjual memiliki hak memilih: jika ia mau, ia dapat membatalkan akad dan mengambil kembali barang yang dijual, sebagaimana penjual membatalkan jual beli ketika pembeli tidak mampu membayar harga dan terjadi kesulitan. Hal ini lebih jelas pada kasus hamba; karena selama kepemilikan masih tetap, tidak ada keraguan baginya dalam hal-hal yang berkaitan dengan penghasilan, berbeda dengan orang yang mengalami kesulitan.
ولا خلاف أن الثمن الذي يلتزمه يتعلق بذمته لا يؤدي شيئاً منها من كسبه وإنما يطالب به إذا عَتَق
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa harga yang menjadi tanggungannya berkaitan dengan tanggungan (dhammah)-nya; ia tidak membayar sedikit pun dari hasil usahanya, dan ia hanya dituntut membayarnya apabila ia telah merdeka.
هذا إذا لم ينتزع السيد المبيع من يد البائع فلو نزعه من يده وتملكه عليه فأراد البائع أن يسترد من السيد قالوا ليس له ذلك؛ فإن سلطان الاسترداد يثبت مادام المبيع في يد العبد وملكه فإذا زال نزل منزلة ما لو زال ملك المشتري الحرّ عما اشتراه ثم أفلس بالثمن فلا رجوع للبائع على من تملك على المفلس المبيع
Ini berlaku jika tuan tidak mengambil barang yang dijual dari tangan penjual. Namun, jika tuan mengambilnya dari tangan penjual dan memilikinya atas penjual, lalu penjual ingin mengambil kembali dari tuan, para ulama mengatakan bahwa penjual tidak berhak melakukan itu; karena hak untuk mengambil kembali hanya berlaku selama barang yang dijual masih berada di tangan dan kepemilikan budak. Jika kepemilikan itu hilang, maka keadaannya sama seperti jika kepemilikan pembeli yang merdeka atas barang yang dibelinya hilang, kemudian ia jatuh pailit atas harga barang tersebut, maka penjual tidak dapat mengambil kembali barang dari orang yang telah memilikinya dari orang yang pailit.
وهذا خبط عظيم وقول مضطرِب وكان لا يمتنع أن يقال يَبيع البائعُ العينَ في يد السيد؛ فإنه مملوك بالثمن فلا وجه لاستبداده به وإبطال حق البائع وإحالته على الطَّلِبةِ بعد العتق
Ini adalah kekeliruan besar dan pendapat yang tidak konsisten. Tidaklah mustahil untuk dikatakan bahwa penjual menjual barang yang masih berada di tangan tuan, karena barang itu dimiliki dengan harga (akad jual beli), sehingga tidak ada alasan bagi tuan untuk menguasainya sendiri, membatalkan hak penjual, dan membebankan penjual untuk menagihnya setelah pembebasan (budak).
ولكن الذي ذكره المفرعون ما نصصت عليه والتفريع على الفاسد فاسد
Namun, apa yang disebutkan oleh para mufarri‘ adalah sebagaimana yang telah aku tegaskan, dan membangun cabang hukum di atas sesuatu yang rusak adalah juga rusak.
ولو استقرض العبد المحجور عليه شيئاً بغير إذن مولاه فهو كما لو اشتراه في التفصيل الذي ذكرناه
Jika seorang budak yang berada dalam status mahjur (terhalang melakukan transaksi) meminjam sesuatu tanpa izin tuannya, maka hukumnya sama seperti jika ia membeli sesuatu, sesuai dengan rincian yang telah kami sebutkan.
ولو ضمن شيئاً بغير إذن سيده فهذا تصرف منه في الذمة ولا شك أنه لا يؤدي ما ضمنه من كسبه ولكن إذا عَتَق هل يطالب بما ضمنه
Jika seseorang menjamin sesuatu tanpa izin tuannya, maka ini merupakan tindakan atas tanggungan pribadinya, dan tidak diragukan bahwa ia tidak menunaikan apa yang dijaminnya dari hasil usahanya. Namun, jika ia dimerdekakan, apakah ia tetap dituntut atas apa yang dijaminnya?
الصحيح أنه يطالب وليس الالتزام من جهة الضمان كالالتزام من جهة الشراء والاستقراض؛ فإن الشراء والاقتراض يشتملان على تقدير الملك للمقترض وللمشتري وتصوير ذلك عسرٌ في العبد القن فظهر الحكم بالفساد وإذا فسدت الجهة انقطع اللزوم والضمان التزام مطلق
Pendapat yang benar adalah bahwa ia dituntut, dan komitmen dari sisi jaminan tidaklah sama dengan komitmen dari sisi pembelian dan peminjaman; sebab pembelian dan peminjaman mengandung estimasi kepemilikan bagi peminjam dan pembeli, dan membayangkan hal itu sulit terjadi pada budak murni, sehingga tampaklah hukum batalnya. Jika sisi tersebut batal, maka gugurlah keharusan, sedangkan jaminan adalah komitmen yang bersifat mutlak.
ومن أصحابنا من لم يصحح ضمان العبد ولم يوجه الطَّلِبَة عليه بالمضمون بعد العتق وقال التصرف في الذمة إنما يتصوّر ممن يُفرض منه إمكان الوفاء بالمضمون وحقيقة ضمان العبد يرجع إلى تعليق الضمان بما بعد العتق وتعليق الضمان فاسد
Sebagian dari ulama mazhab kami tidak membenarkan penjaminan terhadap budak dan tidak membolehkan menuntutnya atas sesuatu yang dijaminkan setelah ia merdeka. Mereka berpendapat bahwa transaksi dalam tanggungan (dzimmah) hanya dapat dibayangkan dari orang yang mungkin untuk melunasi apa yang dijaminkan, sedangkan hakikat penjaminan terhadap budak kembali pada penangguhan penjaminan hingga setelah ia merdeka, dan penangguhan penjaminan adalah tidak sah.
ولا خلاف أن العبد يخالع زوجته فيصح ويثبت العوض وذلك أنه مالكٌ للطلاق بالعوض وغيرِ العوض غير أنه في حق المعوَّض كالمحتش والمحتطب ولو احتش العبدُ أو اصطاد بغير إذن مولاه دخل ما حصله تحت ملك المولى قهراً؛ فيقع الأمر كذلك في العوض المحصَّل وهذا لا وجه غيرُه إذا قلنا لا يملك العبد بالتمليك وإن قلنا يتصور له ملك فلا يبعد أن نقول يحصُل الملك في العوض له تخريجاً على ما ذكرناه من شرائه شيئاً بغير إذن مولاه ثم السيد يتسلط على انتزاع ذلك المال من يده وملكه
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa seorang budak dapat melakukan khulu‘ dengan istrinya, maka khulu‘ tersebut sah dan kompensasi (uang tebusan) menjadi tetap. Hal ini karena ia memiliki hak untuk melakukan talak baik dengan kompensasi maupun tanpa kompensasi. Hanya saja, dalam hal kompensasi, kedudukannya seperti orang yang mengumpulkan kayu bakar atau pemburu. Jika seorang budak mengumpulkan kayu bakar atau berburu tanpa izin tuannya, maka apa yang ia peroleh secara otomatis masuk ke dalam kepemilikan tuannya. Maka demikian pula halnya dengan kompensasi yang didapatkan dari khulu‘. Tidak ada pendapat lain dalam hal ini jika kita mengatakan bahwa budak tidak memiliki hak kepemilikan melalui pemberian. Namun, jika kita mengatakan bahwa kepemilikan itu mungkin baginya, maka tidak mustahil untuk mengatakan bahwa kepemilikan atas kompensasi itu menjadi miliknya, berdasarkan analogi dengan apa yang telah kami sebutkan tentang budak yang membeli sesuatu tanpa izin tuannya, kemudian tuan tersebut berhak mengambil harta itu dari tangan dan kepemilikan budak tersebut.
وقد نجز غرضنا في تصرف العبد المحجور
Tujuan kami mengenai tindakan hamba yang sedang dalam status mahjur telah tercapai.
وأما أحكام الجنايات وأرشها وما يتعلق بها من فداء السيد فموضعه كتاب الجنايات
Adapun hukum-hukum jinayat, diyatnya, dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti fidyah dari tuan, maka tempat pembahasannya adalah dalam Kitab Jinayat.
فصل
Bab
مشتمل على إقرار العبد وإقرار السيد على العبد
Memuat pengakuan dari seorang budak dan pengakuan tuan terhadap budaknya.
فأما السيد إذا أقر على عبده نظر فى إقراره فإن أقر بما يوجب عقوبةً على العبد لم يقبل إقراره لتمكن التهمة منه غير أنه إن أقر عليه بما يوجب القصاص والعبدُ منكر فرددنا إقراره في العقوبة فعفا المقَرّ له على مالٍ ثبت المال؛ فإنّ إقرار السيد وإن رُدَّ فيما يتعلق بالعقوبة لما ذكرناه فهو مقبول فيما يتعلق بالمال ومتضمّن الإقرار بالقصاص ثبوتُ المال عند عفو المستحِق على مال ولكن الأرش الذي يثبت بجناية العبد وفاقاً يتعلق على المسلك الأصح بذمته ورقبته حتى إذا لم تف قيمةُ الرقبة بمبلغه طولب الجاني إذا عَتَق بالفاضل من قدر القيمة
Adapun jika tuan mengakui sesuatu atas budaknya, maka dilihat dulu pengakuannya itu. Jika ia mengakui sesuatu yang mewajibkan hukuman atas budak, maka pengakuannya tidak diterima karena adanya kemungkinan tuduhan (kepentingan) dari pihak tuan. Namun, jika ia mengakui atas budaknya sesuatu yang mewajibkan qishāsh, sementara budak itu mengingkari, lalu kita menolak pengakuan tuan dalam hal hukuman, kemudian pihak yang berhak memaafkan dengan tebusan harta, maka harta itu tetap menjadi haknya. Sebab, pengakuan tuan, meskipun ditolak dalam hal yang berkaitan dengan hukuman karena alasan yang telah disebutkan, tetap diterima dalam hal yang berkaitan dengan harta. Dan pengakuan yang mengandung qishāsh juga menetapkan adanya harta ketika pihak yang berhak memaafkan dengan tebusan harta. Namun, diyat (ganti rugi) yang ditetapkan karena kejahatan budak, menurut pendapat yang paling kuat, berkaitan dengan tanggungan dan diri budak itu sendiri, sehingga jika nilai diri budak tidak mencukupi untuk menutupi jumlah diyat, maka pelaku kejahatan (budak) akan diminta membayar sisanya setelah ia merdeka, sesuai dengan kelebihan dari nilai dirinya.
وإذا أقر السيد على عبده بالجناية الموجبةِ للقصاص لو ثبتت وأنكر العبدُ ثم آل الأمر إلى مالٍ فلا تعلق لهذا المال بالذمة وإذا عَتَقَ العبدُ لم يطالب بشيء منه؛ فإن السيد لا يملك إلزام ذمةِ العبد مالاً ولم يختلف الأصحاب في أنه لو أجبره على ضمان شيء لم يصح ذلك مع الإجبار ولو قبل الضمان عليه
Jika seorang tuan mengakui bahwa budaknya telah melakukan tindak pidana yang mewajibkan qishash jika terbukti, namun budak tersebut mengingkarinya, lalu perkara itu berakhir pada kewajiban membayar diyat (harta), maka harta tersebut tidak terkait dengan tanggungan (dzimmah) budak. Jika budak tersebut merdeka, ia tidak dituntut untuk membayar apa pun darinya; sebab tuan tidak berhak membebankan tanggungan harta kepada dzimmah budak. Para ulama sepakat bahwa jika tuan memaksa budak untuk menanggung sesuatu, maka hal itu tidak sah jika dilakukan dengan paksaan, meskipun budak menerima penjaminan atasnya.
وكذلك لو أجبر السيد عبده على أن يشتري له متاعاً فلا يصح الشراء وإن كان محلُّ الديون التي تلتزم بالإذن الكسبَ والكسب ملك السيد ولكن لا استقلال للأكساب في هذا الباب ما لم يتحقق تعلق الدين بأصل الذمة فلا احتكام للسادة على ذمم العبيد
Demikian pula, jika seorang tuan memaksa hambanya untuk membeli barang untuknya, maka pembelian tersebut tidak sah, meskipun tempat utang-utang yang diwajibkan dengan izin adalah hasil usaha, dan hasil usaha itu milik tuan. Namun, tidak ada kemandirian bagi hasil usaha dalam masalah ini selama utang belum benar-benar terkait dengan pokok tanggungan (dzimmah), sehingga para tuan tidak dapat memperlakukan dzimmah para hamba sebagai milik mereka.
ولو أقرَّ السيد بمالٍ تباع الرقبة فيه فيقبل إقراره في التعلّق بالرقبة ولا يقبل في تقدير التعلّق بالذمة
Jika seorang tuan mengakui adanya harta yang menyebabkan budak dijual untuk melunasinya, maka pengakuannya diterima dalam hal keterkaitan dengan tubuh budak (yakni budak dapat dijual untuk membayar utang tersebut), namun tidak diterima dalam hal keterkaitan dengan tanggungan (yakni utang itu tidak menjadi tanggungan pribadi tuan).
هذا في إقرار السيد
Ini terdapat dalam pengakuan tuan.
فأما إذا أقر العبد بشيء فإن كان إقراره بمالٍ فإقراره في رقِّه ورقبته مردود وما يتعلق بالذمة منه فإقراره فيه مقبولٌ يُتبع به بعد العتق صدّقه السيد أو كذّبه
Adapun jika seorang budak mengakui sesuatu, maka jika pengakuannya terkait harta, maka pengakuannya atas dirinya dan tubuhnya ditolak, sedangkan yang berkaitan dengan tanggungan (dzimmah) maka pengakuannya diterima dan dapat dituntut setelah ia merdeka, baik tuannya membenarkan maupun mendustakannya.
فأما إذا أقر بما يوجب العقوبة فالذي ذهب إليه الشافعي وأبو حنيفة ومعظمُ العلماء أن إقراره مقبول وإن كان تنفيذ المقرّ به يوجب إبطال حق المولى من ماليَّته فإذا اعترف بما يوجب القصاصَ في النفس أو القطع في الطرف للآدمي أو لله تعالى نفذ إقراره ويحكم به
Adapun jika seseorang mengakui sesuatu yang mewajibkan hukuman, maka menurut pendapat yang dipegang oleh asy-Syafi‘i, Abu Hanifah, dan mayoritas ulama, pengakuannya diterima, meskipun pelaksanaan atas apa yang diakui tersebut dapat menyebabkan hilangnya hak tuannya dari sisi kepemilikan. Jika ia mengakui sesuatu yang mewajibkan qishāsh pada jiwa atau pemotongan anggota badan terhadap sesama manusia atau karena Allah Ta‘ala, maka pengakuannya dijalankan dan diputuskan berdasarkan hal itu.
وخالف في ذلك المزني ولم يرَ قبولَ إقرارهِ؛ لاعتراضه على ملك مولاه وهذا مذهب محمد وزفر وأحمد وداود
Dalam hal ini, Al-Muzani berpendapat berbeda; ia tidak memandang sah pengakuan tersebut karena dianggap sebagai bentuk keberatan terhadap kepemilikan tuannya. Pendapat ini juga dianut oleh Muhammad, Zufar, Ahmad, dan Dawud.
ومعتمد مذهبنا أن الإقرار حجةٌ من الحجج كالبيّنة فالمقبول منه ما لا تهمةَ فيه وإقرار العبد كذلك؛ فإن العاقل لا يعرّض نفسه للهلاك حتى يخسِّر غيرَه شيئاً نزراً من المال والشاهد لذلك أن السيد على أنه المالك إذا أقر بما يوجب العقوبةَ فإقراره مردود لما ذكرناه من التهمة وإن كان لو أباح دمه صار هدراً فالإقرار إذن في الرد والقبول يعتمد ثبوتَ التهمة وانتفاءها
Pendapat yang dipegang dalam mazhab kami adalah bahwa pengakuan (iqrār) merupakan salah satu hujjah seperti halnya bukti (bayyinah), maka yang diterima darinya adalah apa yang tidak mengandung tuduhan (tuhmah), dan pengakuan seorang budak juga demikian; karena orang yang berakal tidak akan membahayakan dirinya hingga menyebabkan orang lain kehilangan sedikit harta. Bukti untuk hal ini adalah bahwa seorang tuan, meskipun ia adalah pemilik budak, jika ia mengakui sesuatu yang mewajibkan hukuman, maka pengakuannya ditolak karena adanya tuduhan seperti yang telah kami sebutkan, meskipun jika ia menghalalkan darahnya sendiri maka itu menjadi sia-sia. Maka, pengakuan dalam hal diterima atau ditolaknya bergantung pada adanya atau tidak adanya tuduhan.
ولو قدر مقدر تهمةً على بُعدٍ في إقرار العبد فالتهمة البعيدة غيرُ معمول بها
Jika ada seseorang yang mengira adanya tuduhan meskipun sangat kecil dalam pengakuan seorang budak, maka tuduhan yang jauh (tidak masuk akal) tidak dapat dijadikan dasar pertimbangan.
فإذا ثبت هذا فلو أقر العبد بما يوجب القصاص ونفذنا إقراره فإن اقتص المقَرُّ له فذاك وإن عفا عن القصاص الثابت على مال فالأحسن تنزيل ذلك على القولين في أن موجَبَ العمد ماذا فإذا حكمنا بأن موجبه القَوَد المحضُ فالمال يثبت إذا عفا المقَرُّ له على مالٍ؛ فإن هذا المال لم يثبت بالإقرار نفسه وإنما ثبت بالعفو عن العقوبة الثابتة بالإقرار هذا إذا قلنا موجَبُ العمد القَودُ
Jika demikian, apabila seorang budak mengakui sesuatu yang mewajibkan qishash dan kita melaksanakan pengakuannya, maka jika pihak yang berhak mendapat qishash melaksanakan qishash, maka itu sudah cukup. Namun jika ia memaafkan qishash yang telah ditetapkan dengan syarat adanya pembayaran diyat, maka yang terbaik adalah mengembalikan hal tersebut kepada dua pendapat tentang apa yang menjadi konsekuensi pembunuhan sengaja. Jika kita memutuskan bahwa konsekuensinya adalah qishash murni, maka harta (diyat) menjadi tetap jika pihak yang berhak mendapat qishash memaafkan dengan syarat pembayaran harta; sebab harta ini tidak ditetapkan dengan pengakuan itu sendiri, melainkan ditetapkan karena pemaafan atas hukuman yang telah ditetapkan melalui pengakuan. Ini jika kita mengatakan bahwa konsekuensi pembunuhan sengaja adalah qishash.
فأما إذا قلنا موجبه القود أو المال أحدهما لا بعينه فإن اقتصَّ المقَرّ له نفذ الأمر وإن أراد الرجوعَ إلى مالِ فهذا يستدعي مقدمةَ
Adapun jika kita mengatakan bahwa akibatnya adalah qishāsh atau diyat, salah satu dari keduanya tanpa penentuan, maka jika pihak yang berhak memilih qishāsh, pilihannya berlaku. Namun jika ia ingin beralih kepada diyat, hal ini memerlukan pendahuluan.
وهي أن العبد إذا أقر بسرقةِ مالٍ وزعم أنه أتلف ما سرق فإقراره مقبولٌ في وجوب القطع لله تعالى لما ذكرناه وهل يقبل إقراره في تعلق قيمةِ ما اعترف بسرقته برقبته؛ فعلى قولين مشهورين أحدهما لا يتعلق؛ فإن ذلك إقرار بإبطال مالية السيد من الرقبة من غير واسطة
Yaitu apabila seorang hamba mengakui telah mencuri suatu harta dan mengaku bahwa ia telah membinasakan barang yang dicurinya, maka pengakuannya diterima dalam hal wajibnya hukuman potong tangan karena Allah Ta‘ala, sebagaimana telah kami sebutkan. Adapun apakah pengakuannya diterima dalam hal keterkaitan nilai barang yang diakuinya telah dicuri dengan lehernya (yakni dirinya sebagai budak), maka terdapat dua pendapat yang masyhur. Salah satunya adalah tidak terkait; karena itu merupakan pengakuan yang mengakibatkan hilangnya hak kepemilikan tuan atas budaknya tanpa perantara.
والقول الثاني أن إقراره مقبول؛ فإن التهمة منتفية ونفس العقوبة تبطل المالية ولكن قُبل الإقرارُ بها لانتفاء التهمة وهذا المعنى متحقق فيما ذكرناه ولا استقلال للسرقة دون مال مسروق ويستحيل ألا يثبت القول في المسروق ويثبت في السرقة المطلقة
Pendapat kedua menyatakan bahwa pengakuannya diterima; karena tuduhan tidak ada dan hukuman itu sendiri membatalkan nilai harta, namun pengakuan terhadapnya diterima karena tidak adanya tuduhan, dan makna ini terwujud dalam apa yang telah kami sebutkan. Tidak ada keberadaan pencurian tanpa adanya harta yang dicuri, dan mustahil hukum berlaku pada pencurian tanpa menetapkan pada barang yang dicuri.
هذا إذا أقر بإتلاف المسروق وتضمن إقراره تعلّقَ مبلغٍ برقبته
Ini berlaku jika ia mengakui telah merusak barang yang dicuri dan pengakuannya itu mengandung adanya tanggungan sejumlah harta atas dirinya.
فأما إذا أضاف سرقته إلى عينٍ قائمة نظر فإن كانت العين التي اعترف بسرقتها في يد مولاه فإقراره مردود فيها اتفق الأصحاب عليه؛ والسبب فيه أن ما نصادفه في يد السيد مُقرٌّ على حكم ملكه فيبعد الحكم على ملكه بإقرار العبد ولو قدّرنا قبول هذا الإقرار أَوْشَك أن يستغرق العبد جميع ذخائر سيده وهذا الآن تظهرُ التهمةُ فيه؛ فإن العبد الحنِق على سيده قد يستهين بقطع يده في مقابلة تخسير السيد أموالاً لا تنضبط وليس هذا كما لو ادّعى تلف المسروق؛ فإن غاية ما يتعلّق بالسيد قدرُ قيمةِ الرقبة؛ فإن أروش الإتلافات لا تعدو الرقبة إلى سائر أموال السيد
Adapun jika ia mengaitkan pencuriannya dengan suatu barang tertentu yang masih ada, maka dilihat: jika barang yang diakui telah dicuri itu berada di tangan tuannya, maka pengakuannya tidak diterima atas barang tersebut, dan para ulama sepakat tentang hal ini. Sebabnya adalah bahwa apa yang kita dapati berada di tangan tuan, secara hukum diakui sebagai miliknya, sehingga tidak layak menetapkan hukum atas milik tuan hanya berdasarkan pengakuan budak. Jika kita menerima pengakuan ini, dikhawatirkan budak akan mengakui telah mencuri seluruh harta simpanan tuannya. Dalam kasus ini, jelas terdapat unsur tuduhan; sebab budak yang marah kepada tuannya bisa saja meremehkan hukuman potong tangan demi membuat tuannya kehilangan harta yang tidak terukur jumlahnya. Ini berbeda dengan kasus jika ia mengaku bahwa barang curian telah rusak; sebab dalam hal ini, kerugian maksimal yang dapat menimpa tuan hanyalah sebesar nilai budak itu sendiri, karena diyat kerusakan tidak akan melampaui nilai budak kepada seluruh harta tuan.
ولو أقر العبد بسرقة مال في يد أجنبي فإقراره مردودٌ في حق ذلك الأجنبي إذا أضاف إقراره إلى عينٍ قائمة في يده فإذا رُدّ في حق الأجنبي فليرد في حق السيد
Jika seorang budak mengakui telah mencuri harta yang berada di tangan orang lain, maka pengakuannya ditolak terhadap orang tersebut apabila ia mengaitkan pengakuannya dengan suatu barang tertentu yang masih ada di tangannya. Maka jika pengakuannya ditolak terhadap orang lain, hendaknya juga ditolak terhadap tuannya.
وقيل إنّ أبا حنيفة نَفَّذَ إقراره في الأعيان القائمة في يد السيد وهذا خبالٌ عظيم
Dikatakan bahwa Abu Hanifah memberlakukan pengakuan (iqrār) pada barang-barang yang masih ada di tangan tuan, dan ini merupakan kekeliruan besar.
ولو أقر العبد بسرقة عين وكانت العين في يد العبد اختلف أصحابنا فيه على طريقين فمنهم من خرّج قبولَ إقراره فيها على القولين ومنهم من قطع القولَ بردِّ إقراره في العين الكائنة في يده وهذا هو الظاهر؛ من جهة أن يده يدُ السيد ولا استقلال له ثم ما يتصوّر احتواء يده عليه في محل الإقرار لا ينضبط كما تقدم وليس كالإقرار بالإتلاف؛ فإن غائلته تنحصر في مقدار قيمة الرقبة كما تقدم
Jika seorang budak mengakui telah mencuri suatu barang dan barang itu berada di tangan budak tersebut, para ulama mazhab kami berbeda pendapat dalam hal ini menjadi dua pendapat. Sebagian mereka mengaitkan diterimanya pengakuan tersebut dengan dua pendapat yang ada, dan sebagian lain secara tegas berpendapat bahwa pengakuan budak atas barang yang ada di tangannya tidak diterima, dan inilah pendapat yang lebih kuat; karena tangan budak adalah tangan tuannya dan budak tidak memiliki kemandirian. Selain itu, keberadaan barang di tangan budak pada saat pengakuan tidak dapat dipastikan secara pasti sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini berbeda dengan pengakuan atas perusakan barang, karena akibatnya hanya terbatas pada nilai budak itu sendiri sebagaimana telah dijelaskan.
وبنى بعضُ الفقهاء القولين في قبول إقراره بالمال عند ذكر الإتلاف على قولين في الحر لو أقر بسرقة مال وقُبل إقراره
Sebagian fuqaha membangun dua pendapat mengenai diterimanya pengakuan seseorang atas harta ketika ia menyebutkan perusakan (itlāf), berdasarkan dua pendapat dalam kasus seorang merdeka yang mengaku telah mencuri harta dan pengakuannya diterima.
فلو رجع عن الإقرار قُبل رجوعُه فيما يتعلق بالعقوبة ولم تقطع يده وفي قبول رجوعه عن ضمان المال قولان وزعم هؤلاء أن وجه البناء أنا إذا قلنا لا رجوع في المال فكأنّا لم نبعّض حكمَ الرجوع فنقول على هذا لا نبعّض حكمَ إقرار العبد فإذا قبلناه في وجوب القطع قبلناه في تعلّق قيمة ما أقر بسرقته ثم بإتلافه برقبته
Jika ia menarik kembali pengakuannya, penarikan kembali itu diterima dalam hal yang berkaitan dengan hukuman, sehingga tangannya tidak dipotong. Adapun dalam hal penerimaan penarikan kembali terkait jaminan harta, terdapat dua pendapat. Mereka berpendapat bahwa alasan pembahasan ini adalah, jika kita mengatakan tidak boleh menarik kembali pengakuan dalam hal harta, maka seakan-akan kita tidak membagi-bagi hukum penarikan kembali. Maka, menurut pendapat ini, kita juga tidak membagi-bagi hukum pengakuan seorang budak; jika kita menerimanya dalam kewajiban pemotongan (tangan), maka kita juga menerimanya dalam keterkaitan nilai barang yang diakuinya telah dicuri, kemudian jika ia membinasakannya, maka nilainya menjadi tanggungan lehernya.
وإن قلنا لا يقبل رجوعُ المقِرّ الحرِّ فيما يتعلق بالضمان فقد بعّضنا حكمَ الرجوع آخراً فلا يمتنع أن نبعّض حكمَ إقرار العبد أوّلاً ونقولُ إقراره في العقوبة مقبول وفيما يتعلق بحق المولى مردود
Jika kita mengatakan bahwa rujuknya orang merdeka yang mengakui (sesuatu) tidak diterima dalam hal yang berkaitan dengan tanggungan, maka berarti kita telah membagi hukum rujuk pada akhirnya. Maka tidak mustahil jika kita membagi hukum pengakuan budak pada awalnya, dan kita katakan bahwa pengakuannya dalam hal hukuman diterima, sedangkan dalam hal yang berkaitan dengan hak tuan ditolak.
وعندي أن هذا البناءَ فاسد وقد عول الباني فيه على اتباع العبارة أما القول الذي يُقبل فيه الرجوع عن المال وغَرَمه في حق الحر المقِرُّ فلست أدري له وجهاً أولاً ثم لا مشابهة في المعنى بين المسألتين؛ فإن الذي حملنا على قبول إقرار العبد في المسروق انتفاءُ التهمة لا ينقدح في توجيه القبول غيره
Menurut pendapat saya, bangunan pemikiran ini rusak, dan pembangunnya hanya bersandar pada mengikuti ungkapan semata. Adapun pendapat yang membolehkan penarikan kembali atas harta dan kewajiban membayar ganti rugi dalam hak orang merdeka yang mengakui, saya sama sekali tidak mengetahui dasarnya. Selain itu, tidak ada kesamaan makna antara kedua permasalahan tersebut; sebab alasan yang mendorong kami untuk menerima pengakuan budak dalam kasus pencurian adalah hilangnya tuduhan, dan tidak ada alasan lain yang dapat dijadikan dasar untuk menerima pengakuan tersebut.
وهذا المعنى أنَّى يتحقق في الرجوع عن الإقرار
Bagaimana mungkin makna ini dapat terwujud dalam menarik kembali pengakuan?
هذا تفصيل المذهب في إقرار العبد بالسرقة أتينا به مقدمةً لإقراره بما يوجب القصاصَ على قولنا إن موجَبَ العمد القودُ أو المالُ أحدُهما لا بعينه ثم يعفو المقَر له وقد عاد بنا الكلام إلى بيان هذا
Ini adalah perincian mazhab mengenai pengakuan budak atas pencurian. Kami sampaikan hal ini sebagai pendahuluan untuk pembahasan tentang pengakuannya atas sesuatu yang mewajibkan qishāsh, menurut pendapat kami bahwa akibat dari pembunuhan sengaja adalah qishāsh atau diyat, salah satunya saja, bukan keduanya sekaligus. Kemudian orang yang diakui kepadanya memaafkan, dan kini pembahasan kembali kepada penjelasan tentang hal ini.
وقد اختلف أصحابنا فيه فمنهم من قال في ثبوت المال في هذه الصورة تفريعاً على هذا القول قولان مرتبان على القولين في قبول إقرار العبد في إتلاف المسروق فإن حكمنا بقبول إقراره ثَمَّ فلأن نحكم بقبوله في المال في مسألتنا أولى
Para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa dalam penetapan harta pada kasus ini, terdapat dua pendapat yang dibangun berdasarkan pendapat tentang diterimanya pengakuan budak dalam hal merusak barang curian. Jika kita memutuskan untuk menerima pengakuannya di sana, maka menerima pengakuannya terkait harta dalam masalah kita ini lebih utama.
وإن حكمنا بأن المال لا يثبت متعلِّقاً بالرقبة في الإقرار بالسرقة ففي ثبوت المال حيث انتهينا إليه قولان والفارق أن المقَرَّ به في مسألتنا شيءٌ واحد وهو القتل ثم ينقسم القول في بدله والمقَرُّ به في السرقة على حكم المتميز؛ فإنه اعترف بحق مالي وكبيرةٍ موجبةٍ للعقوبة هذا مسلك
Jika kita memutuskan bahwa harta tidak tetap terkait dengan leher (jiwa) dalam pengakuan pencurian, maka dalam penetapan harta ketika kita sampai padanya terdapat dua pendapat. Perbedaannya adalah bahwa yang diakui dalam permasalahan kita ini adalah satu hal saja, yaitu pembunuhan, kemudian pendapat terbagi dalam penggantinya. Sedangkan yang diakui dalam pencurian berdasarkan hukum sesuatu yang terpisah; karena ia mengakui hak harta dan dosa besar yang mewajibkan hukuman. Inilah jalannya.
ورأى بعضُ الأصحاب أن يرتب على العكس ويجعلَ المال في مسألة السرقة أوْلى بالثبوت؛ من جهة أن المواطأة ممكنة في صورة القصاص مع المقَرّ له ثم إذا فرض العفوُ فلا عقوبةَ والسرقة إذا ثبتت موجبةً للقطع تعين استيفاء القطع لله تعالى فكأنَّ صورةَ السرقة أبعدُ عن التهمة وإذا كنا نُدير قبولَ الإقرار على انتفاء التهمة فليقع الترجيح في منازِل الترتيب بما هو معتمد الباب
Sebagian ulama berpendapat bahwa urutannya sebaliknya, yaitu harta dalam kasus pencurian lebih utama untuk ditetapkan; dari sisi bahwa adanya kesepakatan (muwāṭa’ah) mungkin terjadi dalam kasus qishāsh bersama orang yang diakui haknya, kemudian jika dimaafkan maka tidak ada hukuman, sedangkan pencurian jika telah terbukti dan mewajibkan pemotongan tangan, maka pelaksanaan pemotongan itu menjadi ketetapan untuk Allah Ta’ala. Maka seolah-olah kasus pencurian lebih jauh dari tuduhan (adanya rekayasa). Dan jika kita menjadikan diterimanya pengakuan bergantung pada hilangnya tuduhan, maka hendaknya pertimbangan dalam urutan penetapan didasarkan pada hal yang menjadi sandaran utama dalam bab ini.
هذا تمام البيان في ذلك
Inilah penjelasan lengkap mengenai hal itu.
وكان شيخي أبو محمد لا يُعرِي قولَنا موجَبُه القود المحضُ عن تصرّف ويقول إن قلنا العفو المطلق على هذا القول لا يوجب المال فلا يتجه إلا القطعُ بثبوت المال وإن قلنا العفو المطلق يثبت المال فكأناْ لا نمحّض القودَ على هذا القول موجَباً ونجعل للمال مدخلاً وإذا كان كذلك تطرق الاحتمال والعلم عند الله تعالى
Dan guruku, Abu Muhammad, tidak membiarkan pendapat kami bahwa konsekuensinya adalah qishāsh murni tanpa adanya penafsiran, dan beliau berkata: Jika kita berpendapat bahwa pemaafan mutlak menurut pendapat ini tidak mewajibkan pembayaran diyat, maka tidak ada kemungkinan lain kecuali memastikan adanya kewajiban membayar diyat. Namun jika kita berpendapat bahwa pemaafan mutlak menetapkan kewajiban membayar diyat, maka seakan-akan kita tidak menjadikan qishāsh sebagai satu-satunya konsekuensi pada pendapat ini, dan kita memberikan peluang bagi diyat untuk masuk. Jika demikian, maka muncul kemungkinan (hukum) lain, dan ilmu yang pasti hanya ada pada Allah Ta‘ala.
هذا منتهى الكلام في إقرار العبد بالعقوبة
Ini adalah akhir pembahasan mengenai pengakuan seorang budak atas hukuman.
فأما إقراره بالمال ففيما لو ثبت لتعلق بالرقبة فمردود لا شك فيه لاعتراضه على ملك المولى واشتماله على التهمة
Adapun pengakuannya terhadap harta, maka jika hal itu terbukti berkaitan dengan dirinya (budak), maka pengakuan tersebut tertolak tanpa keraguan karena bertentangan dengan hak milik tuannya dan mengandung unsur tuduhan.
ولو أقر بما لو ثبت لأوجب مالاً في ذمته نفذ الإقرار ولا أثر له في الحال ما اطّرد الرق ولكن إذا عَتَق اتُّبِع وليس إقراره في هذا كإقرار المبذّر؛ فإنه لو أقر في اطراد الحجر عليه ورددنا إقراره فلو انطلق الحجر عنه لم يؤاخذ بإقراره السابق والسبب فيه أن العبد محجور عليه لحق مولاه فإذا أقرّ بممكنٍ فإن لم ينفذه في الحال طالبناه به إذا زال حقُّ الموْلى والمبذّرُ رُدَّ إقراره رعاية لحقه
Jika seseorang mengakui sesuatu yang jika terbukti akan mewajibkan adanya harta dalam tanggungannya, maka pengakuan itu sah namun tidak berpengaruh selama status budaknya masih tetap. Namun, jika ia dimerdekakan, maka pengakuan itu diikuti. Pengakuannya dalam hal ini tidak seperti pengakuan orang yang mubazir (mubazzir); sebab jika ia mengakui sesuatu selama status hajr (pembatasan hak) masih berlaku atasnya dan kita menolak pengakuannya, lalu jika hajr itu dicabut darinya, maka ia tidak dibebani dengan pengakuan sebelumnya. Sebabnya adalah bahwa budak itu dibatasi haknya demi kepentingan tuannya, sehingga jika ia mengakui sesuatu yang mungkin, dan tidak dilaksanakan saat itu juga, maka kita akan menuntutnya setelah hak tuannya hilang. Sedangkan pengakuan orang yang mubazzir ditolak demi menjaga haknya sendiri.
وحقّه مرعيٌّ بعد انطلاق الحجر عنه نعم لو جدّد إقراراً بعد انطلاق الحجر كان مؤاخذاً به
Haknya tetap diperhatikan setelah larangan (hajr) dicabut darinya. Namun, jika ia memperbarui pengakuan setelah larangan (hajr) dicabut, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pengakuan tersebut.
وإنما يظهر أثر الفرقِ إذا أنكر العبدُ بعد إعتاقه ما أقرّ به وأنكر المبذر بعد الرشد ما كان أقرّ به فإذ ذاك يفرَّق بينهما فيؤاخذُ العتيق ولا يؤاخذ الرشيد بعد السفه
Perbedaan itu baru tampak pengaruhnya apabila seorang hamba setelah dimerdekakan mengingkari apa yang telah ia akui sebelumnya, dan seorang yang boros setelah mencapai kedewasaan mengingkari apa yang pernah ia akui. Pada saat itulah dibedakan antara keduanya: maka bekas budak tetap dimintai pertanggungjawaban, sedangkan orang yang telah dewasa tidak dimintai pertanggungjawaban atas pengakuannya ketika masih dalam keadaan boros.
وإن قيل بينوا ما يلزم ذمةَ العبد قلنا كل ما يعترف به من ديون المعاملات ويدّعي فيه إذْنَ المولى فهو متعلِّق بذمته
Jika dikatakan, “Jelaskan apa saja yang menjadi tanggungan seorang hamba,” maka kami katakan: Segala sesuatu yang diakuinya berupa utang-utang dari transaksi dan ia mengklaim adanya izin dari tuannya, maka itu menjadi tanggungannya.
فإن رددنا إقرار العبد في كسبه فهو مقبول في التعلّق بالذمّة وقد يقرّ بشيءٍ لا تعلّق له بالكسب أصلاً وذلك إذا قال اشتريت شيئاً بغير إذْن السيد والتفريع على أنه لا يصح شراؤه فالثمن لا يلزمه مع الحكم بفساد العقد ولكنه لو قال أتلفتُ ما اشتريته فالقيمةُ المعترف بها لا تتعلق برقبته لو ثبت ما قال؛ فإن مالك المال سلّطه على إتلافه وإنما يتعلق برقبة العبد ما يُتلفه من غير إذن المولى وهذا من البيّنات التي لا تشكل على الفقيه
Jika kita menolak pengakuan seorang budak dalam hal hasil usahanya, maka pengakuannya tetap diterima dalam kaitannya dengan tanggungan (dzimmah), dan terkadang ia mengakui sesuatu yang sama sekali tidak berkaitan dengan hasil usaha, yaitu apabila ia berkata, “Aku membeli sesuatu tanpa izin tuan,” dan berdasarkan pendapat bahwa pembeliannya tidak sah, maka harga barang tersebut tidak menjadi tanggungannya meskipun akadnya dinyatakan batal. Namun, jika ia berkata, “Aku telah merusak barang yang aku beli,” maka nilai barang yang diakuinya tidak berkaitan dengan dirinya (sebagai budak) jika apa yang ia katakan terbukti; karena pemilik barang telah memberinya wewenang untuk merusaknya. Adapun yang berkaitan dengan diri budak adalah apa yang ia rusak tanpa izin tuannya, dan hal ini termasuk bukti yang jelas dan tidak membingungkan bagi seorang faqih.
Bab Jual Beli Anjing dan Selainnya
صح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن ثمن الكلب ومهر البغي وحُلوَان الكاهن أما مهر البغي فأجرة الزانية وحلوان الكاهن ما يأخذه الكاهن على تغريرهِ بالكَهانةِ؛ فمذهبنا أن الكلب ليسَ بمالٍ ولا يجوز بيعه وليس على متلفه قيمة لصاحبه ولا يُنكر اختصاص صاحبه به كما سنفصله الآن
Telah sahih bahwa Rasulullah saw. melarang harga anjing, upah pezina, dan bayaran dukun. Adapun upah pezina adalah bayaran bagi perempuan yang berzina, dan bayaran dukun adalah apa yang diambil dukun atas penipuannya dengan perdukunan. Maka, menurut mazhab kami, anjing bukanlah harta dan tidak boleh diperjualbelikan, serta tidak ada kewajiban mengganti nilainya bagi orang yang merusaknya kepada pemiliknya, namun tidak diingkari hak khusus pemilik atasnya sebagaimana akan kami jelaskan sekarang.
والوصية بالكلاب جَائزة ومعناهَا تنزيل الموصَى لهُ في الاختصاصِ بالكلب منزلةَ الموصي وعلى هذه القاعدة يخلُف الورثة في الكلاب موروثَهم وإذا لم يخلف إلا الكلابَ ففي اعتبار خروج الوصيةِ والنظر إلى الثلث كلامٌ يأتي في كتابِ الوصايا إن شاء الله عز وجل
Wasiat mengenai anjing adalah diperbolehkan, yang maksudnya adalah menempatkan penerima wasiat dalam hak khusus atas anjing tersebut seperti kedudukan orang yang berwasiat. Berdasarkan kaidah ini, para ahli waris menggantikan pewaris dalam kepemilikan anjing-anjing yang diwariskan. Jika yang diwariskan hanya anjing-anjing saja, maka mengenai apakah wasiat tersebut dianggap keluar dari harta warisan dan apakah harus dilihat pada sepertiga harta, terdapat pembahasan yang akan dijelaskan dalam Kitab Wasiat, insya Allah ‘Azza wa Jalla.
وأما هبةُ الكلابِ فقد ذَكر العراقيون والشيخ أبو علي وجهين فيها أحدهما أنها تصح صحةَ الوصية والثاني لا تصح؛ فإن الهبة مقتضاها التمليك والكلبُ ليس ملكاً؛ وتصح الوصيةُ بالحمل وما سيكون ولا تصح الهبة على هذا الوجه واختار الأئمة فسادَ الهبة وقضى القاضي بصحتها وهذا زلل
Adapun hibah anjing, para ulama Irak dan Syekh Abu Ali menyebutkan dua pendapat mengenainya: salah satunya adalah hibah tersebut sah seperti wasiat, dan yang kedua tidak sah; karena hibah mengandung makna kepemilikan, sedangkan anjing bukanlah milik; dan wasiat sah untuk janin dan sesuatu yang akan ada, sedangkan hibah tidak sah menurut pendapat ini. Para imam memilih pendapat rusaknya hibah tersebut, namun qadhi memutuskan keabsahannya, dan ini adalah kekeliruan.
وإذا أبطلنا الهبة ألغيناها والواهب على اختصاصه بالكلب
Jika kami membatalkan hibah, maka hibah itu menjadi tidak berlaku dan pemberi hibah tetap memiliki hak khusus atas anjing tersebut.
واختلف الأصحابُ في إجارة الكلبِ فصححها بعضهم؛ تعويلاً على منافعها ومنعها بعضهم؛ تحقيقاً للبعد من التعامل عليها ولا يتجه عندنا بناء الوجهين على الخلاف في أن المعقود عليه المنفعةُ أم الأعيانُ حتى نقول إذا جعلنا المعقود عليه العينَ منعنا الإجارة وإن جعلنا المعقود عليه المنفعةَ أجزناها؛ فإن هذا يبطل بإجارة الحر والمعنى فيه أن الممتنع تقدير الملك في عين الكلب ومن يعتقد أن المعقود عليه في الإجارة العينُ لا يرى أن الملك ينتقل فيها
Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehan menyewakan anjing. Sebagian mereka membolehkannya, dengan dasar adanya manfaat-manfaat dari anjing, sementara sebagian yang lain melarangnya, demi menjaga jarak dari praktik transaksi atas anjing. Menurut kami, tidak tepat membangun dua pendapat ini atas perbedaan apakah objek akad adalah manfaat atau benda itu sendiri, sehingga dikatakan: jika objek akad adalah benda, maka penyewaan dilarang; jika objek akad adalah manfaat, maka dibolehkan. Sebab, alasan ini gugur dengan adanya penyewaan terhadap orang merdeka, dan maksudnya adalah bahwa yang terlarang adalah memperkirakan kepemilikan atas benda anjing itu sendiri. Adapun orang yang berpendapat bahwa objek akad dalam ijarah adalah benda, ia tidak memandang bahwa kepemilikan berpindah dalam akad tersebut.
ومن غصب كلباً يجوز اقتناؤه استُرِد منه ثم إن كان انتفع به فهل يلزمه أجرةُ المثل ذَكر الأصحاب وجهين في ذلك وهذا ينطبق على الخلاف في إجارة الكلبِ
Barang siapa yang merampas anjing yang boleh dipelihara, maka anjing itu diambil kembali darinya. Kemudian, jika ia telah memanfaatkannya, apakah ia wajib membayar sewa sesuai harga pasaran? Para ulama menyebutkan dua pendapat dalam hal ini, dan hal ini sesuai dengan perbedaan pendapat dalam masalah ijarah (sewa-menyewa) anjing.
والذي أراه تصحيحُ الإجارة وإن لم نصححها فالأوجه عندي إثبات أجرة المثل؛ فإنها منافع مقصودة تطلب بأموالٍ فإن امتنعت الإجارة لتغليظٍ سببه المنع من التعامل على الكلاب فلا وجه لتعطيلِ منفعته
Menurut pendapat saya, akad ijarah (sewa-menyewa) tersebut sah. Namun, jika kita tidak mengesahkannya, maka pendapat yang lebih kuat menurut saya adalah menetapkan upah sewa yang sepadan (ujrah al-mitsl); karena manfaat tersebut adalah manfaat yang diinginkan dan dicari dengan harta. Jika akad ijarah dilarang karena adanya larangan bertransaksi dengan anjing, maka tidak ada alasan untuk meniadakan manfaatnya.
ولو اصطاد الغاصب بالكلب المغصوب ففي ذلك الصيد وجهان أحدهما أنه للغاصبِ الصائد وهو الأَصح كما لو غصب شبكة واصطاد بها
Jika seorang yang merampas berburu dengan anjing rampasan, maka dalam hasil buruan itu terdapat dua pendapat. Pendapat pertama, hasil buruan itu milik perampas yang berburu, dan ini adalah pendapat yang lebih sahih, sebagaimana jika seseorang merampas jaring lalu berburu dengannya.
والثاني أنه لصاحب الكلب؛ فإنَّ الكلبَ له اختيارٌ وهو كالعبدِ المغصوبِ يحتش أو يحتطب في يد الغاصبِ وهذا ضعيف؛ فإنَّ التعويل في تحليلِ الصَّيد على اختيارِ المرسل وإذا ظهر اختيارُ الكلب حرم الصيد الذي يقتله
Kedua, bahwa hasil buruan itu menjadi milik pemilik anjing; karena anjing memiliki kehendak sendiri dan posisinya seperti budak yang digasak, yang mengumpulkan rumput atau kayu bakar di tangan penggasak. Namun, pendapat ini lemah; sebab yang dijadikan dasar dalam menghalalkan hasil buruan adalah kehendak orang yang melepaskan (anjing), dan jika tampak adanya kehendak dari anjing, maka hasil buruan yang dibunuhnya menjadi haram.
ثم فرع الأئمة على الوجه الضعيف وقصدوا التنبيه على أصول
Kemudian para imam membuat cabang hukum berdasarkan pendapat yang lemah dan bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang pokok-pokok dasar.
فقالوا إذا قلنا الصّيد للمغصوب منه فالغاصب يرد الصيد عليه ويغرم له أجرةَ مثل الكلب على وجهٍ؛ فإن المنفعةَ وإن صرفها إلى تحصيل فائدة وهي للمغصوب منه فالغاصب في المنفعة متصرفٌ بعُدوان وضربوا لذلك مثالين أحدهما أن من غصب بذْراً وأرضاً فزرع الأرض المغصوبة بالبذر المغصوب من صاحب الأرض فالزرع للمالك؛ لأنه تولّد من عين ماله وعلى الغاصب مثل ذلك البذر؛ فإن ما تعفن في الأرض كان في حكم الفاسد وما نبت خلق جديد ويجب عليه أيضاً أجر مثل الأرض؛ وإن صَرَف منفعتها إلى فائدة مالكها والثاني أن من غصب بيضة فأحضنها دجاجةً وخرج الفرخُ فالفرخ للمالك وعلى الغاصب قيمة البيضةِ؛ فإنها تفسد وتصير مذرة والفرخ نشوء جديد وسنستقصي ذلك في كتاب الغصب إن شاء الله تعالى
Mereka berkata: Jika kami katakan hasil buruan itu milik orang yang dirampas darinya, maka perampas harus mengembalikan hasil buruan tersebut kepadanya dan membayar upah sewa anjing yang sepadan dalam satu sisi; karena manfaatnya, meskipun diarahkan untuk memperoleh suatu keuntungan, tetap menjadi milik orang yang dirampas darinya. Maka perampas dalam hal manfaat tersebut bertindak secara zalim. Mereka memberikan dua contoh untuk hal ini. Pertama, jika seseorang merampas benih dan tanah, lalu menanam tanah yang dirampas itu dengan benih yang juga dirampas dari pemilik tanah, maka tanaman itu milik pemilik tanah; karena tanaman itu tumbuh dari harta miliknya. Dan atas perampas wajib mengganti benih tersebut; karena benih yang membusuk di tanah dianggap rusak, sedangkan yang tumbuh adalah ciptaan baru. Ia juga wajib membayar upah sewa tanah, meskipun manfaatnya diarahkan untuk keuntungan pemiliknya. Kedua, jika seseorang merampas telur lalu menetaskannya dengan seekor ayam hingga menetas menjadi anak ayam, maka anak ayam itu milik pemilik telur, dan atas perampas wajib membayar nilai telur tersebut; karena telur itu rusak dan berubah menjadi cairan, sedangkan anak ayam adalah ciptaan baru. Kami akan membahas hal ini secara rinci dalam Kitab Ghashab, insya Allah Ta‘ala.
فصل
Bab
قال النبي صلى الله عليه وسلم من اقتنى كلباً إلا كلبَ مَاشِية أو ضَارياً نقص من أجره كل يوم قيراطان وفي بعض الألفاظ أو كلب زرع فنهى الرسول عليه السلام عن الاقتناء وأجمع الأصحاب على أنه نهي تحريم واستثنى من النهي الكلبَ الضّاريَ وهو الصيود وكلب الماشية وهي التي تحرس النَّعم وكلبَ الزرع وهي التي تحرس المزارع في أيام الحصدِ والدياسة والتنقية؛ فمن اقتنى كلباً إعجابا بصورته فهو مرتكبُ محرّمٍ وإذا اقتناه وهو منتفع به بالجهات الثلاثة التي استثناها النبي صلى الله عليه وسلم فلا بأس
Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa memelihara anjing, kecuali anjing penjaga ternak atau anjing pemburu, maka pahalanya akan berkurang setiap hari sebanyak dua qirath.” Dalam beberapa riwayat disebutkan: “atau anjing penjaga tanaman.” Maka Rasulullah saw. melarang memelihara anjing, dan para sahabat sepakat bahwa larangan tersebut adalah larangan tahrim (pengharaman). Dikecualikan dari larangan itu adalah anjing pemburu, yaitu anjing yang digunakan untuk berburu; anjing penjaga ternak, yaitu yang menjaga hewan ternak; dan anjing penjaga tanaman, yaitu yang menjaga ladang pada masa panen, pengirikan, dan pembersihan. Maka barang siapa memelihara anjing karena kagum pada bentuknya, ia telah melakukan sesuatu yang diharamkan. Namun jika ia memeliharanya untuk mengambil manfaat dari tiga hal yang dikecualikan oleh Nabi saw., maka tidak mengapa.
ولو اقتنى كلب الحراسة للدروب والدور فقد ذكر العراقيون وجهين أحدهما أنه لا يجوز ذلك؛ فإن النبي صلى الله عليه وسلم لم يستثن إلا ما تقدم ذكره فيجب الاقتصارُ عليه وطَرْدُ الحظر فيما سواه والثاني يجوز؛ فإن الحراسة في معنى الحراسة وهذا قريب ممّا يقال فيه إنه في معنى الأصل
Jika seseorang memelihara anjing penjaga untuk jalan-jalan dan rumah-rumah, para ulama Irak menyebutkan dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa hal itu tidak diperbolehkan, karena Nabi ﷺ hanya mengecualikan apa yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga harus dibatasi pada hal itu saja dan larangan berlaku untuk selainnya. Pendapat kedua membolehkan, karena penjagaan di sini termasuk dalam makna penjagaan yang dimaksud, dan ini mirip dengan apa yang dikatakan sebagai sesuatu yang termasuk dalam makna asal.
ومن اقتنى جَرْوَ كلبٍ صَيُودٍ حتى إذا استقل صاد ففي تحريم اقتنائه جرواً وجهان ذكرهما العراقيون أحدهما يجوز؛ فإنه كلب صيدٍ وإذا أبحنا اقتناء كلب الصيد لم نشترط في الإباحةِ إدامةَ الاصطياد به
Barang siapa memelihara anak anjing pemburu hingga ketika ia sudah mandiri dapat berburu, maka mengenai hukum haramnya memelihara anak anjing tersebut terdapat dua pendapat yang disebutkan oleh para ulama Irak. Pendapat pertama, diperbolehkan; karena ia adalah anjing pemburu, dan apabila kita membolehkan memelihara anjing pemburu, kita tidak mensyaratkan dalam kebolehannya harus terus-menerus digunakan untuk berburu.
ومن أصحابنا من قال لا يحل اقتناء الجرو؛ فإنه ليس ضارياً في الحال والاقتناء في فحوى الحديث مسوغ لحاجةٍ حاقَّةٍ تقرب من الضرورة فأما الاقتناء لتوقع منفعة فبعيد
Sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa tidak halal memelihara anak anjing; karena ia belum terlatih untuk berburu pada saat itu, dan memelihara anjing dalam makna hadits hanya dibolehkan karena kebutuhan yang mendesak yang hampir mencapai tingkat darurat. Adapun memeliharanya hanya karena mengharapkan manfaat di masa depan, maka itu jauh dari dibenarkan.
ومن اقتنى كلب صيدٍ وكان لا يعتاد الاصطياد ففي تحريم الاقتناء وجهان أيضاً ذكروهما
Dan barang siapa memelihara anjing pemburu, namun anjing tersebut tidak terbiasa digunakan untuk berburu, maka dalam hal keharaman memeliharanya terdapat dua pendapat yang juga disebutkan oleh para ulama.
والتوجيه بين
Dan pengarahan di antara
فإن قيل الاختلاف في هذه الصورة مستند إلى احتمال إلا ما ذكرتموه في الاقتناء لحراسة الدروب والحراسة كالحراسة فما وجه المنع؛ قلنا وجهه أن النبي صلى الله عليه وسلم قسم الكلاب ولو جاز الاقتناء لحراسة الدروب لعمّ جوازُ الاقتناء؛ فإن كل كلب نباح في موضعه وهو معنى حراسة الدروب وكلبُ الصيد والماشية والزرع يحرس في مضايع ولا يستقل بهذا إلا كلبٌ له اختصاصٌ عن الكلاب ويمكن أن يقال لو اقتنيت في الدروب وكثرت أجراؤها وأنست خالطت وانبثت نجاساتُها وليس كذلك كلاب الصحارى
Jika dikatakan bahwa perbedaan pendapat dalam kasus ini didasarkan pada kemungkinan selain apa yang telah kalian sebutkan mengenai memelihara anjing untuk menjaga jalan-jalan, dan penjagaan itu sama dengan penjagaan lainnya, lalu apa alasan pelarangannya? Kami katakan, alasannya adalah bahwa Nabi ﷺ telah membagi (jenis-jenis) anjing. Jika dibolehkan memelihara anjing untuk menjaga jalan-jalan, maka akan umumlah kebolehan memelihara anjing; sebab setiap anjing yang suka menggonggong di tempatnya berarti menjaga jalan-jalan. Sementara anjing pemburu, penjaga ternak, dan penjaga tanaman menjaga di tempat-tempat tertentu dan tidak bisa melakukan hal itu kecuali anjing yang memiliki kekhususan dibandingkan anjing-anjing lain. Bisa juga dikatakan, jika anjing-anjing dipelihara di jalan-jalan, jumlahnya akan banyak, mereka akan terbiasa dengan manusia, bercampur, dan najisnya akan tersebar, berbeda dengan anjing-anjing di padang pasir.
فإن قيل فما قولكم في قتل الكلاب قلنا أما ما ينتفع به منها ولا ضرار من جهتها فلا يجوز قتلها وأما العقور؛ فإنه يقتل دفعاً لضراوته وقد نص رسول الله صلى الله عليه وسلم على قتل الكلب العقور وعدّه من الفواسق اللاتي يقتلن في الحل والحرم وكل كلبٍ عقورٌ إذا اضطر إليه دفعاً عن نفسه والذي عنيناه الذي يضرى بالشر طبعاً وأما الكَلِب فلا يتمهل في قتله؛ فإن شره عظيم
Jika ditanyakan, “Lalu apa pendapat kalian tentang membunuh anjing?” Kami katakan: Adapun anjing yang bermanfaat dan tidak menimbulkan bahaya, maka tidak boleh dibunuh. Adapun anjing yang ganas, maka boleh dibunuh untuk mencegah bahayanya. Rasulullah ﷺ telah menegaskan tentang pembunuhan anjing ganas dan memasukkannya ke dalam golongan hewan fasik yang boleh dibunuh baik di tanah halal maupun haram. Setiap anjing ganas, jika terpaksa dibunuh untuk melindungi diri, maka itu diperbolehkan. Yang kami maksud adalah anjing yang memang tabiatnya cenderung pada keburukan. Adapun anjing gila, maka tidak perlu menunda-nunda untuk membunuhnya, karena bahayanya sangat besar.
والكلب الذي لا منفعة له ولا ضرار منه لا يجوز قتله وقد ذكرنا طرفاً من ذلك مقنعاً في باب الصيود من المناسِك عند ذكرنا الفواسق وقد صح أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بقتل الكلاب مرة ثم صح أنه نهى عن قتلها واستقر عليه على التفصيل الذي ذكرناه وأمر بقتل الكلب الأسود البهيم وهذا كان في الابتداء وهو الآن منسوخ
Anjing yang tidak memiliki manfaat dan tidak pula menimbulkan bahaya, tidak boleh dibunuh. Kami telah menyebutkan sebagian penjelasan yang cukup tentang hal ini dalam bab perburuan dari manāsik ketika membahas tentang hewan-hewan fasik. Telah sahih bahwa Nabi ﷺ pernah memerintahkan untuk membunuh anjing pada suatu waktu, kemudian juga sahih bahwa beliau melarang membunuhnya, dan hukum tersebut telah tetap sebagaimana perincian yang telah kami sebutkan. Nabi juga memerintahkan untuk membunuh anjing hitam legam, dan ini adalah pada permulaan, namun sekarang hukumnya telah mansukh (dihapuskan).
فصل
Bab
يَجْمع تفصيْل القَوْلِ فيمَا يَجُوزُ بَيْعُهُ مِنَ الحَيَوانَاتِ
Penjelasan rinci mengenai apa saja hewan yang boleh diperjualbelikan.
أما الآدمي فلا يخفى تقسيمه إلى الحر والرقيق
Adapun manusia, maka tidak tersembunyi pembagiannya menjadi orang merdeka dan budak.
وما عداه ينقسم إلى ما لا ينتفع به حياً وميتاً وإلى ما ينتفع به حياً وإلى ما لا ينتفع به حياً وينتفع ببعض أجزائه إذا مات أو قتل وينبغي أن يستثنى منها الحيوان النجس العين وهو الكلب والخنزير والمتولد منهما ومن أحدهما فكل ما كان نجساً لا يجوز بيعه والتقسيم وراء ذلك
Selain itu, terbagi menjadi apa yang tidak dapat diambil manfaatnya baik ketika hidup maupun setelah mati, apa yang dapat diambil manfaatnya ketika hidup, dan apa yang tidak dapat diambil manfaatnya ketika hidup namun dapat diambil manfaat dari sebagian bagiannya jika telah mati atau dibunuh. Hendaknya dikecualikan dari hal tersebut hewan yang najis ‘ain-nya, yaitu anjing, babi, dan hasil persilangan keduanya atau salah satunya. Maka segala sesuatu yang najis tidak boleh diperjualbelikan, dan pembagian setelah itu masih ada lagi.
فما ينتفع به حيّاً كالفهد والهرّ فيجوز بيعه وفاقاً ومنها الطيور الضارية
Apa yang dapat diambil manfaatnya ketika masih hidup, seperti cheetah dan kucing, maka boleh diperjualbelikan menurut kesepakatan, demikian pula burung-burung pemangsa.
وأما ما لا ينتفع به حياً وميتاً فلا يجوز بيعه وأخذ المال في بيع شيء منها من أكل المال بالباطل ومن هذه الجملة حشرات الأرض
Adapun sesuatu yang tidak dapat diambil manfaatnya baik ketika masih hidup maupun setelah mati, maka tidak boleh diperjualbelikan dan mengambil uang dari penjualan sesuatu semacam itu termasuk memakan harta dengan cara yang batil. Termasuk dalam kategori ini adalah serangga-serangga tanah.
ودودُ القز منتفع به وكذلك نحل العسل وتردد القاضي في العَلَق فألحقها في جوابٍ بالديدان ومال في جواب إلى جواز بيعها لما فيها من منفعة مص الدم عند مسيس الحاجة إليه في بعض الأطراف
Ulat sutra dapat diambil manfaatnya, demikian pula lebah madu. Qadhi (hakim) berselisih pendapat mengenai lintah; dalam satu jawaban beliau mengqiyaskan dengan cacing, namun dalam jawaban lain beliau cenderung membolehkan penjualannya karena ada manfaat mengisap darah ketika sangat dibutuhkan pada sebagian anggota tubuh.
وتردد الأئمة في مثل حمار زمِنٍ لا حراك به ولا منفعة له فحرم بعضهم البيع لسقوط المنفعة وأجاز آخرون البيعَ نظراً إلى الجنس وقيل أيضاً يجوز بيعه لمكان جلده بعد الموت وهذا المعنى فيه بعض الضعف؛ فإن المنفعة النّاجزة أولى بالاعتبار من توقع أمرٍ سيكون ولو بني البيع على التوقع لصح بيع جلد الميتة قبل الدباغ
Para imam berbeda pendapat dalam masalah seperti keledai yang lumpuh total, tidak bisa bergerak dan tidak ada manfaatnya. Sebagian mereka mengharamkan penjualannya karena manfaatnya telah hilang, sementara yang lain membolehkan penjualannya dengan mempertimbangkan jenisnya. Ada juga yang berpendapat bahwa penjualannya boleh karena kulitnya dapat dimanfaatkan setelah mati, namun pendapat ini mengandung kelemahan; sebab manfaat yang nyata dan langsung lebih utama untuk dipertimbangkan daripada sekadar mengharapkan sesuatu yang belum terjadi. Jika penjualan didasarkan pada harapan semacam itu, maka seharusnya sah pula menjual kulit bangkai sebelum disamak.
فأما الأسد والذئب والنمر فلا انتفاع بها وهي حية ولا نظر إلى اقتناء الملوك إياها لإقامة السياسة والهيبة فليس ذاك منفعةً معتبرة ولا تتأتى المقابلة بها بخلاف الفِيَلة؛ فإنَّ ذلك ممكن وهي مراكب فالتحقت بما يُنتفع به أما الأُسد والنمور والذئاب فالمذهب أنه لا يجوز بيعُها وذكر القاضي وجهاً آخر أنه يجوز بيعها بناء على إمكان الانتفاع بجلودها فهي طاهرة في الحال والانتفاع متوقع ببعض الأجزاء
Adapun singa, serigala, dan macan, maka tidak ada manfaat dari hewan-hewan tersebut ketika masih hidup, dan tidak dipertimbangkan kepemilikan para raja terhadapnya untuk tujuan politik dan wibawa, karena hal itu bukanlah manfaat yang diakui dan tidak mungkin dijadikan sebagai imbalan, berbeda dengan gajah; karena hal itu memungkinkan dan gajah dapat dijadikan tunggangan sehingga termasuk dalam kategori hewan yang dapat diambil manfaatnya. Adapun singa, macan, dan serigala, maka pendapat yang masyhur adalah tidak boleh menjualnya. Namun, Qadhi menyebutkan pendapat lain bahwa boleh menjualnya dengan dasar kemungkinan mengambil manfaat dari kulitnya, karena kulitnya suci pada saat ini dan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagian bagiannya.
ولا يجوز بيع الرَّخَمة والحدأة والغراب؛ فإنه لا منفعة فيها فإن كان في أجنحة بعضها منفعة التحقت بالأُسد والذئاب والأصح منع البيع
Tidak boleh menjual burung bangkai, elang, dan gagak; karena tidak ada manfaat di dalamnya. Jika pada sebagian sayapnya terdapat manfaat, maka hukumnya disamakan dengan singa dan serigala, dan pendapat yang lebih sahih adalah larangan menjualnya.
ثم ألحق الأئمة مسائلَ بما ذكرناه في الحيوان منها بيع المعازف وآلات الملاهي فإن كانت بحيث لو كسرت الكسْر المأمور به لم يكن رُضاضها متمولاً فلا يصح بيعها وإن كانت بحيث لو كسرت الكسرَ الواجبَ لكان رُضاضها متمولاً ففي إيراد البيع عليها قبل الرض وجهان أحدهما يبطل البيع؛ نظراً إلى صفاتها في تركبها ويعتضد هذا بإطباق الناس على استنكار بيع البرابط والطنابير والثاني يصح بيعها؛ لأن جِرم الرضاض كائن فيها وهذا وإن كان قياساً فالعمل على الأول
Kemudian para imam memasukkan beberapa permasalahan ke dalam apa yang telah kami sebutkan mengenai hewan, di antaranya adalah jual beli alat musik dan alat-alat hiburan. Jika alat-alat tersebut, apabila dihancurkan sesuai perintah yang ditetapkan, pecahannya tidak bernilai harta, maka jual belinya tidak sah. Namun jika alat-alat tersebut, apabila dihancurkan sesuai kewajiban, pecahannya tetap bernilai harta, maka terdapat dua pendapat mengenai keabsahan jual belinya sebelum dihancurkan: pendapat pertama menyatakan jual belinya batal, dengan mempertimbangkan sifat-sifatnya dalam bentuk asalnya, dan pendapat ini didukung oleh kebiasaan masyarakat yang menolak jual beli alat musik seperti rabab dan tanbur; pendapat kedua menyatakan jual belinya sah, karena zat pecahan yang bernilai itu memang ada pada alat tersebut. Meskipun pendapat kedua ini berdasarkan qiyās, namun yang diamalkan adalah pendapat pertama.
فأمّا إذا باع صوراً وأشباحاً كالأصنام وغيرها وكانت متخذة من جواهر ذوات قيم كالصُّفر والنحاس وغيرها فهي مكسّرة على أربابها والأصح جواز بيعها قبل التكسير؛ فإن جواهرها مقصودة بخلاف رُضاض المعازف وذكر القاضي وجهاً آخر في منع بيعها
Adapun jika seseorang menjual gambar-gambar dan patung-patung seperti berhala dan selainnya yang terbuat dari bahan-bahan berharga seperti kuningan, tembaga, dan selainnya, maka benda-benda tersebut harus dihancurkan oleh pemiliknya. Pendapat yang lebih sahih membolehkan menjualnya sebelum dihancurkan, karena bahan dasarnya memang menjadi tujuan. Hal ini berbeda dengan serpihan alat musik. Al-Qadhi menyebutkan pendapat lain yang melarang penjualannya.
فصل
Bab
الأعيان النجسة يمتنع بيعها وإن كانت منتفعاً بها كالسِّرقين والأخثاء وأجاز أبو حنيفة بيعها ومنع بيع العَذِرَة وطرد الشافعي إفساد البيع في كل عين نجسة
Benda-benda najis tidak boleh diperjualbelikan, meskipun ada manfaatnya, seperti kotoran hewan dan kotoran manusia. Abu Hanifah membolehkan jual beli benda-benda tersebut, namun melarang jual beli kotoran manusia. Sementara itu, asy-Syafi‘i secara konsisten membatalkan jual beli pada setiap benda najis.
والثوبُ المضمخ بالنجاسة يجوز بيعه والبيع يرد على جوهرِه الطاهر
Pakaian yang terkena najis boleh dijual, dan jual beli itu berlaku atas zatnya yang suci.
والدهن إذا أصابته نجاسة ففي جواز بيعه قولان مبنيان على إمكان غسله وفي إمكان غسل الدهن قولان سبق ذكرهما في كتاب الصلاة فإن قلنا غسله ممكن فبيعه جائز وإن قلنا غسله غيرُ ممكن ففي بيعه قولان مبنيان على جواز الاستصباح بالدهن النجس والقولان في الاستصباح يجريان في ودَك الميتة وإن كان لا يجوز بيعه وإنما استعملنا الخلاف في الاستصباح في دهن طاهر الجوهر لَحِقَتْه نجاسة فإن ما كان نجس العين فبيعه ممتنعٌ وإن كان منتفعاً به والبيع فيما هو طاهر الجوهر قد يتلقى من الانتفاع
Minyak apabila terkena najis, terdapat dua pendapat mengenai kebolehan menjualnya, yang didasarkan pada kemungkinan mencucinya. Dalam hal kemungkinan mencuci minyak, terdapat dua pendapat yang telah disebutkan sebelumnya dalam Kitab Shalat. Jika kita mengatakan bahwa mencucinya mungkin, maka menjualnya diperbolehkan. Namun jika kita mengatakan bahwa mencucinya tidak mungkin, maka dalam hal menjualnya terdapat dua pendapat yang didasarkan pada kebolehan memanfaatkan minyak najis untuk penerangan, dan dua pendapat tentang pemanfaatan untuk penerangan ini juga berlaku pada lemak bangkai, meskipun menjualnya tidak diperbolehkan. Perbedaan pendapat tentang pemanfaatan untuk penerangan ini hanya digunakan pada minyak yang zat asalnya suci namun terkena najis, karena sesuatu yang najis ‘ain-nya maka penjualannya tidak diperbolehkan, meskipun masih dapat dimanfaatkan. Sedangkan penjualan sesuatu yang zat asalnya suci terkadang dipertimbangkan dari sisi kemanfaatannya.
هذا تنزيل هذه المسائل على قواعدها
Ini adalah penerapan masalah-masalah ini pada kaidah-kaidahnya.
ثم أطلق الأئمة الخلاف في جواز الاستصباح وهو مفصل عندي فلو كان السراج الذي فيه الدهن النجس بعيداً بحيث لا يَلقى دخانُه المستضيءَ بهِ؛ فلست أرى لتحريم هذا وجهاً؛ فإن الانتفاع بالنجاسات لا ينسدّ وكيف يمتنع منه مع تجويز تزبيلِ الأرض وتَدْميلها بالعَذِرة ولعل الخلاف في جواز الاستصباح ناشىء من لحوق الدخان الثائر من ذلك الدهن وفيه تفصيل نذكره
Kemudian para imam memperluas perbedaan pendapat dalam kebolehan menggunakan minyak najis untuk penerangan, dan menurut saya masalah ini terperinci. Jika lampu yang berisi minyak najis itu diletakkan jauh sehingga asapnya tidak mengenai orang yang memanfaatkan cahayanya, maka saya tidak melihat alasan untuk mengharamkannya; sebab pemanfaatan najis tidaklah tertutup sama sekali. Bagaimana mungkin hal itu dilarang, sementara membolehkan pemupukan dan menambal tanah dengan kotoran manusia? Barangkali perbedaan pendapat tentang kebolehan menggunakan minyak najis untuk penerangan itu muncul karena asap yang timbul dari minyak tersebut, dan dalam hal ini ada rincian yang akan kami sebutkan.
أمّا رماد الأعيان النجسة فالمذهب أنه نجس وفيه شيء قدمته في كتاب الصّلاة و أمّا دخان الأعيان النجسة إذا احترقت على قولنا بنجاسة الرماد فما كان يقطع به شيخي أن الدخان رماد وهو يتجمع بعد الانبثاث وذكر القاضي وجهاً أنه طاهر وإن حكمنا بنجاسة الرماد؛ فإنه يُعد بخارَ النار وهذا ركيك ومما يعتنى به أن الدهن النجس في عينه في دخانه ما ذكرناه وأمّا الدهن الذي وقعت فيه نجاسة فدخانه أجزاء الدهن وما وقع فيه ونجسه قد لا يكون مختلطاً ويظهر في هذا الدخان الحكمُ بالطهارة؛ فإن الذي خالط الدهن يتخلف قطعاً والذي ثار محضُ أجزاء الدهن والتردد في الاستصباح يجوز أن يكون مأخوذاً من نجاسة الدخان؛ فإنه يثبت في البيوت ويلحق الثياب وقد لا يحسّ بأوائل لحوقه حتى يحترزَ منه
Adapun abu dari benda-benda najis, menurut mazhab hukumnya najis, dan ada penjelasan yang telah saya sampaikan dalam Kitab Shalat. Adapun asap dari benda-benda najis jika terbakar, menurut pendapat kami tentang kenajisan abu, guru saya menegaskan bahwa asap itu adalah abu yang berkumpul setelah tersebar. Qadhi menyebutkan satu pendapat bahwa asap itu suci meskipun kita menghukumi abu sebagai najis, karena asap dianggap sebagai uap api, namun pendapat ini lemah. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa minyak yang najis pada zatnya, asapnya sebagaimana yang telah kami sebutkan. Adapun minyak yang terkena najis, asapnya adalah bagian dari minyak dan apa yang ada di dalamnya, dan najisnya mungkin tidak tercampur. Dalam kasus asap ini, tampak bahwa hukumnya suci, karena najis yang bercampur dengan minyak pasti tertinggal, sedangkan yang terbang adalah murni bagian dari minyak. Keraguan dalam menggunakan asap untuk penerangan mungkin diambil dari kenajisan asap, karena asap itu menempel di rumah dan pakaian, dan kadang-kadang tidak terasa pada awal menempelnya sehingga perlu diwaspadai.
ولا يمتنع على بعدٍ أن يطرد الخلاف في الاستصباح وإن بعد السراج فإن هذا ممارسةُ نجاسة مع الاستغناء عنها وليس كذلك التزبيل؛ فإنه لا يسد مسده شيء فكان ذلك في حكم الضرورة ويقرب من هذا جواز اقتناء الكلب الضّاري؛ فإن الحاجة ماسّة ولا يسد مسد الكلب في ظهور منفعته وخفة مؤنته شيء
Tidak mustahil, meskipun agak jauh, bahwa perbedaan pendapat juga berlaku dalam masalah menggunakan cahaya lampu, meskipun lampu itu jauh, karena ini merupakan bentuk memanfaatkan najis padahal bisa dihindari. Tidak demikian halnya dengan penggunaan pupuk kandang, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat menggantikannya, sehingga hal itu termasuk dalam kategori darurat. Hal yang serupa adalah diperbolehkannya memelihara anjing pemburu, karena kebutuhan terhadapnya sangat mendesak dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menggantikan manfaat dan ringannya biaya pemeliharaan anjing tersebut.
فصل
Bab
أكثر أئمتنا ذِكْرَ المالية وأجرَوْا في أثناء الكلام ما يتموّل وما لا يتمول ورأَوْا ذلك قاعدةً متبعة في تصحيح البيع ونفيه ونحن نفصل القول في هذا على إيجاز وبيانٍ إن شاء الله تعالى
Kebanyakan imam kami banyak menyebut tentang aspek mal (harta) dan membahas dalam penjelasan mereka mengenai sesuatu yang dapat dianggap sebagai harta (mutamawwal) dan yang tidak dapat dianggap sebagai harta, serta mereka memandang hal itu sebagai kaidah yang diikuti dalam menetapkan sah atau tidaknya jual beli. Kami akan menjelaskan hal ini secara ringkas dan jelas, insya Allah Ta‘ala.
فممّا يسميه الفقيه غيرَ متمول ما لا يقبل البيع في جنسهِ وهو ينقسم إلى نجسٍ وإلى محترم أما الأعيان النجسة قد سبق القول فيها وأمّا المحترم الذي لا يتمول كالحرّ وما يحرز بالشرع كبقعة الكعبة أو حرز كالبقاع التي اتخذت مساجد
Di antara hal yang oleh seorang faqih disebut sebagai “bukan harta” adalah sesuatu yang tidak dapat dijual menurut jenisnya. Hal ini terbagi menjadi najis dan yang terhormat. Adapun benda-benda najis telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan yang terhormat namun tidak dapat dijadikan harta, seperti manusia merdeka, atau sesuatu yang dilindungi oleh syariat seperti area Ka’bah, atau yang dijaga seperti tempat-tempat yang dijadikan masjid.
ثم ما لا يتمول لجنسه وهو الأعيان النجسة لا قيمة لها ولا تضمن بالإتلافِ وما لا يتمول لحرمته فلها أبدال عند الإتلاف
Kemudian, sesuatu yang tidak dapat dinilai karena jenisnya, yaitu benda-benda najis, tidak memiliki nilai dan tidak wajib diganti jika dirusak. Adapun sesuatu yang tidak dapat dinilai karena kehormatannya, maka ada penggantinya jika dirusak.
ومقصودنا من هذا الفصل شيء آخر فإذا قلنا هذا لا يتمول لقدره فليقع الاعتناء به وإن كان جنسه مالاً والضّابط فيه أن كل ما ليس للانتفاع به على حياله وقع محسوس فهو الذي يقال إنه لا يتمول كالحبة والحبتين فصاعداً وليعتبر وقعه منسوباً إلى كل جهة؛ فإن حبات معدودة قد لا يكون لها وقع في الإنسان وهي تقيم عصفورة أو تسد منها مسداً
Maksud kami dari bab ini adalah hal lain; maka jika kami katakan, “Ini tidak dianggap sebagai harta karena nilainya,” hendaknya hal itu diperhatikan, meskipun jenisnya adalah harta. Kaidahnya adalah bahwa segala sesuatu yang tidak dapat dimanfaatkan secara terpisah dan tidak memiliki nilai yang nyata, itulah yang dikatakan tidak dianggap sebagai harta, seperti satu atau dua butir (makanan) dan seterusnya. Hendaknya juga diperhatikan nilainya menurut setiap pihak; sebab beberapa butir yang terhitung mungkin tidak berarti apa-apa bagi manusia, namun dapat menghidupi seekor burung pipit atau mencukupi kebutuhannya.
فكل ما فيه نفع محسوس فهو مال وكل ما ليس فيه نفع محسوس فهو غير متمولٍ وكل منتفع به طاهرٌ غير محترم إذا تحقق الاحتواء عليهِ فهو مال وإن كان الناس لا يتمولونه لكثرته ورخاءِ السّعر
Segala sesuatu yang memiliki manfaat yang dapat dirasakan secara nyata adalah harta, dan segala sesuatu yang tidak memiliki manfaat yang dapat dirasakan secara nyata bukanlah harta. Segala sesuatu yang dimanfaatkan, suci, dan tidak memiliki kehormatan, jika benar-benar dapat dimiliki, maka ia adalah harta, meskipun manusia tidak menganggapnya sebagai harta karena jumlahnya yang melimpah dan harganya yang murah.
فليكن التعويل في الفرق بين ما يتمول وما لا يتموّل على المنفعة في الأجناس الطاهرة غير المحترمة فلو أجدَّ الرجل صخرة وكان فيها منفعة ظاهرة فيجوز أن يبيعها بآلاف ممن يشتريها وهم في شعاب جبال مفعمة بالصخور وعليه يخرج تجويز بيع هذِه في أمثال هذه البلاد
Maka hendaknya penekanan dalam membedakan antara sesuatu yang memiliki nilai ekonomi (yaitu yang dapat dimiliki dan diperdagangkan) dan yang tidak memiliki nilai ekonomi didasarkan pada manfaat pada jenis-jenis barang yang suci dan tidak dihormati secara khusus. Maka jika seseorang menemukan sebuah batu besar dan di dalamnya terdapat manfaat yang jelas, maka boleh baginya menjual batu itu dengan harga ribuan kepada orang yang membelinya, meskipun mereka berada di lereng-lereng gunung yang penuh dengan batu-batu besar. Berdasarkan hal ini, diperbolehkan menjual batu seperti ini di daerah-daerah semacam itu.
فأما الحبة من الحنطة فلا ولا يختلف هذا بسِنِي الأَزْم والمَجاعة ورخاء الأسعار ولكن ما يقال فيه إنّه لا يتمول لقلته فيه حق لصاحبهِ فلا يجوز أخذ حبة من مال إنسان بناء على أنها لا تتمول ومن أخذها لزمه ردُّها قال شيخي كان القفال يقول إن تلفت لم يبعد أن أوجب مثلَها وإنْ منعتُ بيعها نعم لو كان كذلك القليل من جنس متقوم فلا قيمة
Adapun satu butir gandum, maka tidak ada perbedaan dalam hal ini baik pada masa paceklik, kelaparan, maupun saat harga murah. Namun, yang dikatakan bahwa ia tidak dianggap sebagai harta karena sedikitnya, maka tetap ada hak pemiliknya; tidak boleh mengambil satu butir dari harta seseorang dengan alasan bahwa ia tidak bernilai harta. Barang siapa mengambilnya, wajib mengembalikannya. Guruku, al-Qaffal, berkata: Jika butir itu rusak, tidak jauh kemungkinan diwajibkan menggantinya dengan yang sejenis. Jika aku melarang penjualannya, maka demikian pula halnya dengan sesuatu yang sedikit dari jenis barang yang bernilai, maka tidak ada nilainya.
فهذا حَاصل القول في ضبط ما يتمول وما لا يتمول
Inilah ringkasan pembahasan mengenai batasan sesuatu yang bernilai harta (mā yatamawwal) dan sesuatu yang tidak bernilai harta (mā lā yatamawwal).
فصل
Bab
مشْتمل عَلى بَيعْ المَاءِ وحُكمِهِ
Mencakup jual beli air dan hukumnya.
نظمه الشيخ أبو علي في الشرح ونحن نأتي به على وجهه فلا مزيد عليه
Syekh Abu Ali telah menyusunnya dalam syarah, dan kami akan menyampaikannya sebagaimana adanya, sehingga tidak ada tambahan atasnya.
فنقول
Maka kami katakan
من ينزح ماء من موضع مباع فالمذهب المشهور أنه يملك ما أحرزه كما يملك الحطب إذا احتطب والصيدَ إذا اصطاد
Barang siapa mengambil air dari tempat yang telah dijual, maka mazhab yang masyhur adalah ia memiliki apa yang telah ia kumpulkan, sebagaimana seseorang memiliki kayu bakar jika ia mengumpulkannya dan memiliki hewan buruan jika ia memburunya.
وفي المسألة وجه بعيد أنه لا يملك قط ولكن محرزه أولى به وهذا بعيد لا تفريع عليه
Dalam masalah ini terdapat pendapat yang lemah bahwa seseorang sama sekali tidak memiliki (barang tersebut), namun orang yang menguasainya lebih berhak atasnya. Namun pendapat ini lemah dan tidak dapat dijadikan dasar pengembangan hukum.
وإنما التفريع على أن الماء يملكه محرزه
Adapun penjabaran hukum didasarkan pada pendapat bahwa air itu dimiliki oleh orang yang mengambilnya.
فمن أحرز ماء في إداوة وسقايةٍ فقد ملكه ويجوز بيعه على شط الدجلة بما يقع من التراضي عليه
Barang siapa yang telah mengumpulkan air dalam kendi atau wadah, maka ia telah memilikinya dan boleh menjualnya di tepi Sungai Dajlah dengan harga yang disepakati bersama.
فأما إذا حفر بئراً أو قناةً فاجتمع فيها ماء فهل يملك ذلك الماء
Adapun jika seseorang menggali sumur atau saluran lalu air berkumpul di dalamnya, maka apakah ia memiliki air tersebut?
هذا يستدعي أولاً تفصيلَ المذهب في أن الآبار كيف تملك وهذا مما يأتي استقصاؤه في إحياء الموات والقدر الذي تمس الحاجة إليه الآن أن من حفر بئراً في مواتٍ وقصد باحتفارها تملّكَها فإذا ظهر مقصودُه مَلَكَها ومقصودهُ ظهور الماء فكما ظهر مَلَك ولا يتوقف الملك على أن يطويَ البئر ويعمرَها هذا ظاهرُ المذهب
Hal ini pertama-tama memerlukan penjelasan rinci tentang mazhab mengenai bagaimana sumur dapat dimiliki, dan hal ini akan dibahas secara lengkap dalam pembahasan ihyā’ al-mawāt. Namun, yang perlu diketahui saat ini adalah bahwa siapa pun yang menggali sumur di tanah mati (mawāt) dengan tujuan memilikinya, maka jika tujuannya tersebut telah tercapai, ia pun memilikinya. Tujuannya adalah munculnya air; maka apabila air telah muncul, ia menjadi pemiliknya, dan kepemilikan itu tidak bergantung pada apakah ia melapisi atau memperbaiki sumur tersebut. Inilah pendapat yang jelas dalam mazhab.
وقيل ظهور الماء يجعل حافرَ البئر كالمتحجر وهذا يأتي في الإحياء
Dikatakan bahwa munculnya air menjadikan penggali sumur seperti orang yang menghidupkan tanah mati, dan hal ini akan dibahas dalam bab ihyā’.
ولو كان يحتفر نهراً إلى نهر عظيم كالفرات وقصده أخذ شيءٍ من ماء الفرات في نهرهِ فإذا قصد باحتفار النهر تملكها وانتهت فوهة النهر إلى النهر الكبير وجرى فيه الماء فهذا في ملك النهر نظير إنباط الماء في البئر هذا إذا قصد التملك
Jika seseorang menggali sebuah sungai menuju sungai besar seperti Eufrat dengan tujuan mengambil sebagian air Eufrat ke sungainya, maka apabila ia bermaksud memiliki air itu dengan menggali sungai tersebut, lalu ujung sungai kecil itu sampai ke sungai besar dan air pun mengalir ke dalamnya, maka dalam hal kepemilikan sungai, hal ini serupa dengan memancarkan air dari sumur, yaitu jika memang bertujuan untuk memiliki.
فأما إذا قصد احتفار البئر ليستقي ماءها لا أن يتملكها فيكون أولى بماء البئر فإذا تعداها وجاوزها فالبئر بمائها مباح
Adapun jika seseorang bermaksud menggali sumur untuk mengambil airnya, bukan untuk memilikinya sehingga ia lebih berhak atas air sumur itu, maka jika ia telah meninggalkannya dan melewatinya, sumur beserta airnya menjadi mubah (boleh dimanfaatkan oleh siapa saja).
فإذا بان ذلك فلو لم يملك البئر ولم يقصد تملكها فالماء المجتمع فيها لا يكون مملوكاً باتفاق الأصحاب
Jika demikian telah jelas, maka jika seseorang tidak memiliki sumur tersebut dan tidak bermaksud memilikinya, air yang terkumpul di dalamnya tidak menjadi milik siapa pun menurut kesepakatan para ulama.
هكذا قال الشيخ
Demikianlah yang dikatakan oleh Syekh.
فأمّا إذا ملك البئر أو كان في ملكهِ الخالص بئرٌ كَدَارِه فالماء المجتمع في تلك البئر هل يكون ملكاً على الحقيقة لمالك البئر؛ فعلى وجهين مشهورين أحدهما وهو اختيار أبي إسحاق أنه لا يملكه وينزل الماء الحاصِل في ملكه منزلةَ ما لو عشش طائر في ملكه؛ فإنه لا يملكه وقال ابن أبي هريرة الماء ملك لصاحب البئر على الحقيقة وهو نازل منزلة الثمرة التي تخرج من أشجاره من غير قصده
Adapun jika seseorang memiliki sumur atau terdapat sumur di dalam kepemilikan pribadinya seperti di rumahnya, maka air yang terkumpul di sumur tersebut, apakah benar-benar menjadi milik pemilik sumur? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur. Pendapat pertama, yang merupakan pilihan Abu Ishaq, menyatakan bahwa ia tidak memilikinya, dan air yang berada di dalam kepemilikannya itu diposisikan seperti burung yang bersarang di dalam tanah miliknya; ia tidak memilikinya. Sedangkan Ibn Abi Hurairah berpendapat bahwa air tersebut benar-benar menjadi milik pemilik sumur, dan kedudukannya seperti buah yang tumbuh dari pohon-pohonnya tanpa disengaja.
فإذا ثبت ذلك فالكلام وراء ذلك في فصلين أحدهما إفراد الماء بالبيع
Jika hal itu telah tetap, maka pembahasan setelahnya ada pada dua bagian: yang pertama adalah memisahkan air dalam jual beli.
والثاني بيعه مع قرارِه
Yang kedua adalah menjualnya beserta keberadaannya (tetap di tempatnya).
فأما إفراد الماء بالبيع فالماء الذي جمعه في إداوة أو حوض أو أحرزه فيجوز بيعه؛ فإنه غير متزايد
Adapun menjual air secara tersendiri, maka air yang telah dikumpulkan dalam kendi, kolam, atau telah diamankan, boleh dijual; karena air tersebut tidak bertambah.
فأمّا الماء المجتمع في البئر المملوكة أو الماء الجاري في النهر المملوك فإن قلنا إنه غير مملوك فإذا أفرده بالبيع لم يصح؛ لأنه باع ما لم يملكه فأشبه ما لو باع فرخَ طائر على عش في ملكه ولم يأخذه بعدُ
Adapun air yang terkumpul di sumur milik pribadi atau air yang mengalir di sungai milik pribadi, jika kita katakan bahwa air tersebut bukan milik seseorang, maka apabila seseorang menjualnya secara terpisah, jual beli tersebut tidak sah; karena ia telah menjual sesuatu yang bukan miliknya, sehingga hal itu serupa dengan menjual anak burung di sarang yang berada di tanah miliknya, padahal ia belum mengambilnya.
وإن قلنا إنه مملوك قال رضي الله عنه لا يصح إفراده بالبيع إذا قال بعتك ماء هذا البئر؛ لأنه ممّا يتزايد تزايداً كثيراً وليس كذلك بيع الجِزة من قُرطٍ فإنه إذا ابتدرَ الجزَّ لم يتزايد تزايداً محتفلاً به والماء الجاري أولى بالفساد فلا يصح إذا بيع الماء على الوجهين لعلّتين
Dan jika kita mengatakan bahwa air itu adalah milik, beliau raḥimahullāh berkata: Tidak sah menjualnya secara terpisah jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu air sumur ini,” karena air tersebut terus bertambah dengan pertambahan yang banyak. Tidak demikian halnya dengan penjualan bulu domba yang masih menempel, karena jika bulu itu segera dicukur, maka tidak akan bertambah dengan pertambahan yang signifikan. Air yang mengalir lebih utama untuk dianggap rusak (tidak sah dijual), maka tidak sah menjual air dalam kedua bentuk tersebut karena dua alasan.
ولو قال بعتك مائة مَن من ماء هذه البئر فإن قلنا إنه مملوك ففي المسألة وجهان أحدهما يصح والثاني لا يصح وهما مبنيان على ما إذا أراه نموذجاً من لبن الضرع فينبغي أن يكون المقدار المذكور من ماء البئر ومن لبن الضرع بحيث يعتقد قلةُ التزايد فيه كما قدمناه في لبن الضرع
Jika seseorang berkata, “Aku menjual kepadamu seratus man dari air sumur ini,” maka jika kita katakan bahwa air tersebut adalah milik, dalam masalah ini terdapat dua pendapat: yang pertama akadnya sah, dan yang kedua tidak sah. Kedua pendapat ini didasarkan pada kasus ketika seseorang memperlihatkan contoh dari susu perahan, sehingga seharusnya kadar yang disebutkan dari air sumur dan dari susu perahan itu sedemikian rupa sehingga diyakini hanya sedikit kemungkinan bertambahnya, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan susu perahan.
قال الشيخ لو باع مقداراً من ماء نهرٍ جارٍ فهو ممنوع؛ فإنه غير واقفٍ ولا يستمكن من تنزيل العقد على معاين فيه تَسلُّم
Syekh berkata: Jika seseorang menjual sejumlah air dari sungai yang mengalir, maka hal itu dilarang; karena air tersebut tidak tetap (tidak diam di tempat), dan tidak memungkinkan untuk menerapkan akad pada sesuatu yang dapat diserahkan secara nyata.
وكل ما ذكرناه فيه إذا باع الماء وحده
Dan semua yang telah kami sebutkan itu berlaku apabila ia menjual airnya saja.
فأما إذا باع ماء البئر مع البئر فنذكر التفصيل في البئر أولاً ثم نذكره في النهر
Adapun jika seseorang menjual air sumur beserta sumurnya, maka kami akan menyebutkan perinciannya pada pembahasan sumur terlebih dahulu, kemudian kami akan menyebutkannya pada pembahasan sungai.
فإذا باع البئرَ فلا يخلو إما أن يشترط معه الماءَ الذي فيه أو لا يشترط فإن شرط معه الماء الذي فيه فإن قلنا إنه غير مملوك فلا يصح البيع فيه
Jika seseorang menjual sumur, maka keadaannya tidak lepas dari dua kemungkinan: apakah ia mensyaratkan air yang ada di dalamnya atau tidak. Jika ia mensyaratkan air yang ada di dalamnya, maka jika kita katakan bahwa air tersebut bukan milik siapa pun, maka jual beli atas air itu tidak sah.
وهل يصح في البئر فهو على قولي تفريق الصفقة وهو كما لو باع ظبية مملوكة وأخرى في الصحراء لم يصطدها
Apakah sah dalam kasus sumur, maka hal itu mengikuti dua pendapat tentang tafrīq ash-shafqah, dan keadaannya seperti seseorang yang menjual seekor kijang yang dimilikinya dan seekor lagi yang masih di padang pasir yang belum ditangkap.
فأما إذا قلنا الماء في البئر مملوك فإذا باع البئر مع مائه الذي فيهِ صح؛ فإنه مشاهد وليس كما لو أفرد ماء البئر بالبيع؛ فإن الأصل في تلك الصورة مُبْقَى للبائع وما نَبَع بعد تقدير البيع فهو لمالكِ الأصل فيؤدي إلى اختلاط المبيع وأما هاهنا مَلَك المشتري المنابع فلا أثر للازدياد ولا يضر أن يختلط ملكُ المشتري بملكه هذا إذا شرط مع البئر ماءها
Adapun jika kita mengatakan bahwa air dalam sumur adalah milik (seseorang), maka apabila seseorang menjual sumur beserta air yang ada di dalamnya, jual beli tersebut sah; karena air itu dapat disaksikan secara nyata dan tidak seperti jika air sumur dijual secara terpisah. Sebab, pada kasus yang terakhir, hukum asalnya adalah air tersebut tetap menjadi milik penjual, dan air yang muncul setelah akad jual beli menjadi milik pemilik tanah, sehingga hal itu akan menyebabkan tercampurnya barang yang dijual. Adapun dalam kasus ini, pembeli telah memiliki sumber-sumber airnya, sehingga pertambahan air tidak berpengaruh dan tidak masalah jika kepemilikan pembeli bercampur dengan miliknya sendiri, yaitu jika disyaratkan air sumur tersebut bersama sumurnya.
فأفا إذا باع البئر ولم يتعرض للماء الذي فيه فإن قلنا إن الماء ليس بمملوك فقد ملك المشتري البئر وصار أحق بالماء كما كان البائع أحقَّ به
Maka apabila seseorang menjual sumur tanpa menyebutkan air yang ada di dalamnya, jika kita katakan bahwa air tersebut bukanlah milik, maka pembeli telah memiliki sumur itu dan menjadi lebih berhak atas airnya sebagaimana penjual sebelumnya lebih berhak atasnya.
وإن قلنا إنه مملوك فالبئر صارت مملوكة للمشتري والأصح أنه لا يتبعها الماء؛ فإنه نماءٌ ظاهر فأشبه الثمار الظاهرة المؤبرة لا تدخل في مطلق بيع الشجرة
Jika kita katakan bahwa sumur itu adalah milik, maka sumur tersebut menjadi milik pembeli. Namun, pendapat yang lebih sahih adalah bahwa airnya tidak otomatis mengikuti (menjadi milik pembeli); karena air itu merupakan hasil (namā’) yang tampak, sehingga ia serupa dengan buah-buahan yang tampak dan telah dibuahi, yang tidak termasuk dalam penjualan pohon secara mutlak.
ومن أصحابنا من أتبع الماءَ البئرَ وجعله كالثمار التي لم تؤبَّر ونزل الأمر في هذا على العرف وهذا قدمته في أثناء مسائل البيع فيما أظنه
Sebagian dari ulama mazhab kami ada yang mengikuti air sumur dan memperlakukannya seperti buah-buahan yang belum dibuahi, serta menyerahkan perkara ini kepada kebiasaan (‘urf). Hal ini telah saya kemukakan sebelumnya di tengah-tengah pembahasan masalah-masalah jual beli, sebagaimana yang saya ingat.
فهذا في البئر
Ini berkaitan dengan sumur.
فأمّا في النهر فإن باعه من غير تعرض للماء الذي فيه فالبيع في النهر صحيح والقول في إتباع الماء الموجود في النهر على ما تفضل فأما إذا باع النهرَ مع الماء الجاري فإن قلنا إنه غير مملوك فقد جمع بين مملوك وغيرِ مملوك مجهولٍ لا سبيل إلى ضبطه والأصح في مثل ذلك بطلان البيع في الجميع ما قدمناه في تفريق الصفقة
Adapun mengenai sungai, jika seseorang menjualnya tanpa menyebutkan air yang ada di dalamnya, maka jual beli sungai itu sah, dan pembahasan mengenai mengikuti air yang ada di sungai telah dijelaskan sebelumnya. Namun, jika ia menjual sungai beserta air yang mengalir di dalamnya, maka jika kita katakan bahwa air tersebut bukan milik siapa pun, berarti ia telah menggabungkan antara sesuatu yang dimiliki dan sesuatu yang tidak dimiliki serta tidak diketahui, yang tidak mungkin untuk ditentukan. Pendapat yang lebih kuat dalam hal seperti ini adalah batalnya jual beli seluruhnya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam pembahasan tentang memisahkan akad.
وإن قلنا الماء مملوك وقد ذكره مع النهر فهو مجهول لا يفرد بالبيع ضُمَّ إلى معلوم فيخرج على التفريق
Jika kita mengatakan bahwa air itu dimiliki, dan ia disebutkan bersama sungai, maka ia menjadi tidak jelas (majhūl) sehingga tidak boleh dijual secara terpisah; ia harus digabungkan dengan sesuatu yang jelas (ma‘lūm), sehingga berlaku hukum pemisahan.
ولو اجتمع في ملك الرجل شيء سوى الماء كالموميا والملح وكان يتزايد تزايد الماء فقد قال الشيخ حكمه مع قراره حكم الماء في كل تفصيل إلا أنا ذكرنا في صدر الفصل وجهاً بعيداً أن الماء لا يملك أصلاً وذلك لا يجري هاهنا
Jika dalam kepemilikan seseorang terdapat sesuatu selain air, seperti mumiya dan garam, yang dapat bertambah sebagaimana air bertambah, maka menurut pendapat Syekh, hukumnya bersama tanah adalah sama dengan hukum air dalam setiap rincian, kecuali bahwa kami telah menyebutkan di awal bab suatu pendapat yang lemah bahwa air pada dasarnya tidak dapat dimiliki, dan pendapat ini tidak berlaku di sini.
ولماء الأودية والقنوات وموارد البيع منها تفاصيل كثيرة في إحياء الموات إن شاء الله تعالى
Air sungai-sungai, saluran-saluran, dan sumber-sumber air yang dijual darinya memiliki banyak rincian dalam pembahasan ihyā’ al-mawāt, insya Allah Ta‘ala.
فصل
Bab
في الإقالة
Tentang pembatalan akad
لا خلاف في جوازها وارتداد عوضي العقد بها وأنها تختص بالثمن الأول ولا حاجة إلى ذكر الثمن والمثمن على التفصيل بل الإطلاق ينصرف إليه ولا تختص الإقالة بالمتعاقدين بل لو ماتا جرت الإقالة بين الورثة
Tidak ada perbedaan pendapat tentang kebolehannya dan kembalinya pengganti akad dengannya, serta bahwa ia khusus untuk harga pertama. Tidak perlu menyebutkan harga dan barang secara rinci, bahkan penyebutan secara umum sudah mencakupnya. Iqālah tidak terbatas pada kedua pihak yang berakad saja, bahkan jika keduanya telah meninggal, iqālah tetap berlaku di antara para ahli waris.
ثم هي فسخ أو ابتداء عقد فعلى قولين أحدهما أنها عقد وهو المنصوص عليه في القديم لتضمنها تمليكَ مال بمالٍ على التراضي وصيغةِ الإيجاب والقبول
Kemudian, ia adalah pembatalan atau permulaan akad, menurut dua pendapat. Salah satunya adalah bahwa ia merupakan akad, dan ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam pendapat lama, karena di dalamnya terdapat unsur kepemilikan harta dengan harta atas dasar kerelaan, serta adanya lafaz ijab dan kabul.
والمنصوص عليه في الجديد أنها فسخٌ لاختصاصها بالثمن الأول ولأن الغرض منها رفع ما كان ورد الأمر إلى ما كان عليه قبل العقد ولفظ الإقالة مشعر بهذا
Pendapat yang ditegaskan dalam pendapat baru adalah bahwa ia merupakan fasakh karena khusus berkaitan dengan harga pertama, dan karena tujuannya adalah menghilangkan apa yang telah terjadi serta mengembalikan keadaan seperti sebelum akad, dan lafaz iqālah menunjukkan hal itu.
ومنه إقالة العثرات
Di antaranya adalah memaafkan kesalahan.
ولم أر أحداً من الأصحاب يخرجُ الإقالةَ قبل قبض المبيع على أن الإقالة فسخ أو بيع حتى إن قلنا إنها فسخ نفذت وإن قلنا إنها بيع خرجت على الخلاف في أن بيع المبيع من البائع قبل القبض هل يجوز
Saya tidak melihat seorang pun dari para sahabat (ulama mazhab) yang mengecualikan akad iqālah sebelum penerimaan barang yang dijual, baik dengan alasan bahwa iqālah adalah pembatalan (fasakh) atau jual beli. Sehingga, jika kita katakan bahwa iqālah adalah fasakh, maka akadnya sah; dan jika kita katakan bahwa iqālah adalah jual beli, maka permasalahannya kembali kepada perbedaan pendapat tentang apakah jual beli barang yang telah dijual kepada penjual sebelum penerimaan barang itu diperbolehkan atau tidak.
وكذلك لم يردد أحد من أصحابنا القولَ في الإقالة في السلم بل أطلقوا جوازها وإن كان يمتنع بيع المسلم فيه قبل القبض
Demikian pula, tidak seorang pun dari para ulama mazhab kami yang meragukan pendapat tentang kebolehan iqālah dalam akad salam, bahkan mereka membolehkan secara mutlak, meskipun penjualan barang yang menjadi objek salam sebelum diterima adalah terlarang.
وكان شيخي يقول الإقالة بعد القبض على القولين والإقالة قبل القبض تنفذ
Guru saya biasa mengatakan bahwa pembatalan akad setelah terjadi qabd (serah terima) terdapat dua pendapat, sedangkan pembatalan akad sebelum qabd tetap berlaku.
فإن جوزنا بيع المبيع من البائع قبل القبض خرجت المسألة على قولين في أن الاقالة فسخ أو بيع وإن قلنا لا يصح بيع المبيع من البائع قبل القبض فالإقالة نافذة وهي فسخ قولاً واحداً
Jika kita membolehkan penjualan barang yang telah dijual kepada penjual sebelum barang itu diterima, maka masalah ini kembali kepada dua pendapat: apakah iqālah itu pembatalan atau jual beli. Namun jika kita mengatakan tidak sah menjual barang yang telah dijual kepada penjual sebelum barang itu diterima, maka iqālah tetap berlaku dan merupakan pembatalan menurut satu pendapat.
وذكر شيخي في كتاب الخلع في أثناء كلامه فصلاً به تظهر حقيقةُ الإقالة وهو أنه قال اختلف أصحابنا في أن البيع هل يقبل الفسخ بالتراضي فمنهم من قال بقطع القول بقبوله الفسخ بالتراضي والقولان في لفظ الإقالة
Syekh saya menyebutkan dalam kitab al-Khul‘ di tengah pembahasannya sebuah bagian yang dengannya tampak hakikat dari iqālah, yaitu beliau berkata: Para ulama mazhab kami berbeda pendapat mengenai apakah jual beli dapat dibatalkan dengan kerelaan kedua belah pihak. Sebagian dari mereka secara tegas berpendapat bahwa jual beli dapat dibatalkan dengan kerelaan kedua belah pihak, sedangkan dua pendapat terdapat pada lafaz iqālah.
ومنهم من قال كل ما فرض على التراخي سواء كان بلفظ الفسخ أو بلفظ الإقالة فهو خارج على القولين ولا نظر إلى الألفاظ فالفسخ لفظٌ ألفه الفقهاء ومعناه ردَّ شيء واسترداد مقابله فإن تعلّق متعلّق بلفظ الفسخ فالإقالة من طريق اللسان صريحة في رفع ما تقدَّم ورد الأمر إلى ما كان عليه قبل العقد
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa segala sesuatu yang diwajibkan secara tidak segera, baik dengan lafaz faskh maupun dengan lafaz iqālah, maka hal itu keluar menurut dua pendapat, dan tidak perlu memperhatikan lafaz-lafaz tersebut. Faskh adalah lafaz yang biasa digunakan oleh para fuqaha, yang maknanya adalah mengembalikan sesuatu dan mengambil kembali gantinya. Jika ada yang mengaitkan makna dengan lafaz faskh, maka iqālah dari segi bahasa secara jelas berarti menghapus apa yang telah lalu dan mengembalikan keadaan kepada seperti sebelum akad.
فرجع حاصل القول إلى أن من أصحابنا من جعل الخلاف في تصور الفسخ بالتراضي من غير سبب يوجبه
Kesimpulan pembahasan kembali pada bahwa sebagian ulama dari kalangan mazhab kami memandang bahwa perbedaan pendapat terletak pada kemungkinan terjadinya pembatalan (fasakh) dengan kesepakatan kedua belah pihak tanpa adanya sebab yang mewajibkannya.
ثم هؤلاء يقولون يتصور الفسخ بالتراضي قبل القبض؛ لأن العقد لم يُفض إلى نقل الضمان فإذاً هو متصور قبل القبض وفي تصويره بعد القبض الخلاف
Kemudian, mereka mengatakan bahwa pembatalan dengan kesepakatan dapat dibayangkan sebelum penyerahan, karena akad belum mengakibatkan perpindahan tanggungan. Maka, pembatalan itu memang dapat dibayangkan sebelum penyerahan, sedangkan dalam membayangkannya setelah penyerahan terdapat perbedaan pendapat.
ومن أصحابنا من قطع بتصوّر الفسخ ورد الخلاف إلى الإقالة ومعناها ثم هؤلاء قالوا هي محمولة قبل القبض على الفسخ والخلافُ في عملها بعد القبض
Sebagian ulama dari kalangan kami menegaskan bahwa pembatalan (fasakh) dapat dibayangkan, dan mengembalikan perbedaan pendapat kepada masalah iqālah dan maknanya. Kemudian, mereka mengatakan bahwa iqālah sebelum penyerahan barang dianggap sebagai pembatalan (fasakh), sedangkan perbedaan pendapat adalah mengenai keabsahannya setelah penyerahan barang.
ثم يتفرع على القولين في أن الإقالة فسخ أو عقدٌ أمور منها تجدد حق الشفعة للشفيع إذا كان قد عفا عنها في البيع إن جعلناها فسخاً لم يتجدد حق الشفعة بالإقالة ضمان جعلناها عقداً تجدد له حق الشفعة
Kemudian, terdapat beberapa konsekuensi dari dua pendapat mengenai apakah iqālah itu pembatalan atau akad. Di antaranya adalah timbulnya kembali hak syuf‘ah bagi orang yang berhak syuf‘ah jika ia telah melepaskannya pada saat jual beli. Jika kita menganggap iqālah sebagai pembatalan, maka hak syuf‘ah tidak timbul kembali karena iqālah. Namun jika kita menganggapnya sebagai akad, maka hak syuf‘ah akan timbul kembali baginya.
وإذا تلف المبيع في يد المشتري بعد الإقالة فإن قلنا هي عقد انفسخت كما ينفسخ البيع بتلف المبيع قبل القبض وعاد الأمر إلى ما كان عليه قبل الإقالة وإن قلنا هي فسخ لم ترتفع الإقالة وضمن المشتري قيمة التالفِ في يده
Jika barang yang dijual rusak di tangan pembeli setelah terjadi iqālah, maka jika kita berpendapat bahwa iqālah adalah akad, maka akad tersebut batal sebagaimana jual beli batal karena barang yang dijual rusak sebelum diterima, dan perkara kembali seperti semula sebelum iqālah. Namun jika kita berpendapat bahwa iqālah adalah pembatalan (fasakh), maka iqālah tidak gugur dan pembeli wajib mengganti nilai barang yang rusak di tangannya.
ومما يتفرع على ذلك أنهما إذا تقايلا فإن قلنا الإقالة بيع؛ فلا يتصرف البائع في ملك العين مادامت في يد المشتري
Salah satu cabang dari permasalahan ini adalah bahwa apabila keduanya melakukan iqālah, maka jika kita mengatakan bahwa iqālah adalah jual beli, penjual tidak boleh melakukan tindakan apa pun terhadap kepemilikan barang selama barang tersebut masih berada di tangan pembeli.
وإن قلنا هي فسخ نفذت تصرفاته كالمفسوخ بالعيب
Dan jika kita mengatakan bahwa itu adalah fasakh, maka segala tindakannya tetap sah seperti halnya barang yang dibatalkan karena cacat.
وإذا تلف المبيع ثم تقايلا فإن جعلنا الإقالة عقداً لم يصح؛ فإن البيع لا يرِدُ على تالفٍ وإن جعلناه فسخاً فوجهان أحدهما أنه ينفذ كالفسخ بالتحالفِ والثاني لا ينفذ؛ فإن الفسخ بالتحالف ليس مقصوداً في نفسه وإذا أنشأ المتحالفان دعوتيهما فليس غرضهما الفسخ لكن كل واحدٍ يبغي أن ينكُل صاحبه ويحلف هو فإذا تحالفا كان الفسخ ضروريّاً والفسخُ بالإقالة معمودٌ مقصود فلا ينفذ في التالف كالفسخ بالعيب بتقدير ردَّ قيمة المعيب التالف واسترداد عوضه فإذا اشترى عبدين فتلف أحدهما فأراد الإقالة في الآخر إن جوزنا الإقالة والمبيع تالفٌ بجملته فهذا أولى بالجواز فإن منعنا الإقالة عند تلف المبيع وهو واحد فهاهنا وجهان؛ إذ القائم يلاقيه الإقالة ثم يستتبع التالفَ
Jika barang yang dijual rusak lalu kedua belah pihak melakukan iqālah, maka jika kita menganggap iqālah sebagai akad, maka tidak sah; karena jual beli tidak berlaku atas barang yang telah rusak. Namun jika kita menganggapnya sebagai pembatalan (fasakh), terdapat dua pendapat: salah satunya menyatakan bahwa iqālah tetap sah seperti fasakh karena sumpah (tahāluf), dan pendapat kedua menyatakan tidak sah; karena fasakh karena sumpah bukanlah tujuan utama itu sendiri. Ketika kedua pihak yang bersumpah mengajukan klaimnya, tujuan mereka bukanlah fasakh, melainkan masing-masing ingin lawannya mengundurkan diri dan ia sendiri yang bersumpah. Maka ketika keduanya bersumpah, fasakh menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Sedangkan fasakh melalui iqālah memang disengaja dan menjadi tujuan, sehingga tidak sah atas barang yang rusak, sebagaimana fasakh karena cacat dengan mengembalikan nilai barang cacat yang rusak dan mengambil kembali penggantinya. Jika seseorang membeli dua budak lalu salah satunya rusak, kemudian ia ingin melakukan iqālah atas yang lain, jika kita membolehkan iqālah atas barang yang seluruhnya telah rusak, maka ini lebih utama untuk dibolehkan. Namun jika kita melarang iqālah ketika barang yang dijual hanya satu dan telah rusak, maka dalam kasus ini terdapat dua pendapat; karena barang yang masih ada dapat menjadi objek iqālah, lalu yang rusak mengikutinya.
ولو اشترى عبدين فتقايلا في أحدهما مع بقاء العبدين فإن قلنا الإقالة بيع لم تصح الإقالة؛ فإنها لو صحت لقابل العبدَ قسط من الثمن يبيّنه التقسيط
Jika seseorang membeli dua budak lalu melakukan iqālah (pembatalan akad) terhadap salah satunya sementara kedua budak tersebut masih ada, maka jika kita berpendapat bahwa iqālah adalah jual beli, maka iqālah tersebut tidak sah; sebab jika iqālah itu sah, maka akan ada bagian dari harga yang menjadi penyeimbang budak tersebut yang dapat dijelaskan melalui pembagian harga.
وهذا مجهول فلا يصح تقدير العقد مع جهالة العوض
Ini tidak diketahui, maka tidak sah memperkirakan akad dengan ketidakjelasan imbalan.
وإن قلنا الإقالة فسخ جاز ذلك ولو كان مكان العبدين قفيزان من الحنطة فخُصت الإقالة بأحدهما جاز على القولين أما قول الفسخ فلا يخفى وأمّا قول العقد فلا جهالة والثمن يتقسط بالأجزاء
Jika kita mengatakan bahwa iqālah adalah pembatalan, maka hal itu diperbolehkan, dan seandainya yang dipertukarkan bukan dua budak melainkan dua takar gandum, lalu iqālah hanya dilakukan pada salah satunya, maka hal itu juga diperbolehkan menurut kedua pendapat. Adapun menurut pendapat bahwa iqālah adalah pembatalan, maka hal itu jelas. Sedangkan menurut pendapat bahwa iqālah adalah akad, maka tidak ada unsur jahālah (ketidakjelasan), dan harga (tsaman) dibagi sesuai bagian-bagiannya.
ولو اشترى عبداً وتقايلا على نصفه فالإقالة صحيحة على القولين؛ إذ لا جهالة والفسخ لا شك في نفوذه على قول الفسخ
Jika seseorang membeli seorang budak lalu melakukan pembatalan (iqālah) atas setengahnya, maka pembatalan tersebut sah menurut kedua pendapat; karena tidak ada unsur ketidakjelasan, dan pembatalan (fasakh) tidak diragukan lagi keabsahannya menurut pendapat yang membolehkan fasakh.
فإن قيل هلا خرّجتم على تفريق الصفقة؛ قلنا سبب منع التفريق على قولٍ في هذا المقام تنزيلُ العقد على جملةٍ مع تخلفه عن بعضها فتارة يقول ارتفع العقد وتارة يقول يتخير من تبعض الأمر عليه وأما الإقالة فَصَدَرُها عن التراضي والحق لا يعد وهماً وإنما يمتنع رد أحد العبدين على أحد القولين قهراً فلو فرض التراضي به كان إقالة مسوغة ومن جوز فسخاًً بعد لزوم العقد بلا سبب التراضي لم يغادر متعلقاً في التبعيض
Jika dikatakan, “Mengapa kalian tidak mengqiyaskan pada kasus tafriq ash-shafqah (pemisahan transaksi)?” Kami jawab: Sebab larangan tafriq dalam salah satu pendapat pada masalah ini adalah karena akad dijalankan atas keseluruhan, namun sebagian syaratnya tidak terpenuhi. Terkadang dikatakan bahwa akad menjadi batal, dan terkadang dikatakan bahwa pihak yang terkena sebagian masalah boleh memilih (antara melanjutkan atau membatalkan). Adapun iqālah (pembatalan akad), ia terjadi atas dasar kerelaan kedua belah pihak, dan hak tidak dianggap sebagai sesuatu yang semu. Larangan mengembalikan salah satu dari dua budak dalam salah satu pendapat hanyalah jika dilakukan secara paksa. Namun, jika diasumsikan adanya kerelaan kedua belah pihak, maka itu adalah iqālah yang dibenarkan. Dan siapa yang membolehkan pembatalan setelah akad menjadi mengikat tanpa adanya kerelaan, maka ia tidak menyisakan alasan untuk membedakan dalam hal pemisahan.
وذكر بعض المصنفين أنهما إذا تقايلا على أحد العبدين وجعلنا الإقالة فسخاً نفذت وهل ينفسخ العقد في العبد الآخر فعلى قولي تفريق الصفقة وهذا خبال
Sebagian ulama penulis menyebutkan bahwa jika kedua belah pihak melakukan iqālah (pembatalan akad) atas salah satu dari dua budak, dan kita menganggap iqālah sebagai pembatalan akad, maka pembatalan itu berlaku. Adapun apakah akad pada budak yang lain juga batal, maka hal itu kembali pada dua pendapat tentang tafrīq ash-shafqah (perbedaan dalam satu transaksi), dan ini merupakan permasalahan yang rumit.
والأصل اتباع الرضا في الفسخ والإبقاء ولو سلكنا هذا المسلك لخرَّجنا قولاً في منع الإقالة في أحد العبدين فإذا اجتمع الأصحابُ على خلافه بطل هذا المسلك وانتسب صاحبه إلى عدم الإحاطة بحقيقة الإقالة
Pada dasarnya, kerelaan diikuti dalam pembatalan dan pelanjutan akad. Jika kita menempuh pendekatan ini, kita akan menghasilkan pendapat yang melarang iqālah pada salah satu dari dua budak. Namun, ketika para sahabat sepakat atas kebalikannya, maka pendekatan ini batal dan orang yang mengikutinya dianggap tidak memahami hakikat iqālah.
ومما يتفرع على ذلك أنا إذا جعلنا الإقالة عقداً فلو قالا تفاسخنا اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال هو عقد؛ تعويلاً على اشتراط التراضي ومنهم من قال هو فسخ وهذا يستند إلى ما ذكرته من حقيقة الإقالة في صدر الفصل
Dan di antara cabang dari hal tersebut adalah bahwa jika kita menganggap ikālah sebagai akad, maka apabila kedua belah pihak berkata, “Kami saling membatalkan,” para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa itu adalah akad, dengan alasan disyaratkannya kerelaan kedua belah pihak. Sebagian yang lain berpendapat bahwa itu adalah pembatalan (fasakh), dan pendapat ini kembali kepada apa yang telah saya sebutkan tentang hakikat ikālah di awal pembahasan.
وقد نجز الغرض من الإقالة وتفريعها وانتهت مسائل الأصول من كتاب البيع ونحن نذكر فروعاً انسلت عن ضبطنا فليلحقها الناظر بأصولها وليرتبها على قواعدها
Tujuan dari pembahasan tentang iqālah dan cabang-cabangnya telah selesai, dan permasalahan ushul dari Kitab al-Bay‘ telah berakhir. Sekarang kami akan menyebutkan beberapa cabang yang terlewat dari pembahasan kami; hendaknya pembaca mengaitkannya dengan pokok-pokoknya dan menyusunnya berdasarkan kaidah-kaidahnya.
فرع
Cabang
إذا اشترى الرجل جارية ثم تبين أنها أخته من رضاع أو نسب فلا خيار للمشتري وإذا اشترى جارية فإذا هي معتدة من وطء شبهةٍ فله الخيار
Jika seseorang membeli seorang budak perempuan, lalu ternyata ia adalah saudara perempuannya karena hubungan persusuan atau nasab, maka pembeli tidak memiliki hak khiyar. Namun jika seseorang membeli seorang budak perempuan, lalu ternyata ia sedang menjalani masa iddah karena hubungan seksual syubhat, maka ia berhak memilih (khiyar).
أمّا نفي الخيار إذا بانت أخته فسببه أن الأخوّة لم تقدح في المالية وهي مقصود البيع ولا التفات إلى ما يتخلف من الأعراض بعد وفور المالية
Adapun penghilangan hak khiyar jika ternyata perempuan itu adalah saudara perempuannya, sebabnya adalah karena hubungan persaudaraan tidak memengaruhi aspek mal (kekayaan) yang menjadi tujuan utama dalam jual beli, dan tidak perlu memperhatikan hal-hal yang bersifat insidental yang muncul setelah terwujudnya aspek mal tersebut.
ولو اشترى رجل جارية وسعى في تحريمها على البائع بسبب طارىء في يده ثم اطلع على عيب قديم بها ردّها ولم يكن للبائع أن يقول بعتُها وهي محلٌّ لحلي ورددتَها وهي محرّمة فلا أقبلها؛ فإن التحريم والتحليل لا تعويل عليهما في عقد البيع
Jika seorang laki-laki membeli seorang jariyah (budak perempuan) lalu ia berusaha menjadikannya haram bagi penjual karena suatu sebab yang muncul di tangannya, kemudian ia menemukan cacat lama pada jariyah tersebut, maka ia boleh mengembalikannya. Penjual tidak berhak berkata, “Aku menjualnya dalam keadaan halal dan engkau mengembalikannya dalam keadaan haram, maka aku tidak mau menerimanya.” Sebab, status halal atau haram tidak menjadi pertimbangan dalam akad jual beli.
وأمّا ما ذكرناه في المعتدة فالسبب فيه أنها محرمة على الناس كافة وهذا يرِّغب الطالبين عنها وما كان كذلك أثر في المالية وهو بمثابة ما لو اشترى داراً ثم تبين أنها مستأجرة والتفريع على صحة البيع يثبت الخيار
Adapun apa yang telah kami sebutkan mengenai perempuan yang sedang menjalani masa ‘iddah, sebabnya adalah karena ia diharamkan bagi seluruh laki-laki, dan hal ini membuat para pelamar enggan terhadapnya. Keadaan seperti ini berpengaruh pada nilai finansialnya, dan hal ini serupa dengan seseorang yang membeli sebuah rumah, lalu ternyata rumah itu sedang disewa orang lain. Jika penjualan rumah itu dianggap sah, maka pembeli berhak memilih (antara melanjutkan atau membatalkan transaksi).
وعلى هذا القياس لو اشترى جارية وقبضها فوطئها واطىء بالشبهةِ ثم اطلع على عيبٍ قديمٍ كانت العدة بمثابة عيبٍ حادث طرأ في يد المشتري وقد سبق التفصيل فيه ثم ذكرنا في مسائلِ العيوب أن العيب الحادث إذا زال وقد كان تعذر الردُّ بسببه فهل يملك المشتري الردَّ فيه خلاف وتفصيل والعدة وإن كانت في حكم عيب فهي مرجوة الزوال
Demikian pula berdasarkan qiyās ini, jika seseorang membeli seorang budak perempuan, lalu menerimanya dan menggaulinya, kemudian menggaulinya karena syubhat, lalu ia mengetahui adanya cacat lama, maka masa ‘iddah dianggap seperti cacat baru yang muncul di tangan pembeli, dan telah dijelaskan rinciannya sebelumnya. Kemudian kami telah sebutkan dalam masalah-masalah cacat bahwa jika cacat baru itu hilang, padahal sebelumnya pengembalian barang terhalang karena cacat tersebut, maka apakah pembeli berhak mengembalikan barang atau tidak, terdapat perbedaan pendapat dan rincian dalam hal ini. Adapun masa ‘iddah, meskipun dianggap sebagai cacat, namun diharapkan akan hilang.
فلو قال المشتري أصبر حتى تنقضي العدة ثم أرد فقال البائع ضُمّ الأرشَ أو اقبل العيب القديم وإلا فتأخيرك يبطل حقك من الرد فكيف الحكم فيه؛ فعلى وجهين أحدهما أنه يملك التأخير؛ فإن العُذر لائح ورجاء زوال العيب ظاهِر وإنما يبطل حق الرد بالتأخير إذا لم يكن عذرٌ
Jika pembeli berkata, “Aku akan bersabar hingga masa iddah selesai, lalu aku akan mengembalikan (barang),” kemudian penjual berkata, “Tambahkan arsy (ganti rugi) atau terimalah cacat lama itu, jika tidak maka penundaanmu akan membatalkan hakmu untuk mengembalikan barang. Bagaimana hukumnya?” Maka ada dua pendapat: salah satunya, pembeli berhak menunda; karena ada uzur yang jelas dan harapan hilangnya cacat itu tampak nyata. Hak untuk mengembalikan barang hanya gugur karena penundaan jika tidak ada uzur.
ومن أصحابنا من قال إذا أخر يبطل حقه؛ فإنه يجد سبيلاً إلى التخلّص من الظلامة دون الرد فليرض به
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa jika ia menunda, maka gugurlah haknya; sebab ia masih menemukan jalan untuk melepaskan diri dari kezaliman tanpa harus mengembalikan (hak tersebut), maka hendaknya ia rela dengan hal itu.
فرع
Cabang
إذا اشترى عبداً معيباً وقبضه ثم جاء بعبد وقال هذا العبد المبيع وهو معيب وهو الذي قبضتُه وقال البائع ليس هذا الذي قبضتَه مني واشتريتَه وإنما هو عبد آخر ولا بينة قال الأصحاب القول قول البائع مع يمينه؛ فإنه يستبقي العقدَ والأصل بقاؤه ولهذا صدقناه إذا ادعى حدوثَ العيب وأنكر قدمه فأما إذا أسلم في عبدٍ أو غيره من الموصوفات وقبض ثم جاء وقال هذا الذي قبضتُه ليس على الوصف الذي طلبتُه وذكرته في السَّلم فقال المسلم إليه
Jika seseorang membeli seorang budak yang cacat dan telah menerimanya, kemudian ia datang membawa seorang budak dan berkata, “Inilah budak yang dijual, dia cacat, dan inilah yang telah aku terima,” sedangkan penjual berkata, “Bukan ini yang kamu terima dariku dan kamu beli, melainkan budak yang lain,” dan tidak ada bukti, maka menurut para ulama, yang dijadikan pegangan adalah ucapan penjual dengan sumpahnya; karena hal itu mempertahankan akad dan pada dasarnya akad tetap berlaku. Oleh karena itu, kita membenarkannya jika ia mengaku cacat itu terjadi setelah akad dan membantah bahwa cacat itu sudah ada sebelumnya. Adapun jika seseorang melakukan akad salam pada seorang budak atau barang lain yang memiliki sifat tertentu, lalu ia menerima barangnya, kemudian ia berkata, “Barang yang aku terima ini tidak sesuai dengan sifat yang aku minta dan aku sebutkan dalam akad salam,” maka orang yang menerima salam berkata…
ليس هذا ذاك الذي قبضتَه مني فالقول قول من؛ فعلى وجهين أحدهما القولُ قولُ المسلَم إليه؛ فإنه قد سبق قبض وفاقاً والمسلِم يدَّعي بعد ذلك مرجعاً
Ini bukan barang yang telah engkau terima dariku, maka siapakah yang ucapannya diterima? Ada dua pendapat: pertama, ucapan yang diterima adalah ucapan orang yang menerima salam, karena sebelumnya telah terjadi penyerahan barang secara sepakat, sedangkan pihak yang menyerahkan salam mengklaim adanya pengembalian setelah itu.
والوجه الثاني أن القول قول المسلِم؛ فإنهما اتفقا على اشتغال ذمة المسْلم إليه والمسلَم إليه يدعي براءة ذمته والأصل اشتغالها وليس كذلك العبد المعيّن؛ فإنهما اتفقا على أن المشتري قبض ما اشتراه ثم اختلفا في أن العقد هل يفسخ بعد ذلك أم لا والأصل بقاء العقد
Pendapat kedua adalah bahwa yang dipegang adalah pernyataan pihak musallim, karena keduanya sepakat bahwa tanggungan musallam ilaih sedang terikat, dan musallam ilaih mengklaim bahwa tanggungannya telah bebas, sedangkan asalnya adalah tanggungan itu masih terikat. Tidak demikian halnya dengan budak tertentu; karena keduanya sepakat bahwa pembeli telah menerima apa yang dibelinya, kemudian mereka berselisih apakah akad itu batal setelah itu atau tidak, dan asalnya akad itu tetap berlaku.
وما ذكرناه من الوجهين في المسلم إليه يجريان في الثمن الواقع في الذمة
Apa yang telah kami sebutkan dari dua pendapat mengenai muslim ilayh juga berlaku pada harga (tsaman) yang menjadi tanggungan (dzimmah).
وذكر ابن سريج في كل عوضٍ ثابت في الذمة ثمناً كان أو مثمناً ما ذكرناه من الوجهين في الحُكم الذي أردناه وزاد وجهاً ثالثاً ذكره في الثمن وهو أنه قال لو قال البائع الدراهم التي سلمتها أيّها المشتري مبهرجةٌ زيوفٌ وليست وَرِقاً فالقول قوله؛ فانه ينكر أصلَ القبض وإن قال هي معيبةٌ فالقول قول المشتري حينئذٍ؛ فإن أصل القبض ثابت؛ بدليل أنه لو رضي القابض به لعد ثمناً وجرى عوضاً
Ibnu Suraij menyebutkan bahwa pada setiap imbalan yang tetap dalam tanggungan, baik sebagai harga maupun barang yang dijual, berlaku dua pendapat yang telah kami sebutkan terkait hukum yang dimaksud, dan ia menambahkan pendapat ketiga yang disebutkannya dalam masalah harga, yaitu: jika penjual berkata, “Uang dirham yang engkau terima, wahai pembeli, adalah uang palsu, rusak, dan bukan perak murni,” maka yang dipegang adalah pernyataan penjual; karena ia mengingkari pokok penyerahan. Namun jika ia berkata, “Uang itu cacat,” maka yang dipegang adalah pernyataan pembeli saat itu; karena pokok penyerahan telah tetap, dengan dalil bahwa jika penerima ridha dengannya, maka uang itu dianggap sebagai harga dan berlaku sebagai imbalan.
فرع
Cabang
إذا أوصى إلى رجل أن يبيع عبداً معيباً من تركته ويشتري بثمنه جاريةً ويعتقها عنه فباع الوصي العبد بألف واشترى بالألف جارية وأعتقها عن الموصي ثم وجد مشتري العبد به عيباً ورده فللوصي أن يبيع ذلك العبد المردود ويؤدي من ثمنه الألفَ الذي كان ثمناً فإن وفَّى ثمنُ العبد لمَّا باعه بعد الرد فلا كلام وإن كان ثمنه تسع مائة لمكان العيب الذي بدا فذلك النقصان لا بد من جبره لرد جملة الثمن على المشتري فذلك النقصان على من اختلف أصحابنا في المسألة فمنهم من قال هو على الوصي؛ فإنَّ الموصي إنما أمره أن يشتري بثمنه جارية وقد بان أخيراً أن ثمنه تسع مائة؛ فكان من حقه ألا يشتري الجارية إلا بهذا المبلغ؛ فهو بترك البحث مفرّط ثم هو ضامن بسبب تفريطه
Jika seseorang berwasiat kepada seorang laki-laki agar menjual seorang budak yang cacat dari harta peninggalannya, lalu membeli seorang budak perempuan dengan hasil penjualannya dan memerdekakannya atas nama si pewasiat, kemudian washi menjual budak itu seharga seribu, membeli budak perempuan dengan seribu itu, dan memerdekakannya atas nama pewasiat, lalu pembeli budak tersebut menemukan cacat pada budak itu dan mengembalikannya, maka washi boleh menjual kembali budak yang dikembalikan itu dan membayarkan dari hasil penjualannya seribu yang sebelumnya menjadi harga budak tersebut. Jika harga budak itu setelah dijual kembali mencukupi, maka tidak ada masalah. Namun jika harganya hanya sembilan ratus karena cacat yang ditemukan, maka kekurangan itu harus ditutupi agar seluruh harga dapat dikembalikan kepada pembeli. Tentang siapa yang menanggung kekurangan itu, para ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kekurangan itu menjadi tanggungan washi; karena pewasiat hanya memerintahkannya untuk membeli budak perempuan dengan harga budak tersebut, dan ternyata akhirnya harga budak itu hanya sembilan ratus. Maka seharusnya ia tidak membeli budak perempuan kecuali dengan jumlah tersebut; sehingga dengan tidak meneliti, ia dianggap lalai dan ia bertanggung jawab atas kelalaiannya itu.
ومن أصحابنا من قال لا ضمان على الوصي في تلك الزيادة ولكنها في ذمة الميت الموصي تؤدَّى من تركته؛ وذلك أن الوصيّ بالحاكم والعدل في الرهن أشبه وقد قال الشافعي إذا باع الحاكم شيئاً فلزمت فيه عُهدة فلا تتعلق الغرامة بالحاكم وكذلك من عُدّل الرهن على يده
Sebagian dari ulama kami berpendapat bahwa tidak ada tanggungan ganti rugi atas washi (pelaksana wasiat) terhadap tambahan tersebut, melainkan itu menjadi tanggungan di dalam harta si mayit yang berwasiat dan harus dibayarkan dari peninggalannya; sebab washi itu seperti hakim dan orang yang adil dalam urusan rahn (gadai), dan asy-Syafi‘i berkata: Jika hakim menjual sesuatu lalu terdapat tanggungan jaminan atasnya, maka ganti rugi itu tidak dibebankan kepada hakim, demikian pula orang yang ditetapkan sebagai pemegang rahn.
ولو باع الوصيُّ العبدَ المردودَ عليه فزاد ثمنُه على الألف فقد بان لنا فيه أنه فرط في بيعه لما باعه بالألف وكانت قيمته ألفان والمسألة فيه إذا لم تكن الزيادة عن ارتفاع سِعرٍ ولا عن قبول زبون فقد جرى بيعه بغبن وكان باطلاً ولا حاجة إلى الرد
Jika washi menjual budak yang telah dikembalikan kepadanya, lalu harganya melebihi seribu, maka telah jelas bagi kita bahwa ia telah lalai dalam penjualannya ketika ia menjualnya seharga seribu padahal nilainya dua ribu. Permasalahannya adalah jika kelebihan harga tersebut bukan karena kenaikan harga pasar atau karena adanya pembeli yang menerima, maka penjualannya telah terjadi dengan kerugian (ghabn) dan penjualannya batal, sehingga tidak perlu ada pengembalian.
وشراءُ الجاريةِ إن كان واقعاً في الذمة فينصرف إليه والعتق واقعٌ عنه وعليه الآن بتمام ثمن العبد جارية فيعتقها عن الموصي وإن كان قد اشترى الجارية بعين ما قبضه في ثمن العبدِ فلا يصح العقد؛ فإن المشار إليه كان مستحقاً ولم ينفذ العتق
Jika pembelian budak perempuan itu terjadi dalam tanggungan, maka hal itu diarahkan kepadanya dan pembebasan budak terjadi atas namanya, dan sekarang ia wajib membayar seluruh harga budak perempuan tersebut, lalu ia memerdekakannya atas nama orang yang berwasiat. Namun, jika ia telah membeli budak perempuan itu dengan harta yang diterimanya sebagai harga budak laki-laki, maka akadnya tidak sah; karena barang yang dimaksudkan itu adalah milik orang lain dan pembebasan budak tidak berlaku.
ومما يليق ببقية المسألة أنا قطعنا القول بأن الوصي إذا رُدَّ العبدُ عليه فله بيعه لم يحك الشيخُ فيه خلافاً
Dan termasuk hal yang berkaitan dengan sisa permasalahan ini adalah bahwa kami telah menetapkan pendapat bahwa apabila budak dikembalikan kepada washi, maka ia berhak menjualnya; Syaikh tidak meriwayatkan adanya perbedaan pendapat dalam hal ini.
فإن قيل لو باع الوكيل عبداً فرُدَّ عليه بالعيبِ فهل له أن يبيعه مرة أخرى قلنا اختلف أصحابنا في المسألة فذهب بعضهم إلى أنه يبيعه؛ فإن الموكل قد أذن له في بيعٍ يلزم وينفذ فإذا نُقض عليه فله البيع ثانياً والمذهب الصحيح الذي اختاره القفال أنه لا يصح منه البيع ثانياً ؛ لأن المبيع رجع إلى ملك الموكَل رجوعاً جديداً فلا يستفيد الوكيل التصرف في هذا الملك الجديد
Jika dikatakan: Jika seorang wakil menjual seorang budak lalu budak itu dikembalikan kepadanya karena cacat, apakah ia boleh menjualnya lagi? Kami katakan: Ulama kami berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia boleh menjualnya lagi; karena pemberi kuasa telah mengizinkannya untuk melakukan penjualan yang sah dan mengikat, maka jika penjualan itu dibatalkan, ia boleh menjualnya kembali. Namun pendapat yang benar yang dipilih oleh al-Qaffal adalah bahwa tidak sah bagi wakil untuk menjualnya lagi; karena barang yang dijual itu telah kembali ke kepemilikan pemberi kuasa sebagai kepemilikan yang baru, sehingga wakil tidak berhak melakukan tindakan atas kepemilikan yang baru ini.
ولو أذن للوكيل في بيع عبده بشرط الخيار للمشتري فباعه وشرط الخيارَ ففسخ المشتري البيع فهل يجوز للوكيل أن يبيعه ثانياً؛ فعلى وجهين مشهورين قرَّبهما القفال من القولين في أن البيع بشرط الخيار هل يوجب نقلَ الملك فإن قلنا انتقل الملك إلى المشتري فالأشبه أن لا يبيع الوكيل مرة أخرى وإن قلنا الملك للموكل فيجوز أن يبيعه الوكيل ثانياً؛ فإن هذا ذلك الملك بعينه فلا يبعد أن يدوم الإذن إلى أن يتفق نقل الملك والمسألة محتملة على القولينِ
Jika pemberi kuasa mengizinkan wakil untuk menjual budaknya dengan syarat khiyar bagi pembeli, lalu wakil menjualnya dan mensyaratkan khiyar, kemudian pembeli membatalkan jual beli tersebut, apakah boleh bagi wakil untuk menjualnya lagi? Dalam hal ini terdapat dua pendapat yang masyhur, yang didekatkan oleh al-Qaffal dari dua pendapat mengenai apakah jual beli dengan syarat khiyar menyebabkan perpindahan kepemilikan. Jika kita katakan bahwa kepemilikan telah berpindah kepada pembeli, maka yang lebih kuat adalah wakil tidak boleh menjualnya lagi. Namun jika kita katakan bahwa kepemilikan tetap milik pemberi kuasa, maka boleh bagi wakil untuk menjualnya lagi; karena ini adalah kepemilikan yang sama, sehingga tidak mustahil izin tersebut tetap berlaku hingga terjadi perpindahan kepemilikan. Permasalahan ini masih mungkin terjadi menurut kedua pendapat tersebut.
فرع
Cabang
إذا اشترى الرجل عبداً ثم بان له أنه ابنه صح العقد ونفذ العتقُ ولا مردّ له
Jika seseorang membeli seorang budak, kemudian ternyata budak itu adalah anaknya, maka akad jual belinya tetap sah dan pembebasan budaknya berlaku, serta tidak ada pengembalian.
وإذا عسر ردُّ العتق فلو اطلع على عيب قديم به رجع بالأرش
Dan apabila sulit mengembalikan budak yang telah dimerdekakan, maka jika diketahui adanya cacat lama pada budak tersebut, ia berhak menuntut kompensasi (arasy).
ولو قال ولا عيب به للبائع أغرمك شيئاً إذْ خسَّرتني لم يغرمه؛ فإن العبد لا نقصان به
Dan jika penjual berkata, “Tidak ada cacat pada budak ini, jika ternyata ada cacat maka aku akan menggantimu sesuatu karena engkau telah merugikanku,” maka ia tidak wajib menggantinya; karena pada budak tidak ada kekurangan.
فرع
Cabang
إذا باع سمسماً على أن يكون الدهن مبيعاً والكسب للبائع أو باع قطناً على أن الحليج هو المبيع والحب للبائع فالبيع باطل؛ فإن المبيع ليس متعيناً على التحقيق ولا جزءاً شائعاً
Jika seseorang menjual biji wijen dengan syarat bahwa minyaknya adalah barang yang dijual dan ampasnya untuk penjual, atau menjual kapas dengan syarat bahwa hasil penggilingan adalah barang yang dijual dan bijinya untuk penjual, maka jual beli tersebut batal; karena barang yang dijual tidak ditentukan secara pasti dan bukan pula bagian yang bersifat umum.
فرع
Cabang
إذا قال بعتك هذا على أن لا ثمن لي عليك فقال اشتريتُ وقبضه فالذي قطع به الأئمة فسادُ البيع ثم قالوا لو تلف المقبوض في يد المشتري ففي وجوب الضمان وجهان أحدهما الوجوب؛ لأنه مقبوض على حكم بيع فاسد والثاني لا يجب الضمان؛ لأن البائع رضي بحطِّه وبنى الأمر عليه فصار القبض قبض وديعة
Jika seseorang berkata, “Aku menjual barang ini kepadamu dengan syarat tidak ada harga yang harus kamu bayar kepadaku,” lalu yang lain berkata, “Aku membelinya,” dan ia pun menerima barang itu, maka para imam secara tegas memutuskan bahwa jual beli tersebut batal. Kemudian mereka mengatakan, jika barang yang diterima itu rusak di tangan pembeli, maka ada dua pendapat mengenai kewajiban ganti rugi: pendapat pertama mewajibkan ganti rugi, karena barang itu diterima berdasarkan hukum jual beli fasid; pendapat kedua tidak mewajibkan ganti rugi, karena penjual telah rela menghapuskan haknya dan membangun urusan atas dasar itu, sehingga penerimaan barang tersebut menjadi seperti penerimaan barang titipan (wadi‘ah).
وذكر القاضي قولين في أن ما جرى هل يكون هبة صحيحة مملكة أحدهما أنه هبة؛ نظراً إلى القصد ولا اعتبار بالخطأ في اللفظ
Qadhi menyebutkan dua pendapat mengenai apakah apa yang terjadi itu merupakan hibah yang sah dan memindahkan kepemilikan; salah satunya adalah bahwa itu dianggap hibah, dengan mempertimbangkan maksudnya, dan kesalahan dalam lafaz tidak dianggap.
والثاني أن هذا ليس بهبة؛ فإن البيع ينافي في وضعه معنى الهبة و العقود لا تنعقد بالمقاصد وإنما تنعقد بالألفاظ
Kedua, bahwa ini bukanlah hibah; sebab jual beli secara hakikatnya bertentangan dengan makna hibah, dan akad-akad tidak terwujud berdasarkan maksud, melainkan terwujud berdasarkan lafaz.
ولو قال بعتك هذا ولم يتعرض لنفي الثمن وإثباتِه فقال المخاطب قبلتُه فلا يكون هذا تمليكاً وفاقاً والأصح أن القبض المترتب عليهِ قبض ضمان؛ فإنه ليس مشتملاً على نفي الضمان
Jika seseorang berkata, “Aku jual kepadamu barang ini,” tanpa menyebutkan penafian atau penetapan harga, lalu orang yang diajak bicara berkata, “Aku menerimanya,” maka hal ini tidak dianggap sebagai pemilikan menurut kesepakatan. Pendapat yang lebih sahih adalah bahwa penerimaan (qabḍ) yang terjadi setelahnya merupakan qabḍ ḍamān (penerimaan yang menimbulkan tanggung jawab), karena pernyataan tersebut tidak mengandung penafian tanggung jawab.
ومن أصحابنا من خرّج الضمان في هذه الصورة على الخلاف المقدم وسنذكر أمثلة لهذا في كتابِ الخلع إن شاء الله عز وجل
Sebagian dari ulama kami mengaitkan penetapan jaminan dalam kasus ini dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, dan kami akan menyebutkan contohnya dalam Kitab Khul‘, insya Allah ‘Azza wa Jalla.