الحَمْدُ لِلهِ الكَرِيمٍ الخَلَّاق 
Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia Lagi Maha Pencipta

 والصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المَبْعُوثِ لِتَتْمْيمِ مَكَارِمِ الأخْلَاق 
dan rahmat dan salam untuk junjungan kita Muhamad yang di utus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia 

وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِ مَا جَرَى قَلَمُ التَّلْخِيصِ وَالبَيَانِ عَلَى صِفَاتِ الاوْرَاق
dan untuk keluarga dan sahabat-sahabatnya selama mengalirnya pena ringkasan dan kejelasan pada lembaran-lembaran kertas.

أَمَّا بَعْدُ فَهَذَا مُخْتَصَرٌ فِي عِلْمِ الأَخْلَاقٍ الدِّينِيَّةِ وَضَعْتُهُ لِطُلَّابِ السَّنَةِ الأُولَى الأَزْهَرِيَّةِ 
Adapun setelah itu, maka ini adalah ringkasan tentang Ilmu Akhlaq agama, yang saya buat untuk para Pelajar Tahun Pertama Al-Azhar

وَسَمَّيْتُهُ تَيْسِيرِ الخَلَّاق فِى عِلْمِ الأَخْلَاق
 dan saya namakan Taisirul Khollaq fi Ilmil Akhlaq (kemudahan sang maha pencipta tentang ilmu akhlaq)

فَقُلْتُ وَبِاللهِ العِصْمَةُ وَبِيَدِهِ إِتْمَامُ النِّعْمَةِ
Maka saya berkata -Dan hanya dengan Allah lah pemeliharaan, dan hanya dengan kekuasaan-Nya penyempurnaan nikmat- :

عِلْمُ الأَخْلَاقِ عِبَارَةٌ عَنْ قَوَاعِدَ يُعْرَفُ بِهَا صَلَاحُ القَلْبِ وَسَائِرِ الحَوَاس 
Ilmu Akhlak adalah istilah tentang kaedah-kaedah yang di buat mengetahui kebaikan hati dan seluruh anggota tubuh.

وَمَوْضُوعُهُ الأَخْلَاقُ مِنْ حَيْثُ التَّحَلِّى بِمَحَاسِنِهَا وَالتَّخَلِّى عَنْ قَبَائِحِهَا 
Pembahasanya adalah Akhlak dari segi berhias dengan kebaikan-kebaikannya dan mengosongkan keburukan-keburukan.

وَثَمْرَتُهُ صَلَاحُ القَلْبِ وَسَائِرِ الحَوَاسِ فِي الدُّنْيَا وَالفَوْزُ بأعَلَى المَرَاتِبِ فِى الآخِرَة
Buahnya adalah kebaikan hati dan seluruh anggota di dunia, dan memperoleh kedudukan yang tinggi di akhirat.

التَّقْوَى هِىَ إِمْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيهِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً 
Taqwa adalah melakukan perintah-perintah Allah yang Maha Tinggi dan Maha Besar serta menjauhi larangan-larangaNya secara tersembunyi dan terang-terangan

فَلَا تَتِمُّ إِلَّا بِالتَّخَلِّى عَنْ كُلِّ رَذِيلَةٍ ، وَالتَحَلِّى بِكُلِّ فَضِيلَةٍ 
Maka Takwa tidak sempurna kecuali dengan menjauhi semua keburukan dan berhias dengan setiap keutamaan

فَهِيَ الطَّرِيقُ الَّذِي مَنْ سَلَكَهُ اهْتَدَى
Maka Taqwa adalah jalan, yang siapa yang menapakinya maka ia akan mendapat petunjuk

 وَالعُرْوَةُ الوُثْقَى الَّتِي مَنْ اسْتَمْسَكَ بِهَا نَجَا
dan tali yang kuat, yang siapa yang memegangnya akan selamat

وَأَسْبَابُهَا كَثِيرَةٌ
Sebab-sebab takwa itu banyak

مِنْهَا: أَنْ يُلَاحِظَ الإنْسَانُ أَنَّهُ عَبْدٌ ذَلِيلٌ ، وَأَنَّ رَبَّهُ قَوِيٌّ عَزِيز، وَلَا يَنْبَغِى لِلذَّلِيلِ أَنْ يَعْصِىَ العَزِيز ، لِأَنَّ نَاصِيَتُهُ بِيَدِه
Di antaranya: hendaknya manusia memperhatikan bahwa ia itu hamba yang hina, dan tuhannya itu maha kuat dan perkasa, dan tidak layak bagi yang hina mendurhakai yang maha perkasa karena ubun-ubunnya dalam kekuaasan-Nya

وَمِنْهَا أَنْ يَتَذَكَّرَ إِحْسَانَ اللهِ إلَيْهِ فِى جَمِيعِ الأحْوَالِ ، وَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ لَا يَنْبَغِى أَنْ تَجْحَدَ نِعْمَتَهُ
Di antaranya: hendaknya ia mengingat kebaikan Allah kepadanya dalam segala hal, dan barang siapa seperti itu tentu tidak layak dia mengingkari nikmat-Nya.

 وَمِنْهَا: أَنْ يَتَذَكَّرَ المَوْتَ ، لِأَنَّ مَنْ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَكُون وَأَنَّهُ لَيْسَ أَمَامَهُ إِلَّا الجَنَّةَ أَوِ النَّار ، بَعَثَهُ ذَلِكَ إِلَى الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ حَسْبَ الإسْتِطَاعَة 
Di antaranya : handaknya ia mengingat mati, karena seseorang yang menyadari bahwa dia akan mati, dam tiada di hadapannya selain surga dan Neraka, hal tersebut mendorongnya dirinya pada amal-amal baik semampunya

 وَمِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ مُسَاعَدَةُ المُسْلِمِينَ وَالنَّظَرُ إِلَيْهِم بِعَيْنِ العَطْفَ وَالرَّحْمَةِ خُصُوصًا إِذَا سَبَقَ مِنْهُم إحْسَانٌ إِلَيْه
di antara perbuatan baik adalah menolong sesama muslim, memandang mereka dengan pandangan lemah lembut dan kasih sayang,  lebih-lebih jikamereka lebih duluan berbuat baik

.وَأَمَّا ثَمَرَتُهَا فَسَعَادَةُ الدَّارَيْن
adapun buah Taqwa adalah kebaahagiaan di dua rumah (dunia dan akhirat).

أَمَّا فِى الدُّنْيَا فَارْتِفَاعُ القَدْرِ وَجَمَالُ الصِّيتِ وَالذِّكْرِ وَاكْتِسَابُ المَوَدَّةِ مِنَ النَّاسِ
Adapun di dunia: maka terangkatnya derajat, harum nama dan sebutan, dan memperoleh kasih sayang  dari manusia

لِأَنَّ صَاحِبَ التَّقْوَى يُعَظِّمُهُ الأَصَاغِرِ ، وَيَهَابَهُ الأَكَابِرُ ، وَيَرَاهُ كُلُّ عَاقِلٍ أَنَّهُ الأَوْلَى بِالبِرِّ وَالإِحْسَان
karena orang yang memiliki takwa di agungkan oleh orang-orang kecil dan ditakuti orang-orang besar, setiap orang berakal melihat bahwa orang taqwa lebih berhak kebaikan dan kebagusan

وَأمَّا فِى الآخِرَةِ فَالنَّجَاةُ مِنَ النَّارِ وَالفَوْزُ بِدُخُولِ الجَنَّةِ 
Dan adapun di akhirat: maka selamat dari neraka, dan mendapat masuk surga

وَكَفَى المُتَّقِينَ شَرَفًا أَنَّ اللهَ يَقُولُ فِيهِم
 cukop kemuliaan orang yang bertaqwa bahwa Allah berfirman tentang mereka:

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”(An-Nahl : 128)

Murid atau pelajar itu mempunyai adab yang berkaitan dengan dirinya sendiri, adab dengan guru dan adab dengan teman-temannya.

Adapun adab murid yang berhubungan dengan dirinya sendiri itu banyak, antara lain : Meninggalkan sifat ujub, tawadlu’ atau ramah, jujur supaya disenangi dan dapat dipercaya, tenang, berwibawa, tidak banyak menoleh ketika berjalan dan tidak memandang hal-hal yang dilarang agama, jujur dengan Ilmu pengetahuan yang dimiliki. Maksudnya, tidak menjawab persoalan yang belum dia ketahui.

Adapun etika murid terhadap guru, antara lain :

Berkeyakinan, bahwa kemuliaan gurunya melebihi kemuliaan kedua orang tuanya sendiri. Sebab, dialah yang mendidik jiwanya. Tunduk ketika di hadapan guru. Duduk dengan sopan, ketika sedang menerima pelajaran dari guru dan mendengarkannya dengan baik. Tidak bergurau. Tidak mengunggul-unggulkan guru lain di hadapan gurunya, agar dia tidak tersinggung. Tidak malu bertanya kepada guru tentang persoalan yang belum dipahaminya.

Adapaun etika murid terhadap sesama temannya, antara lain : Menghormati meerka, tidak melecehkan mereka, tidak menyombongi mereka, tidak menghina merekan karena kelambatannya dalam memahami pelajaran, dan tidak merasa senang apabila guru mencemooh salah seorang dari mereka yang bebal, sebab, sikap yang demikian itu menyebabkan terjadi permusuhan.

Ayah dan ibu merupakan sebab adanya manusia ini. Andaikata bukan karena jerih payah mreka berdua, tentu manusia ini tidak bisa hidup mapan. Andaikata tidak ada kesengsaraan mereka berdua, pasti manusia ini tidak dapat merasakan kesenangan.

Mengenai ibu, dia telah mengandung dengan rasa susah payah, begitu pula ketika melahirkan. Sedangkan ayah, dia telah mencurahkan semua kemampuannya dalam mencapai kebaikan untuk perawatan badan dan jiwa anaknya. Oleh sebab itu, anak harus selalu mengingat jasa baik kedua orangtuanya, agar bisa berterima kasih kepada mereka atas jasanya. Mematuhi semua perintah kedua orangtua, kecuali jika diperintah maksiat. Jika perintah maksiat, maka tidak perlu ditaati. Duduk di hadapannya dengan khusyuk, sopan dan tidak mengungkit kesalahan mereka berdua. Tidak menyakiti mereka berdua, meskipun hanya dengan mengucapkan cih atau hus. Tidak terus menerus membantah mereka berdua. Tidak berjalan di depan orangtua, kecuali ketika melayani mereka. Mendoakan kedua orangtua, agar mendapat rahmat dan ampunan dari Allah swt. Mendorong ayah dan ibu agar berbuat baik dan mencegahnya brbuat kemungkaran, agar si anak menjadi sebab mereka selamat dari siksa neraka.

Allah swt. Berfirman :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : ‘Wahai Tuhaku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.”

Camkanlah uraian di atas dan hendaklah si anak itu lebih mengutamakan ibunya, karena Nabi saw bersabda :

“Bakti kepada ibu itu mesti dua kali lipat kepada ayah.”

Sanak kerabat seseorang, ialah orang-orang yang mempunyai hubungan famili dengannya. Allah swt. telah memerintahkan menyambung hubungan sanak famili dan melarang memutusnya. Rasulullah saw. bersabda : Allah swt. berfirman dalam (hadis Qudsi) :

“Aku adalah Ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pengasih) dan kata Ar-Rohim, itu Aku keluarkan dari nama-Ku. Karena itu, barang siapa menyambung hubungan famili, maka Aku menyambungnya. Tetapi barangsiapa yang memutus hubungan kefamilian, maka Aku akan memutus hubungan dengannya.”

Karena itu, setiap orang wajib menjaga hak-hak sanak famili, dan memenuhinya. Tidak menyinggung perasaan salah seorang famili, baik dengan tindakan maupun ucapan. Ramah kepada sanak famili. Sabar menghadapi gangguan sanak famili, meskipun kelewat batas. Menanyakan famili yang tidak tampak. Membantu famili dalam mendapatkan kebutuhan-kebutuhan mereka. Melindungi famili dari segala yang membahayakannya, meskipun mereka tidak memerlukan. Sering mengunjungi atau menziarahi sanak famili.

Tetangga ialah tiap-tiap oang yang tempat tinggalnya dekat dengan tempat tinggalmu, dengan jarak 40 rumah dari semua arah.

Tetangga itu memiliki hak yang harus engkau penuhi, antara lain : Memberi salam terlebih dahulu kepadanya, berbuat baik kepadanya, membalas kebaikan tetangga yang telah lebih dahulu berbuat berbuat baik kepadamu, memberikan hak-haknya yang bersifat materi yang menjadi tanggunganmu, menjenguknya tatkala sakit dan memberi ucapan selamat kepadanya ketika ia mendapat kesenangan. Turut berduka cita, apabila tetangga sedang tertimpa bencana. Tidak memandang istri-istri, anak perempuan maupun pembantu-pembantu perempuan tetangga. Menghindarkan sesuatu yang tidak menyenangkan tetangga, sekuat kemampuan. Menerima atau menyambut tetangga dengan wajah berseri-seri dan penuh hormat.

Rasulullah saw. bersabda :

“Barangsiapa mengaku beriman kepada Allah dan hari pembalasan, maka hendaklah memulakan tetangganya.”

“Dari ‘Aisyah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda : Malaikat selalu mewanti-wanti saya tentang hak-hak tetangga, sehingga saya mengira tetangga itu dapat mewarisi tetangga lainnya.”

Etika pergaulan itu banyak, antara lain : Bermuka menyenangkan, ramah, mendengar ucapan orang lain, tidak angkuh, diam tatkala teman sedang bergurau, memaafkan teman yang khilaf, santun dan tidak membanggakan (menyombongkan) diri dengan pangkat atau kekayaan. Sebab, menyombongkan diri dengan cara ini dapat menjatuhkan harga diri.

Di antara adab pergaulan yang lain, ialah menyimpan rahasia, karena tidak ada nilai bagi orang yang tidak dapat menyimpan rahasia.

Kata penyair :

“Jika seseorang tidak bisa memelihara tiga perkara, maka juallah dia, meskipun hanya dengan harga segenggam abu. (Tiga perkara) itu, ialah, setia kawan, mengorbankan harta kekayaan dan menyimpan rahasia di dalam hati.”

Kerukunan adalah perasaan tenteram ketika hidup bersama orang banyak dan senang ketika bertemu mereka. Adapun sebab-sebab tercipta kerukunan itu ada lima, yaitu :

Pertama: Ada kepercayan agama; Sebab iman yang sempurna itu akan melahirkan rasa kasih sayang terhadap sesamanya.

Kedua: Ada hubungan nasab: Karena manusia itu – pada dasarnya –  cenderung pada familinya, cinta kepada mereka dan selalu berusaha menyelamatkan mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

Ketiga: Ada ikatan perkawinan; Sebab, seseorang apabila mencintai istri atau suaminya, tentu menyukai pula kepada setiap orang yang mempunyai hubungan dengannya. Khalid bin Yazid bin Mu’awwiyah pernah berkata :

“Orang yang paling saya benci adalah kluarga Zubair bin Al-Awwwam tetapi saya kemudian kawin dengan salah seorang putri mereka, akhirnya mereka menjadi orang-orang yang paling saya cintai.”

Keempat: Sikap baik, yaitu tindakan atau ucapan baik kepada sesama manusia. Ada penyair berkata :

“Bersikaplah baik kepada sesama manusia, engkau pasti dapat menundukkan hati mereka. Karena sejak dahulu sikap baik itu dapat menarik simpati dari orang banyak.”

Kelima: Ada pertalian persaudaraan, sebagaimana sikap Rasulullah saw. mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dengan orang-orang Anshar, agar kuat hubungan mereka dan bertambah rukun.

Adapun manfaat kerukunan itu, adalah dapat saling memberikan kebaikan di antara sesama manusia dan tolong menolong dalam usaha baik dan taat kepada Allah. Dengan kerukunan inilah keadaan menjadi seimbang, stabil dan tidak ada gejolak. Allah swt. berfirman :

“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”

Persaudaraan adalah pertalian hubungan cinta kasih antara dua orang. Masing-masing mereka berusaha berbuat baik kepada lainnya, dengan cara memberi bantuan kepada lainnya. Baik berupa harta, tenaga, sikap memaafkan, ketulusan, kesetiaan, usaha meringankan bebannya, tidak saling membebani, selalu berkata baik sesuai ajaran agama, menganjurkan berbuat baik dan menghindarkannya dari kemungkaran serta saling memohon kebaikan kepada Allah.

Adapun manfaat persaudaraan itu sangat besar. Sebab, ia dapat mendorong seseorang berbudi mulia, menciptakan kerukunan dan perdamaian yang diharapkan oleh Allah dari hasil takwa.

“Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan-hubungan di antara sesamamu.”

(Q.S. Al-Anfal, 8: 1).

Orang yang menghadiri majelis-majelis pertemuan, hendaknya mengucapkan salam kepada para hadirin yang telah ada di majelis. Duduk di deretan terakhir, sesuai urutan. Tidak menghiraukan omongan-omongan yang tidak bermanfaat. Menyingkirkan kemungkaran dengan tangan, lisan atau cukup membenci dalam hatinya.

Segera meninggalkan majelis, apabila dinyatakan telah selesai. Tidak merendahkan seseorang yang ada di majelis itu, sebab boleh jadi orang itu mulia dalam pandangan Allah. Tidak mengagung-agungkan seseorang karena kekayaannya. Sebab, hal ini dapat melemahkan iman dan menjatuhkan harga dirinya.

Apabila orang itu sedang duduk-duduk di tepi jalan, maka hendaknya memejamkan mata (merendahkan pandangan), membantu orang lemah (teraniaya), memberi petunjuk kepada orang yang tersesat, menjawab ucapan salam, memberi kepada pengemis dan duduk dengan tenang. Sebab, hal yang demikian itu dapat mendorong orang lain menghormati dan bersimpati kepadanya.

Tata cara sebelum makan ialah : Membasuh tangan, Meletakkan makanan yang hendak dimakan di atas tikar (alas) atau meja duduk. Niat mendapatkan kekuatan untuk menjalankan ibadah. Tidak terlalu kenyang. Menyukai terhadap makanan yang ada. Tidak menghina makanan yang ada dan mencari teman untuk diajak makan bersama.

Adapun tata cara ketika sedang makan ialah : Membaca Bismillah dengan keras, agar orang lain mau membacanya pula. Menggunakan tangan kanan. Memperkecil suapan. Mengunyah dengan baik sampai lumat. Tidak mengulurkan tangan untuk mengambil makanan lagi sebelum makanan di mulut habis. Mengambil makanan yang ada di hadapannya saja, kecuali jika berupa buah-buahan. Tidak meniup makanan. Tidak memotong makanan dengan pisau. Tidak mengusap-usapkan tangan pada makanan. Tidak meletakkan (mencampur) biji kurma (buah lain) di tempat kurma (buah) dan tidak minum, kecuali ketika benar-benar memerlukannya.

Sedangkan tata cara sesudah makan ialah : Mengakhiri makan sebelum terlalu kenyang. Membasuh kedua tangan sesudah menjilatnya. Membersihkan makanan yang tercecer dan membaca Alhamdulillah.

Tata cara minum itu banyak, antara lain : Mengambil tempat minum dengan tangan kanan. Melihat air minum sebelum meminumnya. Membaca Bismillah. Duduk dan menghirupnya dan tidak menenggak (nglogok, jawa), karena menengguk air minum itu dapat membahayakan hati. Rasulullah saw. bersabda :

“Jika engkau minum, maka hendaklah kalian menghirupnya dan jangan sekali-kali kalian menengguknya.”

Meminum sebanyak tiga kali hirupan dengan membaca Bismillah pada setiap kali hirupan. Membaca Alhamdulillah ketika selesai minum. Tidak bernafas di dalam tempat minum dan tidak bersendawa di tempat minuman. Apabila hendak memberi minuman kepada orang lain, maka hendaknya mendahulukan orang yang berada di sebelah kanan meskipun ada orang yang lebih mulia di sebelah kirinya. Sebab, Nabi saw. pernah memberikan minuman kepada seeorang badui di sebelah kanan beliau, padahal di sebelah kiri beliau ada Abu Bakar dan Umar r.a.

Beliau waktu itu bersabda :

“Dahulukanlah yang sebelah kanan, lalu ke kanan terus.”

Jika seseorang hendak tidur, maka hendaknya suci dari hadas (beruwdlu). Berbaring meenghadap kiblat. Berniat mengistirahatkan badannya, agar nantinya kuat mnjalankan ibadah dan berdzikir kepada Allah sebelum tidur dan sesudahnya.

Rasulullah saw. apabila hendak tidur pada malam hari, maka beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu berdoa dengan doa :

Dan ketika bangun, beliau membaca doa :

Mesjid adalah rumah-rumah milik Allah, karena itu barangsiapa yang hatinya selalu teringat pada mesjid, maka Allah akan memberinya naungan kepada orang tersebut kelak pada hari kiamat. Sebagaimana tersebut dalam hadis Rasulullah saw.

Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan agar sering-sering pergi ke mesjid. Adapun tata caranya ialah berjalan dengan tenang. Mendahulukan kaki kanan ketika memasukinya. Meletakkan sandal di luarnya.

Ketika masuk membaca doa :

“Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untukku.”

Melakukan shalat Tahiyyat Mesjid sebelum duduk. Mengucapkan salam, meskipun mesjid dalam keadaan sepi, tidak ada orang di dalamnya. Sebab, mesjid itu hakikaktnya tidak pernah kosong dari jin dan malaikat. Duduk di dalamnya dengan niat mendekatkan diri kepada Allah swt. Memperbanyak membaca dzikir. Menahan diri dari hal-hal yang menyenangkan hawa nafsu. Tidak melakukan perdebatan. Tidak bergeser dari tempat duduknya, kecuali jika ada keperluan. Tidak mencari barang-barang yang hilang di dalamnya. Tidak bersuara keras di hadapan orang yang sedang shalat. Tidak berjalan di depan orang yang sedang shalat. Tidak boleh sibuk dengan suatu pekerjaan. Tidak melibatkan diri pada pembicaraan orang-orang yang membahas harta kekayaan (dunia), agar selamat dari ancaman.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi saw. :

“Di akhir zaman nanti ada orang-orang dari kalangan umatku berdatangan ke mesjid-mesjid dengan duduk-duduk di dalamnya berkelompok-kelompok. Mereka membicarakan harta kekayaan. Jika engkau melihat mereka, maka janganlah engkau duduk bersama mereka, karena Allah sama sekali tidak menganggap berharga kepada mereka tersebut.”

Apabila keluar dari mesjid, maka dahulukan kaki kiri, dan meletakkannya di atas sandal, lalu masukkanlah kaki kanan ke dalam sandal. Ketika keluar dari msjid, bacalah doa :

“Ya Allah, saya memohon anugerah dari-Mu.”

Rasulullah saw. bersabda : Allah telah berfirman dalam hadis Qudsi :

“Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku, adalah mesjid-mesjid. Orang-orang yang berziarah kepada-Ku adalah orang-orang yang meramaikan mesjid-mesjid. Sangat beruntung hamba-hambaKu yang berwudlu di rumahnya. Kemudian menziarahi Aku di rumah-Ku dan bagi yang diziarahi, berhak memuliakan orang yang berziarah.”

“Dari Anas r.a. : Barangsiapa yang memberi penerangan (lampu) di mesjid, maka malaikat dan para malaikat petugas di arsy, selalu memohonkan ampunan kepada orang tersebut, selama lampu menerangi mesjid.”

Sesungguhnya kebersihan badan, pakaian dan tempat, itu merupakan tuntutan syariah. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya selalu membersihkan badannya, merapikan rambutnya, menyisir dan meminyakinya. Membersihkan kedua telinga dengan cara membasuh atau mengusap kedua telinga dengan air. Membersihkan mulut dengan sering-sering berkumur dan memakai siwak (menggosok gigi). Membersihkan hidung dengan cara menghirup air, lalu menyemprotkan kembali. Membersihkan kuku-kuku dengan cara mambasuh bagian bawahnya dengan air.

Dalam hadis diterangkan, bahwa Rasulullah saw. itu selalu meminyaki dan menyisir rambutnya.

Selain itu, setiap orang harus selalu membersihkan pakaiannya, dengan cara mencucinya dengan air saja atau dicampur dengan sabun, jika diperlukan. Selain membersihkan badan dan pakaian, juga dituntut membersihkan tempat.

Kebersihan itu diperintahkan, demi menjaga kesehatan, menghilangkan rasa sedih, menimbulkan keriangan, menyenangkan teman dan untuk melahirkan nikmat Allah swt. Dia berfirman :

“Adapun tentang nikmat Tuhan, maka tampakkanlah.”

Jujur adalah memberitakan sesuatu sesuai dengan kenyataan. Sedangkan dusta adalah memberitakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan.

Sebab-sebab kejujuran adalah : Akal, agama dan harga diri. Akal menjadi sebab kejujuran, disebabkan ia bisa memahami manfaat kejujuran dan bahaya dusta. Tentu saja orang yang berakal tidak akan senang apabila dirinya terkena bahaya. Kalau demikian, dia akan berbuat jujur.

Agama menjadi sebab kejujuran, karena ajaran agama memerintahkan berbuat jujur dan melarang dusta. Tentu saja orang yang mengerti ajaran agama, pasti berbuat jujur.

Demikian pula orang yang memiliki harga diri. Dia tidak akan senang, jika dirinya tidak berbuat jujur, karena orang yang menjaga harga dirinya itu selalu berusaha menghias dirinya dengan perangai yang baik. Sedangkan dusta itu sama sekali tidak baik. Jika demikian, dia pasti tidak akan berbuat dusta.

Adapun sebab dusta atau kebohongan, adalah keinginan mendapatkan keuntungan dan menghindar dari bahaya. Karena kadang-kadang seseorang itu beranggapan, bahwa dengan bohong bisa selamat, meskipun sementara, sehingga dia melakukannya. Sementara dia beranggapan, bahwa berbuat jujur menyebabkan kesialan, sehingga dia tidak mau mengamalkannya.

Bahaya dusta itu akan menimpa pelakunya sendiri dan dia akan tercela, terhina dan kehilangan kepercayaan orang lain kepada dirinya di dunia dan kelak di akhirat dia akan menerima siksa dari Allah.

Bahaya dusta selain menimpa pada diri pelakunya, juga menimpa kepada orang lain. Sebab, orang yang berbuat bohong itu biasa menjanjikan kebaikan kepada orang lain, lalu tidak menepatinya. Hal ini tentu saja hati orang yang dibohonginya merasa kecewa berat, karena apa yang dia harapkan, gagal. Selain itu, orang yang suka bohong itu gampang melakukan ghibah dan adu domba yang dapat mendorong orang-orang saling membenci dan bertengkar akibat perbuatan si pembohong tersebut.

Firman Allah dan sabda Rasul berikut ini cukuplah kiranya sebagai bukti kehinaan berdusta.

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman pada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.”

“Apabila seorang hamba melakukan sekali kebohongan, maka para malaikat menjauhinya satu mil, karena kebusukan ucapan bohongnya.”

Cukuplah firman Allah dan sabda nabi Muhammad saw. di bawah ini sebagai bukti, bahwa jujur itu perbuatan, terpuji.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang besar.”

“Berbuatlah jujur, meskipun kalian semua beranggapan akan hancur bila jujur. Sesungguhnya kejujuran itu membuat kalian selamat.”

Amanah, adalah melaksanakan hak-hak kewajiban kepada Allah. Dengan adanya amanah (kejujuran), maka agama atau iman menjadi sempurna, harga diri terpelihara dan harta kekayaan akan terjaga. Sebab melaksanakan hak-hak kewajiban kepada Allah, berarti, mengamalkan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Sedangkan melaksanakan hak-hak kewajiban terhadap sesama manusia itu, berarti mengembalikan barang titipan kepada yang empunya, tidak mengurangi timbangan, takaran atau meteran. Tidak membeberkan rahasia atau aib-aib orang lain dan memilih sesuatu yang cocok untuk dirinya, baik dalam agama ataupun dunia.

Allah swt. Berfirman :

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”

Rasulullah saw. bersabda :

“Tidak sempurna iman orang yang tidak memiliki sifat amanah. Dan tidak sempurna agama orang yang tidak menepati janji.”

Lawan sifat amanah adalah khianat, yaitu menantang kebenaran dengan cara merusak janji secara tidak terang-terangan.

Bahaya yang ditimbulkan oleh sifat khianat itu banyak, antara lain : Pelakunya akan dicap sebagai penipu. Tidak beragama secara sempurna. Rendah cita-citanya. Hina jiwanya. Dijauhi oleh manusia sebagai akibat kejahatannya kepada mereka. Dipotong tangannya, apabila dia sampai melakukan pencurian harta milik mereka, dan menyebabkan Allah murka dan menyiksa pelakunya, karena dia mengabaikan larangan Allah.

Allah swt. Berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.”

Iffah adalah sikap menjaga diri dari sesuatu yang haram dan yang tidak terpuji. Ia termasuk sifat dan perangai yang amat mulia. Dari sifat inilah timbul banyak sifat mulia, misalnya sabar, hidup sederhana, suka memberi, cinta damai, takwa, tenang berwibawa, sayang kepada orang lain dan malu. “Iffah ibarat gudang orang yang tidak mempunyai harta dan mahkota orang yang tidak mempunyai jabatan.

Hal yang dapat membantu seseorang memiliki sifat ‘iffah ialah menjauhkan diri dari ketamakan (kerakusan), meninggalkan kesukaan mencari harta kekayaan dan hidup apa adanya.

Allah swt. Berfirman :

“Orang yang tahu menyangka mereka orang kaya, karena memelihara diri dari meminta-minta.”

Rasulullah saw. bersabda :

“Sangat beruntung orang yang mendapat hidayah hingga memluk Islam dan hidupnya pas-pasan serta menerima apa adanya.”

Muru’ah ialah sifat yang mendorong untuk berpegang pada akhlak mulia dan kebiasaan yang baik. Hal yang menyebabkan timbul muru’ah, ialah cita-cita yang tinggi dan kemuliaan jiwa.

Sesungguhnya orang yang memiliki cita-cita dan mulia jiwanya itu, pasti mempunyai tujuan mencapai kemuliaan, mendapatkan kelebihan-kelebihan, membangun kemuliaan-kemuliaan, membagi-bagi kesenangan dan berusaha menyingkirkan gangguan-gangguan.

Muru’ah merupakan tanda ‘iffah. Orang yang mempunyai sifat muru’ah, pertanda orang itu bisa menjaga diri dari sesuatu yang haram dan tidak baik, serta dirinya bersih dan terpelihara. Oleh karena itu, orang yang memiliki sifat muru’ah, pasti orang yang takwa, tidak suka kesenangan-kesenangan, rela menerima pemberian Allah kepadanya dan tanpa melihat kekayaan milik orang lain.

Dalil yang menunjukkan keterpujian sifat muru’ah, ialah sabda Nabi saw. :

“Sesungguhnya Allah swt. Menyukai perkara-perkara yang luhur dan mulia.”

Sabar ialah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan dendam terhadap orang yang menjengkelkannya, meskipun orang tersebut mampu membalasnya. Hal-hal yang menyebabkan seseorang dapat sabar, ialah : Sayang kepada orang yang bodoh. Menghindari pertengkaran (permusuhan). Merasa malu atau risih untuk membalas. Ingin berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadanya. Memelihara nikmat yang dirasakan, dan menunggu kesempatan yang tepat.

Sesungguhnya menghindari permusuhan dengan seseorang merupaka jiwa yang mulia dan cita-cita luhur. Sedangkan malu merupakan bagian dari usaha menyelamatkan diri dan tanda kesempurnaan harga diri. Sedangkan upaya memelihara nikmat, merupakan bukti kesetiaan. Adapun rekayasa dan mengharapkan kesempatan merupakan bagian daripada kelicikan. Sebab, orang yang meluap-luap amarahnya itu sedikit muslihatnya.

Nabi Muhammad memuji-muji orang-orang yang sabar, sebagaimana dalam hadisnya :

“Sesunggguhnya Allah swt. mencintai orang-orang yang mempunyai rasa malu dan orang-orang yang sabar. Dan Dia benci kepada orang yang jahat dan kasar.”

Derma atau kedermawanan ialah memberikan harta kekayaan dengan sukarela, tanpa dimintai dan bukan karena kewajiban. Sifat derma merupakan sifat mulia dan perbuatan terpuji, karena di dalamnya terdapat ikatan batin dan persatuan. Manfaatnya juga besar dan merata. Rasulullah saw. biasa memberi sesuatu kepada orang lain, tanpa rasa takut menjadi miskin.

Dalam hadis disebutkan, bahwa Malaikat Jibril berkata : Allah berfirman (hadis Qudsi) :

“Agama ini (Islam), adalah agama yang telah Aku ridhoi, tidak akan membuatnya lebih pantas atau sempurna, kecuali kedermawanan dan budi pekerti yang mulia. Oleh karena itu, hendaklah kalian semua memuliakan agama ini dengan memperbanyak derma dan berakhlak yang baik semaksimalnya.”

Tawadlu’ adalah sikap merendahkan diri dengan hormat dan khidmat, bukan karena rendah atau hina. Maksudnya memberikan kepada setiap orang akan haknya, sesuai dengan kedudukannya. Tidak mengangkat-angkat derajat orang rendah, juga tidak merendahkan derajat orang yang mulia.

Tawadlu’ merupakan salah satu sebab keluhuran dan kemuliaan. Nabi saw. bersabda :

“Barangsiapa yang tawadlu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.”

Rasa harga diri (izzatun nafsi) ialah suatu sifat yang karena sifat itu, orang dapat menempatkan dirinya pada posisi yang terhormat dan mulia. Sebab-sebab muncul sifat izzatun nafsi, ialah mengetahui kedudukan diri sendiri.

Adapaun buah dari izzatun nafsi ialah : Tahan uji. Sabar menghadap kesulitan. Tidak menampakkan kebutuhannya. Mendapatkan penghormatan dari orang-orang dan mendapatkan kebaikan dari Allah.

Allah swt. berfirman :

“Kemenangan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”

Nabi Muhammad saw. bersabda :

“Allah mencntai dan menyayangi seseorang yang mengetahui keedudukan dirnya.”

Hiqd (dendam kesumat) ialah sikap memendam maksud jahat dan berusaha keras menimpakan siksaan kepada orang lain. Perasaan dendam itu selalu diikuti oleh delapan perbuatan terlarang, yaitu : Hasud (iri hati) kepada orang yang didendami. Senang melihat bencana yang diderita orang yang didendami Menjauhi orang yang didendami, meskipun orang yang didendami itu menampakkan rasa senang kepadanya. Berpaling dari orang yang didendami dengan maksud meremehkannya. Membahas kejelekan-kejelekan orang yang didendaminya. Membeberkan rahasia orang yang didendami. Menirukan (ucapan atau tindakan) orang yang didendami, dengan maksud menertaakan atau mengejeknya. Menyakiti badan orang yang didendami dn memboikot hak-hak orang yang didendami. Misalnya tidak membyar utangnya kepada orang yang didendami,

Dalil yang menunjukkan ketidakterpujian hiqd (dendam kesumat) ialah sabda Nabi saw :

“Orang yang beriman, adalah orang yang tidak memiliki dendam kesumat.”

Hasud (iri hati) ialah hilangnya nikmat yang diterima oleh orang lain. Adapun harapan mendapatkan sesuatu, seperti yang dimiliki orang lain itu, dinamakan ghibtah. Ghibtah tidak termasuk perbuatan tercela, bahkan dianjurkan. Sebab, ghibtah itu bisa mendorong seseorang melakukan perbuatan-perbuatan terpuji.

Rasulullah saw. bersabda :

“Orang yang beriman itu memiliki sifat ghibtah, Sedangkan orang munafik memiliki sifat hasud.”

Sebab-sebab hasud ada tiga :

  1. Benci kepada orang yang dihasudi, karena kemuliaan yang dimikinya atau nikmat yang diberikan Allah kepadanya.
  2. Keutamaan orang yang dihasudi, melebihi keutamaan orang yang hasud, dan dia tidak mampu mencapai keutamaan orang yang dihasudi.
  3. Ketakutan orang yang hasud terhadap kebaikan atau kemuliaan, lalu iri kepada siapa saja yang mendapatkan kebaikan.

 

Adapun hal yang dapat menghilangkan hasud dari hati ialah : Berpegang teguh pada ajaran agama. Mengetahui bahaya hasud dan puas terhadap ketentuan dan takdir Allah swt.

Hadis Nabi saw. yang mencela sifat hasud ialah :

“Hasud itu makan (menghilangkan) amal-amal kbaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.

Ghibah ialah membicarakan teman tentang sesuatu yang tidak menyenangkannya, meskipun di hadapannya langsung, seperti ucapan : Orang itu buta sebelah, fasik, miskin, atau pendek pakaiannya. Semua kata-kata tersebut maksudnya mencela teman.

Sebab-sebab ghibah itu ada delapan, yaitu : Hasud. Melampiaskan kejengkelan. Bermaksud meninggikan diri (sombong). Upaya menggagalkan orang yang disakiti hati mencapai cita-citanya. Bermaksud membebaskan diri. Merayu (mempengaruhi) teman-teman. Senda gurau, dan mengejek.

Adapun mencemooh orang yang lengah, karena kelengahan dan menunjukkannya demi kebaikannya itu, tidak termasuk ghibah; sebab hal itu termasuk nasihat. Sedangkan Allah swt. tidak melarang nasihat. Tetapi Dia melarang ghibah dan sangat mengecamnya. Dia berfirman :

“… dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukalah salah seorang di antara kamu memakan bangkai saudaranya. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

Namimah (adu domba) ialah menuduh atau memberitahukan ucapan-ucapan orang, perbuatan atau keadaannya kepada orang lain dengan maksud merusak. Hal yang mendorong ke perbuatan adu domba ialah : Maksud jahat kepada orang yang dibicarakan. Menampakkan rasa senang kepada orang yang diajak bicara. Membuat omongan supaya enak didengar, dan suka mencampuri urusan orang lain.

Hal yang dapat mencegah seseorang berbuat adu domba, ialah kesadaran, bahwa adu domba menyebabkan keretakan hubungan, mengobarkan permusuhan dan mendatangkan siksa Allah.

Nabi saw. bersabda :

“Seseorang di antara kamu semua yang paling dicintai Allah ialah orang-orang saling mencintai di antara sesamanya. Dan orang yang paling dibenci oleh Allah, ialah orang-orang yang pergi ke sana-kemari dengan mengadu domba dan memecah belah saudara-saudara atau teman-temannya.”

Beliau bersabda lagi :

“Tidak akan masuk surga orang yang pengadu domba.”

Kibr (sombong) ialah peraaan besar dir dan beranggapan derajatnya di atas orang lain. Kerusakan yang ditimbulkan oleh sifat sombong ini sangat banyak. Di antaranya: Menyakitkan orang lain. Memutus tali persaudaraan. Menimbulkan perpecahan. Mendatangkan orang-orang benci kepada teman orang yang memiliki sifat sombong, dan menyakitinya. Tidak mematuhi (menentang) kebenaran. Tidak dapat meredam kejengkelan, dan kasar dalam memberi nasihat.

Cukuplah kiranya sabda Nabi saw. berikut ini sebagai bukti, bahwa sombong itu tercela :

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, mskipun hanya seberat biji sawi.”

Barangsiapa yang menyadari, bahwa dirinya makhluk yang berasal dari nutfah (zigot) dan nantinya bakal menjadi bangkai, maka dia mudah meninggalkan sifat sombong, yang penyebabnya adalah ujub atau kekaguman pada diri sndiri

Ghurur (terpedaya) ialah kecenderungan hati dan watak pada hal-hal yang sesuai dengan tuntutan nafsu, yang disebabkan rayuan-rayuan setan. Ghurur ada dua macam :

Pertama : Keterpedayaan orang-orang kafir yang menukar kemewahan dunia dengan kenikmatan akhirat. Termasuk golongan ini, adalah mereka yang cenderung pada kehidupan dunia dengan segala kemewahannya dan mengingkari keberadaan hari Pembalasan. Termasuk golongan orang-orang kafir, ialah orang-orang yang terperdaya oleh kedudukan atau pangkat dunia dengan anggapan, bahwa dia dengan kedudukan semacam itu di dunia, tentu lebih berhak mendapat kedudukan di kemudian hari.

Kedua : Keterpedayaan orang-orang muslim yang membangkang. Termasuk golongan ini adalah : Orang yang tidak mau beramal baik, karena tertipu oleh keyakinannya, bahwa ampunan Allah itu sangat luas, atau terlalu mengandalkan kesalehan bapaknya atau banyak ilmunya. Orang yang mengandalkan ampunan Allah tanpa berbuat baik, tidak menyadari, bahwa keinginan pada sesuatu tanpa disertai usaha, merupakan kerakusan yang tercela. Adapun orang yang mengandalkan usaha orang tuanya, berarti dia tidak mengigat firman Allah :

“Takutlah kalian semua akan suatu hari, yang pada hari itu orangtua tidak memberi pertolongan kepada anaknya dan anak juga tidak bisa menolong ayahnya.”

Sedangkan orang yang mengandalkan banyak ilmunya tidak menyadari, bahwa ilmu tanpa amal, ibarat buah tidak berbuah.

Di antara orang mukmin yang tertipu perasaannya sendiri, ialah orang yang terperdaya oleh banyak ibadah yang dilakukannya, sehingga dia beranggapan, bahwa dia lebih berhak mendapatkan ampunan daripada lainnya. Orang yang demikian ini tidak menyadari, bahwa perbuatannya seperti itu dapat menghilangkan keikhlasan dan menghapus pahala amalnya. Termasuk juga golongan ini, ialah orang yang tertipu oleh banyak harta yang dimilikinya. Dia beranggapan bahwa dengan harta yang melimpah, dia dapat mengungguli orang lain, hingga menyebabkan dia condong pada kemewahan dunia dan lupa pada anugerah Allah.

Di antara sifat jelek yang disebabkan oleh ghurur, ialah sombong yang menyebabkan tidak dapat masuk surga.

Zalim ialah tindakan yang melewati batas kebenaran atau melanggar hukum. Zalim ini mencakup pelanggaran semua perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang hina. Orang yang zalim itu adakalanya zalim terhadap dirnya sendiri dan adakalanya zalim terhadap orang lain.

Zalim terhadap diri sendiri, berarti teledor dalam menjalankan ketaatan kepada Allah atau tidak beriman.

Zalim terhadap orang lain, berarti tidak bersungguh-sungguh dalam memenuhi haknya, sebagaimana sikap menyakitkan tetangga, meremehkan tamu, berbuat kebohongan, ghibah dan mengadu domba.

Rasulullah saw. bersabda :

“Zalim (berbuat aniaya) itu menyebabkan kegelapan-kegelapan di hari kiamat.”

Dalam hadi Qudsi disebutkan :

“Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan berbuat aniaya pada diri-Ku sendiri dan Aku jadikan zalim (berbuat aniaya) haram di antara kalian semua. Maka, janganlah kamu semua berbuat zalim (aniaya).”

Adil ialah sikap sederhana dalam semua persoalan dan menjalankan sesuai dengan syariat (hukum). Adil ada dua macam :

Pertama : Adil terhadap diri sendiri, yaitu bertindak sesuai dengan kebenaran (agama).

Kedua : Adil terhadap orang lain.

Adil terhadap orang lain itu terbagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Keadilan penguasa (atasan) terhadap rakyat (bawahan), dnegan cara memberikan kemudahan kepada rakyat dan memberikan hak-hak mereka.
  2. Keadilan rakyat (bawahan) terhadap penguasa (atasan), murid terhadap guru dan anak terhadap orang tua, dengan cara taat secara tulus.
  3. Keadilan manusia terhadap sesamanya, dengan cara tidak menyombongkan diri di hadapan mereka dan menjauhkan gangguan dari mereka.

Allah swt. befirman :

“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan berbuat adil dan ihsan.”

Itulah arti adil, sebagaimana diterangkan di atas. Sedangkan yang dimaksud ihsan, sebagaimana tersebut dalam hadis Nabi.

“(Ihsan) ialah menjalankan ibadah kepada Allah dengan mantap, sehingga seakan-akan engkau melihat-Nya.”

Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka engkau harus yakin, bahwa Allah memperhatikanmu.

Demikian inilah yang disebut kesempurnaan iman dan puncak ketaatan.

Pemyusun kitab akhlak, Taisirul Khollaq menyampaikan penjelasan, bahwa revisi kitab ini telah selesai pada sore hari Jumat yang penuh barokah, tanggal 26 Jumadil Ula 1339 H.

Wahai, penuntut ilmu akhlak! Inilah buku yang kandungannya amat cemerlang, yang disusun dengan tujuan mulia.

Ketahuilah, bahwa seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu pun dalam kehidupannya, tanpa kitab Taisir Al-Khollaq.