الحمد لله الذي جعل أحاديث المصطفى في الاهتداء مثل النجوم
segala puji bagi allah yang menjadikan hadis-hadis nabi yang terpilih dalam menunjukan seperti bintang 

وأشهد أن لا إله إلا الله 
dan saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain allah

وأن محمدا رسوله أعطاه أسرار العلوم 
dan sesungguhnya Muhammad adalah utusanya, yana Allah beri rahasia-rahasia ilmu

والصلاة والسلام على أفضل خلقه محمد المبعوث بالمعجزات
solawat serta salam semoga atas sebaik-baik makhluknya yaitu Muhammad yang di utus dengan mujizat

وعلى أله مصابح الدلالت وأصحابه أنجم الهدايات
dan keluarganya lentera bukti dan sahabatnya bintang petunjuk

أما بعد فهذا شرح على لبب الحديث للشيخ العلامة الفهامة جلال الدين ابن العلامة أبي بكر السيوطي 
adapun setelah itu, maka ini adalah syarah terhadap kitab lubabul hadis milik syekh allamah jalaluddin ibn allaman abi bakr assyuthi

تغمده الله برحمته وأسكنه فسيح جنته
semoga Allah memberi rahmatNya dan menempatkanya ke dalam keluasan surganya

سميته تنقيح القول الحثيث في شرح لباب الحديث
yang aku namaka tanqihul qoul hastist tentang syarah lubabul hadist

والله أسأل أن يجعله خالصا لوجهه الكريم
aku meminta kepada Alah agar menjadikan kitab ini ikhlas karena wajahNya yang mulia

وسببا للفوز بجنات النعيم 
dan sabab untuk memperoleh sorga kenikmatan

وأن يختم لكتاتبه بخير أمين أمين
dan mengakhiri penulisnya dengan kebagusan, amin amin
واعلم أن الباعث في كتابة هذا الشرح حاجة المجتاجين إليه
dan ketahuilah bahwa sesungguhnya yang mendorong untuk menulis penjelsan ini adalah kebutuhan orang-orang yang butuh pada penjelasan ini

فإن هذا الكتاب كثير التحريف والتصريف لعدم الشرح إليه
karena sesungguhnya kitab ini itu banyak perubahan dan pengalihan karena ketiadaan penjelasan terhadapnya

ومع ذلك كثر تداول الناس من أهل جاوة عليه
bersama itu, banyak kemasyhuran orang jawa terhadap kitab ini

وأني لم أجد نسخة صحيحة فيه 
dan saya tidak menemukan salinan yang baik 

ولم أقدر على تصححيه واستيفاء مراده لقصورى
dan saya tidak mampu memperbaikinya dan memenuhi harapanya karena kekutangan saya

إلا أن بعض الشر أهون من بعض
hanya saja sesungguhnya sebagian kejelekan itu lebih ringan dari kejelekan yang lain

 

Allah Ta’ala berfirman :

شهد الله انّه لااله الّاهو والملئكة واولو العلم. ال عمران : 18

Atinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).

Perhatikanlah, bagaimana Allah swt. memulai dengan diri-Nya, yang kedua dengan para malaikat, dan ketiganya dengan para ahli ilmu, hal ini karena suatu kemuliaan dan keutamaan. 

Nabi saw. bersabda kepada Abdullah bin mas’ud ra. : 

يا ابن مسعود, جلوسك ساعة فى مجلس العلم لاتمسّ قلما ولاتكتب حرف خيرلك من عتق الف رقبة ونظرك الى وجه العلم خيرلك منالف فرش تصدّقت بها فى سبيل الله , وسلامك على العلم خيرلك من عبدة الف سنت

Artinya : Hai Ibnu Mas’ud, dudukmu satu jam di majlis ilmu engkau tidak menyentuh pena dan tidak menulis satu huruf saja, adalah lebih baik bagimu daripada memerdekakakan serbu budak. Dan memandangmu pada muka orang alim, adalah lebih baik bagimu daripada bersedekah seribu kuda di jalan Allah, dan salamu kepada orang alim adalah lebih baik dari pada beribadah seribu tahun.

Maksudnya bahwasanya menuntut ilmu di majlim pengajian satu jam di waktu malam atau siang tanpa membawa pulpen dan tidak mencatat apa yang diajarkan, adalah lebih baik pahalanya dari pada memerdekakan  seribu budak atau hamba sahaya atau wanita amah. Kemudian memandang wajah orang alim karena rasa cinta, adalah lebih baik dari pada menyedekakan seribu kuda dijalan Allah untuk berjihat melawan orang-orang kafir dalam menegakkan agama Allah Ta’ala. Dan mengucapkan salam untuk orang alim, adalah lebih baik daripada beribadah seribu tahun. Demikian sebagaiman di sebutkan oleh Al Hafidh Al Mundziri dalam Durratul Yatimah.

Dan warta dari sahabat Umar bin Khattab ra. berkata : Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda :

من مشى الى حلقة عالم كان له بكلّ خطوة مائة حسنة, فاذا جلس عنده واستمع ما يقول كان له بكلّ كلمة حسنة 

Artinya : Siapa yang berjalan (pergi) ke sarasehan (majlis pengajian) orang alim, ia memperoleh pahala setiap satu langkah seratus kebaikan, apabila ia duduk di sisinya dan mendengarkan apa yang diajarkan, maka baginya berpahala dari setiap kalimat satu kebaikan.

demikian di sebutkan Imam An Nawawi dalam Riyadlus Shalihin.

Nabi saw bersabda :

فقيه واحد متورّع اشدّ على الشيطان من الف عابد مجتهد جاهل ورع

Artinya : seserang alim fiqih yang perwirah adalah lebih berat bagi syetan dari pada seribu orang ahli ibadah yang tekun yang bodoh lagi perwira.

Maksudnya bahwa seseorang yang alim dengan ilmu syari’ah yang wira’i dan dibebani meninggalkan segalah yang di haramkan, adalah lebih berat bagi syetan untuk menggodanya dari pada seribu orang yang ahli ibadah tetapi bodoh dan wira’i. Hal ini karena sewaktu syetan itu membuka pintu hawa nafsu untuk manusia dan kelezatan syahwat di dalam hati mereka antara seorang Faqih yang arif syetan lebih berat menggodanya, lalu ia menutup pintu itu dan merasa menyesal dan rugi. Lain halnya seorang ahli ibadah yang bodoh, dia sekalipun sibuk beribadah namun dia berada pada tali-tali syetan sedangkan dia tidak tahu. Demikian faidah yang dikemukakan Al Azizi mengutip dari At Thibi. Dan dalam riwayat Turmudzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas : “seseorang faqih lebih berat bagi syetan dari pada seribu orang ahli ibadah”.

Nabi saw. bersabda :

فضل العالم على العابد كفضل القمر ليلة البدر على سائر الكواكب

Artinya : Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan di malam purbama atas seluruh bintang-bintang.

Maksudnya seorang alim di atas adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya, adalah lebih utama daripada ahli ibadah yang bodoh bagaikan keutamaan bulan di malam purnama atas bintang-bintang. Yang dimaksud keutamaan disinih adalah keutaman banyaknya pahala yang diberikan oleh Allah kepada hambanya di akhirat dari tingkatan surga dan kenikmatannya, makanannya dan minumannya. Juga apa saja yang diberikan oleh Allah pada hambanya dari kedudukan dekatnya kepada Allah dan kelezatan memandang kepada-Nya serta mendengarkan pembicaraan-Nya. Hadist diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Mu’adz bin Jabal ra.

Dalam satu riwayat Al Harits bin Abu Usamah dari Abu Sa’id Al Khudri ra. dari Nabi saw. :

فضل العالم على العابد كفضلى على امّتى

Artinya : Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas umatku.

Dalam satu riwayat oleh Turmudzi dari Abu Umamah disebutkan ” Keutamaan seorang alim atas ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas orang yang dibawahmu”. Maksudnya bahwa kemuliaan seorang alim dibandingkan kemuliaan seorang ahli ibadah, adalah seperti kemuliaan Nabi saw. atas kemuliaan rang yang beradah dibawah Nabi yaitu para sahabat.

Al Ghazzali berkata : “Perhatikanlah, bagaiman Nabi menjadikan ilmu sebagai standar derajat kenanabian, dan bagaimana Beliau menurutkan derajat amal semata-mata dari ilmu. Dan jika seorang ahli ibadah itu ternyata tidak berilmu sekalipun ia benar-benar tekun beribadah maka ia tidak dianggab ibadahnya”.

Nabi saw. bersabda :

من انتقل يتعلّم علما غفرله قبل ان يخطو

Artinya : Siapa berpindah (pergi) menuntut ilmu maka dosanya diampuni sebelum ia melangkah.

Maksudnya orang yang berpindah atau pergi baik jalan kaki atau naik kendaraan dari suatu tempat tinggalnya ke tempat yang lain untuk menuntut ilmu dari ilmu-ilmu syari’at, maka dosa-dosa kecilnya yang sudah lalu diampuni sebelum ia melangkahkan kakinya dari tempat tinggalnya, jika bertujuan untuk mencari keridlaan Allah Ta’ala. Hadist tersebut diriwataykan oleh As-Syairazi dari A’isyah ra.

Al Fakihani berkata : “bahwasanya membiasakan menyebutnya ketika memasuki rumah, maka dapat menolak kekafiran. Disebutkan bahwa siapa yang membaca “LAA ILAAHA ILLALLAAH” dengan memanjatkannya, maka gugurlah baginya empat ribu dosa besar. Para Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, jika ia tidak mempunyai suatu dosa besar ?” Beliau bersabda : “Dapat mengampuni keluarganya dan tetangganya”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Nabi saw. bersabda :

من قال كلّ يوم لا اله الّا الله محمّد رسول الله مائة مرّة جاء يوم القيامة ووجهه كالبدر

Artinya : Siapa setiap hari membaca “Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah= Tidak ada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad adalah utusan Allah” sebanyak seratus kali, maka ia datang pada hari kiamat mukanya bagaikan bulan purnama.

Nabi saw. bersabda :

افضل الذّكر لا اله الّا الله وافضل الدعاء الحمد لله

 Artinya : Dzikir yang paling utama adalah “Laa Ilaaha Illallah” dan doa yang paling utama adalah “Alhamdulillah”.

Karena merupakan kalimat tauhid, sedangkan tauhid itu tidak ada yang menandinginya. Sebab ia membawa reaksi kesucian batin, maka dapat menolak Tuhan yang lain dengan ucapan “Laa ilaaha=Tidak ada Tuhan” dan menetapkan keesaan Allah Ta’ala dengan ucapan “Illallah=melainkan Allah”. Dzikir itu kembali dari dhahir lisannya ke batin hatinya, dan sesungguhnya iman itu tidak sah melainkan dengannya, yaitu menyertakan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alllah. Kemudian doa yang paling utama adalah “Alhamdulillah=segala puji bagi Allah”. Hal ini kalimat “Alhamdu” dijadikan doa yang paling utama, karena doa itu ibarat dari dzikir untuk memperoleh kebutuhannya, sedangkan “Alhamdulillah” telah memuatnya, karena orang yang memuji Allah berarti ia memuji-Nya atas segala nikmat-Nya, dan memuji atas kenikmatan adalah untuk memperoleh tambahan.

Allah Ta’ala berfirman :

لئن شكرتم لا زيد نّكم =ابرهم : 7

Artinya : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu.

Faidah itu dikemukakan oleh Al Azizi,dan Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim dari Jabir.

Nabi saw. bersabda : Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi :

 لا اله الّا الله كلامى وانا هو من قالها دخل حصنى , ومن دخل خصنى امن من عقابى

Artinya : Laa Ilaaha Illallah ucapan-Ku, dan Aku adalah Allah, siapa membacanya maka ia masuk benteng-Ku, dan siapa masuk benteng-Ku maka ia aman dari siksa-Ku.

Hadist tersebut dikeluaran oleh As Syairazi dari Ali dan dalam naskah kitab ini. Nabi saw. juga bersabda :

لا اله الّا الله حصنى ومن دخل حصنى امن من عداب الله

Artinya : Laa ilaaha illallaah adalah bentengku, dan siapa masuk bentengku, maka ia aman dari siksa Allah.

Dari Abdullah bin Abdul Wahid bin Zahid bahwasanya ia berkata : “Saya dalam kendaraan, lalu angin mencampakkan kami, maka kami pun keluar ke suatu pulau. Tiba-tiba kami melihat seorang sedang menyembah berhala. Kami katakan padanya : “Engkau menyembah berhala ini, sedangkan di antara kita ada yang membuat seperti itu”. Ia menjawab kamu semua siapa ?”. Jawab kami : “Kami menyembah Tuhan yang ‘Arsy-Nya di langit, siksa-Nya di bumi, dan jalan-Nya di laut. Ia berkata : “Siapa yang mengajarkan kamu tentang itu ?” jawab kami : “Telah di utus kepada kami seorang Rasul”. Ia berkata : “Apa yang diperbuat dengan Rasul ?” Jawab kami : “Seorang malaikat telah mencabutnya kepada-Nya”. Ia berkata : “Apakah dia meninggalkan tanda kepadamu ?”. Jawab kami : “Benar, yaitu Kitab”. Katanya : “ Adakah sesuatu di sisimu ?”. Lalu kami membacakan surat Ar Rahman padanya, maka ia tak henti-henti menangis hingga Surat itu selesai. Kemudian ia berkata : “Tidak layak mendurhakai Tuhan yang berfirman itu”. Lalu kami menawarkan Islam kepadanya. Maka ia pun masuk Islam, dan ia kami bawa bersama kami dalam kapal. Setelah gelap malam dan kami shalat ‘Isya’, lalu kami berbaring untuk tidur. Ia berkata kepada kami : “ Inilah Tuhan yang engkau tunjukkan padaku di mana Dia tidur”. Jawab kami : “Dia adalah Tuhan Yang Maha Hidup lagi berdiri sendiri tidak pernah tidur”. Ia berkata : “Alangkah jeleknya para hamba itu, kamu semua tidur sedangkan Tuhanmu tidak pernah tidur”. Ketika kami mendarat dan kami hendak berpaling, kami kumpulkan beberapa dirham untuknya. Lalu ia berkata : “Apa ini?”. Jawab kami : “Kami memohon pertolongan kepada-Nya atas dirimu”. Katanya : “Hendaklah engkau tunjukkan padaku, dengan jalan bagaimana engkau melakukannya padahal aku menyembah kepada selain-Nya ?”. Setelah selang diberitakan kepadaku, bahwa dia itu dalam keadaan naza’, kritis akan meninggal. Maka saya mendatanginya dan saya katakan kepadanya : “ Adakah sesuatu yang dibutuhkan?” Ia menjawab : “Penuhilah kebutuhanku yang telah mengeluarkan aku dari pulau dan menidurkan aku disisi-Nya, maka aku melihat jariyah dalam pertamanan yang  hijau seraya berkata : “Bersegeralah dengan-Nya dalam kesejahteraan”. Maka lamalah rinduku kepada-Nya. Lalu ia kubangunkan tapi ia telah mati, dan kemudian saya pun memakamkannya. Selanjutnya saya tidur dimalam itu, maka saya melihatnya dalam tidur di mana di atas kepalanya terdapat mahkota dan antara kedua tangannya terdapat bidadari,sedangkan ia membaca :

و الملئكة يدخلون عليهم من كلّ باب  سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدّار = الرعد : 23-24

Artinya : Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan) : “Salamun ‘alaikum bima shabartum =  keselamatan atasmu berat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (QS. 13 Ar Ra’ad : 23-24)

Nabi saw. bersabda :

ادّوا زكاة ابدانكم بقول لا اله الّا الله 

Artinya : “Sampaikanlah zakat badan-badanmu dengan ucapan “LAA ILAAHA ILLALLAAH = Tidak ada Tuhan melainkan Allah”

Dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAH dapat menolak dari pembacanya sembilanpuluh sembilan pintu bencana, yang terendah adalah kedudukan”.

Nabi saw. bersabda : “Siapa membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH maka keluarlah dari mulutnya seekor burung hijau dengan dua sayap putih yang berkulit dengan mutiara dan yakut, ia naik ke langit dan diperdengarkan padanya suara di bawah arasy bagaikan suara lebah, lali dikatakan padanya : “Diamlah” Sahutnya : “Tidak, sehingga engkau mengampuni saudaraku”. Maka ia mengampuni pembacanya. Kemudian dijadikanlah pada burung itu tujuh puluh mulut yang memohonkan ampun pada sahabatnya sampai hari kiamat. Maka jika terjadi kiamat burung itu datang sebagai penuntunnya dan penunjuknya ke surga”.

Nabi saw. bersabda :

ما من عبد يقول لا اله الّا الله محمّد رسول الله  الّا قال الله  تعال : صدق عبدى انا الله لا اله الّا انا. اشهدكم ياملائكتى قد غفرت له تقدّم من ذنبه وما تأخّر

Artinya : “Tidaklah dari seorang hamba yang membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH, MUHAMMADUR RASULULLAH melainkan Allah Ta’ala berfirman :”Benarlah hamba-Ku, Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku. Aku menjadikan saksi kamu semua hai para malaikat-Ku, Aku benar-benar telah mengampuninya dari dosanya yang telah berlaludan yang akan datang” .

Maksud dosa yang diampuni dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil.

Nabi saw. bersabda :

من قال لااله الّاالله خالصا مخلصا دخل الجنّة

Artinya : Siapa membaca “Laa ilaaha illallaah” dengan ikhlas semata-mata karena Allah, maka dia masuk surga.

Ikhlas yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dari pamer dan segala perbuatan terlarang. Maka dia masuk surga bersama orang-orang terdahulu. Al Hakim telah mengeluarkan Hadits dari Zaid bin Al Arqam berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Siapa membaca “Laa ilaaha illallaah” dengan ikhlas dia masuk surga”. Ditanyakan sahabat : “Wahai Rasulullah, apakah ikhlasnya?” Beliau bersabda : “Hendaklah kamu menahan dari segala yang diharamkan”.

Rasulullah saw. bersabda :

من كان اوّل كلامه لا اله الّا الله, واخركلامه لا اله الّا الله, وعمل الف سيّئة ان غاش الف سنة لايساله الله عن ذنب واحد

Artinya : “Siapa yang permulaan ucapannya “Laa ilaaha illallaah” dan pada akhir ucapannya “Laa ilaaha illallaah” dan ia melakukannya seribu kejelekan, jika ia hidup seribu tahun , maka Allah tidak akan menanyakan dosanya sama sekali.

Seribu kejelekan dalam hadits tersebut maksudnya dosa-dosa kecil. Dan diriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda kepada Zaid Al Anshari : “Jika kamu kesulitan sesuatu dari utusan dunia, maka perbanyaklah membaca : “LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMADUR RASULULLAH, WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIIM”.

Nabi saw. bersabda :

من قال لااله الّا الله من غير عجب, طاربهاطائر تحت العرش يسبّح مع المسبّحين الى يوم القيامة ويكتب له ثوابه

Artunya : “Siapa mengucab “Laa ilaaha illallaah” tanpa ujub (mengagumu diri), maka ucapan itu menjadikan terbangnya burung di bawah arasy bertasbih bersama orang-orang yang bertasbih sampai hari kiamat, dan pahala tasbih itu ditetapkan untuknya”.

Maksudnya ketika mengucapkan, pengucap terhindar dari ujub baik dari orang yang melihatnya maupun yang mendengarnya.

Nabi saw. bersabda :

من قال لا اله الّا الله محمّد رسول الله مرّة غفر له ذنوبه, وان كانت مثل زبد البحر

Artinya : “Siapa mengucap “Laa ilaaha illallaah-Muhammadur rasulullah” satu kali, maka dosa (kecil)nya diampuni sekalipun dosa-dosa itu seperti buih lautan”.

Nabi saw. bersabda :

اذا مرّ المومن على المقابر فقال لا اله الّا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد يحيى ويميت وهو حيّ لا ينوت بيده الخير وهو على كلّ شيء قدير, نوّرالله تلك القبور كلّها وغفر لقائلها وكتب له الف الف حسنة ورفع له الف الف درجة وحطّ عنه الف الف سيّئة

Artinya : “Apabila seorang mu’min lewat di atas kuburan lalu membaca “LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIITU WAHUWA HAYYUN LAA YAMUUTU BIYADIHIL KHAIRU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYA-IN QADIRR (Tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, Dia yang menghidupkan dan yang mematikan, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)”, Maka Allah menerangi seluruh kubur itu dan mengampuni pembacanya, menulis baginya sejuta kebaikan, mengangkat baginya sejuta derajat, dan menghapus baginya sejuta kejelekan (dari dosa-dosa kecil)”.

Diriwayatkan oleh Turmudzi dari Nabi saw. bahwasanya Beliau bersabda : “Siapa masuk pasar lalu membaca “LAA ILAAHA ILLALLAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIITU WAHUWA HAYYUN LAA YAMUUTU BIYADIHIL KHAIRU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYA-IN QADIRR” dengan mengeraskan suaranya, maka Allah menulis baginya sejuta kebaikan, menghapus baginya sejuta kejelekan dan mengangkat baginya sejuta derajat”.

Dari Atha’ bin Jabir bin Abdullah berkata : “Ketika “BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM” diturunkan, maka larilah awan ke arah barat, tenanglah angin, kocaklah lautan, jatuhlah binatang-binatang karena sakitnya, syetan-syetan dilempari dari langit, dan Allah ‘Azza wa jallah bersumpah dengan kemulian-Nya, nama-Nya tidak disebut dalam bibir yang berpenyakit, dan nama-Nya tidak disebut pada sesuatu melainkan Allah memberkatinya, siapa membaca “BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM” maka ia masuk surga. Demikian sebagaimana disebutkan Syaikh Abdul Qadir Al Jilani ra.

Nabi Muhammad saw. bersabda :

ما من عبد يقول بسم الله الرّحمن الرّحيم الّا ذاب الشّيطان كما يذوب الرّصاص على النّار

Artinya : “Tiadalah seorang hambah yang membaca “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim=Dengan meneyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”, melainkan syetan itu meleleh sebagaimana melelehnya (cairnya) tembaga di atas api”.

Ibnu Mas’ud berkata : “Syetan seorang mukmin itu dipermaunkan”, dan berkata Qais bin Al Hajjaj : “Syetanku berkata kepadaku : aku masuk mulutmu dan aku seperti di potong dan aku masuk sekarang seperti burung pipit”. Tanyaku : “Mengapa demikian?”. Jawabnya : “Engkau menghancurkan aku dengan dzikir kepada Allah Ta’ala”.

Nabi saw. bersabda :

ما من عبد يقول بسم الله الرّحمن الرّحيم الّا امرالله تعالى الكرام الكاتبين ان يكتبوا فى ديوانه اربعمائة حسنة

Artinya : “Tiadalah dari seorang hamba membaca “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim” melainkan Allah Ta’ala menyuruh malaikat Kiramul Katibin (malaikat pencatat yang mulia) untuk menulis dalam buku amal hamba itu empat ratus kebaikan”.

Nabi saw. bersabda :

من قال بسم الله الرّحمن الرّحيم مرّة لم يبق من ذنوبه ذرّة

Artinya : “Siapa membaca “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim” sekali, maka(dileburlah dosa kecilnya) sehingga dosanya tidak ada yang tertinggal seberat dzarrah (debu)pun.

Nabi saw. bersabda : من كتب بسم الله فجوّد تعظيما لله, غفرله ما تقدّم من ذنبه وما تأخّر

Artinya : “Siapa menulis “Bismillah” lalu memperindah karena mengagungkan Allah, maka diampunilah dosanya yang lalu dan yang akan datang”.

Dalam riwayat Al Khathib Al Baghdadi dan Ibnu Asakir dari Zaid bin Tsabit : “Jika kamu menulis “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim” maka jelaskanlah “Sin” pada Basmalah yaitu dengan menampakkan “Sin” secara jelas karena menggungkan nama Allah Ta’ala”.

Nabi saw bersabda : اذا كتب احدكم بسم الله الرّحمن الرّحيم فليمدّ الرّحمن

Artinya : “Jika salah seorang dari kamu menulis “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim” maka panjangkanlah huruf kalimat “RAHMAAN”. (Hadits diriwayatkan oelh Al Khathib dan Ad Dailami dari Anas bin Malik ra.)

Nabi saw. bersabda : 

انّ الله سبحانه وتعالى زيّن السّماء بالكواكب وزيّن الملئكة بجبريل وزيّن الجنّة بالحور والقصور, وزيّن الانبياء بمحمّد صلّى الله عليه وسلّم. وزيّن الايّام بيوم الجمعة وزيّن اللّيالى بليلة القدر, وزيّن الشهور بشهر رمضان, وزيّن المساجد بالكعبة, وزيّن الكتب بالقران, وزيّن القران ببسم الله الرّحمن الرّحيم

Artinya : “Sesungguhnya Allah swt. menghias langit dengan bintang-bintang, menghias para malaikat dengan Jibril, menghias surga dengan bidadari dan gedung-gedung, menghias para nabi dengan Muhammad saw., menghias hari-hari dengan hari jum’at, menghias malam-malam dengan Lailatul Qadar, menghias bulan-bulan dengan bulan suci Ramadhan, menghias masjid-masjid dengan ka’bah, menghias kitab-kitab dengan Al Qur’an, dan menghias Al Qur’an dengan Bismillaahir Rahmaanir Rahiim”.

Allah Ta’ala menghias langit-langit dengan bintang-bintang, hiasan langit juga berupa matahari, bulan dan bintang-bintang itu. Jibril dijadikan hiasan para malaikat karena dia sebagai kepada para malaikat. Jadi sepuluh perkara itu dihiasi dengan sepuluh perkara.

Nabi saw. bersabda : 

من قال بسم الله الرّحمن الرّحيم كتب من الابرار وبرئ من الكفر والنّفاق

Artinya : “Siapa membaca “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim” maka ia ditetapkan termasuk orang yang baik-baik, terbebas dari kufur dan nifak”.

Dari Abu Wail dan Abdullah bin Mas’ud ra. berkata : “Siapa yang meminginkan agar Allah menyelamatkannya dari sembilan belas malaikat Zabaniyah, maka bacalah “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim”, sebab terdiri dari sembilan belas huruf, di mana Allah menjadikan setiap huruf dari padanya surga dari seorang dari mereka.

Nabi saw. bersabda :

من قال بسم الله الرّحمن الرّحيم غفرالله له ما تقدّم من ذنبه

Artinya : “Siapa membaca “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim” maka Allah mengampuni dosa kecil kepadanya”.

Nabi saw. bersabda : 

اذا قمتم فقولوا بسم الله الرّحمن الرّحيم وصلى الله على سيّدنا محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم, فانّ النّاس اذا اغتابوكم يمنععهم الملك عن ذلك

Artinya : “Apabila kamu semua berdiri maka ucapkanlah “Bismillahir rahmaanir Rahiim, Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidina Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Washabihi Wasallama” niscaya para manusia tidak dapat menggunjing kamu, sebab hal itu tidak dihalang-halangi malaikat.

Nabi saw. bersabda : 

اذا جلستم مجلسا فقولوا بسم الله الرّحمن الرّحيم وصلى الله على سيّدنا محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم, فانّ من فعل ذلك وكّل الله به ملكا يمنعهم من الغيبة حتّى لا يغتبوكم

Artinya : “Apabila kamu semua duduk di tempat maka hendaknya kamu membaca “Bismillahir rahmaanir Rahiim, Wa Shallallaahu ‘Alaa Sayyidina Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Washabihi Wasallama”, maka sesugguhnya orang yang melakukan seperti itu Allah menyuruh malaikat untuk menghalangi para manusia dari menggunjing kamu”.

 

Sebagian Sahabat berkata kepada Rasulullah saw. : “Allah bershalawat sepuluh kali bagi orang yang bershalawat untukmu satu kali. Apakah itu bagi orang yanghadir hatinya”. Beliau bersabda : “Tidak, tapi itu adalah bagi setiap orang yang bershalawat lalu, dan Allah memberinya pahala seperti gunung, para malaikat sama mendo’akan dan memohonkan ampun kepadanya. Adapun ada yang menghadirkan hatinya sewaktu bersholawat atasku, maka tidak ada yang mengetahui kadar hal itu kecuali Allah Ta’ala”.

Nabi saw. bersabda :

من صلّى علىّ واحدة صلّى الله عليه عشرا

Artinya : “Siapa bersholawat (memohonkan rahmat Allah) atasku satu kali, maka Allah memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali”.

Hadist diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud, An Nasai, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah ra. Dan dalam sahih Muslim dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Siapa yang bersholawat atasku satu sekali, maka Allah bersholawat atasnya sepuluh kali. Demikian sebagaimana disebutkan An Nawawi dalam Adzkar.

Nabi saw. bersabda :

 من صلّى علىّ الف مرّة لم يمت حتّى يبشّر له بالجنّة

Artinya : “Siapa yang membaca sholawat seribu kali, maka dia tidak akan mati sehingga dia digembirakan oleh surga”.

Dalam riwayat lain disebutkan : “Siapa bersholawat atasku seribu kali, maka ia digembirakan dengan surga sebelum dia mati”.

Nabi saw. bersabda :

من صلّى علىّ صلاة واحدة صلّى الله عليه بها عشرا ومن صلّى علىّ عشرا صلّى الله عليه بها مائة, ومن صلّى علىّ مائة صلّى الله عليه بها الفا, ومن صلّى علىّ الفا لم تمسّه النّار

Artinya : “Siapa mendoakan sholawat kepadaku satu kali maka Allah bersholawat padanya seratus kali, siapa bersholawat atasku seratus kali maka Allah bersholawat padanya seribu kali, siapa yang bersholawat atasku seribu kali, maka api neraka tidak akan menyentuhnya”.

Maksudnya tidak tersentuh api neraka dan selamat dari neraka Jahannam. Dalam suatu riwayat, Allah tidak akan menyiksanya dengan neraka. Dalam riwayat Thabrani Rasulullah saw. bersabda : “Siapa bersholawat atasku sekali, maka Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali. Siapa bersholawat atasku sepuluh kali, maka Allah bersholawat kepadanya seratus kali, siapa yang bersholawat atasku seratus kali, maka Allah menetapkan baginya bebas dari kemunafikan, bebas dari neraka, dan Allah menempatkannya pada hati kiamat beserta para syuhada’.

Nabi saw. bersabda :

من نسى الصّلاة علىّ فقد اخطأ طريق الجنّة

Artinya : “Siapa lupa bershoawat kepadaku, maka dia tersalah pada jalan surga”.

Yang dikehendaki Nabi saw. dengan lupa adalah meninggalkan dengan sengaja, maka apabila orang yang meninggalkan bersholawat tersalah jalan surga ia adalah orang yang berjalan ke surga, karena telah diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia berkata : “Sholawat atas Nabi saw.adalah jalan ke surga”. Demikian sebagaimana disebutkan As Samlawi.

Nabi saw. bersabda :

 انّ أولى النّاس بى يوم القيامة اكثر هم علىّ صلاة

Artinya : “Sesungguhnya orang yang lebih utama(dekat) kepadaku pada hari kiamat adalah mereka yang lebih banyak bersholawat atasku”.

Maksudnya bahwa para manusia yang lebih utama kepadaku pada hari kiamat adalah mereka yang lebih dekat kepadaku dan mereka berhal mendapatkan syafaatku, sebab mereka itu adalah orang-orang yang paling banyak membaca sholawat kepada Nabi itu menunjukkan benarnya kecintaan dan sempurnanya hubungan. Maka kedudukan mereka di akhirat diperhitungkan berdasarkan terpautnya amalan yang demikian itu. Hadits diriwayatkan Imam Bukhori, Turmudzi dan Ibnu Hibban dari Ibnu Mas’ud dengan sanad yang sahih.

Nabi saw. bersabda :

صلاتكم علىّ محّا قة

Artinya : “Doa sholawatmu semua kepadaku adalah pelebur dosa”.

Maksudnya melenyapkan dosa-dosa kamu semua, sebagai mana air melenyapkan api, seperti dikatakan Abu Bakar As Shiddiq ra., bahwa sholawat atas Nabi saw. menghapus dosa-dosa dari air karena hitamnya papan.

Nabi saw bersabda : 

من صلّى علىّ فى كلّ جمعة اربعين مرّة محا الله ذنوبه كلّها

Artinya : “Siapa bersholawat kepadaku di setiap jum’at sebanyak empat puluh kali, maka Allah melebur dosanya seluruhnya”.

Dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik ra. berkata, saya berdiri di sisi Rasulullah saw. lalu Beliau bersabda : “Siapa bersholawat atasku di setiap hari jum’at sebanyak delapan puluh kali, maka Allah Ta’ala mengampuni dosanya delapan puluh tahun”. Kemudian saya bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana bersholawat atasmu ?” Beliau bersabda : “Hendaknya engkau membaca :

اللّهمّ صلّ على محمّد عبدك ورسولك النّبيّ الامّيّ

Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah rakmat kepada Muhammad seorang hamba dan ututsan-Mu, Nabi yang ummi”.

Demikian sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jilani.

Nabi saw. bersabda : 

مامن دعاء الّا بينه وبين السّماء حجاب حتّى يصلّى علىّ, فاذا صلّى علىّ انخرق ذلك الحجاب ورفع الدّعاء

Artinya : “Tiadalah dari suatu doa melainkan antara doa dan langit terdapat penghalang sehingga bersholawat kepadaku. Maka apabila doa itu dibacakan sholawat atasku, niscaya penghalang (batasan) itu terbedah lalu doa itu terangkat (diterima)”.

Sedangkan redaksi hadits yang diwartakan dari Ali berkata : “Tiadalah dari suatu doa melainkan antara doa dan langit terdapat batasan (hijab) sehingga doa itu dibacakan sholawat atas Nabi saw. Apabila telah dibacakan sholawat maka terbakarlah hijab (batasan) itu, lalu doa itu dikabukan. Dan jika doa itu tidak disertai sholawat kepada Nabi maka tidak dikabulkan”. Hadits diriwayatkan oleh Al Hasan bin Urfah.

Nabi saw. bersabda : 

من صلّى علىّ فى يوم مائة مرّة قضى الله له مائة حاجة, سبعين منها لاخرته وثلاثين منها لدنياه

Artinya : “Siapa yang bersholawat kepadaku setiap hari sebanyak seratus kali, maka Allah mendatangkan seratus hajat kepadanya, yang tujuh puluh dari seratus itu akhiratnya, dan yang tiga puluh dari seratus untuk hajat urusan keduniaan. (HR. Ibnu Najjar dari Jabir ra.)

Nabi saw. bersabda : 

من صلّى علىّ صلاة واحدة صلّى الله عليه وملائكته عشرين مرّة ولم يمت حتّى يبشّر بالجنّة

Artinya : “Siapa bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah dan para malaikatnya memberikan rahmat kepadanya dua puluh kali, dan ia tidak akan mati sehingga digembirakan dengan surga”.

Dan dari Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash berkata : “Siapa bersholawat atas Nabi saw. satu kali, maka Allah Dan para malaikatnya bersholawat (memberikan rahmat) tujuh puluh kali. maka bacalah sholawat itu lebih banyak. Hadits diriwayatkan oleh Imam Hasan dengan hasan mauquf. Diriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Jibril datang seraya berkata kepadaku : “Ya Rasulullah, tiadalah salah seorang yang bersholawat kepadamu melainkan tujuh puluh malaikat memohon rahmat kepadanya”.

Diriwayatkan juga bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Siapa yang bersholawat atasku maka para malaikat bersholawat kepadanya, orang yang dimohonkan rahmat oleh para malaikat maka Allah melimpahkan rahmat kepadanya, orang yang mendapatkan limpahan rahmat Allah, maka tidak ada sesuatupun yang tertinggal di langit dan di bumi melainkan bersholawat (memohon rahmat) kepadanya”.

Sementara Ahli Sufi berkata : “Ada seorang tetanggaku yang berlaku boros berlebih-lebihan atas dirinya, dia tidak memperdulikan hari ini dari kemarinnya karena gobloknya dalam mabuk-mabukan. Aku telah menasehatinya tapi dia tidak mau menerima, akupun menyuruhnya bertaubat, namun dia tidakm mau bertaubat. setelah dia mati, aku melihatnya dalam tidur, sedangkan dia berada di tempat yang tinggi dengan perhiasan hijau dari perhiasan surga berupa pakaian kemuliaan. Lalu aku bertanya kepadanya : “Bagaiman engkau memperoleh martabat yang agung ini ?”. Dia menjawab : “Pada suatu hari saya pernah datang di majlis dzikir, saya mendengar seorang alim berkata : “Siapa bersholawat atas Nabi saw. dan mengeraskan suaranya maka surga wajib baginya. Kemudian seorang alimitu mengeraskan suaranya dengan sholawat atas Nabi saw. lalu sayapun mengeraskan suaraku, begitu juga orang banyak ikut mengeraskan suaranya, seluruhnya memohonkan ampun kepada kami maka sayapun mempeloreh bagian ampunan dan rahmat”.

Iman menurut bahasa adalah memebenarkan dalam hati dengan mengandung ilmu bagi orang yang membenarkan itu. Menurut pengertian syari’at adalah membenarkan dan mengetahui adanya Allah swt dan sifat-sifat-Nya disertai melaksanakan segala yang diwajibkan dan disunnahkan serta menjahui segala larangan dan kemaksiatan.

Boleh dikatakan iman itu adalah agama dan syari’at. Karena agama adalah suatu keadaan tang menyuruh melaksanakan ketaatan serta menjahui segala larangan dan yang diharamkan. Itulah merupakan sifat iman. Adapun Islam adalah termasuk iman. Setiap iman adalah Islam dan setiap islam itu iman. Sebab Islam berarti menyerahkan diri mencari keselamatan kepada Allah swt. Dan tidak setiap orang Islam itu adalah orang yang beriman kepada Allah swt., karena sungguh ada orang menyatakan Islam karena takut pedang. Iman merupakan nama dengan sebutan yang banyak baik ucapan dan perbuatan. Ketaatan lebih umum sedangakan Islam merupakan ibarat dari dua syahadat sert ketenangan hati dan ibadah shalat lima waktu. Demikian sebagaimana disebutkan Syekh Abdul Qadir Al Jilani ra.

Nabi saw. bersabda :

الايمان معرفة بالقلب وقول باللّسان وعمل بالاركان

Artinya : “Iman adalah mengetahui dengan hati dan mengucapkan dengan lisan serta melakukan amal perbuatan dengan anggota tubuh”.

Menurut Ibnu Majah, bahwa iman itu mengetahui adalah sebagai pengganti mengikat dengan hati. Mengucap dengan lisan maksudnya mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagaimana dikatakan Al Qasthalani. Dan melakukan amal perbuatan dengan anggota tubuh maksudnya adalah bahwa amal-amal itu merupakan syarat penyempurnaan iman. Adapun pernyataan lisan merupakan penjelasan dari pembenaran jiwa. Demikian sebagaimana dikatakan Al Azizi mengutip dari Ibnu Hajar. Hadits ini diriwayatkan olej Ibnu Majah dan Thabrani dari Ali, yaitu Hadist dla’if.

Nabi saw. bersabda :

الايمان عريان ولبسه التّقوى, وزينته الحياء, وثمرته العلم

Artinya : “Iman itu telanjang, pakaiannya adalah takwa, perhiasannya adalah malu melakukan maksiat, sedangkan buah-buahnya adalah ilmu”.

Maksudnya bahwa iman itu telanjang dan pakaiannya adalah takwa yaitu menyucikan hati dari segala dosa. Perhiasannya adalah malu kepada Allah apabila melakukan larangan-Nya. Adapun buah-buahannya adalah ilmu dan amal.

Nabi saw. bersabda :

لاايمان لمن لاامانة له

Artinya : “Tidak iman seorang yang tidak memiliki sifat amanah”.

Maksudnya bahwa seorang mukmin adalah yang dipercaya manusia atas diri dan harta mereka. Maka orang yang berkhianat dan berdosa adalah bukan mukmin. Yang dikehendaki oleh Nabi saw. meniadakan sempurna bukan hakikat. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban dari Anas.

Nabi saw. bersabda :

لايؤمن احدكم حتّى يحبّ لاخيه ما يحبّ لنفسه

Artinya : “Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu semua sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Hadist diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim, Turmudzi,Nasai, dan Ibnu Majah dari Anas ra.

Ibrahim As Syabrakhiti berkata : Tersebut dalam riwayat Al Ismaili “Sehingga ia mencintai saudaranya yang muslim sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dari kebaikan”. Nampaknya kata “Saudara muslim itu berlaku secara umum, karena baik juga setiap muslim untuk mencintai yang kafir agar masuk Islam”.

Imam An Nawawi dalam Syarah Al Arba’in dan Ibnu ‘Imad berkata : “Yang lebih baik hal itu mengandung keumuman saudara, sehingga meliputi orang kafir dan orang Islam. Maka mencintai saudaranya yang kafir sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri supaya saudara kafir itu masuk Islam, sebagaimana mencintai saudaranya muslim agar ia tetap dalam Islam. Yang demikian itu karena memohonkan hidayah yakni mendoakan orang kafir agar mendapat petunjuk Allah adalah disunnahkan”.

Nabi saw. bersabda : 

الايمان فى صدر المؤمن, ولايتمّ الايمان الّابتمام الفرائض والسّنن, ولايفسد الايمان الّا بجحود الفرائض والسّنن, فمن نقص فريضة بغير جحود عوقب عليها, ومن اتمّ الفرائض وجبت له الجنّة

Artinya : “Iman itu dalam hati orang mukmin, tidak sempurna iman itu kecuali dengan menyempurnakan amal fardlu-fardlu dan kesunahan-kesunahan. Iman tidak akan rusak melainkan dengan kekejaman terhadap kefardluan tanpa kekejaman maka ia disiksa atas kekejamannya, dan siapa yang menyempurnakan kefardluan ia wajib masuk surga”.

Maksud menyempurnakan kefardluan dan kesunnahan adalah melakukannya dengan sempurna. Iman tidak akan rusak kecuali dengan kekejaman terhadap kefardluan dan kesunnahan maksudnya adalah mengingkarinya. Sehingga orang yang mengurangi satu kefardluan saja ia disiksa karena meninggalkan kefardluan itu. sedangkan jika meninggalkan karena mengingkari kewajibannya maka ia benar-benar kafir. Adapun orang yang menyempurnakan kefardluan dengan melakukannya dengan sempurna ia wajib masuk surga. Kemudian jika ia menyempurnakan melakukan amal-amal kesunnahan, maka dapat menambah tingkatannya di surga. Allah Maha Mengetahui.

Nabi saw. bersabda : 

الايمان لايزيد ولاينقص ولكن له حدّ اى تعريف بذكر افراد فروع الايمان فان نقص ففى حدّه واصله شهادة ان لا اله الّا الله وحده لاشريك له, وانّ محمّدا عبده ورسوله, واقام الصّلاة وايتاء الزّكاة زصوم رمضان والحجّ وغسل  الجنابة. فمن زاد فى حدّه زادت حسناته, ومن نقص فيه ففيه

Artinya : “Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang, tapi ia mempunyai batasan dengan menyebutkan banyak sedikitnya cabang-cabang keimanan. Jika iman itu berkurang maka dalam batasannya saja. Adapun pokoknya adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Yang Maha Esa tidak ada sekutu baginya dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, memberikan zakan, puasa Ramadhan, haji, dan mandi jinabat. Maka siapa yang bertambah dalam batasan iman maka bertambahlah kebaikannya, dan orang yang dikatakan berkurang imannya adalah hanya berkurang batasannya”.

Syahadan itu merupakan pemberian seseorang dengan benar dengan lafadh tertentu. Adapun rukun syahadat ada lima, yaitu :

  1. Syahid, yaitu orang muslim.
  2. Masyhud lahu. yaitu Allah swt. dan Nabi Muhammad saw.
  3. Masyud ‘alaih, yaitu orang yang menyekutukan Allah swt. dan mengingkari karasulan Nabi Muhammad saw.
  4. Masyhud bihi, yaitu tetapnya Ketuhanan Yang Esa bagi Allah swt. dan tetapnya kerasulan Nabi Muhammad saw.
  5. Sighat, yaitu lafadh “Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anaa Muhammdar Rasulullah” atau terjemahannya.

Mendirikan shalat maksudnya melakukan shalat selama hidupnya dengan memenuhi syarat rukunnya. Memberikan zakat maksudnya menyerahkan kepada yang berhak menerimanya dengan mengeluarkan bagian dari harta dengan ketentuan yang ditetapkan. Puasa Ramadhan maksudya menahan diri dari makan minum dan harus suci dari haid dan nifas, serta menahan syahwad dan keinginan mulut, farji dan apa yang muncul dari keduanya. Juga menahan hidung maupun menyentuh yang menyebabkan berbuka  di seluruh siang Ramadhan, disertai berniat sebelum fajar. Kemudian menunaikan haji , sebagaimana sabda Nabi saw. bersabda : “Siapa tidak mempunyai keinginan berhaji karena sakit dan aniaya lalu ia tidak berhaji padahal banyak hartanya lalu ia mati, maka jika dikehendaki matinya Yahudi dan jika dikehendakinya ia mati Nasrani.

Adapun orang yang bertambah dalam batasan iman maka bertambahlah kebaikannya, dan orang yang berkurang imannya adalah yang berkurang batasan imannya. As Suyuthi berkata dalam An Niqayah : “Orang mukmin yang sempurna imannya adalah orang yang sempurna melakukan cabang-cabangnya iman. Adapunorang yang kurang salah satu dari padanya maka berkuranglah imannya sesuai kekurangannya itu”.

Ulama’ Salaf bersepakat, bahwasanya iman itu dapat bertambah dan berkurang. Tambahnya iman dengan tambahnya ketaatan dan kurangnya iman dengan kemaksiatan. Cabang iman itu ada 67 (enam puluh tujuh) atau 77 (tujuh puluh tujuh), sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Atau ada 76 (tujuh puluh enam) atau 77 (tujuh puluh tujuh) sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Uwamah. Atau ada 64 (enam puluh empat) sebagaiman diriwayatkan oleh Turmudzi.

Syekh Abdul Qadir Al Jilani ra. berkata : “Kami beri’tikat bahwa iman itu adalah mengucapkan dengan lisan, mengetahui dengan hati, dan melakukan amal perbuatan dengan anggota badan, ia dapat bertambah dengan keta’atan dan berkurang dan berkurang dengan kemaksiatan, ia dapat kuat dengan ilmu, dapat lemah dengan kebodohan, dan dapat terjadi dengan pertolongan Allah swt”.

Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Abu Darda’ bahwasanya mereka berkata : “Iman itu dapat bertambah dan berkurang. Tambahnya iman adakalanya setelah benar-benar nyata melakukan segala perintah dan menjahui segala larangan, menyerah pada ketentuan Allah, meninggalkan berpaling terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, meninggalkan sesuatu yang meragukan terhadap janji Allah dalam urusan rizki dan bertawakkal kepada-Nya, keluar dari upaya dan kekuatan, bersabar terhadap bencana, bersyukur atas segala nikmat, menyucikan kebenaran, meninggalkan tuduhan kepada Allah dalam situasi dan kondisi.

Al Ghozali berkata : “Amal itu bukan merupakan bagian dari iman dan rukun-rukun terjadinya, tetapi iman itu bertambah dengan bertambahnya amal. Bertambah dan berkurang itu dapat terjadi, sedangkan sesuatu tidak bertambah degan zatnya, maka tidak boleh dikatakan kalau manusia itu bertambah dengan kepalanya, tetapi dikatakann bertambah dengan jenggotnya dan gajihnya. Juga tidak boleh dikatakan shalat itu bertambah dengan ruku’ dan sujud, tetapi bertambah dengan taat kesopanan dan kesunahan-kesunahan. Jadi jelasnya bahwa iman itu terjadi atau ada, kemudian setelah ada keadaannya diperselihsihkan degan bertambah dan berkurangnnya”.

Nabi saw. bersabda : 

الايمان نصفان, فنصف فى الصّبر ونصف فى الشّكر

Artinya : “Iman itu dua bagian, satu bagian tetap dalam kesabaran (terhadap yang diharamkan) dan satu bagian dalam bersyukur (melakukan amal dan ketaatan). Hadits diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Anas ra.

Nabi saw. bersabda :

الايمان قيد الفتك لايفتك مؤمن

Artinya : “Iman itu ikatan membunuh, janganlah seorang mukmin membuh”. Hadits diriwayatkan Bukhori, Abu Dawud, dan Al Hakim dari Abu Hurairah dan Imam Ahmad dari Zubair dab dari Mu’awiyah.

Maksudnya iman itu melarang membunuh yaitu melakukan pembunuhan. Kata “LAA YAFTIKU MU’MINUN=Janganlah seorang mukmin membunuh” adalah khabar dengan makna melarang, yaitu larangan membunuh bagi orang yang sempurna imannya.

Nabi saw. bersabada :

خلق الله الايمان وحفّه ومدحه بالسّماحة والحياء وخلق الكفر وذمّه بالبخل والجفاء

Artinya : “Allah menciptakan iman dan menghiasnya serta menyanjungnya dengan murah hati dan rasa malu. Dia menciptakan kekufuran dan mencelahnya dengan kikir dan keras hati (durhaka)”.

Nabi saw. bersabda :

اذا دخل اهل الجنّة الجنّة واهل النّار النّار امرالله تعالى بان يخرج من النّار من كان فى قلبه مثقال ذرّة من الايمان

 Artinya : “Apabila ahli surga masuk surga dan ahli neraka masuk neraka, maka Allah Ta’ala memerintahkan malaikat agar yang di dalam hatinya terdapat iman seberat debu dikeluarkan dari neraka”.

Yaitu kelebihan atas tauhid. Demikian sebagaiman dikatakan Al Qatsthalani. Dan dalam hadits diriwayatkan Bukhori dari Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi saw. bersabda : “Ahli surga masuk ke dalam surga dan masuklah ahli neraka masuk ke neraka, lalu Allah Ta’ala berkata kepada para malaikat : “Keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji sawi sebagai kelebihan dari pokok tauhid”. Maka mereka keluar dari neraka di mana mereka tidak menjadi hitam. Kemudian mereka itu dilemparkan ke sungai kehidupan, yaitu sungai di mana orang berselam di dalamnya menjadi hidup. Akhirnya mereka tumbuh bagaikan tumbuhnya sebutir biji di tepi aliran.

Diriwayatkan dari Dlahak dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Tiadalah seorang hamba dan wanita yang berwudlu’ lalu ia menyempurnakan wudlu’ kemudian sesudahnya membaca Surat Al Qadar sampai akhir, melainkan Allah Ta’ala memberikan kepadanya setiap huruf daripadanya seratus derajat, dan Allah menciptakan dari setiap tetesan yang menetes dari wudlu’nya seorang malaikat yang memohonkan ampun kepadanya sampai hari kiamat”. Demikian sebagaimana disebutkan dalam Riyadlus Shalihin.

Nabi saw. bersabda :

من توضّأ للصّلاة فاحسن الوضوء ثمّ قام الى الصّلاة فانّه يخرج من خطيئته كيوم ولدته امّه

Artinya : “Siapa berwudlu’ untuk shalat lalu ia menyempurnakan wudlu’nya kemudian berdiri mengerjakan shalat, maka keluarlah kesalahannya seperti pada hari dilahirkannya oleh ibunya”.

Maksud memperbaiki wudlu’ adalah menyempurnakannya, yaitu dengan memelihara syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan adab-adabnya. Dan kesalahannya keluar seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya maksudnya adalah semua dosa-dosa kecilnya keluar semua tidak ada sesuatupun yang tertinggal, ia seperti pada hari keluarnya dari perut ibunya.

Nabi saw. bersabda :

من توضّأ للصّلاة وصلّى كفّرالله ذنوبه ما بينه وبين الصّلاة الاخرى الّتى تليها

Artinya : “Siapa berwudlu’ untuk shalat lalu ia shalat maka Allah menutupi (melebur) dosa-dosanya (yang kecil) yang dilakukan antara wudlu’ dan shalat yang lain yaitu shalat sesudah shalat yang dilakukan itu”.

Nabi saw. bersabda : 

من نام على وضوء فادركه الموت فى تلك اللّيلة فهو عند الله شهيد

Artinya : “Siapa tidur dalam lalu maut menjumpainya pada malam itu, maka dia mati syahid di sisi Allah”.

Dalam Al Ihya’ dissebutkan, bahwa Nabi saw. bersabda : “Apabila seorang hambaa tidur dalam keadaan suci maka naiklah ruhnya ke ‘Arasy dan mimpinya adalah benar. Jika ia tidur tidak dalamkeadaan suci maka pendeklah ruhnya dan tidurnya adalah mimpi-mimpi yang kosong tidak benar”.

Nabi saw. bersabda :

النّائم الطّاهر كالصّائم القائم

Artinya : “Orang yang lagi dalam keadaan suci adalah seperti orang berpuasa yang bangun beribadah malam”.

Maksud bangun beribadah malam tersebut adalah melakukan shalat di tengah malam untuk memperoleh pahala sekalipun ketentuannya diperselisihkan. Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan Turmudzi dari Amru bin Harits, isnadnya dla’if. Demikian sebagaimana tersebut dalam Sirajul Munir.

Nabi saw. bersabda : 

من توضّأ على طهر كتب له عشر حسنات

Artinya : “Siapa berwudlu masih dalam keadaan suci maka ditetapkan baginya sepuluh kebaikan”.

Berwudlu masih dalam keadaan suci maksudnya adalah memperbaharui wudlunya sedangkan ia masih suci dari wudlu yang telah dipergunakan shalat fardlu atau sunnah. Jika tidak shalat dengan wudlu yang pertama berupa shalat apa saja, maka tidak disukai memperbaharui wudlu’. Baginya ditulis atau ditetapkan sepuluh kebaikan lantaran wudlu yang diperbaharui itu. Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmuszi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar. Turmudzi mengatakan isnatnya dla’if.

Sabdanya : “Ditetapkan baginya sepuluh kebaikan” menurut sebagian ilama mengatakan hal itu diserukan dengan maksud “Allah menetapkan dengannya sepuluh wudlu”. Sebab lebih sedikit dari apa yang dijanjikan olleh Allah dalam melipat gandakan satu kebaikan dengansepuluh kebaikan. Dan Allah telah menjanjikan satu menjadi tujuh ratus, bahkan menjanjikan pahala tanpa hitungan.

Nabi saw. bersabda :

لاصلاة لمن لاوضوء له ولاوضوء لمن لم يذكر اسم الله عليه

Artinya : “Tidak sah shalat bagi orang yang tidak berwudlu, dan tidak sempurna wudlu bagi orang yang tidak menyebut asma Allah pada wudlu”.

Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al Hakim, dari Abu Hurairah, dan Ibnu majah dari Sa’id dan Zaid.

Nabi saw. bersabda : 

الوضوء شطر الايمان

Artinya : “Wudlu’ itu adalah separoh iman”.

Hadits itu diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Hisan bin ‘Athiyah. Dan dalam riwayat yang lain wudlu itu separo iman karena iman itu menyucikan najis batin dan wudlu’ itu menyucikan najis lahir.

Nabi saw. bersabda :

صبغة الوضوء مرّة, فمن توضّأ مرّتين كان له كفلان من الاجر, ومن توضّأ ثلاثا فهو وضوء الانبياء من قبلى

Artinya : “Pembakuan wudlu itu satu kali, maka siapa yang berwudlu dua kali pahalanya lipat dua kali, dan siapa yang berwudlu tiga kali itu adalah wudlu para nabi sebelumku”.

Disebutka dalam Ihya’, Nabi saw. berwudlu satu kali seraya bersabda : Inilah wudlu di mana Allah tidak akan menerima shalat kecuali dengannya. Beliau berwudlu dua kali-dua kali seraya bersabda : “Siapa beruwudlu dua kali-dua kali maka Allah memberikan pahala kepadanya lipat dua kali”. Nabi berwudlu tiga kali-tiga kali seraya bersabda : “Ini adalah wudlu’ku dan wudlu para nabi sebelumku serta wudlu Nabi Ibrahim Khalilur Rahman as”.

Nabi saw. bersabda :

لايقبل الله صلاة احدكم اذا احدث حتّى يتوضّأ

Artinya : “Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kamu semua apabila telah berhadats sehinga ia berwudlu”.

Yang dimaksud dengan diterimanya shalat disini dipersamakan dengan sahnya, dan hakikat diterima itu buah hasil terjadinya keta’atan. Sedangkan sahnya shalat adalah berwudlu apabila telah berhadats, yaitu berwudlu dengan air atau sesuatu yang dapat menduduki kedudukan air. Hadits diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra.

Nabi saw. bersabda :

الوضوء على الوضوء نور على نور

Artinya : “Wudlu’ atas wudlu’ itu adalah cahaya atas cahaya”.

Maksudnya memperbaharui bagi orang yang punya wudlu itu dan belum hadats itu adalah merupakan kebaikan menambah kebaikan.

Dalam Ihya’ disebutkan, Nabi saw. bersabda : “Siapa berwudlu lalu ia membaguskan (menyempurnakan) wudlu’nya dan melakukan shalat dua rakaat di mana tidak tergerak jiwanya pada keduanya dari sesuatu dari keduniaan, maka keluarlah dosanya seperti pada hari dilahirkan oleh ibuya”.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Beberapa kesucian ada empat, yaitu : memotong kumis, mencukur bulu ari-ari, memotong kuku dan bersiwak”. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Thabrani dari Abu Darda’.

Nabi saw. bersabda : 

ركعتان بسواك خير من سبعين ركعة بغير سواك

Artinya : “Shalat dua rakaat dengan bersiwak adalah lebih baik dari pada shalat tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak”.

(Hadits diriwayatkan oleh Ad Daruqutni dari Ummu Darda’ dan isnad hasa)

Maksudnya bersiwak itu mempunyai keutamaan dan mengandung beberapa faidah, yaitu dapat mengharumkan bau mulut dan mengingatkan kesaksian ketika mati. Al Nawawi berkata : “Hadits ini tidak menunjukkan tentang keutamaan bersiwak atas shalat berjamaah yang mana lipat duapuluh tujuh derajat”.

Nabi saw. bersabda :

تسوّكوا فانّ السّواك مطهرة للفم مرضاة للرّبّ

Artinya : “Bersiwak kamu semua, karena siwak itu menyucikan mulut dan meridlakan pada Tuhan”.

Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Al ‘Alqami berkata : Ibnu Hisyam ditanya tentang Hadits ini : Bagaiman membuat khabar dari mudzakar dengan mu’anats?”. Jawabnya : “Ta” dalam “Math-haratun” itu bukan “Ta’nits” tetapi hanya merupakan perbuatan yang menunjukkan memperbanyak. Nabi saw. bersabda :

ستّة من سنن المرسلين الحياء والحلم والحجامة والسّواك والتّعطر وكثرة الازواج

Artinya : “Enam perkara termasuk melakukan kesunahan (perilaku) para utusan Allah, yaitu : Malu, murah hati, berbekam, bersiwak (bersugi), mengenakan harum-haruman, dan banyaknya isteri”.

Nabi saw. bersabda :

ثلاثة واجبة  على كل مسلم : الغسل يوم الجمعة, ولسّواك, ومسّ الطّيب

Artinya : “Tiga perkara sangat dianjurkan atas setiap muslim, yaitu : Mandi pada hari jumat, bersiwak, dan menyentuh (mengoleskan) bau harum (minyak wangi)”.

Yaitu harum-haruman yang dipakai pada hari jumat, sekalipun hal itu juga dituntut untuk selainnya. Diriwayatkan dari A’isyah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda : “Tiga hal termasuk kefardluan dan kesunahan bagi kamu semua yaitu : bersiwak, shalat witir, dan shalat malam”.

Nabi saw. bersabda :

طيّبوا افواهكم بالسّواك فانّه طريق القران

Artinya : “Harumkanlah mulut kamu semua dengan bersiwak, karena sesungguhnya mulut itu sebagai jalan Al Quran”.

Maksudnya mengharumkan mulut adalah dengan menghilangkan bau yang dibenci dari mulut dengan cara bersiwak (bergusi). Dan dalam Hadits diriwayatkan At Thabrani dari Ibnu Masud dengan isnad hasan disebutkan : “Buanglah sesuatu di sela-sela gigi karena hal itu merupakan kesucian dan kesucian itu membawa kepada iman sedangkan iman dapat memasukkan seorng ke dalam surga”. Maksudnya keluarkanlah apa yang ada antara sela-sela gigi dari makanan dengan cungkit, karena hal itu kebersihan bagi mulut dan gigi.

Nabi saw. bersabda : 

رحم الله المتخلّلين من امّتى فى الوضوء

Artinya : “Semoga Allah menyayangi orang-orang yang menyela-nyela rambut dari umatku dalam berwudlu menyela-nyela gigi dari makanan”.

Maksudnya Allah mengasih sanyangi orang-orang yang menyela-nyelai rambutnya ketika berwudlu dan mandi serta orang-orang yang mengeluarkan sisa mekanan yang terdapat di antara gigi-gigi. Dalam Hadits ini disunnahkan menyela-nyelai rambut dalam bersuci dan menghilangkan sisa makanan sela-sela gigi. Nabi saw. mendoakan mereka agar dikasih sanyangi Allah agar mereka berhari-hati dalam beribadah. Maka perhatian itu sangat dikuatkan agar termasuk dalam doa Rasulullah saw. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Qudla’i dari Abi Ayub Al Anshari dantermasuk hadist hasan.

Nabi saw. bersabda :

لاتخلّلوا بالاس والرّيحان والقصب فانّه يورث الاكلة

Artinya : “Jagalah kamu semua mencukiti gigi dengan kayu As, kayu Raihan, dan kayu Qashab, karena hal itu menyebabakan rontoknya gigi”.

Maksud kayu As adalah setiap kayu yang berbau harum, kayu Raihan adalah setiap tumbuhanyang berbau harum, adapun kayu Qashab adalah setiap tetumbuhan yang ruasnya terdapat mata sendi-sendi seperti aur atau bambu dan sebagainya.

Nabi saw. bersabda :

صلاة بسواك خير من سبعين صلاة بغير سواك

Artinya : “Shalat dengan bersiwak itu adalah lebih baik daripada tujuh puluh shalat tanpa bersiwak”.

Maksudnya dari melakukan shalat yang banyak tanpa bersiwak. Hadits diriwayatkan Al Baihaqi dan yang lain, dan Al Hakim menshahihkannya. Adapun tujuh puluh itu untuk memperbanyak bukan untuk pembatasan. demikian faedah yang dikemukakan Al ‘Azizi.

Nabi saw. bersabda :

مازال جبريل يوصينى بالسّواك حتّى خشيت ان يدردنّ اسنانى

Artinya : “Jibril tidak henti-hentinya mewasiati aku dengan bersiwak, sehingga aku hawatir gigi-gigiku rontok”.

Maksudnya berguguran gigi-gigiku. Dalam redaksi lain disebutkan : “Jibril mewasiatiku untuk bersiwak, sehingga aku hawatir gigi-gigiku akan rontok, yakni aku mengira gugur gigi-gigiku”.

Nabi saw. bersabda :

امرت بالسّواك حتّى خفت على اسنانى

Artinya : “Aku diperintahkan untuk bersiwak sehingga aku hawatir rontok gigi-gigiku”. Hadits diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra.

Disebutkan dalam tafsir bahwa Firman Allah ‘Azza wa Jalla di bawah ini diturunkan berkenan dengan para muadzin :

ومن احسن قولا ممن دعا الى الله وعمل صالحا : فصلت : 33

Artinya : “Siapa yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh”. (QS. 41 Fushshilat : 33)

Nabi saw. bersabda :

من اذّن للصّلاة سبع سنين محتسبا كتب الله له براءة من النّار

Artinya : “Siapa yang beradzan untuk shalat selama tijuh tahun karena mengharap keridhaan Allah (tanpa menuntut bayaran), maka Allah menetapkan baginya terbebas dari neraka”. (Hadits diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.)

Nabi saw. bersabda :

من اذّن ثنتى عشرة سنة وجبت له الجنّة

Artinya : “Siapa beradzan selama dua belas tahun (dengan iklas karena Allah), maka baginya wajib (masuk) surga”. (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu majah dan Al Hakim dari Ibnu Umar ra.)

Nabi saw. bersabda :

من اذّن خمس صلواة ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدّم من ذنبه

Artinya : “Siapa yang beradzan shalat lima waktu dengan iman dan mengharapkan pahala Allah, maka ia diampuni dosanya yang telah lalu”.

Dosa-dosa yang diampuni dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil. Hadits diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Abu Hurairah ra. dengan isnad dla’if. Lima itu adalah benar untuk beradzan setiap hari dan malam.

Nabi saw. bersabda :

ثلاثة يعصمهم الله تعالى من عذاب القبر الشّهيد والمؤذّن والمتوفّى يوم الجمعة وليلة الجمعة

Artinya : “Tiga golongan manisia Allah Ta’ala menjaga mereka dari siksa kubur yaitu : orang yang mati syahid, juru adzan, dan orang yang mati pada hari jum’at dan malam jum’at”.

Mati syahid itu ada yang mati syahid di akhirat saja, yaitu seperti orang yang mati teraniaya, atau mati terkejut, umpama mati terkena penyakit kolera, mati tenggelam, mati tertimpa oleh sesuatu, mati kebakaran, mati dalam belajar agama Allah sekalipun berada di atas tempat tidurnya, dan pengertian mati syahid itu bagi mereka hidup di sisi Allah dan mereka diberi rizki. Ada yang syahid dunia dan akhirat, yaitu mati dengan sebab memerangi orang-orang musyrik untuk meninggikan (menegakkan) agama Allah, tidakmkarena pamer dan popularitas. Dan syahid dunia saja, yaitu orang mati dalam peperangan melawan orang-orang kafir, akan tetapi bukan karena untuk mencari keridlaan syara’, hanya karena sebab-sebab lain karena kemegahan, pamer, dan popularitas.

Yang kedua juru adzan yang benar-benar mencari keridlaan Allah semata, tidak untuk mengharapkan opah bayaran dari seorangpun. Dan ketiganya orang yang mati pada hari Jum’at. Sebagian Ulama berkata : “Orang-orang yang mukmin yang mati pada siang hari jum’at atau malamnya jika ia disiksa maka siksanya satu sa’at saja lalu terpuutus dan tidak kembali sampai hari kiamat demikian pula menghimpitnya kubur”. Allah Maha Mengetahui.

Nabi saw. bersabda :

لويعلم النّاس ما فى النّداء واصّفّ الاوّل ثمّ لم يجيدوا الّا ان يستهموا عليه لاستهموا, ولويعلون ما فى التّهجير لاستبقوا اليه, ولويعلمون ما فى العتمة والصّبح لاتوهما ولوحبوا

Artinya : “Andaikata para manusia mengetahui keutamaan adzan dan (berjama’ah) di barisan terdepan kemudian mereka tidak mendapatkan melainkan harus berundi niscaya mereka mencari undi. Dan kalau mereka tahu keutamaan berpagi-pagi untuk shalat, maka niscaya mereka berbuat untuk mendatanginya. Lalu andaikata mereka mengetahui keutamaan berjama’ah shalat ‘Isya dan subuh, maka niscaya mereka mendatanginya sekalipun dengan merangkak”.

Maksudnya, andaikata manusia itu mengetahui kautamaan adzan dan shalat berjama’ah di barisan terdepan namun mereka tidak dapat beradzan dan tidak dapat berjama’ah menempati barisan terdepan karena berdesakan dan telah didahului temannya yang lain, atau untuk dapat memperolehnya harus dengan undian, niscaya mereka pasti berundi rebutan adzan dan dapat berjama’ah di barisan terdepan. Demikian pula andaikata para manusia mengetahui keutamaan berpagi-pagi untuk mendatangi masjid perlu shalat berjama’ah, niscaya mereka bangun masih gelap lalu berlomba-lomba menuju masjid untuk shalat berjama’ah. Dan andaikata para manusia mengetahui keutamaan berjama’ah shalat ‘isya dan subuh begitu besar pahalanya, niscaya mereka mendatanginya sekalipun berjalan dengan merakkak. Hadits diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasai, dan Abu Dawud dari Abu Hurairah ra.

Nabi saw. bersabda :

من سمع النّداء فقبّل ابها ميه فوضع على عينيه وقال مرحبا بذكرالله تعالى قرّة اعبننا بك يارسول الله, فانا شفيعه يوم القيامة وقئده الى الجنّة

Artinya : “Siapa mendengar panggilan adzan lalu ia mengucap kedua ibu jarinya dan meletakkannya pada kedua matanya sambil membaca : “MARHABAN BIDZIKRILLAHI TA’ALA QUURATU A’YUNINAA BIKAYA RASULULLAH , maka saya memberikan syafa’at kepadanya pada hari kiamat dan menuntunnya ke surga”

Nabi saw. bersabda :

اذا كان وقت الاذان فتحت ابواب السّماء واستجيبت الدّعاء واذا كان وقت الاقامة لم تردّ دعوته

Artinya : “Ketika ada waktu adzan, maka dibukalah pintu-pintu langit dan dikabulkanlah doa. kemudian ketika ada waktu iqamah, maka doanya tidak tertolak”.

Imam An Nawawi mengatakan dalam Kitab Al Adzkar : Diriwayatkan kepadaku dari Anas ia berkata, Rasulullah saw. bersabda : “Tidak akan ditolak doa diantara dua adzan dan iqamah”. Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmudzi, Nasai, Ibnu Sunni dan yang lain. Turmudzi menambahkan dalam riwayatnya : mereka berkata : “Maka bagaimana kami memohon ya Rasulullah ?” Beliau bersabda : “Mohonlah kesehatan kepada Allah di dunia dan di akhirat”.

Nabi saw. bersabda :

من قال عند الاذان : مرحبا بالقائلين عدلا, مرحبا بالصلوات واهلا كتب الله تعالى له الف حسنة ومحا عنه الف سيّئة ورفع له الف درجة

Artinya : “Siapa yang membaca ketika adzan : “MARHABAN BILL QAAILIIN ‘ADLAN, MARHABAN BIS SHALAWAATI WA AHLAN”, maka Allah Ta’ala menulis baginya seribu kebaikan dan menghapus dari padanya seribu kejelekan serta mengangkat baginya seribu derajat”.

Nabi saw. bersabda :

من سمع الاذان ولم يقل مثل ما قال المؤذّنون فانه يمنع من السّجود يوم القيامة اذا سجد المؤذّنون

Artinya : “Siapa mendengar adzan tetapi tidak mau menjawab (mengucap) seperti apa yang duicapkan muadzin, maka ia tercegah dari sujud pada hari kiamat, ketika para juru adzan bersujud”.

Mengucapkan seperti apa yang diucapkan muadzin itu dari seluruh kalimat, tetapi ada disebutkan dalam suatu hadts mengecualikan kalimat “HAYYA ‘ALAL FALAAH” maka keduanya mengucapkan : “LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIIM”. Inilah yang lebih masyhur menurut pendapat mayoritas Ulama dan Hanabilah dan dalam satu pendapat.

An Nawawi mengatakan dalam Al Adzkar : “Jika seorang mendengar mu’adzin dan orang qamat dimana ia sedang shalat, maka ia tidak perlu menjawab dalam shalat. Kemudian jika ia telah bersalam, maka menjawablah sebagaimana orang yang tidak sedang shalat menjawabnya . Kalau ia menjawabnya dalam shalat maka makruh dan tidak batal shalatnya. Demikian pula orang yang mendengarnya sedangkan ia berada di kakus, maka ia tidak diwajibkan menjawab seketika itu, lalu ia sudah keluar supaya menjawabnya. Adapun jika ia sedang membaca Al Qur’an, atau tasbih, atau membaca hadits, maka hentikanlah semua itu dan menjawab mu’adzin. Kemudian kembali membacanya lagi. karena menjawab itu dapat menghabiskan waktu jika dalam menjawab mengikuti bacaan mu’adzin sampai selesai, sedangkan membaca hal-hal tersebut tidak akan kehabisan waktu.

Nabi saw. bersabda :

ثلاثة فى ظلّ العرش يوم لاظلّ الّا ظلّه : امام عادل, ومؤذّن حافظ, وقارئ القران يقرأ فى كلّ ليلة مائتى اية

Artinya : ” Tiga golongan manusia berada di bawah  ‘Arasy pada suatu hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, yaitu : Penguasa yang adil; Juru adzan yang menjaga waktu; dan Pembaca Al Quran yang setiap malam (tidak kurang dari ) seratus ayat”.

Imam yang adil maksudnya adalah penguasa yang adil terhadap rakyat yang dikuasainya dalam kekuasaan pemerintahannya. Juru adzan yang menjaga waktu maksudnya mu’adzin yang memelihara waktu. Satid Syekh Abdul Qadir Al Jilani berkata : “Seorang muadzin wajib menjaga dari salah baca dalam dua kalimat syahadat. Ia juga harus bujak dal arif terhadap waktu-waktu, jangan beradzan kecuali setelah masuk shalat selain waktu fajar secara khusus. Dalam baradzan hendaknya mengharapkan karidlaan Allah Ta’ala semata, jangan meminta balasan mukanya hendaknya menghadap kiblat pada waktu mengucapkan takbir dan dua kalimat syahadat. Lalu memalingkan mukanya ke kanan dan ke kiri ketika menyeru untuk shalat. Apabila adzan untuk shalat maghrub maka duduklah antara dua adzan dan iqamat dengan duduk yang ringan. Dan dibenci bagi orang yang beradzan dalam keadaan junub dan hadats.

Dan pembaca Al Qur’an yang membaca setiap malam tidak kurang dari dua ratus ayat. Syekh Abdul Qadir Al Jilani ra. berkata : “Disunahkan sebelum tidur membaca tiga ratus ayat, agar termasuk golongan orang-orang yang ahli beribadah dan tidak termasuk orang-orang yang lalai. Maka bacalah Surat Al Furqan dan As-Syu’ara, karena keduanya mengandung tiga ratus ayat. Jika tidakdapat maka bacalah Surat Al Waqi’ah, Nun, Al Haaqqah, Al Waqi’ yakni “Sa-ala saa-ilum bi’adzaabiw waaqi'” serta surat Al Muddatstsir. Jika tidak dapat melakukan dengan baik dari surat-surat itu, maka bacalah Surat At Thariq sampai penghabisan Al Qur’an karena ada tiga ratus ayat. Apabila mau membaca sekitar seribu ayat, maka lebih baik baginya dan memperoleh faedah yang lebih sempurna, baginya ditetapkan pahala yang banyak, dan ditetapkan termasuk golongan orang yang ta’at, yaitu mulai surat Tabarak (Al Mulk) sampai penghabisan Al Qur’an. Jika tidak dapat membacanya, maka bacalah Surat Al Ikhlas sebanyak dua ratus lima puluh kali, karena seluruhnya terkumpul menjadi seribu ayat, hal itu jika disertai Basmalah.

Dan sebaliknya jangan meninggalkan membaca empat surat pada setiap malam, yaitu : Alif Lam Miim Tanzi As Sajdah; Surat Yaa Siin; Haa Miim Ad Dukhan; dan Tabarak. Jika membacanya disertai Al Muzzammil dan Al Waqiah, maka ia lebih baik. Nabi saw. tidak tidur sehingga beliau membaca Surat As Sajdah dan Tabarak (Al Mulk). Dalam warta yang lain, sehingga Beliau membaca “Al Musabbahat” karena dikatakan di dalamnya terdapat ayat yang lebih utama dari pada 100.000 (seratus ribu) ayat.

Dari Abu Huraira ra. berkata : Kekasihku yaitu Rasulullah saw. telah berwasiat kepadaku :

يااباهريرة, صلّ مع الجماعة ولو كنت جالسا فانّ الله يعطيك بكلّ صلاة ثواب خمس وعشرين فى غير الجماعة

Artinya : “Hai Abu Hurairah, shalatlah dengan berjama’ah sekalipun engkau lakukan dengan duduk. Karena Allah memberikan kepadamu setiap satu shalat berpahala dua puluh lima shalat yang dilakukan tanpa berjama’ah”.

Demikian sebagaimana disebutkan dalam Riyadlus Shalihin.

Nabi saw. bersabda :

فضل صلاة الجماعة على صلاة الرّجل وحده خمس وعشرون درجة وفضل صلاة التّطوّع فى البيت على فعلها فى المسجد كفضل صلاة الجماعة على صلاة المنفرد

Artinya : “Keutamaan shalat berjama’ah atas shalat seorang sendirian adalah dua puluh lima derajat. Dan keutamaan shalat sunah di rumah dengan yang dilakukan di masjid adalah seperti keutamaan shalat berjama’ah atas shalat sendiri”.

Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Sakan dari Dlamrah dari ayahnya yaitu Hubaib.

Nabi saw. bersabda :

صلاة الجماعة تفضل صلاة الفذّ بسبع وعشرين درجة

Artinya : “Shalat berjama’ah adalah lebih utama dari pada shalat sendirian dengan lipat dua puluh derajat”.

Hadits diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Nasa’ai dari Ibnu Umar bin Al Khaththab ra. Dan riwayat kebanyakan sahabat dengan lipat dua puluh lima darajat, sebagaimana disebutkan Al Azizi.

Nabi saw. bersabda :

افضل الصّلاة عند الله تعالى صلاة الصّبح يوم القيامة فى جماعة

Artinya : “Shalat yang paling utama menurut Allah Ta’ala adalah shalat subuh hari Jum’at dengan berjama’ah”. Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Thabrani dari Ibnu Umar ra.

Jama’ah-jama’ah shalat dikokohkan setelah shalat subuh hari Jum’ah kemudian shalat subuh berjama’ah di lain hari Jum’at, kemudian shalat isya’, ‘ashar, dluhur, dan maghrib. Bahwasanya mengutamakan jama’ah shalat subuh lalu isya’ karena keduanya lebih berat dilakukan. Demikian faidah yang dikemukakan Al ‘Azizi.

من صلّى صلاة الصّبح فى الجماعة ثمّ جلس يذكر الله تعالى حتّى تطلع الشّمس كان له ستر من النّار وبرئ من النّار

Artinya : “Siapa shalat subuh dengan berjama’ah kemudian duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga terbit matahari, maka hal itu menjadi tirai baginya dari neraka dan ia terbebas dari neraka”.

Nabi saw. bersabda :

صلاة الرّجل فى جماعة تزيد على صلاته وحده خمسا وعشرين درجة, فاذا صلّاها بارض فلاة فاتمّ وضوءها وركوعها وسجودها بلغت صلاته خمسين درجة

Artinya : “Shalat seorang lelaki dengan berjama’ah adalah menambah shalatnya yang dilakukan sendirian terpaut dua puluh lima derajat. Maka jika shalat berjama’ah di tanah lapang lalu menyempurnakan wudlunya, ruku’nya, sujudnya, niscaya shalatnya mencapai lima pulu derajat”. Hadits diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudri dengan isnad yang shohih.

Ada rahasia dari hal itu, bahwasanya shalat berjama’ah tidak dikokohkan pada hak musafir (orang bepergian) karena adanya masyaqqat (memberatkan).

Nabi saw. bersabda : 

من ادرك الجماعة اربعين يوما كتب الله له براءة من النّار وبراءة من النّفاق

Artinya : “Siapa mendapat shalat berjama’ah selama empat puluh hari maka Allah Ta’ala menetapkan baginya terbebas dari neraka dan terbatas dari sifat munafiq”.

Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Jawad : “Disunahkan memelihara shalat berjama’ah dengan mendapatkan takbiratul ikhram imam. Berdasat khabar munqathi’, yaitu ada yang gugur perawinya sebelum sahabat : “Siapa shalat empat puluh hari dengan berjama’ah mendapatkan takbir pertama, maka ditetapkan baginya dua kebebasan yaitu : terbebas dari neraka dan terbebas dari sifat munafik”.

Nabi saw. bersabda :

من صلّى البردين فى الجماعة دخل الجنّة بغير حساب

Artinya : “Siapa shalat badain (subuh dan ‘ashar) dengan berjama’ah, maka ia masuk surga tanpa hisab”.

Shalat bardain adalah shalat subuh dan ‘ashar. Bardain artinya dua kesejukan. keduanya dinamakan bardaini karena kedua shalat itu dikakukan pada kesejukan siang di ijung sore udara terasa dingin dan menjelang pagi masih terasa dingin.

Nabi saw. bersabda :

من شهد صلاة الجماعة كتب الله تعالى له ذاهبا وراجعا عشر حسنات ومحاعنه عشرسيّئات ورفع له عشر درجات

Artinya : “Siapa menghadiri shalat berjama’ah, maka Allah Ta’ala menetapkan baginya berngkat dan pulangnya sepuluh kebaikan dan menghapus daripadanya sepuluh kejelekan serta mengangkat bagunya sepuluh derajat”.

Nabi saw. bersabda : 

لاصلاة لجار المسجد الّا فى المسجد

Artinya : “Tidak sempurna shalat tetangga masjid kecuali di masjid”. Hadits diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi dari Jabir dan dari Abu Hurairah ra. 

Yang diangkat dalam hadits itu adalah berjama’ah shalat fardlu dan yang disesuaikan dengannya maka dilakukan di masjid adalah lebih utama, dan selain itu maka dikerjakan di rumah lebih utama dari pada dikerjakan di masjid. Demikian faidah yang dikemukakan Al ‘Azizi.

Al ‘Allamah Manshur At Thablawi menadhamkan hal itu dengan bahar rajaz yang artinya :

Shalat sunat di rumah adalah lebih utama,

melainkan yang dilakukan berjama’ah agar berhasil.

Shalat sunag ihram thawaf,

shalat sunah untuk duduk i’tikaf.

Demikian juga shalar Dhuha

dan shalat sunah pada hari jum’at.

Dan orang khawatir kehabisan waktu,

dengan mengakhirkan dan mendahulukan

dan orang yang mengadakan perjalanan.

Shalat istikhara dan qabliyah maghrib,

demikian juga sesudahnya.

Dan setiap qabliya telah masuk waktunya,

dan nazar shalat-shalat sunah seperti asalnya.

Nabi saw. bersabda :

صلاة الجماعة رحمة وهى خير من الدّنيا وما فيها والجماعة رحمة والفرقة عذاب

Artinya : “Shalat berjama’ah itu adalah rahmat, yaitu lebih utama dari pada dunia dan seisinya. Berjama’ah itu rahmat dan perpecahan adalah siksaan”.

Berjama’ah merupakan rahmat maksudnya bahwa membiasakan berjama’ah kaum muslimin dapat menyampaikan atau menyebabkan mendapatkan rahmat. perpecahan merupakan siksaan maksudnya adalah hawa perselisihan dan perpecahanantara kaum muslim serta mengisolir dari mereka menyebabkan timbulnya siksaan.

 

Diriwayatkan Al ‘Ala’ dari ayahya yaitu Abdur Rahman dari Abu Hurairah ra. berkata : Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda : “Tiadalah matahari itu terbit dan terbenam pada suatu hari yang lebih utama dari pada hari jum’at. Dan tiadalah dari binatang melainkan ia terkejut pada hari jum’at keculi dua golongan besar yaitu jin dan manunsia. Pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid terdapat dua orang malaikat yang menulis manusia yang datang pertama. Maka orang yang datang paling awal seperti berkorban onta, berikutnya seperti orang yang berkurban sapi, berikutnya seperti orang yang berkorban ayam betina, kemudian seperti orang yang berkorban telur. Dan apabila imam telah berdiri (berkhutbah), maka dilipatlah ganjaran itu. Demikian sebagaimana disebutkan dalam Al Ghaniyah.

Nabi saw. bersabda :

سيّد الايّام يوم الجمعة

Artinya : “Penghulu hari adalah hari Jum’at”.

Maksudnya hari Jum’at paling utama daripada hari-hari yang lain. Dalam Al Jami’us Shaghir disebutkan : “Penghulu hari-hari di sisi Allah adalah hari jum’at, ia lebih agung dari pada hari kurban dan fithrah. Di dalamnya tergantung lima perkara yaitu : padanya Adam diciptakan, pada hari itu Adam diturunkan dari surga ke bumi, pada hari itu dia meninggal, dan pada hari jum’at terjadinya kiamat. Tiadalah seorang hamba yang memohon kepada Allah pada hari jum’at, melainkan Dia pasti memberi salam kepadanya selama tidak berbuat dosa dan memutus hubungan keluarga serta pada hari jum’atlah hari kiamat akan terjadi. Tiadalah dari malaikat, langit, bumi, angin, gunung, dan batu melainkan ia merasa takut pada hari jum’at hal itu karena merasa takut terjadinya kiamat pada hari itu, yang padanya terdapat penggiringan ke mahsyar dan perhitungan amal. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Syafi’i, Ahmad, dan Al Bukhari dari Sa’ad bin Ubadah.

Nabi saw. bersabda :

من اغتسل يوم الجمعة كفّرت عنه ذنوبه وخطاياه

Artinya : “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, maka leburlah dosa-dosanya dan kesalahannya”.

Maksud hadits itu adalah yang dikehendaki pada sabda Nabi saw. : “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, maka ia dalam keadaan suci sampai Jum’at yang lain”. Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dari Qatadah. Suci yang dimaksud adalah suci maknawi.

Nabi saw. bersabda :

انّ يوم الجمعة وليلتها اربعة وعشرون ساعة يعتق الله فى كلّ ساعة منها ستّمائة الف عتيق من النّار

Artinya : “Sesungguhnya pada hari Jum’at dan malamnya ada dua puluh empat jam, dimana setiap jam dari padanya Allah memerdekakan 600.000 (enam ratus ribu) pemerdeka dari neraka”.

Syekh Abdul Qadir Al Jilani berkata : Telah mewartakan kepada kami Abu Nashr dari ayahnya dengan isnad dari Tsabit Al Banani dari Anas bin Malik ra. dari Nabi saw. bahwasanya Beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai 600.000 (enam ratus ribu) pembebasan dari neraka setiap hari dan malam. Malam dan siang hari Jum’at ada dua puluh empat jam, setiap jamnya 600.000 pembebasan dari neraka, mereka seluruhnya dikabulkan oleh neraka”. Al Ghazali berkata : Dalam satu khabar disebutkan, pada hari jum’at Allah mempunyai 600.000 pembebasab dari neraka. Nabi saw. bersabda : “Sesungguhnya neraka Jahim itu menyala setiap hari sebelum tergelincirnya matahari ketika matahari istiwak di tengah langit. Maka janganlah shalat pada saat itu kecuali hari Jum’at, karena pada saat itu shalat seluruhnya, dan sesungguhnya neraka Jahannam tidak menyala waktu itu.

Nabi saw. bersabda :

من ترك الجمعة من غير عذر فليتصدّق بدينار فان لم يجد فبنصف دينار

Artinya : “Siapa meninggakan shalat jama’ah Jum’at tanpa halangan, maka hendaklah bersedekah satu dinar, jika mempunyai maka dengan separoh dinar”.

Dinar adalah uang emas, dan hal itu sebagai kifarat penebus dosa ibadah yang tertinggal. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Nasai, dan Hadits adalah shahih, dimana sanadnya bersambung, adil, dlabith, dan tidak cacat.

Menurut riwayat Al Baihaqi dari Samurah berupa hadits dla’if : “Siapa meninggalkan shalat Jum’at tanpa halangan maka bersedekahla dengan dirham (uang perak), atau separoh dirham, atau satu sha’ atau satu mud”. Dikatakan dla’if karena tidak mencapai tingkat hasan.

Nabi saw. bersabda :

من ترك ثلاث جمع تهاونابها طبع الله على قلبه

Artinya : “Siapa meninggalkan Jum’atan tiga kali karena mengabaikannya, maka hatinya dicap oleh Allah”.

Maksudnya mengabaikan adalah mempermudah meninggalkan tanpa udzur (alasan). Allah mengecap hatinya maksudnya menutup dan terhalang melakukan ibadah. Hadits diriwayatan oleh Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Nasai, Ibnu Majah dari Al Ja’du dan isnadnya hasan.

Nabi saw. bersanda :

من ترك ثلاث جمعات من غير عذر كتب من المنافقين

Artinya : “Siapa meninggalkan tiga kali shalat jum’at tanpa alasan, maka dia ditetapkan termasuk orang yang munafik”.

Demikian jika orang meninggalkan itu termasuk orang yang diwajibkan melakukan shalat Jum’at. Hadits diriwayatkan oleh Thabrani dari Usamah bin Zaid.

Nabi saw. bersabda :

من مات يوم الجمعة اوليلتها رفع عنه عذاب القبر

Artinya : Siapa mati pada hari Jum’at atau malamnya, maka dihilangkan dari padanya siksa kubur”.

Dalam Ihya’ Al Ghazali berkata : Nabi saw. bersabda : “Siapa yang mati pada hari Jum’at atau malam Jum’at, maka Alah menulis baginya mati syahid dan terjaga dari fitnah kubur, dengan syarat ia haris beriman”.

Nabi saw. bersabda :

من قال يوم الجمعة لصاحبه والامام يخطب : انصت, او تكلّم اوعبث او اشار بيده او برأسه فقد لغا ومن لغا فلاجمعة له

Artinya : “Siapa yang mengucapkan kepada temanya pada hari Jum’at padahal imam sedang berkhutbah : Diamlah atau mengobrol atau lancang atau isyarat dengan tangannya atau dengan kepalanya, maka ia benar-benar berdosa (sia-sia), dan siapa yang berdosa maka jum’ahnya tidak sempurna baginya”.

Imam Ibnu Majar Al ‘Asqalani berkata dalam Bulughul Maram dari Ibnu Abbas ra. berkata : “Rasulullah saw. bersabda : “Siapa berbicara pada hari Jum’at yang mana imam sedang berkhutbah, maka ia seperti keledai yang membaca kitab-kitab yang tebal. Dan yang berkata : “Diamlah” maka tidak semprnalah Jum’atnya”. Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan isnad yang tiada kejelekan padanya, yaitu sebagai penjelas hadits Abu Hurairah dala sahih Bukhari dan Muslim berupa hadits marfu’ : “Apabila kamu berkata kepada saudaramu “Diamlah” pada hari Jum’at dimana imam sedang berkhutbah, maka sungguh sia-sia (berdosalah) kamu”.

Abu Bakar Al Hashni berkata dalam kifayatul Akhyar : “Apakah haram berbicara pada waktu khutbah?”. Dalam hal ini ada dua pebdapat. pertama redaksi Imam Syafi’i dalam Qaul Qadim menyatakan haram. Dalam hal ini berkatalah Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad, tentang kebenaran dua riwayat, yaitu sabda Nabi saw. bersabda : “Apabila kamu berkata pada saudaramu di mana imam sedang berkhutbah pada hari Jum’at “Diamlah” sungguh kamu telah sia-sia yaitu berdosa. Kedua Qaul Jadidi : “Bahwa perkataan itu tidak haram, sedangkan dalam memperhatikan adalah sunnah. Sebagaiman diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa Utsman datang di mana Umar sedang berkhutbah. Maka berkatalah Umar : “Tidak baik seorang terlambat dari seruan adzan” Lalu Utsman berkata : “Wahai Amirul Mu’minin, saya tidak menambah ketika saya mendengar panggilan melainkan berwudlu”. Pengertian sia-sia adalah melakukan sesuatu yang tidak sesuai. Sehingga tidak diangap juma’ahan, yaitu tentang kesempurnaan Jum’ah bukan sahnya.

Nabi saw. bersabda :

غسل يوم الجمعة واجب على كلّ محتلم

Artinya : “Mandi pada hari Jum’at adalah wajib atas setiap orang baligh”.

yang dimaksud “wajib” tersebut bukanlah fardlu. Tetapi masih ditakwil, yaitu wajib dalam sunnah, keperwiraan atau dalam akhlak yang bagus. Jadi wajibnya itu adalah sunah muakkad. Demikian faidah yang dikemukakan oleh Al ‘Azizi mengutip dari sebagian Ulama’. Adapun orang baligh dimaksud adalah orang baligh yang berkehendak mendatangi shalat. Hadits diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah dari Abu Sa’is Al Khudri.

Nabi saw. bersabda :

من ادرك الجمعة فله عند الله اجرمائة شهيد

Artinya : “Siapa yang mendapatkan Jum’ah, maka baginya menurut Allah memperoleh pahala seratus orang mati Syahid”.

Dari Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda :

من ادرك من الجمعة ركعة فليصلّ اليها اخرى ومن فاتته الرّكعتان فليصلّ اربعا او قال الظّهر

Artinya : “Siapa mendapatkan satu raka’at dari shalat Jum’at maka shalatlah padanya untuk raka’at yang lain. Dan siapa yang kehabisan waktu untuk shalat dua raka’at maka shalatlah empat rakaat, atau shalat dhuhur”.

(Hadits diriwayatkan oleh Ad Daruquthni)

 

 

Allah Ta’ala berfirman :

فى بيوت اذن االه ان ترفع ويذكر فيها اسمه يسبّح له فيها بالغدوّ والاصال. النور : 36

Artinya : “Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.

(QS. 24 An Nur : 36)

Juga firman Allah Ta’ala : 

ومن يّعظّم شعائرالله فانّها من تقوى القلوب. الحج : 32

Artinya : “Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.

(QS. 22 Al Hajj : 32)

Dan firman Allah Ta’ala :

ومن يّعظّم حرومت الله فهو خير لّه عند ربّه. الحج : 30

Artinya : “Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terbaik di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”

(QS. 22 Al Hajj : 30)

Diriwayatkan kepada kami dari Buraidah ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya masjid-masjid itu didirikan sebagaimana dasar didirikannya”. Hadts diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagaimana dalam Al Adzkar.

Nabi saw. bersabda :

المسجد بيت كلّ مؤمن

Artinya : “Masjid adalah rumah setiap orang yang beriman”.

Hadits diriwatkan oleh Abu Nu’aim dari Salman dengan isnad yang dla’if.

Orang mukmin itu menjadi saksi, yaitu setiap orang Islam berhak masuk di dalamnya. Al Manawi berkata : Dalam satu riwayat setiap orang yang bertakwa.

Nabi saw. bersabda : 

اذا رأيتم الرٍّجل ملازم المسجد فاشهدوا له بالايمان

Artinya : “Apabila kamu semua melihat seorang lelaki mebiasakan (shalat) di masjid, maka saksikanlah bahwa dia orang yang beriman.

 

Masjid itu adalah rumah setiap orang yang beriman hadits diriwayatkan oleh Abu muslim dari Salman dengan sanad dloif

Orang mukmin itu menjadi saksi yaitu setiap orang Islam berhak masuk di dalamnya. hal munawi erkata dalam satu riwayat: setiap orang yang bertakwa

Nabi bersabda Artinya apabila kamu semua melihat seorang lelaki membiasakan salat di masjid maka saksikanlah bahwa dia orang yang beriman

Dalam riwayat Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban Al Hakim dan Al Baihaqi dari Abu Sa’id Al khudri

Artinya apabila kamu melihat seseorang itu biasa pergi ke masjid maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman! sebab Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian hadits ini adalah Shahih.
Dalam satu riwayat Yata’aahadul Masjida= setia kepada masjid”. Yang dimaksud adalah membiasakan ke masjid-masjid, yaitu hatinya selalu terpaut dengan masjid masjid, mulai keluar dari masjid sampai untuk kembali lagi kepadanya. Sebagian ulama mengutip pendapat imam an-nawawi : hendaknya ia sangat mencintai masjid dan membiasakan berjamaah di Masjid. jadi pengertiannya tidak membiasakan duduk duduk di masjid demikian dikemukakan Al Azizi.
Nabi SAW bersabda dua artinya Siapa yang berbicara urusan dunia di dalam masjid, maka dilebur lah amalnya 40 tahun.
Ibnu Hajar Al Haitami berkata dalam tambihul Akhyar : disunahkan untuk mengatakan kepada orang yang melakukan syair yang tidak patut di dalam masjid : Allah mencegah mulutmu! sampai tiga kali.
Disunahkan memelihara kesucian masjid dari pembicaraan keduniaan bertengkar, mengeraskan suara dan dimakruhkan mengambil Tempat khusus di masjid tidak untuk salat di dalamnya.
Diriwayatkan oleh Imam turmudzi dan al-hakim Dari Abu Hurairah ra Nabi SAW bersabda Artinya apabila kamu melihat seorang yang berjual beli di dalam masjid, maka ucapkanlah Semoga Allah tidak akan menguntungkan daganganmu!.
kemudian jika kamu melihat seseorang mencari sesuatu yang hilang dalam masjid, hendaklah kamu katakan kepadanya Semoga Allah tidak akan mengembalikannya kepadamu dan seru sebagaimana warta Abu Hurairah ra katanya Rasulullah SAW bersabda
Artinya barangsiapa mendengar seseorang mencari sesuatu yang hilang dalam masjid, hendaklah dikatakan kepadanya Semoga Allah tidak mengembalikannya kepada Mu! sebab masjid didirikan bukan buat itu Hadits Riwayat Muslim
Sabda Nabi Yabta’u artinya membeli, maksud Ucapkanlah merupakan anjuran sunnah, sabda Nabi Laa Arbahallahu = Semoga Allah tidak akan menguntungkan maksudnya doa agar memperoleh kerugian dan makna “Yansyudu” adalah mencari. adapun yang dimaksud adalah barang hilang di dalam masjid mengeraskan suara di masjid untuk transaksi perdagangan jual beli dan lainnya. An-nawawi mengemukakan pendapat dari Sebagian ulama :”Dimakruhkan mengeraskan suara di dalam masjid dengan ilmu atau lainnya”. Abu Hanifah dan Muhammad bin Salamah dari Ashab Malik membolehkan mengeraskan suara di dalam masjid dengan ilmu dan pertengkaran serta Selain itu dari apa saja yang dibutuhkan Para manusia kepadanya.
Al Azizi mengemukakan pendapat dari gurunya : sebaiknya hendaknya jangan membenci mengeraskan suara di masjid untuk pelajaran, berkhutbah Jumat dan Selain itu. Demikian pula semua yang disunnahkan mengeraskan suara di masjid, seperti adzan iqomat membaca Tabliyah dan shalawat atas nabi SAW dan bertakbiran pada hari raya.
Nabi SAW bersabda Artinya “Sesungguhnya para malaikat membenci kepada orang-orang yang bicara ngobrol di dalam masjid dengan perkataan yang sia-sia dan dosa”. maksudnya ucapan bathil dan yang contoh dari yang benar.
Nabi SAW bersabda Artinya sejelek jelek tempat adalah pasar pasarnya dan sebaik-baik tempat adalah Masjid masjidnya.
Pasar merupakan sejelek-jelek tempat karena di dalam nya biasanya terjadi penipuan dan sumpah dusta. Dalam satu riwayat disebutkan sejelek-jelek negara adalah pasar pasarnya, dan sebaik-baik tempatnya adalah masjid masjid. hadis diriwayatkan oleh Al Hakim dari jubair bin muth’im yaitu Hadis Shahih dalam satu riwayat sejelek-jelek tempat-tempat duduk adalah masjid-masjid, maka jika kamu tidak duduk di dalam masjid maka Tetaplah di rumahmu hadits diriwayatkan oleh Tabrani dari wilayah dan isnad Hasan.
Nabi SAW bersabda Artinya Apabila salah seorang dari kamu semua masuk masjid Maka jangan terus duduk sehingga ia salat 2 rokaat.
Hadits diriwayatkan oleh Ahmad Bukhari Muslim Abu Daud Tirmidzi Nasa’i dan Ibnu Majah dari kota dah juga Ibnu Majah dari Abu Hurairah Ra.
Al ‘Alqami berkata mengutip pendapat Sebagian ulama bahwa bilangan itu tidak memberikan pemahaman pada banyaknya rakaat dengan kesepakatan para ulama dan diperselisihkan tentang sedikitnya. Adapun yang sahih adalah agar melakukan kesunahan itu paling sedikit dua rakaat. Para ulama ahli fatwa bersepakat bahwa perintah itu menunjukkan sunnah.
Al Azizi berkata Apabila seseorang itu duduk karena lupa atau lalai dalam tempo yang singkat maka ia di Syari’atkan melakukannya berulang-ulang dengan berulangnya keluar masuknya masjid sekalipun dari dekat dan dimaksudkan langsung duduk tidak tahiyatul masjid tanpa udzur. Dan berhasil dengan melakukan kefarduan wiridan kesunahan tanpa rakaat dan salat jenazah.
Nabi SAW bersabda Artinya masjid-masjid itu akan lapor mengadukan orang-orang Yang ke masjid yang membicarakan keduniaan di dalam masjid, maka para malaikat akan menghadapinya Seraya mengatakan “Kembalilah kamu, Kamila yang benar-benar ditugasi untuk menghancurkan mereka itu”.
Dalam Hadis disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda Artinya barangsiapa yang menyalakan lampu di dalam masjid sekitar apa yang melingkar pada mata, maka para malaikat akan memohonkan ampun kepadanya laki-laki itu masih menyala di masjid.
Nabi SAW bersabda Artinya Siapa yang membentangkan tikar di masjid, maka para malaikat tidak henti-hentinya memohonkan ampun kepadanya selagi tikar itu masih berada di dalam masjid.
Nabi saw, bersabda artinya barangsiapa mengeluarkan kotoran dari masjid sekedar pantas dilihat mata, maka Allah ta’ala mengeluarkan dari sebesar besar dosa orang itu.
Dalam satu riwayat bahwa hal itu merupakan mas kawin Bidadari dan dalam riwayat yang lain disebutkan Siapa yang mengeluarkan kotoran dari masjid maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga hadits riwayat kan oleh Ibnu Majah dari Ibnu Said dengan isnad lemah.
Nabi SAW bersabda Artinya janganlah engkau jadikan masjid-masjid kamu semua seperti jalan-jalan.

Diriwayatkan Wailah bin Al Asqa’ bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang memakai surban pada hari Jumat. Jika panas menyusahkannya, maka tidak ada jeleknya untuk melepaskannya sebelum dan sesudah salat Jumat tetapi Janganlah melepaskan pada waktu berjalan dari rumah menuju tempat Jumatan, Jangan pula dilepas pada waktu salat, ketika imam naik mimbar, dan ketika imam berkhotbah”. Demikian sebagaimana disebutkan dalam Ihya’.
Nabi saw. bersabda :
العمائم تيحان العرب فائده وضعوا العمائم وضعوا عزاءهم
Artinya : surban itu adalah merupakan mahkota orang arab, maka jika mereka meletakkan surban-surban maka mereka meletakkan kemuliaannya (jika memakainya maka 64 telah kemuliaan nya.)
Sorban bagi orang Arab menempati kedudukan mahkota bagi para raja. Karena kebanyakan orang-orang pedalaman di kalangan mereka kepalanya terbuka mereka sedikit memakai sorban. Maka jika mereka meletakkan surban berarti mereka meletakkan kemuliaan-nya hadis diriwayatkan oleh Ad Dailami dari Ibnu Abbas ra. dan isnadnya lemah Al Manawi berkata : lafadz riwayat Ad Dailami “Allah merendahkan kemuliaan mereka”. Demikian sebagaimana dalam Sirajul Munir.
Nabi SAW bersabda
تعمموا فان الملاءكت تعممت
Artinya bersurban lah kamu semua, sebab sesungguhnya para malaikat itu bersorban.
Nabi SAW bersabda :
ان الله تعالى وملائكته يصلون على اصحاب العمائم
Artinya Sesungguhnya Allah ta’ala dan para malaikatnya mengagungkan orang-orang yang bersyukur ban pada hari Jumat.
Allah dan para malaikatnya bershalawat maksudnya mengagungkan orang-orang yang mau memakai sorban pada hari Jumat. Maka memakai sorban pada hari Jumat itu dikuatkan, dan bagi Imam disunahkan agar lebih baik keadaannya dalam memakai sorban hadis diriwayatkan Thabrani dari Abu Darda’ dan hadits dhaif sebagaimana disebutkan Al Azizi.
Nabi SAW bersabda
فرق ما بيننا وبين المشركين العمائم على القلانس
Artinya perbedaan antara kita orang-orang Islam dengan orang-orang musyrik adalah serban serban atas kopiah.
Kita orang-orang Islam sama memakai sorban sedangkan orang-orang musyrik dan Baduy tidak memakai surban hadis diriwayatkan oleh Abu Daud dan turmudzi dari Rukanah Bin Abdu Yazid.
Nabi SAW bersabda
صلت الملائكه على المتعممين يوم الجمعه
Artinya para malaikat memohonkan Rahmat kepada orang-orang yang bersurban dan pada hari Jumat.
Maksudnya bahwa para malaikat sama memohonkan keberkahan dan ampunan kepada mereka.
Nabi SAW. bersabda
ركعتان بعمامه خير من سبعين ركعه بلا عمامه
Artinya dua rakaat dengan bersurban adalah lebih baik daripada 70 rokaat tanpa bersurban.
Shalat dua rakaat dengan memakai surban itu lebih baik daripada shalat 70 rokaat tidak bersorban. Hadis diriwayatkan oleh Ad Dailami dari Jabir. Al Manawi mengatakan sebab shalat itu menghadap ke hadirat Yang Maha merajai dan masuk kehadirat-Nya tanpa memperindah berpakaian adalah mengingkari kesopanan.
Nabi SAW. bersabda
تعمموا فان الشياطين لا تتعمم
Artinya bersurbanlah kamu semua, sebab setan-setan itu tidak ada yang memakai surban.
Nabi SAW. bersabda
العمائم سيما الملائكة فارسلوا ها خلفات ظهوركم
surban-surban itu sebagai tanda simbol pada para malaikat maka tariklah ke belakang punggung punggungmu.
Nabi SAW. bersabda
تسوموا فان الملائكه قد تسومت
Artinya Buatlah tanda kamu semua karena sesungguhnya para malaikat itu membuat tanda.
Maksudnya jadikanlah untukmu semua suatu tanda dengan memakai pakaian. Ibnu Hajar dalam tanbihul akhyar berkata Nabi saw. memrintahkan kepada kita untuk memakai pakaian yang bagus dan harum-haruman yang baik memakai pakaian putih berpakaian yang baik pada hari raya mendahulukan yang hijau daripada putih, bahkan tidak ada kekhususan untuk warna hijau itu tetapi setiap warna seperti itu putih dan hijau karena hijau warna yang lebih utama sesudah putih.
Nabi SAW bersabda
نهي عن الاقتعاط وامرا بالتلحى
Artinya Terlarang bersurban di lingkaran di bawah janggut dan diperintahkan mengalungkan surban di bawah janggut.
Syekh Abdul Qodir Al Jilani berkata disunahkan dalam dua hal pertama pada Allah ta’ala yaitu berselendang ketika berjamaah dan berkumpul para Manusia Maka jangan menelanjangkan kedua bahunya dari sesuatu pakaian yang indah seperti hari-hari raya pertemuan-pertemuan dan yang lain kedua pasa makhkuk, yaitu memperindah berbagai macam pakaian di kalangan para Manusia sal yang dibolehkan dan tidak mengurangi keperwiraannya antara mereka.

Nabi SAW bersabda Allah ta’ala berfirman : “setiap satu kebaikan pahalanya berlipat 10 kebaikan sampai 700 kali lipat kecuali berpuasa karena puasa itu bagi-Ku dan Aku langsung membalasnya demikian sebagaimana disebutkan dalam Ihya’.
Nabi SAW bersabda Allah ta’ala berfirman dalam Hadits Qudsi artinya puasa itu bagi-Ku dan Aku langsung membalasnya”. Demikian sebagaimana di sebutkan dalam Ihya’.
Nabi saw. bersabda : Allah Ta’ala berfirman dalam Hadits Qudsi :
،، الصوم لي وانا اجزى به ،،
Artinya :
” Puasa itu bagi-Ku dan Aku langsung membalasnya”.
Perbedaan antara Hadis Qudsi dengan Al Qur’an, bahwa Al Qur’an di turunkan sebagai mu’jizat sekalipun surat yang terpendek sedangkan Hadis Qudsi bukan mu’jizat dan membaca keduanya termasuk ibadah. Allah memberikan balasan pahala puasa secara langsung, dengan balasan pahala yang banyak tanpa membatasi perkiraannya. Sebab Puasa merupakan ibadah yang paling Aku senangi dan dikerjakan untuk-Ku. Hadis diriwayatkan oleh Thabrani dari Abu Umamah dengan isnad hasan.
Nabi saw.bersabda:
،، للصائم فرحتان يفرح بهما : فرحة عند افطاره وفرحة عند لقاء رببه
Artinya orang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan, ia akan merasa gembira dengan keduanya. kemiraan pertama ketika ia berbuka, dan kegembiraan kedua ketika ia menghadap Tuhannya.
Seseorang yang berpuasa merasa gembira ketika berbuka Karena rasa haus dan lapar nya telah hilang ketika ia diperbolehkan berbuka. Juga disebutkan bahwa ia merasa gembira dengan hari raya di mana puasanya dapat sempurna dilakukan dan selesai ibadahnya dengan pertolongan Allah. yang kedua ia merasa gembira bertemu Tuhannya pada hari kiamat dan puasanya diterima untuk memperoleh pahala. Wahab bin munabbih berkata “Tiada kegembiraan untuk memperoleh balasan pahala atau dapat melihat Dzat Tuhannya di surga.”
Nabi sww. bersabda :
لخلوف فم الصائم اطيب عند الله من ريح المسك
Artinya sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu adalah lebih harum di sisi Allah daripada bau misik (minyak wangi).
Kata “Lakhuluufu” dengan mendlamahkan kha’dan lam, serta sukun kan Wawu dan sesudahnya berupa fa’. Adapun lam nya sebagai jawab sumpah, yaitu sabda Nabi SAW sebelumnya demi Dzat yang jiwa Muhammad berada pada kekuasaannya demi bau mulut orang yang berpuasa karena berubahnya adalah lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misik maksudnya bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak wangi misik menurut kamu dan yang dimaksud adalah bahwa Allah akan membalasnya di akhirat titik di mana bau Mulutnya lebih harum daripada bau minyak misik ada yang mengatakan maksudnya adalah bahwa orang yang berpuasa akan memperoleh pahala yang lebih utama daripada bau minyak misik an-nawawi memilih pendapat bahwa bahwa itu adalah lebih banyak pahalanya daripada minyak wangi misik yang disunahkan kepadanya dalam Jumatan dan Majelis Dzikir, yaitu mengandung pengertian harum untuk diterima dan memperoleh keridhaan Al Qadli Husain menukilkan bahwasanya berbagai ketaatan itu pada hari kiamat berupa bau yang semerbak sebagai kegembiraan puasa antara sekian banyak kepribadian adalah bagaikan misik.

عليكم بالغنيمه البارده قالوا يا رسول الله وما الغنيمه البارده قال الصوم في الشتاء الغنيمه البارده
Artinya
hendaklah kamu semua tetap dengan “Al Ghanimatul Baridah = Rampasan yang dingin”. Para Sahabat bertanya wahai Rasulullah, Al Ghanimatul Baridah itu? Beliau bersabda yaitu berpuasa di musim dingin adalah Al Ghanimatul Baridah.

من صوم يوما من رمضان غفر له ما تقدم من ذنبه وما تاخر فاذا تم رمضان لا يكتب عليه ذنب الى الحول الاخر فان مات قبل رمضان اخر جاء يوم القيامه وليس عليه ذنب
Artinya :
siapa berpuasa 1 hari dari bulan Romadhon maka diampuni Allah dosanya yang telah lalu dan yang akan datang jika bulan Ramadhan telah sempurna maka ia ditetapkan tidak mempunyai dosa sampai 1 tahun berikutnya Jika ia mati sebelum Ramadan yang lain maka ia datang pada hari kiamat tanpa dosa.

Maksudnya adalah dosa-dosa kecil yang berhubungan dengan hak Allah ta’ala dalam satu riwayat disebutkan :
من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تاخر
Artinya : siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala maka ia diampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang

Hadits diriwayatkan oleh al-khathib dari Ibnu Abbas RA maksud kata imanan dengan iman adalah mengi’tikatkan dengan benar kewajiban berpuasa. Sedangkan ihtisaban maksudnya mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala
Nabi SAW bersabda :
لو ادينا الله تعالى في السماوات والارض ان تتكلم لقالتا بشرى لمن صام رمضان بالجنه
Artinya Andaikan Allah ta’ala mengizinkan langit dan bumi dapat berbicara saya keduanya itu berkata kegembiraan lah bagi orang yang berpuasa Romadhon dengan surga
Nabi SAW bersabda :
الصيام جنه من النار كجنة احدكم من القتال
Artinya puasa adalah merupakan benteng dari neraka bagaikan tameng salah seorang kamu semua dalam peperangan.
Maksudnya merupakan penangkis yang menghalangi dari pembunuhan dalam peperangan diperkirakan dengan keutamaan bagi orang yang berpuasa. Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Utsman bin Al Ash, yaitu Hadits Shahih lafadz “Puasa merupakan benteng salah seorang kamu semua dari neraka” seperti penangkis tameng salah seorang dari kamu dalam peperangan.
Nabi SAW bersabda :
الصائم اذا افطر صلت عليه الملائكة حتى يفرغ
Artinya Apabila seseorang yang berpuasa itu berbuka maka para malaikat memohonkan rahmat kepadanya sehingga ia selesai berbuka.
Maksudnya memohonkan keberkahan dan ampunan kepadanya selama ia berbuka Nabi SAW bersabda :
لكل شيء زكاة وزكاة الجسد الصوم
Artinya arti setiap sesuatu itu ada zakatnya Adapun zakat sekujur tubuh adalah puasa. Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra dan Thabrani dari Sahal bin Saad.
Bahwasanya 1 Rahasia dari rahasia rahasia Allah ta’ala dan menyebabkan kurusnya tubuh bertambah keberkahan dan kebaikannya secara maknawi. Maka diserupakan Zakat harta karena Zakat harta itu sekalipun rasanya hartanya menjadi berkurang namun justru menambah keberkahannya maka demikian halnya puasa.
Nabi SAW. Bersabda :
نوم الصائم عباده وصمته تسبيح وعمله مضاعف دعاء مستجاب وذنبه مغفور
Artinya tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, pahala amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.
Maksudnya bahwa tidurnya orang berpuasa baik puasa fardhu maupun sunnah adalah ibadah. Diamnya orang berpuasa adalah tasbih, yaitu menempati kedudukan tasbih. Amalnya dilipat gandakan, satu kebaikan berlipat 10 sampai di atasnya, dan dosanya diampuni maksudnya adalah dosa-dosa kecil. Hadis diriwayatkan oleh al-baihaqi dari Abdullah bin Abi Aufa yaitu hadis Dhaif dalam satu lafadz disebutkan, bahwa nafasnya merupakan tasbih dan ucapan yang merupakan sedekah.

Nabi SAW. Bersabda :

Artinya : Islam didirikan atas lima sendi : bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, mendirikan salat, memberikan zakat, menunaikan ibadah haji, dan berpuasa Romadhon.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim dan Turmudzi dari Ibnu Umar bin Al Khattab. Riwayat muslim dari Ibnu Umar mendahulukan puasa Romadhon kemudian Haji. Rasulullah SAW mendahulukan dua kalimat syahadat, karena keduanya merupakan pokok seluruh perkara. Kemudian salat karena Ia merupakan tiang agama, dan orang yang meninggalkannya boleh dibunuh dengan memukul lehernya menurut madzab. Lalu memberikan zakat kepada orang yang berhak menerimanya, karena ia merupakan kesucian Islam. Selanjutnya Haji, yaitu untuk menguatkan apa yang disabdakan Rasulullah SAW : “Siapa yang kebutuhannya telah tercukupi sedangkan ia tidak berhaji padahal banyak mengumpulkan harta lalu ia mati, maka jika dikehendaki ia mati Yahudi di atau Nasrani”. Dan berpuasa Romadhon ditempatkan yang terakhir.
Motif di ringkasnya dalam lima sendi, bahwa ibadah itu ada kalanya berupa ucpan, yaitu pernyataan dua kalimat syahadat atau bukan berupa ucapan yaitu pengekangan atau penahanan yaitu berpuasa. Juga ada yang berupa perbuatan dan yaitu shalat atau mali yaitu kebendaan seperti zakat dan ada yang gabungan keduanya badan dan Mali yaitu ibadah Haji. Islam yang Hakiki dapat berhasil dengan dua kalimat syahadat dengan syarat membenarkan sebagaimana faedah yang diberikan oleh Al Azizi.
Nabi SAW bersabda Artinya shalatlah kamu semua lima waktu Zakatilah harta bendamu puasailah bulan kamu (Romadhon) dan berhijrahlah ke rumah Tuhanmu niscaya kamu semua masuk surga Tuhanmu tanpa hisab.
Maksudnya supaya kita mengerjakan salat lima waktu memberikan Zakat harta benda kita dan berpuasa ramadhan sebagaimana diriwayatkan dari ikrimah dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda Rajab adalah bulan Allah Sya’ban adalah bulan ku dan Ramadan adalah bulan umatku berhaji ke rumah Tuhanmu adalah di Ka’bah yang dimuliakan niscaya kamu semua masuk surga Tuhanmu tanpa hisab yaitu Tuhan kamu semua pemberi segala kenikmatan dan memasukkan kamu ke surga tanpa perdebatan.